Anda di halaman 1dari 17

EPIDEMIOLOGI GIZI

DISTRIBUSI DAN DETERMINAN

PENYAKIT JANTUNG

Oleh :

Mohammad Fahmi Rasyidi 101611233009

Mutiara Arsya V.W 101611233039

Yulianti Wulan Sari 101611233050

UNIVERSITAS AIRLANGGA
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PRODI S1 ILMU GIZI
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Pada era dewasa ini telah terjadi pergeseran pengertian epidemiologi, yang dulunya lebih
menekankan ke arah penyakit menular ke arah – arah masalah kesehatan dengan ruang lingkup
yang sangat luas. Keadaan ini terjadi karena transisi pola penyakit yang terjadi pada masyarakat,
pergeseran pola hidup, peningkatan sosial, ekonomi masyarakat dan semakin luasnya jangkauan
masyarakat. Mula-mula epidemiologi hanya mempelajari penyakit yang dapat menimbulkan
wabah melalui temuan-temuan tentang jenis penyakit wabah, cara penularan dan penyebab serta
bagaimana penanggulangan penyakit wabah tersebut. Kemudian tahap berikutnya berkembang
lagi menyangkut penyakit yang infeksi non-wabah. Berlanjut lagi dengan mempelajari penyakit
non infeksi seperti jantung, karsinoma, hipertensi, dll.
Penyakit jantung sering dianggap sebagai penyakit monopoli orang tua. Dulu memang
penyakit tersebut diderita oleh orang tua terutama yang berusia 60 tahun ke atas, karena usia juga
merupakan salah satu faktor risiko terkena penyakit jantung dan stroke. Namun sekarang ini ada
kecenderungan juga diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun. Hal ini terjadi karena adanya
perubahan gaya hidup, terutama pada orang muda perkotaan modern.
Ketika era globalisasi menyebabkan informasi semakin mudah diperoleh, negara
berkembang dapat segera meniru kebiasaan negara barat yang dianggap cermin pola hidup
modern. Sejumlah perilaku seperti mengkonsumsi makanan siap saji (fast food) yang
mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kerja
berlebihan, kurang berolah raga, dan stress, telah menjadi gaya hidup manusia terutama di
perkotaan. Padahal seluruh perilaku tersebut dapat merupakan faktor-faktor penyebab penyakit
jantung dan stroke. Selain itu ada juga beberapa penyakit yang dapat berdampak pada kesehatan
jantung pula.
Perlu adanya pengetahuan serta informasi mengenai hal-hal apa saja yang wajib
diperhatikan baik itu dari primer maupun sekunder penyebab terjadinya penyakit jantung.
Melalui faktor resiko, determinan hingga distribusi dapat menjadi suatu jembatan bagi
masyarakat untuk lebih mewaspadai dan meminimalisir terjadinya penyakit jantung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN PENYAKIT JANTUNG


Penyakit jantung, stroke, dan penyakit periferal arterial merupakan penyakit yang
mematikan. Di seluruh dunia, jumlah penderita penyakit ini terus bertambah. “Penyakit jantung”
adalah istilah yang dipakai untuk menyebut gangguan jantung, namun kenyataannya bukan
hanya itu. Penyakit ini tidak hanya melibatkan jantung namun juga jaringan pembuluh darah
sepanjang 96.540 km dimana jantung memompa darah sebanyak 100.000 denyut dalam sehari.
Penyakit jantung adalah sekelompok gangguan yang meliputi jantung dan seluruh sistem
pembuluh darah (vaskular) oleh karenanya penyakit ini disebut penyakit mematikan. Penyakit
jantung pada orang dewasa yang sering ditemui adalah penyakit jantung koroner dan gagal
jantung.
Salah satu jenis penyakit jantung ialah PJK. Penyakit jantung koroner ini merupakan
gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah karena adanya penyempitan
pembuluh darah koroner. Secara klinis, ditandai dengan nyeri dada atau terasa tidak nyaman di
dada atau dada terasa tertekan berat ketika sedang mendaki/kerja berat ataupun berjalan terburu-
buru pada saat berjalan di jalan datar atau berjalan jauh.

Gambar 1.1 Penyempitann Pembulu Darah dari Tahun ke Tahun


Didefinisikan sebagai PJK jika pernah didiagnosis menderita PJK (angina pektoris
dan/atau infark miokard) oleh dokter atau belum pernah didiagnosis menderita PJK tetapi pernah
mengalami gejala/riwayat: nyeri di dalam dada/rasa tertekan berat/tidak nyaman di dada dan
nyeri/tidak nyaman di dada dirasakan di dada bagian tengah/dada kiri depan/menjalar ke lengan
kiri dan nyeri/tidak nyaman di dada dirasakan ketika mendaki/naik tangga/berjalan tergesa-gesa
dan nyeri/tidak nyaman di dada hilang ketika menghentikan aktifitas/istirahat.
Gagal Jantung/Payah Jantung (fungsi jantung lemah) merupakan kategori penyakit jantung
yang ditandai dengan adanya ketidakmampuan jantung memompa darah yang cukup ke seluruh
tubuh yang diawali dengan sesak nafas pada saat beraktifitas dan/atau saat tidur terlentang tanpa
bantal, dan/atau tungkai bawah membengkak.
Didefinisikan sebagai penyakit gagal jantung jika pernah didiagnosis menderita penyakit
gagal jantung (decompensatio cordis) oleh dokter atau belum pernah didiagnosis menderita
penyakit gagal jantung tetapi mengalami gejala/riwayat: sesak napas pada saat aktifitas dan sesak
napas saat tidur terlentang tanpa bantal dan kapasitas aktivitas fisik menurun/mudah lelah dan
tungkai bawah bengkak. Berikut adalah parameter diagnosis penyakit jantung:
Tabel 1.1 Parameter Diagnosis Penyakit Jantung
(American Dietetic Association, 2011)
Riwayat makan
 Kelebihan asupan lemak dan lemak berisiko tinggi (lemak jenuh,trans fat,kolesterol) .
 Kelebihan asupan lemak dan atau makanan yang dIbuat dengan menambahkan lemak.
 Asupan serat, soy protein, B-glukan, atau plantsterol dan stanol esters tidak mencukupi.
 Asupan energi tidak mencukupi (penurunan nafsu makan).
Biokimia
 Pemeriksaan profil lipid meliputi:
Kolesterol serum
Kolesterol, HDL menurun
Kolesterol, LDL meningkat
Trigliserida meningkat
Prom lipid serum 0
 Pemeriksaan enzim jantung:
CPK-MB/CPK: isoenzim yang ditemukan pada otot jantung meningkat
LDH/HBDH: meningkat dalam 12-24jam dan memakan waktu lama untuk kembali
normal.
AST/SGOT
Penunjang: EKG
Antopometri
 IMT Meningkat
Pemeriksaan fisik klinis
 Napas pendek-pendek . Ada asites
 Mual
 Muntah
 Tekanan darah (meningkat)
 Frekuensi napas (meningkat)
Riwayat yang dialami pasien dan riwayat penyakit keluarga, usia, genetik:
 Angina
 Aritmia
 Aterosklerosis
 Penyakit kardiovaskular
 Perubahan jantung
 Hiperlipidemia
 Hipertensi
 Hipertrigliseridemia
2.2 EPIDEMIOLOGI PENYAKIT JANTUNG

Menurut estimasi para ahli badan kesehatan sedunia PBB (WHO), setiap tahun sekitar
50% penduduk dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Berdasarkan
laporan World Health Statistic 2008, tercatat 17,1 juta orang meninggal di dunia akibat penyakit
jantung koroner dan diperkirakan angka ini akan meningkat terus hingga 2030 menjadi 23,4 juta
kematian di dunia. Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Organisasi Federasi Jantung
Sedunia (World Heart Federation) telah memprediksi bahwa penyakit jantung akan menjadi
penyebab utama kematian di negara-negara Asia pada tahun 2010. Saat ini, sedikitnya 78%
kematian global akibat penyakit jantung terjadi pada kalangan masyarakat miskin dan menengah.
Berdasarkan kondisi itu, dalam keadaan ekonomi terpuruk maka upaya pencegahan merupakan
hal terpenting untuk menurunkan penyakit kardiovaskuler pada 2010. Di negara berkembang dari
tahun 1990 sampai 2020, angka kematian akibat penyakit jantung koroner akan meningkat 137
% pada laki-laki dan 120% pada wanita, sedangkan di negara maju peningkatannya lebih rendah
yaitu 48% pada laki-laki dan 29% pada wanita. Di tahun 2020 diperkirakan penyakit
kardiovaskuler menjadi penyebab kematian 25 orang setiap tahunnya. Oleh karena itu, penyakit
jantung koroner menjadi penyebab kematian dan kecacatan nomor satu di dunia.
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan sosok penyakit yang sangat menakutkan dan
masih menjadi masalah, baik di negara maju maupun berkembang Penyakit jantung merupakan
penyebab kematian nomor satu di Amerika. Di Amerika pada tahun 1992 penyakit jantung
koroner menyebabkan 921.000 kematian, atau merupakan 45% penyebab kematian di negara
tersebut. Setiap tahunnya, di Amerika Serikat sekitar 478.000 orang meninggal karena penyakit
jantung koroner, 1,5 juta orang mengalami serangan jantung, 407.000 orang mengalami operasi
peralihan, 300.000 orang menjalani angioplasti. Di Eropa diperhitungkan 20.000 – 40.000 orang
dari 1 juta penduduk menderita PJK. Penyakit jantung, stroke, dan aterosklerosis merupakan
penyakit yang mematikan. Di Inggris penyakit jantung koroner telah menyebabkan lebih dari
180.000 kematian setiap tahun. Di Jepang pada tahun 2006 didapatkan dari 3.081 pasien yang
turut dalam studi Jikei, tercatat 41 % yang menderita jantung koroner. Di seluruh dunia, jumlah
penderita penyakit ini terus bertambah dan tidak lepas dari gaya hidup yang kurang sehat, yang
banyak dilakukan seiring dengan berubahnya pola hidup.
Indonesia saat ini menghadapi masalah kesehatan yang kompleks dan beragam. Tentu
saja mulai dari infeksi klasik dan modern, penyakit degeneratif serta penyakit psikososial yang
menjadikan Indonesia saat ini yang menghadapi " threeple burden diseases". Namun tetap saja
penyebab angka kematian terbesar adalah akibat penyakit jantung koroner "the silence killer".
Tingginya angka kematian di Indonesia akibat penyakit jantung koroner (PJK) mencapai 26%.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional (SKRTN), dalam 10 tahun terakhir
angka tersebut cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 1991, angka kematian akibat PJK
adalah 16 %. kemudian di tahun 2001 angka tersebut melonjak menjadi 26,4 %. Angka kematian
akibat PJK diperkirakan mencapai 53,5 per 100.000 penduduk di negara kita.
Di Indonesia, Pada hasil riskesdas tahun 2013 menunjukkan prevalensi jantung koroner
berdasarkan wawancara terdiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,5 persen, dan berdasarkan
terdiagnosis dokter atau gejala sebesar 1,5 persen. Prevalensi jantung koroner berdasarkan
terdiagnosis dokter tertinggi Sulawesi Tengah (0,8%) diikuti Sulawesi Utara, DKI Jakarta, Aceh
masing-masing 0,7 persen. Sementara prevalensi jantung koroner menurut diagnosis atau gejala
tertinggi di Nusa Tenggara Timur (4,4%), diikuti Sulawesi Tengah (3,8%), Sulawesi Selatan
(2,9%), dan Sulawesi Barat (2,6%).
Pada hasil riskesdas tahun 2013 juga menunjukkan bahwa Prevalensi gagal jantung
berdasar wawancara terdiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 persen, dan yang terdiagnosis
dokter atau gejala sebesar 0,3 persen. Prevalensi gagal jantung berdasarkan terdiagnosis dokter
tertinggi DI Yogyakarta (0,25%), disusul Jawa Timur (0,19%), dan Jawa Tengah (0,18%).
Prevalensi gagal jantung berdasarkan diagnosis dan gejala tertinggi di Nusa Tenggara Timur
(0,8%), diikuti Sulawesi Tengah (0,7%), sementara Sulawesi Selatan dan Papua sebesar 0,5
persen.
Kemudian Pada hasil riskesdas tahun 2013 menunjukkan prevalensi penyakit jantung
koroner (PJK) berdasarkan wawancara yang didiagnosis dokter serta yang didiagnosis dokter
atau gejala meningkat seiring dengan bertambahnya umur, tertinggi pada kelompok umur 65 -74
tahun yaitu 2,0 persen dan 3,6 persen, menurun sedikit pada kelompok umur ≥ 75 tahun.
Prevalensi PJK yang didiagnosis dokter maupun berdasarkan diagnosis dokter atau gejala lebih
tinggi pada perempuan (0,5% dan 1,5%). Prevalensi PJK lebih tinggi pada masyarakat tidak
bersekolah dan tidak bekerja. Berdasar PJK terdiagnosis dokter prevalensi lebih tinggi di
perkotaan, namun berdasarkan terdiagnosis dokter dan gejala lebih tinggi di perdesaan dan pada
kuintil indeks kepemilikan terbawah.
Salah satu factor risiko dari penyakit jantung adalah hipertensi dan Pada hasil riskesdas
tahun 2013 menunjukan bahwa Prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui
pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar 25,8 persen, tertinggi di Bangka Belitung (30,9%),
diikuti Kalimantan Selatan (30,8%), Kalimantan Timur (29,6%) dan Jawa Barat (29,4%) dan
Prevalensi hipertensi cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan lebih rendah dan
kelompok tidak bekerja, kemungkinan akibat ketidaktahuan tentang pola makan yang baik.
Sedangkan Pada analisis hipertensi terbatas pada usia 15-17 didapatkan prevalensi nasional
sebesar 5,3 persen (laki-laki 6,0% dan perempuan 4,7%), perdesaan (5,6%) lebih tinggi dari
perkotaan (5,1%). (RISKESDAS. 2013)

2.3 DISTRIBUSI PENYAKIT JANTUNG


Penyakit jantung terdistribusi dalam masyarakat berdasarkan karakteristik masyarakat dan
lingkungannya. Secara umum dapat dikatakan bahwa distribusi penyakit jantung adalah:
a) Distribusi menurut orang
Sebaran penyakit jantung berdasarkan siapa yang terdiagnosa banyak terjadi melalui
berbagai indikator mulai dari jenis kelamin, umur, dan suku bangsa tertentu. Berdasarkan
data penelitian disebutkan bahwa menurut jenis kelamin, laki-laki lebih rentan terkena
penyakit jantung dibanding perempuan. Karena faktor hormonal dan proses biologis pada
perempuan yang berbeda dengan laki-laki. Melihat batasan umur bagi penderita jantung,
hampir keseluruhan prevalensi penyakit terjadi diatas umur 30 tahun. Seiring dengan
menuanya umur juga beriringan dengan menuanya semua sel-sel tubuh, sehingga
kemampuan proteksi terhadap berbagai penyakit mulai menurun.
b) Distribusi menurut tempat
Prevalensi penyakit jantung lebih banyak ditemukan di negara berkembang daripada
negara yang sedang berkembang. Faktor ikut terlibatnya pemerintah dalam menangani
kasus ini juga cukup mempengaruhi tingkat tinggi rendahnya penyakit jantung. Rataan
jumlah penyakit jantung juga cukup banyak ditemui di masyarakat daerah perkotaan
dibandingkan daerah pedesaan. Gaya hidup dan pola makan yang kurang tepat menjadi
penyebab utama meningkatnya jumlah penyakit jantung tersebut. Dengan tingkat
ekonomi yang tinggi, masyarakat perkotaan dapat dengan mudah menuruti hasrat dan
keinginan dalam mewujudkan sesuatu terutama dalam hal ini adalah pilihan jenis menu
makanan.
c) Distribusi menurut tingkat pendidikan dan pengetahuan
Kesadaran akan potensi terkena penyakit jantung masih kurang dimiliki oleh sebagian
besar masyarakat. Banyak faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, salah satunya
adalah kemampuan berfikir masyarakat terhadap informasi terkait kesehatan yang
dilandasi oleh pengetahuan yang cukup. Berbagai upaya sudah dilakukan, baik itu
melalui program edukasi maupun penyuluhan terkait pentingnya menjaga kesehatan.

Tabel 1.2 Prevalensi penyakit jantung koroner dan gagal jantung pada usia>15 tahun
berdasarkan provinsi (Riskesdas, 2013)
Tabel 1.3 Prevalensi penyakit jantung koroner dan gagal jantung pada usia >15 tahun
berdasarkan karakteristik (Riskesdas,2013)
2.4 DETERMINAN PENYAKIT JANTUNG

PJK
Faktor Langsung

Jenis
Merokok
Stress Kelamin

Diabetes Hipertensi Kolesterol

Low Activity Diet salah Genetik Umur

Faktor Tidak Langsung

Status Ekonomi,Sosial,dan Sosiodemografi


(Pendidikan, status
Budaya
perkawinan)

Gambar 1.2 Determinan Penyakit Jantung


2.4.1 Kolesterol
Timbunan lemak, khususnya akibat kolesterol yang disebut plak terbentuk pada
dinding pembuluh nadi. Plak inilah yang dapat mempersempit ruang pada pembuluh darah
dan menghambat aliran darah. Jika plak tersebut pecah akan menciptakan suatu gumpalan
darah di daerah tersebut. Aliran darah ke bagian otot jantung akan terganggu dan
mengakibatkan serangan jantung.
Tabel 1.4 Cut Off Kolestrol
Kolestrol Total
<200 mg/dl Normal
200-239 mg/dl Batas tinggi
≥240 mg/dl Tinggi
Kolestrol LDL
<100 mg/dl Normal
100-129 mg/dl Mendekati optimal
130-159 mg/dl Batas tinggi
160-189 mg/dl Tinggi
≥190 mg/dl Sangat tinggi
Kolestrol HDL
40-59 mg/dl Normal
≥60 mg/dl Tinggi
Trigliserida
<150 mg/dl Normal
150-199 mg/dl Batas tinggi
200-499 mg/dl Tinggi
≥500 mg/dl Sangat tinggi

2.4.2 Diabetes
Diabetes jangka panjang memberi dampak yang parah pada sistem kardiovaskular.
Komplikasi mikrovaskular terjadi akibat penebalan membran basal pembuluh kecil.
Penyebab penebalan tersebut berkaitan langsung dengan tingginya kadar glukosa dalam
darah. Penebalan mikrovaskular menyebabkan iskemia dan penurunan penyaluran oksigen
dan zat gizi ke jaringan.

Tabel 1.5 Batas Maksimal Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2


≥ 126 mg/dl Fasting plasma glucose
≥ 200 mg/dl Glucose tolerance test
≥ 6,5 % HbA1c
≥ 200 mg/dl Random plasma glucose

2.4.3 Hipertensi
Hipertensi menimbulkan suatu proses sklerosis pada dinding arteri. Proses Ini akan
mempermudah pembentukan bekuan darah dan melemahkan pembuluh darah penderita,
sehingga mudah pecah dan terbentuk trombus. Efek yang terjadi pada pembuluh darah
jantung secara terus menerus menyebabkan kerusakan sistem pembuluh darah arteri
sehingga mengalami suatu proses pengerasan pembuluh darah.

Tabel 1.6 Klasifikasi tekanan darah pada penderita hipertensi yang Berisiko Penyakit
Jantung

Kategori Sistolik Diastolik


Hipertensi perbatasan 130-139 mmHg 85-89 mmHg
Hipertensi ringan (stadium 1) 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Hipertensi sedang (stadium 2) 160-179 mmHg 100-109 mmHg
Hipertensi berat (stadium 3) 180-209 mmHg 110-119 mmHg
Hipertensi maligna (stadium 4) ≥210 mmHg ≥120 mmHg

2.4.4 Kebiasaan merokok


Zat kimia yang terkandung dalam rokok terserap ke dalam aliran darah dan beredar
ke seluruh tubuh. Zat tersebut akan merusak sel-sel yang ada dalam tubuh. Zat kimia juga
mempengaruhi pembuluh darah untuk menyempit dan juga membuat sel darah menjadi
lengket dan mudah untuk berubah bentuk menjadi endapan atau gumpalan.
2.4.5 IMT

Seseorang dengan IMT lebih (gemuk) memiliki timbunan lemak di tubuh lebih
banyak daripada seseorang dengan IMT normal. Hal ini dapat meningkatkan substansi
yang disebut plak sepanjang dinding arteri (atherosklerosis). Kadang-kadang plak tersebut
retak dan memicu bekuan darah yang dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh
darah yang nantinya akan memicu kejadian penyakit jantung.

Tabel 1.6 Klasifikasi IMT yang Berisiko Penyakit Jantung

KLASIFIKASI BMI (Kg/m2)


Overweight
Pre-Obesitas 25,00-29,99
Obesitas
Obesitas I 30,00-34,99
Obesitas II 35,00-39,99
Obesitas III ≥40,00

2.4.6 Diet yang salah

Kebiasaan konsumsi (tinggi glikemik, tinggi natrium, rendah serat dan tinggi lemak
jenuh), dan kebiasaan konsumsi minuman (kopi dan alkohol) masi banyak ditemui di
kalangan masyarakat khususnya di kalangan remaja dan dewasa. Yang mana akan
berdampak langsung terhadap tingginya resiko komplikasi beberapa penyakit seperti
hipertensi, diabetes, dan kolesterol.

2.4.7 Faktor Sosiodemografi

- Umur
Seiring bertambahnya umur, resiko penyakit jantung semakin meningkat baik pada laki-
laki maupun perempuan
- Pendidikan
Tingginya tingkat pendidikan berpengaruh terhadap seberapa tinggi tingkat pengetahuan
akan kesehatan mengenai penyakit jantung
- Stress
Stress menjadi pemicu awal yang dapat berdampak langsung pada kesehatan
jantung.Terlalu sering stress maka dapat meningkatkan potensi terjadi penyakit jantung.

2.4.8 Faktor Ekonomi, Sosial, dan Budaya


- Ekonomi
Tingkat kesejahteraan masyarakat banyak diukur dari segi ekonomi, oleh karenanya
banyak sekali hal-hal terutama dalam kesehatan yang selalu mengedepankan nilai
ekonomi sehingga bagi segelintir orang yang tingkat ekonominya rendah kesulitan untuk
mengakses fasilitas kesehatan yang baik
- Sosial
Lingkungan sosial disini mempengaruhi seseorang untuk melakukan suatu tindakan
tertentu. Dalam hal ini adalah kebiasaan merokok yang sudah sangat riskan dan
mengkhawatirkan. Bahkan sudah banyak ditemukan pelajar-pelajar sekolah yang terbiasa
merokok. Dari segi kesehatan adalah suatu hal yang fatal apabila sejak dini sudah
terpapar dengan rokok. Tidak mengherankan kenapa prevalensi penyakit jantung
meningkat.
- Budaya
Pola hidup dan pola makan menjadi beberapa hal yang berbeda ketika kita bicara
mengenai budaya. Indonesia sebagai negara yang beraneka macam budaya dan kebiasaan
adat. Banyak sekali ditemukan beberapa kebiasaan terutama dalam pemilihan menu
makanan yang tidak sesuai dengan kesehatan. Oleh karenanya masi banyak faktor resiko
terutama pada penyakit jantung yang disebabkan oleh kesalahan dalam pola makan.
BAB III
KESIMPULAN

Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyakit yang cukup memiliki tingkat
keparahan yang tinggi. Berdasarkan berbagai hasil penelitian banyak disebutkan bahwa adanya
peningkatan prevalensi penyakit jantung. Baik itu dari luar negeri maupun dalam negeri. Banyak
sekali faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit jantung ini. Mulai dari beberapa
komplikasi pemyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, kolesterol hingga faktor internal
atau kebiasaan perilaku yang salah dalam pola hidup dan pola makan. Faktor sosial dan budaya
juga turut berperan dalam mempengaruhi terjadinya penyakit jantung. Berbagai upaya dilakukan
untuk mengurangi prevalensi penyakit jantung mulai dari edukasi, sosialisasi, dan peningkatan
pengobatan. Namun seiring berjalannya waktu prevalensi penyakit jantung ini tidak kunjung
menunjukan adanya penurunan. Berhasil atau tidaknya meminimalisir penyakit jantung ini
kembali lagi ke kesadaran pribadi masing-masing untuk lebih menjaga pola hidup yang sehat.
DAFTAR PUSTAKA

American Dietetic Association. 2011.IDNT Reference Manual, Third Edition.


Budiman. 2015. Hubungan Dislipidemia, Hipertensi, dan Diabetes Mellitus Dengan Kejadian
Infark Miokard Akut. Cimahi: STIKES Jenderal Achmad Yani.
Davey,P. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Davidson,C. 2002. Penyakit Jantung Koroner. Jakarta: PT Dian Rakyat.
Delima.2009.Prevalensi dan Faktor Determinan Penyakit Jantung di Indonesia. Puslitbang
biomedis dan Farmasi.
Departemen Kesehatan RI. 2008. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004.Jakarta: Badan
Litbangkes.
Departemen Kesehatan RI. 2014. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013.
Jakarta:Badan Litbangkes.
Gray,dkk. 2005. Kardiologi:LectureNotes edisi 4. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Maulana,M. Penyakit Jantung, Pengertian, Penanganan ,dan Pengobatan.Yogyakarta: Penerbit
Kata Hati.
Rustika. 2015. Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK) Pada Perempuan. Pusat
Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat, Balitbang Kesehatan: Kemenkes RI.
Tiani,Sulis. 2015. Determinan Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Pasien Rawat Jalan Poli
Jantung dan Poli Penyakit Dalam RSD. dr Soebandi Jember. Jember: Bagian
Epidemiologi dan Biostatistika FKM Universitas Jember.