Anda di halaman 1dari 8

ARNIRIANI (A31115038)

HASNIAR (A3115025)
RMK Pengauditan II

“JASA-JASA LAIN AKUNTAN DAN PELAPORANNYA”

A. Menerima dan Melaksanakan Penugasan Atestasi


Jasa atestasi merupakan suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan orang yang
independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai, dalam semua hal
yang material, dengan kriteria yang telah ditetapkan, yakni beberapa bentuk jasa atestasi
adalah audit keuangan historis, pemeriksaan atau examination, review dengan cara
wawancara, dan prosedur yang disepakati bersama. Sebagai contoh asersi dalam laporan
keuangan historis adalah adanya pernyataan manajemen bahwa laporan keuangan sesuai
dengan Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).
Menurut Haryono dalam buku Auditing, penugasan atestasi adalah penugasan yang
di dalamnya praktisi (akuntan publik) dikontrak untuk menerbitkan komunikasi tertulis
yang menyatakan kesimpulan tentang keandalan asersi-asersi.
Standar profesional yang dikembangkan oleh AICPA mempromosikan
keseragaman mutu praktik dan mempertinggi pemahaman pemakai atas perbedaan jenis-
jenis jasa yang diberikan serta tingkat keyakinan yang berkaitan dengannya. Akuntan
publik yang melaksanakan banyak jenis jasa ini juga harus bersedia dinilai praktiknya
melalui review yang teratur.
Standar profesional dasar yang diterbitkan oleh Accounting Standards Board yang
berkaitan dengan jasa ini adalah sebagai berikut :
a. Statements on Auditing Standards (SAS)
SAS adalah interpretasi dari standar audit yang berlaku umum dan pada umumnya
berkaitan dengan asersi manajemen tentang unsur-unsur yang termasuk dalam laporan
keuangan. Jenis-jenis penugasan yang dibahas mencakup pelaporan laporan keuangan
yang disiapkan atas dasar akuntansi komprehensif selain dari GAAP, pelaporan unsur,
akun, atau pos-pos spesifik dari suatu laporan keuangan, dan laporan ketaatan yang
berkaitan dengan laporan keuangan yang telah diaudit.
b. Statement on Standards for Attestation Engagements (SSAEs)

1
SSAEs menetapkan kerangka kerja yang luas untuk berbagai jasa atestasi yang
diminta dari profesi akuntansi. Standar ini dan komentar interpretasi yang bertalian
dirancang untuk memberikan pedoman profesional yang akan mempertinggi baik
konsistensi maupun mutu pelaksanaan jasa-jasa tersebut.
c. Statements on Standards for Accounting and Review Services (SSARS)
SSARS mendefinisikan jasa yang berkaitan dengan review atau kompilasi
laporan keuangan dari entitas nonpublik dan memberikan pedoman bagi akuntan
berkenaan dengan standar serta prosedur yang berlaku untuk kedua penugasan ini. Jasa ini
hanya tersedia bagi entitas nonpublik.
Pada tahun 1996, AICPA menerbitkan untuk pertama kali seri baru pernyataan
otoritatif yang berjudul Statements on Standards for Attestation Enggaments (SSAEs).
Dengan tujuan memberikan pedoman dan menetapkan kerangka kerja yang luas untuk
pelaksanaan serta pelaporan jasa atestasi, SSAEs 1, Attestation Standards (AT 100.01)
mendefinisikan penugasan atestasi sebagai berikut:
“Penugasan atestasi (attest engagement) adalah satu penugasan di mana seorang
praktisi (akuntan publik) bertugas untuk menerbitkan komunikasi tertulis yang
menyatakan suatu kesimpulan mengenai reliabilitas asersi tertulis yang merupakan
tanggung jawab pihak lain.”
Dalam melaksanakan tugas atestasi seorang akuntan publik harus melakukan hal-
hal berikut:
1. Mengumpulkan bukti yang mendukung asersi;
2. Menilai secara obyektif pengukuran yang membuat asersi;
3. Melaporkan temuan-temuannya.
Berbagai jasa tidak melibatkan atestasi atas reliabilitas dari asersi tertulis yang
merupakan tanggung jawab pihak lain. Contoh jasa-jasa akuntan publik yang tidak
dianggap sebagai penugasan atestasi adalah:
1. Penugasan konsultasi manajemen dimana para praktisi bertugas memberikan nasihat
atau rekomendasi kepada klien;
2. Penugasan dimana para praktisi bertugas untuk mendukung posisi klien, misalnya
mengenai masalah perpajakan yang direview Dinas Perpajakan (IRS);
3. Penugasan pajak dimana para praktisi bertugas menyiapkan SPT pajak dan memberikan
nasihat pajak;

2
4. Penugasan dimana para praktisi mengkompilasi laporan keuangan, karena ia tidak
diwajibkan untuk memeriksa atau mereview setiap bukti yang mendukung informasi
yang diserahkan oleh klien dan tidak menyatakan setiap kesimpulan atas reliabilitasnya;
5. Penugasan dimana peranan para praktisi semata-mata adalah membantu klien misalnya,
bertindak sebagai akuntan perusahaan dalam menyiapkan informasi selain laporan
keuangan;
6. Penugasan di mana peranan para praktisi semata-mata adalah membantu klien
misalnya, bertindak sebagai akuntan perusahaan dalam menyiapkan informasi selain
laporan keuangan;
7. Penugasan di mana para praktisi bertugas untuk memberi kesaksian sebagai saksi ahli
dalam masalah akuntansi, auditing, perpajakan, atau hal lain, dengan adanya fakta
tertentu yang diterapkan.
Suatu audit akan diakhiri dengan pernyataan pendapat mengenai kelayakan
penyajian unsur, akun, atau pos-pos spesifik. Dalam menyatakan pendapat. AU 662.13
menunjukkan auditor harus mengakui bahwa konsep materialitas harus dikaitkan dengan
masing-masing unsur, akun, atau pos yang dilaporkan, bukan dengan laporan keuangan
secara keseluruhan.
Lebih lanjut, auditor tidak boleh menyatakan pendapat atas data spesifik apabila ia
telah menyatakan pendapat tidak wajar atau penolakan memberikan pendapat tentang
laporan keuangan, kecuali data spesifik itu hanya merupakan bagian yang tidak signifikan
dari laporan keuangan. Prosedur yang disepakati bersama penerapan prosedur yang
disepakati bersama (agreed-upon procedures) bukan merupakan suatu audit. Jenis jasa ini
dapat terjadi, misalnya, dalam akuisisi yang diusulkan apabila calon pembeli meminta
akuntan hanya merekonsiliasi saldo bank dan mengkonfirmasi piutang usaha.

B. Standar Atestasi
Dalam penugasan atestasi auditor harus menemui 11 standar atestasi yang dapat
dibagi menjadi 3 kategori, yaitu :
1. Standar Umum
a. Penugasan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih yang memiliki
keahlian dan pelatihan teknik cukup dalam fungsi atestasi;

3
b. Penugasan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih yang memiliki
pengetahuan yang cukup dalam bidang yang bersangkutan dengan asersi;
c. Praktisi harus melaksanakan suatu penugasan hanya jika ia mempunyai alasan
untuk yakin bahwa dua kondisi berikut tersedia:

 Asersi dapat dievaluasi terhadap kriteria rasional yang telah ditetapkan oleh
suatu lembaga yang telah diakui atau yang dinyatakan dalam penyajian asersi
itu secara cukup jelas dan komparatip yang dapat dimengerti oleh pembaca yang
mampu memahaminya;

 Asersi tersebut dapat diestimasi atau diukur secara konsisten dan rasional
dengan menggunakan kriteria tersebut.
d. Dalam semua hal yang bersangkutan dengan penugasan sikap mental harus
diperhatikan oleh praktisi;
e. Dalam pelaksanaan penugasan para praktisi wajib menggunakan kemahiran
profesional dengan cermat dan seksama.
2. Standar Pekerjaan Lapangan
a. Pekerjaan harus dilaksanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus
disupervisi dengan semestinya;
b. Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan dasar yang layak bagi
kesimpulan yang dinyatakan dalam laporan.
3. Standar Pelaporan
a. Laporan harus menyebutkan asersi yang dilaporkan dan menyatakan sifat
penugasan atestasi yang bersangkutan;
b. Laporan harus menyatakan kesimpulan praktisi mengenai apakah asersi disajikan
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan atau kriteria yang dinyatakan yang
dipakai sebagai alat pengukur;
c. Laporan itu harus menyatakan semua keberatan praktisi yang signifikan tentang
penugasan dan penyajian asersi;
d. Laporan suatu penugasan untuk mengevaluasi suatu asersi yang disusun
berdasarkan kriteria yang disepakati bersama atau berdasarkan suatu penugasan
untuk melaksanakan prosedur yang disepakati bersama harus berisi suatu
pernyataan tentang keterbatasan pemakaian laporan hanya oleh pihak-pihak yang
menyepakati kriteria atau prosedur tersebut.

4
C. Penugasan yang Dilaksanakan Menurut Standar Atestasi
Penugasan yang dilaksanakan seorang akuntan publik menurut Statements on
Standards for Attestation Engagements (SSAEs) memberikan suatu tinjauan atas jasa
atestasi dan menguraikan tingkat keyakinan yang berkaitan dengan setiap jasa atestasi.
Dalam melaksanakan jasa atestasi ada empat tipe penugasan yaitu:
1. Prakiraan dan Proyeksi Keuangan
a. Jenis informasi keuangan prospektif, ada dua jenis informasi keuangan yang
prospektif (SAT 200.06) yaitu:

 Prakiraan keuangan, laporan keuangan prospektif yang menyajikan, yang


terbaik dari pengetahuan dan keyainan pihak yang bertanggung jawab, posisi
keuangan, hasil operasi, dan arus kas yang diharapkan dari suatu entitas.

 Proyeksi keuangan yaitu laporan keuangan prospektif yang menyajikan


sepanjang pengetahuan dan keyakinan pihak yang bertaanggung jawab, atas
dasar satu atau lebih asumsi hipotesis posisi keuangan, hasil usaha dan aliran
kas.
Ada 3 tipe jasa yang berkaitan dengan laporan keuangan prospektif yaitu kompilasi
atau penyusunan, pemeriksaan, dan penerapan prosedur yang disepakati bersama.
b. Pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif
Hal yang berhubungan dengan pemeriksaan laporan keuangan yang prospektif
diharuskan:

 Menilai penyusunan laporan keuangan prospektif

 Menilai hal-hal yang mendasari asumsi

 Menilai penyajian laporan keuangan prospektif mengenai kesesuaian dengan


pedoman penyajian laporan keuangan prospektif

 Menerbitkan laporan pemeriksaan


c. Laporan standar atas laporan keuangan prospektif
Hal-hal yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

 Identifikasi laporan keuangan prospektif yang disajikan;

 Pernyataan bahwa laporan keuangan prospektif dilakukan sesuai dengan standar


yang telah ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia dan uraian singkat tentang sifat
pemeriksaan yang dilakukan;

5
 Pendapat akuntan bahwa laporan keuangan prospektif disajikan sesuai dengan
pedoman penyajian laporan keuangan prospektif yang ditetapkan Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI) dan bahwa asumsi yang mendasarinya memberikan
dasar yang rasional untuk melakukan prakiraaan atau proyeksi dengan asumsi
hipotesis tertentu;

 Catatan bahwa hasil propektif mungkin tidak dapat dicapai;

 Pernyataan bahwa akuntan tidak bertanggung jawab untuk memutakhirkan


laporan dengan adanya peristiwa dan keadaaan yang terjadi setelah tanggal
neraca.

d. Penyimpangan dari laporan standar


Umumnya terjadi saat akuntan memiliki pendapat lain terhadap laporan keuangan
prospektif diantaranya sebagai berikut:

 Jika menurut pendapat akuntan, laporan keuangan prospektif menyimpang dari


pedoman penyajian laporan keuangan prospektif yang ditetapkan IAI, ia harus
memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar.
Namun jika penyajian yang menyimpang dari pedoman penyajian karena
kegagalan dalam pengungkapan asumsi signifikan akuntan harus memberikan
pendapat tidak wajar;

 Jika akuntan berpendapat bahwa satu atau lebih signifikan tidak memberikan
dasar rasional untuk melakukan prakiraan atau proyeksi dengan asumsi
hipotesis tertentu ia harus memberikan pendapat tidak wajar;

 Jika pemeriksaaan akuntan dipengaruhi oleh kondisi yang menghalangi


penerapan satu atau lebih prosedur yang dipandang perlu, ia harus menyatakan
tidak memberikan pendapat dan menjelaskan batasan lingkup tersebut dalam
laporannya.
e. Penerapan prosedur yang disepakati bersama
Tanggung jawab akuntan dalam prosedur yang disepakati bersama adalah
melaksanakan prosedur itu dan melaporkan temuan sesuai dengan standar umum,
pekerjaan lapangan, dan pelaporan yang berlaku.
Jika akuntan bersangkutan dengan laporan keuangan yang belum diaudit dari entitas
publik, maka ia diwajibkan untuk menyatakan dalam laporannya bahwa suatu audit

6
belum dilakukan dan menyertakan penolakan memberikan pendapat. Disamping itu,
setiap halaman dari laporan keuangan itu juga harus ditandai ”belum diaudit”.
f. Kompilasi
Suatu penugasan kompilasi dimaksudkan untuk membantu manajemen dalam
penyiapan prakiraan atau proyeksi, tetapi tidak dimaksudkan untuk memberikan
keyakinan atas laporan keuangan prospektif, atau asumsi yang mendasari laporan
tersebut.

2. Pelaporan atas Pengendalian Internal


Berbagai faktor telah menyebabkan berkembangnya pengakuan akan
pentingnya pengendalian internal suatu entitas. Bersamaan dengan berkembangnya
pengakuan ini, meningkat pula kepentingan puhak investor, pemerintah, Kongres AS,
serta pihak lainnya agar manajemen menerbitkan asersi tertulis tentang pengendalian
internal entitas, dan agar akuntan independen melakukan atestasi pada asersi
manajemen. AICPA telah merekomendasikan agar perusahaan publik disyaratkan
untuk menerbitkan laporan tersebut, termasuk atestasi akuntan independen.
Di samping melaksanakan jasa pemeriksaan atas jasa-jasa asersi di atas, akuntan
independen juga dapat melaksanakan lebih banyak penugasan prosedur yang disepakati
bersama yang terbatas dalam situasi tertentu.
3. Atestasi Ketaatan
Penugasan prosedur yang disepakati bersama. Adapun pedoman bagi akuntan publik
dalam melaksanakan atestasi kepatuhan tentang:
a. Kepatuhan satuan usaha terhadap persyaratan tertentu
b. Efektifitas pengendalian intern terhadap kepatuhan
c. Persyaratan tersebut digabung menjadi satu.
SAT 500 tidak berlaku apabila laporan keuangan auditor tentang kepatuhan terhadap
persyaratan, semata-mata didasarkan pada suatu audit atas laporan keuangan keuangan
sebagaimana telah dibahas diatas (dibawa judul :laporan khusus).
4. Pembahasan dan Analisis Manajemen
Dalam SAT 700 dijelaskan bahwa analisis dan pembahasan oleh pihak manajemen
merupakan standar atestasi dan memberikan panduan bagi praktisi tentang pelaksanaan
suatu penugasan atestasi yang berkaitan dengan analisis dan pembahasan oleh

7
manajemen (APM) yang dibuat sesuai dengan peraturan Badan Pengawas Pasar Modal
(BAPEPAM) yang disajikan dalam laporan keuangan tahunan kepada pemegang saham
dan dalam dokumen lain.