Anda di halaman 1dari 7

PROVINSI MALUKU

Pakaian Adat Maluku :

Salah satu baju adat yang begitu kaya warna dan motif adalah baju adat dari daerah Maluku.
Baju adat Maluku ini memiliki corak warna beragam seperti merah, coklat, marun, dan
sebagainya. Motif baju adat ini biasanya adalah garis-garis geometri atau kotak-kotak kecil yang
merupakan hasil anyaman dari berbagai warna benang. Mengenakan baju adat ini biasanya
dikombinasikan dengan sarung tenun khas Maluku yang biasanya dipilih berdasarkan warna
yang senada. Kain sarung tenun kas Maluku ini begitu indah dan dibuat masih secara tradisional
dengan teknik tenun yang begitu menawan. Anda bisa memilikinya untuk dipadukan dengan
atasan baju kerja atau dikombinasikan dengan kebaya. Bukan hanya itu, sarung tenun kas
Maluku juga sangat pas untuk dijadikan cinderamata atau buah tangan untuk rekan kerja maupun
orang-orang tercinta. Baju adat Maluku ini yang dikenal dengan cele ini masih sering digunakan
untuk beberapa upacara adat, seperti upacara pelantikan raja, upacara cuci negri, dan lain-lain.
Baju adat Maluku ini sering digunakan beserta kain pelekat yang disebut disalele,
penggunaannya ada yang di luar dan melapisi baju yang ada di dalamnya. Sedangkan, sarung
dikenakan sampai sebatas lutut, lalu dengan menggunakan lenso di pundak maka lengkap sudah
baju adat kas Maluku ini. Lenso adalah sapu tangan yang diletakkan di pundak.
Rumah Adat Maluku

Rumah adat Baileo adalah rumah adat di daerah Maluku sebagai representasi kebudayaan
masyarakat Maluku memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan masyarakat Maluku. Salah
satu fungsi rumah adat Baileo adalah tempat untuk berkumpul seluruh warga. Perkumpulan
warga di rumah adat Baileo merupakan aktivitas yang dilakukan dalam rangka mendiskusikan
permasalahan-permasalahan yang sedang di hadapi oleh masyarakat setempat. Selain itu, tempat
ini memiliki fungsi lain yaitu tempat untuk menyimpan benda-benda keramat, tempat upacara
adat dan sekaligus tempat untuk bermusyawarah. Baileo itu sebutan atau nama dari rumah adat
orang Maluku, dengan bentuk bangunan yang besar, material bangunan sebagian besar berbahan
dasar kayu, kokoh dengan cukup banyak ornamen, ukiran yang menghiasi seluruh bagian dari
rumah tersebut. Baileo merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat pertemuan warga
(balai bersama), selain sebagai tempat pertemuan / kegiatan Baileo juga berfungsi untuk
menyimpan benda-benda suci, senjata atau pusaka peninggalan dari nenek moyang warga
kampung tersebut
Sistem Kekerabatan dan Sistem Perkawinan :
Dalam system kemasyarakatan masyarakat Ambon mengambil system kekerabatan yang bersifat
ke-Ayahan “Patrilineal”. Di dalam kekerabatan yang memegang peranan penting ada dua yaitu.
“Mata rantai”, mata rumah ini biasanya bertugas mengatur perkawinan warganya
secara“Exogami” dan dalam hal mengatur penggunaan tanah-tanah “dati” tanah milik kerabat
patrilineal. “Family”, family merupakan kesatuan terkecil dalam mata rumah. Family ini
berfungsi sebagai pengatur pernikahan klenya.
Perkawinan dalam masyarakat Ambon merupakan urusan mata rumah dan keluarga. Di dalam
masyarakat Ambon perkawinan di kenal dengan beberapa macam, diantaranya :
1. Kawin minta ialah perkawinan yang terjadi apabila seorang pemuda telah menemukan
seorang gadis yang akan dijadikan istri, maka pemuda in meminta pada mata rumah dan
family untuk melamarnya. Sebelum acara pelamaran para mata rumah dan family
mengadakan rapat adat satu klen dalam persiapan acara pelamaran.
2. Kawin lari lari bini adalah system perkawinan yang paling lazim di lakukan oleh masyarakat
Ambon. Hal ini di karenakan oleh masyarakat Ambon lebih suka jalan pendek, untuk
menghindari prosedur perundingan dan upacara adat.
3. Kawin masuk kawin menua yaitu perkawinan yang pengantin laki-lakinya tinggal di rumah
pengantin perempuannya. Perkawinan ini terjadi apabila :
 Kaum kerabat si pengantin tidak dapat membayar maskawin secara adat
 Penganten perempuan merupakan anak tunggal dalam keluarganya.
 Karena ayah dari pengaten laki-laki tidak setuju dengan perkawinan tersebuT.
Tarian
Tari Bambu Gila

Atraksi Bambu Gila, sebuah permainan rakyat yang berasal dari Maluku. Sebuah kekayaan
budaya yang di miliki indonesia. Maluku punya banyak budaya dan beragam Tarian, tidak heran
Banyak penyanyi, pemusik dan penari yang berasal dari Maluku. Budaya Maluku memang erat
sekali dengan tradisi bermain musik serta tari-menari. diantara begitu banyaknya Tarian
Tradisional khas Maluku, ada 1 yang unik yaitu Salah satu tarian tradisional adalah sebuah tarian
yang bernama tari Bulu Gila atau Bambu Gila, suatu tarian yang berasal dari permainan rakyat
Maluku Tengah. Tarian ini begitu banyak dicari wisatawan yang mengunjungi Maluku, begitu
menariknya karena Tarian Bambu Gila ini dibantu oleh kekuatan Supranatural.

PROVINSI MALUKU UTARA


Rumah Adat Maluku Utara
Maluku Utara memiliki dua macam rumah adat yang menjadi ciri khas kota Maluku Utara yaitu
rumah adat Sasadu yang berasal dari Halmahera Barat. Sedangkan pada tahun 2007 dibangun
rumah adat Hibualamo yang berada di Halmahera Utara.
Rumah Adat Sasadu

Rumah adat Sasadu merupakan rumah adat yang diwariskan oleh leluhur suku Sahu di Pulau
Halmahera Barat, Maluku Utara. Sasadu berasal dari kata Sasa – Sela – Lamo atau besar dan
Tatadus – Tadus atau berlindung, sehingga Sasadu memiliki arti berlindung di rumah besar.
Rumah adat Sasadu memiliki bentuk yang simpel atau sederhana yaitu berupa rumah panggung
yang dibangun menggunakan bahan kayu sebagai pilar atau tiang penyangga yang berasal dari
batang pohon sagu, anyaman daun sagu sebagai penutup atap rumah adat dan memiliki dua
pijakan tangga terletak di sisi kiri dan kanan.
Pada rumah adat Sasadu terdapat dua ujung atap kayu yang diukir dan memiliki bentuk haluan
dan buritan perahu yang terdapat pada kedua ujung atap. Bubungan tersebut melambangkan
perahu yang sedang berlayar karena suku Sahu merupakan suku yang suka berlayar mengarungi
samudera. Selain itu pada bubungan atapnya digantungkan dua buah bulatan yang dibungkus
ijuk. Bulatan itu menggambarkan simbol dua kekuatan supranatural yaitu kekuatan untuk
membinasakan dan kekuatan untuk melindungi.
Pakaian Adat
Berbicara tentang budaya Maluku Utara, pada kesempatan kali ini kami akan mengulas salah
satu peninggalan kebudayaan yang berupa pakaian adat. Pakaian adat Maluku Utara selain
berguna sebagai pemenuhan kebutuhan fisik sandang, juga dapat berfungsi sebagai status sosial
pemakainya, mengingat terdapat perbedaan-perbedaan yang spesifik dalam aturan pengenaan
pakaian adat tersebut berdasarkan kedudukan pemakainya dalam strata sosial.

Sedikitnya kami telah merangkum 4 jenis pakaian adat Maluku utara berdasarkan kelas sosial
pemakainya. Keempat jenis pakaian tersebut antara lain pakaian adat sultan dan permaisuri,
pakaian adat bangsawan, pakaian adat remaja putra putri, dan pakaian adat rakyat biasa.
Tari daerah
Tari Gumatere
Tari Gumatre adalah sejenis tarian tradisional masyarakat Maluku Utara yang dimaksudkan
untuk meminta petunjuk atas suatu persoalan ataupun fenomena alam yang sedang terjadi. Tarian
ini dibawakan oleh 30 orang penari pria dan wanita.

Penari pria menggunakan tombak dan pedang sedangkan penari wanita menggunakan lenso.
Yang unik dari tarian ini adalah salah seorang penari akan menggunakan kain hitam, nyiru dan
lilin untuk ritual meminta petunjuk atas suatu kejadian. Gumatere merupakan tarian tradisional
rakyat Morotai.
Sistem Kekerabatan
Pada zaman dahulu kala, tepatnya zaman kerajaan atau kesultanan Ternate dan Tidore
terdiri atas beberapa strata social. Terbagi berdasarkan ketururan tapi tidak menentukan kasta
seseorang sehingga tidak bersifat fungsional diantaranya :
1. Golongan Jou
Yaitu golongan isatana, yang terdiri dari sultan dan keluarganya, sampai tiga turunan satu
garis lurus langsung. Sebutan terhadap kedua golongan ini, misalnya: JOU KOLANO (yang
mulia sultan), dengan nama kebesaran. Sedangkan sebutan ubtuk Permaisuri Sultan: JO-
BOKI (singkatan dari kata JOU MA-BOKI), sebutan untuk anak putra sultan : KAICILI
PUTRA, dan BOKI PUTRI (putrid sultan). Keraton kesultanan Ternate adalah tempat tinggal
mereka.Golongan Jou memakai penuttup kepala berwarna Putih, hanya dipakai oleh
golongan Jou TUALA BUBUDO.
2. Golongan Dano
Yaitu golongan keluarga cucu sultan dan anak anak yang dilahirkan dari Putri Sultan dengan
orang dari luar lingkungan istana atau golongan masyarakat biasa, juga termasuk keturunan
dari kanak kanak maupun adik kandung sang Sultan. Penutup kepalanya – Pejabat
Kesultanan (KAPITA/FABYIRA).
3. Golongan Bala
Golongan ini sering disebut dengan (BALA KUSUSEKANOKANO), yaitu mereka yang
berada di luar kedua golongan diatas (raknyat biasa).Penutup kepala khasnya adalah TUALA
KURCACI.

Tidak menutup kemungkinan rakyat biasa dapat ikut serta dalam jabatan jabatan tinggi
misalnya Kepala adat.Disamping pembagian diatas, terdapat pula pembagian berdasarkan
wilayah, yaitu;
1) SOA SIO
Yaitu terbagi dalam beberapa SOA/MARGA.SOA terdiri dari 9kelompok yang berada di
wilayah pusat Kesultanya.
2) SANGAJI,
Yaitu komunitas atau kelompok kekerabatan pada beberapa distrik di negeri seberang atau
diluar pulau Ternate
3) HEKU
Yaitu komunitas masyarakat Ternate yg wilayahnya mulai dar santosa kearah utara hingga ke
pulau HIRI termasuk HALMAHERA MUKA
4) CIM
Yaitu kelompok kekerabatan atau komunitas masyarakat Ternate yang wilayahnya dari AKE
SANTOSA ke Selatan hingga mencapai batas KALUMATA.

PROVINSI PAPUA BARAT


Rumah Adat Papua Barat
Rumah adat Papua Barat didirikan oleh suku Arfak, yaitu suku utama di Papua Barat. Rumah
adat ini disebut juga Mod Aki Aksa (Lgkojei) yang artinya rumah kaki seribu. Rumah adat
Papua yaitu Honai juga terdapat pada Papua Barat, akan tetapi penduduk di Papua Barat lebih
mengandalkan hasil laut dibandingkan bertani, sehingga penduduknya mendirikan rumah adat
mereka berupa rumah panggung yang identik sebagai kehidupan nelayan. Rumah adat ini
terdapat di Manokwari namun saat ini jumlahnya semakin berkurang, terutama di kampung-
kampung yang tersebar di pinggiran pedalaman di bagian tengah pegunungan Arfak.

Rumah adat Papua Barat ini terdiri dari satu lantai yang terbuat dari kayu dan atapnya dibuat dari
dedaunan sagu atau jerami dan lantainya disokong oleh tiang – tiang pilar-pilar penyokong.
Biasanya rumah ini tertutup tanpa ada jendela dan hanya memiliki pintu depan dan pintu
belakang. Untuk menuju pintu masuk harus menggunakan tangga kayu yang sederhana.
Rumah adat Papua Barat disebut rumah kaki seribu karena memiliki keunikan tersendiri yaitu
jumlah tiang atau pilar penyangga atau penyokong rumah yang sangat banyak. Tiang penyokong
ini berada di seluruh ruang di bawah rumah. Tiang-tiang ini terbuat dari kayu yang kokoh dengan
tinggi yang beranekaragam, baik tinggi maupun pendek. Rumah yang mendekati pedalaman,
tiang-tiangnya semakin tinggi hingga kadang setinggi empat meter. Menurut adat dan
kepercayaan masyarakat disana, tiang – tiang ini diukir serta dilengkapi patung nenek moyang
sebagai penahan kekuatan jahat ilmu hitam dan untuk melindungi diri dari musuh dan ancaman
orang-orang yang berniat jahat.
Pakaian Adat
Nama pakaian adat Papua Barat adalah pakaian adat Ewer. Pakaian ini murni terbuat dari bahan
alami yaitu jerami yang dikeringkan. Dengan kemajuan dan pengaruh modernisasi, pakaian adat
ini kemudian dilengkapi dengan kain untuk atasannya. Berikut ini gambar dari pakaian adat
Ewer khas masyarakat Papua Barat.

Tari daerah
Tari Perang

Tari perang merupakan salah satu tarian tradisional Papua. Dimana tarian ini memiliki makna
jiwa kepahlawanan masyarakat Papua.Karena tarian ini menunjukan jiwa seseorang yang gagah
perkasa. Maka biasanya ditarikan oleh laki-laki dengan pakaian adat tradisional beserta
perlengkapan perang.
Sejarah singkatnya, diambil dari kisah zaman dulu yang sering terjadi peperangan antar suku
Sentani dan suku-suku lainnya. Kemudian para leluhur membuat tarian ini dengan tujuan
memberikan semangat para pasukan Papua. Dan seiring zaman, peperanganpun sudah
ditiadakan, namun tarian ini masih tetap dibudidayakan.
Sekarang, tarian ini hanya simbolik untuk menghargai para leluhur saja yang telah mati-matian
melindungi daerah Papua. Biasanya tarian ini ditarikan oleh 7 orang ataupun lebih. Musik yang
digunakan dalam tarian ini adalah kerang, tifa dan gendang. Tariannya pun cukup energik dan
menampilkan beberapa gerakan perang, antara lain memanah, loncat, mengintip musuh, dan lain-
lain.
Sistem Kekerabatan
 Masyarakat Dani tidak mengenal konsep keluarga batih, dimana bapak, ibu dan anak tinggal
dalam satu rumah. Mereka adalah masyarakat komunal. Maka jika rumah dipandang sebagai
suatu kesatuan fisik yang menampung aktivitas-aktivitas pribadi para penghuninya. Dalam
masyarakat Dani unit rumah tersebut adalah sili.
 Pada dasarnya silimo / sili merupakan komplek tempat kediaman yang terdiri dari beberapa
unit bangunan beserta perangkat lainnya.
 Perkampungan tradisional di Wamena dengan rumah-rumah yang dibuat berbentuk bulat
beratap ilalang dan dindingnya dibaut dari kayu tanpajendela.Rumah seperti ini disebut
Honai.
 Komplek bangunan biasanya terdiri dari unsur-unsur unit bangunan yang dinamakan : rumah
laki-laki ( Honai / pilamo ), rumah perempuan ( ebe-ae / ebei ), dapur ( hunila ) dan kandang
babi ( wamdabu / wamai ).

PROVINSI PAPUA
Tari Perang,
tari yang melambangkan kepahlawanan, dan kegagahan rakyat Papua.

Rumah Adat Honai


Rumah adat Papua adalah Honai. Rumah tersebut terdiri dari dua lantai. Lantai pertama sebagai
tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai. Honai berbentuk jamur dengan ketinggian
4 meter.

Pakaian Adat Papua


Pria : Memakai sehelai kain yang menutupi bagian depannya. Perhiasan yang dipakai
adalah kalung dan gelang.
Wanita : Memakai gaun terusan yang panjangnya sampai lutut. Motif baju yang dipakai
berumbai-rumbai.

Sistem Kekerabatan
Suatu rumar di desa Daerah Pantai Utara biasanya didiami oleh satu keluarga-batih,
kadang-kadang ditambah dengan beberapa kerabat lain, ialah seorang ibu atau ayah yang tua,
menantu dan cucu-cucu atau saudara perempuan istri dengan suaminya. Demikian walaupun
komposisi kerabat yang merupakan suatu rumah tangga itu kadang-kadang bersifat keluarga-
luas, namun kalau diambil rata-rata jumlah anggota rumah tangga di sana, angkanya tetap kecil,
ialah kira-kira 4 orang.
Seperti dalam masyarakat orang Eropah, orang Bgu mendapatkan nama keluarga dari
ayahnya. Anak-anak Huber Bagré juga menadpatkan nama Bagré dengan nama Kristen, menjadi
misalnya Wempi Bagré. Dengan demikian tampak di desa-desa Bgu dan juga di desa-desa di
Pantai Utara pada umumnya, golongan-golongan orang atau kolektifa-kolektifa dengan nama
keluarga yang sama, yang seolah-olah merupakan kelompok-kelompok kekerabatan atau klen-
klen patrilineal yang kecil.
Istilah fam dibawa ke Irian Jaya oleh guru-guru Ambon yang dulu ditempatkan di sana.
Di Ambon fam itu merupakan suatu klen patrilineal, dan adat untuk mengambil
nama fam dengan suatu nama Kristen adalah memang juga suatu adat yang diintroduksikan oleh
gereja kira-kira sekitar tahun 1930, demi memudahkan registrasi dalam buku gereja. Dulu
sebelum penduduk diKristenkan, dan sebelum ada guru-guru agama dari Maluku,
konsep fam tidak dikenal, tetapi dalam zaman waktu orang Pantai Utara masih tinggal di
kampung-kampung di atas rawa-rawa dan belum dipaksakan pindah ke jalur pantai pasir oleh
pemerintah Belanda mereka mengenal adanya kelompok-kelompok kekerabatan atau auwet.
Rupa-rupanya auwet itu kelompok-kelompok kekerabatan patrilineal yang hidup di satu
tanah kering atau suatu kompleks dari tanah kering yang tertentu di antara rawa-rawa luas di
daerah hilir sungai Wiruwai. Kelompok-kelompok kekerabatan itu yang mempunyai nama-nama
khusus seperti Sadot, Bagre, Dansidan dan sebagainya; tampak bersifat patrilineal, terutama
karena adat menetap nikah virilokal yang mewajibkan suatu pengantin baru untuk tinggal di
sekitar pusat kediaman keluarga si suami.
Walaupun suatu keluarga-batih baru itu hidup dalam rumah orang tua, seringkali dalam
suatu ruang yang sama, karena rumah amat kecil, namun dalam aktivitet sehari-hari keluarga-
batih baru itu merupakan kesatuan tersendiri yang berkepribadian. Sering tampak sua dan mofin,
suami dan istri bersama dalam aktivitet-aktivitet mencari ikan, berkebun atau mencari sagu.
Suami-istri yang tinggal di rumah orang tua sering juga kita lihat hidup terutama di luar rumah
dengan menganggap rumah mereka hanya sebagai tempat tidur dan tempat makan saja.
Kedudukan wanita dalam masyarakat Pantai Utara tidak tampak rendah, baik dalam pergaulan
sosial maupun dalam hal-hal dam kewajiban-kewajibannya.
Suatu keluarga-batih biasanya bersifat monogami, walaupun ada beberapa contoh dari
perkawinan yang bersifat poligini. Pandangan umum tidak menganggap poligini itu suatu hal
yang baik, tetapi juga tidak mengutuk gejala itu. rupa-rupanya dulu poligini lebih banyak
dilakukan karena akibat levirat, atau kalau istri dianggap tidak bisa mendapat anak. Agama
Kristenlah yang rupa-rupanya mengurangi gejala poligini itu.

PROVINSI TELUK CENDRAWASIH


Rumah Adat Lgkojei | Rumah Adat Provinsi Teluk Cenderawasih

Rumah adat Lgkojei merupakan rumah tradisional dari suku Wamesa yang ada di provinsi Teluk
Cenderawasih. Rumah ini berbentuk mirip dengan rumah Mod Aki Aksa, karena memang
namanya juga sama. Lgkojei adalah bahasa suku Wamesa untuk menyebut rumah adat kaki
seribu. Jadi rumah adat provinsi Teluk Cenderawasih juga rumah adat kaki seribu. Tetapi bentuk
dari rumah adat di Indonesia yang satu ini berbeda dengan yang ada di Papua Barat. Bentuknya
lebih mirip rumah panggung dengan atap rumah modern. Selain itu terdapat banyak ventilasi dan
juga lubang cahaya. Bisa dibilang rumah adat ini adalah rumah adat perkembangan.

Anda mungkin juga menyukai