Anda di halaman 1dari 8

A.

TUJUAN PELAKSANAAN AUDIT ATAS PELAPORAN KEUANGAN


Tujuan audit adalah untuk menyediakan pemakai laporan keuangan suatu pendapat
yang diberikan oleh auditor tentang apakah laporan keuangan disajikan secara wajar,
dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka kerja akuntansi keuangan yang
berlaku. Pendapat auditor ini menambah tingkat keyakinan pengguna yang bersangkutan
terhadap laporan keuangan.

Langkah-langkah untuk Mengembangkan Tujuan Audit

B. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN


Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dan pengendalian internal:
- Mengadopsi kebijakan akuntansi yang baik
- Menyelenggarakan pengendalian internal yang memadai
- Menyajikan laporan keuangan yang wajar

C. TANGGUNG JAWAB AUDITOR


Standar-standar tanggung jawab auditor untuk mendeteksi salah saji yang material
mencakup beberapa istilah:

- Salah Saji yang Material vs Tidak Material


Auditor bertanggung jawab untuk memperoleh kepastian yang layak bahwa ambang
batas materialitas telah dipenuhi.

- Kepastian yang Layak


Kepastian atau assurance merupakan ukuran tingkat kepastian yang diperoleh auditor
pada saat melakukan audit. Standar auditing (SAS 104) menyatakan bahwa kepastian
yang layak adalah tingkat kepastian yang tinggi, tetapi tidak absolut, bahwa laporan
keuangan telah bebas dari salah saji yang material.

1
Auditor bertanggung jawab atas kepastian yang layak, tetapi tidak absolut, karena
beberapa hal:
1. Sebagian besar bukti audit diperoleh dari pengujian sampel populasi seperti
piutang usaha dan persediaan.
2. Penyajian akuntansi mengandung estimasi yang kompleks, yang melibatkan
sejumlah ketidakpastian serta dapat dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa di masa
depan.
3. Laporan keuangan yang disusun dengan penuh kecurangan seringkali sangat sulit,
bahkan tidak mungkin, untuk dideteksi oleh auditor, terutama bila ada kolusi di
kalangan manajemen perusahaan.

- Kekeliruan vs Kecurangan
SAS 99 (AU 316) membedakan antara dua jenis salah saji: kekeliruan (error) dan
kecurang (fraud).
Kekeliruan adalah salah saji dalam laporan keuangan yang tidak disengaja.
Kecurangan adalah salah saji yang disengaja.
Kecurangan dibedakan menjadi dua, misapropiasi asset yaitu penyalahgunaan atau
kecurangan karyawan, serta pelaporan keuangan yang curang yaitu kecurangan
manajemen.

- Kecurangan yang Berasal dari Pelaporan Keuangan yang Curang vs


Misapropriasi Aset
Pelaporan keuangan yang curang dilakukan oleh pihak manajemen, yang terkadang
tanpa sepengetahuan para karyawan. Sedangkan pencurian asset dilakukan oleh para
karyawan, dan nilainya seringkali tidak material.

Ada perbedaan penting antara pencurian asset dan salah saji yang diakibatkan oleh
pencurian aset ini:
1. Asset dicuri dan pencurian itu ditutupi dengan menyajikan secara salah asset
tersebut.
2. Aset dicuri dan pencurian tersebut ditutupi dengan menyajikan pendapatan terlalu
rendah atau melebihsajikan beban.
3. Asset dicuri, tetapi misaprosiasi tersebut berhasil diungkapkan.

- UU dan Regulasi Memiliki Pengaruh Langsung terhadap Laporan Keuangan


Provisi dari UU dan regulasi tertentu, seperti UU dan regulasi pajak serta pensiun,
umumnya diakui memiliki pengaruh langsung terhadap jumlah dan pengungkapan
dalam laporan keuangan.

- UU dan Regulasi yang Tidak Memiliki Pengaruh Langsung terhadap Laporan


Keuangan
Auditor harus melakukan prosedur berikut untuk mengidentifikasi kasus
ketidakpatuhan UU an regulasi lainnya yang mungkin memiliki pengaruh yang
material terhadap laporan keuangan:
 Menanyakan pihak manajemen dan yang bertanggung jawab atas tata kelola
tentang apakah entitas tersebut telah mematuhi UU dan regulasi semacam itu.
 Memeriksa korespondensi, jika ada, dengan otoritas pemberi lisensi atau
regulatori yang relevan.

2
- Prosedur Audit Ketika Ketidakpatuhan Teridentifikasi atau Diduga
Auditor harus membahas masalah ini dengan pihak manajemen yang tingkatnya
berada di atas pihak yang diduga terlibat dengan ketidakpatuhan dan bila perlu, pihak
yang bertanggung jawab atas tata kelola.

- Pelaporan Ketidakpatuhan yang Teridentifikasi atau Diduga


Kecuali masalah yang terlibat tidak berkaitan, auditor harus berkomunikasi dengan
pihak yang bertanggung jawab atas masalah tata kelola yang melibatkan
ketidakpatuhan terhadap UU dan regulasi yang menjadi focus auditor selama audit.

D. SKEPTISME PROFESIONAL
Standar audit mengharuskan audit dirancang sedemikian rupa agar dapat memberikan
kepastian yang layak untuk mendeteksi baik kekeliruan maupun kecurangan yang material
dalam laporan keuangan. Untuk mencapainya, audit harus direncanakan dan dilaksanakan
dengan sikap skeptisisme professional atas semua aspek penugasan.

Aspek-aspek Skeptisme Profesional


Skeptisme profesional terdiri dari dua komponen utama : quistioning mind dan
penilaian kritis terhadap bukti audit. Meskipun auditor kemungkinan akan percaya bahwa
organisasi yang diterima sebagai klien memiliki integritas dan jujur. Questioning mindset
berarti auditor menangani auditor menangani audit dengan pandangan mental “percaya
tapi verifikasi”. Ketika menerima tanggubng jawab untuk menjaga questioning min dan
mengevaluasi bukti secara kritis, auditor secara signifikan akan mengurangi kemungkinan
terjadinya kegagalan audit selama proses audit berlangsung.

Unsur-Unsur Skeptisisme Profesional


Riset akademis terkini tentnang topik skeptisisme profesional menunjukkan enam
karaktristik skeptisisme :
1. Questioning Mindset - disposisi untuk menyelidiki sejumlah hal yang dirasa
meragukan
2. Penindasan keputusan (Suspension of judgement) – penundaan keputusan sampai
bukti yang tepat diperoleh
3. Pencarian Pengetahuan – keinginan untuk menyelidiki lebih lanjut demi
mempertegas
4. Pemahaman interpersonal – pengakuan bahwa motivasi dan persepsi orang dapat
membuatnya memberikan informasi yang bias
5. Otonomi – pengarahan mandiri, independensi moral, dan keyakinan memutuskan
untuk diri sendiri ketimbang menerima klaim pihak lain
6. Self Esteem – rasa percaya diri untuk melawan persuasi dan untuk menantang
asumsi atau kesimpulan.

3
E. PROFESIONAL JUDGEMENT
Untuk membantu auditor dengan mempertahankan tingkat skeptisisme profesional yang
tepat ketika penilaian profesional dilakukan selama audit, profesi telah melakukan penilaian
profesional yang mengilustrasikan pembuatan keputusan yang efektif dan memandu
pemikiran auditor untuk membantu mereka menyadari kecenderungan penilaian, perangkap,
dan bias mereka sendiri.

Elements of the judgement process

1. Identifikasi dan Definisikan Masalah


Titik awal menuju penilaian profesional yang efektif dimulai dengan mengidentifikasi
dan mendefinisikan masalah dengan menganalisis situasi dan potensi dampaknya
secara hati-hati pada audit. Kegagalan untuk mengidentifikasi masalah yang benar
sering mengarah ke analisis yang salah dan penilaian yang tidak tepat.
2. Mengumpulkan fakta dan informasi dan mengidentifikasi litelatur yang relevan
dengan masalah didefinisikan, auditor berusaha untuk memahami fakta-fakta yang
relevan dan informasi yang tersedia mengenai masalah ini. Ini mungkin termasuk
memperoleh fakta dan informasi tentang input dan asumsi kunci untuk suatu
transaksi, peristiwa, atau situasi melalui diskusi dengan personil klien yang memiliki
pengetahuan tentang situasi.
3. Melakukan Analisis dan Identifikasi Alternatif Potensial
Unsur berikutnya dari proses penilaian profesional melibatkan analisis masalah
berdasarkan fakta dan informasi yang dikumpulkan dan literatur otoritatif terkait yang
diidentifikasi. Sebagai bagian dari analisis itu, auditor mempertimbangkan sejumlah
faktor seperti apakah dia memahami bentuk dan substansi dari transaksi atau
peristiwa, apakah literatur otoritatif yang relevan telah diterapkan secara konsisten
oleh klien untuk situasi yang serupa, apakah auditor memiliki mampu menguatkan
fakta dan asumsi yang penting bagi analisis.
4. Membuat Keputusan
Begitu analisis fakta dan informasi telah selesai, auditor menerapkan penilaian untuk
mengambil keputusan.

4
5. Tinjau dan Lengkapi Dokumentasi dan alasan untuk Kesimpulan
Sebagai auditor mengartikulasikan dalam bentuk tertulis alasan pemikirannya, auditor
dapat menemukan bahwa alasannya tampak salah atau tidak lengkap dan oleh karena
itu tidak persuasif.

F. SIKLUS LAPORAN KEUANGAN


Cara yang umum untuk membagi audit adalah dengan tetap mempertahankan hubungan
yang erat antara jenis transaksi dan saldo akun dalam segmen yang sama. Cara ini disebut
pendekatan siklus. Siklus yang digunakan adalah :
1. Siklus penjualan dan penagihan
2. Siklus akuisisi dan pembayaran
3. Siklus penggajian dan personalia
4. Siklus persediaan dan pergudangan
5. Siklus akuisisi modal dan pembayaran kembali

Hubungan di antara Siklus Transaksi

G. MENETAPKAN TUJUAN AUDIT


Para auditor melaksanakan audit atas laporan keuangan dengan menggunakan
pendekatan siklus yaitu melakukan pengujian atas transaksi-transaksi yang menghasilkan
saldo akhir dan juga melaksanakan pengujian audit atas saldo akun serta pengungkapan yang
terkait. Secara umum auditor telah menemukan bahwa cara yang paling efisien dan efektif
untuk melakukan audit adalah dengan memperoleh beberapa kombinasi kepastian bagi setiap
kelas transaksi dan saldo akhir pada akun yang terkait.
Untuk setiap transaksi, beberapa tujuan audit yang harus dipenuhi sebelum auditor dapat
menyimpulkan bahwa transaksi tersebut telah dicatat dengan tepat yaitu :
1. Tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi
Contohnya : berkaitan dengan transaksi penjualan serta tujuan audit khusus yang
berkaitan dengan transaksi retur dan pengurangan harga penjualan

5
2. Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo
Contohnya : berkaitan dengan saldo piutang usaha dan tujuan audit khusus yang
berkaitan dengan utang usaha
3. Tujuan audit yang berkaitan dengan penyajian dan pengungkapan
Contohnya : berkaitan dengan penyajian dan pengungkapan untuk piutang wesel
serta wesel bayar

H. ASERSI MANAJEMEN
Asersi manajemen adalah representasi pernyataan yang tersirat atau diekspresikan oleh
manajemen tentang kelas transaksi dan akun serta pengungkapan yang terkait dalam laporan
keuangan. Asersi Manajemen berkaitan langsung dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku umum (GAAP/PSAK), karena asersi ini merupakan bagian dari kriteria yang
digunakan manajemen untuk mencatat dan mengungkapkan informasi akuntansi dalam
laporan keuangan. Standar auditing internasional dan standar auditing AICPA
mengklasifikasikan asersi kedalam tiga kategori :
1. Asersi tentang kelas transaksi dan peristiwa selama periode yang diaudit
2. Asersi tentang saldo akun pada akhir periode
3. Asersi tentang penyajian dan pengungkapan

Asersi Manajemen untuk Setiap Kategori Asersi

6
I. TUJUAN AUDIT YANG BERKAITAN DENGAN TRANSAKSI
Tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi mengikuti dan berhubungan erat dengan
asersi manajemen tentang kelas transaksi. Ada perbedaan audit yang berkaitan dengan
transaksi dan tujuan audit khusus yang berkaitan dengan transaksi bagi setiap kelas
transaksi. Setelah auditor menetapkan tujuan audit umum yang berkaitan dengan
transaksi, hal itu dapat digunakan untuk mengembangkan tujuan audit khusus yang
berkaitan dengan transaksi bagi setiap kelas transaksi yang akan diaudit.
Tujuan audit umum yang berkaitan dengan transaksi :
1. Kejadian – transaksi yang dicatat memang ada
2. Kelengkapan – transaksi yang terjadi telah dicatat
3. Keakuratan – transaksi yang dicatat dinyatakan pada jumlah yang benar
4. Posting dan pengikhtisaran – transaksi yang dicatat dimasukkan ke dalam
file induk dan diikhtisarkan dengan benar
5. Klasifikasi – transaksi yang dicatat dalam jurnal klien telah diklasifikasikan
secara tepat
6. Penetapan waktu – transaksi dicatat pada tanggal yang benar

J. TUJUAN AUDIT YANG BERKAITAN DENGAN SALDO DAN


BERKAITAN DENGAN PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
Tujuan audit umum yang berkaitan dengan saldo:
1. Eksistensi – Jumlah yang Tercantum Memang Ada
2. Kelengkapan – Jumlah yang Ada telah Dicantumkan
3. Keakuratan – Jumlah yang Teracantum telah Dinyatakan Benar
4. Klasifikasi – Jumlah yang Tercantum dalam Daftar Klien telah Diklasifikasikan
dengan Tepat
5. Cut Off – Transaksi yang Mendekati Tanggal Neraca telah Dicatat pada Periode
yang Tepat
6. Hubungan yang Rinci (Detail Tie-In) – Rincian Saldo Akun Sesuai dengan Jumlah
pada File Induk yang Berkaitan, sesuai dengan Total Saldo Akun, dan sesuai
dengan Total Buku Besar
7. Nilai yang Dapat Direalisasi – Aset yang Telah Dicantumkan dalam Jumlah yang
Diestimasi akan Direalisasi
8. Hak dan Kewajiban – selain eksistensi, sebagian besar asset juga harus dimiliki
sebelum dapat dicantumkan dalam laporan keuangan.

7
Hubungan antara Asersi Manajemen dan Tujuan Audit yang Berkaitan dengan
Saldo

Tujuan Audit yang Berkaitan dengan Penyajian dan Pengungkapan