Anda di halaman 1dari 200

FIKIH ORANG SAKIT

Pengarang:

DR. MUHAMMAD MANSHUR

DIKAJI ULANG OLEH:

MAHMUD MANSHUR

Penerbit:

Dar At-Tauzi' wa An-Nashri Al-Islamiyah, Kairo, Mesir

Cetakan Pertama, tahun 1422 H/2002 M

Penerjemah:

Iman Sulaiman, Lc. dan Nabiel Fuad Almusawa

Editor:

Penata Letak:

Pewajah Sampul:

Cetakan Pertama: 2003 M.

Penerbit:

Pustaka Al-Kautsar.

Jalan Cipinang Muara Raya No. 63, Jakarta Timur 13420 Tlp. (021)

8507590, 8506702 Fax. (021) 85912403

E-mail: kautsar@centrin.net.id
MUKADDIMAH
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarga, para sahabat dan orang-

orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

Saya sangat terkejut ketika mendapatkan orang sakit yang

meninggalkan shalat selama dia sakit, karena ketidaktahuan mereka tentang

tata cara shalat, tata cara bersuci atau berwudhu. Memperhatikan

pengalaman tersebut, saya fikir, apabila saya menghimpun hukum-hukum

syariat yang terkait dengan orang sakit yang banyak tersebar di dalam kitab-

kitab fikih, lalu memapaparkan secara sederhana, jelas dan terarah akan

sangat bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin, bukan hanya untuk orang-

orang yang memiliki keahlian khusus dalam ilmu syariat. Terlebih jika

paparan tersebut, disertai dengan penyebutan dalil-dalilnya secara tidak

terlalu mendalam dan luas, sehingga pembaca tidak terlalu disibukkan dalam

menelitinya dan dapat lebih leluasa memanfaatkan hukum yang disimpulkan

darinya. Kitab kecil ini, saya beri judul "Ringkasan Penting Fikih Orang Sakit;

Bagaimana Bersuci, Shalat, Berpuasa Dan Berhaji?"

Para pembaca yang budiman, dalam buku ini anda akan mendapatkan

lebih dari satu pendapat terkait dengan suatu permasalahan. Adalah hak

anda untuk mengambil salah satunya sesuai dengan yang anda inginkan,

dan sesuai dengan situasi dan kondisi yang anda alami. Semuanya adalah

pendapat para ulama yang telah menghabiskan umur mereka guna menggali

hukum-hukum fikih. Para ulama yang diakui ketakwaan dan kedalaman

ilmunya oleh semua orang. Semuanya adalah pendapat yang dilandaskan

kepada Al-Qur`an dan sunnah, yang mana sebagian besar nashnya memberi

kemungkinan munculnya berbagai pendapat, bukan hanya satu pendapat

saja. Hal itu tidak lain untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang

mengandung ajaran yang cocok untuk seluruh manusia, sekalipun terdapat

perbedaan tabiat, kemampuan dan lingkungan diantara mereka. Disamping

sesuai juga untuk keseluruhan zaman dan waktu, sekalipun terjadi

perubahan dan perkembangan yang berbeda-beda hingga hari Kiamat.


Saya juga berpendapat adalah baik sekiranya saya menambahkan di

sini sebagian hukum fikih yang terkait dengan orang sehat, dengan

pertimbangan bahwa orang yang membaca buku ini adalah orang-orang

sehat yang ingin mengetahui apa yang harus dilakukannya saat ia tertimpa

sakit, atau ingin mengetahui perbedaan antara kedua hukum, yakni hukum

ketika sehat dan ketika sakit.

Dalam mengambil simpulan hukum-hukum fikih tersebut, saya

membatasi diri untuk merujuk kepada kitab-kitab berikut ini:

1. Fiqh As-Sunnah, karangan Sayyid Sabiq, yang diterbitkan oleh

Maktabah Muslim, Kairo.

2. Fiqh Al-Ibadat, karangan Syaikh Hasan Ayyub. Penerbit Daar at-

Tauzi' wa An-Nasyr Al-Islamiyah, Mesir, tahun 1996 M.

3. Al-Fiqh Al-Muyassar, yang ditulis oleh Isa Asyur. Penerbit Dar Al-

I'tisham, Mesir, tahuh 1978 M.

4. Al-Fiqh Al-Wadhih, karya Syaikh Muhammad Bakr Ismail. Penerbit

Dar Al-Manar li An-Nasyr wa At-Tauzi', Mesir, tahun 1990 M.

5. Al-Fiqh 'Ala Al-Madzhahib Al-Arba'ah (Fikih Menurut Empat

Madzhab), karangan Syaikh Al-Jaziri, cetakan ketiga, penerbit Al-

Maktabah At-Tijariyah, Kairo.

Di akhir buku ini, saya juga telah menambahkan beberapa

permasalahan fikih, yang banyak berkaitan dengan kepentingan orang-orang

sakit, seperti transplantasi (pemindahan jaringan tubuh dari suatu tempat ke

tempat lain), operasi plastik untuk manfaat kecantikan tubuh, mengganti

kelamin laki-laki menjadi perempuan dan lain-lain. Saya telah mengutipnya

dari buku Ahsan Al-Kalam fi Al-Fatawa wa Al-Ahkam karya Syaikh Athiyyah

Shaqar, yang diterbitkan oleh Dar Al-Ghad Al-Arabi, di Kairo tahun 1997 M,

cetakan kedua, juga dari terbitan Konferensi Organisasi-organisasi Islam

Untuk Ilmu Kedokteran (Al-Munazdzdomah Al-Islamiyah lil Ulum Ath-

Thibbiyah) yang diselenggarakan di Kuwait, Desember tahun 1996 M.

Mengenai pembahasan tentang tata cara interaksi antara pasien laki-

laki dan dokter perempuan atau antara pasien perempuan dengan dokter
laki-laki, saya kutipkan dengan sedikit ringkasan dari kitab Tahrir Al-Mar'ah fi

'Ashri Ar-Risalah karya Ustadz Abdul Halim Abu Syuqqah, cetakan keempat,

tahun 1995, penerbit Dar Al-Qalam li An-Nasyri wa At-Tauzi' Kuwait, ditambah

pendapat dari Doktor Yusuf Al-Qaradhawi disertai sumber-sumbernya yang

saya sebutkan pada setiap kutipan.

Saya memohon kepada Allah agar buku ini bermanfaat dan dengannya

Allah memberikan pahala, ampunan, surga dan keridhaan-Nya kepada kita

semua. Amin.

Dr. Muhammad Manshur

==0==

BERSUCI DAN SHALAT

Syarat Sah Shalat Secara Umum


Syarat shalat adalah amalan yang pelakunya diberi pahala dan yang

meninggalkannya berdosa, serta tanpanya shalat menjadi tidak sah. Syarat

shalat adalah amalan-amalan di luar shalat itu sendiri, karena shalat dimulai

dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Adapun amalan-amalan yang

tanpanya shalat menjadi batal, dan merupakan bagian dari shalat seperti

membaca Al-Fatihah, ruku, sujud dan yang lainnya disebut rukun atau fardhu

shalat.

Syarat-syarat shalat adalah sebagai berikut:

1. Suci Pakaian, badan dan tempat:


Suci pakaian disyaratkan berdasarkan firman Allah Taala, "Dan

pakaianmu bersihkanlah." (Al-Muddatstsir: 4).

Sedang suci badan, dalilnya adalah firman Allah Taala, "Dan perbuatan

dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah." (Al-Muddatstsir: 5).

Adapun suci tempat dalilnya adalah riwayat yang menceritakan bahwa

seorang Arab badui kencing di Masjid, lalu orang-orang pun bangkit untuk
memukulinya. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Biarkan dia,

siram air kencingnya dengan seember air atau satu wadah air.

Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah, bukan untuk

mempersulit."1

2. Suci Dari Hadats Kecil Dan Hadats Besar:


Maksudnya, seseorang yang akan mendirikan shalat, hendaknya

mempunyai wudhu dan suci dari junub, yakni keluarnya mani bagi laki-laki,

atau keluarnya cairan kewanitaan bagi perempuan, atau bersetubuh antara

seorang laki-laki dengan istrinya, juga suci dari haid dan nifas bagi

perempuan.

Allah Subhanahu wa Taala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman,

apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan

tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu

sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan

jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus)

atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka

bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan

tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi

Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu,

supaya kamu bersyukur." (Al-Maidah: 6).

3. Menutup Aurat:
Allah Subhanahu wa Taala berfirman, "Hai anak Adam, pakailah

pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid." (Al-A'raf: 31).

Maksudnya, tutuplah aurat-aurat kalian dalam setiap shalat. Aurat ini,

hendaknya ditutup dengan pakaian yang tidak menyetak bentuk tubuh, juga

tidak transparan, atau tidak sempit sehingga mempelihatkan lekuk-lekuk

tubuh dan tidak transparan sehingga bagian tubuh yang ada di balik pakaian

terlihat.

a. Aurat laki-laki:
Tentang aurat laki-laki terdapat dua pendapat:

1 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya.


Menurut satu pendapat, yang termasuk aurat laki-laki hanyalah aurat

yang berat saja (al-'aurah al-Mughallazdoh), yaitu kemaluan dan dubur.

Bagian ini, wajib ditutup, baik dari bagian depan, belakang maupun samping,

hingga tidak tampak sesuatu pun darinya dalam kondisi apa pun.

Adapun kedua paha, pusar dan lutut menurut pendapat ini tidak

termasuk aurat. Dalilnya adalah hadits dari Aisyah Radhiyallahu Anha, yang

menceritakan bahwa pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

duduk sementara pahanya terlihat. Lalu, Abu Bakar meminta ijin untuk

menemuinya. Beliau pun mengijinkan dan tidak merubah posisinya.

Kemudian Umar datang dan meminta ijin, beliau pun mengijinkannya dan

tidak merubah posisinya. Lalu, Utsman datang setelahnya dan meminta ijin,

maka Rasulullah pun menjulurkan pakaiannya. Ketika mereka semua telah

pergi, aku (Aisyah) bertanya, "Wahai Rasulullah, Abu Bakar dan Umar

meminta ijin dan engkau mengijinkan keduanya, sementara engkau duduk

dalam keadaan seperti semula. Namun, ketika Utsman meminta ijin engkau

menjulurkan pakaianmu." Beliau menjawab, "Wahai Aisyah, tidakkah pantas,

apabila aku merasa malu dihadapan seorang laki-laki yang demi Allah, para

malaikat pun merasa malu darinya."2

Berdasarkan pendapat ini, barangsiapa yang shalat sementara kedua

paha, pusar, lutut, bagian belakang atau depannya terbuka, maka shalatnya

sah meski secara hukum makruh. Artinya, orang yang melakukannya tidak

berdosa. Namun sebab itu, ia kehilangan pahala karena tidak menutupnya.

Adapun yang memiliki udzur khusus, maka tidak makruh baginya dan insya

Allah dengan izin-Nya akan mendapatkan pahala.

Pendapat kedua mengatakan bahwa aurat laki-laki adalah dari pusar

hingga lutut. Dari Jarhad Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam lewat dan saya memakai burdah yang bagian

pahanya terbuka, lalu beliau bersabda, "Tutuplah dua pahamu karena ia

adalah aurat."3

2 Diriwayatkan oleh Ahmad, dan Al-Bukhari menyebutkan dalam kitabnya secara taliq
3 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini hasan
Berdasarkan pendapat ini, barangsiapa yang shalat sedang bagian

antara pusar hingga lututnya tidak tertutup, maka shalatnya batal.

b. Aurat perempuan:
Seluruh badan perempuan adalah aurat kecuali wajah dan kedua

telapak tangan (dua telapak kaki menurut ulama madzhab Hanafi).

Pendapat ini adalah pendapat yang benar, berdasarkan riwayat dari

Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Aisyah Radhiyallahu Anhum Ajma'in ketika

mereka menafsirkan firman Allah, "Dan janganlah mereka menampakkan

perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka . . ." (An-Nur:

31).

Demikianlah pembahasan tentang aurat laki-laki dan perempuan.

Menutup aurat ini, hukumnya wajib bagi yang mampu melakukannya.

Adapun bagi yang tidak mampu, seperti orang yang terbakar seluruh

tubuhnya, maka dia dibolehkan shalat dalam keadaan telanjang dan tidak

wajib mengulanginya lagi, untuk menghindarkan kesulitan baginya.

4. Menghadap kiblat:
Allah Taala berfirman, "Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.

Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya." (Al-

Baqarah: 144).

Orang yang bisa melihat Ka'bah, dia wajib menghadap ke tempat

Ka'bah dengan tepat. Adapun orang yang jauh, maka cukup menghadap ke

arahnya, karena itulah yang mampu dilakukannya. Sesungguhnya Allah tidak

membebani suatu jiwa kecuali sesuai kemampuannya. Karenanya, tidak

menjadi dosa bila arah shalat sedikit bergeser setelah berusaha untuk

menyelidikinya dari arah kiblat, dengan syarat sebagian wajahnya tetap

menghadap ke arahnya.

Arah kiblat diketahui dengan kebiasaan penduduk negeri, atau

bertanya kepada mereka atau dengan menggunakan alat modern (seperti

kompas). Jika semua itu tidak bisa dilakukan, maka hendaknya dia berijtihad

dengan menggunakan kekuatan akalnya, yaitu dengan cara mengetahui arah

utara, selatan, barat atau timur, kemudian berusaha menyelidiki arah kiblat

menurut kemampuannya.
Apabila tampak bagi orang yang tengah mengerjakan shalat

kekeliruannya dalam menghadap kiblat, maka hendaknya ia berputar ke arah

kiblat yang benar. Demikianlah yang pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu

Alaihi wa Sallam ketika diperintahkan Allah untuk mengubah arah kiblat dari

Baitul Maqdis ke Ka'bah.4

Jika kekeliruannya baru diketahui setelah selesai shalat, maka

shalatnya sah dan tidak wajib mengulanginya lagi untuk menghindari

kesulitan.

Dibolehkan tidak menghadap kiblat dalam kedaan-keadaan berikut:

kondisi takut, dipaksa, sakit dan yang lainnya, seperti sedang bergolaknya

peperangan atau sakit parah yang membuatnya tidak mampu menghadap

kiblat. Allah Taala berfirman, "Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya),

maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan." (Al-Baqarah: 239).

Ketika menafsirkan ayat diatas, Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu berkata,

"baik dengan menghadap kiblat atau tidak menghadapnya."5

Shalat dalam kondisi seperti di atas menghadap ke arah manapun

shalatnya sah, tidak wajib diulang dan tidak perlu ditangguhkan, berdasarkan

firman Allah Taala, "Sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang ditentukan

waktunya atas orang-orang yang beriman." (An-Nisa': 104).

Seseorang yang sedang dalam perjalanan dan hendak


melaksanakan shalat sunnat, maka, jika ia tidak mampu menentukan
arah kiblat, boleh menghadap ke arah mana saja sesuai
perkiraannya.
Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu,ia berkata, "Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat di atas kendaraan ke arah mana

kendaraan itu berjalan. Jika hendak melakukan shalat fardhu, beliau turun

dan menghadap kiblat."6

Adapun mengenai shalat fardhu dalam perjalanan, maka tetap

diwajibkan untuk menghadap arah kiblat, seperti orang yang bepergian

dengan kapal laut, karena sangat mudah baginya untuk mengetahui arah

kiblat. Adapun jika bepergian dengan pesawat terbang, dan waktu

4 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim


5 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
6 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
perjalanannya sangat panjang yang mengakibatkan keluarnya waktu shalat

tanpa ada kemungkinan untuk melaksanakannya, maka dibolehkan baginya

untuk menghadap ke arah mana yang mudah baginya. Demikian juga

dibolehkan shalat sambil duduk jika tidak mungkin berdiri. Semua itu demi

menghilangkan kesulitan bagi manusia.

5. Masuk Waktu Shalat:


Allah Taala berfirman, "Sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang

ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (An-Nisa': 104).

Untuk mengetahui waktu shalat, cukup bagi seseorang untuk

mendasarkan atas praduga yang kuat. Jika berdasarkan perkiraannya, waktu

shalat telah tiba, maka hendaknya dia mengerjakan shalat, baik berdasarkan

berita orang yang dapat dipercaya atau mendengar suara adzan atau

berdasarkan ijtihad seseorang.

Adapun shalat yang dilakukan sebelum masuk waktunya, maka

shalatnya batal. Karena itu, seseorang yang mengerjakan shalat, lalu

diketahui bahwa waktunya belum masuk, shalatnya batal dan dia wajib

mengulanginya kembali.

Syarat Sah Shalat Bagi Orang Sakit:


Allah Taala berfirman, "Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk

kamu dalam agama suatu kesempitan." (Al-Hajj: 78).

Para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa syarat sahnya

shalat bagi orang sakit tidak seperti yang disyaratkan bagi orang sehat,

sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu, karena dalam hal ini terdapat

kesulitan yang tidak dapat ditanggung, dan bertolah belakang dengan

semangat Islam dalam memberikan kemudahan. Disamping itu, dalam

pandangan Islam, berbagai bentuk ibadah yang diperintahkan bukan

merupakan tujuan, akan tetapi merupakan sarana untuk pembersihan hati,

agar orang yang melakukannya dapat berlaku baik dalam berinteraksi

dengan sesama manusia.

Bisa saja, orang sakit yang melakukan shalat dalam hatinya tanpa

mampu menggerakkan tubuhnya, shalatnya berbuah kebaikan dalam

berinterksi dengan sesamanya, sehingga pahala dan derajatnyanya lebih


utama di sisi Allah Taala daripada orang sehat yang menghadirkan gerakan

shalat dengan sempurna tetapi tidak menghasilkan apa-apa.

Berdasarkan ini, orang sakit hanya diwajibkan untuk melakukan shalat

sesuai kemampuannya. Apa yang tidak bisa dilakukannya, boleh ditinggalkan

dan shalatnya sah serta tidak perlu diulang. Ia pun akan mendapat pahala

seperti pahala yang diperoleh orang yang sehat.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Jika seorang hamba sakit

atau bepergian, maka Allah menuliskan baginya apa yang biasa

diamalkannya ketika sehat dan diam di tempatnya." 7 Hal itu sebagai

tambahan atas pahala sakitnya.

Allah Taala berfirman, "Sesungguhnya hanya orang-orang yang

bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas." (Az-Zumar: 10).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak ada cobaan

yang menimpa seorang Muslim dari keletihan, penyakit, kesulitan,

kesedihan, siksaan, gangguan dan kebingungan sampai duri yang menusuk,

kecuali dengannya Allah akan menghapuskan segala kesalahannya."8

Yang dimaksud dengan sesuai kadar 'kemampuan' (istitha'ah) adalah

kemampuan untuk melakukan suatu amalan sambil menghadapi sedikit

kesulitan yang dapat ditanggung oleh orang yang sakit dan tidak

membahayakan dirinya. Oleh karena itu, kemampuan itu berbeda antara

orang sakit yang satu dengan yang lainnya. Semuanya sesuai dengan

kemampuan, situasi dan kondisi yang dialaminya.

Bagaimana Orang Sakit Bersuci untuk Shalat?


1. Menghilangkan Najis

A. Orang Yang Tidak Mampu Menghilangkan Najis:


Baginya dibolehkan untuk shalat dengan najis yang menempel di

tubuhnya. Shalatnya sah dan tidak wajib diulang, untuk menjauhkan

kesulitan darinya.

Hal itu berlaku baik benda najisnya menempel pada baju, tubuh,

pembalut, pengikat atau perban yang diletakkan di atas lukanya, atau

7 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari


8 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim
tempat yang dipakai untuk shalat seperti ranjang, kursi atau lantai, atau

menempel dengan benda najis seperti orang yang membawa botol kencing

atau tinja dan yang lainnya yang kondisinya berbeda-beda antara orang sakit

yang satu dengan yang lainnya, sesuai jenis penyakit yang dideritanya.

Yang dimaksud 'tidak mampu' (al-ajzu) adalah orang sakit tersebut

mendapatkan kesulitan untuk menghilangkan najis yang menempel di

tubuhnya, atau mendapatkan mudharat atau bahaya saat

menghilangkannya, seperti sakitnya bertambah parah, atau ia tidak

mendapatkan orang yang menolongnya untuk menghilangkan najis tersebut

dan yang semisalnya dari bentuk-bentuk ketidakmampuan. Atau ia terbukti

tidak mampu berdasarkan rekomendasi dari seorang dokter muslim yang

berpengalaman dan terpercaya, atau berdasarkan pengalamannya sendiri.

Apabila dia mengganti baju, pelarut atau pembalut yang najis maka hal

itu hukumnya sunnat dan tidak wajib. Maksudnya, ia akan diberi pahala jika

melakukannya dan tidak berdosa jika tidak dilakukan, bahkan jika

menimbulkan mudharat dia berdosa karena kesengajaan untuk

membahayakan dirinya sendiri.

Najis Yang Sering Mengenai Orang Sakit


1.Kencing, kotoran, madzi, wadi dan muntah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Cucilah bajumu dari

kencing, tinja, madzi dan muntah."9

Madzi adalah cairan putih yang bening sedikit kental, keluar ketika

bercumbu atau berkhayal tentang sesuatu yang menimbulkan rangsangan.

Wadi adalah cairan putih yang kental, keluar setelah kencing karena

kerja berat atau lelah atau sakit atau yang lainnya.

Mani (cairan laki-laki) adalah cairan putih (kekuning-kuningan) dan

kental, baunya seperti adonan roti, memancar secara berturut-turut saat

memuncaknya syahwat. Sebagian ulama berpendapat bahwa mani termasuk

najis. Adapun yang lain menganggapnya suci karena merupakan benih anak

Adam. Oleh karena itu disunnatkan untuk dicuci ketika basah dan dikerik jika

sudah kering.
9 Diriwayatkan oleh Ahmad.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, "Saya mengerik mani dari

baju Rasulullah ketika ia sudah kering dan mencucinya jika masih basah."10

Jika mani bercampur darah dan darah yang lebih dominan maka saat

itu hukumnya najis. Tetapi jika darahnya hanya berupa flek-flek, maka

maninya tidak najis.

Adapun cairan wanita yaitu cairan kuning atau putih yang lembut yang

terdapat di dalam kemaluannya ketika memuncaknya syahwat diiringi

dengan memyempitnya otot-otot vagina dan rahim, maka hukumnya seperti

hukum mani laki-laki. Sebagian ulama menyatakan najis, sebagian lain

mengatakan suci.

Adapun madzinya wanita yang keluar ketika syahwatnya terangsang

tanpa diiringi penyempitan otot vagina dan rahim, maka hukumnya seperti

hukum madzi laki-laki.

Adapun lendir-lendir vagina yaitu yang biasa keluar dari kemaluan

wanita dan bukan madzi yang keluar ketika syahwat terangsang atau mani

yang keluar ketika syahwat memuncak yang diiringi dengan penyempitan

otot vagina dan rahim, menurut sebagian ulama, lendir-lendir itu tidak najis,

halnya seperti ludah dan cairan-cairan tubuh lainnya yang suci. Namun ada

juga yang mengatakan najis seperti madzi.

Adapun orang yang memiliki penyakit seperti beser atau mencret atau

madzi atau wadi, maka menurut Imam Malik dimaafkan apa yang mengenai

tubuh dan bajunya, jika keluar dengan sendirinya, terjadi setiap hari

meskipun cuma sekali dan banyak. Hal itu demi menghilangkan kesulitan dari

orang-orang yang sakit, karena najis tersebut merupakan sesuatu yang sulit

dihindari. Namun jika ia mencucinya, maka hukumnya sunnat demi

kebersihan dan bukan wajib. Artinya, orang yang melakukannya

mendapatkan pahala dan tidak berdosa jika meninggalkannya.

Yang dimaksud dengan muntah adalah makanan yang keluar dari

lambung setelah menetap di dalamnya. Muntah termasuk najis karena

10 Diriwayatkan oleh Ad-Dar Quthni.


berbahaya bagi kesehatan, juga termasuk kotoran yang menjijikkan. Namun

jika muntah yang keluar hanya sedikit, maka hal itu bisa dimaafkan.

Adapun makanan yang keluar lagi dari perut seperti air yang dikeluarkan

kembali oleh lambung karena kepenuhan atau asam lambung yang keluar

tanpa disertai makanan yang telah dicerna atau cairan-cairan yang keluar

dari lambung melalui selang yang biasanya dimasukkan ke dalam hidung

orang yang sakit untuk memasukkan makanan atau yang semisalnya,

semuanya tidak dipandang najis karena tidak seperti muntah dalam

bahayanya, juga tidak ada nash yang menyatakan kenajisannya

sebagaimana nash yang menyatakan najisnya muntah. Oleh karena itu,

hukumnya tetap seperti asalnya yaitu suci. Karena hukum asal segala

sesuatu adalah boleh selama tidak ada nash shahih yang secara tegas

menyebutkan hukumnya.

Apabila makanan yang keluar dari perut bercampur dengan mekanan

yang telah dicerna maka ia disamakan dengan muntah. Begitu juga jika

bercampur dengan darah yang mengalir, hukumnya menjadi najis. Adapun

jika bercampur dengan sedikit tetesan darah, tidak termasuk najis.

2. Darah Yang Mengalir

Allah Subhanahu wa Taala berfirman, "Diharamkan bagimu (memakan)

bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama

selain Allah." (Al-Maaidah: 3).

Allah Taala juga berfirman, "Katakanlah, 'Tiadalah aku peroleh dalam

wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang

yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah

yang mengalir atau daging babi -karena sesungguhnya semua itu kotor- atau

binatang disembelih atas nama selain Allah." (Al-An'am: 145).

Darah yang mengalir, hukumnya haram untuk dimakan atau


diminum karena berbahaya bagi kesehatan. Adapun darah yang
sedikit dan tidak mengalir, seperti darah yang keluar dari luka
kecil, bisul, lecet dan sejenisnya, maka tidak najis, karena ayat
di atas hanya membatasi penjelasannya pada darah yang mengalir.
Diriwayatkan bahwa 'Abbad bin Basyar Radhiyallahu Anhu terkena

panah ketika sedang melaksanakan shalat, lalu dia pun tetap meneruskan
shalatnya.11 Dari riwayat diatas, sekiranya darah yang sedikit dan tidak

mengalir itu najis, atau membatalkan wudhu tentu dia akan keluar dari

shalatnya, mencucinya kemudian berwudhu kembali.

Yang semisal dengan darah yang sedikit dan tidak najis adalah darah

nyamuk, kutu dan sejenisnya. Adapun mengenai darah wasir, hiliran (an-

Nashur/fistula), istihadhah, darah karena penyakit yang biasa diderita wanita

selain darah haid dan nifas, maka hukumnya dibagi sebagai berikut:

- jika keluarnya sedikit-sedikit maka dianggap darah yang sedikit dan

tidak mengalir, karenanya tidak dipandang sebagai najis .

- Jika darahnya mengalir dan tumpah maka hukumnya najis, tetapi

tidak harus dicuci jika terjadi setiap hari walaupun hanya sekali, karena

termasuk najis yang dimaafkan menurut Imam Malik dan sulit dihindarkan.

Disamping guna menghilangkan kesulitan dari orang yang mengalaminya.

Jika dia mencucinya maka hukumnya sunnat untuk kebersihan dan bukan

wajib. Artinya, ia diberi pahala jika melakukannya dan tidak berdosa jika

meninggalkannya.

Mengenai nanah dan darah yang bercampur dengannya, keduanya

tidak termasuk najis, karena tidak ada ayat Al-Qur`an atau hadits yang

menajiskannya sekalipun mencucinya disunnatkan untuk mencegah

meluasnya penyakit dan termasuk kebersihan yang dianjurkan oleh Islam.

B. Orang Yang Mampu Menghilangkan Najis


Yang dimaksud dengannya adalah orang yang tidak mendapatkan

kesulitan untuk menghilangkannya, tidak mendapatkan bahaya, tidak merasa

sakit dan tidak bertambah parah sakitnya, atau mendapatkan orang yang

menolong untuk menghilangkannya tanpa menimbulkann bahaya dan

bentuk-bentuk lain yang termasuk dalam kategori mampu.

Bagi orang yang mampu, maka hukumnya wajib untuk menghilangkan

najisnya jika lebih dari 5cm persegi. Ini menurut pendapat Imam Malik.

Artinya, orang itu diberi pahala jika menghilangkannya dan berdosa serta

batal shalatnya jika tidak menghilangkannya.

11 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan Al-Bukhari mencantumkan dalam kitabnya secara taliq.
Jika kurang dari 5 cm persegi (lebar najis digabungkan jika letaknya

terpisah-pisah, untuk setiap najis yang terdapat di baju, atau di tubuh atau di

tempat tertentu), maka boleh dibiarkan karena ia merupakan najis yang

sedikit yang dimaafkan dan tidak diperhitungkan. Kalaupun dicuci maka

hukumnya sunnat bukan wajib. Artinya, diberi pahala jika menghilangkannya

dan tidak berdosa jika tidak dihilangkan.

C. Bagaimana Mensucikan Najis


Cara Mensucikan Pakaian, Badan dan Tikar:
Caranya adalah dengan dicuci menggunakan air hingga hilang najis

dan bekasnya seperti warna dan baunya. Jika tersisa bekasnya dan sulit

untuk dihilangkan seperti warna kekuningan yang sering tertinggal setelah

mencuci darah, maka dimaafkan, demi menghilangkan kesulitan dari

manusia.

Diriwayatkan bahwa seorang wanita bertanya kepada Nabi Shallallahu

Alaihi wa Sallam, "Pakaian salah seorang dari kami terkena darah haid. Apa

yang harus dilakukannya?" Beliau bersabda, "Apabila darah mengenai

pakaian salah seorang di antara kalian, maka kikislah darahnya, lalu gosok-

gosok kain itu dengan air dan bersihkan, lalu pakailah untuk shalat."12

Cara mensucikan tilam yang tebal seperti kasur adalah cukup dengan

menutup najis yang ada padanya dengan seprai yang suci, jika hal itu bisa

dilakukan. Dan shalat di atasnya dianggap sah.

Jika tidak mampu menutupnya dengan seprai atau yang semisalnya,

lakukanlah shalat di atasnya, dan shalatnya sah, demi menghidarkan

kesulitan.

Adapun tilam yang tipis yang mungkin dicuci dengan air, maka wajib

mencucinya hingga najisnya hilang. Jika tidak mampu mencucinya, maka

ditutup dengan seprai atau yang semisalnya. Jika tidak mampu ditutup atau

diganti, lalu shalat di atasnya sekalipun najisnya masih ada, maka shalatnya

sah.

12 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


Adapun tilam yang dilapisi dengan kulit, cara mensucikannya adalah

sebagai berikut: Jika najisnya berupa benda padat (seperti kotoran), maka

najisnya dihilangkan terlebih dahulu, lalu disiram dengan air.

Jika najisnya berupa benda cair, maka disiram dengan air. Hal ini sesuai

dengan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa seorang Arab Badui

kencing di dalam masjid. Orang-orang bangkit untuk memukulnya, maka

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Biarkanlah dia! sirami

kencingnya dengan seember air, atau sebejana air. Sesungguhnya kalian

diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk mempersulit." 13

Mengenai permukaan yang licin dan tidak menyerap air seperti kaca,

bak, wadah-wadahan, pisau dan sebagainya, maka cukup dengan menyerok

najis dan menghapusnya hingga najis tersebut hilang. Dahulu, para sahabat

Ridhwanullahi Alaihim melaksanakan shalat sambil membawa pedang yang

berlumuran darah. Mereka merasa cukup dalam membersihkannya dengan

cara menghapusnya.

Mengenai cara mensucikan tanah dan dinding serta semua benda yang

menyatu dengannya secara permanen, dan tidak mungkin dipisahkan, maka

caranya sama dengan cara membersihkan tilam yang ditutupi dengan kulit,

dimana setelahnya akan menjadi suci sendiri disebabkan kekeringan.

Tanah dan dinding ini akan menjadi suci dengan sendirinya dari

berbagai najis yang tipis dan tidak tebal yang menempel padanya, dengan

berlalunya waktu.

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, "Bersihnya tanah adalah

apabila dia mengering."14 Maksudnya, suci dari najis.

Mengenai cara mensucikan sepatu atau yang semisalnya, adalah

dengan menggosokkannya ke tanah.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Jika salah seorang di

antara kamu datang ke masjid, maka hendaknya dia membalikkan ke dua

13 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya.


14 Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah.
sandalnya dan melihat keduanya. Jika melihat ada najis, maka gosokkanlah

ke tanah, kemudian shalatlah dengan memakai keduanya."15

Adapun kulit sepatu, maka cara mensucikannya sama seperti dengan

cara mencuci tilam yang terbuat dari kulit.

Catatan dalam Mensucikan Najis:


1. Mensucikan Madzi, Bagi laki-laki dan perempuan.
Jika madzinya mengenai baju, maka cukup dengan memercikkan air di

tempat yang dikenainya, dan tidak perlu dicuci. Demikian itu untuk memberi

keringanan, karena hal ini sering menimpa para pemuda, baik laki-laki

maupun perempuan.

Jika mengenai alat reproduksi atau tubuhnya, maka bagian tersebut

dicuci, begitu juga lubang tempat keluarnya najis, seperti ketika bersuci

setelah kencing.

Hal itu dilakukan, jika lebar kain yang terkena madzi atau tubuh + 5 cm

persegi. Jika kurang dari itu, maka termasuk dalam kategori najis yang

dimaafkan.

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Aku adalah

seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi. Lalu, aku menyuruh

seseorang untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam karena

kedudukan puterinya. Orang itu pun bertanya dan Rasulullah menjawab,

"Wudhulah dan cucilah kemaluanmu."16

Dari Sahl bin Hunaif Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "aku

mendapatkan kesulitan dan kepayahan akibat madzi, karena aku harus terus-

terusan mandi. Lalu aku menceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu

Alaihi wa Sallam. Maka beliau bersabda, "Cukup bagimu berwudhu jika keluar

madzi."

Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, Bagaimana jika ia mengenai bajuku?"

Beliau menjawab, "Cukup bagimu mengambil segenggam air, lalu percikkan

ke bajumu di tempat yang kamu lihat terkena olehnya."17

Mensucikan Mani jika mengenai baju:

15 Diriwayatkan oleh Ahmad.


16 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya.
17 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini hasan.
Jika maninya basah, maka disunnatkan untuk dicuci. Dengan itu, orang

yang melakukannya, akan mendapat pahala. Kalaupun tidak, ia tidak tidak

berdosa, dan shalatnya tetap sah dan tidak batal, karena pada asalnya mani

itu hukumnya suci. Adapun jika maninya kering, maka cukup dikerik.

Mensucikan kencing bayi yang masih menyusu dan belum makan


makanan anak-anak yang lebih besar:
Jika bayinya laki-laki, maka cukup dipercikkan air di atas tempat yang

terkena kencing tersebut. Jika bayinya perempuan, maka wajib dicuci di

tempat yang terkena kencing, apabila lebar kain yang terkena najis lebih dari

5 cm persegi, yaitu ukuran najis yang dimaafkan, karena kencing bayi

perempuan lebih kental dan lebih bau daripada kencing bayi laki-laki.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Kencing bayi laki-laki

diperciki air dan kencing bayi perempuan dicuci."18

Adapun tinja, baik itu dari bayi laki-laki maupun perempuan, maka

wajib dicuci.

Menurut Imam Malik, wanita yang menyusui dimaafkan atas apa yang

mengenai bajunya atau badannya seperti kencing, kotoran, muntah atau

makanan yang keluar lagi dari perut, sekalipun dia bukan ibu kandungnya,

atau rembesan darah dari teteknya, jika dia telah berhati-hati untuk menjaga

kesucian dirinya saat kotoran-kotoran tersebut keluar. Demikian itu untuk

menghilangkan kesulitan, karena najis tersebut sering mengenainya dan

sukar untuk dihindari.

Selanjutnya, disunnatkan baginya untuk mempersiapkan baju khusus

untuk digunakan ketika mengerjakan shalat.

Hukum ini juga berlaku bagi dokter yang sedang melakukan

pengobatan dan terkena najis yang berasal dari pasiennya, atau tukang jagal

yang terkena darah hewan sembelihan, atau petani yang terkena najis

binatang ternak dan yang semisalnya. Namun meski demikian, disunnatkan

bagi mereka dan yang semisalnya untuk menyediakan pakaian khusus untuk

shalat. Dengan itu, ia akan mendapat pahala jika melakukannya dan tidak

berdosa bila meninggalkannya. Dan shalatnya tetap sah dan tidak batal.

18 Diriwayatkan oleh Ahmad.


Mengenai cipratan kencing, maka ia termasuk najis yang dimaafkan

karena sulit untuk dihindarkan.

Adapun sisa kencing dan berak yang dicuci dari kedua jalan keluarnya,

yakni kemaluan bagian depan dan dubur dengan tidak menggunakan air,

misalnya dengan tissue, potongan kain, batu dan yang semisalnya, maka ia

termasuk najis yang dimaafkan karena sulit untuk dihindarkan.

Apabila suatu najis mengenai baju seseorang, lalu ia lupa dimana

letaknya, maka tidak ada jalan lain untuk memperoleh keyakinan bahwa najis

tersebut telah benar-benar hilang kecuali dengan mencuci seluruh bagian

baju.

Bagi orang yang telah selesai shalat kemudian mendapatkan najis di

badan atau di bajunya dan dia tidak mengetahuinya, atau mengetahuinya

namun lupa, maka shalatnya sah dan tidak perlu mengulang.

Allah Taala berfirman, "Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang

kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh

hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-

Ahzab: 5).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Diangkat (dosa) dari

umatku perbuatan yang dilakukan dengan keliru, lupa dan apa-apa yang

dipaksakan atas mereka."19

Mensucikan alkohol dan yang semisalnya:


Alkohol, spirtus, cologne dan yang semisalnya adalah sinonim dari

khamr. Mengenai khamr, sebagian ulama berpendapat bahwa khamr ini

termasuk najis. Sementara ulama yang lain berpendapat bahwa khamr, pada

dzatnya bukan najis, karena yang dimaksud dalam firman Allah Taala,

"Innamaa al-khamru wa al-Maisiru wa al-Anshaabu wa al-Azlaamu rijsun min

'amali asy-Syaithan, Fajtanibuuh" (Hai orang-orang yang beriman,

sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala,

mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan

syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat

keberuntungan) (Al-Maidah: 90), adalah pernyataan bahwa yang

19 Diriwayatkan oleh Ad-Dar Quthni.


meminumnya digolongkan sebagai orang fasik, sebagaimana firman Allah

tentang kenajisan orang-orang musyrik, "Hai orang-orang yang beriman,

sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis." (At-Taubah: 28). Atas

dasar ini, tidak masuk akal jika menyentuh orang non-Muslim dengan tangan

adalah najis yang karenanya tangan tersebut harus dicuci.

Berdasarkan pendapat ini juga, dibolehkan menggunakan alkohol dan

yang semisalnya untuk menghilangkan najis, seperti darah dan yang lainnya

dari badan, sehingga bagian badan tersebut menjadi suci dan bersih dari

kuman. Demikian itu dilakukan, jika yang bersangkutan berhalangan

menggunakan air, seperti orang sakit yang tidak mendapatkanya atau

mendapatkan mudharat saat menggunakannya, atau menambah rasa

sakitnya, atau memperlambat kesembuhannya dan lain sebagainya.

2. Istinja

Istinja artinya upaya untuk mencari selamat dari najis. Maksudnya,

membersihkan kencing yang menempel pada lubang kemaluan (setelah

diurut dengan lembut untuk mengeluarkan apa yang tersisa dari air kencing)

dan membersihkan kotoran yang menempel pada lubang dubur. Adapun

istinja dari kentut hukumnya makruh. Artinya, orang yang meninggalkannya

akan mendapat pahala dan kalaupun melakukannya, ia tidak berdosa, karena

dalam hal tersebut terdapat kesulitan, sebagaimana tidak ada nash Al-

Qur`an atau hadits yang menganjurkannya.

Guna menghilangkan najis ini, boleh dilakukan dengan menggunakan

air, atau dengan apa saja yang suci (karena sesuatu yang najis tidak dapat

mensucikan yang lainnya) yang memiliki daya resap untuk menarik najis,

seperti tissue, atau sepotong kain yang lembut atau batu yang bisa meresap

dan yang semisalnya. Apabila najis melewati tempat keluarnya (pada asalnya

adalah ujung kemaluan, sekitar lubang tempat keluarnya kencing atau

tempat keluarnya tinja dan yang di sekitarnya dari lubang anus yang

merapat ketika berdiri), misalnya, air kencing membasahi apa yang ada di

sekitar dzakar kira-kira selebar 5 cm persegi, atau tinja menutup tempat di

sekitar lubang anus sekitar 5 cm persegi, maka untuk membersihkannya mau


tidak mau harus menggunakan air, karena permasalahnnya sekarang bukan

sekadar istinja, akan tetapi urusan menghilangkan najis yang mengenai

badan. Jika najis mengenai baju dan lebarnya lebih dari 5 cm persegi, maka

bagi orang yang mampu membersihkan, wajib membersihkan najis tersebut.

Orang yang mampu wajib melakukan istinja. Dengan itu, ia akan diberi

pahala jika melakukannya, dan berdosa jika meninggalkannya.

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma meriwayatkan, bahwa Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam melewati dua kuburan, lalu bersabda, "Keduanya

sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa karena dosa besar. Adapun

salah satunya adalah karena dia tidak menjaga air kencing, dalam riwayat

lain disebutkan, tidak bersuci dari kencing, sedang yang lain karena dia

suka mengadu domba."20 Kemudian beliau mengambil sebatang pohon yang

masih basah dan memotongnya mejadi dua bagian, lalu menancapkannya

pada dua kuburan tersebut seraya berkata, "Semoga dapat meringankan

keduanya selama belum kering."

Selanjutnya, istinja tidak hanya diwajibkan sebelum shalat,

sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang. Karena istinja ini tidak ada

kaitannya dengan kesahan wudhu maupun shalat, akan tetapi terkait dengan

orang yang kencing dan buang air besar. Siapa saja yang buang air kecil

atau buang air besar, maka wajib baginya beristinja, baik ketika hendak

shalat mapun tidak.

Menurut Imam Malik, istinja hukumnya sunnat dan tidak wajib. Artinya,

orang yang melakukannya akan mendapatkan pahala dan yang

meninggalkannya tidak berdosa.

Ketika melakukan istinja ini, disunnatkan untuk menggunakan tangan

kiri. Dengan itu, orang yang melakukannya akan mendapatkan pahala dan ia

tidak berdosa jika beristinja dengan menggunakan tangan kanannya.

Diriwayatkan dari Hafshah Radhiyallahu Anha, dia berkata,

"Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan tangan kanan

20 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya.


untuk makan, minum, berpakaian, mengambil dan memberi. Dan beliau

menjadikan tangan kirinya untuk selain itu."21

Bagi yang tidak mampu melakukan istinja, maka tidak diwajibkan

atasnya untuk melakukannya. Misalnya, bagi orang sakit yang tidak bisa

menggerakkan anggota badannya, atau mendapatkan kesulitan yang tidak

bisa ditanggung, atau mendapatkan bahaya seperti merasa sakit atau

bertambah parah sakitnya, atau tidak mendapatkan orang yang

membantunya atau yang semisalnya. Demikian itu guna menghilangkan

kesulitan darinya.

Akan tetapi jika najis melewati tempat keluarnya (asalnya yang wajib

dicuci adalah ujung kemaluan sekitar lubang tempat keluarnya kencing, atau

tempat keluar tinja dan sekitar lubang dubur yang merapat ketika berdiri),

misalnya, air kencing membasahi apa yang ada di sekitar lubang kemaluan

yang lebarnya lebih dari 5 cm persegi, atau tinja menutupi tempat sekitar

lubang dubur selebar lebih dari 5 cm persegi. (yaitu ukuran lebar najis yang

dimaafkan, karena sedikit dan tidak berpengaruh) atau najis yang mengenai

bajunya dimana lebarnya lebih dari 5 cm persegi, maka wajib dicuci kecuali

jika tidak mampu. Dalam kondisi ini, dibolehkan untuk tidak

membersihkannya dan shalatnya sah serta tidak diwajibkan untuk

mengulang.

Bagi orang sakit yang menderita penyakit lemah saraf pengendali

saluran kencing, dimana setelah mereka selesai kencing dan

membersihkannya, (yakni dengan mengurut kemaluan secara lembut untuk

mengeluarkan air kencing yang tersisa (istibraa`) atau setelah beristinja dan

memakai pakaian serta berwudhu, terkadang masih mendapatkan keluarnya

satu tetes atau dua tetes air seni, maka meskipun wudhu batal, akan tetapi

mereka tidak diwajibkan beristinja lagi menurut pendapat Imam Malik,

sebagaimana telah disebutkan terdahulu, hal itu guna menghilangkan

kesulitan dan keraguan dari mereka. Disamping pakaian dalam mereka

sendiri dengan sendirinya telah melakukan istinja dengan cara mengisap

21 Diriwayatkan oleh Ahmad.


tetesan air kencing tersebut. Apa yang mengenainya ini, dipandang sebagai

najis yang sedikit, karena kurang dari 5 cm persegi yang karenanya

dimaafkan dan tidak wajib dicuci.

2.Wudhu

a. Orang sakit yang mampu berwudhu:


Maksudnya ialah orang sakit yang tidak mendapatkan kesulitan
di luar batas kemampuannya saat berwudhu, tidak mendapatkan
mudharat atau bahaya, tidak merasa sakit, sakitnya tidak
bertambah parah, yaitu berdasarkan rekomendasi seorang dokter
muslim yang mahir serta terpercaya, atau berdasarkan pengalaman
pribadi, atau dia tidak mampu namun mendapatkan orang yang
membantunya untuk berwudhu tanpa mendapatkan mudharat, dan
bentuk-bentuk lain dari bentuk kemampuan. Orang seperti ini wajib
berwudhu, yang dengannya akan diberi pahala jika melakukannya dan
berdosa jika tidak melaksanakannya serta shalatnya tidak sah.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Allah tidak menerima

shalat salah seorang di antara kamu jika berhadats hingga dia berwudhu." 22

Ketika berwudhu, ia wajib mengerjakan seluruh fardu wudhu, yaitu niat

wudhu saat memulai (Menurut madzhab Hanafi, niat adalah sunnat muakkad,

dimana pelakunya diberi pahala dan yang meninggalkannya tidak berdosa

serta wudhunya tidak batal), mencuci anggota tubuh yang wajib dicuci satu

kali-satu kali, yaitu mencuci wajah, dua tangan hingga lewat sikut, mengusap

sebagian kepala, mencuci kedua kaki hingga ke dua mata kaki dari bagian

pinggirnya satu kali dan tertib, seperti tidak boleh mengusap kepala sebelum

membasuh muka (menurut madzhab Malili dan Hanafi, tertib adalah sunnat

muakkad, bukan fardhu).

Adapun sunnat-sunnat wudhu, apabila dilakukannya, maka ia akan

mendapat pahala dan jikapun tidak, maka ia tidak berdosa. Wudhunya tetap

sah dan tidak batal, meski ia tidak mendapat tambahan pahala.

Sunnat-sunnat wudhu ini, diantaranya: Membaca basmalah, bersiwak

atau menggosok gigi dengan menggunakan sikat gigi saat berwudhu,

mencuci dua telapak tangan tiga kali di awal wudhu, berkumur, menghirup

air ke hidung dengan menggunakan tangan kanan dan membuangnya

dengan tangan kiri, menyela-nyela jenggot tebal jika ada, menyela-nyela jari,

memulai yang kanan sebelum yang kiri, mencuci anggota wudhu tiga kali-

tiga kali, mengusap seluruh kepala, mengusap telinga, hemat dalam

22 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim


menggunakan air, berdoa saat berwudhu dan sesudahnya serta shalat dua

raka'at sesudahnya.

b. Yang Tidak Mampu Berwudu:


Yaitu, orang yang tidak mampu bergerak, atau mendapat kesulitan

yang luar biasa ketika berwudhu, atau mendapatkan mudharat seperti

merasakan kesakitan atau bertambah parah penyakitnya, berdasarkan

pengalaman atau rekomendasi dokter yang terpercaya, atau tidak

mendapakan orang yang membantunya untuk berwudhu, atau tidak

mendapatkan air dan kalaupun ada, untuk mendapatkannya harus

menempuh jarak yang jauh, (seukuran sampainya teriakan dirinya jika dia

memanggil temannya yang berada di jarak yang jauh) atau airnya sedikit

sebagai persediaan untuk makan dan minum, atau airnya sangat dingin dan

tidak alat untuk memanaskannya serta takut mendatangkan bahaya dan

bentuk-bentuk lain dari ketidakmampuan.

Allah Taala berfirman, "Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir

atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan,

kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayammumlah kamu dengan

tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah

Maha Pema'af lagi Maha Pengampun." (An-Nisa': 43)

Orang-orang seperti di atas tidak wajib berwudhu, tetapi


diwajibkan atas mereka untuk bertayammum. Jika mereka
melakukannya, mereka akan diberi pahala dan shalatnya sah. Jika
mereka tidak melakukannya, maka mereka berdosa dan shalatnya
tidak sah.
Cara tayammum:
Tayammum dilakukan dengan cara menepuk tempat yang ada

tanahnya atau debunya, dengan kedua telapak tangan, misalnya ke atas

permukaan tanah, dinding, perkakas dan lain-lain, kemudian mengusapkan

debu tersebut ke wajah dan dua telapak tangan.

Demikianlah amalan fardhu dalam bertayammum yang jika dikerjakan

akan mendatangkan pahala dan tayammummnya sah begitu pula shalatnya.

Yang perlu diperhatikan, menghadirkan niat tayammum sebagai pengganti

wudhu sehingga sah mengerjakan shalat adalah termasuk amalan fardhu.

Begitu juga masalah ketertiban atau urutan dalam mengusap, yaitu


keharusan untuk mengusap wajah terlebih dahulu, sebelum mengusap

tangan. Hal itu berdasarkan susunan yang disebutkan dalam Al-Qur`an,

"Usaplah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian."

Disamping amalan-amalan yang fardhu, dalam tayammum juga

terdapat amalan-amalan sunnat. Barangsiapa yang melakukannya akan

mendapatkan pahala, dan siapa yang meninggalkannya tidak berdosa dan

tayammumnya tetap sah, meski dia kehilangan pahala.

Sunnat-sunnat tayammum ini adalah: membaca basmalah, meniup

tanah pada tangan sebelum mengusapkannya ke wajah karena menjadi

yang tujuan adalah memenuhi perintah Allah Taala dengan tayammum

ketika tidak ada air, dan bukan untuk melumuri wajah dengan tanah-,

mengeramkan jari-jari untuk menyela-nyelanya dengan debu.

Dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Aku junub dan

tidak mendapatkan air, maka aku pun berguling-guling di tanah lalu shalat,

kemudian aku menceritakannya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Beliau bersabda, "Sesungguhnya cukup bagimu seperti ini." Beliau

memukulkan dua telapak tangannya ke tanah, meniup keduanya kemudian

mengusapkannya ke wajah dan dua telapak tangannya."23

Yang Tidak Mampu Berwudhu dan Tayammum


Misalnya, orang yang tidak mendapatkan debu, atau debunya

berbahaya untuk wajah dan kedua telapak tangannya, serta bentu-bentuk

lain dari bentuk ketidakmampuan. Dalam keadaan ini, orang tersebut boleh

shalat tanpa wudhu dan tayammum. Shalatnya pun dipandang sah dan tidak

perlu diulang. Shalat seperti ini disebut sebagai shalat yang kehilangan dua

kesucian, yakni air dan debu (faaqid ath-Thuhurain).

Diceritakan bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha meminjam kalung dari

Asma, lalu kalung tersebut hilang. Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam mengutus beberapa sahabatnya untuk mencarinya, hingga masuk

waktu shalat dan mereka tidak mendapatkan air. Lantas, mereka

mengerjakan shalat tanpa terlebih dahulu berwudhu. Ketika datang kepada

23 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim


Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka melaporkan hal itu kepada beliau,

lalu turunlah ayat tentang tayammum.24

Dalam riwayat di atas, para sahabat Rasulullah telah mengerjakan

shalat dengan tidak berwudhu atau bertayammum terlebih dahulu, (karena

tayammum sendiri belum disyariatkan), namun Rasulullah tidak

mengingkarinya. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang kehilangan dua alat

bersuci, shalatnya sah dan tidak perlu mengulang.

Bagi orang yang menderita luka bakar, dimana luka tersebut


menyebabkannya tidak bisa berwudhu, misalnya, mendapatkan
kesulitan yang luar biasa untuk mengalirkan air di atas lukanya,
atau akan mendapatkan mudharat seperti merasakan sakit atau
penyakitanya bertambah parah, berdasarkan pengalaman atau
rekomendari dokter yang terpercaya, atau kedua tangan dan kakinya
memakai gips dan bentuk-bentuk lain dari ketidakmampuan untuk
berwudhu, maka dalam kondisi seperti ini, orang tersebut wajib
menempuh langkah-langkah seperti berikut:
-Jika mampu mengusap sebagian yang terluka atau yang sakit dengan

air tanpa menimbulkan mudharat atau rasa sakit, atau

memperlambat kesembuhan, maka wajib mengusapnya (dengan

menyempurnakan anggota wudhu yang lain). Jika tidak, maka

batallah wudhunya dan batal pula shalatnya. Hal itu dilakukan

dengan cara meletakkan tangan ke dalam air, lalu mengibaskannya,

kemudian mengusapkannya ke bagian tubuh yang sakit atau terluka

secara langsung sebanyak satu kali.

- Jika takut mendapatkan kesulitan yang luar biasa, atau bertambah

sakit atau terlambat sembuh, maka hendaknya membalut anggota

tubuh yang sakit atau terluka dengan perban tanpa melewati bagian

yang sakit atau terluka, kemudian mengusap bagian atasnya

dengan air. Cara seperti ini dalam istilah fikih disebut dengan

"mengusap perban" atau al-mashu ala al-jabiirah.

- Jika untuk mengusap pun merasa takut, maka tidak mengapa untuk

tidak mengusap. Akan tetapi ia hendaknya bertayammum sebagai

pengganti dari tidak dibasuhnya bagian atau beberapa bagian yang

tidak mungkin dicuci atau diusap. Dia boleh berwudhu untuk bagian-

24 Diriwayatkan oleh Muslim


bagian yang mungkin dikenai air, dan bertayammum bagi anggota

badan yang tidak cuci atau tidak diusap saat berwudhu.

Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, bercerita bahwa salah seorang

sahabat terkena batu dan melukai kepalanya. Lalu dia bermimpi dan junub,

dan bertanya kepada para sahabatnya, Apakah kalian mendapatkan

keringanan bagiku untuk bertayammum?" Mereka berkata, "Kami tidak

mendapatkan adanya keringanan bagimu, karena kamu masih bisa

menggunakan air." Sahabat tersebut pun mandi, lalu meninggal dunia. Kami

datang kepada Rasulullah dan menceritakan hal itu. Maka beliau bersabda,

"Mereka telah membunuhnya, dan Allah akan membunuh mereka. Kenapa

mereka tidak mau bertanya, jika mereka tidak mengetahui. Sesungguhnya

obat kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya, cukup baginya

bertayammum, lalu membalutkan perban pada lukanya dan mengusap

perban tersebut, lalu setelah itu dia membasuh seluruh tubuhnya."25

Catatan dalam Mengusap Perban


- Tidak disyaratkan mensucikan bagian tubuh yang diperban sebelum

membalutkan perban (seperti kain, atau gips atau yang lainnya) guna

menghindarkan kesulitan.

- Tidak ada batasan waktu dalam kebolehan untuk mengusap perban.

Orang yang sakit tetap boleh mengusapnya saat berwudhu (demikian

juga saat mandi) selama udzurnya masih tetap ada.

- Rembesan darah atau nanah yang keluar dari pembalut atau perban

tidak dianggap najis dan tidak membatalkan shalat. Shalatnya sah dan

tidak perlu diulang.

- Darah yang mengalir dan mengenai pembalut serta lebarnya lebih dari

5 cm persegi (yaitu lebar najis yang dimaafkan, karena dipandang

sedikit dan tidak berpengaruh), maka hukumnya najis dan wajib

dihilangkan bagi orang yang mampu. Jika tidak, maka shalatnya batal.

Adapun bagi orang yang tidak mampu, maka dia boleh shalat dengan

25 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya.


najis tersebut. Shalatnya sah dan tidak perlu diulang (lihat cara

menghilangkan najis).

- Ikatan yang diikatkan untuk memperkuat perban yang menutupi luka

dan berada di sekitarnya, atau yang semisalnya, wajib dibuka saat

berwudhu. Jika tidak, maka wudhunya batal, begitu juga shalatnya.

Kecuali, jika dia mendapatkan bahaya, atau merasa sakit, atau

memperlambat kesembuhan lukanya, karena terkena air, atau karena

dibuka. Dalam keadaan ini, ia cukup mengusapnya (lihat kembali

pembahasan tentang tata cara mengusap).

- Jika perban lepas dari bagian tubuh yang terluka, sementara dia masih

dalam keadaan mempunyai wudhu, maka kembalikanlah perban

tersebut ke tempatnya tanpa harus mengulangi usapan (menurut para

ulama madzhab Hanafi), dan wudhunya tidak batal, begitu juga

shalatnya jika perban tersebut lepas saat shalat.

- Jika bagian yang sakit telah sembuh dan dia dalam keadaan memiliki

wudhu, maka wajib baginya untuk melepaskan perban, lalu mencuci

bagian tubuh tersebut untuk menyempurnakan wudhunya (menurut

pendapat para Ulama madzha Hanafi), karena sebelumnya dia sudah

berwudhu dan mengusap bagian tubuh tersebut, sehingga tidak perlu

mengulang wudhunya dari awal.

Yang Membatalkan Tayammum:


Yang membatalkan tayammum sama dengan apa-apa yang

membatalkan wudhu. Lihat kembali perkara-perkara yang tidak membatalkan

wudhu bagi orang sakit, dan yang membatalkannya, dengan tambahan

sebagai berikut:

a. Mampu menggunakan air: jika udzur atau halangannya telah hilang,

dan orang yang sakit tersebut mampu menggunakan air tanpa menaggung

kesulitan yang luarbiasa, atau tidak mendapatkan mudharat, atau tidak

memperlambat kesembuhannya, maka wajib baginya untuk berwudhu, dan

tayammum tidak lagi cukup baginya. Tayammumnya yang terdahulu pun

dengan sendirinya batal.


Demikian pula, jika udzurnya adalah ketidakadaan air. Setelah air

tersedia, maka tayammumnya otomatis batal, dan dia wajib berwudhu,

namun tidak wajib mengulangi apa yang telah dia tunaikan dari shalat-shalat

fardhu atau sunnat yang dikerjakan dengan cara bertayammum, karena

tayammum berkedudukan sebagai pengganti wudhu.

b. Masuk waktu shalat yang berikutnya:


Menurut sebagian ulama, agar tayammum dipandang sah, maka

disyaratkan agar dilakukan setelah masuk waktu shalat fardhu. Sehingga,

tidak dibolehkan bertayammum sebelum masuk waktu, karena mereka

berpandangan bahwa tayammum dilakukan dalam kondisi darurat, dan tidak

ada kedaruratan sebelum masuknya waktu shalat.

Atas dasar ini, maka tidak dibolehkan bagi orang yang bertayammum

untuk shalat dengan satu kali tayammum kecuali satu kali shalat fardhu

ditambah shalat sunah qabliyah atau shalat sunnat ba'diyah.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu Anhuma, dia berkata, "Bertayammumlah

untuk setiap kali shalat, sekalipun tidak berhadats." 26 Alasannya, air bisa

tersedia atau udzurnya bisa hilang ketika masuk waktu shalat berikutnya.

Menurut para Ulama Hanafiyah, tayammum adalah sebagai pengganti

wudhu, maka hukumnya sama dengan hukum wudhu. Ketika wudhu berlaku

untuk lebih dari satu kali shalat selama dia tidak batal, maka demikian pula

tayammum.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya tanah yang

suci dapat mensucikan bagi orang Muslim, sekalipun dia tidak mendapatkan

air selama dua puluh tahun. Apabila mendapatkan air, maka hendaknya dia

mengusapkan ke kulitnya, karena yang demikian itu lebih baik."27

Bagi yang memakai sepatu (atau kaus kaki tebal) saat berwudhu, maka

dibolehkan baginya untuk mengusapnya dengan air setelah tangannya

dikibaskan sebagai pengganti dari mencuci keduanya.

26 Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi.


27 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini shahih.
Hukum ini berlaku bagi orang sakit dan sehat tanpa ada perbedaan,

anak muda dan orang tua, laki-laki dan dan perempuan, di waktu musin

dingin ataupu di musim panas.

Mughirah bin Syu'ah Radhiyallahu Anhu berkata, "Sesungguhnya Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam berwudhu lalu mengusap kaus kaki dan kedua

sepatunya."28

Berdasarkan hadits ini Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Abu Yusuf,

pengikut Imam Abu Hanifah, membolehkan mengusap dua kaus kaki yang

tebal, dengan dianalogikan (qiyas) kepada mengusap sepatu, jika pada kaus

kaki dan sepatu tersebut tidak terdapat perbedaan yang menggugurkan

qiyas.

Agar mengusap sepatu menjadi sah, maka disyaratkan hal-hal


berikut:
a. Memakai sepatu dalam keadaan bersuci. Dari Mughirah bin Syu'bah

Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Saya menuangkan air wudhu untuk

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika sampai ke kedua kakinya, saya

hendak mengambil dua sepatu untuk melepaskannnya, beliau bersabda,

"Biarkan keduanya karena aku memasukkannya dalam keadaan suci."29

b. Sepatunya harus tebal dan tidak tipis. Demikianlah kondisi sepatu

yang dipakai oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallama dan para

sahabatnya.

c. Sepatunya harus suci, karena sepatu yang najis dilarang untuk dipakai

ketika shalat, dan karenanya tidak memenuhi syarat kebolehan untuk diusap,

kecuali najisnya kurang dari 5 cm persegi, yaitu lebar najis yang dimaafkan

karena sedikit dan tidak berpengaruh, atau tidak mampu menghilangkannya

karena sakit. Jika demikian, maka dibolehkan shalat dengan memakainya

(lihat no. 1 dalam tata cara menghilangkan najis bagi orang sakit).

d. Menutupi anggota tubuh yang wajib dicuci, yaitu sampai batas dua

mata kaki, dengan alasan bahwa mengusap adalah pengganti dari mencuci

saat berwudhu, maka wajib mencakup seluruh bagian yang wajib dicuci.

28 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini shahih.


29 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Tata Cara Mengusap Sepatu
Caranya adalah dengan mengusap bagian atas sepatu (punggung

sepatu atau kaos kaki) yaitu dengan cara membasahi tangan dengan air,

kemudian mengibaskannya dan mengusapkannya satu kali ke atas telapak

kaki dimulai dari ujung jari sampai ke atas telapak kaki.

Dari Ali Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Kalaulah agama ini

berdasarkan akal, tentu bagian bawah sepatu lebih layak untuk dibasuh

daripada bagian atasnya, sungguh saya telah melihat Rasulullah mengusap

bagian atas sepatunya."30

Lama Masa Mengusap


Bagi yang mukim di kampung halamannya, dibolehkan mengusap

sepatu ketika ia hendak berwudhu selama sehari semalam. Sedangkan bagi

orang yang bepergian dibolehkan mengusap sepatu selama tiga hari tiga

malam sebagai keringanan atasnya. Ketika Ali ditanya tentang mengusap

sepatu, dia menjawab, Bagi orang yang bepergian tiga hari tiga malam, dan

bagi orang yang mukim sehari semalam. 31 Karena dalam hadits di atas tidak

dijelaskan batasan awal permulaan waktu mengusap, para ulama berbeda

pendapat dalam memahami hadits tersebut berkenaan dengan awal

penghitungan waktu mengusap:

Sebagian ulama berpendapat, waktunya dimulai dari semenjak

memakai sepatu. Apabila waktu yang sama di hari berikutnya telah datang

(setelah dua puluh empat jam), maka masanya telah berakhir.

Sebagian yang lain berpendapat, waktunya dihitung sejak batal wudhu

setelah memakai sepatu. Contohnya, apabila ada yang memakai sepatu di

waktu zuhur, kemudian batal wudhunya di waktu ashar, maka waktu

mengusap dihitung hingga ashar pada hari berikutnya dan bukan dari waktu

zuhur.

Yang lain berpendapat, dihitung dari waktu mengusap. Apabila orang

itu memakai sepatu dalam keadaan berwudhu kemudian ia batal, lalu

30 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan jalur sanad yang shahih.


31 Diriwayatkan oleh Muslim
berwudhu kembali dan mengusap sepatunya, maka waktu dua puluh empat

jam dihitung dari waktu dia mengusap sepatunya.

Kemungkinan yang mendorong para ulama untuk mengemukakan

pendapat kedua dan ketiga adalah karena pendapat yang pertama

menghalangi manusia dari manfaat mengusap sepatu, karena terkadang

seseorang yang memakai sepatu dalam keadaan berwudhu bisa bertahan

selama dua puluh empat jam walaupun jarang terjadi tanpa mengalami

batal, lalu dia melepaskan sepatunya setelah lewat waktu dua puluh empat

jam, tanpa mendapatkan manfaat dari keriganan mengusap sepatu.

Yang Membatalkan Mengusap Sepatu:


1. Berakhirnya masa mengusap.

2. Melepaskan sepatu dengan sebab apapun sebelum berakhirnya

masa.

Dalam dua keadaan ini (berakhirnya waktu atau


melepaskannya), jika orang tersebut dalam keadaan memiliki wudhu,
maka ia cukup mencuci dua kakinya saja, karena dengan melepaskan
sepatunya, wudhunya batal dan hanya terkait dengan dua kaki saja,
bukan dengan keseluruhan anggota badan. Kemudian, ia boleh
mengulangi untuk memakai sepatu lagi jika mau, dengan hitungan
waktu yang baru. Jika dia melepasnya atau berakhir dalam keadaan
belum berwudhu, maka ia hendaknya berwudhu secara sempurna,
kemudian memakai sepatu dan menghitung masa yang baru.
3. Berlubang:

Jika sepatunya berlubang dan lubang-lubang tersebut jika digabungkan

memungkinkan masuknya tiga jari kaki, maka ia tidak dipandang sebagai

sepatu dan tidak dibolehkan untuk mengusapnya. Adapun jika lubangnya

kecil, maka tidak mengapa untuk mengusapnya dan sepatunya memenuhi

syarat untuk diusap.

Menurut sebagian ulama, dibolehkan mengusap sepatu dan kaus kaki,

sekalipun berlubang selama sesuai dengan adat kebiasaan orang-orang.

4. Sepatunya najis atau telapak kaki yang ada di dalamnya najis

Misalnya, berdarah karena luka dan banyak keluar. Jika najisnya kurang

dari 5 cm persegi, maka ia termasuk najis yang dimaafkan dan tidak wajib

dicuci. Sedangkan jika najisnya lebih dari 5 cm persegi, maka sepatunya

wajib dilepaskan untuk memebersihkan najis, kecuali jika tidak mampu


menghilangkan najis. Dalam keadaan yang terakhir, ia boleh shalat dengan

memakai sepatu tersebut, dan shalatnya sah tanpa perlu mengulangnya.

(lihat no. 1, tentang tata cara menghilangkan najis bagi orang sakit).

5. Junub.

Apabila terkena junub, maka wajib membuka sepatu sehingga


memungkinkan untuk mandi.
Perkara-Perkara Yang Tidak Membatalkan Wudhu Orang Sakit Dan Yang
Membatalkannya:
1. Terus menerus keluar air kencing, kotoran, kentut, darah, nanah, madzi,

wadi atau mani atau air wanita. Dalam fikih disebut dengan salasul baul atau

dawam al-hadats (hadats yang terus menerus). Contohnya:

- orang sakit yang memakai selang kencing untuk ditampung dalam kantong

plastik.

- Orang sakit yang dipindahkan saluran pembuangan tinjanya melalui

lubang yang sengaja dibuat di bagian perut untuk ditampung dalam kantong.

- Lemahnya saraf klep anus sehingga mengakibatkan terus menerusnya

keluar angin. Begitu juga lemahnya saraf penahan kencing sehingga

mengakibatkan terus menerus keluarnya air seni.

- Darah wasir dan yang semisalnya.

- Nanah, hiliran (an-Nashur) dan yang semisalnya.

- Cacing perut yang keluar lewat lubang anus.

- Darah istihadhah, yaitu darah yang keluar dari wanita setelah berakhirnya

masa haid yang biasa dialami. Yang semisal dengannya adalah wanita yang

memasang spiral untuk ber-KB yang mengakibatkan keluarnya plek-plek

darah.

- Keluarnya cairan vagina yang banyak dan terus menerus.

- Terus menerus keluarnya madzi, wadi, mani atau cairan kewanitaan.

Semua yang disebutkan di atas bagi orang yang mengalaminya, tidak

membatalkan wudhunya, guna menghilangkan kesulitan darinya karena

adanya udzur. Namun meski demikian, wajib baginya untuk berwudhu setiap

hendak shalat setelah masuk waktunya, lalu shalat dengan wudhu tersebut

satu kali shalat fardhu dan yang dia kehendaki dari shalat sunnat, baik itu

qabliyyah atau pun ba'diyyah. Jika masuk waktu shalat fardhu berikutnya dia
wajib wudhu kembali, karena pada asalnya dia terus menerus berhadats.

Demikianlah menurut pendapat para imam, Abu Hanifah, Syafi'I dan Ahmad.

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, Fatimah binti

Abu Hubaisy datang menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu

bertanya, "Wahai Rasulullah! Aku adalah perempuan yang sering

beristihadhah (mengeluarkan darah penyakit), dan tak pernah bersih. Apakah

aku harus meninggalkan shalat?" Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

menjawab, "Itu adalah darah penyakit pada pembuluh darah. Perhatikan

olehmu! Jika datang masa haid, maka tinggalkan shalat! Apabilah telah lewat

masa haid maka bersucilah. Kemudian shalatlah pada masa di antara satu

haid dengan haid berikutnya."32

Catatan: Bagi wanita yang beristihadhah atau yang


semisalnya, boleh melakukan hubungan suami istri, karena jika dia
diharuskan untuk mengerjakan shalat, padahal shalat lebih agung,
maka tentunya berhubungan dengan suaminya lebih boleh. Demikian
dikatakan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma.33 Demikian itu,
karena darah haid adalah darah rusak, sedangkan darah istihadhah
pada umumnya adalah darah yang biasa dan tidak menimbukan bahaya.
Menurut pendapat para ulama Malikiyyah (pendapat ini tidak masyhur),

wanita yang beristihadhah tidak diharuskan untuk berwudhu untuk setiap

shalat, kecuali jika wudhunya batal karena sesuatu yang membatalkan

wudhu, selain dari alasan yang dimaafkan dan keluar darinya secara terus

menerus.

Misalnya, orang yang halangannya adalah selalu keluar kencing, lalu ia

kentut, maka wudhunya batal. Bagi orang yang halangannya selalu keluar

tinja, lalu dia kencing maka wudhunya batal. Demikianlah seterusnya. Hal itu

didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Urwah bin Zubair

Radhiyallahu Anhu, bahwa Fathimah binti Abi Hubaisy datang kepada Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengadukan tentang darah yang

didapatkannya. Rasulullah bersabda, "Itu adalah darah penyakit pada

pembuluh darah. Perhatikan olehmu! Jika datang masa haid, maka

tinggalkan shalat! Apabilah telah lewat masa haid maka bersucilah.

32 Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh


33l-Bukhari dan Muslim.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Kemudian shalatlah pada masa di antara satu haid dengan haid

berikutnya."34

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak meminta

darinya untuk berwudhu, setiap hendak shalat. Dianalogikan atas hukum

istihadhah ini, semua halangan (udzur) yang disebutkan di atas.

Perlu diperhatikan, bahwa yang dimaksud dengan orang yang

dimaafkan adalah yang memiliki udzur yang berlangsung secara terus

menerus sepanjang hari, atau paling tidak dari awal waktu suatu shalat

hingga keluar waktunya dan masuk waktu shalat berikutnya.

Adapun bagi orang yang terkena berbagai halangan seperti yang

disebutkan di atas, dalam tempo yang sebentar atau kurang dari mulai

waktu suatu shalat hingga keluar waktunya maka yang berlaku padanya

adalah apa yang berlaku bagi orang yang sehat, dengan kata lain, wudhunya

batal.

Demikian juga bagi orang yang telah Allah sembuhkan dari

penyakitnya secara sempurna, atau sebagiannya, dimana udzurnya tidak

berlangsung dari mulai awal waktu suatu sholat hingga keluar waktunya,

diperlakukan seperti orang yang sehat.

Orang yang diberi keringanan hendaknya memperhatikan hal-hal

berikut ini:

1. Wajib baginya untuk menghilangkan udzur yang menimpanya


atau meminimalisirnya semampu mungkin, asal tidak
menimbulkan mudharat yang sama, yaitu dengan berusaha untUk
mengobatinya dengan bantuan para dokter spesialis atau yang
semisalnya. Jika ia terbukti melalaikan hal itu, maka
berdosa, karena pengobatan adalah perkara yang diwajibkan
Islam.
2. Dia wajib meletakkan sesuatu seperti kapas atau kain yang
menutupi darah istihadhah untuk menghalangi aliran darah
atau meminimaliSirnya, hingga tidak menajisi pakaiannya,
kecuali jika menimbulkan kesulitan. Jika terbukti demikian,
maka tidak perlu untuk meletakan kapas atau kain dan tidak
ada dosa baginya serta shalatnya sah.
3. Jika shalat sambil berdiri mengakibatkan munculnya udzur
tersebut, maka ia boleh shalat sambil duduk. Jika ruku' dan
sujud juga mengakibatkan munculnya udzur, maka dia boleh
tidak ruku dan sujud, dan cukup shalat dengan isyarat, atau
menundukkan kepala sebagai pengganti keduanya. Demikian
menurut pendapat madzhab Hanafi.

34 Diriwayatkan oleh Ahmad.


4.Jika dia mengetahui bahwa udzurnya hilang pada waktu-waktu
tertentu, yang memberi kesempatan untuk bersuci dan shalat,
maka tunggulah waktu tersebut, lalu bersucilah dan
tunaikanlah shalat.
2. Darah Luka, darah bercampur nanah dan nanah

Termasuk darah yang keluar dari bisul, jerawat, lecet dan sebagainya,

atau darah yang keluar dari hidung, gigi dan lain-lain, atau yang keluar

setelah diambil darah atau yang semisalnya, sekalipun darahnya banyak dan

tertumpah. Semuanya, tidak membatalkan wudhu, berdasarkan pendapat

Hasan Radhiyallahu Anhu, yang berkata, "Kaum Muslimin masih tetap

melakukan shalat saat mereka terluka."35

Apa-apa yang keluar dari selain dua jalan, yakni tempat keluarnya

kencing dan tinja, semuanya tidak membatalkan wudhu, baik bagi orang

sehat maupun orang sakit. Adapun yang keluar dari dua jalan, hanya

membatalkan wudhu orang sehat saja, dan tidak membatalkan wudhu orang

yang berhalangan yang berwudhu untuk setiap kali shalat. Contohnya,

kencing, tinja, kentut, madzi, wadi dan mani yang mewajibkan mandi.

3. Muntah, Makanan yang Keluar dari Perut dan Yang Sejenisnya


Misalnya, cairan kuning yang keluar dari selang yang
dipasang pada empedu, semuanya tidak membatalkan wudhu karena
tidak ada nash dari ayat Al-Qur`an atau hadits yang
menjelaskannya. Baik muntahnya keluar makanan yang keluar dari
perut atau yang semisalnya secara langsung atau lewat selang
yang dipasang pada orang sakit untuk memberi makanan. Baik
muntahnya banyak hingga memenuhi mulut maupun sedikit.
Begitu juga jika keduanya bercampur dengan darah, nanah atau darah

kotor. Semuanya tidak membatalkan wudhu karena darah tersebut tidak

keluar dari dua jalan. Dia seperti darah luka yang tidak membatalkan wudhu.

4. Dahak

Dahak tidak membatalkan wudhu karena bukan keluar dari dua jalan,

yakni saluran kencing dan tinja, sekalipun bercampur dengan darah, atau

dahaknya murni berupa darah. Semuanya tidak membatalkan wudhu, karena

ia seperti darah luka yang tidak membatalkan wudhu.

5. Selang yang dimasukkan lewat saluran kencing atau anus dan

yang semisalnya, seperti obat yang dimasukkan lewat anus, alat

yang dimasukkan lewat vagina


35 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Semuanya membatalkan wudhu saat dikeluarkan saja, karena wudhu

menjadi batal oleh apa yang keluar dari dua jalan, bukan karena sesuatu

yang dimasukkan melalui keduanya.

6. Selang yang dimasukkan ke dalam paru-paru, lambung, usus,


empedu, dada, hidung, telinga, dan yang sejenisnya.
Semuanya tidak membatalkan wudhu, baik ketika dimasukkan maupun

saat dikeluarkan dari badan orang sakit, karena tidak ada kaitannya dengan

dua jalan, dan tidak keluar darinya.

7. Obat Yang Dimasukkan ke dalam Anus atau Vagina (vagina


perempuan termasuk salah satu dari dua jalan).
Menurut madzhab Hanafi:

a. Jika dimasukkan dan tidak keluar, maka tidak membatalkan wudhu,

karena yang membatalkan wudhu adalah apa yang keluar dari dua

jalan dan bukan karena ada yang masuk.

b. Jika dimasukkan secara sempurna lalu keluar, maka wudhunya batal,

karena dengan dimasukkan secara sempurna, dia menjadi bagian

yang menyatu dengan apa-apa yang ada di dalam usus. Jika keluar,

itu berarti adanya sesuatu yang keluar dari dua jalan. Yang

karenanya, membatalkan wudhu.

c. Jika dimasukkan sebagiannya lalu keluar, maka

-jika keluar dalam keadaan basah dan berbau, itu artinya ia telah

menjadi bagian yang menyatu dengan apa yang ada di dalam usus,

sehingga apabila keluar, itu berarti adanya sesuatu yang keluar dari

salah satu dua jalan, sehingga wudhunya batal.

- Jika keluar dalam keadaan tidak basah dan tidak berbau, itu artinya

belum menyatu dengan bagian yang ada di dalam usus, sehingga

tidak membatalkan wudhu.

8. Pemeriksaan dengan Memasukkan Jari ke dalam Anus atau Vagina


(pada penyakit kewanitaan)
Wudhu menjadi batal, saat jari dikeluarkan, karena dokter
pada umumnya memasukkan jari secara sempurna agar dapat melakukan
pemeriksaan. Sehingga ketika jari itu dikeluarkan, itu sama
dengan adanya sesuatu yang keluar dari dua jalan, sehingga
menyebabkan wudhunya batal.
9. Pingsan, Hilang Akal, Bius dan Tidur.
Semuanya membatalkan wudhu, karena ada kemungkinan keluarnya

angin dari lubang dubur, baik sebentar maupun lama, baik akibat sakit atau

pengaruh obat, atau karena terjadi sesuatu atau karena sebab lainnya.

Akan tetapi tidur yang kokoh tidak membatalkan wudhu, yaitu yang

tidur sambil duduk sekalipun tidurnya berat, hingga tidak menyadari apa-

apa yang ada disekitarnya dengan cara memantapkan cara duduknya di

atas lantai. Tidur dalam keadaan demikian, tidak membatalkan wudhu,

karena kecil kemungkinan adanya sesuatu yang keluar dari lubang dubur.

Anas Radhiyallahu Anhu bercerita bahwa para sahabat Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa menunggu waktu isya yang terakhir

(sambil mengantuk) hingga kepala mereka mengangguk-angguk, kEmudian

mereka shalat dan tidak berwudhu lagi."36

Orang yang tertidur dalam keadaan sujud, atau berdiri atau sedang

ruku', tidurnya tidak membatalkan wudhu menurut madzhab Hanafi

karena dalam keadaan seperti ini saraf lubang anus tidak bebas hingga pada

umumnya susah keluar angin.

10. Angin atau gas dalam perut

Angin tersebut tidak membatalkan wudhu seseorang, sekalipun dia

merasakan bahwa ada sesuatu yang hendak keluar, kecuali jika benar-benar

keluar. Ketika itu, wudhunya batal.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Apabila salah seorang di

antara kamu mendapatkan sesuatu pada perutnya, lalu membuatnya ragu,

apakah keluar sesuatu dari perutnya atau tidak? Maka janganlah keluar dari

masjid hingga mendengar suara atau mendapatkan bau."37

11. Menyentuh kemaluan dan lubang anus

Menurut jumhur ulama, menyentuh kemaluan membatalkan wudhu,

baik menyentuh kemaluan sendiri atau kemaluan orang lain, misalnya dokter

saat melakukan pemeriksaan.

Sentuhan yang membatalkan wudhu adalah sentuhan tanpa

penghalang, dengan menggunakan bagian depan telapan tangan baik

36 Diriwayatkan oleh Muslim.


37 Diriwayatkan oleh Muslim.
dengan syahwat maupun tidak. Adapun sentuhan dengan bagian punggung

telapak tangan atau bagian sisinya atau dengan ujung jari atau bagian

sisinya, atau menggunakan penghalang, seperti baju atau celana dalam,

semuanya tidak membatalkan wudhu.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang

mengulurkan tangannya untuk memegang kemaluannya tanpa ada

penghalang, maka telah wajib wudhu atasnya."38

Menurut ulama madzhab Hanafi, sentuhan tanpa penghalang tidak

membatalkan wudhu, baik dengan syahwat maupun tidak. Hal itu didasarkan

pada riwayat yang menceritakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang seseorang yang menyentuh

kemaluannya, apakah dia wajib berwudhu? Rasulullah menjawab, "Tidak,

karena ia merupakan bagian dari tubuhmu."39

Adapun menyentuh lubang anus, pelir, bulu sekitar alat


reproduksi, semuanya tidak membatalkan wudhu, karena tidak ada
nash dari Al-Qur`an dan hadits yang menjelaskannya.
12. Menyentuh Benda Najis, Seperti Kencing, Tinja, Darah, Madzi,
Wadi, Muntah Dan Benda-Benda Najis Lainnya
Semuanya tidak membatalkan wudhu, karena tidak anda nash dalam

Al-Qur`an dan hadits yang menjelaskannya. Tetapi dia wajib mencucinya jika

mampu. (Lihat penjelasan tentang cara menghilangkan najis).

13. Menyentuh Perempuan

Misalnya yang terjadi saat seorang dokter laki-laki melakukan

pemeriksaan terhadap pasien perempuan, atau dokter perempuan

memeriksa pasien laki-laki, atau perawat perempuan mengobati pasien laki-

laki, atau perawat laki-laki mengobati pasien perempuan, dan contoh-contoh

lainnya yang dibolehkan Islam karena keadaan darurat. Kaidah ushul fikih

menyatakan bahwa darurat membolehkan yang asalnya tidak boleh.

Menurut ulama madzhab Hanafi, menyentuh perempuan tidak

membatalkan wudhu, karena mereka berpendapat bahwa yang dimaksud

dengan menyentuh dalam firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman,

apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan

38 Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan menurutnya hadits ini shahih.


39 Diriwayatkan oleh perawi lima.
tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu

sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan

jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus)

atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka

bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih)." (Al-Maidah: 6), adalah

jima', bukan sekadar bersentuhan kulit dengan kulit.

Menurut madzhab Maliki dan Hambali, sentuhan kulit dengan

perempuan juga tidak membatalkan wudhu, kecuali jika diiringi dengan

syahwat.

14. Orang yang ragu apakah dia masih mempunyai wudhu atau tidak?
Orang yang mengalaminya, hendaknya mengambil keputusan

berdasarkan apa yang diyakininya, atau berdasarkan apa yang diingatnya,

karena berdasarkan kaidah ushul fikih, apa yang ditetapkan berdasarkan

keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan. Atau jika pada masa-

masa terakhir dia teringat bahwa dia berwudhu, lalu ragu-ragu apakah

wudhunya sudah batal atau tidak, maka dia dianggap masih mempunyai

wudhu.

Adapun jika pada masa-masa terakhir dia teringat telah batal

wudhunya, lalu dia ragu apakah telah berwudhu atau belum maka ia

dianggap tidak mempunyai wudhu.

Demikian juga orang yang ragu saat berwudhu, yaitu ketika


sedang mencuci salah satu anggota wudhu, apakah sudah mencuci
anggota sebelumnya atau belum? Orang tersebut, hendaknya kembali
lagi dan mencucinya lalu menyempurnakan basuhan yang sesudahnya
dari anggota-anggota wudhu yang lainnya. Adapun orang yang
mendapatkan keraguan setelah selesai wudhu, apakah dia lupa
mencuci salah satu anggota atau tidak? Maka ia tidak perlu
kembali untuk mencuci apa pun guna menghindarkan sikap was-was,
dan wudhunya sah.
15. Madzi, wadi, mani dan cairan kewanitaan.
Jika terus menerus keluar karena sesuatu penyakit, maka tidak

membatalkan wudhu (lihat kembali no. 1, pembahasan mengenai perkara-

perkara yang tidak membatalkan wudhu orang sakit dan yang

membatalkannya).

Adapun jika keluar secara wajar bukan karena penyakit, maka ia

membatalkan wudhu.
Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, Adapun mani, maka jika

keluar diwajibkan mandi. Sedangkan mengenai madzi dan wadi, Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Cucilah kemaluanmu dan

berwudhulah sebagaimana wudhu untuk shalat."40

Madzi adalah cairan bening sedikit kental keluar saat


bercumbu atau berpikir tentang hal yang merangsang. Madzi
membatalkan wudhu, dan orang yang mengeluarkannya diharuskan
mencuci lubang kemaluannya, sebagaimana ketika ia selesai buang
air kecil.
Wadi adalah cairan putih yang tebal dan kental keluar setelah buang air

kecil akibat kerja berat yang menguras tenaga, atau keletihan atau sebab

yang lain. Wadi membatalkan wudhu dan orang yang mengeluarkannya

diharuskan mencuci lubang kamaluannya, sebagaimana ketika ia selesai

buang air kecil.

Adapun mani dan cairan kewanitaan, keduanya mewajibkan mandi.

Aisyah Radhiyallahu Anha bercerita bahwa Nabi ditanya tentang seorang laki-

laki yang mendapatkan sesuatu yang basah, namun tidak ingat mimpi, beliau

bersabda, "Hendaknya dia mandi." Juga ditanya tentang seorang laki-laki

yang mimpi, tapi tidak mendapatkan sesuatu yang basah (mani), "Tidak

wajib mandi atas orang itu." Ummu Sulaim berkata, "Apakah wanita harus

mandi jika melihat hal tersebut?" Beliau menjawab, "Ya, sesungguhnya

wanita itu adalah saudari kandung laki-laki."41

Mani laki-laki adalah cairan putih yang kekuning-kuningan,


kental dan berbau seperti adonan roti, keluar saat syahwat
memuncak dengan pancaran yang berturut-turut, lalu diiringi
dengan menghilangnya shyawat.
Cairan kewanitaan adalah cairan kuning (atau putih), lembut terdapat

dalam kemaluan ketika memuncaknya syahwat, diiringi dengan

menyempitnya otot vagina dan rahim.

Jika cairan ini terus menerus keluar tanpa diiringi syahwat, maka

hukumnya seperti hukum salasul baul (lihat kembali no. 1 tentang perkara-

perkara yang tidak membatalkan wudhu orang sakit dan yang

membatalkannya).

40 Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi.


41 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya.
Jika cairan tersebut keluar saat berpikir tentang sesuatu yang

merangsang, tanpa diiringi dengan penyempitan otot vagina dan rahim,

maka hukumnya seperti madzi pada laki-laki yang membatalkan wudhu,

namun tidak mewajibkan mandi.

Jika keluar karena syahwat yang memuncak, atau diiringi rasa nikmat,

disertai penyempitan otot vagina dan rahim, maka wajib mandi, baik ketika

tidur maupun saat terjaga.

Adapun kelenjar vagina, yaitu yang keluar secara normal dari kemaluan

seorang wanita, dan tidak seperti madzi yang keluar saat berpikir tentang

sesuatu yang merangsang syahwat, juga tidak seperti mani yang keluar saat

memuncaknya syahwat disertai penyempitan otot vagina dan rahim, maka

menurut sebagian ulama, kelenjar tersebut tidak membatalkan wudhu,

karena sulit dihindari. Tapi ada juga yang berpendapat, membatalkan wudhu

sebagaimana cairan-cairan lain yang keluar dari dua jalan.

5. MANDI

A. Orang Yang Tidak Mampu Mandi


Misalnya, orang yang mendapatkan kesulitan yang luar biasa, atau

mendapatkan mudharat, atau merasakan kesakitan atau bertambah parah

penyakitnya, berdasarkan rekomendasi dokter muslim yang mahir dan

terpercaya, atau berdasarkan pengalaman pribadi, atau tidak mendapatkan

orang yang membantunya untuk mandi, atau airnya sangat dingin dan tidak

bisa dipanaskan, takut berbahaya jika memakainya dan bentuk-bentuk lain

dari bentuk ketidakmampuan. Dalam kondisi seperti ini, orang tersebut tidak

wajib mandi, tapi wajib bertayammum. (Lihat hadits Jabir Radhiyallahu Anhu,

hal 40).

Tayammum ini akan menggantikan posisi mandi, sehingga setelah

mengerjakannya, orang itu dibolehkan untuk mengerjakan shalat,

menyentuh mushaf dan membaca Al-Qur`an.

Jika waktu shalat, lalu dia mampu berwudhu, maka wajib berwudhu.
Jika tidak mampu berwudhu, maka dia bertayammum sebagai

pengganti wudhu.(Lihat hukum tayammum, hal 36).

Perlu diingat, jika sebab yang membuatnya tidak mampu mandi telah

hilang, maka dia wajib mandi, dan tidak boleh bertayammum. Namun meski

demikian, ia tidak diharuskan mengulang shalat yang telah dikerjakan

dengan tayammum, karena shalatnya telah sah.

B. Orang Yang Mampu Mandi


Bagi yang mampu, maka wajib mandi atasnya. Artinya, ia akan diberi

pahala jika mengerjakannya dan jika tidak mengerjakannya, maka ia

berdosa, sekaligus tidak boleh shalat. Kalaupun melakukan shalatnya, maka

shalatnya batal. Tidak boleh menyentuh mushaf atau membaca Al-Qur`an,

jika melakukannya, maka dia berdosa.

C. Catatan dalam Masalah Mandi


- Junub laki-laki dan junub perempuan.
Laki-laki menjadi junub, jika keluar darinya mani yang diiringi syahwat,

baik saat tidur, yaitu yang disebut dengan mimpi basah, maupun saat terjaga

karena menggauli istrinya, sekalipun hanya dengan memasukkan ujung

kemaluan kedalam farji istrinya, baik mengeluarkan mani maupun tidak. Atau

dengan cara onani, yaitu mengeluarkan mani dengan tangan atau yang

lainnya.

Perempuan menjadi junub, jika keluar darinya cairan kewanitaan yang

diiringi syahwat atau diiringi rasa nikmat, yang disertai penyempitan otot

vagina dan rahim, baik ketika tidur maupun saat terjaga. Ia pun menjadi

junub jika suaminya memasukkan ujung kemaluannya ke dalam farjinya baik

ia mengeluarkan mani atau tidak. Adapun semata-mata bersentuhan antara

dua kemaluan tidak mewajibkan mandi, kecuali jika mengeluarkan mani.

Menurut sebagian ulama, ereksi membatalkan wudhu, tetapi tidak

mewajibkan mandi.

Sedangkan keluarnya mani laki-laki atau cairan kewanitaan tanpa

diiringi syahwat atau karena sakit dan sebab yang lainnya, maka keduanya
tidak mewajibkan mandi tapi mewajibkan wudhu karena adanya sesuatu

yang keluar dari dua jalan.

Jika keluarnya terus menerus maka hukumnya seperti salasul baul (lihat

no. 1 mengenai perkara-perkara yang tidak membatalkan wudhu orang sakit

dan yang membatalkannya).

Mujahid, yaitu salah seorang tabi'in, bercerita bahwa seorang laki-laki

bertanya kepada para sahabat Ibnu Abbas sementara Ibnu Abbas tengah

mengerjakan shalat bahwa setiap dia buang air kecil selalu diiringi

keluarnya mani? Bagaimana hukumnya? Mereka pun berfatwa kepadanya,

untuk mandi wajib. Demi mendengar itu, Ibnu Abbas menyegerakan

shalatnya dan mendatangi laki-laki itu, lalu bertanya, "Apakah kamu

mendapatkan syahwat pada kemaluanmu?" Laki-laki itu menjawab, "Tidak"

Ibnu Abbas bertanya lagi, "Apakah kamu mendapatkan rasa lemas pada

tubuhmu?" dia menjawab, "Tidak." Ibnu Abbas berkata, "Itu disebabkan

kedinginan, maka cukup bagimu wudhu."

Bagi orang yang bermimpi, namun tidak mendapatkan mani maka tidak

wajib mandi. Bagi orang yang bangun tidur lalu mendapatkan sesuatu yang

basah lalu dia ragu, apakah mani atau wadi yang keluar di akhir kencing

sebelum tidurnya, (karena mani dan wadi itu mirip dalam bentuknya, meski

wadi jumlahnya lebih sedikit), maka dalam keadaan seperti ini ia diberi

pilihan antara memandangnya sebagai mani hingga dia wajib mandi, sebagai

bentuk kehati-hatian atau memandangnya sebagai wadi, yang mewajibkan

dirinya untuk hanya mencuci lubang kemaluannya. Demikianlah apa yang

diceritakan oleh Mujahid Radhiyallahu Anhu diterapkan sesuai dengan situasi

dan kondisinya.

Bagi orang yang bermimpi dua kali berturut-turut, lalu ia tidak mandi

setelah mimpinya yang pertama, maka cukup baginya untuk mandi satu kali

setelah mimpinya yang kedua.

Untuk menggabungkan antara mandi dan wudhu, cukup satu kali niat.

Imam Ibnu Arabi berkata, Para ulama bersepakat bahwa wudhu itu tercakup

di dalam mandi.
Barangsiapa yang telah mengerjakan shalat, lalu mendapatkan mani

pada bajunya atau tersadar bahwa dirinya shalat dalam keadaan junub,

maka dia wajib setelah mandi mengulangi shalatnya dan shalat-

shalat fardu sebelumnya semenjak dia bangun tidur hingga tidur terakhir

yang dilakukannya.

Apabila seorang wanita melahirkan atau menggugurkan kandungan,

maka ia wajib mandi setelah berhentinya darah persis seperti ketika haid.

Wanita yang junub, haid, dan bernifas setelah melahirkan, dibolehkan

mendengarkan Al-Qur`an. Adapun membaca Al-Qur`an, menyentuh mushaf

dan membawanya adalah perkara yang diharamkan. Demikianlah yang

dikerjalan oleh para sahabat Rasulullah Radhiyallahu Anhum Ajmai'in.

Ali Karamahullah wajhahu berkata, "Tidak ada sesuatu pun yang

menghalangi Nabi untuk membaca Al-Qur`an selain junub."42

Tetapi dibolehkan membaca sebagian ayat Al-Qur`an dengan niat

dzikir, misalnya, saat tertimpa musibah ia membaca, innalillahi wa innaa

ilaihi raajiun (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadanya kami kembali).

Menurut sebagian ulama Malikiyyah, dibolehkan bagi wanita haid dan

nifas membaca Al-Qur`an, tanpa menyentuh mushaf.

Syaikh 'Athiyah Shaqr dalam kitabnya, Ahsan al-Kalam fi Al-Fatawa wa

Al-Hakam, berkata, Dalam kitab fikih menurut madzhab yang empat

karangan Al-Jazairi, disebutkan bahwa para ulama Malikiyyah menyatakan,

". . . Adapun wanita haid dan nifas dibolehkan membaca Al-'Qur'an ketika

keluarnya darah, baik sebelumnya ia junub atau tidak. Adapun jika darah

sudah berhenti, maka tidak boleh membaca sebelum ia mandi, baik ia junub

atau tidak. Demikian itu karena dia memungkinkan untuk mandi, yang

karenanya tidak boleh membaca Qur'an sebelum mengerjakannya. Adapun

menyentuh mushaf atau menuliskannya maka dibolehkan saat belajar atau

mengajar saja. Hal yang demikian itu karena dia termasuk yang dimaafkan.

Sementara orang yang junub, ia berada dalam masa junubnya dalam waktu

yang sebentar dan memungkinkan mandi hingga ia menjadi suci. Adapun

42 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.


wanita haid dan nifas, dia menjalaninya dalam rentang waktu yang lama

dalam keadaan tidak suci, maka bagaimana dilarang membaca Qur'an dalam

seluruh waktu tersebut?!

Berdasarkan kesepakatan ulama dibolehkan membaca Al-Qur`an di

dalam hati bagi orang yang haid, nifas dan junub tanpa menggerakkan lidah

yaitu untuk mengingatnya karena takut lupa.

Juga dibolehkan menyentuh mushaf bagi orang yang tidak berwudhu.

Demikian pendapat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dan Imam Ibnu Hazm

karena keduanya memahami dhamir (kata ganti ketiga) dalam firman Allah,

laa yamassuhu (tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan)

(Al-Waqi'ah: 79) bukan kembali kepada mushaf yang ada di tangan-tangan

manusia, tetapi kembali kepada mushaf yang ada di Lauh Al-Mahfuzh di

langit. Dan yang disucikan adalah para malaikat, bukan manusia.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak menyentuh Al-

Qur`an kecuali orang yang suci."43 Lafazh thaahir yang berarti suci adalah

lafazh yang memiliki beberapa kemungkinan, yaitu bisa berarti suci dari

junub, bisa juga berarti suci dari hadats kecil yaitu wudhu.

Sebagian ulama berpendat bahwa haram menyentuh mushaf tanpa

wudhu, berdasarkan kepada zhahir nash, "Tidak menyentuhnya kecuali

orang-orang yang disucikan," kecuali jika berupa kitab tafsir yang perkataan

manusianya lebih dominan daripada ayat Al-Qur`an. Atau khawatir

mushafnya akan hilang, seperti jatuh ke tempat najis. Ketika itu dibolehkan

menyentuhnya tanpa wudhu untuk menyelamatkannya.

Adapun membaca Al-Qur`an tanpa berwudhu, juga tanpa menyentuh

mushaf, maka hukumnya boleh berdasarkan ijma' ulama.

==0==

CARA SHALAT ORANG SAKIT


1. Orang Yang Tidak Mampu Menutup Aurat

43 Diriwayatkan oleh An-Nasa`i.


Contohnya orang yang terbakar atau terluka atau memiliki bekas

gigitan dan yang lainnya, yang merasa kesakitan ketika memakai pakaian.

Dalam kondisi seperti ini, hendaknya ia menutup aurat semampunya (lihat

batasan aurat laki-laki dan perempuan). Jika tidak mampu, maka shalatlah

sesuai dengan kemampuannya, sekalipun harus shalat dalam keadaan

telanjang bulat. Shalatnya sah dan tidak perlu diulang. Demikian itu untuk

menghilangkan kesulitan darinya karena menutup aurat diwajibkan atas

orang yang mampu bukan atas orang yang tidak mampu.

2. Orang Yang Tidak Mampu Menghadap Kiblat

Contohnya orang sakit yang tidak mampu bergerak kecuali


dengan kesulitan yang luar biasa, atau dirawat di atas tempat
tidur yang arahnya tidak menghadap ke kiblat.
Dalam kondisi seperti ini atau yang semisalnya, jika ia mampu sedikit

bergerak, atau ada orang yang menggerakkannya tanpa ada kesulitan atau

bahaya, atau tidak menyebabkan rasa sakit atau penyakitnya semakin parah,

dimana kedua telapak kakinya dapat menghadap ke arah kiblat, atau duduk

dengan wajah dan dadanya menghadap kiblat, maka hendaknya ia

melakukannya.

Jika tidak mampu, maka ia boleh shalat sesuai keadaannya, baik

menghadap kiblat maupun tidak, karena Allah Taala berfirman, Jika kamu

dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau

berkendaraan. (Al-Baqarah: 239).

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Umar berkata, Baik, menghadap

kiblat atau pun tidak menghadapnya.44

Dalam keadaan tidak mampu menghadap kiblat, seseorang yang


melaksanakan shalat dengan menghadap ke arah manapun, shalatnya
sah dan tidak perlu diulang, atau ditangguhkan, sebab Allah
Subhanahu wa Taala berfirman, Sesungguhnya shalat adalah
kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang
beriman. (An-Nisaa': 104).
Apabila rasa sakitnya tidak menghalangi dirinya untuk menghadap

kiblat, atau tidak mendapatkan kesulitan yang sangat dan tidak ada

mudharatnya, atau tidak menyebabkan bertambahnya rasa sakit,

berdasarkan rekomendasi dari seorang dokter muslim yang mahir dan

terpercaya, atau berdasarkan pengalaman pribadi, maka dalam kondisi

44 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


seperti ini dan yang semisalnya dia wajib menghadap kiblat. Jika tidak, maka

shalatnya tidak sah.

Bagi orang yang mampu menghadap kiblat, apabila arah shalatnya

bergeser sedikit dari arah kiblat setelah berusaha untuk menyelidiki arah

sebenarnya maka tidak apa-apa, selama sebagian wajahnya masih

menghadap ke arah kiblat.

3. Orang Yang Tidak Mampu Berdiri, Ruku dan Sujud

Orang yang demikian, hendaknya shalat sambil duduk bersila atau

seperti duduk tasyahhud atau cara apa saja sesuai kemampuannya.

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, Saya melihat Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat sambil duduk bersila.45

Jika tidak mampu, atau mendapatkan kesulitan yang luar biasa ketika

duduk, atau mendapatkan mudharat seperti merasa sakit atau penyakitnya

bertambah parah, atau yang semisalnya, hendaknya ia melaksanakan shalat

sambil tidur miring. Jika tidak mampu maka sambil terlentang. Jika tidak

mampu juga, maka menurut yang mudah baginya, sekalipun hanya dengan

isyarat kepala atau kelopak mata, atau sekalipun sebagian rukun shalatnya

dilakukan di dalam hati. Allah tidak membenani suatu jiwa kecuali sesuai

kemampuannya. Karena kewajiban shalat tidak gugur selama akalnya masih

berfungsi.

Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Saya

menderita penyakit wasir, lalu saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu

Alaihi wa Sallam, maka beliau menjawab, Shalatlah sambil berdiri! Jika tidak

mampu maka shalatlah sambil duduk. Dan jika tidak mampu maka shalatlah

sambil tidur miring.46 Dalam riwayat lain disebutkan, Jika tidak mampu,

maka sambil terlentang di atas punggunmu. Allah tidak membebani satu jiwa

kecuali sesuai kamampuannya.47

45 Diriwayatkan oleh An-Nasa`I dan dishahihkan oleh Al-Hakim.


46 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
47 Diriwayatkan oleh An-Nasa`i
Bagi orang yang mampu berdiri, tetapi tidak mampu ruku atau
sujud, seperti orang yang menderita penyakit atau rasa sakit di
punggung atau di kedua lututnya, atau yang semisalnya, maka
dalam kondisi seperti ini atau yang semisalnya, boleh shalat
sambil berdiri, kemudian ketika ruku dia sedikit menundukkan
kepala, dan jika tidak mampu maka dengan isyarat kelopak mata.
Lalu, ketika sujud menundukkan kepadala lebih rendah sedikit
daripada ruku, atau duduk seperti duduk tasyahud, atau di atas
kursi, kemudian membungkukkan sedikit badannya sebagai bentuk
sujud. Jika tidak mampu, maka dengan isyarat kepala atau kelopak
mata. Jika ia melakukannya, maka shalatnya sah dan tidak perlu
mengulang.
Ada hal penting yang harus diperhatikan oleh orang yang
sakit, yaitu thumaninah atau diam sejenak dengan penuh
ketenangan ketika mengerjakan shalat. Karena thumaninah ini
termasuk fardhu dalam shalat. Barangsiapa yang tidak tenang
(thumanihah) saat ruku, atau ketika berdiri tegak dari ruku,
atau ketika sujud sesuai kadar kemampuan orang yang sakit
tersebut atau ketika duduk di antara dua sujud, maka shalatnya
tidak sah.
Rasululullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada
seorang laki-laki yang berlaku buruk dalam shalatnya, karena
terlihat seperti sedang mematuk-matuk, Jika kamu berdiri untuk
shalat, maka bertakbirlah kemudian bacalah apa yang mudah bagimu
dari ayat-ayat Al-Qur`an yang kamu hafal, kemudian rukulah
hingga thumaninah (tenang/diam sejenak) dalam ruku, kemudian
bangkitlah hingga tegak berdiri, kemudian sujudlah hingga
thumaninah dalam sujud, kemudian bangkit hingga thumaninah
dalam duduk, kemudian sujud lagi hingga thumaninah dalam sujud,
kemudian lakukan itu semua dalam seluruh shalatmu.48

Arti thumaninah ini adalah diamnya seluruh anggota badan


dari semua gerakan.
Thumaninah yang paling minimal, sebagaimana telah ditetapkan para

ulama adalah seukuran waktu membaca satu kali tasbih yaitu mengucapkan

kalimat Subhanallah.

Bagi orang yang tertimpa penyakit atau rasa sakit di tengah-tengah

shalat, hendaknya menyempurnakan shalatnya dengan cara apa saja yang

mampu dilakukannya tanpa perlu mengulang kembali. Sebagaimana

dibolehkan baginya untuk memutus shalat, karena darurat. Kaidah ushul fikih

menyatakan bahwa keadaan darurat membolehkan sesuatu yang asalnya

tidak boleh. Kemudian, ia mengulangi kembali shalatnya yang terputus ketika

mampu melaksanakannya kembali, jika shalat yang dilakukannya adalah

shalat fardhu.

Yang wajib diperhatikan adalah bahwa berdiri tegak ketika


shalat (al-qiyam) merupakan fardhu bagi orang yang mampu
melakukannya dalam shalat fardhu saja. Artinya, ia akan diberi
pahala jika mengerjakannya dan berdosa serta shalatnya batal jika
ditinggalkan.

48 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


Adapun dalam shalat sunnat dan nawafil, maka berdiri tegak ketika

shalat (al-qiyam) tidak termasuk dalam kategori fardhu shalat. Dengan ini,

orang yang melaksanakan shalat sunnat sambil duduk, sekalipun dia mampu

berdiri, shalatnya tidak batal, hanya saja pahala yang didapatkan setengah

pahala orang yang shalat sambil berdiri.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Shalat


seseorang sambil duduk mendapat setengah pahala shalat.49
Ada pengecualian, yaitu bagi orang yang tidak mampu berdiri.

Pahalanya akan sempurna dengan seijin Allah, sekalipun dalam shalat fardhu.

4. Orang Yang Tidak Mampu Takbiratul Ihram

Bagi orang yang tidak mampu melakukan takbiratul ihram, boleh

melakukannya dalam hati.

5. Orang Yang Tidak Mampu Membaca Fatihah dan Tasyahud

Contohnya, karena menderita sakit pada otaknya, saraf, lidah, ingatan

dan sebagainya. Hendaknya dia diam dengan tenang, bersikap khidmat

sepanjang bacaan Al-Fatihah atau tasyahhud. Barangsiapa yang mampu

membaca tujuh ayat dari Al-Qur`an sebagai pengganti dari Al-Fatihah, maka

ia boleh membacanya.

Barangsiapa yang tidak bisa membaca apa-apa selain tasbih, tahmid,

takbir atau tahlil, yakni bacaan Subhanallah, Alhamdulillah, La Ilaaha Illallah,

dan Allahu Akbar tujuh kali, maka cukup baginya untuk membacanya. Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengajarkan shalat kepada seorang laki-

laki seraya bersabda, Jika kamu memiliki hafalan beberapa ayat Al-Qur`an,

maka bacalah! Jika tidak maka bacalah hamdalah, takbir, dan tahlil lalu

ruku.50

6. Orang Yang Tidak Mampu Membaca Salam

Bagi orang tersebut, hendaknya mengucapkan kalimat ini dalam

hatinya, Assalamu Alaikum wa Rahmatullahi.

Adapun memalingkan muka ke kanan dan ke kiri ketika salam,


maka hal itu termasuk sunnat, yang jika dilakukan mendapat pahala
dan jika tidak tidak berdosa dan shalatnya tidak batal. Jika dia
tidak mampu melakukannya maka sama sekali tidak ada dosa baginya,
bahkan dia diberi pahala seakan-akan melakukannya, karena keadaan

49 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


50 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini hasan.
tersebut di luar keinginannya. Jika dia mendapatkan kesulitan
saat melakukannya maka bertambah besar pula pahalanya.
Hukum ini berlaku pada sunnat-sunnat shalat yang lainnya, seperti:

0- mengangkat tangan ketika takbiratul ihram.

1- Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri pada dada, atau di atas

pusar atau di bawahnya.

2- Doa istiftah sebelum membaca Al-Fatihah.

3- Baca taawudz.

4- Baca Amin.

5- Membaca surat Al-Qur`an setelah membaca surat Al-Fatihah, pada

rakaat kedua pertama dari shalat, dengan dinyaringkan pada shalat

Subuh, Maghrib dan Isya, serta dipelankan pada shalat Zuhur dan

Ashar.

6- Takbir saat pindah dari satu rukun kepada rukun berikutnya.

7- Tasbih dan dzikir saat ruku, setelah bangkit dari ruku, ketika sujud,

dan duduk di antara dua sujud.

8- Sujud tilawah, jika membaca ayat sajdah.

Hal ini, berlaku juga pada shalat sunnat muakkad, yaitu shalat sunnat

yang selalu dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam secara terus-

menerus, yang mengiringi shalat-shalat fardhu, yaitu:

9- Dua rakaat sebelum Subuh.

10- Dua rakaat atau empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat atau

empat rakaat sesudahnya.

11- Dua rakaat sesudah Maghrib.

12- Dua Rakaat sesudah Isya.

13- Adzan dan mengulang-mengulangnya dua kali, serta iqamah.

Juga berlaku pada shalat sunnat ghair al-muakkadah, yaitu shalat

sunnat yang dilakukan Rasulullah, tapi kadang-kadang beliau

meninggalkannya, yang mengiringi shalat-shalat fardhu, seperti:

14- Doa dan dzikir yang beraneka ragam setelah shalat.

15- Dua rakaat atau empat rakaat sebelum shalat Ashar.

16- Dua rakaat sebelum Maghrib.


17- Dua rakaat sebelum Isya.

Juga berlaku pada shalat sunnat yang tidak terikat dengan shalat

fardhu, seperti:

18- Shalat Dhuha.

19- Shalat malam atau shalat tahajjud.

20- Shalat Witir.

21- Dan pada umumnya, ketika membaca Al-Qur`an.

7. Menjama antara Dua Shalat

A. Dibolehkan bagi orang sakit, yang mendapatkan kesulitan untuk

melakukan semua shalat fardhu sesuai waktunya, untuk menjamanya, yaitu

mengumpulkan antara dua shalat, baik jama taqdim maupun jama takhir.

Yaitu, antara shalat Zuhur dan Ashar, atau antara Maghrib dan Isya. Ia boleh

mengerjakan shalat yang kedua bersama shalat yang pertama pada waktu

shalat yang pertama. Atau sebaliknya, yaitu melakukan shalat yang pertama

bersama shalat yang kedua pada waktu shalat yang kedua. Demikian itu

dibolehkan untuk menghindarkan kesulitan darinya. Yang pasti, tidak ada

keterangan dari sunnah yang mensyariatkan jama antara shalat Subuh dan

Zuhur, atau antara Ashar dan Maghrib.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam menjama antara dua Zuhur dan Ashar, Maghrib

dan Isya di Madinah tidak dalam keadaan takut dan hujan.51

B. Memilih antara jama taqdim atau jama takhir adalah dibolehkan,

disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dialami oleh orang yang sakit.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri pernah melakukannya saat

beliau sedang melakukan perjalanan. Tentunya hal itu juga boleh dilakukan

terlebih pada saat sedang sakit.

Dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Adalah Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika dalam perang Tabuk, apabila melihat

matahari telah tergelincir sebelum berangkat, beliau menjama antara

Zhuhur dan Ashar. Apabila beliau berangkat sebelum matahari tergelincir,

51 Diriwayatkan oleh Muslim.


beliau mengakhirkan Zhuhur hingga masuk waktu Ashar. Shalat maghrib pun

demikian. Apabila matahari terbenam sebelum berangkat, beliau menjama

antara Maghrib dan Isya. Dan apabila beliau berangkat sebelum matahari

terbenam beliau mengakhirkan Maghrib hingga masuk waktu Isya, kemudian

beliau turun dan menjama antara keduanya.52

C. Dalam menjama antara dua shalat, tidak disyaratkan untuk

melakukannya secara berturut-turut, karena dengan adanya syarat seperti

itu sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah mendatangkan

kesulitan dan menghilangkan makna rukshah (keringanan). Oleh karena itu,

dibolehkan bagi orang sakit untuk mengerjakan shalat Zuhur, kemudian

beristirahat sejenak, misalnya untuk meminum obat atau yang lainnya

kemudian setelah itu baru mengerjakan shalat Ashar.

D. Tidak disyarakatkan niat jama pada awal shalat yang pertama.

Demikianlah menurut pendapat jumhur ulama. Imam Ibnu Taimiyah berkata,

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat Zuhur di Arafah, dan

beliau tidak memberitahukan kepada mereka bahwa beliau hendak shalat

Ashar sesudahnya. Kemudian beliau mengerjakan shalat Ashar dan mereka

tidak meniatkan jama.

Menurut para ulama dari madzhab SyafiI, disyaratkan niat jama di

tengah-tengah shalat yang pertama, bukan sebelum atau sesudahnya,

sebagaimana dalam melaksanakanya, disyaratkan untuk dilakukan secara

berturut-turut (al-muwaalaat).

E. Shalat jama karena keadaan darurat. Adanya hukum yang

membolehkannya, dapat dimanfaatkan oleh para dokter yang sedang

melakukan pengobatan atau oleh para perawat atau selain keduanya,

misalnya dokter yang tengah melakukan operasi/bedah, yang mengira bisa

menyelesaikannya dengan segera. Ternyata waktunya mulur hingga masuk

waktu shalat berikutnya, dan yang semisalnya.

52 Diriwayatkan oleh Alt-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini hasan.


Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu

Alaihi wa Sallam menjama antara shalat Zuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya

di Madinah tidak dalam keadaan takut dan hujan.

Ibnu Abbas ditanya, Apa yang diinginkan Rasulullah dalam hal ini? Dia

menjawab, Beliau menginginkan untuk tidak mempersulit umatnya.53

Maksudnya, Rasulullah pernah menjama antara dua shalat tanpa

alasan, baik karena sakit atau udzur yang lain. Hal itu dilakukannya untuk

menunjukkan kebolehan jama bagi umatnya dalam keadaan darurat.

Sebagaimana diketahui, keadaan darurat dalam pandangan Islam

membolehkan sesuatu yang asalnya tidak boleh. Akan tetapi meski demikian,

tidak dibenarkan untuk membiasakan menjama shalat. Karena hal itu hanya

dibolehkan ketika ada sebab yang benar-benar penting.

8. Mengqadha Shalat Yang Tertinggal

Orang yang menderita suatu penyakit, kadang-kadang jatuh pingsan,

misalnya penderita diabetes dan penyakit jantung, atau hilang ingatan ketika

tertimpa sesuatu, atau disebabkan pengaruh obat bius, baik untuk

kepentingan operasi atau untuk meredakan rasa sakit dan bentuk-bentuk

lainnya yang termasuk hilangnya kesadaran.

Orang yang pingsan tersebut, menurut sebagian ulama, tidak

diwajibkan untuk mengqadha shalatnya jika kesadarannya hilang dan

berlangsung lama sejak awal waktu shalat hingga berakhir waktunya. Orang

yang demikian, telah gugur kewajiban dirinya untuk mengerjakan shalat,

karena hilangnya akal, yang merupakan sebab dari adanya taklif.

Jika ia sadar sebelum waktu shalat berlalu, diwajibkan


baginya untuk mengerjakan shalat.
Menurut ulama yang lain, kewajiban shalat tidak bisa digugurkan sama

sekali. Karena itu, ketika udzurnya hilang, dia wajib mengqadha shalat-

shalatnya yang tertinggal, dan mengerjakannya sesuai kemampuan.

Shalatnya sah dan mendapat pahala, serta dianggap sebagai shalat yang

dilakukan pada waktunya dan bukan sebagai shalat qadha. Untuk itu ia tidak

53 Diriwayatkan oleh Muslim.


berdosa, bahkan mendapatkan pahala seperti pahala yang didapatkan oleh

orang yang sehat, karena udzur yang menghalanginya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang orang

yang tertidur hingga lewat waktu shalat, beliau menjawab, Sesungguhnya

bukan termasuk kelalaian karena tertidur. Kelalaian adalah ketika waktu

bangun. Jika salah seorang di antara kamu lupa shalat atau tertidur,

hendaknya dia melakukannya kapan dia ingat.54

Demikianlah dan orang yang mendapatkan satu rakaat shalat sebelum

keluar waktunya, maka dia dianggap telah mengerjakan shalat sesuai

waktunya, bukan qadha.

Urutan dalam mengqadha shalat yang tertinggal.

Menurut sebagian ulama, wajib hukumnya untuk mengerjakan shalat

qadha secara berurutan. Yaitu, Subuh sebelum Zuhur dan Zuhur sebelum

Ashar. Shalat yang tertinggal didahulukan sebelum shalat yang dikerjakan

pada waktunya. Demikianlah yang harus dikerjakan. Jika tidak, maka berdosa

dan shalatnya tidak batal. (Ada yang berpendapat shalatnya batal). Demikian

itu, jika jumlahnya lima waktu shalat atau kurang karena mudah baginya

untuk mengurutkannya. Sedangkan apabila lebih dari lima waktu shalat,

maka tidak ada dosa jika tidak berurutan, guna menghindarkan kesulitan.

Dalam keadaan bagaimanapun diwajibkan bagi orang yang

mengakhirkan shalat dari waktunya tanpa ada alasan yang jelas untuk

bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, serta memperbanyak shalat

sunnat, dengan harapan Allah akan mengampuninya.

Menurut ulama yang lain, hukumnya sunnat. Artinya, orang yang

melakukan qadha atas shalat fardhunya secara berurutan akan mendapatkan

pahala. Kalaupun tidak, dia tidak berdosa.

Adanya perbedaan pendapat di antara para ulama, yaitu pendapat

yang menyatakan wajib dan sunnat, muncul akibat adanya perbedaan

pemahaman mereka mengenai perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam pada perang Ahzab, dimana orang-orang musyrik menyibukkan

54 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini shahih.


Rasulullah pada peperangan tersebut, hingga beliau tidak sempat melakukan

empat waktu shalat, dan malam pun berlalu sesuai dengan yang dikehendaki

Allah. Lalu, beliau menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan,

kemudian membaca iqamah. Lantas beliau melaksanakan shalat Zhuhur. Lalu

setelah iqamah, beliau melaksanakan shalat Ashar. Setelah iqamah, beliau

mengerjakan shalat Maghrib, lalu iqamah lagi dan beliau menunaikan shalat

Isya.55

Ulama yang berpendapat wajib berurutan, berargumentasi bahwa jika

tertib (berurutan) tidak wajib, tentu Rasulullah akan melakukan shalat sesuai

waktunya terlebih dahulu, yakni shalat Isya, kemudian mengqadha yang

tertinggal.

Dalam mengqadha shalat, shalat sirriyah (yang dipelankan bacaannya)

dilakukan dengan cara yang sama. Begitu juga shalat jahriyah (yang

keraskan bacaannya) dengan cara dikeraskan bacaannya. Ada yang

berpendapat, bahwa jika shalat qadha dilakukan di malam hari, hendaknya

dikeraskan bacaannya, walau asalnya merupakan shalat sirriyah. Sedangkan

jika dilakukan di siang hari, maka dilakukan secara pelan walau pada asalnya

merupakan shalat jahriyah.

Shalat yang tertinggal ini, wajib diqadha sekalipun pada waktu yang

dibenci atau masuk dalam waktu yang di dalamnya dimakruhkan shalat. Yaitu

sekitar sepertiga jam sesudah terbit matahari, sebelum Zuhur dan sebelum

terbenam matahari, sesudah shalat Subuh hingga matahari meninggi,

setelah shalat Ashar hingga terbenam matahari, karena ia merupakan shalat

yang memiliki sebab-sebab khusus.

Barangsiapa yang tidak mengetahui jumlah shalat yang telah

ditinggalkannya, maka wajib baginya untuk mengqadha hingga berdasarkan

perkiraannya dia telah menyelesaikan semua kewajiban.

Bagi orang yang meninggalkan shalat fardhu secara sengaja, menurut

jumhur ulama, wajib baginya untuk mengqadha shalat yang tertinggal,

55 Diriwayatkan oleh Ahmad.


berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Sesungguhnya

hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.56

Ulama lain berpendapat, orang tersebut tidak akan mampu


mengqadhanya, karena telah meremehkan apa yang menjadi
kewajibannya di masa lalu. Jika dia bertaubat dan kembali memulai
shalat, hendaknya memperbanyak untuk melakukan kebaikan-kebaikan
dan memperbanyak shalat sunnat, serta meminta ampunan kepada
Allah atau beristighfar, dengan harapan Allah akan mengampuninya.
Dari keterangan yang lalu jelaslah bahwa tidak ada alasan sama sekali

yang membolehkan seseorang untuk meninggalkan shalat, sekalipun ia

hanya bisa mengerjakannya dengan cara membayangkannya di dalam hati.

Hal itu tidaklah terjadi, melainkan karena tingginya kedudukan shalat. Shalat

adalah pembeda antara seorang muslim dengan seorang kafir. Ia adalah

penghubung yang paling dasar antara seorang hamba dengan Rabbnya.

Barangsiapa yang meninggalkannya, berarti telah memutuskan atau

melemahkan hubungannya dengan sumber kekuatan, hidayah dan

bimbingannya.

Perlu diketahui, bahwa shalat di awal waktu, pahalanya lebih besar bagi

orang yang tidak memiliki halangan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

pernah ditanya tentang amal apa yang paling utama. Beliau bersabda,

Shalat pada waktunya.57

Kemudian pahala shalat berkurang nilainya secara bertahap, dengan

mengakhirkannya tanpa halangan. Kemudian menjadi dosa jika telah masuk

waktu shalat berikutnya. Adapun bagi orang yang mempunyai halangan yang

secara syari diakui, maka ia boleh mengerjakannya kapan pun dia mampu.

Terdapat beberapa pendapat ulama mengenai orang yang


meninggalkan shalat. Secara ringkas, akan kami sampaikan sebagai
berikut:
a. Barangsiapa yang meninggalkannya karena mengingkari

kewajibannya, maka dia kafir berdasarkan ijma (kesepakatan) seluruh

kaum muslimin, karena dia telah mengingkari salah satu prinsip dari

prinsip-prinsip agama Islam yang harus diketahuinya.

b. Barangsiapa yang meninggalkannya karena malas, terdapat dua

pendapat di antara para ulama:

56 Diriwayatkan oleh Ashab as-Sunan.


57 Diriwayatkan oleh Al-Hakim.
22- Sebagian mengatakan, orang yang meninggalkannya kafir dan

wajib dibunuh, berdasarkan Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam yang telah mengkafirkannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam bersabda, Yang membedakan seseorang (muslim) dengan

kekafiran adalah meninggalkan shalat.58

Tentang kewajiban untuk membunuhnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi

wa Sallam bersabda, Tali Islam dan pondasi agama ada tiga yang di atasnya

didirikan Islam. Barangsiapa yang meninggalkan salah satunya, maka dia

kafir dan halal darahnya: Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, shalat

fardhu dan puasa Ramadhan.59

23- Ulama lain berpendapat, orang yang meninggalkannya dianggap

fasik dan diminta untuk bertaubat. Atau ia termasuk telah melakukan

kemaksiatan yang besar, sehingga layak mendapatkan azab, tetapi

tidak dikafirkan, dan tidak kekal di dalam neraka. Kepada orang

seperti ini harus dijelaskan kejahatannya, lalu diberi tempo beberapa

waktu agar ia bertaubat dan melaksanakan shalat kembali.

Jika tidak mau bertaubat, maka menurut sebagian ulama,


dibunuh sebagai had yang wajib ditegakkan, berdasarkan hadits-
hadits yang telah disebutkan terdahulu yang mewajibkan
pembunuhannya. Atau dijatuhi hukuman mati sebagai balasan karena
meninggalkan shalat, sebagaimana dijatuhkannya hukum mati kepada
orang yang membunuh suatu jiwa tanpa alasan yang dibenarkan.
Apabila had telah dilaksanakan, orang itu dianggap mati dalam
keadaan Islam bukan dalam keadaan kafir. Karenanya, tidak kekal
di dalam neraka. Dan jenazahnya harus dimandikan, dikafani,
dishalatkan dan dikuburkan di pekuburan kaum muslimin, karena dia
meninggalkan shalat dengan alasan malas, bukan karena mengingkari
kewajibannya.
Menurut Madzhab Hanafi, orang tersebut tidak boleh dibunuh,
akan tetapi diberi hukuman tazir, yaitu dihukum dengan hukuman
yang setimpal yang ditentukan oleh penguasa atau orang yang
memiliki tanggung jawab untuk menghukumnya. Lalu dikurung hingga
ia mau melakukan shalat. Dalil mereka adalah firman Allah
Subhanahu wa Taala, Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa
yang lain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (An-
Nisa': 116).
c. Yang meninggalkannya karena ada halangan, seperti lupa, tertidur,

sakit atau yang lainnya, maka dalam hal ini, orang yang

mengalaminya, diwajibkan untuk mengqadha shalat yang tertinggal

58 Diriwayatkan oleh Muslim.


59 Diriwayatkan oleh Abu Yala dengan sanad yang hasan.
(lihat no. 7 mengenai shalat jama antara dua shalat dan no. 8 hal

mengenai mengqadha shalat yang tertinggal).

9. Lupa Dalam Shalat

Seringkali orang sakit terlupa dalam shalatnya karena


ingatannya yang lemah, atau karena sakit, sibuk atau berada di
bawah pengaruh obat atau yang semisalnya.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Sesungguhnya
aku adalah manusia seperti kalian, suka lupa sebagaimana kalian
lupa. Jika salah seorang di antara kalian lupa maka sujudlah dua
kali sujud.60 Berdasarkan hadits ini, orang yang lupa dalam
shalatnya diwajibkan melakukan sujud sahwi.
Hukum sujud sahwi:
Ada yang mengatakan sunnat, ada juga yang mengatakan wajib.
Jumlah dan waktunya:
Menurut sebagian ulama, dua kali sujud sebelum salam.
Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu, berkata, Saya mendengar
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Jika salah
seorang di antara kamu ragu dalam shalatnya, hingga dia tidak
tahu, apakah baru shalat satu rakaat atau dua rakaat, maka
tetapkanlah satu rakaat. Jika dia tidak tahu apakah sudah shalat
dua rakaat atau tiga rakaat, maka tetapkanlah dua rakaat. Dan
jika dia tidak tahu apakah sudah shalat tiga rakaat atau empat
rakaat, maka tetapkanlah tiga rakaat, kemudian hendaknya dia
sujud setelah shalatnya selesai ketika masih duduk sebelum
memberi salam, yaitu sujud sahwi sebanyak dua kali.61
Menurut yang lain, jumlahnya dua sujud, dilakukan setelah
salam, berdasarkan hadits Dzulyadain yang berkata kepada nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau lupa dan shalat dua
rakaat, bukan empat. Dzulyadain berkata, Wahai Rasulullah,
apakah engkau lupa ataukah engkau mengqashar shalat? Rasulullah
menjawab, Aku tidak lupa dan aku juga tidak mengqashar. Lalu
beliau berkata lagi, Atau seperti yang dikatakan Dzulyadain.
Para sahabat berkata, Ya. Lantas beliau pun bangkit, lalu
shalat sebanyak rakaat yang tersisa, kemudian salam. Kemudian
beliau takbir, lantas sujud sebagaimana layaknya sujud . . . 62
Namun, terkadang beliau juga mengucapkan salam setelah dua sujud,
seperti dalam riwayat Ibnu Buhainah Radhiyallahu Anhu, yang
menceritakan bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
shalat, kemudian beliau berdiri pada rakaat kedua, maka para
sahabat pun mengucapkan tasbih, tapi Rasulullah terus saja
melanjutkan shalatnya. Ketika selesai dari shalatnya beliau sujud
dua kali, kemudian salam.63
Beberapa keadaan yang mengharuskan sujud sahwi dan tata
caranya:
Ketika kelebihan rukun atau jumlah rakat shalat
Misalnya, orang yang menambah berdiri, atau ruku, atau
sujud atau menambah lebih dari satu rukun dalam shalat, atau
bahkan menambah rakaat. Jika terjadi demikian, maka hendaknya
dia melakukan sujud sahwi.
Dari Abdullah bin Masud Radhiyallahu Anhu, dia berkata,
Pada suatu ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat
Zhuhur lima rakat, lalu ditanya, Apakah rakaat shalat ini
memang ditambah? Beliau menjawab, Mengapa demikian? Mereka

60 Diwayatkan oleh Muslim.


61 Diwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini shahih.
62 Diwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
63 Diwayatkan oleh Jamaah.
menjawab, Anda shalat lima rakaat. Maka beliau pun sujud dua
kali.64
Bagi orang yang shalat empat rakaat secara munfarid
(sendirian), lalu dia yakin bahwa dia berdiri untuk rakaat yang
kelima, maka hendaknya ia tidak melanjutkannya, tetapi duduk
kembali untuk tasyahud akhir, karena ia merupakan fardhu yang
mewajibkan ia untuk kembali. Jika tidak, maka shalatnya batal,
karena dia shalat lima rakaat, bukan empat rakaat. Kemudian
setelahnya, sujud sahwi dua kali sujud.
Bagi orang yang berkata-kata diluar bacaan shalat karena
lupa, seperti orang yang berbicara sedikit karena lupa, maka dia
juga diharuskan untuk melakukan sujud sahwi.
Ketika meninggalkan rukun shalat karena lupa
24- Apabila di tengah-tengah shalat ragu, apakah dia telah
mengerjakan rukun tersebut atau belum?
Dalam keadaan seperti ini, hendaknya ia menetapkan yang
paling sedikit, karena itulah yang yakin telah dikerjakan. Orang
yang ragu apakah sudah melakukan dua kali sujud atau baru satu
kali? Maka sujudnya baru dihitung satu kali, karena dia yakin
telah mengerjakannya, sebagaimana yang terdapat dalam hadits
Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu yang telah disebutkan di
atas. Lantas, ia sujud yang kedua, kemudian menyempurnakan
shalatnya dan melakukan sujud sahwi.
Demikian juga bagi yang ragu, apakah dia sudah shalat dua
rakaat atau tiga rakaat? Jika demikian, ia dipandang baru
melakukan shalat dua rakaat saja, dan hendaknya menjadikan itu
sandarannya, lalu ia mengerjakan dua rakaat yang tersisa,
kemudian sujud sahwi.
Adapun orang yang ragu ketika telah selesai shalat dan sudah
keluar dari shalat, maka tidak ada kewajiban apa-apa atasnya, dan
shalatnya tetap sah. Hal itu, untuk menutup pintu was-was dari
setan yang ingin membuat keraguan pada diri manusia dalam
keataatan mereka, sekalipun telah selesai melakukannya.
Bagi yang senantiasa ragu dan was-was, maka menurut ulama
Hanafi, dia tidak diperintahkan untuk menetapkan berdasarkan apa
yang diyakininya, tapi cukup berdasarkan praduganya saja. Hal itu
untuk menghindarkan was-was dari setan dan kesulitan darinya.
Bagi yang yakin ketika shalat, bahwa dia meninggalkan satu
rukun, seperti meninggalkan ruku, atau sujud pada rakaat yang
pertama, maka:
25- Jika ia teringat dengan rukun tersebut sebelum melakukan
rukun yang sama pada rakaat yang kedua, maka hendaknya
ia kembali dan melakukan sebagaimana yang semestinya,
dengan mengabaikan apa yang telah dilakukan, lalu
menyempurnakan shalat kemudian sujud sahwi.
26- Jika ia teringat setelah melakukan rukun yang sama pada
rakaat yang kedua, maka rukun tersebut (ruku dan sujud
pada rakaat yang kedua) menggantikan yang pertama (ruku
dan sujud pada rakaat yang pertama). Untuk itu, ia
mengabaikan rakaat yang pertama, lalu menyempurnakan
shalat dengan menghitung rakaat yang kedua sebagai
rakaat yang pertama, kemudian sujud sahwi.
27- Jika tidak ingat apa yang terlupa pada rakaat pertama
kecuali pada rakaat ketiga atau keempat, maka jadikanlah
rakaat yang kedua sebagai rakaat pertama, rakaat
ketiga sebagai rakaat kedua, dan rakaat keempat sebagai
rakaat ketiga, kemudian lakukan rakaat yang keempat,
lalu sujud sahwi.

Adapun jika ia tidak yakin telah meninggalkan salah satu


rukun kecuali setelah selesai shalat, maka:

64 Diwayatkan oleh Jamaah.


28- Jika jarak antara salam dan waktu teringat, kurang dari
waktu satu rakaat, maka hendaknya ia melakukan rukun
yang ditinggalkan, contohnya, ruku, sujud atau yang
lainnya, kemudian menyempurnakan hingga tasyahhud,
kemudian sujud sahwi, lalu salam. Dalam keadaan seperti
ini, sedikit berbicara tidak merusak shalat. Demikian
juga membelakangi kiblat selama waktunya masih pendek dan
tidak lebih dari satu rakaat shalat, sebagaimana yang
terjadi pada hadits Dzulyadain yang telah disebutkan.
29- Jika waktu antara salam dan waktu teringat lebih dari
waktu satu rakaat, maka shalatnya batal, karena dia
telah melakukan shalat yang kurang, dan wajib mengulangi
lagi shalatnya.
10. Meninggalkan Shalat Jumat dan Shalat Dua Hari Raya

Orang sakit yang mendapatkan kesulitan yang luar biasa untuk

menghadiri shalat Jumat, atau mendapatkan mudharat seperti, merasakan

rasa sakit yang sangat atau penyakitnya bertambah parah, atau orang yang

tiba-tiba menderita sakit yang menghalanginya untuk menghadiri shalat

Jumat, seperti orang yang menderita mencret yang tak terkendali atau yang

semisalnya, maka tidak diwajibkan baginya untuk menghadiri shalat Jumat.

Ia hanya diharuskan untuk menggantikannya dengan shalat Zhuhur empat

rakaat, saat dia mampu melakukannya dan sesuai dengan kemampuannya.

Jika terpaksa harus menjamanya dengan Ashar, maka boleh melakukannya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Jumat itu wajib atas

setiap Muslim dengan berjamaah, kecuali empat golongan, yaitu hamba

sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.65

Hukum ini berlaku juga bagi yang merawat orang yang sakit, jika ia

sangat membutuhkannya.

Bagi yang mampu melakukan sunnat-sunnat Jumat, baik seluruh

maupun sebagiannya, maka ia diberi pahala jika melakukannya, dan tidak

berdosa jika tidak melakukannya. Jika telah berniat melakukannya, kemudian

terhalangi oleh kelemahannya, maka tidak berdosa sama sekali, bahkan

diberi pahala seakan-akan dia melaksanakannya, karena alasan yang

menyebabkannya tidak jadi mengerjakannya berasal dari luar keinginannya.

Jika mendapat sebagian kesulitan yang mampu ditanggung ketika

mengerjakannya, lalu dia mengerjakannya, maka bertambah pahalanya,

65 Sanadnya shahih berdasarkan apa yang disyaratkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
selama tidak sampai kepada tingkat membahayakan bagi dirinya. Karena jika

demikian, lalu dia memaksakan diri untuk tetap mengerjakannya, ia berdosa.

Di antara sunnat-sunnat Jumat adalah: mandi, berhias, memakai

parfum, siwak (sikat gigi), membaca surat Al-Kahfi, bershalawat kepada Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan memperbanyak doa, karena di hari Jumat

tersebut terdapat saat dikabulkannya doa.

Adapun shalat dua hari raya, hukumnya adalah sunnat muakkad,

dimana orang yang melakukannya akan diberi pahala dan yang

meninggalkannya, meski tidak berdosa, namun terhalang untuk

mendapatkan pahala besar. Hal itu berlaku bagi orang sehat dan orang sakit.

Jika ia meninggalkannya karena takut bahaya, maka tidak ada dosa baginya,

bahkan diberi pahala seperti orang yang menghadirinya jika dia telah berniat

untuk menghadirinya, sekiranya tidak terhalang oleh penyakit yang

dideritanya.

Demikian juga dalam sunnat-sunnat hari raya, seperti takbir, mandi,

berhias, memakai parfum, siwak, hiburan yang mubah dan menyembelih

binatang kurban.

11. Meninggalkan Shalat Jamaah


Shalat berjamaah adalah sunnat muakkad yang ditetapkan oleh

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dimana orang yang melakukannya,

akan mendapatkan pahala dan orang yang meninggalkannya, meski tidak

berdosa, namun ia terhalang untuk mendapatkan pahala besar, karena

pahala shalat berjamaah ini adalah sebanyak dua puluh tujuh kali lipat

pahala orang yang shalat sendirian (munfarid). Ada juga ulama yang

mengatakan bahwa shalat berjamaah, hukumnya fardhu kifayah. Apabila

dikerjakan oleh sebagai orang, maka gugurlah dosa sebagian lain yang tidak

mengerjakannya. Dan jika sama sekali tidak ada orang yang

mengerjakannya, maka semuanya berdosa. Bahkan ada yang berpendat,

bahwa hukumnya fardhu ain atas semua kali-laki, dimana setiap orang yang

meninggalkannya, berdosa.
Pahala shalat berjamaah akan didapatkan, baik dilakukan di rumah

maupun di masjid, meski pahala shalat berjamaah di masjid, tentunya lebih

besar, karena setiap langkahnya dituliskan sabagai kebaikan dan dengannya

dihapuskan satu dosa. Disamping terdapat pahala yang lain, semisal, pahala

saling mengenal, persahabatan dan bekerjasama di antara kaum muslimin,

pahala mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan manfaat-manfaat lain

yang termasuk faidah-faidah masjid.

Bagi orang sakit yang mendapatkan mudharat yang tidak sanggup

ditanggungnya, sehingga tidak bisa turut serta dalam shalat berjamaah,

atau mendapat bahaya seperti bertambahnya rasa sakit atau penyakitnya

bertambah parah, maka tidak disunnatkan baginya untuk shalat berjamaah.

Dia boleh mengerjakan shalat dengan cara yang mampu dilakukannya, dan

baginya pahala seperti pahala yang melakukan shalat berjamaah insya

Allah, jika dia terbiasa shalat berjamaah sebelum sakit karena kondisi ini

di luar keinginannya.

Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Kami keluar bersama

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam sebuah perjalanan. Lalu, kami

ditimpa hujan. Beliau bersabda, Siapa yang mau di antara kalian, maka

shalatlah di atas kendaraannya.66

Halangan hujan ini diqiyaskan atasnya, halangan-halangan


yang lain, seperti sakit, dingin, angin ribut, takut dari musuh
dan lain-lain, guna menghilangkan kesulitan.
Jika orang yang sakit tersebut mampu shalat berjamaah, maka
dibolehkan baginya hal-hal berikut (maksudnya, tidak berdosa jika
dia melakukan hal-hal berikut):
30- Shalat sambil duduk di belakang imam yang berdiri. Dari
Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan shalat saat
sakit yang membawa kepada kematiannya sambil duduk di
belakang Abu Bakar.67
31- Shalat sebagai imam sambil duduk, dan makmum berdiri.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, Rasulullah
shalat pada saat sakit yang membawa kepada kematiannya
sambil duduk, dan orang-orang yang di belakangnya shalat
sambil berdiri.68
32- Shalat sebagai imam dengan tayamum, sedang makmum
berwudhu. Amru bin al-Ash Radhiyallahu Anhu pernah
shalat sebagai imam dengan bertayamum pada perang Dzatu
as-Salasil, di mana pada saat itu, tidak bisa mandi

66 Diwayatkan oleh Muslim


67 Diwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiyallahu Anha
68 Diwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiyallahu Anha.
karena cuaca sangat dingin.69 Ditambah, dia sendiri tidak
dapat memanaskan air. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam yang mengetahui hal itu pun diam dan
membolehkannya.
33- Shalat sebagai imam dalam keadaan terus menerus
berhadats, sementara makmum adalah orang-orang sehat.
Akan tetapi hal ini hukumnya makruh, atau diberi pahala
orang yang meninggalkannya dan tidak berdosa orang yang
melakukannya. Demikian menurut para ulama madzhab Maliki.
Mereka berpendapat bahwa orang yang sah shalatnya untuk
dirinya sendiri, sah juga untuk yang lainnya.
Tetapi menurut jumhur ulama tidak dibolehkan orang yang
terus menerus hadats, atau orang yang menderita sakit salasul
baul atau terus menerus buang air kecil atau air besar atau yang
semisalnya, untuk menjadi imam bagi makmum yang sehat. Dia hanya
dibolehkan untuk menjadi imam dalam shalat bagi makmum yang sakit
sepertinya.
34- Dibolehkan memisahkan diri dari jamaah, lalu
menyempurnakan shalat sendirian, jika dia mendapatkan
kesulitan di luar batas kemampuannya atau mendapatkan
mudharat seperti, bertambah rasa sakit, atau semakin
parah penyakitnya, atau jika imam memanjangkan bacaannya
yang membuatnya tidak mampu bertahan, atau yang
semisalnya. Dia akan mendapatkan pahala berjamaah secara
sempurna insya Allah, karena kondisi tersebut di luar
keinginannya.
Muadz bin Jabal pernah mengerjakan shalat Isya bersama Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian pulang ke kaumnya dan mengimami

mereka. Lalu, pada suatu hari, , Nabi mengakhirkan shalat Isyanya, Muadz

pun shalat bersamanya, kemudian pulang ke kampungnya dan membaca

surat Al-Baqarah. Maka seorang laki-laki memisahkan diri dari jamaah lalu

shalat sendirian. Muadz berkata, Engkau telah bersikap munafik wahai

Fulan.

Orang itu menjawab, Aku tidak munafik. Muadz berkata, Baiklah, aku

akan datang kepada Rasulullah dan mengabarkannya. Muadz pun

mendatangi Nabi dan menceritakan peristiwa itu. Nabi bersabda, Apakah

kamu pembuat fitnah wahai Muadz, apakah kamu pembuat fitnah wahai

Muadz. Bacalah surat ini dan ini.70 Beliau mengisyaratkan untuk membaca

surat Wa asy-Syamsi wa Dhuhaha, Sabihisma Rabbikal Ala dan Wa al-laili

idza Yaghsya.

Dengan dalih bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak

memberikan teguran kepada orang yang memisahkan diri dari jamaah,

69 Diwayatkan oleh Abu Dawud.


70 Diriwayatkan oleh Jamaah.
karena mudharat yang didapatkannya, maka hal ini merupakan dalil atas

dibolehkannya memisahkan diri dari imam.

Selanjutnya, bagi orang sakit, diwajibkan baginya untuk mengulangi

lagi shalatnya jika dia batal dan dia shalat sebagai imam, seperti karena

wudhunya batal, atau ingat bahwa dia shalat tanpa wudhu atau dalam

keadaan junub, atau meninggalkan ruku, atau sujud atau tidak

mengerjakannya dan hal-hal lain yang menyebabkan batalnya shalat imam.

Adapun makmum, jika mengetahui shalat imamnya batal, setelah


selesai shalat, maka tidak ada dosa baginya. Shalatnya sah dan
tidak harus diulang.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Mereka shalat bersama

kalian. Jika mereka benar, maka pahalanya bagi kalian dan bagi mereka. Dan

jika mereka salah, maka pahala bagi kalian dan dosa bagi mereka.71

Terdapat sebuah hadits shahih yang menceritakan bahwa Umar


bin Khattab Radhiyallahu Anhu, pernah mengimami orang-orang dalam
keadaan junub, dan dia tidak mengetahuinya. Setelah tersadar, dia
mengulang shalatnya, sementara para shahabat tidak mengulangi
shalatnya.
Apabila makmum mengetahui bahwa imamnya batal di tengah-tengah

shalat, maka hendaknya ia menyempurnakan shalatnya, baik sendirian

maupun dengan imam lain yang menggantikan imam yang batal shalatnya.

Dalam ilmu fikih hal ini disebut al-Istikhlaf.

12. Yang Tidak Membatalkan Shalat Orang Sakit . . . dan Yang


Membatalkannya
1. Gerakan, menggaruk kulit dan yang semisalnya:

Melakukan gerakan yang banyak dan berturut-turut membatalkan


shalat orang sehat yang tidak sakit, karena hal itu menghilangkan
kekhusyuan yang merupakan tujuan penting dari shalat. Adapun
gerakan yang sedikit dan tidak berturut-turut, seperti mencegah
orang yang lewat di depan tempat shalat, membetulkan pakaian,
mengeluarkan sapu tangan untuk meludah, membawa anak kecil dan
meletakkannya, bergerak dengan langkah yang kecil atau dua
langkah, sedikit menolehkan wajah karena keperluan, memberikan
isyarat untuk memberikan pemahaman seperti isyarat untuk menjawab
salam, atau dengan menganggukkan kepala untuk menjawab ya atau
tidak, membawa mushaf untuk membaca dalam shalat sunnat (Dalam
shalat fardhu, jika dia seorang hafizh atau penghafal al-Quran,
maka shalatnya tidak batal, karena hal itu tidak termasuk gerakan
yang banyak karena dia memang hafal. Tetapi jika dia tidak hafal
Al-Qur`an, maka menurut sebagian ulama, shalatnya batal, karena
banyaknya gerakan dalam shalat bagi orang yang bukan hafizh
membatalkan shalat. Ada juga yang berpendapat, bahwa hal itu
tidak membatalkan shalat, jika gerakannya sedikit) dan yang
semisalnya, semuanya tidak membatalkan shalat.

71 Diwayatkan oleh Al-Bukhari.


Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah memutarkan Ibnu Abbas dari

sebelah kiri ke sebelah kanan, ketika dia ikut shalat bersama nabi dan berdiri

di samping kirinya. Rasulullah juga memerintahkan untuk mencegah orang

yang lewat di depan tempat shalat, membunuh binatang berbahaya seperti

serangga atau yang lainnya ketika shalat.72

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri pernah shalat dan beliau

menoleh kepada penduduk. Beliau telah mengutus seorang tentara untuk

menjaganya di malam hari.73

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga pernah memberi isyarat ketika

sedang mengerjakan shalat.74

Adapun bagi orang sakit, maka tidak batal shalatnya, karena gerakan

yang mendesak, sekalipun banyak seperti menggaruk kulit, membetulkan

pakaian, mengusap keringat, mengusap darah dan lain-lain. Atau bergerak

untuk menghilangkan rasa sakit, membetulkan selang pemeriksaan, dan

yang semisalnya karena kondisi darurat. Dan dalam Islam, keadaan darurat

membolehkan sesuatu yang asalnya tidak boleh.

2. Batuk, bersin, menangis, rintihan sakit, berdehem dan yang


semisalnya.
Semuanya tidak membatalkan shalat orang sakit karena
termasuk keadaan darurat. Sama halnya, tidak membatalkan shalat
orang sehat karena hal itu sulit untuk dihindari, dan karenya ia
dimaafkan. Adapun jika banyak dan mengganggu kekhusyuan shalat
maka bisa membatalkan shalat.
Adapun tertawa, jika tidak bisa ditahan dan hanya sedikit, tidak

membatalkan shalat, karenanya ia dimaafkan jika ada sesuatu yang

memaksanya untuk tertawa. Sedangkan jika banyak Sekalipun karena dia

terpaksa maka shalatnya batal karena menghilangkan kekhusyuan. Ukuran

banyak dan sedikit adalah adat kebiasaan atau yang disepakati orang-orang

sebagai sedikit atau banyak.

Adapun ucapan yang dikatakan karena lupa, maka tidak membatalkan

shalat karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Dihapus dosa dari

72 Diwayatkan oleh Al-Bukhari.


73 Diwayatkan oleh Abu Dawud.
74 Diwayatkan oleh Abu Dawud.
umatku atas perbuatan yang dilakukan secara tersalah, lupa dan dipaksakan

atasnya.75

Sedangkan jika perkataannya banyak, maka shalatnya batal. Zaid bin

Arqam Radhiyallahu Anhu berkata, Kami berkata-kata di dalam shalat. Salah

seorang dari kami bercerita kepada teman yang ada di sampingnya ketika

sedang shalat, sehingga turun ayat, Peliharalah segala shalat(mu), dan

(peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan

khusyu', (Al-Baqarah: 238), maka kami diperintahkan untuk diam dan

dilarang bercakap-cakap.76

Perkataan orang yang tidak tahu, atau tidak tahu bahwa shalat bisa

batal kata berkata-kata, maka shalatnya tidak batal jika hanya sedikit,

sedangkan jika perkataannya banyak maka shalatnya batal. Nabi Shallallahu

Alaihi wa Sallam bersabda kepada Muawiyah bin Al-Hakam, yang

mendoakan orang bersin ketika shalat, Sesungguhnya Shalat ini tidak layak

dimasuki perkataan manusia. Yang boleh hanyalah tasbih, takbir dan bacaan

Al-Qur`an.77 Karena ketidaktahuan Muawiyah, Rasulullah Shallallahu Alaihi

wa Sallam tidak menyuruhnya untuk mengulang lagi shalatnya. Ukuran

sedikit dan banyak dapat diketahui berdasarkan adat kebiasaan yang berlaku

di antara manusia.

Perkataan untuk kemaslahatan shalat, seperti orang yang berkata

kepada imam yang lupa bahwa ia sedang melaksanakan shalat Asyar, ini

shalat Ashar, atau berkata, anda sedang mengerjakan rakaat kelima, jika

dia lupa tasyahhud akhir, ketika imam tetap tidak menyadari kekeliruannya,

meskipun telah diucapkan kalimat tasbih. Perkataan seperti ini tidak

membatalkan shalat selama perkataannya sedikit. Apabila banyak, maka

shalatnya batal. Ukuran sedikit dan banyak diketahui berdasarkan kebiasaan

yang berlaku di kalangan manusia.

3. Sisa-sisa makanan di dalam mulut:


1. Barangsiapa yang makan atau minum dengan sengaja:

75 Diwayatkan oleh Ath-Thabrani.


76 Diwayatkan oleh Jamaah.
77 Diriwayatkan oleh Muslim.
- Dalam shalat fardhu: shalatnya batal, berdasarkan kesepakatan

ulama, baik makan atau mimun sedikit maupun banyak, dan wajib atasnya

untuk mengulangi shalatnya.

- Dalam shalat sunnat: menurut jumhur ulama, shalatnya batal. Ada

yang berpendapat bahwa jika makan atau minumnya sedikit, atau oleh

orang-orang shaleh dianggap sebagai sisa makanan dan bukan makanan

atau minuman, maka shalatnya tidak batal, karena dia bukan makan atau

minum yang merusak kekhusyuan yang diperintahkan.

Jika makan dan minumnya banyak, maka hal itu membatalkan shalat,

karena ia merupakan gerakan yang banyak yang berturut-turut yang

membatalkan shalat. Disamping itu, makan dan minum yang banyak

menghilangkan tujuan shalat, yaitu kekhusyuan hati, pembaharuan keimanan

dan hubungan dengan Allah Taala.

2. Barangsiapa yang makan atau minum karena lupa atau tidak


tahu:
- Jika sedikit, maka tidak membatalkan shalat.

- Jika banyak, maka membatalkan shalat, karena ia merupakan gerakan

yang banyak yang membatalkan shalat.

4. Selang yang dimasukkan ke dalam urat nadi atau yang


semisalnya,
Jika selang tersebut dimasukkan, sekalipun untuk memberikan
makanan, ia tidak membatalkan shalat, karena hal itu merupakan
kondisi darurat, dimana dalam Islam, keadaan darurat membolehkan
sesuatu yang asalnya tidak boleh. Disamping hal itu juga tidak
menghilangkan makna khusyu seperti yang terjadi pada makan dan
minum yang sesungguhnya.
5. Menahan buang air kecil dan buang air besar, meninggalkan
makanan yang telah dihidangkan dan rasa kantuk yang berat.
Semuanya tidak membatalkan shalat, baik shalat orang sakit maupun

orang sehat. Apabila seseorang mengerjakan shalat sambil menahan

keinginan untuk buang air kecil, atau buang air besar, atau menahan kentut,

atau keinginan untuk makan, atau merasakan kantuk yang berat, maka

shalatnya sah. Akan tetapi hal itu hukumnya makruh, yang berarti bahwa

orang yang meninggalkannya akan diberi pahala, dan yang mengerjakannya

tidak berdosa dan tidak batal shalatnya. Adapun kenapa dimakruhkan, maka

alasannya karena hal itu bisa menyibukkannya orang yang mengerjakan

shalat dari menghayati makna bacaan yang dibacanya dalam shalat, seperti
bacaan ruku, sujud atau makna doa yang dimintanya, atau membuatnya

lupa untuk mengambil pelajaran dari shalat, yang dapat dimanfaatkan dalam

realita kehidupannya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Janganlah salah seorang

di antara kamu shalat saat makanan dihidangkan, dan jangan sambil

menahan dua kotoran (buang air kecil dan buang air besar).78

6. Shalat dengan memakai sandal, bakiak, dan sepatu.


Hal ini sering dilakukan oleh orang sakit atau orang sehat.
Secara hukum, hal itu tidak mengapa, dan tidak membatalkan
shalat, selama sandalnya suci atau kalaupun terkena najis, namun
telah digosok-gosokkan ke tanah yang kering.
Jika terkena najis seperti terkena darah atau benda-benda najis lainnya,

sementara orang sakit tersebut tidak mampu mensucikannya atau

melepaskannya, maka ia dibolehkan untuk shalat dengan memakainya.

==0==

PUASA ORANG SAKIT

Kapan Orang Sakit Boleh Berbuka?


Orang sakit dibolehkan tidak berpuasa dan berbuka pada bulan

Ramadhan, atau puasa fardhu lainnya, seperti puasa yang merupakan sangsi

atas sumpah yang diucapkan (kafarat al-yamin), puasa yang merupakan

sangsi karena membunuh tidak sengaja (kafarat al-qatl), puasa nadzar yang

diwajibkan seseorang atas dirinya, dengan syarat orang sakit tersebut

mendapatkan kesulitan di luar kemampuannya, atau khawatir bertambah

rasa sakit dan penyakitnya, atau takut akan menderita penyakit lain ketika

kondisi fisiknya belum pulih benar, antara sehat dan sakit, dan bentuk-

bentuk lain dari kemudharatan.

Semua itu diketahui berdasarkan rekomendasi dari seorang dokter

muslim yang mahir dan terpercaya, atau berdasarkan pengalaman pribadi.

78 Diwayatkan oleh Muslim.


Orang sakit yang berpuasa dalam keadaan di atas, hukumnya makruh.

Artinya, ia akan diberi pahala jika berbuka dan kalaupun berpuasa, tidak

berdosa.

Apabila puasanya dalam kondisi-kondisi seperti di atas dapat

mengakibatkan kebinasaan atau menghantarkan kepada kematian, maka

haram baginya untuk berpuasa. Bahkan ia wajib makan, walaupun tidak

mendapatkan makanan kecuali yang diharamkan seperti daging babi atau

mimun arak, sebatas yang dapat menyelamatkan hidupnya saja.

Yang Tidak Membatalkan Puasa Orang Sakit . . . dan Yang


Membatalkannya
Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, Sesungguhnya berbuka itu

dengan apa yang masuk bukan dengan apa yang keluar. Berdasarkan ini,

memasukkan sesuatu ke dalam rongga mulut (al-jauf) secara sengaja, baik

berupa makanan yang dimasak, seperti berbagai jenis makanan atau

minuman yang ada atau yang tidak dimasak, seperti obat, selang atau

kamera, dapat membatalkan puasa.

Para ulama sendiri, berbeda pendapat dalam mendefinisikan kata al-

jauf. Sebagian mereka berpendapat bahwa kata al-jauf berarti anggota badan

bagian dalam yang berfungsi untuk mencerna makanan, tempat dimana

makanan dan minuman menetap, yang mana kita dilarang untuk

mengkonsumsinya di siang hari saat berpuasa. Alat pencernaan ini dimulai

dari tenggorokan hingga lubang anus.

Sebagian yang lain, memasukkan saluran kencing dan vagina sebagai

bagian dari jauf. Namun sebagaian yang lain lagi, berpendapat bahwa

keduanya bukan bagian dari al-jauf.

Adapun lubang hidung, telinga, mulut dan rongga mata semuanya

bukan termasuk bagian dari al-jauff. Semua lubang tersebut bisa menjadi

pintu masuk ke al-jauf, tapi bukan merupakan bagian darinya.

Bagi orang yang sakit, ia diberikan hak untuk mengambil


pendapat yang mana saja yang diinginkannya, sesuai dengan
situasi, kondisi dan berbagai kemungkinan yang dirasa cocok bagi
masing-masing, yang membuat hatinya tenang. Karena semuanya
merupakan pendapat ulama yang terpercaya, yang telah menghabiskan
umur mereka untuk memahami hukum-hukum Islam dan mengajarkannya
kepada umat. Pendapat mereka tidak ada yang keluar dari bingkai-
bingkai syariat yang umum diketahui. Mereka semua adalah tokoh-
tokoh yang diakui keilmuan, ketakwaan dan kewaraannya, oleh
seluruh umat.
1. Anal fissure, obat yang dimasukkan lewat anus, suntikan lewat

anus dan yang sejenisnya.

Semuanya membatalkan puasa, karena masuk ke dalam jauf. Begitu

juga jika dimasukkan melalui lubang lain, selain mulut atau anus. Seperti

orang sakit yang diangkat duburnya atau sebagian usus besarnya, lalu

sisanya disambungkan melalui lubang yang dibuat di bagian perutnya.

Apabila kita memasukkan sesuatu melalui lubang tersebut, maka ia akan

sampai ke jauf, dan karenanya membatalkan puasa.

Menurut Imam Malik, suntikan lewat anus atau yang semisalnya, dapat

membatalkan puasa, apabila ia menyentuh dan masuk ke bagian lambung

atau usus. Karena tempat-tempat inilah yang diketahui sebagai tempat

terjadinya proses pencernaan, penyerapan sari-sari makanan dan

pengirimannya ke bagian tubuh yang lain, dimana tubuh akan menjadi kuat,

apabila makanan sampai ke padanya. Sebaliknya, jika tidak tidak sampai,

maka suntikan tersebut tidak membatalkan puasa.

2. Jari dokter yang dimasukkan anus, saat melakukan

pemeriksaan.

a. Jika dimasukkan secara sempurna, maka membatalkan puasa

karena sampai ke alat pencernaan (al-jauf).

b. Jika dimasukkan sebagiannya saja dan tidak sampai masuk ke alat

pencernaan, maka tidak membatalkan puasa, karena dalam kondisi

seperti itu jari hanya sampai di depan gerbangnya, yaitu otot

lubang anus.

3. Selang yang dimasukkan ke vagina, atau obat yang dimasukkan

ke vagina dan yang sejenisnya.

Semuanya membatalkan puasa karena masuk ke dalam alat

pencernaan. Menurut madzhab Hambali semuanya tidak membatalkan

puasa, karena menurut mereka vagina bukan bagian dari alat pencernaan.

4. Jari dokter yang dimasukkan ke dalam vagina


Hal itu membatalkan puasa karena vagina termasuk ke dalam bagian

alat pencernaan. Adapun menurut madzhab Hambali, tidak membatalkan

puasa, karena vagina bukan bagian dari alat pencernaan.

5. Selang yang dimasukkan melalui saluran kencing, klep saluran

kencing dan yang sejenisnya.

Menurut sebagian ulama, semuanya membatalkan puasa karena masuk

ke dalam alat pencernaan. Sedangkan menurut ulama Maliki dan Hanafi,

tidak membatalkan puasa karena saluran kencing menurut mereka bukan

bagian dari alat pencernaan.

6. Selang yang dimasukkan ke saluran paru-paru, lambung, usus

dan selang untuk memberi makan orang sakit dan yang

sejenisnya.

Semuanya membatalkan puasa karena masuk ke dalam alat

pencernaan.

7. Selang yang dimasukkan ke empedu

Jika dimasukkan melalui usus, membatalkan puasa karena melewati

saluran pencernaan kemudian masuk ke dalam empedu. Namun jika

dimasukkan langsung melalui kulit perut, maka ia tidak membatalkan puasa

karena tidak masuk ke dalam saluran pencernaan, tidak melewatinya dan

tidak ada kaitan dengannya.

8. Selang untuk memeriksa dada

Tidak membatalkan puasa karena dimasukkan lewat hidung, lalu masuk

ke rongga paru-paru tanpa melewati saluran pencernaan.

9. Selang tenggorokan, telinga, kelopak mata, lutut dan yang

sejenisnya yang tidak dimasukkan melalui alat pencernaan.

Semuanya tidak membatalkan puasa, karena tidak ada kaitannya

dengan saluran pencernaan.

10. Pemeriksaan nadi, suntikkan lewat nadi, otot dan bawah kulit

atau yang sejenisnya


Semuanya tidak membatalkan puasa sekalipun bertujuan untuk

memberi makanan karena tidak masuk melewati saluran pencernaan.

Sebagian ulama, ada juga yang berpendapat membatalkan puasa.

11. Berbekam, darah luka, bisul, nanah dan yang sejenisnya

Semuanya tidak membatalkan puasa baik sedikit ataupun banyak. Anas

Radhiyallahu Anhu ditanya, Apakah kalian (para sahabat) dimakruhkan

untuk berbekam, ketika sedang berpuasa di masa Rasulullah Shallallahu

Alaihi wa Sallam? dia menjawab, Tidak, kecuali karena menyebabkan

kelemahan.79

Bekam (al-hijamah) artinya mengambil darah dari bagian kepala,

sedangkan al-fashdu artinya mengambil darah dari bagian tubuh. Tindakan

ini dimakruhkan untuk dilakukan pada siang hari di bulan Ramadhan.

Karenanya, orang yang meninggalkannya mendapat pahala dan yang

melakukannya tidak berdosa, dengan syarat tidak mengakibatkan kelemahan

badannya saat ia berpuasa.

12. Obat tetes mata, celak, salep mata, tetes telinga dan yang

sejenisnya

Semuanya tidak membatalkan puasa karena tidak masuk saluran

pencernaan.

Diceritakan bahwa Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu tetap memakai

celak, ketika beliau sedang berpuasa.80

Hal itu berlaku, sekalipun orang yang melakukan dapat mengecap

rasanya pada mulut. Karena yang dikecapya, merupakan sesuatu yang

sangat sedikit dari tetesan obat yang digunakan. Disamping, hal itu dilakukan

oleh ujung lidah, bukan dengan menelannya hingga masuk ke dalam saluran

pencernaan.

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berpendapat bahwa mencicipi

makanan hukumnya boleh jika dibutuhkan. Misalnya, perempuan yang

mencicipi masakannya dan pembeli yang mencicipi makanan yang dibelinya.

Untuk maksud tersebut, mencicipi sedikit makanan atau sesuatu yang

79 Diwayatkan oleh Al-Bukhari.


80 Diwayatkan oleh Abu Dawud.
hendak dibeli, boleh dilakukan. Apabila demikian, maka mencicipi rasa obat

pun tentul diperbolehkan, karenanya kebutuhan kepadanya lebih besar.

13. Tetes hidung, obat semprot atau yang disumpalkan, darah yang

keluar dari hidung (mimisan) dan yang sejenisnya

Semuanya tidak membatalkan puasa. Akan tetapi bagi orang sakit

hendaknya berhati-hati untuk menggunakannya di siang hari Ramadhan,

karena ia bisa sampai ke saluran pencernaan dengan mudah dan cepat.

Yang bisa membantu agar tidak sampai ke saluran pencernaan, orang

sakit tersebut hendaknya menundukkan kepalanya ke depan menghadap

bawah setelah meneteskan obat tetes tersebut, aatau ketika darah keluar

dari hidungnya.

Jika orang sakit tersebut dapat merasakan rasa darah yang mengenai

mulutnya, maka hal itu tidak membatalkan puasa. Yang pasti dia tidak boleh

secara sengaja menelannya. Karena jika demikian, maka puasanya batal.

Lalu, ia harus berusaha untuk menghilangkannya dengan cara meludah.

Apabila setelah itu, masih merasakan rasanya di kerongkongan, maka hal

tersebut tidak membahayakannya (tidak membatalkan puasanya).

Apabila tetesan darah sampai ke saluran pencernaannya secara tidak

terus-menerus, dan bukan karena dihirup serta dilakukan secara tidak

sengaja, maka hal itu, tidak membatalkan puasa. Guna menghindarkan

kesulitan, ditambah kondisi tersebut merupakan kondisi darurat. Keadaan ini,

sama dengan orang yang sedang berkumur-kumur dan menghirup air ke

hidung saat berwudhu dengan cara yang tidak berlebihan, lalu airnya masuk

ke dalam saluran pencernaan tanpa disengaja. Sebagaimana pendapat para

ulama, orang yang mengalami demikian, puasanya tidak batal.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Apabila kamu menghirup

air ke hidung, maka hiruplah kuat-kuat kecuali dalam keadaan shaum.81

Adapun orang yang berlebihan dalam meneteskan obat tetes dan


melampaui batas yang dibutuhkan, lalu sampai ke saluran
pencernaan, walaupun tanpa disengaja, maka puasanya batal, karena
sikapnya yang melewati batas.
Adapun yang paling utama, hendaknya orang-orang meninggalkan
hal-hal tersebut di atas ketika sedang berpuasa, selama dengan

81 Diwayatkan oleh para penulis kitab as-Sunan.


meninggalkannya tidak menimbulkan bahaya bagi orang sakit,
berdasarkan petunjuk dokter muslim atau pengalaman pribadinya.
14. Obat semprot pelega pernapasan.

Sebagian ulama berpendat penggunaan obat tersebut tidak

membatalkan puasa, karena obat tersebut hanya masuk ke dalam rongga

pernafasan, bukan ke dalam saluran pencernaan. Kalaupun cipratannya

sampai ke dalam saluran pencernaan, maka ia tidak membatalkan puasa

karena keadaan darurat.

Sebagian ulama yang lain berpendapat, bahwa penggunaan obat


tersebut membatalkan puasa. Apabila orang sakit membutuhkannya,
lalu ia menggunakannya, maka ia dianggap telah membatalkan
puasanya untuk hari itu dan karenanya, harus mengqadha ketika
sudah sembuh. Jika sakitnya menahun seperti sakit yang harapannya
kecil untuk disembuhkan, maka dia boleh berbuka, dan sebagai
gantinya, ia harus memberi makan orang miskin sejumlah hari yang
ditinggalkkannya.
15. Pingsan, hilang ingatan, mabuk, terkena serangan jantung atau

ginjal dan yang sejenisnya serta tidur sepangjang siang hari.

Apabila orang sakit, tidur sepanjang hari dari mulai fajar hingga

maghrib, maka puasanya tidak batal, karena akalnya masih tetap eksis, dan

karenanya masih dibebani kewajiban untuk beribadah. Orang sakit tersebut,

tidak seperti orang gila yang digugurkan kewajiban darinya karena

kehilangan akal. Perumpamaannya adalah seperti orang tidur yang bisa

bangun dalam saat-saat tertentu.

Adapun orang yang pingsan sepanjang siang, maka puasanya batal dan

dia wajib mengulangi lagi puasanya, karena dia kehilangan syarat yang

mensahkan ibadahnya, disebabkan kehilangan akal. Namun apabila ia sadar,

walaupun sebentar, di siang hari, maka puasanya tidak batal.

Bagi orang yang terkena penyakit gila, maka, jika kegilaannya

berlangsung sepanjang siang dan dia tidak secara sengaja melakukan hal-hal

yang melampaui batas seperti meminum arak atau narkoba, maka puasanya

batal. Dan tidak berkewajiban untuk mengqadhanya. Jika gilanya karena

tindakan yang melampaui batas, maka puasanya batal. Adapun mengenai

qadha, sebagian ulama mengatakan wajib qadha atasnya. Sedangkan

sebagian yang lain, mengatakan tidak wajib.


Apabila ia sadar pada sebagian siang, maka puasanya batal, karena ia

telah kehilangan akal, dan ia diwajibkan untuk mengqadha.

Menurut ulama Hanafi, apabila gilanya berlangsung selama bulan

Ramadhan, maka ia tidak diwajibkan untuk mengqadha. Adapun jika

berlangsung pada sebagian Ramadhan, maka dia wajib mengqadha puasa

yang ditinggalkannya.

16. Bius total, semi total dan lokal.

Bius total pada dasarnya, tidak membatalkan puasa, karena selang bius

masuk ke dalam rongga pernapasan dan bukan ke saluran pencernaan.

Tetapi saat terbius, biasanya kelenjar kerongkongan berkumpul di mulut lalu

masuk ke dalam saluran pencernaan. Karenanya, bius total membatalkan

puasa dan hari saat orang sakit itu dibius, wajib diqadha setelah dia sadar

dan sembuh kembali.

Bius semi tidak membatalkan puasa, karena tidak sampai ke saluran

pencernaan, sebab suntikan obat masuk lewat melalui tulang punggung

hingga masuk ke sumsum tulang belakang.

Bius lokal (termasuk obat-obatan, salep, dan pembersih buatan) dan

yang sejenisnya, semuanya tidak membatalkan puasa karena tidak sampai

ke saluran pencernaan, karena obat bius hanya dioleskan pada kulit atau

luka. Sekalipun obat meresap ke dalam aliran darah, maka ia seperti obat

yang disuntikkan ke dalam urat nadi yang tidak membatalkan puasa. (Lihat

no. 10).

17. Darah yang keluar dari mulut dan gusi, obat kumur, pengobatan

gigi, menyimpan sesuatu dalam mulut, berkumur-kumur dan

gosok gigi:

Menelan ludah seperti yang diketahui, tidak membatalkan puasa. Hal

itu guna menghindarkan kesulitan. Apabila ludah bercampur dengan darah

atau obat, lalu orang yang sakit bisa mengecap rasanya, maka ia harus

meludahkannya. Jika ia menelannya dengan sengaja, maka puasanya batal.


Adapun jika darah masuk ke dalam saluran pencernaan, tanpa

disengaja, padahal ia sudah berhati-hati untuk mencegahnya, maka

puasanya tidak batal. Hal itu guna menghindarkan kesulitan. (Lihat no. 13)

Mengenai pengobatan gigi ketika sedang berpuasa, hukumnya makruh,

dimana orang yang meninggalkannya akan mendapat pahala dan yang

melakukannya tidak berdosa. Tapi, yang lebih aman, hendaknya orang sakit

tersebut menangguhkan pengobatannya hingga puasanya selesai pada hari

itu, kecuali jika dalam keadaan darurat, seperti merasakan sakit yang luar

biasa, atau sakit pada mulut, gusi dan lain-lain. Pada kondisi tersebut, hukum

pengobatan menjadi wajib. Artinya, ia akan mendapat pahala jika berobat

dan berdosa jika menangguhkannya. Namun, hendaknya ia berhati-hati, agar

tidak ada yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Jika sudah berusaha

tapi masih tetap ada yang masuk, maka tidak membatalkan puasa. Tapi jika

sengaja menelannya pada saat itu, puasanya batal.

Bius yang diletakkan pada gusi tidak membatalkan puasa seperti

suntikan yang dimasukkan ke otot yang tidak masuk ke saluran pencernaan.

Demikian juga cipratan bius tidak membatalkan puasa karena tidak masuk ke

dalam saluran pencernaan. Kalau ternyata ada juga yang masuk sekalipun

sudah hati-hati, misalnya karena tertelan secara tidak sengaja dan tidak

berlebihan, maka hal itu tidak membatalkan puasanya. Hal itu, demi

menghindarkan diri dari kesulitan karena termasuk dalam kondisi darurat.

Meletakkan sesuatu pada mulut dan berkumur-kumur seperti

meletakkan kapas atau selang dan semisalnya, semuanya tidak

membatalkan puasa selama tidak masuk ke dalam saluran pencernaan dan

selama sesuatu yang dikumur-kumurkan tidak mencair dan tidak

mengeluarkan sesuatu. Sehingga yang tertelan hanyalah ludah. Dan ludah

sebagaimana diketahui tidak membatalkan puasa. Akan tetapi melakukan hal

tersebut diatas, hukumnya makruh. Artinya, orang yang meninggalkannya

akan mendapatkan pahala dan apabila dikerjakan tidak berdosa, jika

dilakukan bukan dlam keadaan darurat. Karena, jika dalam keadaan terpaksa,

tidak dimakruhkan bahkan diwajibkan melakukannya, ketika penyakitnya


bertambah parah atau rasa sakitnya semakin terasa. Demikian juga

dimakruhkan jika sesuatu yang dikumur-kumurkan dimungkinkan mencair.

Karena kalau mencair, lalu tertelan baik sengaja maupun tidak, atau masuk

ke dalam saluran pencernaan meskipun tanpa disadari maka puasanya batal,

karena dia telah melampaui batas dan melakukan sesuatu yang tidak

mendesak.

Adapun jika melakukannya karena terpaksa dan telah berusaha untuk

mencegahnya, maka jika ada yang masuk ke dalam saluran pencernaan

tanpa disadari, puasanya tidak batal, karena terjadi di luar kendali dan di luar

keinginannya.

Menggosok gigi dengan sikat gigi atau siwak, boleh dilakukan, bahkan

disunnatkan, dimana pelakunya diberi pahala dan yang meninggalkannya

tidak berdosa, dengan tetap waspada agar tidak menelan sisa-sisa makanan.

Dari Amir bin Rabiah, dia bercerita bahwa dirinya melihat Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam sering bersiwak berkali-kali dan tidak terhitung

jumlahnya, ketika beliau sedang berpuasa.82

18. Dahak, lendir dan yang sejenisnya.

Dahak adalah kelenjar yang keluar dari tenggorokan atau dada.

Sedangkan lendir adalah kelenjar yang keluar dari pangkal hidung. Keduanya

tidak membatalkan puasa jika tertelan masuk ke dalam saluran pencernaan

tanpa disengaja atau menelannya karena lupa. Jika menelannya dengan

sengaja, menurut sebagian ulama, membatalkan puasa, seperti orang yang

menelan makanan atau minuman dengan sengaja. Tapi, ada juga yang

berpendapat tidak membatalkan, karena merupakan sesuatu yang sulit

dihindarkan. Dan pada umumnya, kebanyakan orang sulit menghindarkan

diri darinya.

19. Muntah dan makanan yang keluar dari perut.

Barangsiapa yang terdesak untuk mengeluarkan muntah atau

mengeluarkan makanan dari perutnya, berupa cairan atau yang lainnya,

maka hal tersebut tidak membatalkan puasa karena di luar keinginannya.

82 Diwayatkan oleh At-Tirmidzi.


Adapun jika sengaja mengeluarkan muntah, maka puasanya batal. Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Barangsiapa yang terdesak oleh

muntah maka dia tidak wajib mengqadha. Akan tetapi apabila sengaja

mengeluarkannya, maka ia wajib mengqadha.83

Jika ada sesuatu yang keluar dari perut, lalu masuk kemali ke dalam

saluran pencernaan dan tertelan dengan tidak sengaja, maka puasanya tidak

batal. Adapun jika disengaja, maka puasanya batal.

20. Cairan yang keluar dari dada, hati, perut, sumsum, lutut dan

yang lainnya.

Semuanya tidak membatalkan puasa, karena tidak sampai ke


dalam saluran pencernaan.

21. Sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi:

- Jika sedikit dan larut bersama ludah, lalu tertelan, sekalipun sengaja,

maka tidak membatalkan puasa, berdasarkan ijma ulama, karena ia

menjadi seperti ludah.

- Jika sedikit (lebih kecil daripada biji kacang), lalu ditelan dengan

sengaja dan berupa sesuatu yang tidak larut dengan ludah, maka

menurut Ulama Hanafi juga tidak membatalkan puasa, karena tidak

terhitung sebagai makanan.

- Jika banyak (lebih besar daripada biji kacang), lalu ditelan dengan

sengaja, maka puasanya batal.

- Jika melenannya karena lupa, maka hal itu tidak membatalkan puasa,

baik sisa makanan itu sedikit maupun banyak. Karena Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Barangsiapa yang lupa

padahal dia berpuasa lalu dia makan atau minum, maka hendaknya

dia menyempurnakan puasanya, karena Allah-lah yang memberi

makan dan minum kepadanya.84

Hal ini juga berlaku bagi orang yang lupa, lalu makan atau
minum hingga kenyang, dan tidak terbata, pada sisa makanan yang
menempel di gigi saja.

83 Diwayatkan oleh Al-Hakim dan menurutnya hadits ini shahih.


84 Diwayatkan oleh Jamah.
22. Bersetubuh, onani, mimpi, mengeluarkan madzi, keluar carian

kewanitaan, mencium istri dan mencumbuinya di siang hari di

bulan Ramadhan.

a. Bersetubuh:

Orang sakit yang menyetubuhi istrinya karena dia telah mendapatkan

rukshah untuk berpuasa di siang hari Ramadhan, atau dia menyetubuhinya

karena dia mendapatkan keringanan untuk berbuka karena alsan sakit, maka

tidak ada kewajiban baginya selain mengqadha puasa di hari tersebut, atau

hari-hari dia berbuka. Karena orang yang mendapatkan rukhshah dibolehkan

melakukan semua yang membatalkan puasa, termasuk bersetubuh.

Orang sehat yang menyetubuhi istrinya saat berpuasa, puasanya batal,

meski sekadar memasukkan ujung kemaluannya ke dalam kemaluan istrinya,

baik mengeluarkan mani maupun tidak. Dia wajib mengqadha hari itu,

ditambah membayar kafarat, jika melakukannya saat berpuasa di bulan

Ramadhan. Selanjutnya, ia wajib menahan diri dari hal-hal yang

membatalkan pada sisa hari tersebut, sebagai penghormatan terhadap

kesucian bulan ramadhan. Kafarat diwajibkan kepada laki-laki dan

perempuan karena keduanya melakukannya dengan sengaja. Demikianlah

pendapat jumhur ulama.

Jika sang istri dipaksa oleh suaminya, atau dia sedang tidak berpuasa

karena ada halangan seperti sedang dalam bepergian, maka kafarat hanya

diwajibkan atas sang suami, tidak atas istrinya. Sang istri hanya diwajibkan

mengqadha puasanya. Menurut pendapat lain, kafarat hanya diwajibkan atas

suami, baik sang istri merasa suka atau terpaksa, dan dia hanya diwajibkan

mengqadha puasanya, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam yang menceritakan tentang hukum kafarat, di mana di dalamnya

disebutkan tentang kewajiban kafarat atas si suami, dan bukan atas istrinya.

Adapun jika bersetubuh di siang hari saat berpuasa, yang bukan puasa

Ramadhan, seperti puasa nadzar atau kafarat al-yamin (sumpah yang

dilanggar), atau qadha Ramadhan, maka wajib baginya mengqadha saja,


karena kafarat ditetapkan sebagai akibat dari pelanggarannya yang menodai

kesucian bulan Ramadhan yang agung.

Jika bersetubuh pada saat berpuasa sunnat, seperti puasa Senin

Kamis, maka tidak ada kewajiban mengqadha dan membayar kafarat. Karena

orang yang berpuasa sunnat dibolehkan baginya untuk membatalkan puasa,

baik karena ada halangan maupun tidak ada halangan. Ibadah sunnat adalah

ibadah yang merupakan kerelaan pelakunya. Meskipun qadha tetap

disunnatkan, sebagai pemenuhan niatnya untuk melakukan ibadah sunnat.

Artinya, jika ia mengqadha puasa sunnat yang dibatalkannya, ia akan diberi

pahala. Dan kalaupun tidak, ia tidak berdosa.

Kafarat bagi orang yang membatalkan puasanya karena bersetubuh di

siang hari bulan Ramadhan, menurut jumhur ulama, adalah dengan

memerdekakan hamba sahaya. Jika tidak, maka ia diwajibkan untuk berpuasa

selama dua bulan berturut-turut dengan perhitungan bulan qamariyah. Jika

tidak mampu, maka ia wajib memberi makan enam puluh orang miskin (atau

satu orang miskin sebanyak enam puluh kali), dengan makanan yang biasa

dimakan oleh keluarganya.

Menurut ulama Maliki, dibolehkan memilih di antara ketiga hukuman

tersebut tanpa harus berurutan. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bercerita

bahwa seorang laki-laki berbuka pada siang hari di bulan Ramadhan. Maka

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun memerintahkan laki-laki tersebut

untuk membayar kafarat dengan memerdekakan seorang hamba sahaya,

atau berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan kepada enam

puluh orang miskin.85

Kata atau dalam hadits menunjukkan dibolehkannya memilih di

antara yang tiga bentuk kafarat di atas.

Sebagaimana Ulama Hanafi membolehkan mengeluarkan uang sebagai

ganti makanan, dengan harga yang sebanding.

Bagi orang yang menggauli istrinya, karena lupa atau terpaksa atau

khilaf, ada beberapa pendapat mengenainya:

85 Diwayatkan oleh Muslim.


- Orang yang lupa: Jumhur ulama berpendapat tidak ada apa-apa

atasnya, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Diangkat

(dosa) dari umatku karena kesalahan, lupa dan apa-apa yang dipaksakan

atas mereka.86

Sedangkan, menurut Imam Malik, dia hanya diwajibkan untuk

mengqadhanya saja. Adapun Imam Ahmad, beliau berpendapat, bahwa

orang itu wajib mengqadah, sekaligus membayar kafarat.

- Orang yang khilaf, atau melakukan kesalahan, seperti


mengira belum terbit fajar, atau mengira telah terbenam matahari,
lalu menggauli istrinya, lalu ia sadar dan tahu bahwa dirinya
telah menggauli istrinya setelah terbit fajar atau sebelum
terbenam matahari.
Jumhur ulama berpendapat, orang tersebut tidak wajib membayar

kafarat, tapi wajib melaksanakan qadha.

Menurut dua Imam, yaitu Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hazm,
tidak ada apa-apa baginya selama dia telah berusaha keras untuk
mengetahui kondisi yang sebenarnya. Dalilnya adalah hadits yang
disebutkan di atas. Jika dia tidak berusaha mencari informasi,
maka wajib baginya untuk mengqadha puasanya.
- Orang yang dipaksa: Misalnya, orang yang dipaksa dengan keras,

sehingga berdasarkan praduganya kalau dia tidak menggauli istrinya, dia

akan dibunuh, atau dipotong anggota tubuhnya, atau dirusak

kehormatannya, atau dirampas hartanya, atau disakiti dengan rasa sakit

yang tidak dapat ditanggung, seperti dipukul dengan keras, atau dipenjara,

maka dalam keadaan seperti ini, tidak ada kafarat atasnya. Dia hanya

diwajibkan untuk menqadha saja. Hal ini berlaku bagi laki-laki dan

perempuan dalam semua kondisi yang telah disebutkan.

b. Onani, mimpi basah, keluarnya mani, atau keluarnya cairan

kewanitaan atau kelenjar vagina.

* Onani. Artinya, adalah mengeluarkan mani dengan sengaja, baik


dengan cara mencium istrinya, atau mencumbuinya, (menyentuh
tubuhnya dengan tangannya, atau dengan tubuhnya atau dengan
kemaluannya), atau dengan tangannya sendiri atau dengan tangan
istrinya atau yang yang semisalnya.
Semua perbuatan ini membatalkan puasa, karena dia mirip dengan

bersetubuh, dimana persetubuhan, baik mengeluarkan mani atau tidak

membatalkan puasa. Dengan dasar ini, tentunya mengeluarkan mani dengan

cara onani lebih membatalkan puasa.

86 Diwayatkan oleh Ath-Thabrani.


* Mengeluarkan mani karena sakit, tidak membatalkan puasa. Hal ini

guna menghindarkan kesulitan dari si sakit. Disamping keluarnya mani,

terjadi di luar kemauannya.

* Mengeluarkan mani karena mimpi basah saat tidur, tidak

membatalkan puasa, karena tidak disengaja dan terjadi di luar kemauannya.

* Mengeluarkan mani karena terfikir oleh sesuatu yang

membangkitkan syahwat atau karena melihatnya, tidak membatalkan

puasa, karena orang yang melakukannya tidak bermaksud mengeluarkannya

dengan sengaja. Namun meski demikian, dia tetap berdosa, karena telah

melihat sesuatu yang diharamkan. Adapun jika secara sengaja mengingat-

ingat sesuatu yang membangkitkan syahwat secara terus menerus atau

menatap wanita dalam waktu yang lama, lalu mengeluarkan mani, maka

puasanya batal.

* Keluarnya madzi, yaitu cairan lembut yang keluar sebelum keluarnya

mani saat mengingat sesuatu yang merangsang, menurut ulama madzhab

SyafiI, tidak membatalkan puasa, baik mani yang keluar, disebabkan berpikir

yang merangsang, atau berciuman, atau bercumbu. Karena madzi ini, seperti

air kencing yang tidak mewajibkan mandi dan tidak membatalkan puasa.

Sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, hal itu membatalkan

puasa.

* Mengeluarkan madzi karena sakit tidak membatalkan puasa. Hal itu,

guna menghindarkan kesulitan dari orang sakit. Disamping itu, keluarnya

madzi terjadi di luar kemauannya.

* Keluarnya cairan kewanitaan dan kelenjar vagina: Jika cairan itu

keluar saat syahwat memuncak atau diiringi rasa nikmat, yang ditandai

dengan menyempitnya otot vagina dan rahim, maka hukumnya seperti

hukum laki-laki. Jika keluar hanya karena memikirkan sesuatu yang

merangsang atau melihat, tanpa diiringi dengan penyempitan otot vagina

dan rahim, maka hukumnya seperti hukum madzi pada laki-laki sebagaimana

telah dijelaskan di atas. Jika keluar dengan berlama-lama berpikir tentang

syahwat, maka puasanya batal, karena dia sengaja mengeluarkannya.


Adapun keluarnya kelenjar vagina, yaitu cairan yang keluar secara alami dari

kemaluan wanita, dan bukan berupa madzi yang terjadi ketika berpikir

tentang syahwat, atau mani yang keluar saat memuncaknya syahwat yang

diiringi dengan penyempitan otot vagina dan rahim, maka ia tidak

membatalkan puasa, karena ia sama dengan ludah atau keringat atau yang

lainnya dari kelenjar-kelenjar tubuh.

Jika cairan kewanitaan tersebut keluar karena sakit, maka ia tidak

membatalkan puasa. Hal itu, guna menghilangkan kesulitan dari si sakit.

Disamping, hal itu terjadi di luar kemauannya.

c. Mencium Istri dan Mencumbuinya

Yang dimaksud dengan bercumbu atau al-mubasyarah adalah

seorang suami meraba-raba tubuh istrinya dengan menggunakan tangan

atau bagian tubuhnya yang lain atau dengan kemaluannya atau dengan yang

semisalnya.

Menciumi dan bercumbu dengan istri adalah perkara yang dibolehkan

saat berpuasa, bagi orang yang yakin mampu mengendalikan nafsunya. Dan

dimakruhkan atau diberi pahala yang meninggalkannya dan tidak berdosa

yang melakukannya, bagi orang yang yakin bahwa syahwatnya akan

tergerak karenanya, baik dia pemuda ataupun orang tua. Dan diharamkan

atau berdosa pelakunya dan diberi pahala yang meninggalkannya, bagi

orang yang yakin bahwa ia akan mengeluarkan mani, jika melakukannya.

Setiap orang lebih mengetahui tentang kondisi masing-masing.

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa

Sallam menciumi sebagian istrinya ketika beliau berpuasa. Mencumbui

mereka saat beliau berpuasa. Beliau adalah orang yang paling mampu

mengendalikan syahwatnya di antara kalian.87

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu

Alaihi wa Sallam tentang hukum bercumbu bagi orang yang berpuasa. Lalu,

Nabi memberi keringanan (rukshah) kepadanya (untuk melakukannya). Lalu

datang laki-laki lain dan menanyakan hal yang sama, lalu Nabi melarangnya.

87 Diwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


Ternyata orang yang diberi keringanan adalah orang tua dan yang dilarang

adalah seorang pemuda.88

23. Haid, nifas dan istihadhah.

Haid dan Nifas:

Para ulama bersepakat bahwa jika seorang wanita haid atau melahirkan

di siang hari bulan Ramadhan atau di siang hari ketika dia berpuasa apa saja,

sekalipun hanya sesaat sebelum terbit matahari, maka puasanya batal. Dan

diharamkan baginya untuk menyempurnakan puasa pada hari itu. Atas puasa

yang telah dilakukan pada hari itu, ia akan mendapatkan pahala. Ketika

berbuka, hendaknya ia bersembunyi ketika makan atau minum, khususnya di

bulan Ramadhan, sebagai penghormatan terhadap kesuciannya.

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, Kami mengalami haid di

masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka kami diperintahkan untuk

mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.89

Hukum Nifas, dikiyaskan kepada haid. Nifas adalah keluarnya


darah, cairan dan kelenjar setelah melahirkan, selama beberapa
hari. Waktu terlamanya empat puluh hari. Masa nifas ini, antara
seorang wanita dengan yang lainnya berbeda-beda.
Jika haid atau nifas berhenti sesaat sebelum fajar, maka
wajib bagi si wanita untuk berniat puasa dan dia boleh
mengakhirkan mandi.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, sesungguhnya
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masih dalam keadaan junub
ketika masuk waktu subuh di bulan Ramadhan, karena jima dan
bukan karena mimpi, kemudian beliau berpuasa.90
Dibolehkan memakai obat pencegah haid di bulan Ramadhan.
Syaikh Atiyah Shaqar, pemimpin biro fatwa Al-Azhar dalam
kitabnya Ahsan Al-Kalam fi Al-Fatwa wa Al-Ahkam, menyebutkan,
Tidak ada dalil dari Al-Qur`an dan Sunnah yang
mengharamkannya. Bahkan terdapat riwayat dari salafus shalih yang
menyatakan bahwa mereka membolehkan bagi para wanita di musim
haji untuk mencegah keluarnya darah hingga mereka tidak terhalang
untuk menunaikan ibadah-ibadah yang dalam pelaksanannya menuntut
syarat suci, seperti thawaf di Kabah, shalat di Masjidil Haram
dan Shalat di Masjid Nabawi di Madinah. Kulit pohon arak yang
biasa dijadikan siwak bermanfaat untuk mencegah haid. Mereka
mengabarkan hal itu kepada para wanita dan tidak ada seprangpun
yang membantahnya. Namun, sekalipun hal itu boleh, amun saya
sarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengkonsumsi
obat pencegah haid karena ada kalanya obat tersebut memiliki efek
samping yang berbahaya.
Istihadhah:

88 Diwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang jayyid.


89 Diwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
90 Diwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Yaitu, darah yang keluar dari wanita setelah berakhirnya
masa haid yang biasa dialami. Wanita yang istihadhah hendaknya
melakukan puasa dan puasanya tidak batal. Dia tetap diwajibkan
mengerjakan shalat fardhu dan boleh digauli oleh suaminya. Karena
apabila dia tetap melakukan shalat, tentunya hal lain yang biasa
dilakukannya, hukumnya tetap. Karena, shalat adalah bentuk ibadah
yang paling agung. Demikian itu dikatakan oleh Ibnu Abbas
Radhiyallahu Anhuma.91 Kecuali, jika dia menjadi lemah karena
darah yang keluar secara terus menerus. Dalam keadaan seperti
ini, hukumnya sama dnegan hukum orang sakit, ketika dia
mendapatkan kesulitan yang luar biasa atau mendapatkan madharat
(bahaya), berupa rasa sakit yang hebat atau sakitnya bertambah
parah, berdasarkan rekomendasi dokter muslim yang mahir dan
terpercaya atau berdasarkan pengalaman pribadinya, dimana ia
diperbolehkan untuk berbuka dan berkewajiban untuk mengqadhanya.
24. Wanita hamil dan menyusui, jika mengkhawatirkan keselamatan

diri dan anaknya:

Sebagian ulama berpendapat, bahwa wanita tersebut dibolehkan


berbuka dan mengqadha puasanya seperti orang sakit.
Ada juga yang mengatakan, bahwa dia boleh berbuka, namun

diwajibkan atasnya untuk membayar fidyah tanpa mengqadha puasa,

seakan-akan keduanya orang yang tidak mampu berpuasa karena

kepayahan, seperti kakek-kakek atau nenek-nenek yang sudah renta, atau

orang sakit yang sudah tidak mempunyai harapan untuk sembuh. (Lihat juga

no 25).

Ibnu Abbas berkata kepada ummu walad (hamba sahaya perempuan

yang melahirkan anak dari tuannya) yang hamil, Kamu adalah seperti orang

yang tidak mampu berpuasa, maka kamu harus membayar fidyah dan tidak

ada kewajiban qadha atasmu.92

Jika keduanya khawatir akan keselamatan dirinya saja, maka keduanya

boleh berbuka dan diwajibkan mengqadha saja, seakan-akan keduanya orang

sakit.

Jika keduanya mengkhawatirkan keselamatan anaknya saja, maka

menurut Imam Syafii dan Ahmad, keduanya boleh berbuka dengan

kewajiban untuk mengqadha dan membayar fidyah. Demikian itu karena

yang mendapat manfaat dari buka puasa adalah dua orang, ibu dan anaknya.

Oleh karena itu, dia harus mengqadha untuk dirinya dan membayar fidyah

91 Diwayatkan oleh Al-Bukhari.


92 Menurut ad-Dar Quthni, sanad hadits ini shahih.
untuk anaknya, dengan memberikan makanan kepada orang miskin setiap

hari sebanya satu mud. (Lihat juga no 25).

Adapun menurut Ulama madzhab Hanafi, dalam semua keadaan,

mereka diwajibkan untuk mengqadha puasa saja, sama seperti orang sakit,

karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa fidyah wajib dilakukan

bersama qadha, baik dari ayat Al-Qur`an maupun dari hadits Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam. Untuk menentukan apakah berpuasa berbahaya

atau tidak adalah dengan cara berkonsultasi kepada dokter muslim yang

sudah ahli dan terpercaya atau berdasarkan pengalaman dirinya.

25. Orang sakit yang tidak mempunyai harapan sembuh (seperti

terkena penyakit kanker dan sebagainya), kakek-kakek dan

nenek-nenek yang sudah renta.

Termasuk pekerja berat, misalnya, orang yang berdiri di depan tempat

pembakaran roti, yang tidak bisa mengambil cuti pada bulan Ramadhan atau

di bulan yang lainnya, dimana ia tidak memiliki keluasan rizki dan tidak

memiliki pekerjaan lain selain pekerjaan tersebut.

Mereka semua dibolehkan untuk berbuka dan sebagai gantinya,


diwajibkan membayar fidyah, yaitu dengan memberi makan seorang
miskin setiap hari dengan makanan yang biasa dimakan oleh
keluarganya, bukan makanan yang mewah dan bukan pula makanan yang
buruk. Ukurannya adalah sebanyak satu mud. Satu mud adalah seraup
dua telapak tangan laki-laki dewasa yang pertengahan.
Allah Taala berfirman, Dan wajib bagi orang-orang yang berat

menjalankannya, (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu)

memberi makan seorang miskin. (Al-Baqarah: 184). Maksud Orang-orang

yang berat menjalankannya adalah, orang-orang yang mampu

melaksanakan tetapi disertai kesulitan yang tidak dapat ditanggung. Ibnu

Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, Yaitu kakek-kakek atau nenek-nenek

yang sudah renta dan tidak mampu menunaikan puasa.

Menurut Ulama madzhab Hanafi, dibolehkan membayar fidyah dengan

mengeluarkan uang seharga makanan yang diberikan. Bagi yang tidak

mampu membayar fidyah (karena kemiskinannya atau karena hal lain),

dianggap berhutang dan wajib mengeluarkannya, ketika mampu. Jika tetap


tidak mampu, maka gugurlah kewajiban darinya dan hendaknya dia banyak

bersitghfar kepada Allah Subhanahu wa Taala.

26. Orang yang meninggal dunia dan mempunyai hutang puasa

Jika berbuka karena berhalangan lalu meninggal dan halangannya masih

ada, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya, tidak wajib qadha, juga

tidak wajib fidyah.

Jika halangan atau udzurnya sudah tidak ada, lalu meninggal sebelum

mengqadha puasa, maka menurut Jumhur ulama, wali dari orang tersebut,

hendaknya mengeluarkan fidyah sebagai pengganti puasanya. Yang

dimaksud wali adalah karib kerabatnya, baik ahli waris maupun bukan.

Menurtut mereka, fidyah yang dikeluarkan boleh juga diganti dengan uang.

Dan pada asalnya, fidyah seharusnya dikeluarkan dari harta mayit. Tetapi jika

mayit tidak memiliki harta, maka menjadi kewajiban ahli waris. Jika mereka

suka rela mengeluarkan fidyah, maka mereka diberi pahala, dan gugur

kewajiban berpuasa dari si mayit. Jika mereka menolak maka tidak menjadi

dosa atas mereka dan semoga mayit mendapat rahmat dan ampunan dari

Allah Taala.

Tidak dibolehkan bagi siapa pun berpuasa untuk menggantikan

puasanya, karena puasa adalah seperti shalat yang merupakan ibadah

badaniyah, dimana setiap orang dituntut untuk melaksanakannya secara

sendiri-sendiri dan tidak dibenarkan bagi seseorang untuk mewakili orang

lain, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

Barangsiapa yang meninggal dan dia memiliki hutang puasa satu bulan,

makan hendaknya wali dari orang itu untuk memberikan makan setiap hari

(yang dia berbuka) satu orang miskin.93

Menurut sebagian ulama yang lain, hukumnya sunnat bagi wali mayit

untuk menggantikan puasanya, dimana ia akan diberi pahala jika berpusa,

dan tidak berdosa jika tidak berpuasa, sekalipun yang berpuasa adalah orang

lain (bukan kerabatnya) dengan seijin walinya. Hal itu dibolehkan dan baik

bagi mayit.

93 Diwayatkan oleh At-Tirmidzi.


Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Barangsiapa yang

meninggal dan dia memiliki hutang puasa, maka hendaknya digantikan oleh

walinya.94

27. Orang yang berpuasa sunnat yang menderita sakit atau sebab

Lain dan dia ingin membatalkan puasanya:

Bagi orng tersebut diibolehkan untuk berbuka, baik dengan


alasan maupun tanpa alasan. Hukum ini juga berlaku pada ibadah-
ibadah sunnat lainnya, dimana seseorang dibolehkan untuk tidak
menyempurnakan ibadahnya, kecuali haji dan umrah.
Contoh dari puasa-puasa sunnat, diantaranya: puasa Senin dan Kamis,

puasa tiga hari setiap bulan qamariyah, enam hari di bulan Syawwal, hari

Arafah, sepuluh Muharram, sembilan hari pertama di bulan Dzulhijjah, puasa

pada bulan-bulan haram, memperbanyak puasa di bulan Syaban, puasa satu

hari dan berbuka satu hari (puasa Daud).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Orang yang melakukan

puasa sunnat amir (pemimpin) bagi dirinya. Jika mau, dia dapat terus

berpuasa. Dan jika mau, dia boleh berbuka.95

Tetapi menurut kebanyakan ulama, disunnatkan baginya, yakni


diberi pahala jika melakukannya dan tidak berdosa, jika tidak
mengerjakannya, untuk mengqadha puasa hari tersebut. Dari Abu
Said Al-Khudriy Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Saya membuat
makanan untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu
beliau mendatangiku bersama para sahabatnya. Ketika makanan
diletakkan seorang laki-laki di antara mereka berkata, Saya
sedang puasa. maka Ralulullah bersbda, Saudara kalian
mengundang kalian dan dia telah bersusah payah untuk kalian,
berbukalah dan puasalah satu hari untuk menggantikan puasa hari
ini, jika kamu mau.96
28. Niat puasa wajib dan puasa sunnat

Pada puasa wajib: Jumhur ulama berpendapat bahwa menghadirkan

niat hukumnya wajib, setiap hari, kapan saja antara awal malam atau setelah

terbenam matahari hingga terbit fajar.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Barangsiapa yang

tidak meniatkan puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.97

94 Diwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Al-Bazzar melalui jalur sanad yang hasan, menambahkan, jika mau
95 Diwayatkan oleh Al-Hakim dan menurutnya hadits ini shahih.
96 Diwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan.
97 Diwayatkan oleh para penulis kitab as-Sunan dengan sanad yang shahih.
Menurut Ulama madzhab Maliki, cukup niat satu kali untuk satu bulan

penuh, di awal malam dari bulan Ramadhan. Jika dia melakukannya setiap

malam, maka hal itu adalah sunnat, bukan wajib.

Pada puasa sunnat: Barangsiapa berada di waktu pagi dan dia tidak

berniat untuk berpuasa, dibolehkan baginya untuk menghadirkan niat puasa

di pertengahan siang, selama belum makan apa-apa semenjak terbit fajar.

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, Rasulullah masuk kepadaku pada

suatu hari dan bertanya, Apakah kamu mempunyai sesuatu? kami jawab,

Tidak. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Kalau begitu,

saya berpuasa.98

Barangsiapa berniat untuk berbuka pada puasa wajib atau puasa

sunnat, maka puasanya batal, sekalipun dia tidak memakan apa-apa, karena

niat merupakan salah satu rukun puasa.

Adapun orang yang ragu-ragu (ketika berpuasa) antara berbuka atau

meneruskan puasanya, maka puasanya tidak batal, karena apa yang

ditetapkan berdasarkan keyakinan (menghadirkan niat puasa) tidak bisa

dihilangkan karena sesuatu yang meragukan (keraguan yang muncul atas

niatnya untuk tidak meneruskan puasanya).

29. Orang yang ragu tentang terbit fajar atau terbenam matahari,

lalu dia makan dan minum.

Jika dia tidak berhati-hati atau berusaha mencari tahu, lalu


makan dan minum (atau menggauli istrinya), kemudian ternyata
diketahui bahwa telah terbit fajar atau belum terbenam matahari,
maka puasanya batal karena kelalaiannya.
Adapun jika telah berusaha, kemudian dia tahu bahwa dirinya telah

makan dan minum sesudah terbit fajar atau sebelum waktu Maghrib, maka

menurut Jumhur ulama, puasanya batal. Sedangkan menurut ulama yang

lain, di antaranya Imam Ibnu Taimiyah, puasanya tidak batal karena dia telah

berusaha mencari kebenaran serta tidak sengaja melakukan dosa.

Allah Taala berfirman, Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang

kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh

98 Diwayatkan oleh Muslim.


hatimu.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-

Ahzab: 5)

Dari Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu Anha, dia berkata, Kami

berbuka pada suatu hari di bulan Ramadhan, dalam keadaan mendung di

masa Rasulullah, kemudian matahari terbit.99

Ketika itu, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tidak memerintahkan

para sahabat untuk mengqadha puasanya. Sekiranya Rasulullah

memerintahkannya, niscaya berita itu tersiar, dan akan sampai kepada kita

sebagaimana sampainya riwayat tentang berbukanya mereka.

30. Mandi saat berpuasa:

Tidak membatalkan puasa, asalkan hati-hati untuk tidak menelan air

secara sengaja saat mandi, atau saat berkumur-kumur dan menghirup air ke

dalam hidung. Lihat juga no. 13.

Aisyah Radhiyallahu Anha bercerita bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa

Sallam di waktu subuh dalam keadaan junub, sedang beliau berpuasa,

kemudian mandi.100

Asiyah juga bercerita bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

menyiram kepalanya dengan air sewaktu beliau berpuasa, disebabkan haus

atau kepanasan.101

31. Meletakkan parfum dan mengirup baunya, menghirup asap dan

debu.

Mengenai hukum mencium parfum atau kemenyan dan sebagainya,

Ibnu Taimiyah berkata, tidak apa-apa dilakukan oleh orang yang sedang

berpuasa. Hal itu dikarenakan tidak ada dalil syari yang melarangnya.

Sedangkan hukum asal segala sesuatu adalah boleh selama tidak ada nash

yang tegas dari Al-Qur`an atau hadits yang melarangnya.

Adapun debu jalanan atau asap, demikian juga nyamuk, lalat dan

sejenisnya jika masuk ke dalam saluran pencernaan, semuanya tidak

99 Diwayatkan oleh Al-Bukhari.


100 Diwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
101 Diwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih.
membatalkan puasa, karena masuk secara tidak disengaja dan sulit untuk

dihindarkan.

32. Puasa seorang wanita tanpa ijin suami yang sakit di luar bulan

Ramadhan.

Diharamkan menurut ulama Hanafi dimakruhkan dan tidak haram

untuk berpuasa walaupun hanya satu hari, di luar bulan Ramadhan tanpa

seijin suaminya, baik suaminya dalam keadaan sehat maupun dalam

keadaan sakit. Jika dia memaksakan untuk berpuasa maka puasanya sah,

tapi berdosa. Dia mendapatkan pahala karena puasanya, namun kemudian

menghilangkannya semua atau sebagiannya karena dosa tidak mentaati

suaminya. Demikian itu, karena ketaan kepada suami saat dia sehat, dan

memberikan pelayanan saat dia sakit adalah lebih utama untuk didahulukan

daripada mengerjakan puasa sunnat, kecuali jika dia meminta ijin terlebih

dahulu kepadanya, atau dia mengetahui bahwa suaminya tidak

membencinya atau suaminya sedang tidak ada di rumah (seperti sedang

bepergian atau berada di rumah sakit).

Oleh karena itu, para ulama membolehkan para suami untuk

menggaulinya jika dia terdorong untuk melakukannya, tanpa ada dosa sama

sekali, sekalipun menyebabkan batal puasa istrinya, karena hal itu

merupakan haknya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Janganlah seorang wanita

berpuasa satu hari pun, sedang suaminya hadir di sisinya kecuali dengan

seijinnya, kecuali pada bulan Ramadhan.102

Adapun puasa Ramadhan, tentu harus dilakukan tanpa perlu meminta

ijin suami, karena ia merupakan puasa wajib. Jika dia memiliki hutang untuk

mengqadha beberapa hari dari puasa Ramadhan, maka hukumnya seperti

pada puasa sunnat, yaitu harus meminta ijin, karena mengqadha hari-hari

Ramadhan boleh ditangguhkan hingga sebelum datang Ramadhan

berikutnya.

33. Yang dipaksa untuk berbuka.

102 Diwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


Bagi orang yang dipaksa dengan keras, hingga menurut praduganya

dia akan dibunuh, jika tidak makan atau mimun, atau dipotong anggota

badannya, atau dirusak kehormatannya, atau dirampas hartanya, atau

disakiti dengan cara disiksa yang tidak mampu ditanggungnya, seperti

dipukul dengan keras atau dipenjara dengan berat, lalu dia makan atau

minum, maka puasanya tidak batal.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Diangkat (dosa) dari

umatku karena kesalahan, lupa dan apa-apa yang dipaksakan atas

mereka.103

Tetapi jika dia keterusan dalam makan atau minum karena


alasan mendapat rukhshah bahwa dia dipaksa, maka puasanya menjadi
batal dan wajib mengqadhanya.
Kewajiban qadha bagi Orang Sakit atas puasa yang ditinggalkannya
Diwajibkan atas orang sakit untuk mengqadha hari atau beberapa hari

yang dia berbuka padanya dalam puasa wajib, seperti puasa Ramadhan,

kafarat al-yamin, kafarat karena membunuh tidak sengaja, dan puasa nadzar

yang dia wajibkan atas dirinya sendiri. Jika dia melakukannya, maka akan

mendapatkan pahala dan jika tidak maka dia berdosa.

Adapun dalam puasa sunnat, tidak wajib qadha atasnya, tetapi

disunnatkan menurut mayoritas ulama. Artinya, dia akan diberi pahala jika

mengqadhanya dan tidak berdosa jika tidak mengqadhanya.

Kewajiban qadha ini, tidak wajib dikerjakan segera setelah orang sakit

tersebut sembuh, atau hilangnya halangan, atau berakhirnya bulan

Ramadhan. Akan tetapi, boleh dilakukan kapan saja ketika dia mau. Jika

hutang puasa yang dia miliki adalah hutang puasa Ramadhan, maka dia

wajib mengqadhanya sebelum masuk Ramadhan berikutnya.

Aisyah Radhiyallahu Anha, bercerita bahwa dirinya mengqadha hutang

puasa Ramadhan pada bulan Syaban.104

Jika masuk Ramadhan berikutnya, sementara orang yang berhutang

puasa belum mengqadhanya, maka menurut sebagian ulama, orang tersebut

harus mengqadhanya dan tidak ada kewajiban lain atasnya, karena Allah

Taala berfirman, Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang

103 Diwayatkan oleh Ath-Thabrani.


104 Diwayatkan oleh Muslim.
ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah: 184) Dalam ayat

diatas, perintah untuk mengqadha dimutlakkan, tanpa terikat oleh syarat apa

pun.

Ulama yang lain berpendapat, bahwa orang itu wajib mengqadhanya

dan tidak ada kewajiban lain baginya jika hal itu dilakukan karena ada udzur

yang menghalanginya. Sedangkan jika tidak memiliki udzur, maka di

samping mengqadha puasa dia pun diwajibkan membayar fidyah sebagai

hukuman atasnya.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Barangsiapa yang

menangguhkan qadha puasa Ramadhan hingga masuk Ramadhan

berikutnya, maka hendaknya dia berpuasa untuk hari-hari yang dia berbuka

pada tahun itu, kemudian berpuasa untuk hari yang ditinggalkan pada

ramadhan yang lalu, serta memberi makan kepada orang miskin sebanyak

hari yang dia berbuka.105 Fidyah ini tidak berlipat ganda karena masuk

pergantian tahun sementara orang tersebut masih belum mengqadha

puasanya, tetapi merupakan satu hukuman saja.

Disamping itu, qadha puasa tidak diwajibkan untuk dilakukan secara

berturut-turut. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, tentang qadha

Ramadhan, Jika mau, memisah-misahkannya dan jika mau, berturut-

turut.106 Karena Allah Taala tidak membatasi qadha dengan syarat apa pun.

Orang Sakit Mengqadha Itikaf


Orang yang Itikat terkadang mengakhiri Itikafnya sebelum waktunya

karena ada suatu halangan seperti sakit dan lain-lain.

Jika dia mengakhiri Itikaf yang sunnat, yaitu Itikaf yang diberi pahala

pelakunya dan tidak berdosa yang meninggalkannya, seperti Itikaf sepuluh

hari terakhir di bulan Ramadhan, maka dalam meninggalkan itikaf semacam

ini, tidak diwajibkan atas orang sakit atau orang yang berhalangan dengan

suatu halangan untuk mengqadhanya ketika sembuh atau ketika

halangannya sudah tidak ada, karena ia bukan merupakan ibadah wajib.

Apabila ia tetap melakukannya, maka qadhanya termasuk dalam amalan


105 Diwayatkan oleh Ad-Dar Quthni.
106 Diwayatkan oleh Ad-Dar Quthni.
yang dimaksudkan untuk mendapatkan pahala, bukan karena berdosa karena

tidak mengqadhanya.

Jika dia menyelesaikan itikaf wajib, seperti nadzar kepada Allah atau

berjanji untuk melakukan itikaf setengah hari atau sehari penuh, atau

beberapa hari, maka dia wajib memenuhinya saat dia sembuh atau saat

halangannya sudah tidak ada, karena sebagaimana pemenuhan janji

terhadap manusia merupakan kewajiban dalam Islam, tentunya pemenuhan

janji terhadap Sang Pencipta manusia lebih wajib lagi, sebagaimana sabda

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Hutang kepada Allah lebih layak

untuk dipenuhi.107

Pemenuhan janji ini, tidak wajib dilaksanakan, begitu orang tersebut

sembuh dari sakitnya atau hilangnya penghalang. Akan tetapi boleh

ditangguhkan hingga kapan saja siapnya, sebagaimana dalam kewajiban

mengqadha puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan. Disamping itu,

boleh juga dilakukan terpisah-pisah atau bersambung, karena hadits tidak

memberikan batasan dan ketentuan dalam cara mengqadhanya.

Zakat Fitrah Tetap Diwajibkan Atas Orang Sakit


Orang sakit atau orang yang berhalangan banyak yang mengira bahwa

zakat fitrah tidak wajib atasnya, padahal sebenarnya, zakat tersebut

diwajibkan atas setiap individu muslim, baik anak kecil maupun dewasa, baik

orang sakit maupun orang sehat, baik laki-laki maupun perempuan, baik

orang merdeka maupun budak sahaya, karena ia disyariatkan untuk menjalin

persaudaraan dan kekuatan di antara kaum muslimin, sebagai latihan untuk

berkerja sama dalam menanggung beban kehidupan, serta untuk menambal

kekurangan kaum muslimin yang terjadi saat melakukan ibadah puasa.

Kepada siapa zakat fitrah diwajibkan? Diwajibkan kepada setiap muslim

yang memiliki satu sha makanan (atau uang seharga itu, menurut Abu

Hanifah), yang berlebih dari makanan dirinya sendiri dan orang-orang yang

menjadi tanggungannya pada malam atau hari raya. Satu sha sama dengan

empat mud. Satu mud adalah satu raup dua telapak tangan orang laki-laki

107 Diwayatkan oleh para penulis kitab as-Sunan.


dewasa yang sedang, sama dengan seperempat kailah menurut sebagian

ulama dan seperenam kailah menurut yang lainnya, karena berbeda-bedanya

ukuran telapak tangan manusia).

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu

Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah dari bulan Ramadhan, satu sha

kurma, atau satu sha gandum, atas setiap orang yang merdeka atau budak,

anak kecil atau dewasa, lak-laki atau perempuan dari kaum muslimin. 108

Bagi siapa yang memiliki makanan yang hanya mencukupi untuk


kebutuhan dirinya dan orang yang menjadi tanggungannya saja pada
malam hari raya atau siangnya tanpa ada kelebihan atau ada
kelebihan tetapi tidak sampai satu Sha, maka dia tidak wajib
membayar zakat fitrah.
Orang yang tidak memiliki kemudahan untuk mengeluarkan zakat
akan digantikan oleh Allah dengan berlipat-lipat dari orang-orang
yang memberikan zakat kepadanya dari saudara-saudaranya kaum
muslimin.
Dari siapa saja zakat wajib dikeluarkan? Zakat wajib
dikeluarkan dari dirinya dan dari orang-orang yang menjadi
tanggungannya seperti istri, anak kecil dan anak yang sudah
baligh walaupun mereka belum mampu berpencaharian dan kedua orang
tua jika mereka dibawah tanggungjawabnya, saudara perempuan yang
tidak memiliki penanggungjawab dan pembantunya jika dia tidak
mampu mengeluarkan zakat.
Ukurannya: satu sha dari makanan pokok yang biasa dimakan
dalam suatu negeri seperti gandum (tepung), beras, jagung, kurma
dan sebagainya. Madzhab Hanafi membolehkan membayarnya dengan
uang.
Dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu, ia berkata kepada
penduduk Yaman, Berikan kepadaku pakaian baru atau bekas sebagai
pengganti dari gandum dan jagung, karena itu lebih mudah atas
kamu sekalian dan lebih baik bagi sahabat Rasul dan penduduk
Madinah.109
Waktu pengeluarannya: Zakat fitrah wajib atas seorang muslim
dimulai dari terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan
Ramadhan, karena ia berkaitan dengan penyucian orang-orang yang
berpuasa dari dosa-dosa yang dilakukan pada bulan yang dimuliakan
tersebut. Ada yang berpendapat, diwajibkan semenjak terbitnya
fajar hari raya Idul Fitri, karena berkaitan dengan memberikan
kegembiraan kepada kaum muslimin.
Atas dasar ini, maka bayi yang lahir setelah terbenam
matahari di hari terakhir bulan ramadhan dan sebelum terbit fajar
pada hari Idul Fitri, menurut pendapat pertama tidak wajib
dikeluarkan zakat fitrahnya, karena ia dilahirkan setelah waktu
wajib. Sedang menurut pendapat yang kedua wajib, karena ia
dilahirkan sebelum waktu wajib. Adapun untuk orang yang meninggal
dunia adalah kebalikannya.
Selanjutnya, diharamkan bagi orang yang wajib
mengeluarkannya, untuk menangguhkan pengeluarannya hingga selesai
shalat Ied (hingga selesai hari raya Ied) tanpa ada udzur.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, Rasulullah Shallallahu Alaihi

wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang

108 Diwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


109 Diwayatkan oleh Al-Bukhari.
berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kotor, dan pemberian makan bagi orang-

orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (Idul Fitri),

maka dia adalah zakat yang diterima, sedangkan barangsiapa yang

menunaikannya sesudah shalat, maka ia adalah sedekah dari sedekah-

sedekah biasa.110

Adapun orang yang memiliki udzur seperti sakit atau yang


lainnya demikian juga orang yang lupa atau tidak menemukan yang
siap menerimanya atau menemukannya tetapi terhalang oleh satu dan
lain hal, maka mereka tidak berdosa karena adanya halangan.
Zakat fitrah ini, tidak gugur kewajibannya dari orang yang tidak

mengeluarkan pada waktunya. Ia akan menjadi hutang sampai bisa

mengeluarkannya.

Kepada siapa zakat wajib dibagikan? Zakat fitrah swbagaimana zakat

yang lainnya wajib dibagikan kepada delapan golongan yang disebutkan

dalam firman Allah Taala, Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk

orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para

Mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang

berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan,

sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha

Mengetahui lagi Maha Biajaksana. (At-Taubah: 60)

Terakhir, zakat mal (harta benda) diwajibkan atas orang sakit

sebagaimana diwajibkan atas orang sehat, sesuai dengan rincian-rincian

yang dijelaskan dalam kitab-kitab fikih.

==0==

CARA HAJI DAN UMRAH ORANG SAKIT

Hukum Haji
Ibadah haji, diwajibkan bagi orang yang sudah baligh yang
memiliki kemampuan, baik ditinjau dari sisi kesehatan maupun
finansial. Allah Taala berfirman, Mengerjakan haji adalah
kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Ali-'Imran: 97)

110 Diwayatkan oleh Al-Hakim dan menurutnya hadits ini shahih.


Mampu dari sisi kesehatan, artinya, orang yang berhaji,
hendaknya secara fisik sehat dan mampu menanggung segala macam
kesulitan haji.
Mampu dari sisi finansial, artinya, ia memiliki harta yang
memadai untuk ongkos haji dan memiliki kelebihan dari kebutuhan
pokok untuk diri dan orang yang menjadi tanggungannya. Misalnya,
makanan, tempat tinggal, pakaian, kendaraan, alat bekerja, kitab
dan sebagainya selama dia bepergian.
Dalam rangka mengumpulkan biaya untuk berhaji , seseorang
tidak dianjurkan untuk bersikap kikir dalam memenuhi kebutuhan
diri dan keluarganya. Tetapi, hendaknya ia bersikap pertengahan
dalam membelanjakan hartanya.
Begitu juga, tidak dianjurkan untuk berhutang demi
menunaikan haji. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya
tentang seorang laki-laki yang belum menunaikan haji, apakah dia
harus berhutang untuk haji? beliau menjawab, Tidak.111
Bagi orang yang hendak menikah, dan takut dirinya terjerumus
ke dalam perbutan zina, maka nikah baginya wajib dan termasuk
kebutuhan pokok yang harus dipenuhi, seperti makan dan tempat
tinggal. Karena itu, pernikahan harus didahulukan daripada haji.
Sedangkan jika tidak khawatir terjerumus dalam perbuatan
zina, maka nikah baginya sunnat. Atas dasar itu, haji harus lebih
didahulukan, karena hukumnya fardhu.
Bagi orang yang memiliki kemampuan secara fisik dan
finansial untuk menyegerakan haji, maka disunnatkan untuk
menyegerakannya, karena dia tidak tahu kapan ajalnya akan tiba.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersbada, Barangsiapa
yang hendak menunaikan haji maka segerakanlah, karena adakalanya
dia tertimpa sakit, atau tersesat kendaraannya atau terdesak
kebutuhan lain.112
Jika dia menangguhkannya tanpa alasan, maka menurut sebagian

ulama, tidak ada apa-apa baginya, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam menangguhkan haji hingga tahun kesepuluh Hijriyah, padahal haji

sudah diwajibkan semenjak tahuh keenam. Kecuali, jika dia meninggal dunia

dalam keadaan mampu, namun dia belum menunaikan haji. Maka dia akan

bertemu dengan Allah dalam keadaan berdosa.

Ada juga yang berpendapat, bahwa dia berdosa, karena haji adalah

kewajiban yang harus segera dilaksanakan saat seseorang memiliki

kemampuan, sesuai dengan pemahaman dari ayat di atas.

Adapun bagi orang yang tidak mampu, baik dari sisi fisik maupun

finansial, maka haji tidak wajib baginya. Bagi yang mampu dari sisi fisik,

namun tidak mampu dari sisi finansial, juga tidak diwajibkan berhaji.

Sedangkan orang yang mampu dari sisi finansial, namun tidak mampu

dari sisi fisik, maka, jika sakitnya memiliki kemungkinan untuk sembuh, maka

ia boleh menangguhkannya, hingga dia mampu. Akan tetapi jika sakitnya

111 Diwayatkan oleh Al-Baihaqi.


112 Diwayatkan oleh Ahmad.
tidak memiliki kemungkinan untuk sembuh, seperti orang yang lumpuh atau

sudah tua sekali, dimana tidak akan mampu menunaikan berbagai ritual

dalam ibadah haji (sementara ia memiliki kemampuan dari sisi keuangan),

maka wajib baginya (diberi pahala jika dikerjakan dan berdosa jika

ditinggalkan) untuk dihajikan oleh orang lain, baik oleh karib kerabatnya

ataupun selain mereka, baik yang menghajikannya laki-laki ataupun

perempuan. Demikian pula seorang perempuan boleh dihajikan oleh seorang

laki-laki.

Dalam haji Wada seorang perempuan berkata kepada Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa bapaknya telah berkewajiban untuk haji,

namun dia telah tua renta, sehingga tidak bisa menaiki kendaraannya.

Perempuan itu lalu bertanya, apakah dia dibolehkan untuk menghajikan

bapaknya? Beliau menjawab, Ya.113

Untuk menghajikan orang lain ditentukan syarat-syarat berikut


ini:
1. Yang menggantikan haji (naib) diharuskan telah menunaikan

haji untuk dirinya sendiri terlebih dahulu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar seorang laki-laki

berkata, Labbaik dari Syubrumah. Maka Nabi bertanya, Siapakah

Syubrumah? Laki-laki itu menjawab, Saudaraku. Dalam riwayat lain,

kerabatku. Nabi bersabda, Berhajilah untuk dirimu kemudian berhajilah

untuk Syubrumah.114

2. Orang yang dihajikan menanggung semua biaya haji yang

menggantikannya secara penuh.

Misalnya, biaya makan, minum, semua kebutuhan orang yang


menjadi tanggungannya selama dia pergi, dengan ukuran pertengahan
(sederhana) tidak terlalu berlebihan atau terlalu sedikit.
Orang yang menggantikan haji, juga dibolehkan untuk meminta
upah yang lebih dari biaya haji. Hal ini, dianalogikan dengan
dibolehkannya mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur`an,
menuliskan ilmu, adzan, imam shalat dan sebagainya, atas dasar
bahwa pengganti haji terhalang dari melakukan pekerjaannya selama
dia menunaikan ibadah haji.
Rasulullah bersabda, Pekerjaan yang paling berhak untuk memperoleh

upah adalah kitabullah.115


113 Diwayatkan oleh Jamaah.
114 Diwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih.
115 Bagian dari sebuah hadits yang dirwayatkan oleh Al-Bukhari.
Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa tidak dibolehkan untuk

mengambil upah dari ketaatan, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam bersabda kepada Utsman bin Abi Al-Ash, . . . Angkatlah seorang

muadzin yang tidak mengambil upah atas adzannya.116

Sebenarnya, hukumnya bisa berbeda-beda, mengikuti perbedaan

situasi, kondisi dan pribadi serta kemaslahatan semua pihak.

3. Orang yang menggantikan haji, hendaknya adalah orang yang

amanah atau dapat dipercaya.

Sehingga, ia bisa memegang komitmen atas apa yang dipertintahkan

oleh orang yang mengutusnya untuk menunaikan haji. Jika dia diperintah

untuk menggabungkan antara haji dan umrah dengan satu niat, maka ia

akan melakukanya. Jika dia diperintahkan untuk umrah terlebih dahulu

kemudian haji, maka ia akan melakukan seperti apa yang diperintahkan.

Demikian seterusnya.

Jika dia telah mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, maka

setelah itu dia bebas melakukan apa saja sesuai yang diinginkan. Misalnya,

berumrah untuk dirinya sendiri atau untuk yang selainnya.

Bagi yang telah menunaikan haji dan umrah yang wajib, dibolehkan

juga untuk mewakilkan haji dan umrah keduanya yang hukumnya sunnat,

jika dia tidak bisa melakukannya sendiri. Demikian juga dibolehkan bagi

orang bernadzar haji dan umrah setelah menunaikan yang pertama kali

lalu dia tidak bisa memenuhi nadzar yang menjadi kewajibannya.

Jika orang sakit yang dihajikan oleh Orang lain sembuh, maka
menurut Jumhur ulama, ia harus melakukan haji lagi, karena
jelaslah baginya bahwa penyakit yang dideritanya, ternyata bukan
jenis penyakit yang tidak dimungkinkan untuk disembuhkan.
Ulama yang lain ada juga yang mengatakan, bahwa orang tersebut

tidak perlu berhaji kembali. Karena, kalau ia dituntut untuk mengulang

hajinya, maka saseakan-akan ia diwajibkan berhaji dua kali. Dan ini tidak ada

landasannya, baik dari Al-Qur`an maupun hadits.

Apabila orang yang sakit meninggal sebelum menunaikan haji, atau

sebelum dihajikan orang lain, maka ada dua kemungkinan:

116 Bagian dari sebuah hadits yang dirwayatkan oleh Al-Bukhari.


- Jika dia meninggal dalam keadaan mampu melaksanakan,
menurut Imam Malik dan Abu Hanifah, jika dia memiliki wasiat dan
dalam wasiatnya terdapat permintaan untuk dihajikan, maka wajib
atas ahli waris untuk menghajikannya dengan biaya yang diambil
dari sepertiga hartanya. Sisanya merupakan hak ahli waris.
- Jika dia tidak berwasiat, maka ahli waris tidak wajib menghajikannya,

karena haji merupakan ibadah badaniyah seperti shalat yang tidak bisa

digantikan setelah mati, tetapi dia akan menanggung dosanya pada hari

Kiamat.

Menurut Imam Syafii dan Ahmad, baik dia berwasiat atau tidak, wajib

bagi ahli waris untuk menghajikannya, karena hal itu merupakan bentuk

kasih sayang dan kebaikan kepada si mayit agar dia selamat dari adzab,

karena haji adalah seperti hutang yang tidak gugur dengan kematian.

Dalam keadaan seperti ini, ongkos haji dikeluarkan dari semua

hartanya sebelum dibagikan kepada ahli waris. Seorang wanita dari Juhainah

datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata,

Sesungguhnya ibuku bernadzar untuk menunaikan haji dan dia tidak sempat

melakukannya hingga meninggal, apa saya harus menghajikannya?

Rasulullah menjawab, Ya, hajikanlah dia! Bukankah kalau ibumu

mempunyai hutang, kamu akan melunasinya? Lunasilah hutang Allah, karena

piutang Allah lebih berhak untuk dilunasi.117

- Jika dia meninggal dalam keadaan tidak mampu menunaikan haji,

maka tida ada kewajiban apa-apa atasnya, begitu juga atas ahli warisnya.

Semua yang disebutkan diatas, juga berlaku bagi perempuan. Dia wajib

menunaikan haji jika berstatus sebagai muslimah, berakal, baligh, merdeka

dan memiliki kemampuan dari sisi kesehatan dan keuangan, atau dia

memiliki harta khusus yang membuatnya mampu untuk membiayai hajinya

dan biaya haji suami atau mahramnya, karena kewajiban menanggung biaya

haji menimpa dirinya, bukan keduanya, kecuali jika salah seorang dari

mereka (suami atau mahram) bersuka rela membiayai dirinya, dengan

tambahan syarat-syarat berikut ini:

117 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


a. Ditemani oleh suami atau mahramnya, yaitu orang yang

haram dinikahi secara permanen, seperti bapak, anak,

saudara laki-laki, anak saudara laki-laki dan semisalnya.

Adapun suami saudara perempuan atau suami bibi dari ayahnya atau

suami bibi dari ibunya, mereka tidak termasuk mahram yang permanen,

sebab dibolehkan baginya untuk menikahi mereka, kalau saudara

perempuannya atau bibi-bibinya meninggal dunia atau diceraikan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Janganlah seorang laki-laki

berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang perempuan kecuali disertai oleh

mahramnya. Janganlah seorang wanita bepergian kecuali disertai oleh

mahramnya. Seorang laki-laki berkata, Wahai Rasulullah sesungguhnya

istriku keluar untuk menunaikah haji, sementara aku diwajibkan untuk

mengikuti perang ini dan ini. Rasululllah bersabda, Berangkatlah dan

tunaikah haji bersama istrimu.118

b. Jika tidak ada suami atau mahram, atau ada, tetapi dalam

keadaan sakit atau menolak untuk pergi bersamanya, karena

memang merupakan haknya untuk menolak, dengan alasan

bahwa haji merupakan pekerjaan yang berat dan sulit, dan

kesulitan ini tidak mengharuskan seseorang untuk

menanggungnya demi orang lain, maka:

menurut kebanyakan ulama, wanita tersebut dianggap tidak mampu.

Karenanya, haji tidak wajib baginya. Jika dia tetap memaksakan diri untuk

berhaji sendirian, maka hajinya sah, namun ia berdosa.

Sedangkan menurut ulama Syafii, dibolehkan baginya menunaikan haji

tanpa menanggung dosa jika dia melakukannya bersama para wanita yang

terpecaya atau bersama wanita lain yang terpercaya. Bahkan ada yang

berpendapat, bahwa ia boleh melakukannya sekalipun sendirian, selama ada

jaminan keamanan di perjalanannya, dan rombongan yang bersamanya

adalah orang-orang yang dapat dipercaya.

118 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


Dari Adi bin Hatim Radhiyallahu Anhu dia berkata, Ketika saya sedang

berada di sisi Rasulullah, seorang laki-laki datang kepada beliau dan

mengeluhkan kemiskinan yang menimpanya, kemudian datang seorang laki-

laki lain dan mengeluhkan penyamun. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

bersabda, Wahai Adi apakah kamu pernah melihat Hirah?

Belum, saya belum pernah melihatnya, tetapi pernah mendapatkan

berita tentangnya Jawab saya.

Rasulullah bersabda, Jika kamu panjang umur, niscaya kelak kamu

akan melihat seorang wanita pergi dari Hirah, lalu ia thawaf di Kabah dan

tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah.119

Hirah adalah sebuah negeri yang bersebelahan dengan Kufah di Iraq.

c. Ijin suaminya:

Menurut sebagian ulama, dalam berhaji, hukum meminta izin suami

bagi seorang istri adalah sunnat bukan wajib. Hal itu dikarenakan haji

merupakan kewajiban atas dirinya, dan tidak boleh ada seorang pun yang

melarangnya. Jika suaminya melarang, maka ia dibolehkan untuk pergi tanpa

seijinnya, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat

kepada sang Khalik. Kecuali jika sang sumi membutuhkannya seperti dia

sedang sakit atau memiliki anak-anak yang harus disantuni, sementara sang

suami tidak bisa menyantuni mereka jika istrinya pergi. Jika keadaannya

demikian, maka pada saat itu meminta ijin suami hukumnya wajib.

Ulama yang lain berpendapat bahwa meminta ijin suami, hukumnya

wajib. Artinya, si istri akan diberi pahala jika melakukannya dan berdosa jika

tidak melakukannya. Jikapun ia memaksa untuk berhaji tanpa seijin

suaminya, maka hajinya tetap sah. Meski demikian, sang suami tetap berhak

untuk melarang istrinya untuk pergi menunaikan haji, menurut pendapat

yang menyatakan bahwa kewajiban haji itu bukan kewajiban yang harus

disegerakan, tapi boleh ditangguhkan jika terdapat halangan. Berdasarkan

ini, ketaatan kepada suami harus didahulukan.

119 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


Semua yang disebutkan di atas, yaitu diperbolehkannya wanita untuk

pergi berhaji tanpa ditemani mahram atau tanpa seijin suamimnya hanyalah

berlaku pada haji fardhu, atau haji nadzar yang merupakan kewajiban atas

seorang muslim, yang telah mewajibkannya atas dirinya sendiri. Sedangkan

dalam haji sunnah atau haji yang lebih dari satu kali, maka ijin suami dan

adanya mahram hukumnya wajib.

Adapun pada masa iddah:

Menurut para ulama, jika iddahnya karena ditinggal wafat suaminya,

maka ia tidak boleh keluar untuk berhaji, karena ia telah diperintahkan untuk

menetap di rumah, sebagai penghormatan terhadap ikatan pernikahan yang

merupakan fondasi bagi tegaknya nilai-nilai kemasyarakatan yang baik. Ada

juga yang mengakatan, bahwa ia boleh keluar, karena haji hukumnya fardhu,

sehingga harus didahulukan.

Jika iddahnya karena thalaq raji, maka hendaknya ia harus meminta

ijin suaminya, karena dia masih berstatus sebagai istri.

Jika iddahnya karena thalaq bain (atau setelah dijatuhi thalaq tiga),

maka dibolehkan baginya untuk pergi berhaji, karena dia menjadi miliknya

sendiri.

Semua yang disebutkan dalam hukum haji bagi laki-laki dan wanita,

berlaku juga pada umrah.

HUKUM UMRAH
Menurut sebagian ulama, umrah hukumnya sunnat muakkad,
karena ayat yang mewajibkan haji, yaitu, Mengerjakan haji adalah
kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah, (Ali-'Imran: 97) tidak
menyebutkan tentang hukum umrah. Atas dasar ini, hukum umrah
adalah sunnat muakkad, yang dianjurkan untuk dilaksanakan satu
kali seumur hidup, dianalogikan dengan haji. Bagi yang
melakukannya lebih dari satu kali, maka hukummnya sunnat dan dia
akan mendapatkan pahala.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Dari umrah ke

umrah berikutnya adalah penghapus dosa-dosa yang ada di antara

keduanya. Haji mabrur tidak ada balasannya selain surga.120

120 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


Ulama yang lain berpendapat bahwa umrah hukumnya wajib, satu kali

dalam seumur hidup seperti haji, berdasarkan firman Allah Taala, Dan

sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah.

Jika lebih dari satu kali hukumnya sunnat.

Waktu Haji
Allah Taala berfirman, Haji itu pada bulan-bulan yang
telah diketahui. (Al-Baqarah: 197)
Maksudnya, agar haji menjadi sah, maka wajib dilaksanakan
pada waktu yang telah ditetapkan Allah Taala, yaitu pada bulan-
bulan berikut: Syawwal, Dzulqadah dan Dzulhijjah.
Amalan-amalan haji, hukum-hukumnya dan tindakan-tindakan yang
harus dilakukan orang sakit.
Amalan haji secara berurutan:
1. Ihram.
2. Talbiyah.
3. Thawaf Qudum (thawaf penghormatakan kepada Masjidil
Haram).
4. Sai antara bukit Shafa dan Marwah.
5. Menuju ke Mina.
6. Menuju ke Arafah.
7. Wukuf di Arafah.
8. Berangkat dari Arafah ke Muzdalifah.
9. Amalan-amalan pada hari Idul Adha (sepuluh Dzulhijjah),
yaitu:
0- Melempar jumrah Aqabah
1- Menyembelih
2- Mencukur rambut atau memotongnya
3- Thawaf Ifadhah.
10. Amalan-amalan pada tiga hari Tasyriq: Setiap hari
melempar dua puluh satu batu kerikil, tujuh untuk Jumrah
Shugra, tujuh untuk Jumrah Wustha dan tujuh lagi untuk
Jumrah Kubra).
Hari-hari Tasyriq adalah tanggal sebelas, dua belas dan tiga
belas Dzulhijjah. Dinamai hari tasyriq karena pada hari tersebut
daging kurban dijemur (dikeringkan) agar awet.

I. Ihram
Hukum Ihram: Ihram adalah salah satu rukun haji, yang
apabila tidak dilakukan, maka hajinya menjadi batal.
Definisi: Ihram artinya, menghadirkan niat haji. Niat ini,
tempatnya di dalam hati. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, Sesungguhnya amal-amal itu tergantung kepada niat.121
Bagi orang yang sakit, ia dibolehkan untuk memilih salah
satu di antara tiga niat haji, yaitu niat haji ifrad, niat haji
qiran atau niat haji tamattu, disesuaikan dengan tuntutan
situasi dan kondisi serta kesehatannya.
Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, Kami keluar bersama
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada tahun haji Wada.
Diantara kami ada yang berihram untuk umrah, ada yang berihram
haji dan umrah dan ada yang berihram untuk haji..122
Niat haji ifrad: adalah Ihram dengan niat haji saja,
kemudian sesudahnya berumrah, jika mau.
Niat haji qiran: adalah Ihram dengan niat haji dan umrah
sekaligus, dan melakukan amalan keduanya dalam satu waktu,

121 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


122 Bagian dari sebuah hadits yang sama-sama diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
kemudian diwajibkan atasnya (atau diberi pahala yang
mengerjakannya dan berdosa jika meninggalkannya) untuk
menyembelih seekor domba setelah setelah selesai, sebagai
pengganti dari penggabungan.
Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Rasulullah
menggabungkan antara haji dan umrah, thawaf untuk keduanya dengan
satu kali thawaf.123
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Kalaulah
bukan karena binatang kurban, niscaya aku akan bertahalul
sebagaimana kalian bertahalul.124
Dalam haji Wada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
menggabungkan antara haji dan umrah, kemudian menyembelih setelah
selesai.
Niat haji Tamattu: adalah Ihram dengan niat umrah pada
bulan-bulan haji, kemudian tahalul setelah selesai melakukan
rukun-rukunya. Lalu memakai pakaian biasa, menggauli istrinya dan
yang hal-hal lain yang diharamkan dalam keadaan ihram, kemudian
kembali ihram dengan niat haji pada hari kedelapan Dzulhijjah,
kemudian setelah selesai haji menyembelih domba sebagai pengganti
dari tamattu.
Allah Taala berfirman, Apabila kamu telah (merasa) aman,
maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'Umrah sebelum Haji (di
dalam bulan Haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah
didapat. (Al-Baqarah: 196)
Apabila orang sakit tidak mampu menyembelih kambing, karena
tidak memiliki kemampuan keuangan, baik melakukan haji tamattu
maupun qiran, maka wajib baginya berpuasa sepuluh hari, tiga hari
saat haji sebelum hari Arafah, atau sesudahnya yaitu pada tiga
hari tasyrik, dan tujuh hari ketika sudah pulang ke negerinya,
berturut atau terpisah-pisah, ayat diatas tidak memberikan
batasannya.
Tidak diharamkan berpuasa pada hari-hari tasyrik bagi orang
yang tidak mendapatkan binatang kurban, namun diharamkan bagi
orang yang tidak melakukan haji, karena hari-hari tersebut
merupakan rangkaian hari raya (menurut ulama Syafii dibolehkan
berpuasa yang memiliki sebab, seperti nadzar, kafarat atau
qadha).
Allah Subhanahu wa Taala berfirman, Tetapi jika ia tidak
menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa
tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu
telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, Tidak beri rukshah

(keringanan) pada hari-hari tasyriq untuk berpuasa, kecuali orang yang tidak

mendapatkan binatang korban.125

Jika orang sakit tidak mampu berpuasa tiga hari pada saat haji karena

penyakit yang dideritanya, atau karena fisiknya lemah atau karena takut

menanggung kesulitan yang luar biasa, atau mendapatkan mudharat seperti

bertambar rasa sakit atau penyakitnya, yang diketahui berdasarkan

rekomendari dari dokter muslim yang ahli dan terpercaya atau berdasarkan

pengalaman pribadi, maka dia wajib menqadhanya setelah pulang, atau dia

123 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan menurutnya hadits ini hasan.


124 Bagian dari sebuah hadits yang sama-sama diriwayatkan oleh Muslim.
125 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
berpuasa sepuluh hari secara sempurna ketika sudah pulang ke negerinya.

Tidak mesti segera, tetapi boleh dilakukan ketika ia sempat, atau ketika ia

mampu. Boleh berturut-turut atau terpisah-pisah karena ayat Al-Qur`an tidak

membatasinya.

Jika orang sakit tersebut tidak mampu berpuasa sama sekali, karena

penyakitnya menahun atau karena ketuaannya atau yang semisalnya, maka

dia menanggung hutang. Jika Allah melapangkan rizki baginya, kirimkan

binatang kurban ke tanah haram. Jika Allah menyembuhkan penyakitnya,

maka berpuasalah. Dan jika meninggal dunia sementara halangan masih

tetap ada, maka tidak ada dosa baginya, sedangkan jika halangannya sudah

tidak ada, lalu meninggal dunia sebelum memenuhi hutangnya, maka

menurut Jumhur ulama, wali orang tersebut, hendaknya mengeluarkan

fidyah (Wali adalah karib kerabat, baik ahli waris maupun bukan), yakni

memberi makakan sebanyak hari yang dia tidak bisa berpuasa, sebanyak

satu mud dari makanan pertengahan yang biasa dia dan keluarganya makan.

(Mud adalah satu cedukan dengan menggunakan dua telapak tangan laki-laki

dewasa yang pertengahan). Dibolehkan juga mengeluarkan uang seharga

makanan tersebut.

Pada asalnya fidyah dikeluarkan dari harta mayit. Namun, jika ia tidak

mempunyai harta, maka kewajiban beralih kepada ahli waris. Jika mereka

bersuka rela untuk mengeluarkan fidyah, maka diberi pahala dan gugur

kewajiban berpuasa dari si mayit. Jika mereka menolak, maka tidak ada dosa

atas mereka. Dan si mayit, semoga saja mendapat rahmat dan ampunan dari

Allah Taala.

Tidak dibolehkan bagi siapa pun untuk menggantikan puasanya,


karena puasa adalah seperti shalat, ia merupakan ibadah
badaniyyah yang diwajibkan atas setiap diri manusia secara
pribadi-pribadi, dan tidak dibenarkan bagi seseorang untuk
menggantikan posisi orang lain.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Barangsiapa yang

meninggal dan dia memiliki hutang puasa selama satu bulan, maka wali

orang tersebut, hendaknya memberi makan untuk satu hari satu orang

miskin.126

126 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.


Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, Seseorang tidak bisa

menggantikan shalat orang lain, dan tidak bisa menggantikan puasa orang

lain, tetapi hendaknya memberi makan untuk satu hari puasa yang

ditinggalkan satu mud gandum.127

Ulama yang lain ada yang berpendapat bahwa disunnatkan kepada

walinya untuk menggantikan puasanya. Dibolehkan juga bagi orang lain

untuk menggantikan puasanya dengan seijin walinya karena hal itu

merupakan kebaikan bagi si mayit. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

bersabda, Barangsiapa yang meninggal dunia dan memiliki hutang puasa,

maka wali dari orang tersebut hendaknya berpuasa untuk

menggantikannya.128

Bagi orang yang sakit diperbolehkan untuk membuat persyaratan

khusus bagi dirinya, saat menghadirkan niat ihram. Hal ini disepakati oleh

kebanyakan para ulama. Misalnya, ia berniat, Ya Allah tempah tahallulku di

tempat Engkau menahanku. Hal itu, agar menjadi alasan untuk tidak

menyembelih kambing, ketika tidak mampu menyempurnakan haji atau

umrah, karena dia terancam dengan bertambah parah penyakit atau rasa

sakitnya atau terancam mendapatkan kesulitan yang tidak dapat ditanggung,

yang menghalanginya untuk menyempurnakan ibadahnya.

Pada suatu hari, Rasulullah mendatangi Dhubaah binti Zubair, lalu

bersabda kepadanya, Sepertinya kamu hendak melaksanakan haji? Dia

menjawab, Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku selain sakit.

Rasulullah bersabda, Tunaikanlah hajimu dan buatlah syarat serta katakan,

Ya Allah tempat tahalulku adalah dimana saja Engkau menahanku.129

Jika orang sakit tidak mampu menyelesaikan haji dan umrahnya


karena tertahan oleh sakit atau sebab lain, maka menurut jumhur
ulama, wajib atasnya untuk menyembelih kambing. Ia akan diberi
pahala jika menyembelih dan berdosa jika tidak. Jika ia berkenan
untuk menyembelih binatang yang lebih besar, misalnya,
menyembelih sapi atau unta, maka pahalanya lebih besar. Hal itu
dilakukan, di tempat ia tertahan. Kemudian bertahallul setelah
menyembelih dan melakukan apa yang diharamkan saat ihram. Allah
Taala berfirman, Jika ada di antaramu yang sakit atau ada

127 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


128 Diriwayatkan oleh Syaikhani dan Al-Bazzar telah menambahkan melalui jalur sanad yang hasan, kata in syaa`a
(jika mau).
129 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya
berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.
Selanjutnya, ia tidak diharuskan untuk mengulangi lagi haji dan

umrahnya, kecuali jika keduanya bersifat fardhu. Jika demikian, maka wajib

mengulanginya saat dia memiliki kemampuan di waktu yang akan datang.

Demikan itu, karena Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tidak

memerintahkan kepada seorang pun yang tertahan bersamanya saat

perdamaian Hudaibiyah untuk mengqadha hajinya.130

Menurut Imam Abu Yusuf (murid Imam Abu Hanifah) dibolehkan


menaksir harga binatang kurban dan mengeluarkan seharga binatang
kurban tersebut.
Menurut Imam Malik, tidak wajib menyembelih kambing, baik dia

mensyaratkan saat menghadirkan niat ihram maupun tidak. Alasannya,

karena pada saat perdamaian Hudaibiyah semua orang bertahallul sekalipun

ada sebagian sahabat yang tidak membawa binatang kurban. Sedang

binatang kurban yang dibawa Rasulullah dan beliau menyembelihnya adalah

binatang yang beliau bawa dari Madinah untuk penyembelihan sunnat.

Bagi siapa yang tidak mampu menyembelih binatang kurban, maka

wajib baginya untuk berpuasa sepuluh hari, diqiyaskan kepada orang yang

melakukan haji tamattu atau qiran yang tidak mendapatkan binatang

kurban.

Cara Ihram, Sunnat-sunnatnya dan Pengecualian bagi Orang Sakit


a. Mandi dan bersih-bersih badan.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Di antara sunnat

Ihram adalah mandi bagi orang yang hendak berihram dan apabila hendak

memasuki kota Mekkah.131 Di antara bersih-bersih badan adalah memotong

kuku, memotong rambut, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan

dan sebagainya. Termasuk memakai minyak wangi saat berihram,

dibolehkan, dan tidak mengapa jika bekasnya tetap ada setelah ihram.

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, Sepertinya saya melihat

kilauan minyak wangi pada belahan rambut Rasulullah ketika beliau sedang

ihram.132

130 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


131 Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan menurutnya hadits ini shahih.
132 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Sunnat-sunnat ini kalau bisa dilakukan oleh orang sakit, ia akan diberi

pahala dan jika tidak, maka ia tidak berdosa.

Jika orang sakit tidak mampu mandi, maka cukup baginya berwudhu

saja.

Jika tidak bisa berwudhu, maka ia tidak bisa menggantikannya dengan

tayamum seperti dalam shalat, karena mandi ihram adalah untuk kebersihan

seorang muslim, hingga tidak mengganggu kaum muslimin yang lain ketika

mereka semua berkumpul, karena menyakiti mereka hukumnya haram,

sementara tayamum tidak bisa mewujudkan kebersihan. Tentunya tidak

dilarang untuk bertayamum ketika hendak shalat dan bukan untuk maksud

membersihkan badan.

b. Memakai dua helai kain Ihram.

Yaitu, setelah melepaskan semua pakaian yang dijahit atau pakaian yang

menutupi badan (yang menutupi badan tanpa jahitan seperti kaus kaki dan

sebagainya).

Dua helai pakaian ihram ini terdiri dari satu kain yang dililitkan untuk

menutupi tubuh bagian bawah mulai dari pusar (al-izar), dan yang satunya

lagi dililitkan untuk menutupi bagian atas (ridaa`).

Bagi yang berihram, diperbolehkan juga untuk memakai sandal yang

tidak menutupi dua mata kaki (tapi, bukan sepatu karena sepatu dijahit dan

menutupi anggota tubuh), dan hendaknya membiarkan kepalanya terbuka.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, Rasulullah

berangkat setelah menyisir rambutnya dan meminyakinya, memakai kain

dan selendang. Demikianlah, beliau dan para sahabatnya berihram.133

Adapun wanita, maka ia boleh memakai pakaian biasa yang


memenuhi ketentuan syariat (dijahit dan menutupi badan), tetapi
wajib membuka wajah dan dua telapak tangan. Demikianlah cara
ihramnya wanita.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Dan hendaknya

setelah itu dia memakai macam-macam pakaian yang dia sukai.134

133 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


134 Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan menurutnya hadits ini shahih.
Rasulullah juga bersabda, Janganlah wanita yang sedang ihram

memakai cadar dan sarung tangan.135

Aisyah Radhiyallahu Anha bercerita bahwa Nabi memberikan rukshah

kepada para wanita untuk memakai dua sepatu.136

Dalam memilih kain ihram, disunnatkan untuk memakai pakaian putih

dan hukumnya makruh apabila memakai warna selainnya. Artinya, orang

yang memakainya akan diberi pahala dan kalaupun memakai warna lain,

tidak berdosa.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Pakailah pakaianmu yang

berwarna putih, karena ia sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah orang-

orang yang meninggal dunia dengannya.137

Hikmah dari memakai pakaia ihram ini, adalah guna melepaskan diri

dari semua perhiasan dunia, mengingat kematian dan menghadap Allah Azza

wa Jalla dengan penuh kekhsyuan dan kehinaan.

Jika orang sakit tidak bisa memakai pakaian ihram, dibolehkan baginya

untuk memakai pakaian yang dijahit dan menutupi badannya, misalnya,

untuk menjaga dirinya dari udara dingin, atau karena rentan terkena

penyakit, atau karena sebab lainnya. Akan tetapi, diwajibkan baginya untuk

membayar dam. Jika ia melakukannya, akan mendapat pahala dan berdosa

jika meninggalkannya. Dam ini, merupakan denda karena menyalahi aturan

umum haji, yang bercirikan kekhusyuan, kehinaan diri dan pemenuhan

perintah Allah, sebagaimana yang Allah firmankan, Jika ada di antaramu

yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah

atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.

Cara membayar fidyah adalah dengan memilih salah satu dari


tiga macam pilihan, sesuai dengan situasi dan kondisi si sakit
serta kemampuannya:
4- Menyembelih domba yang berumur lebih dari satu tahun, (menurut

sebagian ulama, enam bulan atau lebih) Jika dia menyembelih

kambing, maka harus yang berumur dua tahun lebih. Menurut

sebagian, enam bulan lebih.

135 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari


136 Diriwayatkan oleh Abu Dawud
137 Diriwayatkan oleh Abu Dawud
5- Puasa tiga hari berturut-turut atau terpisah-pisah ketika haji atau

sesudah pulang ke negerinya.

6- Memberi makan enam puluh orang miskin, setiap orang mendapatkan

setengah sha makanan, atau dua mud. Satu mud sama dengan satu

cedukan dengan dua telapak tangan laki-laki dewasa yang

pertengehan. (Ingat! fidyah orang sakit yang tidak bisa berpuasa

ukurannya satu mud atau seperempat sha, bukan dua mud).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah merinci hal itu ketika

beliau berkata kepada orang yang terkena penyakit di kepalanya (kutu),

ketika dia sedang ihram, pada saat perdamaian Hudaibiyah, Apakah kutu

telah menyakiti kepalamu? Orang itu berkata, Ya. Nabi bersabda,

Cukurlah, kemudian potonglah kambing sebagai kurban, atau puasa tiga

hari, atau memberi makanan sebanyak tiga sha kurma kepada enam orang

miskin.138

Menurut Ulama Hanafiyyah dibolehkan mengeluarkan harga fidyah

berupa uang.

Bagi yang tidak mampu membayar fidyah (karena kefakiran atau sebab

lain), maka dia berhutang kepada Allah hingga dia mampu membayarnya.

Apabila dia tetap tidak mampu, gugurlah kewajiban darinya dan hendaknya

dia memohon ampun kepada Allah Taala.

c. Shalat dua rakaat,

Hukumnya sunnat. Bagi yang mengerjakannya diberi pahala, dan yang

tidak mengerjakannya tidak berdosa sekalipun sengaja. Shalat dua rakaat

ini, hendaknya dilakukan bukan pada waktu-waktu yang diharamkan shalat,

dan diniatkan sebagai shalat sunnat ihram.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, Nabi Shallallahu

Alaihi wa Sallam shalat dua rakaat di Dzul Hulaifah.139

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa diperbolehkan untuk

mengerjakanya pada waktu yang dimakruhkan shalat, karena ia merupakan

shalat yang memiliki sebab khusus.

138 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim


139 Diriwayatkan oleh Muslim
Pada rakaat pertama. disunnatkan untuk membaca surat Al-Kafirun

dan pada rakaat kedua, membaca surat Al-Ikhlash.

Shalat ini dapat tercukupi oleh shalat wajib mana saja, sebagaimana

shalat wajib dapat menggantikan shalat tahiyatul masjid.

Tempat-tempat Melakukan Ihram (Miqat Makani).

Rasulullah telah menetapkan beberapa tempat di sekitar kota Mekkah

dari berbagai arah yang berbeda, dimana tidak dibenarkan bagi seseorang

yang datang untuk menunaikan ibadah haji atau umrah dari mana saja dia

berasal untuk melewati tempat-tempat tersebut kecuali dalam keadaan

ihram. Bagi orang yang jalannya tidak melewati tempat miqat, maka

hendaknya dia ihram di wilayah yang terdekat dengan tempat miqat

tersebut.

Ibnu Abbas bercerita bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

menetapkan Dzul Hulaifah sebagai tempat miqat penduduk Madinah, Juhfah

untuk penduduk Syam, Qarnul Manazil untuk penduduk Najd dan Yalamlam

untuk penduduk Yaman.140

Bagi orang sakit, diperbolehka untuk melakukan ihram sebelum tempat

tersebut, jika hal itu perlu baginya. Adapun bagi orang sehat, maka

hukumnya makruh. Artinya, orang itu akan diberi pahala jika dia konsisten

untuk melakukan ihram pada tempat-tempat yang telah ditentukan, dan

kalaupun ia telah melakukan ihram sebelumnya, maka ia tidak berdosa.

Begitu juga, hajinya tidak batal dan tidak ada kewajiban baginya untuk

menyembelih kurban.

Hal ini berlandaskan kepada pilihan kata Ibnu Abbas Radhiyallahu

Anhma, ketika menceritakan bagaimana nabi menetapkan miqat-miqat bagi

ihram, yakti kata waqqata yang menuntut tidak adanya tambahan atau

pengurangan dari tempat ihram yang telah ditetapkan.

Adapun jika orang sakit atau orang sehat melewati tempat ihram

dalam keadaan tidak ihram, maka wajib baginya untuk kembali dan ihram di

tempat miqat.

140 Bagian dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Jika dia tidak kembali dan melewati miqat dalam keadaan tidak ihram,

baik karena lupa, atau tidak tahu atau sengaja atau karena ada halangan,

maka menurut Jumhur ulama, dia wajib menyembelih domba setelah selesai

haji atau umrah, dengan tetap mendapat dosa bagi orang yang

melakukannya dengan sengaja, dan tidak berdosa jika melakukannya karena

lupa, tidak tahu atau karena ada halangan, kecuali jika mampu kembali, lalu

tidak kembali, maka dia berdosa.

Sebab diwajibkannya menyembelih, adalah dikarenakan ihram dari

miqat yang telah ditentukan adalah termasuk kewajiban haji, yang kalau

ditinggalkan tidak membatalkan haji, namun harus menggantinya dengan

membayar dam (menyembelih), dan tidak berdosa kecuali jika

meninggalkannya dengan sengaja. Hal ini tidak sama dengan rukun haji,

seperti wukuf di Arafah, yang apabila ditinggalkan, maka hajinya batal dan

tidak bisa diganti dengan dam.

Barangsiapa yang tidak mampu menyembelih, maka dia wajib


berpuasa sepuluh hari.
Adapun apabila seseorang memasuki kota Mekkah bukan untuk

menunaikan haji dan umrah (misalnya, untuk berdagang atau bekeja), maka

menurut Jumhur ulama, dia wajib melakukan ihram di tempat-tempat ihram

(miqat) yang telah disebutkan. Jika tidak melakukannya dia berdosa dan

harus menyembelih seekor domba.

Hal ini berlaku bagi orang yang tinggal di luar kota Mekkah. Adapun

bagi orang yang tinggal di dalam kota Mekkah dan hendak memasukinya,

maka dia tidak diperintahkan untuk melakukan ihram, guna menghindarkan

kesulitan.

Sedang menurut pendapat ulama yang lain, dibolehkan masuk kota

Mekkah bagi orang yang tidak menunaikan haji dan umrah tanpa melakukan

ihram. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri, pernah memasukinya

dengan memakai sorban hitam, tanpa melakukan ihram.141

Bagi orang non-muslim dilarang untuk memasuki wilayah ini atau

melewatinya demi menjaga kesuciannya.


141 Diriwayatkan oleh Muslim
Perkara-perkara Yang Diharamkan bagi Orang Yang Sedang Ihram dan
Pengecualian bagi Orang Sakit.
A. Bersenang-senang dan bermewah-mewah (at-taraffuh):

Berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Yang termasuk kategori

bersenang-senang, diantaranya, memakai wangi-wangian, memotong atau

mencukur rambut, memotong kuku, memakai pakaian yang dijahit dan

menutupi badan (untuk laki-laki saja). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

bersabda, Orang yang sedang ihram tidak boleh memakai kemeja, sorban,

mantel, celana, baju yang menyentuh waras dan zafaran, dua sepatu kecuali

jika tidak mendapatkan sandal, maka potonglah sampai bawah dua mata

kaki.142

Waras adalah tumbuhan yang memiliki bau yang wangi, digunakan

untuk mencelup.

Berbagai hal yang menyenangkan dan menandakan kemewahan, yang

menyebabkan dosa dan wajib dikeluarkan fidyahnya adalah bersenang-

senang yang dilakukan tanpa ada alasan. Adapun pemakaian ikat pinggang

-sekalipun dijahit- yang dililitkan pada kain yang digunakkan sebagai tempat

untuk menyimpan uang, begitu juga cincin dan jam tangan, tidak apa-apa

dipakai dan tidak menyebabkan keharusan membayar fidyah, juga tidak

menyebabkan dosa. Karena tanpa ikat pinggang ini, aurat bisa tersingkap

atau uang bisa hilang. Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, Tidak apa-

apa memakai ikat pinggang tempat menyimpan uang dan cincin bagi orang

yang ihram.143

Bagi orang yang sakit diperbolehkan untuk melakukan berbagai macam

kesenangan berikut, tanpa menyebabkan dosa, tetapi wajib membayar

fidyah menurut sebagian ulama, dalam suatu keadaan, dan tidak wajib dalam

keadaan yang lain, sebagaimana akan dijelaskan berikut ini:

a.Mengobati Luka.
Imam Malik berkata, Tidak apa-apa bagi orang yang sedang
ihram untuk mencungkil bisul, mengikat luka, menahan keringat
jika diperlukan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
sendiri, berbekam ketika beliau sedang ihram.144Berbekam adalah

142 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


143 Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi.
144 Diriwayatkan oleh perawi yang tujuh.
mengambil darah dari tubuh dan diqiyaskan kepadanya semua luka,
dan sejenisnya.
Ketika melakukan pengobatan ini, jika tidak ada pemotongan rambut,

maka tidak diwajibkan membayar fidyah. Namun jika sebagian rambut

dipotong, menurut sebagian ulama, tidak diwajibkan membayar fidyah,

karena potongan masuk dalam luka yang tidak bisa dilakukan tanpanya. Dan

sebagian lain berpendapat, wajib membayar fidyah berdasarkan keumuman

ayat, Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu

ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau

bersedekah atau berkorban. tetapi tidak ada dosa baginya karena

kondisinya darurat.

b. Memotong rambut atau rambut yang jatuh:


Menghilangkan sehelai rambut atau lebih dari mata karena

mengganggu dan menyebabkan rasa sakit,, (Menurut Ulama Malikiyyah,

wajib membayar fidyah) atau rambut kepala dan bulu badan yang jatuh

dengan sendirinya, atau kulit lecet yang ada rambutnya, semuanya tidak

mewajibkan pembayaran fidyah.

Akan tetapi apabila seseorang menyisir rambutnya, maka hukumnya

makruh, jika diyakini akan menyebabkan jatuhnya sebagian rambut. Dan

kalaupun ada yang jatuh, maka ia tidak diwajibkan membayar fidyah, selama

sisirannya dilakukan dengan lembut.

Adapun jika sengaja menyisir rambut dengan cara yang tidak lembut,

serta meyakini dengan cara tersebut rambutnya akan lepas, maka hukumnya

haram, yakni berdosa jika dilakukan dan diberi pahala jika ditinggalkan.

Disamping itu, ia diwajibkan membayar fidyah,

c. Menggunting kuku:
Menghilangkan kuku yang pecah yang masuk ke dalam jari dan

menyebabkan rasa sakit, atau memotong kuku yang berpenyakit, tidak

mewajibkan pembayaran fidyah.

Adapun memotong kuku untuk mengobati luka yang ada pada kulit jari,

maka menurut suatu pendapat tidak mewajibkan fidyah. Sedang menurut

pendapat yang lain, mewajibkan fidyah.


d. Menggaruk Kulit, Mengolesinya dengan Obat atau Pencuci dan
lainnya
Aisyah Radhiyallahu Anha ditanya tentang orang yang ihram, lalu

menggaruk kulitnya? Dia menjawab, Ya, boleh. Garuklah dengan kuat.

Maksudnya, hingga rasa gatalnya hilang. Namun perlu diperhatikan, jangan

sampai menyebabkan lepasnya bulu. Karena jika lepas, ia wajib membayar

fidyah.

Imam Ibnu Mundzir berkata tentang mengolesi kulit, misalnya dengan

minyak ikan, krim dan lain-lain dari jenis minyak yang tidak memiliki bau,

atau dengan obat, baik yang memiliki bau maupun tidak. Dia berkata lagi,

Para ulama bersepakat bahwa orang yang sedang ihram boleh

menggunakan minyak.

e. Menaungi Tubuh dengan Payung, Kemah atau yang Lainnya, dan


Menutup Wajah (Juga untuk orang yang sehat).
Hal tersebut boleh dilakukan, untuk melindungi badan dari terik panas

matahari, atau angin dingin, atau debu jalanan dan sebagainya.

Dari Umu Hushain Radhiyallahu Anha, dia berkata, Aku menunaikan

haji bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, pada haji Wada. Aku

melihat Usamah bin Zaid dan Bilal, salah seorang dari mereka mengambil tali

kekang unta Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan yang lain mengangkat

bajunya untuk menaunginya dari panas terik matahari, hingga beliau

melempar Jumrah Aqabah.145

Dari Mujahid seorang Tabiin dia berkata, Jika angin bertiup

kencang, mereka menutup wajah mereka, sementara mereka sedang dalam

keadaan ihram.

f. Memakai Obat Tetes Mata, Celak, tetes hidung, telinga, obat


semprot pelega nafas dan yang sejenisnya.
Semuanya boleh dilakukan, termasuk bagi orang yang sehat.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, Orang yang

sedang ihram dibolehkan memakai celak dengan jenis apa pun, baik ketika

sakit mata selama tidak bercelak dengan minyak wangi maupun tidak.

Jika bercelak untuk berhias, maka hukumnya makruh. Yakni, diberi

pahala yang meninggalkannya dan tidak berdosa yang melakukannya. Hal itu

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


145 Diriwayatkan oleh Muslim.
dikarenakan bertentangan dengan semangat berlepas diri dari seluruh

perhiasan dunia yang menjadi ruhnya haji. Akan tetapi, kalaupun dilakukan,

tidak wajib membayar fidyah.

g. Menghirup Obat, Parfum dan Sejenisnya.


Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, Orang yang

sedang ihram dibolehkan mencium bunga, melihat cermin dan berobat

dengan memakan minyak dan keju.146

Menurut madzhab Hanafi dan Maliki, dimakruhkan tinggal di tempat

yang berbau parfum, baik bertujuan untuk menciumnya maupun tidak.

h. Mandi
Boleh dilakukan, termasuk bagi orang yang sehat, baik mandi wajib

seperti mandi junub, atau mandi sunnat seperti mandi Jumat atau mandi

untuk membersihkan badan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu

Ayyub Radhiyallahu Anhu, disirami kepalanya dengan air, lalu dia menggosok

kepalanya dengan tangannya. Menghadapkan kedua tangan ke depan dan

menariknya kebelakang, kemudian berkata, Beginilah saya melihat

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukannya.147Perlu diperhatikan

kelembutan dalam menggosok kepala dan kulit, hingga tidak membuat

rambut berjatuhan> Jika jatuh dengan sendirinya, maka tidak apa-apa

baginya. Adapun, jika jatuh akibat gosokan yang keras, wajib baginya

membayar fidyah. Oleh karena itu Imam Malik memakruhkan mandi bagi

orang yang sedang ihram kecuali karena junub.

i. Mencuci Kain dan Baju (juga bagi orang sehat):


Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Dibolehkan bagi orang yang

sedang ihram untuk mandi dan mencuci pakaiannya, baik untuk kebersihan

maupun untuk menghilangkan najis, seperti air kencing, tinja, darah atau

yang lainnya. Jika tidak mampu menghilangkannya, maka ia boleh thawaf

dengan memakai kain tersebut. Thawaf dan shalatnya sah, dan tidak ada

kewajiban untuk mengulangi shalatnya.

j. Melihat Cermin

146 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


147 Diriwayatkan oleh Jamaah, kecuali At-Tirmidzi.
Dibolehkan bagi orang yang ihram untuk melihat cermin dan yang

semisalnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Umar

Radhiyallahu Anhuma.

k. Bersenang-senang karena lupa atau tidak tahu tentang


Keharamannya
Adakalanya orang sakit bersenang-senang dengan beberapa hal yang

tidak dihalalkan baginya seperti memotong rambut, kuku, memakai

parfum, memakai baju yang dijahit dan menutupi badannya karena tidak

tahu bahwa hal tersebut diharamkan atau karena lupa, misalnya, ia berada di

bawah pengaruh obat bius, atau sakit yang menahun, atau kerena ketuannya

dan sebagainya. Dalam kondisi seperti ini dan semisalnya, maka tidak ada

kewajiban fidyah dan tidak ada dosa baginya. Demikianlah menurut Imam

Syafii dan Ibnu Hazm.

Atha berkata, Jika dia memakai minyak wangi atau memakai pakaian

berjahit karena lupa atau ketidaktahuan, maka tidak ada kafarat

baginya.

Menurut madzhab Maliki dan Hanafi, wajib membayar fidyah karena

kesucian haji dan kekhususannya tercapai dengan menjauhkan diri dari

semua yang berkaitan dengan kesenangan duniawi. Meski demkian, tidak

ada dosa atasnya. (Hukum ini juga berlaku bagi orang sehat).

l. Jual Beli dan Muamalah Harta.


Adakalanya orang sakit perlu untuk membeli obat atau makanan dan

lain sebagainya. Maka hal ini adalah sesuatu yang mubah dan tidak ada dosa

baginya, bahkan dibolehkan bagi orang sakit juga orang sehat untuk

berdagang dan mencari penghasilan, menyewa atau menyewakan sambil

menunaikan amalan-amalan haji.

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, bercerita bahwa para sahabat di masa

awal-awal diwajibkannya haji, melakukan jual beli di Mina, Arafah dan pasar

Dzul Majaz pada musim-musim haji, lalu mereka mengkhawatirnya jual beli

sementara mereka berada dalam keadaan ihram, 148 Allah Subhanahu wa

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


148 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Taala pun menurunkan ayat, Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki

hasil perniagaan) dari Tuhanmu. (Al-Baqarah: 198)

B. Bersetubuh.. mengeluarkan mani, mencium, menyentuh dan

melihat wanita

a. Keluar madzi dan mani tanpa diiringi syahwat, atau karena

sakit dan yang lainnya:

Hal ini, tidak menyebabkan dosa, karena hal itu terjadi di luar keinginannya.

b. Keluar madzi dan mani dengan syahwat hanya karena semata-

mata berpikir tentang hal-hal yang merangsang atau bermimpi

saat tidur:

Hal ini, tidak menyebabkan dosa. Kondisinya persis seperti keluar mani

saat berpuasa yang tidak membatalkan puasa.

c. Mengeluarkan mani (sengaja mengeluarkan mani dengan

tangan atau yang lainnya), melihat dengan syahwat, mencium

dengan syahwat, menyentuh dengan syahwat, menyebutkan

masalah wanita dengan kata-kata yang jorok:

Semua ini tidak membatalkan haji. Akan tetapi menyebabkan dosa

(hendaknya ia menyesali tindakannya dan memohon ampun kepada Allah,

serta bertekad untuk tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut) dan

diwajibkan membayar fidyah, sebagai hukuman atas pelanggaran-

pelanggaran haji yang dilakukannya, dimana haji seharusnya dijalani dengan

penuh kekhusyuan dan kehinaan.

Menurut ulama Syafiiyyah, apabila melihal lalu mengeluarkan mani

dengan hanya semata-mata melihat, maka tidak ada apa-apa atasnya.

Sedangkan jika melihat dengan lama hingga mengeluarkan mani, maka

diwajibkan atasnya sebagaimana yang disebutkan di atas, yaitu membayar

fidyah dan ia berdosa.

d. Jima:

Yaitu, memasukkan ujung kemaluan laki-laki (kepala kemaluan) ke

dalam kemaluan wanita, baik mengeluarkan mani maupun tidak.


Jika menggauli istrinya sebelum wukuf di Arafah, maka batallah hajinya

dan dia wajib membayar kafarat. Allah Taala berfirman, Maka tidak boleh

rafats (jima), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa

mengerjakan haji. (Al-Baqarah: 197)

Kepada orang yang melaksanakan haji dan batal hajinya, maka wajib

baginya untuk menyempurnakan amalan-amalan haji dalam keadaan ihram,

sebagai penghormatan atas kesucian tanah suci, kemudian mengqadha haji

di masa yang akan datang, saat dia memiliki kemampuan, sekalipun haji

yang dilaksanakannya adalah haji sunnat, sebagai hukuman atasnya. Jika

tidak mengqadhanya padahal dia mampu melaksanakannya, maka ia

berdosa.

Yang dimaksud dengan kafarat adalah hukuman karena buruknya dosa

yang dilakukan, yaitu dengan menyembelih seekor unta yang umurnya lima

tahun. Inilah yang difatwakan oleh Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Umar dan Ibnu

Umar Radhiyallahu Anhum Ajmain.

Jika tidak mampu menyembelih unta, maka boleh menyembelih sapi.

Jika tidak mampu, maka boleh menyembelih tujuh ekor kambing. Jika tidak

mampu juga, maka taksirlah harga unta, lalu dengan uangnya belikan

makanan, lalu sedekahkan. Jika tidak mampu juga, maka berpuasalah selama

sepuluh hari.

Jika ia menggauli istrinya sesudah wukuf di Arafah, sebelum melempar

Jumrah Aqabah dan mencukur rambut (atau memotongnya), maka batallah

hajinya dan dia wajib membayar kafarat sama dengan yang disebutkan di

atas.

Tetapi menurut Ulama Hanafi, tidak batal hajinya, karena dia telah

menyelesaikan rukun haji yang paling penting, yaitu wukuf di Arafah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Haji adalah Arafah.

Jika menggauli istrinya dan lupa bahwa dia sedang ihram, atau tidak

mengetahui keharaman perbuatan tersebut, sebagaimana yang terjadi pada

sebagian orang sakit yang berada di bawah pengaruh obat yang

mengandung narkotik, atau sakit yang menahun dan yang semisalnya, maka
hukumnya adalah sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu hajinya batal

dan wajib membayar kafarat. Demikian itu, karena kesucian haji dan

kekhususannya, tetapi dia tidak berdosa berbeda dengan orang yang

melakukannya secara sengaja.

Seorang istri, jika digauli dalam keadaan dipaksa atau dia sedang tidur,

maka hajinya tidak batal dan tidak ada kewajiban kafarat atasnya.

Sedangkan jika dia rela dan mengetahui keharamannya, maka batallah

hajinya dan wajib membayar kafarat sebagaimana yang telah disebutkan.

Demikianlah menurut kebanyakan ulama. Tetapi menurut Imam Syafii,

kafarat tidak wajib kecuali kepada laki-laki saja, baik istrinya merasa senang

maupun tidak. Demikian itu sebagaimana pendapat beliau dalam kafarat

orang yang menggauli istrinya di siang hari di bulan Ramadhan, karena

hadits yang berkenaan dengan hal itu hanya mewajibkan kafarat kepada laki-

laki dengan tidak menyebutkan wanita.

Orang yang menggauli istrinya setelah melempar Jumrah Aqabah dan

sebelum thawaf Ifadhah, tidak batal hajinya, tetapi dia wajib menyembelih

unta. Menurut pendapat lain, wajib menyembelih seekor domba.

Barangsiapa yang menggauli istrinya lebih dari satu kali, maka

menurut Imam Malik tidak ada kewajiban apa-apa pada jima yang kedua,

karena sekarang dia tidak sedang melakukan haji lagi. Hajinya telah rusak

oleh jima yang pertama.

Ada juga yang berpendapat, bahwa dia wajib menyembelih seekor

domba sebagai hukuman untuk jima yang kedua.

Bagi yang menggabung antara haji dan umrah (haji qiran), dia wajib

menyembelih seekor unta sebagai kafaraf jima disamping wajib

menyembelih seekor domba karena penggabungan antara niat haji dan

umrahnya.

Bagi yang berniat ihram untuk umrah lalu menggauli istrinya sebelum

thawaf, maka batallah thawafnya, maka dia wajib mengulanginya dan

menyembelih seekor domba yang umurnya satu tahun.


Jika orang yang sedang ihram diperintahkan untuk melakukan akad

nikah, maka akad nikahnya tidak sah, karena hal itu bertentangan dengan

makna ihram, baik akad untuk dirinya sendiri atau mewakili orang lain.

Namun, dia tidak wajib membayar fidyah, karena akadnya batal dan tidak

melahirkan implikasi-implikasi syariat.

C. Berburu Binatang Darat:

Diharamkan memburu binatang darat, baik berupa bintang melata

maupun burung, atau membantu perburuannya. Apa yang diharamkan

memburunya, haram pula memakannya. Sedangkan berburu binatang laut

tidak ada dosa baginya. Allah Taala berfirman, Dihalalkan bagimu binatang

buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang

lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan

atasmu (manangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan

bertaqwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

(Al-Maidah: 96)

a. Jika berburu dengan sengaja dan mengetahui keharamannya, maka dia

wajib membayar kafarat atas dosanya dengan memilih salah satu

kafarat berikut ini:

7- Dia harus menyembelih seperti binatang yang diburunya,

dipersembahkan sebagai hadiah bagi orang-orang miskin yang tinggal di

tanah haram. Jika tidak mendapatkan binatang yang sejenisnya, maka

hendaknya dua orang laki-laki yang adil menetapkan pengganti lain

yang harus disembelih, sesuai dengan harga binatang yang

disembelihnya.

8- Menaksir harga binatang sembelihan dan memberikannya kepada

orang-orang miskin.

9- Berpuasa yang sebanding dengah hal itu.

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, ketika menjelaskan secara

terperinci mengenai maksud dari firman Allah Taala, Maka dendanya ialah

mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang

dibunuhnya, Jika orang yang sedang ihram mendapatkan binatang buruan,


maka dihukum untuk mengganti dengan yang semisalnya. Jika dia memiliki

binatang yang sama, maka disembelih dan dagingnya disedekahkan. Jika

tidak ada binatang yang sepadan, maka binatang diukur dengan harga

dirham. Kemudian dirham tersebut dibelikan makanan, lalu dia berpuasa

untuk setengah sha satu hari. Jika orang yang sedang ihram membunuh

binatang buruan, dia dihukum dengan mendatangkan binatang yang

sejenisnya. Jika dia membunuh kijang, maka wajib baginya menghadirkan

domba, lalu disembelih di Mekkah. Jika tidak mendapatkan, maka hendaknya

dia memberi makan enam orang miskin. Jika tidak mendapatkan maka

berpuasalah tiga hari. Jika membunuh rusa atau yang semisalnya, maka dia

wajib membayar denda berupa sapi. Jika tidak mendapatkannya, maka dia

wajib memberikan makanan dua puluh orang miskin, dan jika tidak

mendapatkannya, maka wajib baginya berpuasa dua puluh hari. Jika dia

membunuh sapi atau keledai liar atau yang semisalnya, maka wajib baginya

menyembelih seekor unta. Jika tidak mendapatkannya, wajib baginya

memberi makan tiga puluh orang miskin dan jika tidak mendapatkannya,

maka wajib berpuasa selama tiga puluh hari.

Tiga pilihan kafarat ini disebutkan dilam firman Allah Taala berikut ini,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang

buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu

membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan

binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut

putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-ya yang dibawa

sampai ke Ka'bah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi

makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang

dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya.

Allah telah mema'afkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali

mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi

mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. (Al-Maidah: 95)

Dibolehkan bahkan disunnatkan bagi orang sakit (atau orang sehat)

untuk membunuh semua binatang yang menyakitinya, dan hal itu tidak
termasuk dalam kategori berburu, seperti membunuh lalat, nyamuk, kutu

busuk, kutu dan sebagainya. Atau membunuh ular, kalajengking, tikus, anjing

gila, singa, macan dan yang lainnya.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, Lima jenis dari

binatang melata, yang semuanya jahat dan tidak ada dosa untuk

membunuhnya: kalajengking, gagak, bunglon, tikus dan anjing gila. 149

Membunuh hewan, burung dan serangga yang berbahaya tidak termasuk

berburu yang diharamkan saat ihram, karena tujuannya adalah untuk

menghilangkan bahayanya.

b. Jika berburu karena lupa bahwa dia sedang ihram, atau tidak

mengetahui keharaman berburu bagi orang yang sedang ihram, seperti

orang menderita penyakit sering lupa, lemah ingatan karena pengaruh

obat atau ketuaan atau sebab lainnya.

Menurut Jumhur ulama, wajib melakukan hal-hal yang telah disebutkan

di atas dengan memilih tiga pilihan kafarat tetapi tidak berdosa, karena

dia telah membinasakan harta, maka wajib menggantinya secara penuh

sebagaimana kalau dia membinasakan harta seseorang, dia wajib

menggantinya dengan harga yang sepadan, baik melakukannya karena lupa

maupun karena tidak tahu. Karena hal itu merupakan hak masyarakat.

Adapun hak Allah Taala, maka tidak dipandang berdosa jika dilakukan

karena lupa atau karena tidak tahu. Namun orang yang tidak tahu pun bisa

terkena dosa karena ketidaan usaha untuk mencari ilmu.

D. Fasik dan Buruk Akhlak

Perbuatan ini dilarang di tempat mana pun, lelbih-lebih di


tempat suci dan saat sedang melaksanakan ihram. Allah Taala
berfirman, Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan
kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya
sebahagian siksa yang pedih. (Al-Hajj: 25)
Mujahid berkata, Dosa maksiat yang dilakukan di Mekkah akan
dilipat gandakan, sebagaimana dilipat gandakannya kebaikan.
Beberapa catatan tentang penyembelihan:
1. Waktu menyembelih:

149 Diriwayatkan oleh Muslim.


Menyembelih secara umum (baik fardhu maupun sunnat) dilakukan

pada hari raya Idul Adha setelah shalat dan pada hari-hari Tasyriq, yaitu

sebelas, dua belas dan tiga belas Dzulhijjah,

Allah Taala berfirman, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan

berkorbanlah. (Al-Kautsar: 2)

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Seluruh hari tasyriq

adalah waktu untuk menyembelih.150

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa siapa yang tidak sempat

menyembelih pada hari tasyriq, dia mengqadhanya kapan saja.

Penyembelihan tetap menjadi tanggung jawabnya, baik yang fardhu maupun

yang sunnat.

Orang yang menyembelih binatang kurban karena mengikuti sunnah

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (agar mendapat pahala meneladani

sunnah), hendaknya menyembelih setelah shalat Id. Jika menyembelihnya

sebelum shalat, maka ia hanya merupakan sedekah, layaknya sedekah-

sedekah yang lain. Dia akan mendapatkan pahala sebesar binatang yang

disembelihnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Barangsiapa yang

shalat seperti shalat kami, dan berkurban seperti kurban kami, maka dia

telah menunaikan kurban. Barangsiapa yang berkurban sebelum shalat,

maka dia adalah domba untuk diambil dagingnya.151

2. Tempat menyembelih:

Menyembelih pada haji dan umrah tidak boleh dilakukan kecuali di

tanah haram, karena maksud syariat ini adalah agar penduduk Mekkah

memperoleh manfaat dari rezeki tersebut pada musim haji, sebagaimana

yang difirmankan Alllah, sebagai had-ya yang dibawa sampai ke Ka'bah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, . . . Setiap lembah

Mekkah adalah jalan dan tempat menyembelih.152

150
Diriwayatkan oleh Ahmad
151 Diriwayatkan oleh Al-Buhari dan Muslim.
152 Bagian dari sebuah hadits yang diriwaytkan oleh Abu Dawud.
Adapun menyembelih kurban pada hari raya Idul Adha adalah sunnat

muakkad bagi orang yang mampu. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

bersabda, Tidak ada amal yang dilaksanakan oleh anak Adam pada hari

penyembelihan yang lebih dicintai Allah daripada menumpahkan darah. 153

Berdasarkan ini, setiap orang hedaknya menyembelih di tempat dia

tinggal, jika ia sedang tidak menunaikan haji, sebagai ungkapan syukur

kepada Allah Taala atas nikmat-Nya yang agung dan untuk merealisasikan

solidaritas di antara sesama anggota masyarakat.

3. Pendistribusian daging kurban:


Sembelihan yang wajib, seperti sembelihan haji qiran, tamattu, nadzar

dan kafarat, menurut sebuah pendapat, semuanya dibagikan kepada orang-

orang miskin. Orang yang berkorban tidak boleh sedikit pun memakan

dagingnya.

Sedang menurut pendapat lain, dibolehkan memakannya berdasarkan

keumuman firman Allah Taala, Maka makanlah sebahagian daripadanya

dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara

lagi fakir. (Al-Hajj: 28), kecuali hasil sembelihan kurban nadzar, kafarat,

atau denda binatang buruan atau fidyah karena sakit. Ia tidak boleh

memakan dagingnya, meskipun sedikit.

Adapun sembelihan sunnat baik di tanah haram seperti hadyu,


maupun di negeri-negeri lain seperti binatang kurban, disunnatkan
bagi orang yang menunaikannya juga keluarganya untuk memakan
sepertiga dari dagingnya, menghadiahkan sepertiga untuk karib
kerabatnya dan sepertiganya lagi disedekahkan kepada fakir
miskin.
Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Makanlah,
berikanlah makanan dan simpan.154
Menurut pendapat lain, dibolehkan memakan, menghadiahkan
dan menyedekahkan tanpa dibatasi dengan sepertiga atau ukuran
lainnya. Karena Hadits tidak memberikan batasan sama sekali,
tetapi hanya memandang sunnat untuk menyimpan sebagian daging
kurban di rumah.
Adapun kulit binatang hadyu dan kurban, disunnatkan untuk
disedekahkan atau bersedekah sesuai dengan harganya. Ada juga
yang berpendapat, boleh dimanfaatkan.
4. Berserikat dalam menyembelih seekor binatang Kurban.
Dibolehkan bagi tujuh orang untuk berserikat dalam
menyembelih seekor unta atau sapi, sebagai ganti dari seekor
kambing yang dikurbankan secara sendiri-sendiri, baik sembelihan
wajib maupun yang sunnat, atau sebagian menyembelih dalam rangka
taqarrub kepada Allah dan sebagian yang lain menyembelih untuk
diambil dagingnya.
153 Bagian dari hadist yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini shahih.
154 Bagian dari hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Kami menunaikan
haji bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka tujuh
orang dari kami menyembelih seekor unta dan tujuh orang dari kami
menyembelih seekor sapi.155
Dalam berkurban, seekor binatang kurban cukup untuk satu
keluarga. Abu Ayyub Radhiyallahu Anhu berkata, Seorang laki-laki
pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkurban dengan
seekor domba untuk anggota keluarganya.156

5. Memilih binatang kurban:


Tidak gugur kewajiban kurban yang fardhu dari orang yang
terkena kewajiban, juga kurban yang sunnat, kecuali jika binatang
kurbannya memenuhi syarat-syarat berikut ini:
1. Selamat dari cacat. Dia tidak buta sebelah dan tampak
kebutaannya, tidak pincang yang tampak pincangnya, tidak sakit
yang jelas sakitnya, atau kurus (habis sumsumnya karena
kekurusannya). Karena semua kondisi tadi akan menghalingi
binatang untuk makan dengan baik hingga dagingnya menjadi
sedikit.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Empat
macam binatang yang tidak memenuhi syarat untuk kurban: binatang
yang buta sebelah dan nyata kebutaannya, sakit dan nyata
sakitnya, pincang dan nyata kepincanganya, dan yang kurus tidak
menyisakan daging.157
2. Sudah cukup umur. Yaitu kambing atau domba yang berumur
satu tahun atau lebih. (Ada yang mengatakana, domba yang berumur
enam bulan dan tubuhnya gemuk). Sapi atau kerbau yang umurnya dua
tahun atau lebih. Sedangkan unta harus berumur lima tahun atau
lebih.
Jika semua syarat ini sudah terpenuhi, maka disunnatkan
atau diberi pahala siapa yang melakukannnya dan tidak berdosa
yang meninggalkannya untuk memilih yang baik hingga mendapat
pahala lebih, karena ia akan sampai ke tangan Allah sebelum
sampai ke tangan orang-orang fakir. Allah Taala berfirman, Dan
janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari
padanya. (Al-Baqarah: 267)
II. Talbiyyah
Hukum dan bacaan talbiyyah, serta hukum orang yang tidak mampu

melaksanakannya:

Menurut Imam Syafii dan Ahmad, hukum membaca talbiyyah adalah

sunnat. Juga disunnatkan untuk disambungkan dengan ihram. Dengan itu,

orang yang melakukannya akan diberi pahala, dan yang meninggalkannya

tidak berdosa. Bacaan talbiyyah ini tidak membatalkan haji. Ibnu Umar

Radhiyallahu Anhuma menyampaikan bahwa bacaan talbiyyah Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah sebagai berikut Labbaika Allahumma

Labbaika. Labbaika Laa Syariika laka labbaika. Innal Hamda wan Nimata laka

wal mulka, Laa syariika laka (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Tuhan, aku

penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku

155 Diriwayatkan oleh Muslim.


156 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini shahih..
157 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan menurutnya hadits ini hasan-shahih.
penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan nikmat adalah

kepunyaan-Mu, juga kerajaan. Tiada sekutu bagi-Mu).158

Lafadz labbaika, artinya aku datang untuk memenuhi perintah-Mu,

karena cinta kepada-Mu.

Jika orang sakit (atau orang sehat) tidak melakukannya atau melakukan

yang sama dengan kedudukannya seperti tasbih dan sebagainya, maka tidak

apa-apa baginya.

Menurut ulama Hanafi, talbiyyah bisa digantikan oleh tasbih dan

sebagainya. Ia merupakan salah satu syarat ihram. Jika seseorang yang

berhaji meninggalkannya, maka dia harus membayar dam (menyembelih

kurban).

Menurut kebanyakan ulama Malikiyyah, hukum talbiyah adalah wajib.

Orang yang meninggalkannya atau tidak menguhubungkannya dengan

ihram, diharuskan untuk membayar dam.

Waktunya:

Dimulai dari waktu ihram. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa

Sallam bersabda, Wahai keluarga Muhammad, barangsiapa yang

menunaikan haji di antara kalian, maka hendaknya membaca talbiyah saat

hajinya.159

Waktunya berakhir saat mulai melempar jumrah Aqabah pada hari raya

Idul Adha. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu

Alaihi wa Sallam terus menerus membaca talbiyah hingga sampai waktu

melempar jumrah.160

Dalam umrah, waktu membaca talbiyyah berakhir saat memulai

thawaf. Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, menceritakan bahwa Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti dari talbiyyah ketika mencium Hajar

Aswad.161

Selain dalam haji dan umrah, talbiyyah juga disunnahkan


dalam setiap keadaan.

158 Diriwayatkan oleh imam Malik.


159 Diriwayatkan oleh Ahmad.
160 Diriwayatkan oleh Jamaah.
161 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini hasan-shahih.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Jibril Alaihissalam datang

kepadaku dan berkata, Perintahkanlah para sahabatmu untuk meninggikan

suaranya dengan talbiyyah, sesungguhnya ia merupakan syiar haji.162

Adapun bagi wanita secara umum, hukum meninggikan suara baik

untuk talbiyyah maupun yang lainnya adalah makruh (kecuali karena sebab)

atau diberi pahala jika tidak meninggikan suara dan tidak berdosa jika

melakukannya.

III. Thawaf Qudum (Thawaf adalah Tahiyatul Masjidil Haram)


Hukumnya:

Jumhur ulama berpendapat bahwa thawaf qudum hukumnya sunnah.

Orang yang melakukannya diberi pahala dan yang meninggalkannya tidak

berdosa, juga tidak menyebabkan hajinya batal atau kewajiban untuk

membayar fidyah. Muslim meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa

Sallam berthawaf ketika datang ke Mekkah. Kedudukan thawaf qudum ini,

sama dengan tahiyyatul Masjidil Haram. Karenanya, disunnahkan kepada

setiap orang yang memasukinya sekalipun tidak dalam keadaan ihram

untuk masuk dengan kaki kanannya sambil berdoa saat masuk masjid, Aku

berlindung kepada Allah yang Mahaagung dengan wajah-Nya yang mulia,

kekuasaan-Nya yang azali dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah, Ya

Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan

keluarganya. Ya Allah ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu

rahmat-Mu.

Kemudian thawaf di sekeliling Kabah sebagai pengganti dari tahiyatul

masjid, kecuali jika shalat fardhu telah didirikan, maka ketika itu, hendaknya

shalat bersama imam.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Jika shalat telah didirikan,

maka tidak ada shalat kecuali shalat fardhu. 163 Bagi yang merasa tidak

memiliki waktu untuk melaksanakan amalan-amalan haji, tidak disunnahkan

untuk mengerjakan thawaf qudum. Misalnya, kalau ia mengerjakannya akan

162 Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan menurutnya hadits ini shahih.


163 Diriwayatkan oleh Muslim.
menyebabkan dirinya tidak memiliki kesempatan untuk mengerjakan wukuf

di Arafah.

Orang yang tidak mampu thawaf qudum atau Kelelahan atau alasan

lainnya, hendaknya mengganti dengan shalat dua rakaat sebagai tahiyatul

masjid. Jika tidak mampu juga, ia boleh duduk dan membaca wirid berikut

empat kali, Subhanallah, Walhamdulillah, Wa Laa Ilaaha Illa Allah, Wallahu

Akbar. Artinya, Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain

Allah, Allah Mahaagung.

Adapun orang yang melakukan umrah dan haji tamattu, maka thawaf

qudum baginya adalah termasuk salah satu rukun umrah. Dengan itu,

umrahnya batal, jika tidak melakukannya dan tidak bisa digantikan dengan

penyembelihan binatang kurban.

Syarat Sah Thawaf Qudum Dan Kekecualian Bagi Orang Sakit


Agar thawaf tidak batal maka diharuskan memenuhi syarat-syarat

berikut ini:

1. Suci dari hadats kecil, hadats besar, najis, haid, dan nifas.
- Untuk bersuci dari hadats kecil, orang yang berhadats diharuskan

berwudhu.

Jika orang sakit tidak mampu berwudhu, maka ia boleh bertayamum.

- Untuk bersuci dari hadats besar, seperti mengalami junub, orang yang

berhadats diharuskan mandi. Jika tidak mampu mandi, maka boleh

bertayamum.

Barangsiapa yang berhadats terus menerus (misalnya, yang terus-

terusan mengeluarkan kencing, madzi, mani, darah wasir, nashur dan lain-

lain atau selalu keluar angin, tinja dan yang lainnya atau istihadhah), maka ia

bisa berwudhu lalu thawaf. Thawafnya dianggap sah sekalipun ada yang

keluar darinya. Ia juga tidak diwajibkan membayar fidyah berdasarkan ijma

ulama, karena merupakan orang yang memiliki halangan yang shalatnya

dipandang sah. Karenanya, thawafnya juga sah.

Di antara benda-benda najis adalah darah, kencing, tinja dan lain-lain.


Jika orang sakit tidak mampu menghilangkan najis, maka ia boleh

berthawaf dengan najis tersebut dan thawafnya sah serta tidak wajib

mengulang. Karena thawaf adalah seperti shalat, hanya saja dalam thawaf

dibolehkan berbicara dan menggerakkan badan. Berdasarkan ini, syarat yang

sama diterapkan kepada thawaf seperti yang diterapkan kepada shalat agar

sah. Bagi yang berhalangan, dibolehkan apa yang dibolehkan dalam shalat.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Thawaf adalah shalat, kecuali

Allah menghalalkan berbicara padanya. Barangsiapa berbicara, maka jangan

berbicara kecuali yang baik.164

- Dari haid dan nifas: Jika thawafnya merupakan thawaf


sunnah, seperti thawaf qudum, atau biasa melalukan thawaf sunnah
setiap masuk masjidil Haram, maka jika wanita haid atau nifas
tersebut tetap melakukan thawaf, tahwafnya tidak saha dan
berdosa, sebagaimana jika ia melaksanakan shalat.
Jika thawafnya merupakan rukun, dimana hajinya menjadi tidak sah

karena tidak thawaf, seperti thawaf Ifadhah setelah selesai wukuf di Arafah,

atau thawaf umrah atau thawaf haji tamattu, maka ia boleh mengambil

salah satu pendapat berikut ini:

1. Menunggu hingga suci kemudian thawaf, atau dia menunaikan


semua amalan-amalan haji yang lain yang tidak disyaratkan suci
dari haid dan nifas, serta menangguhkan thawaf hingga dia suci.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Aisyah Radhiyallahu

Anha ketika dia haid Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang telah Allah

tetapkan untuk anak perempuan Adam. Lakukanlah seperti yang dilakukan

oleh orang yang berhaji, kecuali kamu jangan thawaf di Kabah hingga kamu

mandi.165

2. Meminum obat yang dapat menghentikan haid, atau menahan dan

menangguhkannya, sebelum datang haid. Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu

ditanya tentang seorang wanita yang membeli obat untuk menghentikan

haid, maka dia tidak melihat hal itu sebagai masalah. Lantas dia

menceritakan kepada mereka tentang air arak (kayu untus siwak).166

3. Mengambil pendapat ulama Hanafi, yaitu dibolehkan baginya untuk

thawaf ketika dia sedang haid atau nifas, tetapi wajib baginya untuk

164 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan hadits ini menurut Al-Hakim shahih.
165 Diriwayatkan oleh Muslim.
166 Diriwayatkan oleh Said bin Manshur.
menyembelih unta, kemudian mengulanginya lagi setelah dia suci jika dia

masih berada di Mekkah. Jika sudah pergi maka tidak harus mengulang.

Demikian itu, menurut Ulama Hanafi dikarenakan bersuci hukumnya

wajib. Artinya, jika ditinggalkan tidak membatalkan amal, tetapi bisa diganti

dengan penyembelihan binatang, hingga mereka pun membolehkan thawaf

tanpa wudhu bagi yang tidak berhalangan, namun dia wajib menyembelih

seekor domba.

2. Menutup Aurat:
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Abu Bakar Ash-Shidiq, ketika

berhaji sesuai yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

kepadanya sebelum haji Wada, mengutusku untuk menemui orang-orang di

hari penyembelihan dan mengumumkan, Tidak boleh menunaikan haji

setelah tahun ini orang musyrik, dan tidak boleh thawaf dalam keadaan

telanjang.167

Barangsiapa yang auratnya tersingkap oleh angin atau berdesakan

atau yang lainnya lalu dia segera menutupnya, maka tidak ada dosa baginya.

Thawafnya sah, dan hendaknya ia menyempurnakannya.

3. Menyempurnakan Tujuh Keliling

Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Ketika Rasulullah Shallallahu

Alaihi wa Sallam datang ke Mekkah, beliau mendatangi Hajar Aswad lalu

menciumnya, kemudian berjalan di sebelah kanannya. Lalu berlari-lari kecil

sebanyak tiga keliling dan berjalan sebanyak empat keliling.168

Putaran pertama dalam thawaf, harus dimulai dari Hajar Aswad dan

harus berakhir juga padanya.

Dalam thawaf, baik bagi orang sakit, maupun orang sehat, tidak

disyaratkan untuk melakukannya secara terus menerus (al-muwaalah). Bagi

yang merasa kelelahan, dibolehkan untuk istirahat terlebih dahulu, lalu

melanjutkan sisa putaran, sekalipun waktu istirahatnya cukup lama.

Demikian juga yang batal wudhunya saat thawaf. Dia hendaknya pergi

berwudhu terlebih dahulu, kemudian kembali menyempurnakan putaran

167 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


168 Diriwayatkan oleh Muslim.
yang masih tersisa dan tidak perlu memulai lagi dari putaran yang pertama.

Kalau shalat jamaah didirikan atau datang jenazah untuk dishalatkan, maka

shalatlah terlebih dahulu kemudian menyempurnakan sisa putaran thawaf

belum. Demikianlah yang dilakukan setiap datang kepadanya keperluan yang

mendesak. Ia boleh memenuhinya dulu, lalu menyempurnakan thawafnya.

Demikian itu, karena bersambungnya tujuh putaran thawaf adalah sunnah,

yang diberi pahala pelakunya dan tidak berdosa yang meninggalkannya. Juga

tidak menyebabkan batal thawafnya dan tidak mewajibkan fidyah.

Dari Humaid bin Zaid dia berkata, Saya melihat Ibnu Umar

Radhiyallahu Anhuma thawaf di Kabah tiga putaran atau empat putaran,

kemudian istirahat, para budaknya mengipasinya, kemudian dia bangkit dan

melanjutkan sisa putaran yang belum dilakukan.169

Bagi yang memiliki sebab, dibolehkan ntuk thawaf sambil menunggangi

binatang, misalnya, karena sakit atau tua atau sebab yang lainnya. Ibnu

Umar Radhiyallahu Anhma berkata, Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi

wa Sallam thawaf pada haji Wada di atas unta, beliau mengusap ruknul

Yamani dengan tongkat.170 Beliau memberi isyarat ke rukul Yamani dari jauh

karena penuhnya orang yang thawaf.

Cara Thawaf, Sunnah-sunnah thawaf dan kekecualian bagi orang


sakit.
Sunnah-sunnah thawaf adalah amal-amal yang pelakunya diberi

pahala, dan yang tidak melakukannya, tidak berdosa. Juga tidak

membatalkan thawaf, haji dan umrahnya, serta tidak mewajibkan

pembayararan fidyah. Sunnat-sunnat tersebut adalah sebagai berikut:

a. Idhtiba, untuk laki-laki saja.

Jumhur ulama berpendapat bahwa disunnahkan idhtiba sebelum

memulai thawaf, yaitu membuka pundak sebelah kanan dan menjadikan dua

ujung kain di atas pundak yang kiri. Hal itu guna membantu orang yang

berthawaf, ketika berlari-lari kecil, yaitu berjalan cepat dengan langkah yang

pendek sambil mengerakkan dua pundak, pada tiga putaran pertama.

169 Diriwayatkan oleh Said bin Manshur.


170 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Idhtiba tidak disunnahkan kecuali pada thawaf saja. Pada amalan haji

yang lain, idhtiba tidak disunnahkan. Begitu juga untuk para wanita, karena

mereka diperintahkan untuk menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan

telapak tangan.

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata bercerita bahwa Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya melakukan umrah dari

Juranah, mereka melilitkan kain-kain mereka di bawah ketiak mereka, dan

menyelendangkannya di atas pundak yang kiri.171

Jika orang sakit (atau orang sehat) tidak mampu melakukan idhtiba,

karena kedinginan atau kepanasan atau luka atau karena sebab lain, maka

tidak apa-apa baginya, karena pada asalnya hukumnya sunnah, yakni, diberi

pahala orang yang melakukannya. Dan tidak berdosa orang yang

meniggalkannya, juga tidak batal thawafnya.

b. Menghadap Hajar Aswad

Thawaf dimulai dari garis yang ada di lantai tempat thawaf yang sejajar

dengan Hajar Aswad dan berakhir padanya, hal itu diulangi sampai tujuh kali

putaran.

Disunnahkan bagi orang yang berthawaf untuk memulainya dengan

mencium Hajar Aswad jika mampu.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khathab ketika mencium Hajar Aswad

berkata, Saya tahu bahwa kamu hanyalah batu yang tidak memberi

manfaat dan mudaharat. Kalaulah aku tidak melihat Radsulullah menciummu

maka aku pun tidak akan menciummu.

Kaum Muslimin mengetahui bahwa Hajar Aswad tidak memberi

mudharat dan manfaat, tetapi dengan menciumnya, hal itu akan

mengokohkan ketaatan mereka yang sempurna kepada Allah dan Rasul-Nya

yang mulia dalam segala urusan yang kecil ataupun yang besar yang

diperintahkan kepada mereka, sekalipun Dia memerintahkan mereka untuk

mengagungkan batu yang tidak memberi mudharat dan manfaat.

171 Diriwayatkan oleh Ahmad.


Jika orang sakit (orang sehat) tidak mampu menciumnya, maka tidak

apa-apa karena pada hukum asalnya sunnah, yaitu, diberi pahala orang yang

melakukannya dan tidak berdosa orang yang meninggalkannya.

Jika mampu menyentuhnya atau mengusapnya dengan tangan, maka

lakukanlah dengan tangan. Jika tidak mampu, maka hadapkanlah badan ke

arahnya, lalu angkat kedua tangan, sebagaimana ketika mengangkat

keduanya saat takbiratul ikhram dalam shalat, lalu memberikan isyarat

kepadanya sambil berdoa: Bismillahi. Wallahu Akbar. Allahumma Iimaanan

bika, wa tashdiiqan bi kitabika, wa wafaa`an biahdika, wa ittibaan lisunnati

Nabiyyika Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam (Dengan nama Allah,

Allah Yang Mahaagung, Ya Allah atas dasar iman kepada-Mu, membenarkan

kitab-Mu, setia dengan janji-Mu, dan meneladani sunnah Nabi-Mu Muhammad

Shallallahu Alaihi wa Sallam).

Doa ini sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Agar bisa mencium Hajar Aswad, dilarang untuk berdesak-desakan.

Bisa saja orang yang menciumnya akan diberi pahala dalam mengerjakannya

sunnah ini, akan tetapi ia juga bisa berdosa karena meninggalkan yang wajib

yaitu tidak menyakiti kaum Muslimin dan Muslimat, karena menyakiti mereka

hukumnya haram.

Dalam salah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu

Alaihi wa Sallam bersabda kepada Umar bin Khaththab, Wahai Umar

sesungguhnya kamu adalah seorang laki-laki yang kuat, janganlah engkau

berdesakan untuk mencium Hajar Aswad hingga menyakiti orang yang

lemah. Jika kamu mendapatkan suasana lengang maka usaplah dan jika

tidak maka menghadaplah sambil membaca tahlil dan takbir. 172

c. Lari-Lari kecil Untuk Laki-Laki Saja

Yaitu berjalan cepat dengan langkah pendek sambil menggerakkan dua

pundak pada tiga putaran pertama. Tujuannya adalah untuk menampakkan

kekuatan dan kemuliaan kaum Muslimin. Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma

berceria bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berlari-lari kecil dari

172 Diriwayatkan oleh Ahmad.


Hajar Aswad sampai Hajar Aswad sebanyak tiga kali dan berjalan empat

kali.173

Jika orang sakit (orang sehat) tidak mampu berlari kecil karena

kelelahan atau berdesakan atau lanjut usia dan sebagainya, maka ia boleh

berthawaf menurut yang mudah baginya, dan tidak ada dosa baginya,

bahkan diberi pahala atas niatnya karena rintangan yang menghalanginya

berada di luar keinginannya.

d. Dzikir dan Doa

Ketika thawaf disunnahkan untuk banyak berdzikir dan berdoa,

membaca al-Qur`an dengan penuh khusyu dan menghinakan diri di hadapan

Allah Subhanahu wa Taala.

Di antara contoh dzikir ketika thawaf:

Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, Tiada Tuhan selain Allah, Allah

Maha Agung, Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan

Allah.174

Contoh dzikir ketika mengusap Ruknul Yamani:

Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat

dan peliharalah kami dari siksa api neraka.175

Ruknul Yamani adalah sudut yang ada sebelum sudut Hajar Aswad.

Disunnahkan untuk mengusapnya bagi yang mampu, yaitu mengusapnya

dengan tangan karena ia dibangun di atas pondasi yang diletakkan oleh Nabi

Ibrahim Alaihissalam, seperti Hajar Aswad.

Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, Saya tidak melihat Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam mengusap sudut-sudut kabah, kecuali dua sudut

Yamani.176

Bagi yang tidak mampu berdzikir dengan lisannya karena berat pada

lidahnya atau suaranya serak atau yang semisalnya, maka ia boleh berdzikir

dalam hatinya. Jika lupa, maka tidak ada dosa baginya dan thawafnya sah

173 Diriwayatkan oleh Muslim.


174 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah
175 Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
176 Diriwayatkan oleh perawi tujuh, kecuali At-Tirmidzi.
karena dzikir pada asalnya sunnah. Ia akan diberi pahala atas niatnya, karena

kondisi tersebut berada di luar keinginannya.

e. Shalat Dua Rakaat di Maqam Ibrahim

Shalat ini dilakukan setelah selesai melakukan tujuh putaran thawaf.

Maqam Ibrahim adalah tempat Nabi Ibrahim berdiri untuk berdoa kepada

Allah dan membangun rumah-Nya yang mulia.

Jabir Radhiyallahu Anhu bercerita bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa

Sallam ketika datang ke Makkah, dia thawaf tujuh kali, lalu datang ke maqam

dan membacakan ayat, Jadikanlah maqam Ibrahim sebagi tempat shalat.

(Al-Baqarah: 125). Lalu beliau shalat di belakang maqam.177

Jika ia tidak bisa berdiri di antara maqam Ibrahim dan


Kabah karena padat, sakit, lelah atau karena yang lainnya, maka
boleh melakukan shalat dimana saja, asal berada di dalam lingkup
Masjidil Haram.
Dalam shalat dua rakaat tersebut, disunnahkan untuk membaca Surah

Al-Kafirun pada rakaat yang pertama dan Surah Al-Ikhlash pada rakaat yang

kedua.178

Mengenai waktunya, maka boleh dilaksanakan kapan saja,


sekalipun pada waktu-waktu yang dimakruhkan, karena tidak ada
waktu yang makruh di Masjidil Haram, berdasarkan keagungan tempa
dan kedudukannya dan besarnya pahala shalat di dalamnya.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Wahai Abdu Manaf,

janganlah kalian melarang seseorang untuk thawaf dan shalat di Kabah

kapan saja dia inginkan di waktu malam atau siang.179

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, Shalat di


Masjidil Haram seperti seratus ribu kali shalat (di Masjid
selainnya). Shalat di Masjidku (masjid Nabawi di Madinah) seperti
seribu kali shalat dan shalat di Baitul Maqdis seperti lima ratus
kali shalat.180
Hukumnya tidak makruh, bagi semua laki-laki dan perempuan
untuk lewat di hadapan orang yang shalat di Masjidil Haram,
karena hal ini merupakan kekhususan Masjidil Haram yang tidak
dimiliki oleh Masjid yang lainnya, sebagai keringanan bagi
manusia karena sangat padatnya pengunjung.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat di belakang Bani
Sahmin dan orang-orang lalu lalang di hadapannya serta tidak ada
penghalang di antara keduanya.181
f. Minum Air Zam-Zam dan Berdoa

Disunnahkan untuk minum air zamzam, setelah selesai shalat


dua rakaat.
177 Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini hasan-shahih.
178 Diriwayatkan oleh Muslim
179 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini shahih.
180 Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan menurut as-Suyuthi hadits ini hasan.
181 Diriwayatkan oleh Abu Dawud
Juga disunnahkan untuk meminumnya tiga kali. Dan hendaknya
dimulai dengan membaca basmalah, kemudian meminumnya lagi,
kemudian membaca Alhamdulillah, kemudian mengambil nafas, lalu
membaca bismilah dan meminumnya, demikianlah seterusnya.
Juga disunnahkan berdoa meminta kebaikan di dunia dan
akhirat saat meminumnya.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, (khasiat) Air
Zam-zam sesuai dengan yang diniatkan ketika meminumnya.182
g. Yang dimakruhkan ketika Thawaf

Dimakruhkan saat thawaf untuk meninggalkan salah satu sunnah


dari sunnah-sunnah yang telah disebutkan di atas tanpa ada udzur
atau halangan. Juga dimakruhkan untuk berbicara selain dzikir
kepada Allah, menahan buang air besar dan buang air kecil, makan
dan minum dan mengeramkan jari-jarinya. Karena semua itu
bertentangan dengan makna khusyu dan menginakan diri di hadapan
Allah saat thawaf. Apabila muncul satu keperluan seperti sakit
atau yang lainnya, maka penuhilah, kemudian sempurnakan
thawafnya.
IV. Sai antara Shafa dan Marwah
Hukumnya:
Menurut salah satu pendapat, saI merupakan rukun haji.
Karenanya, apabila ada yang tidak mengerjakannya, maka haji dan
umrahnya batal, dan tidak bisa diganti dengan membayar dam.
Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam berthawaf dan kaum Muslimin mengikutinya berthawaf (yaitu antara

Shafa dan Marwa, karena sai pun disebut thawaf). Demi Allah, Allah tidak

akan menyempurnakan haji orang yang tidak thawaf antara Shafa dan

Marwah.183

Menurut pendapat yang lain sai adalah wajib haji. Karenanya, bisa

diganti dengan dam. Dan apabila ditinggalkan, haji dan umrahnya tidak

batal.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Lakukanlah Sai

karena Allah telah mewajibkannya kepada kamu sekalian.184

Syarat Sahnya dan kekecualiannya bagi orang sakit


Agar sai tidak batal, maka harus memenuhi syarat-syarat berikut:

a. Dilakukan setelah thawaf

Karena tidak ada saatupun riwayat yang menceritakan bahwa Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat melakukan sai, tanpa

melakukan thawaf terlebih dahulu.

b. Tujuh kali putaran

182 Diriwayatkan oleh Ahmad.


183 Diriwayatkan oleh Muslim.
184 Diriwayatkan oleh Ahmad
Hal itu, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam, dimana Rasulullah bersabda, Ambillah dariku
cara haji kalian.185
c. Dilakukan di tempat sai

Yaitu jalan yang memanjang antara dua bukit Shafa dan Marwah.

Demikian itu sesuai dengan yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam. Jika dilakukan di luar tempat tersebut, maka sainya tidak sah.

d. Memulai putaran pertama dari Shafa dan berakhir di Marwah:

Dalam melakukan sai, tidak diwajibkan untuk sampai ke puncaknya,

karena hal itu hukumnya sunnah. Yang wajib (diberi pahala jika dilakukan dan

berdosa jika tidak dilakukan, dan putaran sainya batal) hanyalah

menempelkan telapak kaki padanya, ketika sampai, baik setelah datang

maupun setelah kembali.

Ketika mengerjakan sai ini, dibolehkan sambil menunggangi binatang

jika ada sebab, seperti sakit, lanjut usia atau yang lainnya, persis seperti

shalat. (lihat perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma).

Ketika melakukan sai tidak disyaratkan hal-hal berikut:

1. Suci dari najis, baik hadats kecil, maupun hadats besar. Namun

hukumnya makruh jika mengerjakan sai dalam keadaan seperti itu. Artinya,

orang yang melakukannya dalam keadaan suci akan mendapat pahala dan

yang tidak dalam keadaan suci, tidak berdosa, dan sainya tidak batal. Begitu

juga haji dan umrahnya tidak batal. Disamping itu, tidak diwajibkan

menyembelih binatang kurban.

Hal itu didasarkan kepada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam yang tidak menyebutkan kata sai ketika beliau melarang Aisyah

untuk thawaf saat sedang haid, Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang

yang menunaikan haji, kecuali kamu jangan melakukan thawaf di Kabah

hingga kamu mandi.186

Hukum makruh ini berlaku bagi orang yang tidak mempunyai udzur.

Adapun bagi orang yang mempunyai udzur seperti sakit atau yang lainnya,

maka sama sekali tidak dimakruhkan.

185 Bagian dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.


186 Diriwayatkan oleh Muslim.
2. Terus menerus (Muwalah)
Hukumnya sunnah (atau diberi pahala orang yang melakukanya dan

tidak berdosa yang meninggalkannya). Kalaupun sai dilakukan secara tidak

terus-menerus, maka Sai, haji dan umrahnya tidak batal, juga tidak

diwajibkan untuk membayar dam.

Bagi orang sakit atau orang sehat yang tidak mampu melanjutkan

tujuh putaran sai, misalnya, karena sakit, atau kelelahan atau ada suatu

keperluan yang menghalanginya untuk dapat melanjutkan Sai, seperti

hendak wudhu terlebih dahulu, atau shalat fardhu telah ditegakkan, maka

hendaknya ia menghentikan dulu sainya, kemudian menyempurnakan sisa

putaran dan tidak perlu memulainya lagi dari awal.

Diceritakan bahwa Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bersai antara

Shafa dan Marwah, lalu terdesak untuk buang air kecil, maka ia pun

menyingkir dan meminta air, lalu berwudhu, kemudian menyempurnakan

hitungan putaran yang telah dilakukan.187

Adapun mengenai penyambungan akhir thawaf dengan awal sai, maka

hukumnya sunnah.

Berdasarkan ini, orang sakit juga orang sehat boleh memisahkan

antara keduanya dengan istirahat atau wudhu, makan, minum, berobat dan

yang semisalnya, karena jika muwaalah dalam sainya saja tidak wajib, maka

menyambung antara thawaf dan sai, lebih tidak wajib.

Tata Cara Sai, Sunnah-sunnahnya dan Kekecualian bagi Orang Sakit


Sunnat-sunnat sai adalah amalan yang apabila dilakukan,
maka orang yang melakukannya akan mendapat pahala dan apabila
ditingalkan, ia tidak berdosa, juga tidak batal sainya. Begitu
juga haji dan umrahnya tidak batal dan tidak wajib membayar
fidyah. Diantara sunnah-sunnah sai adalah:
a. Naik ke bukit Shafa.

Apabila orang yang menunaikan haji atau umrah mendekati bukit

Shafa, disunnahkan baginya untuk mengulang-ulang firman Allah Taala

berikut, Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi'ar Allah.

Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka

187 Diriwayatkan oleh Said bin Manshur.


tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya. (Al-Baqarah:

158)

Apabila telah menaikinya, maka dianjurkan untuk menghadap kiblat,

lalu membacakan wirid berikut tiga kali:

Tiada Tuhan selain Allah semata, menunaikan janji-Nya, menolong

hamba-Nya, mengalahkan pasukan sekutu sendirian. Kemudian berdoa

sesuka hatinya untuk kebaikan dunia dan akhirat. Kemudian turun dengan

berjalan dari atas Shafa menuju bukit Marwah.

Jika orang sakit tidak mampu naik ke bukit Shafa, maka ia tidak perlu

naik, karena hukumnya sunnah. Jika telah berniat, maka ia akan diberi

pahala, sebab kondisi yang menimpanya berada di luar keinginannya. Untuk

itu, cukup baginya untuk naik ke tepinya saja dan tidak apa-apa atasnya,

serta sainya sah.

Selain itu, hendaknya ia berusaha keras untuk memperbanyak dzikir

dan doa saat berjalan dengan doa dan dzikir yang sesuai dengan

kebutuhannya.

Apabila telah sampai antara dua garis, disunnahkan bagi


laki-laki untuk belari kecil dan tidak untuk para wanita, pada
ketujuh putaran sai (bukan hanya pada tiga putaran pertama saja
seperti pada thawaf).
Jika orang sakit (atau orang sehat) tidak mampu berlari kecil, maka

tidak apa-apa dan sainya sah.

Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, berkata, Jika aku berjalan, maka aku

melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan, jika aku berlari kecil

maka aku pun melihat Rasulullah berlari kecil. Aku adalah orang yang sudah

lanjut usia.188

Jika sudah melangkahi dua garis, maka ia hendaknya menyempurnakan

sainya dengan berjalan hingga sampai ke Marwah.

Dua jarak garis hijau adalah dua garis hijau di tempat sai yang

menjelaskan batas awal dan batas akhir menurunnya lembah antara dua

bukit Shafa dan Marwah, dimana Siti Hajar ibu Ismail Alaihissalam berlari-lari

188 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.


kecil padanya. Demikian Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam,

melakukannya.

Apabila mendekati Marwah, hendaknya ia mengulang-ngulang firman

Allah Taala, Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi'ar

Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah,

maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya. (Al-

Baqarah: 158)

b. Naik ke Marwah:

Orang yang bersai hendaknya melakukan seperti apa yang telah

dilakukan di bukti Shafa.

Dengan begitu selesailah putaran yang pertama. Jika ia kembali ke

Shafa dia telah menyelesaikan putaran yang kedua, dan demikian seterusnya

hingga selesai tujuh putaran.

c. Yang dimakruhkan ketika sai:

Semua yang dimakruhkan ketika thawaf, ditambah shalat dua rakaat

di Marwah setelah selesai sai, karena perbuatan ini termasuk bidah yang

tidak memiliki sandaran hukumnya.

V. Berangkat Menuju ke Mina


Disunnahkan berangkat menuju Mina pada tanggal delapan Dzulhijjah,

yaitu setelah selesai shalat subuh. Bagi yang melakukan haji qiran atau ifrad,

maka dia masih berihram, karenanya berangkat ke Mina dengan pakaian

ihram.

Adapun yang mengerjakan haji tamattu, maka ia hendaknya berihram

dari tempat ia berada, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika

menyebutkan tempat-tempat ihram beliau bersabda, Adapun selain mereka

yang disebutkan, miqatnya adalah mengikut arah kedatangan mereka,

sehingga penduduk Mekah pun miqatnya dari Mekah.189

Saat menuju Mina, disunnatkan untuk melakukan hal-hal berikut:


Memperbanyak talbiyah, dzikir dan doa sesuai dengan kemampuannya.

189 Bagian dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Disunnatkan juga untuk tinggal di Mina (dengan terus-terusan

membaca talbiyyah, berdzikir dan berdoa) hingga datang waktu shalat

subuh, pada hari Arafah (tanggal sembilan Dzulhijjah).

Jika orang yang sakit tidak mampu melakukan semua yang telah

disebutkan diatas, maka tidak apa-apa, karena semua itu sunnah, dimana

orang yang melakukannya diberi pahala, dan yang meninggalkannya tidak

berdosa. Juga tidak menyebabkan hajinya batal atau mewajibkan fidyah.

Sebagaimana dibolehkan untuk mengakhirkan keberangkatan ke


Mina, maka boleh juga untuk mempercepat keberangkatannya, yakni
sebelum tanggal delapan Dzulhijjah.
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha

tidak keluar dari Mekkah pada hari Tarwiyah hingga masuk malam dan telah

berlalu sepertiganya. (Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir).

Hari Tarwiyah adalah tanggal delapan Dzulhijjah. Dinamakan demikian

karena mereka mengumpulkan air untuk persediaan minum di Mina dan

Arafah.

VI. Berangkat dari Mina ke Arafah


Disunnatkan saat berangkat dari Mina menuju Arafah hal-hal berikut

ini:

1. Berangkat Menuju Arafah setelah terbit matahari pada tanggal

sembilan Dzulhijjah, dengan membaca talbiyyah, dzikir dan doa.

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir Radhiyallahu Anhu, yang

menjelaskan tentang haji Wada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika hari

Tarwiyah, mereka menuju Mina dan berihram untuk haji.190

2. Disunnatkan untuk singgah sebentar di Namirah:

Dalam hadits Jabir juga disebutkan, bahwa Rasulullah meminta untuk

diambilkan .... yaitu untuk mandi sebagai persiapan untuk wukuf di Arafah.

Kemudian tinggal di sana (atau di Namirah) hingga waktu Zhuhur. Kemudian

jamah haji menunaikan shalat Ashar dan Zuhur dengan cara jama dan

qashar sekalipun mereka penduduk Mekkah, karena hal itu dilakukan bukan

karena bepergian tetapi untuk persiapan wukuf di Arafah.

190 Diriwayatkan oleh Muslim.


Jika mereka shalat di Masjid, maka Imam menyampaikan khutbah

Jumat untuk menjelaskan kepada mereka cara-cara haji serta memberikan

nasihat dalam urusan dunia dan akhirat.

Dalam hadits Jabir juga disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi

wa Sallam menyampaikan khutbah kepada orang-orang, kemudian

dikumandangkan adzan, lalu shalat Zhuhur, kemudian iqamah lalu shalat

Ashar, dan tidak shalat apa pun di antara keduanya. Kemudian Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam menunggangi untanya, hingga sampai ke tempat

wukuf di Arafah)..191

Kemudian jamaah haji pergi setelah shalat untuk wukuf di Arafah,

sambil membaca talbiyyah, tahlil dan takbir, berdzikir, berdoa dan memohon

ampun.

Jika orang sakit tidak mampu melaksanakan sunnah-sunnah di atas,

maka tidak ada dosa atasnya. Begitu juga, tidak batal hajinya dan tidak wajib

membayar fidyah. Karena semua itu hukumnya sunnah, yakni, diberi pahala

yang melakukannya dan tidak berdosa yang meninggalkannya.

VII. Wukuf di Arafah


Hukumnya:

Wukuf adalah salah satu rukun haji, bahkan merupakan rukun


yang paling agung. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka hajinya
batal.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya, bagaimana haji itu?

Beliau menjawab, Haji adalah Arafah. Barangsiapa yang datang sebelum

subuh pada akhir malam Muzdalifah maka telah sempurna hajinya.192

Jumhur ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa siapa yang

sempat melakukan wukuf pada sebagian waktu siang atau malam hingga

terbit fajar pada hari nahar (sepuluh Dzulhijjah) maka dia telah menunaikan

rukun wukuf di Arafah.

Cara Orang Sakit Wukuf di Arafah


Yang dimaksud dengan wukuf adalah berada di Arafah baik berdiri,

duduk, menunggangi kendaraan atau berjalan, dalam keadaan jaga,

berbaring atau tidur, suci atau tidak suci, seperti junub, haid, nifas,
191 Diriwayatkan oleh Muslim.
192 Diriwayatkan oleh para perawi pengarang kitab as-Sunan.
mempunyai wudhu atau tidak, walaupun disunnahkan mandi untuk

kebersihan agar tidak mengganggu kaum muslimin dengan bau yang tidak

sedap.

Orang sakit sekalipun, diharuskan untuk berada di Arafah dengan cara

yang dia mampu, sesuai dengan situasi, kondisi dan kekuatannya.

Mengenai tempatnya, maka cukup dengan tinggal di tempat mana saja

selama berada diwilayah Arafah.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Aku wukuf di sini, Arafah

semuanya tempat wukuf.193

Di sini maksudnya di padang Jabal Rahmah yang terdapat di Arafah.

Inilah sunnah dan tidak disyaratkan sebagaimana yang disangka orang

untuk naik ke Jabal Rahmah hingga wukuf menjadi sah.

Barangsiapa yang pingsan di Arafah, yaitu dari Zhuhur hingga terbit

fajar pada tanggal sepuluh Dzulhijjah (menurut ulama Hambali dari terbit

fajar tanggal sembilan [hari Ararah] hingga fajar tanggal sepuluh [hari

nahar]), maka apabila ia sempat sadar beberapa saat saja dari waktu

tersebut, wukufnya sah.

Jika tidak siuman sepanjang waktu tersebut, maka menurut salah satu

pendapat, wukufnya sah, karena secara fisik dia telah berada di Arafah,

tetapi terkena halangan yang di luar keinginannya. Alasan lain, hadits

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun tidak mensyaratkan secara detail

tentang cara diam di Arafah.

Namun menurut pendapat yang lain, tidak sah wukufnya karena dia

tidak menghadiri wukuf sama sekali, karena kehilangan kesadarannya.

Orang Yang tidak Sempat Wukuf Sama sekali Hingga Terbit Fajar:
Baik karena ada halangan seperti orang sakit yang dibawa ke rumah

sakit sebelum Zhuhur pada hari Arafah (menurut Hambali sebelum fajar pada

hari Arafah) hingga terbit fajar pada hari Idul Adha (tanggal sepuluh

Dzulhijjah), dan tidak bisa berada di Arafah walau hanya sebentar saja,

seperti orang yang lupa atau terlambat atau terpaksa bepergian sebelum

wukuf atau yang semisalnya, atau karena tidak ada alasan, maka hajinya

193 Diriwayatkan oleh Muslim.


batal. Namun ia tetap harus menyempurnakannya, dan amalannya yang lain

dianggap sebagai umrah. Setelah selesai waktu wukuf, hendaknya

mengerjakan sai antara Shafa dan Marwah, jika belum mengerjakannya. Jika

telah mengerjakannya, maka tidak perlu bersai untuk yang kedua kalinya.

Setelah itu bertahallul dengan mencukur rambut atau memotongnya.

Selanjutnya, ia diwajibkan untuk mengqadha hajinya pada tahun depan

jika mampu. Jika tidak mampu, maka kewajiban haji tetap sebagai tanggung

jawabnya hingga ia mampu.

Menurut jumhur ulama, dia wajib menyembelih seekor domba. Jika

tidak mampu, maka berpuasa sepuluh hari.

Hal itu berdasarkan perkataan Umar bin Khatthab ketika dia ditanya,

Wahai Amiurl Mukminin, kami salah dalam menghitung tanggal (salah dalam

menetapkan tanggal sembilan Dzulhijjah, hingga kami tidak sempat untuk

melaksanakan wukuf). Maka Umar berkata, Pergilah ke Mekkan, thawaflah

kamu dan orang-orang yang bersamamu, kerjakan sai antara Shafa dan

Marwah, sembelihlah binatang kurban jika kamu membawanya, kemudian

cukurlah rambut atau memotongnya, lalu pulanglah. Jika datang tahun depan

maka tunaikanlah haji dan bayar hadyu. Jika tidak mampu maka berpuasalah

tiga hari waktu haji dan tujuh hari jika kalian telah kembali.194

Menurut Ulama Hanafi, tidak wajib menyembelih binatang kurban,

karena sembelihan adalah sebagai pengganti pelanggaran haji yang tidak

membatalkannya. Adapun jika hajinya telah batal, karena wukuf di Arafah

merupakan rukun haji, maka mengapa harus membayar dam?

Amalan-amalan yang disunnatkan saat wukuf:


Memperbanyak istighfar, doa dan dzikir. Nabi Shallallahu Alaihi wa

Sallam bersabda, ebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Sebaik-baik

perkataan yang diucapkan oleh diriku dan para Nabi sebelumku adalah:

Tiada Tuhan selain Alah semata, tidak ada sekutu baginya, bagi-Nya kerajaan

dan segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.195

194 Diriwayatkan oleh Malik.


195 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, Tidak ada satu hari

pun yang Allah lebih banyak memerdekakan hamba-Nya dari api neraka

daripada hari Arafah.196

Bagi yang sedang menunaikan haji, dilarang untuk berpuasa pada hari

Arafah. Sebaliknya, ia dianjurkan untuk makan pagi, yang memberinya

kekuatan tenaga dalam mengerjakan amalan-amalan dan beban-beban pada

hari itu.

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi

wa Sallam melarang puasa hari Arafah di Arafah.197

Mengenai waktunya, wukuf disunnahkan untuk dilaksanakan setelah

matahari tergelincir ke sebelah barat (waktu Zhuhur) hingga terbenam

matahari. Dengan ini, barangsiapa yang wukuf di Arafah pada waktu

tersebut, ia akan mendapat pahala. Naun bagi yang tidak

menyempurnakannya, ia tidak berdosa. Begitu juga tidak batal hajinya,

selama ia berwukuf pada sebagian waktu dari waktu wukuf di Arafah.

Dalam hadits Jabir Radhiyallahu Anhu disebutkan, . . . beliau terus

wukuf hingga terbenam matahari . . . kemudian Rasulullah berangkat . . .

hingga sampai di Muzdalifah, lalu shalat Maghrib dan Isya dengan satu kali

adzan dan dua iqamah dan tidak melakukan shalat apa pun di antara

keduanya..198

Kemudian setelah terbit matahari jamaah haji berangkat ke

Muzdalifah.

VIII. Bertolak dari Arafah Menuju Muzdalifah


Disunnahkan ketika meninggalkan Arafah untuk menjaga ketenangan

dan kerapian. Tidak perlu tergesa-gesa atau berdesak-desakkan. Hal itu

dilakukan setelah terbenam matahari pada hari Arafah.

Dalam hadits Jabir Radhiyallahu Anhu disebutkan bahwa Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda saat meninggalkan Arafah, Wahai

manusia, tenanglah, tenanglah.199

196 Bagian dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.


197 Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
198 Diriwayatkan oleh Muslim
199 Diriwayatkan oleh Muslim.
Ketika para jamaah haji pergi meninggalkan Arafah, hendaknya sambil

mengumandangkan talbiyyah, tahlil dan takbir, berdzikir kepada Allah,

berdoa dan memohon ampunan.

Dari Asyats bin Sulaim dari bapaknya, dia berkata, Saya berangkat

bersama Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu dari Arafah menuju Muzdalifah, maka

beliau tidak henti mengumandangkan takbir dan tahlil hingga sampai di

Muzdalifah.200

Disunnahkan juga untuk menjama shalat Maghrib dan Isya setelah

sampai di Muzdalifah, yaitu jama takhir berdasarkan hadits Jabir yang telah

disebutkan.

Disunnatkan juga untuk mabit atau bermalam di Muzdalifah,


hingga terbit fajar, shalat subuh di sana, kemudian setelahnya
berhenti beberapa saat di Masyaril Haram (yaitu bukit yang ada
di Muzdalifah) untuk beristighfar, dzikir dan berdoa hingga hari
menjadi cerah (tampak cahaya siang) sebagaimana yang difirmankan
Allah Taala, Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat,
berzikirlah kepada Allah di Masy'aril haram. Dan berzikirlah
(dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya
kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk
orang-orang yang sesat, (Al-Baqarah: 198) kemudian bergerak
sebelum matahari terbit ke Mina untuk melempar Jumrah.
Dalam hadits Jabir Radhiyallahu Anhu, . . . Sesunguhnya ketika Nabi

datang ke Muzdalifah, beliau shalat Maghrib dan Isya, kemudian tidur hingga

terbit fajar, kemudian shalat Subuh, kemudian menunggangi Qushwa

(untanya) hingga sampai di Masyaril Haram. Beliau berhenti di sana hingga

pagi cerah sekali, kemudian bertolak sebelum matahari terbit. 201

Semua amalan sunnat yang telah disebutkan diatas, apabila dikerjakan,

maka pelakunya akan mendapat pahala dan kalaupun ditinggalkan, maka

tidak berdosa dan tidak wajib membayar fidyah.

Jika orang sakit atau orang Sehat tidak mampu mabit di sana, maka

tidak ada dosa baginya, selama dia pernah berada di tempat itu meskipun

sebentar, baik itu duduk atau berdiri, baik itu berjalan atau sambil tidur,

bahkan sambil pingsan, baik tahu ia tahu tempat itu muzdalifahh maupun

tidak, baik dalam keadaan suci maupun tidak.

200 Diriwayatkan oleh Abu Dawud.


201 Diriwayatkan oleh Muslim.
Karena yang diwajibkan adalah keberadaan di tempat itu, dimanapun

dari wilayah Muzalifah, sebagaimana seluruh wilayah Arafah adalah tempat

wukuf. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Semua Muzdalifah

adalah tempat wukuf.202

Bagi yang tidak sempat berada di Muzdalifah dan tidak hadir sama

sekali, maka jika dia mempunyai udzur seperti sakit, atau lemah, atau takut

kepadatan yang sangat ketika melempar jumrah pada hari yang kedua (Hari

Idul Adha, sepuluh Dzulhijjah), dan dia hendak mabit di Mina bukan di

Muzdalifah agar datang lebih awal dan lebih pagi supaya tidak berdasakan

saat melempar jumrah, mereka dan yang semisalnya tidak batal hajinya,

juga tidak wajib menyembelih binatang karena mereka memiliki halangan.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Aku adalah orang yang

mendahului Nabi pada malam Muzdalifah bersama keluarga-keluarga beliau

yang tergolong lemah.203 Maksudnya, aku adalah orang yang diberi izin oleh

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk meninggalkan Muzdalifah terlebih

dahlu pada malam itu, menuju Mina mengingat kondisi keluarganya yang

lemah.

Adapun jika tidak mempunyai udzur (halangan), lalu tidak sempat

berada di Muzdalifah, maka tidak ada dosa baginya, kecuali jika ia

melakukannya secara sengaja. Begiut juga, hajinya tidak batal, karena ia

merupakan wajib haji yang bisa diganti dengan membayar dam, yaitu

dengan menyembelih seekor domba sebagai denda atas pelanggaran ini.

IX. Amalan-amalan Pada Hari Idul Adha (Sepuluh Dzulhijjah)


Berdasarkan urutannya adalah sebagai berikut:
1. Melempar jumrah Aqabah (Jumrah Kubra)

2. Menyembelih.

3. Mencukur rambut atau memotongnya.

4. Thawaf Ifadhah.

Dalam Hadits Jabir Radhiyallahu Anhu yang menjelaskan


tentang tata cara Haji Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
disebutkan, Kemudia beliau menempuh jalan tengah yang menuju ke
Jumrah Kubra, hingga sampai kepada Jumrah yang berada di bawah
pohon. Beliau lantas melempar tujuh batu dan bertakbir mengiringi

202 Bagian dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad.


203 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
setiap lemparan, kemudian berangkat menuju tempat penyembelihan.
Kemudian Rasulullah menunggangi kendaraan dan bertolak ke Kabah
untuk melakukan thawaf Ifadhah.204
Jumhur Ulama berpendapat bahwa mengikuti urutan di atas
hukumnya sunnah, atau barangsiapa yang menyalahinya lalu dia
menyembelih kurban sebelum melempar jumrah Aqabah, maka tidak
apa-apa baginya.
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam saat haji Wada. Dia berkata, Wahai Rasulullah,
aku mencukur rambut sebelum menyembelih, Maka Mabi memberi
isyarat dengan tangannya, dan berkata, Tidak apa-apa.
Laki-laki itu berkata, Wahai Rasulullah, saya menyembelih
sebelum melempar. Maka beliau memberi isyarat dengan tangannya
dan berkata, Tidak apa-apa. Pada hari itu, beliau tidak ditanya
tentang hal mendahulukan atau mengakhirkan, kecuali beliau
memberi isyarat dengan tangannya dan berkata, Tidak apa-apa.205
Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, barangsiapa yang tidak
memperhatikan urutan, yaitu dengan mendahulukan suatu amalan atas
amalan yang lain, maka wajib baginya untuk menyembelih seekor
domba.
1. Melempar Jumrah Aqabah (Jumrah Kubra):
Hukumnya: wajib. Karenanya apabila ditinggalkan, maka
hajinya tidak batal. Ia juga tidak berdosa kecuali jika
melakukannya dengan sengaja. Namun meski demikian, harus diganti
dengan membayar dam, yaitu menyembelih seekor domba yang umurnya
setahun atau lebih. Menurut pendapat lain enam bulan atau lebih.
Jika menyembelih kambing maka umurnya harus dua tahun atau lebih.
Menurut pendapat lain, setahun atau lebih.
Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Saya melihat Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam melempar jumrah di atas kendaraannya
pada hari nahr (Idul Adha), seraya bersabda, Hendaknya kalian
mengambil dariku cara haji kalian, karena aku tidak tahu apakah
aku akan bisa menunaikan haji lagi setelah haji ini.206
Cara melempar Jumrah dan kekecualian bagi orang sakit
Orang yang berhaji, hendaknya mengumpulkan tujuh batu kira-
kira sebesar biji kacang.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ahai sekalian
manusia, janganlah sebagian kamu membunuh sebagian yang lain.
Jika kalian melempar jumrah, maka lemparlah dengan batu
kerikil.207
Batu yang digunakan untuk melempar jumrah, disunnahkan untuk
diambil dari Muzdalifah. Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar
Radhiyallahu Anhu melakukan hal itu.
Namun meski demikian, dibolehkan juga untuk mengumpulkan batu

dari mana saja, sekalipun di tempat melempar jumrah itu sendiri, karena

tidak ada dalil yang melarangannya, kecuali jumhur ulama yang

memandangnya makruh. Yakni, diberi pahala jika tidak dikerjakan dan tidak

berdosa jika dikerjakan.

Jika orang sakit tidak mampu melempar jumrah, demikian juga orang

lemah, atau yang takut padat, maka dibolehkan baginya untuk mewakilkan

204 Diriwayatkan oleh Muslim


205 Diriwayatkan oleh perawi yang tujuh, kecuali At-Tirmidzi.
206 Diriwayatkan oleh Muslim.
207 Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
jumrahnya kepada orang lain, yang telah melempar jumrah untuk dirinya

sendiri.

Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Kami menunaikan haji

bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan ikut bersama kami para

wanita dan anak-anak, kami membaca talbiyyah dan melempar jumrah untuk

mereka.208

Barangsiapa yang salah dalam mengumpulkan batu kerikil atau lupa

atau karena sebab yang lain maka tida apa-apa.

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, Saya tidak tahu apakah

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melempar enam batu atau tujuh.209

Waktu Melempar:
Disunnahkan dilakukan pada waktu dhuha setelah terbit matahari.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Janganlah kalian

melempar jumrah Aqabah hingga terbit matahari.210

Jika orang sakit atau orang sehat tidak mampu melempar pada

waktu tersebut, maka ia boleh menangguhkannya hingga akhir siang dan

tidak ada dosa baginya.

Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

pada hari Nahr di Mina, Saya melempar setelah lewat waktu sore. Maka

beliau bersabda, Tidak apa-apa.211

Bahkan jika orang sakit tersebut mengakhirkannya hingga malam, tidak

ada dosa baginya.

Putri Shafiah, istri Ibnu Umar mendapat haid di Muzdalifah hingga dia

dan Shafiah tertinggal dan datang ke Mina setelah matahari terbenam pada

hari Idul Adha, maka Ibnu Umar memerintahkan mereka untuk melempar

jumrah ketika mereka datang dan dia tidak memandangnya sebagai

kesalahan.212

Demikian pula jika menyegerakannya sebelum terbit fajar pada hari

Idul Adha, tidak ada dosa baginya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

208 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah.


209 Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
210 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini hasan.
211 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
212 Diriwayatkan oleh Malik.
mengutus Ummu Salamah pada malam Idul Adha, lalu dia melempar

sebelum terbit fajar kemudian dia pergi.213

Namun meski demikian, dimakruhkan untuk menyegerakan atau

mengakhirkannya, tanpa ada alasan. Yakni, diberi pahala orang yang

berpegang teguh dengan waktu yang telah ditentukan Rasulullah dan tidak

berdosa yang meninggalkannya.

Dalam melempar jumrah, hendaknya setiap batu dilemparkan secara

terpisah-pisah dengan menggunakan jari. Apabila tujuh batu dilempar

sekaligus maka dihitung satu lemparan.

Ketika melemparkan kerikil, disunnahkan untuk setiap lemparan untuk

mengucapkan Allahu Akbar, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir

Radhiyallahu Anhu.

Juga disunnahkan ketika melempar jumrah untuk membaca doa

sebagaimana yang diucapkan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, Ya Allah

jadikanlah ia haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.214

Ketika lemparan pertama telah dilakukan, maka talbiyyah boleh

dihentikan, karena Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam terus menerus

mengucapkan talbiyyah hingga sampai ke tempat jumrah.215

Hikmah Melempar Jumrah


Ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam menunaikan ibadah haji,
datang kepadanya syetan di Jumratul Aqabah, lalu Ibrahim
melemparnya dengan tujuh batu hingga terbenam ke dalam tanah.
Kemudian syetan datang lagi kepadanya pada jumrah yang kedua,
lalu beliau melemparnya dengan tujuh batu hingga terbenam ke
dalam tanah. Kemudian datang lagi kepadanya pada jumrah yang
ketiga, maka beliau pun melemparnya dengan tujuh batu hingga
terbenam ke dalam tanah.216
Kaum Muslimin meyakini bahwa batu tidak mendatangkan mudharat dan

manfaat, tetapi mereka tetap mengerjakan ibadah ini untuk menegaskan

ketaatan mereka yang paripurna terhadap semua perintah Allah Subhanahu

wa Taala, baik dalam masalah yang kecil maupun besar, sekalipun Allah

memerintahkan mereka untuk menggunakan batu yang tidak memberi

manfaat dan madharat. Sebagaimana juga mereka menegaskan tekad dan

213 Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan jalur sanad yang shahih.


214 Diriwayatkan oleh Said bin Manshur.
215 Diriwayatkan oleh Jamaah.
216 Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan menurutnya hadits ini shahih.
kegigihan untuk memerangi setan serta membela kebaikan atas kejahatan,

sebagai khalifah Allah di muka bumi, untuk berbuat baik dalam

memakmurkan bumi sebagaimana yang Allah perintahkan kepada mereka.

2. Menyembelih:
Amalan kedua yang dilakukan pada hari Idul Adha setelah melempar

Jumrah Aqabah, adalah binatang kurban. Penjelasan yang detail mengenai

hukumnya, lihat penjelasan sebelumnya tentang penyembelihan.

3. Mencukur rambut atau memotongnya

Ini adalah amalan ketiga yang dilakukan pada hari Idul adha setelah

menyembelih. Dengan ini orang yang ihram, dianggap telah bertahalul yang

pertama, yang menghalalkan baginya apa yang diharamkan selama ihram

seperti memakai baju, menyentuh minyak wangi dan sebagainya, kecuali

menggauli istrinya. Jika dia telah melakukan thawaf ifadhah maka dia telah

melakukan tahalul yang kedua dan halal baginya segala sesuatu, hingga

mengauli istrinya. Demikianlah yang dikerjakan Rasulullah Shallallahu Alaihi

wa Sallam. Beliau bersabda, Ambillah dariku cara haji kalian.217

Hukumnya:
Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukumnya wajib. Artinya, jika

dinggalkan maka hajinya tidak batal, dan tidak berdosa kecuali jika

meninggalkannya secara sengaja. Akan tetapi tetap harus diganti dengan

membayar dam, yaitu menyembelih seekor domba.

Allah Taala berfirman, Sesungguhnya Allah akan membuktikan

kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu)

bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah

dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan

mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui

apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan

yang dekat. (Al-Fath: 27)

Waktunya:

Setelah menyembelih, jika dia akan menyembelih, baik yang


sunnah maupun yang wajib. Jika tidak menyembelih, maka waktunya
setelah melempar Jumrah Aqabah.

217 Bagian dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.


Dari Mamar bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, ia berkata bahwa
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika menyembelih
binatang kurbannya di Mina, memerintahkanku untuk mencukur
rambutnya.218
Caranya:
Jika mencukur, maka disunnahkan untuk memulai dari kepala
sebelah kanan, kemudian sebelah kiri. Jika memotong, maka cukup
dengan tiga helai rambut.
Namun, mencukurnya lebih utama, karena Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Semoga Allah memberi
rahmat kepada orang-orang yang mencukur rambut. Para sahabat
berkata, Dan orang yang menggunting, wahai Rasulullah? Beliau
bersabda, Semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang
mencukur rambut. Mereka berkata, Dan orang yang menggunting,
wahai Rasulullah? Beliau bersabda, Semoga Allah memberi rahmat
kepada orang-orang yang mencukur rambut. Mereka berkata, Dan
orang yang Menggunting, wahai Rasulullah? Beliau bersabda, Dan
orang-orang yang menggunting rambutnya.219
Adapun orang sakit yang takut jika mencukur rambut akan
menambah parah penyakitnya atau rasa sakitnya atau terlambat
sembuh, maka cukup baginya untuk menggunting tiga helai rambutnya
saja. Dia mendapat pahala mencukur rambut dengan niatnya dengan
seizin Allah karena keadaan yang dialamnya berada di luar
keinginannya.
Wanita hanya dibolehkan menggunting rambut, sedangkan
mencukur rambut terlarang bagi mereka.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Tidak ada
mencukur bagi wanita, bagi mereka hanya diperintahkan untuk
menggunting saja.220
Bagi jamaah haji yang mencukur habis rambut kepalanya
(botak) maka disunnahkan baginya untuk mengusapkan pisau cukur ke
atas kepalanya.
4. Thawaf Ifadhah:
Thawaf ifadhah adalah amalan keempat yang harus dilakukan
pada hari Idul Adha setelah mencukur atau menggunting rambut.
Setelah sempurna dilakukan, maka menjadi halallah segala sesuatu,
hingga menggauli istri, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah
Shallallahu Alahi wa Sallam. Beliau juga bersabda, Ambillah
dariku cara haji kamu sekalian.
Hukumnya:
Ia adalah rukun, jika tidak dikerjakan maka batallah
hajinya.
Allah Taala berfirman, Hendaknya mereka melakukan Thawaf
sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (Al-Hajj: 29)
Syarat sah thawaf Ifadhah, cara dan sunnah-sunnahnya:
Lihat kembali pembahasan mengenai thawaf qudum, dengan

memperhatikan bahwa apabila telah melakukan sai setelah thawaf qudum,

maka dimakruhkan untuk melakukan sai kembali. Kecuali jika dia melakukan

haji tamattu, maka hendaknya ia melakukan sai lagi setelah thawaf, karena

sai yang pertama adalah sai untuk umrah dan yang ini untuk haji.

218 Diriwayatkan oleh Ahmad.


219 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
220 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan.
Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu Alaihi

wa Sallam dan para sahabatnya tidak melakukan thawaf antara Shafa dan

Marwah kecuali satu kali thawaf.221

Waktunya:
Bolehkan dikerjakan mulai dari terbitnya fajar pada hari Idul Adha

(sepuluh Dzulhijjah). Akan tetapi disunnahkan untuk dikerjakan pada waktu

dhuha.

Orang sakit (atau orang sehat) dibolehkan untuk menangguhkannya

hingga akhir hari tasyriq. Sedang menurut Imam Malik dibolehkan

menangguhkannya hingga akhir bulan Dzulhijjah, karena seluruh bulan

Dzulhijjah adalah bulan-bulan haji. Menurut mereka, waktu haji tidak berakhir

dengan berakhirnya hari Tasyriq, sebagaiman pendapat ulama yang lain.

Jika menangguhkannya setelah hari tasyriq (atau akhir bulan Dzulhijjah

menurut pendapat Imam Malik), maka menurut Imam Malik dan Abu Hanifah,

hendaknya dia menyembelih seekor domba.

Menurut Imam Syafii dan Ahmad, tidak wajib menyembelih, tetapi hal

itu hukumnya makruh, yakni akan diberi pahala jika tidak menangguhkan dan

tidak berdosa jika menangguhkan.

X. Amalan-amalan pada tiga Hari Tasyrik


Yaitu hari kesebelas, dua belas dan tiga belas dari bulan
Dzulhijjah. Dinamakan demikian karena pada hari-hari tersebut
biasanya daging dijemur atau dikeringkan untuk diawetkan.
Ringkasan amal yang harus dilakukan pada hari-hari tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Mabit di Mina untuk melempar tiga Jumrah:
1 Jumrah pertama (Shugra)
2 Jumrah kedua (Wustha)
3 Jumrah ketiga (Kubra)
b. Kembali ke Mekkah.
c. Thawaf Wada.

a. Mabit di Mina (untuk melempar Jumrah)


Hukumnya:
Menurut satu pendapat hukumnya wajib. Barangsiapa yang
meninggalkannya, dia wajib menyembelih seekor domba yang umurnya
satu tahun.
Adapun orang sakit yang memiliki halangan maka tidak ada
kewajiban apa pun atasnya jika dia tidak mabit di Mina, karena
Abbas bin Abdul Muthallib meminta ijin Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam untuk mabit di Makkah pada malam-malam Mina
dalam rangka memberi minum, dan Rasulullah pun mengijinkannya.222

221 Diriwayatkan oleh Muslim.


222 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Menurut pendapat lain, hukumnya sunnah, atau diberi pahala
orang yang mabit di Mina baik karena sakit (atau mempunyai udzur)
maupun sehat dan tidak mempunyai udzur, serta tidak harus
menyembelih domba.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Jika kamu
telah melempar Jumrah, maka mabitlah dimana kamu suka.223
Maksudnya, boleh di Mina ataupun di Mekkah. Kemudian berangkat
menuju Mina untuk melempar jumrah, kemudian balik lagi ke Mekkah.
Melempar Jumrah:
Lihat kembali tentang melempar Jumrah Aqabah (Jumrah Kubra)
untuk mengetahui hukum melempar jumrah, cara dan hikmahnya, serta
hukum orang sakit jika tidak mampu melempar jumrah. Sebagai
tambahan, hal-hal berikut perlu diperhatikan:
Pada setiap hari Tasyriq wajib melempar jumrah yang tiga
(bukan Jumrah Kubra saja seperti pada hari nahr/idul Adha).
Dimulai dengan jumrah Sughra dengan tujuh batu. Kemudian
setelahnya berdiri sambil menghadap kiblat dan berdoa sesuai
keinginannya. Lalu mwnuju jumrah wustha dan melemparkan tujuh
batu. Kemudian berdiri sesudahnya sambil menghadap qiblat dan
berdoa sesuai keinginannya. Lalu, menuju jumrah kubra (Aqabah),
dan melemparkan tujuh batu. Lantas pergi tanpa harus berdiri
sejenah dan tanpa berdoa. Demikianlah yang dikerjakan Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam (bagi yang tidak berdoa, maka tidak
apa-apa atasnya, karena doa hukumnya sunnah, tetapi dia
kehilangan pahala).
Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bercerita bahwa Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam, apabila hendak melempar jumrah
pertama setelah dari Masjidil Haram, beliau melemparnya tujuh
batu, bertakbir pada pada setiap lemparan. Kemudian pergi
kesebelah kiri, ke tengah lembah, lalu berdiri menghadap kiblat
sambil mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Beliau melamakan
berdirinya, kemudian melempar yang kedua sebanyak tujuh batu dan
bertakbir pada setiap lemparan. Kemudian pergi ke sebelah kiri ke
tengal lembah, lalu berdiri dan menghadap kiblat sambil
mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, kemudian berlalu hingga
sampai pada jumrah yang ada di Aqabah, lalu melempar tujuh batu
dan bertakbir pada setiap lemparan kemudian pergi dan tidak
berdiri.224
Waktu melempar pada masing-masing hari dari hari-hari
Tasyriq, adalah setelah tergelincirnya matahari (Zhuhur) hingga
terbenam matahari (selain waktu Jumrah Aqabah pada hari Idul
Adha, yaitu dimulai setelah terbit matahari).
Apabila mengakhirkannya hingga setelah terbenam matahari
dengan tanpa ada halangan, maka hukumnya makruh. Yakni akan
diberi pahala orang yang tidak mengakhirkannya dan tidak berdosa
bila mengakhirkannya. Juga tidak ada keharusan untuk menyembelih
kambing.
Orang sakit (demikian juga orang sehat yang memiliki udzur)
jika mengakhirkannya hingga terbenam matahari, maka tidak harus
menyembelih kambing karena ada alasan.
Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bercerita bahwa Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam melempar jumrah saat tergelincir
matahari atau setelahnya.225
Menurut ulama Syafii dan Hambali, dibolehkan bagi yang
tidak sempat melempar jumrah pada hari yang pertama atau pada
hari yang kedua dari hari tasyriq karena sakit atau karena ada
udzur, untuk melempar jumrah pada hari ketiga dan tidak
diwajibkan atasnya untuk menyembelih kambing.
Adapun jika tidak sempat melempar jumrah hingga berlalu
hari-hari tasyriq, maka dia wajib menyembelih kambing.
223 Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah.
224 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
225 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini hasan.
b. Kembali ke Mekkah (dari Mina):
Hal itu dilakukan setelah melempar jumrah pada hari ketiga
dari hari tasyriq, sebelum terbenam matahari dan dimakruhkan
sesudahnya.
Orang sakit dan orang yang mempunyai udzur (demikian juga
orang sehat) dibolehkan kembali setelah selesai melempar jumrah
pada tanggal dua belas Dzulhijjah. Jika ia melalukannya, maka
tidak ada kewajiban atasnya untuk menyembelih kambing. Dan dalam
keadaan seperti ini, ia juga tidak diwajibkan untuk mabit di Mina
sampai tanggal tiga belas, sebagaimana firman Allah Taala,
Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua
hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin
menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada
dosa pula baginya bagi orang yang bertaqwa. (Al-Baqarah: 203)
c. Thawaf Wada:
Thawaf wada adalah amalan terakhir yang dilakukan oleh orang yang

menunaikan haji ketika hendak pergi dari Mekkah.

Hukumnya:
Menurut satu pendapat, hukumnya wajib. Karenanya, orang yang

meninggalkannya, diwajibkan untuk menyembelih kambing, Dan ia tidak

berdosa, kecuali jika meninggalkannya dengan sengaja.

Menurut pendapat lain, hukumnya sunnah, atau diberi pahala orang

yang melakukannya dan tidak berdosa yang meninggalkannya, juga tidak

wajib menyembelih kambing.

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, Orang-orang bertolak ke

semua arah. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Janganlah

salah seorang di antara kalian bertolak hingga menjadi akhir amalannya

adalah thawaf di Kabah.226

Ibnu Abbas juga berkata, Keringanan diberikan kepada wanita haid

untuk bertolak jika dia masih haid. 227 Maksudnya, wanita haid atau nifas

boleh pergi tanpa terlebih dahulu melakukan thawaf wada, karena ia tidak

wajib atas keduanya.

Demikian juga thawaf wada tidak wajib bagi penduduk Mekkah, karena

mereka mukim di Mekkah dan tidak meninggalkannya. Bagi mereka tidak

perlu ada perpisahan.

Syarat sah, cara dan sunnat-sunnatnya:


Lihat bahasan tentang thawaf qudum. Ysng membedakan antara

keduanya, dalam thawaf wada, tidak ada lari-lari kecil, dan tidak ada sai

226 Diriwayatkan oleh Muslim.


227 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
sesudahnya, Demikianlah yang dikerjakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam.

Waktunya:
Thawaf wada, dilaksanakan setelah jamaah haji menyelesaikan semua

pekerjaannya, termasuk berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, belanja

semua kebutuhannya dan hendak pergi meninggalkan Mekkah. Jika dia

melakukan thawaf wada kemudian menghabiskan waktu untuk berbelanja

atau berkunjung, maka hendaknya dia mengulangi lagi thawafnya, kecuali

jika hanya sebentar saja, maka tidak perlu mengulang. Disunnahkan berdoa

ketika meninggalkan Mekkah sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Abbas

Radhiyallahu Anhuma.

UMRAH
Arti asalnya adalah berkunjung atau ziarah.
Hukumnya:
Menurut satu pendapat, hukumnya sunnah muakkadah sekali
seumur hidup. Dengan demikian, orang yang mengerjakannya akan
mendapat pahala dan yang meninggalkannya, tidak berdosa, tetapi
dia kehilangan pahala besar.
Jabir Radhiyallahu Anhu bercerita bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa

Sallam ditanya tentang umrah apakah hukumnya wajib? Rasulullah

menjawab, Tidak, akan tetapi apbila kalian melakukan umrah, itu lebih

utama.228

Sebagaimana ayat yang menyebutkan tentang haji tidak menyebutkan

masalah umrah. Allah Taala berfirman, Mengerjakan haji adalah kewajiban

manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan

perjalanan ke Baitullah. (Ali Imran: 97).

Pendapat lain menyebutkan bahwa umrah hukumnya wajib satu


kali seumur hidup, atau diberi pahala yang melakukannya dan
berdosa yang meninggalkannya. Dan siapa yang melakukan lebih dari
satu kali maka hukumnya sunnah sebagaimana haji.
Allah Taala berfirman, Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah

karena Allah. (Al-Baqarah: 196)

Waktunya:
Sepanjang tahun. Tetapi waktu yang paling utama adalah pada bulan

Ramadhan. Siapapun boleh mengulanginya dalam satu tahun lebih dari satu

kali, untuk meraih keutamannya.

228 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini hasan-shahih.


Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Dari umrah ke umrah

berikutnya adalah penghapus dosa-dosa yang ada di antara keduanya. Dan

haji mabrur tidak ada balasannya selain surga.229

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Umrah di bulan

Ramadhan sama dengan haji.230 Maksudnya, pahalanya seperti pahala haji,

tetapi tidak menggugurkan kewajiban haji.

Cara umrah, hukum-hukumnya dan kekecualian bagi orang sakit:


Dimulai dengan ihram (lihat caranya dan kekecualian bagi orang sakit

di halaman ), kemudian thawaf, (lihat cara thawaf dan kekecualian bagi

orang sakit, halaman ), kemudian sai (lihat caranya, dan kekecualian bagi

orang sakit, halaman ), kemudian mencukur rambut atau memotongnya.

(lihat caranya dan kekecualian bagi orang sakit, halaman ).

Inilah rukun umrah. Barangsiap yang meninggalkan salah satu

rukunnya, maka dia wajib mengulanginya lagi. Jika tidak, maka umrahnya

batal, Rukun-rukun ini, bukan kewajiban yang bisa diganti dengan

menyembelih kambing sebagaimana dalam haji.

Urutan seperti disebutkan diatas, adalah termasuk rukun juga, Dengan

demikian, barangsiapa mengerjakan sai sebelum thawaf, maka dia harus

mengulangi lagi sainya setelah thawaf, karena jika tidak, maka umrahnya

batal.

Wanita haid dan nifas tidak boleh umrah hingga dia suci.

Barangsiapa yang menggauli istrinya sebelum thawaf maka umrahnya

batal. Dia wajib mengulanginya lagi dan wajib menyembelih kambing.

Sedangkan thawaf wada bagi orang yang menunaikan umrah

hukumnya sunnah dan bukan wajib, atau diberi pahala jika dikerjakan dan

tidak berdosa jika ditinggalkan, dan tidak batal umrahnya, juga tidak wajib

menyembelih kambing.

229 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


230 Diriwayatkan oleh Ahmad.
Berkunjung ke Masjid Nabawi dan Kuburan Rasulullah Shallallahu

Alaihi wa Sallam, Kuburan Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu

Anhuma serta berkunjung ke tempat-tempat bersejarah lainmya

Semua amalan di atas adalah amalan yang disunnahkan bagi orang

yang menunaikan haji dan umrah, karena padanya terdapat pahala yang

besar.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Janganlah kamu bersusah

payah untuk bepergian melainkan ke tiga buah masjid: Masjidku ini (Masjid

Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa.231

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, Shalat di


Masjidil Haram seperti seratus ribu kali shalat (di Masjid
selainnya). Shalat di Masjidku (Masjid Nabawi) seperti seribu
kali shalat, dan shalat di Baitul Maqdis seperti lima ratus kali
shalat.232
Selain itu, dengan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah,
hal itu bisa mengingatkan diri tentang apa yang diperbuat oleh
generasi muslim pertama, dimana mereka berjihad dengan diri dan
harta mereka hingga mampu menyampaikan amanat dari Allah Taala
yaitu Islam, undang-undang, hukum dan akhlaknya kepada kita
semua. Maka wajib bagi setiap muslim untuk mengerjakan seperti
yang telah mereka kerjakan dalam menyampaikan amanat ini kepada
generasi selanjutnya.
Disunnatkan bagi orang yang berziarah untuk memperbanyak
shalawat kepada Nabi, yaitu ketika menuju Madinah dan ketika
berada di dalamnya.
Orang sakit atau orang yang mempunyai halangan yang tidak
bisa melakukan kunjungan, tidak apa-apa karena semua hal ini
merupakan ibadah sunnah yang diberi pahala pelakunya dan tidak
berdosa yang meninggalkannya, juga tidak menjadikan batal haji
dan umrahnya serta tidak wajib menyembelih domba.

Adab Kembali Kepada Keluarga


Disunnatkan bagi orang yang hendak meninggalkan Madinah,
baik orang yang mau kembali kepada keluarganya atau pergi ke
Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, untuk mengerjakan jika
mampu seperti yang dikerjakan ketika datang, yaitu masuk masjid
Nabawi, shalat tahiyatul masjid di Raudhah, jika hal itu
memungkinkan, mengunjungi kuburan Rasulullah dan berdoa kepada
Allah Taala sesuai keinginannya, terutama minta kemudahan untuk
dapat berkunjung kembali, kemudian membaca doa safar (bepergian).
Jika sudah sampai ke negerinya disunnatkan jika mampu untuk

shalat di masjid dua rakaat, menghubungi keluarganya lewat telepon untuk

mengabarkan tentang kedatangannya, tidak mengagetkan mereka,

membawa oleh-oleh dan hadiah untuk membahagiakan mereka, memotong

hewan untuk dimakan dan dibagikan kepada keluarga, tetangga, saudara dan

para pengunjung hingga mereka pun ikut berbahagia, sebagaimana dia


231 Diriwayatkan oleh perawi yang tujuh.
232 Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.
berbahagia, karena dapat melakukan ketaaan kepada Allah. Nabi Shallallahu

Alaihi wa Sallam ketika datang ke Madinah beliau memotong kambing atau

sapi.233

Disunnatkan juga untuk menemui orang yang telah berhaji dan

meminta agar dia mendoakannya atau memohonkan ampunan untuknya,

karena dia kembali dengan tidak membawa dosa. Nabi Shallallahu Alaihi wa

Sallam bersabda, Jika kamu menemui seseorang yang baru pulang haji,

maka sampaikanlah salam kepadanya, jabatilah tangannya dan mintalah

kepadanya agar dia memohonkan ampun untukmu sebelum dia masuk

rumahnya, karena dia merupakan orang yang diampuni.234

==0==

BEBERAPA MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN ORANG SAKIT


Berobat dengan Obat Yang Mengandung Alkohol, Bius dan Yang

Sejenisnya

Di antara para ulama terdapat dua pendapat tentang berobat

menggunakan sesuatu yang mengandung barang haram:

Pendapat pertama mengatakan, tidak boleh berobat dengan barang

haram tersebut, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Thariq bin

Suwaid, bahwa dia bertanya kepada Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam

tentang khamr, maka beliau melarangnya. Suwaid kemudian bertanya lagi,

Saya hanya menggunakannya untuk obat? Nabi menjawab, Khamr itu

bukan obat, tetapi penyakit.235

Pendapat kedua mengatakan, boleh berobat dengan barang


haram, karena obat termasuk hal yang darurat, dan dalam kaidah
ushul fikih dikatakan bahwa hal-hal yang darurat dalam Islam
membolehkan hal-hal yang dilarang, sebagaimana dalam firman Allah
Subhanahu wa Taala, Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa
(memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 173).

233 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


234 Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan menurutnya hadits ini shahih.
235 Diriwayatkan oleh Muslim.
Imam an-Nawawi berkata dalam kitabnya Al-Majmu, Dibolehkan
meminum obat yang dapat menghilangkan akal dalam keadaan
mendesak. Namun meski demikian, orang yang menggunakannya,
hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut ini:
1. Meminum obat tersebut bukan dimaksudkan untuk menikmatinya dan
menuruti keinginan syahwat.
2. Meminum obat tersebut tidak boleh melampaui batas yang telah
ditetapkan oleh dokter. Jika melampaui batas yang telah
ditetapkan karena ingin mabuk atau menuruti nafsu, maka dia
berdosa.
3. Tidak ditemukan obat lain (yang tidak mengandung sesuatu yang
haram) yang efeknya setara dengan obat yang mengandung hal
yang diharamkan tersebut.

Fikih Interaksi

antara Pasien Laki-laki dengan Dokter Perempuan

atau Antara Pasien Perempuan dengan Dokter Laki-laki

1. Membuka Aurat
Dibolehkan bagi seorang dokter laki-laki untuk mengobati pasien

perempuan dan dokter perempuan untuk mengobati pasien laki-laki,

sekalipun pada bagian yang merupakan auratnya. Hal ini merupakan

kelonggaran yang diberikan Islam karena kondisi darurat, yaitu ketika tidak

ditemukannya dokter yang jenis kelaminnya sama dengan pasien tersebut,

yang memiliki kualifikasi yang sesuai, baik dalam spesialisasinya, keahlian,

amanah, biaya dan sebagainya. Karena Islam dalam semua aspeknya-

memperhatikan aspek kesesuaian, bagi setiap situasi dan kondisi, individu

dan masa, karena kesemua hal tersebut termasuk darurat. Sedangkan hal

yang darurat dalam Islam membolehkan yang dilarang, sebagaimana firman

Allah Subhanahu wa Taala Dan barangsiapa yang memakan (hal yang

diharamkan) tanpa berlebihan dan melewati batas maka tiada dosa

atasnya. (Al-Baqarah: 173).

DR. Yusuf Qaradhawi dalam kitabnya: Halal dan Haram dalam Islam,

berkata, Segala sesuatu yang kami sebutkan haramnya mengenai masalah

aurat, baik memandang atau menyentuhnya, maka hal itu berlaku, jika

berada dalam keadaan tidak darurat atau terdesak. Adapun jika dalam

keadan darurat atau terdesak seperti dalam memberi pertolongan ataupun

pengobatan, maka hilanglah keharaman tersebut.


Hukum darurat di sini mencakup: Laki-laki memandang aurat wanita

dan sebaliknya, laki-laki memandang aurat sesama laki-laki ataupun wanita

memandang aurat sesama wanita.

Namun, hendaknya setiap dokter, baik laki-laki ataupun wanita untuk

bermawas diri bahwa darurat tersebut dibatasi hanya sebatas yang

dibutuhkan saja. Hendaknya dia bertakwa kepada Allah sehingga tidak

melampaui tempat yang dibutuhkan untuk pengobatan tersebut, yaitu

dengan tetap menutup bagian aurat yang tidak dibutuhkan saat pemeriksaan

dan menutupi aib jika ada- serta tidak menceritakannya kepada orang lain.

Dalam berobat hendaknya seorang pasien memilih dokter yang


terpercaya dalam keamanahan dan keahliannya, sekalipun dia adalah
dokter non-muslim, karena hal tersebut merupakan darurat. Akan
tetapi jika masih ada dokter muslim, maka tentunya lebih utama
untuk berobat kepadanya, baik demi kepentingan agama maupun
dunianya, karena keamanahan dokter yang non-muslim diragukan pada
umumnya.

2. Pasien Laki-Laki Melihat Dokter Wanita (Atau Perawat Wanita)


Dan Pasien Wanita Melihat Dokter Laki-Laki (Atau Perawat Laki-
Laki) Dan Sebaliknya
Masing-masing, hendaknya memperhatikan hukum menundukkan

pandangan yang telah diwajibkan dalam Islam berdasarkan firman Allah

Subhanahu wa Taala, Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,

Hendaknya mereka menahan pandangannya, dan memelihara

kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,

sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

Katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaknya mereka menahan

pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, (An-Nur: 31)

Maksud ayat di atas bukan berarti harus memejamkan kedua mata,

karena hal itu berada di luar kemampuan manusia. Akan tetapi yang

dimaksud adalah larangan untuk mengumbar pandangan ataupun

memandang berulang kali dari dua belah pihak- untuk menghindarkan

terbangkitkannya syahwat dan fitnah yang ditimbulkannya.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, Nabi Shallallahu

Alaihi wa Sallam pernah membonceng Al-Fadhl bin Abbas pada hari

penyembelihan (yaitu saat haji Wada, tahun sembilan Hijriyah) di belakang


hewan tunggangannya. Al-Fadhl adalah seorang pemuda yang sangat

tampan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu berhenti di tengah-tengah

umat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Maka menghadaplah

seorang wanita cantik jelita dari suku Khatsam meminta fatwa kepada

beliau. Al-Fadhl memandangi wanita tersebut dan dia terpesona dengan

kecantikannya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memandang sekilas kepada

Al-Fadhl yang sedang memandangi kecantikan wanita tersebut, lalu beliau

mengulurkan tangannya untuk memegang dagu Al-Fadhl dan memalingkan

pandangannya dari memandangi wanita tersebut.236

Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fath Al-Bari, Ibnu Bathal

berkata seorang imam pensyarah hadits-hadits Shahih Bukhari- saat

mensyarah hadits tentang perintah menundukkan pandangan karena takut

terkena fitnah, Jika tidak kuatir terkena fitnah, maka tidak terlarang... Hal ini

diperkuat oleh pernyataannya bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak

memalingkan wajah Al-Fadhl kecuali ketika dia terus menerus memandangi

wanita itu karena terkesima dengan kecantikannya, hingga beliau kuatir Al-

Fadhl akan tergoda.

Oleh karena itu, jika tidak terdapat syahwat dan yakin tidak akan

menimbulkan fitnah, maka dibolehkan bagi pasien laki-laki untuk

memandang bagian yang bukan aurat dari dokternya atau perawat

wanitanya, yaitu memandang wajah dan kedua telapak tangannya (pendapat

jumhur ulama) serta kedua telapak kakinya (menurut pendapat Imam Abu

Hanifah), yaitu dari mata kaki ke bawah (pen).

Sementara itu, hukumnya haram untuk memandang -walaupun tidak

dengan syahwat dan walaupun tertutup oleh pakaian- bagian-bagian yang

merupakan aurat, yaitu semua bagian tubuh selain wajah, dua telapak

tangan dan kedua tapak kaki. Jika pandangan tertuju pada bagian aurat

secara tiba-tiba dan tanpa unsur kesengajaan, hendaknya dia segera

memalingkannya secepat yang dia mampu, sebagaimana tertera dalam

hadits shahih dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu: Aku bertanya kepada

236 Diriwayatkan oleh Muslim


Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang pandangan yang tiba-tiba. Beliau

bersabda, Segeralah alihkan pandanganmu.237

Demikian juka diharamkan untuk memandang wajah, kedua telapak

tangan serta kedua tapak kaki jika diiringi dengan syahwat atau dikuatirkan

akan menimbulkan fitnah, yaitu tergodanya hati dan perasaan dari kedua

belah pihak.

Mengenai hukum pasien wanita dalam memandang dokter ataupun

perawat laki-laki, maka sama persis denan hukum pasien lelaki dalam

memandang dokter atau perawat wanita sebagaimana telah dijelskan di atas.

Aurat laki-laki yang dilarang untuk dilihat walaupun tanpa syahwat dan

walaupun tertutup pakaiannya, yaitu dari pusar sampai lutut (menurut

jumhur ulama)

Sedangkan menurut ulama mazhab Maliki, bagian yang tidak boleh

dilihat hanyalah aurat besar saja (yaitu kemaluan dan dubur serta bagian

sampingnya).

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, ... pada hari Raya terdapat

dua kelompok orang-orang hitam dari Ethiopia bermain tarian perang-

perangan. Kadang-kadang aku meminta ijin kepada Nabi Shallallahu Alaihi

wa Sallam dan kadang-kadang beliau bertanya kepadaku, Apakah engkau

ingin menontonnya? Aku berkata, Benar. Maka aku berdiri di belakang

beliau untuk ikut menonton. Dalam riwayat Bukhari redaksinya berbunyi,

Beliau menutupiku dengan selendangnya.238

Imam Ibnu Hajar berkata tentang hadits ini: ...Hal ini


menunjukkan bolehnya seorang wanita memandang laki-laki, namun
dengan tetap memperhatikan pedoman-pedoman syariat yang telah
disebutkan dalam penjelasan tentang dibolehkannya lelaki melihat
wanita.
Juga perlu diperhatikan bahwa apa-apa yang merupakan bagian aurat

yang dilarang untuk dipandang, dilarang juga untuk disentuh dengan tangan

maupun oleh bagian tubuh lainnya.

3. Mengucapkan Salam dan berjabatan tangan

237 Diriwayatkan oleh Muslim.


238 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Pasien laki-laki dibolehkan mengucapkan salam kepada dokter wanita

(juga kepada perawat wanita atau pasien wanita), begitu pula sebaliknya.

Pasien wanita pun dibolehkan mengucapkan salam kepada dokter lelaki atau

sebaliknya. Yang datang adalah yang pertama kali mengucapkan salam.

Begitu juga dibolehkan bagi sekelompok pasien laki-laki (atau para dokter

lelaki) untuk mengucapkan salam kepada para pasien wanita (atau para

dokter wanita), begitu pula sebaliknya.

Semua hal di atas berlaku dengan syarat aman dari fitnah, seperti

memandang dengan syahwat ataupun tergeraknya perasaan dan hati dan

yang semisalnya.

Dari Asma binti Yazid Radhiyallahu Anha, ia berkata, Nabi Shallallahu

Alaihi wa Sallam lewat di hadapan kami yang tengah berada di antara

sekelompok wanita, maka beliau memberi salam kepada kami.239

Adapun jika dikhawatirkan tidak aman dari fitnah dari kedua belah

pihak- maka tidak dibolehkan untuk mengucapkan salam.

Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fath Al-Bari, Jika berkumpul

dalam satu majlis sekelompok laki-laki dan wanita, maka boleh salah satu

pihak (baik yang laki-laki maupun wanita) untuk mengucapkan salam

sepanjang aman dari fitnah.

Adapun mengenai hukum berjabatan tangan antara laki-laki

dan wanita, maka menurut sebagian ulama, perbuatan ini hukumnya

makruh yang dekat kepada haram, dalam artian jika hal ini dilakukan antara

seorang pemuda dengan seorang pemudi, maka hukumnya haram.

Sedangkan jika dilakukan antara seorang lelaki tua dengan seorang wanita

tua, maka hukumnya makruh (artinya, jika ditinggalkan mendapatkan pahala

dan jika dilakukan tidak berdosa). Lalu jika dilakukan antara seorang lelaki

tua dengan seorang pemudi atau sebaliknya, maka hukumnya makruh pula,

kecuali jika salah satunya terdorong oleh syahwat, maka hukumnya haram

bagi yang terdorong oleh syahwat dan makruh bagi yang tidak terdorong

oleh syahwat.

239 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini hasan.


Nabi Shallallahu Alahi wa Sallama bersabda, Seseorang diantaramu

ditusuk kepalanya dengan jarum dari besi adalah lebih baik dibandingkan

harus menyentuh seorang wanita yang bukan mahramnya.240

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda saat

pembaiatan para wanita, Aku tidak berjabat tangan dengan wanita.241

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata pula tentang baiah ini, . . . Tidak,

demi Allah! Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah menyentuh tangan

seorang wanita pun pada saat pembaiatan.242

Sedang menurut ulama yang lain:

Jika berjabatan tangan tersebut disertai dengan syahwat ataupun

menimbulkan fitnah, seperti memandang yang diharamkan maupun

tertambatnya hati dan yang semisalnya, maka diharamkan, Artinya, berdosa

jika dilakukan dan berpahala jika ditinggalkan, sekalipun terhadap mahram

(seperti ibu, adik wanita, anak perempuan, bibi dan sebagainya) atau kepada

para wanita yang sudah tua.

Jika dilakukan tanpa syahwat dan aman dari fitnah maka hukumnya

boleh, DR. Al-Qaradhawi berkata dalam kitabnya Fatawa Al-Marah al-

Muslimah (Fatwa-fatwa Tentang Wanita Muslimah), Sesungguhnya berjabat

tangan itu boleh hukumnya jika tidak disertai syahwat dan aman dari fitnah.

Akan tetapi jika menimbulkan fitnah pada salah satu pihak, atau terdapat

syahwat dan kenikmatan dari salah satu pihak, maka tidak diragukan lagi

bahwa berjabat tangan haram baginya... Dan merupakan keutamaan bagi

seorang muslim dan muslimah yang memegang teguh agamanya untuk tidak

memulai mengulurkan tangan di antara sesama mereka, tetapi jika ada yang

mengulurkan tangan, maka terimalah...

Lebih lanjut DR. Al-Qaradhawi berkata berkaitan dengan sabda Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits ...ditusuk dengan jarum dari

besi... bahwa kata menyentuh wanita yang tidak halal baginya dalam

hadits tersebut bukan berarti sentuhan fisik tanpa syahwat, sebagaimana

240 Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi


241 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan termasuk kategori hadits mursal.
242 Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
disebutkan dalam masalah berjabatan tangan yang lalu, akan tetapi, harus

dipahami berdasarkan pemakaiannya dalam nash-nash syariat yang memliki

dua arti:

a. Ia merupakan kata kiasan dari lafazh jima (hubungan suami istri),

sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Abbas saat beliau menafsirkan

firman Allah Taala, ...atau menyentuh wanita... (An-Nisa: 43). Dia

berkata, Menyentuh yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah

kiasan dari hubungan suami istri.

b. Ia berarti pebuatan yang merupakan pendahuluan jima seperti

mencium, memeluk, bercumbu dan yang semisalnya.

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitabnya Al-

Fatawa telah melemahkan pendapat yang menafsirkan ayat tersebut sebagai

pengharaman sentuhan kulit dengan kulit walaupun tanpa diiringi syahwat.

Diantaranya, dia berkata, Arti menyentuh dalam ayat tersebut bukanlah

sekedar menyentuh dengan tangan melainkan menyentuh dengan syahwat...

4. Berduaan Antara Pasien laki-laki dengan Dokter Wanita dan


Antara Pasien Wanita dengan Dokter Laki-laki

Yang dimaksudkan dengan berduaan (khalwat) adalah berdua-


duaan antara pasien laki-laki dengan wanita yang bukan mahramnya
di suatu tempat yang tidak terlihat oleh orang lain, misalnya,
berduan dengan seorang dokter wanita atau perawat wanita yang
bukan istrinya ataupun kerabat yang tidak boleh dinikahinya
seperti ibu, anak, saudara perempuan, bibi dan sebagainya.
Khalwat ada dua macam:

a. Khalwat yang diharamkan

b. Khalwat yang dibolehkan.

1. Khalwat yang diharamkan.

Yaitu, berduaan yang dapat menjerumuskan seseorang untuk

melakukan apa-apa yang diharamkan, seperti berzina dan pendahuluannya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Brangsiapa yang beriman

kepada Allah dan Hari Akhir maka janganlah berduaan dengan seorang

wanita tanpa disertai mahramnya, karena yang ketiganya adalah setan.243

2. Khalwat yang dibolehkan.

243 Diriwayatkan oleh Ahmad.


yaitu yang boleh dilakukan tanpa terkena dosa, di antara contohnya

adalah:

a. Berduaan di antara keramaian manusia karena ada kebutuhan

dan jauh dari fitnah. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, ia berkata,

Seorang wanita Anshar datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa

Sallam, lalu beliau berduaan dengannya seraya bersabda, Demi Allah,

kalian ini adalah orang-orang yang paling aku cintai. 244 Yang dimaksud

oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai kalian dalam hadits

tersebut adalah kaum Anshar.

Hadits di atas disebutkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya

dengan judul Bab dibolehkan seorang lelaki berduaan dengan wanita di

antara keramaian manusia.

Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fath Al-Bari, Seorang laki-

laki tidak boleh berduaan dengan seorang wanita di tempat yang tidak

terlihat orang lain, kecuali dengan tujuan agar tidak kedengaran jika si

wanita berbicara pelan-pelan dalam pembicaraan yang dia merasa malu

untuk menyampaikannya di hadapan orang banyak.

Dari hadits di atas dapat juga diambil kesimpulan bahwa berdiskusi

dengan seorang wanita yang bukan mahramnya secara rahasia (berduan)

tidak dicela dalam pandangan agama, jika hal itu aman dari fitnah.

b. Sekelompok laki-laki shalih berkhalwat dengan seorang wanita

karena suatu kebutuhan dan aman dari fitnah.

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, Seorang laki-laki setelah

hari ini tidak dibolehkan masuk ke suatu tempat yang tersembunyi kecuali

bersama seorang atau dua orang laki-laki lain.245

Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Hadits di

atas ditakwilkan dengan sekelompok yang tidak mungkin melakukan

kesepakatan untuk melakukan zina karena keshalihan dan kehormatan

mereka.

244 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


245 Diriwayatkan oleh Muslim
c.Seorang laki-laki berkhalwat dengan para wanita (seperti

dengan para dokter wanita, atau para perawat atau para

penjenguk).

Imam An-Nawawi berkata, Jumhur ulama berpendapat atas

kebolehannya, karena sekelompok wanita pada umumnya tidak mungkin

akan dikalahkan oleh seorang laki-laki.

Adapun jika wanita menjenguk pasien laki-laki atau laki-laki menjenguk

pasien wanita, maka DR Yusuf Al-Qaradhawi berkata dalam bukunya Fatwa-

fatwa Wanita Muslimah sebagai berikut, Di antara etika yang diajarkan

Islam dan dicontohkan oleh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah

menjenguk orang yang sakit.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Hak muslim atas muslim

lainnya ada enam. Seorang sahabat bertanya, Apa saja itu wahai

Rasulullah? Nabi menjawab, Jika kamu menemuinya, maka ucapkan salam

kepadanya, jika dia mengundangmu, maka penuhilah, jika dia meminta

nasihat kepadamu, maka nasihatilah, jika dia bersin maka doakanlah, jika dia

sakit, maka jenguklah dan jika meninggal dunia, maka iringilah

jenazahnya.246

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, Barangsiapa

menjenguk seorang yang sakit, maka berserulah seorang penyeru di langit

(malaikat), Beruntunglah kamu, beruntunglah perjalananmu dan telah

disediakan di surga sebuah rumah untukmu.247

Kesimpulannya, hadits tersebut di atas menggunakan lafazh umum

yang mencakup lelaki dan wanita. Hingga dalil-dalil umum ini sudah cukup

untuk menunjukkan disyariatkannya kaum wanita menjenguk kaum laki-laki,

sepanjang dalam bingkai etika dan hukum syariat yang telah ditetapkan.

Di samping itu, terdapat dalil khusus yang menunjukkan

disyariatkannya wanita untuk menjenguk laki-laki. Imam Bukhari telah

membawakan sebuah hadits dalam bab Kaum wanita menjenguk kaum laki-

246 Diriwayatkan oleh Muslim.


247 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menurutnya hadits ini hasan.
laki, bahwa Ummu Darda pernah menjenguk seorang laki-laki ahli mesjid

dari kalangan Anshar saat dia sakit.

Terdapat pula dalil khusus yang menunjukkan disyariatkannya kaum

laki-laki menjenguk wanita yang sakit. Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu

Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke tempat

Ummu Saib seraya bersabda, Mengapa anda merintih wahai Ummu Saib?

Saya terkena demam. Semoga Allah tidak memberkahinya. jawab

Ummu Saib.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Jangan mencela demam,

karena ia mengapus dosa-dosa pada diri anak Adam, bagaikan alat peniup

api (pada tukang besi) menghilangkan karat besi. 248 (Sampai di sini selesai

kutipan dari DR. Al-Qaradhawi)

Adapun berkenaan dengan saling memberi hadiah maka diriwayatkan

dari Ummu Fadhl bin Harits Radhiyallahu Anha, Orang-orang berselisih

tentang shaumnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hari Arafah.

Sebagian orang berkata, Beliau berpuasa. dan sebagian yang lain berkata,

Beliau tidak berpuasa. Maka aku mengirim segelas susu kepada beliau pada

saat beliau sedang berada di atas tunggangannya. Beliau pun

meminumnya.249

Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath Al-Bari berkata, Dalam hadits

terdapat dalil kebolehan menerima hadiah dari seorang wanita.

5. bicaraan Lewat Telepon (atau surat-menyurat atau yang

sejenisnya) antara pasien laki-laki dengan dokter wanita dan antara

pasien wanita dengan dokter laki-laki.

Hukumnya boleh sepanjang aman dari fitnah dan memperhatikan etika

Islam dan aturannya (seperti serius dan tidak main-main dalam pembicaraan,

pembicaraan tersebut memang penting dan sebaginya).

Dari Aisyah binti Thalhah, ia berkata, Aku berkata kepada Aisyah (binti

Abu Bakar) saat aku berada di bawah asuhannya (maksudnya dalam

bimbingannya), sementara orang-orang datang kepadanya dari berbagai

248 Diriwayatkan Oleh Muslim


249 Diriwayatkan Oleh Al-Bukhari dan Muslim.
negri dan para orang tua berdatangan kepadaku karena kedudukanku dari

Aisyah. Sementara para pemuda menjadikanku sebagai saudara mereka dan

memberi hadiah kepadaku. Mereka menulis surat kepadaku dari berbagai

kota. Maka aku berkata kepada Aisyah, Wahai bibi, ini ada surat dari Fulan

serta hadiahnya. Aisyah berkata, Wahai anakku, jawabalah surat itu dan

ucapkan terimakasih, jika kamu tidak memiliki hadiah, akan aku berikan

kepadamu. Aisyah bin Thalhah berkata, Lalu Aisyah (binti Abu Bakar) pun

memberikan hadiah kepadaku.250

Imam Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab Adabul Mufrad

(Etika Personal) di bawah judul Bab surat-menyurat kepada wanita dan

memberikan jawabannya.

Mengenai suara wanita, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa

suara wanita itu aurat. Namun DR. Yusuf Al-Qaradhawi membantah pendapat

ini dalam kitabnya Fatwa-fatwa Wanita Muslimah sebagai berikut, . . . ada

yang mengatakan bahwa suara wanita itu aurat, sehingga tidak dibolehkan

bagi wanita untuk berbicara dengan lelaki, lalu kami tanyakan kepada

mereka tentang dalilnya, maka kami tidak menemukan dalil yang

menguatkan dan dapat menjadi sandaran mereka . . . Dulu, para wanita

bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di hadapan kaum lelaki.

Mereka tidak mendapatkan kesempitan dalam hal itu dan Nabi Shallallahu

Alaihi wa Sallam pun tidak melarangnya.

Paling jauh, yang dilarang bagi wanita adalah melembut-


lembutkan dan memerdukan suara sehingga dapat merayu dan menggoda
kaum lelaki, dan itulah yang disebutkan dalam Al-Qur`an dengan
istilah al-khudhu bil qaul (memerdukan suara) sebagaimana
dalam firman-Nya, Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah
seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu
memerdukan dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang
ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.
(Al-Ahzab: 32)
Ayat tersebut tidak melarang semua pembicaraan dengan laki-
laki, karena diakhirnya disebutkan, Dan ucapkanlah perkataan
yang baik (Sampai disini berakhir kutipan dari DR Al-
Qaradhawi).
6. Tolong Menolong antara Dokter Laki-laki dengan Pasien Wanita
dan antara Dokter Wanita dengan Pasien Laki-laki.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati seorang wanita

yang sedang menangis di sebuah kuburan, maka beliau bersabda,

250 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


Bertakwalah kepada Allah dan sabarlah. Maka wanita itu menjawab,

Pergilah tinggalkan aku, karena engkau tidak mengalami musibah seperti

yang kualami, maka kamu tidak tahu. Seseorang berkata kepada wanita itu,

Tadi yang menasihatimu itu adalah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam!

Maka wanita itu pergi mendatangi rumah Nabi dan tidak mendapatkan para

pengawal. Wanita itu berkata, Maaf aku tadi tidak mengetahui anda. Nabi

menjawab, Sesungguhnya sabar itu saat mendapat pukulan pertama.251

Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath Al-Bari berkata, Az-Zain bin

Munir berkata, . . . dibolehkan pembicaraan antara lelaki dengan wanita

dalam hal yang seperti itu, seperti dalam hal memerintahkan yang makruf

dan mencegah kemungkaran, ataupun menasihati atau ucapan

belasungkawa. Dan dalam hal tersebut tidak ada pengkhususan bagi

orangtua atau anak muda, sepanjang untuk kemaslahatan agama.

7. Penyebutan Nama Pasien Wanita Kepda Dokter Laki-Laki

Pasien wanita ataupun keluarganya sering merasa malu untuk


menyebutkan namanya di hadapan dokter laki-laki, karena
kekhawatiran bahwa hal tersebut dianggap merendahkan kehormatan
dan agamanya.
Tidak ada yang dapat menghilangkan perasaan tersebut kecuali
dengan dalil-dalil berikut ini:
a. Allah Subhanahu wa Taala telah memanggil nama wanita terbaik

dalam Al-Qur`an dengan menyebut namanya, dimana semua lelaki dan

wanita beribadah dengan membaca nama tersebut, Dan Maryam

puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke

dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia

membenarkan kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia

termasuk orang-orang yang taat. (At-Tahrim: 12)

b. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda di hadapan orang banyak,

. . . Andaikan Fathimah binti Muhammad mencuri, maka akulah yang

akan memotong tangannya.252

Tetapi siapa yang suka menyebutkan nama lain sebagai alias dari

namanya, maka dibolehkan, karena Allah Taala juga telah menyebut istri

251 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


252 Bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Nabi Musa Alaihissalam dalam firman-Nya, Dan dia berjalan bersama

keluarganya. (Al-Qashash: 29).

Demikianlah yang diwajibkan dalam interaksi antara pasien laki-laki

dengan dokter wanita, atau antara pasien wanita dengan dokter laki-laki,

yaitu hendaknya mereka memperhatikan etika Islam secara khusus dalam

masalah interaksi ini, seperti kesopanan, kepatutan, keseriusan dalam

pembicaraan, sikap dan gerakan serta hal-hal lain yang termasuk etika Islam.

Dan yang terpenting dari semua itu, hendaknya bertakwa kepada Taala

serta selalu mengharapkan ridha dan surga-Nya.

Azl (Coitus interruptus) dan Alat Kontrasepsi


Azl adalah mengeluarkan sperma laki-laki di luar vagina wanita dengan

tujuan untuk mencegah kehamilan.

Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Kami melakukan azl pada

masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dimana Al-Qur`an masih diturunkan,

dan hal tersebut diketahui oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, tetapi

beliau tidak melarangnya.253

Imam Ibnu Taimiyyah dalam fatwanya berkata, Sebagian ulama

mengharamkan azl, tetapi imam madzhab yang empat membolehkan asal

seijin istri. Karena merupakan hak istri untuk menikmati keluarnya sperma

tersebut, sebagaimana juga merupakan haknya untuk hamil. Kareanya tidak

boleh diabaikan haknya, kecuali dengan ijin dan ridha istri.

Adapun sebab pengharaman sebagian ulama terhadap azl adalah

kekhawatiran mereka bahwa manusia seolah-olah telah mencampuri urusan

Allah Subhanahu wa Taala dalam hal penciptaan mahkluk-Nya, atau takut

tidak tercukupi rezekinya, dan sebagainya yang diharamkan oleh Islam.

Semua itu bisa dikembalikan kepada niat orang yang ber-KB, apakah ia

melakukan azl, karena darurat atau karena keraguan akan rizki Allah?

Dari abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Disebutkan

tentang azl di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau

bertanya, Mengapa di antara kalian melakukan hal tersebut? Karena

253 Diriwayatkan oleh Muslim.


sesungguhnya tidaklah seorang pun di antara makhluk kecuali Allah

pencipta-Nya.254

DR. Al-Qaradhawi dalam kitabnya Halal dan Haram dalam Islam

berkata, Diberikan keringanan (rukshah) bagi seorang muslim dalam

masalah mengatur keturunan, jika ada alasan yang masuk akal atau hal

darurat yang dibenarkan. Sarana yang banyak dipakai di masa Nabi adalah

azl (dan telah ditemukan bermacam-macam cara di zaman sekarang yang

disebut sebagai alat kontrasepsi).

Diantara yang termasuk darurat adalah, kekhawatiran akan

keselamatan nyawa seorang ibu dan kesehatannya saat hamil atau

menyusui, yang kesemuanya itu harus karena pengalaman atau berdasarkan

rekomendasi dokter yang terpercaya. Allah Taala berfirman, Dan janganlah

kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah,

karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al-

Baqarah: 195)

Juga yang termasuk darurat adalah kekhawatiran akan buruknya

kondisi kesehatan anak-anak dan pendidikan mereka.

Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan

berkata, Wahai Rasulullah aku melakukan azl saat berhubungan dengan

istriku. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, Mengapa kamu

melakukannya? laki-laki itu menjawab, Aku khawatir kepada anak yang

akan lahir. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Kalau azl itu

berbahaya, maka pasti telah membahayakan bagi bangsa Persia dan

Romawi.255

Dalam hadits tersebut, seolah-olah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

mengisyaratkan bahwa perbuatan tersebut merupakan hal yang bersifat

individual sehingga tidak membahayakan umat, buktinya, hal tersebut tidak

membahayakan bagi bangsa Persia dan Romawi (yang biasa melakukan azl).

Keduanya merupakan negara terkuat di dunia pada masa itu (Adapun jika

azl dilakukan secara massal hingga membahayakan umat dengan

254 Diriwayatkan oleh Muslim.


255 Diriwayatkan oleh Muslim.
berkurangnya populasi mereka, hingga melemahkan eksistensi dan

produktifitas, maka hukumnya haram).4

Alasan lainnya adalah kekhawatiran atas bayi yang sedang disusui jika

ibunya kembali hamil (seperti merusak kualitas susu dan melemahkan bayi).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menamai hubungan sexual saat menyusui

sebagai wath`ul ghail (hubungan yang mematikan), karena merusak kualitas

susu dan melemahkan anak. Ia merupakan kejahatan tersembunyi terhadap

bayi yang sedang disusui.

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam juga bersabda, Janganlah kalian

bunuh anak-anakmu secara tersembunyi, karena sesungguhnya

bersanggama saat menyusui bagaikan penunggang kuda yang saling

mengalahkan Yang dimaksud saling mengalahkan adalah karena seorang

wanita yang hamil, saat menyusui maka bayi yang dikandungnya dan anak

yang sedang disusuinya saling berebut untuk mendapatkan air susu ibunya,

seperti seorang penunggang kuda yang saling memacu kudanya (sampai

disini selesai kutipan dari DR. Al-Qaradhawi).

Adapun mencegah kehamilan secara total (vasektomi dan tubektomi,

kontrasepsi permanen) tanpa ada udzur atau darurat, baik melalui

penggunaan obat, atau operasi atau yang semisal dengan itu, maka

hukumnya haram karena yang demikian itu merusak keturunan yang

diperintahkan untuk dijaga oleh Islam dalam rangka memakmurkan bumi.

Imam Ibnu Hajar berkata, Diharamkan menggunakan segala sesuatu

yang dapat memutuskan atau merusak janin dari rahim ibunya. Hal itupun

berlaku bagi laki-laki, karenanya, Islam melarang mengebiri tanpa alasan

yang darurat.

Dalam sebuah riwyat diceitakan bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu

Anhu meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar diberikan

keringanan untuk mengebiri dirinya karena tidak mampu menikah,

sementara ia masih muda dan takut terjerumus kepada dosa, namun

Rasulullah tidak mengizinkannya.256

Diriwayatkan oleh Abu Dawud.


256 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Aborsi
Yaitu mengeluarkan janin sebelum waktu kelahirannya secara sengaja

karena sebab-sebab tertentu.

Hukumnya:
1. Aborsi setelah ruh ditiupkan ke dalam janin, yaitu setelah 120 hari,

sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

diharamkan berdasarkan ijma (kesepakatan) para ulama, karena hal

tersebut mengandung unsur kejahatan terhadap jiwa manusia, kecuali dalam

keadaan darurat yang direkomendasikan oleh seorang dokter muslim yang

terpercaya dan ahli (karena dokter yang non muslim amanahnya diragukan

berkaitan dengan masalah agama), seperti nyawa ibunya terancam jika

kandungan tidak digugurkan. Dalam kondisi seperti itu, maka aborsi menjadi

wajib, dalam artian jika aborsi dilakukan mendapat pahala dan jika tidak

dilakukan berdosa.

Sedangkan aborsi yang tidak karena darurat, maka pelakunya berdosa

dan wajib membayar diyat sebagaimana diwajibkan kepada orang yang

membunuh satu jiwa manusia, yaitu untuk janin laki-laki sepersepuluh diyat

laki-laki dewasa (seharga 5 ekor unta) dan janin wanita diyatnya

sepersepuluh wanita dewasa. Semua itu jika janin tersebut saat keluar dari

rahim hidup lalu meninggal. Adapun jika terlahir sudah meninggal, maka

sansi materilnya lebih kecil dan ditentukan oleh pemerintah atau instansi

yang berkaitan.

DR. Al-Qaradhawi dalam kitabnya Halal dan Haram dalam Islam

berkata, Para ahli fikih bersepakat bahwa pengguguran janin pasca

ditiupkan ruh adalah haram dan dihitung kejahatan, karena ia merupakan

kejahatan terhadap nyawa manusia. Atas dasar itu, diyat wajib dikenakan

kepada pelakunya, jika janin tersebut lahir dalam keadaan hidup kemudian

meninggal. Jika terlahir sudah meninggal, maka dikenakan sanksi materil

yang lebih ringan. Kecuali, jika dipastikan bahwa dengan membiarkan janin

tersebut bisa menyebabkan kematian ibunya. Sesungguhnya syariah melalui


kaidah-kaidah umumnya memerintahkan untuk mengambil bahaya yang

lebih ringan. Apabila janin tetap dibiarkan, bisa mengakibatkan kematian

ibunya, sementara tidak ada jalan keluar selain harus menggugurkannya,

maka aborsi pada kondisi tersebut hukumnya wajib.

2. Aborsi sebelum janin ditiupkan ruh (sebelum 120 hari).

Pengarang kitab Fiqhul Wadhih (DR. Muhammad Bakr Ismail) berkata,

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli fikih tentang melakukan

aborsi sebelum janin ditiupkan ruh tanpa alasan darurat. Jumhur ulama

melarang hal tersebut, karena ia merupakan kejahatan pada janin dan

pelanggaran terhadap yang menyerukan untuk memperbanyak keturunan.

Sedangkan jika dalam kondisi darurat berdasarkan rekomendasi dari

para dokter yang terpercaya, seperti dapat menyebabkan kematian ibunya,

atau akan ditimpa penyakit, maka dibolehkan. Karena jika dibolehkan aborsi

saat janin telah ditiupkan ruh karena darurat, maka lebih boleh lagi jika

belum ditiupkan ruh.

Inseminasi Buatan dan Bayi Tabung

Sebagai Solusi Kemandulan

Yang dimaksud adalah memperoleh kehamilan dengan cara tanpa

hubungan seksual sebagai solusi kemandulan, misalnya dengan

menyuntikkan zygote (hasil pembuahan antara sperma dengan sel

telur/ovum) dari sepasang suami-istri ke dalam rahim sang istri, atau

mengawinkan ovum dengan sperma dari suaminya di luar rahim, dan bentuk-

bentuk lain dari inseminasi buatan.

Hukumnya:

Majelis Fatwa Mesir telah membolehkan hal ini dengan syarat, di

antaranya:

1. Jika Zygote (hasil pembuahan) tersebut adalah benar-benar dari hasil

pertemuan dengan sperma suaminya tanpa adanya penggantian

ataupun percampuran dengan sperma yaang lain, baik dari manusia

maupun hewan apa saja, maka dibolehkan secara syari karena jelas
nasabnya. Tetapi apabila dari laki-laki lain selain suaminya maka

diharamkan secara syari, dan termasuk kepada perbuatan zina dan

demikian pula hasilnya.

2. Diambil dari ovum istrinya yang tidak bisa hamil lalu dibuahi oleh

sperma suaminya diluar rahim (tabung), lalu dimasukkan ke dalam

rahim istrinya setelah terjadi pembuahan, tanpa diganti ataupun

dicampur dengan sperma orang lain atau binatang, karena alasan

medis dan setelah advis dokter ahli yang berpengalaman dan dapat

dipertanggungjawabkan. Metode ini dibolehkan secara syari.

3. Pembuahan dengan mempertemukan ovum seorang wanita dengan

sperma laki-laki yang bukan suaminya, kemudian diambil zygote

tersebut dan diletakkan pada rahim istri dari lelaki pemilik sperma

tersebut, hukumnya haram dan termasuk ke dalam zina.

4. Pembuahan antara ovum istri dengan sperma suaminya, lalu

dipertemukan di dalam rahim binatang dari jenis tertentu, kemudian

dikembalikan ke rahim istri tersebut, ini merupakan kerusakan

terhadap ciptaan Allah di bumi dan haram hukumnya.

5. Semua bayi yang berasal dari jalan yang haram yang dihasilkan dari

pembuahan sintetis, tidak bisa dipaksakan untuk bernasab kepada

seorang bapak, tetapi dinasabkan kepada yang mengandung dan

melahirkannya dengan memandang kelahiran, sebagai kelahiran yang

alami, sebagaimana layaknya anak hasil zina.

6. Membangun Bank mani yang mengoleksi sperma laki-laki yang

memiliki sifat-sifat tertentu untuk dikawinkan dengan ovum wanita

yang memiliki sifat-sifat tertentu adalah kejahatan yang merusak

tatanan keluarga dan ancaman terhadap hancurnya kehidupan

keluarga sebagaimana yang dikehendaki Allah.

Lihat buku al-Fiqh al-Wadhih, karangan DR. Muhammad Bakar Ismail,

jilid 2, hal 476.

Operasi Medis
Untuk Memperbaiki Cacat Tubuh

Contoh-contohnya:
1. Menghilangkan jari yang berlebih atau memisahkan antara dua jari atau

lebih.

2. Memperbaiki buruk rupa karena terbakar.

3. Memisahkan anak kembar siam.

4. Operasi bibir sumbing.

5. Mencabut gigi yang lebih.

6. Menghilangkan rambut yang tidak lazim pada wanita, seperti

tumbuhnya kumis dan sebagainya.

Hukumnya :

Semua operasi tersebut dan yang sejenis, hukumnya boleh karena

termasuk upaya pengobatan dan usaha yang dianjurkan oleh Islam.

Sedangkan tindakan medis untuk mempercantik diri, misalnya untuk

menyembunyikan kekurangan atau menipu, seperti operasi plastik

mengencangkan kulit wajah untuk menghilangkan ketuaan, merenggangkan

gigi untuk menampakkan gigi yang kecil dan cantik, atau menyambung

rambut dengan rambut palsu, maka semua itu diharamkan.

Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath Al-Bari berkata, Dikecualikan

dari yang demikian itu apa-apa yang mengakibatkan bahaya dan sakit,

seperti terdapatnya gigi lebih atau gigi yang panjang yang menyulitkan saat

makan, atau jari yang lebih yang mengganggu dan menyakitkan. Semua itu

boleh dihilangkan oleh wanita dan berlaku pula bagi laki-laki. Allah

Subhanahu wa Taala berfirman tentang perkataan Iblis -semoga laknat Allah

atasnya, Dan akan sungguh-sungguh aku perintahkan mereka untuk

mengubah ciptaan Allah. (An-Nisa: 119).

Dari Ibnu Masud Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Allah melaknat

orang yang membuat tato dan orang yang minta ditato, yang mencabut bulu

alis dan merenggangkan gigi untuk mempercantik diri dengan mengubah

ciptaan Allah. Bagaimana aku tidak melaknat terhadap orang yang dilaknat

oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam?257

257 Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim.


Tato adalah hiasan pada kulit dengan menusukkan jarum dan
memasukkan warna pada bekas goresan tersebut.

Operasi Selaput Dara Bagi Gadis yang Diperkosa


Seorang wanita yang diperkosa wajib dirahasiakan apa yang telah

menimpanya, karena Allah Subhanahu wa Taala telah memerintahkan untuk

merahasiakan aib. Disamping itu, apa yang menimpanya berada di luar

keinginannya. Dengan diadakan operasi selaput dara, maka kegadisannya

bisa kembali. Dengan itu, ia bisa kembali menjalani kehidupannya secara

normal, dan tertolong untuk kembali hidup berguna dan meraih kebahagian,

masyarakat pun senang kepadanya.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Umar bin Khattab

Radhiyallahu Anhu telah melarang seorang laki-laki untuk menceritakan aib

putrinya yang tertimpa peristiwa tersebut.258

Bagi seorang wanita yang telah melakukan kesalahan sekali atau lebih,

hukumnya sama seperti wanita yang diperkosa, wajib ditutupi aibnya. Karena

dosa sebesar apa pun jika bertaubat akan diampuni, sepanjang bukan

merupakan dosa syirik (menyekutukan Allah), sebagaimana firman Allah

Taala, Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia

mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang

dikehendaki-Nya. (An-Nisa': 48).

Adapun wanita yang terbiasa berzina, maka penutupan aibnya akan

menyebabkan tersebarnya perbuatan keji. Karenanya, diharamkan baginya

untuk mengembalikan selaput daranya, karena akan menipu orang yang

kelak akan menikahinya. Kecuali jika dia bertaubat dengan taubat yang

sebenar-benarnya, dan dapat dibuktikan bahwa dia benar-benar sudah

bertaubat. Ketika itu, ia boleh melakukan operasi selaput dara, guna

membantunya untuk kembali tegar serta memulai hidup yang lebih baik.

Bagi dokter yang menanganinya, hendaknya bertakwa kepada Allah

Subhanahu wa Taala dan berusaha keras untuk mengetahui apa latar

belakang yang mendorong pasiennya meminta dioperasi. Hal itu dilakukan

258 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


semampunya. Atas dasar itu, ia menetapkan keputusannya untuk menolong,

sesuai dengan praduganya yang kuat.

Ganti Kelamin dari Laki-laki ke Perempuan

Dan Sebaliknya

Sifat kelelakiannya lebih dominan:

Jika terbukti demikian, yakni berdasarkan laporan dari


dokter yang ahli dan terpercaya melalui analisa medis dan
pengamatan kromosom (genotif dan fenotif) kelelakiannya yang
terdapat dalam sel tubuhnya, misalnya sel darah putih, maka
diperbolehkan untuk melakukan operasi guna mengganti kelaminnya
menjadi laki-laki. Karena hal tersebut termasuk pengobatan yang
dianjurkan dan diwajibkan oleh Islam.

Sifat kewanitaan lebih dominan:


Jika demikian, maka dibolehkan untuk dilakukan operasi kelamin agar

diubah menjadi wanita.

Adapun, jika semata-mata terdapat sifat kewanitaan pada seorang

lelaki atau sifat kelelakian pada seorang wanita, maka diharamkan untuk

dilakukan operasi kelamin pada kondisi ini, karena hal ini sama saja dengan

laki-laki yang menyerupai wanita atau wanita yang menyerupai laki-laki,

yang dilaknat oleh Rasul Shallallahu Alahi wa Sallam, mengingat bahaya

yang ditimbulkannya terhadap diri mereka sendiri dan masyarakat.

Anas Radhiyallahu Anhu berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-

laki.259

(Disarikan dari fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Dar al-Ifta Mesir,

tahun 1981, dalam kitab Ahsan al-Kalam fi Fatawa wa al-Ahkam, karangan

Syaikh Athiyyah Shaqr, jilid-12 halaman 190).

Donor Organ Tubuh dan Donor Darah

serta jual-beli keduanya


Syaikh Athiyyah Shaqr, ketua Lajnah Fatwa Al-Azhar, dalam kitabnya

Ahsan al-Kalam fi Fatawa wa al-Ahkam, berkata,

259 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.


Pemindahan salah satu dari dua ginjal dibolehkan dengan dua syarat

yang harus dipenuhi dalam pemindahan suatu organ tubuh yang berasal dari

seseorang kepada orang lain, yaitu:

1. Tidak menimbulkan bahaya bagi orang yang diambil organ atau

darahnya.

2. Terdapat dugaan kuat atas manfaat dari organ atau darah tersebut bagi

penggunanya.

Syaikh Athiyyah juga berkata, Jika yang diambil adalah organ kelamin

(dua buah pelir) dari seorang laki-laki untuk diberikan kepada orang lain,

maka tidak boleh, karena hal tersebut berarti pengebirian bagi yang diambil,

dan pengebirian diharamkan berdasarkan nash hadits Nabi Shallallahu Alaihi

wa Sallam, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dimana beliau

melarang Abu Hurairah untuk melakukannya, sekalipun dia beralasan tidak

menemukan wanita yang siap dinikahinya, sementara dia adalah seorang

pemuda yang takut terjerumus kepada zina.

Jika yang diambil hanya satu buah pelir, maka hukumnya sama dengan

organ tubuh lainnya, yaitu dibolehkan (dengan dua syarat yang telah

dijelaskan di atas).

Tidak diragukan lagi, bahwa buah pelir adalah tempat diproduksinya

sperma yang merupakan asal muasalnya mani. Dan zat ini jika berlebih akan

keluar melalui jalannya. Jika buah pelir tempat tersimpannya sperma tersebut

diambil dengan asumsi bahwa sperma akan tetap hidup, sekalipun buah pelir

telah diambil dan hidup pada jasad orang lain, serta akan terus memproduksi

sperma melalui jasad yang baru, sehingga bercampur antara zat sperma dari

tubuh yang pertama dengan tubuh yang kedua. Seandainya, sperma dari

orang yang kedua ini dicampurkan dengan ovum istrinya melalui pembuahan

di luar tubuh, maka ketika telah terjadi kehamilan, kita tidak dapat

mengetahui secara pasti dari mana asalnya sperma, apakah dari bapak yang

pertama atau yang kedua?

Bisa saja, golongan darah serta bentuk fisik anak tersebut menolong

kita dalam menentukan siapa bapaknya. Namun, jika terbukti bahwa sang
anak berasal dari tubuh yang pertama, maka menjadi haramlah pembuahan

yang telah dilakukan. Di sini timbul masalah lain, yakni berkaitan dengan

nasab anak yang mengikuti ranjang ibunya, dan hak suami untuk mengakui

atau menolaknya, sebagaimana yang dibahas dalam masalah inseminasi

buatan.

Oleh sebab itu, saya (penulis) lebih memilih untuk melarang

pemindahan organ tersebut, karena hal itu tidak termasuk keadaan darurat.

Seorang laki-laki yang mandul, kemandulannya tidak mungkin akan

mengakibatkan kebinasaannya atau menyebabkan bahaya yang besar

baginya.

Apabila telah dilakukan transplantasi buah pelir, maka wajib hukumnya

untuk mengeluarkan dan mengosongkan sperma yang ada di dalamnya,

sehingga dapat dipastikan telah benar-benar bersih dari sisa sperma yang

lama, berdasarkan pemeriksaan dokter spesialis, sehingga tidak akan terjadi

percampuran nasab... Dan hukum yang sama juga berlaku bagi transplantasi

ovarium (tempat sel telur) wanita. (Selesai kutipan dari Syaikh Athiyyah

Shaqr).

Syaikh Athiyyah, dalam bukunya, juga menerangkan tentang

pemindahan organ tubuh yang diambil dari binatang kepada manusia,

termasuk dari Babi. Secara ringkas, berkenaaan dengan hal tersebut, beliau

berkata,

. . . Para ahli fikih dari madzhab Maliki, Hambali dan Syafii secara

jelas menyatakan bahwa mengobati manusia dengan benda najis adalah

dibolehkan pada kondisi darurat . . . Sebagaimana para ahli fikih dari

madzhab Hanafi berkata, Jika kondisi darurat menuntut untuk

menghubungkan tulang tubuh yang patah dengan tulang yang najis, maka

tidak menjadi masalah dan tidak berdosa. Atas dasar ini, saya berkata,

Mencangkokkan organ babi kepada organ manusia karena alasan

pengobatan bagi seorang pasien, karena tidak ditemukannya organ lain yang

lebih baik sampai saat ini, maka hukumnya tidak mengapa.


Jual-beli Anggota Tubuh dan Darah
Hukumnya haram dan pelakunya berdosa, karena dia telah menjual

sesuatu yang bukan miliknya. Semua anggota dan organ tubuh adalah milik

Allah, Pencipta kita. Dia memberikannya kepada manusia sebagai amanat.

Adapun jika disumbangkan secara sukarela, maka akan mendapatkan pahala

yang besar karena telah menolong manusia yang lain agar dapat bertahan

hidup dan berproduksi. Tindakan tersebut termasuk dalam kerangaka saling

tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa di antara kaum muslimin.

Disebutkan dalam fatwa-fatwa Mufti Mesir, Syaikh Jad Al-Haq (Al-

Fatawa hal. 1323, tanggal 5/12/1979): Diharamkan bagi seseorang untuk

menuntut bayaran atau sebagian pembayaran dari anggota tubuh yang

disumbangkan, sebagaimana diharamkan juga menuntut bayaran dari darah

yang disumbangkan, karena jual-beli anggota tubuh manusia adalah batil

secara syari karena kemuliaannya, berdasarkan dalil Al-Qur`an Al-Kari.

Demikian pula menjual sebagiannya.

Sedangkan tentang imbalan yang diterima seorang pendonor atas

pemberiannya, maka telah disebutkan dalam fatwa-fatwa Kumpulan Masalah

Fiqh dari Rabithah Alam Islami tahun 1989 sebagai berikut:

Adapun hukum mengambil upah sebagai pengganti darah atau

dengan kata lain menjual darah, maka majlis berpendapat bahwa hal itu

tidak boleh . . . dengan pengecualian keadaan darurat, guna mendukung

operasi-operasi medis, dimana tidak ada yang mau memberikan donor

kecuali harus dibeli. Karena sesungguhnya, keadaan darurat membolehkan

hal yang dilarang, sebatas yang diperlukan. Pada saat itu dihalalkan bagi

pembeli untuk membayar harga anggota tubuh tersebut dan sebaliknya

berdosa bagi yang menjualnya. Meski demikian, tidak ada larangan, untuk

memberikan imbalan dalam bentuk hibah kepada orang yang memberi

organ, untuk memotivasi orang lain melakukan hal yang serupa, demi

menyelamatkan jiwa manusia, karena hal ini masih termasuk dalam bab

sumbangan dan bukan jual-beli. (Lihat Kitab At-Thabib: Adabuhu wa

Fiqhuhu, oleh DR Zahir Ahmad).


Artinya diharamkan bagi pendonor untuk menentukan harganya lebih

dulu. Karena kalau tidak, ia tidak dianggap telah menyumbangkan organnya.

Ia hanya boleh menerima sekedar apa yang diberikan kepadanya.

Mengambil Kornea Mata dari Manusia Hidup


Dalam kumpulan fatwa Ulama-ulama Saudi Arabia, (NO. 62 tanggal

25/10/1398 H) disebutkan, Dibolehkan mengambil kornea yang masih

normal dari mata seseorang, dengan perkiraan bahwa mata itu akan

membahayakan dirinya jika tidak diambil, lalu ditanamkan pada mata

seorang muslim lainnya yang membutuhkan, sepanjang penanaman tersebut

demi menjaga kesehatan pemberinya serta tidak berbahaya bagi yang

menerimanya. Karena penanaman pada mata orang lain tersebut akan

sangat bermanfaat, maka hal tersebut sesuai dengan tuntutan syariat nilai-

nilai kemanusiaan yang harus dipelihara. (Silakan rujuk kitab Ath-Thabib:

Adabuhu wa Fiqhuhu, karangan DR Zahir Ahmad).

Apabila seseorang mau memberikan salah satu kornea matanya

dengan sukarela, maka hal itu diperbolehkan, sebagaimana dibolehkannya

menyumbangkan salah satu ginjalnya, karena hal itu termasuk dalam

kerangka saling tolong-menolong dan saling membantu di antara manusia,

dan pelakunya akan mendapatkan pahala yang besar.

Tetapi, ia dilarang untuk memberikan kedua kornea matanya,

mengingat hal tersebut bisa menimbulkan bahaya bagi yang pemberi, dan

Islam mengharamkan timbulnya bahaya, baik bagi sang pelaku sendiri

maupun bagi orang lain, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa

Sallam, Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.260

Pengambilan anggota tubuh manusia setelah dia meninggal dunia:


Disebutkan dalam kumpulan fatwa-fatwa Islam yag dikeluarkan oleh

Lembaga Tertinggi Fatwa Mesir, sebuah fatwa dari syaikh Hasan Mamun

mufti Mesir tahun 1959 tentang masalah pengambilan mata dari seorang

mayat untuk orang hidup, sebagai berikut:

1. Mengeluarkan mata mayat hukumnya sama dengan mengeluarkan mata

orang yang masih hidup, yaitu, tidak dibolehkan secara syari, kecuali
260 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
dalam keadaan darurat, dengan ukuran bahwa maslahat yang diambil

lebih besar dari keburukan yang menimpa mayat. (Karena darurat dalam

Islam membolehkan hal yang dilarang serta darurat yang lebih besar

mengalahkan darurat yang lebih ringan).

2. Pengambilan mata mayat untuk diambil kornea matanya dan diberikan

kepada orang buta dapat memberikan maslahat yang lebih besar daripada

penjagaan atas keutuhan anggota tubuh mayat, maka hal tersebut

dibolehkan secara syariat.

3. Tindakan tersebut dilarang jika bukan untuk kemaslahatan yang sudah

jelas atau kebutuhan yang sangat mendesak.

4. Terkait dengan dikeluarkannya hukum yang membolehkan hal tersebut,

maka nash menyatakan bahwa pembolehan tersebut hanya karena alasan

darurat atau kebutuhan yang mendesak saja. Ditambah satu syarat lagi

bahwa mayat tersebut haruslah yang tidak memiliki ahli waris.

Jika mayat memiliki ahli waris, maka pengambilannya tidak boleh

dilakukan kecuali dengan seijin mereka. Jika mereka mengijinkannya maka

boleh dilakukan dan jika tidak, maka tidak boleh.

Kemudian terdapat beberapa fatwa yang membolehkan pengambilan

anggota badan secara umum (bukan hanya mata saja), di antaranya fatwa

Syaikh Jadul Haq, Mufti Mesir tahun 1979, dengan memberikan syarat yang

sama, yaitu karena keadaan darurat, mendapat ijin mayat sebelum

kematiannya, atau mendapat ijin dari ahli warisnya setelah kematiannya,

atau mayat tersebut tidak ada ahli warisnya, hingga pengambilan anggota

tubuh tersebut tidak akan mengakibatkan terjadinya fitnah di masyarakat.

Fatwa-fatwa di atas menjadi dasar bagi pembolehan para ahli fikih

untuk membedah perut mayat guna mengambil perhiasan atau harta yang

masuk ke dalam tubuhnya, dan tidak ada cara lain selain harus dibedah.

Sebagaimana juga dibolehkan untuk membedah perut wanita hamil yang

sudah meninggal untuk mengeluarkan bayinya yang diharapkan masih hidup,

seperti jika usia kehamilan sudah mencapai enam bulan atau lebih.
Jika benar, bahwa mayoritas ahli fikih telah membolehkan pembedahan

perut atau anggota tubuh mayat lainnya untuk mengeluarkan harta yang ada

di dalamnya, maka pembedahan mayat (sebagaimana yang terjadi saat

pembedahan mayat untuk praktek kedokteran), dan pengambilan organ

tubuhnya untuk kepentingan manusia yang masih hidup, lebih dibolehkan.

Dengan catatan, semua ini harus berdasarkan persetujuan mayat sebelum

wafatnya atau persetujuan ahli warisnya jika setelah wafat. (Lihat kitab At-

Thabib: Adabuhu wa Fiqhuhu, oleh DR. Zahir Ahmad).

Karena yang diharamkan dalam Islam adalah menghina mayat,

mempermainkannya atau merusaknya dengan niat balas dendam dan

didorong kedengkian.

Mengetahui Jenis Kelamin Janin Sebelum Kelahirannya


Hal ini bisa dilakukan melalui sebuah alat yang disebut
sinar-X atau yang sejenisnya. Pengetahuan tentang hal ini dan
yang sepertinya, tidak diharamkan oleh Islam, bahkan diwajibkan.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Menuntut ilmu itu
hukumnya fardhu atas semua muslim.261
Tindakan ini juga tidak bertentangan dengan firman Allah
Taala tentang cakupan ilmu-Nya, meskipun Dia telah berfirman,
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan
tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan
mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang
dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya
besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana
dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal. (Luqman: 34). Alasannya adalah sebagai berikut:
a. Allah Subhanahu wa Taala mengetahui janin tersebut bahkan
sebelum terbentuk, yaitu sebelum bercampurnya sel telur
(ovum) wanita dengan sperma laki-laki, bahkan sebelum
menikahnya seorang suami dengan istrinya. Sedangkan
kedokteran tidak mengetahui perbedaan jenis kelamin bayi
tersebut sampai terbentuknya zygote yang telah tumbuh
berkembang hingga fase tertentu yang memungkinkannya untuk
dibedakan jenis kelaminnya.
b. Allah Subhanahu wa Taala mengetahui janin dengan
pengetahuan yang paripurna dan integral hingga mencakup
jenis kelaminnya, rezekinya, bahagia atau sengsara,
sedangkan kedokteran tidak akan mampu mencapai hal tersebut.

Eutanasia bagi Orang yang Tidak Punya Harapan Sembuh,

seperti Penderita Kanker dan AIDS

261 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah.


Disebutkan dalam kumpulan Fatwa-fatwa Perhimpunan Fikih Islam,

yang dihasilkan oleh Organisasi Muktamar Islam dalam Muktamarnya yang

ketiga tahun 1986 sebagai berikut:

Seseorang telah dipandang mati menurut syariat dan berlaku seluruh

aturan syariat yang diterapkan bagi orang yang telah meninggal dunia, jika

tampak padanya salah satu dari dua indikasi berikut ini:

1. Jika telah benar-benar berhenti detak jantung dan nafasnya dan para

dokter telah menetapkan bahwa tidak dimungkinkan untuk berdetak

kembali.

2. Jika seluruh organ otaknya telah berhenti berfungsi dan para dokter

spesialis yang berpengalaman telah menetapkan bahwa otaknya tidak

akan bisa kembali normal dan melemah.

Dalam kondisi seperti itu, diperkenankan mengambil dan melepas alat-

alat medis yang menempel di tubuhnya, walaupun sebagian anggota

tubuhnya, seperti jantung misalnya, masih bisa bekerja dengan bantuan alat

tersebut. Allahu alam.

Demikian itu, karena dari sisi kedokteran adakalanya jantung berhenti

berdetak atau paru-paru berhenti bernafas untuk sementara, namun masih

memungkinkan untuk ditolong selama sumsum otak masih hidup. Akan

tetapi, jika sumsum otaknya telah mati yang ditandai dengan berhentinya

gerakan mata, itu berarti pasien telah benar-benar meninggal, sekalipun

masih tersisa sedikit gerakan pada jantung dan paru-parunya, karena

gerakan tersebut akan berhenti dengan sendirinya, tanpa bisa bergerak

kembali.

Adapun jika otak belum sepenuhnya mati, maka mengambil dan

melepas alat-alat medis dari badan si pasien pada kondisi tersebut

merupakan pembunuhan atasnya, sebagaimana firman Allah Taala, Dan

barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka

balasannnya ialah Jahannam, Kekal ia di dalamnya dan Allah murka

kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar

baginya. (An-Nisa': 93).


Jika pasien mengijinkan untuk dilepas alat-alatnya, maka tindakan

tersebut dikategorikan sebagai tindakan bunuh diri. Dan orang yang

melakukannya dia dipandang sebagai pembunuh, karena ijinnya sama sekali

tidak bisa menghalalkan yang haram, dan nyawa pasien tersebut bukan

miliknya, sekalipun dia mengijinkan untuk membunuhnya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Ada di antara umat

sebelum kalian seorang laki-laki yang terluka parah, sehingga dia tak tahan

menahan sakit, maka dia mengambil pisau dan memutuskan urat nadinya,

maka tumpahlah darahnya sampai dia mati. Maka Allah Subhanahu wa Taala

berfirman, Hamba-Ku telah mendahului (keputusan)Ku, maka Aku haramkan

surga baginya.262

Adapun pasien yang tidak punya harapan sembuh atau penyakitnya

mematikan (misalnya, penyakit aids), juga tidak dibolehkan dibunuh dengan

alasan untuk mencegah penularan, karena masih ada jalan lain untuk

mencegah penularan yang lebih ringan daripada membunuh, seperti

dipisahkan atau atau dikarantinakan dari orang lain.

(Ringkasan dari kitab Ahsan al-Kalam fi Fatawa wa al-Ahkam, karangan

syaikh Athiyyah Shaqr, Ketua Panitia Fatwa al-Azhar, jilid-11).

PENUTUP
Semua tulisan hanya bisa diselesaikan berkat pertolongan Allah Taala.

Jika apa yang saya tulis ini benar, saya berharap bisa mendapatkan dua

pahala. Adapun jika salah dalam sebagiannya, maka saya berharap

mendapatkan satu pahala, dan saya mengharapkan kepada para pembaca

untuk meluruskannya dengan mengirimkan kritik dan saran kepada

penerbitnya, agar dapat diperbaiki pada edisi yang akan datang dengan ijin

Allah.

Dan akhir kata, saya ucapkan terimakasih kepada yang terhormat

Mahmud Manshur yang telah melakukan penelaahan yang mendalam

terhadap buku ini, dan penerbit yang telah menerbitkan buku ini dan semua

262 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim


pegawainya, semoga Allah Subhanahu wa Taala membalas mereka semua

atas jasa-jasanya kepada Islam dan kaum muslimin dengan pembalasan yang

sebaik-baiknya.

DR. Muhammad Manshur


DAFTAR ISI

MUKADDIMAH

BERSUCI DAN SHALAT


Syarat Sah Shalat Secara Umum

Syarat Sah Shalat Bagi Orang Sakit


Bagaimana Orang Sakit Bersuci untuk Shalat?

1. Menghilangkan Najis

a. Orang Yang Tidak Mampu Menghilangkan Najis

b. Najis Yang Sering Mengenai Orang Sakit

c. Yang Mampu Menghilangkan Najis

d. Bagaimana Mensucikan Najis

Catatan dalam Mensucikan Najis

2. Istinja

* Yang Mampu Melakukan Istinja

* Yang Tidak Mampu Melakukan Istinja

3. Wudhu

A. Yang Mampu Berwudhu

B. Yang Tidak Mampu Berwudu

Yang Tidak Mampu Berwudhu dan Tayamum

Luka Yang Menyebabkan Tidak Bisa Berwudhu

Catatan atas Mengusap Perban

Yang Membatalkan Tayamum

Syarat Agar Mengusap Sepatu Menjadi Sah

Perkara Yang Tidak Membatalkan Wudhu Bagi Orang Sakit, Dan Yang

Membatalkannya:

1. Terus Menerus Keluar Air Kencing, Kotoran, Kentut, Darah, Nanah, Madzi,

Wadi atau Mani Atau Cairan kewanitaan, Atau Apa Yang Dalam Fikih Disebut

Sulusul Baul atau Hadats Yang Terus Menerus.

2. Darah Luka, Darah Bercampur Nanah, Nanah

3. Muntah, Kotoran dan Yang Semisalnya


4. Dahak

5. Selang Yang Dimasukkan Lewat Saluran Kencing dan Anus (Obat Yang

Dimasukkan lewat Anus), Alat Yang Dimasukkan lewat Vagina.

6. Selang Yang Dimasukkan ke Dalam Paru-paru, Lambung, Usus, Empedu,

Dada, Hidung, Telinga dan sejenisnya.

7. Obat yang Dimasukkan ke dalam Anus atau Vagina

8. Pemeriksaan dengan Memasukkan Jari ke dalam Anus atau Vagina

(Penyakit kewanitaan)

9. Pingsan, Hilang Akal, Bius dan Tidur.

10. Perut Kembung (Karena banyak Angin)

11. Menyentuh Alar Reproduksi dan Lubang Anus

12. Menyentuh Benda Najis

13. Menyentuh Perempuan

14. Orang Yang Ragu Apakah Dia Masih Punya Wudhu atau Tidak.

15. Madzi, Wadi, Mani dan Cairan Kewanitaan

4. Mandi

A. Orang Yang Tidak Mampu Mandi

B. Orang Yang Mampu Mandi

Catatan atas Mandi

CARA SHALAT ORANG SAKIT


1. Orang Yang Tidak Mampu Menutup Aurat

2. Orang Yang Tidak Mampu Menghadap Kiblat

3. Orang Yang Tidak Mampu Berdiri, Ruku dan Sujud

4. Orang Yang Tidak Mampu Takbiratul Ihram

5. Orang Yang Tidak Mampu Membaca Fatihah dan Tasyahhud

6. Orang Yang Tidak Mampu Membaca Salam

7. Jama antara Dua Shalat

8. Mengqadha Shalat Yang Tertinggal

9. Lupa Dalam Shalat

10. Meninggalkan Shalat Jumat dan Dua Hari Raya


11. Meninggalkan Shalat Jamaah

12. Yang Tidak Membatalkan Shalat Orang Sakit dan Yang Membatalkan

PUASA ORANG SAKIT


Kapan Orang Sakit Boleh Berbuka?

Yang Tidak Membatalkan Puasa Orang Sakit dan Yang Membatalkan

1. Selang Anus, Obat Anus, Suntikan Lewat Anus dan Yang Sejenisnya

2. Dokter Memasukkan Jarinya Saat Pemeriksaan Anus

3. Selang Vagina, Obat yang Dimasukkan ke dalam Vagina dan sejenisnya

4. Dokter Memasukkan Jarinya Saat Pemeriksaan Vagina

5. Selang Yang Dimasukkan ke dalam Saluran Kecing dan Sejenisnya

6. Selang Paru-paru, Lambung, Usus, Infus dan Yang Sejenisnya

7. Selang Yang Dimasukkan ke dalam Empedu

8. Selang Yang Dimasukkan ke dalam Dada

9. Selang Tenggorokan, Telinga, Mata, Lutut dan yang Sejenisnya yang Tidak

Dimasukkan Lewat Alat Pencernaan.

10. Urat Darah Halus, Suntikan Urat Darah Halus, otot dan Bawah Kulit dan

Yang Sejenisnya.

11. Mengambil sel darah, Darah akibat Luka, Bisul, Nanah dan Yang

Sejenisnya

12. Obat Tetes Mata, Celak, Salep mata, Tetes Telinga dan Yang Sejenisnya.

13. Tetes Hidung, Menghirup dan Menyumpalkannya, Darah Yang Keluar

darinya (Mimisan) dan Yang Sejenisnya

14. Obat Pelega Dada.

15. Pingsan, Hilang Ingatan, Mabuk, Terkena Serangan Jantung, Sakit Ginjal

dan yang Sejenisnya, Tidur Sepangjang Siang.

16. Bius Total, Semi Total dan lokal.

17. Darah Yang Keluar Dari Mulut, Gusi, Obat Kumur, Mengobati Gigi,

Menyimpan sesuatu dalam Mulut Atau Berkumur-kumur dan Gosok Gigi.

18. Dahak, Lendir dan yang Sejenisnya.

19. Muntah dan Makanan Yang Kembali Keluar Dari Perut.


20. Mengluarkan Cairan Dari Dada, Hati, Perut, Tulang Punggung, Lutut dan

Yang lainnya.

21. Sisa Makanan Yang Tertinggal di Sela-sela Gigi

22. Bersetubuh, Onani, Mimpi, Mengeluarkan Madzi, Carian Kewanitaan Yang

Keluar Dan mengalir, Mencium Istri, Mencumbuinya di Siang Hari Ramadhan.

23. Haid, Nifas dan Istihadhah.

24. Hamil dan Menyusui.

25. Orang Sakit Yang Kecil Harapan Untuk Sembuh (Seperti Kanker dan

Sebagainya) Kakek-kakek dan Nenek-nenek.

26. Orang Meninggal dan Mempunyai Hutang Puasa

37. Orang Yang sedang Puasa Sunnat Menderita Sakit atau Sebab Lain dan

dia Ingin Membatalkan Puasanya

28. Niat Puasa Wajib dan Puasa Sunnat

29. Orang Yang Ragu Mengenai Terbit Fajar Atau Terbenam Matahari, lalu Dia

Makan dan Minum.

30. Mandi Saat Berpuasa

31. Meletakkan Parfum dan Mengirup Baunya, Menghirup Asap dan debu

32. Puasa Seorang Wanita Tanpa ijin Suami Yang Sakit di Luar Bulan

Ramadhan

33. Dipaksa Untuk Berbuka

Orang Sakit Mengqadha Puasa Yang Ditinggalkannya

Orang Sakit Mengqadha Itikaf

Zakat Wajib atas Orang Sakit

Haji dan Umrah Orang Sakit


Hukum Haji

Ketika Menghajikan Orang lain Disyaratkan Memenuhi Syarat-syarat Berikut

Orang Sakit Sembuh setelah Dihajikan oleh Orang lain

Orang Sakit Meninggal Sebelum Menunaikan Haji, Atau Dihajikan Orang lain.

Hukum Umrah

Waktu Haji
Amalan Haji, Tempat, Cara Ibadah Orang Sakit

Ihram

Cara Ihram, Sunnat-sunnatnya dan Pengecualian bagi Orang Sakit

Fidyah dengan Memilih Satu di antara Tiga

Tempat Ihram, Miqat Makani

Masuk Mekkah bagi Orang Yang Tidak Melaksanakan Haji atau Umrah

(Misalkan untuk Berjualan dan Bekerja)

Apa-Apa Yang Diharamkan bagi Orang Yang Sedang Ihram . . . Pengecualian-

pengecualian bagi Orang Sakit

1. Bersenang-senang dan Bermewah-mewahan

Dibolehkan bagi Orang Sakit Untuk Melakukan hal-hal berikut:

a. Mengobati Luka

b. Menggunting Sebagian Rambut atau Lepas

c. Menggunting Kuku

d. Menggaruk Kulit Mengolesi dengan Obat, Pencuci dan lainnya

e. Menaungi Tubuh dengan Payung, Kemah dan Lainnya, Menutup Wajah

f. Memakai Obat Tetes Mata, Celak, Salep mata, tetes hidung, Telinga,

Menghirup Obat Pelega Nafas dan Yang Sejenisnya.

g. Menghirup Obat, Parfum dan Yang Semisalnya.

h. Mandi

i. Mencuci Kain dan Baju

j. Melihat Cermin

k. Bersenang Karena Lupa atau Tidak Tahu tentang Keharaman

l. Jual Beli dan Muamalah Harta

1. Bersetubuh, Onani, Mencium, Menyentuh dan Melihat Wanita

2. Berburu Binatang Darat

3. Fasik dan Buruk Akhlak

Catatan atas Penyembelihan

Talbiyah
Thawaf Qudum (Thawaf Tahiyatul Masjidil Haram)
Orang Yang Tidak Mampu Thawaf Qudum atau Kelelahan atau alasan

Lainnya.

Syarat sah dan Kekecualian bagi Orang Sakit.

a. Bersuci

Yang tidak Mampu Menghilangkan Najis

Wanita Haid, Nifas Mengambil salah Satu Pendapat Berikut:

b. Menutup Aurat

c. Menyempurnakan Tujuh Keliling

Sai antara Shafa dan Marwah


Syarat sah dan Kekecualian-kekecualian bagi Orang Sakit

Menuju Mina

Berangkat dari Mina ke Arafah

Wuquf di Arafah
Cara Wukuf di Arafah bagi Orang Sakit

Orang Yang Pingsan di Arafah

Orang Yang tidak Sempat Wukuf Secara Sempurna Hingga Terbit Fajar

Perjalan Dari Arafah Menuju Muzdalifah


Jika Orang Sakit atau orang Sehat Tidak Mampu Melakukan Mabit

Amalan-amalan Pada Hari Idul Adha (Sepuluh Dzulhijjah)

a. Lempar Jumrah Aqabah (Jumrah Kubra)

Jika Orang Sakit Tidak Mampu Melempar

b. Menyembelih

c. Mencukur atau Memotong Rambut

d. Thawaf Ifadhah

Amalan-amalan pada tiga Hari Tasyrik

a. Mabit di Mina (Untuk Melempar Jumrah)

Orang Sakit, dan Yang Mempunyai udzur

b. Melempar Jumrah

Orang Sakit (Orang Yang Mempunyai udzur)

c. Kembali Ke Mekkah (dari Mina)

Orang Sakit Yang Mempunyai Udzur


d. Thawaf Wada

Umrah

Cara dan Hukum-hukum Umrah . . . Kekecualian-kekecualian bagi Orang Sakit

Mengunjungi Masjid Nabawi dan Kuburan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sallam

Orang Sakit dan Yang Mempunyai Udzur

Adab Kembali Kepada Keluarga

Sebagian Permasalah Fikih Yang Berkaitan dengan Orang Sakit


Berobat dengan Obat Yang Mengandung Alkohol, candu dan Yang Semisalnya

Fikih Interaksi antara Pasien Laki-laki dengan Dokter Perempuan atau Pasien

Perempuan dengan Dokter Laki-laki

1. Membuka Aurat

2. Melihat

3. Mengucapkan Salam Dan Berjabatan Tangan

4. Berdua-duaan atau khalwat

5. Pembicaraan Lewat Telepon

6. Tolong-menolong

7. Memanggil Nama

Azl dan Alat Kontrasepsi

Aborsi

Inseminasi Buatan, Bayi Tabung Sebagai Solusi Kemandulan

Operasi Medis Untuk Memperbaiki Cacat Tubuh

Operasi Selaput Dara

Ganti Kelamin dari Laki-laki ke Perempuan atau Sebaliknya

Donor Organ Tubuh, Donor Darah dan Memperjual-belikannya

Mengetahui Jenis Kelamin Janin Sebelum Kelahirannya.

Eustanasia bagi Orang yang Tidak Punya Harapan Sembuh, seperti Kanker

dan AIDS

PENUTUP

DAFTAR ISI