Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

TEMPERATURE DAN HUMIDITY SENSOR

Oleh : Muhammad Ilham Siregar


Nim : 3211601050
Mata kuliah : Sensor dan Transduser

BATAM
2018
Praktikum 2

Temperature dan Humidity Sensor

1. Tujuan
Mampu memahami prinsip dasar sensor temperature dan kelembaban (humidity).

2. Dasar Teori
2.1 Thermistor
Thermistor adalah salah satu jenis sensor yang mempunyai koefisien temperatur yang
tinggi, dimana komponen ini dapat mengubah nilai resistansi karena adanya perubahan
temperature. Nama Thermistor berasal dari Thermally Sensitive Resistor. Thermistor terdiri dari 2
jenis yaitu PTC (Positive Temperature Coefficient) dan NTC (Negative Temperature Coefficieent).
Pada thermistor jenis PTC, nilai resistansi berbanding senilai terhadap perubahan suhu. Sedangkan
pada NTC, nilai resistansi berbanding terbalik terhadap nilai perubahan suhu. Thermistor PTC
terbuat dari material kristal tunggal sedangkan Thermistor NTC terbuat dari material logam oksida.

Karateristik Thermistor

 Nilai resistansi tinggi dengan kisaran 30 ohm hingga 41.5Kohm


 Respon waktu terhadap suhu cepat sekitar ½ detik
 Sensitivitas sangat tinggi
 Perubahan resistansi besar

Karakteristik Thermistor NTC dan PTC

Gambar 2.1.1 Karakteristik Thermistor NTC dan PTC


Prinsipnya kerja Thermistor adalah memberikan perubahan resistansi yang sebanding dengan
perubahan suhu. Perubahan resistansi yang besar terhadap perubahan suhu yang relatif kecil
menjadikan thermistor banyak dipakai sebagai sensor suhu yang memiliki ketelitian dan ketepatan
yang tinggi. Termistor yang dibentuk dari bahan oksida logam campuran (sintering mixture),
kromium, kobalt, tembaga, besi, atau nikel, berpengaruh terhadap karakteristik termistor, sehingga
pemilihan bahan oksida tersebut harus dengan perbandingan tertentu. Dimana termistor merupakan
salah satu jenis sensor suhu yang mempunyai koefisien temperatur yang tinggi. Komponen dalam
termistor ini dapat mengubah nilai resistansi karena adanya perubahan temperatur. Dengan
demikian dapat memudahkan kita untuk mengubah energi panas menjadi energi listrik

2.2 Pt Resistance Temperature Detector (Pt 100)


PT100 merupakan salah satu jenis sensor suhu yang terkenal dengan keakurasiannya.
PT100 termasuk golongan RTD (Resistive Temperature Detector) dengan koefisien suhu positif,
yang berarti nilai resistansinya naik seiring dengan naiknya suhu. PT100 terbuat dari logam
platinum. Oleh karenanya namanya diawali dengan ‘PT’. Disebut PT100 karena sensor ini
dikalibrasi pada suhu 0°C pada nilai resistansi 100 ohm. Ada juga PT1000 yang dikalibrasi pada
nilai resistansi 1000 ohm pada suhu 0°C.
Menurut keakurasiannya, terdapat dua jenis PT100, yakni Class-A dan Class-B. PT100
ClassA memiliki akurasi ±0,06 ohm dan PT100 Class-B memiliki akurasi ±0,12 ohm. Keakurasian
ini menurun seiring dengan naiknya suhu. Akurasi PT100 Class-A bisa menurun hingga ±0,43 ohm
(±1,45°C) pada suhu 600°C, dan PT100 Class-B bisa menurun hingga ±1,06 ohm (±3,3°C) pada
suhu 600°C. PT100 tipe DIN (Standard Eropa) memiliki resolusi 0,385 ohm per 1°C. Jadi
resistansinya akan naik sebesar 0,385 ohm untuk setiap kenaikan suhu 1°C. Untuk mengukur suhu
secara elektronik menggunakan sensor suhu PT100, maka kita harusmengeksitasinya dengan arus
yang tidak boleh melebihi nilai 1mA. Hal ini karena jika dialiri arus melebihi 1 mA, maka akan
timbul efek selfheating. Jadi, seperti layaknya komponen resistor, maka kelebihan arus akan diubah
menjadi panas, akibatnya hasil pengukuran menjadi tidak sesuai lagi.

Gambar 2.3.1 Ceramic type Pt RTD (Pt 100)

2.3 Thermocouple
Thermocouple berasal dari kata “Thermo” yang berarti energi panas dan “Couple” yang
berarti pertemuan dari dua buah benda. Thermocouple adalah transduser aktif suhu yang tersusun
dari dua buah logam berbeda dengan titik pembacaan pada pertemuan kedua logam dan titik yang
lain sebagai outputnya. Thermocouple merupakan salah satu sensor yang paling umum digunakan
untuk mengukur suhu karena relatif murah namun akurat yang dapat beroperasi pada suhu panas
maupun dingin.
Thermocouple adalah salah satu dari beberapa jenis sensor temperatur yang menggunakan
metode secara elektrik dan sensor ini adalah sensor yang paling luas digunakan pada dunia
penindsutrian . Sensor ini terdiri dari dua kawat dari logam-logam yang berbeda yang kemudian
dilas (dikonneksikan) menjadi satu sama lain pada salah satu ujungnya. Thermocouple memiliki
paling sedikit dua atau lebih hubungan yang berfungsi sebagai hubungan pertama sebagai variable
pengukuran (Hot Junction) dan hubungan yang kedua sebagai referensi variable (Cold Junction)
yang nantinya akan digunakan sebagai pembanding antar element.
Prinsip kerja dari thermocouple menggunakan efek seebeck (Efek Seebeck adalah konversi
energi panas menjadi energi listrik). Arus listrik mengalir pada rangkaian tertutup dari 2 konduktor
berbeda, apabila kedua sambungan mengalami beda temperatur. Bila rangkaian dibuka maka akan
muncul tegangan Seebeck pada kedua terminal. jadi menurut efek seebeck ketika dua konduktor
yang berbeda menerima panas maka akan menimbulkan emf (Electricmotive Force ) yang akan
menimbulkan tegangan kecil dengan kisaran range 1 hingga 70 microvolt untuk setiap derajat
kenaikan suhu. Dan kemudian akan dikonversikan sesuai dengan reference table yang telah ada
(table ini sesuai dengan tipe dari thermocoupe yang dipakai).

Gambar 2.2.1 Macam – macam jenis thermocouple

Thermocouple tersedia dalam berbagai ragam rentang suhu dan jenis bahan. Pada dasarnya,
gabungan jenis-jenis logam konduktor yang berbeda akan menghasilkan rentang suhu operasional
yang berbeda pula. Berikut ini adalah Jenis-jenis atau tipe Thermocouple yang umum digunakan
berdasarkan Standar Internasional.
Tipe Thermocouple Bahan Penyusun Rentang Suhu
(ANSI)
Bahan Logam Konduktor Positif : Nickel-
Tipe E Chromium
Bahan Logam Konduktor Negatif : -200˚C – 900˚C
Constantan
Bahan Logam Konduktor Positif : Nickel-
Tipe J Chromium
Bahan Logam Konduktor Negatif : 0˚C – 750˚C
Constantan
Bahan Logam Konduktor Positif : Nickel-
Tipe K Chromium
Bahan Logam Konduktor Negatif : Nickel- -200˚C – 1250˚C
Aluminium
Tipe N Bahan Logam Konduktor Positif : Nicrosil
Bahan Logam Konduktor Negatif : Nisil
0˚C – 1250˚C
Bahan Logam Konduktor Positif : Copper
Tipe T (Tembaga)
Bahan Logam Konduktor Negatif : -200˚C – 350˚C
Constantan
Tipe U Bahan Logam Konduktor Positif : Copper
(kompensasi Tipe S (Tembaga)
dan Tipe R) Bahan Logam Konduktor Negatif : Copper- 0˚C – 1450˚C
Nickel

2.4 Sensor Suhu LM 35


LM35 adalah komponen sensor suhu berukuran kecil seperti transistor (TO-92), komponen
yang sangat mudah digunakan ini mampu mengukur suhu hingga 100 derajad celcius. Sensor suhu
LM35 adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi untuk mengubah besaran suhu menjadi
besaran listrik dalam bentuk tegangan. Sensor Suhu LM35 yang dipakai dalam penelitian ini berupa
komponen elektronika elektronika yang diproduksi oleh National Semiconductor. LM35 memiliki
keakuratan tinggi dan kemudahan perancangan jika dibandingkan dengan sensor suhu yang lain,
LM35 juga mempunyai keluaran impedansi yang rendah dan linieritas yang tinggi sehingga dapat
dengan mudah dihubungkan dengan rangkaian kendali khusus serta tidak memerlukan penyetelan
lanjutan. Dengan tegangan keluaran yang terskala linear dengan suhu terukur, yakni 10 milivolt per
1 derajad celcius.
Meskipun tegangan sensor ini dapat mencapai 30 volt akan tetapi yang diberikan kesensor
adalah sebesar 5 volt, sehingga dapat digunakan dengan catu daya tunggal dengan ketentuan bahwa
LM35 hanya membutuhkan arus sebesar 60 µA hal ini berarti LM35 mempunyai kemampuan
menghasilkan panas (selfheating) dari sensor yang dapat menyebabkan kesalahan pembacaan yang
rendah yaitu kurang dari 0,5 ºC pada suhu 25 ºC.

Gambar 2.5.1 Bentuk sensor LM35 tampak depan dan tampak bawah.

2.5 Sensor Kelembaban (Humidity Sensor)


Sensor kelembaban adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk membantu dalam
prosespengukuran atau pendefinisian yang suatu kelembaban uap air yang terkandung dalam
udara.Jenis-jenis sensor kelembaban diantaranya Capacitive Sensors, Electrical conductivity
Sensors,Thermal Conductivity Sensors, Optical Hygrometer, dan Oscillating Hygrometer.
Capacitive Sensors atau sensor kapasitif merupakan kapasitor dielektrik udara dapat
berguna sebagai sensor kelembaban, karena kandungan air dalam atmosfir merubah permitifitas
elektrik udara menurutpersamaan berikut:
Dimana

T : temperatur absolut (dalam Kelvin)


P : tekanan udara basah (dalam mm Hg)
Ps : tekanan uap air jenuh pada temperature T (dalam mm Hg)
H : kelembaban relatif (dalam %).

Persamaan di atas menunjukkan bahwa konstanta dielektrik udara basah dan oleh karena
itu kapasitansi sebanding dengan kelembaban relatif.

Selain udara, ruang antara plat kapasitor dapat diisi dengan isolator yang tepat yang
memiliki konstanta dielektrik yang berubah secara signifikan terhadap perubahan kelembaban.
Sensor kapasitif dapat dibuat dari lapisan tipis polimer higroskopis dengan elektrode logam
yang diletakkan pada sisi yang berlawanan.

Dalam salah satu desain, dielektrik tersusun atas lapisan tipis polimer higrofil (tebal 8-
12µm) yang terbuat dari serat acetate butyrate dan dimetyleptalate sebagai plasticizer. Ukuran
sensor lapisan tipis sebesar 12x12 mm. Elektrodekeping berpori yang dibuat dari emas dengan
diameter 8mm dengan tebal 200 Å diletakkan pada polimer dengan teknik pengendapan vacum.
Lapisan tipis tersebut diapit oleh pemegang dan elektrode yang disambungkan ke terminal.
Kapasitansi dari sensor dengan susunan sperti itu mendekati sebanding dengan kelembaban
relatif H.

3. Alat dan bahan


3.1 Thermistor (NTC 10K)
Alat dan Bahan :
Nama Barang Jumlah
Multimeter Digital 1
Kabel Jumper Secukupnya
Thermistor 1
Thermometer 1
Heating (Solder) 1

Multimeter
(Ohm Meter)

Heating

Gambar 3.1.1 Cara pengukuran sensor Thermistor


3.2 Pt Resistance Temperature Detector (Pt 100)
Alat dan Bahan :
Nama Barang Jumlah
Multimeter Digital 1
Kabel Jumper Secukupnya
RTD Pt 100 1
Thermometer 1
Heating (Solder) 1

Multimeter
(Ohm Meter)

Heating

Gambar 3.3.1 Cara pengukuran sensor RTD Pt 100

3.3 Thermocouple
Alat dan Bahan :
Nama Barang Jumlah
Multimeter Digital 1
DC Power Supply 1
Kabel Jumper Secukupnya
Thermocouple 1
Thermometer 1
Heating (Solder) 1

Supply (-) Multimeter


Supply (+) (Volt Meter)
(5 V)

Heating

Gambar 3.2.1 Cara pengukuran sensor Thermocouple


3.4 Sensor Suhu LM35
Alat dan Bahan :
Nama Barang Jumlah
Laptop 1
Multimeter Digital 1
DC Power Supply 1
Mikrokontroler Arduiono 1
ProjectBoard 1
Kabel Jumper Secukupnya
LM35 1
Thermometer 1
Heating (Solder) 1

Gambar 3.5.1 Rangkaian LM35 dengan Arduino

Sketch Arduino

void setup() {
Serial.begin(9600);
}

void loop() {
int dataAnalog = analogRead(A0); // Baca nilai analog sensor LM35
float mV = (dataAnalog / 1024.0) * 5000; // Ubah ADC ke tegangan mV
float Volt = mV / 1000; // Ubah mV ke Volt
float suhuC = mV / 10; // Ubah tegangan mV ke suhu Celsius (Kenaikan 1 Celsius = 10 mV)

Serial.print(dataAnalog);
Serial.print(",");
Serial.print(Volt);
Serial.print(",");
Serial.print(mV);
Serial.print(",");
Serial.println(suhuC);
}
Gambar 3.5.2 Block diagram LabVIEW

Gambar 3.5.3 Front panel interface LabVIEW


3.5 Sensor kelembaban (Humidity Sensor)
Alat dan Bahan :
Nama Barang Jumlah
Multimeter Digital 1
DC Power Supply 1
Kabel Jumper Secukupnya
Humidity Sensor 1

Supply (-) Multimeter


Supply (+) (Volt Meter)
(5 V)

Gambar 3.5.1 Cara pengukuran Humidity Sensor

4. Data praktikum
4.1 Praktikum Thermistor (NTC 10K)
Tabel Data Hasil Pengukuran Thermistor (NTC 10K)
Temperature Output hambatan (kenaikan suhu) Output hambatan (penurunan suhu)
(oC) (KΩ) (KΩ)
25 10.21 10.35
30 9.22 7.84
35 6.91 5.68
40 4.23 4.97
45 3.87 4.15
50 2.12 3.32
55 1.65 2.78
60 1.32 2.21
65 0.93 1.66
70 0.54 0.54
Berdasarkan tabel diatas dapat diperoleh grafik sebagai berikut :
Pada saat kenaikan suhu
Grafik Hubungan Resistansi Terhadap Suhu
11
10
9

Resistansi (KΩ)
8
7
6
5
4
3
2
1
0
25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
Suhu (C)

Pada saat penurunan suhu

Grafik Hubungan Resistansi Terhadap Suhu


11
10
9
Resistansi (KΩ)

8
7
6
5
4
3
2
1
0
25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
Suhu (C)

4.2 Praktikum Pt Resistance Temperature Detector (Pt 100)


Tabel Data Hasil Pengukuran RTD PT 100
Temperature Output hambatan (kenaikan suhu) Output hambatan (penurunan suhu)
(oC) (Ω) (Ω)
25 111.4 113.7
30 113.3 115.3
35 114.9 119.4
40 117.6 125.5
45 125.3 132.1
50 139.7 136.4
55 142.6 144.2
60 145.3 146.5
65 147.6 148.7
70 149.6 149.6
Berdasarkan tabel diatas dapat diperoleh grafik sebagai berikut :
Pada saat kenaikan suhu
Grafik Hubungan Resistansi Terhadap Suhu
155
150
145

Resistansi (Ω)
140
135
130
125
120
115
110
105
100
25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
Suhu (C)

Pada saat penurunan suhu


Grafik Hubungan Resistansi Terhadap Suhu
155
150
145
140
Resistansi (Ω)

135
130
125
120
115
110
105
100
25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
Suhu (C)

4.3 Praktikum Thermocouple


Tabel Data Hasil Pengukuran Thermocouple
Temperature Output tegangan (kenaikan suhu) Output tegangan (penurunan suhu)
(oC) (mV) (mV)
25 38.16 37.6
30 42.21 44.3
35 59.86 172.5
40 168.4 351.5
45 264.5 512.3
50 355.6 845.3
55 476.8 923.6
60 648.2 957.4
65 887.8 996.7
70 1034 1034
Berdasarkan tabel diatas dapat diperoleh grafik sebagai berikut :
Pada saat kenaikan suhu
Grafik Hubungan Tegangan Terhadap Suhu
1100
1000
900

Tegangan (mV)
800
700
600
500
400
300
200
100
0
25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
Suhu(C)

Pada saat penurunan suhu


Grafik Hubungan Tegangan Terhadap Suhu
1100
1000
900
Tegangan (mV)

800
700
600
500
400
300
200
100
0
25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
Suhu (C)

4.4 Praktukum Sensor Suhu LM35

Tabel Data Hasil Pengukuran LM35

Temperature (oC)
Thermometer LM35 % error
27 26.45 2.03
30 30.77 2.56
35 35.12 0.34
40 40.06 0.15
45 45.38 0.84
50 50.31 0.62
55 55.18 0.32
60 60.07 0.11
65 65.53 0.81
Grafik Hubungan Pengukuran Suhu
Dengan LM35 Terhadap Thermometer
75
70
65
60
LM 35 (C) 55
50
45
40
35
30
25
27 32 37 42 47 52 57 62 67 72 77
Thermometer (C)

4.5 Praktukum Humidity Sensor

Tabel Data Hasil Pengukuran Humidity Sensor

Keterangan Tegangan (Volt)


Tanpa ditutup jari 2.180
Ditutup jari 2.770

5. Analisa Data
 Analisa Thermistor (NTC 10K)
Pada percobaan pengukuran sensor thermistor NTC 10K, ada dua macam pengukuran yang
diklakukan yaitu pengukuran saat suhu naik dan pengukuran saat suhu turun. Pengukuran dimulai
dari 25 oC sampai dengan 70 oC dan penurunan suhu dari 70 oC sampai 25 oC dengan kenaikan 5
setiap pengambilan datanya. Nilai yang di peroleh saat penaikan suhu yaitu nilai resistansi semakin
menurun yang dimana nilai resistansi dari Thermistor yang di praktikumkan kali ini adalah 10K
kemudian penurunan resistansi yaitu: 10.21 KΩ, 9.22 KΩ, 6.91 KΩ, 4.23 KΩ, 3.87 KΩ, 2.12 KΩ,
1.65 KΩ, 1.32 KΩ, 0.93 KΩ, 0.54 KΩ sedangkan pada saat penurunan suhu nilai resistansi nya
semakin menungkat yaitu : 0.54 KΩ, 1.66 KΩ, 2.21 KΩ, 2.78 KΩ, 3.32 KΩ, 4.15 KΩ, 4.97 KΩ,
5.68 KΩ, 7.84 KΩ, 10.35 KΩ.
Pada proses pemanasan dipengaruhi oleh lama waktu pemanasan akan mempengaruhi
cepat nya perubahan nilai resistansi dan diperoleh grafik histerisis kenaikan dan penurunan suhu.
Grafik Hubungan Resistansi Terhadap Kenaikan
dan Penurunan Suhu
11
10
9

Resistansi (KΩ)
8
7
6 Kenaikan Suhu
5 Penurunan Suhu
4
3
2
1
0
25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
Suhu (C)

 Analisa Pt Resistance Temperature Detector (Pt 100)


Sama seperti pengujian Thermistor NTC 10K pengujian RTD PT100 juga dilakukan dua
macam yaitu pengambilan data pada saat penaikan suhu dan penurunan suhu. Pada percobaan ini
suhu awal yang digunakan mulai dari 25 oC sampai dengan 70 oC dan penurunan suhu dari 70 oC
sampai 25 oC dengan kenaikan 5 setiap pengambilan datanya. Kemudian saat penaikan suhu
diperoleh nilai resistansi yang semakin menungkat seiring dengan di naikan nya suhu yaitu : 111.4
Ω, 113.3 Ω, 114.9 Ω, 117.6 Ω, 125.3 Ω, 139.7 Ω, 142.6 Ω, 145.3 Ω, 147.6 Ω, 149.6 Ω kemudian
pada saat penurunan suhu nilai resistansi menurun seiring menurun nya suhu yaitu : 148.7 Ω, 146
Ω, 144.2 Ω, 136.4 Ω, 132.1 Ω, 125.5 Ω, 119.4 Ω, 115.3 Ω, 113.7 Ω, 149.6 Ω. Berdasarkan dengan
data yang telah di peroleh dan diplotkan ke dalam grafik pada kenaikan suhu yaitu semakin suhu
naik maka keadaan hambatan semakin lama semakin naik juga dan diperoleh grafik histerisis
kenaikan dan penurunan suhu.

Grafik Hubungan Resistansi Terhadap Kenaikan


dan Penurunan Suhu
160

150
Resistansi (Ω)

140

130 Kenaikan Suhu


120
Penurunan Suhu
110

100
25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
Suhu (C)
 Analisa Thermocouple
Pada praktikum pengujian Thermocouple, seperti pengujian Thermistor pengukuran
dilakukan dua macam yaitu pengambilan data pada saat penaikan dan penurunan suhu, suhu awal
yang digunakan mulai dari 25 oC sampai dengan 70 oC dan penurunan suhu dari 70 oC sampai 25
o
C dengan kenaikan 5 setiap pengambilan datanya. Pada pengukuran thermocouple yang diukur
adalah tegangan dari output sensor thermocouple dimana didapatkan data output tegangan yang
semakain besar seiring dengan kenaikan suhu, data saat penaikan suhu yaitu : 38.16 mV, 42.21
mV, 59.86 mV, 168.4 mV, 264.5 mV, 355.6 mV, 476.8 mV, 648.2 mV, 887.8 mV, 1034 mV, pada
saat penurunan suhu nilai tegangan output semakin menurun yaitu : 1034 mV, 996.7 mV957.4 mV,
923.6 mV, 845.3 mV, 512.3 mV, 351.5 mV, 172.5 mV, 44.3 mV, 37.6 mV. Berdasarkan dengan
data yang telah di peroleh dan diplotkan ke dalam grafik diperoleh grafik histerisis kenaikan dan
penurunan suhu, yang dimana saat suhu naik tegangan tegangan output juga naik kemudian pada
saat penurunan suhu nilai tegangan juga turun, dilihat dari grafik nilai penurunan tidak melewati
titik pada saat penaikan suhu namun nilai pada grafik lebih kecil saat menurun.

Grafik Hubungan Tegangan Terhadap Kenaikan


dan Penurunan Suhu
75
70
65
60
Suhu (C)

55
50
45
40 Kenaikan Suhu
35 Penurunan Suhu
30
25
0 200 400 600 800 1000 1200
Tegangan (mV)

 Analisa LM35
Pada praktikum dengan menggunaka sensor LM35 dan membandingkan hasil pembacaan
suhu LM35 dengan Thermometer di dapatkan hasil pengukuran yang sama dengan pengukuran
yang ditunjukkan oleh Thermometer namun memiliki rata – rata nilai kesalahan pembacaan sekitar
0.86 % dari sembilan sampel suhu yang diambil yaitu 27, 30, 35, 40, 45, 50, 55, 60, 65 pada
Thermometer dan pada LM35 yaitu 26.45, 30.77, 35.12, 40.06, 45.38, 50.31, 55.18, 60.07, 65.53.
LM35 memiliki sensitivitas dengan factor 10mV setiap kenaikan 1oC, sensor lm35
memiliki pemansasan sendiri, namun cukup rendah yaitu kurang dari 0.1 oC.
 Analisa Humidity Sensor
Berdasarkan data hasil praktikum yang dilakukan dengan melakukan pengukuran pada saat
sensor ditutup dengan jari dan mengukur saat tidak ditutup jari, dengan begitu akan merubah sedikit
kelembaban yang ada di sekitar sensor dan data yang didapat yaitu tegangan naik saat ditutup jari
yaitu 2.770 V dan saat tidak ditutup 2.180 V.
6. Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
 Sensor Thermistor berjenis NTC 10K ketika suhu meningkat hambatan pada sensor tersebut akan
semakin kecil.
 Sensor Resistance Temperature Detector dengan tipe Pt 100 merupakan kebalikan dari sensor
Thermistor berjenis NTC yaitu nilai hambatan pada sensor akan semakin besar seiring dengan
meningkatnya suhu, dari kedua jenis sensor PTC maupun NTC dengan semakin besar nilai
resistansi yang dimiliki maka menentukan sensitivitas sensor tersebut pada perubahan suhu.
 Sensor Thermocouple bekerja dengan perubahan tegangan output pada sensor seiring dengan
perubahan suhu, sensor termokopel bekerja dengan membandingkan perbedaan potensial yang
terjadi di kedua ujung termoelemen akibat perbedaan panas dikedua ujungnya.
 Sensor LM 35 memiliki sensitivitas suhu,dengan faktor skala linier antara tegangan dan suhu 10
mVolt/oC, semakin besar suhu yang diterima sensor LM35 maka semakin besar juga tegangan
output sensor. Pada percobaan yang sudah dialikan perubahan suhu saat dipanaskan berubah
dengan cepat namun perubahan suhu berpengaruh juga dengan jarak dari sumber panas dengan
sensor LM35
 Pada saat Humidity sensor diberi tegangan 5 Vdc maka sensor mendeteksi kelembaban normal
dengan tegangan output sensor sebesar 2.770 V kemudian saat sensor ditutup dengan jari maka
tegangan output sensor turun menjadi 2.180 V dikarenakan terjadi perbedaan antara kelembaban
awal saat sensor belum ditutup dengan jari.