Anda di halaman 1dari 54

Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report

Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

1.1. LATAR BELAKANG


Perkembangan suatu wilayah/kawasan pada dasarnya dipengaruhi oleh
berbagai faktor, baik faktor yang berasal dari dalam wilayah itu sendiri maupun
faktor-faktor dari luar. Faktor-faktor dimaksud dapat berupa faktor sosial, budaya,
ekonomi maupun fisik alami wilayah yang bersangkutan. Pada kenyataannya
pengembangan suatu wilayah/daerah merupakan suatu rangkaian kegiatan di
dalam perkembangan tersebut, dimana faktor-faktor tersebut selalu memerlukan
ruang sebagai wadahnya.

Ruang merupakan bagian dari alam atau bentangan alam, tempat segala
sesuatu ada. Suatu ruang bisa cocok untuk berbagai kegiatan dan suatu kegiatan
juga bisa cocok di berbagai ruang, untuk itu maka perlu diadakan suatu pengaturan
agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Kegiatan yang menguntungkan
kegiatan lain perlu didekatkan, kegiatan yang merugikan kegiatan lain harus saling
dijauhkan. Sedangkan untuk kegiatan pada suatu lokasi yang dapat menguntungkan
atau merugikan kegiatan di tempat lain, perlu diserasikan. Untuk memadukan
berbagai kasus tersebut maka diperlukan suatu penataan ruang yang harus ditaati
dan diimplementasikan sehingga dapat diperoleh suatu pola pemanfaatan ruang
yang optimal, berimbang dan lestari (berkelanjutan).

Kabupaten Belu merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi


Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste.
Sebagai daerah perbatasan tentunya Kabupaten Belu harus mampu memenuhi

I-1
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

kebutuhan masyarakatnya agar tidak bergantung pada Negara tetangga. Kabupaten


Belu berkembang pada sektor-sektor tertentu yang berperan terhadap
pertumbuhan kabupaten tersebut. Pertumbuhan dan perkembangan Kabupaten
Belu dilatarbelakangi oleh berbagai aspek kehidupan seperti perkembangan
penduduk, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dinamika kegiatan ekonomi,
perkembangan/perluasan jaringan komunikasi-transportasi dan sebagainya.
Faktor-faktor tersebut akan membawa perubahan terhadap bentuk keruangan di
wilayah Kabupaten Belu, baik secara fisik maupun non fisik, sebagai wadah kegiatan
manusia di dalamnya. Perubahan tersebut apabila tidak ditata dengan baik akan
mengakibatkan perkembangan yang tidak terarah dan penurunan kualitas
pemanfaatan ruang.

Dalam perkembangannya, kegiatan pembangunan di Kabupaten Belu


dihadapkan pada berbagai masalah, baik masalah fisik spasial, sosial, ekonomi
maupun lingkungan. Permasalahan tersebut antara lain adalah belum optimalnya
sarana prasarana wilayah dalam mendukung kegiatan yang ada baik yang
disebabkan oleh faktor keterbatasan kemampuan anggaran maupun pertumbuhan
alami. Sebagai perwujudan dari hal permasalahan tersebut maka diperlukan suatu
arahan penataan ruang yang tertuang dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten.

Dokumen rencana tata ruang wilayah pada hakekatnya merupakan suatu


paket kebijakan umum pengembangan daerah. Rencana tata ruang merupakan hasil
perencanaan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang. Bagi wilayah
kabupaten, kebijakan yang dirumuskan pada dokumen ini merupakan dasar strategi
pembangunan fisik, baik yang berkenaan dengan perencanaan tata ruang yang lebih
terperinci (RDTRK, RTBL), maupun rencana kegiatan sektoral seperti kawasan
perdagangan, industri, permukiman, serta fasilitas umum dan sosial. Dalam
operasionalisasinya, rencana tata ruang harus memiliki kekuatan hukum berupa

I-2
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

peraturan daerah. Tahun 2010 Kabupaten Belu telah mensyahkan peraturan daerah
tentang RTRW Kabupaten Belu Tahun 2010-2030.

Sebagai salah satu bentuk kewajiban dan kewenangan pemerintah daerah


dalam mengatur ruangnya dan sejalan dengan amanat yang ditetapkan dalam
Undang-Undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, maka Pemerintah
Daerah Kabupaten Kabupaten Belu melaksanakan kegiatan Peninjauan Kembali
Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Belu, yang diarahkan untuk
merumuskan kembali tujuan, kebijakan dan strategi, pola dan struktur ruang
wilayah, arahan pemanfaatan ruang serta ketentuan pengendalian pemanfaatan
ruang, yang menjadi acuan spasial pembangunan dan pengembangan wilayahnya

Penyusunan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Belu, dilatar


belakangi oleh hal – hal sebagai berikut:
1. Adanya perubahan batas-batas wilayah administrasi Kabupaten Belu dengan
adanya pembentukan Kabupaten Malaka, dimana pemekaran wilayah ini tidak
hanya merubah batas wilayah tetapi juga merubah struktur dan pola ruang
secara kewilayahan sehingga berdampak pada kebijakan pembangunan daerah.
2. Adanya ketentuan dalam Undang - Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan
Ruang, sebagai berikut:
a. Evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah dilakukan sekali dalam 5 (lima) tahun
untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program pembangunan
daerah yang memberikan dampak kepada keruangan di daerah.
b. Apabila terjadi perubahan wilayah administrasi kabupaten yang dinyatakan
di dalam Undang-Undang, maka Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten dapat dilakukan lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima)
tahun.
c. Perubahan waktu perencanaaan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
dari 10 tahun menjadi 20 tahun.

I-3
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

d. Dalam proses legislasi Perda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah


Kabupaten, diperlukan persetujuan di tingkat Menteri setelah mendapatkan
rekomendasi Gubernur.
e. Penyesuaian Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten paling lambat 3
tahun terhitung sejak diberlakukan Undang - Undang tentang Penataan
Ruang

Fungsi dari RTRW Kabupaten adalah:


1. Sebagai matra keruangan dari pembangunan daerah;
2. Sebagai dasar kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah kabupaten;
3. Sebagai alat untuk mewujudkan keseimbangan perkembangan antar wilayah
kabupaten dan antar kawasan serta keserasian antar sektor;
4. Sebagai alat untuk mengalokasikan investasi yang dilakukan pemerintah,
masyarakat dan swasta;
5. Sebagai pedoman untuk penyusunan rencana rinci tata ruang kawasan;
6. Sebagai dasar pengendalian pemanfaatan ruang;
7. Sebagai dasar pemberian izin lokasi pembangunan skala besar.

1.2. MAKSUD, TUJUAN, SASARAN DAB AZAS PENATAAN RUANG

1.2.1 Maksud
Maksud dari kegiatan Penyusunan Kembali Dokumen Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Belu ini adalah untuk merevisi Dokumen Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Belu Tahun 2011-2031 sehingga dapat dipakai sebagai acuan
spasial dalam merumuskan program pembangunan dan pengembangan wilayah
bagi setiap stakeholders terkait sehingga dapat mewujudkan pemanfaatan ruang
wilayah yang serasi, seimbang dan selaras serta berkelanjutan sekaligus
memberikan arah pemanfaatan ruang bagi Kabupaten Belu untuk memanfaatkan
ruang secara optimal, berdayaguna dan berhasil guna bagi kelangsungan hidup
manusia di dalamnya.

I-4
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

1.2.2. Tujuan
Tujuan dari kegiatan Penyusunan Kembali Dokumen Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Belu ini adalah Menghasilkan revisi Dokumen Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Belu Tahun 2015-2035 yang sesuai dengan arahan
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional serta amanat Undang-undang Nomor 26 tahun 2007
tentang Penataan Ruang sehingga dapat menjadi acuan dalam pembangunan daerah
Kabupaten Belu selama 20 (dua puluh) tahun ke depan.

1.2.3. Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan Penyusunan Kembali Dokumen
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Belu ini adalah:
1. Terwujudnya produk Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Belu yang
sesuai dengan tuntutan Undang – Undang No. 26 Tahun 2007;
2. Tersusunnya Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Belu yang baru,
sebagai akibat dari adanya pelepasan sebagian wilayah yang dimekarkan
menjadi Kabupaten Malaka;
3. Terwujudnya penyelenggaraan penataan ruang di wilayah Kabupaten Belu;
4. Terkendalinya pembangunan di wilayah Kabupaten Belu baik yang dilakukan
oleh pemerintah maupun oleh masyarakat;
5. Terciptanya keserasian antara kawasan lindung dan kawasan budidaya;
6. Tersusunnya rencana dan keterpaduan program-program pembangunan di
wilayah kabupaten Belu;
7. Terdorongnya minat investasi masyarakat dan dunia usaha di wilayah
kabupaten Belu;
8. Terkoordinasinya pembangunan antar wilayah dan antar sektor pembangunan

I-5
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

1.2.4. Azas Penataan Ruang


Dalam Penyusunan RTRW Kabupaten harus memperhatikan azaz
perencanaan yang terdiri dari keselarasan, keserasian, keterpaduan, kelestarian
dan kesinambungan dalam lingkup kabupaten dan kaitannya dengan propinsi dan
kabupaten sekitarnya, serta tidak mengesampingkan mengenai masalah lingkungan
terhadap sumber daya yang dimiliki daerah.
Dalam penataan ruang khususnya RTRW Kabupaten juga berlandaskan pada
azas dan tujuan meliputi : keterpaduan, keserasian, keselarasan dan keseimbangan,
keberlanjutan, keberdayagunaan dan kerberhasilgunaan, keterbukaan,
kebersamaan dan kemitraan, perlindungan kepentingan hukum, kepastian hukum
dan keadilan serta akuntabilitas.
Berikut ini penjelasan dari asas penataan ruang berdasarkan Undang-
undang Republik Indonesia No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang :
1. Keterpaduan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan
mengintegrasikan berbagai kepentingan yang bersifat lintas sektor, lintas
wilayah dan lintas pemangku kepentingan;
2. Keselarasan atau keserasian atau keseimbangan adalah bahwa penataan ruang
diselenggarakan dengan mewujudkan keserasian antara struktur ruang dan
pola ruang, keselarasan antara kehidupan manusia dengan lingkungannya,
keseimbangan pertumbuhan dan perkembangan antar daerah serta antara
kawasan perkotaan dan kawasan pedesaan;
3. Keberlanjutan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan
menjamin kelestarian dan kelangsungan daya dukung dan daya tampung
lingkungan dengan memperhatikan kepentingan generasi mendatang;
4. Keberdayagunaan dan keberhasilgunaan adalah bahwa penataan ruang
penataan ruang diselenggarakan dengan mengoptimalkan manfaat ruang dan
sumber daya yang terkandung di dalamnya serta menjamin terwujudnya tata
ruang yang berkualitas;

I-6
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

5. Keterbukaan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan


memberikan akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk
mendapatkan informasi yang berkaitan dengan penataan ruang;
6. Kebersamaan dan kemitraan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan
dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan;
7. Perlindungan kepentingan hukum adalah bahwa penataan ruang
diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan masyarakat;
8. Kepastian hukum dan keadilan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan
dengan berlandaskan hukum/ketentuan peraturan-perundang-undangan dan
bahwa penataan ruang dilaksanakan dengan mempertimbangkan rasa keadilan
masyarakat serta melindungi hak dan kewajiban semua pihak secara adil
dengan jaminan kepastian hukum; serta
9. Akuntabilitas adalah bahwa penyelenggaraan penataan ruang dapat
dipertanggung-jawabkan baik prosesnya, pembiayaannya, maupun hasilnya

1.3. DASAR HUKUM PENYUSUNAN RTRW KABUPATEN BELU

Dasar Hukum atau Peraturan perundangan RTRW yang berlaku dalam


pengaturan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang yang
dilaksanakan di wilayah administrasi Pemerintah Kabupaten Belu adalah :
1. Undang-undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria;
2. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Peternakan dan Kesehatan Hewan;
3. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertambangan;
4. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok-pokok
Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia;
5. Undang-undang Nomor 5 tahun 1984 tentang Perindustrian;
6. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan;

I-7
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

7. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam


Hayati dan Ekosistemnya
8. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan;
9. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman ;
10. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya;
11. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian;
12. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu lintas Angkutan Jalan;
13. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran;
14. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
15. Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi;
16. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
17. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi;
18. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara;
19. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;
20. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan;
21. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional;
22. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan;
23. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
24. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan;
25. Undang-undang 2Nomor 24 Tahun 2004 tentang Penanggulangan Bencana;
26. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
27. Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau Pulau Kecil
28. Peraturan Pemerintah Nomor 20Tahun 2006 tentang Irigasi;
29. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan;
30. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1990 tentang Perubahan Atas PP
Nomor 20 Tahun 1986 tentang Kawasan Berikat (Bonded Zone)

I-8
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

31. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan
Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran serta Masyarakat dalam Kegiatan
Penataan Ruang;
32. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan
Pendayagunaan Tanah Terlantar;
33. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisa Dampak
Lingkungan Hidup;
34. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta
Untuk Penataan Ruang Wilayah;
35. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2002 tentang Kewenangan Pemerintah
dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom
36. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota;
37. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah;
38. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional;
39. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 134 Tahun 1998 tentang Pedoman
Penyusunan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi
Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat
II;
40. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1998 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang di Daerah;
41. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Peran
Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah;
42. Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 2 Tahun 1999 tentang Izin Lokasi;
43. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1300.K/38/M.PE/1997
tentang Keselamatan Kerja Pipa Penyalur Minyak dan Gas Bumi;
44. Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor
1456.K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Karst;

I-9
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

45. Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor


1457.K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Lingkungan di
Bidang Pertambangan dan Energi;
46. Keputusan Menteri KIMPRASWIL no. 327 Tahun 2002 tentang 6 pedoman
penyusunan Rencana Tata Ruang.
47. Keputusan Menteri KIMPRASWIL no. 174 Tahun 2004 tentang Pedoman
Penataan Ruang Daerah.
48. Perda-Perda di Kabupaten Belu terkait dengan Studi
49. Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional;
50. Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan
Kewajiban serta Bentuk
51. Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri;
52. Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991 tentang Sungai;
53. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1991 tentang Rawa;

1.4. KETENTUAN UMUM

Ketentuan umum yang digunakan dan berkaitan dengan penyusunan


Rencana Tata Ruang di Wilayah Kabupaten Belu sebagai berikut :
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia
dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan
hidupnya;
2. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang;
3. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan
prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial
ekonomi masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional;

I - 10
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

4. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang
meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk
fungsi budidaya;
5. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang;
6. Penyelenggaraan Penataan Ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan,
pembinaan pelaksanaan dan pengawasan penataan ruang;
7. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
8. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota dan perangkat
daerah sebagai unsure penyelenggara pemerintahan daerah;
9. Pengaturan Penataan Ruang adalah upaya pembentukan landasan hukum bagi
pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam penataan ruang;
10. Pembinaan Penataan Ruang adalah upaya untuk meningkatkan kinerja penataan
ruang yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan
masyarakat;
11. Pelaksanaan Penataan Ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang
melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang;
12. Pengawasan Penataan Ruang adalah upaya agar penyelenggaraan penataan
ruang dapat diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
13. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang
dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang;
14. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola
ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan
program beserta pembiayaannya;

I - 11
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

15. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata
ruang;
16. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan struktur dan pola pemanfaatan
ruang;
17. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap
unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek
administratif dan/atau aspek fungsional;
18. Sistem Wilayah adalah struktur ruang dan pola ruang yang mempunyai
jangkauan pelayanan pada tingkat wilayah;
19. Sistem Internal Perkotaan adalah struktur ruang dan pola ruang yang
mempunyai jangkauan pelayanan pada tingkat internal perkotaan;
20. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung dan/atau
budidaya, yang dijelaskan sebagai berikut :
21. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan
sumber daya buatan;
22. Kawasan Budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya
manusia dan sumber daya buatan;
23. Kawasan Perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian,
termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan
sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi;
24. Kawasan Agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat
kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan
pengelolaan sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan adanya keterkaitan
fungsional dan hirarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem
agrobisnis;

I - 12
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

25. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman
perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan
sosial dan kegiatan ekonomi;
26. Kawasan metropolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah
kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan inti dengan
kawasan perkotaan disekitarnya yang saling memilliki keterkaitan fungsional
yang dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi
dengan jumlah penduduk secara keselurahan sekurang-kurangnya 1.000.000
jiwa;
27. Kawasan Megapolitan adalah kawasan yang terbentuk dari 2 atau lebih kawasan
metropolitan yang memiliki hubungan fungsional dan membentuk sebuah
sistem;
28. Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional
terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial,
budaya dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai
warisan dunia;
29. Kawasan Strategis Provinsi adalah wilayah yang penataan ruangnya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup
provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan;
30. Kawasan Strategis Kabupaten/kota adalah wilayah yang penataan ruangnya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup
kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan;
31. Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok,
yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang
tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam;
32. Izin Pemanfaatan Ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan
pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

I - 13
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

33. Orang adalah orang perseorangan dan/atau korporasi; dan


34. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintah dalam
bidang penataan ruang.

1.5. PROFIL WILAYAH KABUPATEN BELU


1.5.1. Kondisi Fisik Kabupaten Belu
Luas wilayah administrasi Kabupaten Belu adalah 1.284,94 km2 dengan
posisi astronomis terletak antara koordinat 124º 40’ 33” BT– 125º 15’ 23” BT dan
08º 70’ 30” LS – 09º 23’ 30” LS. Batas-batas administrasi Kabupaten Belu, adalah:
 Sebelah utara : berbatasan dengan Selat Ombai
 Sebelah selatan : berbatasan dengan Kabupaten Malaka
 Sebelah timur : berbatasan dengan wilayah RDTL
 Sebelah barat : berbatasan dengan wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara
(TTU)

Belu Terbagi atas 12 kecamatan, 69 Desa dan 12 Kelurahan. Kecamatan


dengan wilayah terluas adalah Kecamatan Tasifeto Barat dengan luas wilayah
224,19 km2 atau 17,45% dari luas wilayah Kabupaten Belu. Sedangkan yang terkecil
adalah Kecamatan Atambua Barat dan Atambua Selatan dengan luas masing –
masing wilayah 15,55 km2 atau 1,21% dari luas wilayah Kabupaten Belu.

I - 14
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Tabel 1. 1 Luas Wilayah Kabupaten Belu Tahun 2013

Jumlah Luas Wilayah


No Kecamatan Prosentase
Desa/Kelurahan (Km2)
1 Raimanuk 9 179.42 13.96
2 Tasifeto Barat 8 224.19 17.45
3 Kakuluk Mesak 6 187.54 14.6
4 Nanaet Dubesi 4 60.25 4.69
5 Kota Atambua 4 24.90 1.94
6 Atambua Barat 4 15.55 1.21
7 Atambua Selatan 4 15.73 1.22
8 Tasifeto Timur 12 211.37 16.45
9 Raihat 6 87.20 6.79
10 Lasiolat 7 64.48 5.02
11 Lamaknen 9 105.90 8.24
12 Lamaknen Selatan 8 108.41 8.44
Total 81 1284.94 100.00
Sumber : BPS Kabupaten Belu Tahun 2014

A. Topografi
Keadaan topografi Kabupaten Belu bervariasi antara ketinggian 0 sampai
dengan+1500 m.dpal (meter di atas permukaan air laut). Variasi ketinggian
rendah (0-150 m.dpal) mendominasi wilayah bagian selatan dan sebagian kecil
di bagian utara. Sementara pada bagian tengah wilayah ini terdiri dari area
dengan dataran sedang (200-500 m.dpal). Dataran tinggi di Kabupten Belu ini
hanya menempati kawasan pada bagian timur yang berbatasan langsung
dengan RDTL. Zone-zone dataran rendah di bagian selatan ini sebagian besar
digunakan sebagai areal pertanian dan kawasan cagar alam hutan mangrove.
Bentuk topografi wilayah Kabupaten Belu merupakan daerah datar berbukit-
bukit hingga pegunungan dengan sungai-sungai yang mengalir ke utara dan
selatan mengikuti arah kemiringan lerengnya. Sungai–sungai yang ada di
Kabupaten Belu mengalir dari bagian selatan dan bermuara di Selat Ombai dan
Laut Timor

I - 15
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Peta 1.1 Batas Administrasi Kabupaten Belu

I - 16
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Pada umumnya kemiringan lahan wilayah Kabupaten Belu didominasi


kemiringannya antara 0 – 15 %. Kemiringan lahan < 45 % yang termasuk
kategori terjal sekitar 2.84 % dari luas Kabupaten Belu berada pada Kecamatan
Tasifeto Barat, Kecamatan Tasifeto Timur dan sedikit di bagian Kecamatan
Kakulukmesak. Keadaan kemiringan lahan wilayah Kabupaten Belu akan
dikelompokkan menjadi 5 kelas dengan masing-masing lokasi sebagai berikut:

1. Kemiringan lereng 0-8 %, yang merupakan dataran landai, terdapat di pesisir


pantai Utara dan sekitar kecamatan Kakuluk Mesak, Kecamatan Kota
Atambua, Atambua Selatan dan Atambua Barat.
2. Kemiringan lereng 8-15%, merupakan daerah datar yang meliputi sebagian
Kecamatan Tasifeto Barat.
3. Kemiringan lereng 15-25%, yaitu daerah landai atau bergelombang yang
meliputi daerah lembah yang terletak diantara pegunungan, terdapat di
Kecamatan Raihat, Lasiolat, Lamaknen, Raimanuk dan bagian timur
Kecamatan Tasifeto Barat.
4. Kemiringan lereng 25-40%, yaitu daerah yang bergelombang dan berbukit
terdapat di bagian utara Kabupaten Belu terutama di Kecamatan Tasifeto
Timur, Nanaet Dubesi, Lamaknen, Lamaknen Selatan, Lasiolat kemudian di
bagian tengah kabupaten terdapat di Kecamatan Raimanuk.
5. Kemiringan lereng di atas 40%, terdapat di sebagian Kecamatan Nanaet
Duabesi, Lasiolat dan sebagian besar di Kecamatan Lamaknen dan Lamaknen
Selatan.

B. Geologi
Adapun jenis batuan yang dijumpai di Kabupaten Belu dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
a. Kompleks Mutis (MU)
Kompleks mutis dijumpai di Kecamatan Tasifeto Timur dan Kecamatan
Lamaknen.

I - 17
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

b. Kompleks Maubesi
Banyak dijumpai di Kecamatan Tasifeto Timur dan Kecamatan Tasifeto
Barat.
c. Formasi Bisene
Formasi ini dijumpai di Kecamatan Tasifeto Barat dan Kecamatan
Lamaknen.
d. Formasi Aitutu
Formasi ini dijumpai di Kecamatan Tasifeto Barat dan Kecamatan
Tasifeto Timur. Bagian bawah terdiri dari selang-seling batu dengan
Nepal dan batu gamping. Bagian atas terdiri dari pergantian pelapisan
kolsilulit (batu gamping serpihan) dengan serpih yang berwarna kelabu.
Berumur trias akhir.
e. Kompleks Bobonaro
Terdiri dari dua satuan batuan yaitu lempung serpihan dan bongkahan-
bongkahan asing yang bermacam-macam jenis dan ukuran. Kontak
dengan formasi di atasnya adalah tektonik (ketidaksejaaran). Berumur
Myosin tengah sampai Pilosen. Kompleks bobonaro banyak dijumpai di
Kecamatan Tasifeto Timur dan Kecamatan Tasifeto Barat.
f. Formasi Manamas
Formasi ini dijumpai di Kecamatan Tasifeto Barat. Formasi ini
mempunyai struktur geser dan patahan naik.
g. Formasi Viqueque
Formasi ini jumpai di Kecamatan Tasifeto Barat, Lamaknen, Raihat, dan
Tasifeto Timur.
h. Formasi Noele
Terdiri dari Napal pasiran berselang-seling dengan batu pasir,
konglomerat dan sedikit tuff desit. Berumur Plio-pleistosin.

I - 18
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Peta 1.2 Peta Topografi

I - 19
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

i. Formasi batu gamping coral


Terdiri dari batu gamping berwarna putih dan batuan gamping napalan
setempat berkembang batu gamping terumbu berkoral. Berumur
quarter.
j. Formasi Raised Coral Reef
Formasi ini dijumpai di Kecamatan Tasifeto Timur. Hasil pelapukan
formasi ini membentuk tanah jenis rendzina yang dihuni oleh tumbuhan
semak terpencar, maka formasi ini termasuk dalam kategori erosi
sedang dan kemungkinan besar dijumpai sungai-sungai bawah tanah
hasil pelarutan dari air dengan karbontan tersebut.
k. Endapan Alluvial, endapan alluvial dijumpai di sepanjang sungai
Kabupaten Belu berupa gosong-gosong pasir. Endapan alluvial pantai
dijumpai sepanjang pantai selatan dan pantai utara berupa pasir pantai,
sedangkan endapan teras-teras tua merupakan endapan purba dari
sungai-sungai purba. Terdiri dari pasir, kerikil, kerakal. Berumur
quartal.
l. Satuan morfologi datar-agak datar
Satuan ini terletak di bagian selatan Kabupaten Belu memanjang sampai
tenggara pada pesisir laut Timor dengan kemiringan kurang dari 2%. Di
beberapa tempat dijumpai danau-danau air asin. Aktifitas erosi dapat
dikatakan tidak ada, kecuali hasil gelombang dari laut Timor. Air tanah
belum dipengaruhi intrusi air asin karena pemanfaatannya tidak
berlebihan.
m. Satuan morfologi datar berombak-ombak
Satuan ini terletak di bagian tengah memanjang ke utara dengan
kemiringan 3-6%. Aktifitas gelombang pantai telah berkurang dan faktor
erosi sudah mulai kelihatan. Satuan ini menyebar di Kota Atambua,
Tasifeto Timur, dataran Oeroki, dataran Besikama, Maubusa dan
Lamaknen.

I - 20
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

n. Satuan Morfologi bergelombang


Terletak di bagian utara dan sebagian kecil di tengah, kemiringan 27-
50%. Faktor erosi berperan aktif baik di permukaan tanah maupun oleh
pengerjaan sungai. Tanah akan aktif jika curah hujan tinggi, tapi wilayah
ini curah hujannya rendah maka gerakan tanah akan aktif jika musim
hujan. Wilayah satuan ini meliputi Tasifeto Barat dan Tasifeto Timur.
o. Satuan morfologi berbukit-bergunung
Berkisar 1300-3000mm. Karena sifat fisik dan morfologinya maka
formasi ini mempunyai tingkat erosi yang tinggi dan cukup baik sebagai
penyimpan air tanah.

C. Jenis Tanah
Jenis tanah di Kabupaten Belu adalah :
 Tanah alluvial dijumpai di Kecamatan Kota Atambua,
 Tanah campuran aluvial dan latosol di jumpai di Kecamatan Kakuluk
Mesak, Lamaknen Selatan, Nanaet Dubesi, Raimanuk,
 Tanah latosol tersebar merata di Kabupaten Belu, dan
 Campuran tanah meditera, renzina, grumosol.

D. Klimatologi
Daerah Kabupaten Belu dengan temperatur rata-rata 24-34°C beriklim
tropis, umumnya berubah–ubah tiap setengah tahun berganti dari musim
kemarau dan musim penghujan dengan musim kemarau yang lebih dominan.
Hal tersebut bisa dilihat dari data hari hujan dan curah hujan yang rendah.
Musim hujan yang sangat singkat dimulai dari bulan Januari sampai dengan
bulan Mei.Temperatus di Kabupaten Belu memiliki rata-rata suhu sebesar
27,6o C dengan interval suhu 21,5o– 33,7oC.

I - 21
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Peta 1.3 Peta Jenis Tanah

I - 22
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Temperatur terendah (21,5oC) terjadi pada bulan Agustus dan temperatur


tertinggi(33,7oC) terjadi pada bulan november.

E. Hidrologi
Hidrologi terdiri atas ketersediaan air hujan, ketersediaan air sungai,
ketersediaan mata air, ketersediaan tampungan air.
 Ketersediaan Air Hujan
Air hujan juga biasa digunakan masyarakat Belu apabila kekurangan air,
tetapi penggunaan air hujan sekarang sudah jarang digunakan apalagi
frekuensi hujan yang turun juga sangat jarang sehingga penggunaan air
hujan hanya di lakukan oleh beberapa orang saja. Selain itu penggunaan
air hujan juga sering digunakan untuk menyiram tanaman dan lain-lain.
Penggunaan air hujan hanya terdapat di desa-desa terpencil yang
kekurangan air sedangkan untuk di kota-kota besar tidak terdapat
penggunaan air hujan.
 Ketersediaan Air Sungai
Terdapat 8 sungai yang berada di Kabupaten Belu sebagaimana
tercantum pada tabel 1.2

Tabel 1. 2 Nama dan Panjang Sungai


di Kabupaten BeluTahun 2013
No Kecamatan Nama Sungai Panjang (Km)
Buik 40
1 Tasifeto Barat
Luradik 10
Baukama 45
2 Tasifeto Timur Baukoek 10
Motamuru 15
Welulik 18
3 Lamaknen
Malibaka 50
4 Kota Atambua Talau 50
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka 2014

I - 23
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Peta 1.4 Peta Curah Hujan

I - 24
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Peta 1.5 Peta Hidrologi

I - 25
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

 Ketersediaan Mata Air


Selain sungai di Kabupaten Belu juga terdapat mata air yang biasa
digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, sehingga
sangat penting sehingga pemanfaatan sumber mata air yang ada di
Kabupaten Belu perlu dioptimalkan.

Tabel 1. 3 Nama Dan Debit Mata Air di Kabupaten Belu Tahun 2013

Lokasi Nama Debit


Keterangan
Kecamatan Desa Kpg./Dsn. Mata Air L/Dt
1 Tasifeto Barat Derokfaturene Hedanfehan 11 Ahabauk 2 Di Turap
Derokfaturene Sarabau 12 Lebun 1 - Belum diturap
13 Lebun 2 - -
14 Lebun 3 - -
15 Lebun 4 16 -
16 Lebun 5 - -
17 Lebun 6 - -
18 Lebun 7 - -
Bakustulama Rotiren 19 Wesabot 1,5 Di Turap
Asora 20 Wetabora 0,2 Di Turap
21 Abitkibaras 0,4 Di Turap
Halikelen Oetfo 22 Wehamusuk 0,9 Di Turap
Naikasa Kilosepuluh 23 Wekonu 0,4 Di Turap
24 Wekari 0,25 Di Turap
25 Naikasa 3 - Di Turap
26 Oetfo 1,5 Di Turap
Naikasa 27 Wematan A - PDAM
28 Wematan B 10 -
29 Wematan 1 - -
30 Wematan 2 - -
Tukuneno Weberliku 31 Bonan 0,4 Belum diturap
32 Wenaka 3,5 Di Turap
33 Ebun 1 Belum diturap
Tala 34 Tala 1 0,2 Di Turap
35 Tala 2 - Di Turap
36 Webereliku - -
37 Motarama - -
38 Tirta A - -
39 Tirta C - -
Tukuneno Tala 40 Tala 3 - Di Turap
Berkase 41 Berkase 0,3 Di Turap
Kabuna Haliwen 42 Kabuna 1 0,2 Di Turap
43 Kabuna 2 0,3

I - 26
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Lokasi Nama Debit


Keterangan
Kecamatan Desa Kpg./Dsn. Mata Air L/Dt
2 Tasifeto Dafala Dafala 44 We Totani 3 Di Turap
Timur 45 We Rinai - -
46 Wetulan - -
47 Wenu - -
48 Webora - -
49 Depala 20 -
Webuak 50 Weraikuak 1 -
Silawan Silawan 51 Wekiar 3 -
52 Suliren 0,1 -
53 Webliuk - -
54 Wekabau - -
55 Mesi - -
56 Oelas - -
57 We Has 3 -
3 Kakuluk 58 Wetua 1 1 Di Turap
Mesak 59 Wetua 2 - -
60 Wetua 3 - Di Turap
4 Atambua Manleten Lalosuk 61 Lalosuk 5 Di Turap
Umanen Wenu 62 Wenu 0,2 -
63 Wehedan - -
Wekatimun 64 Nuntores 1,52 Di Turap
65 Webukrak 0,2 Di Turap
Fatubenao Bakoek 66 Wekakoli 0,3 Di Turap
67 Matitis 0,3 Di Turap
5 Raihat Tohe Haekesak 68 Webot 1 80 Di Turap
69 Webot 2 120 Di Turap
70 Webot 3 40 Di Turap
71 Motetu 25 Di Turap
Wekerame 72 Wesanis 10 Di Turap
Fatukidi 73 Webua 1 1,3 Belum diturap
74 Webua 2 3,5 Belum diturap
75 Webua 3 0,5 Belum diturap
76 Webua 4 0,5 Belum diturap
77 Weraikuak 1 25,7 Belum diturap
78 Weraikuak 2 - Belum diturap
79 Weitas - -
80 Wetear - -
81 Buris - -
Tohe Kroe 82 Weselawak 2 Belum diturap
Raifatus 83 Wetear 3 Di Turap
6 Lasiolat Fatulotu Fatulotu 91 Weau 7 Di Turap
Takarabat 92 Wekiik 0,3 -
93 Amatohu 0,3 Belum diturap
Lahurus 94 Lahurus 17 Di Turap

I - 27
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Lokasi Nama Debit


Keterangan
Kecamatan Desa Kpg./Dsn. Mata Air L/Dt
BaudaokMa Hein 95 Wemerut 0,7 Belum diturap
96 Numoha 0,3 Belum diturap
97 Wekaen - -
98 We Bot - -
99 Wetihu 1 - Belum diturap
100 Wetihu 2 120 -
101 Wetihu 3 - -
Dualasiraiulun Maulakak 102 Weau 0,5 Di Turap
103 Wehalek 1 75 Belum diturap
104 Wehalek 2 - Belum diturap
105 Wehalek 3 45 Belum diturap
106 Siata - Di Turap
Lakanmanu Haliren 107 Matanwai 2,5 Di Turap
(Wefeto)
108 Matawain 0,5 Di Turap
(Wemane)
Raiulun 109 Mauhalek - -
110 Siata - -
Mauhalek
111 Wefia - -
112 Wefihu - -
7 Raimanuk Teun Teun 113 Abatbuti 6 Belum diturap
114 Hera 4 Di Turap
115 Naihu 2 -
Seon Kekuun 116 Kekuun 1 - Di Turap
117 Kekuun 2 - Di Turap
118 Kekuun 3 6 Di Turap
119 Kekuun 4 - Di Turap
8 Lamaknen Lutha Rato 142 Liumauk - -
Selatan 143 Diuk - -
Sumber : Data BAPPEDA Kabupaten Belu Tahun 2014

 Ketersediaan Tampungan Air


Tampungan air yang ada di Kabupaten Belu berupa embung dan
bendungan. Tampungan air yang ada tersebut digunakan untuk
kebutuhan air baku, irigasi dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel 1.4

I - 28
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Tabel 1. 4 Nama dan Lokasi Waduk/Embung di Kabupaten Belu Tahun 2015

Nama Waduk/Embung Lokasi Daya


No Kondisi
Irigasi Kecamatan Desa/Kel/Dusun Tampung
1 Sirani Tasifeto Barat Umaklaran 1.860.000 Baik
2 Haekrit Tasifeto Timur Manleten
3 Raiulun Lasiolat Raiulun
4 Duamone Lasiolat Lasiolat
5 Fatuto'ur Raihat Toheleten
6 Asueman Raihat Aitoun
7 Loncilon Raihat Aitoun
8 Fulanfehan Lamaknen Dirun
9 Delebotu Lamaknen Dirun
10 Kewar Lamaknen Kewar
11 Mahui Lamaknen Mahuitas
12 Holgoto Lamaknen Fulur
13 Cekdam Lamaknen Fulur
14 Lakuuman Lamaknen Selatan Lutharato
15 Abistas Lamaknen Selatan Lakamaras
16 Pertanian Lamaknen Selatan Loonuna
17 Pertanian Lamaknen Selatan Henes
18 Pertanian Lamaknen Selatan Nualain
19 Biakhale Kakuluk Mesak Fatuketi
20 - Kakuluk Mesak Oebuluan
21 Fukalaran Kakuluk Mesak Ainiba
22 Fatuatis I Kakuluk Mesak Leosama
23 Fatuatis II Kakuluk Mesak Leosama
24 Oebuluan Kakuluk Mesak Fatuketi
Sumber : Data Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Belu Tahun 2015

1.5.2. Kependudukan dan Sumber Daya Manusia


Kependudukan meliputi jumlah penduduk, jumlah penduduk menurut umur,
jumlah penduduk menurut pendidikan, jumlah penduduk menurut mata
pencaharian, dan karakteristik budaya.
A. Jumlah Penduduk
Berdasarkan hasil registrasi penduduk pada Tahun 2015 tercatat bahwa
penduduk Kabupaten Belu berjumlah 197.002 jiwa yang terdiri atas 97.221 jiwa
laki-laki dan 99.781 jiwa perempuan.

I - 29
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Tabel 1. 5 Jumlah Penduduk Kabupaten Belu Tahun 2013

Jenis Kelamin
No Kecamatan
Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 Raimanuk 7.473 7.862 15.335
2 Tasifeto Barat 11.417 11.912 23.329
3 Kakuluk Mesak 9.392 9.495 18.887
4 Nanaet Dubesi 2.060 2.232 4.292
5 Kota Atambua 14.024 14.833 28.857
6 Atambua Barat 11.577 11.268 22.845
7 Atambua Selatan 11.374 11.827 23.201
8 Tasifeto Timur 11.145 10.839 21.984
9 Raihat 6.206 6.435 12.641
10 Lasiolat 3.137 3.116 6.253
11 Lamaknen 5.584 6.017 11.601
12 Lamaknen Selatan 3.832 3.945 7.777
Jumlah 97.221 99.781 197.002
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

B. Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan


Kualitas penduduk di suatu daerah dapat diukur dari jumlah penduduk yang
punya kemampuan ”melek huruf” dan telah tamat tingkat pendidikan formal bagi
yang berusia di atas 10 tahun. Melek huruf diartikan sebagai kemampuan dalam
hal membaca dan menulis. Kemampuan penduduk dalam membaca dan menulis
akan mempermudah penyampaian maupun penerimaan informasi yang
sekaligus merupakan pengetahuan sehingga diharapkan penduduk dapat lebih
berperan aktif dalam kegiatan pembangunan. Data ini menunjukkan sangat
dibutuhkannya pendidikan di Kabupaten Belu untuk meningkatkan kapasitas
dan kemampuan penduduknya. Untuk lebih jelasnya pendataan dalam
persentase disajikan pada tabel 1.6.

I - 30
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Tabel 1. 6 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan


Kabupaten Belu Tahun 2013

Tidak/
Tdk/
Belum SD/MI/ SLTP/MTs/ SLTA/M/ D I– DIV– S2–
No Kecamatan Belum SMK
Tamat Sederajat Sederajat Sederajat DIII S1 S3
Sekolah
SD
1 Raimanuk 3.520 3.198 3.931 988 722 56 81 57 0
2 Tasifeto Barat 3.216 4.938 6.449 2.849 1.706 116 206 258 18
3 Kakuluk Mesak 457 4.189 429 1.653 1.465 98 138 108 4
4 Nanaet Dubesi 1.363 928 912 121 108 6 18 4 1
5 Kota Atambua 2.884 5.158 5.355 3.811 4.169 640 477 853 51
6 Atambua Barat 1.318 3.752 4.593 3.566 3.875 560 474 869 46
7 Atambua Selatan 1.799 449 4.552 3.497 3.927 538 443 883 36
8 Tasifeto Timur 4.183 4.788 5.826 1.494 1.617 156 130 114 1
9 Raihat 4.231 367 2.808 753 523 52 43 46 1
10 Lasiolat 780 1.928 1.994 351 231 29 35 33 2
11 Lamaknen 1.842 2.396 4.380 754 562 59 100 60 0
Lamaknen
1.400 1.790 2.406 365 279 21 20 23 0
12 Selatan
Jumlah 26.993 33.881 43.635 20.202 19.184 2.331 2.165 3.308 160
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

C. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian


Berdasarkan Registrasi Penduduk tahun 2014 penduduk Kabupaten Belu yang
bekerja disektor pertanian paling dominan yaitu sebesar 42.771 jiwa.
Sedangkan sector yang paling sedikit dari sector listrik, gas dan air. Untuk lebih
jelas dapat di lihat pada tabel 1.8

Demikian juga untuk aspek ketenagakerjaan. Berdasarkan data Data Jumlah


Tenaga Kerja Per Sektor di Propinsi NTT dan Kabupaten Belu Tahun 2005 dan
2011, terlihat bahwa sektor yang menyerap tenaga kerja terbanyak adalah
sektor Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, Perikanan. Untuk Propinsi NTT,
sektor Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, Perikanan menyerap tenaga kerja
sekitar 70%, sedangkan di tingkat Kabupaten Belu, menyerap 74% tenaga kerja.
Sektor kedua penyumbang tenaga kerja terbesar adalah sektor Jasa

I - 31
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Kemasyarakatan, yang menyumbang masing-masing 9% tenaga kerja di tingkat


Propinsi NTT maupun Kabupaten Belu. Data selengkapnya dapat dilihat dalam
tabel 1.7 dan 1.8.

Tabel 1. 7 Jumlah Tenaga Kerja Per Sektor


di Provinsi NTT dan Kabupaten Belu Tahun 2012
NTT Belu
Sektor
No 2005 2012 2005 2013
1. Pertanian , Kehutanan, Perkebunan , 1.442.921 1.333.638 99.207 98.553
Perikanan
2. Pertambangan Dan Penggalian 13.282 30.166 0 140
3. Industri Pengolahan 135.294 143.972 9.124 4.575
4. Listrik, Gas dan Air 2.179 1.731 0 -
5. Bangunan 38.092 62.472 0 5.149
6. Perdagangan Besar Dan Eceran, Rumah Makan 126.191 150.765 5.838 11.420
7. Angkutan, Pergudangan, Komunikasi 4.242 98.318 1.723 10.864
8. Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan dan 10.840 9.766 0 1.086
Bangunan
9. Jasa Kemasyarakatan 147.592 230.401 11.493 20.170
10. Lainnya / Tidak Terjawab 0 0 3.335 0
Jumlah 1.920.633 2.061.229 130.720 151.957
Sumber: BPS Propinsi NTT dan Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

D. Jumlah Penduduk Menurut Umur


Berdasarkan hasil registrasi penduduk pada Tahun 2015 tercatat bahwa
penduduk Kabupaten Belu berjumlah 197.002 jiwa. Untuk penduduk yang
paling banyak terdapat pada golongan umur 10-14 tahun yaitu usia anak
sekolah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1.9

I - 32
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Tabel 1. 8 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian Kabupaten Belu Tahun 2013

Mata Pencaharian
N0 Kecamatan Listrik,Gas
Pertanian Pertambangan Industri Konstruksi Perdagangan Komunikasi Keuangan Jasa-Jasa Jumlah
& Air

1 Raimanuk 3.981 1.556 36 0 40 85 329 0 359 6.386


2 Tasifeto Barat 6.824 1.003 56 4 117 448 596 18 1 .101 9.066
3 Kakuluk Mesak 3.733 325 200 9 91 520 711 9 695 6.293
4 Nanaet Dubesi 1.667 122 8 0 16 20 39 0 63 1.935
5 Kota Atambua 2.245 183 187 29 592 1.181 1.139 73 3.357 8.986
6 Atambua Barat 526 162 237 56 565 2.103 138 106 2.561 6.454
7 Atambua Selatan 1.032 403 72 22 424 1.239 1.160 128 2.540 7.020
8 Tasifeto Timur 6.663 270 271 5 205 188 645 12 941 9.200
9 Raihat 5.266 205 923 2 50 142 195 1 342 7.126
10 Lasiolat 2.168 306 8 2 24 78 120 0 185 2.891
11 Lamaknen 5.482 188 22 2 34 75 157 6 353 6.319
12 Lamaknen Selatan 3.184 5 0 0 31 21 47 2 205 3.495
Jumlah 42.771 4.728 2.020 131 2.189 6.100 5.276 355 11.601 75.171
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

I - 33
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Tabel 1. 9 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Kabupaten Belu Tahun 2013

Golongan Umur
No Kecamatan
0-4 5-9 10-14 15 - 19 20 - 24 25 - 29 30 - 34 35 - 39 40 - 44 45 - 49 50 - 54 55 - 59 60 - 64 65 - 69 70 - 74 75+
1 Raimanuk 1.953 2.326 1.855 1.498 1.195 120 866 824 822 705 614 393 377 254 208 237
2 Tasifeto Barat 2.656 3.130 3.191 2.932 1.739 1.586 1.252 1.171 1.266 1.086 885 588 463 351 221 256
3 Kakuluk Mesak 1.902 2.412 2.217 1.738 1.502 1.338 168 1.122 1.107 956 862 598 419 326 185 184
4 Nanaet Dubesi 555 650 593 358 184 258 198 245 205 217 170 113 109 64 66 95
5 Kota Atambua 3.171 3.678 3.317 3.469 2.401 2.221 1.889 1.789 1.673 1.407 1.145 655 456 303 178 205
6 Atambua Barat 2.565 2.823 2.232 2.401 270 2.211 1.731 1.443 1.226 1.054 823 503 265 176 100 113
7 Atambua Selatan 2.777 2.941 2.595 2.560 215 2.110 1.698 1.421 1.289 1.133 874 514 322 217 100 114
8 Tasifeto Timur 2.705 3.018 2.549 1.885 1.683 1.837 1.351 1.241 1.145 1.123 859 709 550 430 260 240
9 Raihat 1.615 1.704 1.443 147 774 726 630 657 740 625 575 437 365 295 164 227
10 Lasiolat 781 911 836 524 402 385 349 317 308 273 228 232 204 164 96 131
11 Lamaknen 1.422 1.620 1.376 1.004 714 742 625 637 644 572 469 435 443 282 191 241
12 Lamaknen Selatan 129 1.275 905 533 430 456 457 404 420 331 298 235 246 202 117 132
Jumlah 22.231 26.488 23.109 19.049 11.509 13.990 11.214 11.271 10.845 9.482 7.802 5.412 4.219 3.064 1.886 2.175
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

I - 34
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

1.5.3. Potensi Bencana Alam


Kabupaten Belu masih merupakan salah satu daerah dengan tingkat
kerawanan bencana relatif tinggi. Potensi bencana alam yang ada di Kabupaten Belu
adalah kebakaran, banjir, angin dan longsor. Adapun bencana yang sering dialami
oleh penduduk Kabupaten Belu adalah banjir, longsor, angin dan kekeringan.

Tabel 1. 10 Wilayah Rawan Bencana Alam di Kabupaten Belu Tahun 2013

No Kecamatan Jenis Bencana


1 Raimanuk Longsor, Angin, Kebakaran Hutan dan Kekeringan
2 Tasifeto Barat Longsor, Angin, Kebakaran Hutan
3 Kakuluk Mesak Banjir, Longsor, Kebakaran Hutan, Angin Puting Beliung
dan Abrasi Pantai
4 Nanaet Duabesi Longsor, Angin, Kebakaran Hutan
5 Kota Atambua Banjir, Longsor, Kebakaran Hutan, Angin Puting Beliung
6 Atambua Barat Banjir, Longsor, Kebakaran Hutan, Angin Puting Beliung
7 Atambua Selatan Banjir, Longsor, Kebakaran Hutan, Angin Puting Beliung
8 Tasifeto Timur Banjir, Longsor, Kebakaran Hutan, Angin Puting Beliung,
Kekeringan dan Abrasi Pantai
9 Raihat Banjir, Longsor, Kekeringan
10 Lasiolat Banjir, Longsor, Kebakaran Hutan, Angin Puting Beliung
dan Kekeringan
11 Lamaknen Banjir, Longsor, Angin Puting Beliung
12 Lamaknen Selatan Banjir, Longsor, Angin Puting Beliung
Sumber : BPBD Kabupaten Belu Tahun 2014

Dari 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Belu sebagian kecil memiliki


daerah rawan banjir seperti Kecamatan Kakukluk Mesak. Selain itu terdapat
bencana kebakaran yang hampir terdapat di seluruh Kabupaten Belu, adapun
kecamatan-kecamatan yang terjadi bencana kebakaran yaitu Kecamatan Raimanuk,
Kecamatan Tasifeto Barat, Kecamatan Nanaet Dubesi, Kecamatan Kota Atambua,
Kecamatan Tasifeto Timur, Kecamatan Lasiolat, dan Kecamatan Lamaknen Selatan.

I - 35
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Peta 1.6 Rawan Bencana Banjir

I - 36
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Peta 1.7 Rawan Bencana Longsor

I - 37
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

1.5.4. Potensi Ekonomi Wilayah


Gambaran umum kondisi perekonomian di Kabupaten Belu meliputi
produksi hutan, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, industri,
pariwisata, dan PDRB.
A. Kehutanan (Hutan Produksi)
Hutan produksi yang ada di Kabupaten Belu mempunyai luas 970,85 hektar
berada di Kecamatan Tasifeto Barat, Atambua Selatan dan Tasifeto Timur.
Produksi hutan di Kabupaten Belu menurut data statistik yang paling tinggi
adalah jenis hasil hutan non kayu, yaitu asam biji dengan produksi mencapai
876.800 Kg. Sedangkan yang paling rendah adalah jenis hasil hutan kayu-
kayuan, arang dan pohon, yaitu pada jenis kayu rimba campuran dengan
produksi sebesar 1,33 M3 .

Tabel 1. 11 Produksi Hutan di Kabupaten Belu Tahun 2013

Harga/Unit Nilai
Jenis Hasil Hutan Satuan Produksi
No ( Rupiah ) Produksi
A. Kayu-kayuan, Arang dan Pohon
a. Kayu jati bulat M3 151.78 0 0
b. Kayu jati olahan M3 1037.57 0 0
c. Kayu rimba bulat M3 0 0 0
d. Kayu rimba campuran M3 1.33 0 0
e. Kayu indah (mahoni dan lamtoro gung) M3 9.93 0 0
f. Kayu cendana pilihan/ M3 0 0 0
g. Kayu cendana campuran Kg 0 0 0
h. Mupuk Kelapa Kg 0 0 0
i. Kayu Papi Ton 0 0 0
B. Non Kayu, Kulit dan Daun
a. Kemiri biji Kg 155520 0 0
b. Kemiri isi Kg 40180 0 0
c. Asam biji Kg 37995 0 0
d. Asam isi Kg 876800 0 0
e. Lilin Kg 0 0 0
f. Madu Ltr 450 0 0
g. Nuri Ekor 0 0 0
h. Siri Hutan Kg 0 0 0
i. Ules 0 0 0 0
Sumber KDA Kabupaten Belu 2014.

I - 38
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

B. Pertanian
Sawah banyak dimanfaatkan sebagai lahan pertanian tanaman pangan seperti
tanaman padi, jagung, kacang tanah, kacang kedele, dan kacang hijau. Lahan
pertanian dibedakan menjadi lahan basah dan lahan kering. Kecamatan yang
paling besar hasil produksi padi sawah adalah Kecamatan Raihat dengan jumlah
hasil produksi pada tahun 2013 sebesar 5084,4 Ton selain padi sawah komoditi
lain seperti jagung, kacang tanah dan kacang hijau juga lebih besar hasil
produksinya di bandingkan dengan kecamatan lain. Untuk lebih jelasnya dapa
dilihat pada tabel 1.12.

Tabel 1. 12 Hasil Produksi Tanaman Pangan Kabupaten Belu Tahun 2013

Tanaman Pangan (Ton)


No Kecamatan Padi Padi Ubi Ubi Kacang Kacang Jumlah
Jagung
Sawah Ladang Kayu Jalar Tanah Hijau
1 Raimanuk 1535.5 0 1255.5 0 0 0 33 2824
2 Tasifeto Barat 3400 115.5 804.6 47.6 22 16 0 4405.7
3 Kakuluk Mesak 963.6 0 1350.0 200 0 32.2 0 2545.8
4 Nanaet Dubesi 492.8 40.6 1414.8 92 29 4.5 23 2096.7
5 Kota Atambua 145.2 0 605.8 45 0 3.2 2.4 801.6
6 Atambua Barat 0 0 87.5 3.00 3.00 3.1 1 97.6
7 Atambua Selatan 108 0 270.4 24.0 0.0 0.0 0 402.4
8 Tasifeto Timur 3876 0 3169.8 2420.0 80.0 2.0 5 9552.8
9 Raihat 5084.4 0 5216.4 1470.0 11.0 355.2 301.3 12438
10 Lasiolat 347.8 0 3486.0 69.0 4.5 4.8 10 3922.1
11 Lamaknen 4324.4 0 2824.2 1000.0 4.4 72.0 85 8310
12 Lamaknen Selatan 0 0 2552.5 159.0 0.0 28.8 0 2740.3
Jumlah 20277.7 156.1 23037.5 5529.6 154 521.8 460.7 50137
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

Tabel 1. 13 Produksi Tanaman Sayuran Kabupaten Belu Tahun 2013

Sayuran (Ton)
No Kecamatan Bawang Cabe Jumlah
Cabe Kentang Kubis Wortel
Merah Rawit
1 Raimanuk 0 0 0 0 0 0 0
2 Tasifeto Barat 0 0 0 0 0 0 0
3 Kakuluk Mesak 0 0 0 0 0 3 3
4 Nanaet Dubesi 0 0 0 0 0 0 0
5 Kota Atambua 0 0 0 9 0 0 9

I - 39
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Sayuran (Ton)
No Kecamatan Bawang Cabe Jumlah
Cabe Kentang Kubis Wortel
Merah Rawit
6 Atambua Barat 0 0 0 0 0 0 0
7 Atambua Selatan 0 2 0 0 0 0 2
8 Tasifeto Timur 0 5 0 4 0 3 12
9 Raihat 5 0 0 0 0 89 94
10 Lasiolat 0 2 0 0 0 0 2
11 Lamaknen 25 0 0 0 0 0 25
12 Lamaknen Selatan 0 4 0 0 0 64 68
Jumlah 30 13 0 13 0 159 215
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

Tabel 1. 14 Produksi Buah-Buahan Kabupaten Belu Tahun 2013

Jenis (Ton)
No Kecamatan Jumlah
Mangga Jambu Biji Jeruk Pisang Pepaya Nanas
1 Raimanuk 31 15.4 0 10 40 2 98.4
2 Tasifeto Barat 8.5 56.5 4.6 1.5 9.3 1 81.4
3 Kakuluk Mesak 63 3.5 1.2 105.2 3.8 0.1 176.8
4 Nanaet Dubesi 2.8 27 0.9 0.7 4.5 0.1 36
5 Kota Atambua 2.4 0.5 0.6 0.3 2.9 0.1 6.8
6 Atambua Barat 1.4 3 1.8 1.1 4.6 0.4 12.3
7 Atambua Selatan 8.6 7.5 1.1 2.8 3.5 0.2 23.7
8 Tasifeto Timur 141.5 20.5 94.5 8 20.7 6.8 292
9 Raihat 21.9 35 34 157 20 4 271.9
10 Lasiolat 8.9 0 0 42.8 4.1 2.8 58.6
11 Lamaknen 16.4 4.5 87.8 25.7 15 0.2 149.6
12 Lamaknen Selatan 64 2.4 40.8 12.5 5 1.4 126.1
Jumlah 370.4 175.8 267.3 367.6 133.4 19.1 1333.6
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

C. Perkebunan
Sektor perkebunan merupakan sektor produksi yang penting yang memberikan
sumber kehidupan penduduk. Tanaman perkebunan terdapat di Kabupaten Belu
meliputi kapuk, kemiri, kelapa, kopi, jambu mete, kakao, pinang, dan tembakau.
Semua jenis tanaman perkebunan ini mengandalkan air hujan. Tanaman
perkebunan juga dapat berfungsi seperti hutan, tetapi dalam kapasitas yang

I - 40
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

lebih rendah; terlebih kalau tanaman itu berumur pendek seperti tanaman
tembakau, maka ia akan lebih banyak menyerap air daripada menyimpan air.

Tabel 1. 15 Produksi Tanaman Perkebunan Kabupaten Belu Tahun 2013

Tanaman Perkebunan (Ton)


No Kecamatan Jambu Jarak Jumlah
Kapuk Kemiri Kelapa Kopi Vanili Pinang Nilam Sirih
Mete Pagar
1 Raimanuk 1 17 24 4 13 0 2 0 5 0 66
2 Tasifeto Barat 4 33 12 4 43 0 4 0 5 1 106
3 Kakuluk Mesak 5 2 68 0 0 0 1 0 9 0 85
4 Nanaet Dubesi 3 45 12 2 17 0 0 0 6 1 86
5 Kota Atambua 1 1 1 0 6 0 0 0 5 0 14
6 Atambua Barat 1 2 8 0 2 0 0 0 3 0 16
7 Atambua Selatan 1 1 8 1 4 0 0 0 3 0 18
8 Tasifeto Timur 3 88 86 5 42 0 2 0 5 0 231
9 Raihat 3 23 15 0 1 0 3 0 1 0 46
10 Lasiolat 3 103 26 3 15 0 3 0 2 2 157
11 Lamaknen 2 76 17 13 1 1 0 3 1 0 114
12 Lamaknen Selatan 3 52 19 25 0 0 3 45 1 0 148
Jumlah 30 443 296 57 144 1 18 48 46 4 1087
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

D. Peternakan
Jenis ternak terdapat di Kabupaten Belu adalah kuda, sapi, kerbau, kambing,
domba, babi, ayam kampung, dan itik. Jenis ternak ini umumnya tidak
dikembangkan dalam sebuah usaha peternakan tetapi hanya sebagai usaha
rumah tangga. Jenis ternak yang paling banyak di kembangkan di Kabupaten
belum yaitu ayam kampung yang berjumlah 204986, dan Jumlah ternak paling
banyak yang dikembangkan terdapat di Kecamatan Kakuluk Mesak yang
berjumlah 545.88 ekor.

Dari data yang ada tampak bahwa sapi, babi, dan ayam kampung merupakan
ternak yang banyak dikembangkan di tiap kecamatan. Jumlah ternak sapi

I - 41
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

terbanyak ada di Kecamatan Tasifeto Barat sebanyak 7805 ekor. Jumlah ternak
babi di Kabupaten Belu pada tahun 2014 berjumlah 51618 ekor dengan jumlah
terbanyak ada di Kecamatan Kakuluk Mesak sebanyak 7905 ekor. Sedangkan
untuk jenis ternak ayam kampung merupakan jenis ternak yang terbanyak
dipelihara dan mencapai jumlah 204986 ekor. Untuk ternak jenis kuda,
Kecamatan Lamaknen merupakan kecamatan yang memiliki jumlah ternak kuda
tertinggi dengan jumlah ternak yang ada pada tahun 2014 sebanyak 458 ekor.

Sedangkan untuk jenis kerbau banyak dikembangkan di tiga kecamatan yaitu


Kecamatan Tasifeto Timur, Kecamatan Tasifeto Barat, dan Kecamatan
Raimanuk. Jumlah ternak kerbau pada tahun 2014 mencapai 638 ekor. Untuk
ternak jenis kambing banyak ditemukan di Kecamatan Kakuluk Mesak dengan
jumlah ternak kambing tertinggi berjumlah 4188 ekor. Jumlah ternak kambing
seluruhnya berjumlah 16608 ekor. Untuk jenis ternak unggas itik, jumlah ternak
tertinggi terdapat di Kecamatan Tasifeto Barat sebanyak 2493 ekor. Jumlah
ternak itik secara keseluruhan berjumlah 7490 ekor. Untuk lebih jelas dapat
dilihat pada tabel 1.16.

E. Perikanan
Kabupaten Belu memiliki luas wilayah perairan laut 741,17 km2 dengan panjang
garis pantai 115,16 km2. Kabupaten Belu memiliki potensi perikanan baik laut
maupun darat, khususnya yang berasal dari tambak untuk dikembangkan.,
perikanan yang paling banyak produksi terletak di Kecamatan Kakuluk Mesak
dan Tasifeto Timur yaitu sebesar 730. 42 Ton dan 11.53 Ton.

I - 42
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Materi Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Tabel 1. 16 Produksi Peternakan Kabupaten Belu Tahun 2013

Peternakan (Ekor)
No Kecamatan Ayam Ayam Ayam Jumlah
Kuda Sapi Kerbau Kambing Domba Babi Itik
Kampung Petelor Pedaging
1 Raimanuk 28 7160 160 2351 0 6724 34416 0 0 1249 52088
2 Tasifeto Barat 6 7805 204 2445 0 6548 29697 0 0 2493 49198
3 Kakuluk Mesak 27 5228 129 4188 7 7905 36168 0 0 936 54588
4 Nanaet Dubesi 66 4119 96 302 0 2553 4851 0 0 8 11995
5 Kota Atambua 0 1153 2 932 1 315 17677 0 0 1491 21571
6 Atambua Barat 0 1315 2 210 0 2572 1605 0 0 302 6006
7 Atambua Selatan 0 373 0 145 1 282 4644 0 0 68 5513
8 Tasifeto Timur 11 7260 274 2272 1 6637 26053 0 0 318 42826
9 Raihat 22 5312 1 1884 19 6601 12340 0 0 341 26520
10 Lasiolat 5 567 0 254 0 2652 12296 0 0 0 15774
11 Lamaknen 458 5367 44 955 0 4831 12349 0 0 284 24288
12 Lamaknen Selatan 413 4786 28 670 0 3998 12890 0 0 0 22785
Jumlah 1036 50445 940 16608 29 51618 204986 0 0 7490 333152
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

I - 43
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Dokumen Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

Tabel 1. 17 Produksi Perikanan Kabupaten Belu Tahun 2013

Perikanan Perikanan Darat


No Kecamatan Jumlah
Laut Tambak air Tawar
1 Raimanuk 0 0 0 0
2 Tasifeto Barat 0 0 0 0
3 Kakuluk Mesak 730.42 0 0 730.42
4 Nanaet Dubesi 0 0 0 0
5 Kota Atambua 0 0 0 0
6 Atambua Barat 0 0 0 0
7 Atambua Selatan 0 0 0 0
8 Tasifeto Timur 11.53 0 0 11.53
9 Raihat 0 0 0 0
10 Lasiolat 0 0 0 0
11 Lamaknen 0 0 0 0
12 Lamaknen Selatan 0 0 0 0
Jumlah 742 0 0 742
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

Tabel 1. 18 Produksi Perikanan Menurut Sektornya


di Kabupaten Belu Tahun 2012-2013
Produksi (Ton)
No. Sektor
2012 2013
1. Perikanan Laut 1.914,16 1.952,44
2. Perikanan Darat (Budidaya)
a. Tambak 722,00 794,20
b. Kolam 35,01 38,00
c. Air Laut (Rumput Laut) 9,80 -
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2014

Tabel 1. 19 Produksi Perikanan Laut di Kabupaten Belu Tahun 2015

NO. Jenis Ikan Produksi (Ton)


IKAN PELAGIS KECIL 752,05
1 Tembang 83,78
2 Tembang Kobi 20,03
3 Tembang Kaleng 22,65
4 Teri 14,98
5 Terbang 63,62
6 Belanak 50,26
7 Bentong 46,58
8 Lyang 42,04

I-44
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Dokumen Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

NO. Jenis Ikan Produksi (Ton)


9 Selar 56,91
10 Kembung 82,74
11 Talang-talang 1,21
12 Tetengkek 7,17
13 Alu-alu 5,73
14 Julung-julung 83,40
15 Selanget 21,90
16 Cendro 19,29
17 Siro 1,77
18 Terubuk 5,81
19 Lemuru 28,99
20 Bawal Hitam 14,63
21 Kapas-kapas 1,21
22 Ikan Sebelah 0,81
23 Manyung 1,00
24 Daun Bambu 1,45
25 Layar, Parang-parang 1,94
26 Ikan lainnya 72,24
IKAN PELAGIS BESAR 613,64
1 Tuna 192,44
2 Ekor Kucing 131,74
3 Cakalang 70,65
4 Tongkol 158,37
5 Tengiri 60,44
IKAN DEMERSAL 388,34
1 Kerapu Karang 4,74
2 Kerapu Lumpur 10,06
3 Kerapu Sunu 2,15
4 Kerapu Balong 11,62
5 Pinjalo 6,00
6 Kurisi 3,02
7 Biji Nangka 6,15
8 Pari 1,69
9 Kwee 42,31
10 Kakap Merah 56,73
11 Kakap Putih 67,72
12 Lencam 8,76
13 Gerot-gerot 166,92
14 Cucut 0,37
MOLUSCA 69,60
1 Cumi-cumi 9,27
2 Gurita 2,20
3 Kerang Hijau 13,69

I-45
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Dokumen Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

NO. Jenis Ikan Produksi (Ton)


4 Kerang Darah 7.93
5 Tiram 11,45
6 Simping 25,06
CRUSTACEA 128,91
1 Udang Putih 46,69
2 Udang Windu 5,28
3 Udang Barong 4,59
4 Udang Krosok 35,51
5 Kepiting Bakau 36,84
JUMLAH TOTAL 1.952,44
Sumber : Kabupaten Dalam Angka Tahun 2014

F. Industri
Sektor Industri pengolahan sebenarnya mencakup sub-sektor industri migas
dan sub-sektor industri non migas; namun yang ada di kabupaten Belu hanyalah
industri non migas. Perkembangan kelompok industri maupun peluang usaha
yang dapat dikembangkan di kabupaten Belu adalah:
 Industri Kecil Hasil pertanian dan Kehutanan (IPHK) :
Jenis industri ini yang berkembang adalah : industri keripik (ubi dan pisang),
perabot rumah tangga dan kayu, aneka ukiran kayu dan kerajinan kayu
cendana, pengolahan dan pengawetan daging, industri kopi bubuk, industri
roti dan kue-kue, kasur dan bantal, serta industri tahu & tempe.
 Industri Aneka:
Jenis industri kecil pada kelompok industri aneka yang menonjol adalah:
industri tenun, anyaman lontar, anyaman tali gewang, anyaman lidi kelapa,
anyaman dari tali sisal, industri kapok, alat musik tradisional, serta industri
pakaian jadi dari tekstil.
 Industri Logam, Mesin dan Kimia (ILMK):
Jenis industri berskala kecil yang menonjol dalam kelompok industri ini
meliputi : industri garam rakyat/yodium, barang dari semen, barang dari

I-46
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Dokumen Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

tanah liat (bata, genteng, tembikar), vulkanisir ban, serta jasa perbengkelan
dan elektronik.

G. PDRB
Perekonomian Kabupaten Belu didominasi oleh Sektor Pertanian yang
menyumbang sekitar 35,02% dari total PDRB ADHB Tahun 2013 dengan
kontribusi terbesar dari sub sektor tanaman bahan makanan yang memberikan
kontribusi sekitar 22,93% diikuti sub sektor peternakan yang memberikan
kontribusi 10,45%. Sub sektor perkebunan dan perikanan masing-masing
memberikan kontribusi sekitar 0,77% dan 0,85%.
Komoditi dari sektor pertanian yang menjadi andalan adalah padi, produksi
Tahun 2013 sebanyak 20.433,8 ton dengan produktivitas sebanyak 35,1 kwintal
per Ha; dan jagung dengan produksi Tahun 2013 sebesar 23.037 ton pada areal
seluas 8.432 Ha. Di sektor pertanian, ternak sapi menjadi andalan Kabupaten
Belu dengan jumlah populasi pada Tahun 2013 sebanyak 54.945 ekor.

Tabel 1. 20. PDRB Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Belu Tahun 2010-2013

No Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013


1 PERTANIAN 202.77 210.37 229.45 255.71
a. tanaman bahan makanan 191.79 192.68 207.18 228.02
b. tanaman perkebunan 449.99 469.94 488.4 552.25
c. peternakan & hasil-hasilnya 203.4 228.98 263.48 320.93
d. kehutanan 590.92 586.45 635.94 653.36
e. perikanan 293.31 307.73 305.62 353.41
2 PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 453.83 453.54 471.69 516.79
3 INDUSTRI PENGOLAHAN 647.5 715.73 785.09 851.18
4 LISTRIK, GAS,&AIR BERSIH 302.05 322.35 340.76 388.26
a. listrik 301.13 321.61 338.44 390.02
b. gas 0 0 0 0
c. air bersih 307.32 326.59 354.14 378.8
5 BANGUNAN 380.06 426.99 471.17 512.27
6 PERDAGANGAN, RESTORAN, & HOTEL 315.41 369.98 422.36 419.56
a. perdagangan besar & eceran 315.82 371 423.77 420.03
b. perhotelan 479.5 509.23 528.28 612.45

I-47
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Dokumen Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

No Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013


c. restoran, rumah makan 277.4 304.62 341.93 374.97
7 PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 370.21 413.37 458.57 543.36
a. angkutan 351.93 391.16 432.94 499.94
1. angkutan rel 0 0 0 0
2. pengangkutan jalan raya 335.11 374.19 418.68 485.46
3. pengangkutan laut 275.38 290.67 296.42 345.83
4. pengangkutan sungai, danau & 0 0 0 0
penyebrangan
5. pengangkutan udara 400.5 410.46 428.92 474.38
6. Jasa penunjang angkutan 595.56 660.11 708.23 794.86
b. komunikasi 522.62 598.51 672.22 776.06
8 KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA 559.05 627.66 679.39 823.01
a. bank 610.79 697.01 769.17 893.63
b. lembaga keuangan non bank 621.75 668.24 714.53 881.2
c. jasa penunjang keuangan 0 0 0 0
d. sewa bangunan 448.84 503.43 525.21 602.76
e. jasa perusahaan 245.07 264.4 291.12 330.35

9 JASA - JASA 637.71 728.6 804.35 957.81


a. pemerintahan umum 720.62 832.54 918.92 1103.59
b. Swasta 466.8 514.34 568.19 657.21
1. sosial kemasyarakatan 391.23 427.31 461.78 542.8
2. hiburan & rekreasi 465.84 503.11 541.96 626.03
3. perorangan & RT 581.28 646.33 729.74 830.96
Jumlah 14312 15669 17028 19397
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2010-2014

Tabel 1. 21 PDRB Menurut Harga Konstan Kabupaten Belu Tahun 2010-2013

No Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013


1 PERTANIAN 125.64 123.88 126.65 135.76
a. tanaman bahan makanan 118.98 115.3 118.21 120.24
b. tanaman perkebunan 189.37 193.5 194.55 201.72
c. peternakan & hasil-hasilnya 134.83 137.84 141.05 177.26
d. kehutanan 238.28 240.37 243.37 252.72
e. perikanan 172.38 174.43 169.76 183.41
2 PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 156.39 156.29 157.97 158.76
3 INDUSTRI PENGOLAHAN 176.68 179.87 182.95 190.9

I-48
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Dokumen Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

No Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013


4 LISTRIK, GAS,&AIR BERSIH 153.9 158.25 162.5 168.72
a.listrik 154.21 158.15 161.9 168.8
b.gas 0 0 0 0
c. air bersih 152.1 158.82 165.97 166.25
5 BANGUNAN 145.93 162.51 172.98 168.9
6 PERDAGANGAN, RESTORAN, & HOTEL 161.95 185.87 202.04 195.44
a. perdagangan besar & eceran 162.04 186.37 202.67 195.73
b. perhotelan 203.01 208.78 210.93 222.96
c. restoran, rumah makan 153.26 159.29 169.82 178.42
7 PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 198.93 206.48 214 166.72
a. angkutan 200.65 207.69 215.33 168.8
1. angkutan rel 0 0 0 0
2. pengangkutan jalan raya 203.76 211.04 218.91 168.25
3. pengangkutan laut 181.18 185.39 185.76 168.9
4. pengangkutan sungai, danau &
penyebrangan 0 0 0 0
5. pengangkutan udara 242.01 242.07 250.86 222.96
6. Jasa penunjang angkutan 184.45 191.96 204.03 195.73
b. komunikasi 184.6 196.42 202.89 222.96
8 KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA 250.45 272.37 290.05 313.06
a. bank 316.65 354.39 382.42 375.76
b. lembaga keuangan non bank 229.59 230.44 241.14 262.92
c. jasa penunjang keuangan 0 0 0 0
d. sewa bangunan 154.51 163.29 168.15 186.6
e. jasa perusahaan 186.7 191.99 200.62 218.52
9 JASA - JASA 341.27 369.31 397.52 431.75
a. pemerintahan umum 368.37 405.86 441.82 483.94
b. Swasta 285.39 293.97 306.19 313.06
1. sosial kemasyarakatan 285.23 293.86 305.21 324.14
2. hiburan & rekreasi 350.31 366.05 377.84 325.16
3. perorangan & RT 284.65 293.06 306.61 402.93
Jumlah 7047.7 7375.2 7692.7 7838.2
Sumber : Kabupaten Belu Dalam Angka Tahun 2010-2014

I-49
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Dokumen Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

1.6. KONDISI EKSTERNAL

Pada tanggal 14 Desember 2012 Kabupaten Belu resmi dipisahkan dengan


Kabupaten Malaka. Rencana pengembangan wilayah Kabupaten Belu di rencanakan
sebagai pusat distribusi barang dan jasa dan kawasan perbatasan negara yang maju
dan mandiri berbasis pertanian”. Untuk merealisasikan rencana tersebut perlu
dilihat kondisi eksternal yang mendukung wilayah Kabupaten Belu untuk
berkembang. Salah satu permasalahan prioritas lainnya yang sangat berpengaruh
dalam rencana pengembangan kawasan perbatasan adalah permasalahan eksternal
yaitu kondisi atau perkembangan ekonomi yang ada di negara tetangga RDTL yang
mengalami perkembangan dimana hal ini dapat dilihat pada salah satu indikator
yaitu perbandingan pendapatan income per kapita antara RI dan RDTL. Income PDB
RDTL 2,1 Miliar US$ dengan PDB Perkapita RDTL 1.709 US$ dari jumlah
penduduknya yang mencapai 1,2 Juta Jiwa. Selain perbandingan tersebut, kondisi
lain yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan Kabupaten Belu kedepannya
adalah adanya rencana pemerintah RDTL khususnya distrik Oekusi akan di
kembangkan kawasan otorita yang juga didukung dengan beberapa kegiatan
pengembangan utama seperti pengembangan Bandara Oekusi dan Pengembangan
Pelabuhan Oekusi dengan rencana pengoperasian kapal ferry cepat dengan rute
penyeberangan Dili-Oekusi (PP).

1.7. ISU-ISU STRATEGIS

Issue – issue strategis pengembangan Wilayah Kabupaten Belu merupakan


suatu rangkuman isu yang berkembang dan kebijakan yang dapat mempengaruhi
perkembangan wilayah Kabupaten Belu baik secara internal maupun secara
eksternal. Isu – isu strategis tersebut antara lain :
1. Adanya kerjasama trilateral pemerintah Indonesia-RDTL-Australia dalam
meningkatkan pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara.

I-50
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Dokumen Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

2. Adanya penataan ruang untuk wilayah perbatasan agar terdapat penataan


perbatasan yang detail
3. Adanya kawasan pengembangan untuk Minapolitan sebagai kawasan pusat
pertumbuhan wilayah.
4. Adanya rencana pengembangan kabupaten Belu sebagai kabupaten pusat
distribusi barang dan jasa
5. Pembangunan PLTU NTT 4 X 6 MW Atambua (Desa Dualaus, Kecamatan
Kakuluk Mesak Kabupaten Belu) sebagai pasokan listrik alternatif untuk
memenuhi kebutuhan listrik di Wilayah Pulau Timor Bagian Barat yang berpusat
di Kabupaten Belu.
6. Keterbatasan infastruktur perhubungan inter maupun antar wilayah dalam
kawasan perbatasan menyebabkan sulitnya aksesibilitas dan keterisolasian
wilayah.
7. Belum optimalnya pemanfaatan/pengolahan hasil produksi komoditas
unggulan berdasarkan kondisi PDRB Provinsi NTT seperti kelapa, sapi, ikan air
tawar dan ikan tambak dalam mendorong perkembangan ekonomi lokal.
8. Belum optimalnya sistem distribusi dan pemasaran hasil produksi unggulan
dalam mendorong perkembangan ekonomi lokal.
9. Terbatasnya infrastruktur dasar seperti jalan, embung, irigasi yang mendukung
sektor perekonomian.
10. Belum optimalnya pemanfaatan, pengelolaan dan promosi potensi pariwisata
dalam pengembangan ekonomi lokal.
11. Adanya penyimpangan lahan antara sektor pertambangan dan kehutanan,
dimana terjadi alih fungsi lahan dari kawasan lindung ke kawasan
pertambangan.
12. Adanya pengelolaan pertambangan yang ramah lingkungan.
13. Perlu adanya pengelolaan untuk daerah bekas tambang sehingga dapat bernilai
ekonomis,.

I-51
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Dokumen Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

14. Adanya kerjasama antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat untuk
mengembangkan peternakan sapi di beberapa Kabupaten di NTT salah satunya
Kabupaten Belu.
15. Adanya Program Pengembangan Kota Hijau yang diselenggarakan Direktorat
Perkotaan Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum
(PU) yang melibatkan beberapa Kabupaten/Kota di Indonesia, dan Kabupaten
Belu termasuk salah satunya.
16. Belum optimalnya jaringan telekomunikasi yang ada di Kabupaten Belu.
17. Rencana peningkatan fungsi jalan nasional yang menghubungkan Kota
Atambua-Motaain-Dili (RDTL).
18. Rencana peningkatan kelas terminal di Motaain Desa Silawan Tasifeto Timur
menjadi Pos Lintas Batas Negara (PLBN).
19. Perlunya pembangunan sarana dan prasarana air baku pada beberapa wilayah
kecamatan yang mengakibatkan kurang terpenuhinya kebutuhan air, baik bagi
kebutuhan masyarakat maupun untuk pertanian dan peternakan;
20. Perlunya kemudahan pencapaian (aksesibilitas) menuju Ibu Kota Provinsi NTT,
baik melalui transportasi darat maupun transportasi udara.
21. Potensi pasar perbatasan yang belum dikelola secara optimal.
22. Rencana iembangunan lanjutan RSUD MGR Gabriel Manek SVD di Atambua
23. Rencana pembangunan Integrated Farming “Sonis Laloran” Kawasan Sonis
Laloran
24. Rencana pengembangan kegiatan Agropolitan Haekesak

1.8. SISTEMATIKA PEMBAHASAN


Sistematika pembahasan Laporan Akhir Sementara Rencana Tata Ruang di
Wilayah Kabupaten Belu adalah sebagai berikut :

I-52
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Dokumen Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

BAB I PENDAHULUAN
Pada bab I berisikan tentang latar belakang, maksud, tujuan, sasaran, dan
azas penataaan ruang, dasar hukum, gambaran umum wilayah secara
eksternal, profil wilayah, issue-issue strategis wilayah, visi dan misi
pembangunan, dimensi waktu perencanaan, dan ketentuan umum.

BAB II TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH


Pada bab ini memuat tentang tujuan, kebijakan dan strategi penataan
ruang yang digunakan untuk membuat rencana pengembangan wilayah
Kabupaten Belu.

BAB III RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH


Pada bab ini menjelaskan tentang rencana struktur ruang wilayah
Kabupaten Belu yang meliputi rencana system permukiman dan
prasarana wilayah, yang meliputi rencana kawasan perkotaan, rencana
kawasan perdesaan, rencana system perkotaan, rencana system
perwilayahan, rencana system prasarana wilayah utama dan rencana
sistem prasarana wilayah lainnya.

BAB IV RENCANA POLA RUANG WILAYAH


Pada bab ini membahas tentang rencana pola ruang wilayah Kabupaten
Belu yang meliputi Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya.

BAB V PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS


Pada bab ini membahas tentang penetapan kawasan strategi wilayah di
Kabupaten Belu yang meliputi lokasi dan jenis kawasan strategi.

BAB VI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH


Pada bab ini berisi tentang kelembagaan penataan ruang daerah, prioritas
dan tahapan pembangunan serta indiksai program.

I-53
Laporan Akhir Sementara / Draft Final Report
Dokumen Teknis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Belu
Tahun 2015-2035

BAB VII KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH

Bab ini berisi tentang peraturan zonasi (zoning regulation), ketentuan


perizinan, ketentuan insentif dan disinsentif, dan arahan sanksi.

BAB VIII HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM


PENATAAN RUANG
Pada bab ini berisi tentang hak dan kewajiban masyarakat dan peran serta
masyarakat dalam penataan ruang.

BAB IX PENUTUP
Pada Bab ini berisi tentang kesimpulan dari Laporan Rencana kegiatan
Penyusunan Raperda Rencana Tata Ruang di Wilayah Kabupaten Belu
sebagai arahan pengembangan pada masa yang akan datang, serta
rekomendasi yang seharusnya dilakukan guna menunjang kegiatan
pembangunan dan pengembangan wilayah.

I-54