Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidaklah sulit untuk diimplementasikan


dalam kehidupan sehari-hari. Maka sungguh pantas apabila Pancasila digunakan

sebagai landasan dasar bangsa Indonesia. Karena pancasila bersifat universal. Dimana
semua unsur yang terkandung didalamnya dapat diterima semua pihak baik nasional
maupun internasional. Itu disebabkan karena Pancasila merupakan kepribadian bangsa
Indonesia dan mengandung unsur-unsur luhur jiwa bangsa Indonesia.

Sudah seharusnya pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia menjadi acuan Undang-
Undang Dasar 1945, menjadi acuan kebijakan, dan turunan dari kebijakan ini adalah
undang-undang dan peraturan dibawahnya, dari perumusan kebijakan, implementasi
sampai pada evaluasi kebijakan.

1. 2 Rumusan Masalah

Ø Kebijakan pemerintah apa saja yang sesuai dengan pancasila?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain:

Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pancasila

2. Untuk mengetahui apakah kebijakan pemerintah sesuai dengan pancasila

3. Untuk mengetahui bukti bahwa falsafah Pancasila dijadikan sebagai dasar falsafah
negara Indonesia yang kemudian dijadikan landasan menentukan kebijakan dalam
pemerintahan.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kebijakan pemerintah yang sesuai dengan Pancasila

A. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Sila Ketuhanan yang maha Esa mencerminkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa
yang beragama dan adanya kebebasan dalam memeluk agama masing-masing dan
menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya itu. Artinya tidak ada
pemaksakaan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada
orang lain, yaitu tidak boleh memaksakan orang lain memeluk agama kita atau
memaksa seseorang untuk berpindah ke agama lain. Negara memberikan jaminan
kebebasan kepada warga negara untuk memeluk agama yang sesuai dengan keyakinan
dan kepercayaan masing-masing.

Dibuatnya kebijakan-kebijakan yang mencakup sila Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu
dengan mempertimbangkan moral serta sifat-sifat sitem moral Indonesia supaya bisa
melandasi atau menjadi pedoman perilaku perorangan, kelompok-kelompok dalam
masyarakat.

Adapun kebijakan pemerintah yang sesuai dengan sila pertama antara lain:

1. Pendidikan agama

Pendidikan agama di Indonesia telah diadakan sejak tahun 1950, dengan


dibentuknya panitia bersama yang dipimpin Prof. Mahmud yunus dari Departemen
Agama, Mr. Hadi dari Departemen P dan K, hasil dari panitia itu adalah SKB yang
dikeluarkan pada bulan Januari. Isinya ialah:

a. Pendidikan agama yang diberikan mulai kelas IV Sekolah Rakyat.

b. Di daerah-daerah yang masyarakat agamanya kuat, maka pendidikan agama diberikan


mulai kelas I SR dengan catatan bahwa pengetahuan umumnya tidak boleh berkurang
dibandingkan dengan sekolah lain yang pendidikan agamanya diberikan mulai kelas IV.
c. Di sekolah Lanjutan Pertama dan Tingkat Atas (umum dan kejuruan) diberikan
pendidikan agama sebanyak 2 jam seminggu.

d. Pendidikan agama diberikan kepada murid-murid sedikitnya 10 orang dalam satu


kelas dan mendapat izin dari orang tua / walinya.

e. Pengangkatan guru agama, biaya pendidikan agama, dan materi pendidikan agama
ditanggung oleh Departemen Agama.

Kebijakan ini sesuai dengan sila pertama pancasila yang menjamin penduduk untuk
memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agamanya, Menjamin
berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama, Negara memberi fasilitator
bagi tumbuh kembangnya agama dan iman warga negara dan mediator ketika terjadi
konflik agama. Faktor pendukung lainnya adalah dalam sidang pleno MPRS, pada bulan
Desember 1960 diputuskan sebagai berikut: “Melaksanakan Manipol Usdek dibidang
mental/agama/kebudayaan dengan syarat spiritual dan material agar setiap warga
Negara dapat mengembangkan kepribadiannya dan kebangsaan Indonesia serta menolak
pengaruh-pengaruh buruk kebudayaan asing (Bab II Pasal 2 ayat 1)”.

Dalam ayat 3 dari pasal tersebut dinyatakan bahwa: “Pendidikan agama menjadi mata
pelajaran di sekolah-sekolah umum, mulai sekolah dasar sampai Universitas,”

2. Adanya kementrian agama Republik Indonesia.

Keberadaan Departemen Agama dalam struktur pemerintah Republik Indonesia melalui


proses panjang. Sebagai bagian dari pemerintah negara Republik Indonesia;
Kementerian Agama didirikan pada 3 Januari 1946. Dasar hukum pendirian ini adalah
Penetapan Pemerintah tahun 1946 Nomor I/SD tertanggal 3 Januari 1946.

Mohammad Yamin adalah orang yang mula-mula mengusulkan dalam salah satu sidang
BPUPKI agar pemerintah Republik Indonesia, di samping mempunyai kementerian
pada umumnya, seperti luar negeri, dalam negeri, keuangan, dan sebagainya,
membentuk juga beberapa kementerian negara yang khusus. Salah satu kementerian
yang diusulkannya ialah Kementerian Islamiyah, yang katanya, memberi jaminan
kepada umat Islam (masjid, langgar, surau, wakaf) yang di tanah Indonesia dapat dilihat
dan dirasakan artinya dengan kesungguhan hati.

Tetapi meskipun beberapa usulnya tentang susunan negara bisa diterima dan menjadi
bagian dan UUD 1945, usulnya tentang ini tidak begitu mendapat sambutan.

Ketika Kabinet Presidential dibentuk di awal bulan September 1945, jabatan Menteri
Agama belum diadakan. Demikian halnya, di bulan Nopember, ketika kabinet
Presidential digantikan oleh kabinet parlementer, di bawah. Perdana Menteri Sjahrir.
Usulan pembentukan Kementerian Agama pertama kali diajukan kepada BP-KNIP
(Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat) pada 11 Nopember 1946 oleh K.H.
Abudardiri, K.H. Saleh Suaidy, dan M. Sukoso Wirjosaputro, yang semuanya
merupakan anggota KNIP dari Karesidenan Banyumas. Usulan ini mendapat dukungan
dari Mohammad Natsir, Muwardi, Marzuki Mahdi, dan Kartosudarmo yang semuanya
juga merupakan anggota KNIP untuk kemudian memperoleh persetujuan BP-KNIP.

Sebagai realisasi, pada 3 Januari 1946 pemerintah mengeluarkan ketetapan yang antara
lain berbunyi: Presiden Republik Indonesia, Mengingat: Usul Perdana Menteri dan
Badan Pekerja Komite Nasional Pusat, memutuskan: Mengadakan Departemen Agama.
Keputusan dan penetapan pemerintah ini dikumandangkan di udara oleh RRI ke seluruh
dunia, dan disiarkan oleh pers dalam, dan luar negeri, dengan H. Rasjidi BA sebagai
Menteri Agama yang pertama.

3. Diakuinya enam Agama resmi di Indonesia

Ketetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau


Penodaan Agama pasal 1 menyatakan bahwa, "Agama-agama yang dipeluk oleh
penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen (Protestan), Katolik, Hindu, Budha dan
Khong Hu Cu (Confusius)"

Pada tahun 1969, UU No. 5/1969 dikeluarkan, menggantikan keputusan presiden


mengenai enam agama resmi. Namun, hal ini berbeda dalam praktiknya. Pada 1978,
Menteri Dalam Negeri mengeluarkan keputusan bahwa hanya ada lima agama resmi,
tidak termasuk Konghucu.
Pada tanggal 27 Januari 1979, dalam suatu pertemuan kabinet, dengan kuat
memutuskan bahwa Konghucu bukanlah suatu agama. Keputusan Menteri Dalam
Negeri telah dikeluarkan pada tahun 1990 yang menegaskan bahwa hanya ada lima
agama resmi di Indonesia.

Namun, setelah reformasi Indonesia tahun 1998, ketika kejatuhan Soeharto,


Abdurrahman Wahid dipilih menjadi presiden yang keempat. Wahid mencabut instruksi
presiden No. 14/1967 dan keputusan Menteri Dalam Negeri tahun 1978. Agama
Konghucu kini secara resmi dianggap sebagai agama di Indonesia. Kultur Tionghoa dan
semua yang terkait dengan aktivitas Tionghoa kini diizinkan untuk dipraktikkan. Warga
Tionghoa Indonesia dan pemeluk Konghucu kini dibebaskan untuk melaksanakan
ajaran dan tradisi mereka. Seperti agama lainnya di Indonesia yang secara resmi diakui
oleh negara.

4. Menjadikan hari besar keagamaan sebagai hari libur nasional.

Hari libur nasional telah ditetapkan oleh negara melalui Keppres No. 251 Tahun 1967
tentang Hari-Hari Libur, Keppres No. 10 Tahun 1971 tentang Hari Wafat Isa Al-masih
Dinyatakan Sebagai Raya/Hari Libur , Keppres No. 3 Tahun 1983 yang menambahkan
hari raya Waisak dan Nyepi sebagai Hari Libur Nasional, dan Keppres Nomor 19 Tahun
2002 tentang Hari Tahun Baru Imlek.

B. Sila Kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”

Makna yang terkandung dalam sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab adalah
mengandung nilai suatu kesadaran sikap moral dan tingkah laku manusia yang
didasarkan pada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma
dan kebudayaan pada umumnya baik terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia
maupun terhadap lingkungannya. Nilai kemanusiaan yang adil mengandung suatu
makna bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan beradab harus
berkodrat adil. Hal ini mengandung suatu pengertian bahwa hakikat manusia harus adil
dalam hubungan dengan diri sendiri, adil terhadap manusia lain, adil terhadap
masyarakat bangsa dan negara, adil terhadap lingkungannya serta adil terhadap Tuhan
Yang Maha Esa. Nilai kemanusiaan yang beradab mengandung makna bahwa beradab
erat kaitannya dengan aturan-aturan hidup, budi pekerti, tata krama, sopan santu, adat
istiadat, kebudayaan, kemajuan ilmu pengetahuan, dsb. Semua aturan diatas bertujuan
untuk menjaga agar manusia tetap beradab, tetap menghargai harkat dan derajat dirinya
sebagai manusia. Adab diperlukan agar manusia bisa meletakkan diri pada tempat yang
sesuai.

Kebijakan Pemerintah yang sesuai dengan sila kedua contohnya yaitu:

a. Menegakkan HAM
b. Peraturan No 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran (PBI)
c. Kebijakan Hukum

C. Sila Ketiga, “Persatuan Indonesia”

Sila ke -3 ini mempunyai maksud mengutamakan persatuan atau kerukunan bagi


seluruh rakyat Indonesia yang mempunyai perbedaan agama, suku, bahasa, dan budaya.
Sehingga dapat disatukan melalui sila ini berbeda-beda tetapi tetap satu atau disebut
dengan Bhineka Tunggal Ika. Persatuan Indonesia mengutamakan kepentingan dan
keselamatan negara ketimbang kepentingan golongan pribadi atau kelompok seperti
partai. Hal yang dimaksudkan adalah sangat mencintai tanah air Indonesia dan bangga
mengharumkan nama Indonesia. Sila ini menanamkan sifat persatuan untuk
menciptakan kerukunan kepada rakyat Indonesia.

Sila yang mempunyai lambang pohon beringin ini bermaksud memelihara ketertiban
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.

Dalam nilai Persatuan Indonesia terkandung nilai bahwa negara adalah sebagai
penjelmaan sifat kodrat manusia monodualis yaitu sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial. Negara merupakan suatu persekutuan hidup bersama diantara elemen-
elemen yang membentuk negara yang berupa suku, ras, kelompok, golongan, maupun
kelompok agama. Oleh karena itu perbedaan adalah merupakan bawaan kodrat manusia
dan juga merupakan ciri khas elemen-elemen yang membentuk Negara.
Konsekuensinya negara adalah beraneka ragam tetapi satu, mengikatkan diri dalam
suatu persatuan yang dilukiskan dalam suatu seloka Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan
bukannya untuk diruncingkan menjadi konflik dan permusuhan melainkan diarahkan
pada suatu sintesa yang saling menguntungkan yaitu persatuan dalam kehidupan
bersama untuk mewujudkan tujuan bersama.

Negara mengatasi segala paham golongan, etnis, suku, ras, individu, maupun golongan
agama. Mengatasi dalam arti memberikan wahana atas tercapainya harkat dan martabat
seluruh warganya. Negara memberikan kebebasan atas individu, golongan, suku, ras,
maupun golongan agama untuk merealisasikan seluruh potensinya dalam kehidupan
bersama yang bersifat integral. Oleh karena itu tujuan negara dirumuskan untuk
melindungi segenap warganya dan seluruh tumpah darahnya, memajukan kesejahteraan
umum (kesejahteraan seluruh warganya) mencerdaskan kehidupan warganya, serta
kaitannya dengan pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia untuk mewujudkan
suatu ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Nilai persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Hal itu terkandung nilai bahwa bahwa
nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme religious yaitu nasionalisme yang bermoral
Ketuhanan Yang Maha Esa. Nasionalisme yang humanitik yang menjunjung tinggi
harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan. Oleh karena itu nilai-nilai
nasionalisme ini harus tercermin dalam segala aspek penyelenggaraan Negara.

D. Sila ke Empat, ”Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


Permusyawaratan dan Perwakilan “

Sila ke-4 yang mana berbunyi “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan”. Sebuah kalimat yang secara bahasa
membahasakan bahwa Pancasila pada sila ke 4 adalah penjelasan Negara demokrasi.

Sebuah keputusan pada intinya tidak boleh ada suatu kehendak yang dipaksakan kepada
pihak lain. Sebelum diambil keputusan yang menyangkut kepentingan bersama terlebih
dahulu diadakan musyawarah. Keputusan dilakukan secara mufakat. Musyawarah
untuk mencapai mufakat ini, diliputi oleh semangat kekeluargaan, yang merupakan ciri
khas Bangsa Indonesia.
Nilai kerakyatan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan
untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan.
Nilai ini menganut paham demokrasi.

E. Kebijakan Pemerintah yang Sesuai dengan Nilai keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia

Ø Pemberian Bantuan untuk warga miskin

Kemiskinan merupakan masalah sosial yang bersifat global, artinya kemiskinan adalah
masalah yang dihadapi dan menjadi perhatian banyak orang di dunia. Kemiskinan
berhubungan dengan kekurangan materi, rendahnya penghasilan, dan adanya kebutuhan
sosial. Sehingga pemerintah memberikan bantuan BLT berupa uang tunai dan sembako
kepada masyarakat miskin. Di Indonesia terdapat kecenderungan bahwa seakan-akan
kemiskinan hanya diberantas oleh program-program pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan seolah mencakup pemberian modal usaha untuk membuka warung kecil
di sudut kampung, pemberian sapi atau kambing untuk peternakan dan pelatihan
keterampilan perbengkelan atau kerajinan tangan. Asumsinya sederhana, jika orang
miskin diberi modal dan dilatih, maka mereka akan memiliki pekerjaan dan pendapatan,
sehingga kehidupan mereka bisa menjadi lebih baik.

Ø Asuransi Kesejahteraan Sosial

Penelitian evaluasi Program Jaminan Kesejahteraan Sosial: Asuransi Kesejahteraan


Sosial ini bertujuan memahami proses dan hasil pelaksanaan program. Instrument utama
dalam menganalisis data lapangan menggunakan konsep asuransi sosial, yaitu suatu
mekanisme pengumpulan dana yang bersifat wajib yang berasal dari iuran guna
memberikan perlindungan atas resiko sosial ekonomi yang menimpa peserta dan/atau
anggota keluarganya.

Ø Pemberian Dana Pensiun

Kementerian Keuangan memastikan 4,7 juta PNS akan mendapatkan gaji ke-13 bulan
ini. Kepastian tersebut menyusul terbitnya Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 2011
tanggal 30 Juni 2011 tentang pemberian gaji atau pensiun tunjangan bulan ketiga belas
dalam tahun anggaran 2011 kepada pegawai negeri, pejabat negara, dan penerima
pensiun tunjangan.

Dirjen Perbendaharaan Negara Kemenkeu Agus Suprijanto dalam keterangan tertulis


yang mengatakan bahwa pengajuan surat perintah membayar oleh masing-masing
satuan kerja akan segera dilakukan. Untuk PNS pusat, gaji ke-13 akan dibayarkan
langsung ke rekening masing-masing, sementara untuk PNS daerah akan dibayarkan
melalui APBD masing-masing daerah. Sebagai tindak lanjut dari peraturan tersebut,
telah terbit peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan mengenai petunjuk teknis
pemberian gaji 13 tersebut yaitu Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan No
38/PB/2011. Sementara, gaji ke-13 untuk penerima pensiun atau tunjangan akan
dibayarkan melalui PT Taspen (Persero) atau PT Asabri (Persero).

Ø Mendirikan Pustu/Puskesmas Pembantu di Setiap Daerah

Untuk mensejahterakan rahyat, tidak hanya dengan serangkaian materi tetapi kesehatan
itu lebih penting, karena itu pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa pendirian
puskesmas-puskesmas di setiap daerah, dengan tujuan agar semua rakyatnya bisa hidup
sehat, tanpa mengidap penyakit yang parah dengan biaya yang murah bahkan
pengobatan gratis.

Ø Pemberdayaan Perempuan

Dengan meningkatkan peranaan perempuan dalam bekerja, berkarier di bidang apa saja
dan meningkatkan kesetaraannya, meningkatkan jumlah dan proporsi perempuan dalam
menamatkan pendidikannya, menurunkan kasus tindak kekerasan terhadap perempuan,
maka suatu kebijakan seperti itu dapat mengubah nasib kaum perempuan di masa
sekarang.
2.2 Analisis Kebijakan yang telah dibuat oleh Pemerintah yang sesuai
dengan nilai-nilai Pancasila terkait dengan berbagai Bidang.

1.Kebijakan Ekonomi

Kebijakan yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila yaitu, kebijakan penetapan harga
minimum (floor price), tujuan pemerintah adalah untuk melindungi produsen terutama
untuk produk dasar pertanian. Misalnya harga gabah kering terhadap harga pasar yang
terlalu rendah. Hal ini dilakukan supaya tidak ada tengkulak (orang/pihak yang membeli
dengan harga murah dan dijual kembali dengan harga yang mahal) yang membeli
produk tersebut diluar harga yang telah ditetapkan pemerintah. Jika pada harga tersebut
tidak ada yang membeli, pemerintah akan membelinya melalui BULOG (Badan Usaha
Logistik) kemudian didistribusikan ke pasar. Namun, mekanisme penetapan harga
seperti ini sering mendorong munculnya praktik pasar gela, yaitu pasar yang
pembentukan harganya di luar harga minimum.

2.Kebijakan Pendidikan

Kebijakan yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila yaitu :

- kebijakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), bantuan bagi siswa tak mampu.

- Tunjangan sertifikasi bagi para guru

3.Kebijakan Politik

Kebijakan yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila yaitu dengan pencabutan paket
undang-undang bidang politik dan menyusun yang baru dalam Undang-Undang Nomor
2 tahun 1999 tentang Partai Politik, Undang-Undang No. 3 tahun 1999 tentang
Pemilihan Umum, dan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1999 tentang Susunan dan
Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD, serta penggantian Undang-Undang Nomor 5 tahun
1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, dan Undang-Undang Nomor 5
tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, dengan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah beserta berbagai peraturan.

4.Kebijakan Hukum

Kebijakan yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila yaitu kebijakan terkait pemberian
remisi, asimilasi dan grasi.

5.Kebijakan sosial

Kebijakan yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila yaitu kebijakan sosial mengenai fakir
miskin mengacu pada pelaksanaan program JPS (Jaring Pengaman Sosial) yang
diterapkan di Indonesia paska krisis ekonomi. JAMKESMAS jaminan kesehatan
masyarakat.Kebijakan ini sesuai dengan pancasila karena masyarakat sangat
membutuhkan sistem kesehatan seperti puskesmas untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan masyarakat Indonesia. Selain itu, penyebaran tenaga kesehatan terutama
dokter telah berjalan lancer dengan adanya undang-undang wajib kerja sarjana dan
wajib kerja militer. Hal ini juga karena adanya dukungan penuh dari KOTI (Komandan
Tertinggi) dan KOGAM (Komandan Gabungan MIliter) yang ikut membiayai
pengiriman tenaga-tenaga kesehatan ke seluruh pelosok Nusantara. Adapun factor
pendukung lainnya yaitu dengan adanya program JPS (Jaring Pengaman Sosial) dan
JAMKESMAS ( Jaminan Kesehatan Masyarakat) bagi masyarakat yang kurang mampu
atau fakir miskin sehingga bisa mendapat keadilan dalam kesehatan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Kebijakan pendidikan merupakan suatu sikap dan tindakan yang di ambil seseorang
atau dengan kesepakatan kelompok pembuat kebijakan sebagai upaya untuk mengatasi
masalah atau suatu persoalan dalam dunia pendidikan. Implementasi Kebijakan
Pendidikan diIndonesia banyak tercantum di UUD 1945 yang mengatur tentang jalannya
pendidikan dari mulai kurikulum hingga anggaran pendidikan. Evaluasi Kebijakan
Pendidikan merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi
kebijakan dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat
keberhasilannya, evaluasi kebijakan pendidikan dapat dijadikan sebagai bahan
perbaikan untuk kebijakan-kebijakan selanjutnya.

3.2 Saran
Mahasiswa diharapkan dapat kritis dan tanggap dengan kebijakan-kebijakan
pemerintah. Hal ini sangat mempengaruhi perbaikan kebijakan selanjutnya karena kritis
dan tanggapnya respon masyarakat menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA

http://hidupkanmimpimu1.blogspot.co.id/2016/01/makalah-pancasila-kebijakan-
pemerintah_16.html

http://e-widiyanto.blogspot.co.id/2016/12/makalah-pancasila-kebijakan-pemerintah.html
TUGAS PANCASILA
“ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH SESUAI DENGAN NILAI-
NILAI PANCASILA”

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4

NAMA : 1. BAROKALLAH M. NAIM (061640411899)


2. BEKKA ALTA SHASKIA (061640411900)
3. MESA SAPUTRA (061640411906)
4. MONA SEPTARI (061640411907)
5. RAFFI NUGRAHA TAUFIK (061640411911)

KELAS : 4EGC

DOSEN PEMBIMBING : Fransisca.M,S.Sos.,M.Hum.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI D.IV TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA TAHUN PELAJARAN 2017/2018
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………..i
DAFTAR ISI………………………………………….ii

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………….1
1.2 Rumusan Masalah……..…………………………………………….1
1.3 Tujuan………………………………………………………………..1

BAB 2. ISI DAN PEMBAHASAN

2.1 Kebijakan pemerintah yang

sesuai dengan Pancasila………………………………..……2

2.2 Analisis Kebijakan Pemerintah…………………………….……..11

BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan…………….………………………………………….12

3.2 Saran…………………………………….………………………….12

DAFTAR PUSTAKA……………………………….13
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga makalah ini bisa selesai tepat pada
waktunya. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Pancasila yang berjudul “Analisis Kebijakan Pemerintah Sesuai
dengan Nilai-Nilai Pancasila”

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.Oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.

Dalam kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah berperan serta memberi dukungan berupa moril maupun
materi’il sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat waktu.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak.

Palembang, April 2018

Penyusun