Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang
menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai
dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan)
barang berguna. " (QS. Al-Ma’un: 1-7 ).

Teologi utama yang mendasari berdiri dan berkembangnya Muhammadiyah


adalah teologi al – Ma’un. Teori yang didasarkan pada Al-Qur’an ( 107 : 1-7 ) ini
seringkali diterjemahkan dalam tiga pilar kerja, yaitu : healing ( pelayanan kesehatan
), schooling ( pendidikan ), dan feeding ( pelayanan sosial ). Teologi ini pulalah yang
membuat organisasi ini mampu bertahan hingga 100 tahun dengan memiliki ribuan
sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan layanan kesejahtraan sosial yang lain.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan kami bahas dalam penulisan makalah ini antara
lain:
1. Apa saja pengertian Hakikat teologi Al Ma’un?
2. Apa saja ayat – ayat yang berisi tentang anjuran gemar bershadaqoh?
3. Apa saja peran Muhammadiyah terhadap Kaum Mustad’afin?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Hakikat teologi Al Ma’un
2. Untuk mengetahui Ayat – ayat tentang anjuran gemar bershadaqoh
3. Untuk mengetahui Peran Muhammadiyah terhadap Kaum Mustad’afin

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Teologi Al Ma’un


Teologi utama yang mendasari berdiri dan berkembangnya Muhammadiyah
adalah teologi al – Ma’un. Teori yang didasarkan pada Al-Qur’an ( 107 : 1-7 ) ini
seringkali diterjemahkan dalam tiga pilar kerja, yaitu : healing ( pelayanan
kesehatan ), schooling ( pendidikan ), dan feeding ( pelayanan sosial ). Teologi ini
pulalah yang membuat organisasi ini mampu bertahan hingga 100 tahun dengan
memiliki ribuan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan layanan kesejahtraan
sosial yang lain.

Materi utama yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah ,


kepada murid – muridnya pada dekade awal abad ke – 20 adalah pemahaman
Surat al – Ma’un. Pada intinya surat ini mengajarkan bahwa ibadah ritual itu
tidak ada artinya jika pelakunya tidak melakukan amal sosial. Surat ini bahkan
menyebut mereka yang mengabaikan anak yatim dan tak berusaha mengentaskan
masyarakat dari kemiskinan sebagai ‘pendusta agama’.

Berhari – hari KH Ahmad Dahlan mengajarkan materi ini kepada murid –


muridnya. Sampai- sampai sebagian dari mereka merasa bosan dan
mempertanyakan mengapa Kiai Dahlan mengulang – ulang pelajaran dan tidak
segera pindah ke materi lain. Mendengarkan pertanyaan itu, Kiai Dahlan balik
bertanya, “ Apakah kalian sudah paham surat ini? Apakah kalian sudah
mempraktekkannya?” Kiai Dahlan lantas meminta murid – muridnya untuk
mencari orang paling miskin yang bisa ditemui di masyarakat, kemudian
memandikannya dan menyuapinya. Inilah yang disebut pemahaman pertama dari
teologi al – Ma’un itu.

KH ahmad Dahlan tidak hanya menerjemahkan teologi itu dalam tindakan


karikatif seperti tersebut diatas. Dengan menggandeng Budi Utomo dan kraton
Yogyakarta, KH Ahmad Dahlan lantas mendirikan sekolah, rumah sakit dan panti
asuhan. Apa yang dirintisnya seratus tahun yang lalu itu kini telah berkembang
pesat diseluruh Indonesia.

2
Pertanyaan dasar yang perlu dikemukakan sekarang, di era global
kapitalisme, adalah apakah pemaknaan teologi al Ma’un seperti yang dilakukan
oleh KH Ahmad Dahlan 100 tahun yang lalu itu masih efektif dan manjur,
terutama untuk 100 tahun akan datang? Orang menjadi miskin itu kebanyakan
bukan karena mereka malas bekerja. Banyak sekali orang miskin yang justru
bekerja banting tulang 24 jam sehari. Mereka menjadi miskin karena hidup
didalam sistem yang menciptakan kemiskinan dan mendukung penindasan
terhadap orang miskin. Cara-cara tradisional dalam pengentasan
kemiskinan,terutama yang bersifat karikatif, terlihat tak berdaya menghadapi
sistem kapitalisme global dan pemiskinan stuktural oleh negara terhadap
rakyatnya.

Seiring pejalanan waktu, penindasan dan perbudakan bergulir dengan


berbagai bentuknya. Proses penindasan masih terus terjadi dengan berbagai motif
tapi dengan tujuan sama yaitu memuaskan nafsu segelintir orang. Hari ini
perbudakan terjadi dengan modis yang lebih halus. Atas nama perang terhadap
teroris, bahkan penindasan terjadi atas nama agama sekalipun.

Jika agama hanya dipahami sebagai hubungan antara seseorang dan Tuhan –
Nya, maka tidaklah berlebihan kiranya tuduhan bahwa agama hanyalah candu.
Agama hanya membu at manusia “ terlena “ dengan kenikmatan ritual tanpa
peduli dengan realitas di sekelilingnya. Bagaimana mungkin di negara yang
warga negaranya mayoritas muslim ini ternyata budaya korupsi, suap dan free
sex menjalar seperti jamur di musim hujan ? Bagai mana mungkin angka
kemiskinan terus meningkat ditengah makin bertambahnya jumlah jamaah haji
dari Indonesia.ini membuktikan bahwa kehidupan umat islam ternyata masih
jauh dari nilai – nilai luhur yang diperjuangkan para nabi yaitu kemanusiaan.

Dalam surat al Ma’un dijelaskan bahwa pengingkar Tuhan bisa datang dari
orang yang beribadah namun tidak memiliki kepekaan sosial. Dalam tafsirnya, Al
Maraghi mengatakan bahwa pengingkar Tuhan adalah orang yang rajin
beribadah tetapi riya. Penanda keriyaan itu adalah ketidak pedulian kepada kaum
mustadh’afin. Al Quran, melalui ayat ini, dan pada banyak ayat yang lain,
menegaskan kritiknya kepada perilaku kapitalsitik.

3
Dengan landasan teologis tersebut, maka setiap ritual ibadah haruslah
memiliki misi kemanusiaan. Seperti shalat harus memilki fungsi sebagai yang
mampu melepaskan manusia dari kemungkaran dan sifat kikir. Puasa harus
mampu merasakan rasa lapar dan penderitaan orang lain. Sehingga ibadah puasa
mampu mejadi motifasi dalam membela kaum tertindas. Terakhir, sebagai
muslim, kita sepertinya perlu melakukan kaji ulang terhadap cara keberislaman
kita. Misi pembebasan sebagaimana lerdapat dalam surat Al Ma’un haruslah
menjadi semangat keberislaman. Islam harus benar-benar ditempatkan sebagai
agama yang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Islam bukan agama
yang diciptakan untuk kepentingan Tuhan. Islam diciptakan bukan untuk
meyenangkan Tuhan. Karena Tuhan tidak butuh apapun kecuali diri-Nya sendiri.
Jadi Islam adalah agama manusia dan oleh karena itu umat Islam haruslah
senantiasa komitmen memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

B. Ayat – Ayat Tentang Anjuran Gemar Bershadaqoh


Agama Islam menganjurkan para penganutnya untuk berlomba-lomba
bersedekah dan membelanjakan harta untuk amal-amal sosial. Rasa solidaritas
dan gotong royong dipupuk dan ditanamkan dalam hati dan jiwa kaum muslimin
melalui ayat-ayat Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah sebagaimana difirmankan
oleh Allah swt.:
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik
(menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan
pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah
menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu
dikembalikan.” (Al-Baqarah 245).
Ayat ini menetapkan bahwa orang yang memberi harta dan atau pertolongan
kepada orang yang butuh dan yang tidak punya, ia sebenarnya memberi pinjaman
kepada Allah dan berhubungan dengan Dia, dan bahwa Dialah yang akan
membayarnya kembali berlipat ganda berupa barakah dan pertumbuhan rezki.

Barakah dan pertumbuhan rezki itu dijelaskan dalam ayat tersebut di bawah:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat

4
gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.”(Al-Baqarah 261).
Seirama dengan maksud ayat tersebut di atas bersabdalah Rasulullah saw.:

‫ وإبن ا تعالى تتقببلّها بيّميّنممه ثممبم يرببيّهمما كممما‬،ّ‫من تصبدقّ بعدل تمرة من كسبّ طبيّبّ ول يقبل ا إلب الطببيّب‬
‫يرببى أحدكم فلّبوهّ حبتى تكون مثل الجبل‬.

“Barangsiapa bersedekah dengan senilai sebuah kurma, yang dikeluarkannya


dari harta yang baik (halal) dan Allah tidak menerima melainkan barang yang
baik, maka Allah akan menerima sedekah itu dengan kanan-Nya, lalu
dipeliharanya seperti salah seorang daripada kamu memelihara anak ontanya
sampai menjadi besar dan gunung.

1. Belanja di jalan Allah


Al Qur’an, Surat Al Baqarah, Ayat : 195
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah,
karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

2. Utama kaum keluarga


Al Qu’ran Surat Al Baqarah, Ayat : 215
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah:
“Apa sahaja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-
bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang
yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat,
maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

3. Pinjaman kepada Allah


Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat : 245
Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik
(menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan

5
pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah
menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu
dikembalikan.

4. Bersedekah sebelum terngadah


Al Qur’an Surat Al Baqarah , Ayat : 254
Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebahagian
daripada rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang
pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang
akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang
yang zalim.

5. Sedekah itu barakah


Al Qur’an Surat, Al Baqarah, Ayat : 261
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti dengan sebiji / sebutir
benih yang menumbuhkan tujuh tangkai (bulir), pada tiap-tiap tangkai pula
ada seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

6. Sedekah dan iringan yang baik


Al Qur’an Surat Al Baqarah, Ayat : 262
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka
tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut
pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka
memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhuatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

7. Maaf dan sedekah jangan berlawanan


Al Qur’an Surah Al Baqarah Ayat : 263

6
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang
diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah
Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

8. Jangan hilangkan pahala sedekah


Al Qur’an Surah Al Baqarah, Ayat : 264
Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala)
sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si
penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riak kepada
manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah,
kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih (tidak
bertanah). Mereka tidak menguasai (memperolehi) sesuatu pun daripada apa
yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-
orang yang kafir.

9. Kebun sedekah
Al Quran Surat Al Baqarah, Ayat : 265
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena
mencari keredaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah
kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka
kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak
menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat
apa yang kamu perbuat.

10. Sedekah yang baik-baik


Al Quran Surah Al Baqarah,Ayat : 267
Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian
daripada hasil usaha kamu yang baik-baik dan sebagian daripada apa yang
Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang
buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak
mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan
ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

7
11. Al Qur’an Surat Al Baqarah, Ayat : 268
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan
menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan
untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

12. Menampak dan menyembunyikan sedekah


Al Qur’an Surat Al Baqarah, Ayat : 271
Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika
kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir,
maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan
menghapuskan daripada kamu sebahagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.

13. Pahala untuk diri sendiri


Al Quran Surat Al Baqarah, Ayat : 272
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi
Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-
Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah),
maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan
sesuatu melainkan karena mencari keredaan Allah. Dan apa saja harta yang
baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan
cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).

14. Miskin yang bermaruah


Al Quran Surat Al Baqarah, Ayat : 273
(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan
Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu
menyangka mereka orang kaya kerana (mereka) memelihara diri daripada
minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak
meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang

8
kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui.

15. Nafkah dalam sembunyi dan terang


Al Qur’an Surah Al Baqarah Ayat : 274
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara
tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi
Tuhannya. Tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati.

16. Sedekah itu subur


AlQur’an Surat Al Baqarah, Ayat : 276
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak
menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

17. Sedekahkan hutang


Al Qur’an Surah Al Baqarah, Ayat : 280
Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh
sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua
hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

18. Raikan kaum kerabat


Al Qur’an Surah An Nisaa’, Ayat : 8
Dan apabila sewaktu pembahagian itu hadir (kaum) kerabat, anak yatim dan
orang miskin, maka berilah mereka daripada harta itu (sekadarnya) dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.

19. Tiada mudarat selepas sedekah


Al Qur’an Surat An Nisaa’, Ayat : 39
Apakah kemudaratannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah
dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rezeki yang telah diberikan
Allah kepada mereka? Dan adalah Allah Maha Mengetahui keadaan mereka.
20. Bisikan yang paling baik

9
Al Qur’an Surah An Nisaa’, Ayat :114
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali
bisikan-bisikan daripada orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah,
atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan
barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keredaan Allah, maka
kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

21. Bersolat dan bersedekah itu beriringan


Al Qur’an Surat Al Anfaal, Ayat : 3
(Ia itu) orang-orang yang mendirikan solat dan yang menafkahkan
sebahagian daripada rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

22. Sedekah dibalas dengan kecukupan


Al Quran Surat Al Anfaal, Ayat : 60
Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka (dengan) kekuatan apa saja
yang kamu sanggupi dan daripada kuda-kuda yang ditambat untuk berperang
(yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu
dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang
Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah
nescaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya
(dirugikan).

23. Darjat pemberi sedekah


Al Quran Surat At Taubah,Ayat : 20
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan
harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi darjatnya di sisi Allah; dan
itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

24. Pemberian bukan kerugian; tapi mengelak kecelakaan


Al Qur’an Surah At Taubah, Ayat : 9
Di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang memandang apa yang
dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti

10
marabahaya menimpamu; merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

25. Sedekah itu jalan mendekati Allah


Al Qur’an Surah At Taubah, Ayat : 99
Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada
Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan
Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan
untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah
suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah
akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga) Nya; sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

26. Sedekah itu penyucian jiwa dan harta


Al Qur’an Surah At Taubah, Ayat : 103
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

27. Zakat dan Taubat beriringan


Al Quran Surah At Taubah,Ayat : 104
Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat daripada
hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang?

28. Ucapan untuk si pemberi


Al Quran Surah Yusuf, Ayat : 88
Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: “Wahai al-
Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang
membawa barang-barang yang tidak berharga, maka sempurnakanlah sukatan
untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi
balasan kepada orang-orang yang bersedekah.”

11
29. Sedekah sama ada sembunyi atau terang
Al Qur’an Surah Ar Ra’d,Ayat : 22
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keredaan Tuhannya, mendirikan
solat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada
mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan
dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang
baik).

30. Bersedekah sebelum terlewat


Al Qur’an Surah Ibrahim, Ayat : 31
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah
mereka mendirikan solat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan
kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari
(kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.

31. Perbandingan yang menarik


Al Qur’an Surah An Nahl, Ayat : 75
Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki
yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri
rezeki yang baik daripada Kami, lalu dia menafkahkan sebahagian daripada
rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu
sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada
mengetahui.

32. Memberi kepada kaum kerabat


Al Qur’an Surah An Nahl, Ayat : 90
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar
kamu dapat mengambil pelajaran.

12
33. Beri kepada yang terdekat; tapi tidak pula boros
Al Qur’an Surah Al Israa’, Ayat : 26
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada
orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

34. Halus bahasa kala menolak memberi sedekah


Al Qur’an Surah Al Israa’, Ayat :28
Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat daripada
Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang
pantas.

35. Kelapangan rezeki di sisi Tuhan, Dia juga yang menggantikan


pemberian
Al Qur’an Surah Saba’, Ayat : 39
Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang
dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa
yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka
Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.

36. Perniagaan yang tidak akan merugi


Al Qur’an Surah Faathir, Ayat : 29
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan
solat dan menafkahkan sebahagian daripada rezeki yang Kami anugerahkan
kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu
mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.

37. Pahala yang besar


Al Qur’an Surah Al Hadiid, Ayat : 7
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebahagian
daripada hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya
(memberikan penguasaannya kepada kamu). Maka orang-orang yang

13
beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebahagian) daripada hartanya
memperoleh pahala yang besar.

38. Tidak sama bersedekah sebelum dan selepas futuh Makkah


Al Qur’an Surah Al Hadiid, Ayat : 10
Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebahagian hartamu) pada jalan
Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi?
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan
berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi darjatnya
daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah
itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih
baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

39. Jihad yang terbaik dengan harta


Al Qur’an Surah Ash Shaff , Ayat : 11
(Iaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu
mengetahuinya.

40. Jangan sampai terlewat


Al Qur’an Surah Al Munaafiquun,Ayat : 10
Dan belanjakanlah sebahagian daripada apa yang telah Kami berikan
kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu;
lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan
(kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat
bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

41. Memberi tanpa mengharap balasan


Al Qur’an Surat Al Insaan, Ayat : 9
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk
mengharapkan keredaan Allah, kami tidak menghendaki balasan daripada
kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

14
Al Qur’an Surah Al Lail, Ayat : 20
Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keredaan Tuhannya
Yang Maha Tinggi.

42. Jangan mengherdik yang meminta-minta


Al Qur’an Surat Adh Dhuhaa, Ayat : 10
Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu mengherdiknya.

C. Peran Muhammadiyah Terhadap Kaum Mustad’afin


Teologi Al-Maun yang dikembangkan oleh Ahmad Dahlan, pendiri
Muhammadiyah, dianggap oleh warga Muhammadiyah dan juga dinilai banyak
peneliti, seperti Deliar Noer (1973) dan A Jainuri (1999), berhasil membawa
warga gerakan ini gigih dan bersemangat membebaskan para mustad’afin dari
ketertindasannya. Wujud konkrit dari gerakan mereka adalah pendirian beberapa
panti asuhan, rumah sakit, dan sekolah. Muhammadiyah. Sejak lahirnya, dimana
sejarah mencatat tanggal 18 November 1912 di Kauman Yogyakarta.
Muhammadiyah didirikan oleh seorang anak khatib masjid besar keraton
Yogyakarta, bernama Muhammad Darwis—kemudian kelak Darwis berganti
nama menjadi Ahmad Dahlan. Darwis hidup[ di lingkungan tradisi keraton yang
menjadi penegak kekuasaan lokal, namun disergap oleh kolonialisme
pemerintahan Hindia Belanda yang selalu mengintai. Tradisi Jawa yang kental
itu ditunjukkan dengan pakaian-pakaian resmi pendiri Muhammadiyah saat itu,
dengan busana lengkap adat Jawa. Fakta ini juga menjadi penanda bahwa
Muhammadiyah melewati konteks sejarah yang tidak kaku, melewati sekat
tradisi yang sangat primordial, dan kemudian bangkit dengan semangat Islam
modernis.
Maka modernis ini yang menjadi pembeda Muhammadiyah dengan
organisasi lain pada saat itu. Kata ‘modernis’ berhubungan dengan semangat
berkemajuan, berkelindan dengan semangat pengetahuan ilmiah. Pelan namun
pasti, Muhamamdiyah berjuang menghilangkan musuh kemajuan yaitu TBC--
tahayul, bid’ah dan churafat (ejaan lama) yang telah lama menjadi tradisi
masyarakat Jawa. Bahkan Tan Malaka (1942) dalam buku Madilog menjelaskan
untuk membangun kesadaran rakyat,” jauhkanlah diri kita sejauh-jauhnya dari
dasar berfikir tahayul, mistik dan teman-temannya. Sikap tahayul ini tentu
berlawanan dengan makna ‘kerja’ yang menjadi semangat pendiri bangsa saat
15
itu. Tan Malaka mencatat bahwa Pemerintah Hindia Belanda demi mendapatkan
tenaga kerja yang murah, mereka menjadikan kuli-kuli kontrak sebagai manusia
bodoh, terikat dan berwawasan sempit. Mereka harus memeras keringat untuk
hidup, sehingga mereka tidak memahami makna kehidupan dan pembebesan
pada manusia.
Jadi kerja bagi Muhammadiyah bukan hanya sekedar kerja. Kerja bagi
Muhammadiyah berpijak pada semangat ‘tajdid’. Sedangkan ‘tajdid’
Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, dari segi bahasa ‘tajdid’
berarti pembaruan dan dari segi istilah tajdid memiliki dua arti. Pertama, tajdid
dalam arti purifikasi—atau pemurnian ajaran kembali ke tauhid al-quran dan as-
sunnah—kata ini kemudian dijadikan jargon dalam gerakan pembaruan Islam
agar terlepas dari bid'ah, tahayul dan khurafat. Kedua, tajdid dalam arti
“pembaharuan” dimambil dari bahasa Arab yang berasal dari kata "taddada-
tujaddidu-tajdiidan" yang artinya memperbarui-peningkatan-pengembangan,
modernisasi dan yang semakna dengannya. (Sutarmo: 2005).

1. Kerja dengan Tajdid


Muhamamdiyah terus bekerja membentuk masyarakat kota (urban). Melalui
semangat ‘teologi al-maun’, Muhammadiyah berusaha mengentaskan
permasalahan sosial. Semangat ‘al-maun’ ini yang kemudian melahirkan
Penolong Kesengsaraan Umum (PKU) cikal bakal ratusan Rumah Sakit
Muhammadiyah dan panti sosial yang bertebaran di Indonesia saat ini. Kerja
dengan ‘tajdid’ memiliki dampak sosial yang sangat luas. Muhammadiyah
tercatat sampai hari ini memiliki amal usaha terdiri dari; TK/TPQ 4.623; Sekolah
Dasar (SD)/MI 2.604; Sekolah Menengah Pertama (SMP)/MTs 1.772; Sekolah
Menengah Atas (SMA)/SMK/MA 1.143; Pondok Pesantren 67; Jumlah total
Perguruan tinggi Muhammadiyah 172; Rumah Sakit, Rumah Bersalin, BKIA,
BP, dan lain-lain 457; Panti Asuhan, Santunan, Asuhan Keluarga 318; Panti
jompo 54; Rehabilitasi Cacat 82; Sekolah Luar Biasa (SLB) 71; Masjid 6.118;
Musholla 5.080; Tanah 20.945.504 M². (sumber: Muhammadiyah.or.id)
Maka menarik saat Presiden Jokowi membacakan pidato dalam pembukaan
Muktamar Muhammadiyah ke-47 (03/8) di Makassar, Sulawesi Selatan. Beliau
mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih yang mendalam atas kerja-kerja
Muhammadiyah dalam 103 tahun ini. Presiden berucap,"sudah berapa juta bayi

16
yang lahir di RS Muhammadiyah? Berapa juta siswa yang meniti pendidikan di
sekolah Muhammadiyah? Kita bisa melihat begitu banyak kontribusi
Muhammadiyah untuk negara kita. Muhammadiyah telah cukup lama dikenal
dengan gagasan dan kreatifitas berkemajuan. Hal ini membuat Muhammadiyah
bisa berkontribusi di berbagai kota, bahkan hingga pedesaan. Dengan
pandangan Islam berkemanjuan dan berbagai modal sosial. Muhammadiyah
dan Aisyiyah berhasil menjadi motor kemajuan bangsa."
Kerja Muhammadiyah sudah dilakukan sejak pra-merdeka hingga mengantar
ke pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, menjadi bukti sekaligus saksi sejarah.
Mulai dari presiden Soekarno sampai Jokowi Muhammadiyah tetap setia dan
bekerja untuk Islam berkemajuan di bumi Nusantara. Maka ‘tajdid’ bekerja
dalam narasi Muhammadiyah tetap sesuai dengan pesan KH Ahmad
Dahlan,”Muhammadiyah kini, lain dengan Muhammadiyah yang akan datang.
Maka teruslah bersekolah menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah Guru,
kembali kepada Muhammadiyah, Jadilah Dokter, kembali kepada
Muhammadiyah, Jadilah Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada
Muhammadiyah.
Mereka-mereka yang lahir dari tradisi Islam modernis kini bertebaran
memberi manfaat untuk ummat Islam, Indonesia bahkan dunia. Matahari
Muhamamadiyah telah bersinar lebih dari 1 abad, Islam berkemajuan adalah
potensi yang dimiliki Indonesia dalam pergaulan internasional. Berangkat dari
kesadaran, berjuang meraih pengetahuan dan bekerja sebagai kewajiban
kemanusiaan. Sebagaimana W.S. Rendra (1984) berucap,”Kesadaran adalah
Matahari/ Kesabaran adalah Bumi/ Keberanian menjadi cakrawala/ Perjuangan
adalah pelaksanaan kata-kata/” Selamat datang pemimpin baru Sang Surya,
tetaplah bersinar matahari Islam berkemajuan, semoga cahayamu semakin
menerangi bangsa Indonesia.

17
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari pembahasan-pembahasan di atas dapat kami simpulkan bahwa,
Teologi Al-Maun yang dikembangkan oleh Ahmad Dahlan sebagai pendiri
Muhammadiyah berhasil membawa warga gerakan ini gigih dan bersemangat
membebaskan para mustad’afin dari ketertindasan. Muhammadiyah Melalui
semangat ‘teologi al-maun’, Muhammadiyah berusaha mengentaskan
permasalahan sosial. Semangat ‘al-maun’ ini yang kemudian melahirkan
Penolong Kesengsaraan Umum (PKU) cikal bakal ratusan Rumah Sakit
Muhammadiyah dan panti sosial yang bertebaran di Indonesia saat ini.

B. SARAN
Sebagai penutup Makalah ini kami selaku penyusun dengan
kerendahan hati memohon segala bentuk masukan, saran, perbaikan atau ide-
ide yang membangun. Dan dalam kanca perwujudan cinta kita pada islam
dan ilmu pengetahuan, maka kami hanya berpesan pada semua pembaca,
khususnya semua keluarga, teman dan dosen dosen yang ada di Universitas
Muhammadiyah Jakarta untuk : Senantiasa cinta pada islam dan syari’at-
syari’at yang ada di dalamnyam, Sedikit banyak mempelajari dan menela’ah
bagaimana konsep teologi Al Ma’un yang benar dengan memandang diri kita
dalam dua dimensi yang ada.
Semoga makalah ini bisa memberi manfaat pada kita semua. Aamiin
Ya Robb al-‘alamin

18