Anda di halaman 1dari 31

SUPERKONDUKTOR |1

2.1 Sejarah Perkembangan Riset Dibidang Superkonduktor


Superkonduktor belakangan ini menjadi topic pembicaraan
dan penelitian yang paling popular. Superkonduktor merupakan
suatu material dengan temperature tertentu yang sangat rendah
(critical temperature) dan nilai hambatan listriknya (electrical
resistivity) berubah secara drastis menjadi sama dengan nol.
Penelitian dalam bidang superkonduktor masih dilakukan sampai
sekarang untuk mendapatkan bahan dengan Tc mencapai
temperature kamar (20℃/293K).

Gambar 1. Kronologi sejarah material Superkapasitor


SUPERKONDUKTOR |2

2.1.1 Tahun 1911 oleh Heike Kamerlingh Onnes


Superkonduktor pertama kali
ditemukan oleh seorang Fisikawan
Belanda Heike Kamerlingh Onnes
pada tahun 1911 di Leiden Belanda.
Pada tanggal 10 juli 1908, Onnes
berhasil mencairkan helium dengan
cara mendinginkan hingga 4K atau
269℃. Kemudian pada tahun 1911,
Onnes mulai mempelajari sifat-sifat
listrik dari logam pada suhu yang
sangat dingin.
Pada waktu itu telah diketahui
bahwa hambatan suatu logam akan
Gambar 2. Penemu turun ketika didinginkan dibawah
pertama Superkonduktor suhu ruang, akan tetapi belum ada
yang dapat mengetahui berapa batas
bawah hambatan yang dicapai ketika temperature logam
mendekati 0K atau nol mutlak. Beberapa ahli ilmuwan pada waktu
itu seperti William Kelvin memperkirakan bahwa electron yang
mengalir dalam konduktor akan berhenti ketika suhu mencapai
nol mutlak. Dilain pihak, ilmuwan yang lain termasuk Onnes
memperkirakan bahwa hambatan akan mengahilang pada keadaan
tersebut.
Untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi, Onnes
kemudian mengalirkan arus pada kawat merkuri yang sangat
murni dan kemudian mengukur hambatannya sambil menurunkan
suhunya. Pada suhu 4,2K, Onnes terkejut ketika medapatkan
bahwa hambatannya tiba-tiba menjadi hilang. Arus mengalir
melalui kawat merkuri secara terus-menerus maka arus dapat
mengalir tanpa kehilangan energi. Suhu tersebut kemudian diberi
nama suhu kritis. Pada saat mengukur ketahanan suatu tabung
kecil diisi dengan air raksa, beliau terkejut mengamati bahwa
SUPERKONDUKTOR |3

perlawanan yang jatuh dari -0,1Ω pada suhu 4,3K kurang dari 3 ×
10−6 pada suhu 4,1K. Dibawah 4,1K, merkuri dikatakan
superkonduktor, dan tidak ada eksperimen belum terdeteksi
perlawanan terhadap aliran arus yang stabil dalam bahan
superkonduktor. Suhu dibawah ini yang menjadi superkonduktor
merkuri dikenal sebagai Tc
2.1.1 Suhu Kritis
Perubahan sifat bahan dari keadaan normal ke keadaan
superkonduktor dapat dianalogikan misalnya dengan perubahan
fase air dari keadaan cair ke keadaan padat. Perubahan ini sama-
sama mempunyai suatu suhu transisi, pada suhu transisi super-
konduktor ini disebut sebagai suhu kritik Tc, pada transisi fase ada
yang disebut titik didih (dari fase cair ke gas) dan titik beku (dari
fase cair ke padat). Pada transisi feromagnetik suhu transisinya
disebut suhu Curie. Besaran fisis yang berkaitan dengan transisi
superkonduktor adalah resistivitas bahan, mari kita lihat grafik
resistivitas sebagai fungsi suhu mutlak pada gambar 2.
Pada suhu T > Tc bahan
dikatakan berada dalam
keadaan normal, ia
memliki resistansi listrik.
Transisi ke keadaan
normal ini bukan selalu
berarti menjadi konduktor
biasa yang baik, pada
umumnya malah menjadi
penghantar yang jelek,
Gambar 3. Grafik resistivitas sebagai bahkan ada yang ekstrim
fungsi suhu mutlak menjadi isolator.
Untuk T < Tc bahan berada dalam keadaan superkonduktor.
Didalam eksperimen, pengukuran resistivitasnya dilakukan
dengan menginduksi suatu sampel bahan berbentuk cincin,
SUPERKONDUKTOR |4

ternyata arus listrik yang terjadi dapat bertahan sampai bertahun-


tahun. Resistivitasnya yang terukur tidak akan melebihi 10-25
ohm-meter, sehingga cukup beralasan bila resistivitasnya
dikatakan sama dengan nol.
Grafik gambar 3. Menunjukkan ketahanan suatu specimen
merkuri versus suhu absolute. Dengan tidak adanya hambatan,
maka arus dapat mengalir tanpa kehilangan energy. Percobaan
Onnes dengan mengalirkan arus pada suatu kumparan
superkonduktor dalam suatu rangakaian tertutup dan kemudian
mencabut sumber arusnya lalu mengukur arusnya satu tahun
kemudian ternyata arus masih tetap mengalir. Fenomena ini
kemudian oleh Onnes diberi nama superkonduktivitas. Atas
penemuannya itu, Onnes dianugerahi Nobel Fisika pada tahun
1913.
Karena penemuan awal, lebih banyak unsur telah ditemu-
kan untuk menjadi superkonduktor. Memang, superkonduktor ini
tidak berarti sebuah fenomena yang langkah, sebagai tabel
periodic. Blok merah mudah gelap menunjukkan unsur-unsur
yang menjadi superkonduktor pada tekanan atmosfer, dan angka
dibagian bawah sel temperature kristis mereka, yang berkisar dari
9,3K untuk niobium (Nb, Z=41), sampai dengan3 × 10−4 K untuk
rhodium (Rh, Z=45). Blok orange adalah unsur yang menjadi
superkonduktor hanya dibawah tekanan tinggi. Keempat blok
pink pucat adalah elemen yang superkonduktor dalam bentuk
tertentu: karbon (C, Z=6) dalam bentuk nanotube, kromium (Cr,
Z=24) sebagai film tipis, palladium (Pd, Z=46) setelah iradiasi
dengan partikel alpha, dan platinum (Pt, Z=78) sebagai bubuk
dipadatkan. Perlu dicatat bahwa tembaga (Cu, Z=29), perak (Ag,
Z=47) dan emas (Au, Z=79), tiga elemen yang merupakan
konduktor yang sangat baik pada suhu kamar, jangan menjadi
superkonduktor bahkan pada suhu terendah yang dicapai.
SUPERKONDUKTOR |5

2.1.2 Tahun 1933 oleh Walter Meissner dan Robert


Ochsenfeld
Penemuan lainnya
yang berkaitan dengan
superkonduktor terjadi
pada tahun 1913,
Walter Meissner dan
Robert Ochsenfeld
menemukan bahwa
suatu superkonduktor
akan menolak medan
Gambar 4. Penemu material magnet.
Superkonduktor

Sebagaimana diketahui, apabila suatu konduktor digerakkan


dalam medan magnet, suatu arus induksi akan mengalir dalam
konduktor tersebut. Prinsip inilah yang kemudian diterapkan
dalam generator. Akan tetapi, dalam superkonduktor arus yang
dihasilkan tepat berlawanan dengan medan tersebut sehingga
medan tersebut tidak dapat menembus material superkonduktor
tersebut. Hal ini akan menyebabkan magnet tersebut ditolak.
Fenomena ini dikenal dengan istilah diamagnetisme dan efek ini
kemudian dikenal dengan efek Meissner.
Efek Meissner ini sedemikian kuatnya sehingga sebuah
magnet dapat melayang karena ditolak oleh supekonduktor.
Medan magnet ini juga tidak boleh terlalu besar. Apabila medan
magnetnya terlalu besar, maka efek Meissner ini akan hilang dan
material akan kehilangan sifat superkonduktivitasnya. Dengan
berlalunya waktu, ditemukan juga superkonduktor lainnya. Selain
merkuri, ternyata beberapa unsur-unsur lainnya juga
menunjukkan sifat konduktor, dengan harga Tc yang berbeda.
Sebagai contoh, karbon juga besifat superkonduktor dengan Tc
15K. Hal yang ironis adalah logam emas, tembaga dan perak yang
SUPERKONDUKTOR |6

merupakan logam konduktor terbaik bukanlah suatu


superkonduktor.

2.1.3 Tahun 1986 oleh Alex Muller dan Georg Bednorz


Pada tahun 1986
terjadi sebuah
terobosan baru di-
bidang superkon-
duktivitas. Alex
Muller dan Georg
Bednorz, peneliti
dilaboratorium Riset
IBM di Ruschlikon,
Switzerland berhasil
Gambar 5. Penemu material membuat suatu
superkonduktor. keramik yang terdiri
dari unsur Lanthanum, Barium, Tembaga dan Oksigen yang
bersifat superkonduktor pada suhu tertinggi pada waktu itu 30K.
Penemuan ini menjadi spektakuler karena keramik selama
ini dikenal sebagai isolator. Keramik tidak menghantarkan listrik
sama sekali pada suhu ruang. Hal ini menyebabkan para peneliti
pada waktu itu tidak memperhitungkan bahwa keramik dapat
menjadi superkonduktor. Penemuan ini membuat keduanya diberi
penghargaan hadiah Nobel setahun kemudian.
Penemuan demi penemuan dibidang superkonduktor kini
masih saja dilakukan oleh para peneliti di dunia. Penemuan
lainnya yang juga fenomenal adalah berhasil disintesanya suatu
bahan organic yang besifat superkonduktor, yaitu (TMTSF)2PF6.
Titik kritis senyawa organik ini masih sangat rendah yaitu 1,2K.
SUPERKONDUKTOR |7

2.1.4 Tahun 1987 Ditemukan Keramik Bersifat


Superkonduktor
Pada bulan Februari 1987, ditemukan suatu keramik yang
bersifat superkonduktor pada suhu 90K. penemuan ini menjadi
penting karena dengan demikian dapat digunakan nitrogen cair
sebagai pendinginnya. Karena suhunya cukup tinggi
dibandingkan dengan material superkonduktor yang lain, maka
material-material tersebut diberi nama superkonduktor suhu
tinggi. Suhu tertinggi suatu bahan menjadi superkonduktor hingga
saat ini adalah 138K, yaitu suatu bahan yang memiliki rumus
HgO ∙ 8TiO ∙ 2𝐵𝑎2 𝐶𝑎2 𝐶𝑢3 𝑂8 ∙ 33.

2.2 Konsep Superkonduktivitas


Konduktor sebagai bahan yang dapat menghantarkan listrik.
Bahan konduktor dapat kita temukan diberbagai peralatan listrik
yang kita gunakan sehari-hari. Pada logam yang biasa digunakan
sebagai konduktor seperti Tembaga, electron-elektron yang
mengalir didalam bahan konduktor bertumbukan dengan ion-ion
bermuatan positif dan berakibat pada dilepaskannya energy panas.
Hambatan ini mengakibatkan tidak seluruhnya energy listrik
dapat dilewatkan dalam bahan konduktor karena sebagian
energinya diubah dan dilepaskan dalam bentuk energy panas.
Superkonduktivitas adalah suatu fenomena hilangnya
hambatan listrik pada suatu material dibawah temperature kritis.
Superkonduktivitas dapat diamati berdasarkan sifat listrik dan
sifat magnetnya dapat menghantarkan arus listrik tanpa hambatan
dan dapat menolak medan magnet. Jika sampel menampilkan
kedua sifat tersebut maka bahan tersebut merupakan bahan
superkonduktor.
Dalam superkonduktor konvensional, superkonduktivitas
disebabkan oleh sebuah gaya Tarik antara elektronkonduksi
SUPERKONDUKTOR |8

tertentu yang meningkat dari pertukaran photon, yang


menyebabkan electron konduksi memperlihatkan fase superfluida
terdiri dari pasangan electron yang berhubungan. Ada juga sebuah
kelas material, dikenal sebagai superkonduktor tidak
konvensional, yang memperlihatkan superkonduktivitas tetapi
yang ciri fisiknya berlawanan dengan teori superkonduktor
konvensional. Apa yang disebut superkonduktor suhu-tinggi yaitu
superkonduktor pada suhu yang jauh lebih tinggi dari yang
dimungkinkan menurut teori konvensional (meskipun masih jauh
dibawah suhu ruangan).
2.2.1 Bebas Hambatan
Dalam fisika dikenal suatu fenomena yang dinamakan
super-konduktivitas. Kata “super” selalu identic dengan sesuatu
yang memiliki sifat atau kemampuan diatas kebiasaan, jadi secara
mudah superkonduktivitas dapat diartikan sebagai fenomena
dimana pada bahan tertentu hambatan didalamnya hilang sama
sekali sehingga electron-elektron dapat mengalir dengan lancer
tanpa bertumbukan dengan ion positif.

Gambar 6. Grafik hubungan antara suhu dan resistansi pada


superkonduktor
SUPERKONDUKTOR |9

rapat arus meningkat seiring menurunnya temperature kritis


sesuai dengan persamaan,
𝑇𝑐 − 𝑇
𝐽𝑐 (𝑇) = 𝐽𝑐 (0)
𝑇𝑐
Nilai threshold arus dimana medan magnet disebabkan arus
itu sendiri sebanding dengan medan magnet kritisnya (F.B.
Silsbee, 1916). Pada suatu konduktor silinder, arus (I) mengalir
ditengah konduktor. Pada jarak (r) dari garis aliran arus, terdapat
medan magnet tangensial
1
𝐻(𝑟) =
2𝜋𝑟
Dan arus kritis menurut hipotesis Silsbee pada silinder
dengan jari-jari a dinyatakan dalam
𝐼𝑐 = 2𝜋𝑎𝐻𝑐
Sehingga besar rapat arus 𝐽𝑐 dapat ditentukan dengan
2𝐻𝑐
𝐽𝑐 =
𝑎
Pada waktu yang sama, Laboratorium Leiden juga
melakukan studi pengaruh temperature terhadap medan kritis
pada timah dengan hasil
𝑇 2
𝐻𝑐 (𝑇) = 𝐻𝑐 (0) [1 − ( ) ]
𝑇𝑐
S U P E R K O N D U K T O R | 10

2.2.2 Electron yang berpasangan


Teori yang dapat menjelaskan fenomena superkonduktivitas
dikenal sebagai teori BCS (Bardeen-Cooper-Schrieffer). Dalam
teori BCS hilangnya hambatan dalam bahan superkonduktor
muncul akibat adanya pasangan elektron yang bergerak secara
koheren. Gerak koheren dapat dibayangkan seperti barisan tentara
yang bergerak secara seragam dengan jarak antar tentara yang
tetap selama berpindah posisi. Pasangan elektron, disebut Cooper
pair, terbentuk ketika elektron bergerak melalui kisi-kisi (kisi atau
lattice adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyebut atom-
atom yang tersusun teratur) ion-ion bermuatan positif.

Gambar 7.
Pembentukan pasangan
electron (Copper Pair)
dimediasi oleh ion
positif yang terdefleksi

Elektron berinteraksi dengan ion-ion bermuatan positif di


sekitarnya dan mengakibatkan kisi ion positif mengalami sedikit
penyimpangan dari posisi asalnya. Penyimpangan ini akan
bertahan beberapa saat, sama halnya jika kita membayangkan
lonceng yang dipukul pada satu sisinya sehingga lonceng berayun
beberapa saat. Akibat penyimpangan posisi ion-ion positif, jarak
antar ion-ion positif memendek sehingga mengakibatkan
peningkatan rapat muatan positif di daerah di sekitar ion-ion
positif yang mengalami penyimpangan.
Peningkatan rapat muatan positif ini menjadi sumber gaya
tarik yang membuat elektron lain mendekat . Dua interaksi ini,
S U P E R K O N D U K T O R | 11

elektron 1 dengan ion-ion positif dan ion-ion positif dengan


elektron 2, jika saat dan keadaannya tepat akan menyebabkan dua
elektron berinteraksi saling tarik-menarik sehingga terbentuk
pasangan elektron atau Cooper pair. Dalam bahan superkonduktor
terdapat banyak sekali pasangan elektron, pasangan-pasangan
elektron ini akan bergerak secara koheren ketika terdapat beda
potensial. Gerakan kolektif elektron pada superkonduktor
memungkinkannya bergerak tanpa hambatan dan tanpa ada energi yang
terbuang dalam bentuk panas.
2.2.3 Melayang Diudara
Selain fenomena hilangnya hambatan listrik pada temperatur
rendah bahan superkonduktor juga memunculkan fenomena tidak
biasa lainnya. Fenomena ini menyebabkan bahan superkonduktor
dapat melayang-lanyang di udara jika diletakkan di atas magnet.
Ketika bahan superkonduktor ditempatkan di atas bahan magnet
dengan medan magnet yang lemah kemudian didinginkan hingga
mencapai temperatur kritisnya, bahan superkonduktor akan
melayang di udara akibat tidak adanya medan magnet yang dapat
menembus bahan superkonduktor.
Pada temperatur di atas Tc, medan magnet dapat menembus
bahan superkonduktor, akan tetapi ketika superkonduktor
didinginkan hingga mencapai temperatur kritisnya elektron-
S U P E R K O N D U K T O R | 12

elektron pada permukaan bahan superkonduktor bergerak


sehingga menimbulkan arus listrik.

Gambar 8. Ilustrasi Efek Meissner


Pada saat temperatur di atas temperatur kritis Tc medan
magnet (garis biru) dapat menembus bahan superkonduktor (bola
abu-abu), akan tetapi ketika temperatur diturunkan hingga lebih
rendah dari Tc medan magnet internal tambahan (garis merah) akan
mucul pada permukaan bahan superkonduktor yang menyebabkan
medan magnet eksternal tidak dapat menembus bahan superkonduktor.
Munculnya arus listrik ini mengakibatkan munculnya medan
magnet tambahan pada permukaan bahan superkonduktor yang
arahnya berlawanan dengan arah medan magnet ekseternal yang
ditimbulkan bahan magnet, medan magnet pada permukaan inilah yang
menyebabkan tidak dapat menembusnya medan magnet dari luar ke
dalam bahan superkonduktor. Gaya magnet dari luar ini mengangkat
bahan superkonduktor ke udara sehingga menimbulkan efek
pelayangan.
S U P E R K O N D U K T O R | 13

2.3 Material Superkonduktor dan Bahan Superkonduktor


2.3.1 Pengertian Bahan Superkonduktor
Bahan superkonduktor merupakanbahan material yang
memiliki hambatan listrik bernilai nol pada suhu yang sangat rendah.
Artinya 2 superkonduktor dapat menghantarkan arus walaupun
tanpa adanya sumber tegangan. Karakteristik dari bahan
Superkonduktor:
1. Medan magnet dalam superkonduktor bernilai nol
2. Mengalami efek meissner.
3. Resistivitas suatu bahan bernilai nol jika dibawah suhu
kritisnya.

Dalam bahan superkonduktor, resistivitas turun tiba‐tiba


menjadi nol ketika material didinginkan di bawah temperature
kritis. Arus listrik yang mengalir dalam loop kawat
superkonduktor dapat bertahan tanpa batas waktu tanpa sumber
listrik. Superkonduktor membutuhkan suhu yang sangat dingin,
pada urutan 39 kelvin (minus 234°C, dikurangi 389 F) untuk
superkonduktor konvensional.

Gambar 9. Grafik
Hubungan Antara
Resistivitas Terhadap
Suhu
S U P E R K O N D U K T O R | 14

2.3.2 Sifat Kelistrikan Superkonduktor


Bahan logam tersusun dari kisi-kisi dan basis serta electron
bebas. Ketika medan listrik diberikan pada bahan, electron akan
mendapat percepatan. Medan listrik akan menghamburkan
electron ke segala arah dan menumbuk atom-atom padakisi. Hal ini
menyebabkan adanya hambatan listrik pada logam konduktor.

Gambar 10. Keadaan


Normal Atom Kisi
Pada Logam

Pada bahan superkonduktor terjadi juga interaksi antara


elektron dengan inti atom. Namun elektron dapat melewati inti
tanpa mengalami hambatan dari atom kisi. Efek ini dapat
dijelaskan oleh Teori BCS(Bardeen-Cooper-Schrieffer). Ketika
elektron mele-wati kisi, inti yang bermuatan positif menarik
elektron yang bermuatan negatif dan mengakibatkan elektron
bergetar.

Gambar 11. Keadaan


Superkonduktor Atom
Kisi pada Logam
S U P E R K O N D U K T O R | 15

Jika ada dua buah elektron yang melewati kisi, elektron


kedua akan mendekati elektron pertama karena gaya tarik dari inti
atom-atom kisi lebih besar. Gaya ini melebihi gaya tolak-menolak
antar elektron sehingga kedua elektron bergerak berpasangan.
Pasangan ini disebut Cooper Pairs. Efek ini dapat dijelaskan
dengan istilah Phonons. Ketika elektron pertama pada Cooper Pairs
melewati inti atom kisi. Elektron yang mendekati inti atom kisi akan
bergetar dan memancarkan Phonon. Sedangkan elektron lainnya
menyerap Phonon. Pertukaran Phonon ini mengakibatkan gaya
tarik menarik antar elektron. Pasangan elektron ini akan melalu
kisi tanpa gangguan dengan kata lain tanpa hambatan.
2.3.3 Sifat Kemagnetan Superkonduktor
Sifat lain dari superkonduktor yaitu bersifat diamagnetisme
sempurna. Jika sebuah superkonduktor ditempatkan pada medan
magnet, maka tidak akan ada medan magnet dalam superkonduktor.
Hal ini terjadi karena superkonduktor menghasilkan medan magnet
dalam bahan yang berlawanan arah dengan medan magnet luar yang
diberikan. Efek yang sama dapat diamati jika medan magnet
diberikan pada bahan dalam suhu normal kemudian didinginkan
sampai menjadi superkonduktor. Pada suhu kritis, medan magnet
akan ditolak. Efek ini dinamakan Efek Meissner.

Gambar 12.
Diamagnetic Sempurna
S U P E R K O N D U K T O R | 16

2.3.4 Sifat Kuantum Superkodnuktor


Teori dasar Quantum untuk superkonduktor dirumuskan
melalui tulisan Bardeen, Cooper dan Schriefer pada tahun 1957.
Teori dinamakan teori BCS. Fungsi gelombang BCS menyusun
pasangan partikel dan. Ini adalah bentuk lain dari pasangan partikel yang
mungkin dengan Teori BCS.

Teori BCS menjelaskan bahwa :


a. Interaksi tarik menarik antara elektron dapat menyebabkan
keadaan dasar terpisah dengan keadaan tereksitasi oleh
energi gap.
b. Interaksi antara elektron, elektron dan kisi menyebabkan adanya
energi gap yang diamati. Mekanisme interaksi yang tidak
langsung ini terjadi ketika satu elektron berinteraksi dengan kisi
dan merusaknya. Elektron kedua memanfaatkan keuntungan dari
deformasi kisi. Kedua elektron ini beronteraksi melalui
deformasi kisi.
c. London Penetration Depth merupakan konsekuensi dari
Teori BCS, yaitu medan magnet akan menembus superkonduktor
pada jarak yang sangat kecil sekitar 100 nm.
d. Teori BCS memprediksisuhukritis39 kelvin (minus 234°C,
dikurangi 389 untuk superkonduktor konvensional.

2.3.5 Efek Meissner


Ketika superkonduktor ditempatkan di medan magnet luar yang
lemah, medan magnet akan menembus superkonduktor pada jarak
yang sangat kecil dan dinamakan London Penetration Depth,
mempunyai inisial lambda (λ). Pada bahan superkonduktor
umumnya London Penetration Depth sekitar 100 nm. Dari
penjelasan diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa
semakin dalam eksternal medan magnet mencoba untuk “menembus”
superkonduktor, kekuatan medan magnet tersebut akan berkurang
secara eksponensial. Setelah itu medan magnet bernilai nol.
Peristiwa ini dinamakan Efek Meissner dan merupakan
S U P E R K O N D U K T O R | 17

karakteristik dari superkonduktor. Efek Meissner adalah efek


dimana superkonduktor menghasilkan medan magnet. Efek Meissner ini
sangat kuat sehingga sebuah magnet dapat melayang karena ditolak oleh
superkonduktor. Medan magnet ini juga tidak boleh terlalu besar.
Apabila medan magnetnya terlalu besar, maka efek Meissner ini
akan hilang dan material akan kehilangan sifat superkonduktivi-
tasnya.
Salah satunya adalah, kita bisa menaruh magnet diatas
superkonduktor dan magnet itu akan melayang (kalau magnet itu tidak
melayang, itu menunjukkan bahwa medan dari magnet tersebut
menembus superkonduktor). Tentu saja kalau magnet itu terlalu
berat, gaya gravitasi dari magnet tersebut akan lebih besar dan magnet
itu tidak melayang. Tetapi, fenomena ini tidak akan terjadi kalau
medan magnet disekitar superkonduktor itu terlalu besar dan
superkonduktor ini akan menjadi konduktor biasa. Karena ini,
superkonduktor bisa dibedakan menjadi dua kategori, yaitu
a. Katergori pertama, medan magnet akan dapat menembus
superkonduktor jika eksternal medan magnet ini mencapai
nilai tertentu yang dinamakan critical field. Bukan hanya itu,
superkonduktor ini akan mempunyai hambatan setelah ini.
b. Superkonduktor dari kategori kedua, yang biasanya merupakan
material-material kompleks seperti Vanadium, Niobium
ataupun Technetium, mereka mempunyai dua critical field.
Setelah kekuatan eksternal medan magnet telah mencapai
critical field yang pertama, medan magnet akan dapat
menembus superkonduktor itu meskipun superkonduktor itu
tidak mempunyai hambatan sama sekali. Setelah medan magnet ini
mencapai critical field yang kedua, barulah superkonduktor ini
mempunyai hambatan.
S U P E R K O N D U K T O R | 18

Gambar 11. Efek Meissner

Gambar 13. London Penetration Depth

2.3.6 Tipe-Tipe Superkonduktor


Berdasarkan interaksi dengan medan magnetnya, maka
superkonduktor dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu Superkonduktor
Tipe I dan Superkonduktor Tipe II.
 Superkonduktor Tipe I
Superkonduktor tipe I menurut teori BCS (Bardeen,
Cooper, dan Schrieffer) dijelaskan dengan menggunakan
S U P E R K O N D U K T O R | 19

pasangan elektron (yang sering disebut pasangan Cooper).


Pasangan electron bergerak sepanjang terowongan penarik yang
dibentuk ion-ion logam yang bermuatan positif.
Akibat dari adanya pembentukan pasangan dan tarikan ini
arus listrik akan bergerak dengan merata dan superkonduktivitas
akan terjadi. Superkonduktor yang berkelakuan seperti ini disebut
superkonduktor jenis pertama yang secara fisik ditandai dengan
efek Meissner, yakni gejala penolakan medan magnet luar
(asalkan kuat medannya tidak terlalu tinggi) oleh superkonduktor.
Bila kuat medannya melebihi batas kritis, gejala
superkonduktivitasnya akan menghilang. Maka pada
superkonduktor tipe I akan terus-menerus menolak medan magnet
yang diberikan hingga mencapai medan magnet kritis. Kemudian
dengan tiba-tiba bahan akan berubah kembali kekeadaan normal.

Gambar 14. Grafik Magnetisasi terhadap Medan magnet


Di bawah adalah daftar tipe 1 superkonduktor yang sampai saat
ini sudah dikenal, kolom kedua adalah temperature transisi yang
kritis (Tc). Kolom ketiga memberi struktur kisi-kisi padat yang
memproduksi Tc.
S U P E R K O N D U K T O R | 20

 Superkonduktor Tipe II
Superkonduktor tipe II ini tidak dapat dijelaskan dengan
teori BCS karena apabila superkonduktor jenis II ini dijelaskan
dengan teori BCS, efek Meissnernya tidak terjadi. Abrisokov
berhasil memformulasikan teori baru untuk menjelaskan
superkonduktor jenis II ini. Ia mendasarkan teorinya pada
kerapatan pasangan elektron yang dinyatakan dalam parameter
keteraturan fungsi gelombang. Abrisokov dapat menunjukkan
bahwa parameter tersebut dapat mendeskripsikan pusaran
(vortices) dan bagaimana medan magnet dapat memenetrasi
bahan sepanjang terowongan dalam pusaran-pusaran ini. Lebih
lanjut ia pun dengan secara mendetail dapat memprediksikan jumlah
pusaran yang tumbuh seiring meningkatnya medan magnet. Teori
ini merupakan terobosan dan masih digunakan dalam
pengembangan dan analisis superkonduktor dan magnet.
Superkonduktor tipe II akan menolak medan magnet yang
diberikan. Namun perubahan sifat kemagnetan tidak tiba-tiba
tetapi secara bertahap. Pada suhu kritis, maka bahan akan kembali
kekeadaan semula. Superkonduktor Tipe II memiliki suhu kritis
yang lebih tinggi dari superkonduktor tipe I.

Gambar15. Grafik Magnetisasi terhadap Medan magnet


S U P E R K O N D U K T O R | 21

2.4 Bahan Superkonduktor (Low-Tc dan Hight-Tc)


Berdasarkan nilai suhu kritisnya, superkonduktor dibagi
menjadi dua kelompok yaitu :
2.4.1 Superkonduktor bersuhu kritis rendah
Superkonduktor bersuhu kritis rendah atau sering disebut
Low-TC Superconductors singkatan dari "Low Temperature
Critical Superconductors", biasanya mengacu pada bahan dasar
paduan Nb (pada umumnya Nb – 47 wt.% Ti) dan A15 (Nb3Sn
dan Nb3Al) yang digunakan sebelum penemuan superkonduktor
bersuhu kritis tinggi pada tahun 1986 . "Suhu" di sini mengacu
pada suhu rendah dimana superkonduktor harus didinginkan agar
bisa menjadi superkonduktor. Untuk superkonduktor bersuhu
kritis rendah, suhu biasanya jauh di bawah 20 K (-253°C). Paduan
Nb -47 wt.% Ti telah menjadi Superkonduktor komersial dominan
karena biaya produksinya relatif terjangkau untuk mencapai
bentuk elastisnya dengan struktur nano prasyarat yang dibutuhkan
untuk arus kritis tinggi. Seperti halnya untai berbasis Nb3Sn,
walaupun berdasarkan fase superkonduktor A15 rapuh, dapat
diproduksi menjadi komposit kuat dalam panjang hingga
kilometer dan produksi komponen mikrokontroler yang
mendukung kerapatan arus kritis yang tinggi. Superkonduktor ini
sering disebut "superkonduktor teknis" karena penerapannya pada
tugas teknik. Semua konduktor ini memerlukan pendinginan
sampai 4K (cairan Helium adalah pendingin yang paling umum
digunkan).
2.4.2 Superkonduktor bersuhu kritis Tinggi
Superkonduktor bersuhu kritis tinggi atau sering disebut
High-TC Superconductors singkatan dari "High Temperature
Critical Superconductors", adalah bahan yang bersifat
superkonduktor pada suhu yang sangat tinggi. Superkonduktor
bersuhu kritis tinggi pertama ditemukan pada tahun 1986 oleh
S U P E R K O N D U K T O R | 22

IBM Karl Müller dan Joanne Bednorz, yang dianugerahi Hadiah


Nobel dalam bidang Fisika pada tahun 1987 untuk terobosan
penting dalam penemuan superkonduktivitas material keramik.
Sedangkan superkonduktor logam biasanya memiliki suhu transisi
(suhu di bawah sifat superkonduktor) di bawah 30 K (-243,2 °C),
superkonduktor bersuhu kritis tinggi telah ditemukan dengan suhu
transisi tinggi 138 K (-135 °C). Hingga tahun 2008, beberapa
senyawa tembaga dan oksigen tertentu (yang disebut "cuprates")
yang diyakini memiliki sifat superkonduktor bersuhu kritis tinggi,
dan istilah superkonduktor suhu tinggi digunakan secara
bergantian dengan superkonduktor cuprate untuk senyawa seperti
BSCCO dan YBCO. Namun, beberapa senyawa berbasis besi (Fe)
sekarang dikenal memiliki sifat superkonduktor pada suhu tinggi.
2.4.3 Struktur Kristal superkonduktor keramik bersuhu
tinggi
Struktur superkonduktor bersuhu kritis tinggi tembaga
oksida atau superkonduktor cuprate sering dikaitkan erat dengan
struktur perovskit, dan struktur senyawa ini telah digambarkan
sebagai struktur perovskit berlapis oksigen yang terdistorsi. Salah
satu sifat dari struktur kristal superkonduktor oksida adalah
bidang lapisan multi-layer CuO2 bergantian dengan
superkonduktivitas yang terjadi di antara lapisan-lapisan ini.
Semakin banyak lapisan CuO2 semakin tinggi suhu kritisnya.
Struktur ini menyebabkan anisotropi yang besar dalam sifat
normal konduktor dan superkonduktor, karena arus listrik dibawa
oleh lubang yang diinduksi di tempat oksigen dari lembaran CuO2.
Konduksi listrik sangat anisotropik, dengan konduktivitas yang
jauh lebih tinggi pada arah sejajar dengan bidang CuO2 daripada
arah tegak lurus. Umumnya, suhu kritis bergantung pada
komposisi kimia, substitusi kation dan kandungan oksigen. Suhu
kritis dapat diklasifikasikan sebagai superstripes; Yaitu, realisasi
khusus dari superlattices pada batas atom yang terbuat dari lapisan
S U P E R K O N D U K T O R | 23

atom superkonduktor, kawat, titik yang dipisahkan oleh lapisan


pemisah yang memberi superkonduktivitas multiband dan
multigap.
2.4.4 Superkonduktor YBaCuO
2.4.5 Superkonduktor bersuhu kritis tinggi berbasis Bi,
TI, dan Hg
Struktur kristal superkonduktor bersuhu kritis tinggi
berbasis Bi, Tl, dan Hg sangat mirip seperti YBCO. Fitur bentuk
perovskite dan adanya lapisan CuO2 juga ada pada
superkonduktor ini. Namun, tidak seperti YBCO, rantai Cu-O
tidak ada dalam superkonduktor ini. Superkonduktor YBCO
memiliki struktur ortorombik, sedangkan superkonduktor bersuhu
kritis tinggi lainnya memiliki struktur tetragonal.
2.4.6 Superkonduktor bersuhu tinggi berbasis Bi (Bi-Sr-
Ca-Cu-O)
Sistem Bi-Sr-Ca-Cu-O memiliki tiga fase superkonduktor
yang membentuk rangkaian homolog sebagai Bi2Sr2Can-1CunO4
+ 2n + x (n = 1, 2 dan 3). Ketiga fasa ini adalah Bi-2201, Bi-2212
dan Bi-2223, yang memiliki suhu transisi masing-masing 20, 85
dan 110 K, dimana sistem penomoran mewakili jumlah atom
untuk Bi, Sr, Ca dan Cu masing-masing. Dua fase memiliki
struktur tetragonal yang terdiri dari dua sel satuan kristalografi
yang terpotong. Sel satuan dari fase ini memiliki dua bidang Bi-O
yang ditumpuk sedemikian sehingga atom Bi berada satu bidang
di bawah atom oksigen dari bidang berturut-turut berikutnya.
Atom Ca membentuk lapisan di dalam lapisan CuO2 dalam Bi-
2212 dan Bi-2223; Tidak ada lapisan Ca dalam fase Bi-2201. Tiga
fase berbeda satu sama lain dalam jumlah bidang CuO2; Bi-2201,
Bi-2212 dan Bi-2223 memiliki masing-masing satu, dua dan tiga
bidang CuO2. Sumbu c dari fase ini meningkat dengan jumlah
bidang CuO2. Koordinasi atom Cu berbeda dalam tiga fase. Atom
S U P E R K O N D U K T O R | 24

Cu membentuk koordinat oktahedral menggandeng atom oksigen


dalam fase 2201, sedangkan pada 2212, atom Cu dikelilingi oleh
lima atom oksigen dalam susunan piramidal. Dalam struktur 2223,
Cu memiliki dua koordinat bergandengan dengan oksigen: satu
atom Cu terikat dengan empat atom oksigen dalam konfigurasi
bidang persegi dan atom Superkonduktor Page 27 Cu lainnya
dikoordinasikan dengan lima atom oksigen dalam susunan
piramidal.
2.4.7 Superkonduktor bersuhu tinggi berbasis TI (TI-Ba-
Ca-Cu-O)
Superkonduktor seri pertama berbasis Tl mengandung
satu lapisan Tl-O memiliki rumus umum TlBa2Can-1CunO2n +
3, sedangkan seri kedua mengandung dua lapisan Tl-O memiliki
formula Tl2Ba2Can-1CunO2n + 4 dengan n = 1, 2, dan 3. Dalam
struktur Tl2Ba2CuO6 (Tl-2201), ada satu lapisan CuO2 dengan
urutan susunan (Tl-O) (T-O) (Ba-O) (Cu-O) (Ba-O) (Tl - O) (Tl-
O). Dalam Tl2Ba2CaCu2O8 (Tl-2212), ada dua lapisan Cu-O
dengan lapisan Ca di antaranya. Serupa dengan struktur
Tl2Ba2CuO6, lapisan Tl-O hadir di luar lapisan Ba-O. Dalam
Tl2Ba2Ca2Cu3O10 (Tl-2223), ada tiga lapisan CuO2 yang
melapisi lapisan Ca masing-masing diantaranya. Pada
superkonduktor Tl, suhu kritis meningkat seiring dengan
peningkatan lapisan CuO2. Namun, nilai suhu kritis menurun
setelah empat lapisan CuO2 pada TlBa2Can-1CunO2n + 3, dan
pada senyawa Tl2Ba2Can-1CunO2n + 4, menglami penurunkan
setelah tiga lapisan CuO2.
S U P E R K O N D U K T O R | 25

2.4.8 Superkonduktor bersuhu tinggi berbasis Hg (Hg-


Ba-Ca-Cu-O)
Struktur kristal HgBa2CuO4 (Hg-1201),
HgBa2CaCu2O6 (Hg-1212) dan HgBa2Ca2Cu3O8 (Hg-1223)
serupa dengan Tl-1201, Tl-1212 dan Tl-1223, dengan Hg
menggantikan Tl. Perlu dicatat bahwa senyawa suhu kritis dari
senyawa Hg (Hg-1201) yang mengandung satu lapisan CuO2 jauh
lebih besar dibandingkan dengan senyawa lapis-1 dari CuO2 dari
thallium (Tl-1201). Pada superkonduktor berbasis Hg, suhu
kritisnya juga meningkat saat lapisan CuO2 meningkat. Untuk
Hg-1201, Hg-1212 dan Hg-1223, nilai suhu kritisnya masing-
masing adalah 94, 128, dan nilai yang tercatat pada tekanan
ambien 134 K. Pengamatan bahwa suhu kritis dari Hg-1223
meningkat menjadi 153 K di bawah tekanan tinggi menunjukkan
bahwa suhu kritis senyawa ini sangat sensitif terhadap struktur
senyawa.
2.4.9 Superkonduktor bersuhu tinggi berbasis Fe
Superkonduktor berbasis besi (Fe) mengandung lapisan
besi dan atau chalcogen. Superkonduktor ini adalah yang
memiliki suhu kritis tertinggi kedua saat ini, di bawah cuprates.
Ketertarikan sifat superkonduktor bahan ini dimulai pada tahun
2006 dengan penemuan superkonduktivitas di LaFePO pada 4 K
dan mendapat perhatian besar pada tahun 2008 setelah material
analog LaFeAs (O, F) ditemukan superkonduktor mecapai 43 K
di bawah tekanan.
Sejak penemuan beberapa superkonduktor sejenis berbasis besi
telah muncul:
 LnFeAs (O, F) atau LnFeAsO1-x dengan Tc sampai 56 K,
disebut 1111 bahan. Varian fluorida dari bahan-bahan ini
kemudian ditemukan dengan nilai suhu kritis yang serupa.
S U P E R K O N D U K T O R | 26

 (Ba, K) Fe2As2 dan bahan terkait dengan pasangan lapisan


besi arsenida, disebut 122 senyawa. Nilai suhu kritis
mencapai 38 K. Bahan ini juga bersifat superkonduktor saat
besi (Fe) diganti dengan kobalt
 LiFeAs dan NaFeAs dengan suhu kritis sampai sekitar 20 K.
Bahan superkonduktor ini mendekati komposisi
stoikiometrik dan disebut sebagai 111 senyawa.
 FeSe dengan doping ortellurium atau off-stoikiometri kecil.
Kebanyakan superkonduktor berbasis besi yang tidak
didoping pada tinjauan magnetiknya menunjukkan transisi fase
struktural tetragonal-ortorombik pada suhu yang lebih rendah,
mirip dengan superkonduktor cuprate. Namun, superkonduktor
jenis ini adalah logam yang cukup bagus dibandingkan dengan
isolator Mott dan memiliki lima pita pada permukaan Fermi dan
bukan satu. Diagram fasa yang muncul saat lapisan besi-arsenida
didoping sangat mirip, dengan fase superkonduktor mendekati
atau sama dengan fase magnetik. Bukti kuat bahwa nilai suhu
kritis bervariasi dengan sudut ikatan As-Fe-As telah muncul dan
menunjukkan bahwa nilai suhu kritis optimal didapat dengan
struktur tetrahedra FeAs4 yang tidak terdistorsi.

2.5 Aplikasi Superkodnktor


System mendeteksi kecacatan ini membuat para pakar
sains fisika bahan meneliti lebih jauh didalam bidang fisika
terutama untuk bahan-bahan padat. Teknik ini membenarkan
kerusakan-kerusakan yang tidak dapat dilihat didalam bahan
dapat diketahui. Teknik ini juga telah dicoba dalam displin sains
yang lain termasuk biologi. Teknik penguji ultrasonic telah
membuka peluang baru kepada para penderita tumor otak dalam
orak dapat dikesan.
S U P E R K O N D U K T O R | 27

Teknik ini juga megurangkan pengunaan sinar-X di dalam


beberapa metode kedokteran yang ternyata penggunaan sinar-X
amat berbahaya terhadap jaringan (tissue) tubuh di badan manusia
dan juga kepada wanita hamil. Berdasarkan kepada prinsip gema
pulsa ini juga system sonar dicipta. System sonar adalah teknik
dimana penggunaan gelombang electromagnet didalam system
radar digantikan dengan ultrasonic. System sonar digunakan
dalam menetukan posisi sebuah kapal selam ketika waktu perang.
Tetapi kini digunakan pula untuk menentukan bentuk muka bumi
didasar lautan dan juga kelompok-kelompok ikan untuk tujuan
nelayan.
Gelombang ultrasonic yang dipancarkan ke dasar lautan
akan terpantul apabila ia tiba didasar. Ketidakseragaman
permukaan dasar lautan akan melahirkan variasi pantulan pulsa
dan melalui gema yang terhasil, parit, jurang, dan juga gunung-
gunung di dasar lautan dapat dipetakan. Waktu yang diambil oleh
pulsa untuk kembali ke pada transduser pengobservasi dari
transduser pemancar akan membolehkan kedalaman lautan di
sesuatu kawasan itu dapat dianggarkan hingga ke angka yang
paling tepat. Variasi gema pulsa juga digunakan oleh bot-bot
nelayan untuk mendeteksi kumpulan ikan dibawah permukaan air.
Aplikasi lainnya adalah :
 Kereta Maglev (Maglev, magnetic Levitation Train) Di
Jepang, kereta api supercepat ini diberi nama The Yamanashi
MLX01 Maglev train, dimana kereta ini dapat melayang
diatas magnet superkonduktor. Dengan melayang, maka
gesekan antara roda dengan rel dapat dihilangkan dan
akibatnya kereta dapat berjalan dengan sangat cepat, 343
mph (550 km/jam).
 Generato listrik super efisien. Bayangkan pembangkit listrik
bisa berefisiensi tinggi. Berapa milyar uang Negara yang bisa
di hemat. Sebagai perbandingan, untuk transmisi listrik,
S U P E R K O N D U K T O R | 28

pemerintah AS dan Jepang berencana untuk menggunakan


kabel superkonduktor dengan pendingin nitrogen untuk
menggantikan kabel tembaga. Menurut perhitungan, arus
dapat ditransmisikan akan jauh meningkat, 250 pon kabel
superkonduktor dapat menggantikan 18.000 pon kabel
tembaga.
 Supercomputer. Jangankan Pentium Core 2 Duo, ratusan kali
lebih cepat dari processor PC tercepat saat ini pun bisa dibuat
dengan superkonduktor. Bahkan dibidang militer, HTS-
SQUID (Superconducting Quantum Interference Devices)
telah digunakan untuk mendeteksi kapal selam dan ranjau
laut.
 Kedokteran. Diciptakan alat MRI, sebuah alat pencitra Gema
Magnetik.
S U P E R K O N D U K T O R | 29

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Superkonduktor pertama kali ditemukan oleh seorang
Fisikawan Belanda, Heike Kamerlingh Onnes dari
Universitas Leiden pada tahun 1911.
3.2 Superkonduktor adalah suatu material yang tidak memiliki
hambatan dibawah suatu nilai suhu tertentu.
3.3 Bahan logam tersusun dari kisi-kisi dan basis serta electron
bebas. Ketika medan listrik diberikan pada bahan, electron
akan mendapat percepatan. Medan listrik akan
menghamburkan electron ke segala arah dan menumbuk
atom-atom pada kisi. Hal ini menyebabkan adanya
hambatan listrik pada logam konduktor.
3.4 Jika sebuah superkonduktor ditempatkan pada medan
magnet, maka tidak akan ada medan magnet dalam
superkonduktor. Hal ini terjadi karena superkonduktor
menghasilkan medan magnet dalam bahan yang berlawanan
arah dengan medan magnet luar yang diberikan.
3.5 Superkonduktor terjadi karena ada gaya tarik menarik antara
electron-elektron konduksi akibat distorsi pada kisi yang
dilalui oleh electron, suatu interaksi lemah karena pada
logam interaksi ini luluh oleh aktivasi termal pada
temperature sangat rendah.
3.6 Aplikasi dari superkonduktor antara lain, kereta magnet
(Maglev, Magnetic Levitation Train) di Jepang, generator
listrik, supercomputer, MRI (sebuah alat pencitra gema
magnetik).
S U P E R K O N D U K T O R | 30

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Fuad. 2012. Sejarah dan Pengertian Superkonduktor.
Diakses di http://fanwar.staff.uns.ac.id/2010/04/23/sejarah-
dan-pengertian-superkonduktor/ pada tanggal 9 Maret 2018.
Hayt and Buck. 2006. Elemktromagnetika Edisi Kesepuluh.
Jakarta: Erlangga.
Hidayat, Muslih. 2012. Bahan Superkonduktor dan Material
Superkonduktor. Diakses di
http://www.scribd.com/doc/171146491/BAHAN-
SEMIKONDUKTOR-DAN-SUPERKONDUKTOR.pdf
pada tanggal 9 Maret 2018.
Ismandar. 2013. Makalah Ilmu Bahan Listrik. Diakses di
http://janwardi.files.wordpress.com/2013/04/bab-i-
makalah-ibl.doc pada tanggal 9 Maret 2018.
Munasir. 2017. Buku Ajar Mahasiswa Bahan Elektrik. Surabaya:
Jaudar Press
Pikatan, Sugata. 1989. Mengenal Superkonduktor. Diakses di
http://tan.awardspace.com/pubi/Konduktor.PDF pada
tanggal 9 Maret 2018.
Sains Hack. 2015. Mengenal fenomena superkonduktivitas.
Diakses di
http://www.sainshack.com/2015/09/18/mengenal-
fenomena-superkonduktivitas (Pada tanggal 10 Maret 2018)
Smallman, R. E dan Bishop, R. J. 2000. Metalurgi Fisik Modern
dan Rekayasa Material Edisi Keenam. Surabaya: Erlangga.
Sumardi, FR. 2013. Superkonduktor. Diakses di
htpp://digilib.unila.ac.id/76/8/BAB%2011.pdf pada tanggal
9 Maret 2018.
S U P E R K O N D U K T O R | 31

Suwitra, Nyoman. 1989. Pengantar Fisika Zat Padat. Jakarta:


DIKTI.
Triya. 2014. Buku Superkonduktor. Diakses di
http://www.scribd.com/dec/249670601/682296246-2-
Buku-Superkonduktor-1 pada tanggal 9 Maret 2018.
Uciha, Ghuna. 2015. Superkonduktor. Diakses di
http://www.academia.edu/8122871/SUPERKONDUKTOR
pada tanggal 9 Maret 2018.