Anda di halaman 1dari 237

TIM PENELITI KAJIAN TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT UNIVERSITAS PADJADJARAN

Penanggung Jawab

:

Prof. Dr. Ir. Tarkus Suganda,

Tim

:

Kodrat Wibowo, SE, Ph.D

:

Dr. Dede Maryana, MS Dr. Dadi Argadiredja, MS Dr. Sudradjat, MT Drs. Budi Gunawan, MA, Ph.D

KATA PENGANTAR

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Tim Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Barat 2008 merampungkan laporan akhir Kajian TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT: BERSAMA MENATA PERUBAHAN. Tim dari Universitas Padjadjaran Bandung berasal dari berbagai disiplin ilmu yang disesuaikan dengan arahan fokus yang diinginkan oleh Bappenas. Dalam pelaksanaan kajian evaluasi, peran Bapeda Propinsi Jabar, terutama Bagian Monitoring dan Evaluasi Pembangunan dalam kajian ini sangatlah signifikan, dimana akomodasi mereka dalam menyediakan data serta informasi, kordinasi sangatlah menunjang dan membantu lancarnya proses kajian ini. Laporan akhir ini memuat bab pendahuluan yang berisikan latar belakang, tujuan, keluaran dan kerangka pemikiran dari evaluasi ini, lebih jauh ditampilkan pula gambaran secara cukup mendetail tentang kondisi terkini propinsi Jawa Barat ditinjau dari berbagai aspek. Dilanjutkan dengan bab II hingga bab V sesuai dengan arahan Tim Bappenas Selain itu disajikan lampiran berisi matriks dasar penentuan indikator dan capaian hingga rekomendasi dari berbagai evaluasi per bidang yang dikaji. Diharapkan laporan akhir ini dapat memberikan uraian lengkap yang diwarnai dengan hasil evaluasi yang lebih komprehensif dan detail berdasarkan sumber-sumber data dan informasi yang lebih luas dan akurat serta analisa yang dapat dipertanggungjawabkan. Akhirnya, ucapan terima kasih dan penghargaan setingi-tingginya kami sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam penyusunan laporan akhir ini.

Bandung, Desember 2008

Tim Penyusun

D A F T A R

I S I

Tim Peneliti

 

i

Kata Pengantar

ii

Daftar Isi

iii

Daftar Tabel

vi

Daftar Gambar

viii

BAB I

PENDAHULUAN

1

1.1.

Latar Belakang

1

1.2.

Maksud dan Tujuan

1

1.3

Keluaran Kegiatan

4

1.4

Metode Kegiatan

5

1.5

Kerangka Pemikiran

5

1.6

Kondisi Jawa Barat Terkini

6

1.6.1

Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama

8

1.6.2

Ekonomi

9

1.6.3

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

11

1.6.4

Sarana dan Prasarana

13

1.6.5

Politik

14

1.6.6

Hukum

15

1.6.7

Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat

16

1.6.8

Aparatur

17

1.6.9

Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah

18

1.6.10

Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

19

1.7

Tantangan

19

1.7.1

Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama

20

1.7.2

Ekonomi

23

1.7.3

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

26

1.7.4

Sarana dan Prasarana

27

1.7.5

Politik

28

1.7.6

Hukum

29

1.7.7

Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat

29

1.7.8

Aparatur

30

1.7.9

Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah

30

1.7.10

Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

31

1.8

Modal Dasar

31

BAB II

AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI

33

II.1.

Harmonisasi antar Kelompok Masyarakat dan Pengembangan Kebudayaan serta Nilai-nilai Luhur

33

II.2. Pembangunan Peningkatan Kemanan, Ketertiban, Dan Penanggulangan Kriminalitas

34

BAB III

 
 

AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS

III.1.

39

 

Pembenahan Sistem Hukum, Politik Hukum dan Penghapusan Diskriminasi

39

 

III.2.

Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan Kekerasan Pada

 

Anak-Anak

41

 

III.3.

Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan Serta

 

Kesejahteraan dan Perlindungan Anak

42

 

III.3.1

Politik

43

III.3.2.

Pendidikan

43

III.3.3.

Angka Melek Huruf (AMH)

44

III.3.4.

Angka Partisipasi Sekolah

45

III.3.5.

Rata-rata Lama Sekolah

48

III.3.6.

Tenaga Kerja

49

III.3.7.

Kekerasan Pada Anak

50

III.4.

Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah

50

III.4.1.

Sinkronisasi dan Harmonisasi Peraturan Perundang-

 

Undangan Pusat dan Daerah

50

 

III.4.2.

Kerjasama Antar Pemerintah Daerah

54

III.4.3.

Kelembagaan Pemerintah Daerah

58

III.4.4.

Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Aparatur Pemerintah

 

Daerah

71

 

III.4.5.

Sumber Dana dan Pembiayaan Pembangunan

76

III.4.6.

Tertatanya Daerah Otonom Baru

80

III.5.

Pencapaian Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa

88

III.5.1.

Jumlah Praktik Korupsi yang Melibatkan Pejabat

 

Pemerintah Daerah dan Penanganannya

88

 

III.5.2.

Tingkat Transparansi dan Akuntabilitas Kinerja Daerah

90

III.5.3.

Tingkat Partisipasi Masyarakat

90

III.6.

Perwujudan Lembaga Demokrasi yang makin Kokoh

93

III.6.1.

Terselenggaranya Pemilu yang Demokratis, Jujur, dan

 

Adil

93

 

III.6.2.

Jumlah Partai Politik, Organisasi Non Pemerintah, dan

 

Lembaga Swadaya Masyarakat

95

BAB IV

AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

 

98

IV.1.

Penanggulangan Kemiskinan

 

98

IV.1.1.

Kualitas Hidup Manusia Jawa Barat

102

IV.1.2.

Laju Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan PDRB

 

105

IV.2.

Peningkatan Ekspor Non Migas dan Investasi

 

108

IV.3.

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur

113

IV.4.

Revitalisasi Pertanian

115

IV.5.

Pemberdayaan Koperasi, dan UMKM

117

IV.6.

Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan.

122

IV.7.

Pembangunan Pedesaan

126

IV.8.

Peningkatan

Akses

Pendidikan

yang

Berkualitas

pada

131

IV.9.

Masyarakat Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan yang Berkualitas

IV.10.

Peningkatan Perlindungan Dan Kesejahteraan Sosial

IV.11. Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat, Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga Kependudukan

IV. 12.

Kehidupan Beragama

IV.13.

Perbaikan Pengelolaan SDA dan Pelestarian Mutu Lingkungan

IV.14.

Hidup Percepatan Pembangunan Infrastruktur

BAB V

ISU-ISU STRATEGIS DI DAERAH

V.1.

Bidang Hukum

V.2.

Keamanan dan Ketertiban

V.3.

Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat

V.4.

Bidang Politik dan Pemerintahan

V.5.

Ekonomi, Infrastruktur dan Hal Terkait Kesejahteraan

V.6.

Bidang Pendidikan, Kesehatan, Gender dan Kekerasan pada Anak-anak dan Wanita

V.7.

Permasalahan Lingkungan

BAB VI

PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN MATRIKS KELUARAN EVALUASI

138

153

155

164

164

195

201

201

201

202

203

208

209

210

212

213

214

D A F T A R

T A B E L

Tabel 3.1

Angka Partisipasi Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan

46

Tabel 3.2

Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut

Jenjang Pendidikan yang Ditamatkan Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2007

49

Tabel 3.3

Urusan Wajib dan Urusan Pilihan dalam Lingkup Pemerintah

Provinsi Jawa Barat

60

Tabel 3.4

Hasil Perhitungan Besaran Organisasi menurut PP No. 41

Tahun 2007

62

Tabel 3.5 Desain Organisasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang diusulkan Pemerintah Provinsi

63

Tabel 3.6

Jumlah PNS yang Menduduki Jabatan Fungsional di Jawa Barat Tahun 2008

71

Tabel 3.7

Kegiatan Mutasi Pegawai Provinsi Jawa Barat

75

Tabel 3.8

Rekrutmen CPNSD di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa

Barat Tahun 2003-2007

76

Tabel 3.9

Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Jawa Barat Tahun

2003-2007

77

Tabel 3.10 Alokasi Anggaran dan Realisasi Belanja Daerah Jawa Barat Tahun Anggaran 2003-2006

78

Tabel 3.11 Alokasi Anggaran dan Realisasi Belanja Daerah Jawa Barat Tahun Anggaran 2007

78

Tabel 3.12

Alokasi Anggaran dan Realisasi Pembiayaan Tahun Anggaran

2003-2007

80

Tabel 3.13

Perbandingan Capaian IPM sebelum dan setelah Dimekarkan (Data Tahun 2003-2006)

83

Tabel 4.1.

Gini Ratio dan 40% Kelompok Penduduk dengan pendapatan

Terkecil Jawa Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota, 2004-2006

99

Tabel 4.2.

Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin

Menurut Lokasi, Maret 2007 – Maret 2008

101

Tabel 4.3

Laju Pertumbuhan Ekonomi

dan Inflasi Jawa Barat Tahun

2004-2007

105

Tabel 4.4

Produk Domestik Regional Bruto Jawa Barat Tahun 2004-

2007

106

Tabel 4.5

Struktur Ekonomi Jawa Barat Menurut Lapangan Usaha

Tabel 4.6

Triwulan I 2008 dan Triwulan II Tahun 2008 (Persentase) Pembentukan Modal Tetap Bruto Jawa Barat Tahun 2004-

107

2007

108

Tabel 4.7

Tabel 4.8

Tabel 4.9

Tabel 4.10

Tabel 4.11

Tabel 4.12

Tabel 4.13

Tabel 4.14.

Tabel 4.15.

Tabel 4.16

Tabel 4.17.

Tabel 4.18.

Tabel 4.19.

Tabel 4.20.

Tabel 4.21.

Tabel 4.22.

Tabel 4.23.

Tabel 4.24.

Tabel 4.25.

Tabel 4.26

Tabel 4.27.

Tabel 4.28.

Tabel 4.29.

Realisasi Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri Jawa Barat Tahun 2004-2007 112 Kinerja Sektor Pertanian Jawa Barat 2006-2007 116 Penyaluran Kredit dan Kredit Macet UMKM per

Kabupaten/Kota di Jawa Barat 2006 (Rp Juta dan persen) 120 Penyaluran Kredit dan Kredit Macet UMKM per Kabupaten/Kota di Jawa Barat, Juni 2007 (Rp Juta dan

persen)

Bantuan Operasional Kinerja Aparatur Pemerintah Desa dan Kelurahan se- Jawa Barat Tahun 200 – 2007 127 Bantuan Rehabilitasi Kantor Desa dan Kelurahan serta Sarana Olahraga di Jawa Barat Tahun 2005 – 2007 127 Indikator Mutu Pendidikan Di Jawa Barat (%) Tahun

2005/2006

Presentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Barat Tahun 2005 Rencana Pencapaian Angka (RLS) Tahun 2002 – 2010 Data Role Sharing Rehabilitasi Ruang Kelas Dan Pembangunan RKB , Tahun 2006-2008 Data Umum Kesehatan Lama Balita Menyusui dan Persentase Penolong KelahiranTerakhir Menurut Jenis Kelamin di Jawa Barat Tahun 2007 Data Derajat Kesehatan Angka Kematian Balita per 1.000 kelahiran hidup di Provinsi Jawa Barat dibandingkan dengan angka Nasional tahun 1986, 1992, 1993 dan 2000 Pola Penyakit Penyebab Kematian Anak Balita (1 – 4 Tahun) Yang Dirawat Di Rumah Sakit Di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2006 Status Gizi Balita Tahun 1999-2001 dan 2004-2007 Jumlah Kerugian Akibat Bencana Alam Menurut Jenis di Jawa Barat Jumlah Permasalahan Sosial Menurut Jenis di Jawa Barat Jumlah Panti Wreda Berdasarkan Data Dinas Sosial

154

154

153

150

146

145

143

142

140

138

136

134

132

121

Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Provinsi Jawa Barat Tahun 2000 – 2006 Angka Kelahiran Kasar (CBR) dan Angka Kesuburan Total (TFR) di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2000 – 2006 Penduduk Wanita berusia 10 tahun ke atas yang pernah menikah Menurut usia perkawinan pertama di Provinsi Jawa Barat Tahun 2002 – 2006 Luasan Abrasi Pesisir Jawa Barat Berdasarkan Wilayah.

156

158

158

193

Gambar 1.1.

Gambar 1.2.

Gambar 1.3.

Gambar 2.1

Gambar 2.2

Gambar 2.3

Gambar 3.1

Gambar 3.2

Gambar 3.3

Gambar 3.4

Gambar 3.5

Gambar 3.6

Gambar 3.7

Gambar 3.8

Gambar 3.9

Gambar 4.1

Gambar 4.2

Gambar 4.3

Gambar 4.4

Gambar 4.5

Gambar 4.6

Gambar 4.7

D A F T A R

G A M B A R

Alur Evaluasi

6

Kaitan Dokumen Perencanaan dengan Kajian

8

Jumlah Pelanggaran Perda di Jawa Barat

2007

Data Gangguan Trantibum Di Jawa Barat Tahun 2004 –

2007

Data Indeks Kriminalitas Provinsi Jawa Barat Jumlah Produk Hukum Daerah di Jawa Barat Yang Dihasilkan Tahun 2003 s/d 2007

40

Hasil Evaluasi Produk Hukum Daerah Kabupaten/Kota di Jawa Barat Tahun 2004 s/d 2007 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Jenjang

Pendidikan dan Jenis Kelamin (2007) 47 Jumlah Produk Hukum Daerah di Jawa Barat yang

dihasilkan Tahun 2003-2008

Kerjasama yang telah Dilaksanakan di Jawa Barat Tahun

2003-2007

PNS yang Mengikuti Tugas Belajar dan Izin Belajar Berdasarkan Jenjang Pendidikan, Tahun 2003-2008

Komposisi

berdasarkan Golongan

Jumlah Kasus Pidana Korupsi di Jawa Barat Tahun 2005-

2007

Jumlah LSM dan Anggota LSM di Jawa Barat Tahun

2003-2006

Perkembangan Ekspor Jawa Barat 2006-2007 Perkembangan Impor Jawa Barat 2006-2007 Perkembangan Ekspor dan Impor 2006-2008 Komposisi Penduduk Pekerja Berdasarkan Profesi dan Jenis Pekerjaan 2007

Provinsi Jawa Barat

73

57

52

41

37

36

36

Kerangka Pemikiran dan Tahapan Kajian

Tahun 2004 –

PNS

Pemerintah

74

88

96

109

109

111

123

Jumlah Desa dan Kelurahan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2004 – 2007

Jumlah

Program Raksa Desa Tahun 2003-2006 129

Jumlah

128

KK Yang Mendapat Pinjaman Bergulir dari

Swadaya Masyarakat Dalam Pembangunan

Infrastruktur Perdesaan Pada Program Raksa Desa Tahun

2003-2007

130

Gambar 4.8. Sarana Rumah Sakit di Jawa Barat tahun 2004 - 2006

140

Gambar 4.9 Rasio Tempat Tidur Di Seluruh Rumah Sakit TerhadapPenduduk Provinsi Jawa Barat Tahun 2004 -

 

2007

141

Gambar 4.10.

Angka Kematian Bayi (AKB) menurut Kabupaten /

Kota Di Provinsi Jawa Barat tahun 2005

144

Gambar 4.11.

Penyebab Kematian Ibu Maternal di Provinsi Jawa

Barat, Tahun 2003-2005

147

Gambar 4.12.

Perbandingan Proyeksi UHH dan Target UHH Provinsi Jawa Barat, Tahun 2000 s.d. 2010

148

Gambar 4.13.

Persentase Desa/Kelurahan

dengan Garam Beriodium

yang Baik

Di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2003 s.d

2006

150

Gambar 4.13.

Prevalensi Anemia Gizi Ibu Hamil di Provinsi Jawa Barat Tahun 2003

151

Gambar 4.14.

Jumlah Penduduk Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2000 –

2006

156

Gambar 4.15.

Laju Pertumbuhan Penduduk Di Provinsi Jawa Barat

Selama Kurun Waktu 2002-2007

157

Gambar 4.16.

Cakupan Peserta KB Baru di Provinsi Jawa Barat Tahun

2001s/d 2006 Gambar 4.17 Tahapan Keluarga Sejahtera di Propinsi Jawa Barat

159

 

2005-2006

160

BAGIAN I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan salah satu fungsi utama yang harus dijalankan oleh pemerintah sebagai salah satu pengambil kebijakan. Dalam konsep pembangunan, terkandung makna-makna alokasi sumber-sumber daya, regulasi, dan pemberdayaan masyarakat. Pembangunan sebagai metode alokasi sumber- sumber daya artinya bahwa melalui berbagai program dan kegiatan pembangunan diarahkan untuk mencapai pemerataan dalam distribusi sumber-sumber daya (resources) yang dimiliki publik, seperti sumber daya alam, sumber daya energi, sumber dana, sumber daya manusia, dll. Dalam perspektif ini, pembangunan seyogyanya memperluas akses publik untuk memperoleh sumber-sumber daya yang diperlukan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, mempermudah akses publik untuk menikmati berbagai fasilitas pelayanan dasar (pendidikan, kesehatan, infrastruktur, air bersih, listrik, dll.), serta menjamin ketersediaan dan kontinuitas sumber-sumber daya tersebut bagi kelangsungan hidup masyarakat.

Usaha-usaha untuk mengukur perkembangan pembangunan di Jawa Barat tidak pula dapat dilepaskan dari sistem Nilai dan budaya yang berkembang di Jawa Barat. Ini berarti dasar pemikiran ke arah penyusunan seperangkat indikator kinerja pembangunan di Jawa Barat tidak dapat dilepaskan dari pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam dokumen perencanaan pembangunan jangka panjang (RPJP), menengah (RPJM), Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD), dan pendek (Renja SKPD). Karena pembangunan terkait dengan fungsi regulasi, yang mengandung makna bahwa pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, seyogyanya mendasarkan penyelenggaraan program-program pembangunan pada dokumen perencanaan yang memuat arah kebijakan, strategi, program, dan kebijakan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah. Setiap daerah memiliki kondisi dan kebutuhan yang beragam, sehingga model pembangunan yang diterapkan akan berbeda pula dalam hal skala prioritasnya. Meskipun demikian, perencanaan pembangunan secara makro di tingkat nasional dan regional (propinsi) tetap diperlukan untuk menjamin keserasian dan sinergitas

1

pembangunan sektoral dan kewilayahan yang berlangsung di kabupaten/kota yang termasuk dalam wilayahnya. Propinsi sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Pusat memiliki kewenangan untuk berperan sebagai fasilitator dan koordinator dalam penyelenggaraan pembangunan daerah yang bersifat lintas kabupaten/kota. Pembangunan juga berkaitan erat dengan pemberdayaan masyarakat karena pada hakikatnya pembangunan merupakan upaya untuk memberikan kebebasan pada masyarakat dalam menentukan nasibnya. Kemampuan dan kemandirian ini tidak akan terwujud bila tidak ada pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya meningkatkan kapasitas masyarakat agar mampu mengidentifikasi permasalahan yang mereka hadapi, mampu mencari alternatif solusinya, mampu mempertimbangkan dampak-dampak yang mungkin timbul dari alternatif solusi tersebut, serta mampu memilih alternatif solusi yang paling tepat. Kemampuan ini hanya akan tercapai bila ada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. Pendidikan akan memperluas wawasan pemikiran dan keterampilan masyarakat, sementara kesehatan akan menjadi faktor penunjang untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Dengan latar belakang keadaan demografis, geografis, infrastruktur, dan kemajuan ekonomi yang tidak sama, serta kapasitas sumberdaya (manusia dan alam) yang berbeda, maka salahsatu konsekuensi logis dari pelaksanaan otonomi daerah adalah adanya perbedaan kinerja pembangunan antar daerah. Perbedaan kinerja pembangunan antar daerah selanjutnya akan menyebabkan kesenjangan dalam kemajuan dan tingkat kesejahteraan antardaerah. Selain itu, berbagai permasalahan yang terjadi, seperti bencana alam, flu burung, demam berdarah, konflik sosial, kelangkaan BBM, serta masalah kemiskinan perlu dipantau dan dievaluasi secara cermat dan terus-menerus. Paradigma pembangunan yang berkembang sekarang ini berfokus pada peningkatan kualitas hidup manusia. Tolok ukur yang digunakan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencakup kualitas pendidikan, kesehatan, dan ekonomi (daya beli). Melalui peningkatan pendidikan, kesehatan, dan daya beli diharapkan akan terjadi peningkatan kualitas hidup manusia. Dengan mengacu pada konsep IPM tersebut, maka evaluasi kinerja pembangunan di Jawa Barat

diarahkan untuk menganalisis capaian kinerja pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Namun demikian, keberhasilan pembangunan manusia juga tidak dapat dilepaskan dari kinerja pemerintah yang masih penting peranannya dalam menciptakan regulasi bagi tercapainya tertib sosial. Sepanjang tahun 2007, sejumlah permasalahan masih terjadi di Jawa Barat menyangkut bidang politik dan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan hidup.

Permasalahan yang dihadapi Jawa Barat saat ini adalah masih rendahnya capaian IPM dibandingkan dengan target tahunan menuju IPM 80 di tahun 2010; penduduk miskin Jawa Barat yang meningkat terus menjadi 13.55% dari total penduduk di Jawa Barat (data bulan Maret tahun 2008); tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Barat adalah 14,51% dari jumlah angkatan kerja (data bulan Maret tahun 2008); serta rendahnya cakupan infrastruktur di Jawa Barat. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan yang merupakan salah satu wujud fungsi pemerintah diarahkan selain untuk pencapaian IPM 2008 sebesar 76,60 juga untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran atau secara umum meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam bidang politik dan pemerintahan, reformasi birokrasi masih menjadi wacana krusial yang belum selesai tergarap. Pilkada langsung yang diharapkan membawa perubahan dalam praktik pemerintahan ternyata belum memunculkan dampak signifikan. Kasus-kasus penyimpangan dalam perilaku birokrat dan politisi, korupsi, kolusi, dan nepotisme masih mewarnai perjalanan pembangunan di Jawa Barat sepanjang tahun 2007 hingga pertengahan 2008. Namun demikian, berbagai praktik inovatif dalam pelayanan publik khususnya pelayanan pendidikan dasar juga berkembang di berbagai daerah kabupaten/kota dalam bentuk pembebasan SPP atau pemenuhan anggaran pendidikan 20% dari APBD. Kondisi ini membawa harapan baru bahwa desentralisasi dan otonomi daerah dapat mendorong perkembangan daerah ke arah yang lebih baik. Di bidang pendidikan ini, secara umum terjadi peningkatan dalam capaian indikator pendidikan, seperti Rata-rata Lama Sekolah, Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) serta Angka Melek Huruf (AMH). Namun, peningkatan dalam capaian Indeks Pendidikan ternyata masih

belum mencapai target yang ditetapkan. Sejumlah permasalahan diduga sebagai penyebab kegagalan ini, antara lain anggaran pendidikan 20% dari APBD yang belum dapat diwujudkan di seleuruh kabupaten/kota bahkan propinsi sendiri, pemerataan akses pendidikan, kualifikasi dan kualitas tenaga kependidikan yang masih belum memadai, serta sarana dan prasarana pendidikan yang belum memadai dan tersebar merata di berbagai wilayah Jawa Barat. Di bidang kesehatan, sejumlah permasalahan muncul terkait dengan masih maraknya epidemi berbagai jenis penyakit seperti demam berdarah, gizi buruk, dan kelaparan di beberapa daerah di Jawa Barat. Sekalipun capaian Indeks Kesehatan menunjukan peningkatan selama periode 2003 – 2007, namun capaian ini juga belum berhasil mencapai target yang ditetapkan. Akses masyarakat terhadap kesehatan, seperti jarak ke pusat kesehatan, biaya kesehatan yang mahal, kualitas permukiman yang kurang memadai, perilaku masyarakat, dan tenaga kesehatan yang masih kurang menjadi isu-isu penting dalam pembangunan bidang kesehatan. Pembangunan manusia juga mensyaratkan keberlanjutan atau kontinuitas, sehingga kelestarian lingkungan hidup menjadi penting untuk diperhatikan. Banyak kebijakan pembangunan yang disadari atau tidak mengarah pada perusakan lingkungan hidup. Motivasi untuk meningkatkan PAD seringkali "mengalahkan" pertimbangan untuk konservasi lingkungan. Karena itu, dimensi lingkungan hidup menjadi salah satu dimensi yang akan juga dievaluasi. Evaluasi terhadap berbagai permasalahan dan penyebabnya tersebut menjadi penting sebagai bahan masukan bagi perbaikan penyelenggaraan pembangunan dan kepemerintahan daerah di masa mendatang.

1.2 Maksud dan Tujuan Kajian “TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT: BERSAMA MENATA PERUBAHAN” dilakukan untuk mengukur capaian pelaksanaan PRJMN Tahun 2004-2009 di daerah propinsi Jawa Barat. Kajian ini dimaksudkan sebagai bagian dari pengembangan sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah untuk

mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan RPJM Nasional serta mengembangkan sistem deteksi dini masalah daerah.

Tujuan dari kajian : TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT dapat disarikan sebagai berikut:

1.

Mengumpulkan berbagai data dan informasi yang akurat dan obyektif tentang upaya, capaian dan permasalahan pelaksanaan RPJMN 2004-2009 di Propinsi Jawa Barat.

2.

Terdientifikasinya sikronisasi arah dn tujuan pembangunan daerah dengan pembangunan nasional.

3.

Teridentifikasinya isu strategis daerah propinsi Jawa Barat

4.

Tersusunnya berbagai rekomendasi tindak lanjut dalam perumusan kebijakan.

1.3

Keluaran Kegiatan

Kegiatan TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT diharapkan menghasilkan keluaran (output) berupa

laporan yang berisi antara lain:

1.

Informasi, data, serta analisis tentang upaya, capaian, dan permasalahn pelaksanaan RPJMN Tahun 2004-2009 di daerah Jawa Barat

2.

Identifikasi konsistensi arah dan tujuan pembangunan daerah Propinsi Jawa Barat dengan pembangunan nasional.

3.

Isu Strategis daerah Propinsi Jawa Barat.

4.

Tersusunnya berbagai rekomendasi tindak lanjut dalam perumusan kebijakan.

1.4

Metode Kegiatan Evaluasi kinerja dilakukan dengan pendekatan dan tahapan sebagai

berikut:

1. Pengamatan langsung (fact findings) terhadap hasil dan pelaksanaan pembangunan kepada masyarakat dalam bidang politik dan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan hidup dengan memanfaatkan data sekunder berupa dokumen pelaporan yang tersedia sehingga bersifat ex- post-evaluation.

2. Forum Group Discussion dengan sekelompok responden atau nasrasumber dalam hal ini merupakan stakeholders pembangunan dengan tujuan mendiskusikan topik-topik yang telah dipersiapkan oleh tim evaluasi propinsi. Peran Bapeda Propinsi Jawa Barat akan sangat signifikan dalam tahapan ini

3. Penilaian (assessment) secara kualitatif maupun kuantitatif terhadap hasil dari pelaksanaan hasil butir (1) dan (2) dikaitkan dengan pelaksanaan kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan dan yang sudah dilaksanakan di daerah dalam menunjang pencapaian tujuan pembangunan nasional dalam RPJMN 2004-2009.

4. Perumusan isu-isu strategis berdasarkan tahapan butir (1), (2) dan (3).

1.5. Kerangka Pemikiran

Sesuai dengan PP No. 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan, evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar.

(output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Gambar 1.1.Alur Evaluasi RPJMN tahun 2004-2009 merupakan

Gambar 1.1.Alur Evaluasi

RPJMN tahun 2004-2009 merupakan penjabaran dari visi, misi dan

strategi

dan

program

Presiden

dan

Wakil

Presiden

yang

terpilih

yang

memuat

pembangunan

nasional,

kebijakan

umum,

program

kementrian/Lembaga

lintas Kementrian/Lembaga, kewilayahan dan lintas Kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiscal dalam rencana kerja berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan. Di tingkat daerah, berdasarkan UU No 25 tahun 2004 tentang SPPN maka RPJMN ini dapat dijabarkan/menjabarkan lebih lanjut lewat RPJMD (yang saat itu masih bernama PROPEDA) 2003 – 2007 yang disahkan oleh Peraturan pemerintah No. 3 tahun 2003 tentang Program Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Barat 2003 – 2007; kemudian RPJMD ini diteruskan kepada Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Rencana Kerja SKPD (Renja SKPD).

\
\

Gambar 1.2. Kaitan Dokumen Perencanaan dengan Kajian

Pembangunan daerah merupakan bagian integral dan penjabaran dari pembangunan nasional dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan yang disesuaikan dengan potensi, aspirasi dan permasalahan pembangunan di daerah. Pembangunan. Pembangunan daerah memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, antara lain kesempatan kerja, lapangan usaha dan akses terhadap pemngabilan kebijakan.

Langkah awal dalam mengidentifikasi pelaksanaan pembangunan di daerah adalah dengan memahami RPJMN Tahun 2004-2009 terutama agenda, sasaran dan indicator kinerja. Dengan menggunakan pendekatan dan tahapan yang telah dijelaskan dalam sub bab 1.4. maka tujuan dari EKPD 2008 ini dapat dicapai dengan baik.

maka tujuan dari EKPD 2008 ini dapat dicapai dengan baik. Gambar 1.3. Kerangka Pemikiran dan Tahapan

Gambar 1.3. Kerangka Pemikiran dan Tahapan Kajian

Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan kajian TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT 2008 adalah melalui pendekatan mikro untuk pencapaian makro. Pendekatan mikro dilakukan untuk melihat pencapaian-pencapaian angka, nilai dan prosentasi dari bidang pembangunan yang terpilih seperti presentasi terhadap angka harapan hidup, jumlah fasilitas kesehatan dll. Sedangkan pencapaian makro lebih ditekankan pada pencapaian hasil dari indicator-indikator keberhasilan pembangunan pada setiap bidang pemerintahan yang dipilih.

1.6. Kondisi Jawa Barat Terkini Pembangunan daerah yang meliputi bidang sosial budaya dan kehidupan beragama, ekonomi ilmu pengetahuan dan teknologi, sarana dan prasarana, politik, ketentraman dan ketertiban masyarakat, hukum, aparatur, tata ruang dan pengembangan wilayah, serta sumberdaya alam dan lingkungan hidup merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Pelaksanaan pembangunan daerah telah mencapai kemajuan pada berbagai bidang. Namun demikian, masih ditemui pula berbagai masalah dan tantangan yang perlu diselesaikan dalam pembangunan daerah kedepan, dengan memperhatikan modal dasar yang dimiliki Provinsi Jawa Barat.

1.6.1 Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama

Pembangunan daerah bidang sosial budaya dan kehidupan beragama berkaitan dengan kualitas manusia dan masyarakat Jawa Barat. Kondisi tersebut tercermin pada kuantitas penduduk dan kualitas penduduk seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, pemuda, olah raga, seni budaya, dan keagamaan.

Upaya pengendalian laju pertumbuhan penduduk, baik laju pertumbuhan penduduk alami maupun migrasi masuk, dilakukan secara terus menerus. Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2005 mencapai 39.960.869 jiwa atau 18,16% dari total penduduk Indonesia. Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Jawa Barat yang masih tinggi dipicu oleh tingginya angka kelahiran dan migrasi masuk Jawa Barat.

Pembangunan kualitas hidup manusia Jawa Barat tetap menjadi prioritas pembangunan daerah. Perkembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. Hal tersebut antara lain ditunjukkan dengan pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 69,35 poin pada tahun 2005. Pencapaian tersebut merupakan komposit dari Angka Melek Huruf (AMH) sebesar 94,52 %, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) sebesar 7,46 tahun, Angka Harapan Hidup waktu lahir (AHH) sebesar 66,57 tahun, serta paritas daya beli (purchasing power parity) sebesar Rp. 556.100,- .

Pembangunan bidang pendidikan telah dilaksanakan dengan menitikberatkan pada upaya peningkatan kuantitas dan kualitas sarana prasarana pendidikan, peningkatan partisipasi anak usia sekolah, pengembangan pendidikan luar sekolah, pengembangan sekolah alternatif, serta peningkatan jumlah dan pemerataan distribusi tenaga pendidik. Namun aksesibilitas masyarakat terhadap pendidikan masih rendah, angka putus sekolah masih cukup tinggi, kualitas dan relevansi serta tata kelola pendidikan belum sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan daya saing.

Peningkatan akses masyarakat terhadap kesehatan dan pengembangan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat terus dilakukan. Namun demikian, peningkatan pada indikator kesehatan masyarakat Jawa Barat tersebut capaiannya masih berada di bawah rata-rata nasional. Angka Kematian Bayi (AKB) mencapai 64,67 per seribu kelahiran hidup, angka kematian balita sebesar 13,59%, Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan sebesar 321,15 per seratus ribu kelahiran hidup, serta angka kurang gizi pada balita sebesar 1,48%.

Kebijakan yang memiliki keberpihakan terhadap peningkatan peran kaum perempuan di seluruh sektor dan aspek pembangunan telah dilakukan. Namun upaya pengarusutamaan gender ini masih perlu lebih diaktualisasikan di segala bidang. Pemberdayaan perempuan tercermin dari Indeks Pemberdayaan Jender yang meliputi angka partisipasi perempuan dalam parlemen, perempuan dalam posisi manajer, staf teknis, dan tingkat partisipasi angkatan kerja. Pada tahun 2002, Indeks Pemberdayaan Jender Jawa Barat mencapai 43,6, peringkat 24 dari 30 Provinsi di Indonesia. Angka ini menunjukkan partisipasi perempuan dalam parlemen yang baru mencapai 3% dari total anggota parlemen, 37,4% perempuan dalam posisi staf teknis, dan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan yang baru mencapai 33,1%.

Pembangunan pemuda sebagai salah satu unsur sumber daya manusia dan tulang punggung bangsa serta penerus cita-cita bangsa, disiapkan dan dikembangkan kualitas kehidupannya, mulai dari tingkat pendidikan, kesejahteraan hidup dan tingkat kesehatannya. Jumlah penduduk usia 15 s.d. 34 tahun di Jawa Barat adalah 14.848.357 jiwa atau 34,16% dari jumlah penduduk

Provinsi. Jawa Barat juga memiliki organisasi kepemudaan sebagai salah satu elemen masyarakat yang potensial untuk menjadi generasi muda yang lebih berkualitas dan mandiri.

Pembinaan terhadap olahragawan berprestasi tetap dipertahankan karena Provinsi Jawa Barat memiliki peran yang strategis dalam kancah prestasi olah raga nasional. Namun demikian Jawa Barat belum memiliki sarana olahraga terpadu dengan standar internasional untuk mendukung proses pembinaan tersebut.

Pembangunan kebudayaan di Jawa Barat ditujukan untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah serta mempertahankan jati diri dan nilai-nilai budaya daerah di tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan pengaruh negatif budaya global. Pembangunan seni dan budaya di Jawa Barat sudah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya pemahanan terhadap nilai budaya dan penggunaan bahasa daerah Sunda, Cirebon, Dermayu dan Melayu Betawi sebagai bahasa ibu masyarakat Jawa Barat. Namun, disisi lain upaya peningkatan jati diri masyarakat Jawa Barat seperti solidaritas sosial, kekeluargaan, penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa masih perlu terus ditingkatkan. Budaya berperilaku positif seperti kerja keras, gotong royong, kebersamaan dan kemandirian dirasakan makin memudar.

Status kesejahteraan sosial masyarakat Jawa Barat secara umum masih rendah. Hal tersebut diindikasikan dari jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sebesar 1.917.911 jiwa pada tahun 2005. PMKS tersebut di antaranya adalah pengemis, gelandangan, anak jalanan, tuna susila, kekerasan pada anak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), trafficking pada anak dan perempuan. Dari jumlah kasus KDRT tahun 2005 sebanyak 1.370, 69,70% pelakunya adalah laki-laki, dan 6,06% dari kasus KDRT tersebut adalah perempuan yang menjadi korban kekerasan majikan. Korban trafficking pada anak dan perempuan sebesar 48,42%.

Kualitas kehidupan beragama di Jawa Barat menunjukkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat. Kondisi tersebut menciptakan hubungan yang harmonis dan kondusif baik antara

sesama pemeluk agama maupun antarumat beragama. Namun masih dihadapi munculnya ajaran-ajaran sesat yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah agama yang mengganggu kehidupan beragama dan bermasyarakat.

1.6.2.

Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pasca krisis tahun 1997 menunjukkan kecenderungan meningkat. Peningkatan tersebut dikontribusikan oleh tiga sektor utama yaitu sektor Industri Pengolahan, sektor Perdagangan Hotel dan Restoran dan sektor Pertanian. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi tersebut belum dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan masih tingginya jumlah penduduk miskin dan pengangguran.

Sektor industri merupakan komponen utama pembangunan daerah yang mampu memberikan kontribusi ekonomi sebesar 44,68%. Hal tersebut didukung oleh jumlah kawasan industri yang terbanyak di Indonesia. Akan tetapi, daya saing industri di Jawa Barat masih rendah yang disebabkan oleh tingginya ketergantungan pada bahan baku impor, rendahnya kemampuan dalam pengembangan teknologi, rendahnya kemampuan dan keterampilan sumber daya industri serta tingginya pencemaran limbah industri.

Pengembangan perdagangan di Jawa Barat difokuskan pada pengembangan sistem distribusi barang dan peningkatan akses pasar baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Pengembangan sistem distribusi diarahkan untuk memperlancar arus barang, memperkecil disparitas antar daerah, mengurangi fluktuasi harga dan menjamin ketersediaan barang kebutuhan yang cukup dan terjangkau oleh masyarakat. Adapun peningkatan akses pasar baik dalam negeri maupun luar negeri dilakukan melalui promosi produk Jawa Barat.

Provinsi Jawa Barat memiliki potensi pariwisata yang sangat beragam baik dari sisi produk wisata maupun pasar wisatawan, dengan alam dan budaya yang dimiliki sebagai modal dasar pengembangan daya tarik wisata. Peringkat sektor pariwisata secara nasional dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan berada pada posisi 3 setelah DKI Jakarta dan Bali. Kendala yang masih dihadapi adalah belum tertatanya objek wisata dan masih rendahnya kualitas infrastruktur pendukungnya.

Pertanian di Provinsi Jawa Barat secara umum sudah ada dan tumbuh di masyarakat, memiliki potensi yang besar dan variatif, dan didukung oleh kondisi agroekosistem yang cocok untuk pengembangan komoditas pertanian dalam arti luas (tanaman, ternak, ikan, dan hutan). Kondisi tersebut mendukung Jawa Barat sebagai produsen terbesar untuk 40 (empatpuluh) komoditas agribisnis di Indonesia khususnya komoditas padi yang memberikan kontribusi terbesar terhadap produksi padi nasional. Sektor pertanian juga memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi yaitu sebesar 29.65 persen dari jumlah penduduk bekerja. Namun hubungan antar subsistem pertanian belum sepenuhnya menunjukkan keharmonisan baik pada skala lokal, regional, dan nasional. Cara pandang sektoral yang belum terintegrasi pada sistem pertanian serta ketidaksiapan dalam menghadapi persaingan global merupakan kendala yang masih dihadapi sektor pertanian.

Jawa Barat memiliki potensi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan terutama dalam pengembangan usaha perikanan tangkap, usaha budidaya laut, bioteknologi kelautan, serta berbagai macam jasa lingkungan kelautan. Sayangnya, kondisi dan potensi sumber daya perikanan dan lautan yang besar ini tidak diikuti dengan perkembangan bisnis dan usaha perikanan dan kelautan yang baik. Terbukti dengan masih rendahnya tingkat investasi dan produksi sumber daya perikanan dan kelautan yang masih jauh dari potensi yang ada serta lemahnya kondisi pembudidaya dan nelayan sebagai produsen.

Iklim investasi di Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang terus membaik. Posisi Jawa Barat yang strategis menempatkan Jawa Barat menjadi tujuan utama untuk investasi, baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Namun demikian, pertumbuhan investasi belum mampu meningkatkan keterkaitan dengan usaha ekonomi lokal dan kesempatan kerja. Hal ini diakibatkan belum efisien dan efektifnya birokrasi, belum adanya kepastian hukum dan kepastian berusaha dalam bidang penanaman modal, masih rendahnya infrastruktur pendukung adalah merupakan kendala dalam upaya peningkatan investasi di Jawa Barat.

Peranan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi dirasakan belum optimal. Hal tersebut disebabkan kurangnya efektifitas fungsi dan peranan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam pembangunan, masih tingginya kredit konsumsi dibandingkan dengan kredit investasi sehingga kurang menopang aktivitas sektor riil.

1.6.3. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Publikasi dan kajian ilmiah yang dihasilkan oleh lembaga penelitian baik milik pemerintah, perguruan tinggi maupun swasta yang banyak berlokasi di Jawa Barat belum dapat diimplementasikan dengan maksimal. Hal ini disebabkan oleh sumber daya IPTEK masih terbatas, mekanisme intermediasi yang menjembatani interaksi antara kapasitas penyedia iptek dengan kebutuhan pengguna belum efektif, sinergi kebijakan yang lemah menyebabkan kegiatan IPTEK belum sanggup memberikan hasil yang signifikan, dan budaya pemanfaatan iptek belum berkembang serta belum terkaitnya hasil kajian dengan kebutuhan riil masyarakat.

1.6.4. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana wilayah yang meliputi infrastruktur transportasi, sumber daya air dan irigasi, telekomunikasi, listrik dan energi serta sarana dan prasarana dasar permukiman memiliki peran yang penting bagi peningkatan perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat. Namun demikian secara umum kualitas dan cakupan pelayanan sarana dan prasarana wilayah masih rendah dan belum merata.

Pada aspek transportasi yang terdiri dari transportasi darat, udara dan laut, rendahnya kualitas dan cakupan pelayanan antara lain dicirikan dengan rendahnya nilai indeks aksesibilitas dan mobilitas rata-rata jaringan jalan dibandingkan dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk jaringan jalan provinsi; belum optimalnya kemantapan jalan provinsi terutama di jalur jalan vertikal yang menghubungkan wilayah tengah dan selatan Jawa Barat; masih kurangnya pembangunan jalan tol; rendahnya kapasitas ruas jalan di perkotaan dengan nilai Volume Capacity Ratio (VCR) rata-rata mendekati nilai 0,8; kurangnya penyediaan angkutan massal dan jaringan jalan rel; belum optimalnya

kondisi dan penataan sistem hierarki terminal sebagai tempat pertukaran moda; belum optimalnya pelayanan Bandar Udara Husein Sastranegara dan bandara lainnya dalam melayani penerbangan komersial dari dan ke Jawa Barat; serta masih terbatasnya fungsi Pelabuhan Cirebon sebagai pelabuhan niaga.

Keberadaan infrastruktur sumber daya air dan irigasi juga masih belum memadai, yang dicirikan dengan masih tingginya fluktuasi ketersediaan air permukaan yang menimbulkan banjir dan kekeringan; masih terbatasnya penyediaan air baku untuk berbagai kebutuhan, serta belum optimalnya intensitas tanam padi akibat rendahnya layanan jaringan dan penyediaan air irigasi.

Adapun cakupan layanan untuk infrastruktur telekomunikasi belum bisa menjangkau setiap pelosok wilayah, dicirikan dengan adanya beberapa wilayah yang belum terlayani. Khusus untuk layanan jasa telepon kabel, beberapa daerah perkotaan angka teledensitasnya sudah tinggi (>10), sedangkan untuk beberapa daerah perkotaan dan kabupaten kondisi teledensitasnya masih rendah.

Sistem kelistrikan Jawa Barat yang merupakan bagian dari sistem kelistrikan nasional Jawa-Madura-Bali (Jamali), sampai saat ini mengkonsumsi beban listrik Jamali sebesar 28%. Beban puncak listrik Jawa Barat sebesar 3.785 MW, sedangkan daya mampu pembangkitnya sebesar 4.337,05 MW, yang berarti masih mempunyai surplus kapasitas pembangkitan. Cakupan desa yang sudah mendapatkan tenaga listrik mencapai 99,59%, hanya 24 desa yang belum memiliki infrastruktur listrik. Namun demikian, angka rasio elektrifikasi rumah tangga masih belum optimal baru mencapai 58%.

Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana permukiman seperti, perumahan dan cakupan layanan air bersih masih sangat rendah dicirikan dengan masih banyaknya rumah tangga yang belum bisa memiliki rumah layak huni. Keberadaan prasarana persampahan juga masih belum optimal baik yang layanannya bersifat lokal maupun regional.

1.6.5.

Politik

Sejak 1998, gerakan reformasi telah mendorong demokratisasi baik pada tingkat nasional maupun lokal. Pada masa pemerintahan B.J. Habibie ditetapkan

Undang-Undang Kepartaian yang memberi kebebasan kepada masyarakat

untuk

membentuk partai politik, baik yang muncul secara sendiri, maupun karena pemisahan dari partai dominan yang diakui selama Orde Baru, kebebasan berorganisasi yang makin luas dengan membentuk berbagai organisasi kemasyarakatan, kebebasan pers, dan desentralisasi kekuasaan dari Pusat ke daerah yang ditandai oleh berlakunya UU No. 22 Tahun 1999. Di samping itu paket perundang-undangan lainnya yang menandai demokratisasi berlangsung di Indonesia antara lain adalah mengenai penyelenggaraan Pemilu yang dilaksanakan pada 1999, Susunan dan kedudukan MPR, DPR, dan DPRD; Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 Tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman; Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1999 tentang Pengesahan Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia; Undang- Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pada masa pemerintahan berikutnya, upaya mendorong demokratisasi dilakukan pula dengan mengubah pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung yang dilakukan pada 2004. Di daerah sendiri berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Kepala Daerah dipilih secara langsung. Dengan demikian secara kelembagaan dan prosedur, Indonesia telah memasuki tahap demokrasi yang sangat kuat. Di Jawa Barat pemilihan kepala daerah secara langsung telah berjalan dengan baik dengan ditandai oleh kesiapan elite dan masyarakat untuk menerima kekalahan atau kemenangan pihak lain. Hal tersebut menandakan bahwa masyarakat telah siap dan percaya dengan aturan main dalam berdemokrasi.

Demokrasi juga telah mendorong masyarakat untuk lebih berani mengemukakan aspirasinya. Salah satunya adalah keinginan untuk membentuk pemerintahan sendiri baik pada level kabupaten/kota maupun level provinsi. Di Jawa Barat sejak tahun 1999 telah terbentuk 1 provinsi, yaitu Provinsi Banten yang sebelumnya merupakan wilayah Keresidenan Banten, selanjutnya pada Kota Tasikmalaya dan Kota Cimahi pada tahun 2001, serta Kota Banjar pada tahun 2003. Aspirasi pembentukan daerah otonom akan terus berkembang sejalan

dengan

pelayanan publik.

tuntutan

untuk

1.6.6. Hukum

ikut

serta

dalam

berpemerintahan

dan

peningkatan

Pembangunan Bidang Hukum di daerah diarahkan untuk mewujudkan harmonisasi produk hukum yang dapat mendukung pelaksanaan otonomi daerah, penegakkan hukum dan hak asasi manusia. Namun proses demokratisasi mendorong penggantian berbagai aturan perundang-undangan di tingkat nasional yang pada akhirnya berdampak terhadap daerah. Berbagai perundang-undangan yang ditetapkan pemerintah pusat pada implementasinya mengalami berbagai kendala karena belum didukung oleh sistem hukum yang mapan, aparatur hukum yang bersih serta prasarana dan sarana yang memadai. Kondisi tersebut lebih lanjut menyebabkan penegakkan hukum yang lemah dan perlindungan hukum dan HAM belum dapat diwujudkan. Peraturan perundang-undangan yang baru, selain banyak yang saling bertentangan juga tidak segera ditindaklanjuti dengan peraturan pelaksanaannya. Hal tersebut mengakibatkan daerah mengalami kesulitan dalam menindaklanjuti dengan peraturan daerah dan dalam implementasinya. Sampai dengan 2006 masih banyak peraturan daerah yang belum dapat disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang baru. Kondisi tersebut menghambat penyelenggaraan pemerintahan di daerah, yang dapat berpengaruh terhadap pelayanan kepada masyarakat.

Dalam penegakkan HAM telah disusun Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) yang melibatkan seluruh stakeholders pembangunan. Rencana aksi tersebut menjadi acuan semua pihak di daerah dalam implementasi peraturan perundang-undangan mengenai HAM, terutama lembaga pemerintah yang memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan dan memenuhi hak asasi warga negara.

1.6.7. Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat

Pembangunan Bidang Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat dilakukan untuk mewujudkan kondisi sosial yang tertib dan dapat mendukung pelaksanaan pembangunan lainnya. Kondisi ketentraman dan ketertiban masyarakat sangat

berkaitan erat dengan aspek sosial, politik, dan hukum. Kondisi sosial Jawa Barat sampai dengan akhir tahun 2006 berlangsung dinamis. Berbagai organisasi kemasyarakatan dan lembaga keswadayaan masyarakat berkembang dan berperan dalam berbagai bidang, baik budaya, keagamaan, pendidikan, kesehatan, dan aktivitas sosial lainnya. Meskipun masih terdapat pertentangan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi masih dapat ditolerir. Kondisi sosial tersebut berkaitan dengan kondisi politik dan kondisi hukum. Kehidupan politik yang diarahkan untuk mewujudkan demokrasi masih dimaknai sebagai kebebasan semata oleh sebagian masyarakat yang seringkali dapat mengganggu kelompok masyarakat lainnya yang mempengaruhi kondisi ketentraman dan ketertiban umum. Dalam aspek hukum, penegakkan hukum yang lemah dan tidak konsisten mempengaruhi pula kondisi ketentraman dan ketertiban masyarakat.

Tingkat kriminalitas dan pelanggaran hukum lainnya masih cukup tinggi. Di samping itu protes ketidakpuasan terhadap suatu masalah yang mengarah pada perusakan fasilitas umum seringkali terjadi. Namun secara keseluruhan sikap masyarakat untuk mendukung terciptanya tertib sosial melalui upaya mewujudkan ketentraman dan ketertiban cukup baik.

1.6.8.

Aparatur

Reformasi sistem politik yang diarahkan pada demokratisasi telah mendorong reformasi birokrasi melalui penataan struktur, sistem dan kultur. Namun upaya penataan struktur masih berlangsung setelah penetapan Undang- Undang 32 tahun 2004 sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Pembenahan dan penataan struktur organisasi pemerintahan di daerah masih mencari bentuk antara kebutuhan daerah dengan tuntutan peraturan perundang-undangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun daerah diberi otonomi yang luas, tetapi dalam menetapkan struktur organisasi masih bergantung kepada Pusat.

Demikian pula dengan penataan sistem untuk lebih memudahkan penyelenggaraan administrasi pemerintahan mengalami kendala, karena dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang tidak sinkron atau belum ada peraturan pelaksanaannya. Penetapan standar pelayanan minimal untuk

beberapa bidang sudah dapat diimpelementasikan meskipun pengawasan terhadap pelaksanaannya belum dapat dilakukan. Untuk standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap alur kegiatan administrasi pemerintahan belum dapat diimplementasikan.

Reformasi birokrasi menginginkan perubahan kultur birokrasi yang mengarah pada profesionalisme, beretika, impersonal, dan taat aturan. Masa transisi dalam reformasi birokrasi masih mengalami kendala dalam mewujudkan birokrasi yang ideal. Kultur tradisional dan primordial masih mewarnai birokrasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat walaupun dari sisi sarana dan prasarana telah cukup modern bahkan dengan dukungan teknologi komunikasi yang masib belum dimanfaatkan secara optimal.

Jumlah aparatur walaupun secara kuantitas terus berubah dan tidak dapat dikatakan ideal atau telah memenuhi kebutuhan, tetapi yang perlu diperhatikan aspek kualitasnya yang masih rendah dalam arti dari sisi kedisiplinan, profesionalisme dan etika. Hal tersebut mempengaruhi kinerja aparatur secara umum dan terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Kondisi sarana dan prasarana aparatur sudah cukup baik dengan gedung kantor yang layak dan seluruh organisasi perangkat daerah telah memiliki gedung tersendiri. Namun sarana dan prasarana yang secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat masih perlu ditingkatkan karena belum sesuai dengan standar pelayanan minimal, seperti unit pengelola teknis daerah dalam pemungutan pajak daerah, dan unit perijinan.

1.6.9. Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah

Pola tata ruang Jawa Barat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) mengamanatkan proporsi kawasan lindung sebesar 45 % dan kawasan budidaya 55 %. Namun pengendalian pemanfaatan ruang menjadi kendala dalam mewujudkan proporsi tersebut. Belum tertata dan terkendalinya pertumbuhan lahan terbangun di kawasan konservasi, serta degradasi lingkungan di wilayah Jabar Selatan merupakan ancaman terhadap daya dukung lingkungan. Selain itu, terjadinya pergeseran tutupan lahan hutan dan sawah menjadi permukiman dan industri merupakan permasalahan dalam upaya pengendalian tata ruang.

Pengembangan wilayah dalam struktur tata ruang Jawa Barat sampai saat ini masih terjadi ketimpangan. Dalam konteks wilayah utara-tengah-selatan Jawa Barat, terjadi pemusatan pertumbuhan perkotaan yang sangat pesat di wilayah utara dan tengah, sementara wilayah perdesaan di selatan Jawa Barat yang seharusnya dikembangkan menjadi wilayah pendukung dari aspek lingkungan dan pertanian agro kurang mendapat sentuhan pemerataan pembangunan. Sementara itu di wilayah perbatasan masih terjadi ketidaksetaraan dalam penyediaan sarana dan prasarana dasar permukiman maupun prasarana jalan.

1.6.10. Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Sumber daya alam dan lingkungan hidup memiliki peran penting dalam keberlanjutan pembangunan Jawa Barat. Namun demikian, peran penting ini belum dioptimalkan hingga saat ini. Fenomena yang terjadi justru menunjukkan bahwa kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup Jawa Barat berada pada tingkat cukup mengkhawatirkan. Dampak negatif dari fenomena ini diantaranya adalah semakin berkembangnya penyakit-penyakit berbasis lingkungan dan munculnya konflik sosial antara pencemar dan yang tercemar, serta konflik pemanfaat sumber daya alam dan lingkungan di hulu dan hilir.

Faktor-faktor dominan yang menyebabkan penurunan daya dukung lingkungan dalam kurun waktu sepuluh tahun ini antara lain, masih tingginya tingkat alih fungsi lahan berfungsi lindung menjadi budidaya, kerusakan dan berkurangnya luasan mangrove dan terumbu karang, pencemaran udara perkotaan, pengrusakan dan kebakaran hutan, pencemaran dan sedimentasi sungai serta waduk, penambangan yang merusak lingkungan, dan pengambilan sumber daya air yang kurang terkendali, di samping meningkatnya frekuensi kejadian bencana alam. Hal tersebut diperparah dengan perilaku dan budaya yang belum ramah lingkungan, baik dari sisi perilaku membangun maupun perilaku individu masyarakatnya. Upaya pengelolaan lingkungan saat ini masih belum mampu menahan laju kerusakan dan pencemaran yang terjadi.

1.7.

TANTANGAN

1.7.1. Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama

Dalam dua puluh tahun mendatang, Jawa Barat menghadapi tekanan jumlah penduduk yang semakin tinggi. Pada tahun 2025 jumlah penduduk Jawa Barat diperkirakan sekira 52,7 juta jiwa. Pengendalian jumlah penduduk dan laju pertumbuhannya perlu diperhatikan untuk terwujudnya penduduk yang tumbuh dengan seimbang guna peningkatan kualitas, daya saing dan kesejahteraannya. Selain itu persebaran dan mobilitas penduduk perlu mendapatkan perhatian sehingga ketimpangan persebaran dan kepadatan penduduk antara kabupaten dan kota serta antara wilayah perkotaan dan perdesaan dapat dikurangi.

Memperhatikan kecenderungan pencapaian IPM dan komponen- komponennya, tantangan peningkatan IPM pada masa datang akan lebih terfokus pada peningkatan Indeks Daya Beli. Namun demikian, pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat harus senantiasa ditingkatkan untuk menjamin peningkatan Indeks Pendidikan dan Indeks Kesehatan.

Berkaitan dengan semakin pesatnya perkembangan metodologi dan teknologi dalam bidang pendidikan, perlu dilakukan antisipasi melalui pengembangan inovasi dan sistem tata kelola pendidikan, pemberdayaan profesi guru dengan meningkatkan kompetensinya, penyempurnaan pembangunan sarana dan prasarana yang lebih tanggap teknologi, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang dilandasi oleh nilai-nilai kecerdasan dan kearifan budaya lokal, peningkatan kualitas lulusan untuk mengantisipasi tingkat persaingan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan semakin kompetitifnya ketersediaan lapangan pekerjaan. Dalam hal pengembangan sain dan teknologi, peningkatan kemampuan masyarakat perdesaan dalam pemanfaatan teknologi tepat guna (TTG) juga perlu mendapatkan penanganan yang optimal.

Tingginya kesenjangan status kesehatan dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan antarwilayah, belum optimalnya penggunaan teknologi di bidang kesehatan merupakan kondisi yang menjadi tantangan bagi para stakeholders untuk mengatasinya. Memperhatikan hal tersebut, pembangunan kesehatan lebih didorong pada tercapainya kondisi yang memungkinkan

terciptanya perilaku sehat dan lingkungan yang sehat baik fisik maupun sosial yang mendukung produktivitas masyarakat. Selain itu, perlu juga didorong kepada berlangsungnya paradigma hidup sehat yang terintegrasi pada pencapaian kualitas hidup penduduk yang sehat dan berumur panjang.

Stigma bahwa perempuan makhuk lemah, porsi perempuan di rumah, perempuan merupakan objek kaum laki-laki dan diskriminasi perlakuan di dunia usaha maupun politik merupakan tantangan yang harus dihadapi dalam upaya pemberdayaan perempuan. Oleh karena itu, kesetaraan gender menjadi perhatian dalam penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan melalui peningkatan pemahaman mengenai kesetaraan gender, peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan, serta penguatan kelembagaan, kelompok masyarakat (khususnya perempuan) dan jaringan kemitraan pengarusutamaan gender.

Berdasarkan gambaran kondisi kepemudaan di Jawa Barat, pemuda Jawa Barat memiliki potensi dan peluang yang cukup besar, sekaligus kelemahan dan tantangan yang tidak ringan. Potensi dalam hal ini adalah jumlah yang cukup besar, pola pikir dan semangat yang tinggi. Sementara peluang yang dimiliki oleh pemuda Jawa Barat adalah ruang gerak atau ekspresi idealisme yang terbuka, baik dalam konteks sistem nilai, sistem pendidikan, sistem ekonomi maupun sistem politik. Kelemahannya adalah kondisi perkembangan psikologis pemuda yang belum stabil, masih pada tahap pencarian identitas diri dan lemahnya sandaran nilai serta norma. Tantangan yang muncul di kalangan pemuda adalah masa depan yang penuh kompetisi baik keterampilan, idealisme maupun nilai budaya.

Dalam aspek keolahragaan, pembinaan olahraga prestasi di Jawa Barat belum dilakukan secara optimal. Untuk itu peningkatan peran organisasi masing- masing cabang olahraga, pembinaan yang komprehensif agar seluruh potensi olahraga di Jawa Barat dapat dikembangkan secara baik, serta penguatan peran dan tanggungjawab masyarakat dalam mengembangkan sarana, prasarana, dan kegiatan olahraga merupakan merupakan tantangan dalam aspek keolahragaan.

Imbas perubahan global dan pertentangan antara Nilai-nilai tradisional, peninggalan sejarah, kepurbakalaan dan permuseuman dengan arus perubahan teknologi informasi dan era komputerisasi menjadi tantangan bagi terwujudnya

kondisi yang diinginkan. Untuk itu upaya perlindungan dan pelestarian terhadap keempat aspek kebudayaaan tersebut, penerapan muatan pendidikan nilai-nilai budaya daerah terhadap anak usia dini dan usia pendidikan dasar, serta revitalisasi terhadap lembaga/organisasi kesenian dan kebudayaan pelestarian cagar dan desa budaya, dan pengembangan nilai-nilai yang ada di dalamnya merupakan strategi yang optimal dalam pembangunan budaya daerah.

Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan bidang sosial adalah beban permasalahan kesejahteraan sosial yang semakin beragam dan meningkat akibat terjadinya berbagai krisis sosial. Upaya yang harus dilakukan diantaranya pengembangan peran lembaga swadaya masyarakat, pengelolaan yang profesional dan komprehensif panti rehabilitasi sosial. Selain itu, penanggulangan PMKS menjadi PSKS (potensi kesejahteraan sosial) perlu diupayakan terus menerus melalui penggalian dan pendayagunaan potensi yang dimiliki, peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan mutu sekolah serta pelatihan/optimalisasi bagi organisasi/lembaga sosial serta partisipasi masyarakat dalam upaya pemberdayaan masyarakat sehingga tercipta kondisi sosial kemasyarakatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan budaya.

Terkait dengan pembangunan fisik yang diwujudkan bersama dengan masyarakat, pembangunan sektor agama mesti didorong untuk menciptakan kondisi terbaik bagi berlangsungnya kehidupan masyarakat yang harmonis. Semakin derasnya arus informasi dan pengaruh budaya asing yang masuk melalui berbagai media, pembangunan sarana dan prasarana keagamaan, pengkajian dan aplikasi ajaran agama, pengembangan seluruh potensi umat dalam menciptakan kondisi kehidupan beragama secara fungsional dan proporsional, pengelolaan sumber dana keumatan berdasarkan ajaran agama perlu dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, dan pemberdayaan potensi ekonomi umat, sesuai dengan prinsip-prinsip dasar keagamaan yang dianut merupakan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan di bidang keagamaan.

1.7.2.

Ekonomi

Pembangunan ekonomi Jawa Barat 20 tahun mendatang dihadapkan pada tantangan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi secara

berkelanjutan dan berkualitas untuk mewujudkan secara nyata peningkatan kesejahteraan sekaligus mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi serta pengangguran. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Jawa Barat tahun 2005–2025 diperkirakan akan berada pada kisaran 6% sampai 8% per tahun. Struktur ekonomi Jawa Barat ke depan akan didominasi oleh empat sektor utama yaitu sektor pertanian, industri, perdagangan, dan pariwisata. Seiring dengan era perdagangan bebas yang akan terus mewarnai perkembangan ekonomi dunia di masa mendatang, peningkatan daya saing ekonomi daerah menjadi faktor penentu bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi daerah. Penguatan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah, yang didukung oleh reorientasi ekonomi kepada basis penelitian dan teknologi serta pasar.

Tantangan peningkatan investasi di daerah ke depan tidak lepas dari stabilitas keamanan dan ketertiban yang diiringi oleh kepastian hukum, ketersediaan infrastruktur wilayah, ketersediaan dan kepastian lahan, perburuhan dan masalah lainnya termasuk proses perizinan pembangunan. Pemecahan masalah tersebut sangat menentukan keberhasilan untuk menarik investor agar dapat menanamkan modalnya di Jawa Barat. Upaya promosi investasi juga menjadi faktor penentu untuk menarik investasi baru.

Tantangan utama dalam pengembangan pertanian di Provinsi Jawa Barat adanya konversi lahan usaha tani ke nonpertanian menyebabkan terjadi konsentrasi kapital di nonpertanian yang semakin menekan posisi rebut tawar sektor pertanian, rendahnya skala usaha tani, serta lemahnya akses terhadap teknologi baru, permodalan, informasi, dan pasar. Pada sisi lain pengembangan sarana dan prasarana yang ada relatif belum dapat memperbaiki kinerja pertanian, peningkatan kesempatan kerja maupun pengurangan kemiskinan. Di level pemerintahan atau perumus kebijakan, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mengatasi cara pandang yang masih parsial yang menimbulkan masalah koordinasi dan sinkronisasi antarsubsistem dalam sistem pertanian. Tingkat kebutuhan konsumsi pangan di masa yang akan datang untuk beberapa komoditi relatif akan meningkat secara perlahan. Peningkatan ini berhubungan

erat dengan tingkat pertumbuhan penduduk serta proyeksi tingkat konsumsi per kapita per tahun.

Bisnis kelautan di masa mendatang akan dihadapkan pada pengembangan usaha perikanan tangkap, usaha budidaya laut, bioteknologi kelautan, serta berbagai macam jasa lingkungan kelautan yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat sehingga mampu mentransformasikan keunggulan komparatif sektor kelautan dan perikanan menjadi keunggulan bersaing.

Upaya untuk mendukung pencapaian pertumbuhan sektor industri jangka panjang, diarahkan pada penguatan struktur industri dan peningkatan daya saing industri yang berkelanjutan. Pembangunan industri yang berkelanjutan didasarkan pada industri yang berbasis pada sumber daya alam lokal dan penguasaan teknologi dengan didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten. Dengan demikian diharapkan sektor industri dapat menjadi penggerak utama perekonomian daerah yang memiliki struktur keterkaitan dan kedalaman yang kuat serta memiliki daya saing yang berkelanjutan dan tangguh di pasar domestik dan internasional.

Adapun tantangan ke depan untuk pengembangan perdagangan di Jawa Barat adalah di fokuskan peningkatan akses pasar ekspor diiringi dengan peningkatan kualitas dan desain produk, serta memperluas kawasan dan tujuan ekspor. Selain itu, untuk penguatan perdagangan dalam negeri di tujukan peningkatan sarana distribusi barang, penguatan pasar domestik, menggalakkan pemberdayaan produk dalam negeri dan peningkatan perlindungan konsumen.

Tantangan pengembangan pariwisata dua puluh tahun mendatang adalah mewujudkan Jawa Barat sebagai daerah kunjungan wisata utama. Potensi wisata Jawa Barat cukup banyak dengan objek dan atraksi wisata yang variatif dan menarik. Proyeksi jumlah kunjungan wisatawan ke Jawa Barat sebesar 16,4% per tahunnya. Guna mendukung pertumbuhan wisatawan ke Jawa Barat, maka pengembangan pariwisata difokuskan pada pengembangan daya tarik wisata yang berakar pada alam dan budaya Jawa Barat sehingga dapat mencerminkan jati diri masyarakat Jawa Barat, yang didukung oleh kompetensi sumber daya manusia, pengelola daya tarik wisata dan fasilitas penunjang wisata.

Masalah kemiskinan akan sangat berkaitan dengan ketidakmampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak. Kebutuhan akan sandang, pangan, papan serta pendidikan dan kesehatan merupakan tantangan yang harus mendapatkan perhatian dalam rangka penanggulangan kemiskinan. Oleh sebab itu, upaya penanggulangan kemiskinan merupakan prioritas utama dalam pembangunan jangka panjang sehingga diharapkan pada tahun 2025 jumlah penduduk miskin terus berkurang.

Prediksi jumlah angkatan kerja pada akhir tahun 2025 diperkirakan mencapai 21,5 juta jiwa dengan jumlah penduduk bekerja sebanyak 19 juta jiwa dan pencari kerja sebanyak 2,5 juta jiwa. Meningkatnya jumlah angkatan kerja yang merupakan kelompok usia produktif perlu disikapi dengan berbagai upaya untuk membuka kesempatan kerja yang lebih besar, meningkatkan produktivitas dan keterampilan tenaga kerja, mengurangi permasalahan perburuhan dalam rangka mengendalikan jumlah pengangguran yang diprediksi akan semakin besar di masa mendatang.

1.7.3. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Era globalisasi ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dan perubahan paradigma dari keunggulan berdasarkan sumber daya yang dimiliki (resource-based competitiveness) menjadi keunggulan berdasarkan pengetahuan (knowledge-based competitiveness). Karena itu kemampuan suatu daerah untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu faktor dalam berkompetisi di pasar global dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Dalam rangka peningkatan kemampuan IPTEK, tantangan yang dihadapi dalam dua puluh tahun mendatang adalah meningkatkan kemampuan IPTEK yang ditunjang oleh SDM yang berkualitas, peningkatan sarana dan prasarana, serta pembiayaan menuju masyarakat berbasis pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu, pembangunan IPTEK 20 tahun mendatang, mengacu pada nilai-nilai luhur yaitu dapat dipertanggunjawabkan, prima, inovatif dan berpandangan jauh ke depan.

1.7.4.

Sarana dan Prasarana

Pada masa yang akan datang, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan sarana dan prasarana wilayah di Jawa Barat adalah meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan meliputi pengembangan angkutan umum massal terutama untuk kota-kota yang berpenduduk padat; pengembangan jaringan jalan yang efektif dan efisien, baik berupa jaringan jalan tol maupun non tol yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan utama dalam skala regional dan lokal; pengaturan hierarki peran serta fungsi jaringan transportasi yang lebih baik agar menghasilkan pergerakan yang efisiensi dan efektif; peningkatan pelayanan bandara-bandara yang telah ada dan mengembangkan bandara baru yang lebih tinggi kapasitas layanannya untuk menunjang perkembangan kegiatan perekonomian dan kegiatan-kegiatan lainnya; peningkatan sarana dan prasarana pelabuhan yang ada dan mengembangkan pelabuhan baru; revitalisasi dan pengembangan jaringan jalan rel untuk melayani pergerakan dalam kota dan antarkota; pengembangan infrastruktur penampung air baku, baik yang bersifat alami maupun buatan untuk meminimalisasi terjadinya bencana banjir dan kekeringan; peningkatan layanan jaringan irigasi untuk menjamin keberlanjutan sistem irigasi serta meningkatkan intensitas tanam padi sawah; pengembangan potensi-potensi energi baru yang terbarukan, seperti mikro hidro, panas bumi, tenaga uap, tenaga surya, dan angin; pengembangan jaringan listrik pedesaan dengan memanfaatkan energi listrik alternatif; pengembangan jaringan telekomunikasi baik yang menggunakan jaringan kabel maupun nirkabel, terutama pada daerah yang teledensitasnya masih rendah; pengembangan sarana dan prasarana dasar pemukiman, berupa pengembangan rumah susun, meningkatkan cakupan pelayanan air bersih, dan sanitasi lingkungan serta pengembangan pengelolaan sampah yang berskala regional. Tantangan lain yang dihadapi dalam pengembangan sarana dan prasarana wilayah adalah meningkatkan efisiensi dan efiktivitas pengelolaan sarana dan prasarana wilayah antara lain dengan mengoptimalkan kerjasama antara pemerintah dan swasta serta kemampuan lembaga pengelola.

1.7.5.

Politik.

Keberhasilan pembangunan politik dapat diukur dari tingkat partisipasi warga yang meliputi kebebasan politik dan stabilitas politik. Partisipasi warga menjadi indikator karena menggambarkan esensi penerapan demokrasi dalam tata kelola pemerintahan. Demokrasi secara substantif menghendaki keterlibatan secara aktif dan otonom dari seluruh komponen masyarakat, agar aspirasi masyarakat dapat diketahui secara pasti. Di sisi lain dengan partisipasi masyarakat kadar legitimasi pemerintah yang berkuasa dapar dipertahankan bahkan ditingkatkan, karena partisipasi sejalan dengan transparansi dan akuntabilitas.

Tolok ukur partisipasi adalah ketersediaan lembaga-lembaga politik dan kemasyarakatan seperti jumlah partai politik dan ormas; ketersediaan institusi mediasi yang merupakan cerminan civil society seperti jumlah organisasi non pemerintah dan pers; proporsi keterwakilan partai politik di lembaga legislative; proporsi keterwakilan perempuan di lembaga legislative; tingkat partisipasi pemberian suara; jumlah unjuk rasa dan pemogokan kerja; serta keikutsertaan warga dalam berbagai kegiatan dan tingkatan.

Melihat tantangan perubahan yang dihadapi pembangunan Jawa Barat, di- perlukan kualifikasi pemimpin daerah yang memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan manajemen pemerintahan, memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual untuk menggerakkan tata kelola pemerintahan yang baik dan pemerintahan yang inovatif dan bebas korupsi – kolusi – dan nepotisme, dan visioner untuk menggerakkan perubahan dan pembaruan dalam keseluruhan konteks pembangunan, serta egaliter untuk menggerakkan tata pikir, sikap, dan tindakan yang mampu menggerakkan proses demokratisasi yang beradab dan bermuara pada terciptanta kondisi masyarakat yang harmonis. Proses pergantian kepemimpinan daerah juga mempertimbangkan aspek keadilan dan kesetaraan gender untuk mencapai keseimbangan antara ketegasan dan kecepatan, serta ke- cermatan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan.

Proses dan mekanisme politik berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi di masa mendatang adalah terciptanya tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang aman, damai, dan stabil. Karena itu, partisipasi warga dalam

kehidupan politik merupakan suatu keniscayaan melalui sistem masyarakat madani yang egaliter dan terbuka terhadap perubahan. Termasuk keinginan masyarakat untuk membentuk daerah otonom akan terus bermunculan selama aspirasi masyarakat belum dapat diakomodir dengan tepat, dan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat mengalami hambatan.

1.7.6. Hukum

Pembangunan hukum dalam kerangka good governance diukur berdasarkan orientasi pemerintah (government orientation) yang menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan warga masyarakat, terutama dalam kinerja pelayanan publik dengan tolok ukur penegakan hukum/efisiensi yudisial. Fungsi penegakan hukum diperlukan untuk menunjukkan komitmen pemerintah dalam menerapkan kebijakan-kebijakan yang telah dibuatnya. Selain itu, konsistensi dalam penegakan hukum dapat membantu memulihkan kepercayaan masyarakat pada pemegang otoritas.

Pembangunan hukum berorientasi pada upaya memenuhi kebutuhan masyarakat melalui berbagai aturan dan penegakan aturan tersebut guna melindungi hak asasi manusia dan memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk pencapaian kondisi tertib sosial kemasyarakatan yang berimplikasi terhadap pertumbuhan ekonomi, juga berkaitan dengan penegakkan hukum secara berkeadilan.

1.7.7. Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat

Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat merupakan faktor utama yang memiliki peran sangat penting dalam menciptakan kondisi yang kondusif dalam menyelenggarakan pembangunan jangka panjang Jawa Barat. Potensi ancaman keamanan akan dihadapi dari berlangsungnya friksi dan konflik sosial terkait dengan menurunnya daya dukung lahan, air, dan lingkungan dalam proses pembangunan. Juga akibat dari lambannya pencapaian keseimbangan jumlah penduduk dan lapagan pekerjaan. Ancaman lain yang cenderung meningkan adalah kejahatan transnasional, mengingat Jawa Barat merupakan jalur mobilitas orang dan barang yang strategis.

Gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat masih berpotensi untuk muncul, yang dipengaruhi oleh pertumbuhan kriminalitas yang disebabkan masih besarnya pengangguran, akibat belum seimbangnya jumlah angkatan kerja dengan lapangan kerja yang tersedia. Kondisi sosial politik yang rentan masih rentan terhadap perbedaan pendapat dan etnisitas, serta penegakkan hukum yang tidak konsisten juga merupakan tantangan dalam mewujudkan tertib sosial di Jawa Barat.

1.7.8. Aparatur

Aparatur pemerintah memegang peran sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kedudukan aparatur pemerintah daerah tidak hanya untuk menggerakkan manajemen dan organisasi pemerintahan, melainkan juga dalam keseluruhan konteks demokratisasi. Terkait dengan hal tersebut, maka perencanaan sumberdaya termasuk di dalamnya penataan struktur organisasi, penataan kesisteman, dan pembentukan budaya organisasi yang menjunjung tinggi etika, profesional dan disiplin, khususnya dalam mewujudkan kondisi pemerintahan yang berorientasi kepada pelayanan.

Bertolak dari pengalaman empirik penyelenggaraan pemerintahan sepanjang 1984-2006 dan tantangan yang dihadapi sampai dengan 2025 adalah struktur organisasi yang dapat memenuhi kebutuhan daerah, kesisteman yang mampu menjadi acuan dalam proses administrasi pemerintahan didukung oleh teknologi informasi dan komunikasi yang dapat dimanfaatkan secara optimal, dan budaya organisasi yang mendorong peningkatan kinerja aparatur. Birokrasi yang modern dan mampu menjalankan fungsinya dalam sistem pemerintahan demokratis merupakan tantangan utama ke depan, yaitu birokrasi yang mampu memformulasikan kebijakan sesuai dengan keinginan politik dan aspirasi masyarakat dan dapat mengimplementasikannya secara bertanggungjawab.

1.7.9. Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah

Tantangan jangka panjang yang dihadapi adalah menjaga konsistensi antara perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian tata ruang. Penataan ruang ke depan perlu mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lahan serta kerentanan terhadap bencana alam. Selain itu diperlukan regulasi yang jelas agar

tidak terjadi konflik pemanfaatan ruang antar sektor. Tantangan lainnya adalah mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah khususnya antara wilayah di perkotaan dan perdesaan khususnya yang berada di Selatan Jawa Barat dan menyeimbangkan Pusat Kegiatan Nasional, Pusat Kegiatan Wilayah dan Pusat Kegiatan Lokal sehingga dapat berkembang secara merata dan optimal.

Tantangan aspek pola tata ruang adalah penyediaan kebutuhan lahan untuk kawasan permukiman terutama di kawasan perkotaan dalam kondisi luasan lahan yang ada sangat terbatas karena adanya kawasan lindung yang tidak boleh berubah fungsi dan adanya lahan sawah yang juga harus dipertahankan keberadaannya. Selain itu pengelolaan kawasan perkotaan akan menjadi tantangan tersendiri dalam mengatur aktivitas perkotaan dan memenuhi penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dengan tetap memperhatikan prinsip pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.

1.7.10. Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Tantangan besar yang dihadapi Provinsi Jawa Barat sampai tahun 2025 adalah memulihkan dan menguatkan kembali daya dukung lingkungan dalam pe- laksanaan pembangunan. Bersamaan dengan itu keterlibatan seluruh potensi masyarakat untuk melakukan berbagai penguatan bagi terwujudnya perilaku dan budaya ramah lingkungan serta sadar risiko bencana perlu terus ditumbuhkembangkan. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan dengan prinsip berkelanjutan menjadi tumpuan bagi upaya peningkatan kualitas lingkungan hidup ke depan. Pendayagunaan sumber daya alam harus dilakukan seefektif dan seefisien mungkin, ditopang IPTEK yang memadai sehingga memberikan nilai tambah yang berarti.

Jawa Barat dengan keanekaragaman potensi sumber daya alamnya tidak hanya menjadi pengekspor sumber daya alam bernilai rendah dan mengimpornya kembali dalam bentuk produk bernilai tinggi, melainkan harus menjadi pengekspor sumber daya alam yang telah diolah dan bernilai tinggi.

Pembiayaan penataan lingkungan merupakan aspek penting yang selama ini sulit dilaksanakan karena terkait kerja sama dan komitmen antarpihak atau antar daerah. Penerapan prinsip yang mencemari dan merusak harus membayar,

pola role sharing hulu hilir atau pusat-daerah, bagi hasil pajak untuk lingkungan, dana lingkungan, serta pola pembiayaan pemulihan lingkungan harus mulai dilakukan. Pengawasan secara berkesinambungan dan penegakan hukum secara konsisten adalah sasaran dalam rangka pemulihan daya dukung lingkungan lebih maksimal. Pemahaman risiko bencana harus mulai diintegrasikan pada proses pembangunan ke depan, guna meminimalisasi risiko dan kerugian yang mungkin timbul atas hasil – hasil pembangunan yang dicapai.

1.8. Modal Dasar

Modal dasar pembangunan merupakan salah satu kekuatan dan peluang yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pembangunan daerah, antara lain :

1. Karakteristik masyarakat Jawa Barat yang religius dan berbudaya adiluhung mendorong terciptanya kondisi yang kondusif untuk pelaksanaan pembangunan;

2. Posisi geografis Jawa Barat yang berbatasan dengan ibukota negara menjadikan Jawa Barat sebagai penyangga DKI Jakarta dan menjadi lintasan utama arus regional penumpang dan barang Sumatera – Jawa – Bali merupakan dasar dalam penetapan kebijakan pembangunan daerah di berbagai aspek;

3. Sumber daya air yang melimpah dan keanekaragaman hayati menjadi potensi pembangunan yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat;

4. Jumlah penduduk terbesar di Indonesia menjadi sumber daya yang potensial dan produktif bagi pembangunan daerah;

5. Keragaman budaya Jawa Barat merupakan modal sosial yang akan mempercepat proses pembangunan;

6. Keamanan dan ketertiban yang relatif stabil akan menjadi daya tarik dalam peningkatan investasi di Jawa Barat;

7. Ketersediaan sumber daya buatan yang dapat berfungsi sebagai daya tarik bagi investor dan mempercepat proses pembangunan daerah.

BAB II

AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI

II.1. Harmonisasi antar Kelompok Masyarakat dan Pengembangan Kebudayaan serta Nilai-nilai Luhur

Untuk Kasus di Jawa Barat, kondisi aman dan damai sebenarnya relatif lebih baik dibandingkan kondisi daerah-daerah di luar Jawa Barat, khususnya dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain di luar Jawa, Sumatera, dan Bali. Dalam RPJMD 2008-2013, hal ini dinyatakan secara eksplisit melalui keinginan untuk mengandalkan kearifan local lewat budaya masyarakat yang mumpuni dan berdaya social tinggi. Pembangunan kebudayaan di Jawa Barat ditujukan untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah serta mempertahankan jati diri dan nilai-nilai budaya daerah di tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan pengaruh negatif budaya global. Dengan demikian, arahan pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur yang dicanangkan dalam RPJMN 2004-2009 dapat diterjemahkan di daerah Propinsi Jawa Barat. Sekaligus juga dapat diwujudkan adanya peningkatan rasa saling percaya antar kelompok masyarakat khususnya sub-etnik di Jawa Barat sehingga semangat promordial sub-etnik tidak terlalu mengkhawatirkan untuk ditengarai sebagai salah satu masalah dalam pembangunan Jawa Barat, sebagai contoh adalah maraknya semangat pemisahan sub-etnik pantura di Jawa Barat akibat ketidakpuasan rasa keterpihakan dalam aspek politik (lihat BOX 1) . Terlebih lagi, pembangunan seni dan budaya di Jawa Barat sudah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman terhadap nilai budaya dan penggunaan bahasa daerah Sunda, Cirebon, Dermayu dan Melayu Betawi sebagai bahasa ibu masyarakat Jawa Barat. Namun demikan, upaya peningkatan jati diri masyarakat Jawa Barat seperti halnya solidaritas sosial, kekeluargaan, penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa masih perlu terus ditingkatkan. Budaya berperilaku positif seperti kerja keras, gotong royong, kebersamaan dan kemandirian dirasakan makin memudar. Hal ini menunjukkan

perlunya

mengembalikan

dan

menggali

kearifan

lokal

dalam

kehidupan

masyarakat.

BOX 1.

Semangat Pemisahan Propinsi Masyarakat Sub-Etnik Pantura Jawa Barat

Wacana pembentukan provinsi Pantura atau provinsi Cirebon, bagi masyarakat ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan) ibarat api dalam sekam. artinya, setiap saat, kapan saja, bisa muncul, baik dalam intensitas rendah, sedang atau bahkan berkobar-kobar.

menguatnya tuntutan pembentukan provinsi Pantura atau provinsi Cirebon berbarengan dengan dinamika politik seputar pemilihan gubernur (pilgub) Jabar. kuat terkesan, antara pilgub dengan tuntutan pembentukan provinsi itu terdapat korelasi langsung dalam hubungan kausalitas sebab-akibat.

Kendati demikian, sempat muncul kontroversi. tidak sedikit tokoh memilih jalan tengah, namun ada pula yang bersikap skeptis, bahkan menolak dengan alasan belum siap, selain tidak setuju bila wacana itu hanya karena emosionalitas tidak terakomodasinya yance dalam pilgub.

Sebagai sebuah wacana, pembentukan provinsi pantura, bagaimanapun tidak terlepas dari kontroversi. banyak yang setuju, tidak sedikit pula yang menyatakan sebaliknya, bahkan menganggapnya sebagai impian.

(dirangkum dari Harian Pikiran Rakyat September 2007)

II.2. Pembangunan Peningkatan Kemanan, Ketertiban, Dan Penanggulangan

Kriminalitas

Tingkat kriminalitas dan pelanggaran hukum lainnya masih cukup tinggi.

Di samping itu protes ketidakpuasan terhadap suatu masalah yang mengarah pada

perusakan fasilitas umum seringkali terjadi. Namun secara keseluruhan sikap

masyarakat untuk mendukung terciptanya tertib sosial melalui upaya mewujudkan

ketentraman dan ketertiban cukup baik.

Terkait dengan agenda pembangunan peningkatan kemanan, ketertiban,

dan penanggulangan kriminalitas, sasaran-sasaran yang diinginkan oleh RPJMN

2004-2009 memang tidak begitu menggembirakan dari 2004 hingga 2006 (data terbaru belum dipublikasikan). Angka kejahatan di Jawa Barat pada tahun 2006 meningkat, dari 19.963 kasus pada tahun 2005 menjadi 21.511 kasus pada tahun 2006. Namun demikian, data Polda Jabar menunjukkan bahwa tingkat penyelesaian kasus kejahatan tahun 2006 menunjukkan peningkatan kinerja dibandingkan sebelumnya. Pada tahun 2006, penyelesaian mencapai 12.631 kasus, sedangkan tahun 2005 mencapai 11.788 kasus.

Pembangunan Bidang Ketertiban umum dan Ketentraman Masyarakat selama periode 2004 - 2007 difokuskan pada terwujudnya kesadaran masyarakat untuk menjaga keamanan masyarakat lingkungan masing-masing; dan terwujudnya perlindungan masyarakat dari bencana. Capaian kinerja Bidang Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat selama periode 2004 - 2007 adalah sebagai berikut :

1. Perkembangan jumlah perlindungan masyarakat (Linmas) selama tahun 2004 - 2007 sebanyak 1.568.947 orang;

2. Meningkatnya kesadaran masyarakat mentaati peraturan daerah;

3. Terkendalinya

dan

terdeteksinya

ketentraman masyarakat;

secara

dini

gangguan

ketertiban

dan

4. Terdapatnya informasi/data obyektif mengenai prediksi gangguan ketertiban dan ketentraman masyarakat pada akhir 2007, serta langkah- langkah penanggulangannya.

Kondisi-kondisi di atas dapat ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Gambar 2.1 Jumlah Pelanggaran Perda di Jawa Barat Tahun 2004 – 2007 12000 10000 8000
Gambar 2.1 Jumlah Pelanggaran Perda di Jawa Barat Tahun 2004 – 2007
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0
2004
2005
2006
2007

Sumber: Bapeda Jabar 2008

Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa pelanggaran peraturan daerah oleh masyarakat terus mengalami penurunan, terutama sejak tahun 2004 sampai dengan 2007. Kondisi ini dapat dimaknai bahwa kesadaran hukum masyarakat terhadap peraturan perda meningkat sejalan dengan cukup efektifnya sosialisasi peraturan daerah, sejak proses legislasi, sosialisasi hingga penerapannya.

Selanjutnya berkaitan dengan gangguan ketentraman dan ketertiban umum sejak tahun 2004 hingga tahun 2007, klasifikasi gangguannya terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 2.2 Data Gangguan Trantibum Di Jawa Barat Tahun 2004 - 2007

1800 1600 1400 Ketertiban Umum 1200 Unjuk rasa 1000 800 Kenakalan Remaja 600 400 Pemogokan
1800
1600
1400
Ketertiban Umum
1200
Unjuk rasa
1000
800
Kenakalan Remaja
600
400
Pemogokan
200
Narkotika
0
JTP
JPTP
JTP
JPTP
JTP
JPTP
JTP
JPTP
JUMLAH
2004
2005
2006
2007

Dari gambar tersebut memperlihatkan bahwa gangguan ketertiban dan ketentraman masyarakat yang paling menonjol sepanjang tahun 2003-2008, muncul dari penyalahgunaan penggunaan narkoba, dengan trend menunjukkan peningkatan pada setiap tahunnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman narkoba menjadi ancaman laten yang memerlukan penanganan berkesinambungan serta terintegrasikan antara aparat ketentraman daerah, yang bekerja sama dengan perangkat satuan polisi pamong praja, aparat perlindungan masyarakat (LINMAS) serta lingkungan keluarga masing-masing. Sedangkan untuk tindak kriminalitas, gambarannya terlihat pada gambar berikut.

Gambar 2.3 Data Indeks Kriminalitas Provinsi Jawa Barat

DATA INDEKS KRIMINALITAS PROV JABAR TAHUN 2003 - 2007

TAHUN 2003 TAHUN 2004 TAHUN 2005 TAHUN 2006 TAHUN 2007
TAHUN 2003
TAHUN 2004
TAHUN 2005
TAHUN 2006
TAHUN 2007
4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 Sumber: Bapeda Propinsi Jabar, 2008
4500
4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
Sumber: Bapeda Propinsi Jabar, 2008
CRT
CRS
CURAN
ANIAYA
TIPU
GELAP
NARTIK
KEBAKAR
BUNUH
CUR KAY
UNRAS

Diagram tersebut memperlihatkan bahwa tindak pidana kriminal yang paling menonjol pada kurun waktu 2003 - 2007 adalah pada jenis pencurian kendaraan bermotor, diikuti oleh pencurian, penipuan, narkotika, penganiayaan serta pemerasan. Kondisi ini tidak lepas dari kondisi perekonomian masyarakat yang mengalami fluktuasi sehingga menimbulkan peningkatan pengangguran, yang mendorong tumbuhnya tindak pidana. Walaupun demikian secara umum penanganan tindak pidana kriminalitas di provinsi Jawa barat, masih dalam

konstelasi terkendali oleh aparat penegak hukum kepolisian daerah dibantu oleh masyarakat.

Gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat masih berpotensi untuk muncul, yang dipengaruhi oleh pertumbuhan kriminalitas yang disebabkan masih besarnya pengangguran, akibat belum seimbangnya jumlah angkatan kerja dengan lapangan kerja yang tersedia. Kondisi sosial politik yang rentan masih rentan terhadap perbedaan pendapat dan etnisitas, serta penegakkan hukum yang tidak konsisten juga merupakan tantangan dalam mewujudkan tertib sosial di Jawa Barat.

Untuk data kejahatan internasional, kejahatan di laut tidak tersedia data yang valid, namun untuk kejahatan di hutan, Jawa Barat memiliki catatan yang cukup mengkhawatirkan dimana jumlah illegal logging meningkat tajam di awal- awal reformasi. Kerusakan hutan pun makin menjadi sejak otonomi daerah diterapkan pada tahun 2002. Wilayah Priangan yakni Garut, Tasikmalaya, Banjar, dan Ciamis merupakan daerah dengan kasus pembalakan terbanyak. Namun sebagian besar telah ditangani dengan penegakan hukum dan program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM). Sebagai contoh, perambahan hutan di KPH Ciamis seluas 2.800 ha telah diatasi oleh Operasi Hutan Lestari Lodaya 2008, serta perambahan KPH Garut seluas 2.678 ha dan KPH Tasikmalaya seluas 1.928 ha saat ini dalam penanganan operasi persuasif dan persiapan rehabilitasi hutan. Untuk data separatisme di Jawa Barat, sepertinya data yang ada tidak dapat mewakili signifikansi permasalahan keamanan dan ketertiban di Jawa Barat karena frekwensi dan gaung yang tidak relevan.

Masalah agenda Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara dan Pemantapan politik luar negeri dan peningkatan kerjasama internasional juga tidak relevan dengan urusan wajib dan pilihan dari propinsi sesuai dengan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

BAB III AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS

III.1.

Diskriminasi

Pembenahan

Sistem

Hukum,

Politik

Hukum

dan

Penghapusan

Untuk agenda mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis, Pembangunan Bidang Hukum di propinsi Jawa Barat pada periode 2003 s/d 2007 diarahkan pada Terwujudnya perlindungan Hak Asasi Manusia; Terwujudnya keserasian produk hukum antara Pusat, Provinsi serta Kabupaten/kota; dan Terwujudnya inisiatif DPRD dalam pengusulan rancangan Perda. Selama periode tersebut capaian kinerja pembangunan Bidang Hukum antara lain :

1. Meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap HAM, yang dapat diukur dari:

a. Terbentuknya kelembagaan yang memfasilitasi upaya peningkatan dalam perlindungan HAM, melalui pembentukan Panitia Pelaksana RANHAM tingkat Provinsi dan di 25 kabupaten/kota.

b. Meningkatnya kesadaran hukum masyarakat dan Hak Azasi Manusia

(HAM) terutama dalam bidang lingkungan hidup dan pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, antara lain ditandai dengan gerakan penghijauan di permukiman yang bersifat swadaya serta kesadaran untuk melaporkan berbagai tindak kekerasan yang terjadi di rumah tangga melalui aparat penegak hukum. 2. Jumlah produk hukum daerah (Perda, Pergub, Kepgub dsb) yang telah dihasilkan sepanjang tahun 2003 s/d 2007 mencapai 4.175 buah, dengan perincian Perda sebanyak 65 buah, Peraturan Gubernur sebanyak 350 buah, Keputusan Gubernur sebanyak 3.756 buah dan Instruksi Gubernur sebanyak 4

buah.

Secara diagram jumlah produk hukum yang telah dibuat dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 3.1 Jumlah Produk Hukum Daerah di Jawa Barat Yang Dihasilkan Tahun 2003 s/d 2007

INGUB, 4 PERDA, 65 PERGUB, 350
INGUB, 4
PERDA, 65
PERGUB, 350

KEPGUB, 3756

PERDA PERGUB KEPGUB INGUB
PERDA
PERGUB
KEPGUB
INGUB

3. Jumlah Produk Hukum daerah yang diterbitkan Provinsi Jawa Barat dan

dibatalkan Pemerintah sebanyak 4 buah yakni Perda bidang retribusi daerah.

4. Dalam rangka menjaga keserasian produk hukum yang diterbitkan oleh

pemerintah kabupaten/kota dengan peraturan perUndang-undangan yang lebih

tinggi, sesuai perintah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah, sejak tahun 2004 telah dilaksanakan evaluasi terhadap

raperda APBD, pajak daerah, retribusi daerah serta tata ruang kabupaten/kota

dengan jumlah keseluruhan mencapai 29 buah.

Gambar 3.2 Hasil Evaluasi Produk Hukum Daerah Kabupaten/Kota di Jawa Barat Tahun 2004 s/d 2007

60

50

40

30

20

10

0

53 51 50 50 30 15 10 3 3 1 1 0 0 0 0
53
51
50
50
30
15
10
3
3
1 1
0 0 0 0
0
2004
2005
2006
2007

APBD Murni/Perubahan Murni/Perubahan

Pajak DaerahAPBD Murni/Perubahan Retribusi Daerah

Retribusi DaerahAPBD Murni/Perubahan Pajak Daerah

Tata Ruang DaerahAPBD Murni/Perubahan Pajak Daerah Retribusi Daerah 5. Jumlah perda inisiatif DPRD yang tersusun sebanyak 1

5. Jumlah perda inisiatif DPRD yang tersusun sebanyak 1 buah yakni Perda

tentang Penyelenggaraan Perlindungan Penyandang Cacat.

III.2. Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan Kekerasan Pada Anak-

Anak

Untuk agenda penghormatan, pemenuhan, dan penegakan atas hokum dan

pengakuan Hak Asasi Manusia (HAM), kasus di Jawa Barat untuk pelanggaran

HAM relative paling sedikit secara catatan resmi pemerintah. Dua kasus

pelanggaran HAM di Propinsi Jawa Barat yang masih berada dalam taraf

penyelesaian adalah: (i) Kasus warga Rumpin Bogor, Jawa Barat versus TNI

Angkatan Udara dan (ii) Kasus petani Lengkong, Sukabumi, Jawa Barat versus

PT Tugu Cimenteng (perkebunan sawit).

Untuk kasus korupsi, catatan resmi pemerintah khususnya data dari Kejati

Jawa Barat menunjukkan adanya kemajuan walaupun dirasakan lambat oleh

sebagian kalangan masyarakat. Untuk tahun 2007 Kejaksaan Tinggi Jawa Barat

memang masih menunggak penyelesaian dua kasus korupsi dari total 6 kasus

utama, yaitu kasus dana bantuan bencana dan pembangunan Islamic Center di

Kabupaten Purwakarta senilai Rp 3 miliar. Sedangkan empat kasus lain sudah

diselesaikan dan dinyatakan ditutup, antara lain pemeriksaan Kaplinggate yang diambil alih Kejaksaan Agung (Kejagung) dan kasus korupsi pembangunan Stadion Jalak Harupat yang dinyatakan dihentikan penyidikannya. Target Kejati Jabar sudah mendekati baik. Ini didasarkan pada target yang ditetapkan Kejagung. Kejagung hanya menetapkan minimal lima kasus terselesaikan oleh kejati dan kejari. Hal yang belum bisa dipenuhi targetnya oleh banyak Kejati dan Kejari di daerah-daerah propinsi lain. Sebagai data pembanding, memang agak terlalu timpang bila membandingkan angka resmi dari Kejati ini dengan kasus yang ditenggarai mengandung unsure korupsi baik menurut versi Indonesia Corruption Watch (ICW). Adapun lembaga legislatifnya menjadi terkorup kedua versi Komisi Pemberantasan Korupsi.

III.3. Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan Serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak

Salah satu misi pembangunan nasional dalam Rencana Pembangnan Jangka menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004 – 2009 adalah mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis. Ntuk dapat mewujudkannya terdapat beberapa masalah, di antaranya adalah kesenjangan pencapaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan serta masih rendahnya kualitas hidup dan peran serta perempuan dalam pembangunan. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka telah ditetapkan sasaran pembangunan yang salah satunya adalah menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan yang diukur oleh angka Gender-related Development Index (GDI) dan Gender Empowerment Measurement (GEM).

Berkenaan dengan jender, kebijakan yang berpihak terhadap peningkatan peran kaum perempuan di seluruh sektor dan aspek pembangunan telah dilakukan. Namun upaya pengarusutamaan jender ini masih perlu lebih diaktualisasikan di segala bidang. Pemberdayaan perempuan tercermin dari Indeks Pemberdayaan Gender dan Indeks Pembangunan Gender yang meliputi angka partisipasi perempuan dalam parlemen, posisi manajer, staf teknis, dan tingkat partisipasi angkatan kerja. Pada tahun 2006, Indeks Pemberdayaan Gender Jawa Barat

mencapai 54,4 sedangkan untuk angka nasional 62,2 dan Indeks Pembangunan Gender 60,8 sedangkan angka nasional 65,7.

Kualitas hidup perempuan sangatlah penting karena menentukan kualitas hidup generasi mendatang. Secara umum, kualitas hidup perempuan yang rendah berkaitan erat dengan angka kematian bayi dan angka kematian ibu.

III.3.1 Politik

Keterwakilan perempuan sebagai anggota legislatif semakin besar. Bila pada hasil Pemilu 1999 ada beberapa kabupaten/kota yang tidak terwakili maka pada hasil Pemilu 2004 semua kabupaten/kota telah memiliki anggota legislatif perempuan walaupun belum mencapai kuota 30%. Kualitas kehidupan demokrasi pun dirasakan lebih baik, terlihat dari tingginya kesadaran masyarakat pemilih dalam Pemilu 2004 (78,10% untuk pemilih laki-laki dan 81,68% untuk pemilih perempuan).

III.3.2. Pendidikan

Pendidikan merupakan syarat utama pembangunan kapabilitas dasar manusia. Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan modal untuk penggerak pembangunan yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan disamping Sumber Daya Alam. Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan manusia terdidik yang bermutu dan handal sesuai dengan kebutuhan jaman. Pendidikan merupakan elemen penting pembangunan dan perkembangan sosial- ekonomi masyarakat.

Bagi perempuan, pendidikan tinggi akan memberikan dampak positif, yaitu perempuan diharapkan mampu menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya guna untuk kepentingan dirinya sendiri dan keluarga, membebaskan perempuan dari belenggu budaya yang cenderung menguntungkan laki-laki, dan dapat melahirkan generasi yang lebih berkualitas.

Terdapat 2 indikator utama dalam pendidikan, yaitu Angka Melek Huruf (AMH- literacy rate) dan Angka Partisipasi Sekolah (APS – participation rate for school age population).

Dewasa ini pembangunan pendidikan di Provinsi Jawa Barat relatif terus membaik. Hal ini ditunjukkan oleh semakin meningkatnya persentase penduduk

15 tahun ke atas yang melek huruf dan rata-rata lama sekolah.

III.3.3. Angka Melek Huruf (AMH)

AMH merupakan ukuran terpenting dari indikator pendidikan. Kemampuan membaca sangatlah penting karena dengan kemampuan ini seseorang akan lebih mudah menerima pembelajaran/pembaharuan dan dalam menyerap maupun menyampaikan informasi, juga membantu kemudahan berkomunikasi. Makin rendah persentase penduduk yang buta huruf menunjukkan keberhasilan program pendidikan, sebaliknya makin tinggi persentase penduduk yang buta huruf mengidentifikasikan kurang berhasilnya program pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan dan ketidakmampuan membaca dan menulis memberi andil terhadap keterbelakangan dan peningkatan penduduk miskin. Mereka tidak dapat bersaing dalam mencari pekerjaan karena memiliki pilihan pekerjaan yang sangat terbatas. Menurunnya angka buta huruf di Jawa Barat mengidentifikasikan adanya keberhasilan program pembangunan dalam bidang pendidikan.

AMH di provinsi Jawa Barat pada tahun 2003 sebesar 93,60, tahun 2004 sebesar 93,96, dan pada tahun 2005 menjadi 94,52. Angka penduduk berusia 10-

44 tahun yang buta huruf/aksara mengalami peningkatan dari 562.837 orang pada

tahun 2005 menjadi 1.642.927 orang pada tahun 2006.

Sedangkan berdasarkan data tahun 2007, Angka Buta Huruf Total adalah 5,34 %, dengan perincian laki-laki 3,10% dan perempuan 8,74%. Distribusi penduduk miskin dalam hal kemampuan baca tulis sampai dengan tahun 2007 masih didominasi kaum ibu. Data Suseda 2007 memperlihatkan angka buta huruf perempuan masih lebih tinggi daripada angka buta huruf laki-laki. Ini merupakan

akibat dari fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat di mana secara umum tingkat pendidikan laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan perempuan. Berdasarkan hasil Suseda 2007, penduduk usia 10 tahun ke atas yang buta huruf (tidak dapat membaca huruf latin atau huruf lainnya) sekitar 2,079 juta orang (atau sebesar 5,34 persen). Komposisinya terbagi atas buta huruf lakilaki sebanyak 0,622 juta orang (3,10 persen) dan perempuan sebanyak 1,456 juta orang (8,74 persen). Angka buta huruf (total) menurut hasil Suseda tahun 2007 sebesar 5,34 persen. Hal yang memprihatinkan adalah terjadinya peningkatan persentase buta huruf perempuan sebanyak 2,19 poin. Ini menunjukkan kecenderungan masyarakat, terutama yang biasa terjadi di daerah perdesaan, untuk mengutamakan pendidikan bagi anak laki-lakinya dibanding perempuan belum mengalami pergeseran.

III.3.4. Angka Partisipasi Sekolah

Partisipasi masyarakat dalam pendidikan formal terlihat dalam Angka Partisipasi Kasar (APK) yang memperlihatkan proporsi anak sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai.

Berdasarkan hasil Suseda 2007 menunjukkan pada kelompok usia 7 – 12 tahun, APS laki-laki sebesar 95,24 persen, lebih rendah dibandingkan perempuan yang sebesar 96,17 persen, demikian pula pada kelompok usia 13 – 15 tahun, APS laki-laki sebesar 77,25 persen sedangan APS perempuan sebesar 79,83 persen. Pada kelompok usia 16 – 18 tahun, APS perempuan 37,35 persen, lebih rendah dibandingkan APS laki-laki (41,27 persen).

Tampak bahwa tingkat pendidikan laki-laki Jawa Barat lebih tinggi dibanding dengan tingkat pendidikan perempuan. Kondisi ini tercermin dari kecilnya persentase penduduk perempuan usia 10 tahun ke atas yang menamatkan pendidikan sekolah menengah atas hingga pendidikan tinggi. Sedangkan persentase penduduk perempuan yang sekolah menumpuk pada jenjang SLTP ke bawah. Sebanyak 63,84 persen penduduk perempuan menamatkan pendidikan di jenjang SD ke bawah, sedangkan laki-laki yang menamatkan pendidikan SD ke

bawah sebesar 58,98 persen. Sosialisasi bahwa pendidikan itu penting baik bagi laki-laki maupun perempuan masih perlu terus disuarakan.

Tabel 3.1 Angka Partisipasi Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan

3.1 Angka Partisipasi Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat Sumber: Dinas

Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat

Menurut Jenjang Pendidikan Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat 46

Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat

Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat Berdasarkan grafik di atas tampak bahwa pada tingkat SD,

Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat

Berdasarkan grafik di atas tampak bahwa pada tingkat SD, nilai APK

menunjukkan angka di atas 100%, maka nilai APK untuk jenjang selanjutnya

menunjukkan angka yang rendah (pada tahun 2006, APK SMP sebesar 60,96%

sedangkan APK SMA dan SMK sebesar 37,76%). Hal yang menggembirakan

adalah angka putus sekolah pada setiap jenjang menunjukkan peningkatan.

Gambar 3.3 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin (2007)

peningkatan. Gambar 3.3 Angka Partisipasi Sekola h (APS) Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin (2007) 47

III.3.5. Rata-rata Lama Sekolah

Rata-rata lama sekolah merupakan salah satu ukuran kualitas sumberdaya manusia yang menggambarkan besarnya daya serap pendidikan terhadap penduduk usia sekolah dan kemampuan social ekonomi masyarakat, khususnya terhadap pendidikan dasar dan menengah. Karena merefleksikan output kondisi social ekonomi, maka besaran rata-rata lamanya sekolah akan sulit untuk berubah dalam waktu singkat. Terdapat peningkatan rata-rata lama sekolah dari tahun-ke tahun, pada tahun 2003 rata-rata 7,2 tahun, tahun 2004 rata-rata 7,37 tahun, 2005 rata-rata 7,46 tahun dan pada tahun 2006 menjadi 7,74 tahun. Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan semakin meningkat

Kendala utama dalam upaya pembangunan pendidikan saat ini adalah kemiskinan dan keterbelakangan. Bagi keluarga yang tidak mampu, biaya pendidikan anak tidak dapat dipenuhi dan cenderung mengarahkan anak-anaknya untuk bekerja membantu perekonomian rumahtangga. Karena mereka beranggapan bahwa pendidikan tidak menjamin bisa memperoleh kehidupan yang lebih layak, terutama untuk anak perempuan.

Pada tahun 2007, persentase penduduk usia 10 tahun ke atas di Jawa Barat yang berpendidikan SD ke bawah masih cukup besar (61,34 persen). Sedangkan penduduk yang menamatkan pendidikan SLTP ada sebanyak 16,48 persen. Hal yang menggembirakan adalah adanya peningkatan persentase penduduk yang mampu menamatkan pendidikan di tingkat SMU/K maupun perguruan tinggi. Sumber yang sama menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang tamat SMU/SMK sebesar 17,15 persen; dan sebanyak 5,03 persen mampu menamatkan pendidikan hingga perguruan tinggi (Akademi/Perguruan Tinggi). Sebagai ilustrasi, dari setiap orang penduduk 10 tahun ke atas di Jawa Barat, 50 orang di antaranya ternyata berkesempatan menyelesaikan pendidikan tingginya di berbagai level pendidikan antara lain Diploma I, Diploma II, Diploma III, Sarjana, Doktor, hingga program Master.

Tabel 3.2 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut Jenjang Pendidikan yang Ditamatkan Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2007

 

LAKI-

   

PENDIDIKAN

LAKI

PEREMPUAN

TOTAL

Tidak tamat

21.73

24.9

26.27

SD/MI

37.29

38.94

38.07

SLTP/sederajat

16.34

16.63

16.48

SMU/sederajat

12.55

10.92

11.76

SMK

6.7

3.99

5.38

DI/DII

0.66

1.18

0.81

DIII

0.36

1.32

1.34

DIV/Universitas

3.4

2.12

2.78

Hasil Suseda 2007

Terjadinya peningkatan persentase penduduk Jawa Barat yang mampu

menyelesaikan SMU/K ke atas menunjukkan animo masyarakat terhadap

peningkatan kemampuan sumber daya manusia semakin baik. Di samping

realisasi pembangunan sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang lambat

laun mulai terlihat hasilnya. Meski demikian, banyak dikeluhkan oleh masyarakat

mengenai biaya pendidikan yang semakin tinggi dan semakin sulit dijangkau oleh

sebagian masyarakat Jawa Barat. Dan hal inilah yang menjadi salah satu penyebab

pendidikan diutamakan untuk laki-laki terlebih dahulu.

III.3.6. Tenaga Kerja

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan indikator ketenagaan

sekaligus indikator ekonomi makro yang digunakan untuk melihat tingkat

perekonomian suatu negara. Angka penggangguran pada perempuan lebih tinggi

daripada laki-laki. Berdasarkan data Bapeda dan BPS pada tahun 2004 didapatkan

TPT pada laki-laki 9,67 dan perempuan 18,54 dengan total 12,25 sedangkan pada

tahun 2005 didapatkan TPT pada laki-laki 9,38 dan perempuan 18,08 dengan total

11,91.

Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) menurut jenis kelamin di Jawa Barat

lebih tinggi terjadi pada laki-laki. Berdasarkan data Bapeda dan BPS pada tahun

2004 didapatkan TKK pada laki-laki 90,33 dan perempuan 81,46 dengan total

87,75 sedangkan pada tahun 2005 didapatkan TPT pada laki-laki 90,62 dan perempuan 81,92 dengan total 88,09. Berdasarkan Survey Sosial Ekonomi Daerah, jumlah pekerja tidak dibayar pada perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan pada laki-laki. Data tahun 2005 didapatkan jumlah pada laki-laki 2,48% dan perempuan 20,63%, sedangkan data tahun 2007 didapatkan jumlah pada laki-laki 3,67% dan perempuan 24,02%. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat diskriminasi dalam hal pekerjaan, di mana kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik masih didominasi oleh laki-laki. Kesempatan kerja pada umumnya lebih terbuka lebar bagi laki-laki dibandingkan perempuan, karena sifat pekerjaan yang sesuai untuk perempuan pada umumnya lebih spesifik dan tingkat pendidikan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.

III.3.7. Kekerasan Pada Anak

Lembaga Perlindungan Anak Daerah Jawa Barat mencatat selama tahun 2007, terdapat 3.800 kasus kekerasan dan perdagangan anak asal Jawa Barat. Sedangkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Institut Perempuan mencatat, dalam rentang waktu antara Januari-Juli 2007, terdapat 12 kasus perdagangan manusia yang menimpa 43 korban asal Jawa Barat dan sebanyak 29 orang di antaranya adalah anak-anak. Pengadilan Negeri Bandung mencatat, pada tahun 2004 terjadi 82 kasus tindak pidana anak, sedangkan tahun 2007 terdapat 48 kasus dan hingga Juni 2008 terdapat 20 kasus. Jawa Barat sudah memiliki perda tentang pencegahan dan penanganan perdagangan orang, termasuk di dalamnya perlindungan terhadap anak-anak. Perda tersebut telah disahkan oleh DPRD Jawa Barat pada tanggal 23 Juni 2008, tinggal proses penyusunan peraturan teknis oleh Gubernur Jawa Barat.

III.4. Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah III.4.1. Sinkronisasi dan Harmonisasi Peraturan Perundang-Undangan Pusat dan Daerah Pada tahun 2007, kegiatan penyusunan perda dianggarkan untuk menyusun 13 (tiga belas) rancangan peraturan daerah (LKPJ Gubernur Akhir

Tahun Anggaran 2007). Dalam pelaksanaannya, 1 (satu) raperda telah ditetapkan menjadi perda, yaitu Perda No. 7 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Perda No. 10 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. Adapun 12 (dua belas) raperda yang telah dibahas bersama Panitia Legislasi DPRD Provinsi Jawa Barat, meliputi:

1. Perubahan atas Perda No. 16 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Laboratorium Kebumian.

2. Perubahan atas Perda No. 17 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan.

3. Retribusi Jasa Pengujian Penyakit Hewan, Bahan Asal Hewan dan Mutu Pakan/Bahan Baku Pakan.

4. Retribusi Jasa Pelayanan Industri Kecil Menengah.

5. Peredaran Hasil Hutan.

6. Taman Hutan Raya.

7. Pengelolaan Barang Milik Daerah.

8. Penyelenggaraan Kepariwisataan.

9. Penyelenggaraan Pendidikan.

10. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025.

11. Irigasi.

12. Pengelolaan Air Tanah.

Pembahasan ke-12 raperda tersebut, sesuai Surat Pimpinan DPRD Provinsi Jawa Barat No. 188.34/3061.Set-DPRD tanggal 12 Desember 2007 dilaksanakan pada Tahun Sidang 2008. Tidak tertuntaskannya pembahasan ke-12 raperda tersebut di DPRD, antara lain disebabkan adanya pembahasan 6 (enam) raperda tentang penyertaan modal daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 6 (enam) Badan Usaha Milik Daerah, yang merupakan raperda di luar Program Legislasi Daerah, namun bernilai strategis karena dapat berdampak pada pembatalan Peraturan Daerah tentang APBD Provinsi Jawa Barat Tahun 2007. Enam raperda tentang penyertaan modal daerah tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil evaluasi Menteri Dalam Negeri terhadap Perda tentang APBD Provinsi Jawa Barat Tahun 2007 dan penjabarannya. Pembahasan ke-12 raperda tersebut

dilanjutkan kembali pada tahun 2008 bersama dengan 20 (dua puluh) raperda lainnya yang telah diprogramkan sebelumnya. Jumlah produk hukum daerah, dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda), Peraturan Gubernur (Pergub), Keputusan Gubernur (Kepgub), dan lain-lain yang telah dihasilkan sepanjang tahun 2003-2008 mencapai 4.175 buah, dengan perincian: Perda sebanyak 65 buah, Pergub sebanyak 350 buah, Keputusan Gubernur sebanyak 3.756 buah, dan Instruksi Gubernur sebanyak 4 buah.

Gambar 3.4 Jumlah Produk Hukum Daerah di Jawa Barat yang dihasilkan Tahun 2003-2008

3756 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 350 500 4 65 0 Ingub Perda
3756
4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
350
500
4
65
0
Ingub
Perda
Pergub
Kepgub

Sumber: LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur (2003-2008)

Jumlah produk hukum daerah yang diterbitkan Provinsi Jawa Barat dan dibatalkan Pemerintah pusat sebanyak 4 (empat) buah, yakni perda-perda terkait

dengan bidang retribusi daerah. Menyikapi pembatalan Pemerintah Pusat terhadap perda-perda yang diterbitkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan kegiatan evaluasi produk hukum, antara lain yang dilakukan pada tahun 2007 terhadap 6 (enam) peraturan daerah, yakni:

1. Perda No. 20 Tahun 2001 tentang Peredaran Hasil Hutan di Jawa Barat.

2. Perda No. 25 Tahun 2001 tentang Pemeriksaan Hewan, Bahan Asal Hewan dan Ransum Makanan Ternak.

3. Perda No. 21 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Perhubungan.

4. Perda No. 13 Tahun 2000 tentang Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat.

5.

Perda No. 15 Tahun 2000 tentang Dinas Daerah Provinsi Jawa Barat.

6. Perda No. 16 Tahun 2000 tentang Lembaga Teknis Provinsi Jawa Barat.

Di antara perda yang dievaluasi tersebut terdapat Perda No. 20 Tahun 2001 tentang Peredaran Hasil Hutan di Jawa Barat dan Perda No. 25 Tahun 2001 tentang Pemeriksaan Hewan, Bahan Asal Hewan dan Ransum Makanan Ternak yang dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. Sebagai penyikapan atas pembatalan perda tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah melakukan upaya untuk menjamin tetap berlangsungnya pelayanan kepada masyarakat tanpa melakukan pemungutan, konsultasi kepada Departemen Dalam Negeri dan Departemen Teknis, serta mengagendakan kembali pembahasan kedua perda bidang retribusi daerah tersebut dalam Program Legislasi Daerah Tahun 2007.

Namun, sehubungan dengan padatnya jadwal kerja DPRD, pembahasan kedua raperda bidang retribusi daerah tersebut baru selesai dalam tahapan Panitia Legislasi dan akan dilanjutkan dalam tahun sidang 2008. Berkaitan dengan PP No. 41 Tahun 2007, pembahasan ketiga raperda terkait organisasi perangkat daerah dilakukan pada tahun sidang 2008 dan sekarang telah disahkan menjadi perda tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah, perda tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat DPRD, perda tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah, serta perda tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah. Dalam rangka menjaga keserasian produk hukum yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, sesuai perintah UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sejak tahun 2004, telah dilaksanakan evaluasi terhadap Raperda APBD, pajak daerah, retribusi daerah, serta tata ruang kabupaten/kota dengan jumlah keseluruhan mencapai 292 buah. Untuk menyelesaikan masalah ketidaksesuaian perda kabupaten/kota dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, upaya yang telah dilakukan adalah:

1. Membentuk perda dan petunjuk pelaksanaan mengenai penyusunan perda yang di dalamnya mengatur program legislasi daerah serta penguatan peran Panitia Legislasi DPRD.

2.

Melaksanakan capacity building sumber daya aparatur legal drafter dan pengacara daerah.

3. Membangun, menegakkan, dan mengembangkan pemberian reward and punishment secara tegas dan adil serta meningkatkan koordinasi dengan aparat penegak hukum.

4. Membangun networking dalam penyusunan peraturan perundang- undangan antar susunan pemerintahan serta meningkatkan kerjasama dengan perguruan tinggi dalam penyusunan naskah akademik.

5. Mengembangkan konsultasi publik yang menempatkan masyarakat

sebagai subyek hukum yang berhak menyampaikan pendapat sebagai wahana public sphere dalam menjaring aspirasi masyarakat. Dalam kerangka regulasi daerah, DPRD Provinsi Jawa Barat, telah menginisiasi penyusunan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Perlindungan Penyandang Cacat, sehingga Jawa Barat tercatat sebagai provinsi kedua yang mengatur secara khusus hak-hak para penyandang cacat di Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari penetapan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Penyandang Cacat, Pemerintah Provinsi telah menerbitkan lembaran daerah khusus dalam huruf braille, serta melengkapi peraturan daerah dimaksud dengan petunjuk pelaksanaannya. Hal tersebut telah mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS-HAM).

III.4.2. Kerjasama Antarpemerintah Daerah Sebagai bagian dari program pemantapan otonomi daerah dan kerjasama daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan 3 (tiga) sasaran capaian program tersebut, yakni:

1. Tersusunnya Standar Pelayanan Minimal (SPM) bagi seluruh perangkat daerah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

2. Terwujudnya administrasi pemerintahan yang efektif dan efisien.

3. Terwujudnya pengembangan kerjasama antardaerah.

Dalam pelaksanaan program tersebut selama kurun waktu 2003-2007, telah terealisasi capaian kinerja pada tingkat program yang ditandai oleh indikator:

1. Tersusunnya 11 (sebelas) kebijakan SPM untuk kabupaten/kota di Jawa Barat dan 5 (lima) dasar kebijakan SPM untuk Pemerintah Provinsi, yang meliputi bidang kesehatan, pendidikan, tenaga kerja dan transmigrasi, koperasi dan usaha kecil dan menengah serta penanaman modal. Selain itu, Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) telah diterapkan kepada Unit Kerja Pelayanan Publik (UKPP) dalam menerapkan klasifikasi dan kualifikasi pelayanan yang berada pada UKPP unggulan sebagai barometer terhadap kualitas kinerja pelayanan publik.

2. Terselenggaranya kewenangan daerah provinsi berdasarkan PP No. 25 Tahun 2000, yang kemudian diperbaharui untuk menindaklanjuti PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah dengan Pemerintahan Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota. Pada tahun 2008, disahkan perda tentang Urusan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berisi pengakuan terhadap 26 urusan wajib dan 8 urusan pilihan.

3. Terselenggaranya kerjasama antardaerah sebanyak 43 buah, kerjasama dengan pihak ketiga sebanyak 35 buah, dan kerjasama dengan pihak luar negeri sebanyak 24 buah, yang dilaksanakan untuk mendukung pengembangan 6 (enam) core business (bidang pertanian, kelautan, kepariwisataan, manufaktur, infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia), serta common goals. Secara khusus dalam kerjasama bidang kepariwisataan daerah telah dilakukan satu kesepakatan (Memorandum of Understanding) Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Taman Nasional Gunung Pangrango (TNGP) melalui Keputusan Bersama No. B. 06/Dep.VII/