Anda di halaman 1dari 34

LABORATORIUM FIBER OPTIK

LAPORAN PRATIKUM AKHIR


MATA KULIAH INSTALASI FIBER OPTIK

KELAS / GROUP : JTD 3E


NAMA KETUA : Anita Dwi P. (1541160095)
NAMA ANGGOTA : 1. Haidar A. N (1541160106)
2. Mei Rahayu P. (1541160040)
3. M Faadlil (1541160013)
NILAI :
DOSEN : SEPTRIANDI WIRA YOGA ST., MT.

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


PROGRAM STUDI JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang insyaallah


senantiasa memberikan Rahmat, Taufik, dan Hidayah-Nya kepada kami dalam
menaungi kehidupan ini.
Shalawat dan salam tetap kami haturkan kepada Nabi Muhammad SAW
beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikutinya sampai akhir zaman
di manapun mereka berada.
Alhamdulillah dengan izin dan kehendak dari-Nyalah, sehingga laporan
praktikum Fiber Optik ini dapat kami selesaikan.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing yang
telah memberikan gambaran tentang materi yang harus diselesaikan dan juga semua
pihak yang turut membantu menyelesaikan makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini berkenan bagi para pembaca dan semoga
apa yang ada dalam makalah ini dapat berguna bagi semua pihak. Kritik dan saran
membangun tetap kami perlukan untuk perbaikan ke depannya.

Malang, 04 Februari 2018

Penyusun

ii
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ............................................................................................................. ii
1.1. TUJUAN PRAKTIKUM .............................................................................................. 1
1.2. DASAR TEORI .......................................................................................................... 1
 Komunikasi dan Transmisi data Fiber Optik ........................................................... 4
1.3. ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN............................................................................... 5
1.4. PROSEDUR MELAKUKAN PERCOBAAN ................................................................... 8
 Menggunakan Splicer ............................................................................................. 8
 Memasang konektor ............................................................................................ 10
 Menghitung rugi-rugi pada kabel fiber optik terhadap bending .......................... 12
 Mengukur kualitas kabel fiber optic menggunakan OTDR ................................... 13
 Mengukur rugi rugi antar port fiber optic ............................................................ 14
1.5. ANALISA HASIL PERCOBAAN PRATIKUM .............................................................. 14
 Penyambungan dengan Splicer ............................................................................ 14
 Pemasangan Konektor SC .................................................................................... 15
 Perhitungan Rugi-rugi terhadap Bending ............................................................. 16
1.6. KESIMPULAN ........................................................................................................ 31

iii
FIBER OPTIK SINYAL ANALOG

1.1.TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mengamati dan menguji pengiriman sinyal analog melalui fiber optik.
2. Mengukur pengaruh panjang saluran terhadap redaman pada transmisi
fiber optik.
3. Membandingkan input dan output sinyal analog melalui fiber optik.
4. Menguji fiber optik dengan OTDR

1.2.DASAR TEORI
 Rugi-rugi Fiber Optik
Dalam pentransmisian sinyal pada teknologi komunikasi, fiber optik makin
banyak menggantikan saluran transmisi kawat. Hal ini disebabkan saluran fiber
optik memberikan beberapa keuntungan dibandingkan dengan saluran kawat.
Pertama, dikarenakan cahaya secara efektif adalah sama seperti radiasi radio
frekuensi yang jauh lebih tinggi, maka dalam teori kapasitas pembawaan informasi
dari suatu fiber adalah jauh lebih besar dari pada sistem-sistem radio gelombang
mikro. Berikutnya, bahan yang digunakan dalam fiber adalah gelas silika atau
dioksida silikon, yang merupakan salah satu dari bahan-bahan yang paling banyak
terdapat di bumi kita, sehingga nantinya biaya saluran-saluran semacam ini pasti
akan jauh lebih rendah, baik dari saluran-saluran kawat maupun sistem-sistem
gelombang mikro.
Fiber optik tidak bersifat menghantarkan listrik, sehingga dapat digunakan
di daerah-daerah dimana isolasi listrik dan interferensi merupakan masalah berat.
Dan karena kapasitas informasinya yang tinggi, rute-rute saluran majemuk dapat
diringkas menjadi kabel-kabel yang jauh lebih kecil, sehingga dapat mengurangi
kemacetan pada channel yang sudah sangat padat. Dengan teknologi yang telah
dikuasi pada saat ini, sistem komunikasi fiber optik masih sedikit lebih mahal
daripada sistem kawat atau radio yang setara, tetapi keadaan ini dapat berubah
dengan cepat. Sistem fiber optik dengan cepat akan mampu bersaing dengan sistem-

1
sistem lain dalam harga, dan dengan kelebihan-kelebihannya yang lain, makin lama
akan makin banyak sistem lain yang menggantikannya.
Rugi-rugi dalam fiber optic adalah sebagai berikut:
a. Rugi-rugi penyebaran Rayleigh
Gelas dalam fiber optik adalah suatu benda pada amorphous (tidak
berbentuk kristal atau noncrystalline), yang dibentuk dengan cara
membiarkan gelas itu mendingin dari keadaan cairnya pada suhu tinggi
hingga dia membeku, sementara masih dalam keadaan plastik, gelas itu
ditarik dengan menggunakan tegangan kedalam bentuk fiber yang
panjang. Selama dalam proses pembentukan ini, variasi-variasi sub
mikroskopis dalam kerapatan gelas dan dalam campuran-campuran di
dalamnya ikut dibekukan di dalam gelas, dan kemudian menjadi facet-
facet yang memantulkan dan membiaskan serta menyebarkan sebagian
kecil cahaya yang lewat melalui gelas tersebut. Meskipun teknik
pembuatan yang teliti dapat mengurangi anomali-anomali ini hingga
minimum, hal tersebut tidak dapat sepenuhnya dihilangkan.
Penyebaran Rayleigh terjadi sebagai akibat tidak homogennya
indeks bias pada core serat optik. Bilamana pada core serat optik
terjadi perubahan indeks bias yang lebih pendek daripada panjang
gelombang sinar yang dirambatkan, maka akan terjadi hamburan.

Gambar 1. Penyebaran Rayleigh


b. Rugi-rugi penyerapan
Terdapat tiga macam, yaitu penyerapan ultraviolet, penyerapan infra
merah, dan penyerapan resonansi ion. Tiga mekanisme yang berbeda
memberikan sambungannya pada rugi-rugi penyerapan (absorption
losses) dalam fiber glass.

2
c. Rugi-rugi penggandengan
Daya yang sudah dilepaskan dengan baik ke dalam suatu ragam
yang merambat mungkin kemudian digandengkan ke dalam suatu
ragam bocor atau ragam radiasi pada sebuah titik yang agak jauh pada
fiber. Efek penggandengan ini dapat terjadi karena rugirugi ini timbul
pada saat serat optik dikopel/disambungkan dengan sumber cahaya atau
photo detector. Rugi-rugi coupling dapat diperkecil dengan
penambahan lensa di depan sumber cahaya atau pembentukan
permukaan tertentu (misalnya spherical-surface) pada sumber cahaya
atau ujung fiber.

Gambar 2. Penggandengan (Mode Coupling)


d. Rugi-rugi pembengkokan
Ada dua jenis pembengkokan yang menyebabkan rugi-rugi
dalam fiber, yaitu pembengkokan-mikro (microbending) dan
pembengkokan-makro (macrobending). Keduanya timbul karena
alasan yang berbeda, dan menimbulkan rugi-rugi dengan dua macam
mekanisme yang berbeda pula.
Pembengkokan mikro adalah suatu pembengkokan mikroskopis
dari inti fiber yang disebabkan oleh laju penyusutan (contraction)
thermal yang sedikit berbeda antara bahan inti dan bahan pelapis.
Pembengkokan mikro dapat juga timbul bila fiber berulang kali
digulung menjadi suatu kabel fiber majemuk (multifiber cable), atau
bila digulung pada kelos-kelos untuk memudahkan pengangkutannya.
Makin tajam belokan itu dibuat, makin banyak pula ragam-ragam
yang terlepas pada belokan. Pembengkokan makro adalah
pelengkungan fiber optic

3
Gambar 3. Pembengkokkan (Bending)
 Komunikasi dan Transmisi data Fiber Optik
Gambar 4. adalah contoh pengaplikasian fiber optik dalam sistem
komunikasi.

Gambar 4 Blok Diagram Komunikasi data menggunakan Fiber Optik

Prinsip-prinsip dasar dari komunikasi fiber optic ialah sinyal itu lewat dari
fase seperti pada bentuk gelombang analog. Kemudian, melalui pengubah analog
menjadi digital yang mngubah gelombang analog menjadi rangkaian pulsa digital.
Lalu, sinyal digital itu melewati sumber sinyal yang mungkin laser atau LED, yang
mengubah pulsa digital elektronik menjadi pulsa sinar yang ekuivalen. Pada akhir
penerimaan suatu detector menangkap pulsa sinar dan menerjemahkannya dalam
pulsa digital, yang kemudian terus melalui pengubah analog menghubungkan
dengan kabel fiber optik yang mengeluarkan sinar digital, seperti misal komputer,
konversi anaog menjadi digital tidak diperlukan. Dalam banyak sirkuit fiber optik
teresterial, repeater yang untuk membuat sinyal ditempati kira-kira setiap 40 km.
Supaya dibuat, pulsa sinar itu pertama tama harus diubah lagi menjadi pulsa
elektrik. Kemudian, sinyal itu dibuat dan diubah lagi dalam pulsa sinar.
Berlainan dengan telekomunikasi yang mempergunakan gelombang
electromagnet, maka pada fiber optik gelombang cahayalah yang bertugas
membawa sinyal informasi. Pertama-tama microphone merubah sinyal suara
menjadi sinyal listrik. Kemudian, sinyal listrik ini dibawa oleh gelombang
pembawa cahaya melalui fiber optik dari pengirim (transmitter) menuju alat
penerima (receiver) yang terletak pada ujung lainnya dari fiber. Modulasi

4
gelombang cahaya ini dapat dilakukan dengan merubah sinyal listrik termodulasi
menjadi gelombang cahaya pada transmitter dan kemudian merubahnya kembali
menjadi sinyal listrik pada receiver. Pada receiver sinyal listrik dapat dirubah
kembali menjadi gelombang suara. Tugas untuk merubah sinyal listrik ke
gelombang cahaya atau kebalikannya dapat dilakukan oleh komponen elektronik
yang dikenal dengan nama komponen optoelectronic pada setiap ujung fiber optik.

1.3.ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN


 OTDR (FHO5000 Optical Time Domain Reflectometer)

 Fiber Optik Single Mode

 Alkohol 96 %

5
 Tang Potong

 Konektor SC

 Laser

6
 Optical Power Meter (JW3208)

 Handheld Light Source (JW3109)

 Splicer (Techwin TCW-605S Fusion Splicer)

7
 Cleaver (Fiber Cleaver FC-6S)

 Pelindung kabel fiber

1.4.PROSEDUR MELAKUKAN PERCOBAAN


 Menggunakan Splicer
 Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
 Mengupas outer kabel fiber optik dengan menggunakan tang
pemotong hingga terlihat inti (core) dari FO.

 Membersihkan core (inti) kabel fiber optik dengan menggunakan


tisu yang telah diberi alkohol hingga tidak ada kotoran yang
menempel

8
 Setelah dibersihkan memotong kedua ujung dari core FO tersebut
menggunakan cleaver untuk menghindari adanya ujung core yang
pecah dan memudahkan pada saat proses penyambungan FO
sehingga kabel FO tersambung dengan sempurna.

 Melakukan proses splicing menggunakan splicer dengan cara


meletakkan 2 kabel FO yang telah di potong dan dibersihkan.
Pastikan kedua ujungnya rata dan tidak ada yg pecah. Lalu tutup
penutupnya dan tekan set. Maka hasil yang akan di dapatkan adalah
kabel FO tersambung dengan sempurna dan rugi-ruginya sebsar
0.01 dB

 Mengulang prosedur yang sama untuk penyambungan kabel


berikutnya

9
 Setelah proses penyambungan selesai semua, hasil sambungan akan
dipasang pelindung untuk melindungi dan mencegah putusnya
sambungan pada saat digunakan.
 Cara memasang pelindung tersebut adalah dengan memasukkan
pelindung sambungan tepat di bagian core yang telah disambung.
Pastikan memasang pelindung dengan tepat agar tidak terjadi
patahnya sambungan pada saat dipakai.
 Lalu meletakkan pelindung sambungan di splicer pada bagian
pemanasnya. Setelah itu tekan het untuk menyalakan proses
pemanasan sehingga hasil yang di dapat adalah pelindung melekat
sempurna pada core FO.
 Memasang konektor
 Menyiapkan konektor SC yang akan dipasang pada kabel FO
 Membuka bagian-bagian konektor SC

 Memasukkan bagian ujung konektor SC ke dalam kabel FO tadi,


buka bagian atas konektor untuk memasukkan salah satu ujung
kabel FO. Pada saat memasukkan ujung kabel FO ke dalam konektor
pastikan kamu memasukkannya hingga mentok (hingga ujungnya
itu menyentuh konektor). Lalu tutup kembali bagian atas
konektornya.

10
 Mengunci konektor SC pertama dengan mendorong ke atas pada
bagian tengah yang berwarna kuning. Mengulang pada ujung kabel
FO lainnya.

 Memastikan kabel FO dan konektor terpasang dengan benar,


memasangkan salah satu ujung FO yang telah terpasang konektor
pada alat Visual Fault Locator. Lalu nyalakan alat tersebut. Pada saat
menguji dengan alat visual pastikan nyala lampu berwarna merah
terang. Jika belum nyala seperti itu berarti ada yang salah pada saat
pemasangan konektor.

11
 Mengunci kembali konektor SC dengan memasukkan bagian
konektor SC yang berwarna biru. Pada saat mengunci dengan bagian
konektor yang berwarna biru, pastikan menguncinya hingga
terdengar suara klik.
 Lalu memutar bagian ujung dr konektor yang sudah dimasukkan
pada awal tadi sehingga konektor tidak akan lepas
 Kabel Fiber Optik siap digunakan

 Menghitung rugi-rugi pada kabel fiber optik terhadap bending


 Menyiapkan kabel FO yang telah dipasang konektor tadi
 Memasang ujung konektor SC dengan jumper untuk dihubungkan
pada kabel FO yang berkonektor FC
 Memasang salah satu ujung FO pada alat OPM dan di sisi lain di
pasang pada alat OLS
 Mengatur lamda pada 1310 nm dan atur frekuensi mulai dari 0 Hz
 Pada alat OPM juga diatur satuannya, yang awalnya dB diubah
menjadi dBm dan lamdanya di atur 1310 nm juga
 Lalu kabel FO tadi dililitkan minimal 3 lilitan pada alat bending
dengan diameter yang sudah dijelaskan. Amati dan catat hasilnya.
Hitung rugi-rugi keseluruhan

12
 Mengulangi langkah 4 untuk frekuensi 270, 1000 dan 2000 kHz.
Catat hasilnya.
 Mengulangi langkah 3-6 hanya saja dengan lamda yang berbeda
(lamda 1550 nm) dan frekuensi yang sama ,mulai dari 0 Hz hingga
2000 Hz.
 Mengukur kualitas kabel fiber optic menggunakan OTDR
 Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
 Memasang salah satu ujung kabel FO pada alat OTDR dan di ujung
lainnya dipasang pada pin/port yang tersambung dengan alat OTDR

 Menghidupkan alat OTDR dengan menekan tombol on/off, lalu atur


lamdanya sebesar 1310 nm. Kemudian tekan tombol test
 Mengamati dan mencatat nilai rugi-rugi yang muncul pada alat
OTDR

13
 Mengulangi langkah di atas untuk port 2 hingga 12 dan catat
hasilnya juga
 Mengulangi langkah 3 untuk lamda 1550 nm dan catat hasilnya
 Mengukur rugi rugi antar port fiber optic
 Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
 Pada Input
 menyambungkan salah satu ujung kabel fiber optik pada
konektor sc kabel FO single mode
 Menyambungkan ujung lain FO pada port input FO
 Menyambungkan ujung konektor kabel FO single mode
pada OPM
 Mengatur Frekuensi menjadi 270 Hz dan lamda 1310 nm
pada OPM input
 Pada Output
 Menyambungkan salah satu ujung kabel FO pada OPM yang
akan diletakkan pada output
 Menyambungkan ujung yang lainnya pada port output
 Mengatur frekuensi menjadi 270 Hz dan 1310 nm pada OPM
input
 Mengamati hasil yang muncul pada layar alat OPM

1.5.ANALISA HASIL PERCOBAAN PRATIKUM


 Penyambungan dengan Splicer

14
Pada penyambungan kabel FO dengan splicer dapat diketahui bahwa
jika hasil penyambungan itu memiliki nilai rugu-rugi estimati
dibawah 0.01 dB maka kualitas kabel FO nya baik tetapi jika nilai
rugi-rugi estimasinya di atas 0.01 dB maka proses pengiriman
datanya jelek dan mengalami hambatan (loss).
 Pemasangan Konektor SC

Pada pemasangan konektor SC pada kabel FO harus


diperhatikan bahwa kabel fiber optik akan siap digunakan ketika kita
mengunci konektor dengan tepat dan mengecek cahaya yang muncul
dengan menggunakan laser. Hal lain yang perlu diperhatikan jika
ingin mengunci konektor adalah pastikan kabel FO itu dipasang
sampai mentok (atau sampai ujung kabel FO saling bersentuhan
dengan dinding konektor) agar tidak ada kebocoran dalam
perambatan cahayanya, karena pada prinsipnya serat optic
memantulkan dan membiaskan sejumlah cahaya yang merambat di
dalamnya. Jika terjadi kebocoran cahaya saat perambatan, maka
proses pengiriman data kurang maksimal. Dan dalam pengecekan,
nyala lampu laser yang dihasilkan adalah berwarna merah terang.
Jika warna yang didapat itu kurang begitu terang maka kabel FO
tersebut mungkin kurang bersih dalam pembersihannya atau kurang
bersentuhannya antara ujung kabel FO dengan dinding konektor dan
bisa juga disebabkan karena pemotongannya kurang rata jadi terjadi

15
keretakan di ujung kabel FO sehingga tidak bisa menghantarkan
cahaya dengan sempurna.
Pemasangan konektor ini harus sangat hati-hati dikarenakan
kabel fiber yang panjang dan sangat kecil dimana rentan akan patah
baik di sambungannya atau dibagian yang lain. Kabel fiber optic
yang dipakai sebenarnya terlalu kecil jika harus dipasangkan dengan
konektor SC, kabel optic yang hanya berukuran ±1mm dipasangkan
dengan konektor SC yang lubang ya berdiameter ±5mm.
 Perhitungan Rugi-rugi terhadap Bending
 Tanpa dan dengan Bending
Frekuensi Sebelum Sesudah
Bending (cm) Lamda Loss
(Hz) (dBm) (dBm)
0 -14.44 -09.51 -4,93
270 -17.79 -12.05 -5,74
1310
1000 -17.80 -12.78 -5,02

2000 -17.11 -12.50 -4,61


3
0 -16.28 -10.09 -6,19

270 -18,56 -13.89 -4,67


1550
1000 -18.09 -13.57 -4,52

2000 -18.35 -13.76 -4,59

0 -14.25 -09.76 -4,49

270 -17.45 -12.97 -4,48


1310
1000 -17.32 -12.95 -4,37

2000 -17.41 -12.84 -4,57


4
0 -16.32 -10.18 -6,14

270 -18.45 -13.04 -5,41


1550
1000 -18.35 -13.62 -4,73

2000 -18.46 -13.86 -4,6

0 -14.28 -09.26 -5,02


5 1310
270 -17.52 -12.13 -5,39

16
1000 -17.40 -12.54 -4,86

2000 -17.64 -12.45 -5,19

0 -16.22 -10.24 -5,98

270 -18.55 -13.06 -5,49


1550
1000 -18.87 -13.72 -5,15

2000 -18.93 -13.95 -4,98

Perhitungan rugi-rugi terhadap bending ini dilakukan secara 2 kali.


Pengukuran yang pertama dilakukan tanpa bending, dapat diketahui bahwa hasil
yang didapat adalah nilai loss yang relatif lebih besar dibandingkan dengan
menggunakan bending. Untuk mendapatkan hasil loss tersebut diperoleh dari nilai
selisih antara nilai sebelum di bending (tanpa bending) dan nilai setelah di bending
(dengan bending). Semakin besar frekuensi yang digunakan maka semakin besar
nilai lossnya. Sedangkan untuk nilai lamda 1310 memiliki nilai loss yang lebih
besar dari lamda 1550 nm. Dan semakin besar diameter bending maka samakin
kecil nilai lossnya.
 Pengkuran Kualitas Fiber Optik
λ=1310 nm
Port Gambar Hasil
1 point 1 yaitu endpoint pada
jarak 14.58m terdapat reflection
sebesar -51.8dB

17
2 point 1 yaitu endpoint pada
jarak 14.58m terdapat reflection
sebesar -51.8dB

3 point 1 yaitu endpoint pada


jarak 14.58m terdapat reflection
sebesar -51.9dB

4 point 1 yaitu endpoint pada


jarak 14.58m terdapat reflection
sebesar -51.1dB

5 point 1 yaitu endpoint pada


jarak 14.58m terdapat reflection
sebesar -51.4dB

6 point 1 yaitu endpoint pada


jarak 14.58m terdapat reflection
sebesar -51.5dB

18
7 point 1 yaitu endpoint pada
jarak 14.58m terdapat reflection
sebesar -51.4dB

8 point 1 yaitu endpoint pada


jarak 14.58m terdapat reflection
sebesar -52.2dB

9 point 1 yaitu endpoint pada


jarak 14.58m terdapat reflection
sebesar -51.8dB

10 point 1 yaitu endpoint pada


jarak 14.58 m terdapat reflection
sebesar -51.3dB

11 point 1 yaitu endpoint pada


jarak 14.58m terdapat reflection
sebesar -50.8dB

19
12 point 1 yaitu endpoint pada
jarak 14.58m terdapat reflection
sebesar -50.7dB

λ=1550 nm
Port Gambar Hasil
1 Point 1 yaitu start event
yang diketahui pada
jarak 187m memiliki
loss 1.276 dB dan total
lossnya 0.054 dB.
Point 2 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 421m dengan
total loss dB sebesar
2.839 dB
2 Point 1 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 194m dengan
loss dBnya sebesar
5.582 dB

3 Point 1 yaitu start


event yang diketahui
pada jarak 197m
dengan loss dBnya
sebesar 1.235 Db dan

20
total loss dBnya
sebesar 0.056 dB
Point 2 yaitu non
reflected yang
diketahui pada jarak
513m dengan loss
dBnya sebesar
0.767dB dan total
dBnya sebesar
3.429dB
Point 3 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 619m dengan
total dBnya sebesar
4.488 dB

4 Point 1 yaitu start


event yang diketahui
pada jarak 288m
dengan loss dBnya
sebesar 1.039 Db dan
total loss dBnya
sebesar 0.073 Db
Point 2 yaitu non
reflected yang
diketahui pada jarak
405m dengan loss
dBnya sebesar 0.871
dB dan total dBnya
sebesar 1476 dB
Point 3 yaitu non
reflected yang

21
diketahui pada jarak
566m dengan loss
dBnya sebesar 0.653
dB dan total dBnya
sebesar 3.120 dB
Point 4 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 716m dengan
total loss dBnya
sebesar
4.413 dB

5 Point 1 yaitu start event


yang diketahui pada
jarak 196m memiliki
loss 1.273 dB dan total
lossnya 0.056 dB.
Point 2 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 448m dengan
total loss dB sebesar
2.978 dB
6 Point 1 yaitu start event
yang diketahui pada
jarak 188m memiliki
loss 1.292 dB dan total
lossnya 0.054 dB.
Point 2 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 542m dengan
total loss dB sebesar
3.947 dB

22
7 Point 1 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 209m dengan
total loss dB sebesar
5.549 Db

8 Point 1 yaitu start


event yang diketahui
pada jarak 196m loss
dBnya sebesar 1.258
dB dan total loss
dBnya sebesar 0.056
Db
Point 2 yaitu non
reflected yang
diketahui pada jarak
405m dengan loss
dBnya sebesar
0.917dB dan total
dBnya sebesar 2.485
Point 3 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 517m dengan
total dBnya sebesar
3.456dB

23
9 Point 1 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 195m total loss
dB sebesar 5.576 Db

10 Point 1 yaitu start


event yang diketahui
pada jarak 197m
memiliki loss dBnya
sebesar 1.277 Db dan
total loss dBnya
sebesar 0.056 dB
Point 2 yaitu non
reflected yang
diketahui pada jarak
381m dengan loss
dBnya sebesar
1.027dB dan total
dBnya sebesar
2.179dB
Point 3 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 558m dengan
total dBnya sebesar
3.883dB

24
11 Point 1 yaitu start event
yang diketahui pada
jarak 218m memiliki
loss 1.140 dB dan total
lossnya 0.060 dB.
Point 2 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 610m memiliki
total loss dB sebesar
3.907 dB
12 Point 1 yaitu start
event yang diketahui
pada jarak 227m
dengan loss dBnya
sebesar 1.123 Db dan
total loss dBnya
sebesar 0.061 Db
Point 2 yaitu non
reflected yang
diketahui pada jarak
508m dengan loss
dBnya sebesar
0.495dB dan total
dBnya sebesar 3.082
Point 3 yaitu non
reflected yang
diketahui pada jarak
545m dengan loss
dBnya sebesar
0.503dB dan total
dBnya sebesar
3.394dB

25
Point 4 yaitu endpoint
yang diketahui pada
jarak 585m dengan
total dBnya sebesar
3.736dB

Terdapat 3 simbol pada otdr yaitu


 Reflective Event
Terjadi pemantulan pada saat mengirimkan energi pada titik
tertentu
 Non- Reflective
Terjadi pelemahan atau redaman pada titik tertentu
 End event
Akhir dari sambungan atau ujung dari sambungan
Pada λ 1310 nm ,tidak terjadi redaman sama sekali tetapi terdapat
reflection atau pemantulan kembali energi yang telah di
pancarkan.energi tersebut memantul pada titik tertentu sehingga
kembali ke sumber.
Pada λ 1550 nm.semua port terhubung karena ketika dihubungkan
antara port dengan otdr muncul point point pada layar otdr yang
menunjukan jarak,loss,dan T loss.meskipun tiap port yg muncul
pointnya berbeda beda.ada yang munculnya 1 point,2 point ,3 point
dan 4 point.misalkan pada port 1 terdapat 2 point yang tampil pada
layer otdr,pada port 2 terdapat 1 point,pada port 3 terdapat 3 point
dan pada port 4 terdapat 4 point.point ini menunjukan
redaman.Redaman terbesar ada pada port 2 yaitu 5.582 dB dan
redaman terkecil ada pada port 5 sebesar 2.978 dB

26
 Pengkuran Rugi-rugi antar Port FO
Port Gambar Hasil
1 Pada saat konektor dihubungkan ke
port 1A dan port 1B didapat nilai
OPM sebesar -50 dBm

2 Pada saat konektor dihubungkan ke


port 2A dan port 2B didapat nilai
OPM sebesar -18.80 dBm

3 Pada saat konektor dihubungkan ke


port 3A dan port 3B didapat nilai
OPM sebesar -18.87 dBm

27
4 Pada saat konektor dihubungkan ke
port 4A dan port 4B didapat nilai
OPM sebesar -19.22 dBm

5 Pada saat konektor dihubungkan ke


port 5A dan port 5B didapat nilai
OPM sebesar -50 dBm

6 Pada saat konektor dihubungkan ke


port 6A dan port 6B didapat nilai
OPM sebesar -19.34 dBm

28
7 Pada saat konektor dihubungkan ke
port 7A dan port 7B didapat nilai
OPM sebesar -18.55 dBm

8 Pada saat konektor dihubungkan ke


port 8A dan port 8B didapat nilai
OPM sebesar -19.01 dB

9 Pada saat konektor dihubungkan ke


port 9A dan port 9B didapat nilai
OPM sebesar -22.57 dBm

29
10 Pada saat konektor dihubungkan ke
port 10A dan port 10B didapat nilai
OPM sebesar -50 dBm

11 Pada saat konektor dihubungkan ke


port 11A dan port 11B didapat nilai
OPM sebesar -32.34 dB

12 Pada saat konektor dihubungkan ke


port 12A dan port 12B didapat nilai
OPM sebesar -50 dB

Pada pengecekan hubungan port to port di dapat nilai redaman yang


berbeda beda.port to port yang mendapatkan redaman -50dBm maka akan terjadi
loss atau sambungan putus.Tapi jika redamannya kurang dari -50dBm maka tidak
akan terjadi loss.

30
1.6.KESIMPULAN
 Pengkuran Kualitas Fiber Optik
Ada tiga symbol yang digunakan pada otdr. Pada λ 1310 nm terjadi
reflection event sehingga energi yang dikirimkan terpantul dan
kembali ke sumber.sedangkan Pada λ 1550 nm terdapat point tiap
port yang muncul pada layer otdr yang menunjukkan adanya
hubungan atau terhubung.karena point ini menunjukkan terjadinya
redaman.redaman terbesar terjadi pada port 2 dan redaman terkecil
pada port 5.
 Pengkuran Rugi-rugi antar Port FO
Tidak akan terjadi loss jika redaman kurang dari -50 dB ,tapi jika
redaman -50 dB maka akan terjadi loss atau putus hubungan seperti
yang diketahui pada port 1,5,10 dan 12 terjadi redaman sebesar -50
dB ini di akibatkan karena banyaknya bending pada hubungan antar
port.

31