Anda di halaman 1dari 270

i

ALAT PENUKAR KALOR

ii
Kutipan Pasal 72, Ayat 1, 2, dan 3, Undang-undang Republik Indonesia No. 19 Tahun 2002
tentang HAK CIPTA:

(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara
masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit
Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara masing-masing paling singkat 1
(satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana
penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00
(limamiliar rupiah).

(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual


kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk
kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).

Alat Penukar Kalor / Nandy Putra. ‐‐ Jakarta : Penerbit Departemen Teknik Mesin
Universitas Indonesia, 2012.

ISBN 978‐602‐98412‐1‐3

Layout : Haulia
Hak Cipta © 2012 : Pada Penulis
Hak Penerbitan : Pada Penerbit Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

iii
Kata Pengantar

Keinginan untuk membuat buku tentang Alat penukar kalor sudah lama
direncanakan sejak Mata Ajaran Alat Penukar Kalor dijadikan Mata ajaran pilihan di
Kurikulum Teknik Mesin Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Univeristas
Indonesia tahun 2004. Bahan-bahan sudah dikumpulkan antara lain dari bahan-bahan
pelatihan alat penukar kalor yang pernah diselenggarakan dimana Lab Perpindahan
kalor bekerjasama dengan Heat Transfer Fluid Flow Service dan pada waktu itu Dr.
Viswas Wadekar menjadi instruktur pelatihan dan bahan-bahan dari penelitian yang
dilakukan penulis bersama mahasiswa-mahasiswa S-1 antara lain Ferki, Reza Adiprana,
Hany, Reza Prayogi, Agus LMS, Chandra, Amri, Dian, Mulyanto, Kuswantoro, Anwari, Luky,
Dwi Ananto, Andreas, Agung, Ichwan, dan mahasiswa-mahasiswa S-2 antara lain Wayan
Nata dan Haulia Rahman.
Buku Alat penukar kalor ini berisikan 10 bab dengan uraian sebagai berikut: Bab
1 mengulas mengenai klasifikasi alat penukar kalor yang diaplikasikan di industri, bab 2
dituliskan mengenai Metode dasar desain alat penukar kalor, Bab 3 membahas
mengenai korelasi konveksi paksa pada alat penukar kalor, pada bab ini banyak
diuraikan mengenai persamaan-persamaan perpindahan kalor yang biasa digunakan
dalam perancangan termal alat penukar kalor. Bab 4 membahas faktor pengerakan di
alat penukar kalor. Bab 5 diuraikan mengenai Shell and Tube yang merupakan alat
penukar kalor yang paling banyak digunakan di dalam industri. Kemudian bab 6 dibahas
mengenai Alat Penukar Kalor Pelat yang merupakan salah satu contoh jenis alat
penukar kalor yang kompak (compact heat exchanger). Bab 7 dibahas mengenai alat
pendingin evaporatif. Bab 8 diuraikan mengenai air cooled heat exchanger. Bab 9
membahas mengenai pipa kalor, salah satu alat penukar kalor yang unik dan banyak
diaplikasikan sebagai pendingin alat elektronik. Pipa Kalor ini menjadi salah satu objek
penelitian pada grup riset penulis bersama mahasiswa-mahasiswa S1, S2 dan S3. Bab
terakhir adalah Bab 10 yang membahas mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan
di Laboratorium Perpindahan Kalor yakni Air Conditioning Water Heater.
Penyelesaian buku ini banyak dibantu oleh Haulia Rahman ST, MT yang
senantiasa membantu penulis dalam pengeditan baik tulisan dan gambar-gambar.
Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih, dan penulis berharap bantuannya
untuk buku-buku berikutnya yakni mengenai Termoelektrik dan Nanofluida.

iv
Bantuan penulisan buku teks dari Dikti tahun 2011 mempercepat proses
penyelesaian buku Alat Penukar Kalor ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih atas
bantuan Prof. Dr. Suminar dari IPB yang telah bersedia menjadi pendamping dalam
editing buku ini.
Penulis berharap masukan dari para teman sejawat, rekan dari industri dan para
mahasiswa, agar buku alat penukar kalor ini lebih lengkap dan dapat dipergunakan
untuk bahan perkuliahan dan referensi dalam desain alat penukar kalor.

Depok, 2 Desember 2011

Prof.Dr.-Ing. Nandy Putra

v
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................. iii


Daftar Isi ........................................................................................................ v

BAB I KLASIFIKASI ALAT PENUKAR KALOR


1.1 Pengenalan ............................................................................................. 1
1.2. Klasifikasi Alat Penukar Kalor ............................................................... 2
1.2.1. Klasifikasi menurut proses perpindahan Kalor ............................. 6
1.2.2. Klasifikasi Menurut Jumlah Fluida .............................................. 11
1.2.3. Klasifikasi Menurut Permukaan Kompak. .................................... 11
1.2.4. Klasifikasi menurut Konstruksi .................................................... 13
1.2.5. Klasifikasi Menurut Susunan Aliran ............................................. 28
1.2.6. Klasifikasi Menurut Mekanisme Perpindahan Panas .................. 35
1.3. Aplikasi Alat Penukar Kalor ................................................................... 36

BAB II METODE DISAIN DASAR ALAT PENUKAR KALOR


2.1. Persamaan Dasar Desain Alat Penukar Kalor........................................ 39
2.2. Koefisien Perpindahan Kalor Total (Overall Heat Transfer Coeffisient) 41
2.3. LMTD (Logarithmic Mean Temperature Defference) ............................. 42
2.4. Effective - Number Transfer Unit (ε–NTU) .............................................. 46

BAB III KORELASI KONVEKSI PAKSA PADA ALAT PENUKAR KALOR


3.1. Perpindahan Kalor Konduksi ................................................................. 55
3.2. Perpindahan Kalor Konveksi ................................................................. 57

BAB IV FAKTOR PENGERAKAN


4.1. Definisi dan Proses Terjadinya Pengerakan (Fouling) ........................... 71
4.2. Pengaruh pengerakan terhadap kinerja APK ......................................... 73

vi
4.3. Faktor Pengerakan ( ) ........................................................................ 74
4.4. Faktor Kebersihan (Cleanliness, CF) ...................................................... 76

BAB V ALAT PENUKAR KALORSELONGSONG DAN PIPA (SHELL & TUBE)


5.1. Keunggulan-Keunggulan Alat Penukar Kalor Selongsong Dan Pipa ...... 81
5.2. Kontruksi Alat Penukar Kalor Selongsong Dan Pipa ............................. 82
5.3. Kriteria Disain Selongsong Dan Pipa Dari Segi Mekanikal .................. 93
5.4. Pertimbangan Dalam Menentukan Fluida Dalam Selongsong -
Dan Pipa ............................................................................................... 98
5.5. Perbandingan dari susunan tube pada alat penukar kalor .................. 101
5.6. Laluan (Pass) Pada Alat Penukar Kalor Selongsong Dan Pipa ............. 102
5.7. Jatuh Tekanan (pressure drop) ............................................................. 103
5.8 Disain Mekanikal .................................................................................... 104

BAB VI PENUKAR KALOR PELAT


6.1. Pendahuluan .......................................................................................... 109
6.2. Geometri Pelat ....................................................................................... 115
6.3. Koefisien Perpindahan Kalor Konveksi ................................................. 118
6.4. Koefisien Perpindahan Kalor Menyeluruh
(Overall Heat Transfer Coeficient) .......................................................... 120
6.5. Analisis Plate Heat Exchanger dengan Logarithmic Mean-

Temperature Difference ......................................................................... 123


6.6. Metode Number of Transfer Unit (NTU) pada Analisa Alat-

Penukar Kalor ........................................................................................ 125

BAB VII ALAT PENDINGIN EVAPORATIF


7.1. Pendinginan Evaporatif ......................................................................... 131
7.2. Pendinginan Evaporatif Tipe Langsung ................................................. 133
7.3. Pendinginan Evaporatif Tak Langsung .................................................. 138

BAB VIII Air Cooled Heat Exchanger (ACHE)


8.1. Pendahuluan .......................................................................................... 147

vii
8.2. Susunan dan Konstruksi ACHE .............................................................. 147
8.3. Kapasitas Aliran udara ........................................................................... 154
8.4. Desain Termal ......................................................................................... 156
8.5. Beda Suhu Rata-rata Logaritmik (LMTD) ................................................ 165

BAB IX PIPA KALOR


9.1. Sejarah Pipa Kalor ................................................................................. 171
9.2. Ciri Kerja Pipa Kalor ............................................................................... 173
9.3. Fluida Kerja ............................................................................................ 179
9.4. Struktur Sumbu ..................................................................................... 184
9.5. Media Berpori ........................................................................................ 190
9.6. Metallurgi Serbuk .................................................................................. 192
9.7. Perpindahan Kalor dan Hambatan Kalor .............................................. 193
9.8. Pendidihan .............................................................................................. 197

BAB X Penyejuk Udara Pemanas Air (ACWH)


10.1. Pendahuluan ...................................................................................... 207
10.2. Jenis-Jenis Pemanas Air ....................................................................... 210
10.3. ACWH dengan APK Tipe Pelat (PHE) .................................................... 231
10.4. ACWH dengan APK Tipe Serpentin ....................................................... 251

viii
Bermacam-macam jenis alat penukar kalor (APK) digunakan di industri, di
gedung- gedung perkantoran dan perumahan, di peralatan elektronik dan
berbagaimacam produk lainnya. Tujuan dari bab ini adalah untuk menjelaskan secara
rinci APK dengan melihat pada pengklasifikasiannya. Dimulai dari definisi APK,
kemudian APK diklasifikasikan menurut proses perpindahan kalornya, jumlah fluida
kerja, permukaan yang kompak susunan aliran dan menurut mekanisme perpindahan
kalornya.

1.1 Pengenalan

Lebih dari satu abad yang lalu, arti penting alat penukar kalor (APK) meningkat
sangat pesat dari sudut pandang konservasi energi, konversi energi, rekoveri kalor (heat
recovery), dan implementasi sumber energi terbarukan. Arti penting tersebut juga
meningkat dari sudut pandang yang berkaitan dengan lingkungan, misalnya polusi
termal, polusi udara, polusi air, dan pengelolaan hasil gas buang. APK banyak digunakan
antara lain pada beberapa proses industri, pembangkitan daya, alat transportasi,
penyeduk udara dan refrigerasi, sistem kriogenik, rekoveri kalor, bahan bakar alternatif,
dan industri manufaktur, yang merupakan komponen kunci pada produk-produk industri
yang tersedia di pasaran.
APK adalah alat yang digunakan untuk memindahkan energi termal (entalpi) di
antara dua fluida atau lebih, antara permukaan padatan dan fluida, atau antara partikel
padatan dan fluida, pada kondisi suhu yang berbeda dalam keadaan kontak termal.
Pada APK biasanya tidak terjadi interaksi panas dan kerja terhadap lingkungan luarnya.
Aplikasi APK pada umumnya digunakan sebagai sistem pemanasan atau
pendinginan baik tanpa disertai perubahan fase dari aliran fluida maupun disertai
dengan perubahan fase, yakni penguapan atau pengembunan aliran fluida. Pada

1
aplikasi khusus, APK banyak digunakan pada proses sterilisasi, pasteurisasi, fraksionasi,
penyulingan, konsentrasi, kristalisasi, maupun sebagai pengontrol fluida kerja.

1.2 Klasifikasi APK

Secara garis besar, APK terbagi dalam dua kategori. Kategori pertama ialah
terjadinya pencampuran antara fluida-fluidanya dan kategori kedua adalah fluida-
fluidanya dipisahkan oleh permukaan perpindahan kalor. APK yang bercampur disebut
sebagai APK jenis transfer langsung atau regenerator, artinya fluida yang kontak akan
memindahkan energi kalor secara langsung. Sebaliknya, APK yang perpindahannya
melalui permukaan perpindahan kalor, perpindahan terjadi melalui penyimpan kalor
(thermal energy storage) dan pelepasan melalui permukaan penukarkalor; jenis ini
disebut sebagai transfer taklangsung atau rekuperator. Jika tidak ada perubahan fase
pada fluida kerja, APK jenis ini disebut penukar kalor sensibel. Dalam APK ada
kemungkinan terdapat sumber energi kalor internal, seperti pada pemanas listrik dan
elemen bahan bakar nuklir. Penggunaan APK di industri sebagai salah satu rangkaian
proses produksi di antaranya boiler, pemanas bakar, dan penukar kalor fluidized-bed.
Peralatan mekanis juga dapat dipasangi APK seperti pada scraped surface exchanger,
bejana pengaduk, dan reaktor tanki pengaduk.
Perpindahan kalor pada kategori rekuperator biasanya melalui dinding pemisah
untuk menyatukan fluida yang bercampur. Namun, ada beberapa yang tidak
menggunakan dinding pemisah dan ada pula yang berfungsi ganda, baik sebagai dinding
pemisah maupun sebagai pendorong perpindahan kalor melalui kondensasi, evaporasi,
dan konduksi fluida kerja di dalam pipa, seperti pada pipa kalor. Umumnya, bila fluida
bersifat takcampur (immiscible, tidak dapat menjadi homogen, tidak dapat bercampur
bersama membentuk satu zat yang homogen), dinding pemisah tidak diperlukan, dan
antarmuka (interface) fluida menggantikan permukaan perpindahan kalor, seperti pada
APK kontak langsung.
APK tipe regenerator banyak ditemukan di industri adalah shell-and-tube, radiator
kendaraan, kondenser, evaporator, prapemanas udara, dan menara pendingin. APK
taklangsung cenderung mengalami masalah kebocoran fluida kerjanya, akibat dari
perbedaan tekanan dan aliran.
Komponen utama APK terdiri atas elemen perpindahan kalor (seperti core atau
matriks yang merupakan permukaan perpindahan kalor), dan elemen distribusi fluida
2
(seperti header, manifold, tanki, pipa, nozzle, atau seal). Di dalam APK, biasanya tidak
banyak bagian mekanis yang bergerak; namun, beberapa jenis APK kategori taklangsung
memunyai motor seperti misalnya pada rotary regeneratif atau APK scraped surface
(Gambar 1.1 dan 1.2).

Motor
penggerak Udara
Keluaran gas Fan dingin
buang yang masuk
didinginkan

Regenerative
Heat absorbing
material

Gas buang
panas Udara panas

Gambar 1.1 APK dengan tambahan motor penggerak rotary regeneratif [Shah, 2003]

Permukaan perpindahan kalor adalah permukaan APK yang mengalami kontak


langsung dengan fluida dan melalui permukaan tersebut, kalor dipindahkan melalui
konveksi. Untuk meningkatkan kalor yang mampu dipindahkan oleh APK dan mengingat
kalor konveksi yang berperan besar maka luasan perpindahan kalor yang digunakan
dapat semaksimum mungkin diperluas. Permukaan perpindahan kalor dapat
ditambahkan pada permukaan primer sebagai permukaan sekunder, dan biasanya
permukaan tambahan ini dikenal sebagai sirip (fin). Sehingga, kalor dipindahkan secara
konduksi melalui sirip dan kemudian dikonveksikan dari sirip ke lingkungan fluida, atau
sebaliknya, bergantung pada apakah sirip tersebut berfungsi sebagai penyerap kalor
atau pelepas kalor.

3
Fluida
panas
keluar
Uap

Fluida
dingin Kondensat
keluar

Motor

Gambar 1.2 APK scraped surface [niro.com, 2011]

Seperti pada Gambar 1.3 sirip sebagai permukaan sekunder akan menambah
besarnya kalor yang dipindahkan melalui kalor konveksi antara fluida dan dinding APK.
Penambahan sirip pada permukaan primer akan mengurangi tahanan termal pada sisi
itu dan meningkatkan perpindahan kalor total dari permukaan yang sama pada
perbedaan suhu yang sama. Sirip dapat berbentuk jalur aliran untuk fluida tetapi tidak
berbentuk pemisah untuk fluida tersebut. Permukaan sekunder juga dapat dipakai
sebagai penguat struktur atau sebagai pencampur fluida dengan viskositas besar.

Gambar 1.3 Sirip tube pada APK


APK dapat digolongkan dengan kriteria yang berbeda-beda. Penggolongan dapat
berdasarkan atas proses perpindahan kalor, jumlah fluida, dan mekanisme perpindahan
kalor. APK konvensional digolongkan menurut tipe konstruksi dan susunan aliran.
Penggolongan lain dapat dibuat berdasarkan nisbah luas permukaan perpindahan

4
kalor/volume ataupun penggolongan dalam jenis APK kompak dan tidak kompak. Pada
Gambar 1.4 dapat dilihat klasifikasi APK.

Klasifikasi menurut proses transfer

Tipe kontak tidak langsung Tipe kontak langsung

Tipe Perpindahan Tipe Penyimpanan Tipe Fluidize bed Fluida Immiscible Gas-Cair Cair-Uap
Kontak

Klasifikasi menurut jumlah fluida

Dua fluida Tiga fluida N-fluida (N>3)

Klasifikasi menurut permukaan kompak

Gas-cair Cair-cair dan perubahan fasa

Kompak Tidak kompak Kompak Tidak kompak


β≥ 700 m2/m3 Β< 700 m2/m3 β≥ 400 m2/m3 Β< 400 m2/m3

Klasifikasi menurut konstruksi

Tubular Tipe plat Permukaan di perluas Regeneratif

PHE Spiral Plat koil Printed Sirip-plat Sirip-tube


Circuit
Ordinary Dinding heat pipe
Gasket Las Patri separating wall

Heat pipe Pipa ganda Shell & tube Spiral tube Pipe Coil Rotary Matrix tetap Rotating hood

Klasifikasi menurut susunan aliran

Laluan tunggal Multi laluan

Counter-flow Parallel-flow Cross-flow Split-flow Devided-flow

Permukaan diperluas Shell & Tube Plat


Fluida 1 m laluan
Cross- Cross- Compound Parallel-couterflow Fluida 2 n laluan
parallelflow Split-flow Devided-flow
couterflow flow Dengan laluan
m-shell & m-tube

Klasifikasi menurut mekanisme perpindahan panas

Konveksi satu fasa Konveksi satu fasa satu sisi, Kombinasi perpindahan kalor Konveksi dua fasa
Kedua sisi Konveksi dua fasa sisi yang lain konveksi dan radiasi kedua sisinya

Gambar 1.4. Penggolongan APK [SMRE].

5
Berikut ini akan dijelaskan beberapa jenis penggolongan APK. APK dapat
digolongkan menurut kriteria berdasarkan:
1. Proses perpindahan kalor: kontak langsung (direct contact) dan kontak tidak
langsung (indirect contact).
2. Jumlah fluida 2 fluida, 3 fluida, dan n-fluida.
3. Penggolongan menurut permukaan kompak dan tidak kompak.
4. Geometri dari kontruksi: tubes (pipa-pipa), plates, dan extended surface (permukaan
diperluas = atau dengan sirip).
5. Mekanisme penukaran kalor yang melibatkan perubahan fase, sehingga bisa terdiri
atas satu-fase dan dua-fase
6. Susunan aliran: aliran sejajar (paralel), aliran berlawanan (counter flow), dan aliran
menyilang (cross flow).

1.2.1 Klasifikasi menurut proses perpindahan kalor


APK merupakan suatu peralatan yang memindahkan kalor dari suatu fluida yang
suhunya lebih tinggi kepada fluida lain yang suhunya lebih rendah. Jika dilihat dari
proses perpindahan kalor maka dapat digolongkan menjadi kontak langsung atau
kontak tidak langsung.

(1) APK Kontak Langsung


Pada APK kontak langsung adalah dua aliran fluida bertemu dan mengalami
kontak, bertukaran kalor, dan kemudian dipisahkan. Aplikasi umum dari APK tipe ini
melibatkan perpindahan massa di samping perpindahan kalor, seperti pada pendinginan
evaporatif. Entalpi perubahan fase pada APK tipe ini biasanya menyatakan sejumlah
besar dari energi total yang dialihkan. Perubahan fase umumnya meningkatkan laju
perpindahan kalor. Dibandingkan dengan tipe regenerator yang bersifat kontak tidak
langsung, APK kontak langsung mempunyai beberapa keuntungan :
(1) Dapat mencapai laju perpindahan kalor yang sangat besar
(2) Konstruksi APK ini relatif tidak mahal,
(3) Masalah pengotoran (fouling) biasanya tidak ada karena tidak ada permukaan
perpindahan kalor di antara kedua fluida.

6
Jenis APK tipe kontak langsung berupa

(a) APK Fluida Imisibel


Pada tipe ini, dua fluida yang tak dapat bercampur dibawa secara bersamaan dan
mengalami kontak langsung. Fluida ini dapat berupa keadaan satu fase atau beda fase
sehingga proses kondensasi dan evaporasi dapat terjadi. Contohnya adalah perukaran
kalor pada uap organik atau uap minyak dengan air atau udara.

(b) APK Gas-Likuid


Pada tipe ini, satu fluidanya berbentuk gas (umumnya udara) dan fluida lainnya
berupa cairan dengan tekanan rendah (biasanya air) yang kemudian dapat dipisahkan
menuju jalur masing-masing setelah terjadinya pertukaran energi. Pada pendinginan
cairan atau pelembaban gas (udara), cairan menguap sebagian dan uap tersebut
terbawa oleh gas. Pada APK ini, lebih dari 90% transfer energi dilakukan dengan
perpindahan massa (evaporasi zat cair), dan perpindahan kalor konveksi berperan kecil.
Aplikasi yang paling umum pada tipe APK ini adalah menara pendingin air dengan aliran
udara paksa atau bebas. Aplikasi lainnya meliputi air-conditioning spray chamber, spray
drier, spray tower, dan spray pond (Gambar 1.5).

(a) (b)
Gambar 1.5 APK Gas-Cairan (a) Spray pond (b) Spray tower

(c) APK Likuid-Vapor


Pada tipe ini, uap air (stim, steam) biasanya dikondensasikan oleh air pendingin atau air
dipanasi oleh stim sisa melalui kontak langsung di APK. Arus keluaran dari APK berupa
stim sisa tak terkondensasikan dan air panas. Contoh umumnya berupa desuperheater
(Gambar 1.6) dan open feedwater heater pada pembangkit daya.
7
Spindle

Uap
Superheat
masuk PSV

Air dingin
masuk

Mixing
Chamber

Uap keluaran
Desuperheater

Gambar 1.6 Desuperheater [spiraxsarco.com/desuperheating, 2011]

(2) APK Kontak Tidak Langsung


APK kontak tidak langsung memiliki aliran fluida terpisahkan satu sama lain dan
kalor dipindahkan terus-menerus melalui dinding pemisah atau keluar masuk dinding
secara temporer. Jadi, tidak ada kontak langsung sama sekali antara fluida yang
berinteraksi secara termal. Tipe penukar kalor seperti ini juga dikenal sebagai APK
permukaan, yang dapat digolongkan lebih jauh menjadi tipe direct-transfer, storage, dan
fluidized-bed.

(a) APK tipe transfer langsung (Direct-Transfer)


Kalor pada APK tipe direct-transfer mengalir dari fluida panas ke fluida dingin
melalui dinding batas. Walaupun dibutuhkan dua atau lebih fluida secara bersamaan,
tidak ada pencampuran langsung di antara fluida-fluida tersebut karena setiap fluida
mengalir pada jalannya masing-masing. Umumnya tidak ada bagian yang bergerak pada
APK tipe ini. Penukar kalor tipe ini disebut APK rekuperatif, atau secara sederhana
disebut hanya rekuperator. Beberapa contoh APK tipe transfer-langsung ialah APK
tubular, pelat, dan permukaan diperluas (extended surface). Istilah rekuperator jarang
sekali digunakan di industri proses. APK jenis ini banyak disebut APK shell-and-tube,
walaupun masuk ke dalam golongan rekuperator. Rekuperator lebih jauh digolongkan
lagi menjadi APK prime surface dan permukaan diperluas. APK prime surface tidak
memakai sirip atau peluasan lain pada dinding aslinya. APK tubular sederhana, APK

8
shell-and-tube dengan tube biasa, dan APK pelat adalah contoh untuk APK prime
surface.

(b) APK Storage


Kedua fluida pada APK tipe ini mengalir melalui jalan yang sama secara
bergantian, dan karena itu pertukaran kalor terjadi secara berjeda (intermiten).
Permukaan perpindahan kalor (atau jalur aliran) umumnya terdiri atas konstruksi sel-sel
dan disebut sebagai matriks. Matriks dapat berupa material padat berpori atau bersifat
permeabel yang dikenal dengan packed bed (Gambar 1.7). Ketika gas panas mengalir
melewati permukaan perpindahan kalor, energi termal dari gas panas disimpan dalam
dinding matriks, kemudian gas panas akan didinginkan selama periode pemanasan
matriks. Berikutnya, gas dingin mengalir melalui jalur yang sama, dinding matriks
melepaskan energi termal, yang diserap oleh gas dingin. Jadi, kalor tidak mengalir
melalui dinding secara kontinu seperti pada APK tipe transfer langsung (rekuperator),
tetapi energi termal yang dilibatkan secara bergantian, energi termal disimpan kemudian
dilepaskan oleh dinding matriks. Untuk pengoperasi APK ini secara terus-menerus dan
dalam jangkauan suhu tertentu, maka gas, header, dan matriksnya dapat di-switch
secara berkala (misalnya dengan diputar).
Periode saat gas panas melewati matriks dingin disebut sebagai hot blow, dan
periode gas dingin mengalir melalui matriks panas disebut atau cold blow. Agar operasi
dapat berjalan dengan baik, gas panas dan dingin tidak memiliki waktu periode yang
sama. Di sini akan terdapat kebocoran yang tidak bisa dicegah dari fluida yang
terperangkap ketika terjadi penggantian fluida (switch). Selain itu jika terdapat
perbedaan tekanan di antara fluida panas dan dingin maka akan terdapat kebocoran
tekanan dari fluida tekanan tinggi ke fluida tekanan rendah. Karena kebocoran-
kebocoran tersebut tak dapat dihindari maka APK ini hanya digunakan secara eksklusif
untuk perpindahan kalor dan massa dari gas ke gas dengan kalor sensibel.

9
Gambar 1.7 Matriks keramik thermal storage

(c) APK Fluidized-Bed


Pada APK fluidized-bed (Gambar 1.8), sebagian dari APK diletakkan di dalam
pertikel material padat yang halus, misalnya pasir atau partikel batu bara. Udara
fluidisasi dihembuskan dari bagian dasar APK menuju bagian atas. Jika kecepatan fluida
rendah, partikel padatan tetap tidak akan bergerak dan fluida mengalir melalui sisi-sisi
kosong dari lapisan. Bila kecepatan fluida ke atas tersebut tinggi, partikel padatan akan
terbawa oleh fluida itu.
Pada nilai kecepatan yang tepat, jika gaya seret (drag) ke atas sedikit lebih besar
daripada bobot partikel lapisan, hasilnya partikel-partikel padatan akan melayang, dan
lapisan tersebut akan berlaku seperti cairan. Ciri ini dikenal sebagai kondisi terfluidisasi
dari lapisan butiran. Pada keadaan ini, penurunan tekanan fluida melalui lapisan hampir
selalu konstan, tidak bergantung pada kecepatan aliran, dan pencampuran dari partikel
padatan mulai terjadi. Hal ini mengakibatkan suhu yang merata di lapisan butiran (gas
dan partikel) dengan konduktivitas termal yang pasti untuk partikel padatan, yaitu
infinity. Koefisien perpindahan kalor yang sangat tinggi dicapai pada sisi terfluidisasi
dibandingkan dengan aliran fluida yang tanpa partikel. Di banyak aplikasi proses, reaksi
kimia biasanya akan terjadi pada sisi yang terfluidisasi, dan pembakaran terjadi pada
fluidized bed batu bara. Aplikasi umum dari APK fluidized-bed adalah pengeringan,
pencampuran, adsorpsi, reaktor, pembakaran batu bara, dan pengambilan kalor sisa.

10
Gambar 1.8 APK fluidized-bed [Shah, 2003].

1.2.2 Klasifikasi Menurut Jumlah Fluida


Kebanyakan proses pemanasan, pendinginan, pemulihan panas, dan
pembuangan kalor akan melibatkan perpindahan kalor di antara dua buah fluida. Jadi,
APK dua-fluida adalah jenis APK yang paling umum. APK dengan tiga fluida juga banyak
digunakan pada proses kriogenik dan beberapa proses kimia (contoh: sistem
penyaringan udara, unit pemisah helium-udara, pemurnian dan pencairan hidrogen, dan
sintesis gas ammonia). APK dengan fluida sebanyak 12 aliran telah digunakan pada
beberapa aplikasi proses kimia. Teori desain dari APK tiga sampai multifluida akan lebih
kompleks dalam perhitungannya.

1.2.3 Klasifikasi Menurut Permukaan Kompak


Dibandingkan dengan APK shell and tube, APK kompak dicirikan dengan
besarnya luas permukaan perpindahan kalor per satuan volume APK, sehingga
menyebabkan penyusutan ruang volume yang dipakai, bobot, struktur penopang, biaya,
dan kebutuhan energi, serta penyempurnaan desain proses dan kondisi-kondisi tata
letak instalasi dan proses. APK gas-cairan dikatakan kompak bila memiliki permukaan
perpindahan kalor dengan kerapatan lebih dari 700 m 2/m3 atau memiliki diameter
hidrolik Dh ≤ 6 mm, bila beroperasi pada aliran gas dan lebih dari 400 m 2/m3 untuk

11
pengoperasian fluida cairan atau aliran dengan perubahan fase. APK aliran laminar (APK
meso) mempunyai kerapatan luas permukaan lebih dari 3000 m 2/m3 atau 100 μm ≤ Dh
≤ 1 mm. Istilah APK mikro digunakan bila kerapatan luas permukaan lebih besar dari
15000 m2/m3 atau 1 μm ≤ Dh ≤ 100 μm.
APK dengan fluida cairan/dua fase dikatakan kompak bila kerapatan luas
permukaannya lebih dari 400 m2/m3. Sebaliknya, pada APK shell and tube untuk
industri proses biasa memiliki kerapatan luas permukaan kurang dari 100 m 2/m3. APK
plat biasa mempunyai koefisien perpindahan kalor konveksi h dan koefisien
perpindahan kalor total U rata-rata mempunyai nisbah dua kali lebih besar dari shell and
tube untuk aplikasi APK air ke air. APK kompak tidak selalu berukuran dan bermassa
kecil. Namun, bila tidak mencakup permukaan dengan kerapatan luas dengan
permukaan yang besar, maka APK tersebut akan berukuran lebih besar dan lebih berat.
Beberapa contoh APK kompak adalah plate-fin, tube-fin, dan regenerator rotari. Susunan
aliran dasar dari APK kompak dua fluida adalah single-pass crossflow, counterflow, dan
multipass cross-counterflow. Gambar 1.9 menunjukkan spektrum kerapatan luas
permukaan perpindahan kalor pada APK.

Gambar 1.9 Spektrum kerapatan luas permukaan perpindahan kalor pada APK [Shah,
1981].

12
1.2.4. Klasifikasi menurut Konstruksi

APK seringkali dicirikan oleh konstruksinya. Empat tipe konstruksi yang paling
umum ialah tubular, pelat, permukaan diperluas, dan regenerator. APK dengan tipe
konstruksi yang lain, dapat diklasifikasikan misalnya scraped surface exchanger,
pemanas tanki, cooler cartridge exchanger, dan lain-lain. Beberapa yang tersebut tadi
dapat dimasukkan ke dalam jenis tubular, tetapi mereka memiliki keunikan yang
berbeda dibandingkan APK tubular konvensional dan memiliki aplikasi yang spesifik.
Penggunaan metoda ε-NTU dan LMTD untuk tipe tubular, pelat, dan permukaan
diperluas adalah identik, tetapi dalam proses perancangannya pengaruh dari faktor-
faktor berikut harus diperhitungkan, yaitu kebocoran dan laluan aliran pada shell-and-
tube, pengaruh akibat beberapa pelat pada APK pelat, dan efisiensi sirip pada APK jenis
permukaan diperluas. Demikian pula halnya dengan APK storage, metode ε-NTU harus
disesuaikan dengan memperhitungkan kapasitas kalor matriks pada storage.

(1) APK Berbentuk Pipa (Tubular)


APK tipe ini umumnya dibuat dari pipa profil bulat, elips, kotak, atau pilin. Dalam
perancangannya terdapat tingkat fleksibilitas yang cukup tinggi karena geometri inti
dapat diragamkan dengan mudah, yaitu dengan perubahan diameter pipa, panjang, dan
susunannya. APK tubular dapat didesain untuk tekanan tinggi relatif terhadap
lingkungan maupun relatif terhadap fluida-fluidanya. APK tubular digunakan terutama
untuk aplikasi perpindahan kalor likuid-likuid dan likuid-dua fase atau pada gas-liquid
dan gas-gas terutama bila suhu dan tekanan operasi sangat tinggi. Selain itu faktor
pengerakan (fouling) merupakan masalah besar pada dinding permukaan perpindahan
kalor. APK jenis ini diklasifikasikan menjadi APK shell-and-tube, double-pipe, dan spiral.
Kesemua APK tersebut merupakan APK dengan permukaan primer.

(a) APK double pipe (pipa ganda)


APK pipa ganda seperti pada Gambar 1.10 terdiri atas satu pipa berada di dalam
pipa lain yang memiliki diameter lebih besar yang ditempatkan konsentris dengan
penyusunan yang tepat untuk mengalirkan fluida dari bagian satu ke bagian yang lain.
Pipa ganda dapat disusun dalam berbagai susunan seri dan paralel untuk mencocokkan

13
dengan kebutuhan hilang tekanan (pressure drop) dan beda suhu rata-rata. Penggunaan
utama pipa ganda adalah untuk proses pemanasan (sensible heating) dan pendinginan
(cooling) pada fluida dengan kebutuhan luas permukaan kalor yang kecil (sampai 50
m2). Konfigurasi ini juga cocok digunakan ketika fluidanya memiliki tekanan yang tinggi
kira-kira sampai 4500 psia pada pipa luar (shell side) dan 21000 psia pada pipa dalam
(tube side). Namun, kerugian menggunakan APK ini adalah memerlukan tempat yang
besar dan mahal untuk tiap satuan permukaan perpindahan kalor. Jumlah pipa yang ada
di dalam dapat berupa tunggal atau banyak; jika terlalu banyak maka jenis ini bisa
menjadi jenis shell and tube. Jika koefisien pertukaran kalor sangat kecil di dalam
annulus atau shell maka dapat digunakan sirip.

Gambar 1.10 APK Pipa Ganda

(b) APK Selongsong-dan-Pipa (Shell and Tube)


APK selongsong-dan-pipa terdiri atas pipa-pipa yang tersusun melingkar yang
berada di dalam satu pipa yang lebih besar yang dinamakan selongsong di mana
susunan pipa-pipa (tube bundle) tersebut sejajar terhadap selongsong tersebut. APK
inilah yang paling banyak digunakan. Pada Gambar 1.11 menunjukan salah satu contoh
APK jenis Shell and Tube.
APK ini umumnya terdiri atas sekumpulan pipa-pipa bulat yang dimasukkan ke
dalam selongsong bulat dengan sumbu pipa paralel terhadap sumbu selongsong. Satu
fluida mengalir di sisi pipa, fluida lainnya mengalir di sekeliling pipa. Komponen-
komponen utama dari APK ini ialah kumpulan pipa-pipa (tube bundle), selongsong
(shell), kepala depan (front-end head), kepala belakang (rear-end head), baffle, dan
tubesheet.

14
Terdapat bermacam konstruksi dari APK ini, bergantung pada perpindahan kalor
yang dibutuhkan, performa penurunan tekanan, metode yang digunakan untuk
mengurangi tegangan termal, mencegah kebocoran, mempermudah pembersihan,
menjaga suhu/tekanan operasi, mengendalikan korosi, mengakomodasi aliran yang
sangat asimetris, dan lain-lain. APK selongsong-dan-pipa digolongkan sesuai dengan
standar-standar yang banyak digunakan seperti standar TEMA (Tubular Exchanger
Manufacturers Association), DIN, dan ASME (American Society of Mechanical Engineers)
bagian boiler dan pressure vessel codes. TEMA telah mengembangkan suatu sistem
notasi untuk menamai tipe umum dari selongsong-dan-pipa. Pada sistem ini setiap APK
dinamai dengan kombinasi tiga huruf; huruf pertama menunjukkan tipe front-end head,
yang kedua menunjukkan tipe shell, dan yang ketiga menunjukkan tipe rear-end head.
Perlu diperhatikan lebih lanjut bahwa terdapat tipe selongsong-dan-pipa lain yang
bersifat spesial yang tersedia secara komersial dengan tipe front-end head dan rear-end
head berbeda dari standar TEMA, sehingga tidak dapat diidentifikasi dengan penamaan
huruf dari TEMA.

Gambar 1.11 APK selongsong-dan-pipa

(c) APK pipa spiral (spiral tube)


Tipe ini terdiri atas gulungan koil-koil yang berbentuk spiral dan ditempatkan di
dalam sebuah selongsong dan biasa digunakan dalam sistem refrigerasi. Koefisien
perpindahan kalor dalam pipa spiral ini lebih tinggi daripada pada pipa yang lurus. APK

15
ini cocok untuk ekspansi termal dan digunakan pada fluida yang bersih, karena hampir
tidak mungkin untuk pengerjaaan pembersihan.

(d) APK Air-cooled


APK air-cooled yang dimaksud disini adalah APK tubular dengan udara lingkungan
mengalir melewati bagian luar pipa, berfungsi sebagai media pendingin untuk
mengkondensasikan dan/atau mendinginkan fluida di dalam pipa.
Udara menjadi pilihan tepat sebagai media pendingin, sebagai pengganti air,
karena udara dalam tersedia di sekeliling kita dalam jumlah yang tidak terbatas. Hal
tersebut telah digunakan sejak lama oleh insinyur otomotif di radiator mobil. Namun,
udara mempunyai koefisien konduktivitas termal yang rendah dibandingkan dengan air
yang memiliki konduktivitas termal 23 kali lebih besar pada suhu 35 oC. Kalor spesifik
air empat kali lebih besar daripada udara, dan densitasnya dibandingkan dengan udara
pada tekanan dan suhu standar yang 800 kali lebih besar. Oleh sebab itu, untuk beban
kalor yang diberikan dan kenaikan suhu pendingin, sejumlah besar udara dibutuhkan
daripada air, yaitu 4 kali masa dan 3200 kali volume udara. Kecuali kalau air tidak
tersedia, pilihan antara udara atau air sebagai medium pendingin bergantung pada
banyak faktor dan harus dikaji secara mendalam. Pendinginan dengan udara
memberikan solusi terbaik meskipun pada kenyataannya tersedia cukup banyak
persediaan air pendingin yang bermutu bagus. Berikut ini ditampilkan Tabel 1.1 yang
memberikan pertimbangan dalam mengkaji penggunaan pendingin udara dibandingkan
pendingin air.
Orientasi (penempatan) yang umum pada air-cooled adalah bidang horizontal.
Untuk mengurangi area di bawahnya, dapat dibuat jika tube bundle di pasang pada
bidang vertikal, tetapi kinerja dari unit tersebut terpengaruh secara drastis oleh arah
angin yang diembuskan. Tabir pelindung (protective screen) sering kali digunakan untuk
menjaga performa rancangan. Pada umumnya, penggunaan bundle yang dipasang
secara vertikal dibatasi dengan ukuran yang kecil. Untuk memberikan jalan keluar
dengan menggunakan setengah ground area dari unit horizontal, berupa bentuk bingkai
’A’ atau ’V’. Dalam dua jenis bundle ini, kemiringan yang digunakan 30–45o dari vertikal,
digabungkan dengan header pada bagian atas atau bawah, untuk membentuk sisi
miring dari ’A’ atau ’V’ (Gambar 1.12). Bentuk ’A’ atau tipe ’atap’ lebih umum dan
digunakan dalam aplikasi kondensasi uap.

16
Tabel 1.1. Perbandingan antara pendingin udara dan air.
Hal Komentar
Pilihan lokasi Pilihan tidak terbatas jika udara sebagai pendingin, tetapi
instalasi harus berdekatan dengan sumber jika menggunakan air
sebagai pendingin.
Pengerakan Pengerakan pada sisi udara biasanya diabaikan, sedangkan
pengerakan pada sisi air merupakan masalah yang sering
muncul.
Perawatan Biaya perawatan untuk pendingin udara diperkirakan sekitar 25%
dari sistem pendinginan menggunakan air.
Faktor lingkungan Kebisingan adala faktor yang harus dipertimbangakan dalam
design kipas untuk pendingin udara.
Suhu keluar fluida proses Pendinginan dengan air mampu mendinginkan fluida proses
sampai 3-6 oC lebih rendah daripada pendinginan dengan udara.
Efek cuaca Suhu udara adalah sesuatu yang berfluktuasi lebih cepat dan
lebih besar daripada air, utamanya karena adanya matahari dan
hujan, membuat pengendalian suhu dan percobaan perfomans
lebih sulit. Sirip yang terbuka pada udara bebas menimbulkan
risiko rusak karena hujan batu es. Dalam area yang memiliki suhu
musim dingin yang sangat rendah, perancangan yang tepat
digunakan untuk mencegah fluida proses membeku dalam pipa.
Ruang – hanya untuk Pendingin udara menempati ruang yang lebih luas, meskipun
ruang di bawahnya dapat dimanfaatkan untuk peralatan lainnya
pendingin
atau penyimpanan.
Biaya modal Biaya modal untuk pendingin udara sendiri kurang lebih 2 4 kali
lebih besar daripada unit selongsong-dan-pipa yang setara.
Sistem pendingin udara tidak membutuhkan menara pendingin,
pompa, rumah pompa, pipa, katup, filter, plat pengolahan air, dan
sebagainya.
Biaya total operasi Sistem yang bersangkutan harus dibandingkan berdasarkan
depresiasi, perawatan, dan biaya sumber daya yang dibutuhkan.

Gambar 1.12 Orientasi tube bundle pada APK air-cooled.

17
Selain orientasi pada tube bundle terdapat juga pilihan aliran udara antara forced
dan induced-draught (Gambar 1.13). Pada unit dengan force-draught, udara ditarik
melalui kipas dan dipaksa melalui tube bundle. Pada unit dengan induced-draught,
udara pertama diisap melalui tube bundle. Keuntungan yang didapat dari induced-
draught antara lain memiliki kebisingan yang minimuml, aliran udara yang lebih
seragam, dan memberikan perlindungan dari cuaca. Pada forced-draught didapat
keuntungan antara lain berupa perpindahan kalor yang lebih tinggi karena terjadinya
turbulensi, udara yang dipakai lebih dingin, dan lebih mudah terpengaruh oleh cuaca.

Gambar 1.13 Forced-draught dan Induced-draught dengan komponennya.

(2) APK Berbentuk Pelat (PHE, Plate Heat Exchanger)


APK terbentuk dari pelat-pelat tipis yang membentuk saluran-saluran di mana
fluida dingin dan fluida panas mengalir. APK berbentuk pelat dapat digunakan untuk
memindahkan kalor dari berbagai macam kombinasi aliran fluida baik gas, cair maupun
fluida yang berubah fase. Pelat-pelat tersebut dapat berkontur polos maupun korugasi
atau cerukan bergelombang. Umumnya, APK ini digunakan untuk aliran bertekanan dan
perbedaan suhu yang rendah. APK pelat (PHE) dapat dibedakan sebagai PHE gasket,
welded, atau brazed, bergantung pada tingkat anti-bocor yang diperlukan. PHE jenis
lainnya berupa pelat spiral, lamella, dan koil pelat (plate coil). Pada Gambar 1.14 dapat
dilihat APK jenis PHE.

18
(a) Gasketed-Plate Heat Exchangers
PHE plate-and-frame atau gasket (Gambar 1.14) terdiri atas sejumlah pelat logam
persegi panjang tipis disegel pada sekelilingnya oleh gasket dan disatukan dalam satu
bingkai (frame). Bingkai yang dimaksud biasanya mempunyai ujung cover tetap, dengan
jalur-jalur penghubung dan sebuah cover ujung yang mampu bergerak. Pada bingkai
tersebut posisi pelat-pelat dijaga dari atas oleh upper carrying bar dan dari bawah oleh
bottom carrying bar. Untuk itu setiap pelat diberi bentukan pada bagian tengah sisi atas
dan bawahnya. Satu unit pelat, cover ujung tetap dan cover ujung mampu gerak
direkatkan dengan baut yang panjang, sehingga gasket tertekan dan menyegel aliran
fluida.

(a)

(b)
Gambar 1.14 Konstruksi dan arah aliran APK gasket [Shah, 2003].

19
PHE diperkenalkan pada tahun 1923 untuk pasteurisasi susu dan kini
mengambil peran utama untuk aplikasi perpindahan kalor likuid-likuid. PHE ini sangat
umum dalam industri susu, jus, minuman kaleng, pemrosesan bahan makanan, dan
farmasi, sebab tingkat kemudahan pembersihan dan pengontrolan suhu yang dimiliki
membuatnya ideal untuk memenuhi kebutuhan akan sterilisasi/pasteurisasi. PHE ini
juga digunakan pada industri karet sintetik, pabrik kertas, pemanas, pendingin proses,
dan sistem pendingin sirkuit tertutup pada instalasi petrokimia dan pembangkit listrik
besar. Di sini pembuangan kalor ke air laut terjadi oleh sebab itu digunakan pelat
titanium untuk mencegah korosi.

(b) APK Plat Welded


Salah satu kekurangan dari PHE gasket adalah keberadaan gasket itu sendiri,
yang membatasi terhadap jenis fluida tertentu dan membatasi suhu dan tekanan kerja.
Untuk mengatasi masalah ini telah muncul rancangan PHE dengan proses las pada sisi
pelat-pelatnya. Untuk mengurangi biaya efektif pengelasan, ukuran pelat untuk APK ini
biasanya lebih besar daripada untuk PHE gasket. Kelemahan dari tipe ini adalah
hilangnya fleksibilitas pembongkaran karena pengelasan. Pengelasan laser dilakukan di
sekeliling tepi pelat, tempat gasket biasanya berada. Pengelasan pada kedua sisi
menghasilkan kisaran yang lebih tinggi untuk suhu dan tekanan kerja dan
memungkinkan penggunaan fluida korosif yang cocok dengan material pelat.

(c) APK Pelat Spiral (Spiral Plate Heat Exchanger)


Sebuah APK pelat spiral terdiri atas dua pelat logam yang relatif panjang,
dibungkus secara heliks untuk membentuk sepasang saluran spiral tempat aliran dua
fluida mengalir. Setiap fluida memiliki sebuah jalur panjang disusun dalam satu paket
kompak. Untuk menyempurnakan APK ini, penutup dipasangkan pada tiap ujungnya.
Logam apa saja yang mapu dibentuk dingin dan mampu dilas dapat digunakan sebagai
material utama APK pelat spiral ini. Logam yang umum digunakan antara lain baja
karbon dan beberapa penggunaan untuk fluida yang mengandung senyawa kimia yang
bersifat destruktife digunakan logam seperti titanium, hastelloy, incoloy, dan paduan
logam kaya nikel. Elemen spiral dasar disegel dengan cara dilas pada setiap sisi saluran
atau dengan memasang gasket pada tiap ujung penutup. Seluruh rakitan dimasukkan
ke dalam sebuah selongsong silindris ditutup oleh penutup bulat datar atau konis.
Gambar 1.15. menunjukkan konstruksi APK jenis spiral.

20
Fluida 2 Masuk

Fluida 1 Fluida 2
Masuk Keluar

Fluida 1 Keluar

Gambar 1.15 APK pelat spiral dengan dua fluida berlawanan arus spiral [Shah, 2003].

(d) APK Lamela (Lamella Heat Exchanger)


APK lamela (Gambar 1.16) terdiri atas pipa selongsong luar yang di dalamnya
terdapat sekumpulan elemen perpindahan kalor. Elemen tersebut, dikenal dengan
sebutan lamela, terdiri atas pipa-pipa datar. Bukaan dalam dari lamella berkisar antara
3 dan 10 mm dan ketebalan dindingnya 1,5-2 mm. Lamela ditumpuk berdekatan untuk
membentuk saluran sempit. Pada APK kecil lebar lamela meningkat dari sisi selongsong
ke tengah selongsong agar memaksimalkan semua ruang yang tersedia. Pada APK yang
lebih besar lamela terdiri atas dua atau lebih pipa datar untuk menjaga tekanan kerja.
Sekat (baffle) tidak digunakan pada APK lamela. Satu fluida mengalir di dalam pipa
lamela dan fluida lainnya mengalir longitudinal pada celah antara lamella tanpa sekat di
sisi selongsong. Jenis aliran pada APK ini adalah satu laluan, dan biasanya alirannya
berlawanan. Koefisien perpindahan kalor yang tinggi biasanya diperoleh karena
diameter hidrolik yang kecil dan tidak adanya kebocoran atau arus bypass seperti pada
APK selongsong-dan-pipa konvensional. Unit lamela besar dapat mempunyai permukaan
dengan luas sampai 1000 m2. APK lamela memiliki bobot kurang dari APK selongsong-
dan-pipa dengan bobot kerja yang sama. APK ini digunakan untuk pengambilan kalor
pada industri kertas, industri proses kimia, dan aplikasi industri lainnya bersaing dengan
APK selongsong-dan-pipa.

21
Gambar 1.16 (a) APK lamela; (b) irisan penampang APK lamella; (c) lamela. [Alfa Laval
Thermal, Inc., Lund, Sweden]

(e) APK Printed-Circuit (PCHE)


APK ini (Gambar 1.17) hanya bisa memiliki permukaan primer seperti pada PHE.
Jalur-jalur halus dibuat pada plat dengan teknik yang sama yang digunakan untuk
membuat PCB. Untuk dua aliran fluida, terdapat pola etching yang berbeda untuk
menciptakan aliran counterflow, crossflow, atau multipass cross-counterflow. Laluan
yang banyak dan arus fluida yang banyak dapat dibuat pada satu blok plat. Beberapa
blok disatukan dengan cara las untuk aplikasi beban kalor besar. Kerapatan luas
permukaan yang tinggi, 650 sampai 1300 m2/m3, untuk tekanan kerja 50-10 MPa dan
suhu kerja 150-800ºC. Jenis material yang digunakan termasuk baja antikarat, titanium,
tembaga, nikel, dan beberapa paduan yang mengandung nikel. Alat ini digunakan
dengan fluida gas, cairan, dan perubahan fase yang relatif bersih, seperti pada aplikasi
industri proses kimia, pengolahan bahan bakar, pengambilan kalor sisa, energi dan
daya, refrigerasi, dan pemisahan udara. PCHE ini digunakan secara ekstensif pada
anjungan minyak lepas-pantai sebagai pendingin kompresor, pendingin gas, pada proses
kriogenik untuk menghilangkan gas mulia, dan lain-lain. Karena mempunyai saluran
berukuran kecil, penurunan tekanan dapat menjadi hambatan bagi aplikasi dengan

22
tekanan rendah dan sedang. Bagaimanapun juga, keuntungan terbesar dari APK ini
adalah tekanan kerja yang tinggi, fleksibel dalam hal desain, dan sangat efektif.

Gambar 1.17 APK printed-circuit (PCHE) [Heatric Division of Meggitt Ltd., Dorset, UK.]

(3) APK Permukaan Diperluas (Extended Surface Heat Exchanger)


APK tubular dan pelat semuanya adalah APK dengan permukaan primer, kecuali
pada shell-and-tube dengan pipa low-fin. APK jenis ini mempunyai efektivitas terbaik
kurang dari 60%, dan kerapatan luas permukaan perpindahan kalornya biasanya kurang
dari 700 m2/m3. Pada beberapa aplikasi, efektivitas APK yang sangat tinggi sangat
diperlukan, dan volume serta massa unit dibatasi sehingga APK yang mempunyai
permukaan lebih kompak menjadi keharusan. Ditambah lagi jika digunakan pada fluida
gas atau beberapa cairan dengan koefisien perpindahan kalornya kecil. Hal ini
menyebabkan munculnya kebutuhan akan luas permukaan perpindahan kalor yang
besar. Salah satu metode yang paling umum untuk meningkatkan luas permukaan dan
kerapatan APK adalah dengan menambahkan sirip dengan kerapatan setinggi-tingginya
sesuai dengan kebutuhan desain. APK ini menjadi APK permukaan-diperluas. Geometri
plate-fin dan tube-fin adalah dua tipe paling umum dari APK permukaan-diperluas.

(a) APK Sirip-Pelat (Plate-Fin)


APK tipe ini (Gambar 1.18) memiliki sirip bergelombang atau pemisah yang
diletakkan selang-seling di antara pelat-pelat. Bila fluida cairan atau uap mengalir pada
sisi lainnya, lembaran pemisahnya biasanya digantikan oleh pipa datar. APK plate-fin
telah diproduksi sejak 1910 oleh industri otomotif, sejak tahun 1940 oleh industri kapal

23
terbang, dan industri pencairan gas sejak tahun 1950. Kini APK sirip-pelat telah banyak
digunakan pada sistem pembangkit tenaga listrik, motor bakar, dan pada aplikasi
lainnya.
Batang
penguat
Plat partisi

Fin
Fin

Plat partisi
Batang
penguat

Gambar 1.18 Komponen dasar APK pelat-sirip [Shah and Webb, 1983].

(b) APK Tube-Fin


APK ini (Gambar 1.18) dapat dibedakan menjadi tube-fin konvensional dan tube-
fin spesial. Pada tube-fin konvensional, perpindahan kalor antara dua fluida terjadi
secara konduksi melalui dinding pipa. Namun, pada APK pipa kalor (tube-fin tipe
spesial), pipa dengan kedua ujungnya ditutup dan perpindahan kalor di antara kedua
ujungnya melalui fluida yang bersikulasi di dalamnya. APK tube-fin digunakan bila pada
satu fluida tekanan atau koefisien perpindahan kalornya lebih tinggi dari fluida satunya
lagi. Akibatnya APK ini digunakan secara ekstensif pada aplikasi refrigerasi dan penyejuk
udara sebagai kondenser dan evaporator, kondenser di pembangkit tenaga listrik,
pendingin minyak di pembangkit daya, dan sebagai APK berpendingin-udara pada
industri proses dan daya. APK pipa kalor (heat pipe heat exchanger, HPHE) umumnya
dipakai pada aplikasi perpindahan kalor gas ke gas. APK jenis ini digunakan terutama
untuk aplikasi pengambilan kalor sisa pada banyak industri.

24
Gambar 1.19 APK tube-fin [Shah, 2003].

(4) Regenerator
Regenerator (Gambar 1.20) adalah APK tipe storage. Permukaan atau elemen
perpindahan kalornya biasanya dikenal dengan matriks regenerator. Untuk bekerja
secara kontinu maka matriks harus digerakkan ke dalam dan keluar aliran fluida gas
seperti pada regenerator rotari atau aliran gas dilarikan masuk keluar katup-katup
menuju dan melewati matriks yang tetap seperti pada regenerator matriks tetap.
Keuntungan utama dari regenerator daripada rekuperator adalah permukaan
yang lebih kompak, sehingga mengurangi volume APK dan berarti regenerator lebih
ekonomis dibandingkan rekuperator. Regenerator biasanya dibuat dari logam, keramik,
nilon, plastik dan kertas, bergantung pada aplikasi. Keuntungan lain dari regenerator
counterflow dibandingkan dengan rekuperator counterflow adalah header untuk aliran
fluida pada regenerator lebih sederhana. Hal ini dikarenakan kedua fluida mengalir pada
seksi-seksi regenerator yang berbeda. Permukaan yang kompak dan susunan
counterflow membuat regenerator ideal untuk aplikasi APK gas ke gas dengan
kebutuhan efektivitas termal APK lebih dari 85%.

25
Gambar 1.20 Regenerator rotari atau heat wheel.

Kelemahan terbesar dari APK regenerator rotari adalah operan yang tak terelakkan
dari fraksi kecil fluida yang terperangkap ketika matriks berganti fluida. Regenerator
tidak dapat digunakan untuk fluida cair sehingga hanya dapat dipakai pada aplikasi
perpindahan kalor gas ke gas terutama untuk pengambilan kalor sisa, dan tidak dapat
dipakai dengan fluida cair dan fluida berubah fase.

(4) Pipa Kalor (Heat Pipe)


Pipa Kalor adalah sebuah teknologi penghantaran kalor dengan menggunakan
pipa berukuran tertentu yang berisi cairan khusus sebagai fluida kerja dari ujung yang
panas ke ujung lain yang lebih dingin. Konsep pipa kalor pertama kali ditemukan oleh RS
Gougler dari General motor Corporation, Ohio, USA. Pipa kalor ini dipatenkan pada tahun
1942 dan publikasikan oleh US Patent pada tahun 1944. Pipa kalor tidak membutuhkan
daya tambahan dari luar dan tidak ada bagian mekanis yang bergerak. Keunggulan lain
pipa kalor adalah digunakan dalam situasi di mana sumber kalor dan pelepas kalor
dapat ditempatkan pada posisi yang berbeda sehingga pada kebutuhan tertentu dapat
mencegah kalor berpusat di suatu titik. Dalam aplikasinya pipa kalor digunakan untuk
mendinginkan komponen elektronik, seperti pada AC, refrigerator, dan komputer
notebook.
Mekanisme penghantaran kalor pada pipa kalor dilakukan melalui tiga daerah
hantaran yaitu, evaporator, daerah adiabatik, dan kondensor. Fluida cair diuapkan di
daerah evaporator, kemudian uap melewati daerah adiabatik hingga mencapai daerah

26
kondensor. Kalor uap dilepaskan pada daerah kondensor sehingga uap mengalami
kondensasi dan cairan kondensat tersebut mengalir menuju daerah evaporator kembali
melalui daya kapilaritas wick. Pipa kalor dapat secara berkesinambungan
menghantarkan kalor ke daerah kondensor. Proses ini akan berlanjut selama ada
tekanan kapilaritas yang cukup untuk membawa cairan kembali ke daerah evaporator.
Skema aliran pada pipa kalor silinder diperlihatkan pada Gambar 1.21.

Gambar 1.21 Skema Mekanisme Hantaran Kalor pada Pipa kalor [Dunn 1978]

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kinerja pipa kalor yaitu fluida kerja dan gaya
kapiler pada sumbu (wick). Dalam menentukan fluida kerja yang akan digunakan di
dalam pipa kalor, harus mempertimbangkan rentang suhu penguapan, sifat-sifat fisik,
dan konduktivitas termalnya.

Gambar 1.22 Struktur sumbu pada pipa kalor [Dunn & enertron-inc.com]

Sumbu merupakan struktur kapilaritas atau arteri yang berfungsi sebagai saluran
balik dari fluida kerja pada daerah kondensor menuju ke daerah evaporator melalui

27
bagian adiabatik. Secara umum terdapat empat jenis struktur sumbu secara umum,
yakni screen mesh, wire bundle, grove, dan sintered powder metal (Gambar 1.22).

1.2.5 Klasifikasi Menurut Susunan Aliran

Susunan aliran fluida yang umum pada APK diklasifikasikan seperti pada Gambar
1.23. Pemilihan jenis susunan tertentu bergantung pada efektivitas APK yang
dibutuhkan, penurunan tekanan yang ada, kecepatan minimum dan maksimum yang
dibolehkan, jalur aliran fluida, selongsong seluruh unit, tegangan termal yang diijinkan,
level suhu, pertimbangan pemipaan, dan kriteria desain lainnya.
Fluida dikatakan mengalir dalam satu laluan/aliran bila ia mengalir pada
penampang APK sekali dalam satu alirannya. Setelah mengalir satu laluan penuhnya
bila arah aliran dibalik dan mengalir melalui penampang yang sama atau berbeda
ukuran maka dapat dikatakan bahwa fluida tersebut telah melakukan laluan keduanya.
APK dikatakan satu laluan bila kedua fluidanya melakukan satu laluan pada APK
tersebut.

(1) APK Satu Laluan (Single-pass)


(a) APK Aliran Paralel
Pada APK aliran paralel, aliran fluida masuk bersama-sama pada satu sisi,
mengalir secara paralel satu sama lainya dengan arah yang sama, dan keluar pada sisi
lainnya. Keragaman suhu fluida, diidealisasikan dalam satu dimensi, ditunjukkan pada
Gambar 1.23.

Gambar 1.23 Distribusi suhu pada APK aliran pararel [Shah, 1981]

28
Perbedaan suhu pada awalnya sangat besar tetapi berkurang secara cepat
seiring pertambahan panjang APK tersebut dan mencapai nol secara asimtot. Penting
untuk diingat bahwa untuk APK jenis ini, suhu keluaran fluida dingin tidak pernah
melebihi fluida panas.
Dalam Gambar 1.23, dengan Th,1 = Th,1, Th,o = Th,2, Tc,i = Tc,1, Tc,o = Tc,2, maka pada
perbedaan suhu pada setiap ujung adalah;
 T1  Th,1  Tc ,1  Th,i  Tc ,i 
 
 T2  Th,2  Tc ,2  Th,o  Tc ,o 
Konfigurasi aliran paralel memiliki efektivitas APK yang paling rendah di antara
APK satu-laluan, dengan pertimbangan kondisi konduktans termal keseluruhan (UA),
kecepatan fluida (heat-capacity dari fluida) dan suhu masuk. Bagaimanapun, untuk APK
dengan efektivitas rendah, perbedaan pada efektivitas aliran paralel dan counter-flow
adalah kecil. Pada APK aliran paralel, perbedaan suhu antara suhu masuk dari fluida
panas dan fluida dingin terjadi pada sisi inlet, sehingga kondisi tersebut menimbulkan
stres termal yang tinggi pada dinding APK pada sisi masuk. Meskipun konfigurasi aliran
paralel tidak digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan efektivitas suhu yang tinggi,
kadang digunakan pada aplikasi dengan kondisi antara lain berikut ini.
 Distribusi suhu yang seragam pada dinding APK dan tidak setinggi atau serendah
pada konfigurasi counter-flow pada area permukaan yang sama, besarnya
kecepatan fluida dan suhu masuk fluida. Oleh karena itu, APK aliran paralel
kadang digunakan dengan material yang sensitif, cairan dengan viskositas tinggi,
dan rekuperator logam dengan suhu inlet melebihi 1100 oC.
 Terjadi permulaan awal dari pembentukan gelembung-gelembung uap (nucleate-
boiling) untuk aplikasi pendidihan.
 Aplikasi yang hanya membolehkan perpipaan yang sesuai dengan aliran paralel.

(b) APK Aliran Berlawanan (Counterflow)


Pada APK aliran berlawanan (counterflow atau countercurrent), dua fluida
mengalir secara paralel tetapi dalam arah yang berlawanan. Konfigurasi pada APK aliran
berlawanan membuat pertukaran kalor antara bagian fluida panas dan dingin yang
memiliki suhu tertinggi, sama baiknya dengan pertukaran kalor antara bagian fluida
panas dan dingin yang memiliki suhu terendah. Keragaman suhu dari dua fluida pada
APK ini diidealisasikan sebagai satu dimensi sebagaimana digambarkan pada Gambar
1.24.

29
Gambar 1.24 Distribusi suhu pada APK aliran berlawanan (Shah, 1981)

Dalam Gambar 1.24, dengan Th,1 = Th,1, Th,o = Th,2, Tc,i = Tc,1, Tc,o = Tc,2, maka pada
perbedaan suhu pada setiap ujung adalah;
 T1  Th,1  Tc ,2  Th,i  Tc ,o 
 
 T2  Th,2  Tc ,1  Th,o  Tc ,i 
Konfigurasi aliran berlawanan memiliki efektivitas suhu yang paling tinggi,
memberikan perubahan suhu yang paling tinggi pada pada setiap fluida dibandingkan
konfigurasi fluida yang lainya untuk kondisi tertentu (hambatan termal keseluruhan (UA),
kecepatan fluida, kapasitas kalor dari fluida dan suhu masuk). Selain itu, perbedaan
suhu maksimum di antara ketebalan dinding APK pada ujung salah satu fluida dingin
atau fluida panas adalah terendah, dan memberikan termal stress minimum pada
dinding untuk performa yang sebanding dengan konfigurasi aliran yang lainnya.

(c) APK Aliran Silang (Crossflow)


Pada APK jenis ini, seperti terlihat pada Gambar 1.25, dua fluida mengalir dengan
arah normal satu sama lainnya.

30
Gambar 1.25 (a) APK Plate-fin unmixed crossflow; (b) APK tube-fin unmixed-mixed
crossflow [Shah, 1981]

Keragaman suhu fluida pada umumnya diidealisasikan dengan dua dimensi,


ditunjukkan oleh Gambar 1.26 untuk perpotongan inlet dan outlet.

Gambar 1.26 Distribusi suhu pada inlet dan outlet pada unmixed-unmixed cross-flow
[Shah, 1981]

Secara termodinamika, efektivitas APK aliran silang berada di antara aliran


paralel dan aliran berlawanan. Pada konfigurasi aliran silang, percampuran pada salah
satu aliran fluida dapat terjadi atau tidak bergantung pada desain APK. Fluida disebut
tak-bercampur jika mengalir melalui saluran-saluran tersendiri atau pipa-pipa tanpa ada

31
pencampuran antarsaluran yang berdekatan. Pada kasus ini dalam APK, gradien suhu
pada fluida muncul pada sekurangnya satu arah (pada bidang melintang) normal
terhadap arah aliran fluida utama. Sebuah aliran fluida disebut bercampur jika tidak ada
suhu gradien yang muncul pada bidang melintang di dalam pipa-pipa dalam APK.

(2) APK Banyak Laluan (Multi-pass)


Ketika rancangan APK menghasilkan panjang yang sangat ekstrem, kecepatan
fluida sangat rendah, atau efektivitas yang rendah, maka APK banyak laluan atau
beberapa APK satu laluan dapat disusun secara seri, atau kombinasi dari keduanya
dapat digunakan. APK yang telah dijelaskan sebelumnya dalam bagian satu laluan dapat
disusun dalam susunan seri untuk membuat unit banyak laluan.
Salah satu keuntungan utama dari penyusunan banyak laluan adalah mampu
meningkatkan efektivitas keseluruhan APK melebihi efektivitas APK secara individual.

Gambar 1.27 Contoh APK multipass; (a) konfigurasi series coupling atau over-and-under
pass; (b) konfigurasi parallel coupling atau side-by-side pass; (c) susunan compound
coupling [Shah, 1981]

32
(a) Multi-pass APK Crossflow
Konfigurasi ini adalah konfigurasi yang paling umum untuk APK permukaan-
diperluas, yaitu dua atau lebih laluan disusun dalam rangkaian seri, dengan tiap
laluannya aliran-silang, meskipun satu saja dari satu-laluan yang digunakan. Konfigurasi
aliran dapat digolongkan sebagai (a) series coupling dengan n laluan atau over-and-
under passes, (b) parallel coupling dengan n laluan atau side-by-side passes, dan (c)
kombinasi dari keduanya atau susunan gabungan. Setiap modul dalam Gambar 1.27
dapat berupa laluan individual atau sebuah APK individual.

(b) APK Plat Multi-pass


APK pelat umumnya bersusunan single-pass counter-flow tetapi terdapat juga
sejumlah susunan aliran banyak-laluan yang mungkin dibuat, bergantung pada kondisi
gasket pada sekeliling temapat sambungan (port) pada pelat. Pada dasarnya, APK
banyak-laluan adalah kombinasi dari susunan aliran paralel dan aliran-berlawanan
dengan pertukaran kalor terjadi pada saluran yang berdekatan (Gambar 1.28).

Gambar 1.28 Susunan APK plate single pass dan multi pass. Susunan putar atau single-
pass (a) Susunan U; (b) Susunan Z. Susunan Multi-pass (c) 2 pass-1 pass; (d) 3 pass-1
pass; (e) 4 pass-2 pass; dan (f) aliran seri

33
(c) Multi-pass APK Shell-and-tube
Ketika jumlah laluan tube lebih dari satu, maka APK selongsong-dan-pipa
tersebut termasuk dalam APK multipass. Karena aliran dalam setiap jenis selongsong
bersifat unik, maka efektivitas berbeda-beda untuk setiap jenis selongsong meskipun
jumlah pipa laluan mungkin sama.

APK Parallel Counterflow, TEMA E Shell.


Jenis ini adalah susunan yang paling umum digunakan dalam satu fase APK
selongsong-dan-pipa, dan digolongkan dalam TEMA E Shell. Salah satu susunan aliran
yang paling sederhana adalah satu laluan dalam selongsong dan dua laluan dalam pipa,
dengan menggunakan U-tube bundle (Gambar 1.29).

Gambar 1.29 (a) APK 1-2 TEMA E (Satu laluan shell dan dua laluan tube); (b) Distribusi
suhu.

Jika fluida dalam selongsong dianggap ideal sebagai bercampur baik, suhunya
konstan pada setiap perpotongan tetapi akan berubah untuk setiap perpotongan dengan
perpotongan yang lainya sepanjang arah selongsong. Dalam kasus ini, jika aliran fluida
dalam tube dibalik tidak akan mengubah distribusi suhu yang dianggap ideal,
sebagaimana Gambar 1.30, dan efektivitas APK. Peningkatan jumlah pipa laluan pada
APK 1-2n dari dua ke empat, enam, dan seterusnya, akan sedikit mengurangi efektivitas
APK, dan dalam batasan ketika jumlah pipa laluan mendekati tak terbatas pada satu
selongsong laluan, efektivitas APK akan mendekati efektivitas untuk APK single-pass
crossflow dengan kedua fluida tercampur.

34
Karena APK 1-2n memiliki efektivitas yang lebih rendah daripada APK aliran-
berlawanan, penyusunan secara multipass susunan dasar 1-2n digunakan dengan
banyak selongsong (setiap selongsong sebagai APK 1-2) untuk mendekati efektivitas
APK aliran-berlawanan. APK dengan susunan paling umum memiliki m laluan dalam
shell dan n laluan dalam tube.

Gambar 1.30 (a) APK dengan dua laluan dalam selongsong empat-laluan dalam pipa
(two sell pass-four tube pass exchanger); (b) APK tiga laluan dalam shell-enam laluan
dalam pipa (three shell pass-six tube pass exchanger).

1.2.6 Klasifikasi Menurut Mekanisme Perpindahan Kalor

Mekanisme dasar perpindahan kalor untuk memindahkan energi termal dari


fluida pada sisi yang satu ke dinding pemisah ialah dengan cara konveksi satu fase
(paksa atau bebas), konveksi dua fase (kondensasi atau evaporasi), dan kombinasi
radiasi dan konveksi.
Beberapa contoh dari setiap tipe penggolongan adalah sebagai berikut.
Konveksi satu fase pada kedua sisi APK dua fluida: radiator otomotif, regenerator,
economizer, dan lain-lain. Konveksi satu fase pada satu sisi dan konveksi dua fase pada
sisi lainnya terjadi pada APK berikut: kondenser pembangkit tenaga uap, kondenser
berpendingin udara, evaporator gas atau cair, generator uap, dan lain-lain. Perpindahan
kalor radiasi merupakan cirri utama pada boiler pembangkit tenaga berbahan bakar
fosil, generator uap, APK pembangkit tenaga batu bara, incinerator, dan APK
pembakaran.

35
1.3 Aplikasi APK
Kebanyakan penggunaan APK adalah pertukaran kalor antara dua jenis fluida.
Pertukaran kalor tiga jenis fluida biasanya digunakan pada kriogenik, maupun industri
proses dan kimia. Contohnya: sistem separasi udara, pemurnian dan likuiifaksi hidrogen,
dan sintesis gas ammonia.
APK dipakai di semua bidang industri, seperti industri proses, pembangkit listrik,
pengkondisian udara, refrigerator, kriogenik, dan industri manufaktur. Pada industri
pembangkit daya, beberapa peralatan seperti boiler (bahan bakar minyak), generator
uap nuklir, kondenser stim, regenerator, dan menara pendingn merupakan APK yang
sering digunakan. Pada industri proses, APK dengan aliran dua fase digunakan dalam
penguapan, kondesasi, pembekuan/kristalisasi, maupun dalam reaksi katalis fluidized
bed. Pada industri pengkodisian udara dan sistem refrigerasi, penggunaan kondenser
dan evaporator merupakan komponen APK yang paling penting.
Energi dapat disimpan melalui kontak kondensasi secara langsung melalui uap
menjadi cairan pada tekanan yang tinggi, dan energi termal dapat disimpan dalam
tangki penyimpanan. Ketika energi panas itu dibutuhkan kembali, maka cairan tersebut
diekspansi sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut dapat digunakan untuk
memanaskan media ataupun sebagai fluida kerja pada mesin uap.
Beberapan pertimbangan dalam pengguaan APK terus dikembangkan.
Perubahan paling mendasar pada boiler adalah pengenalan water-tube boiler.
Permintaan akan mesin sebagai sumber penggerak yang mempunyai kemampuan tinggi
memacu penggunaan boiler yang beroperasi pada tekanan tinggi sehingga hasilnya
adalah pembuatan boiler dengan ukuran yang semakin besar. Boiler saat ini yang
biasanya digunakan pada pembangkit listrik untuk uap bertekanan di bawah 1200 psi
(80 bar) yang berisi pipa pemanas air, superheater, heat recovery, dan pemanas udara.
Perkembangan boiler saat ini semakin modern dan lebih efisien. Pada alat pressurized
water reactor (PWR), penggunaan U-tube steam generator di dalamnya mampu
menghasilkan uap setara dengan 300-400 MW daya listrik. Di industri proses,
perancangan APK banyak ditujukan untuk menguapkan cairan, sedangkan di industri
kimia, evaporator banyak digunakan untuk proses penguapan, membuat konsentrat
dengan menguapkan sebagian larutan, maupun untuk proses pemadatan (kristalisasi).

36
Referensi
American Petroleum Institute, Air Cooled Heat Exchanger for General Refinery Service, API Standard 661,
Washington, D.C., 1986

Collier, J. G., Evaporator, in two-phase Flow Heat Exchanger; Thermal-Hydraulic Fundamental and Design,
Kakac, S. Bergles, A. E., and Fernandes, E, O., Eds., Kluwer Publisher, The Nederlands, 1988.

Gaugler, Richard, Heat Transfer Devices, Dayton, Ohio: U.S. Patent Office, pp. 4, 350348,1944

Kitto, J. B. Jr. and Albrecht, M. J., Fossil-fuel-fired boiler: fundamentals and element, in boilers, Evaporator
and Condenser, Kakac, S., Ed., John Wiley & Son, New York.

Mayinger, F., Classification and applications of two-phase flow heat exchangers, in two-phase Heat
Exchangers; Thermal-Hydraulic Fundamental and Design, Kakac, S., Bergles, A. E., and Fernandes,
E. O., Eds, Kluwer Publishers, The Netherlands, 198.

P. Dunn, D.A. Reay, Heat Pipes, 2nd edn., Pergamon Press, Oxford, England, 1978.

Sclunder, U. E. et. A;., Eds,. Heat Exchanger Design Handbook, Hemisphere, Washington, D.C. 1998.

Shah, R. K., 1991a, Compact heat exchanger technology and applications, in Heat Exchanger Engineering,
Vol. 2,

Shah, R. K., and W. W. Focke, 1988, Plate heat exchangers and their design theory, in Heat Transfer
Equipment Design, R. K. Shah, E. C. Subbarao, and R. A. Mashelkar, eds., Hemisphere Publishing,
Washington, DC.

Stultz, S. C. anf Kitto, J. B. Steam, its Generating and Use, Hemisphere, Washington DC. 1988.

Suo, M., 1976, Calculation methods for performance of heat exchangers enhanced with fluidized beds,
Lett. Heat Mass Transfer, Vol. 3.

TEMA, 1999, Standards of TEMA, 8th ed., Tubular Exchanger Manufacturers Association, New York.
Walker, G., 1990, Industrial

Soal
1. APK dapat digolongkan menurut proses perpindahan kalor, yaitu kontak langsungdan
kontak tidak langsung. Jelaskan maksudnya dan berikan contohnya.
2. Adakah hubungan antara sirip dengan luasan perpindahan kalor (A) dan koefisien
konveksi dari APK (h) dengan permukaan diperluas?
3. Dibandingkan dengan tipe regenerator yang bersifat kontak tidak langsung, APK kontak
langsung mempunyai beberapa keuntungan. Sebutkan keuntungan tersebut.
4. Jelaskan prinsip kerja APK tipe spray drier, spray tower, dan spray pond.?
5. Mengapa APK tipe desuperheater dibawah ini menggunakan PSV (pressure safety valve)?

37
Spindle

Uap
Superheat
masuk PSV

Air dingin
masuk

Mixing
Chamber

Uap keluaran
Desuperheater

6. Apakah fungsi matriks keramik pada APK dengan sistem penyimpan termal?
7. Jelaskan arah aliran antara dua fluida pada APK selongsong-dan-pipa, dan apakah
pengaruhnya terhadap perbedaan termperatur yang dihasilkan?
8. Jelaskan prinsip kerja APK lamela. Apakah persamaan dan perbedaannya dengan APK jenis
selongsong-dan-pipa?
9. Apakah kekurangan utama APK regenerator rotari?
10. Gambarkan kurva distribusi suhu pada APK aliran berlawanan jika aliran masa fluida panas
lebih besar daripada fluida dingin.

38
Pada perancangan APK, perhitungan termal APK memegang peranan penting
selain perhitungan mekanikal. Pada bab ini akan diuraikan metode dasar desain termal
APK anatar lain Logarithmic Mean Temperature Difference (LMTD) dan Effective -
Number Transfer Unit (ε–NTU).

2.1 Persamaan Dasar Desain Alat Penukar Kalor


Persamaan dasar yang digunakan pada perpindahan kalor di sini hanya
menggunakan analisis termal, meskipun pada praktiknya pertimbangan dalam desain
APK yang menyeluruh terdapat parameter dan persamaan dasar seperti pertimbangan
konstruksi dan ekonomi. Tujuan analisis termal di sini akan menentukan area
permukaan perpindahan kalor (sizing) maupun menghitung kinerja APK (rating) melalui
besarnya kalor yang dipindahkan, kerugian tekanan, dan suhu keluaran dari APK
tersebut.
Ragam suhu pada jenis APK dengan media cairan ke cairan bergantung pada
jenis pengaturan aliran, seperti yang digambarkan pada Gambar 2.1. Permukaan
perpindahan kalor digambarkan sepanjang sumbu x dan suhu fluida sepanjang sumbu
y. Gambar 2.1a menunjukkan perpindahan kalor dengan rangkaian aliran lawan
(counterflow), dengan fluida-fluidanya mengalir berlawanan arah. Sementara itu, untuk
parallel flow atau aliran yang mengalir dengan arah yang sama ditunjukkan oleh Gambar
2.1b. Perpindahan kalor pada fluida dingin dengan suhu konstan (evaporator)
ditunjukkan oleh Gambar 2.1c. sedangkan Gambar 2.1d menunjukkan perpindahan
kalor pada fluida panas dengan suhu konstan (kondenser).

39
(a) (b)

T T
Th1 Th1 Th2

Th2 Tc2

Tc1 Tc2 Tc1

0 (A) L 0 (A) L

Gambar 2.1 Distribusi suhu pada alat penukar kalor aliran paralel (a) dan aliran lawan
(b), suhu konstan pada fluida dingin (c), suhu konstan pada fluida panas (d).

Dari hukum termodinamika untuk sistem terbuka, pada kondisi steady yang
perubahan energi potensial dan energi kinetiknya diabaikan, perubahan entalpi salah
satu fluida (Gambar 2.1) adalah
(2.1)

dengan adalah laju aliran massa, adalah entalpi spesifik, dan adalah

perpindahan kalor rata-rata. Apabila diintegrasikan menjadi


(2.2)

dengan dan adalah masing-masing entalpi masuk dan keluar fluida, yang

dirumuskan melalui persamaan 2.2. Jika tidak ada perpindahan kalor antara sistem
penukar dengan lingkungan sekitarnya (proses adiabatik), maka dari integrasi
persamaan 2.1 untuk fluida panas dan dingin adalah
(2.3)

dan
(2.4)

40
Jika fluida yang melawati sistem penukar kalor tidak mengalami perubahan fase
dan mempunyai panas spesifik konstan dengan , maka persamaan 2.3 dan

2.4 dapat dituliskan sebagai


(2.5)
dan
(2.6)

Seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2.1, perbedaan suhu antara fluida panas
dan dingin beragam terhadap posisi dari APK tersebut. Bagaimanapun,

dalam menganalisis perpindahan kalor pada APK, pendekatan yang lebih baik adalah
mengetahui perbedaan suhu rata-rata antara fluida panas dan dingin, sehingga kalor
rata-rata dapat ditentukan dengan persamaan

(2.7)

dengan A adalah luasan total permukaan pemindah kalor dan U adalah koefisien
perpindahan kalor menyeluruh. adalah fungsi , , , .

2.2 Koefisien Perpindahan Kalor Total (Overall Heat Transfer Coeffisient)

Dalam menganalisis APK, diperlukan perhitungan mengenai koefisien


perpindahan kalor menyeluruh. Koefisien perpindahan kalor menyeluruh ini merupakan
total hambatan termal di antara dua fluida yang mengalami perpindahan kalor termasuk
hambatan termal pada dinding APK. Perpindahan kalor yang terjadi di antara dua fluida
tersebut dapat dinyatakan dalam persamaan
(2.8)

Hambatan termal tersebut terdiri atas hambatan konduksi, konveksi, dan faktor
pengerakan (fouling factor). Faktor pengerakan adalah faktor dengan
mempertimbangkan terjadinya pengotoran, korosi, dan reaksi lain antara permukaan
APK dengan fluida dalam operasinya. Hambatan termal secara menyeluruh dari sebuah
APK adalah

41
(2.9)

dengan notasi c menyatakan fluida dingin dan notasi h menyatakan fluida panas, Rw
hambatan konduksi, Rf adalah faktor pengotor yang nilainya beragam bergantung pada
fluida pada APK. Notasi ηo merupakan efesiensi permukaan keseluruhan pada
permukaan yang memiliki sirip. Persamaan di atas dapat digambarkan sebagai
hambatan termal total (  Rt ). Persamaan Rw adalah

(2.10)

Sementara itu, yang dimaksud dengan koefisien perpindahan kalor secara


menyeluruh ialah U yang dapat dirumuskan sebagai berikut

(2.11)

2.3. LMTD (Logarithmic Mean Temperature Difference)


LMTD digunakan untuk menentukan berbagai suhu pada sebuah aliran fluida
pada APK. LMTD merupakan logaritmik rata-rata dari perbedaan suhu di antara sisi
panas dan sisi dinginnya. Semakin besar nilai LMTD, maka semakin besar kalor yang
mampu dipindahkan.
Gambar 2.1 menunjukkan bahwa beda suhu antara fluida panas dan fluida
dingin pada waktu masuk dan keluar tidaklah sama. Oleh sebab itu metode LMTD
merupakan pendekatan untuk mencari nilai perbedaan suhu di antara dua fluida dalam
suatu APK secara keseluruhan.

(2.12)

Di sini, dan adalah perbedaan suhu di antara dua fluida tiap ujungnya

pada aliran lawan maupun aliran paralel. Kalor yang dipindahkan melalui unsur dA
dapat dituliskan:

(2.13)
Perpindahan kalor dapat juga dituliskan

42
(2.14)

Dari persamaan (2.13) diperoleh

(2.15)

(2.26)

Maka

(2.17)

Jika dq diselesaikan dari persamaan (2.14) dan disubtitusikan ke persamaan


(2.17)

(2.18)

Dengan integrasi antara kondisi 1 (aliran paralel) dan 2 (aliran lawan) pada
gambar di awal diperoleh

 
Tho  Tci  1 1 
ln   UA  .  .  (2.19)
Thi  Tco  m h . c h m c . cc 
 

Pada persamaan (2.13) akan kita dapatkan


. q
m h .ch  (2.20)
Thi  Tho
. q
m c .cc  (2.21)
Tco  Tci

Jika disubstitusikan ke persamaan (2.18) akan didapatkan

43
 
 
 Tho  Tci   Thi  Tco  
Q = U.A   (2.22)
  Tho  Tci  
 ln  

 
 hi co 
T T 

sehingga terlihat bahwa

 
 
 Tho  Tci   Thi  Tco  
Tlm =   (2.23)
  Tho  Tci  

ln  

  
  hi co 
T T 
Jika suatu APK yang digunakan bukan jenis pipa ganda, perpindahan kalor
dihitung dengan menerapkan faktor koreksi terhadap LMTD, yaitu
TlmF = F. Tlm (2.24)
Faktor koreksi F didapat dari grafik pertemuan antara P dan R, yaitu
to  ti
P (2.25)
Ti  ti
Ti  To
R (2.26)
to  ti
dengan
T;t : suhu pada selongsong; pipa
i;o : suhu masuk; keluar
Pada Gambar 2.2 dan 2.3 dapat dilihat grafik untuk menentukan faktor koreksi F untuk
APK jenis selubung dan pipa dengan ragam jumlah laluan selongsong dan laluan pipa.

44
Gambar 2.2 Faktor koreksi F untuk penukar kalor selongsong-dan-pipa dengan satu
laluan selongsong dan laluan multi pipa kelipatan dua

Gambar 2.3 Faktor koreksi F untuk penukar kalor selongsong-dan-pipa dengan dua
laluan selongsong dan laluan multi pipa kelipatan dua

45
2.4 . Effective - Number Transfer Unit (ε–NTU)
Metode dengan menggunakan LMTD (logarithmic mean temperature Difference)
dapat kita gunakan dengan mudah apabila suhu masuk dari fluida telah kita ketahui dan
suhu keluar dapat diketahui dari persamaan neraca energi (energy balance). Untuk
mendefinisikan suatu ε–NTU dari suatu APK, kita harus terlebih dahulu mengetahui
perpindahan kalor maksimum yang terjadi (maximum possible heat transfer rate), qmax.
Dengan demikian, apabila harus menentukan suhu masuk atau keluar, analisis
yang harus digunakan dengan prosedur prosedur iterasi karena LMTD itu suatu fungsi
logaritma. Jadi, akan lebih mudah jika digunakan metode yang didasarkan atas
efektivitas penukar kalor dalam memindahkan sejumlah kalor tertentu.
Efektivitas suatu APK didefinisikan sebagai

(2.27)

Perpindahan kalor nyata dapat dihitung dari energi yang dilepas oleh fluida panas
atau energi yang diterima yang diterima oleh fluida dingin.
 Untuk aliran pararel
(2.28)

dengan T2 merupakan suhu keluaran dan T1 adalah suhu masukan.


 Untuk aliran berlawan
(2.29)

Perpindahan kalor maksimum didapat apabila salah satu fluida mengalami


perubahan suhu maksimum, yaitu selisih antara suhu masuk fluida panas dan fluida
dingin. Fluida yang mungkin mengalami beda suhu maksimum ini ialah yang nilai
kapasitas panasnya (C ) minimum.
(2.30)
Jika Ch > Cc maka (Th1 – Th2) < (Tc1 – Tc2)
Jika Ch <Cc maka (Th1 – Th2) > (Tc1 – Tc2)
 Untuk aliran pararel
.
m h c h (Thi  Tho ) Thi  Tho
h   (2.31)
m c ( T  T ) Thi  Tci
.
h h hi ci

46
.
m c cc (Tco  Tci ) Tco  Tci
c   (2.32)
.
mc cc ( Thi  Tci ) Thi  Tci

 Untuk aliran berlawanan arah


.
m h c h (Thi  Tho ) Thi  Tho
h   (2.33)
.
mh c h ( Thi  Tci ) Thi  Tco

.
m c cc (Tco  Tci ) Tco  Tci
c   (2.34)
.
mc cc ( Thi  Tci ) Thi  Tco

Maka secara umum

(2.35)

Persamaan efektivitas dalam aliran pararel dapat kita turunkan sebagai


berikut:
Persamaan (2.19) dituliskan

   
Tho  Tci
.
 1 1   UA  m c cc 
ln   UA  .  .  = 1 
Thi  Tco  
 m h . c h m c . cc 
. .

  m  m h ch 

  .

Tho  Tco  UA  mc c c  
 exp  . 1  .  (2.36)
Thi  Tci 
 m c . cc  m h c h 

Dengan substitusi persamaan (2.36) maka dapat dituliskan


.
m c cc
Th2 = Th1 + .
( Tci  Tco ) (2.37)
m h ch

Persamaan perbandingan suhu persamaan dapat dituliskan kembali menjadi:


 . 
 m c cc 
Thi   .
  Tci  Tco   Tc 2
Tho  Tco  m h ch 
 (2.38)
Thi  Tci Thi  Tci

47
Persamaan di atas dapat kembali dituliskan dengan menambahkan (Tci – Tco):
 . 
 mc c 
Thi  Tci   . c  Tci  Tco   (Tci  Tco )
m c   .

 h h  m c cc 
Thi  Tci
 1  1 
 mh c h   (2.39)
 

Apabila kita sisipkan ke persamaan (2.36) didapatkan :


  .

  UA  m c cc
1  exp  .  1  .

 
=  m c cc  m h ch  (2.40)
.
m c cc
1 .
m h ch

Secara umum dengan C = m.cp (laju kapasitas)


UA/Cmin: jumlah satuan perpindahan atau disebut NTU (number of transfer
unit) sehinga yang memberikan petunjuk tentang ukuran APK.
 Aliran pararel

(2.41)

 Aliran berlawanan

(2.42)

Pada Tabel 2.1. merupakan perbandingan persamaan untuk metode LMTD dan ε–NTU.

48
Tabel 2.1 Persamaan untuk LMTD dan ε–NTU
LMTD Î NTU
Q  UAFATIm, cf Q  ε mc p  T
min h1  T c1 

LMTD  Tlm, cf 
T1  T2 Ch Th1  Th2  Cc Tc2  Tc1 
In T1 / T2  ε 
Cmin Th1  Tc1  Cmin Th1  Tc1 

Cmin (mcp ) min


T1  Th1  Tc 2., T2  Th 2  Tc1 C*  
Cmax (mcp ) max

Tc 2  Tc1 T T AU 1
P , R  h1 h 2
Cmin òA
NTU   UdA
Th1  Tc1 Tc 2  Tc1 Cmin

F= φ (P, R , flow arrangement) ε  φ (NTU, C*, flow arrangement)

Contoh:
Pada TEMA 1-2 APK selongsong dan Pipa, air memasuki selongsong pada 218 oC
dengan kecapatan aliran 1.4 kg/s, dan mengalir pelumas mesin melalui pipa dengan
kecepatan aliran 1.0 kg/s dengan suhu masuk 150 oC keluar pada 90 oC,. Tentukan luas
permukaan APK menggunakan metode MTD dan ε-NTU jika U = 225 W/m2.K dan panas
spesifik dari air dan pelumas adalah 4,19 dan 1,67 J/g.K

Air

49
Kapasitas panas untuk setiap fluida:

Jadi, perpindahan kalor dari pelumas adalah

Dengan menggunakan hukum kekekalan energi, maka suhu keluaran air dapat
dicari melalui

Karena keempat suhu sudah diketahui semua, maka

Sekarang menentukan nilai P1 dan R1 dari sisi pipa

Pelumas Cpelumas < Cair

Air

50
Dari gambar di atas dan nilai F=0,9776, luas area perpindahan kalor dari
persamaan tersebut adalah

Dengan metode ε-NTU, pertama yang ditentukan adalah ε dan C*, di


substitusikan NTU dan A.

Nilai efektivitas (ε) untuk sisi pipa dengan panas spesifik minimum ( ) adalah

Dari tabel TEMA E, diketahui nilai NTU=0,6916, nilai ε dan C* yang telah
diketahui, maka

Referensi
Kakac S. and Liu H., 2002, Heat exchangers selection, rating and thermal design, 2nd ed. CRC press
Pignotti, A., and Shah R.K, 1992, Effectiveness-number of transfer units relationships for heat
exchanger complex flow arrangements, Int. J. Heat Mass Transfer,35,1275–1291.
Sekulic, D. P., Shah, R.K. andPignotti, A., 1999, A review of solution methods for determining
effectiveness–NTU relationships for heat exchangers with complex flow arrangements, Appl.
Mech. Rev., 52 (3), 97–117.
Shah, R. K. and Seculic D.P., 2003, Fundamental of Heat Exchanger Design, John Wiley & Son.

Soal
1. Sebuah APK melepaskan kalor dari fluida minyak ke air. Minyak memasuki APK pada
suhu 100 oC dengan kapasitas panas 4000 W/K, sedangkan air yang masuk 20 oC
dengan laju 1,1 kg/s. Tentukan suhu keluran dari APK pada arah aliran (a)
berlawanan dan (b) aliran paralel untuk nilai U = 450 W/m2K, dengan luas

51
permukaan 10 m2, jika Cp minyak = 1.88 J/gK, Cp air = 4.19 J/gK. Jika nisbah tahanan
termal konveksi antara minyak tehadap air adalah 1.5 dan hambatan dinding dan
fouling diabaikan, hitunglah suhu dinding pada tiap-tiap ujung dari counter flow dan
parallel flow APK ini.

2. Sebuah pelat besi dengan ketebalan 2 mm dan konduktivitas k=45 W/m.K,


merupakan media pertukaran kalor antara fluida cair dan cair. Tentukan besarnya
total perpindahan kalor U, dengan koefisien pindah kalor ,
dan faktor fouling

3. Sebuah APK jenis selubung dan pipa dibuat dari pipa bagian dalam dengan diameter
luar 25 mm dan mengalirkan larutan etil alkohol 90% dengan laju aliran 6,93 kg/s
(Cp = 3810 J/kg.K). Di dalam APK tersebut direncanakan akan digunakan 64 pipa.
Diasumsikan keseluruhan koefisien perpidahan kalor pada sisi luar pipa adalah 568
W/m2.K, hitunglah luas permukaan dan panjang APK tersebut untuk rangkaian
selongsong dan pipa baik dengan aliran paralel-flow maupun aliran lawan.

4. Air dengan kecepatan aliran 45.500 kg/h dipanaskan dari 80 oC menjadi 150 oC
dalam sebuah APK Selongsong dan Pipa yang mempunyai 2 laluan selongsong dan 8
laluan pipa dengan keseluruhan permukaan pindah panas adalah 925 m2. Sebuah
pipa keluaran gas panas dianalogikan sama dengan sifat termal APK tersebut
dengan udara masuk 350 oC dan keluaran 175 oC. Tentukan koefisien perpindahan
panas berdasarkan luasan area APK tersebut.

5. Dalam sebuah APK, pelumas mesin masuk dengan laju aliran 0,2 kg/s dan suhu 130
oC kemudian didinginkan menggunakan aliran air yang mempunyai laju aliran 0,438
kg/s dan suhu 45 oC. Panas spesifik pelumas dan air masing-masing adalah 2,3 dan
4,2 kJ/kg.K. Berapakah kemungkinan tingkat efektivitas (ε) apabila alirannya
berlawanan?

6. NTU yang dibutuhkan dalam sebuah APK adalah 2,0. Jika Cc =10.000 W/Km, Ch =
40.000 W/K, dan hambatan termal Rw dari dinding yang memisahkan kodisi panas
dan dingin adalah 10-5 k/W, tentukan NTUh dan NTUc ketika hambatan konvektif

52
dari dingin dan panas dianggap sama. Tentukan juga jika hambatan termal dari
dinding penukar kalor diabaikan.

7. Pada 80 km/jam, suhu masuk air ke dalam radiator mobil adalah 37,8 oC. Air yang
masuk ke dalam radiator adalah 98,9 oC dengan aliran rata-rata 1,89 kg/detik dan
air meninggalkan radiator pada 93,3 oC. UA untuk radiator adalah 960,6 W/K.
Tentukan aliran udara rata-rata dan air keluaran dari radiator menggunakan metode
ε-NTU dan MTD. Pertimbangkan pula cp untuk udara dan air secara berturut-turut
adalah 1,01 dan 4,19 kJ/kg.K.

8. Minyak pelumas dengan suhu 60 oC memasuki pipa berdiameter 10 mm dengan


kecepatan 2.0 m/s. Permukaan pipa dijaga kosntan pada suhu 30 oC. hitunglah
panjang pipa yang dibutuhkan untuk mendinginkan oli pada suhu 45 oC. jika
diketahui karakteristik minyak pelumas ρ = 865 kg/m3, k = 0,14 W/m.K, cp = 1780
j/kg.K, dan μ = 0,0078 Pa.s. Untuk oli yang mengalir di dalam pipa, koefisien
perpindahan kalornya h = 51,2 W/m2.K.

9. Dua buah laluan tunggal APK dengan aliran lawan digunakan untuk memanaskan air
(cp = 4,2 kJ/kg.K) pada suhu 25 oC dan oli panas (cp = 2,1 kJ/kg.K) pada 120 oC. Laju
aliran air dan oli masing-masing adalah 1 dan 4 kg/s. Penukar kalor ini disusun
secara seri untuk aliran air dan paralel pada oli, seperti yang ditunjukkan oleh
Gambar 2.5.

Oli keluar

Penukar Penukar
Air masuk Air keluar
kalor 1 kalor 1

Oli masuk

Gambar 2.5
Laju aliran oli terpisah dengan jumlah yang sama saat masuk ke dalam penukar
kalor dan kembali menyatu saat keluar penukar kalor. Gunakan nilai U = 420

53
W/m2.K dan luasan laluan A = 10m2 untuk setiap penukar kalor. Tentukan suhu
outlet dari air dan oli.

10. Sebuah penukar kalor aliran lawan digunakan untuk memanaskan 2 jenis bahan
bakar menggunakan gas buang. Gas buang dengan suhu 180 oC memanaskan
bahan bakar pertama yang mempunyai suhu 30 oC kemudian berlanjut memanaskan
bahan bakar kedua dengan suhu awal 30 oC hingga 75 oC seperti terlihat pada
Gambar 2.6.
Gas
buang
180oC Area I Area II

BB1 BB2 BB2


30oC 75oC 30oC

Gambar 2.6
Data: luasan area penukar kalor I = 0,75 m2. Nilai U = 250 W/m2.K untuk tiap
area, laju aliran bahan bakar I = 0,1 kg/s. cp = 2000 J/kg.K. untuk bahan bakar II
laju aliran adalah 0,3 kg/s, cp = 1000 J/kg.K dan gas buang mengalir dengan laju
0,2 kg/s, cp = 1250 J/kg.K

54
Koefisien perpindahan kalor konveksi sebagai salah satu parameter desain APK
biasanya ditetukan melalui bilangan Nusselt. Bilang tersebut diperoleh dari korelasi yang
dihasilkan dari ekperimental tertentu. Pada bab ini akan diuraikan korelasi konveksi
yang biasa digunakan untuk merancang APK antara lain Colburn, Dittus Boelter, Sieder
Tate dan korelasi lainnya yang disesuai dengan geometri.

3.1 Perpindahan Kalor Konduksi


Jika dalam suatu medium terdapat gradien suhu, maka akan terjadi perpindahan
energi kalor dari suhu yang tinggi ke suhu rendah. Laju perpindahan kalor tersebut
sebanding dengan gradien perubahan suhu;
q T
 (3.1)
A x
dengan; q = Laju perpindahan kalor
t = gradien suhu
x = gradien jarak
A = luas penampang

Setiap material memiliki perbedaan dalam kemampuan menghantarkan kalor


yang berbeda-beda sehingga persamaan tersebut memiliki konstanta proporsionalitas
yang berbeda. Dengan demikian, persamaan tersebut menjadi;

q T
 k (3.2)
A x

dengan; k = konduktivitas termal


Tanda negatif menunjukkan bahwa kalor berpindah dari suhu yang tinggi ke suhu
rendah.

55
Pada Gambar 3.1. Menunjukkan profil suhu perpindahan kalor konduksi pada
medium.

Gambar 3.1 Perpindahan Kalor Konduksi. Tanda-tanda dalam gambar ini pun
harus dijelaskan

Selain itu, untuk dapat merancang APK dengan baik, harus juga
memperhitungkan kemampuan material untuk menghantarkan kalor relatif terhadap
kemampuannya menyimpan energi yang disebut dengan difusitas termal (α) yang
dinyatakan sebagai;
k
 (3.3)
 .c p
dengan α = difusivitas termal
ρcp = kapasitas kalor material

Hampir semua teknik perkiraan nilai konduktivitas termal zat cair merupakan
rumus empiris yang dilakukan dengan pengujian yang terbatas.

Konduktivitas termal dari kebanyakan cairan menurun dengan kenaikan suhu


kecuali untuk air, larutan encer, dan molekul multhidroksi. Di bawah atau sekitar titik
normal, penurunan itu hampir linear dan untuk rentang waktu yang sempit, biasanya
dinyatakan dengan;

k l  k l 0 1   (T  T0  (3.4)

dengan; kl0 = konduktivitas termal pada suhu T0


α = konstanta yang nilainya antara -0,0005 dan -0,002 K-1

56
3.2. Perpindahan Kalor Konveksi
Pada aplikasinya, perpindahan kalor secara konveksi berperan lebih dominan
dibandingkan perpindahan kalor secara konduksi. Konveksi yang terjadi adalah akibat
gradien suhu ataupun akibat adanya tenaga luar yang memaksa perpindahan molekul
fluida. Perpindahan kalor konveksi adalah ilmu tentang proses angkutan kalor yang
diakibatkan oleh aliran fluida. Kata dasar ―konveksi: berasal dari bahasa Latin, yaitu
―convecto-are‖ dan ―convěho-věhěre‖, yang berarti membawa bersama atau membawa
ke dalam satu tempat. Perpindahan kalor konveksi, secara jelas, adalah suatu bidang
pada antarmuka di antara dua bidang ilmu: perpindahan kalor dan mekanika fluida.
Untuk alasan ini, ilmu tentang permasalahan perpindahan kalor konveksi harus
berdasarkan pemahaman prinsip perpindahan kalor dasar dan mekanika fluida. Pada
Gambar 3.2 dapat dilihat mekanisme perpindahn kalor konveksi.

Gambar 3.2 Perpindahan kalor konveksi

Konveksi juga merupakan proses angkutan energi dengan kerja gabungan dari
konduksi kalor, penyimpanan energi, dan gerakan mencampur. Konveksi sangat penting
sebagai mekanisme perpindahan energi di antara permukaan benda padat dan cairan
atau gas.
Perpindahan energi dengan cara konveksi dari suatu permukaan yang suhunya di
atas suhu fluida sekitarnya berlangsung dalam beberapa tahap. Pertama, kalor akan
mengalir dengan cara konduksi dari permukaan ke partikel-partikel fluida yang
berbatasan. Energi yang berpindah dengan cara demikian akan menaikkan suhu dan
energi dalam partikel-partikel fluida ini. Kemudian partikel-partikel fluida tersebut akan
bergerak ke daerah yang bersuhu lebih rendah di dalam fluida, tempat mereka akan
bercampur dan memindahkan sebagian energinya kepada partikel-partikel fluida

57
lainnya. Energi sebenarnya disimpan di dalam partikel-partikel fluida dan diangkut
sebagai akibat gerakan massa partikel-partikel tersebut.
Perpindahan kalor konveksi dibagi dua, yaitu konveksi bebas (free convection)
dan konveksi paksa (forced convection). Bila gerakan mencampur berlangsung sebagai
akibat dari perbedaan densitas (rapatan) yang disebabkan oleh gradien suhu maka
disebut konveksi bebas. Sebaliknya, bila gerakan mencampur disebabkan oleh suatu
alat dari luar, seperti pompa atau kipas, maka prosesnya disebut dengan konveksi
paksa. Keefektifan perpindahan kalor konveksi bergantung sebagian besarnya pada
gerakan mencampur fluida.
Pemanasan serta pendinginan fluida yang mengalir di dalam pipa atau saluran
merupakan satu di antara proses-proses perpindahan kalor yang terpenting dalam
perekayasaan industri. Rancang bangun serta analisis semua jenis penukar kalor
memerlukan pengetahuan tentang koefisien perpindahan kalor antara dinding saluran
dan fluida yang mengalir di dalamnya. Ukuran alat penukar kalor bergantung sebagian
besarnya pada konduktansi konveksi satuan di antara permukaan dalam pipa-pipanya
dan fluidanya. Juga dalam rancang bangun peralatan penyejuk udara dan mesin
pendingin, perlu ditentukan besarnya koefisien perpindahan kalor untuk fluida yang
mengalir di dalam saluran. Bila koefisien perpindahan kalor untuk suatu geometri
tertentu serta kondisi aliran yang ditetapkan telah diketahui, maka laju perpindahan
kalor pada beda suhu yang ada dapat dihitung dari persamaan:

q c  hc  A  Ts  T f  (3.5)

Koefisien perpindahan kalor hc dapat dihitung dari bilangan Nusselt. Bagi aliran
dalam pipa atau saluran yang panjang, panjang penting dalam bilangan Nusselt adalah
garis tengah hidroliknya yang berdefinisi:

A (3.6)
Dh  4
p
Koefisien perpindahan kalor konveksi sebenarnya merupakan fungsi yang rumit dari
aliran fluidanya, sifat-sifat termal medium fluidanya, dan geometri sistemnya. Harga
angkanya pada suatu permukaan pada umumnya tidak seragam, dan juga bergantung
pada lokasi tempat mengukur suhu fluida Tf.

58
Hasil pengalaman menunjukkan bahwa perpindahan kalor konveksi sangat
bergantung pada sifat-sifat fluidanya seperti: viskositas dinamik (μ), konduktivitas termal
(k), densitas (ρ), kalor spesifik (cp), dan kecepatan fluida (V). Selain daripada itu
bergantung pula pada geometri dan kekasaran permukaan benda padat, serta tipe
aliran fluida (laminar atau turbulen).
Jadi, koefisien perpindahan kalor konveksi secara definisi diartikan sebagai nilai
perpindahan kalor di antara suatu permukaan padat dan fluida per satuan luas
permukaan per satuan perbedaan suhu.
Tersedia empat cara untuk menentukan nilai koefisien perpindahan kalor
konveksi:
1. Analisis dimensional yang digabungkan dengan hasil-hasil percobaan.
2. Penyelesaian matematik yang eksak terhadap persamaan-persamaan lapisan
batas.
3. Analisis perkiraan terhadap lapisan batas dengan metode integral.
4. Analogi antara perpindahan kalor, massa, dan momentum.
Keempat teknik ini semuanya telah menyumbang kepada pemahaman kita
terhadap perpindahan kalor konveksi. Namun, tidak satu metode pun yang dapat
menyelesaikan semua persoalan sendiri, karena setiap metode mempunyai
keterbatasan masing-masing yang membatasi ruang lingkup penerapannya.
Keterbatasan utama metode analisisa dimensional ialah bahwa hasil-hasil yang
diperoleh belum rampung serta tidak bermanfaat jika tidak dilengkapi dengan data
eksperimental. Metode ini memberi kemungkinan bagi penafsiran data eksperimental
serta memperluas lingkup penerapannya dengan jalan mengorelasikan data tersebut
sebagai hubungan di antara kelompok-kelompok tanpa dimensi.
Konveksi paksa dari nanofluida merupakan hal yang penting untuk diteliti lebih
lanjut sebab pada umumnya aplikasi komersial, misalnya pada alat penukar kalor yang
digunakan industri, adalah memanfaatkan sistem perpindahan kalor secara konveksi
paksa. Penelitian ini menjadi sangat memiliki prospek sebab berbagai penelitian
sebelumnya menunjukan peningkatan konduktivitas termal dari nanofluida sehingga
secara teoretis akan meningkatkan perpindahan kalor secara konveksi paksa.
Pada bagian berikutnya akan diuraikan korelasi untuk perpindahaan kalor
konveksi aliran laminar dan turbulen satu fase yang mengalir di dalam pipa dengan dan
tanpa efek dari variasi sifat-sifat fluida. Terdapat sejumlah korelasi yang diperoleh dari

59
eksperimen dan analisis material yang dapat digunakan untuk menentukan koefisien
perpindahan kalor dalam perencanaan APK.

3.2.1 Koefesien Perpindahan Kalor


Banyak korelasi empiris yang telah dikembangkan untuk menentukan koefesien
perpindahan kalor. Beberapa di antaranya yang banyak digunakan dalam rekayasa akan
disajikan di bawah ini:
A. Bilangan Nusselt (Nu)
Bilangan Nusselt adalah salah satu korelasi empiris tanpa satuan yang
merepresentasikan koefisien perpindahan kalor. Bilangan Nusselt dapat didefinisikan
dalam aliran internal sebagai nisbah (rasio) koefisien konveksi h terhadap konduktivitas
kalor molekul murni tersebut k/Dh:

(3.7)

Bilangan Nusselt memiliki makna fisik dalam arti bahwa koefisien perpindahan
kalor konveksi h dalam bilangan Nusselt merupakan sebuah nilai konvektif konduktansi
dalam sebuah representasi sirkuit termal (Gambar 3.3) pada aliran internal dengan
menganalogikan sebagai arus dan sebagai beda potensial.
Tb adalah suhu fluida rata-rata yang dapat didefinisikan sebagai berikut:

(3.8)

dengan Um adalah kecepatan fluida rata-rata, Ac luas permukaan aliran, u dan T masing-
masing adalah kecepatan dan profil suhu dari fluida pada posisi x sepanjang pipa.

Gambar 3.3 Kondisi batas termal pada aliran laminar dan sirkuit termalnya.

60
Dalam masalah perancangan perlu dihitung laju perpindahan kalor keseluruhan
terhadap panjang pipa dengan menggunakan koefisien perpindahan kalor rata-rata yang
berbasis pada bilangan Nusselt rata-rata seperti dituliskan sebagai berikut:
(3.9)

Untuk aliran eksternal dalam area thermal entrance, bilangan Nusselt di


definisikan sebagai:

(3.10)

dengan dan atau dan


. Bilangan Nusselt dapat ditafsirkan dalam sebuah bilangan tanpa satuan
yang menyatakan gradien suhu di permukaan.
Bilangan Nusselt sangat kuat dipengaruhi oleh kondisi batas termal dan geometri
laluan aliran laminar dan sedikit sekali dipengaruhi oleh aliran yang trubulen. Bilangan
Nusselt mempunyai nilai konstan untuk aliran laminar yang berkembang penuh baik
secara termal maupun hidrodinamiknya. Bilangan Nusselt juga bergantung pada Re dan
Pr untuk aliran turbulen berkembang penuh. Selain batas kondisi termal, geometri laluan
aliran, dan flow regim, bilangan Nusselt juga dapat dipengaruhi oleh kondisi fase (fase
tunggal, kondesasi, dan evaporasi); sifat fisik fluida, termasuk Pr dan beberapa
parameter yang bergantung pada tipe aliran dan jenis konveksi (natural atau dengan
gaya dorong).

B. Bilangan Staton (St)


Bilangan Staton merupakan bilangan tanpa satuan yang lain yang
menggambarkan koefisien perpindahan kalor, yang didefinisikan sebagai:

(3.11)

Dengan mengalikan kedua pembilang dan penyebut dengan ( , maka


pengertian bilangan fisik dari bilangan Stanton menjadi jelas, yaitu sebuah nisbah antara
koefisien perpindahan kalor konveksi terhadap laju perubahan entalpi dari fluida saat
mencapai suhu dinding.
Perpindahan kalor satu fase dari dinding ke fluida (atau sebaliknya) sangat
berhubungan dengan laju perubahan aliran:
(3.12)

61
Maka

(3.13)

Oleh karena itu, bilangan Stanton juga dapat diartikan sebagai perbandingan antara
perubahan suhu dalam aliran fluida dengan nilai perpindahan kalor konvektifnya.
Ketika perpindahan kalor secara konduksi pada fluida diabaikan, bilangan
Stanton biasanya mengacu pada bilangan Nusselt sebagai bilangan korelasi
perpindahkan kalor konveksi. Hal Ini dikarenakan bilangan Stanton berhubungan
langsung dengan perencanaan jumlah perpindahan kalor (NTU) pada APK di sisi tempat
fluida bertukar kalor. Hubungan bilangan Stanton dapat dinyatakan sebagai

(3.14)

Hubungan antara Bilangan Stanton, Pradtl, dan Reynold didefinisikan sebagai


(3.15)
Oleh karena itu, terlepas dari faktor laluan geometri aliran, kondisi batas, dan jenis
aliran, persamaan di atas selalu berlaku.

C. Persamaan Colburn (j )
Faktor Colburn dalam persamaan-persamaan aliran perpindahan kalor
merupakan modifikasi bilangan Stanton yang digunakan dalam perhitungan dengan
ragam jenis fluida (bilangan Prandtl). Faktor Colburn didefinisikan sebagai

(3.16)
Bilangan Stanton bergantung pada fluida bilangan Prandtl, sedangkan faktor
Colburn (j ) sangat erat kaitannya dengan aliran fluida untuk 0,5 ≤Pr≤10 dari kondisi
aliran laminar hingga turbulen. Kemudian faktor Colburn dalam APK untuk menentukan
jumlah perpindahan kalor (NTU) dapat dituliskan hubungannya dalam
(3.17)

Angka Nusselt untuk aliran turbulen dalam tabung licin dapat ditentukan dengan
menggunakan Colburn seperti berikut ini:
Nu = 0,023 Re0,8. Pr1/3 (3.18)
Persamaan ini cocok untuk digunakan pada jangkauan
0,7 < Pr < 160 ; Re > 10000; L/D > 60 (pipa licin)
D. Persamaan Dittus-Boelter (1930)

62
Sedikit perbedaan dari persamaan Colburn, Dittus-Boelter menyarankan
persamaan berikut:
Nu = 0,023 Re0,8.Prn (3.19)
n = 0,4 untuk pemanasan (Tw > Tb) ; n = 0,3 untuk pendinginan (Tw > Tb)
Jangkauan penggunaan persamaan ini serupa dengan persamaan Colburn.

E. Persamaan Sieder-Tate
Untuk situasi ketika pengaruh ragam sifat-sifat fluida cukup berperan, Sieder-Tate
menyarankan penggunaan persamaan berikut:
Nu = 0,027 Re0,8. Pr1/3(μb/μw)0,14 (3.20)
Persamaan ini sesuai untuk digunakan pada jangkauan
0,7 < Pr <16700; Re > 10000; L/D > 60 (pipa licin)
Semua sifat-sifat dievaluasi pada suhu rata-rata Tb kecuali μw dievaluasi pada
suhu dinding.

F. Persamaan Petukhov
Persamaan-persamaan sebelumnya cukup sederhana namun kesalahan
maksimum bisa mencapai kurang lebih 25% dalam jangkauan 0,67 < Pr < 100 dan
cocok digunakan untuk tabung-tabung licin. Suatu korelasi yang lebih tepat yang juga
cocok digunakan untuk tabung-tabung kasar telah dikembangkan oleh Petukhov dengan
bentuk sebagai berikut:
Nu = Re. Pr/X (f/8). (μb/μw)n (3.21)
X = 1,07 + 12,7 (Pr2/3-1). (f/8)1/2 (3.22)
n = 0,11 untuk pemanasan (Tw > Tb)
0,25 untuk pendinginan (Tw > Tb)
0 untuk gas
Persamaan di atas cocok untuk jangkauan
104 < Re < 5.106
2 < Pr < 140 (5-6% kesalahan)
0,5 < Pr < 2000 (10% kesalahan)
0,08 < μw/μb < 40

Pada Tabel 3.1 berikut ini terdapat kumpulan korelasi bilangan Nusselt untuk menentukan
koefisien perpindahan kalor dengan berbagaimacam kondisi aliran dan geometri.

63
Tabel 3.1. Korelasi Bilangan Nusselt

No Korelasi Batasan dan catatan

1 NuT  1.61Peb d L 
13
Pe b d L > 10 3
, Temperatur dinding tetap
NuT  3.66 Peb d L <, 10 2 Aliran berkembang penuh pada pipa, temperatur dinding tetap
2 
NuT  (3.66)3  (1.61)3 Peb d L)1` 3 Superposition of two asymptiocs given in case 1 for the mean Nusselt number,
0.1 < Peb d L < 10 4
0.19Peb d L 
0 ,8
3 NuT  3.66  Daerah Thermal entrance, Temperatur dinding konstan,0.1 < Peb d L < 10 4
1  0.177Ped d L 
0.467

4
NuH  1.953Peb d L Peb d L > 10 2, fluks kalor konstan
13
4
NuH  4.36 Peb d L > 10 , Aliran berkembang penuh di dalam pipa, fluks kalor konstan

12
1  d
5 NuT  0.664  Pe  Peb d L > 104 ,0.5 < Pr < 500, Aliran berkembang simultan
Pr 1 6  b L 
 d  0.19( Pe D h L)0,8
6 NuT  Nu  φ o  saluran bundar, temperatur dinding konstan, daerah thermal entrance
 Di  1  0.117( Pe Dh L)
0.467

φ(d o Di )  1  0.14(d o Di ) 1 2 Dinding luar diisolasi, perpindahan kalor melalui dinding dalam

φ(do D1 )  1  0.14do Di 
0.1
Perpindahan kalor melalui dinding luar dan dalam

7 NuT  1.86Reb Prb d L


13
μ b μw 
0.14
daerah Thermal entrance, temperatur dinding konstan0.48 < Pr b < 16,700, 4.4 x 10 -3
< (μ b μ w ) < 9.75, Reb Prb d L μ b μw  >2
13 0.14

NuH  1.86Reb Prb d L μ b μ w 


13 0.152 3 3
8 daerah Thermal entrance, Fluks kalor dinding konstan, untuk oli 0.8 x 10 Re b < 1,8 x 10
1 < Tw Tb  < 3

Nu H  1 . 23  Re b Pr b d L  μ b μw  < 1900 , 170 < Pr b < 640 ,


0 .4 16
9 daerah Thermal entrance, Fluks kalor dinding konstan, 400 < Re b
untuk oli
Nu b  1 . 4  Re b Pr b d L  μ b 
13 n
10 μw Daerah Thermal entrance, n = 0.05 untuk fluida pemanas, n =1/3 untuk fluida dingin

Tb  T1  T0  2

3.2.2 Perpindahan kalor dari rangkaian Pipa.


Pipa dengan profil bulat yang tersusun merupakan salah suatu permasalahan
yang sulit dan rumit. Susunan dari pipa ada yang tersusun secara baris-kolom (inline)
dan ada yang bertingkat-tingkat (stages) seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 3.4,
ataupun kemungkinan susunan dapat dibuat. Paramater dari rangkaian dilihat dari
diameter pipa, do, jarak antara tube, X.
Perpindahan kalor rata-rata dari rangkaian pipa dengan permukaan licin di
nyatakan dalam

(3.23)

Untuk rangkaian pipa baris-kolom dengan aliran berlawanan nilai rata-rata


bilangan nusselt untuk jumlah pipa, n > 16:

64
untuk Reb = 1.-102 (3.24)

untuk Reb =102 – 103 (3.25)

untuk Reb =103 – 2 x 105 (3.26)

untuk Reb =2 x 105 – 2 x 106 (3.27)

dengan cn adalah faktor koreksi untuk jumlah pipa dalam rangkaian, jika jumlah pipa
lebih dari 16 maka cn diabaikai seperti pada Gambar 3.5. sedangkan untuk rangkaian
pipa bertingkat dengan aliran berlawanan nilai rata-rata bilangan Nusselt untuk jumlah
pipa, n > 16 adalah

untuk Reb = 1 – 500 (3.28)

untuk Reb =500 – 103 (3.29)

untuk Reb =103 – 2 x 105 (3.30)

untuk Reb =2 x 105 – 2 x 106 (3.27)

Bilangan Reynold, Re tergantung kepada nilai rata-rata kecepatan Uo aliran di


bidang yang terbentuk akibat susunan pipa.

(3.31)

Xl
do Xl

Arah Xd
aliran
Arah Arah
U∞ aliran aliran

Arah
aliran Xl

(a) (b) (c)


Gambar 3.4 Rangkaian pipa (a) baris-kolom, (b-c) bertingkat. [Zukauskas, 1987]

65
102<Re<103
1,0

0,9
cn
0,8
Baris-kolom
Re>103 Bertingkat
0,7

0,6
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
n

Gambar 3.5 Perpindahan kalor rakaian pipa terhadap faktor koreksi Cn dan jumlah
rangkaian pipa [Zukauskas, 1987].

3.2.3 Perpindahan kalor pada pipa heliks dan spiral


Pipa jenis heliks dan spiral digunakan dalam beberapa jenis APK seperti pada
reaktor kimia, tangki penyimpanan kalor, dan heat recovery system. Pipa pemindah kalor
yang dibuat melingkar tersebut digunakan secara meluas di industri pengolahan bahan
makanan, refrigerasi, dan penyejuk udara (AC).
Bentuk pipa heliks dan spiral digambarkan masing-masing pada Gambar 3.6a
dan 3.6b dengan jarak antara satu lingkaran terhadap lingkaran lainnya disebut pitch, p.
Bilangan Dean, De, merupakan bilangan yang menyatakan pengaruh Re terhadap profil
aliran heliks dan spiral yang dinyatakan dengan

Bilangan Nusselt untuk pipa heliks aliran laminar dinyatakan dalam persamaan
berikut:

(3.32)

dengan

(3.33)

sedangkan untuk pipa spiral dengan aliran laminar dapat dinyatakan sebagai

(3.34)

66
Dengan 80 < Re < 6000, bilangan Graetz 9 ≤ Gz < 1000 ialah

(3.35)

Gambar 3.6 Bentuk pipa (a) heliks dan (b) spiral

3.2.4 Perpindahan kalor pada pipa berbelokan (bending)


Pipa batau berbelokan banyak digunakan dalam jaringan pipa di dalam sistem
penukar kalor. Beberapa penelitian dilakukan untuk menganalisisa perpindahan kalor
dan jatuh tekan pada belokan. Belokan diidentifikasi dari besarnya sudut belokan Φ
dalam derajat dan besarnya nisbah lengkungan R/a. Belokan dengan profil bulat dan
kotak ditunjukkan oleh Gambar 3.7. pada bagian ini.
Sebuah korelasi bilangan Nusselt untuk menentukan perpindahan kalor dari
belokan 90o ialah

(3.36)

dengan x adalah jarak sepanjang sumbu belokan. Untuk proses pendinginan aliran
turbulen pada pipa dengan belokan kurang dari 20-30%, perpindahan kalornya dianggap
sama dengan pipa lurus.

67
Gambar 3.7 Skematik diagram untuk belokan (a) belokan dengan sudut Φ <90o ; (b)
180o (c) belokan profil kotak (d) 2 buah belokan 90o secara seri [Shah , 1987]

Referensi
Kakac S. and Liu H., 2002, Heat exchangers selection, rating and thermal design, 2nd ed. CRC press
Orlov, V.K. nad Tselishchev, P.A., Heat exchanger in spiral coil with turbulent flow of water, Thermal
Eng., 11(12, 97. 9164
Petukhov, B. S., Heat transfer and friction in turbulent pipe flow with variable physical properties, in
Advance in Heat Transfer, Vol. 6 Harnett, J. P. Nad Irvine, T. V., Eds., Academic Press, New York,
1970, 504
Shah, R. and Joshi, S. D., Convective heat transfer in bends and fittings, in Handbook of Single-Phase
Convective Heat Transfer, Kakac, S. Shah, R. K., and Aung, W., Eds., John Wiley & Sons, Newyork,
1987, ch 10
Shah, R. K. And London, A. L., laminar Forced Convection in Ducts, Academic Press, New York, 1978.
Shah, R. K., and Seculic D.P, 2003, Fundamental of Heat exchanger Design, John Willey & Son.

68
Soal
1. Udara dengan suhu rata-rata 40 oC mengalir melalui sebuah pipa dengan dengan
kecepatan 6 m/s. Panjang pipa adalah 300 cm, sedangkan diameternya 2,54 cm.
Rata-rata suhu pipa adalah 300 oC. Tentukan koefisien perpindahan kalor rata-
ratanya. (ρ = 1,128 kg/m3; cp = 1005,3 J/kg.K; k = 0,0267 W/m.K; µ = 1,912 x 10-5
N.s/m2; Pr = 0,719)
2. Sebuah kondenser jenis pelat-sirip memiliki jumlah 790 sirip tiap meternya dan
ketebalan sirip 0,025 mm. Anda akan memilih dua jenis bentuk dari sirip, yaitu
bentuk segitiga atau persegi seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 3.8. Laju aliran
dan kecepatan udara 3,05 m/s dengan ρ = 1,1213 kg/m3, v = 1,58 x 10-5 m2/s,
Pr = 0,70 dan Cp = 1,00 kJ/kg.

Gambar 3.8
Hitunglah koefisien perpindahan kalor dari kedua jenis APK ini dan hitung pula
bilangan Reynold (Re) dan Colburn (j )?
3. Hitunglah koefisien perpindahan kalor untuk air yang mengalir melalui pipa dengan
diameter 2 cm dengan kecepatan 1 m/s. Rata-rata suhu air adalah 60 oC dan suhu
permukaan pipa adalah 120 oC.
4. Sebuah oli mengalir dalam keadaan laminar di dalam saluran dengan nilai Re 1000.
Panjang saluran adalah 2,5 m dan diameternya 2 cm. Saluran tersebut dipanaskan
menggunakan pemanas elektrik dengan dinding saluran berlaku sebagai tahanan
listriknya. Ciri oli tersebut ialah ρ = 870 kg/m3, μ = 0,004 Ns/m2, dan cp = 1959
kJ/kg.K.
5. Dalam sebuah APK dengan aliran berlawanan, udara panas dengan tekanan
lingkungan (atm) dan kecepatan 3 m/s mengalir melawati rangkaian pipa dengan
rangkaian kolom-baris dengan jarak rangkaian pipa (Xl = Xr) = 5 cm. Diameter pipa
2,5 cm disusun atas 20 baris. Suhu dinding pipa adalah 30 oC dan suhu rata-rata
udara adalah 300 oC. Hitunglah koefisien perpindahan kalor rata-rata.

69
6. Gas CO2 pada tekanan 1 atm dipanaskan dari 30 oC menjadi 75 oC dengan
mempompakan gas tersebut ke dalam rangkaian pipa dengan kecepatan 4 m/s.
Pipa tersebut dipanaskan menggunakan uap dengan suhu 200 oC. Pipa tersebut
mempunyai diameter luar 2,4 cm, dan disusun dengan rangkaian baris-kolom
dengan jarak pipa baris 4 cm dan jarak kolom 4,5 cm. Jika pipa tersusun atas 15
baris, berapakah koefisien perpindahan kalor rata-rata APK tersebut?

70
Faktor pengerakan merupakan faktor yang perlu diperhatikan dalam desain APK
karena dapat mempengaruhi hasil perhitungan luas perpindahan kalor APK dan waktu
operasi pada saat APK diaplikasikan. Pada bab ini akan diuraikan mengenai definisi dan
proses terjadinya pengerakan, pengaruh pengerakan pada kinerja APK dan penentuan
koefisien pengerakan (fouling).

4.1. Definisi dan Proses Terjadinya Pengerakan (Fouling)


Fouling/pengerakan adalah akumulasi dari partikel-partikel atau zat padat yang
ikut di dalam aliran fluida yang menempel pada permukaan perpindahan kalor.
Ketebalan partikel yang menempel itu makin lama makin bertambah yang pada akhirnya
menggangu unjuk kerja APK. Partikel-partikel tersebut dapat berupa kristal, produk
kokas, bahan organik, garam, partikel korosi, dan sebagainya. Selama operasi,
pengerakan menjadi hambatan termal dan akan meningkat dan seringkali juga
menambah jatuh tekan (pressure drop) aliran yang pada akhirnya meningkatkan tenaga
pompa.

Deposit
Pengotor diluar
dinding

Deposit
Pengotor didalam
dinding

Dinding
Penukar kalor

Gambar 4.1 Pengerakan di luar dan di dalam dinding penukar kalor [Kakac,
2002]

71
Berdasarkan proses terbentuknya deposit atau endapan, faktor pengerakan
dibagi menjadi enam
1. Fouling akibat pengendapan zat padat dalam larutan (precipitation fouling)
Fouling ini berhubungan dengan pengendapan zat padat yang terlarut dalam
fluida di atas permukaan perpindahan kalor. Fouling ini biasanya terjadi pada
fluida yang akan timbul endapan pada suhu tinggi, misalnya larutan kalsium
sulfat, larutan magnesium silikat, dan larutan litium karbonat.
2. Fouling akibat pengendapan partikel padat dalam fluida (particulate fouling)
Fuoling ini terjadi akibat mengumpulnya partikel-partikel padat dalam fluida di
atas permukaan perpindahan kalor, seperti debu (ash) dan pasir. Jika partikel
padat ini mengendap karena pengaruh gravitasi, maka fouling ini disebut dengan
sedimentation fouling.
3. Fouling akibat reaksi kimia (chemical reaction fouling)
Fouling ini terjadi akibat reaksi kimia di dalam fluida, di atas permukaan
perpindahan kalor, di mana material bahan permukaan perpindahan kalor tidak
ikut bereaksi. Contoh dari fouling ini adalah polimerisasi, pengertakan (cracking),
dan pengokasan (coking) dari zat hidrokarbon.
4. Fouling akibat korosi (corrosion fouling)
Fouling ini terjadi akibat reaksi kimia antara fluida kerja dengan material bahan
permukaan perpindahan kalor. Reaksi ini menyebabkan permukaan perpindahan
kalor semakin menipis yang pada akhirnya akan menyebabkan bercampurnya
fluida dingin dengan fluida panas.
5. Fouling akibat biologi (biological fouling)
Fouling ini berhubungan dengan organisme biologi yang terdapat pada fluida
kerja, seperti lumut, jamur, bakteri, dan cacing. Organisme ini kemudian melekat
pada permukaan perpindahan kalor dan berkembang. Pengerakan ini biasanya
terjadi pada pendinginan air laut.
6. Fouling akibat pembekuan (freezing fouling)
Fouling ini terjadi akibat pemadatan dari fluida. Hal ini biasanya terjadi pada APK
dengan fluida panas logam cair. Suhu fluida panas yang dekat dengan
permukaan perpindahan kalor akan menurun sehingga dapat menyebabkan
pembekuan sebagian fluida panas tersebut.

72
4.2. Pengaruh pengerakan terhadap kinerja APK
Pengerakan merupakan akumulasi dari partikel-partikel yang tertarik termal
akibat adanya perbedaan suhu antara fluida dan dinding penukar kalor. Partikel-partikel
akan mengendap menjadi deposit secara terus menerus. Lapisan deposit akan
menyebabkan hambatan termal terhadap proses perpindahan kalor dan juga akan
menambah diameter hidrolik bagi fluida untuk dapat mengalir.
Masalah pengerakan pada APK merupakan sebuah gejala yang kompleks, yang
terbentuk dari kombinasi perubahan panas, laju aliran, dan momentum. Biasanya
pengerakan terjadi pada bagian dinding yang dilewati fluida-cair panas dan dinding yang
dilewati fluida-gas dingin mesikipun keadaan yang sebaliknya dapat ditemui juga.
Pengerakan pada APK juga dapat membuat biaya tambahan ini, yakni untuk
1. Menambah biaya pembersihan dan perawatan
2. Menambah biaya pencegahan misalnya biaya untuk zat kimia
3. Menambah energi tambahan karena kinerja APK menurun akibat berkurangnya daya
pindah kalor dan meningkatnya jatuh tekan aliran fluida.
Secara kualitatif, pengaruh deposit terhadap perpindahan kalor baik pada aliran
yang berkembang penuh laminar maupun turbulen, perpindahan kalornya terhadap
pengaruh diameter hidrolik Dh dapat dinyatakan dalam

dengan Nu = kostan untuk aliran laminar (4.1)

Untuk aliran turbulen (4.2)

Hal yang sama untuk jatuh tekan pada aliran APK dengan pengaruh bilangan
Reynold untuk turbulen , dengan P adalah keliling, maka
pengaruh jatuh tekan terhadap diameter hidrolik adalah

untuk aliran laminar (4.3)

untuk aliran turbulen (4.4)

Efek pengerakan secara kualitatif yang dilihat dari parameter laju endapan dan
pengerakan asimptotik dapat dilihat pada Tabel 4.1. Faktor kecepatan merupakan satu-

73
satunya parameter yang bertambah dikarenakan pengerakan asimptotik meskipun
banyak pengecualiannya.

Tabel 4.1 Efek pengerakan secara kualitatif [Kudson, 1984]


Paramenter yang bertambah Laju pengendapan Asymptotic flouling
Kelengketan Bertambah Bertambah
Suhu permukaan Bertambah Bertambah
Kekerasan Bertambah Bertambah
Kekasaran Bertambah Bertambah
Korosi in situ Bertambah Bertambah
Korosi ex situ Bertambah Bertambah
Kecepatan Berkurang Berkurang

4.3 Faktor Pengerakan ( )


Faktor pengerakan harus didapatkan dari percobaan, yaitu dengan menentukan
U untuk kondisi bersih dan kondisi kotor pada penukar kalor itu. Oleh karena

itu, faktor pengerakan didefinisikan sebagai berikut:

(4. 5)

Secara umum, fouling ini akan mempengaruhi perancangan APK misalnya


ukuran dan material untuk kontruksi alat penukar kalor dan juga jadwal pembersihan
alat penukar kalor. Konsekuensinya fouling menyebabkan kerugian secara ekonomi
yang berdampak langsung pada harga, biaya operasi, dan unjuk kerja APK.
Berikut ini akan ditunjukkan pengaruh fouling pada penambahan luas pada
APK. Laju perpindahan kalor (Q) berkaitan dengan geometri dan parameter aliran
fluidanya, maka untuk fluida untuk keadaan bersih persamaannya menjadi Qc =
Uc.Ac.∆Tmc dan untuk laju perpindahan kalor pada kondisi APK dalam keadaan kotor
menjadi Qf = Uf.Af.∆Tmf. Karena laju perpindahan kalor untuk keadaan bersih dan kotor
adalah sama (Qc=Qf) dan begitu juga dengan suhu rata-rata yang sama (∆Tmc=∆Tmf)
maka berdasarkan kedua persamaan tersebut akan didapatkan persamaan sebagai
berikut:

74
(4.6)

Dengan mensubstitusikan kedua persamaan 4.5 dan 4.6 didapat

(4.7)

Maka berdasarkan persamaan 4.7 dapat dilihat bahwa akibat adanya faktor
pengerakan akan mengakibatkan penambahan luas APK. Selain itu faktor pengerakan
sangat berhubungan dengan konduktivitas termalnya kf dan ketebalan dari deposit tf
yang menempel pada dinding.

untuk bidang datar (4.8)

untuk bentuk melingkar (pipa) (4.9)

Pada dasarnya lapisan pengerakan terdiri atas beberapa jenis material dan
tentunya konduktivitas termalnya akan tidak seragam. Pendekatan konduktivitas termal
material murni dilakukan untuk mempermudah perhitungan. Sifat material pengotor
tersebut terdapat pada Tabel 4.2. Untuk fluida-fluida yang biasa digunakan di industri,
Tabel 4.3 menunjukan nilai hambatan termal pengerakan berdasarkan data dari TEMA.

Tabel 4.2. Sifat material pengotor dan penambahan jatuh tekan akibat pengotor [Kakac, 2002]
Konduktivitas Ketebalan Luas area yang Penambahan jatuh
Material termal Deposit tf * dapat dilalui tekan akibat
(W/m.K) (mm) fluida (%) pengerakan (%)
Hematile 0,6055 0,24 95,7 11,6
Blofilm 0,7093 0,28 95,0 18,7
Kalsit 0,9342 0,37 93,5 18,4
Serpentin 1,0380 0,41 92,8 20,7
Gipsum 1,3148 0,51 90,9 26,9
Magnesium fosfat 2,1625 0,83 85,5 47,9
Kalsium sulfat 2,3355 0,90 84,4 52,6
Kalsium fosfat 2,5950 0,99 82,9 59,9
Besi oksida 2,8718 1,09 81,2 68,2
Kalsium karbonat 2,9410 1,12 80,8 70,3
* diasumsikan hambatan pengotor adalah 0,4 m2.K/W, OD =25,4 mm, ID = 22,1 mm

75
Tabel 4.3. Hambatan Termal Pengerakan untuk fluida Industri

Industial Fluids Rt (m 2.K/W)


Oils

Fuel oil no. 2 0,000352


Fuel oil no. 6 0,000881
Transformer oil 0,000176
Engine lube oil 0,000176
Quench oil 0,000705

Gases and Vapors

Manufactured gas 0,001761


Engine exhaust gas 0,001761
Steam (nonoil bearing) 0,000088
Exhaust steam (oil bearing) 0.000264-0.000352
Refrigerant vapors (oil bearing) 0,000352
Compressed air 0,000176
Ammonia vapor 0,000176
CO 2 vapor 0,000176
Chlorine vapor 0,000352
Coal flue gas 0,001761
Natural gas flue gas 0,000881

Liquids

Molten heat transfer salts 0,000088


Refrigerant liquids 0,000176
Hydraulic fluid 0,000176
Industrial organic heat transfer media 0,000352
Ammonia liquid 0,000176
Ammonia liquid (oil bearing) 0,000528
Calcium chloride solutions 0,000528
Sodium chloride solutions 0,000528
CO 2 liquid 0,000176
Chlorine liquid 0,000352
Methanol solutions 0,000352
Ethanol solutions 0,000352
Ethylene glycol solutions 0,000352

From Standard of the Tubular Exchanger Manufactures Association (1988)

4.4 Faktor Kebersihan (Cleanliness, CF)


Pendekatan lain untuk menyatakan tingkat penyumbatan akibat adanya deposit
yaitu dengan faktor kebersihan (CF). CF banyak digunakan sebagai perameter fouling
pada APK di dunia industri. Yang merupakan hubungan antara koefisien perpindahan

76
kalor secara keseluruhan ketika APK tersebut mengalami penyempitan akibat deposit
fouling terhadap kondisi bersihnya , dinyatakan sebagai

(4.10)

Dari persamaan 4.5 dan 4.10, faktor kebersihan dinyatakan dalam hambatan
termal akibat pengerakan:
(4.11)

Atau
(4.12)

Persamaan 4.11 digunakan untuk memperoleh grafik (Gambar 4.2) antara


hambatan akibat pengerakan, Rf, terhadap koefisien perpindahan kalor keseluruhan,
Uc untuk beberapa kurva dengan ragam faktor CF. Gambar 4.2 menggambarkan bahwa
nilai CF terpengaruh jika jika hambatan akibat pengerakan meningkat dan koefisien
perpindahan kalor keseluruhan menurun.

2,4

Faktor Cleanliness, CF
pengotoran, Rf x 104 (m2K/W)

2,0
0,80
Hambatan akibat

1,6

0,85
1,2

0,8 0,90

0,4 0,95

1000 2000 3000 4000 5000


Koefisien perpinddahan kalor
keseluruhan, Uc (W/m2K)

Gambar 4.2 Nilai CF terhadap Rf dan Uc

Kecenderungan dalam merancang sistem pengembunan uap, dengan nilai Uc


berbanding lurus dengan kecepatan. Seperti yang terdapat pada Tabel 4.1 yang
menyatakan bahwa semakin rendah kecepatan semakin besar kemungkinan untuk
terbentuknya endapan. Meskipun kecenderungan CF dapat diketahui dari grafik,

77
terkadang perencana masih kesulitan menentukan nilai CF yang tepat karena masih
banyak nilai kualitatif untuk menentukannya.

Referensi
Chenoweth, J. M., Fouling problems in heat exchangers, in Heat transfer in High technology and power
Engineering, Yang, W. K. and Mori, Y. Ends., Hemisphare, Wasington, D.C., 1987, 406.
Chenoweth, J. M., General Design of heat exchanger for fouling conditions, in Fouling Science and
Technology, Melo. L. F., Bott, T. R., and Bernardo, C. A.S., Eds. Kluwer Publishers, The Netherlands,
1988, 477.
Kakac S. and Liu H., 2002, Heat exchangers selection, rating and thermal design, Edisi ke-2. CRC Press
Knudson, J. G,. Fouling of heat exchangers: are we solving the problem? Chem. Eng. Prog., 80, 63,
1984
Shah, R. K., and Seculic D.P, 2003, Fundamental of Heat exchanger Design, John Wiley & Son.

Soal

1. Sebuah penukar kalor pipa ganda, mempunyai deposit akibat pengerakan.


Deposit terdiri atas 1,12 mm tebal kalsium karbonat pada dinding bagian dalam
pipa (DD = 1,9 cm) dan 0,88 ketebalan pada dinding bagian luar pipa (DL= 2,3
cm). Pipa terbuat dari baja karbon (k=43 W/m.K). Hitunglah total hambatan
akibat pengerakan (Rf).

2. Sebuah APK jenis selongsong-dan-pipa dengan material besi k = 43 W/mK


mempunyai koefisien perpindahan kalor pada bagian dalam pipa 500 W/m2K,
pipa dengan DD = 1,9 cm dan DL = 2,3. Di dalam selongsong koefisien
perpindahaan kalor adalah 120 W/m2K, Jika APK tersebut mempunyai faktor
pengerakan 0,000176 m2K/W, maka hitunglah keseluruhan koefisien
perpindahan kalor.

3. Sebuah APK jenis selongsong-dan-pipa mempunyai 1 buah selongsong dan 4


buah laluan pipa. Cairan memasuki pipa pada suhu 200 oC dan meninggalkan
pipa pada 100 oC, sedangkan suhu masuk selongsong pada 20 oC, dan
meninggalkannya pada suhu 90 oC. Koefisien perpindahan kalor keseluruhan jika
dalam kedaan bersih adalah 300 W/m2K (untuk luasan 12 m2). Selama

78
pengoperasiannya dalam kurun waktu enam bulan, deposit akibat pengerakan
terbentuk dengan faktor pengerakan sebesar 0,000528 m2K/W. Tentukan
persentase penurunan kinerja APK setelah mengalami deposit.

4. Di dalam APK selongsong-dan-pipa, air mengalir dalam pipa dengan laju 3 kg/s
dan dipanaskan dari 20 oC menjadi 90 oC. Pada sisi selongsong, uap mengembun
pada 100 oC untuk memanaskan air, menghasilkan koefisien perpindahan kalor
2100 W/m2. Setelah beroperasi selama setengah tahun, suhu di dalam pipa
turun menjadi 80oC. Hitunglah koefisien perpindahan kalor keseluruhan sebelum
terjadinya fouling, dan hitung pula hambatan total pada kondisi operasi.

5. Sebuah APK pipa ganda digunakan untuk mengembunkan uap dengan laju 98
kg/jam pada suhu 45 oC. Air laut yang digunakan untuk mendinginkan masuk ke
dalam pipa dengan laju aliran 0,75 kg/detik pada 15 oC. Pipa dengan DL 12,4
mm dan DD 11,0 mm terbuat dari baja tahan karat dengan k = 45 W/mK.
Koefisien perpindahan kalor pada sisi uap ho = 6500 W/m2K. Hitunglah
perpindahan kalor keseluruhan pada saat kondisi bersih dan kondisi setelah
adanyanya faktor pengerakan.

6. Sebuah APK jenis plat mempunyai koefisien perpindahan kalor keseluruhan


setelah mengalami deposit akibat pengerakan sebesar 4.200 W/m2K. Koefisien
perpindahan kalor untuk sisi panas adalah 15.000 W/m 2K dan untuk sisi dingin
14.000 W/m2K. Pelat terbuat dari baja tahan karat dengan ketebalan 0,6 mm
dan konduktivitas termal sebesar 17 W/Mk. Hitunglah hambatan akibat
pengotor.

7. Sebuah APK jenis selongsong-dan-pipa horizontal digunakan untuk


mengembunkan uap organik. Organik uap mengembun pada sisi luar pipa pada
suhu 118 oC, sedangkan air yang digunakan untuk mendinginkan uap berada di
dalam pipa mempunyai laju aliran 3700 lt/min, suhu masuk 29 oC dan suhu
keluaran air pada 49 oC. Pipa mempunyai DD 1,6 dan DL 1,6 terbuat dari
tembaga dengan panjang 2,4 m. Jumlah pipa seluruhnya adalah 768 buah,
maka hitunglah kecepatan air di dalam pipa dan setelah 3 bulan pengoperasian

79
suhu keluaran air menjadi 40 oC. Hitung pula koefisien perpindahan kalor
keseluruan setelah kurun waktu tersbut.

8. Gas digunakan untuk proses preheater air di dalam bolier. Gas yang mengalir
dengan laju aliran 0,25 kg/s pada 150 oC, dengan kalor spesifik 1000 J/kgK. Air
masuk preheater pada 15 oC dengan laju 0,05 kg/s untuk dipanaskan hingga 90
oC. Bentuk preheater adalah sebuah laluan selongsong (tempat gas mengalir)
dan 4 pipa di dalamnya (tempat air mengalir). Pipa terbuat dari tembaga dengan
DD = 2,5 cm dan DL 3,0 cm. Koefisien perpindahan kalor pada sisi gas 115
W/m2K. Hambatan termal dinding pipa secara keseluruhan adalah 0,000176
m2K/W. Hitunglah
a. Koefisien perpindahan kalor secara keseluruhan pada sisi luar pipa.
b. Perkirakan panjang pipa yang dibutuhkan
c. Hitnglah faktor kebersihan (CF)

9. Aliran searah sebuah APK jenis pipa ganda dirancang untuk mendinginkan
pelumas untuk kapasitas besar dari sebuah industri mesin turbin gas. Aliran air
untuk mendinginkan memasuki pipa dengan laju 0,2 kg/s pada suhu 20 oC dan
keluar pada 50 oC, sedangkan laju aliran pelumas yang keluar melewati profil
anulus adalah 0,4 kg/s dengan suhu masuk 60 oC. Koefisien perpindahan kalor
dari anulus adalah 8 W/m2K dan pada pipa bagian dalam sebesar 2445 W/m2K.
Pipa bagian dalam berdiameter luar 25 mm dan pipa bagian luar mempunyai
diameter dalam 45 mm. Panjang total APK pipa ganda ini adalah 15 m. Jika
hambatan termal pada dinding pipa diabaikan, berapa total hambatan akibat
pengerakan?
10. Koefisien perpindahan kalor keseluruhan dari sebuah APK yang beroperasi pada
saat bersih adalah 800 W/m2K. Berdasarkan pengalaman di industri, responden
menyatakan untuk jenis APK ini setelah beroperasi mempunyai CF 0,7. Hitunglah
hambatan akibat pengerakan berdasarkan acuan responden.

80
APK Selongsong dan Pipa banyak dijumpai di industri kimia dan memiliki desain yang
sudah mapan. Pada bab ini akan diuraikan keungulan dan konstrusksi APK Selongsong
dan pipa berdasarkan standar TEMA, kreteria disain selongsong dan pipa, pertimbangan
dalam menentukan fluida yang akan mengalir di dalam selongsong dan di dalam pipa
dan disain mekanikal dari APK selongsong dan pipa.

5.1 Keunggulan-Keunggulan APK Selongsong dan Pipa


Walaupun dewasa ini sangat banyak jenis APK yang dikembangkan pada industri,
APK jenis selongsong dan pipa atau shell and tubes ini masih jauh lebih banyak
digunakan, dibandingkan dengan jenis lainnya. Hal ini didasarkan oleh beberapa
keuntungan, antara lain:
1. Konfigurasi yang dibuat, memberikan luas permukaan yang besar dengan bentuk
atau volume yang kecil
2. Mempunyai lay-out mekanik yang baik, dan bentuknya cukup baik untuk operasi
bertekanan tinggi.
3. Menggunakan teknik fabrikasi yang sudah canggih.
4. Dapat dibuat dengan berbagai jenis material, sesuai dengan suhu dan tekanan
operasinya.
5. Mudah dibersihkan/perawatannya.
6. Prosedur perancangan sudah sangat terstruktur lebih dari 100 tahun.
7. Kontruksinya sederhana, pemakaian ruangan relatif kecil.
8. Prosedur mengoperasikannya tidak rumit, dan sangat mudah untuk dipelajari,
diketahui/dimengerti oleh para operator yang berlatar belakang pendidikan rendah.
9. Kontruksinya dapat dipisah-pisah satu sama lainnya, dan tidak merupakan satu
kesatuan yang utuh, sehingga pengangkutannya relatif lebih mudah.

81
5.2 Kontruksi APK Selongsong Dan Pipa

Ditinjau dari segi kontruksi dari APK jenis shell and tube, maka secara umum
dapat dikatakan, kontruksinya terdiri dari atas 4 bagian utama:
1. Bagian ujung depan yang tetap atau front end stationery head (dalam praktik
hanya disingkat dengan stationery head).
2. Shell atau badan APK itu.
3. Bagian ujung belakang atau rear end head (dalam praktek sering disebut rear
head)
4. Tube atau tubes-bundle. Merupakan kumpulan tube yang dimasukkan ke dalam
shell.

Bagian depan yang tetap (front end stationery) terdiri dari 5 tipe yaitu: tipe A, B, C,
D, dan N. Bagian Shell APK terdiri dari 7 tipe, yaitu: tipe E, F, G, H, J, K dan X. Bagian
ujung belakang (rear end head) APK dibuat 8 tipe yaitu: tipe L, M, N, P, S, T, U, dan W.
Bentuk masing-masing ketiga bagian itu dapat dilihat pada Gambar 5.1.
Terdapat bermacam tipe front dan rear head serta tipe shell yang sudah
distandarisasikan oleh Tubular Exchanger Manufacturers Association (TEMA). Di
dalam TEMA Standar, masing-masing bagian tersebut (kecuali tube) telah diberikan kode
masing-masing dengan mempergunakan huruf. Huruf yang pertama adalah untuk
stationery head, huruf kedua adalah untuk shell (cangkang) serta huruf ketiga
merupakan kode untuk rear head. Pada Tabel 5.1 di bawah ini diberikan beberapa
konstruksi dari APK beserta gambarnya.

Tabel 5.1. Tipe dari konstruksi APK


Gambar Tipe Stationery Shell Rear head
head
5.2 AES A E S
5.3 BEM B E M
5.4 AEP A E P
5.5 CFU C F U
5.6 AKT A K T
5.7 AJW A T W

82
Bagian yang lain yaitu tubes-bundle (berkas tube) pada umumnya adalah sama,
dimana pada kedua ujungnya di roll pada tube sheet. Namun berkas itu dikenal 2 jenis,
yaitu:
1. Tubes bundle yang lurus, dengan 2 buah tube sheet.
2. Tubes bundle berbentuk U, dengan 1 buah tube sheet, yaitu seperti tipe U pada
rear head.

5.2.1 Tube
Istilah tube sering dipergunakan pada bidang teknik, khususnya bidang mekanik,
pabrik kimia, pengolahan minyak, pembangkit listrik tenaga uap dan lain-lain. Beberapa
jenis tube yang sudah ditetapkan ialah, boiler tubes (pipa-pipa ketel), superheater tubes
(pipa-pipa pemanas lanjut), furnace tubes (pipa-pipa dapur), drilling tubes (pipa-pipa
bor), copper tubes (pipa-pipa tembaga).
Terdapat perbedaan yang prinsip antara tube dengan pipa terutama diameter
dan tebalnya. Untuk diameter yang sama, tube lebih tipis dibanding dengan pipa. Semua
ukuran tube didasarkan atas diameter luarnya. Pipa untuk ukuran yang sama atau lebih
besar dari 14 inch, maka ukurannya ditentukan oleh diameter luarnya, dan untuk yang
lebih kecil dari 14 inch ukurannya ditentukan oleh diameter nominalnya.
Ukuran Tubing seamless mulai dari diameter 1/2 inch sampai 1 ½ inch dengan
tingkat kenaikan diameter setiap 1/16 inch, dan dari diameter 1 5/8 inch sampai 4
inch, kenaikan ukuran diameternya adalah setiap 1/8 inch, selanjutnya untuk tubing
diameter 4 ¼ inch sampai 9 inch, mengalami kenaikan diameter setiap ¼ inch.
Tebal tube dinyatakan dengan BWG (Birmingham Wire Gage), dan ukuran dalam
‖gage size‖ mulai No. 0 sampai No.24. Tube dapat dikatakan sebagai urat nadi APK.
Oleh karena di bagian dalam dan di luar tube mengalir fluida. Kedua jenis fluida itu
mempunyai kapasitas, suhu, tekanan, kerapatan, serta jenis yang berbeda.

83
Gambar 5.1 Bagian-bagian dari APK
[sumber : TEMA, 1999]

Kedua ujung dari tube diikat pada pelat yang disebut sebagai tube sheet. Hal ini
bertujuan untuk mencegah kebocoran fluida yang dapat mengakibatkan fluida
terkontaminasi atau bercampur. Khusus pada APK dengan U-tube, tube akan
dibengkokkan sesuai dengan jari-jari lengkungan yang diijinkan atau sesuai dengan

84
standar. Untuk mempertahankan posisi tube dan mencegah terjadinya getaran, maka
tube itu ditahan (support) dengan sekat atau disebut juga baffle.
Tube juga harus mampu memindahkan kalor di antara fluida dalam tube dengan
di luar tube.
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ialah :
1. Kemampuan memindahkan panas yang tinggi,
2. Daya tahan terhadap panas,
3. Daya tahan terhadap korosi,
4. Daya tahan terhadap erosi,
5. Mampu untuk dibentuk dengan proses dingin atau panas,
6. Mempunyai sifat plastis yang baik.
Jenis bahan yang dipergunakan untuk tube, antara lain baja karbon, baja
campuran rendah dan baja campuran tinggi, baja nikel dan campuran nikel, alumunium
dan campuran alumunium, tembaga dan campuran tembaga, dan lain-lain.
Pemilihan jenis bahan dan ukuran tube didasarkan pada: (a). besarnya aliran
fluida, (b). suhu, (c). tekanan, (d). korosif atau tidak, (e). sistem serta periode
pemeliharaan (f) mengalami fouling atau tidak.
Ukuran tube dari diameter ¾ inci sampai 2 inci sering dipergunakan, untuk
ukuran yang lebih kecil dari ¾ inci sampai 1 inci, akan menghasilkan konstruksi yang
lebih kompak dan lebih murah. APK berbentuk paket (package exchangers), seperti
mesin pendingin, sering dipergunakan tube berukuran ¾ inci samapi ½ inci. Tube untuk
dapur pengolahan minyak mempunyai ukuran diameter yang lebih besar, biasanya
antara 3 ½ inci sampai 4 inci atau lebih.
Untuk menentukan tebal tube dinyatakan dalam BWG. Semakin besar angka
BWG maka tebal tube semakin tipis. Misalnya BWG 12 lebih tebal dari BWG 18. Apabila
pembersihan bagian dalam tube dengan cara mekanik (mechanical cleaning) maka tube
yang berdiameter lebih besar lebih menguntungkan. Hal lain yang perlu dipertimbangkan
untuk pemilihan tube adalah panjangnya. Tidak banyak variasi ukuran panjang tube
yang tersedia dipasaran. Standar ukuran panjang tube antara lain 6 ft (1,83 m), 8 ft
(2,44 m), 12 ft (3,66 m), dan 16 ft (4,88 m). Pada tabel 5.2 dapat dilihat data dimensi
pipa komersial.

85
Tabel 5.2. Dimensi Pipa Komersial

Dimensional Data for Commercial Tubing

Sq. Ft. Sq. Ft. Weight


Internal External Internal per Ft.
OD of Flow Surface Surface Length, ID
Tubing BWG Thickness Area per Ft. per Ft. Steel Tubing
(in.) Gauge (in.) (in. 2 ) Length Length (lb.) (in.) OD/ID

1/ 4 22 0,028 0,0295 0,0655 0,0508 0,066 0,194 1,289


1/ 4 24 0,022 0,0333 0,0655 0,0539 0,054 0,206 1,214
1/ 4 26 0,018 0,0360 0,0655 0,0560 0,045 0,214 1.,168
3/8 18 0,049 0,0603 0,0982 0,0725 0,171 0,277 1,354
3/8 20 0,035 0,0731 0,0982 0,0798 0,127 0,305 1,233
3/8 22 0,028 0,0799 0,0982 0,0835 0,104 0,319 1,176
3/8 24 0,022 0,0860 0,0982 0,0867 0,083 0,331 1,133
1/2 16 0,065 0,1075 0,1309 0,0969 0,302 0,370 1,351
1/2 18 0,049 0,1269 0,1309 0,1052 0,236 0,402 1,244
1/2 20 0,035 0,1452 0,1309 0,1126 0,174 0,430 1,163
1/2 22 0,028 0,1548 0,1309 0,1162 0,141 0,444 1,126
5/8 12 0,109 0,1301 0,1636 0,1066 0,602 0,407 1,536
5/8 13 0,095 0,1486 0,1636 0,1139 0,537 0,435 1,437
5/8 14 0,083 0,1655 0,1636 0,1202 0,479 0,459 1,362
5/8 15 0,072 0,1817 0,1636 0,1259 0,425 0,481 1,299
5/8 16 0,065 0,1924 0,1636 0,1296 0,388 0.49s 1,263
5/8 17 0,058 0,2035 0,1636 0,1333 0,350 0,509 1,228
5/8 18 0,049 0,2181 0,1636 0,1380 0,303 0,527 1,186
5/8 19 0,042 0,2298 0,1636 0,1416 0,262 0,541 1,155
5/8 20 0,035 0,2419 0,1636 0,1453 0,221 0,555 1,136

Untuk luas permukaan tertentu, jika dipergunakan tube yang panjang, maka akan
diperoleh konstruksi APK yang berdiameter kecil (diameternya kecil), hal ini akan
menurunkan biaya APK, apalagi untuk shell bertekanan tinggi. Sebaiknya dalam
merencanakan APK yang baru, harus dipertimbangkan ukuran tube yang sudah tersedia,
sebab dengan mempergunakan tube yang sama, akan mengurangi jumlah, jenis dan
ukuran cadangan untuk pemeliharaan.

86
Tabel 5.3. Dimensi Pipa Komersial
Heat Exchanger and Condenser Tube Data
Cross-Sectional
Surface Area Area
Nominal Outside Schedule Wall Inside M etal Flow
Pipe Size Diameter Number or Thickness Diameter Outside Inside Area Area
(in.) (in.) Weight (in.) (in.) (ft.2/ft.) (ft.2/ft.) (in.2) (in.2)

40 0,113 0,824 0,275 0,216 0,333 0,533


3/4 1,05 80 0,154 0,742 0,275 0,194 0,434 0,432
40 0,133 1,049 0,344 0,275 0,494 0,864
1 1,135 80 0,179 0,957 0,344 0,250 0,639 0,719
40 0,140 1,38 0,434 0,361 0,668 1,496
1-1/4 1,660 80 0,191 1,278 0,434 0,334 0,881 1,283
40 0,145 1,61 0,497 0,421 0,799 2,036
1-1/2 1,900 80 0,200 1,50 0,497 0,393 1,068 1,767
40 0,154 2,067 0,622 0,541 1,074 3,356
2 2,375 80 0,218 1,939 0,622 0,508 1,477 2,953
40 0,203 2,469 0,753 0,646 1,704 4,79
2-1/2 2,875 80 0,276 2,323 0,753 0,608 2,254 4,24
40 0,216 3,068 0,916 0,803 2,228 7,30
3 3,5 80 0,300 2,900 0,916 0,759 3,106 6,60
40 0,266 3,548 1,047 0,929 2,680 9,89
3-1/2 4,0 80 0,318 3,364 1,047 0,881 3,678 8,89
40 0,237 4,026 1,178 1,054 3,17 12,73
4 4,5 80 0,337 3,826 1,178 1,002 4,41 11,50
10 S 0,134 5,295 1,456 1,386 2,29 22,02
5 5,563 40 0,258 5,047 1,456 1,321 4,30 20,01
80 0,375 4,813 1,456 1,260 6,11 18,19
10 S 0,134 6,357 1,734 1,664 2,73 31,7
6 6,625 40 0,280 6,065 1,734 1,588 5,58 28,9
80 0,432 5,761 1,734 1,508 8,40 26,1
10 S 0,148 8,329 2,258 2,180 3,94 54,5
8 8,625 30 0,277 8,071 2,258 2,113 7,26 51,2
80 0,500 7,625 2,258 1,996 12,76 45,7
10 S 0,165 10,420 2,81 2,73 5,49 85,3
10 10,75 30 0,279 10,192 2,81 2,67 9,18 81,6
Extra heavy 0,500 9,750 2,81 2,55 16,10 74,7
10 S 0,180 12,390 3,34 3,24 7,11 120,6
12,75 30 0,330 12,09 3,34 3,17 12,88 114,8
Extra heavy 0,500 11,75 3,34 3,08 19,24 108,4
10 0,250 13,5 3,67 3,53 10,80 143,1
14 14,0 Standard 0,375 13,25 3,67 3,47 16,05 137,9
Extra heavy 0,500 13,00 3,67 3,40 21,21 132,7
10 0,250 15,50 4,19 4,06 12,37 188,7
16 16,0 Standard 0,375 15,25 4,19 3,99 18,41 182,7
Extra heavy 0,500 15,00 4,19 3,93 24,35 176,7
10 S 0,188 17,624 4,71 4,61 10,52 243,9
18 18,0 Standard 0,375 17,25 4,71 4,52 20,76 233,7
Extra heavy 0,500 17,00 4,71 4,45 27,49 227,0

87
5.2.2 Shell
Shell adalah bagian tengah APK dan merupakan rumah untuk tube bundel.
Antara shell dan tube-bundel terdapat fluida yang menerima atau melepaskan kalor,
sesuai dengan proses yang terjadi. Secara umum pada shell APK ada beberapa macam
yaitu :
1. Shell dengan aliran satu laluan, tipe E.
2. Shell dengan aliran dua laluan dan sekat longitudinal tipe F.
3. Shell dengan aliran dipisah (split flow), tipe G.
4. Shell dengan aliran diganda (double split flow), tipe H.
5. Shell dengan aliran yang dibagi (divided flow), tipe J.
6. Shell tipe ceret (kettle tube), tipe K.
Shell tipe E banyak digunakan karena murah dan sederhana. Dalam shell ini,
fluida masuk pada salah satu sisi dan keluar pada sisi lainnya, karena itu ada satu
laluan pada sisi shell. Sisi tubes dapat mempunyai tunggal atau banyak laluan dan
ditopang oleh sekat-sekat (baffles). Shell ini banyak digunakan untuk applikasi fluida
fasa tunggal. Dengan tube laluan tunggal, aliran berlawanan yang nominal dapat
diperoleh.
Untuk meningkatkan perbedaan suhu efektif dan juga efektifitas APK, maka
sebuah susunan aliran berlawanan diperlukan pada APK tube 2 laluan. Hal ini dapat
dicapai dengan menggunakan shell tipe F yang mempunyai bentuk baffel longitudinal
dan mengakibatkan shell menjadi dua laluan. Tipe ini digunakan ketika unit-unit dalam
posisi seri ditetapkan, dan setiap laluan shell mewakili satu unit. Jatuh tekanan, pada
tipe ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan shell tipe E.
Tipe lain yang juga penting adalah shell tipe J dan shell tipe X. Dalam aliran
bercabang shell tipe J, fluida masuk di tengah dan membagi ke dalam 2 bagian. Nosel
tunggal ada pada titik tengah dari tube dan dua nosel dipasang dekat ujung tubes. Shell
ini digunakan untuk applikasi jatuh tekanan rendah seperti sebuah kondenser dalam
kondisi vakum, karena shell tipe J mempunyai kira-kira 1/8 kali jatuh tekanan
dibandingkan dengan shell tipe E. Ketika digunakan untuk pengkondensasian, shell itu
akan mempunyai 2 sisi masuk untuk fasa uap, dan satu sentral sisi keluar untuk
kondensat.
Shell tipe X mempunyai satu sisi masuk dan sisi keluar yang terletak di tengah,
dan biasanya dengan sebuah kubah penyalur. Kedua fluida mengelilingi sepanjang tube

88
dan terdapat di dalam susunan aliran menyilang. Baffel tidak digunakan dalam tipe
shell seperti ini. Akibatnya, jatuh tekanan di dalam shell benar-benar rendah. Jenis ini
digunakan untuk kondenser vakum dan gas bertekanan rendah.
Aliran shell yang terbagi seperti shell tipe G dan shell tipe H digunakan untuk
applikasi yang spesifik. Aliran fluida terbagi dari shell tipe G yang mempunyai baffel
horizontal dengan ujung yang dapat dipindahkan; nozzels shell 180° terlepas pada titik
tengah dari tubes. Shell tipe G mempunyai jatuh tekanan yang sama dengan shell tipe E,
akan tetapi faktor F log mean temperature difference (LMTD) dan juga efektiveness APK
lebih tinggi.
Jenis shell yang banyak dipergunakan adalah jenis satu laluan. Shell dua laluan
digunakan apabila perbedaan suhu antara shell dan tube (temperature driving force)
tidak dapat diatasi pada jenis satu laluan. Pertimbangan untuk memilih aliran yang
dibelah atau aliran yang dibagi (split and divided flow) ialah untuk mengurangi hilang
tekanan (pressure drop) di sisi shell, sebab jatuh tekanan merupakan faktor kontrol
pada perencanaan dan operasi APK.
Bentuk-bentuk shell, tergantung dengan pelat tube (tube sheet). Terdapat 3 jenis
yaitu : (1). Shell dengan pelat tube tetap (fixed tube sheet), (2). Shell dengan pelat tube
yang bisa dilepas (removeable tube sheet) dan (3). Shell dengan pelat tube tetap atau
bisa dilepas (fixed or removeable tube sheet).
Dari segi pembuatannya, shell dapat dikelompokkan menjadi :
1. Shell yang dibuat dari pipa (pipe shell)
2. Shell yang dibuat dari pelat (plate shell)
Shell yang berukuran besar dibuat dari pelat yang diroll dan dilas, sedangkan
untuk ukuran yang kecil dibuat dari pipa standar.

5.2.3 Baffle atau sekat


Baffles atau sekat-sekat yang dipasang pada APK mempunyai beberapa fungsi,
yaitu :
1. Struktur untuk menahan kumpulan pipa atau tube-bundel.
2. Damper untuk menahan atau mencegah terjadinya getaran pada tubes.
3. Sebagai alat untuk mengontrol dan mengarahkan aliran fluida yang mengalir di luar
tubes (shell side).
Fungsi tersebut selalu menyatu pada setiap pemasangan sekat, namun
adakalanya satu sama lainnya harus diperketat persyaratannya demi untuk tujuan-

89
tujuan yang khusus. Terkadang para perancang sering melupakan adanya getaran pada
tubes bundel, karena dalam praktiknya kerusakan akibat getaran itu sangat sedikit
sekali.
Pada gambar 5.2 nomor 8 terdapat pass-partition yang dipasang pada front-end
APK, bagian ini juga berfungsi sebagai sekat aliran fluida yang masuk ke dalam front end
itu, yang selanjutnya membelok masuk ke dalam tube APK. Dengan memasang
pass-partition pada APK dapat menambah jumlah laluan aliran fluida di dalam tube.
Sedangkan pemasangan baffles pada sisi shell tidak menambah jumlah aliran shell
tersebut.
Ditinjau dari segi konstruksi, sekat itu dapat diklafikasikan dalam 4 kelompok
yaitu :
1. Sekat pelat berbentuk segmen (segmental baffles plate)
2. Sekat batang (rod baffles)
3. Sekat mendatar atau longitudinal baffles.
4. Sekat impingement (impingement baffles).
Biasanya jenis sekat ini dipergunakan secara sendiri-sendiri, namun dalam hal
keperluan khusus, dapat dikombinasikan jenis yang satu dengan yang lain namun hal ini
jarang sekali dilakukan. Untuk dapat mengetahui kontruksi dari APK jenis shell and
tubes ini secara lengkap, maka kita harus menggabungkan bagian-bagian tersebut, yaitu
menggabungkan salah satu jenis (huruf) dengan yang lainnya dari masing-masing
kelompok.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa tube-bundle (berkas bundel) akan
nyata apabila APK itu menggunakan tube berbentuk U. Konstruksi APK itu sangat
kompak dan sederhana, kecuali pada bagian rear head (ujung belakang) terdapat
bagian yang sedikit kompleks, karena pada bagian itu terpasang ujung yang bergantung
(floating head).

90
8 4 7 5 9 2

6
1 3 10

Gambar 5.2 Penukar kalor tipe AES (standar TEMA)

1 4 11 4 1

5
3

Gambar 5.3 Penukar kalor tipe BEM (standar TEMA)

8
4 7 5

6
6
1
3 1

Gambar 5.4 Penukar kalor tipe AEP (standar TEMA)

91
1 13 7 12 3

Gambar 5.5 Penukar kalor tipe CFU (standar TEMA)

5 7 10
8 14
9

6 6
1 7
3

Gambar 5.6. Penukar kalor tipe AKT (standar TEMA)


1
4 7 5
12

6
1

Gambar 5.7. Penukar kalor tipe AJW (standar TEMA)

92
Keterangan Gambar 5.2 - 5.7 :
1. Saluran ujung yang tetap (stationary head-channel).
2. Tutup selonsong (shell cover)
3. Sekat (Buffle)
4. Pemegang tube tetap (stationary tubesheet).
5. Batang pengikat dan pemberi jarak (tie rods and spacer).
6. Penahan selongsong ke pondasi atau sadel (support saddle).
7. Shell
8. Pemisah aliran laluan (pass partition).
9. Pelat pipa yang mengambang yang menyusur (floating tube sheet skirt).
10. Tutup kepala yang mengambang (floating head cover).
11. Penahan gantungan (Support bracket).
12. Tube
13. Tube plate
14. Weir

5.3 Kriteria Disain Selongsong Dan Pipa Dari Segi Mekanikal

APK yang banyak digunakan di dalam industri atau di dalam unit pembangkit
listrik tenaga uap (steam power station), merupakan perpaduan dari dua segi
kebutuhan, yaitu:
1. Kebutuhan dari segi operasi yang mencakup permasalahan kapasitas, kontinuitas
reliabilitas, keselamatan, serta aspek lainnya,
2. Segi mekanik, yang merupakan aspek kontruksi, kekuatan, standar ukuran-ukuran,
bentuk, dan pemeliharaan.

Kedua segi kebutuhan tersebut sangat erat hubungannya, dimana keduanya


adalah merupakan kunci yang menentukan keberhasilan.
Berikut ini akan dibahas secara khusus aspek mekanikal APK. Segi mekanikal
APK pada shell and tube sangatlah luas, meliputi shell, stationery head, rear head end,
baffles (sekat), susunan dari tubes (tubes lay-outs), tube pitch (jarak antar tube), tubes,
pengaturan laluan aliran, nosel pada shell, metode impingement serta masalah drain
dan venting.

93
1. Shell. Seperti pada Gambar (5.1) dari standar TEMA bahwa bentuk kontruksi shell
pada APK terdiri atas 7 tipe, yaitu E, F, G, H, J, K, dan X. Masing-masing tipe
kontruksi memiliki karakteristik tersendiri. Dalam menentukan pemilihan jenis
shell yang sesuai maka perlu dilakukan pertimbangan-pertimbangan. Shell tipe E
merupakan salah satu jenis shell yang paling banyak digunakan karena
ekonomis, efisiensi termalnya baik, simpel dan memiliki faktor koreksi selisih
suhu rata-rata (mean temperature difference - F factor) tinggi. Pada tipe shell E
ini, fluida yang mengalir di dalam shell masuk dari satu ujung shell dan keluar
dari ujung lainnya, dan tipe E ini digunakan untuk satu laluan (one pass) pada sisi
shellnya. Akan tetapi pada bagian pipanya jumlah laluan bisa dimungkinkan satu
laluan atau lebih. Tipe shell E banyak digunakan pada aplikasi fasa tunggal,
sehingga apabila terdapat aliran multipass dalam shell, perlu dipertimbangkan,
apakah menggunakan 1 shell tipe E atau tipe F. Dalam hal ini pilihan mungkin
akan lebih ekonomis, tetapi ada hal lain yang perlu dipertimbangkan, seperti
masalah perbaikan, memasukkan dan mengeluarkan tube-bundle, dan kerugian
termal. Segi lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan shell ialah, penurunan
tekanan (pressure drop). Jika pressure drop pada sisi shell dibatasi, maka lebih
baik menggunakan shell dari tipe J, walaupun pada tipe ini terjadi kerugian panas
(faktor koreksi F rendah). Masalah pressure drop juga dapat diatasi oleh shell
tipe G dan H dimana terjadi pemisahan aliran sehingga mengurangi faktor koreksi
F. Untuk aliran yang besar pada sisi shell, maka sebaiknya dipilih shell dari jenis
X.

2. Head Stasioner. Head stasioner merupakan salah satu bagian ujung dari APK.
Pada bagian ini terdapat saluran masuk fluida yang akan mengalir ke dalam
tube. Terdapat dua jenis head stationer yaitu: kanal (channel), dan bonnet atau
topi. Apabila fluida dalam pipa merupakan fluida bersih, maka dipergunakan
head stationer jenis bonnet (tipe B). Hal ini dikarenakan untuk pembersihan
bagian dalam tube, bonnet harus dilepas seluruhnya. Hal ini berbeda dengan
stationer jenis kanal (tipe A atau tipe C yang integral/menyatu dengan tube
sheet), dimana untuk pembersihan bagian dalam pipa, dapat dilakukan hanya
dengan melepas penutupnya.

94
3. Head Bagian Belakang (Rear end Head). Head bagian belakang ini terletak pada
ujung lain dari APK. Pada APK dengan tube sheet tetap seperti tipe L, M,dan N
perlu diperhatikan perbedaan koefisien pemuaian bahan shell dan bahan tube.
Untuk mengatasi perbedaan yang terjadi, maka perlu dipasang expantion joint
pada sisi shell. Pembersihan dari sisi shell atau sisi sebelah luar dari tube
dilakukan dengan pembersihan secara kimia, sedangkan pergantian tube dapat
dilakukan satu persatu. Jenis ini termasuk APK biaya rendah, namun sedikit lebih
tinggi dibanding dengan APK jenis U. Tube dengan bentuk head seperti U (U tube
bundle) merupakan kontruksi yang paling sederhana. Terdiri dari tube yang
dibengkokkan lalu disusun pada tube sheet. Tidak memerlukan expantion joint,
tetapi tidak mungkin dilakukan pembersihan pada bagian tube yang bengkok.
Penggantian tube satu persatu tidak mungkin dilakukan. Rear head tipe P
(outside packed floating head) direncanakan untuk dapat menampung adanya
ekspansi tube. Perhatian khusus pada APK jenis ini ialah ketelitian untuk
menyetel gasket pada shell. Ketidaktelitian penyetelan akan mempengaruhi pada
tube-bundle. Jenis gasket yang dipergunakan harus memenuhi spesifikasi yang
tepat, sesuai dengan jenis fluida dan suhunya. Jenis APK ini mahal. Penukar kalor
tipe S (split ring floating head) merupakan APK dengan tube sheet yang digabung
antara penahan dengan penutupnya (floating head backing device dan floating
head cover). Diameter dari penahan dan penutup tersebut dibuat lebih besar dari
diameter dalam shell, sehingga terdapat ruang bebas (clearance) yang sempit
antara shell dan tube bundle. Kontruksi ini dapat menahan ekspansi yang terjadi
pada tube, sebab dapat bergerak dalam rear head. Untuk pembersihan tube atau
mencabut tube bundle maka kedua ujung APK ini harus dilepas. APK ini relatif
mahal dan biaya pembersihan jika dibanding dengan APK jenis T lebih besar.
Pada APK tipe T (pull through floating head), apabila tube-bundle hendak
dikeluarkan dari shell, cukup dengan melepas head stationer saja. Externally
sealed floating tube sheet atau tipe W mempergunakan latern-ring yang diikat
bersama-sama dengan paking. Ruang bebas antar tube bundle dengan shell
sangat kecil. Kontruksinya dapat dibuat 1 atau 2 laluan. Potensi untuk terjadinya
bocor terhadap udara luar besar. Untuk mengeluarkan bundle sangat mudah,
tetapi tidak direkomendasikan penggunaannya. Jenis ini adalah termasuk jenis
paling murah untuk seluruh jenis APK jenis floating head.

95
4. Sekat (Baffles). Sekat memiliki dua fungsi penting yakni pertama untuk
menopang pipa-pipa agar tidak melentur akibat berat pipa itu sendiri dan berat
fluida yang mengalir di dalam pipa. Fungsi yang kedua adalah untuk mencegah
terjadinya vibrasi yang berlebihan. Selain daripada itu sekat dipergunakan juga
untuk membelokkan atau membagi aliran dari fluida dalam APK sehingga
diperoleh aliran yang turbulen dan pada akhirnya diperoleh koefisien
perpindahan kalor yang tinggi. Dalam penentuan jenis sekat yang dipergunakan
perlu pertimbangan teknis dan operasional. Sekat yang dipilih akan
mempengaruhi besar kecilnya penurunan tekanan, bentuk aliran fluida, distribusi
aliran fluida dan lain-lain. Terdapat beberapa jenis sekat yang dapat dipilh,
misalnyai sekat berbentuk segmen, sekat batang (rod), longitudinal baffle,
impingement baffle dan lain-lain.
5. Susunan Tube (Tube Layouts). Susunan tube ini sangat penting, sebab akan
mempengaruhi tinggi atau rendahnya perpindahan kalor di dalam APK. Di
samping itu pemilihan susunan tube harus mempertimbangkan sistem
pemeliharaan yang akan dilakukan. Perbersihan tube secara mekanikal atau
kimiawi akan mempengaruhi pemilihan dari susunan tube. Di samping itu aliran
laminer atau turbulen, bersih atau kotor fluida yang mengalir di luar tube juga
dapat mempengaruhi susunan dari tube.
6. Jarak antar Tube (Tube Pitch). Jarak antar tube ini memiliki hubungan yang erat
dengan ukuran tube, susunan tube dan sistem pembersihan yang dilakukan pada
bagaian luar tube. Biasanya jarak antar tube ini adalah berkisar 1,25-1,50 kali
diameter luar tube. Untuk keperluan pembersihan sisi luar tube secara mekanik,
maka jarak antar tube itu dapat ditambah sebesar minimum 1/4‖(6,4 mm) atau
untuk fluida yang bersih hanya 1/8‖(3,2 mm).
7. Tube. Pertimbangan dalam pemilihan yang menyangkut tube antara lain adalah:
jenis bahan tube yang sesuai dengan suhu, tekanan, dan sifat korosi fluida yang
mengalir, ukuran tube menyangkut diameter dan panjangnya. Ukuran tube
biasanya berkisar antara 0,5 sampai 2 inch O.D. (outer diameter) Apabila
dipergunakan tube dengan sirip, maka harus dipilih apakah tube dengan sirip
kecil (0,05 inci = 1,3 mm) atau sirip tinggi (high fin) biasanya 0,63 sampai 0,75
inci atau 15,88 mm sampai 19,05 mm, dan jumlah sirip berkisar antara 16
sampai 19 sirip per inch (630-750 sirip permeter).

96
8. Jumlah Laluan (Pass) Aliran. Jumlah laluan aliran fluida pada APK ada dua
macam, yaitu: (1) jumlah laluan aliran melalui tube (tube pass) dan (2) jumlah
laluan aliran fluida melalui shell (shell pass). Jumlah laluan aliran ini berkisar
antara 1 sampai 16 laluan. Semakin banyak laluan aliran akan menimbulkan
penurunan efisiensi pada APK, sebagai akibat dari pola alirannya. Dengan laluan
yang banyak diharapkan diperoleh jumlah aliran kecil dengan tujuan untuk
mempertahankan kecepatan yang tinggi guna mencegah terjadinya pengotoran.
9. Nosel (Nozzles). Untuk aliran masuk fluida ke dalam APK maka dipasang nosel
pada dinding APK. Minimal diperlukan 4 buah nosel, yaitu 2 untuk fluida dalam
tube dan 2 untuk fluida luar tube. Penempatan nossel ini dipengaruhi oleh jumlah
lalulan aliran. Nosel biasanya dilengkapi dengan flens untuk menyambung pipa-
pipa APK. Flens yang dipilih sebaiknya sudah distandarisasi oleh ASA, sehingga
akan lebih memudahkan dalam pengadaan dan pemeliharan. Flens standar
dinyatakan dalam ukuran dan serinya yang dipengaruhi oleh suhu, tekanan kerja
APK, serta jenis fluidanya.
10. Drain dan Venting. Kedua komponen ini sangat penting, apalagi saat penukar
kalor itu baru akan dioperasikan. Drain, biasanya adalah sebuah lubang di bagian
bawah dari shell atau head, dan venting (membuang udara atau gas) maka
diletakkan pada posisi yang lebih tinggi. Untuk keperluan operasi penukar kalor
masih banyak diperlukan alat ukur seperti untuk tekanan (manometer), gelas
pengamatan dan lain-lain. Tata letak atau lokasi peralatan itu diatur berdasarkan
perencanaan APK dan orientasinya.

5.4 Pertimbangan Penentuan Fluida di dalam Selongsong dan Pipa


Menentukan fluida di dalam tube atau di luar tube (shell side) memerlukan
pertimbangan-pertimbangan yang khusus. Untuk menentukan hal tersebut perlu
dilakukan evaluasi mengenai berbagai faktor di samping memperhatikan tipe APK.
Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk menentukan jenis fluida di dalam
tube (tube side) atau di luar tube (shell side) adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan untuk dibersihkan (cleanability).
Jika dibandingkan cara membersihkan sisi tube dan sisi shell, maka perbersihan
sisi shell (luar tube) jauh lebih sulit. Oleh karena itu fluida yang bersih biasanya

97
dianjurkan untuk dialirkan pada sisi shell (diluar tube) dan fluida yang kotor
dialirkan di dalam tube.
2. Korosi.
Fluida yang memiliki sifat korosif sebaiknya dialirkan di dalam pipa dengan
pertimbangan, bahwa apabila fluida tersebut dialirkan di sisi shell maka fluida
tersebut dapat membuat korosi tidak hanya di bagian shell akan tetapi juga pada
bagian permukaan luar pipa. Apabila ditinjau dari segi harga, maka akan lebih
murah menyediakan pipa tahan karat dibandingkan harus menyediakan pipa
dan shell yang tahan karat. Oleh karena itu fluida yang memiliki sifat korosif
dianjurkan untuk dialirkan melalui pipa untuk menghemat biaya yang terjadi
karena kerusakan shell.
3. Tekanan operasi.
Apabila Shell bertekanan tinggi, konsekuensi yang terjadi adalah shell memiliki
diameter besar, dan tentunya diperlukan dinding yang tebal, sehingga hal ini
akan membuat APK semakin mahal harganya. Untuk mengatasi masalah ini,
maka disarankan fluida yang bertekanan tinggi dialirkan melalui tube.
4. Suhu.
Fluida bersuhu tinggi lebih baik dialirkan melalui tube. Fluida bersuhu tinggi juga
akan menurunkan tegangan termal yang diperbolehkan (allowable stress) pada
material APK, hal ini akan berpengaruh pada hal yang sama seperti fluida
bertekanan tinggi yang apabila dialirkan pada shell akan memerlukan dinding
shell yang tebal. Selain daripada itu keamanan para pekerja harus diutamakan,
dan hal ini akan menimbulkan biaya tambahan untuk penambahan isolasi
peralatan, apabila fluida panas dialirkan pada sisi shell atau diluar tube.
5. Fluida berbahaya atau fluida mahal.
Untuk fluida yang mahal harganya dan fluida yang berbahaya harus dialirkan
melalui bagian-bagian yang terikat kuat pada APK tersebut, beberapa tipe
penukar kalor mengalirkannya pada sisi sebelah tube.
6. Koefesien perpindahan kalor.
Apabila digunakan fluida yang memiliki koefisien perpindahan kalor yang rendah,
maka disarankan untuk mengalirkan fluida tersebut pada sisi shell karena
penambahan fin dapat lebih mudah dilakukan pada bagian luar pipa dan pada
akhirnya akan meningkatkan kalor yang akan dipindahkan. Pada Tabel 5.4 dapat
dilihat beberapa nilai koefisien perpindahan kalor untuk beberapa fluida kerja.

98
7. Jumlah aliran fluida.
Suatu desain APK dapat dikatakan baik, apabila diperoleh aliran fluida yang kecil.
Aliran fluida yang kecil sebaiknya diletakkan pada sisi shell. Akan tetapi hal ini
akan mempengaruhi jumlah laluan aliran dan konsekuensinya kerugian dan
penurunan tekanannya akan lebih besar.
8. Viskositas.
Batas angka kritis bilangan Reynolds untuk aliran turbulen pada sisi shell adalah
200. karena itu aliran laminar dalam tube dapat menjadi turbulen apabila aliran
melalui shell, oleh karena itu lebih baik aliran fluida tersebut dialirkan melalui
tube.
9. penurunan tekanan.
Apabila penurunan tekanan (pressure drops) merupakan hal yang kritis dan harus
dihitung secara cermat, maka sebaiknya fluida tersebut dialirkan di dalam tube.
Penurunan tekanan di dalam tube dapat dihitung dengan tepat, sedangkan jatuh
tekan yang terjadi pada sisi shell dapat menyimpang sangat besar dari nilai
teoritis, tergantung dari kelonggaran (clearence) APK itu.

99
Tabel 5.4. Koefisien perpindahan kalor Konveksi
Koefisien Perpindahan Kalor untuk Shell-and-Tube Heat Exchangers

Fluid Condition W/(m 2 . K)

Sensible Heat Transfer


Water Liquid 5,000-7,500
Ammonia Liquid 6,000-8,000
Light organics Liquid 1,500-2,000
Medium organics Liquid 750-1,500
Heavy organics Liquid
Heating 250-750
Cooling 150-400
Very heavy organics Liquid
Heating 100-300
Cooling 60-150
Gas 1-2 bar abs 80-125
Gas 10 bar abs 250-400
Gas 100 bar abs 500-800

Condensing Heat Transfer


Steam, ammonia No noncondensable 8,000-12,000
Light organics Pure component, 0.1 bar abs no noncondesable 2,000-5,000
Light organics 0.1 bar, 4% noncondensable 750-1,000
Medium organics Pure or narrow condensing range, 1 bar abs 1,500-4,000
Heavy organics Narrow condensing range, 1 bar abs 600-2,000
Light multicomponent
mixture, all condensable Medium condensing range, 1 bar abs 1,000-2,500
Medium multicomponent
mixture, all condensable Medium condensing range, 1 bar abs 600-1,500
Heavy multicomponent
mixture, all condensable Medium condensing range, 1 bar abs 300-600

Vaporizing Heat Transfer

Water Pressure < 5 bar abs, ? T = 25 K 5,000-10,000


Water Pressure 5-100 bar abs, ΔΤ = 20 K 4,000-15,000
Ammonia Pressure < 30 bar abs, ΔΤ = 20 K 3,000-5,000
Light organics Pure component, pressure < 30 bar abs,
ΔΤ = 20 K 2,000-4,000
Light organics Narrow boiling range pressure 20-150 bar
abs, ΔΤ = 15-20 K 750-3,000
Medium organics Narrow boiling range, pressure < 20 bar abs,
ΔΤ max = 15 K 600-2,500
Heavy organics Narrow boiling range, pressure < 20 bar abs,
ΔΤ max = 15 K 400-1,500

100
5.5. Perbandingan dari susunan tube pada APK

1. Susunan tube segitiga (60°)


Susunan tube segitiga ini sangatlah populer dan baik dipakai untuk fluida yang bersih.
Pembersihan tube dapat dilakukan dengan cara kimia (chemical cleansing). Koefesien
perpindahan kalornya lebih tinggi dibanding dengan susunan bujur sangkar (90o).
Susunan tube segitiga banyak dipergunakan dan menghasilkan perpindahan kalor
yang baik per satu satuan penurunan tekanan (per unit pressure drop), di samping itu
letaknya tube lebih kompak sehingga jumlah tube dapat dibuat lebih banyak. Akan
tetapi susunan ini tidak baik untuk fluida yang kotor.
2. Susunan tube segitiga yang diputar 30°
Susunan tube segitiga yang diputar 30° ini tidak sepopuler jenis yang pertama. Pada
susunan ini memiliki koefisien perpindahan kalor yang kurang baik, tetapi masih lebih
baik apabila dibandingkan dengan jenis susunan pipa yang bujur sangkar. Besar
penurunan tekanan yang terjadi, kurang lebih sama dengan susunan tube segitiga.
Susunan ini dapat digunakan untuk fluida kotor. Pembersihannya dapat dilakukan
dengan cara kimiawi (chemical cleansing).

3. Susunan tube bujur sangkar (90°)


Susunan tube bujur sangkar (90°) banyak dipergunakan pada APK shell and tube,
dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut :
a. Apabila penurunan tekanan (presure drop) yang terjadi pada APK itu sangat kecil.
b. Apabila pembersihan yang dilakukan pada bagian luar tube adalah dengan cara
pembersihan mekanik (mechanical cleaning). Sebab pada susunan seperti ini,
terdapat celah antara tube yang dapat dipergunakan untuk pembersihannya.
b. Susunan ini memberikan perilaku yang baik, apabila terjadi aliran yang turbulen,
akan tetapi untuk aliran laminar akan memberikan hasil yang kurang baik. Ditinjau
dari segi perpindahan kalornya, maka susunan ini mempunyai koefesien
perpindahan kalor yang lebih kecil dari susunan tube sebelumnya. Sehingga
secara keseluruhan jenis ini baik untuk kondisi jatuh tekanan rendah dan baik
untuk melayani fluida kotor.

101
4. Susunan tube belah ketupat (45°)
Merupakan jenis kondisi menengah. Jenis ini cocok dipergunakan pada kondisi
operasi yang jatuh tekanannya kecil, akan tetapi lebih besar dari penurunan tekanan
jenis bujur sangkar. Pembersihan pada bagian luar tube dapat dilakukan dengan
pembersihan mekanik. Susunan tube ini relatif lebih baik dibanding dengan susunan
tube yang membentuk 30° terhadap aliran (jenis segitiga). Koefisien perpindahan
kalornya lebih baik dari susunan bujur sangkar tetapi tidak sebaik susunan segitiga
dan segitiga yang diputar. Susunan ini cukup baik dipergunakan untuk fluida yang
kotor.

pitch
o
Triangular 30 o
Rotated triangular 60 Square 90o Rotated square 45o

Gambar 5.8 Susunan Tube

5. 6. Laluan (Pass) Pada APK Selongsong Dan Pipa


Definisi dari laluan (pass) dalam APK ialah, laluan atau lintasanan yang dijalani
oleh fluida di dalam shell atau di dalam tube bundel. Terdapat 2 jenis laluan APK, yaitu:
1. Shell pass atau laluan shell
2. Tube pass atau laluan tube.
Shell pass ialah laluan yang dilakukan oleh fluida sejak masuk mulai dari saluran
masuk (inlet nozzle), lalu melewati bagian dalam shell dan mengelilingi tube, kemudian
keluar dari saluran buang (outlet nozzle). Apabila laluan itu dilakukan hanya 1 kali maka
disebut 1 laluan shell, jika terjadi 2 kali atau n kali melintasi bagian dalam serta
melewati tube, maka disebut n laluan shell.
Untuk fluida yang mengalir di dalam tube, apabila fluida masuk ke dalam tube
melalui salah satu ujung (front head) lalu mengalir ke dalam tube dan langsung ke luar
dari ujung tube yang lain melalui rear head, maka laluan pada tube disebut dengan 1
laluan tube. Apabila fluida itu membelok lagi masuk ke dalam tube, sehingga terjadi dua

102
kali lintasan fluida dalam tube maka disebut 2 laluan tube begitu seterusnya hingga n
laluan. Biasanya laluan shell itu lebih sedikit daripada laluan tube.

5.7 Jatuh Tekanan (pressure drop)


5.7.1 . Jatuh tekanan pada sisi pipa
Jatuh tekanan pada sisi pipa dapat di hitung dengan mengetahui jumlah laluan
pipa (Np) dan panjang (L) dari APK. Jatuh tekanan fluida pada sisi pipa di berikan
persamaan :

atau

(5. 11)

Perubahan arah dari laluan menyebabkan jatuh tekanan tambahan, ∆P r, yang


persamaannya :

(5. 12)

Sehingga total jatuh tekanan menjadi :

(5. 13)

5.7.2 Jatuh tekanan pada sisi shell


Jatuh tekanan pada sisi shell tergantung pada jumlah pipa yang ada di dalam
shell, jumlah laluan fluida melewati bundel, jarak antar sekat dan jumlah aliran
melintang. Persamaan jatuh tekan fluida pada sisi shell dapat dihitung dengan
persamaan dibawah ini :

(5. 14)

Dimana Фs = (μ/μw)0,14, Nb adalah jumlah dari sekat, dan (Nb+1) adalah jumlah dari
berapa kali fluida di dalam shell melewati bundel pipa, Gs adalah kecepatan aliran
massa di selongsong, De adalah diameter efektifnya. Sementara faktor gesekan, f, untuk
shell di hitung dengan persamaan berikut :

103
f = exp(0,576-0,19 ln Res) (5.15)
dimana
400 < Res = Gs.De/μ ≤ 1×106

5.8 Disain Mekanikal


Di dalam disain mekanikal shell and tube pada sub bab ini tidak dirinci secara
detail bagian perbagian tetapi hanya merupakan dasar – dasar perencanan mekanikal
dengan tujuan untuk memperoleh gambar teknis yang sesuai dengan standar TEMA.
Seperti telah diketahui bahwa secara umum APK itu identik dengan bejana tekan. Oleh
karena itu semua bagian yang bertekanan (pressure part) harus didisain berdasarkan
standar ASME Section VIII, kecuali :
- Flat cover untuk APK banyak laluan
- Tube sheets.
Sedangkan untuk ketebalan minimum (tm) bagian-bagian APK sudah diatur di dalam
standar TEMA terutama untuk :
1. Shell cylinder.
2. Channel cylinder.
3. Shell cover cyleider.
4. Channel cover head.
5. Shell cover head.
6. Tube sheet.

5.8.1. Shell dan Channel


Ketebalan yang diperlukan akibat tekanan dalam (internal pressure) termasuk
―corrosion allowance‖ pada shell dan channel dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut :

(5.16)

(5.17)

dimana :
P = Tekanan disain dari shell/tube (Psi)
Ro = Jari-jari luar dari shell/channel (hanya untuk ‖pipe cylinder‖)

104
Ri = Jari-jari dalam dari shell/channel ditambah ‖corrosion allowence‖
S = Tegangan izin (allowable stress) dari material pada suhu disain
didapat dari ASME Section VIII Div.1. (Psi).
E = Joint Efficiency, digunakan 0,85 dan jika t > 1,25 in pakai 1,00
CA = Corrosion Allowance (in).

Persamaan 5.16 digunakan apabila shell/channel terbuat dari pipa terutama


untuk ukuran 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 22, dan 24 in. Persamaan 5.17 digunakan
jika shell/channel bukan terbuat dari bahan pipa.

Kemudian bandingkan dengan tebal minimum (tm) dari standar TEMA. Jika :
t ≤ tm gunakan tm
t > tm gunakan sebagai berikut :
t < 0,625 in → t dibulatkan ke kelipatan 1/16 in diatasnya.
0,625 in ≤ t < 2 in → t dibulatkan ke kelipatan 1/8 in diatasnya.
t ≥ 2 in → t dibulatkan ke kelipatan 1/4 in diatasnya.

5.8.2. Tubesheet.
Untuk ketebalan dari ―Tubesheet― dapat digunakan rumus :

Tts = (F.G/3).(P/η.S)1/2 + CCA + shell side corrosion allowance. (5.18)

Hasilnya dibulatkan ke kelipatan 1/8 in diatasnya.


Dimana :
F = 1,00 kecuali untuk U – tube F = 1,25.
P = Tekanan disain dari sisi shell atau sisi tube, ambil yang terbesar (Psi)
S = Tegangan izin dari material pada suhu disain yang lebih besar
antara sisi shell dan sisi tube. (ASME section VIII Div.1)
CCA = Corrosion allowence sisi tube (in).
Multipasss tube side
Diambil yang terbesar dari 3/16 in atau tube side corrosion allowence atau tebal
cladding di channel (minimum tebal cladding pada channel adalah 5/16 in).
One-pass tube side

105
Gunakan tube side corrosion allowence atau tebal cladding. (minimum tebal
cladding adalah 1/8 in).
G = Gasket seating.
Fixed tubesheet :
Gunakan diameter dalam dari shell dalam keadaaan terkorosi.
Removable bundle :
Didapat dari ‖standard body flange‖.
η = Ligamen efficiency.
Untuk susunan pipa persegi :
η = 1- 0,785/(pitch/OD tube)
Untuk susunan pipa segitiga :
η = 1- 0,907/(pitch/OD tube)

Referensi
Kakac S. and Liu H., 2002, Heat exchangers selection, rating and thermal design, 2nd
ed. CRC press
Shah, R. K. 1983, Compact heat exchanger surface selection optimization and
computer-aided thermal design, in Low Reynold Number Flow Heat Exchanger,
edited by S. Kakac, R. K. shah and A. E. Berles, pp. 845-874, Hemisphere
Publishing Corp. Washington, DC.
Shah, R. K., and Seculic D.P, 2003, Fundamental of Heat exchanger Design, John
Willey & Son.
TEMA, 1998, Standarad of the Tubular Exchanger Manufactur Association, 8th ed.
Tubular Exchanger Masnufacturers Association, New York.

106
Soal

1. Sebutkan faktor-faktor yang pelru dipertimbangkan dalam menentukan jenis


fluida yang mengalir di dalam pipa atau di luar pipa dan jelaskan?
2. Sebutkan jenis Shell yang biasanya digunakan masing-masing untuk fluida satu
fasa dan fluida dua fasa yang mengalir di sisi Shell?
3. Sebutkan penamaan konstruksi APK dibawah ini sesuai dengan standar TEMA.

4. Air dengan laju aliran 60 kg/s memasuki APK selongsong dan pipa pada suhu 35
oC dan keluar pada suhu 25 oC. Kalor akan dipindahkan ke fluida air dengan
temperatur awal 15oC dengan laju aliran 150 kg/s. Anda diminta untuk
merancang APK selongsong dan pipa untuk proses tersebut. Gunakan pipa ukuran
¾‖ dan jenis material pipanya 0,5 campuran Krom Cr. Asumsikan faktor
pengerakkannya adalah 0.000176 m2.K/W.

107
5. Sebuah APK jenis selongsong dan pipa untuk memanaskan air dengan
menggunakan air kondensat pada suhu 67oC yang mengalir di dalam selongsong
dengan laju aliran 50000 kg/h. Diameter selongsong adalah 19.25 in, jarak
antara pipa adalah 1.25 in dan jarak antar baffle adalah 0.3 m. Air masuk ke
dalam pipa pada suhu 17 oC dengan laju aliran 30000 kg/h. Pipa yang digunakan
berukuran diameter luar 1 in (18 BWG). Panjang pipa adalah 6 m dengan aliran 2
laluan. Maksimum rugi tekanan yang diijikan adalah 1.5 psi. Air keluar dari APK
tidak boleh kurang dari 40 oC. Hitung :
a. Suhu air keluar dari APK
b. Besarnya kalor yang dipindahkan
c. Apakah APK selongsong dan pipa cocok untuk digunakan pada proses
tersebut

108
6.1 Pendahuluan
Pada bab sebelumnya telah dibahas bahwa di dalam penukar kalor pelat (PHE,
plate heat exchanger) terjadi peristiwa konduksi dan konveksi. Padahal, untuk dapat
menghitung koefisien perpindahan kalor menyeluruh yang terjadi, perlu diketahui
terlebih dahulu geometri pelat yang terdapat di dalam PHE, jenis material, dan koefisien
perpindahan kalor setiap fluida kerja.
APK tipe pelat biasanya terdiri atas pelat-pelat tipis. Pelat-pelat tersebut
berkontur polos tetapi bisa juga terdapat semacam korugasi atau cerukan
bergelombang. Umumnya, penukar kalor ini tak dapat menangani tekanan, suhu, atau
perbedaan tekanan dan perbedaan suhu yang sangat tinggi. Penukar kalor pelat (PHE)
dapat dibedakan sebagai PHE gasket, welded, atau brazed, tergantung pada tingkat anti-
bocor yang diperlukan. PHE jenis lainnya berupa pelat spiral, lamela, dan pelat koil.
PHE adalah penukar kalor yang terdiri atas pelat-pelat tipis yang disusun secara
parallel. Fluida mengalir melalui celah-celah yang terbentuk di antara 2 buah pelat,
sehingga tidak ada pencampuran antara fluida panas dan fluida dingin. Pemilihan jenis
PHE yang akan digunakan disesuaikan dengan kondisi operasi PHE tersebut. Pada
Gambar 6.1 dapat dilihat konstruksi PHE dan aliran fluidanya.

109
Gambar 6.1 Konstruksi PHE dan arah aliran fluidanya

Sedikitnya terdapat 5 keunggulan PHE dibandingkan penukar kalor lainnya:


 Perpindahan kalor yang tinggi. Aliran fluida yang terjadi pada pelat-pelat adalah
turbulen. Aliran turbulen ini akan meningkatkan koefisien prepindahan kalor
konveksi (h) sehingga perpindahan kalor lebih maksimum.
 Efektivitas yang tinggi. Efektivitas PHE berkisar 0,9-0,95, lebih tinggi
dibandingkan shell & tube (ε ≤ 0,9, laluan tunggal), pipa ganda (ε ≤ 0,9), atau
penukar kalor lainnnya.
 ΔT fluida yang rendah. PHE dapat memberikan perbedaan suhu yang sangat
kecil, berkisar ΔT = 1 C pada keluaran kedua fluidanya; kondisi ini tidak dapat
dicapai pada APK lain.
 Dimensi yang kompak. PHE merupakan penukar kalor yang dapat memindahkan
kalor terbanyak dibandingkan dengan penukar kalor lainnya untuk dimensi yang
sama, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6.2.
 Mudah dalam perawatan. Proses perawatan PHE sangat mudah dibandingkan
dengan shell & tube. Pada PHE cukup membuka sambungan antarpelat dan
mengganti gasket untuk melakukan perawatan, sehingga waktu yang dibutuhkan
jauh lebih singkat dibandingkan dengan shell & tube yang harus membuka

110
banyak baut dan sambungan lain. Proses perawatan hanya dilakukan pada PHE
bergasket (gasketed PHE). Pada welded/brazed PHE, tidak dapat dilakukan
perawatan karena PHE jenis ini tidak dapat dibuka.

Selain sejumkah keunggulan tersebut, PHE juga memiliki 5 kelemahan yang


membatasi aplikasinya, seperti:
 Tekanan operasi maksimum yang rendah. Tekanan kerja maksimum PHE adalah
25 bar, jauh lebih kecil dibandingkan dengan shell & tube (>300 bar). PHE
tersusun dari pelat-pelat tipis yang tidak terlalu kuat dibandingkan dengan pelat
besi tebal pada shell & tube. Faktor lain yang membatasi tekanan kerja PHE
adalah gasket yang digunakan. Kebanyakan gasket tidak dapat menahan
tekanan tinggi.
 Suhu operasi yang tidak terlalu tinggi. Faktor utama yang membatasi suhu kerja
PHE adalah material gasket yang digunakan. Pemilihan gasket harus dicocokkan
dengan suhu fluida kerjanya.
 Debit aliran fluida yang terbatas. Inlet & outlet pada PHE sangat kecil
dibandingkan dengan inlet pada shell & tube. Inlet & outlet yang kecil ini
membatasi debit fluida yang dapat mengalir keluar/masuk PHE.
 Mudah mengalami kebocoran. Kebocoran pada PHE sering terjadi jika digunakan
pada tekanan & suhu yang terlalu tinggi, atau saat fluida kerja yang digunakan
tidak cocok dengan gasket yang digunakan.
 Pilihan fluida kerja yang terbatas. Fluida kerja yang digunakan harus disesuaikan
dengan jenis material gasket yang digunakan. Kebanyakan gasket tidak cocok
digunakan untuk pelarut organik (hidrokarbon). Material yang sering digunakan
untuk gasket adalah neoprena, viton, hipalon, dan karet nitril. Fluida kerja yang
digunakan juga harus bersih dari kotoran. Oleh karena kotoran yang terbawa
fluida dapat menyumbat celah-celah fluida yang ukurannya sangat kecil.

Permukaan pelat PHE dapat memiliki sejumlah korugasi. Korugasi ini sengaja
dibuat untuk menambah luas permukaan perpindahan kalor dan menimbulkan
turbulensi pada fluida kerjanya. Pada Gambar 6.2. dapat dilihat susunan pelat dengan
banyak korugasi yang membentuk saluran utnuk aliran fluida kerja. Selain itu korugasi
juga berfungsi sebagai penguat PHE. Ada berbagai macam pola korugasi yang digunakan
pada PHE seperti pada Gambar 6.3, tetapi yang paling banyak digunakan adalah jenis

111
sevron (chevron). Namun demikian terrdapat pula tipe yang saat ini juga banyak
digunakan pada PHE, yakni jenis papan cuci (washboard).

Gambar 6.2 Penampang welded PHE


Material pelat biasanya terbuat dari baja tahan karat, titanium, titanium
paladium, incoloy 825, hastelloy C206, Diabon, Morel 820, aluminium, dan aluminium
kuningan. Tabel 6.1 menunjukkan pelbagai jenis material pelat dan nilai termal
konduktivitasnya.

Gambar 6.3 Pola-pola korugasi pada permukaan pelat PHE: (a) papan cuci, (b) zigzag, (c)
sevron, (d) protrusions & depressions, (e) papan cuci dengan korugasi kedua, (f) papan
cuci menyerong (oblique washboard) [3]

112
Tabel 6.1. Material Pelat PHE
Konduktivitas Termal
Material
(W/m2.K)
Baja tahan karat 16.5
Titanium 20
Inconel 600 16
Incolay 825 12
Hastelloy C 276 10.6
Monel 400 66
Nickel 200 66
9/10 Cupro-Nickel 52
70/30 Cupro-nickel 35

Pada korugasi jenis sevron, besarnya sudut yang dibentuk dinyatakan dengan
sudut sevron (β). Sidit sevron yang banyak digunakan 25-65. Pelat dengan sudut
sevron kecil (high-θ, 250 ≤ β ≤ 300) akan mengalami perpindahan kalor yang besar dan
disertai dengan kehilangan tekanan yang besar. Sebaliknya pelat dengan sudut sevron
kecil (low-θ, 600 ≤ β ≤ 650) akan mengalami perpindahan panas yang lebih kecil dan
kehilangan tekanan yang tidak terlalu besar.

a). APK Pelat Gasket


PHE jenis pelat dan bingkai (plate-and-frame) atau gasket tersusun dari sejumlah
pelat logam persegi panjang tipis yang disekat pada sekelilingnya oleh gasket dan
disatukan dalam satu bingkai. Frame yang dimaksud biasanya mempunyai tutup ujung
tetap dengan jalur-jalur penghubung dan sebuah cover ujung yang dapat digerak. Pada
frame tersebut, pelat-pelat dijaga posisinya pada bagian atas oleh upper carrying bar
dan pada bagian bawah oleh bottom carrying bar. Oleh karena itu pada setiap pelat
diberi jalur pada bagian tengah sisi atas dan bawahnya. Satu unit pelat tutup pada
bagian ujung sebagai bagian tetap dan pelat-pelat ditutup dan ditekan alat penutup yang
dijepit dengan baut yang panjang, sehingga gasket tertekan dan menyekat aliran fluida
pada masing-masing fluida kerja. Pada Gambar 6.4 dapat dilihat APK kalor pelat gasket.

113
Gambar 6.4 APK pelat gasket
(Alfa Laval Thermal, Inc., Lund, Sweden.)

b). APK Pelat Terlas (Welded)


Salah satu kelemahan dari PHE gasket terletak pada gasket itu sendiri, yang
terbatas terhadap jenis fluida tertentu dan suhu/tekanan kerja. Untuk mengatasi
masalah ini telah muncul rancangan PHE dengan pengelasan pada sisi pelat-pelatnya.
Dalam upaya pengurangan biaya pengelasan, ukuran pelat untuk penukar kalor ini
biasanya lebih besar daripada yang digunakan untuk PHE gasket. Kelemahan lain dari
tipe ini adalah hilangnya fleksibilitas pembongkaran karena pengelasan. Pengelasan
dengan laser biasanya dilakukan di sekeliling tepi pelat, tempat biasanya gasket berada.
Pengelasan pada kedua sisi dapat menghasilkan batasan yang lebih tinggi untuk suhu
dan tekanan kerja sehingga memungkinkan penggunaan fluida korosif yang cocok
dengan material pelat. Selain daripada itu terdapat kelemahan lain dari tipe ini yakni
apabila terjadi kebocoran pada PHE jenis ini akan sulit sekali untuk diperbaiki.

114
6.2. Geometri Pelat
Perhitungan mengenai geometri pelat sangat diperlukan sebelum mulai
menghitung perpindahan kalor yang terjadi pada PHE. Gambar 6.5. memperlihatkan
susunan gasket pada PHE.

Gambar 6.5 Susunan gasket pada PHE

6.2.1 Sudut Sevron


Sudut sevron merupakan sudut yang dibentuk oleh korugasi pada pelat dan
biasanya dinotasikan dengan β. Sudut sevron ini berkisar 25o–65o. Pada pelat dengan
sudut sevron kecil (sekitar 25o–30o) akan terjadi perpindahan kalor yang tinggi dan
diikuti dengan kehilangan tekanan yang tinggi pula. Sebaliknya pada pelat dengan sudut
sevron yang besar (sekitar 60–65o) akan menyebabkan perpindahan kalor yang lebih
rendah dengan kehilangan tekanan yang lebih rendah pula. Pada Gambar 6.6
menunjukan geometri penampang pelat PHE.

115
Dp

β Developed Length

Lw Projected Length
Lv
Lp

Lh
Simbol Pengertian
Dp Diameter port
Lv Jarak vertikal antarport
Lp Panjang efektif pelat
Lw Lebar efektif pelat
Lh Jarak horizontal antarport
β Sudut sevron

Gambar 6.6 Penampang pelat pada PHE

Pelat yang memiliki sudut sevron yang kecil oleh pabrik/proses manufaktur sering
disebut sebagai high-θ plates dan pelat yang memiliki sudut sevron yang tinggi sering
disebut juga sebagai low-θ plates. Nilai θ digunakan oleh pabrik untuk menunjukkan nilai
Number of Transfer Unit (NTU).

6.2.2 Panjang pelat efektif


Pada pelat terdapat korugasi yang bertujuan meningkatkan turbulensi aliran
fluida kerja. Korugasi yang dibuat pada pelat tersebut mengakibatkan luas permukaan
kontak menjadi lebih besar dibandingkan luas permukaan pelat asalnya. Perpanjangan
ini sangat bergantung pada kedalaman dan lebar jarak puncak (pitch) korugasi. Untuk

116
menunjukkan pertambahan panjang dari pelat, digunakan faktor perpanjangan
(enlargement factor) θ. Faktor perpanjangan ini berkisar antara 1,1 dan 1,25,
sedangkan nilai rata-rata dari faktor perpanjangan ini pada umumnya diasumsikan
1.171.
luas efektif pelat aktual
 (6.1)
luas pelat terproyeksi
Nilai θ adalah nisbah luas efektif pelat aktual (A1), terhadap luas pelat yang terproyeksi
(A1p), yaitu:
A1
 (6.2)
A1p
A1p dapat dihitung dari:
A1 p  L p .Lw
dan Lp serta Lw didapat dari:
Lp = Lv – Dp (6.3)
Lw = Lh + Dp (6.4)

6.2.3 Jarak Rata-rata Kanal (Mean Flow Channel Gap)


Kanal yang terdapat di dalam PHE merupakan saluran yang dibentuk oleh dua
buah pelat yang berdekatan. Jarak rata-rata kanal, b, yang terdapat di dalam PHE dapat
ditentukan dengan rumus:
b = ( p – t) (6.5)
p = jarak puncak pelat dan t = ketebalan pelat
Jarak kanal sangat diperlukan untuk perhitungan kecepatan aliran fluida dan bilangan
Reynolds. Hal ini merupakan nilai yang sangat penting yang biasanya tidak disebutkan
oleh pembuatnya (pabriknya). Apabila tidak diketahui nilainya, jarak puncak pada pelat
tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut 2:
Lc
p= (6.6)
Nt
dengan Lc adalah tebal pelat terkompresi (di antara pelat head) dan Nt adalah jumlah
total pelat pada PHE.

1
Saunders, E.A.D.. Op. Cit. h. 365.
2
Sandik Kakac dan Hontan Liu. Heat Exchangers – Selection, Rating and Thermal Design. USA: CRC Press.
1998: 338.

117
6.2.4 Luas Aliran Kanal (Channel Flow Area)
Luas aliran pada kanal menjelaskan di mana fluida mengalir di dalam PHE. Satu
luas aliran kanal (Ac) dapat dihitung dengan rumus:
Ac  b.Lw (6.7)
dengan Lw = lebar efektif pelat

6.2.5 Diameter Ekuivalen Kanal (Channel Equivalent Diameter)


Diamater ekuivalen kanal, dinotasikan dengan De, dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:
4 (luas aliran kanal) 4A
De   c (6.8)
(keliling permukaan basah) Pw

dengan Pw  2(b  Lw ) , maka:

4bLw 
De  (6.9)
2(b  Lw )
pada kebanyakan pelat, b sangat kecil dibandingkan dengan Lw sehingga:
2b
De  (6.10)

6.3. Koefisien Perpindahan Kalor Konveksi


Beberapa cara dalam mengestimasikan koefisien perpindahan kalor pada PHE
dengan melibatkan perluasan dari korelasi yang tersedia untuk perpindahan kalor pada
aliran di antara laluan datar. Pendekatan konvensional terhadap laluan tersebut
menggunakan korelasi yang dapat diterapkan pada pipa dengan mendefinisikan sebuah
diameter ekuivalen untuk laluan nonsilinder3. Korelasi tersebut ditampilkan pada
persamaan berikut:

(6.11)

Dari persamaan di atas dapat diubah menjadi:

(6.12)

3
Ibid h. 339.

118
dengan nilai Ch dan n bergantung pada sifat aliran fluida dan sudut sevron, yang
ditentukan dengan melihat Tabel 6.2.

Tabel 6.2 Konstanta untuk perhitungan perpindahan kalor satu fasa dan kehilangan
tekanan pada PHE (Saunders, 1988)
Sudut Pindah kalor Kehilangan tekanan
sevron Bilangan Bilangan
Ch n Kp m
( 0) Reynolds Reynolds
<30 <10 0.718 0.349 <10 50 1
>10 0.348 0.663 10 – 100 19.40 0.589
>100 2.990 0.183
45 <10 0.718 0.349 <15 47 1
10 – 100 0.400 0.598 15 – 300 18.29 0.652
>100 0.300 0.663 >300 1.441 0.206
50 <20 0.630 0.333 <20 34 1
20 – 300 0.291 0.591 20 – 300 11.25 0.631
>300 0.130 0.732 >300 0.772 0.161
60 <20 0.562 0.326 <40 24 1
20 – 400 0.306 0.529 40 – 400 3.24 0.457
>400 0.108 0.703 >40 0.760 0.215
65 <20 0.562 0.326 <50 24 1
20 – 500 0.331 0.503 50 – 500 2.80 0.451
>500 0.087 0.718 >500 0.639 0.213

Nilai bilangan Reynolds dapat dicari dengan menggunakan data mengenai


geometri pelat dan laju aliran massa fluida, seperti yang ditunjukkan pada rumus
berikut:
Gc ×De
Re =
m (6.13)
dengan De adalah diameter ekuivalen dan Gc adalah laju aliran massa pada kanal yang
dicari dengan menggunakan rumus berikut:
m
Gc =
N cp ×b ×Lw
(6.14)
sedangkan Ncp = jumlah kanal per laluan, yang didapatkan dari:
Nt - 1
N cp =
2N p
(6.15)

119
dengan Nt adalah jumlah total pelat pada PHE dan Np adalah jumlah laluan. Dengan
mensubstitusikan nilai Gc dan Ncp pada persamaan 6.14, akan didapatkan nilai
bilangan Reynolds:

2m
Re = (6.16)
N cp ×Lw ×f ×m

6.4 Koefisien Perpindahan Kalor Menyeluruh (Overall Heat Transfer Coeficient)


Pada bagian sebelumnya telah dibahas mengenai perpindahan kalor secara
konduksi dan konveksi yang merupakan peristiwa perpindahan kalor yang terjadi pada
APK tipe pelat ini. Pada peristiwa tersebut dikenal istilah hambatan termal yang
merupakan komponen yang termasuk dalam perhitungan perpindahan kalor ini.
Sementara dalam APK, dalam peristiwa perpindahan kalornya selalu terdapat hambatan
termal yang merupakan hambatan termal total terhadap perpindahan kalor antara dua
fluida. Hambatan termal ini terdiri atas hambatan konduksi, konveksi, serta faktor
koreksi pengerakan (fouling factor)4. Faktor koreksi pengotor seperti yang telah
diuraikan pada Bab 4 adalah faktor hambatan yang mempertimbangkan terjadinya
pengotoran, korosi dan reaksi lain antara permukaan APK dengan fluida dalam
operasinya. Sebab dengan adanya korosi, sedimentasi pada permukaan APK dapat
mengakibatkan kenaikan hambatan termal perpindahan kalor yang cukup besar. Pada
Tabel 6.3. dapat dilihat koefisien faktor pengotoran untuk PHE yang direkomendaikan
oleh pabrik pembuat PHE berdasarkan hasil pengujian.

Dengan melihat persamaan perpindahan energi secara umum di antar dua fluida, yaitu
dq = UdA(TH - TC ) (6.17)

maka didapatkan hambatan termal menyeluruh pada sebuah APK:


1 1 1
= =
UA U c Ac U h Ah
(6.18)
1 Rf "c Rf "h 1
= + + Rw + +
(ho .h. A)c (ho A)c (ho A) h (ho .h. A) h

dengan notasi c menyatakan fluida dingin dan notasi h menyatakan fluida panas. Rw
adalah hambatan konduksi karena dinding (wall resistance) yang telah dibahas
sebelumnya, dan Rf adalah faktor pengotor yang nilainya beragam bergantung pada

4
Frank P. Incropera dan David P. DeWitt. Op. Cit. h. 643.

120
keadaan APK tersebut. Notasi ho merupakan efesiensi permukaan keseluruhan pada
permukaan bersirip, dengan demikian apabila permukaan APK yang digunakan licin

maka ho sama dengan 1 dengan melihat persamaan 6.19.

Af
ho = 1- (1- h f ) (6.19)
At

Tabel 6.3 Faktor Pengotoran untuk PHE

Fluida Faktor Pengotor, m2.K/W

Air demineralisasi/distilasi 0.0000017

Air menara pendingin 0.0000069

Air laut 0.000052

Air sungai 0.000086

Air pendingin mesin 0.0000103

Uap 0.0000017

Minyak pelumas 0.0000034-0.0000086

Minyak sayur 0.0000017-0.0000052

Pelarut organik 0.0000017-0.0000103

Fluida proses umum 0.0000017-0.0000103

Af pada persamaan 6.18 menyatakan luas permukaan sirip, sedangkan pada


permukaan licin Af adalah nol sehingga persamaan 6.18 akan bernilai 1. Oleh karena
APK yang digunakan dalam penelitian adalah tipe pelat dan tak bersirip, maka
persamaan di atas dapat ditulis lagi menjadi:

1 1 1
= =
UA U c Ac U h Ah
(6.20)
1 t 1
= + +
hi . Ai k ho . Ao

121
pada persamaan diatas notasi i menyatakan permukaan pelat yang berhubungan
dengan fluida dingin, sedangkan notasi o menyatakan permukaan pelat yang
berhubungan dengan fluida panas. Berhubung luas permukaan pelat yang berhubungan
dengan fluida panas sama dengan yang dingin, maka persamaan di atas dapat ditulis
menjadi:

(6.21)

Dari persamaan 6.20 dapat digambarkan sebagai hambatan termal total ( å Rt ) dari

PHE seperti pada Gambar 6.7.

(3) Konveksi
pada sisi lain
plat (sisi dingin)
(1) Konveksi
pada satu sisi
plat (sisi panas)
(2) Konduksi
pada plat PHE

Plat pada
PHE

1 2 3

1 t 1
ho . Ao k w ×A hi . Ai

Gambar 6.7 Rangkaian hambatan termal pada PHE

Yang dimaksud dengan koefisien perpindahan kalor secara menyeluruh ialah U yang
dapat dirumuskan sebagai berikut:

(6.22)

122
6.5 Analisis PHE dengan Logarithmic Mean Temperature Difference

Dalam mencari koefisien perpindahan kalor keseluruhan dari APK digunakan


selisih suhu rerata logaritmik (logarithmic mean temperature difference, LMTD). LMTD
ini merupakan pendekatan untuk mencari nilai perbedaan suhu antara dua fluida dalam
APK secara keseluruhan.

APK yang digunakan dalam penelitian ini adalah PHE dengan model aliran
berlawanan. Perpindahan kalor terjadi pada kanal-kanal di dalam PHE dengan aliran
berlawanan arah, sehingga profil perubahan suhu yang terjadi cenderung berlawanan
seperti pada Gambar 6.8.

Thi

ΔT1
T
Tho
Tco

ΔT2

Tci

Gambar 6.8 Profil suhu pada PHE aliran berlawanan

Berikut analisis kedua aliran fluida tersebut berdasarkan hukum termodinamik pertama
:

(6.23)

(6.24)

Apabila kita lakukan analisis terhadap sebuah daerah yang kecil (diferensial):

(6.25)

123
(6.26)

Perpindahan energi di antara dua fluida dapat dirumuskan seperti berikut:

(6.27)

Kemudian dengan melakukan subtitusi dTh dan dTc pada d (D T ) dari persamaan 6.25
dan 6.26, didapat:

(6.28)

dq pada setiap persamaan di atas harus sama sehingga kita dapat menyamakan dq
pada persamaan 6.26 dengan dq pada persamaan 6.27 sehingga menghasilkan nisbah
Ch/Cc,

6.29

kemudian kita substitusikan persamaan 6.29 ke dalam persamaan 6.28.

6.30

dengan menggabungkan persamaan 6.26 dan 6.29 dan mengingat

maka didapat

dengan U yang konstan maka persamaan di atas dapat ditulis lagi menjadi

124
(6.31)

kemudian persamaan (6.31) ini sering tulis secara sederhana menjadi


(6.32)
dengan:

atau disebut dengan selisih suhu rerata logaritmik, dengan

(6.33)

6.6. Metode Number of Transfer Unit (NTU) pada Analisis PHE

Hal yang mudah untuk melakukan analisis terhadap APK adalah dengan
menggunakan LMTD jika suhu masuk fluida diketahui dan suhu keluar sudah diketahui
melalui pendekatan keseimbangan energi. Maka dengan begitu, nilai ΔTm dapat
diketahui. Namun, ketika hanya suhu masuk saja yang diketahui maka kita akan
menemui kesulitan ketika menggunakan metode LMTD. Pada kasus seperti ini, lebih
baik bila digunakan metode effectiveness-NTU.
Efektivitas, , dapat didefinisikan sebagai nisbah dari laju perpindahan panas
aktual untuk sebuah alat PHE dengan laju perpindahan panas maksimum yang
dimungkinkan. Untuk menentukan efektivitas, kita perlu menentukan terlebih dahulu
laju perpindahan kalor maksimum qmax yang dimungkinkan.
Perbedaan suhu yang maksimum yang dapat dicapai oleh sebuah APK adalah
selisih antara suhu masuk fluida panas (Th1) dengan suhu masuk fluida dingin (Tc1).
Kemudian kita tentukan nilai kapasitas panas yang lebih kecil. Berhubung nilai
kapasitas kalor yang lebih kecil akan mengalami perubahan suhu yang lebih tinggi,

125
maka kita dapat menentukan nilai laju perpindahan panas maksimum yang
dimungkinkan atau qmax.
(6.34)

dengan nilai Cmin adalah Cc atau Ch, yang manapun yang lebih kecil.
Dengan demikian, sekarang kita dapat mendefinisikan efektivitas sebagai
(6.35)

Efektivitas adalah bilangan tak berdimensi sehingga berada di dalam kisaran 0 <
 < 1. Hal ini sangat berguna karena jika diketahui , Th1 dan Tc1 maka laju perpindahan
kalor aktual akan dapat diketahui dengan menggunakan persamaan:
(6.36)

Untuk menurunkan korelasi antara NTU dengan efektivitas pada APK tipe aliran
berlawanan, kita dapat memulai dengan keseimbangan panas terlebih dahulu, yaitu
antara
dan

Asumsi yang digunakan adalah untuk nilai Cmin = Cc sehingga persamaan untuk
keseimbangan panas adalah

Kemudian dengan memasukkan nilai ΔTm yang adalah LMTD

(6.37)

dengan ΔT2 = Th2 – Tc1 dan ΔT1 = Th1 – Tc2

Lalu dengan memindahkan nilai ke sebelah kiri dan Cmin (Tc2-Tc1) ke sebelah

kanan maka didapat.

126
Kemudian dari nisbah Cmin dan Cmax akan didapat

(6.38)

Kemudian dengan memasukkan nilai nisbah Cmin/Cmax akan didapat

(6.39)

Lalu persamaan (6.38) dimasukkan ke persamaan (6.39) akan didapatkan

(6.40)

Kemudian dari definisi efektivitas, kita dapat mengganti dengan

127
Dengan memindahkan (1 – ) ke sisi kanan dan kemudian mengumpulkan yang
memiliki  ke sisi kiri

maka akan didapat persamaan efektivitas untuk APK jenis aliran berlawanan sebagai
berikut:

(6.41)

UA
Dengan memasukkan nilai NTU = akan didapat korelasi antara efektivitas dan
Cmin
NTU sebagai berikut:

(6.42)

128
atau

(6.43)

Nilai NTU pelat tinggi adalah pada pelat yang memilili korugasi dengan sudut sevron
besar dan kehilangan tekanan yang besar pula, sedangkan NTU pelat rendah apabila
pelat memiliki kogurasi sudut sevron yang kecil dan kehilangan tekanannya yang relatif
kecil pula.

Referensi
Kakac S. and Liu H., 2002, Heat exchangers selection, rating and thermal design, 2nd ed. CRC press
Saunders, E. A. D. 1988. Heat exchangers: selection, design & construction. London: Longman.
Shah, R. K. 1983, Compact heat exchanger surface selection optimization and computer-aided thermal
design, in Low Reynold Number Flow Heat Exchanger, edited by S. Kakac, R. K. shah and A. E.
Berles, pp. 845-874, Hemisphere Publishing Corp. Washington, DC.
Shah, R. K., and Seculic D.P, 2003, Fundamental of Heat exchanger Design, John Wiley & Son.

Soal
1. Informasi konstruksi untuk PHE jenis gasket adalah sebagai berikut:
Sudut sevron 50o
Faktor perpanjangan (Enlargement factor) 1.17
Diameter port 15 cm
Tebal pelat 0.0006 m
Jarak vertikal antarport 1.50 m
Jarak horisontal antarport 0.50 m
Jarak antar pelat 0.0035 m
Hitung
a. Jarak rata-rata aliran kanal
b. Luas aliran satu kanal
c. Diameter ekuivalen kanal
d. Luas area pelat proyeksi
e. Luas permukaan efektif per pelat

129
2. Sebuah APK dibutuhkan untuk memanaskan air dengan laju aliran 60 kg/s dari
10 oC menjadi 50 oC. Fluida panas yang digunakan adalah air dengan suhu 60 oC
dan akan menjadi 20 oC dengan laju aliran yang sama dengan fluida dingin.
Maksimum rugi tekanan yang diijinkan untuk kedua aliran adalh 120 kPa. PHE
jenis gasket dengan 301 pelat, lebar kanal 50 cm dan jarak antar port 1.5 m dan
jarak antar pelat 0.0035 m dengan faktor perpanjangan 1.25 diusulkan sebagai
APK untuk proses tersebut. PHE tersebut memiliki jarak antar pelat adalah 6 mm
dan terbuat dari baja tahan karat 316 dengan termal konduktivitas 16.5 W/m.K.
Apakah rancangan APK PHE tersebut memungkinkan untuk proses tersebut.
Dapatkah PHE tersebut dapat dibuat lebih kecil?

130
7.1 Pendinginan Evaporatif
Pendinginan evaporatif (evaporatif cooler) adalah proses pengondisian udara
yang memanfaatkan penguapan dari air (cairan) untuk mendinginkan aliran udara
secara langsung atau taklangsung sehingga suhu gelembung kering (dry bulb) atau suhu
gelembung kering dan basah (dry & wet bulb) dari aliran udara yang akan didinginkan
akan lebih rendah daripada sebelum melewati proses pendinginan evaporatif tersebut.
Sebuah sistem pendingin evaporatif terdiri atas kipas, saringan, kotak untuk
mencampur, peredam, pendingin evaporatif dan komponen–komponen penunjang lain.
Pendingin evaporatif adalah alat di mana proses pendinginan evaporatif terjadi. Sebuah
sistem pengondisian udara dapat terdiri atas kombinasi: pendingin evaporatif, koil
pendingin air, koil DX, dan alat pengering (desiccant drier). Ada 3 tipe dari sistem
pendinginan evaporatif: (1) penguapan langsung, (2) penguapan taklangsung, (3)
penguapan langsung – taklangsung, seperti ditunjukkan dalam Gambar 7.1.
Pada sistem pendinginan evaporatif secara langsung (direct evaporatif cooling
system), aliran udara yang akan didinginkan masuk secara langsung untuk kontak
dengan semprotan air atau media pendingin, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 7.
1a. Udara memasuki pendingin evaporatif secara langsung pada titik 1 dan
meninggalkannya pada titik 2. Pelepasan kalor laten penguapan dari aliran udara yang
didinginkan secara langsung tadi menjadikan suhu aliran udara menurun; namun tingkat
kelembapan aliran udara tadi meningkat karena penambahan uap air.
Pada sistem pendinginan evaporatif secara taklangsung (indirect evaporatif
cooling system), aliran udara utama yang akan didinginkan dipisahkan oleh permukaan
basah dengan pelat datar atau dinding pipa, seperti ditunjukkan dalam Gambar 7.1b.
Aliran udara yang kedua mengalir melalui permukaan basah di mana air akan diuapkan
dan menyerap kalor dari aliran udara utama melalui pelat datar atau dinding tabung.
Udara yang didinginkan tidak secara langsung mengalami kontak dengan uap air atau
air yang diuapkan.

131
Udara
basah
Udara
Media basah
basah

Udara 1 Udara
Udara
1 dingin
2 1
2
Tangki Udara
air
Pompa Tangki
sirkulasi Pompa air
sirkulasi

Pendingin
evaporator Pendingin
tidak langsung evaporator
langsung

Udara 2
1 3 Udara
dingin
(c)

Gambar 7. 1. Tipe sistem pendinginan evaporatif: (a) langsung; (b) pendinginan


taklangsung; dan (c) langsung-taklangsung (Wang, 1994)

Pada sistem kombinasi pendinginan evaporatif langsung dan taklangsung,


pendingin taklangsung dan pendingin langsung biasanya langsung terkoneksi secara
seri untuk membentuk sistem pendinginan evaporatif dua tahap dengan tujuan
meningkatkan efek pendinginannya. Gambar 7.1c menunjukkan salah satu tipe sistem

132
pendingin langsung-taklangsung. Kombinasi proses pendinginan evaporatif ini
digambarkan dengan dua garis lurus yang terhubung (garis 1-2 dan 2-3) pada grafik
psikrometrik.
Kedua pendingin evaporatif tersebut (baik yang langsung maupun taklangsung)
sering hanya menyediakan pendinginan yang dapat dilihat dan pembasahan. Keduanya
juga tidak mampu mengurangi kelembapan (dehumidify) dari campuran antara udara
lingkungan dan udara yang disirkulasi kembali kecuali kalau suhu gelembung basah
lingkungan T'o < 15.56 °C. Ini adalah hal penting yang membedakan antara pendinginan
evaporatif dan proses pendinginan biasa. Proses pendinginan biasa (refrigeration
process) memungkinkan udara untuk didinginkan dan dikurangi kelembapannya pada
iklim luar lingkungan yang bagaimanapun.
Pada awalnya sistem–sistem pendinginan evaporatif tersebut hanya tipe
langsung. Mereka menghasilkan udara yang dingin dan lembap pada musim panas
dengan iklim kering. Dengan adanya pengembangan tipe taklangsung dan sistem yang
menggunakan banyak tahap, pendinginan evaporatif dapat menggantikan refrigerasi
dalam berbagai aplikasi yang membutuhkan keduanya. Sistem-sistem pendingin
evaporatif yang memakai pengering desikan sangat banyak digunakan untuk mengganti
bagian dari pembebanan refrigerasi pada sistem pengondisian udara.

7.2 Pendinginan Evaporatif Tipe Langsung


7.2.1 Efektivitas Penjenuhan
Efektivitas penjenuhan adalah petunjuk penting yang digunakan untuk menaksir
kemampuan/kinerja alat pendingin evaporatif. Efektivitas penjenuhan adalah εsat yang
dinyatakan dalam.
Tae Tal
 sat  (7.1)
Tae Tae*
dengan
Tae = suhu dari udara yang memasuki pendingin evaporatif [oC]
Tal = suhu dari udara yang meninggalkan pendingin evaporatif [oC]
Tae* = suhu gelembung basah termodinamis udara yang masuk [ oC]
Untuk pendingin evaporatif langsung, jika Tae dan εsat diketahui, Tal bisa didapat dari
tabel psikrometrik. Nilai dari εsat bergantung pada faktor-faktor di bawah ini:
1. Kecepatan muka (υa) dari udara yang mengalir melalui pendingin evaporatif
langsung, satuannya dalam m/s. Untuk pendingin yang khusus (air-semprot atau

133
air-inklinasi) dengan luas permukaan yang tetap Aa (dalam m2) dan debit aliran
air yang diberikan m w (dalam L/s), υa yang tinggi menghasilkan:

 Tingkat aliran dalam volume Va yang lebih tinggi untuk udara yang
didinginkan, dalam m3/s.
 Efek pendinginan dengan uap qev,c, dalam Watt, ang bisa dihitung dengan:
(7.2)
dengan
ρa = bobot jenis udara [kg/m3]
cpa = kalor spesifik dari udara basah [kJ/kg.K]
 Efisiensi penjenuhan ηsat yang lebih rendah, karena debit air yang
digunakan untuk tiap m3 udara yang didinginkan lebih sedikit.
Sebagian besar pendingin evaporatif langsung digunakan untuk pendinginan
yang menghasilkan kenyamanan. Kecepatan muka biasanya tidak boleh lebih
dari 3.048 m/s (600 fpm) dengan tujuan mencegah pembawaan butiran-butiran
air yang terlalu berlebih. Sebaliknya, pengeliminasi air (water eliminator) harus
dipasang, yang secara signifikan meningkatkan hilang tekanan (pressure drop) di
sisi udara.
2. Nisbah air-udara m
 w / m a . Ini adalah nisbah antara aliran massa dari air yang
disemprotkan dengan aliran massa dari udara yang didinginkan, keduanya dalam
kg/s. Nisbah m  a yang besar mengindikasikan secara perbandingan luas
w /m
daerah kontak yang besar antara air dan udara, yang berarti εsat yang lebih tinggi.
3. Konfigurasi dari permukaan basah. Media basah yang menyediakan permukaan
kontak yang lebih baik dan waktu kontak yang lebih lama antara air dan udara,
menghasilkan nilai εsat yang lebih tinggi.

7.2.2 Karakteristik Sistem


Saat pendingin evaporatif langsung digunakan untuk mensuplai udara yang
didinginkan untuk menjaga suhu ruang tetap 26.56 °C selama musim panas, perlu
dipastikan bahwa εsat yang lebih tinggi selalu berarti titik di dekat kurva penjenuhan, titik
2. Jika suhu ruang sebelumnya ditetapkan Tr = 26.67°C, itu berarti kelembapan relatif
ruang yang lebih tinggi φr, seperti yang ditunjukkan Gambar 7.1.a.

134
Pada proses pendinginan evaporatif langsung, air yang disirkulasikan kembali
biasanya digunakan dengan tujuan menghemat air, sehingga lebih ekonomis. Suhu dari
air yang disirkulasikan kembali selalu mencapai suhu gelembung basah dari udara yang
didinginkan.

Air Udara dingin

Air dari
pipa

Udara

Evaporative
pad

Tangki air
Tangki air

(a) (b)

Media tukar
Motor &
gear box

Roda putar

Tangki air
Drain
(c)

Gambar 7.2 Media pendingin untuk pendingin evaporatif langsung: (a) blok evaporatif;
(b) media kaku; dan (c) roda berputar. (Sumber: Wang, Shan K, 1994)

Karena udara disemprotkan atau dikontakkan dengan air inklinasi, pendinginan


evaporatif secara langsung menyediakan pembersihan udara dengan derajat yang pasti.

135
Bagaimanapun, jika udara yang didinginkan mengandung banyak kotoran atau partikel
asing, penyaring tambahan harus digunakan untuk mencegah penyumbatan pada media
pendingin atau nosel.
Parameter lain yang harus dipertimbangkan untuk menghitung kemampuan dari
pendingin evaporatif langsung meliputi
 Penggunaan air segar atau air penambah, biasa dinyatakan dalam L/s per 0.472
m3/s dari udara yang didinginkan.
 Hilang tekanan pada sisi udara, dalam Pa.

7.2.3 Tipe-tipe Pendingin Evaporatif Langsung


Sebagai unit yang berdiri sendiri, secara bebas alat ini bisa menyediakan udara
dingin untuk ruang yang dikondisikan. Pendingin evaporatif secara langsung terdiri atas:
media pendingin, kipas (biasanya digunakan tipe sentrifugal untuk menyediakan
kehilangan tekanan total sistem yang dibutuhkan dan tingkat kebisingan yang rendah),
dan pengumpul air pada bagian dasar. Untuk sistem–sistem dengan penyemprotan air,
pompa sirkulasi dan pipa–pipa dengan sambungan rapat dibutuhkan untuk
mendistribusikan air secara lengkap. Untuk memasukkan air ke ruang pertukaran kalor
dari atas (kecuali pada pendingin evaporatif yang berputar) sangatlah dibutuhkan filter
udara, alat pengatur debit, dan kotak penutup. Ketentuan harus dibuat dalam hal
pengeluaran air dengan tujuan mencegah pembentukan kerak.
Pendinginan evaporatif secara langsung bisa dikategorikan berdasarkan
karakteristik media yang dibasahkan, yaitu
 Pencuci udara (air washer). Pencuci udara ini menggunakan semprotan air
secara langsung (dalam ruang pertukaran kalor) bertemu dengan udara yang
ingin akan didinginkan.
 Blok-blok penguap (evaporatif pads). Media ini umumnya dibuat dari serat–serat
kayu setebal 50 mm (2 in) dengan perlakuan kimia tertentu dan zat tambahan
untuk meningkatkan kemampuan pembasahan dan untuk mencegah
pertumbuhan mikroorganisme, seperti ditunjukkan Gambar 7.2.a. Blok–blok
penguap ini dipasangkan pada baja galvanis yang dapat dipindah–pindah atau
dapat juga berupa kerangka plastik. Karena blok–blok penguap ini membutuhkan
kecepatan muka yang lebih rendah, pada pendingin evaporatif langsung yang
berdiri sendiri, maka diintegrasikan kipas sentrifugal dan pada tiga sisi dari

136
kabinet kipas sering dipasangkan blok–blok penguap untuk meningkatkan luas
permukaannya.
 Media kaku (rigid media). Ini adalah lembaran–lembaran kaku dan berombak
yang terbuat dari plastik, selulosa yang diisi, maupun serat kaca, seperti
ditunjukkan pada Gambar 7.2.b. Cirinya udara dan air mengalir pada susunan
yang bersilangan. Saluran horizontal untuk aliran udara dan saluran vertikal
untuk aliran air bertemu di antara dua lembaran berombak. Kedalaman dari
media kaku ini biasanya 304.8 mm (12 in) pada arah aliran udara tapi mungkin
pula beragam dari 203 sampai 406 mm. Media kaku ini tidak membutuhkan
kerangka pendukung. Mereka mempunyai hilang tekanan udara yang lebih
rendah dan bisa dengan mudah dibersihkan dengan air yang bergejolak.
 Roda putar (rotary wheel). Media yang dibasahi dalam bentuk roda berputar
dibuat dari bahan yang tahan karat seperti plastik, selulosa yang diisi, serat kaca,
atau campuran tembaga, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 7.2.c.
Kedalaman dari roda ini sepanjang arah aliran udara adalah dari 152 sampai
254 mm. Roda putar biasanya dikendalikan oleh motor dan kotak roda gigi (gear
box) dan berputar perlahan pada kecepatan 1 sampai 2 rpm. Bagian dasar dari
roda digabungkan dengan tangki air. Udara mengalir melalui berbagai macam
saluran dari media pada arah sepanjang kedalaman roda putar.

Tabel 7.1 Karakteristik operasi dari berbagai tipe pendingin evaporatif langsung
Efisiensi Hilang Penggunaan
Kecepatan Rasio air-
Tipe penjenuhan tekanan air
muka udara Keterangan
pendingin sisi-udara L/s . 0.472
 sat m/s
Pa
`
m3/s
Pencuci
0.8 – 0.9 2.032 – 4.064 50 – 125 0.1 – 0.4
udara
Ketebalan
Blok
0.8 0.508 – 1.524 25 2.323 blok
evaporatif
50 mm
Ketebalan
Media
0.75 – 0.95 1.016 – 2.032 12.5 – 25 203 – 305
Kaku
mm
Roda
0.508 – 3.048 125
berputar
(Sumber: Wang, 1994)

7.2.4 Karakteristik Operasi


Tabel 7.1 menyediakan daftar karakteristik operasi dari berbagai jenis pekerjaan
dengan penguapan secara langsung. Tipe blok penguapan (evaporatif pad) adalah tipe
kuno dari pendingin evaporatif langsung, secara luas digunakan pada tempat tinggal dan

137
gedung–gedung kecil untuk perniagaan, karena memiliki biaya yang lebih rendah dan
mudah untuk dioperasikan dan dipelihara.
Media kaku seperti selulosa yang diisi tidak membutuhkan struktur pendukung,
tidak mengeluarkan serpihan-serpihan, dan mempunyai lama waktu operasi yang sama
dengan blok-blok penguap (aspen pads). Alat ini dapat menahan kecepatan muka yang
lebih tinggi, menyediakan hilang tekanan udara yang lebih tinggi, dan memiliki efisiensi
penjenuhan yang lebih tinggi daripada blok-blok penguap.
Roda putar memiliki struktur yang lebih rumit. Namun, alat ini tidak memiliki
sistem resirkulasi air. Alat ini lebih mudah untuk dihubungkan secara seri dengan
pendingin refrigerasi lainnya atau pengering desikan dalam sistem pengondisian udara
untuk penghematan energi dan biaya operasi.
Pencuci udara memiliki kapasitas dan ukuran yang besar dan mahal dibanding
pendingin evaporatif langsung lainnya. Alat ini biasanya digunakan untuk penambah
kelembapan dan pendinginan evaporatif pada aplikasi industri. Nilai efektivitas
penjenuhan untuk pendinginan evaporatif langsung biasa berkisar antara 0.75 sampai
0.95.

7.3 Pendinginan Evaporatif Taklangsung


7.3.1 Pendinginan Evaporatif Taklangsung dan Proses Pendinginannya
Gambar 7.3 menunjukkan salah satu tipe pendingin evaporatif taklangsung.
Komponen utama dari pendingin ini adalah penukar kalor pelat, penyemprot air dan
sistem resirkulasi, pemasok udara luar dengan filternya, kipas penyuplai udara dan
kipas pembuang udara yang keduanya dihubungkan oleh poros vertikal yang sama, dan
serat kaca atau baja tahan karat sebagai wadahnya untuk mencegah korosi.
Bagian utama dari pendingin dan penguapan taklangsung ini adalah penukar
kalor pelat. Pelat ini terbuat dari plastik PVC tipis. Pelat-pelat ini dipasang dengan jarak
satu sama lain 2 - 3 mm dan membentuk saluran horizontal dan vertikal secara
bergantian (udara yang akan didinginkan mengalir secara horizontal dan udara yang
dibasahi mengalir secara vertikal). Karena tebal pelat-pelat ini hanya 0.25 mm, maka
tahanan kalor dari tiap pelat plastik ini sangat kecil, walaupun konduktivitas kalor dari
plastik itu kecil.
Udara luar yang panas dan kering pada titik o memasuki ruang suplai dan
saringan dan ditarik oleh kipas suplai. Kemudian udara tersebut memasuki bagian
belakang pelat penukar kalor dan didorong masuk melewati saluran horizotal, disana

138
udara tersebut melepas panasnya melalui pelat plastik ke permukaan basah di saluran
vertikal. Air yang didinginkan pada titik s mengalir keluar ke ruang yang akan
dikondisikan seperti digambarkan dalam Gambar 7.3a. Setelah udara dingin ini
menyerap beban pendinginan ruang, keadaanya berubah dari titik s menjadi r.
Air disemprotkan ke saluran vertikal pada bagian atas pelat penukar kalor, dan
membentuk permukaan basah dan butiran-butiran air. Penguapan dari permukaan
basah dan butiran-butiran air akan menyerap kalor yang dilepas oleh udara yang
mengalir secara horizontal melalui pelat-pelat plastik. Air berlebih jatuh ke tempat
penampung air, kemudian disirkulasikan kembali ke pipa semprot oleh pompa. Air
tambahan disuplai dari sumber suplai air untuk menyempurnakan proses penguapan
dan proses pembawaan kalor. Kemudian secara berkala air dikeluarkan untuk
mencegah terbentuknya endapan.
Udara yang kembali dari ruang yang dikondisikan pada titik r disedot ke saluran
vertikal pelat-pelat plastik. Udara itu menyerap uap air dan kelembapannya meningkat.
Semakin cepat semakin besar perbedaan entalpi Δhs.w antara lapisan udara jenuh pada
permukaan basah dan aliran udara basah, dan semakin besar hilang tekanan dari aliran
udara basah. Udara basah ini kemudian didorong ke kipas pembuangan dan dibuang ke
atmosfer bebas pada titik ex.
Tipe lain dari pendingin evaporatif taklangsung mungkin menggunakan garis-garis
pengikat pada saluran vertikalnya untuk mengalirkan air dari atas melalui saluran-
saluran distribusi; daripada memakai penyemprot air. Kipas baling-baling dapat
digunakan untuk menggantikan kipas sentrifugal untuk aliran udara basah keluar. Alat
pengatur digunakan untuk mengekstraksi udara dari luar atau udara kembali dari ruang
yang dikondisikan.

7.3.2 Proses Perpindahan Kalor


Terdapat tiga aliran fluida di pelat penukar kalor: udara yang didinginkan, udara
basah, dan lapisan air sepanjang saluran vertikal. Berhubung suhu dari lapisan udara
jenuh di atas permukaan basah hampir sama dengan suhu gelembung basah dari aliran
udara basah mengalir melalui permukaan, kalor dari aliran udara yang akan didinginkan
pada sisi lain dari pelat plastik dipindahkan ke permukaan basah untuk menguapkan
air. Proses perpindahan kalor dalam pendingin dengan penguapan taklangsung ini
berlangsung terutama antara aliran udara yang akan didinginkan dan aliran udara
basah.

139
Pada sisi udara yang akan didinginkan, jumlah uap air yang merembes pelat
plastik sangat kecil dan bisa diabaikan; oleh karena itu, air yang masuk dianggap
didinginkan dari titik o ke titik s pada perbandingan kelembapan yang konstan,
menghasilkan garis horizontal os pada grafik psikrometrik ditunjukkan di Gambar 7.3d.
Koefisien perpindahan kalor pada sisi udara h air , dalam W/m2.K, adalah fungsi hair =
f(Re0.8 Pr0.3) dan bisa dihitung sebagai
 k a  0.8 0.3
hair  0.023  Re Pr
 D
(7.3)
D
 h
dengan
ka = konduktivitas termal dari udara [W/m.K]
Dh = diameter hidrolik dari lintasan udara yang didinginkan [m]
La = panjang dari saluran udara [m]
Pada persamaan (7.3) diameter hidrolik didapat dari
4. Aca
Dh  (7.4)
Pca
dengan
Aca = luas saluran udara yang didinginkan [m2]
Pca = perimeter basah dari saluran untuk udara yang akan didinginkan [m]

Pada sisi udara-basah, air disemprotkan ke dalam aliran udara basah;


bagaimanapun, karena perpindahan kalor dari aliran udara yang didinginkan melalui
pelat plastik ke aliran udara basah, proses penjenuhan ini tidak lagi adiabatik. Udara
yang kembali dari ruang yang dikondisikan (yang menjadi aliran udara basah) menjadi
lembap dari titik r ke titik ex seperti ditunjukkan Gambar 7.3d. Menurut Wu dan Yelott
(1987), kelembapan relatif dari udara yang keluar dari pendingin evaporatif taklangsung
sekitar 95 persen, dan perubahan pada suhu gelembung keringnya cukup kecil.
Konsekuensinya, akan ada peningkatan di entalpi gelembung basah dan entalpi udara
akibat peningkatan pada kalor laten (tersembunyi).
Pada penukar kalor pelat, udara yang didinginkan dan udara basah mengalir
dalam susunan saling bersilangan. Suhu dari lapisan udara jenuh pada sisi udara basah
bergantung pada gelembung basah dari arus udara basah setempat dan gelembung
basah dari udara basah secara bertahap meningkat selama proses pelembapan.
Peningkatan di gelembung basah dari udara basah bisa ditentukan dari peningkatan
entalpi Δhwet, dalam kJ/kg, dan bisa dihitung sebagai

140
Vca . ca .c pa ( To T s )
hwet  hex  hr  (7.5)
Vwet . wet
dengan
hex, hr = entalpi dari udara basah pada titik ex dan r [kJ/kg]
To, Ts = suhu dari udara yang didinginkan pada titik o dan s [°C]
V ca,Vwet = tingkat aliran volume udara yang akan didinginkan dan udara basah
[m3/s]
ρca, ρwet = bobot jenis udara yang didinginkan dan udara basah [kg/m3]
cpa = kalor spesifik dari udara lembap [kJ/kg.K]
Suhu rata-rata Ts.a dari lapisan jenuh di sisi udara basah, dalam °C, nilainya kira-kira
sama dengan suhu rata-rata di tempat penampang air Tws, dalam °C. Dari hasil
eksperimen, Tw.s bernilai 16/9°C (3°F) lebih tinggi daripada suhu gelembung basah
udara kembali untuk pendingin evaporatif taklangsung ini.
Koefisien perpindahan kalor permukaan di sisi udara basah hwet, bisa dihitung
dari
m' '
hwet  h (7.6)
c pa dry
dengan kwet = konduktivitas termal dari udara basah [W/m.K]
Dh.w = diameter hidrolik dari saluran udara basah [m]
Lwet = panjang dari saluran udara basah [m]
Dalam persamaan 7.6, hdry menyatakan koefisien perpindahan kalor sensibel dari
permukaan basah saat permukaan itu kering; yang bisa dihitung dari persamaan 7.3:
 k wet  0.8 0.4
hdry  0.023   Re Pr

(7.7)
D
 h .w 

141
Udara basah
keluar

Butiran
Air Kipas penyedot

PK
Plat
Udara
luar
Tangki
air Udara
balik
Kipas Masuk
pendorong
Pompa
Filter
(a)

Udara
basah
Lapisan udara
Plat plastik
tersaturasi

Udara
dingin
Udara
basah
Udara Plat plastik
dingin
Lapisan
(b) air
(c)

(d)

Gambar 7.3 Tipe pendingin evaporatif: (a) diagram skematik; (b) arus udara mengalir
melalui saluran-saluran; (c) perpindahan kalor melalui pelat plastik; dan (d) prosesnya
dalam grafik psikrometrik (Wang, 1994)

142
7.3.3 Efektivitas Pendingin dan Faktor Kemampuan
Kemampuan dari pendingin evaporatif taklangsung, bisa ditentukan dari nilai
efektivitasnya. Biasanya aliran udara dingin memiliki tingkat kapasitas kalor yang lebih
rendah daripada aliran udara basah. Dengan demikian, efektivitas pendingin evaporatif
taklangsung, kadang-kadang disebut faktor kinerja (performance factor), yang
didefinisikan sebagai berikut
Tca .e Tca .l
 in  (7.8)
Tca .e T s .a
dengan
Tca.e = suhu dari udara yang akan didinginkan saat memasuki pendingin
evaporatif taklangsung [°C]
Tca.l = suhu dari udara yang akan didinginkan saat keluar dari pendingin
evaporatif taklangsung [°C]
Ts.a = suhu dari lapisan udara jenuh pada sisi udara basah (sekitar 12/3°C lebih
tinggi daripada suhu gelembung basah udara basah yang masuk) [°C]
Untuk aliran silang di pelat penukar kalor di mana arus udara yang didinginkan
dan udara basah tidak tercampur, efektivitas pendinginan bisa dihitung dengan
persamaan berikut


 in  1  exp 
1   exp  NTU 0.78 C   1  (7.9)
0.22  
 NTU C 
NTU berasal dari:
AU AU
NTU   (7.10)
C min C ca
dan C berasal dari:
C min C ca
C  
C max C wet

C ca Vca . ca .c pa

C wet Vwet . wet .c sat (7.11)


dengan
Cca, Cwet = tingkat kapasitas kalor dari udara yang didinginkan dan udara basah
[kW.K]
Vca, Vwet = tingkat aliran volume dari udara yang didinginkan dan udara basah
[m3/s]

143
ρca, ρwet = bobot jenis udara yang didinginkan dan udara basah [kg/m 3]
cpa = kalor spesifik dari udara lembap [kJ/kg.K]
Dalam persamaan 7.11, csat menunjukkan kalor spesifik jenuh tiap derajat suhu
gelembung basah dari udara basah pada tekanan konstan, dalam kW.K, yang diberikan
sebagai
dhs
c sat  (7.12)
dT'
dengan hs merupakan perbedaan entalpi sepanjang kurva penjenuhan, kJ/kg. Kapasitas
pendinginan total dari pendingin evaporatif taklangsung qc, dalam kW, bisa dihitung
sebagai
(7.13)
Efektivitas operasi sesungguhnya dari pendingin evaporatif taklangsung yang
ditunjukkan dalam Gambar 7.3 selama musim panas di Phoenix, Arizona, bisa mencapai
0.85 pada kondisi tersebut.

7.3.4 Karakteristik Operasi


Pendingin evaporatif taklangsung yang berdiri sendiri dibuat dalam ukuran yang
dapat menangani tingkat aliran volume 500, 1227, dan 1510 L/s. Ukuran dari
pendingin evaporatif taklangsung yang telah kita bicarakan di atas adalah 1227 L/s
Berdasarkan penelitian, konsumsi daya maksimum pada musim panas yang panas
adalah 1252 W (1.68 hp) dan tekanan total pada kipas sentrifugal berkisar dari 250
sampai 325 Pa.
Pada pendingin evaporatif taklangsung, baik udara dari luar maupun udara yang
kembali dari ruang yang dikondisikan bisa digunakan sebagai udara untuk didinginkan
atau sebagai aliran udara basah. Hal itu bergantung pada udara mana yang punya suhu
gelembung basah yang lebih rendah dan udara mana yang bisa menyediakan hasil
pendinginan evaporatif yang lebih baik. Di Phoenix, 2.5 persen gelembung basah untuk
desain musim panas adalah 24°C . Untuk suhu ruang musim panas 27°C dan
kelembapan relatifnya 50 persen, sedang suhu gelembung basah udara yang kembali
hanya 19°C . Jadi lebih menguntungkan untuk memakai udara balik dari ruang kondisi
untuk arus basah pada kondisi ini. Hanya saat suhu gelembung basah dari udara luar
jatuh di bawah 19°C kita bisa memakai udara luar sebagai udara yang akan didinginkan
dan sebagai aliran udara basah.

144
Nisbah efisiensi energi (energy efficiency ratio, EER) didefinisikan sebagai nisbah
dari kapasitas pendinginan bersih alat, dalam kW, dengan masukan daya listrik, dalam
W, dalam kondisi operasi yang diinginkan. Nilai maksimum EER aktual dari tipe
pendingin evaporatif taklangsung yang kita bicarakan di sini, beroperasi dalam kondisi
musim panas yang panas, sekitar 50, dibandingkan dengan rata-rata 8.5 sampai 11.5
untuk unit yang berdiri sendiri.
Ciri operasi dari pendingin evaporatif taklangsung dipengaruhi oleh kecepatan
aliran dan hilang tekanan pada sisi udara yang didinginkan dan udara basah. Untuk
pendingin tertentu, semakin besar aliran volume, semakin besar koefisien perpindahan
kalor, hilang tekanan, dan kecepatan udara yang mengalir melalui saluran-saluran di
pelat penukar kalor.
Kecepatan udara dari arus udara yang akan didinginkan yang mengalir melalui
saluran biasanya berkisar dari 2. sampai 5 m/s. Kecepatan udara di saluran udara
basah perlu dibatasi untuk mencegah terbawanya butiran-butiran air yang berlebih.
Efektivitas pendingin evaporatif taklangsung biasanya berkisar dari 0.6 pada hilang
tekanan di sisi udara mencapai 50 Pa sampai efektivitas mencapai 0.8 pada hilang
tekanan sebesar 250 Pa.
Biasanya, hilang tekanan pada sisi udara yang akan didinginkan dari pendingin
evaporatif taklangsung antara 50 dan 375 Pa, bergantung pada kecepatan udara di
penukar kalor dan saluran distribusi. Hilang tekanan pada sisi udara basah berkisar
antara 125 sampai 250 Pa. Nisbah aliran volume udara basah dengan udara yang akan
didinginkan berkisar 0.6 sampai 1.2. Nisbah ini mempengaruhi nisbah kapasitas kalor C
dan juga efektivitas pendinginan. Ketinggian dari lokasi dipasangnya unit juga punya
pengaruh yang besar pada bobot jenis udara dan tentu saja pada kinerja alatnya.

7.3.5 Operasi Pembebanan dan Pengontrolan Komponen


Untuk unit dengan laju udara yang konstan, dan jika kondisi dari udara luar dan
nisbah kalor sensibel dari ruang yang juga dikondisikan konstan, maka pengurangan
beban pendinginan ruang, garis pengkondisian ruang sr, seperti yang ditunjukan pada
Gambar 7.3d, akan menghasilkan jarak yang lebih pendek dari titik s. Suhu ruang Trpl
turun dan kelembapan relatif ruang φrpl akan jadi lebih tinggi pada saat pembebanan
seperti ditunjukkan dengan titik rpl pada grafik psikrometrik.
Jika beban pendinginan ruang tetap sama dan kondisi udara luar berubah dari
titik o ke titik op, dengan suhu gelembung basah dan kering yang lebih kering, kemudian

145
suhu suplai Tsp, suhu udara lingkungan Trp2, dan kelembapan ruang φrp2 semuanya akan
lebih rendah pada bagian pembebanan.
Untuk pendingin evaporatif taklangsung ukuran kecil yang berdiri sendiri, kipas
berputar secara otomatis dengan dikendalikan sistem kontrol yang bergantung pada
suhu ruang pada saat operasi pembebanan. Untuk pendingin yang lebih besar, kipas
dikendalikan motor dengan beragam kecepatan bisa sering diatur pada saat
pembebanan ketika suhu ruang jatuh di bawah batas yang ditentukan sebelumnya.

Referensi
Kakac S. and Liu H., 2002, Heat exchangers selection, rating and thermal design, 2nd ed. CRC press
Shah, R. K., and Seculic D.P, 2003, Fundamental of Heat exchanger Design, John Wiley & Son.
Wang, Shan K. 1994. Handbook of Air Conditioning and Refrigeration. New York: McGraw–Hill.

146
8.1 Pendahuluan
Ketersediaan udara di sekeliling kita tanpalah terbatas dan telah banyak
digunakan selama bertahun-tahun hingga saat ini terutama sebagai pendingin mesin
automotif. Udara memiliki koefisien perpindahan yang rendah jika dibandingkan dengan
air yang memiliki nilai perpindahan kalor konduksi kurang lebih 23 kali lebih besar dari
udara pada suhu 35 oC. Sehingga apabila udara digunakan sebagai pendingin maka
udara membutuhkan kuantitas yang lebih besar dibanding dengan air yakni 4 kali massa
dan 3200 kali volume. APK dengan menggunakan tiupan udara atau biasa disebut air-
cooled heat exchanger (ACHE) digunakan untuk mendinginkan fluida kerja dengan udara
lingkungan. ACHE ini banyak digunakan pada kondisi dimana ketersediaan air sangatlah
terbatas dan mahal harganya. Pada sub-bab berikut ini akan diuraikan disain umum dari
ACHE dan metode untuk memperkirakan ukurannya.

8.2 Susunan dan Konstruksi ACHE


Gambar 8.1 menunjukkan susunan dan bentuk rancangan ACHE yang umum
diproduksi dengan arah horizontal dan vertikal, dan ada pula yang menyusun berkas
pipanya sedemikian rupa sehingga membentuk huruf A atau V. Hal ini biasa dilakukan
untuk menghemat luas daerah instalasi bila harus digunakan 2 berkas pipa atau lebih.
Pada dasarnya ACHE terdiri atas tiga komponen utama. Komponen-komponen tersebut
terdiri atas satu atau lebih berkas pipa yang ditiup oleh satu atau lebih kipas aksial yang
terhubung dengan motor penggerak kipas yang pada umumnya dilengkapi pengurang
kecepatan (speed reducer), dan komponen lainnya adalah struktur pendukung dan
pelindung.
ACHE ini dapat digolongkan menjadi 2 kelompok berdasarkan peletakan kipas.
Jika berkas pipa diletakkan pada sisi pembuangan kipas disebut tipe dorong (forced
draft), dan jika berkas pipa diletakkan pada sisi hisap kipas disebut tipe hisap (induced

147
draft). Pada Gambar 8.2 dapat dilihat kedua jenis penukar kalor ini beserta komponen-
komponennya.

Gambar 8.1. Arah berkas pipa penukar kalor dengan tiupan angin
(Saunders, 1988)
.

Gambar 8.2 Tipe udara dorong dan udara hisap dari APK dengan tiupan udara dan
komponen-komponen utama

APK jenis ini umumnya difabrikasi dengan ukuran panjang pipa berkisar antara
1.83 m sampai 15.24 m dan lebar satu kesatuan berkas pipa berkisar antara 1.29 m

148
sampai 9.14 m. Penggunaan pipa yang lebih panjang dapat berakibat penurunan biaya
rancangan dibandingkan menggunakan pipa yang lebih pendek.
Komponen kipas biasanya digunakan dengan ukuran diameter kipas berkisar
antara 0.914 m dan 8.53 m, namun diameter 4.27 m sampai 4.88 m adalah ukuran
diameter maksimum yang biasa digunakan. Kipas diputar dengan menggunakan motor
elektrik, turbin uap, motor hidraulik, atau dengan mesin-mesin berbahan bakar bensin.
Kecepatan putar kipas biasanya dikurangi dengan pengurang kecepatan seperti dengan
menggunakan V-belt, dan pengurang kecepatan roda gigi (reduction gear box).
Pengurang kecepatan ini digunakan untuk menyelaraskan kecepatan motor penggerak
yang tinggi dengan kecepatan kipas aksial yang relatif lebih pelan. Kecepatan
maksimum kipas normalnya 60.96 m/s. Penggunaan di Amerika Serikat menunjukkan V-
belt dipakai untuk daya 30 bhp dan gearbox untuk daya yang lebih besar. Ukuran
penggerak individu biasanya dibatasi sampai 50 hp (37.3 kW). Gambar 8.3
menunjukkan ragam susunan penggerak kipas dan media penerus dayanya.
Berkas pipa (bay) biasanya terdiri atas satu atau lebih kumpulan pipa (tube
bundles); pada berkas pipa tersebut dipasang satu atau dua kipas yang lengkap dengan
struktur dan pelengkapannya. Penggunaan dua kipas untuk tiap berkas pipa banyak
digunakan di industri, sejak terdapatnya metode yang mempertimbangkan derajat faktor
keselamatan melawan kerusakan kipas atau kerusakan sumber penggerak dan juga
metode pengontrolan oleh perangkap kipas. Luas cakupan kipas (fan coverage) adalah
nisbah luas area kipas yang diproyeksikan terhadap luas area muka dari berkas pipa
yang akan ditiup oleh kipas tersebut. Dalam praktiknya sangat bagus untuk
mempertahankan nisbah ini agar selalu di atas 0.4 apabila memungkinkan karena
nisbah yang lebih tinggi dapat meningkatkan distribusi udara yang melewati berkas pipa.
Luas area muka adalah luas area datar dari permukaan penukar kalor yang tersedia
untuk dialiri udara pada muka dari berkas pipa. Pada Gambar 8.4 dapat dilihat susunan
kipas diatas berkas pipa.

149
Gambar 8.3 Tipe-tipe susunan pemasangan motor penggerak dan penerus dayanya
(Saunders, 1988)

ACHE terdiri atas berkas pipa yang tersusun atas pelindung samping, pipa
pendukung, kepala pipa, dan pipa-pipa yang bersirip. Gambar 8.5 menunjukkan susunan
kepala pipa dan komponen-komponen lainnya pada berkas pipa. Susunan kepala pipa

150
mirip dengan yang digunakan pada APK tipe selongsong-dan-pipa. Oleh karena itu pada
bagian ini standar TEMA dapat digunakan selain standar American Petroleum Institute
(API) 661 mengenai Air Cooled Heat Exchanger for General Refinery Service dan ASME
section VIII mengenai Boiler dan Pressure Vessel Code.

Gambar 8.4 Definisi dari bundle, bay, unit, dan bank (Saunders, 1988)

Pipa-pipa yang digunakan pada ACHE biasanya dilengkapi dengan sirip-sirip yang
terbuat dari bahan aluminium. Sirip-sirip ini diaplikasikan pada pipa untuk menyediakan
permukaan penukar kalor yang lebih besar pada sisi udara, sebagai kompensasi dari
rendahnya koefisien perpindahan kalor dari pipa ke udara. Tipe-tipe bentuk sirip yang
biasa digunakan pada ACHE dapat dilihat pada Gambar 8.6. Penerapan setiap tipe sirip
ini sangat bergantung pada suhu, kondisi operasi kerja alat, dan persetujuan antara
pembuat, kontraktor, dan pengguna. Tipe yang paling banyak digunakan adalah tipe
yang ditanam (embeded), karena tahan untuk operasi hingga suhu 350°C.

151
Gambar 8. 5. Tipe kepala pipa (a) removable cover (b) removable bonnet (c) plug (d)
manifold (Saunders, 1988)

152
Gambar 8.6 Tipe-tipe pemasangan sirip pada pipa. Sumber : Saunders (1988)

Diameter pipa yang digunakan umumnya berdiameter antara 0.25 cm dan 1.2
cm dengan siripnya berdiameter luar antara 0.12 cm dan 2.54 cm, jumlah sirip per
satuan panjang antara 3 per cm dan 5 per cm, menambah luas permukaan 12 sampai
25 kali luas permukaan luar pipa. Pipa-pipa biasanya disusun dalam orientasi segitiga
sama sisi dengan jarak antarpipa bergantung pada ukuran pipa, misalnya untuk pipa
berdiameter luar 25.4 mm jarak antara pipa (pitch) adalah 60.33 mm.

153
Mencocokkan berkas pipa dengan sistem kipas dan kebutuhan perpindahan
kalor biasanya menghasilkan berkas pipa dengan jumlah baris 3 sampai 8 dengan pipa
yang bersirip, namun yang paling banyak digunakan adalah tipe 4 baris. Gambar 8.7
menunjukkan definisi dari baris pada penukar kalor dengan tiupan udara.
Pipa dengan diameter luar 2.5 cm adalah pipa yang paling banyak digunakan dan
sirip yang paling banyak digunakan adalah sirip aluminium dengan diameter luar 57.15
mm, tebal sirip 0.4 mm, dan dengan jumlah sirip per satuan meter adalah 433 .

Gambar 8.7 Definisi baris dan jumlah aliran (Saunders, 1988)

8.3 Kapasitas Aliran udara


APK tipe ACHE didesain untuk dapat beroperasi pada kondisi suhu udara
lingkungan yang hangat (musim panas). Ragam suhu udara akibat perubahan iklim
dapat mengakibatkan perubahan beban pendinginan yang tidak diinginkan. Salah satu
cara yang digunkan untuk mengontrol beban pendinginan adalah dengan mengatur
kapasitas aliran udara yang mengalir melalui berkas pipa. Hal ini dapat dicapai dengan
menggunakan beberapa kipas yang motor penggeraknya dapat diatur dengan

154
meragamkan kecepatannya dengan penggerak hidrolis, pengarah udara (louver) pada
muka dari berkas pipa, atau dengan mengatur jarak antarkipasnya (pitch) secara
otomatis.
Perangkap dari kipas-kipas atau pengatur kecepatan kipas diperkirakan cukup
untuk diterapkan pada sistem yang tidak membutuhkan kontrol yang akurat dari suhu
atau tekanan proses. Pengarah udara dapat mengendalikan kapasitas aliran udara
secara penuh. Pengarah udara bisa dioperasikan secara manual, atau secara otomatis
dengan motor elektrik atau pneumatik dengan menggunakan sensor suhu atau tekanan
jarak jauh yang dipasang di dalam aliran selama proses. Pengarah udara digunakan
dengan kipas kecepatan konstan dan jalur angin tidak mengurangi kebutuhan daya
kipas.
Kipas dengan ragam jarak yang otomatis (auto-variable-pitch fans) biasanya
menggunakan jarak antara propeler (blade-pitch) yang dapat diatur secara pneumatik
yang dimungkinkan dapat dikontrol dengan sensor jarak jauh. Perubahan jarak antara
propeler kipas dilakukan untuk mendapatkan jumlah aliran udara yang sesuai
kebutuhhan untuk menjaga suhu atau tekanan proses saat pendinginan. Sudut baling-
baling kipas yang dibutuhkan dapat berubah sesuai dengan jatuhnya suhu udara
lingkungan dan hal ini dapat menghemat daya kipas. Motor hidrolik dengan ragam
kecepatan dapat mengurangi kecepatan kipas yang dikendalikannya saat dibutuhkan
aliran udara yang lebih sedikit dan hal ini juga bisa menghemat daya kipas.

Gambar 8.8 Sistem resirkulasi udara (Saunders, 1988)

155
Ragam suhu udara yang ekstrem seperti pada iklim daerah dingin yang ekstrem
membutuhkan langkah–langkah tambahan yang penting. Saluran udara dan pengarah
udara bisa dipasang dengan susunan yang meresirkulasi udara buangan yang hangat
untuk kembali melalui berkas pipa dalam jumlah yang beragam untuk ikut menjaga sifat
udara lingkungan yang akan masuk ke dalam sistem. Sistem yang sangat rumit mungkin
penting saat merancang penukar kalor untuk cairan yang titik lelehnya tinggi tetapi
sistem berada pada iklim dingin. Alat ini mungkin menggunakan saluran udara dan
pengarah udara untuk menyirkulasi udara secara penuh, kipas yang bisa mengubah
jaraknya secara otomatis, dan gulungan pemanas untuk memanaskan sistem saat
pertama kali sistem dioperasikan. Gambar 8.8 menunjukkan siklus kerja APK dengan
tiupan udara di musim dingin, sehingga memerlukan sirkulasi kembali.
8.4 Desain Termal
8.4.1 Koefisien Perpindahan Kalor Menyeluruh
Idealnya, fluida yang melalui suatu permukaan tahanan perpindahan kalornya
diasumsikan akibat dari tahanan lapisan film fluida tipis yang berbatasan dengan
permukaan tersebut secara langsung. Padahal sebenarnya ada pengotoran yang
membentuk lapisan (diasumsikan lapisannya seragam) dan lapisan pengotoran ini
diasumsikan berbatasan langsung dengan lapisan pengotor. Gambar 8.9 menunjukkan
susunan lapisan di sebelah dalam dan di sebelah luar dari permukaan penukar kalor.
T1 – T2 = Q/αi Ai (8.1.a)
T2 – T3 = Q/αfi Ai (8.1.b)
T3 – T4 = Q/αw Aw (8.1.c)
T4 – T5 = Q/αfo Ao (8.1.d)
T5 – T6 = Q/αo Ao (8.1.e)
dengan
αi, αo = koefisien perpindahan kalor di lapisan film [W/m2.K]
αfi, αfo = konduktansi dari lapisan pengotor [m2.K/W]
αw = konduktansi dinding dari permukaan penukar kalor [m2.K/W]
Ai, Ao = luas permukaan penukar kalor dari kedua sisi dinding [m 2]
Aw = luas area rata-rata dari dinding = (Ai + Ao)/2
Penjumlahan kelima persamaan di atas akan menghasilkan

 1 1 1 1 1  
(T1 – T6) = ΔT = Q       (8.2)
 i Ai  fi Ai  w Aw  fo Ao  o A0 
 

156
Untuk lebih memudahkan dalam menghubungkan semua koefisien bisa dengan
memilih sebuah luas permukaan referensi (Aref). Dengan mengalikan kedua sisi
persamaan 8.2, didapat persamaan 8.3a berikut ini:

 Aref Aref Aref Aref Aref 
Aref ΔT = Q       (8.3.a)
 i Ai  fi Ai  w Aw  fo Ao  o A0 
 
atau karena Aref ΔT = Q/Uref

Lap. Film fluida


Lap. pengotor

dinding
Fluida panas Fluida dingin

Temp. keseluruhan T1
Fluida panas
T
E T2
M
P
E ΔT T3
T4
R
A
T T5
U T6 Temp. keseluruhan
R Fluida dingin

Gambar 8.9 Profil suhu antara fluida panas dan fluida dingin

maka persamaan 8.3a dapat ditulis menjadi persamaan 8.3b berikut ini:

1  Aref
 Aref Aref Aref Aref 
 Q      (8.3b)
U ref  i Ai  fi Ai  w Aw  fo Ao  o A0 
 

157
dengan 1/Uref adalah tahanan perpindahan kalor menyeluruh dan jumlah dari
keseluruhan tahanan-tahanan yang ada pada sistem ACHE. Kesemua tahanan tersebut
berhubungan dengan luas permukaan referensi (Aref).
Untuk kasus pipa silinder, luas permukaan referensi yang dipilih bisa dari luas
permukaan luar (Ao), sehingga persamaan 8.3b akan menjadi persamaan 8.4 berikut ini:
1
Uo  (8.4)
1 / 1  Ao / Ai   ri  Ao / Ai   rw  ro  1 /  o 
dengan
ri = 1/αfi = tahanan akibat pengotoran di dalam pipa [m2.K/W]
ro = 1/ αfo = tahanan akibat pengotoran di luar pipa [m2.K/W]
d o ln d o / d i 
rw = = tahanan pada dinding pipa [m2.K/W]
2 w

8.4.2 Perpindahan Kalor dalam Pipa Silinder


Koefisien perpindahan kalor di dalam pipa bergantung pada jenis alirannya:
apakah aliran tersebut laminar, transisi, atau turbulen. Hal ini bisa dilihat dari besarnya
bilangan Reynold aliran tersebut. Bilangan Reynold ini dapat dihitung dengan
menggunkan persamaan berikut:
m d i ud i 
Re   (8.5)
 
dengan m = kecepatan massa [kg/s.m2]
di = diameter dalam pipa [m]
η = viskositas dinamik (dynamic viscosity) [N s/m2]
ρ = densitas fluida [kg/m3]

Aliran turbulen (Re > 10 000)


Korelasi yang dapat digunakan apabila aliran di dalam pipa turbulen adalah:

 i  0.0225
  0.495 0.795
 Pr Re  
exp  0.0225ln Pr  
2
 (8.6)
 di 
dengan Φ = (η/ ηs)a = (Pr/Prs)a
a = 0.18 untuk pemanasan fluida, 0.3 untuk pendinginan fluida
Pr, Prs = bilangan Prandtl pada suhu keseluruhan dan suhu dinding pipa.
η, ηs = viskositas dinamik pada suhu keseluruhan dan suhu dinding [N s/m2]

158
λ = konduktivitas termal fluida [W/m.K]
Φ adalah faktor koreksi kekentalan fluida yang mengalir di dalam pipa. Faktor koreksi ini
berlaku bila fluida ini mengalami perubahan kekentalan selama proses pemanasan atau
pendinginan di dalam pipa. Jika fluida dapat dianggap memiliki kekentalan yang relatif
tidak begitu banyak berubah, maka Φ = 1.

Aliran Transisi (2000 ≤ Re ≤ 10 000)

  
2/3
  2/3   d 
 i  0.1  
 Re  125 Pr 0.495 exp  0.0225ln Pr 2 1   i   (8.7)
 di    L 
dengan a = 0.14
L = panjang pipa [m]

Aliran Laminar (Re < 2000, Gz > 9)


Untuk pipa horizontal:

 i  1.75

 
 Gz  0.0083Gr. Pr0.75 
1/ 3
(8.8)
 di 
dengan Gz = Re Pr d/L = ud2ρcp/λL = bilangan Graetz
Gr = gd3ρΔρ/η2 = bilangan Grashof

Aliran Laminar (Re <2000, Gz ≤ 9)


Untuk pipa horizontal dan vertikal:
 
 i  3.66  (8.9)
 di 

Hilang Tekanan
Nilai hilang tekanan (pressure loss) aliran di dalam pipa sangat dipengaruhi oleh
faktor gesekan (fi) yang terjadi antara fluida dan permukaan dalam pipa, dan faktor
gesekan ini juga dipengaruhi oleh jenis alirannya: laminar, transisi, atau turbulen.

159
Aliran Laminar (Re ≤ 1311)
Untuk semua jenis pipa
fi = 16/ Re (8.10)

Aliran Transisi
Untuk pipa halus (1311 < Re < 2100) maupun pipa yang ada di pasaran atau yang
mudah berkarat (1311 < Re < 3380), faktor gesekannya adalah
fi = 0.0122 (8.11)

Aliran Turbulen
Jika pipa halus (Re ≥ 2100)
fi = 0.0014 + (0.125/Re0.32) (8.12)
Jika Re ≥ 3380 – pipa komersial atau pipa yang mudah berkarat
fi = 0.0035 + (0.264/Re0.42) (8.13)

Setelah faktor gesekan telah kita ketahui nilainya, maka hilang tekanan dalam pipa
dapat kita peroleh dari:
4 f i Lm 2
Pi  (8.14)
2 d i 
dengan a = 0.14 untuk Re ≥ 2100
a = 0.25 untuk Re < 2100
ΔPi = hilang tekanan dalam pipa [Pa]
fi = faktor gesekan dalam pipa
Sementara itu, hilang tekanan pada kepala pipa bisa diketahui dari:
 m 2 
Ph  K h N p   (8.15)
 2 
dengan Np = jumlah laluan fluida dalam pipa (passes)
Kh = 0.9 untuk Np = 1 laluan
Kh = 1.6 untuk Np ≥ 2 laluan

8.4.3 Luar Pipa Silinder


Pipa yang dibahas di sini adalah pipa dengan jenis sirip radial, penampang sirip
berbentuk persegi panjang, dan jumlah sirip per satuan panjang cukup rapat. Gambar

160
2.10 menunjukkan jenis-jenis sirip menurut arah pemasangannya pada pipa, dan dalam
program kita nantinya akan menggunakan sirip tipe radial (gambar c) dalam Gambar
2.10 tersebut dan Gambar 2.11.

Gambar 8.10 Geometri dari pipa bersirip (Saunders, 1988)

161
Gambar 8.11 Tampak 3D dari pipa bersirip radial (Saunders, 1988)

Banyaknya faktor yang mempengaruhi kemampuan pipa dengan sirip yang rapat
(high-finned tubes) sehingga dianjurkan untuk mencari data eksperimen yang erat
berhubungan dengan tipe, bentuk, dan konfigurasi dari pipa bersirip yang diinginkan.
Kebanyakan data yang ada dikhususkan untuk udara yang mengalir melalui sirip-sirip
yang halus, datar, heliks pada tiap pipa dalam berkas pipa. Namun, jika data eksperimen
tidak tersedia, persamaan 8.17a, 8.17b dan 8.18a, 8.18b mungkin bisa memprediksi
perpindahan kalor dan hilang tekanan untuk aliran udara melalui berkas pipa, yang tiap
pipa disusun dalam bentuk segitiga sama sisi.

Bilangan Reynold, kecepatan, dan diameter


Dalam semua kasus, bilangan Reynold dan kecepatan tergantung pada luas area
minimum antara pipa yang harus dilalui udara dalam satu baris. Dalam hal ini untuk
diameter tertentu selalu digunakan diameter akar sirip, kecuali sudah diberitahu
sebelumnya.
m m d r um d r 
Re   (8.16)
 
Dengan mm = kecepatan massa berdasarkan luas area minimum di antara pipa-pipa
yang harus dilalui udara [kg/s.m2]
dr = diameter akar sirip atau diameter luar pipa [m]

Koefisien Perpindahan Kalor


Persamaan 8.17a dan 8.17b didasarkan pada rekomendasi dari Gianolio dan Cuti
(1981) 5 yang hasil eksperimennya menunjukkan bahwa koefisien perpindahan kalor

5
Saunders, E. A. D. 1988. Heat exchangers: selection, design & construction. London: Longman. (hlm. 179)

162
bergantung pada jenis aliran udara: apakah pergerakan udara merupakan hasil dari
dorongan kipas atau hasil dari hisapan kipas.

Untuk tipe udara yang dihisap


jika jumlah baris pipa 6 atau lebih:
0.2 0.1134
  0.33 0.681 s   s 
 f  0.134  Pr Re     (8.17a)
l  t 
 dr   f   f 
jika baris pipa (Nr) < 6, persamaan 2.30a menjadi:
0.2 0.1134 0.14
  0.33 0.681 s   s   u 
 f  0.134  Pr Re     1  m2  (8.17b)
l  t 
 dr   f   f   Nr 

Untuk tipe udara yang didorong


jika jumlah baris pipa 6 atau lebih:
0.311
  0.33 0.685 At 
 f  0.271  Pr Re   (8.18a)
 dr   Ab 
jika baris pipa (Nr) < 6, persamaan 2.31a menjadi:
0.311 0.138
  0.33 0.685  At   Nr 
 f  0.271  Pr Re     (8.18b)
 dr   Ab   6 
dengan s = jarak antarsirip [m]
lf = tinggi sirip [m]
um = kecepatan fluida berdasarkan luas area minimum antarpipa yang harus
ditembus [m/s]
Nr = jumlah baris pipa secara vertikal dalam berkas pipa

Kemudian hasil persamaan 8.17a, 8.17b dan 8.18a, 8.18b masuk ke persamaan 8.19a
didapat koefisien perpindahan kalor di luar pipa (baik tipe udara dorong maupun hisap):
 f  f A f  Au 
 fo  (8.19a)
Ab

FRS
dengan u m  (8.19b)
Ax
AFR
FRS  (8.19c)
s

163
Pt = N i . P (8.19d)
NWe = (OWB + Pt) / 2 (8.19e)
Le = L – (0.1m) (8.19f)
Ag = NWe . Le (8.19g)
Ax = FAR . Ag (8.19h)
 N d .t   d r s f 
FAR = 1 –  f f f  (8.19i)
 P 
tanhl fe .FEP 
f  (8.19j)
l fe .FEP

 tf   df 
l fe  l f 1   1  0.35 ln   (8.19k)
 2.l f    dr 
1/ 2
 2. f 
FEP    (8.19l)
  f .t f 

keterangan simbol:
αfo = koefisien perpindahan kalor untuk luar pipa [W/m2 K]
FRS = tingkat aliran standar (flow rate standard) [m3/s]
AFR = tingkat aliran udara (air flow rate) [kg/s]
ρs = kerapatan udara standar [kg/m3]
Ax = luas area antara pipa [m2]
P = jarak antarpipa (pitch) [m]
Pt = total jarak antarpipa [m]
Ni = jumlah pipa tiap baris
OWB = keseluruhan lebar berkas pipa (overal width bundle) [m]
NWe = lebar berkas pipa efektif (nominal width effective) [m]
Le = panjang pipa efektif [m]
L = panjang pipa [m]
Ag = luas area muka dari pendingin [m2]
FAR = nisbah perbandingan area muka (face area ratio)
Nf = jumlah sirip radial per satuan meter
df = diameter luar sirip [m]
tf = ketebalan sirip [m]
sf = jarak antarsirip radial [m]

164
FEP = parameter efisiensi sirip [m-1]
lfe = tinggi sirip ekuivalen [m]
lf = tinggi sirip [m]
λf = konduktifitas termal sirip [m]

Hilang Tekanan (ΔP)


Persamaan 8.20a berdasarkan rekomendasi dari Gianolio dan Cuti (1981) 6 yang hasil
eksperimennya menunjukkan bahwa hilang tekanan (pressure loss) tergantung pada
jenis aliran udara, apakah pergerakan udara adalah hasil dari dorongan kipas atau hasil
dari hisapan kipas.
2 f o m m2 N r
Po  (8.20a)

Untuk udara yang ditarik


1.54 0.3
 pt   At 
f o  16.36 Re  0.412
    (8.20b)
 dr   Ab 
Untuk udara yang didorong
f o  1.532 Re p0.25 (8.20c)
dengan
m m d p
Re p  (8.20d)

dh
d p 4
(8.20e)
   
0.5

 l   0. 4
 
 f   1
 
 2s    pt 1  

   d h   
 
  At  
  Ab d r 
dh    (8.20f)
 2l f N f  1 
 

dengan dp = diameter ekuivalen untuk pipa dengan sirip rapat [m]


dh = diameter ekuivalen untuk pipa dengan sirip rapat [m]
pt = jarak melintang antara pipa (transverse tube pitch) [m]

6
Saunders, E. A. D. 1988. Heat exchangers: selection, design & construction. London: Longman. (hlm.179)

165
At = luas area total bagian luar pipa dengan siripnya [m2]
Ab = luas area bagian luar pipa tanpa sirip [m2]

Sementara itu, untuk daerah sekitar kipas dan plenum, hilang tekanannya (ΔPp) adalah
Pp  K a u 2f (8.21)
dengan uf = kecepatan udara di sekitar kipas [m/s]
K = 0.06 untuk tipe udara yang didorong
K = 0.075 untuk tipe udara yang dihisap

8.5 Beda Suhu Rata-rata Logaritmik (LMTD)


Persamaan untuk mengetahui nilai LMTD (selisih suhu rata-rata logaritmik) untuk
APK dasarnya diambil dari APK tipe pipa-ganda. Dengan mempertimbangkan APK pipa-
ganda seperti terlihat pada Gambar 8.12, maka fluida kerjanya dapat mengalir dalam
aliran-sejajar maupun aliran-lawan arah, dan profil suhu untuk kedua kasus itu
ditunjukkan pada Gambar 8.13. Apabila kita akan menghitung perpindahan kalor
dengan susunan pipa-ganda seperti ini maka kalor yanga akan dipindahkan dapat
ditulis sebagai berikut.

q  UATm (8.22)
dengan U = koefisien perpindahan-kalor menyeluruh
A = luas permukaan perpindahan-kalor yang sesuai dengan definisi U
ΔTm = beda-suhu rata-rata yang tepat untuk digunakan dalam alat penukar kalor

Fluida B Fluida B

Fluida A Fluida A

1 2 1 2

(a) tipe aliran-sejajar (b) tipe aliran-lawan arah

Gambar 8.12 Penukar-kalor pipa-ganda

166
Fluida panas Th
Th1
Fluida panas Th
Th1
Th2
Tc1
dq Tc2 Th2

dA Fluida dingin Tc
Tc1 Fluida dingin Tc
Tc2

1 2 1 2

(a) tipe aliran-sejajar (b) tipe aliran-lawan arah

Gambar 8.13 Profil suhu dalam penukar-kalor pipa-ganda

Pemeriksaaan atas Gambar 8.13 menunjukkan bahwa beda-suhu antara fluida-


panas dan fluida-dingin pada waktu masuk dan pada waktu keluar tidaklah sama, dan
kita perlu menentukan nilai rata-rata untuk digunakan dalam persamaan 8.22. Untuk
penukar-kalor aliran-sejajar seperti pada Gambar 8.13, kalor yang dipindahkan melalui
unsur luas dA dapat ditunjukkan sebagai:

dq  m
 h ch dTh  m
 c cc dTc (8.23)
dengan subskrip h dan c masing-masing menandai fluida-panas dan fluida-dingin.
Perpindahan kalor dapat pula dinyatakan sebagai

dq  U Th  Tc dA (8.24)

Dari persamaan 8.23 didapat:


 dq
dTh 
m c c h
dq
dTc 
m c cc
dengan m menunjukkan laju aliran-massa dan c adalah kalor spesifik fluida. Jadi,

 1 
dTh  dTc  d Th  Tc   dq
1
  (8.25)
 m h c h m c cc 

167
Jika dq diselesaikan dari persamaan 8.24 dan disubsitusikan ke dalam persamaan
8.23, maka didapatkan persamaan berikut:

d Th  Tc   1 1 
 U   dA (8.26)
Th  Tc  m h ch m c cc 

Persamaan diferensial ini dapat diintegrasikan antara kondisi 1 dan kondisi 2 seperti
pada Gambar 8.12. Hasilnya adalah

Th 2  Tc 2  1 1 
ln  UA   (8.27)
Th1  Tc1  m h ch m c cc 

Kembali ke persamaan 8.23, hasil-kali m c cc dan m h ch dapat dinyatakan dalam


perpindahan-kalor total q dan beda-suhu menyeluruh antara fluida-panas dan fluida-
dingin. Jadi,
q
m h ch 
Th1  Th 2
q
m c cc 
Tc 2  Tc1
Jika kedua hubungan di atas disubsitusikan ke dalam persamaan 8.27 memberikan
Th 2  Tc 2   Th1  Tc1 
q  UA (8.28)
lnTh 2  Tc 2  / Th1  Tc1 
Jika persamaan 8.28 dibandingkan dengan persamaan 8.22, terlihat bahwa beda suhu
rata-rata merupakan pengelompokan suku-suku dalam kurung. Jadi,

Th 2  Tc 2   Th1  Tc1 


Tm  (8.29)
lnTh 2  Tc 2  / Th1  Tc1 

Beda-suhu ini disebut beda-suhu rata-rata log (LMTD). Dengan kata-kata, ialah
beda-suhu pada satu ujung penukar kalor dikurangi beda suhu pada ujung yang satu lagi
dibagi dengan logaritma alamiah, bukannya perbandingan kedua beda-suhu tersebut.
Persamaan 8.29 ini bisa digunakan untuk mencari LMTD pada penukar kalor tipe aliran-
sejajar ataupun tipe aliran-lawan arah.

168
Akan tetapi, penurunan LMTD di atas menyangkut dua pengandaian: (1) kalor
spesifik fluida tidak berubah menurut suhu, dan (2) koefisien perpindahan kalor
konveksi tetap, untuk seluruh penukar kalor. Pengandaian yang kedua ini biasanya
sangat penting karena ada pengaruh pintu-masuk, viskositas fluida, perubahan
konduktivitas termal, dan sebagainya. Biasanya untuk memberikan koreksi atas
pengaruh-pengaruh tersebut perlu digunakan metode numerik.
Jika suatu penukar kalor yang bukan jenis pipa-ganda digunakan, perpindahan
kalor dihitung dengan menerapkan faktor koreksi terhadap LMTD untuk susunan pipa-
ganda aliran-lawan arah dengan suhu fluida panas dan suhu fluida dingin yang sama.
Bentuk persamaan perpindahan kalor menjadi:

q  UAFTm (8.30)

Bila terdapat perubahan fase, seperti kondensasi atau penguapan, fluida


biasanya berada pada suhu yang pada hakikatnya tetap, dan persamaan-persamaan itu
menjadi lebih sederhana. Untuk kondisi tersebut maka faktor koreksi terhadap LMTD
sama dengan 1.
Sementara itu, untuk penukar kalor ACHE, bisa digunakan persamaan pencari
faktor LMTD untuk alat penukar kalor yang memakai komponen dasar seperti Gambar
8.14.

Fluida dingin (udara)


m , cp, t1

Fluida panas
M , Cp, T1 T2 Ly

Lx

t2

Gambar 8. 14. Penukar kalor pipa dengan sirip radial

169
Persamaan faktor LMTD (F) untuk ACHE:

 1 P 
ln  
F 1  RP  (2.31a)
R  1ln  R 

 R  ln 1  RP 
t 2  t1
dengan P  (2.31b)
T1  t1

T1  T2
R (2.31c)
t 2  t1

Referensi

Kakac S. and Liu H., 2002, Heat exchangers selection, rating and thermal design, 2nd ed. CRC press
Saunders, E. A. D. 1988. Heat exchangers: selection, design & construction. London: Longman.
Shah, R. K. 1983, Compact heat exchanger surface selection optimization and computer-aided thermal
design, in Low Reynold Number Flow Heat Exchanger, edited by S. Kakac, R. K. shah and A. E.
Berles, pp. 845-874, Hemisphere Publishing Corp. Washington, DC.
Shah, R. K., and Seculic D.P, 2003, Fundamental of Heat exchanger Design, John Willey & Son.
TEMA, 199, Standarad of the Tubular Exchanger Manufactur Association, 8th ed. Tubular Exchanger
Masnufacturers Association, New York.
Thelkeld, J. L. 1970. Thermal Environmental Engineering 2nd Ed. London: Prentice Hall. (hlm. 238–
239).

170
9.1 SEJARAH PIPA KALOR
Konsep pipa kalor (heat pipe) pertama kali dimulai oleh A. M. Perkins dan J.
Perkins pada pertengahan 1800-an [1,2]. Dalam patennya disebut sebagai pipa parkins
yang dipakai untuk menghantarkan kalor dari tungku menuju boiler. Pipa tersebut
dikembangkan kembali oleh F.W. Gay pada tahun 1929 dan lebih dikenal sebagai
termosifon. Pipa pemindah kalor terus dikembangkan, hingga pada tahun 1942 oleh
R.S. Gaugler dari General Motor Corp [3] ketika pipa kalor sebagai pipa pemindah kalor
dipatenkan. Konsep yang diperkenalkan oleh Gauler mengenai pipa kalor adalah adanya
struktur sumbu (wick) yang memudahkan cairan dari kondenser ke evaporator dengan
prinsip kapilaritas sumbu. Kemudian pipa kalor didemonstrasikan pertama oleh George
Grover di Los Alamos National Laboratory pada tahun 1963 dan diumumkan pada jurnal
fisika tahun 1964.
Seiring penelitian Grover di Los Alamos National Labolatory, pada saat yang sama
Bainton di Labolatorium Energi Atom Inggris melakukan percobaan yang sama
mengenai pipa kalor [4]. Percobaan tersebut diaplikasikan untuk penggunaan pada
converter diode nuclear thermionic, yang berkerja sama dengan Nuclear Research
Centre, Ispra, Italy. Pekerjaan di Ispra tersebut menjadi pusat pengembangan pipa kalor
terbesar di luar Amerika [5,6]. Ispra sangat aktif mengembangkan pipa kalor dengan
mengkaji aplikasi teori pipa kalor Cheung [7] dan mampu menerbitkan 80 makalah
tentang pengembangan pipa kalor.
Kemudian RCA sebagai perusahaan di Amerika Serikat yang pertama melakukan
penelitian dan pengembangan pipa kalor untuk aplikasi komersial tepatnya pada tahun
1964 dan 1966 [8,9]. Perusahan tersebut mengembangkan material pipa kalor
menggunakan kaca, tembaga, nikel, baja tahan karat, moliybdenum, dan TZM
molibdenum sebagai material dinding pipa kalor. Termasuk juga fluida yang diragamkan
seperti air, sesium, natrium, litium, dan bismut dengan suhu yang mampu dipindahkan
oleh pipa kalor mencapai 1650 oC. Tidak semua penelitian pipa kalor pada waktu

171
tersebut difokuskan untuk suhu operasi yang tinggi. Pada suhu rendah, Deverall dan
Kemme [10] mengembangkan pipa kalor untuk aplikasi satelit dengan air sebagai fluida
kerja, dan penelitian pertama untuk pipa kalor dengan ragam konduktansi yang
digunakan untuk aplikasi satelit [11].
Selama tahun 1964 NASA juga sangat berperan dalam pengembangan pipa kalor
dengan dana besar untuk penelitian aplikasi ruang kendali di luar angkasa. Penelitian
NASA saat itu menghasilkan sebuah sistem perpindahan kalor dengan bobot rendah,
fluks kalor tinggi, dan energi yang rendah. Hal lain yang luar biasa dari pipa kalor ini
adalah sistem yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan dengan gravitasi nol [12]. Teori
pipa kalor berkembang dengan baik dan banyak dihasilkan oleh Cotter [13] yang
berkerja di Los Alamos Scientific Laboratory.
Setelah percobaan pipa kalor pertama di ruang angkasa pada tahun 1967 [14],
penggunaan selanjutnya untuk pengendali satelit termal yang berada di satelit GEOS-B.
Satelit itu diluncurkan dari Vandenburg Air Force pada tahun 1968 [15]. Dua pipa kalor
yang digunakan terletak seperti ditunjukkan pada Gambar 9.1. Pipa kalor tersebut
dibentuk menggunakan material paduan aluminium 6061 T-6, dengan wick screen mesh
almunium 120 mesh. Fluida kerja yang digunakan adalah Freon 11. Tujuan dari pipa
kalor tersebut untuk mengurangi perbedaan suhu antara berbagai transponder di luar
satelit.

Gambar 9.1 Pipa kalor yang digunakan di luar angkasa GEOS-B satellite [17].

172
Pada tahun 1967 dan 1968 Feldman, Eastman, & Katzoff mengembangkan
aplikasi pipa kalor untuk alat-alat komersial seperti pada AC, pendingin motor bakar, dan
pendingin elektronik [16-18]. Publikasinya juga pada tahun 1969 memperkenalkan
konsep pipa kalor rotasi yang digunakan pada pendingin dan turbin kriogenik.
Dimulai pada tahun 1980-an SonyTM mulai menggunakan pipa kalor sebagai
sistem pendinginan untuk beberapa produk komersial pada komponen elektronik seperti
pendingin tuner dan audio amplifier [19]. Hingga pada tahun 1990-an penggunaan pipa
kalor menyebar ke komponen-komponen elektronik yang memerlukan penyerapan fluks
kalor tinggi seperti mikroprosesor pada CPU, sehingga mengakibatkan peningkatan
jumlah paten mengenai pipa kalor hingga tiga kali lipat.

9.2 CIRI KERJA PIPA KALOR


Cara kerja pipa kalor ialah ketika cairan dalam pipa menguap, maka cairan
menyerap kalor laten penguapan [20]. Perbedaan tekanan antara evaporator dan
kondenser menyebabkan uap mengalir melewati daerah adiabatik menuju kondenser
yang mempunyai suhu lebih rendah. Di sini uap mengalami pelepasan kalor laten
penguapan, dan mengkondensi membentuk fase cair. Kemudian sumbu mengembalikan
cairan tersebut menuju evaporator menggunakan prinsip kapilaritas hingga siklus
terbentuk terus menerus dengan sendirinya. Pipa kalor terdiri atas tiga bagian utama
seperti pada Gambar. 9.2. Evaporator (peng-uap; vapor=uap) yang berada pada salah
satu ujungnya menyerap kalor dan menguapkan cairan; kemudian kondenser (peng-
embun) yang terletak pada ujung lainnya mengembunkan uap dan melepaskan kalor;
dan terakhir bagian adiabatik yang terletak di antara keduanya. Adiabatik adalah
keadaan yang tidak ada (atau sangat kecil, dapat diabaikan) perpindahan kalor ke atau
dari lingkungan sekitarnya.

Gambar 9.2 Skema cara kerja pipa kalor

173
9.2.1 Pengaruh Tegangan Permukaan
Semua fluida pada dasarnya mempunyai tegangan permukaan. Tegangan
permukaan merupakan gaya yang diakibatkan oleh suatu benda yang bekerja pada
permukaan zat cair sepanjang permukaan yang menyentuh benda tersebut. Gaya
yang berkerja ditentukan oleh gaya kohesi dan adhesi. Kohesi adalah
kecenderungan molekul cairan untuk tetap bersatu, sementara adhesi adalah
kecenderungan molekul zat cair untuk mengikat diri dengan molekul padat.
Cairan dikatakan mampu membasahi permukaan padatan ketika gaya
adhesif lebih besar daripada gaya kohesif atau disebut juga sebagai gejala cairan
pembasah (wetting liquid). Seperti pada Gambar 9.3, sudut kontak fluida kurang
dari 90o terhadap permukaan sentuh. Ketika gaya kohesif lebih dominan daripada
gaya adhesif, cairan disebut fluida cairan non-pembasah (non-wetting liquid),
dengan sudut kontak lebih besar dari 90o.

Øls
Øls

Wetting Liquid Non-Wetting Liquid


Øls > 90o Øls < 90o

Gambar 9.3 Daya pembasahan (wettability cairan)[22]

Dari Gambar 9.3 besarnya tegangan permukaan dapat diukur dengan


radius kelengkungan. Nisbah antara energi pada tekanan permukaan dan radius
kelengkungan sebanding dengan beda tekanan, ΔP, seperti yang diilustrasikan
pada Gambar 9.4.

σ P2
P1

σ
R
σ

Gambar 9.4 Beda tekanan sepanjang permukaan fluida

174
Ketika dalam keadaan setimbang (tidak ada lagi pergerakan) tekanan
permukaan sekeliling kelengkungan fluida dirumuskan sebagai yang harus
sama dengan gaya total yang diterima permukaan sentuh atau disebut sebagai
beda tekanan pada permukaan sentuh, dengan atau .
(9.1)
Analisis lain mengenai tegangan permukaan adalah hubungannya dengan
suhu. Tegangan permukaan berkurang ketika suhunya bertambah [23]. Percobaan
Jasper mengenai hubungan antara tekanan permukaan dan suhu mentabulasikan
lebih dari 200 jenis zat cair dan menghasilkan rumus:
(9.2)
dengan adalah suhu pereduksi, dan nilainya , , B=235,8
m/Nm, b = 0,625, .
Pada perancangan pipa kalor, tingginya nilai tegangan permukaan
dibutuhkan untuk melawan gaya gravitasi pada orientasi pipa kalor di mana aliran
fase cairnya berada saat berlawanan arah dengan gaya gravitasi; selain itu
tegangan permukaan mampu meningkatkan daya kapilaritas. Selain tegangan
permukaan tinggi, diperlukan daya pembasahan fluida terhadap sumbu. Artinya
sudut kontak harus nol, atau setidaknya sangat kecil. Meskipun dengan
penambahan zat aditif yang dapat meningkatkan kinerja pipa kalor, misalnya
dengan penambahan sejumlah kecil alkohol rantai panjang pada fluida kerja pipa
kalor [24], praktik semacam ini tidak dianjurkan umumnya karena zat aditif akan
cenderung tertinggal ketika fluida berubah fase.

9.2.2 Pengaruh Kapilaritas


Kapilaritas adalah kemampuan menahan perbedaan tekanan antarcairan
dengan gas atau uap dalam sebuah struktur berongga [25]. Kapilaritas berperan
dalam perpindahan kalor pada pipa kalor dengan membuat sebuah mekanisme
otomatis mensirkulasikan fluida yang ada di dalam pipa kalor. Besarnya perbedaan
tekanan di evaporator dengan kondenser yang dapat dipertahankan menyebabkan
tekanan kapilaritas dapat berlangsung berkesinambungan. Pada pipa kalor, ketika
daya kapilaritas bertanggung jawab terhadap sirkulasi fluida, maka pemilihan fluida
kerja berdasarkan sifat pembasahan dan non-pembasahan perlu dipertimbangkan.

175
Meskipun pada teorinya fluida non-pembasahan dapat digunakan pada semua
jenis pipa kalor, pipa kalor dengan fluida kerja dengan non-pembasahan
mempunyai kapilaritas lebih baik.
Kapilaritas mengakibatkan bertambahnya ketinggian fluida pada cairan
pembasah ketika pipa kaca yang dicelupkan ke dalam cairan seperti yang
diilustrasikan pada Gambar 9.5, dan penurunan ketinggian dapat dilihat jika pipa
dimasukan ke dalam cairan non-pembasah. Dengan demikian, gejala kapilaritas
pipa tersebut dapat dianalogikan sebagai media berpori (porous media) pada
struktur sumbu pipa kalor.
r r

Wetting Non-Wetting
Liquid Liquid

Gambar 9.5 Kapilaritas pada pipa dengan cairan pembasah dan cairan non-
pembasah

Tekanan pada permukaan cairan yang berada di luar pipa sama dengan
tekanan yang berada di dalam pipa meskipun ketinggiannya berbeda. Tekanan
tersebut dapat disamakan sebagai tekanan atmosfer Pa. Cairan yang berada pada
puncak pipa mempunyai tekanan Pl yang lebih tinggi daripada cairan yang berada
pada dasar pipa, berdasarkan tekanan hidrostatik, sehingga
(9.3)
Tekanan hidrostatis di dalam pipa sebanding dengan komponen tegangan
permukaan fluida pada jarak radius pipa r dengan sudut kontaknya , sehingga

(9.4)

Persamaan 9.4 merupakan tekanan kapilaritas maksimum pada pipa. Jika


dihubungkan dengan tegangan permukaan fluida pada ketinggian pipa, h
dirumuskan sebagai

176
(9.5)
Bahasan di atas menunjukkan bahwa penurunan tekanan hidrostatis dapat
digantikan dengan kenaikan takanan kapilaritas. Tekanan kapilaritas juga dapat
digunakan untuk menggantikan penurunan tekanan akibat tekanan dinamik ketika
cairan melewati sumbu. Contohnya ketika sumbu berpori horizontal dicelupkan ke
dalam fluida cair dan ujung yang lain dipanaskan, maka cairan akan mengalir
menuju bagian yang dipanaskan.
Tabel 9.1 menunjukkan daya kapilaritas yang sangat nyata terjadi pada pipa
pembuluh yang dicelupkan pada air yang dibandingkan dengan merkuri.

Tabel 9.1 Perbedaan kapilaritas fluida

Tekanan kapilaritas Ketinggian pipa


Fluida Jari-jari pipa (m)
(N/m2) (m)

Air 0,00508 28,7 0,0293


0,0000508 2870 0,293
Merkuri 0,00508 -168 -0,0126
0,0000508 -16,8 -0,126

Prosedur untuk merancang pipa kalor diuraikan pada Gambar. 9.6. Seperti
halnya proses desain, banyak keputusan yang harus dilakukan dan saling terkait.
Sebagai contoh, pemilihan sumbu dan fluida kerja agar kapilaritas dapat bekerja.
Jika desain kemudian membuktikan ketidakmampuan fluida untuk menghantarkan
kalor maka perlu dpertimbangkan kembali pilihan material-material penyusun pipa
kalor.

177
Parameter perancangan heatpipe :
- Geometri
- Temperatur Operasi
- Heat flux
- Orientasi

Memilih material komponen :


- Kecocokan dengan fluida
- Kecocokan dengan lingkungan

Memilih fluida kerja :


- Berdasarkan Merit Number
- Temperatur kerja Maksimum dan minimum

Memilih tipe wick, ukuran dan meterial


- Mampu memenuhi kapilaritas head yang
dibutuhkan
- Material yang cocok untuk jenis fluida dan
casing

Menghitung batasan operasi


- Batas kerja wick
- Batas Enrtraintment
- Batas Pendidihan
- Batas Sonic
- Batas Viscous

QMAX > Q?

Mengevaluasi hambatan panas :


Th-Tf = f(Q)

Kinerja
Mencukupi ?

Selesai

Gambar 9.6 Prosedur perancangan pipa kalor

Sejumlah besar metode untuk mengukur tegangan permukaan dan


kapilaritas cairan dijelaskan dalam buku ajar umumnya [27,28]. Pengukuran
tegangan permukaan dan kapilaritas yang akan dilakukan ialah pada kombinasi

178
ukuran permukaan gaya pipa kapiler, Pengukuran yang paling sederhana adalah
kenaikan h dalam pipa/pipa kapiler pada Gambar 9.5, yaitu
(9.6)

Dalam desain pipa kalor, perlu juga diketahui jari-jari efektif pori r, karena
jari-jari efektif adalah salah satu parameter yang digunakan untuk menggambarkan
kenaikan tekanan sebagai penggerak cairan [29,30]. Memang tidak mudah
memperkirakan jari-jari efektif seperti pada wick sintered powder karena besarnya
jari-jari tidak seragam.

9.3 FLUIDA KERJA


Pertimbangan pertama dalam mencari fluida kerja yang cocok dalam sebuah pipa
kalor adalah rentang suhu kerja fluida, yang dapat dilihat dari Tabel 9.2. Untuk memilih
fluida kerja yang tepat pada pipa kalor, beberapa kriteria di antaranya adalah :
1) Kecocokan antara sumbu dan material dinding
2) Mempunyai stabilitas termal yang baik
3) Mempunyai keterbasahan yang baik dengan sumbu
4) Tekanan uap tidak terlalu tinggi atau tidak terlalu rendah sesuai dengan rentang
suhu kerja.
5) Mempunyai kalor laten tinggi
6) Mempunyai konduktivitas termal tinggi
7) Mempunyai kekentalan rendah saat fase uap maupun cairan
8) Mempunyai tekanan permukaan tinggi.
Struktur sumbu dalam pipa kalor harus mampu mengalirkan cairan untuk
mengalir dari kondenser menuju evaporator. Ketebalan lapisan sumbu mempengaruhi
keseimbangan aliran dua fase dalam pipa kalor karena tekanan kapilaritas dalam
sumbu dibutuhkan untuk memompa cairan dari ujung yang satu ke ujung lainnya [31].
Dalam pipa kalor, daya kapilaritas maksimum (∆Pc) pada sumbu harus lebih besar atau
sama dengan penjumlahan seluruh jatuh tekanan untuk memastikan bahwa kedua fase
tersebut dapat mengalir.
 Jatuh tekanan cairan yang dibutuhkan untuk berpindah dari kondenser menuju
evaporator melalui sumbu (∆Pl);
 Jatuh tekanan dari uap yang dibutuhkan untuk menggerakkan fluida uap dari
evaporator menuju kondenser (∆Pv);
 Tekanan hidrostatik akibat gravitasi (∆Pg).
179
Dan tekanan-terkanan tersebut dapat dirumuskan secara matematik:
(9.7)
Persamaan di atas mengacu pada batas kapilaritas sumbu dan pembatasan yang
jelas pada panas yang mampu dialirkan oleh pipa kalor bergantung pada fluida yang
digunakan untuk rentang panas tertentu seperti pada Tabel 9.2. Apabila suatu kondisi
melebihi dari batas kemampuan pipa kalor maka sumbu tidak mampu lagi untuk
mengembalikan cairan menuju evaporator, hingga akhirnya evaporator mencapai titik
paling kering yang menyebabkan evaporator kelebihan panas pada pipa kalor [33].

Table 9.2. Fluida kerja pada pipa kalor


Titik didih pada
Fluida Titik leleh (oC) Suhu operasi (°C)
tekanan atm (°C)
Helium -271 -261 -271 s.d. -269
Nitrogen -210 -196 -203 s.d. -160
Amonia -78 -33 -60 s.d. 100
Aseton -95 57 0 s.d. 120
Metanol -98 64 10 s.d. 130
Flutec PP2 -50 76 10 s.d. 160
Etanol -112 78 0 s.d. 130
Air 0 100 30 s.d. 200
Toluena -95 110 50 s.d. 200
Merkuri -39 361 250 s.d. 650
Natrium 98 892 600 s.d. 1200
Litium 179 1340 1000 s.d. 1800
Perak 960 2212 1800 s.d. 2300

Jika struktur sumbu mengantarkan cairan secara sempurna (merata), maka daya
kapilaritas dari sebuah pori-pori sumbu sama halnya dengan persamaan 9.1 pada
pengujian beda tekanan menggunakan pipa (kolom) sehingga dapat dituliskan
menggunakan persamaan Young-Laplace:
(9.8)

Dengan merata-ratakan geometri pori maka persamaan menjadi


(9.9)

180
dengan adalah tekanan permukaan, dan adalah jari-jari efektif pori. Tekanan pada

cairan dibutuhkan untuk mendorong cairan dari kondenser menuju evaporator


melalui sumbu yang dinyatakan dengan[34]:
(9.10)

dengan, adalah viskositas dinamik dari fluida, adalah fluks massa dari cairan dan
diketahui dari adalah kalor laten dari penguapan cairan. dapat

dikatakan sebagai panjang efektif dari panjang pipa kalor. adalah densitas cairan,
adalah luas penampang sumbu, dan K adalah permeabilitas sumbu.
Sementara itu, untuk jatuh tekanan pada uap ( ) dapat disamakan dengan pipa
kalor konvensional dengan menganggap aliran yang terjadi bersifat laminar [35].

(9.11)

dengan adalah viskositas dinamik uap, adalah fluks massa uap, adalah massa
jenis uap dan adalah radius butiran uap.
Tekanan hidrostatik ( ) dapat bernilai positif, negatif, atau nol bergantung pada
orientasi penempatan pipa kalor. Tekanan hidrostatis dirumuskan sebagai:

(9.12)

dengan adalah densitas cairan, g adalah percepatan gravitasi sedangkan adalah


panjang total dari pipa kalor dan menunjukkan sudut penempatan pipa kalor dengan
sumbu bidang horizontal. Dengan demikian, dari persamaan-persamaan di atas
diperoleh suatu hubungan.

(9.13)

Dari persamaan di atas, terbukti bahwa metode yang paling efektif untuk
menambah maksimum kalor masuk tanpa menyebabkan melewati batas kapilaritas
adalah dengan mengurangi radius efektif pori sumbu ( ) dan menambah

permeabilitas cairan K. Dengan begitu, penambahan batas kalor maksimum yang


masuk pipa kalor dapat berpengaruh pada peningkatan konduktivitas termal ( ) dari

pipa kalor, mengingat


(9.14)

181
Batasan kerja fluida
Untuk merancang fluida kerja pada pipa kalor, ada beberapa rentang suhu bagi
fluida untuk dapat beroperasi. Suhu operasi ini ditentukan oleh batas perpindahan
panas dari pipa kalor terhadap laju perpindahan kalornya. Pada laju perpindahan kalor
yang rendah, rentang suhu operasi bisanya rendah, dengan batas atas suhu adalah titik
didih fluida dan batas sonik. Rentang suhu operasi fluida akan mengecil seiring dengan
laju perpindahan kalor bertambah. Pada laju perpindahan kalor tinggi, rentang suhu
operasi dibatasi oleh penghentian daya kapilaritas yang sama dengan permulaan
terjadinya entrainment (pengiringarusan), atau ketika permulaan sonik.
Jika batas suhu bawah ditentukan oleh batas sonik, maka pipa kalor yang bekerja
di bawah batas suhu ini tidak akan berfungsi (kapilaritas tidak bekerja). Batas bawah ini
dapat direndahkan lagi jika laju perpindahan kalor dikurangi.
Laju perpindahan kalor akhirnya akan mencapai titik ketika rentang suhu
maksimum, dan dilambangkan sebagai T (Qmax) seperti pada Gambar 9.7 pada titik
maksimum dari perpindahan kalor dilambangkan sebagai Qmax. Sebaliknya, setiap
usaha yang dilakukan untuk menggunakan pipa kalor sebelum Qmax dan di bawah
T(Qmax) maka pipa kalor tidak akan bekerja. Batasan kerja fluida dirumuskan oleh Dunn
[32], dan Babin et al. [36] dalam:

Batasan sonik:

Batasan entrainment

Batasan pendidihan (titik didih atau dry out limit)

Batasan viskos:

182
Batas daya Batas
kapilaritas Entrainment

Batas
T(Qmax) Pendidihan
Temperatur

T(Qmax) Batas
Sonic

Qmax Q
Kecepatan Perpindahan panas

Gambar 9.7 Batasan fluida kerja

Dalam beberapa penelitian pipa kalor, selain fluida dasar yang digunakan
sebagai fluida kerja, nanofluida juga digunakan untuk memberikan hasil koefisien
perpindahan kalor yang lebih baik. Nanofluida adalah fluida dengan tambahan partikel
berukuran nano (1 x 10-9 m) atau disebut juga nanopartikel. Nanofluida mempunyai
sifat-sifat baru, sifat-sifat tersebut adalah gabungan antara sifat nanopartikel dan sifat
fluida dasarnya. Sifat nanopartikel yang mempunyai koduktivitas termal yang lebih baik
karena unsur utamanya adalah logam. Sejak diteliti pertama kali oleh Lee et.al [37],
nanofluida mampu meningkatkan konduktivitas termal dari fluida dasarnya.
Pada nanofluida, fluida dapat menyatu dengan partikel nano dengan suspensi
koloid. Koloid merupakan suatu bentuk campuran dua atau lebih zat yang bersifat
homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1-100 nm),
sehingga terkena efek Tyndall. Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak
terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya, sehingga sulit
untuk terjadi pengendapan. Sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan, namun tidak
dimiliki oleh campuran biasa. Koloid yang umum dalam kehidupan sehari-hari, beberapa
contoh termasuk krim kocok, mayones, susu, mentega, gelatin, jelly, air berlumpur,
plesteran, kaca berwarna, dan kertas.
Koloid dapat dibuat dari hampir setiap kombinasi gas, cair, dan padat. Partikel
koloid yang dibuat disebut material terdispersi. Koloid terdiri atas partikel padat

183
terdispersi dalam gas disebut asap. Sementara itu, partikel cair terdispersi dalam gas
disebut sebagai aerosol (kabut).
Partikel nano yang digunakan pada nanofluida bisanya partikel logam, oksida,
karbida, atau carbon nanotubes. Fluida dasar yang digunakan dapat berupa air atau
etilena glikol maupun fluida kerja yang sesuai dengan rentang kerja fluida seperti pada
Tabel 9.3. Namun, tidak semua parikel nano dapat disatukan dengan semua jenis fluida
dasar karena ada berapa jenis zat yang bersifat hidrofobik seperti partikel ZnO dengan
etilena glikol.

9.4 STRUKTUR SUMBU


Pemilihan sumbu pada pipa kalor bergantung pada banyak faktor, beberapa faktor
sangat erat hubungannya dengan fluida kerja. Tujuan utama penggunaan sumbu adalah
menghasilkan tekanan kapilaritas untuk menghantarkan cairan dari kondenser menuju
evaporator. Selain itu juga sumbu harus mampu mendistribusikan cairan sekitar area
evaporator ke berbagai area di mana panas kemungkinan akan diterima oleh pipa kalor.
Kapilaritas head maksimum dapat dihasilkan sumbu dengan cara memperkecil
ukuran pori. Di lain hal, nilai permeabilitas akan menurun jika ukuran pori diperkecil,
namun demikian untuk sumbu homogen ada ukuran pori yang optimum. Cara lain untuk
memaksimumkan kapilaritas head adalah dengan ketebalan sumbu, kemampuan
mengalirkan panas pada pipa kalor meningkat saat menambah ketebalan sumbu [38].
Namun, penambahan ketebalan sumbu akan menambah hambatan kalor dari sumber
kalor ke dalam pipa kalor sehingga fluks kalor tidak dapat diserap secara maksimum.
Jumlah total hambatan kalor pada evaporator juga bergantung pada konduktivitas
fluida kerja pada sumbu. Tabel 9.3 memberikan nilai pengukuran dari fluks panas
evaporator untuk berbagai jenis kombinasi fluida kerja. Hal lain yang penting dari sumbu
adalah kecocokan dengan fluida kerja dan keterbasahannya. Sumbu juga harus mudah
dibentuk dengan dinding dalam pipa kalor dan memungkinkan untuk dapat digunakan
pada pipa kalor berulang-ulang dan dalam jangka waktu yang lama.
Serat karbon juga dapat dipakai sebagai material sumbu. Filamen serat karbon
banyak mempunyai alur-alur longitudinal pada permukaannya dan mempunyai tekanan
kapilaritas yang besar. Pipa kalor menggunakan sumbu serat karbon telah banyak diteliti
termasuk sumbu serat karbon untuk aplikasi pipa kalor panjang hingga 100 m [39].
Kemampuan memindahkan kalor sumbu serat karbon telah ditunjukkan dan
membuktikan bahwa sumbu serat karbon memindahkan kalor tiga kali lebih baik

184
daripada sumbu mesh logam. Penggunaan serat karbon harus diperkuat agar mampu
menempel pada dinding, pengembangan serat karbon sebagai sumbu pipa kalor banyak
diaplikasikan pada peralatan-peralatan luar angkasa [40,41].
Tebel 9.3 Fluks kalor evaporator untuk berbagai jenis kombinasi fluida kerja
Fluks kalor rata-
Fluida kerja Sumbu Suhu uap (oC)
rata (W/cm2)

Helium s/s mesh −269 0.09


Nitrogen s/s mesh −163 1.0
Amonia beragam 20–40 5–15
Etanol 4×100 mesh s/s 90 1.1
Metanol nikel foam 25–30 0.03–0.4
Metanol nikel foam 30 0.24–2.6
Metanol 1×200 mesh (horiz.) 25 0.09
Metanol 1×200 mesh 25 0.03
(−2_5 cm head)
Air Bervariasi 140–180 25–100
Air Mesh 90 6.3
Air 100 mesh s/s 90 4.5
Air nikel felt 90 6.5
Air sintered copper 60 8.2
Merkuri s/s mesh 360 180
Kalium s/s mesh 750 180
Kalium Beragam 700–750 150–250
Natrium s/s mesh 760 230
Natrium Beragam 850–950 200–400
Natrium 3×65 mesh s/s 925 214
Natrium 508×3600 mesh s/s 775 1250
twill
Litium niobium 1% zirkonium 1250 205
Litium niobium 1% zirkonium 1500 115
Litium SGS-tantalum 1600 120
Litium W-26 Re grooves 1600 120
Litium W-26 Re grooves 1700 120
Perak Tantalum 5% wolfram - 410
Perak W-26 Re grooves 2000 155

9.4.1. Struktur Sumbu Homogen


Bentuk pori sumbu yang homogen terdapat pada adalah screen kawat kasa dan
kasa. Jenis ini banyak diproduksi dalam berbagai ukuran pori maupun material yang
digunakan, termasuk baja tahan karat, nikel, baja, tembaga, dan almunium.
Tabel 9.4 menunjukkan ukuran pori dan nilai permeabilitas dari jenis-jenis mesh dan
kasa.

185
Tabel 9.4 Ukuran pori sumbu dan permeabilitas
Material dan ukuran Head Radius Permeablitas Porositas
mesh kapilaritas1 pori (cm) (m2) (%)
(cm)
Serat kaca 25.4 - 0,061×10−11 -
Refrasil sleeving 22.0 - 0,104×10−10 -
Refrasil (bulk) - - 0,18×10−10 -
Refrasil (batt) - - 1,00×10−10 -
Manik-manik monel
30–40 14,6 0,0522 4,15×10−10 40
70–80 39,5 0,0192 0,78×10−10 40
100–140 64,6 0,0132 0,33×10−10 40
140–200 75,0 0,009 0,11×10−10 40
Felt logam
FM1006 10,0 0,004 1,55×10−10 -
FM1205 - 0,008 2,54×10−10 -
Serbuk nikel
200 µ 24,6 0.038 0,027×10−10 -
500 µ >40,0 0.004 0,081×10−11 -
Serat nikel
0.01 mm dia >40,0 0,001 0,015×10−11 68,9
Felt nikel - 0,017 6,0×10−10 89
Busa nikel -
Ampornik 220.5 - 0,023 3,8×10−9 96
Serbuk tembaga
(sintered) 156,8 0,0009 1,74×10−12 52
Serbuk tembaga
(sintered)
45−56 µ - 0,0009 - 28,7
100−145 µ - 0,0021 - 30,5
150−200 µ - 0,0037 - 35
Nikel 50 4,8 - - 62,5
Nikel 50 0,0305 6,635×10−10 -
Tembaga 60 3,0 - 8,4×10−10 -
Nikel 60 - 0,009 -
100 - 0,0131 1,523×10−10 -
100 - - 2,48×10−10 -
120 5,4 - 6,00×10−10 -
1203 7,9 0,019 3,50×10−10 -
25×120 - - 1,35×10−10 -
120 - - 1,35×10−10 -
S/s 180 (22 oC) 8,0 - 0,5×10−10 -
2×180 (22 oC) 9,0 - 0,65×10−10 -
200 - 0.0061 0,771×10−10 -
200 - - 0,520×10−0 -
Nikel 200 23,4 0.004 0,62×10−10 68,9
2×200 - - 0,81×10−10 -
Phosp./bronze 200 - 0.003 0,46×10−10 67
Titanium 2×200 - 0.0015 - 67
4×200 - 0.0015 - 68,4
250 - 0,302×10−10 -
Nikel3 2×250 - 0.002 - 66,4
4×250 - 0.002 - 66,5
325 - 0.0032 - -
Phosp/bronze - 0.0021 0,296×10−10 67

186
S/s (twill) 804 - 0.013 2,57×10−10 -
904 - 0.011 1,28×10−10 -
1204 - 0.008 0,79×1 -
250 - 0.0051 - -
270 - 0.0041 - -
400 - 0.0029 - -
450 - 0.0029 - -

1 Dalam tinggi kolom air .


2 Diameter partikel.
3 telah dioksidasi.
4 Permeabilitas diukur dalam arah bengkok.
5 Menunjukkan jumlah lapisan.

Polimer telah diusulkan untuk digunakan sebagai material dinding pada pipa kalor
dan sumbu. Pengunaannya ditujukan untuk fleksibilitas atau kelenturan, sehingga dapat
dipasang pada semua kondisi geometri sumber kalor. Pada aplikasi pipa kalor melingkar
(Loop Heat pipes) porositas spesifik dan ukuran pori tertentu dibutuhkan untuk
meningkatkan daya kapilaritas secara ekstrem. Beberapa material polimer seperti
keramik, polietilena digunakan memindahkan fluks kalor yang besar hingga 10.000
W/m2K dari evaporator, seperti yang dilakukan oleh Figus dan sejawatnya di Astrium
SAS, Prancis. Pada mulanya pori sumbu dari polimer tersebut dibuat sangat kecil untuk
meningkatkan kapilaritas, namun pori yang terlalu kecil kenyataannya memperkecil
permeabilitasnya pula.

9.4.2. Jenis Sturktur Sumbu


Jenis stuktur sumbu pada umumnya ada beberapa jenis. Sumbu yang banyak
digunakan pada produk-produk pipa kalor komersial di antaranya grooved, wire screen
mesh, fiber-spring, dan sintered powder metal seperti pada Gambar 9.8.

Axial Groove
Screen Mesh

187
Spiral & Fiber
Powder metal
Gambar 9.8 Jenis sumbu dalam pipa kalor

Berdasarkan percobaan salah satu produsen pipa kalor [42] diperoleh grafik
seperti pada Gambar 9.9 yang membandingkan kinerja setiap struktur sumbu.

Gambar 9.9 Grafik dan tabel hasil pengujian pipa kalor dari 4 jenis sumbu dengan
orientatsi horizontal dan vertikal (pengaruh gaya gravitasi)

188
Struktur sumbu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari
Gambar 9.9, pipa kalor dengan sturktur sumbu dengan serbuk metalurgi seperti pada
Gambar 9.10 memiliki tahanan kalor yang lebih stabil, baik pengaruh fluktuasi suhu
maupun orientasi gravitasi.

Gambar 9.10 Sumbu dengan proses serbuk metalurgi

Kempers et al.[43] membandingkan efek dari jumlah lapisan dalam struktur


screen mesh terhadap hambatan kalor dan menyimpulkan bahwa semakin besar jumlah
lapisan screen mesh maka semakin kecil hambatan kalornya. Kempers menggunakan
screen mesh tembaga dengan diameter kawat 0.109 mm dan berjumlah mesh 3.94 per
mm.

Gambar 9.11 Pengaruh jumlah lapisan screen mesh terhadap hambatan kalor [43]

Penelitian lain dilakukan oleh Xiao Huang dan Franchi yang mengabungkan wick
screen mesh tembaga dan sintered metal powder tembaga dengan Nike [44]. Penelitian

189
tersebut menyimpulkan bahwa distribusi pori yang seragam dapat meningkatkan
konduktivitas termal dan rentang panas yang mampu diterima evaporator pipa kalor.

9.4.3 Konduktivitas Termal Sumbu


Konduktivitas termal efektif pada sumbu dengan fluida kerja dibutuhkan untuk
menghitung hambatan kalor secara teoretis pada sumbu di area kondenser. Dua model
ditampilkan pada penentuan konduktivitas termal.
i). Kasus Parellel. Di sini diasumsikan bahwa sumbu dan fluida berada secara
parallel. Jika k1 adalah konduktivitas termal fluida kerja dan ks adalah
konduktivitas termal material wick, maka

Konduktivitas sumbu, (9.15)


ii). Kasus Seri. Jika kedua material dianggap seri, maka
Konduktivitas sumbu, (9.16)

Selain itu, konveksi pada sumbu akan cenderung meningkatkan konduktivitas


termal efektif.

9.5 MEDIA BERPORI


9.5.1 Porositas
Porositas (void fraction) adalah nisbah ukuran ruang kosong (pori) dengan total
volume pada material. Porositas dinyatakan dalam nilai 0-1, atau dalam skala
persentase 0-100%. Jadi porositas pada struktur sumbu adalah nisbah antara volume
pori dengan padatan pada stuktur sumbu.
Porositas sangat mempengaruhi perpindahan kalor maksimum [45]. Peningkatan
10% porositas mampu meningkatkan perpindahan kalor hingga dua kali. Dari percobaan
lainnya pipa kalor dengan porositas 37.1% & dan 51.6% mempunyuai pengaruh besar
pada perpindahan kalor seperti ditunjukkan Gambar 9.11 sehingga dapat disimpulkan
bahwa semakin besar tingkat porositas maka semakin tinggi pula rata-rata perpindahan
kalornya, karena porositas mempengaruhi daya kapilaritas sumbu.

190
Sprerical, d=73,3μm, ε=37.1%
Wick 0,5 mm
Dendritic, d=75,9μm, ε=51.6%
20

15

∆T(oC)
10 o
R=1.13 C/W o
R=1.10 C/W

0
0 5 10 15 20 Q
Q(W)
Laju Perpindahan panas

Gambar 9.12 Pengaruh porositas pada perpindahan kalor di pipa kalor

Porositas dilambangkan sebagai ε dan lazim disebut dengan fraksi kekosongan


pada sumbu, atau disebut juga nisbah luasan yang dapat dilalui fluida dengan luasan
melintang sumbu Af, dirumuskan sebagai :
(9.17)
dengan adalah radius bagian luar sumbu dan adalah radius bagian dalam sumbu.
Jika laju masa fluida yang melewati pori sumbu disebut sebagai , jumlah laju massa
/fluks massa tersebut adalah
(9.18)
Persamaan Hagen–Poiseuille untuk aliran laminar kecepatan fluida dapat
dirumuskan sebagai , dan rc adalah jari-jari efektif pori, sehingga persaman menjadi

(9.19)

(9.20)

Atau dapat dihubungkan dengan laju masa kalor dengan L adalah kalor laten
penguapan. Dengan demikian

(9.21)

191
9.5.2 Permeabilitas
Permeabilitas juga menentukan laju perpindahan kalor, karena permeabilitas
adalah kapasitas dari media berpori untuk mengalirkan fluida. Untuk itu, permeabilitas
sangat erat kaitannya dengan sifat material, seperti luas permukaan pori dan distribusi
pori. Permeabilitas dapat dirumuskan berdasarkan persamaan Blake-Koseny menjadi
[46]:

(9.22)

dengan
= permeabilitas (m2)
= porositas, dan
= diameter kawat pada mesh atau diameter butiran pada sintered powder (m)

9.5.3 Penurunan tekanan pada media berpori


Umumnya, hukum empiris Darcy [47] dapat pula diaplikasikan pada aliran yang
melewati media berpori ketika bilangan Reynold berlaku pada ukuran pori sangat kecil.
Pada keadaan ini, persamaan momentum untuk fluida yang melewati media berpori
dirumuskan sebagai:
(9.23)

Ketika tekanan aliran pada pori dinyatakan dengan P, K sebagai permeabilitas


(pada persamaan 9.22), dan µ adalah viskositas fluida serta U merupakan keceparan
aliran. Akhir-akhir ini, ilmu rekayasa teknik memerlukan bilangan Reynold tinggi pada
setiap pengerjaan aliran dalam media berpori. Dengan metode mencocokkan data
percobaan, maka persamaan nonlinear dimasukkan dalam data untuk memperbaiki
effect advection inertia (forchheimer). Jadi, tekanan aliran pori setelah dikoreksi adalah
(9.24)

dengan ρ adalah kerapatan fluida. Mengacu pada Ergun[49], koefisien forchheimer F


diberikan oleh dengan b adalah konstanta parameter geometri dari pori.

9.6 METALURGI SERBUK


Metalurgi serbuk merupakan proses pembentukan logam yang menggunakan
material dasar berupa partikel-partikel logam berwujud serbuk. Proses ini memiliki
beberapa keunggulan, antara lain mudah untuk membuat benda dengan bentuknya

192
yang kompleks. Secara sederhana, proses metalurgi serbuk dapat dijelaskan sebagai
berikut.
 Proses pencapuran: merupakan proses pencampuran antara serbuk logam dan
bahan aditif.
 Proses pembentukan (forming): pemberian gaya-gaya kompaksi baik pada suhu
ruang (cold compaction) maupun pada suhu tinggi (hot compaction). Proses
kompkais dingin akan dilanjutkan dengan proses pemanasan (sintering) sehingga
diperoleh partikel-partikel yang bergabung dengan kuat.
Tujuan metalurgi serbuk dengan proses pemanasan dapat meminimumkan
porositas (hingga<5%) pada sumbu pipa kalor. Pada pembuatan bagian dengan
metalurgi serbuk, logam dipanaskan hingga suhu re-kristaliasasi logam tersebut. Suhu
re-kristalisasi adalah suhu logam sebelum mencapai suhu leleh. Pada kondisi ini butiran
akan membentuk ikatan dengan butiran lainnya. Keunggulan pembuatan komponen
dengan proses metalurgi serbuk adalah lebih sedikit material yang digunakan karena
volume total komponen adalah bulk volume yang banyak mempunyai rongga udara yang
mengisi bagian tersebut. Di samping itu ada kelemahan yang dari proses metalurgi
serbuk, yaitu dari segi kekuatan, karena ikatan yang terjadi antara butiran logam bukan
ikatan sempurna.

9.7 PERPINDAHAN KALOR DAN HAMBATAN KALOR


9.7.1. Perpindahan Kalor Maksimum
Kalor maksimum yang dipindahkan pada pipa kalor melalui uap yang bergerak
dapat dirumuskan sebagai
(9.25)
dengan adalah laju aliran masa pada sumbu dan L adalah kalor laten.
Menggunakan rumus keseimbangan tekanan maka
(9.26)

(9.27)

Substitusikan persamaa (9.25) dan (9.27) maka diperoleh


(9.28)

dengan adalah luasan arah melintang sumbu.

193
A. Perpindahan kalor pada daerah Evaporator
Untuk fluks kalor rendah, kalor akan dialirkan melalui cairan yang
terkonduksi dengan media di sekitarnya, maupun dengan prinsip konveksi cairan-
sumbu. Ketika fluks kalor bertambah tinggi, cairan yang kontak langsung dengan
dinding akan semakin menjadi cairan lewat-panas (superheated liquid) dan
gelembung akan terbentuk dari sisi nukleasi. Gelembung akan memindahkan
sejumlah energi ke permukaan daerah yang mempunyai suhu lebih rendah dan
melepas kalor laten pelepasan: selain itu gelembung juga meningkatkan konveksi
fluida. Jika fluks kalor terus bertambah hingga melewati batas kerja fluida, maka
burnout (terbakar) akan terjadi. Artinya, area evapoprator akan kering dan pipa
kalor tidak dapat beroperasi.
Chien and Chang mengukur hambatan kalor dan perpindahan kalor area
evaporator dengan sintered copper powder, menggunakan thermosyphon test
chamber. Hambatan terendah yang diperoleh adalah 0,05 Kcm2/W, pada fluks
kalor 47,5 W/cm2 dan suhu saturasi 70 oC.

B. Perpindahan kalor pada daerah kondenser


Uap akan mengembun pada permukaan kondenser. Pengembunan dapat
terjadi dalam dua bentuk, baik uap yang mengembun membentuk permukaan
basah terus-menerus atau dengan membentuk sejumlah besar tetes. Dalam pipa
kalor daya dorong uap dapat menyebabkan gas selalu berada di ujung sisi
kondenser. Lapisan film pada kondensasi dianalisis menggunakan teori Nusselt
[51]. Teori pengembunan pada permukaan vertikal menghasilkan pengembunan
fluida yang bergerak jatuh karena adanya gaya gravitasi yang diasumsikan pada
aliran laminar. Gaya gerak viskos antara uap dan cairan diabaikan. Massa aliran
bertambah seiring dengan bertambahnya jarak dari sisi atas. Profilnya dapat
digambarkan pada Gambar 9.13.

194
Distribusi x
kecepatan

Lapisan film Dinding


Pengembunan

Gambar 9.13 Lapisan film pengembunan pada permukaan vertikal

Perpindahan kalor rata-rata α, pada jarak sejauh x dari sisi atas


dirumuskan sebagai :

(9.29)

dengan (Ts−Tw) adalah penurunan suhu sepanjang lapisan film cairan.

9.7.2 Hambatan kalor


Kalor yang masuk pada pipa kalor dapat berupa kalor akibat arus eddy (heater).
Sementara itu penurunan suhu dapat terjadi oleh konduktivitas termal melalui dinding
pipa kalor pada sisi evaporator maupun kondenser. Proses yang terjadi di evaporator
dan di kondenser perlu diukur untuk mengetahui hambatan kalor efektif dan juga untuk
mengetahui batas perpindahan kalor pada area evaporator dan area kondenser melalui
permodelan rangkaian hambatan kalor [52]. Ilustrasi rangkaian hambatan kalor pada
pipa kalor dapat dilihat dari Gambar 9.14.

195
Sisi Evaporator Sisi Adiabatis Sisi Kondenser
∆T4 ∆T6
∆T3 ∆T7
∆T2 ∆T8
∆T1 ∆T9

Panas masuk Panas keluar


(Qin) (Qout)
Q R5

R4 R6
R3 R7
R2 Qs Rs R8

R1 R9

Qi Qo

Gambar 9.14 Rangkaian hambatan termal.

Pipa kalor yang menggunakan kalor laten dari penguapan fluida kerja berputar
menyebabkan perbedaan suhu di dalam fluida kecil, sehingga dapat dikatakan bahwa
koefisen perpindahan kalornya sangat jauh berbeda dengan benda konduktor padatan.
Sebagai contoh, untuk mengalirkan kalor sebesar 20 watt dengan jarak tempuh 0,5 m
pada batang berdiameter 1.27 cm, dengan menggunakan hukum Fourier, maka
almunium padatan akan mempunyai perbedaan suhu 460 oC. Begitu pula pada tembaga
padatan yang mempunyai perbedaan suhu 206 oC. Namun, dibandingkan dengan
menggunakan pipa kalor dengan diameter yang sama dan sumbu screen mesh tembaga
dan fluida kerja air, perbedaan suhu hanya 6 oC.
Hambatan yang melewati lapisan sumbu pada pipa kalor dirumuskan sebagai:
(9.30)

Hambatan dalam oC/Watt merupakan kemampuan suatu material untuk


menghambat atau menahan energi kalor yang dirambatkan. Davis dan Garimella
mengamati hambatan kalor dari struktur sumbu sintered powder tembaga dengan tebal
1.016 mm [53]. Diperoleh nilai hambatan kalor sebesar 0.01 oC/watt dan koefisien
perpindahan kalor yang mampu dicapai adalah 128.000 W/m 2K.
Salah satu sifat yang disebutkan dalam beberapa diskusi mengenai sumbu dan
fluida kerja adalah konduktivitas termal. Sifat tersebut merupakan faktor penting dalam
menentukan ketebalan sumbu yang diizinkan.

196
Estimasi konduktivitas termal pada screen mesh di dapat melalui pendekatan
persamaan Rayleigh
(9.31)

dengan (9.32)

ks adalah konduktivitas termal fase padatan


kl adalah konduktivitas termal fase cairan
Adalah fraksi kekosongan porositas
Sebuah studi baru-baru ini mempelajari pengaruh jumlah lapisan mesh pada
sumbu pipa kalor, yang secara keseluruhan telah menimbulkan keraguan mengenai
validitas perpindahan kalor konduksi yang terjadi pada sumbu. Sebagian besar peneliti
mengenai jumlah lapisan sumbu screen mesh mengacu kepada model Kar dan Dybbs
[54]. Kamper menggunakan screen mesh tembaga dengan diameter kawat 109 mm,
dengan 3,94 jumlah anyaman per mm.
Dengan fluda kerja air dan jumlah lapisan diragamkan 1 hingga 6 lapisan maka
diperoleh hasil bahwa jumlah lapisan screen mesh tidak mempengaruhi terlalu besar
hambatan kalornya. Perbedaan hambatan kalor antara lapisan tunggal dengan 6 lapisan
pada screen mesh hanya 40%. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan
permodelan menggunakan rumus konduksi.

9.8 PENDIDIHAN
9.8.1 Pendidihan pada permukaan datar
Pada tahun 1934, Nukiyama [55] menunjukkan percobaan pendidihan
menggunakan kawat platina yang dilewatkan aliran listrik. Fluks kalor dikendalikan oleh
arus yang masuk ke dalam kawat, dan suhu pada kawat dapat diketahui dari hambatan
kawat tersebut. Seperti halnya pada percobaan mengukur perpidahan kalor pada pool
boiling (Gambar 9.15), Nukiyama mengusulkan kurva pendidihan seperti pada Gambar
9.16. Oleh karena pada saat pipa kalor bekerja, ada dua fase yang terjadi di dalamnya,
maka suhunya mendekati suhu saturasi pada tekanan tersebut.

197
Kondenser

Uap

Air

Silinder dipanaskan
(pada permukaan yg
rata)

Gambar 9.15 Diagram untuk percobaan pool boiling.

Jika suhu permukaan pemanas T, dan suhu fluida disebut sebagai TSat, energi
kalor yang diberikan dalam , luas permukaan kalor sebagai A, maka serangkaian uji
dapat dilakukan dan grafik , atau seringkali dituliskan dalam
terhadap log TSat, dengan ∆TSat = (T- TSat).

Gambar 9.16 Kurva pendidihan dari ekperimen pool boiling pada silinder atau kawat.

Untuk meningkatkan fluks kalor, pada area A-B perpindahan kalor dari
permukaan pemanas adalah murni konveksi natural. Cairan lewat-panas naik hingga ke
permukaan reservoir dan terjadi penguapan. Ketika fluks kalor bertambah sampai pada
titik B, gelembung uap mulai terbentuk (nukleasi) dari permukaan pemanas, dan
gelembung berangkat dari permukaan pemanas hingga naik melewati permukaan air.
Pada titik ini, terjadi penurunan suhu permukaan pemanas hingga titik C. Setelah
nukleasi dimulai, suhu permukaan pemanas kembali meningkat hingga titik D dan
mengarah ke fase uap. Pada kondisi itu uap menghambat aliran transisi cairan kembali

198
ke permukaan dan mendidih terjadi antara D dan E. Pada titik E lapisan film membentuk
uap di atas permukaan pemanas dan ini mempengaruhi lapisan isolasi pada pemanas
yang mengakibatkan peningkatan pesat suhu dari E ke F. Fluks kalor di titik E dikenal
sebagai fluks kalor kritis.

9.8.2 Pendidihan pada Sumbu


Beberapa pustaka membahas gejala fenomena pendidihan. Pustaka tersebut
meliputi pengukuran pendidihan pada permukaan datar maupun pipa, di mana
pemanasan pada posisi horizontal ataupun vertikal dan pada kondisi benar-benar
tenggelam dalam cairan maupun menguap seperti pada pipa kalor. Pengaruh sumbu
juga ditujukan untuk mempersulit proses pendidihan, sementara beberapa penelitian
mengacu pada pendidihan di permukaan yang rata, lain halnya dengan pipa kalor yang
mempunyai struktur sumbu yang mampu mengubah titik nukleasi sehingga mengubah
pula perilaku penguapan dan pendidihan pada permukaan yang dipanaskan.
Pada nilai fluks kalor yang rendah, kalor dipindahkan melalui konduksi sumbu
yang dibanjiri oleh cairan. Ini didemonstrasikan oleh Philips dan Hinderman [56] yang
membawakan sebuah hasil eksperimen dari sumbu busa nikel 220.5 dengan tebal 0.14
cm dan screen mesh baja tahan karat satu lapisan yang menyentuh bidang horizontal
dengan fluida kerjanya air suling. Hasil penelitian tersebut digambarkan pada Gambar
9.17. Kurva dari Gambar 9.17 merupakan kurva teoreitis untuk konduksi sumbu yang
tenggelam dalam air.

Philips/Hinderman (1967), tanpa nukleasi


Philips/Hinderman (1967), dengan nukleasi
Fluk Panas q (Kw/m2)

Perbedaan Temperatur T-Tsat (K)

199
Gambar 9.17 Perpindahan kalor dari sumbu yang tenggelam

Pada fluks kalor tinggi, nukleasi akan terjadi. Ferrel dan Aileavitch mengkaji
perpindahan kalor dan gejala pendidihan pada permukaan horizontal yang dilapisi
dengan screen mesh 30-40 dan 40-50 dengan fluida air pada kondisi tekanan atmosfer.
Screen mesh tenggelam pada kedalaman 7,5 cm, ketebalan screen mesh mulai dari 3
mm higga 25 mm. Kajian tersebut menyimpulkan uap terbentuk mulai dari lapisan
pertama screen mesh. Gambar 9.18 menunjukkan nilai titik pendidihan pada
permukaan yang dilapisi dengan sumbu dan mengacu pada pool boiling tanpa lapisan
sumbu dan korelasi Rohsenow (pool boiling). Kesimpulannya adalah untuk perbedaan
suhu yang kecil permukaan yang dilapisi sumbu mempunyai fluks kalor lebih besar
dibanding dengan pendidihan tanpa sumbu. Kurva ini juga turut dikaji oleh Corman dan
Welmet, dan menyimpulkan bahwa nilai fluks kalor yang lebih tinggi saat penambahan
ketebalan sumbu dikarenakan kesulitannya bagi uap meninggalkan permukaan didih.
Kosep pendidihan ini dikembangkan selanjutnya oleh Brautsch and Kew [59],
dengan metode yang sama mencoba membandingkan beberapa permukaan didih
antara permukaan rata, kasar dan menggunakan mesh screen. Dapat dimati dari
Gambar 9.19 bahwa tingkat kekasaran dan penambahan lapisan mesh screen dapat
mempengaruhi tingkat fluks kalor pada permukaan didih.
Tebal mesh
- 3,2 mm
- 12,7 mm
-25,4 mm
Rohsenhow correlation
Kurva prediksi pendidihan (pool boiling)
Dengan wick mesh

pool boiling
(tanpa wick)

Air pada tekanan atmosfir

Gambar 9.18 Evaporasi dari permukaan didih dengan sumbu dan tanpa sumbu.

200
Permukaan datar kasar

Permukaan datar halus

Mesh 50 permuakaan kasar

Mesh 100 permuakaan kasar


Fluk Panas q (Kw/m2) Mesh 150 permuakaan kasar

Mesh 200 permuakaan kasar

Perbedaan Temperatur T-Tsat (K)

Gambar 9.19 Pengaruh kekasaran permukaan terhadap perpindahan kalor.

Brautsch [60-62] mengkorelasikan koefisien perpindahan kalor melalui


permukaan didih yang dilapisi screen mesh dibandingkan dengan koefisien perpindahan
kalor untuk pendidihan air dan R141b pada permukaan rata (tanpa pelapis sceen
mesh). Hasil pengamatan tersebut menggunakan video kecepatan tinggi dan
menunjukkan peningkatan nukleasi tetapi screen mesh menghalangi gelembung yang
keluar dari permukaan didih. Hal ini menghasilkan persamaan dalam bentuk

(9.33)

dengan E didefinisikan sebagai faktor peningkatan dan B didefinisikan sebagai blocking


factor, dan diartikan

(9.34)

(9.35)

(9.36)

dengan adalah sudut kontak (rad), dan eksponen m, n, r, u, v dan faktor kecocokan K
dirangkum dalam Tabel 9. 5.
Hubungan persamanan Cooper dicari untuk memperkirakan konduktivitas termal
. Hubungan ini menunjukkan hasil yang sama dengan percobaan yang dilakukan oleh
Asakavicius et al.[63] yang mengujikan multilayer screen mesh kuningan dan baja tahan
karat menggunakan fluida kerja Freon-113, etanol, dan air. Juga oleh Liu et al. [64], yang
mempublikasikan hasil penelitian menggunakan screen mesh 1 layer 16 mesh dan 50

201
mesh dengan fluida kerjanya metanol dan HFE-7100 pada kedua sumbu pipa kalor
tersebut. Dan hasil lain yang sama dengan persamaan Cooper adalah Tse et al.[65]
untuk percobaan sumbu mesh single layer 50 mesh dengan fluida kerja air.
Fluk Panas q (Kw/m2)

Perbedaan Temperatur T-Tsat (K)

Gambar 9.20 Hasil penelitian pengukuran pendidikan dan konveksi pada material
sumbu, fluida kerja air, data mengacu pada sumber

Rangkuman hasil percobaan fluks kalor terhadap perbedaan suhu pada


beberapa gejala pendidihan pada sumbu dapat dilihat pada Gambar 9.20. Abhat dan
Seban [66] menyimpulkan pengukuran perpindahan kalor pada pipa vertikal
menggunakan fluida kerja air, etanol, dan aseton. Rangkaian pengujian ini menyatakan
bahawa fluks kalor sebesar 15W/cm2 yang diberikan pada pipa kalor dengan sumbu
terhadap pipa sederhana tanpa sumbu mempunyai koefisien perpindahna kalor yang
sama.

Tabel 9.5 Material parameter, eksponen, dan faktor kecocokan yang digunakan pada
persamaan 9.34-36
Eksponen Nilai
m 1
n 0,69
r 1,8
u 1,2
v 0,12
K 2,0 E+07

202
Referensi

[1] King, C.R. Perkins’ hermetic tube boilers. Engineer, Vol. 152, pp 405–406, 1931.
[2] Perkins, L.P. and Buck, W.E., Improvements in devices for the diffusion or
transference of heat. UK Patent No. 22272, London, 1892.
[3] Gaugler, Richard, Heat Transfer Devices, Dayton, Ohio: U.S. Patent Office, pp. 4,
2350348,1944.
[4] Bainton, K.F. Experimental heat pipes. AERE-M1610, Harwell, Berks. Atomic
Energy Establishment, Appl. Phys. Div., 1965.
[5] Grover, G.M., Bohdansky, J. and Busse, C.A. The use of a new heat removal
system in space thermionic power supplies. EUR 2229e, Ispra, Italy, Euratom
Joint NuclearResearch Centre, 1965.
[6] Busse, C.A., Caron, R. and Cappelletti, C. Prototypes of heat pipe thermionic
converters for space reactors. IEE 1st Conference on Thermionic Electrical Power
Generation, London, 1965.
[7] Cheung, H. A critical review of heat pipe theory and applications. USAEC Report
UCRL-50453. Lawrence Radiation Laboratory, University of California, 1968.
[8] Leefer, B.I. Nuclear thermionic energy converter. Proceedings of 20th Annual
Power Sources Conference, Atlantic City, NJ, 24–26 May 1966, pp 172–175,
1966.
[9] Judge, J.F. RCA test thermal energy pipe. Missiles Rockets, Vol. 18, pp 36–38,
1966.
[10] Deverall, J.E. and Kemme, J.E. Satellite heat pipe. USAEC Report LA-3278,
Contract’ W-7405-eng-36. Los Alamos Scientific Laboratory, University of
California, September 1970.
[11] Wyatt, T. A controllable heat pipe experiment for the SE-4 satellite. JHU
Tech. Memo APL-SDO-1134. John Hopkins University, Appl. Physics Lab., March
1965,AD695 433
[12] Swanson T.D. and Birur, G.C. NASA thermal control technologies for robotic
spacecraft. Appl. Therm. Eng. Vol. 23, pp 1055-1065, 2003.
[13] Cotter, T.P. Theory of heat pipes. USAEC Report LA-3246, Contract W7405-
3ng-36. Los Alamos Scientific Laboratory, University of California, 1965.
[14] Deverall, J.E. and Kemme, J.E. Satellite heat pipe. USAEC Report LA-3278,
Contract’ W-7405-eng-36. Los Alamos Scientific Laboratory, University of
California, September 1970.
[15] Anand, D.K. Heat pipe application to a gravity gradient satellite.
Proceedings of ASME Annual Aviation and Space Conference, Beverley Hills,
California, 16–19 June 1968, pp 634–658.
[16] Feldman, K.T. and Whiting, G.H. The heat pipe and its potentialities. Eng.
Dig., Vol. 28 No. 3, pp 86–86, 1967.
[17] Eastman, G.Y. The heat pipe. Sci. Am., Vol. 218, No. 5, pp 38–46, 1968.
[18] Feldman, K.T. and Whiting, G.H. Applications of the heat pipe. Mech. Eng.,
Vol. 90, pp 48–53, 1968.
[19] Osakabe, T. et al. Application of heat pipe to audio amplifier, in advances
in Heat Pipe Technology. Proceedings of IV International Heat Pipe Conference.
Pergamon Press, Oxford, 1981.

203
[20] X. Huang, G.Franchi, Design and fabrication of hybrid bi-modal wick
structure for heat pipe application, Springer Science and Business, Carleton
University, Ottawa, ON, Canada, 2007.
[21] White, Harvey E., Modern College Physics. van Nostrand. ISBN
0442294018. 1948.
[22] Sharfrin, E.; Zisman, William A., Constitutive relations in the wetting of low
energy surfaces and the theory of the retraction method of preparing monolayers.
The Journal of Physical Chemistry 64 (5): 519–524. doi:10.1021/j100834a002.
1960.
[23] Jasper, J.J. The surface tension of pure liquid compounds, J. Phys. Chem.
Ref. Data. Vol. 1, 841, 1972.
[24] Zhang, N. Innovative heat pipe systems using a new working fluid. Int.
Commun. Heat Mass Transf. Vol. 28, No. 8, pp 1025–1033, 2001.
[25] Calvin C. Silverstein, Design and technology of heat pipes for cooling and
heat exchange hand book, Taylor & Francis, 1992.
[26] Silverstain CC, Surface heat flux for incipient boiling
[27] Shaw, D.J. Introduction to Colloid and Surface Chemistry. 2nd Ed.
Butterworth, 1970.
[28] Semenchenke, V.K. Surface Phenomena in Metals and Alloys. Pergamon,
1961
[29] D.R. Adkins, R.C. Dykhuizen, Procedure for measuring the properties of
heat pipe wick materials, Proceedings of the 28th intersociety energy conversion
engineering conference, 93434, vol. 2, American Chemical Society, Wasington
DC, 1993, pp. 911-917.
[30] P.J. Brennan, E.J. Kroliczek, Heat pipe design handbook prepared for NASA
goddard space flight center, B& K Engineering MD, 1979 (Chapter 8).
[31] S.W. Chi, Heat Pipe Theory and Practice, McGraw-Hill Book Company, New
York, 1976.
[32] P. Dunn, D.A. Reay, Heat Pipes, 2nd edn., Pergamon Press, Oxford,
England, 1978.
[33] G.P. Petersen, An Introduction to Heat Pipes, John Wiley and Sons, Inc.,
New York, 1994.
[34] A. Faghri, Heat Pipe Science and Technology, Taylor and Francis,
Washington, USA, 1995.
[35] C.A. Busse, A. Campanile, J. Loens, in 1st International Heat Pipe
Conference, Stuttgart, 1973.
[36] B.R. Babin, G.P. Peterson, D. Wu, Steady-state modeling and testing of a
micro heat pipe, Journal of Heat Transfer 112 (1990) 595–601.
[37] S. Lee, U.S. Choi, S. Li, J.A. Eastman, Measuring thermal conductivity of
fluids containing oxide nano particles, ASME J. Heat Transfer 121 (1999) 280–
289.
[38] D. Reay, P. Kew, Heat pipe teory, desain and applications, 5th edition,
Elsevier, 2006
[39] Takaoka, T. et al. Development of long heat pipes and heat pipe applied
products. Fujikura Technical Review, pp 77–93, 1985
[40] Schimizu, A. et al. Characteristics of a heat pipe with carbon fibre wick.
Proceedings of the 7th International Heat Pipe Conference, Minsk, 1990.
Hemisphere, New York, 1991.
[41] Kaudinga, J.V. et al. Experimental investigation of a heat pipe with carbon
fibre wick. Proceedings of the 7th International Heat Pipe Conference, Minsk,
1990. Hemisphere, New York, 1991.

204
[42] http://www.enertron-inc.com/index.php
[43] R. Kempers,et al, Effect of number of mesh lapisans and fluid loading on
the performance of screen mesh wicked heat pipes, journal of Applied Thermal
Engineering 26 589–595, 2006.
[44] Xiao Huang dan George Franchi, Design and fabrication of hybrid bi-modal
wick structure for heat pipe application, Springer, 15:635-64, 2008.
[45] Y.M. Chen, S.C Wu, C.I. Chu, Thermal performance of sintered miniature
heat pipes. National Defense University, Taiwan, 2001.
[46] ESDU, Heat Pipe Properties of Common Small Pore Wicks, ESDU 79013,
1979.
[47] H. Darcy. Les fontaines publiques de la ville de Dijon. Paris: Victor
Dalmont, 1856.
[48] P.H. Forchheimer. Z. Ver. Dtsch. Ing. 45:1782-1788, 1901.
[49] S. Ergun. Fluid flow through packed coloumns. Chem. Eng. Prog. 48:89-94,
1952.
[50] L.-H. Chien, C.-C. Chang, Experimental study of evaporation resistance on
porous surfaces in flat heat pipes, in: Thermo-Mechanical Phenomena in
Electronic Systems—Proceedings of the Intersociety Conference, San Diego,
CA,May 29–June 1, 2002
[51] Rogers, G.F.C. and Mayhew, Y.W., Engineering thermodynamics work and
heat transfer, 4th Edn., Longman, 1992.
[52] S.W. Chi, Heat Pipe Theory and Practice, McGraw-Hill, New York, 1976.
[53] T. W. Davis, S.V. Garimella, Thermal Resistance Measurement across a
Wick Structure Using a Novel Thermosymphon Chamber, Taylor & Fancis, 21:2,
143-254, 2006.
[54] Kar, K. and Dybbs, A. Effective thermal conductivity of fully and partially
saturatedmetal wicks. Proceedings of the 6th International Heat Transfer
Conference, Vol. 3, pp 91–97, Toronto, Canada, 1978.
[55] Nukiyama, S. Maximum and minimum values of heat transmitted from
metal to boiling water under atmospheric pressure. J. Soc. Mech. Eng. Japan, Vol.
37, p 367, 1934.
[56] Philips, E.C., Hinderman, J.D. Determination of capillary properties useful
in heat pipe design. A.S.M.E. – A.I.Ch.E. Heat Transfer Conference Minneapolis,
MN, August 1967.
[57] Ferrell, J.K., Aileavitch, J. Vaporisation heat transfer in capillary wick
structures. Chem. Eng. Symp. Series No. 66, Vol. 02, 1970.
[58] Corman, J.C., Welmet, C.E. Vaporisation from capillary wick structures.
A.S.M.E. –A.I.Ch.E. Heat Transfer Conference, Tulsa, Oklahoma, Paper 71-HT-35,
August 1971.
[59] Brautsch, A. and Kew P.A. The effect of surface conditions on boiling heat
transfer from mesh wicks, Proceedings of 12th International Heat Transfer
Conference, Elsevier SAS, Grenoble, 2002
[60] Brautsch, A. and Kew P.A. The effect of surface conditions on boiling heat
transfer from mesh wicks, Proceedings of 12th International Heat Transfer
Conference, Elsevier SAS, Grenoble, 2002.
[61] Brautsch A. Heat transfer mechanisms during the evaporation process
from mesh screen porous structures, Ph.D. Thesis, Heriot-Watt University, 2002.
[62] Brautsch A. and Kew P.A. Examination and visualization of heat transfer
processes during evaporation in capillary porous structures, J. Appl. Therm. Eng.,
Vol. 22, pp 815–824, 2002

205
[63] Asakavicius J.P., Zukauskas V.A., Gaigalis V.A., Eva V.K. Heat transfer from
freon-113, ethyl alcohol and water with screen wicks, Heat Transf – Soviet Res.,
Vol. 11, No. 1. 1979.
[64] Liu J.W., Lee D.J., Su A. Boiling of methanol and HFE-7100 on heated
surface covered with a layer of mesh, Int. J. Heat Mass Transf., Vol. 44, pp 241–
246, 2001.
[65] Tse J.Y., Yan Y.Y., Lin T.F. Enhancement of pool boiling heat transfer in a
horizontal water layer through surface roughness and screen coverage, J. Heat
Transf., Vol. 32, pp 17–26. 1996.
[66] Abhat, A., Seban, R.A. Boiling and evaporation from heat pipe wicks with
water and acetone, J. Heat Transf., August 1974.

206
10.1 PENDAHULUAN

Seiring dengan pertumbuhan penduduk, permintaan akan tempat tinggal pun


makin meningkat pula. Namun lahan yang tersedia sangat terbatas. Apartemen sebagai
salah satu bentuk hunian di Indonesia tampaknya mulai bermunculan mencoba
memberi solusi bagi masalah perumahan. Sebagai sebuah tempat tinggal, apartemen
memang memiliki kelebihan tersendiri seperti lokasi yang strategis dekat dengan pusat
bisnis atau gedung perkatoran, berbagai fasilitas yang menunjang, desain asitektur yang
menarik dan nyaman. Dengan semua tawaran yang menarik ini tak heran banyak orang
atau eksekutif muda yang ingin tinggal di apartemen. Hal ini terlihat dari populasi jumlah
apartemen yang dibangun terus meningkat, di mana saat ini diperkirakan jumlahnya
sebanyak 70.000 unit.
Di kota besar seperti Jakarta yang memiliki iklim tropis dengan suhu cukup tinggi
dan lembap membuat perumahan menengah ke atas dan apartemen-apartemen
dilengkapi dengan penyejuk udara. Kebanyakan penyejuk udara ini digunakan pada
malam hari pada saat mereka tidur sehingga cukup nyaman untuk melepas lelah
setelah bekerja seharian. Kemudian pada pagi harinya mereka biasanya mandi dengan
air hangat untuk mengembalikan kesegaran dan melakukan aktivitas berikutnya.
Sementara untuk memperoleh air panas, ada beberapa cara yang dapat dilakukan,
yakni dengan langsung memasak air dengan kompor listrik atau gas, dan dapat pula
dengan memasang peralatan khusus pemanas air (water heater) dengan sumber energi
baik listrik maupun gas elpiji. Akan tetapi penggunaan alat-alat tersebut memiliki tiga
kekurangan utama, yaitu
 Faktor keamanan: risiko tersengat listrik atau bahaya kebakaran.
 Faktor ekonomi: diperlukan biaya tambahan seperti pembelian gas dan listrik.
 Faktor energi: diperlukan sumber energi tambahan: gas dan listrik.
Baru-baru ini Presiden RI menginstruksikan penghematan energi di berbagai
sektor. Latar belakang dari instruksi ini adalah karena Indonesia akan memasuki krisis

207
energi, yakni antara supply dan demand energi yang tidak seimbang dan juga semakin
menipisnya cadangan bahan bakar minyak serta makin tingginya harga minyak dunia.
Oleh karena itu sudah saatnya menghemat dan melakukan upaya-upaya konservasi
energi.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghemat energi antara lain
mematikan lampu yang tidak diperlukan, mengatur mesin-mesin penyejuk di
perkantoran maupun di perumahan, meningkatkan efisiensi mesin-mesin konversi
energi, atau mengoptimasi sistem energi, dan masih banyak lagi yang dapat digunakan
sampai pada pencarian sumber energi alternatif lain seperti biodiesel, energi angin, dan
energi surya.
Akan menjadi sesuatu yang tidak ekonomis apabila unit penyejuk udara dan unit
pemanas air merupakan unit-unit yang terpisah satu dengan lainnya apabila dilihat dari
sisi biaya dan instalasi. Konsumsi energi untuk penyejuk udara membutuhkan kira-kira
20% dari total konsumsi energi di dalam rumah. Belum lagi kebutuhan energi untuk
pemanas air. Solusi atau gagasan untuk mengonservasikan panas buang dari penyejuk
udara menjadi energi kalor untuk memanaskan air adalah sesuatu yang penting
dilakukan.
Dalam kaitan konservasi energi dan kenyamanan, sebenarnya sistem penyejukan
ruangan di perumahan dapat digabungkan dengan sistem penyediaan air panas.
Buangan kalor pada sistem penyejuk khususnya di kondensor yang biasanya dibuang
begitu saja ke lingkungan dapat dimanfaatkan untuk memanaskan air yang kemudian
dapat digunakan untuk keperluan mandi air hangat.
Telah dilakukan survei pada beberapa lokasi apartemen di Jakarta dengan tujuan
mengetahui format umum denah ruangan yang ada di unit-unit apartemen. Posisi yang
menguntungkan adalah apabila tempat peletakan kondenser penyejuk udara atau biasa
disebut sebagai unit outdoor terletak persis di sebelah kamar mandi. Hal ini dapat
mengurangi rugi-rugi kalor dan hilang tekanan yang berlebihan serta mudah dalam
penginstalasian. Pada Gambar 10.1 dapat dilihat denah salah satu unit apartemen di
daerah Jakarta Utara. Terlihat bahwa posisi unit outdoor berada di sebelah kamar
mandi. Terlihat pula pada gambar tesebut bahwa di sebelah outdoor unit dipasang pula
alat pemanas air elektrik. Hal ini menunjukkan bahwa penyejuk udara dan pemanas air
merupakan kebutuhan utama pada setiap unit apartemen. Dari survei juga diperoleh
informasi bahwa semua unit yang dikunjungi memiliki AC dan juga pemanas air yang
terpisah.

208
Gambar 10.4 Denah ruang apartemen

Melihat faktor-faktor tersebut di atas, antara lain potensi konservasi energi yang
ada, dan prospek penggunaan alat ini untuk perumahan yang terus meningkat maka
perlu dilakukan pengembangan penyejuk udara pemanas air (air conditioning water
heater, ACWH) untuk perumahan dan apartemen, dengan tidak menutup kemungkinan
untuk perkantoran dan perhotelan. Dengan demikian, apabila diterapkan sistem ACWH
pada apartemen dapat diperkirakan pangsa pasar yang luar biasa besarmya
Gagasan penggabungan alat penyejuk udara dan pemanas air ini bukanlah
sesuatu yang baru; banyak kajian-kajian yang telah dilakukan akan tetapi masih kurang
efisien dan efektif. Ji et al. [1] mengkaji pemanfaatan kalor buang dari kondenser
penyejuk udara rumah tangga untuk pemanas air pada daerah dengan iklim subtropis.
Hasil kajian menunjukkan peningkatan unjuk kerja sebesar 38%. Wang et al. [2]
bereksperimen pada penyeduk udara dengan menggabungkan sistem penyimpan energi
dan air panas. Techarungpaisan et al. [3] melakukan model simulasi pada sistem
penyejuk udara yang terpadu dengan APK untuk pemanas air. Hasil permodelan yang
dilakukan menunjukkan hasil yang sama dengan data hasil eksperimen yang mereka
lakukan.
Dalam upaya konservasi energi dengan memanfaat panas buang, teknologi yang
digunakan tidaklah terlalu tinggi, cukup menggunakan APK. Namun, pemanfaatan panas
buang ini kurang mendapat perhatian karena memang efisensi yang dimiliki masih
rendah dan membutuhkan sejumlah peralatan tambahan atau membutuhkan area yang
besar sehingga membuat para pengguna malas memanfaatkan teknologi ini. Oleh

209
karena itu desin APK merupakan kunci dari keunggulan alat yang memanfaatkan panas
buang seperti ACWH.
Produk ACWH ini sebenarnya sudah ada dipasarkan, akan tetapi masih memiliki
banyak kekurangan dari dua segi: estetika, dan teknologi khususnya pada bidang
efisiensi energi dan manufaktur. Permasalahan yang dapat diidentifikasi secara estetika
adalah apabila ACWH digunakan di perumahan atau apartemen, tabung penyimpan
termal yang dipasang di luar bangunan dapat mengangu pemandangan dan bentuk yang
tidak kompak sehingga ada keenganan konsumen untuk memasang alat ini di
apartemen. Dari segi teknologi, permasalahan yang dihadapi secara bersamaan adalah
waktu pemanasan air untuk mencapai suhu 60 oC masih terlalu lama, pemilihan jenis
dan ketebalan material yang belum optimum, dan proses manufaktur yang kurang tepat
dan tidak efisien sehingga pada akhirnya membuat produksi paket ACWH menjadi mahal
dan sering terjadi kebocoran pipa.

10.2 Jenis-jenis Pemanas Air


10.2.1 Pemanas Air Bersumber Energi Listrik
Tipe pemanas air listrik merupakan tipe pemanas air yang paling umum
digunakan. Prinsip kerja pemanas air listrik ini adalah dengan cara mengalirkan air
dalam sebuah tangki berisolasi yang dilengkapi dengan elemen pemanas dengan
sumber energinya berasal dari arus listrik. Pemanas air listrik dilengkapi dengan alat
pengendali suhu atau termostat sehingga sistem dapat bekerja secara otomatis. Ketika
air panas digunakan, pasokan air akan masuk ke dalam tangki yang menyebabkan
turunnya suhu air di tangki. Penurunan suhu akan mengaktifkan sistem pemanas hingga
suhu tertentu air panas tercapai. Kekurangannya adalah diperlukan energi listrik yang
besar untuk menghasilkan kalor yang dibutuhkan. Pada Gambar 10.2 dapat dilihat
sistem pemanas air dengan sumber energi dari listrik.

210
Gambar 10.2 Pemanas Air Listrik
(http://www.diyanswerguy.com/tools/appliances/electric-water-heater.jpg)

10.2..2 Pemanas Air Berbahan Bakar Gas


Pemanas air berbahan bakar gas merupakan salah satu tipe yang juga banyak
digunakan. Prinsip kerjanya adalah dengan melewatkan air melalui pipa-pipa ke dalam
sebuah tangki yang diisolasi sekelilingnya, kemudian bagian bawah tangki tersebut
dibakar dengan menggunakan gas. Kalor yang dihasilkan digunakan untuk memanaskan
air guna menghasilkan air panas. Untuk memperluas bidang perpindahan kalor biasanya
pada bagian pipa ditambahkan sirip-sirip. Perluasan bidang perpindahan kalor
diperlukan agar input energi lebih besar sehingga suhu yang diperoleh lebih tinggi.
Selain itu digunakan pula pipa-pipa tembaga untuk mempercepat perpindahan kalor.
Pada Gambar 10.3 dapat dilihat skema pemanas air berbahan bakar gas.

211
Gambar 10. 3 Pemanas air berbahan bakar gas
(http://www.colonyplumbing.net/wtr_htr_gas_noted_leaders.jpg)

10.2.3 Pemanas Air Tenaga Surya


Pemanas air tenaga surya merupakan tipe pemanas air yang ramah lingkungan
karena menggunakan radiasi kalor matahari sebagai sumber energinya, akan tetapi
memiliki harga yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan tipe lainnya. Prinsip kerjanya
adalah dengan memanfaatkan energi radiasi matahari yang diserap oleh pipa–pipa
tembaga absorber yang di dalamnya berisi air. Kemudian air panas ditampung di dalam
tangki yang diisolasi. Fluida air mengalir dengan cara memanfaatkan perbedaan massa
jenis air di dalam tangki. Beberapa sistem pemanas telah dilengkapi dengan pemanas
tambahan sehingga dapat memanaskan air walapun tidak ada sinar matahari. Pemanas
air tenaga surya yang paling umum adalah jenis pemanas air tenaga surya pelat datar
(flat plate solar water heater). Kekurangannya adalah pemasangan yang lebih rumit
(diletakkan di atas atap rumah) dan kalor yang dihasilkan akan bergantung pada panas
matahari yang ada. Apabila panas matahari yang dibutuhkan tidak cukup untuk
memanaskan air yang ada, maka pemanas listrik yang ada bekerja untuk memanaskan
air. Pada Gambar 10.4 dapat dilihat skema sistem pemanas air tenaga surya.

212
Gambar 10.4 Pemanas air tenaga surya

10.2.4 Penyejuk Udara Pemanas Air (ACWH)


ACWH adalah sistem yang memanfaatkan panas buang dari sistem penyejukan
konvensional untuk memanaskan air. Sebagian kalor dari refrigeran yang sudah
dikompresi oleh kompresor digunakan untuk memanaskan air dengan bantuan APK.
APK inilah yang sangat menentukan kinerja dari ACWH. Dibutuhkan APK yang dapat

213
memindahkan kalor sebanyak-banyaknya dari refrigeran tanpa menyebabkan rugi
tekanan berlebihan yang dapat mempengaruhi kinerja sistem penyejukan yang ada.

Gambar 10.5 Skema sistem pendingin

Gambar 10.6 P-h dan T-s diagram untuk siklus ideal pendingin

Pada Gambar 10.5 dan Gambar 10.6 dapat dilihat siklus, P-h dan T-s diagram sistem
pendingin dan secara umum. Sistem penyejuk (termasuk AC) terdiri atas 4 komponen
utama:
1. Kompresor (1-2)
Kompresor berfungsi untuk mengkompresi refrigeran sehingga refrigeran dapat
berputar dalam siklus refrigerasi. Refrigeran yang masuk ke dalam kompresor
(suction line) memiliki suhu dan tekanan yang relatif rendah, sedangkan
refrigeran yang keluar dari kompresor (buang/hot gas line) memiliki suhu dan
tekanan yang relatif tinggi. Jenis kompresor yang paling banyak digunakan pada
AC adalah jenis reciprocating. Proses yang terjadi dalam kompresor ideal adalah
isentropik. Kerja kompresor dapat dihitung dengan persamaan berikut;

214
(10.1)
(10.2)

2. Kondensor (2-3)
Kondensor adalah alat untuk melepaskan kalor yang sudah ditampung refrigeran
ke lingkungan melalui proses konveksi paksa. Konstruksi kondensor berupa APK
sirip & pipa. Kalor yang harus dibuang di kondensor meliputi beban penyejukan
(cooling load) dan kerja yang dilakukan oleh kompresor (Wc). Suhu kondensasi
harus lebih tinggi daripada suhu ambien sehingga panas dapat dibuang dari
kondensor ke lingkungan. Refrigeran yang masuk ke dalam kondensor berfase
gas dan keluar dari refrigeran dalam fase cair. Di kondenser, refrigeran
didinginkan 3-5 oC di bawah suhu saturasinya (subcooling). Hal ini bertujuan
memastikan refrigeran yang masuk ke dalam alat ekspansi berfase cair
seluruhnya untuk keamanan alat ekspansi (alat ekspansi akan rusak jika
refrigeran yang masuk masih ada yang berfase gas) dan untuk memperbesar
beban penyejukan yang dapat didinginkan oleh sistem (secara tidak langsung
akan memperbesar unjuk kerja atau Coefficient of Performance, COP). Proses
yang terjadi dalam kondensor ideal adalah isobarik.

(10.3)

3. Alat ekspansi (3-4)


Alat ekspansi berfungsi menurunkan tekanan dari refrigeran yang masuk. Hal ini
dimaksudkan untuk menurunkan suhu refrigeran dari suhu kondensasi ke suhu
evaporasinya sehingga dapat dicapai efek penyejukannya. Alat ekspansi yang
banyak ditemui untuk AC adalah pipa kapiler karena beban penyejukan pada AC
relatif konstan. Alat ekspansi lain yang biasa ditemui dalam sistem penyejukan
adalah TXV (thermostatic expansion valve) dan EEV (electronic expansion valve)
untuk beban penyejukan yang beragam. Proses yang terjadi dalam alat ekspansi
ideal adalah isentalpik (throttling).

(10.4)

215
4. Evaporator (4-1)
Evaporator adalah alat yang secara konstruksi hampir sama dengan kondensor.
Evaporator mempunyai fungsi yang berkebalikan dengan kondensor, yaitu
menyerap kalor dari lingkungan. Suhu evaporator harus lebih rendah
dibandingkan suhu ruangan sehingga kalor dapat berpindah dari ruangan ke
evaporator. Refrigeran yang masuk ke dalam evaporator berfase cair, dan kalor
yang diserap evaporator digunakan untuk menguapkan refrigeran sehingga
refrigeran keluar dari evaporator dalam fase gas. Seringkali refrigeran
dipanaskan 3-5 oC di atas suhu saturasinya (lewat-panas, superheat) yang
dimaksudkan supaya refrigeran yang keluar sudah berfase gas seluruhnya. Hal ini
untuk keamanan kompresor karena kompresor hanya bisa mengkompresi
refrigeran dalam fase gas. Jika ada refrigeran yang berfase cair masuk ke dalam
kompresor dan ikut dikompresi, maka kompresor bisa rusak. Lewat-panas juga
berfungsi memperbesar beban penyejukan yang dapat dipindahkan oleh sistem
(secara tidak langsung meningkatkan COP), tetapi lewat-panas yang berlebihan
akan berdampak negatif karena kerja yang dilakukan kompresor akan bertambah
besar. Proses yang terjadi di dalam evaporator ideal adalah isobarik.

(10.5)

ACWH adalah sistem yang memanfaatkan panas buang dari sistem penyejukan
untuk memanaskan air. Sebagian kalor dari refrigeran yang sudah dikompresi
oleh kompresor digunakan untuk memanaskan air dengan bantuan APK. APK
inilah yang sangat menentukan kinerja ACWH. Dibutuhkan APK yang dapat
memindahkan kalor sebanyak-banyaknya dari refrigeran tanpa menyebabkan
hilang tekanan berlebihan yang dapat mempengaruhi kinerja sistem penyejukan.
Pada Gambar 10.7 dapat dilihat sikulus ACWH.

216
in
ing
d
Air

Air
PHE

p
2'

an
as
Qo GATE VALVE
ut

3 KONDENSOR

2
KATUP EKSPANSI
1

KOMPRESOR
4 EVAPORATOR

Qin

Gambar 10. 7 Prinsip kerja ACWH

Prinsip kerja ACWH adalah


Proses 1-2: Uap refrigeran dihisap kompresor kemudian ditekan sehingga
tekanan dan suhu refrigeran naik.
Proses 2-2’: Panas refrigeran ditransfer kepada air di dalam APK sehingga air
mengalami kenaikan suhu sedangkan refrigeran mengalami penurunan dan
sebagian telah berubah fase menjadi cairan.
Proses 2-3: Refrigeran didinginkan pada kondensor seperti pada siklus
penyejukan biasa
Proses 3-4: Refrigeran keluaran kondensor dan APK digabungkan sebelum
diekspansi. Cairan refrigeran dengan tekanan dan suhu tinggi diekspansikan
sehingga mengalami penurunan tekanan dan suhu.
Proses 4-1: Refrigeran di evaporator dalam keadaan suhu rendah sehingga dapat
menyerap kalor ruangan. Cairan refrigeran menguap secara berangsur-angsur
karena menerima kalor sebanyak kalor laten penguapan. Selama proses
penguapan di dalam pipa terdapat campuran refrigeran fase cair dan uap. Proses
ini berlangsung pada tekanan tetap sampai mencapai derajat lewat-panas
Secara teoretis, penggunaan ACWH dapat meningkatkan jumlah kalor
yang dapat dibuang yang berarti dapat menambah beban penyejukan yang dapat

217
dipindahkan dengan kerja kompresor yang sama. Namun perlu diperhatikan jika
beban penyejukan tidak ditambah, akan mengakibatkan refrigeran yang masuk
ke dalam kompresor masih berada dalam kubah uap (berfase campuran antara
cairan dan uap) sehingga dapat merusak kompresor.
Berdasarkan standar suhu air panas untuk kepentingan mandi dan
mencuci tangan, maka suhu yang harus dicapai oleh sistem ACWH adalah 40-
450C. (Lihat Tabel 10.1) Sementara itu, untuk kepentingan mandi, rata-rata
seorang dewasa membutuhkan air 50 Liter. Dengan asumsi bahwa sebuah
apartemen dihuni oleh 2 orang dan setiap orang mandi menggunakan air panas
minimun 1 kali per hari, maka jumlah air panas yang harus disuplai sistem ACWH
adalah 100 L/hari.
Putra et al. [2005] menguji unjuk kerja APK yang digunakan pada sistem
ACWH. Pada penelitian tersebut digunakan satu APK tipe koil dengan berbagai
macam orientasi peletakan. Gambar 10.8 menunjukkan skema pengujian ACWH,
dan dapat dijelaskan bahwa kompresor (1) menyerap uap refrigeran R-22 dari
evaporator (4), kemudian dikompres sehingga memiliki tekanan dan suhu tinggi.
Selanjutnya refrigeran ini mengalir ke dalam tangki penyimpan air (5) melalui APK
(6). Suhu refrigeran yang mengalir ke dalam tangki diukur oleh termokopel (7).
Berhubung terdapat perbedaan suhu yang tinggi antara refrigeran dan air dingin,
maka terjadi perpindahan kalor di dalam tangki penyimpan air. Refrigeran
melepaskan kalornya ke air dingin sehingga air mengalami kenaikan suhu dan
menjadi panas. Sebaliknya refrigeran mengalami penurunan suhu, kemudian
mengalir menuju kondensor (2). Sebelum masuk ke kondensor, suhu refrigeran
diukur lagi oleh termokopel (8). Di dalam kondensor, refrigeran didinginkan oleh
udara dari kipas kemudian dialirkan ke kapiler (3) untuk diekspansikan.

218
Tabel 10.1 Kebutuhan air panas [Nurbambang, 1999]

Air di dalam tangki yang menerima kalor dari refrigeran diukur suhunya
dengan menggunakan termokopel. Termokopel dipasang pada posisi (10), (11),
dan (12). Pemasangan demikian dapat mengetahui distribusi suhu air panas di
dalam tangki penyimpan air. Pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya
digunakan dua bentuk APK, yakni tipe koil dan heliks.
Faktor penyebab tingginya suhu air ACWH model heliks antara lain ialah
suhu refrigeran yang lebih tinggi dibandingkan ACWH model coil. Selisih suhu
yang besar antara refrigeran yang mengalir masuk dan keluar menyebabkan
jumlah kalor yang diberikan ke air lebih besar. Faktor lain yang mempengaruhi
adalah bentuk geometri dari APK itu sendiri. Bentuk heliks memiliki hambatan
yang lebih besar sehingga menyebabkan kerja kompresor yang lebih besar.
Akibatnya tekanan lebih tinggi diikuti oleh suhu refrigeran yang tinggi. Pada model
ini untuk mendapatkan air panas dengan suhu minimal 50 oC memerlukan waktu
yang cukup lama.

219
Gambar 10. 8 Skema alat uji karakterisasi ACWH konvensional

Berdasarkan grafik yang telah diplot (Gambar 10.9) dari data pengujian ACWH
dengan konveksi natural, terlihat bahwa ACWH yang menggunakan APK tipe heliks
memiliki kenaikan suhu yang lebih cepat dan distribusi suhu yang lebih merata di dalam
tangki dibandingkan dengan ACWH yang menggunakan HE tipe pipe coil. ACWH dengan
APK tipe heliks dapat mencapai suhu 74 oC dalam waktu 7 jam, sedangkan ACWH
dengan APK tipe pipe koil baru mencapai suhu 67 oC dalam selang waktu yang sama.
Terlihat juga distribusi suhu yang merata pada ACWH heliks. Suhu air di dekat APK dan
di ujung atas tangki berselisih 1-2,5 oC sedangkan untuk ACWH APK pipe koil mencapai
selisih 2–23 oC.

220
80.00 Coil vs Helical

70.00

60.00

50.00
Coil Tengah
Temperature

Coil Atas
40.00
Heli Tengah
Heli Atas
30.00

20.00

10.00

0.00
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Time

Gambar 10.9 Perbandingan suhu air ACWH koil vs heliks

Selain itu, dalam penelitian tersebut juga dibuat beberapa model pengujian untuk
mengetahui lebih jelas karakter APK yang digunakan. Pada Gambar 10.10 dapat dilihat
sistem yang dibangun. Pada prinsipnya, alat pengujian ini terdiri atas dua siklus, yaitu
siklus air dan siklus refrigeran. Siklus refrigeran dimulai ketika kompresor (1) menyerap
uap refrigeran R-22 dari evaporator (4), kemudian dikompres sehingga memiliki tekanan
dan suhu tinggi. Selanjutnya refrigeran ini mengalir ke dalam tabung APK (15) melalui
koil pipa (6). Suhu refrigeran yang mengalir ke dalam tabung diukur oleh termokopel (7).
Berhubung terdapat perbedaan suhu yang tinggi antara refrigeran dan air, maka terjadi
perpindahan panas di dalam tabung APK. Refrigeran melepaskan kalornya ke air
sehingga air mengalami kenaikan suhu dan menjadi panas.
Sementara itu, siklus air dimulai dari tangki reservoir. Mula-mula air mengalir ke
dalam tabung APK. Di dalam tabung terjadi perpindahan kalor dari refrigeran ke air yang
menyebabkan suhu air naik. Air kemudian mengalir ke tangki penyimpan air (5) lalu
kembali lagi ke tangki reservoir. Air di dalam tabung APK yang menerima kalor dari
refrigeran diukur suhunya dengan menggunakan termokopel yang dipasang pada posisi
(9), (10), dan (11). Termokopel (12) digunakan untuk mengukur suhu air di dalam tangki
penyimpan air. Dari tangki reservoir proses kembali lagi ke awal.
Keragaman debit mempengaruhi suhu air masuk dan air keluar pada tabung
APK. Debit yang lebih kecil akan menghasilkan perbedaan suhu yang lebih besar. Pada

221
ACWH modifikasi dengan HE tipe heliks, perbedaan suhu di kedua titik tersebut untuk
debit 200 L/h antara 3 dan 15 oC, sedangkan untuk debit 300 L/h perbedaannya antara
2 dan 5 oC. Untuk suhu air di dalam tangki terdapat perbedaan sebesar 6–11 oC antara
ACWH model heliks dan ACWH model koil untuk debit 200 L/h. Untuk debit 300 L/h
terdapat perbedaan suhu sebesar 3–10.5 oC.
Lebih lanjut Putra et al.[2006] menggunakan dua buah APK yang dipasang secara
seri. Pengembangan pada ACWH lebih lanjut ditunjukkan pada Gambar 10.11, skema
alat uji ACWH yang terdapat di Lab. Perpindahan kalor Teknik Mesin UI. Alat penyejuk
berkapasitas 1 PK dengan sistem kompresi yang terdiri atas kompresor (1), kondeser
(2), katup ekspansi, (3) dan evaporator (4) dikopel dengan APK (5). Dalam penelitian ini
dua buah APK (6) digunakan, yakni tipe koil seperti terlihat pada Gambar 10.11. Fluida
kerja yang digunakan pada siklus penyejuk adalah R22. Pada sisi masuk dan keluar
APK, tekanan dan suhu fluida kerja R22 diukur dengan menggunakan termokopel tipe K
dan sesor tekanan.

Gambar 10.10 Skema ACWH yang telah dikembangkan

222
Pada Gambar 10.12 untuk tipe APK koil dapat dilihat distribusi suhu fluida air
dan refrigeran sebelum dan sesudah APK dengan ragam laju alir fluida air. Suhu fluida
refrigeran sebelum masuk APK sekitar 100-120 oC dan kemudain turun sampai 40-30 oC
setelah keluar APK. Sementara pada fluida air, suhu tertinggi yang dapat dicapai adalah
sekitar 50 oC pada laju alir rendah 50 L/jam. Efektivitas APK berada pada kisaran 24%
sampai 1%. Efektivitas APK berbanding terbalik dengan laju alir air dan sebanding
dengan besar NTU pada APK tertentu. Efektivitas paling tinggi diperoleh pada laju alir
yang paling rendah.
Pada Gambar 10.13 merupakan diagram p-h untuk siklus refrigrasi pada sisi
kompresor dan alat pneukar kalor. Pada diagram tersebut Notasi A untuk laju alir air 50
L/h, sedangkan notasi H untuk laju alir air 400 L/h, dan I untuk laju alir air 450 L/h.
Pada laju alir rendah 50 L/h, kondisi fluida kerja sudah berubah fase menjadi uap pada
saat akan masuk ke dalam kompresor titik IA, sementara pada laju alir 450 L/h titik 1I
masih sedikit berada di dalam kukus uap, hal ini harus dihindari, karena fluida harus
berwujud uap sebelum masuk ke dalam kompresor. Apabila dilihat dari kerja kompresor,
yakni dengan menghitung entalpi titik 2 dan titik 1 terlihat bahwa kerja kompresor akan
lebih kecil untuk laju alir air rendah 50 L/h dibanding dengan laju alir 450 L/h. Seiring
dengan naiknya laju alir air, titik 2 akan turun ke bawah, titik 2’ dan 1 akan bergeser ke
kiri bawah. Entalpi pada aliran air yang besar akan meningkat, namun aliran masa freon
turun dengan sangat drastis. Turunnya laju alir masa freon ditunjukkan dengan
penurunan kerja kompresor.

223
13
6 6

14 10 5 9

2 12
8 7
P2
P3 P1
A

1 11
3

Gambar 10.11 Skema ACWH dengan menggunakan APK tipe koil dengan 2 laluan shell.

120
110
100
90
Air M asuk
Temp (C)

80
Air Keluar
70
Freon M asuk
60
Freon Keluar
50
40
30
20
0 100 200 300 400 500
Debit air (L/h)

Gambar 10.12. Suhu inlet-outlet fluida pada APK tipe A 2 shell pass.

224
Gambar 10.13. Grafik pergeseran titik-titik dalam diagram P-h pada ACWH dengan HE tipe
koil dengan 2 shell pass.

Kemudian Nandy et al. [2007] mencoba merancang APK tipe koil sebanyak 3
buah disusun seri. Peracangan APK untuk sistem ACWH pada penelitian ini merujuk
pada penelitian ACWH sebelumnya [Nandy et al. 2005 dan 2006], Shah dan standar
perhitungan di TEMA, dan asumsi-asumsi lainnya, yakni laju air 50 L/h dan suhu
maksimum keluar dari APK sebesar 60 oC. Suhu ini sangat menguntungkan bila dilihat
dari segi dimensi penyimpanan termal, karena untuk menghasilkan air hangat bersuhu
45 oC hanya dibutuhkan 57% air panas bersuhu 60 oC dan 43% air tanah bersuhu 25 oC.
APK tipe koil dipilih karena mudah dalam pembuatannya dan dapat dilakukan di
bengkel-bengkel kecil. Fluida air mengalir di dalam selongsong sementara fluida
refrigeran mengalir di dalam pipa mengingat tekanan refrigeran yang cukup tinggi.
Material pipa terbuat dari tembaga untuk mendapatkan perpindahan kalor yang cukup
tinggi sementara selongsongnya terbuat dari besi. Pada perancangan faktor pengotoran
baik pada pipa maupun selongsong tidak diperhitungkan.
Perancangan APK menggunakan metode yang umum digunakan dengan
persamaan dasar sebagai berikut:

(10.6)
dengan

225
Q : beban kalor. [W]
U : koefisien perpindahan kalor menyeluruh [W/m2 K]
A : luas permukaan perpindahan kalor [m2]
Tlm : beda suhu rata – rata [K]

Untuk menghitung koefisien perpindahan kalor menyeluruh digunakan


persamaan berikut:

1 1 Rf "c Rf "h 1
   Rw   (10.7)
UA (o .h. A) c (o A) c (o A) h (o .h. A) h

Dari perhitungan diperoleh dimensi APK untuk sistem ACWH diperoleh luas total
perpindahan kalor 0.219 m 2, diameter pipa yang digunakan adalah 3/8― jumlah lilitan
per koil adalah 10 lilitan dengan diameter lilitan 0.09 m. Pada Gambar 10.14 dapat
dilihat hasil rancangan APK tipe koil pada sistem ACWH.

Gambar 10.14. Rancangan APK tipe Koil Tiga Laluan

226
Gambar 10.15. Skema pengujian

Alat pengujian terdiri atas sistem AC dengan aliran refrigeran dihubungkan dengan
APK. Sistem AC konvensional memiliki kapasitas 1 PK terdiri atas kompresor ,
kondenser , katup ekspansi  dan evaporator . Pipa keluaran kompresor sebelum
masuk pipa input kondenser dipotong kemudian dihubungkan dengan APK ,  yang
dirancang. Refrigeran dengan suhu tinggi yang keluar dari kompresor akan mengalir
terlebih dahulu melalui APK lalu menuju kondenser. Selama melewati APK, terjadi
perpindahan kalor dari refrigeran ke air. Termokopel untuk mengukur suhu refrigeran
dipasang sebelum  dan sesudah  memasuki APK. Termokopel untuk mengukur suhu
air diletakkan pada titik masuk  dan keluar  dari selubung. Semua termokopel
dihubungkan dengan data akusisi yang terpasang di komputer (13). Parameter lain yang
diukur dalam alat pengujian ini adalah laju alir air dengan rotameter sebagai alat
pengukur laju alir air (12) diletakkan pada jalur aliran air tepatnya di antara pompa air
dan APK. Tekanan refrigeran diukur dengan menggunakan pengukur tekanan tipe pipa
bourdon pada titik P1, P2, dan P3. Kemudain untuk menghitung konsumsi listrik pada
kompresor maka arus listrik yang masuk kompresor diukur dengan clamp meter dan
tegangan distabilkan dengan stabilizer. Ragam yang dilakukan pada pengambilan data
pada laju alir air ialah dari 50, 60, 70, 80, 90, 100, 150, 200, hingga 250 L/h.

227
Pada Gambar 10.16 dapat dilihat distribusi suhu masuk dan keluar masing-masing
fluida pada APK yang dirancang. Pada pengujian digunakan air tanah dengan suhu yang
berkisar 21-26 oC. Air dialirkan ke dalam APK dengan ragam laju alir 50 L/h sampai 250
L/h. Suhu masuk freon berkisar 84-94 oC dengan laju alir konstan. Suhu air panas yang
keluar dari APK beragam antara 25 dan 60 oC. Suhu air panas yang dihasilkan semakin
turun dengan naiknya laju alir air, hal ini karena waktu kontak antara air dengan
permukaan perpindahan kalor semakin singkat. Suhu maksimum yang dapat dicapai
adalah 60 oC pada laju alir 50 L/h, sedangkan untuk suhu refrigeran, suhu keluarnya
sekitar 49 oC pada laju alir air yang rendah dan menurun menjadi 42 oC pada laju alir
250 L/h. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah kalor yang dilepaskan refrigeran atau
jumlah kalor yang dapat diserap oleh air akan menjadi maksimuml pada laju alir rendah.

Gambar 10.16. Debit air vs. suhu koil 3 laluan

Pada Gambar 10.17 dapat dilihat hubungan tekanan refrigeran khususnya tekanan
masuk dan keluar kompresor serta tekanan keluar APK. Sebelum aliran air dialirkan di
dalam APK, atau sistem dalam kondisi biasa, tekanan refrigeran diset pada tekanan 70
Psi. Setelah air mulai dialirkan ke dalam APK tekanan refrigeran mulai turun, hal ini
karena suhu refrigeran secara keseluruhan menjadi lebih rendah karena sebagain kalor
refrigeran dilepaskan ke air. Hal ini berakibat menurunnya tekanan refrigeran di dalam
sistem. Air pada APK lebih banyak menyerap kalor dibandingkan dengan udara pada
bagaian kondenser. Sementara apabila dilihat hilang tekanan di dalam APK, terlihat
bahwa hilang tekanan pada alat penukar tidak terlalu besar sekitar 0.35 bar. Hilang
tekanan pada APK banyak dipengaruhi oleh jumlah lilitan pada setiap koil.

228
Gambar 10.17 Tekanan refrigeran vs. laju alir air

Apabila dilihat dari kerja kompresor, pada Gambar 10.18 dapat dilihat hubungan
kerja kompresor dan laju alir air masuk ke dalam APK. Semakin meningkat laju alir air,
semakin menurun pula kerja kompresor. Menurunnya kerja kompresor ini lebih
disebabkan oleh tekanan di dalam sistem AC yang juga menurun seperti yang dapat
dilihat pada Gambar 10.17.
Pada Gambar 10.19 dapat dilihat perbandingan efektivitas APK tipe koil yang
disusun secara seri dengan APK pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya
[Nandy et al. 2006]. Secara keseluruhan efektivitas 3 APK tipe koil yang disusun secara
seri ini memiliki efektivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan APK yang
digunakan pada penelitian sebelumnya, khususnya pada laju alir yang rendah.
Efektivitas yang lebih tinggi dikarenakan rancangan APK 3 koil yang disusun seri dapat
mengahasilkan beda suhu antara sisi masuk dan keluar lebih tinggi.

229
Gambar 10.18 Kerja kompresor vs laju alir air.

Gambar 10. 19 Perbandingan efektivitas APK

230
Dengan AC berdaya 1 PK dan laju alir antara 50 L/h sampai 250 L/h, APK yang tipe
koil yang dirancang dan disusun secara seri menghasilkan air panas dengan suhu
berkisar 25–60 oC. Rancangan APK tipe koil sebanyak 3 buah disusun seri pada sistem
ACWH memiliki efektivitas sekitar 60% pada laju alir 50 L/h. Keberadaan ACWH dapat
mengurangi kerja kompresor karena terjadi rekoveri kalor pada ACWH, sehingga suhu
kondenser lebih rendah, selanjutnya titik embun dan titik penguapan pada siklus
refrigeran juga turun. Luasan siklus refrigerasi yang menurun akibat pemasangan ACWH
juga menjadi penyebab penurunan kerja kompresor.

10.3. ACWH dengan APK tipe Pelat (PHE)


Seperti diketahui PHE memiliki efisinsi yang tinggi dan bentuknya yang kompak.
ACWH dengan PHE diperkirakan mampu memberikan unjuk kerja yang lebih
dibandingkan dengan tipe alat penukar lainnya yang dapat diaplikasikan pada sistem
ACWH.
Pengujian ACWH dengan PHE ini ialah untuk mengevaluasi karakter APK tipe pelat
(PHE) pada sistem ACWH. Instalasi APK tipe PHE ini merupakan pengembangan dari
instalasi yang telah ada, perbedaannya ialah pada jumlah pelat yang digunakan. Pada
Gambar 10.20 ditunjukkan skema pengujian ACWH dengan PHE sebagai APKnya
Alat pengujian terdiri atas sistem AC split dengan aliran refrigeran dihubungkan
dengan APK tipe pelat dengan jumlah pelat sebanyak 30 lapis. Di antara bagian pipa
outlet kompresor dan pipa inlet kondensor dihubungkan dengan PHE. Dengan demikian,
PHE akan dialiri aliran refrigeran dengan suhu tinggi yang keluar dari kompresor menuju
ke kondensor. Di sisi lainnya, air bersuhu rendah dialirkan melewati PHE.
Refrigeran dari kompresor AC akan mengalir berlawanan arah dengan air di dalam
APK tipe PHE ini. Di dalam PHE akan terjadi pertukaran kalor antara refrigeran dan air.

231
Condenser

DAQ

Gate valve
Rotameter
PHE

Compressor Pompa air Capilary tube

Evaporator

Gambar 10.20 Skema alat pengujian

Termokopel dipasang pada setiap titik input dan output fluida-fluida kerja. Parameter
lain yang diukur dalam pengujian ini adalah laju alir air. Alat yang digunakan adalah
rotameter. Rotameter sebagai alat pengukur laju alir air diletakkan pada jalur aliran air
tepatnya di antara pompa air dan APK. Tekanan refigeran diukur dengan menggunakan
pengikur tekanan tipe pipa bourdon pada beberapa titik, tekanan buang kompresor
(inlet PHE), tekanan keluar PHE, tekanan keluar pipa kapiler, dan tekanan kompresor
isap.
Berdasakan skema alat pengujian seperti Gambar 10.20, termokopel digunakan
untuk mengukur suhu inlet-oulet evaporator, suhu inlet-outlet pada PHE (refrigeran
maupun air), dan suhu sesaat sebelum pipa kapiler.
Dengan data suhu dan tekanan yang didapatkan, siklusnya dapat dimasukkan dalam
diagram p-h. Arus listrik yang masuk kompresor diukur menggunakan clamp meter.
Selengkapnya untuk perancangan dan instalasi alat penujian APK pada ACWH dapat
dilihat pada skema alat pengujian.
Air conditioner (AC) yang digunakan dalam pengujian ini adalah tipe split dengan
daya sebesar 1 PK. Unit indoor terdiri atas evaporator, dan unit outdoor terdiri atas
kompresor, kondenser, dan pipa kapiler. Seluruh jalur pemipaan refrigeran yang ada
diisolasi untuk mencegah kebocoran termal yang dapat menurunkan kinerja AC. Pada
Gambar 10.21 terlihat PHE yang telah diisolasi untuk mengurangi rugi kalor. Spesifikasi
lengkap PHE dapat dilihat pada Tabel 10.2.

232
Gambar 10.21 APK tipe pelat yang sudah diisolasi

Tabel 10.2. Spesifikasi PHE CB26-30H

Data & Dimensi CB26-30H


0
Suhu kerja maks/min 225/-160 C
Tekanan kerja maks S3-S4/S1-S2 30/30 bar
Volume per kanal 0,059 L
Laju alir maks 8,1 m3/h
Tinggi 310 mm
Lebar 112 mm
Jarak sambungan per port vertikal 250 mm
Jarak sambungan per port horizontal 50 mm
Panjang tumpukan pelat (n*2,4)+9 mm
Bobot kosong (n*0,13)+2,4 kg
Sambungan ulir standar 1 Inci
Material pelat AISI 316
Material sambungan AISI 316
Material brazing Tembaga

233
Gambar 10. 22 Beban penyejukan yang digunakan pada penelitian ACWH

Untuk mengetahui seberapa besar kapasitas penyejuk ataupun pemanasan, harus


diketahui kondisi di dalam dan luar ruangan. Beban pendingan dari suatu
bangunan/ruangan terdiri atas kalor yang masuk dari sela-sela ruangan (dinding, atap,
lantai, jendela, pintu, dsb.) dan kalor yang berasal dari dalam ruangan itu sendiri, (kalor
dari penghuni, peralatan, dan lampu). Beban yang berasal dari luar ruangan disebut
dengan beban eksternal, sedangkan beban dari dalam ruangan disebut dengan beban
internal dalam penelitian digunakan lampu piajar seprti terlihat pada Gambar 10.22.
Beban tersebut termasuk beban kalor laten dan beban kalor sensibel. Beban kalor
sensibel mempengaruhi suhu bola kering, sedangkan beban kalor laten mempengaruhi
kadar kelembapan dalam ruangan tersebut.

Gambar 10. 23 Kontainer yang digunakan pada penelitian ACWH

234
Pada penelitian ACWH ini, diasumsikan tidak ada kalor yang keluar-masuk ruang
pengujian (kontainer). Ruangan pengujian berukuran 3,5 m  1,5 m  1,5 m (Gambar
10.23) dan dilapisi isolator poliuretan setebal 10 cm, sehingga perhitungan kalor beban
eksternal diabaikan, beban penyejukan yang ada hanya berasal dari lampu pijar yang
dinyalakan di dalam ruangan pengujian.

Estimasi Beban Penyejukan Internal


Beban penyejukan internal berasal dari objek yang berada dalam ruangan, seperti
pencahayaan lampu, alat-alat elektronik, maupun manusia yang beraktivitas di
dalamnya. Dalam penelitian ACWH ini, beban penyejukan internal hanya berupa lampu
pijar yang dinyalakan. Lampu ini menghasilkan kalor sensibel terhadap ruangan
penelitian, karena kalor yang ditransmisikan dari lampu ini berupa radiasi dan konveksi,
Cooling load fakcor (CLF) digunakan untuk menghitung nilai konversinya. Beban
penyejukan yang dihasilkan oleh lampu pijar dapat dihitung dengan:
Qlighting  (Installed Wattage)(Usage Factor)(Ballast Factor)(CLF)
(10.8)
Usage factor merupakan jumlah bohlam yang dinyalakan pada saat pengujian,
ballast factor bernilai 1,25 jika menggunakan lampu tipe tabung (TL), pada penelitian ini
digunakan lampu bohlam, sehingga nilai ballast factor bernilai 1. Nilai CLF mengacu
pada tabel pada buku panduan ASHRAE. CLF mengonversi jumlah kalor yang dapat
disimpan pada suatu ruangan. Pada penelitian ACWH ini, nilai CLF bernilai 1; hal ini juga
bertujuan untuk memudahkan perhitungan.

Analisis Karakter APK


Refrigeran yang keluar dari kompresor kemudian terbagi dua, menuju kondenser dan
menuju PHE. Bukaan katupnya diatur menggunakan katup searah sehingga air keluaran
yang dihasilkan masih kurang panas karena debit refrigeran yang masuk ke PHE hanya
sebagian. Suhu air panas ini masih bisa ditingkatkan dengan menambah refrigeran ke
dalam sistem. Namun, melihat tekanan buang kompresor sudah cukup tinggi (330 psi
pada 50 L/jam, sistem AC normal bekerja pada sekitar 260 psi), maka tidak
ditambahkan refrigeran ke dalam sistem karena penambahan refrigeran akan
mempertinggi tekanan buang kompresor yang dapat mempengaruhi ketahanan
kompresor. Perlu diketahui pada penelitian ACWH ini, untuk mengisikan refrigeran ke
dalam sistem ini dibutuhkan refrigeran R22 sebanyak 1.8 kg. Sebagai perbandingan,
sistem AC normal hanya membutuhkan refrigeran sekitar 600 g.

235
Bukaan katup pada bagian PHE dan kondenser diatur sedemikian rupa sehingga
mendapatkan nilai kalor air yang optimum. Hal ini juga disesuaikan dengan debit aliran
air, hilang tekanan pada sistem, dan suhu dalam kabin. Jika bukaan katup menuju
kondenser kecil dan menuju PHE besar sehingga sebagian besar refrigeran mengalir ke
PHE, akan menghasilkan suhu air panas yang tinggi (secara teoretis karena debit
refrigeran yang memanaskan air menjadi lebih banyak). Namun, hilang tekanan pada
kompresor isap akan tinggi dan mengurangi efek penyejukan (meningkatkan suhu di
dalam kabin).
Bukaan katup tidak boleh terlalu besar karena pada bukaan tertentu, kompresor isap
akan turun sampai 10 psi dan sistem kehilangan efek penyejukan maupun
pemanasannya. Hal ini diakibatkan oleh suhu refrigeran yang keluar PHE dan masuk ke
pipa kapiler lebih tinggi dibandingkan suhu refrigeran yang keluar dari kondensor
sehingga suhu gabungannya masih lebih tinggi dibandingkan sistem AC biasa. Hasilnya
adalah suhu refrigeran yang masih tinggi setelah diekspansi sehingga penyerapan kalor
pada evaporator menjadi tidak maksimum. Jika jumlah kalor yang diserap sedikit, maka
refrigeran yang keluar masih berfase campuran cairan-uap sehingga refrigeran yang
akan dikompresi oleh kompresor (refrigeran yang berfase gas karena refrigeran cair
tidak bisa masuk kompresor karena ditahan oleh scrubber) menjadi sedikit yang
berujung pada penurunan tekanan kompresor isap. Keadaan ini dapat membahayakan
kompresor karena tidak terdapat akumulator pada sistem ACWH pada penelitian ini.
Fluida dingin pada penelitian ini menggunakan air tanah dengan suhu berkisar 29-30
oC. Air dialirkan ke dalam APK dengan ragam laju alir 50 L/jam sampai 200 L/jam
dengan selisih 10 L/jam untuk setiap pengambilan data dengan APK tipe pelat untuk
percobaan keragaman debit aliran air.
Dengan pengujian seperti di atas, didapatkan suhu refrigeran yang masuk
berkisar 90-104 C, dan suhu keluar fluida air 37-48 C, seperti yang ditunjukkan
Gambar 10.24. Suhu air panas yang dihasilkan semakin menurun seiring dengan
kenaikan debit aliran. Suhu refrigeran yang keluar cenderung semakin turun seiring
dengan kenaikan debit aliran air karena kalor yang diserap oleh air semakin besar
sehingga refrigeran memiliki entalpi yang lebih kecil.

236
120

100

Temperatur (°C)

80 R inlet
R outlet
W inlet
W outlet
60

40

20
40 60 80 100 120 140 160 180 200 220

Laju Aliran (L/hr)

Gambar 10.24 Suhu fluida kerja pada inlet-outlet PHE pada pengujian keragaman debit
aliran air

Berkurangnya suhu air panas yang dihasilkan tidak berarti kalor yang diserap oleh air
berkurang. Debit aliran yang besar berarti laju alir massa juga besar. Berkurangnya ΔT
diimbangi dengan meningkatnya laju alir massa air sehingga jumlah kalor yang diserap
air justru semakin meningkat. Gambar 10.24 menunjukkan terjadinya gejala tersebut.
Kalor minimum yang diserap terjadi pada debit aliran 50 L/jam sebesar 1142 W dengan
suhu air panas yang dihasilkan 48,12 C, sedangkan kalor maksimuml yang diserap
mencapai 1627 W pada debit aliran 180 L/jam dengan suhu air panas yang dihasilkan
37,27 C.
Gambar 10.25 juga menunjukkan seiring dengan meningkatnya jumlah kalor yang
diserap air, maka kerja kompresor akan semakin berkurang. Kerja kompresor ketika
kalor yang diserap air minimum adalah 924 W, sedangkan ketika kalor yang diserap air
maksimum, kerja kompresor berkurang sehingga hanya membutuhkan daya 726 W.
Sebaliknya, untuk pengujian dengan keragaman beban penyejukan, suhu refrigeran
yang masuk berkisar 90-97 0C dan suhu air panas yang dihasilkan berkisar 40-41 0C,
seperti yang terlihat pada Gambar 10.27. Kenaikan beban penyejukan cenderung diikuti
dengan kenaikan suhu refrigeran karena semakin banyak beban penyejukan yang harus
dipindahkan. Entalpi refrigeran akan semakin menigkat yang diikuti dengan
meningkatnya suhu refrigeran.

237
1800

1600

1400
Daya (W)

1200
W kompressor
Q Air

1000

800

600
40 60 80 100 120 140 160 180 200 220

Laju Aliran (L.hr)

Gambar 10.25 Jumlah kalor yang diserap air pada pengujian keragaman debit aliran air

120

100
Temperatur (°C)

80
R inlet
R outlet
W inlet
60 W outlet

40

20
1600 1800 2000 2200 2400 2600 2800

Beban Pendinginan (W)

Gambar 10.26 Suhu fluida kerja pada masuk keluar PHE pada pengujian variasi beban
penyejukan

Semakin banyak beban penyejukan, maka kalor yang tersedia untuk memanaskan
air akan semakin banyak sehingga suhunya air panas yang dihasilkan akan semakin
tinggi. Semakin tinggi kenaikan suhu air, semakin besar pula kalor yang diserap oleh air.
Hal ini dapat terlihat pada Gambar 10.28.

238
1500

1400

1300

1200
Daya (W)

W Kompresor
1100 Q Air

1000

900

800

700
1600 1800 2000 2200 2400 2600 2800

Beban Pendinginan (W)

Gambar 10.27 Kalor yang diserap air pada pengujian keragaman beban penyejukan

0.28

0.26 Variasi Laju Aliran


Variasi Beban Pendinginan
0.24

0.22

0.20

0.18
e

0.16

0.14

0.12

0.10

0.08
0.6 0.8 1.0 1.2 1.4 1.6 1.8

NTU

Gambar 10. 28 Efektivitas PHE pada berbagai nilai NTU

Untuk perhitungan NTU, C yang digunakan adalah yang nilainya minimum. Refrigeran
yang keluar dari PHE masih berfase gas lewat-panas sehingga kapasitas kalornya masih
berhingga. Jika refrigeran sudah masuk ke dalam kubah uap, maka kapasitas kalor

239
refrigeran menjadi takterhingga. Kapasitas kalor air adalah 4,18 kJ/kg, sedangkan
kapasitas kalor refrigeran adalah 1,164 kJ/kg (pada debit aliran 100L/jam, beban
penyejukan 2600 W, fase gas lewat-panas), sehingga jelas bahwa fluida yang digunakan
untuk perhitungan NTU adalah refrigeran.
Berdasarkan pengolahan data, efektivitas PHE berkisar 0,10-0,26, dengan
membandingkan selisih suhu air dengan selisih suhu maksimum. Pada pengujian
keragaman debit aliran air, efektivitas APK berbanding terbalik dengan debit aliran air.
Analisis Kerja Kompresor
Pada sistem ACWH, tekanan isap dan buang kompresor cenderung menurun jika
debit aliran air dinaikkan. Pada kondisi AC normal, tekanan kompresor isap dibuat lebih
tinggi (80 psi) daripada biasanya (60-70 psi). Saat sistem ACWH diaktifkan, tekanan
akan turun dengan sendirinya. Jika tekanan suction kompresor tidak ditambahkan,
maka tekanan isap akan turun saat sistem ACWH aktif, melewati tekanan pada AC
normal (kurang dari 60 psi). Tekanan isap yang terlalu rendah akan menyebabkan
sistem penyejukan kurang efektif karena suhu pada evaporator akan meningkat dan
beban penyejukan yang dapat dipindahkan menjadi berkurang. Hal ini diakibatkan oleh
refrigeran yang meninggalkan evaporator masih berada dalam kubah uap sehingga debit
refigeran yang dikompresi lebih sedikit jumlahnya. Hal inilah yang menjadi penyebab
sistem ACWH membutuhkan refrigeran yang lebih banyak dibandingkan dengan sistem
AC biasa.
Pada pengujian ini, tekanan isap diatur sampai mencapai tekanan ideal dengan
mengatur bukaan gate valve. Sebagai akibat dari tekanan isap yang tinggi, maka
tekanan buang kompresor juga akan lebih tinggi dari normal. Tekanan buang tertinggi
didapat pada debit aliran air 50 L/jam sebesar 330 psi, sedangkan tekanan buang
terendah didapat pada debit aliran 200 L/jam sebesar 250 psi.
Pada Gambar 10.29 dapat dilihat bahwa tekanan isap kompresor cenderung
konstan terhadap setiap laju alir air, sedangkan tekanan buang kompresor mengalami
kenaikan jika laju alir semakin kecil. Namun tidak semua besaran laju alir
mempengaruhi nilai tekanan buang kompresor. Dalam laju alir air antara 200 L/jam
hingga 120 L/jam, nilai tekanan buang kompresor cenderung konstan pada nilai 250
psi. Kenaikan tekanan buang yang signifikan baru terjadi ketika laju alir air berada di
bawah 120 L/jam. Tekanan buang kompresor tertinggi berada pada 330 psi ketika laju
alir air 50 L/jam.

240
Kerja kompresor terlihat menurun karena adanya rekover kalor pada PHE (Gambar
10.30). Rekoveri kalor akan menurunkan tekanan isap dan buang pada kompresor yang
secara tidak lengsung akan menurunkan entalpi sehingga akan menurunkan kerja
kompresor. Kerja kompresor berbanding lurus dengan arus.
Gambar 10.31 menunjukkan kerja kompresor berbanding terbalik dengan laju alir.
Kerja kompresor terbesar bernilai 924 W pada laju alir 50 L/h. Kerja kompresor terkecil
bernilai 704 W pada laju alir 200 L/h. Dari penelitian diketahui bahwa kenaikan tekanan
buang kompresor di atas 280 psi sangat mempegaruhi kerja kompresor (kerja
kompresor menjadi lebih berat). Hal ini dikarenakan suhu refrigeran inlet menuju
kompresor sudah cukup tinggi.

350

300

250
Tekanan (psi)

200
Tekanan Buang
150 Hisap

100

50

0
40 60 80 100 120 140 160 180 200 220

Laju Aliran (l/jam)

Gambar 10.29 Tekanan isap & buang kompresor pada pengujian keragaman debit
aliran air

241
950

Kerja Kompresor
900

850
Daya (W)

800

750

700

650
40 60 80 100 120 140 160 180 200 220

Laju Aliran (l/jam)

Gambar 10.30 Kerja kompresor pada pengujian keragaman debit aliran air

350

300

250
Tekanan (psi)

200 Tekanan Buang


Tekanan Hisap

150

100

50
1600 1800 2000 2200 2400 2600 2800

Beban Pendinginan (W)

Gambar 10.31 Tekanan isap dan buang kompresor pada pengujian keragaman beban
penyejukan
Sementara itu, pada keragaman beban penyejukan tekanan isap dan buang
cenderung stabil. Sedikit penambahan tekanan diakibatkan oleh lamanya sistem
berlangsung (kompresor yang bekerja menghasilkan panas sehingga terjadi sedikit

242
kenaikan tekanan buang). Peningkatan tekanan buang dengan tekanan isap akan
meningkatkan kerja kompresor seperti terlihat pada Gambar 10.32.

840

835

830
Daya (W)

825
Kerja Kompresor

820

815

810
1600 1800 2000 2200 2400 2600 2800

Beban Pendinginan (W)

Gambar 10.32 Kerja kompresor pada pengujian keragaman beban penyejukan

Analisis Unjuk Kerja ACWH


COP merupakan nisbah antara manfaat yang didapatkan dengan kerja yang
dilakukan. Pada perhitungan COP, nilai kerja pompa sebesar 125 W juga ikut
diperhitungkan. Semakin kecil debit aliran air, manfaat yang didapat lebih ke efek
penyejukan. Semakin besar debit aliran air, manfaat yang didapat lebih ke pemanasan
air.Pada pengujian variasi debit aliran air, COP meningkat dengan cukup nyata sampai
mencapai nilai optimum pada debit aliran 180 L/jam, seperti yang ditunjukkan Gambar
10.33.
Efektivitas sistem ACWH semakin menurun bersamaan dengan penambahan laju
alir air. Efektivitas sistem ACWH maksimum berada bernilai sekitar 0,25 pada laju alir
50 L/h, sedangkan nilai efektivitas minimum pada nilai 0,10 ketika laju alir maksimum
200 L/h. Rendahnya nilai efektivitas pada lajualiran maksimum disebabkan fluida dingin
hanya berada dalam waktu yang singkat ketika melewati APK. Pada pengujian
keragaman debit aliran air, beban penyejukan diatur konstan pada 2600 W.

243
5.2 0.28

5.0 0.26

0.24
4.8
0.22
4.6
0.20

Efektifitas
4.4
COP

Efektifitas 0.18
4.2
0.16
COP
4.0
0.14
3.8
0.12

3.6 0.10

3.4 0.08
40 60 80 100 120 140 160 180 200 220

Laju Aliran (l/jam)

Gambar 10.33 Harga COP pada beragam debit aliran air

4.6 0.22

4.4 0.20

0.18
4.2
Efektifitas

0.16
COP

4.0

0.14
3.8

COP 0.12
3.6
Efektifitas
0.10
3.4
1600 1800 2000 2200 2400 2600 2800

Beban Pendinginan (W)

Gambar 10.34 Nilai COP pada beragam beban penyejukan

244
Gambar 10.34 menunjukkan nilai COP dan efektivitas pada pengujian keragaman
beban penyejukan, COP akan semakin meningkat jika beban penyejukan ditambah
karena beban penyejukan yang dipindahkan akan bertambah.
Secara umum kinerja ACWH (COPch) cenderung meningkat sejalan dengan
peningkatan beban penyejukan, tetapi kenaikannya tidak terlalu nyata jika dibandingkan
pada pengujian keragaman laju alir.
Efek penyejukan juga meningkat jika beban penyejukan ditingkatkan, tetapi
kenaikan ini juga diikuti dengan kenaikan kerja kompresor. Ini akan mengakibatkan
kenaikan kinerja penyejukannya (COPc), tetapi kenaikannya tidak terlalu nyata. Efek
pemanasan cenderung konstan, kinerja pemasanan (COPh) akan berkurang sejalan
dengan meningkatnya beban kompresor.

Rekoveri
kalor

Gambar 10.35 Rekoveri kalor ACWH pada diagram P-h R22

Proses rekoveri kalor pada ACWH dapat dilihat pada Gambar 10.35. APK akan
menyerap kalor dari refrigeran yang keluar dari kompresor (gas lewat-panas) sehingga
suhu refrigeran akan menurun. Penurunan ini tidak disertai dengan penurunan tekanan
karena konstruksi PHE tidak menyebabkan hilang tekanan yang terlalu besar. Refrigeran
yang keluar dari PHE masih berfase gas lewat-panas yang kemudian akan dicampur
dengan refrigeran yang keluar dari kondensor sebelum diekspansikan.

245
Perbandingan Unjuk Kerja ACWH
ACWH telah mengalami beberapa perubahan desain, terutama dari segi APK yang
digunakan. Perubahan ini juga berpengaruh pada kinerjanya. Beberapa perubahan yang
pernah dilakukan adalah dengan menggunakan APK tipe koil, pipa heliks, hingga
menggunakan tipe pelat dengan beragam jumlah pelat. Sebagai catatan, siklus aliran air
yang dilakukan dalam penelitian tersebut adalah siklus terbuka.

Berikut adalah tabel yang membandingkan hasil penelitian yang telah dilakukan
pada sistem ACWH.
Tabel 10.3 Data dan kinerja pipa koil 1 laluan [14]

Debit Suhu (°C)


Air Refrigeran Air Q ε
R R Air Air
(L/h) Inlet Outlet Inlet Outlet
50 86.51 41.52 29.34 44.95 899.76 0.27
100 86.92 40.4 28.17 37.05 1024.79 0.15
150 87.26 39.51 27.59 32.94 926.53 0.08
200 87.24 39.92 27.53 31.52 922.07 0.06
Tabel 10.4 Data dan kinerja pipa heliks 1 laluan [14]

Debit Suhu (°C)


Air Refrigeran Air Q ε
R Air Air
(L/hr) R Inlet Outlet Inlet Outlet
50 117.03 53.7 29.49 53.91 1405.07 0.27
100 117.55 48.76 28.33 43.94 1798.64 0.17
150 117.84 45.61 27.97 40.05 2091.2 0.13
200 117.87 42.6 27.6 37.17 2209.59 0.10
Tabel 10.5 Data dan kinerja pipa koil 2 laluan [15]

Debit Suhu (°C)


Air Refrigeran Air Q ε
R Air Air
(L/hr) R Inlet Outlet Inlet Outlet
50 109.70 46.09 28.84 48.38 1124.99 0.190
100 105.57 41.31 27.04 35.70 999.99 0.080
150 104.38 38.55 26.62 31.63 868.12 0.040
200 105.46 36.85 26.69 29.60 671.81 0.020

246
Tabel 10.6 Data dan kinerja pipa heliks 2 laluan [15]

Debit Suhu (°C)


Air Refrigeran Air Q ε
R Air Air
(L/hr) R Inlet Outlet Inlet Outlet
50 115.23 42.14 28.62 47.65 1095.59 0.17
100 114.46 37.22 27.58 36.81 1065.93 0.08
150 112.92 32.4 27.21 32.84 973.58 0.04
200 112.61 30.98 27.14 31.07 909.43 0.03

Tabel 10.7 Data dan kinerja pipa koil 3 laluan [18]

Debit Suhu (°C)


Air Refrigeran Air Q ε
R R Air Air
(L/hr) Inlet Outlet Inlet Outlet
50 85.62 49.18 22.54 59.90 2176.78 0.58
60 84.82 47.79 22.65 46.52 1670.92 0.46
70 85.47 46.96 22.14 39.45 1413.53 0.36
80 86.35 46.50 21.85 36.26 1344.94 0.31
90 87.10 45.89 22.00 34.52 1314.86 0.28
100 97.73 45.90 21.69 33.30 1354.82 0.25
150 89.31 44.34 21.53 30.03 1485.86 0.19
200 91.45 43.29 21.58 26.63 1176.97 0.11

Tabel 10.8 Data dan kinerja PHE 14 pelat [19]

Debit Suhu (°C)


Air Refrigeran Air Q Ε
R Air Air
(L/hr) R Inlet Outlet Inlet Outlet
50 105.34 54.76 29.64 46.59 988.75 0.224
60 104.69 54.15 29.61 45.28 1096.90 0.209
70 104.11 53.89 29.52 44.37 1212.75 0.199
80 103.53 53.17 29.47 43.75 1332.80 0.193
90 103.08 52.61 29.39 43.01 1430.10 0.185
100 102.52 52.37 29.49 42.68 1538.83 0.181
110 99.17 51.18 29.52 42.09 1613.15 0.180
120 98.26 50.69 29.42 41.56 1699.60 0.176
130 97.19 50.04 29.51 40.83 1716.87 0.167
140 95.44 49.83 29.49 39.51 1636.60 0.152
150 94.36 49.31 29.51 38.4 1606.50 0.137
160 92.69 46.21 29.31 37.99 1642.67 0.137
170 90.13 46.59 29.29 37.74 1675.92 0.139
180 88.15 45.75 29.26 36.91 1682.10 0.130

247
190 88.66 43.69 29.17 35.92 1673.58 0.113
200 86.7 42.66 29.11 35.34 1638.00 0.108

Tabel 10.9. Data dan kinerja PHE 30 pelat

Debit Suhu (°C)


Air Refrigeran Air Q Ε
R Air Air
(L/hr) R Inlet Outlet Inlet Outlet
50 104.34 54.47 28.53 48.12 1142.75 0.258
60 101.36 53.56 28.34 47.03 1308.30 0.256
70 99.56 53.28 28.32 45.53 1405.48 0.242
80 98.56 50.45 29.53 43.62 1315.07 0.204
90 97.63 49.46 29.14 42.53 1405.95 0.196
100 97.65 48.73 29.22 41.74 1460.67 0.183
110 98.42 47.85 29.51 41.24 1505.35 0.170
120 98.47 47.27 30.12 39.23 1275.40 0.133
130 94.32 45.64 29.83 39.75 1504.53 0.154
140 92.32 44.77 29.74 38.13 1370.37 0.134
150 94.24 43.33 29.95 37.86 1529.50 0.123
160 96.85 43.24 29.73 37.52 1564.27 0.116
170 95.21 43.37 29.82 37.26 1475.60 0.114
180 95.02 42.26 29.52 37.14 1627.50 0.116
190 93.31 42.44 29.53 37.23 1593.78 0.121
200 100.35 42.36 29.82 37.13 1472.33 0.104

Dari data yang telah dipaparkan di atas, dianalisis perbandingan suhu outlet air,
kalor yang diterima air, dan efisiensi tiap-tiap APK. Untuk memudahkan perbandingan,
data laju alir yang diambil antara 50 L/h dan 200 L/h.
Pada Gambar 10.36, terlihat bahwa suhu keluaran air tertinggi dihasilkan oleh APK
tipe pipa koil dengan 3 laluan pada laju alir 50 L/h. Namun, APK tipe ini tercatat
menghasilkan suhu outlet terkecil pada debit yang besarm yaitu hanya 26,63 °C pada
200 L/h. Secara keseluruhan, nilai suhu keluaran air dari setiap jenis APK, cenderung
turun seiring dengan peningkatan laju alirnya. Pada APK tipe pelat, deviasi penurunan
suhunya kecil.
Untuk laju alir 100 L/h, urutan suhu keluaran air yang tertinggi adalah APK tipe pipa
heliks 1 laluan. Namun, nilai suhunya tidak berbeda jauh dengan APK tipe pelat dengan
ketebalan 14 pelat maupun 30 pelat. Suhunya berada pada kisaran 42 °C.

248
60
PHE 30 Plat
PHE 14 Plat
55
Pipa Koil 3 Laluan
Pipa Helical 2 Laluan
50 Pipa Koil 2 Laluan
Pipa Helical 1 Laluan
Temperatur

Pipa Koil 1 Laluan


45

40

35

30

25
40 60 80 100 120 140 160 180 200 220

Laju Aliran (l/jam)

Gambar 10.36 Perbandingan suhu keluaran air

PHE 30 Plat
PHE 14 Plat
2400 Pipa Koil 3 Laluan
Pipa Helical 2 Laluan
2200 Pipa Koil 2 Laluan
Pipa Koil 1 Laluan
2000 Pipa Helical 1 Laluan

1800
Daya (W)

1600

1400

1200

1000

800

600
40 60 80 100 120 140 160 180 200 220

Laju Aliran (l/jam)

Gambar 10.37 Perbandingan kalor yang diterima air

249
Kenaikan suhu air dapat mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kalor dari
refrigeran ke air. Kalor yang berinteraksi adalah kalor yang dilepas fluida panas; kalor
yang diterima fluida dingin adalah kalor yang dipindahkan oleh APK.
Penelitian menggunakan APK tipe pelat menunjukkan nilai kalor yang diterima air
meningkat sesuai dengan laju alirnya, begitu pula yang terjadi pada APK tipe pipa heliks
1 laluan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 10.37. Akan tetapi tidak semua APK
menunjukkan gejala demikian, untuk tipe pipa koil 3 laluan, kecenderungan yang terjadi
menjadi terbalik. Kalor yang diterima air menurun dibandingkan laju alirnya.
Kalor yang diterima air terbesar terjadi pada APK tipe pipa heliks 1 laluan, yaitu
sebesar 2200 W pada laju alir 200 L/h. Pada laju alir yang sama, pipa koil 2 laluan
maupun pipa heliks 2 laluan, tidak dapat menyalurkan kalor yang cukup besar ke air.
Nilai kalor yang disalurkan kedua APK tersebut hanya berkisar 650 W.

0.7

0.6 PHE 30 Plat


PHE 14 Plat
0.5 Pipa Koil 3 Laluan
Pipa Helical 2 Laluan
Pipa Koil 2 Laluan
0.4 Pipa Koil 1 Laluan
Efektifitas

Pipa Koil 1 Laluan


0.3

0.2

0.1

0.0

40 60 80 100 120 140 160 180 200 220

Laju Aliran (l/jam)

Gambar 10.38 Perbandingan efektivitas

Pada Gamabr 10.38 menunjukkan bahwa nilai efektivitas PHE, baik yang
berketebalan 14 pelat maupun 30 pelat, berada di bawah nilai efektivitas dari sistem
ACWH dengan menggunakan APK tipe koil dengan 3 laluan. Nilai efektivitas PHE berada
pada kisaran 0,1–0,25. Pada laju alir 50 L/h, tercatat pipa koil dengan 3 laluan memiliki

250
nilai efektivitas yang tertinggi, yaitu sebesar 0,58, sedangkan untuk PHE dengan
ketebalan 30 pelat hanya sebesar 0,258.
Pada setiap jenis APK yang digunakan pada sistem ACWH, nilai efektivitasnya
cenderung menurun seiring dengan kenaikan laju alirnya. Menyikapi banyaknya
refrigeran yang dibutuhkan pada sistem ACWH, perlu dipikirkan refrigeran alternatif
sebagai substitusi untuk R22 tanpa perlu mengubah peralatan yang sudah ada
sebelumnya.

10.4 ACWH dengan APK Tipe Serpentin


Pada penelitian ACWH selanjutnya, digunakan desain pipa serpentin seperti yang
terlihat pada Gambar 10.39, dengan menggunakan pipa tembaga berdiameter 1/4 inci,
dengan 14 laluan dan panjang kurang lebih 8 meter yang didapat dari hasil perhitungan
desain APK. Kemudian, APK tersebut diletakkan di dalam tangki air yang memiliki
volume sebesar 50 L.

Gambar 10.39 APK tipe serpentin

Pada pengujian tersebut digunakan APK berupa pipa serpentin berukuran ¼ inci.
Dipilih material dari pipa tembaga karena memiliki konduktivitas yang besar dan
memiliki material yang sama dengan pipa AC pada umumnya sehingga mudah dalam
melakukan pengelasan.
Gambar 10.40 menunjukkan desain penyimpan air panas pada sistem ACWH dan
Gamabr 10.41. menunjukan posisi APK serpentin pada tabung penyimpan air panas.

251
Gambar 10.40 (a) Desain penyimpan air, (b) Perpotongan desain penyimpan air

Alat pengujian terdiri atas sistem AC dengan aliran refrigeran dihubungkan dengan
APK tipe serpentin yang berada dalam penyimpan air. Pipa outlet kompresor dan pipa
inlet kondensor dipotong kemudian dihubungkan dengan APK. Dengan demikian,
refrigeran dengan suhu tinggi yang keluar dari kompresor akan mengalir terlebih dahulu
melalui APK lalu menuju ke kondensor. Di dalam penyimpan air akan terjadi pertukaran
kalor antara refrigeran dan air karena ada perbedaan suhu di antara keduanya.

Gambar 10.41 Pipa serpentin di dalam penyimpan air

252
Termokopel dipasang pada titik-titik masuk dan keluar fluida-fluida kerja. Tekanan
refigeran diukur dengan menggunakan pengukur tekanan tipe pipa bourdon pada
beberapa titik, tekanan buang kompresor, tekanan keluar APK, tekanan keluar pipa
kapiler, dan tekanan kompresor isap. Arus listrik yang masuk kompresor diukur
menggunakan clamp meter. Pengujian sistem kerja dari ACWH ini ditunjukan pada
Gambar 10.42

Gambar 10.42 Skema alat pengujian

Gambar 10.43 Foto alat pengujian

253
Analisis Karakter ACWH
Pada pembebanan 2200 W, suhu air akhir mencapai 61,28°C, sedangkan suhu
maksimum refrigeran sebesar 91,33°C. Kabin berada pada suhu 22°C.
Untuk pengujian ACWH dengan AC 1 PK menghasilkan suhu yang berkisar antara
55°C hingga 61°C. Suhu air yang dihasilkan lebih dari cukup untuk digunakan mandi air
panas. Sesuai Gambar 10.44 suhu yang dibutuhkan untuk mandi sebesar 43°C. Oleh
karena itu, dibutuhkan pencampuran kembali dengan air dingin untuk mendapatkan
suhu yang sesuai dan nyaman untuk mandi air panas.

Gambar 10.44 Grafik suhu pada beban 2200 W

254
Gambar 10.45 Grafik kenaikan air vs beban penyejukan

Terlihat dari grafik pada Gambar 10.45 kenaikan air bahwa kenaikan air yang paling
besar terjadi pada pembebanan 2200 W. Pada pembebanan 2000 W dan 2400 W
terjadi perbedaan dengan percobaan yang lain. Kenaikan air lebih tinggi pada
pembebanan 1800, 2200, dan 2600 W. Hal ini terjadi karena suhu lingkungan yang
berbeda. Saat pengujian pada pembebanan 2000 W suhu lingkungan 29°C sedangkan
suhu lingkungan berkisar 28-29°C untuk pengujian dengan pembebanan 2400 W.

Gambar 10.46 Grafik Q air vs beban penyejukan

Penambahan beban penyejukan menambah banyaknya kalor yang diserap oleh air
seperti ditunjukkan pada Gambar 10.47. Hal ini terjadi karena Q air didapat dari

255
perubahan air pada penyimpan air. Semakin tinggi perbedaan air semakin tinggi Q air
yang diperoleh. Sementara itu, kenaikan air dipengaruhi oleh suhu refrigeran yang
terpengaruh pula oleh pembebanan dalam ruang kabin.

Gambar 10.47 Grafik kerja kompresor vs beban penyejukan

Gambar 10.48 Grafik COP sistem vs beban penyejukan

Semakin banyak kalor yang harus dipindahkan oleh refrigeran maka kerja kompresor
pun bertambah berat. Untuk kerja kompresor rata-rata, kerja paling ringan terjadi pada
pembebanan 2000 W dan 2400 W. Hal ini terjadi karena pengaruh suhu lingkungan
yang lebih rendah dibandingkan dengan ketiga variabel lainnya. Kerja maksimum
kompresor sebesar 851.4 W yang berarti 50 W lebih besar daripada kerja kompresor
yang tercantum pada spesifikasi AC normal, yaitu sebesar 800 W.

256
COP merupakan nisbah antara manfaat yang didapatkan dengan kerja yang
dilakukan. Dalam hal ini, ACWH 1 PK memiliki COP sistem dengan rentang 3.2-4.2 (lihat
Gambar 10.48) untuk setiap pembebanan yang diberikan. Besarnya nilai COP
dipengaruhi oleh kerja kompresor, Q air yang diterima, serta beban penyejukan yang
ada.

Gambar 10.49 Grafik efektivitas vs beban penyejukan

Efektivitas yang dimaksud adalah efektivitas suhu. Efektivitas dipengaruhi oleh suhu
refrigeran dan air. Terlihat pada Gambar 10.49 bahwa efektivitas ACWH 1 PK berada
pada rentang 42-46%.
Dapat dilihat pada Gambar 10.50 tekanan rata-rata kompresor dari tiap beban
penyejukan. Tekanan isap rata-rata yang ditunjukkan pada sistem ACWH ini berkisar 64–
67 psi. Sementara tekanan buang rata-rata kompresor berkisar 279–291 psi.
Sebenarnya ACWH yang menggunakan tangki penyimpanan tidak dapat
dibandingkan secara langsung dengan berbagai ACWH sebelumnya. Hal ini terjadi
karena ACWH sebelumnya menggunakan laju alir sebagai acuan dalam melakukan
pengujian, sedangkan ACWH serpentin lebih menitikberatkan perubahan yang terjadi
terhadap waktu pemanasan. Terlihat dari grafik pada Gambar 10.51 bahwa suhu air
pada bagian atas pada ACWH dengan koil heliks memiliki rentang 48-540 C, dengan
suhu air masuk 27-280 C. Sementara, ACWH dengan pipa serpentin memiliki rentang
57-610 C, dengan suhu air masuk antara 27-300 C.

257
Gambar 10.50 Grafik tekanan rata-rata kompresor vs beban penyejukan

Gambar 10.51 Grafik perbandingan suhu vs beban penyejukan

258
Gambar 10.52 Grafik perbandingan efektivitas vs beban penyejukan

Dari grafik pada Gambar 10.52 dapat dilihat efektivitas ACWH dengan koil heliks
berkisar 17-20%. Sementara, ACWH dengan pipa serpentin memiliki nilai efektivitas
yang berkisar 25-29%.

Gambar 10.53 Grafik perbandingan nilai COP vs beban penyejukan

259
Dari grafik pada Gambar 10.53 dapat dilihat besar nilai COP pada ACWH dengan koil
heliks berkisar 2.7-3.5. Sementara, ACWH dengan pipa serpentin memiliki nilai COP yang
berkisar 3.3-4.2.

Gambar 10.54 Grafik perbandingan daya kompresor rata-rata vs beban penyejukan

Terlihat dari grafik pada Gambar 10.54 bahwa daya kompresor pada ACWH dengan
koil heliks memiliki daya berkisar 747–895 W. Sementara, ACWH dengan pipa serpentin
memiliki daya berkisar 758–823 W.
ACWH dengan APK berupa pipa serpentin yang terpadu dalam tangki penyimpanan
memiliki air panas keluaran yang lebih besar dari berbagai ACWH sebelumnya. Hal ini
terjadi karena kalor yang diserap ditahan di dalam tangki dan diberi isolasi untuk
mengurangi kalor yang keluar.
Tabel 10.10 menunjukan perbandingan ACWH yang telah ditelili. Kenaikan suhu air
tertinggi terjadi pada ACWH dengan pipa koil 3 laluan. Air keluar yang dihasilkan
mencapai 59,90°C pada laju alir 50 L/h. Tetapi saat laju alir disamakan dengan bukaan
keran normal (sekitar 200 L/h) maka suhu air keluar turun drastis hingga 26,63°C.
Jika laju alir sebesar 50L/h diterapkan untuk kondisi nyata (apartemen atau
perumahan) maka diperlukan 1 jam untuk bisa mendapatkan 50 L air. Selain itu, untuk
mendapatkan suhu 59,90°C pada laju alir 50 L/h secara instan perlu menunggu AC
dalam kondisi stabil sehingga memiliki panas refrigeran maksimum. Kondisi AC stabil
dapat dicapai dengan rentang waktu antara 30 menit hingga 1 jam.
Dengan waktu yang sama (2 jam) ACWH dengan sepentin APK lebih efektif untuk
digunakan karena air yang keluar tetap pada kondisi panas (60,89°C) untuk kondisi

260
bukaan keran seperti apapun. Kondisi air panas akan terus terjaga karena tangki
penyimpan air terisolasi oleh poliuretan yang mencegah panas banyak terbuang ke
lingkungan.

Tabel 10-10 Perbandingan ACWH


ACWH Air Panas COP Efektivitas
Koil 1 Shell 44,95 N/A 27
Heliks 1 Shell 53,91 N/A 27
Koil 2 Shell 48,38 2,76 19
Heliks 2 Shell 47,65 2,76 17
Heliks 3 Shell 59,9 3,78 58
PHE 14 pelat 46,59 3,98 22
PHE 30 pelat 48,12 3,57 26
Heliks+Tangki (1 PK) 56,12 4,64 47
Heliks+Tangki (3/4 PK) 51,86 3,6 45
Serpentin+Tangki (1 PK) 60,89 4,2 46

Referensi
Jie Ji, Tin-tai Chow, Gang Pei, Jun Dong and Wei He, Domestic air-conditioner and
integrated water heater for subtropical climate, Applied Thermal
Engineering, Volume 23, Issue 5, April 2003, Pages 581-592
Nandy Putra, Amry D Hidayat, Nasruddin, Karakteristik Unjuk Kerja APK Double Shell
pada sistem air conditioniner Water Heater, Seminar Nasional Perkembangan
Riset dan Teknologi di Bidang Industri Universitas Gajah Mada Yogyakarta, 27
Juni 2006.
Nandy Putra, Dian Mardiana, Muliyanto, Kinerja APK pada Air Conditoner Water Heater,
Prosiding Seminar Nasional Efisiensi dan Konservasi Energi (FISERGI) 2005, 12
Desember 2005, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Nandy Putra, Nasruddin, Handi, Agus LMS, Sistem Air Conditioner Water Heater dengan
Tiga Alat Penukar Kalor Tipe Koil disusun Seri, Seminar Nasional Tahunan
Teknik Mesin 6, 2007, Banda Aceh, Universitas Syah Kuala, 20-22 Nopember
2007, ISBN 979 97726-8-0

261
Nandy Putra, Luky Christian, Dwi Ananto Pramudyo, Effectiveness Of Plate Heat
Exchanger On Split Air Conditioning Water Heater System, The 11th International
Conference Quality in Research 2004, 4-6 Agustus 2009. Universitas Indonesia,
Jakarta Indonesia
Nandy Putra, Agung. N, Ferdyansah, Ridho Irwansyah, Unjuk Kerja Termal Split-Air
Conditioning Water Heater ( S-Acwh ) Untuk Apartemen dan Perhotelan,
Prosiding KNEP-2010 Konferensi Nasional Engineering Perhotelan, Denpasar
Bali, 22 Juli 2010, ISBN: 978-602-8566-76-6
P. Techarungpaisan, S. Theerakulpisut and S. Priprem, Modeling of a split type air
conditioner with integrated water heater, Energi Conversion and
Management, Volume 48, Issue 4, April 2007, Pages 1222-1237
Saunders, E.A.D., Heat Exchangers: Selection, Design, and Construction, John Wiley &
Sons, New York, 1988
Shaowei Wang, Zhenyan Liu, Yuan Li, Keke Zhao and Zhigang Wang Experimental study
on split air conditioner with new hybrid equipment of energi storage and water
heater all year round, Energi Conversion and Management, Volume 46, Issues
18-19, November 2005, Pages 3047-3059
Soufyan M. Nurbambang, Perencanaan Dan Pemeliharaan Plambing, Pradnya Paramita
Jakarta, 1999
Tubular Exchanger Manufacturers Association, Inc., ―Standards of the Tubular Exchanger
Manufacturers Association‖, New York, 7th ed., 1988

262