Anda di halaman 1dari 24

Dosen : Rochfika Arsid, S.Kep,Ns, M.Kes, M.Kep, Sp.

Kv

Mata Kuliah : Keperawatan Kritis

“GAGAL JANTUNG KIRI”

Disusun oleh :

Kelompok 1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2018

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Gagal jantung merupakan salah satu penyebab morbiditas dan
mortalitas.Akhir-akhir ini insiden gagal jantung mengalami peningkatan.Kajian
epidemiologi menunjukksn bahwa ada berbagai kondisi yang mendahului dan
menyertai gagal jantung.Kondisi tersebut dinamakan faktor resiko. Faktor resiko
yang ada dapat dikontrol dengan mengubah gaya hidup atau kebiasaan pribadi
dan faktor resiko yang non modifiable yang merupakan konsekuensi genetic
yang tidak dapat dikontrol. Contohnya ras dan jenis kelamin.Gagal jantung
adalah keadaan patofisiologi dimana jantung sebagai pompa tidak mampu
memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan.Ciri-ciri yang penting
dari definisi ini adalah pertama definisi gagal adalah relatif terhadap kebutuhan
metabolik tubuh, kedua penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa
jantung secara keseluruhan.
Sejumlah faktor sistemik dapat menunjang perkembangan dan keparahan
dari gagal jantung. Peningkatan laju metabolic (misalnya: demam, koma,
tiroktoksikosis), hipoksia dan anemia membutuhkan suatu peningkatan curah
jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Gagal jantung kongestif adalah
ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Risiko gagal
jantung kongestif akan meningkat pada orang lanjut usia karena penurunan
fungsi ventrikel akibat penuaan. Gagal jantung kongestif ini dapat menjadi
kronik apabila disertai dengan penyakit-penyakit lain, seperti hipertensi,
penyebab katup jantung, kardiomiopati, dan lain-lain.
Pada saat ini gagal jantung kongestif merupakan satu-satumya penyakit
kardiovaskular yang terus meningkat insiden dan prevalensinya. Resiko kematian
akibat gagal jantung berkisar antara 5-10% pertahun pada gagal jantung ringan

menurut WHO dilaporkan bahwa sekitar 3000 penduduk Amerika menderita gagal jantung kongestif. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan yang muncul pada penyakit gagal jantung kongestif. TUJUAN 1. Masalah kesehatan dengan gangguan sistem kardiovaskular masih menduduki peringkat yang tinggi. B. Sebagian besar lansia yang didiagnosis gagal jantung kongestif tidak dapat hidu lebih dari 5 tahun. 2. yang akan meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Insiden ini akan terus bertambah setiap tahun pada lansia yang berusia diatas 50 tahun. . Selain itu. 4. Untuk mengethaui patofisiologi (alur)terjadinya penyimpangan KDM pada penderita gagal jantung kongestif. 3. gagal jantung kongestif merupakan penyakit yang paling sering memerlukan perawatan ulang di rumah sakit meskipun pengobatan rawat jalan telah diberikan secara optimal.Pada umumnya.Sedangkan pada tahhun 2005 di jawa tengah terdapat 520 penderita gagal jantung kongestif. Untuk mengetahui penanganan kritis apa yang dapat di lakukan pada penderita penyakit gagal jantung kongestif. Untuk mengetahui teori dasar terkait gagal jantung kongestif. penyakit gagal jantung kongestif diderita lansia berusia diatas 50 tahun.

Aorta merupakan pembuluh darah arteri yang pling besar yang keluar dari ventrikel sinistra. . ANATOMI DAN FISIOLOGI Berdasarkan gambar di atas. secara anantomi terdapat beberapa badian jantung antara lain. d. Atrium kiri berfungsi untuk menerima darah kaya oksigen dari palu melalui keempat vena pulmonari. a. Atrium kanan berfungsi untuk menampung darah miskin. Ventrikel kiri merupakan bilik yang paling besar dan paling berotot. e. Darah kemudian mengalir ke ventrikel kiri. c. menerima darah kaya oksigen dari paru melalui atrium kiri dan memompanya ke dalam system sirkulasi melalui aorta. BAB II LANDASAN TEORI A. b. Ventrikel kanan berupa pompa otot. menampung darah dari atrium kanan dan memompanya ke paru melalui arteri pulmonari.

Jantung hanya mampu memompa darah untuk waktu yang singkat dan dinding otot jantung yang lemah tidak mampu memompa dengan kuat. g. Vena kava superior dan vena kava inferior mengalirkan darah ke atrium dekstra. (Paul Wood. 1958). h. Arteri pulmonary merupakan pembuluh darah yang keluar dari dekstra menuju ke paru-paru. Katup trikuspidalis. Hal ini mengakibatkan peregangan ruang jantung (dilatasi) guna menampung darah lebih banyak untuk dipompakan ke seluruh tubuh atau mengakibatkan otot jantung kaku dan menebal. DEFINISI Gagal jantung kongestif adalah keadaan dimana jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi badan untuk keperluan metabolisme jaringan tubuh pada keadaan tertentu. C. Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis dimana jantung gagal mempertahankan sirkulasi adekuat untuk kebutuhan tubuh meskipun tekanan pengisian cukup. Kodisi yang mendasari . terdapat di antara atrium sinistra dengan ventrikel dekstra yang terdiri dari 3 katup. sedangkan tekanan pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi. f. arteri pulmonari membawah darah dari ventrikel dekstra ke paru-paru(pulmo). terdapat di antara atrium sinistra degan ventrikel sinistra yang terdiri dari 2 katup. B. Kelainan otot jantung Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung disebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. i. ETIOLOGI Gagal jantung kongestif dapat di sebabkan oleh: 1. Katup bikuspidalis.

penyebab kelainan fungsi otot mencakup ateriosklerosis coroner. pericardium. perikarditif konstriktif. yang secara langsung mempengaruhi jantung. Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung peradangan dan penyakit miokardium degeneratif. 5. menyebabkan kontraktilitas menurun. Hipertensi sistemik atau pulmonal Meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Peradangan dan penyakit miokardium degenerative Berhubung dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung menyebabkan kontraktilitas menurun. berhubungan dengan dgagal jantung karena kondisi yang secara langsung merusak serabut jantung. PATOFISIOLOGI Gagal jantung bukanlah suatu keadaan klinis yang hanyamelibatkan satu sistem tubuh melainkan suatu sindroma klinik akibat kelainan jantung sehingga jantung tidak mampu memompa memenuhi kebutuhan . peningkatan mendadak afterload. Penyakit jantung lain Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya. D. Aterosklerosis coroner Mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. 3. 2. atau stenosis AV). Mekanisme biasanya terlibat mencangkup gangguan aliran darah yang masuk jantung (stenosis katupn semilunar). 4. hipertensi arterial. dan penyakit degeneratif atau inflamasi. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktar). ketidak mampuan jantung untuk mengisi darah (tamponade.

Vasokonstriksi dan retensi air untuk sementara waktu akan meningkatkan tekanan darah sedangkan peningkatan preload akan meningkatkan kontraktilitas jantung melalui hukum Starling. syaraf dan hormonal yang nyata serta suatu keadaan patologik berupa penurunan fungsi jantung. ginjal. Apabila keadaan ini tidak segera teratasi. Gagal jantung ditandai dengan satu respon hemodinamik. peninggian preload dan hipertrofi dilatasi jantung akan lebih . serta pelepasan arginin vasopressin yang kesemuanya merupakan mekanisme kompensasi untuk mempertahankan tekanan darah yang adekuat.metabolisme tubuh. Penurunan kontraktilitas ventrikel akan diikuti penurunan curah jantung yang selanjutnya terjadi penurunan tekanan darah dan penurunan volume darah arteri yang efektif. Pada beberapa keadaan ditemukan beban berlebihan sehingga timbul gagal jantung sebagai pompa tanpa terdapat depresi pada otot jantung intrinsik. Kondisi ini juga menyebabkan aktivasi dari mekanisme kompensasi tubuh yang akut berupa penimbunan air dan garam oleh ginjal dan aktivasi system saraf adrenergik. Sebaliknya dapat pula terjadi depresi otot jantung intrinsik tetapi secar klinis tidak tampak tanda-tanda gagal jantung karena beban jantung yang ringan. Hal ini akan merangsang mekanisme kompensasi neurohumoral.Penting dibedakan antara kemampuan jantung untuk memompa (pump function) dengan kontraktilias otot jantung (myocardial function). Pada awal gagal jantung akibat CO yang rendah. Salah satu respon hemodinamik yang tidak normal adalah peningkatan tekanan pengisian (filling pressure) dari jantung atau preload. peninggian afterload. di dalam tubuh terjadi peningkatan aktivitas saraf simpatis dan sistem renin angiotensin aldosteron. Respon terhadap jantung menimbulkan beberapa mekanisme kompensasi yang bertujuan untuk meningkatkan volume darah. volume ruang jantung. tahanan pembuluh darah perifer dan hipertropi otot jantung.

Dilatasi ventrikel menyebabkan disfungsi sistolik (penurunan fraksi ejeksi) dan retensi cairan meningkatkan volume ventrikel (dilatasi). etiologi penyakit jantung.Pada gagal jantung kongestif terjadi stagnasi aliran darah. seperti penurunan aktivitas listrik. tergantung dari umur pasien. Jika persediaan energi terbatas (misal pada penyakit koroner) selanjutnya bisa menyebabkan gangguan kontraktilitas. ataupun keadaan seperti emboli sistemik (emboli pulmo. menambah beban jantung sehingga terjadi gagal jantung yang tidak terkompensasi.10 Beberapa data menyebutkan bradiaritmia dan penurunan aktivitas listrik menunjukan peningkatan presentase kematian jantung mendadak. E.4. beratnya gagal jantung. dan disritmia ventrikel refrakter. Jantung yang berdilatasi tidak efisien secara mekanis (hukum Laplace). ruang-ruang jantung yang terlibat. embolisasi sistemik dari trombus mural. jantung) dan keadaan yang telah disebutkan diatas. Pada penderita gagal jantung kongestif. hampir selalu ditemukan : . karena frekuensi takikardi ventrikel dan fibrilasi ventrikel menurut WHO menyebutkan kematian jantung mendadak bisa terjadi akibat penurunan fungsi mekanis jantung.Disamping itu keadaan penyakit jantung koroner sebagai salah satu etiologi CHF akan menurunkan aliran darah ke miokard yang akan menyebabkan iskemik miokard dengan komplikasi gangguan irama dan sistem konduksi kelistrikan jantung. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis gagal jantung bervariasi. apakah kedua ventrikel mengalami kegagalan serta derajat gangguan penampilan jantung. Selain itu kekakuan ventrikel akan menyebabkan terjadinya disfungsi ventrikel.

Bisa diturunkan dengan pemberian warfarin.KOMPLIKASI GAGAL JANTUNG KONGESTIF 1. amiodaron. 4. 2. mimpi buruk sampai delirium. β blocker. Hal tersebut indikasi pemantauan denyut jantung (dengan digoxin atau β blocker dan pemberian warfarin). orthopnea dan paroxysmal nocturnal dyspnea. Kematian pada CHF Aritmia dan gangguan aktivitas listrik Hipertrofi dilatasi jantung Disfungsi diastolik dan disfungsi sistolik Tromboemboli PJK yang berat berdampak pada aliran darah pada myocard yang belum infark Gangguan kontraktilitas 3. Gejala paru berupa dyspnea. Komplikasi fibrilasi atrium sering terjadi pada CHF yang bisa menyebabkan perburukan dramatis. sakit kepala. Gejala sistemik berupa lemah. Aritmia ventrikel sering dijumpai. cepat lelah. 3. dan edema perifer. mual. Gejala susunan saraf pusat berupa insomnia. muntah. Kegagalan pompa progresif bisa terjadi karena penggunaan diuretik dengan dosis ditinggikan. 2. hepatomegali. F. Pada pasien yang berhasil diresusitasi. terutama pada CHF berat. dan vebrilator yang ditanam mungkin turut mempunyai peranan . Tromboemboli adalah risiko terjadinya bekuan vena (thrombosis vena dalam atau deep venous thrombosis dan emboli paru atau EP) dan emboli sistemik tinggi. bisa menyebabkan sinkop atau sudden cardiac death (25-50% kematian CHF). oliguri. asites. nokturi. 1.

6. Edema paru akibat peningkatan tekanan vena pulmonalis. 5. 3.E. Meningkatnya volume intravaskuler. misalnya disfungsi ventrikel kiri atau gagal jantung kiri. 2.sehingga cairan mengalir dari kapiler paru ke alveoli. yang dimanifestasikan dengan batuk dan nafas pendek. 4. Kongestif jaringan akibat tekanan arteri dan vena meningkat. Turunnya curah jantung akibat darah tidak dapat mencapai jaringan dan organ. dan cairan. . Tekanan perfusi ginjal menurun sehingga mengakibatkan terjadinya pelepasan renin dari ginjal. Tempat kongestif tergantung dari ventrikel yang terlibat. manifestasi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Namun. TANDA DAN GEJALA Gangguan gagal jantung sangat bergantung pada etiologi untuk setiap kasusnya. Edema perifer umum dan penambahan berat badan akibat tekanan sistemik. yang pada gilirannya akan menyebabkan sekresi aldosteron. serta peningkatan volume intravaskuler. retensi natrium. 7.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. Perubahan membrane alveolus-kapiler Gejala dan Tanda Mayor a. Objektif 1) PCO₂ meningkat/menurun 2) PO₂ menurun 3) Takikardia 4) pH arteri meningkat/menurun 5) Bunyi napas tambahan Gejala dan Tanda Minor a. Subjektif 1) Dispnea b. Gangguan Pertukaran Gas Definisi Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membrane alveolus-kapiler. Penyebab a. Objektif 1) Sianosis 2) Diaphoresis . Subjektif 1) Pusing 2) Penglihatan kabur b. DIAGNOSA 1. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi b.

dalam/dangkal) 6) Warna kulit abnormal (mis: pucat. kebiruan) 7) Kesadaran menurun Kondisi Klinis Terkait a. Perubahan irama jantung b. Asma d. Penyebab a. regular/ireguler. Gagal jantung kongestif c. Perubahan preload e. Asfiksia h. Perubahan afterload . Persistent pulmonary hypertension of newborn (PPHN) i. Tuberculosis paru f. 3) Gelisah 4) Napas cuping hidung 5) Pola napas abnormal (cepat/lambat. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) b. Perubahan kontraktilitas d. Pneumonia e. Prematuritas j. Penurunan Curah Jantung Definisi Ketidakadekuatan jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Infeksi saluran napas 2. Perubahan frekuensi jantung c. Penyakit membrane hialin g.

Objektif 1) Perubahan irama jantung a) Bradikardia/takikardia b) Gambaran EKG aritmia atau gangguan konduksi 2) Perubahan preload a) Edema b) Distensi vena jugularis c) Central venous pressure (CVP) meningkat/menurun d) Hepatomegaly 3) Perubahan afterload a) Tekanan darah meningkat/menurun b) Nadi perifer teraba lemah c) Capillary refill time >3 detik d) Oliguria e) Warna kulit pucat dan/atau sianosis 4) Perubahan kontraktilitas . Subjektif 1) Perubahan irama jantung a) Palpitasi 2) Perubahan preload a) Lelah 3) Perubahan afterload a) Dispnea 4) Perubahan kontraktilitas a) Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) b) Ortopnea c) Batuk b.Gejala dan Tanda Mayor a.

Objektif 1) Perubahan preload a) Murmur jantung b) Berat badan bertambah c) Pulmonary artery wedge pressure (PAWP) menurun 2) Perubahan afterload a) Pulmonary vascular resistance (PVR) meningkat/menurun b) Systemic vascular resistance (SVR) meningkat/menurun 3) Perubahan kontraktilitas a) Cardiac index (CI) menurun b) Left ventricular stroke work index (LVSWI) menuurun c) Stroke volume index (SVI) menurun 4) Perilaku/emosional (tidak tersedia) Kondisi Klinis Terkait . Subjektif 1) Perubahan preload (tidak tersedia) 2) Perubahan afterload (tidak tersedia) 3) Perubahan kontraktilitas (tidak tersedia) 4) Perilaku/emosional a) Cemas b) Gelisah b. a) Terdengar suara jantung S3 dan/atau S4 b) Ejection fraction (EF) menurun Gejala dan Tanda Minor a.

Regurgitasi pulmonal g. Gagal jantung kongestif b. Objektif 1) Frekuensi jantung meningkat >20% dari kondisi istrahat Gejala dan Tanda Minor a. Intoleransi Aktivitas Definisi Ketidakcukupan energy untuk melakukan aktivitas sehari-hari Penyebab 1. Tirah baring 3. Gaya hidup monoton Gejala dan Tanda Mayor a. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen 2. Aritmia h. a. Subjektif 1) Dispnea saat/setelah aktivitas 2) Merasa tidak nyaman setelah beraktivitas . Penyakit jantung bawaan 3. Regurgitasi aorta e. Kelemahan 4. Subjektif 1) Mengeluh lelah b. Imobilitas 5. Stenosis trikuspidal f. Sindrom coroner akut c. Stenosis mitral d.

Anemia b. Penyebab a. 3) Merasa lemah b. Krisis maturasional d. Penyakit jantung coroner d. Objektif 1) Tekanan darah berubah >20% dari kondisi istrahat 2) Gambaran EKG menunjukkan aritmia saat/setelah aktivitas 3) Gambaran EKG menunjukkan iskemia 4) Sianosis Kondisi Klinis Terkait a. Penyakit katup jantung e. Aritmia f. Ancaman terhadap konsep diri e. Kebutuhan tidak terpenuhi c. Gangguan musculoskeletal 4. Kekhawatiran mengalami kegagalan g. Krisis situasional b. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) g. Gangguan metabolic h. Ancaman terhadap kematian f. Disfungsi sistem keluarga h. Gagal jantung kongestif c. Ansietas Definisi Kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman. Hubungan orang tua-anak tidak memuaskan .

Kurang terpapar informasi Gejala dan Tanda Mayor a. Objektif 1) Tampak gelisah 2) Tampak tegang 3) Sulit tidur Gejala dan Tanda Minor a. Penyalahgunaan zat k. Subjektif 1) Mengeluh pusing 2) Anoreksia 3) Palpitasi 4) Merasa tidak berdaya b. Terpapar bahaya lingkungan (mis: toksin. polutan. dan lain-lain) l. Objektif 1) Frekuensi napas meningkat 2) Frekuensi nadi meningkat 3) Tekanan darah meningkat 4) Diaphoresis 5) Tremor 6) Muka tampak pucat 7) Suara bergetar 8) Kontak mata buruk 9) Sering berkemih . Subjektif 1) Merasa bingung 2) Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi 3) Sulit berkonsentrasi b.i. Factor keturunan (tempramen mudah teragitasi sejak lahir) j.

Penyakit neurologis g. Penyakit akut c. Rencana operasi e. Hospitalisasi d. Kondisi diagnosis penyakit belum jelas f. 10) Berorientasi pada masa lalu Kondisi Klinis Terkait a. Kelebihan Volume Cairan Definisi Peningkatan retensi cairan isotonic Batasan Karakteristik  Ada bunyi jantung S3  Anasarca  Ansietas  Asupan melebihi haluaran  Azoitemia  Bunyi napas tambahan  Dispnea  Dispnea noktural paroksimal  Distensi vena jugularis  Edema  Efusi pleura  Gangguan pola napas  Gangguan tekanan darah  Gelisah  Hepatomegaly . Tahap tumbuh kembang (Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016) 5. penyakit autoimun) b. Penyakit kronis progresif (mis: kanker.

2015) . Kelebihan asupan cairan c. Kelebihan asupan natrium (Herdman. Gangguan mekanisme regulasi b. Ketidakseimbangan elektrolit  Kongesti pulmonal  Oliguria  Ortopnea  Penambahan berat badan dalam waktu sangat singkat  Peningkatan tekanan vena sentral  Penurunan hematokrit  Penurunan haemoglobin  Perubahan berat jenis urine  Perubahan status mental  Perubahan tekanan arteri pulmonal  Refleks hepatojugular positif Factor yang Berhubungan a.

Biasanya dokter memberi digitalis dalam dosis yang tinggi dalam waktu yang singkat (digitalizing atau loading).metabolisme obat-obatan dilakukan oleh hepar dan diekskresikan oleh ginjal. berat badan menurun. EKG. juga perlu di pantau lkecepatan denyut apikal dan nadi. Respons terhadap obat perlu di kaji. Factor-faktor yang dapat menyebabkan toksisitas digitalis adalah: 1. seperti edema . Terapi diuretic bukan pengganti dari terapi digitalis. obat-obatan yang di perlukan adalah terapi digitalis dan terapi diuretic. dan kateterisasi jantung. Sebelum memberi digitalis. Digitalis juga dapat mengurangi kecepatan denyut jantung sehingga ventrikel sempat berelaksasi dan mengisi darah yg cukup. Diuretic di berikan hanya apabila tanda-tanda ke gagalan jantung tidak membaik setelah digitalis dan . 2. Obat pilihan untuk kegagalan jantung kongestif adalah digoksin (lanoxin). Gangguan hati dan ginjal . Dokter perlu di beri tahu sebelum obat di berikan apabila frekuensi nadi 60 denyut per menit. kurang kalium (di bawah 4. Terapi diuretic. perawat harus memeriksa denyut jantung apikal dan nadi pasien.4 mEq/L). diare. Pasien harus diamati dengan ketat terhadap tanda-tanda toksisitas digitalis.dan perlu memberitahu dokter apabila nadi pasien di bawah 60 per meter. Pasien dapat mengalami kekurangan kalium lewat muntah. ekokarsiogram. haluaran cairan lebih banyak dari pada asupan.dan pemberian obat diuretic. obat ini memperkuat kontraksi otot-otot jantung. terapi digitalis adalah pengobatan utama untuk kegagalan jantung kongestif karena sangat efektif untuk memperbaiki fungsi miokardium. Hipokalamia. Terapi digitalis mempunyai efek langsung pada miokardium. dan tidak ada dispnea atau sianosis .dengan demikian curah jantung dapat meningkat dan suplai darah pada ginjal juga membaik. berkuang.akan membuat otot-otot miokardium menjadi excitable dan timbul disritmia.0-5. BAB IV PENANGANAN KEPERAWATAN KRITIS Tindakan medis untuk gangguan ini meliputi foto torak sinar-X. Terapi digitalis.

pengurangan natrium di berikan. Pasien perlu di beri tambahan kalium. Obat-obat di uretic yang juga sering di pakai adalah Lasix atau edecrin. (Mary. Obat diuretic pilihan untuk kegagalan jantung adalah thiasides. Apabila thiasides tidak efektif. Efek samping yang palimg sering di temukan adalah hipokelemia. Tujuan terapi diuretic adalah mengurangi beban jantung dengan mengurangi volume cairan yang berlebihan. Obat ini dapat mengakibatkan ketidak seimbangan elektrolit sehimgga perlu di pantau kimia darahnya. dan dapat mengurangi preload. 2008) . antagonis aldosterone oral seperti aldactone atau dyrenium dapat di berikan bersama dengan thiasides.

gagal jantung sering disebut juga gagal jantung kongestif (CHF). hipertensi atrial. yang mengarah pada curah jantung kurang dari normal. gangguan sistemik. adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap nutrien dan oksigen. kerja jantung yang berlebihan. mengacu pada perubahan kekuatan konteraksi yang terjadi pada tingkat sel dan berhubungan dengan perubahan panjang serabut jantung dan kadar kalsium. KESIMPULAN Setelah melakukan diskusi dan mencari sumber literature yang dapat dipercaya. dan penyakit inflamasi atau degeneratif otot jantung. jantung terlalu lelah. Konteraktilitas. adalah jumlah darah yang mengisi jantung berbanding langsung dengan tekanan yang ditimbulkan oleh panjangnya regangan serabut otot jantung. yaitu : Preload. Volume sekuncup adalah jumlah darah yang dipompa pada setiap kontraksi tergantung pada 3 faktor. Mekanisme yang mendasar tentang gagal jantung termasuk kerusakan sifat kontraktil dari jantung. Faktor-faktor yang mempengaruhi gagal jantung kongestif bervariasi. Berdasarkan buku Keperawatan Medikal Bedah. mengacu pada besarnya tekanan ventrikel yang harus dihasilkan untuk memompa darah melawan perbedaan tekanan yang ditimbulkan oleh tekanan arteriol. dll. Klasifikasi gagal . mulai dari beban yang berlebihan. Afterload. Kondisi umum yang mendasari termasuk aterosklerosis. BAB V PENUTUP A.

yang pada gilirannya akan menyebabkan sekresi aldosteron. jantung kongestif itu sendiri terbagi dua: gagal jantung akut. dan dapat menghindari resiko kematian. Edema paru akibat peningkatan tekanan vena pulmonalis. retensi natrium. dan gagal jantung kronis. . dan melakukan kolaborasi dengan dokter dalam rangka pemberian obat. Turunnya curah jantung akibat darah tidak dapat mencapai jaringan dan organ. serta peningkatan volume intravaskuler. Tekanan perfusi ginjal menurun sehingga mengakibatkan terjadinya pelepasan renin dari ginjal. tentunya memenuhi kebutuhan dasar klien dengan cara memandirikin pasien yang mengalami gangguan gagal jantung kongestif. Kongestif jaringan akibat tekanan arteri dan vena meningkat. Hal yang dapat kita lakukan sebagai perawat adalah ajarkan latihan relaksasi napas dalam. agar dapat menjaga kesehatan organ jantung sehingga proses metabolisme di dalam tubuh manusia dapat berjalan dengan baik dan seimbang. Peran kita sebagai perawat.sehingga cairan mengalir dari kapiler paru ke alveoli. B. SARAN Penulisan makalah ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat atau pembaca. berikan pendidikan kesehatan mengenai gagal jantung kongestif. Manifestasi klinis untuk gagal jantung kongestif ada beberapa: contohnya meningkatnya volume intravaskuler. Edema perifer umum dan penambahan berat badan akibat tekanan sistemik. yang dimanifestasikan dengan batuk dan nafas pendek. dan cairan.

Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddart. Tim Pokja SDKI DPP PPNI. Nanda Internasional Inc. 2002. Edisi 8. Klien gangguan kardiovaskular: seri asuhan keperawatan. 2009. . Mary. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat PPNI. (2008). Pengantar Asuhan Keperawatan klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular. B. Jakarta: EGC. arif. T. Herdman. Jakarta: EGC. Vol 2. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik. (2015). Jakarta: EGC. diagnosis keperawatan: definisi & klasifikasi 2015-2017. Jakarta : Salemba Medika. Muttaqin. (2016).