Anda di halaman 1dari 7

Gizi Klinik dan Gizi Masyarakat

Ilmu gizi di bedakan menjadi dua sifat, yakni gizi yang berkaitan dengan kesehatan
perorangan dab gizi yang berkaitan dengan gizi kesehatan masyarakat (public health nutrition).
Kedua ilmu tersebut memiliki perkembangannya masing-masing, yakni cabang ilmu gizi
kesehatan perorangan yang disebut gizi klinik (clinical nutrition) dan cabang ilmu gizi kesehatan
masyarakat yang di sebut gizi masyarakat.
Gizi klinik berkaitan dengan nasabah gizi pada individu yang sedang menderita gangguan
kesehatan akibat kekurangan atau kelebihan gizi. Oleh karna itu, gizi klinik lebih
menitikberatkan pada kuratif daripada preventiv promotif. Sedangngkan gizi masyarakat
berkaitan dengan gangguan gizi pada kelompok masyarakat. Oleh sebab itu, sifat dari gizi
masyarakat lebih ditekankan pada pencegahan (preventiv) dan peningkatkan (promotif).
Gizi klinik berhubungan dengan masalah klinis pada individu yang mengalami gangguan
gizi. Maka profesi kedokteranlah yang lebih tepat untuk menanganinya. Sebaliknya, gizi
masyarakat berkaitan dengan gangguan gizi pada masyarakat, dimana masyarakat mempunyai
aspek yang sangat luas, maka penanganannya harus secara multisektor dan multidisiplin. Profesi
dokter saja belum cukup untuk menangani masalah gizi masyarakat.
Penanganan gizi masyarakat tidak cukup dengan upaya terapi para penderita saja, karena
apabila setelah mereka sembuh akan kembali ke masyarakat. Oleh karena itu, terapi penderita
gangguan gizi masyarakat tidak ditunjukkan pada penderitanya saja, tetapi seluruh masyarakat
tersebut.

Penyakit-Penyakit Kekurangan Gizi


Konsumsi gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya tingkat kesehatan
(status gizi). Apabila konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan
tubuh, maka akan terjadi kesalahan akibat gizi. Malnutrisi tersebut mencangkup kelebihan
nutrisi/gizi (overnutrition) dan kekurangan gizi (undernutrion).
1. Penyakit Kurang Kalor dan Protein (KKP)
Penyakit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori (karbohidrat)
dan protein dengan kebutuhan energi, atau terjadi defisiensi atau defisit energi dan
protein. Penyakit ini di bagi dalam tingkatan tertentu, yakni
a. KKP ringan, jika berat badan anak mencapai antara 84%-95% dari berat badan
menurut standar Harvard.
b. KKP sedang, jika berat badan anak mencapai antara 44%-60% dari berat badan
menurut standar Harvard.
c. KKP berat (gizi buruk), jika berat badan anak kurang dari 60% dari berat badan
menurut standar Harvard.
Beberapa ahli hanya membedakan dua macam KKP, yakni KKP ringan (gizi
kurang) dan KKP berat (gizi buruk) yang lebih sering disebut marsmus (kwashiohor).
2. Obesitas (Penyakit Kegemukan)
Penyakit ini terhadi karna ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan
kebutuhan energi, artinya konsumsi kalori terlalu berlebih dibandingkan kebutuhan
(pemakaian) energi.
Kelebihan energi yang didapat dari konsumsi yang berlebih di simpan dalam
bentuk lemak.
Akibat dari penyakit obesitas dapat menyebabkan penyakit kardiovasikuler,
hipertensi, dan diabetes melitus.
Berat badan yang ideal pada orang dewasa menurut rumus Dubois ialah sebagai
berikut.
B = (T – 10) + 10%
Dengan keterangan sebagai berikut,
B adalah berat badan hasil perkiraan/pengukuran (kg)
T adalah tinggi badan (cm)
Dari hasil pengoreksian oleh bagian gizi Fakultas Kedokteran Universita Indonesia
menghasilkan rumus
B = { ( T – 10 ) - 10% }+ 10%
Dengan keterangan sebagai berikut,
B adalah berat badan hasil perkiraan/pengukuran (kg)
T adalah tinggi badan (cm)
Dewasa ini ahli gizi menentukan seseorang atau kekurangan gizi dengan “indeks
massa tubuh” (IMT) atau “body mass index” (BMI) dengan rumus :
BB2 (Berat Badan) dalam kg
𝐼𝑀𝐵 = TB (Tinggi Badan)dalam m
Bila hasilnya :
a. <18 : kurus (gizi kurang) = Rndah
b. 18-24 : normal (gizi baik) = Rata-rata
c. 25-30 : gemuk (gizi lebih) = Berat badan
lebih
d. >30 : kegemukan (obesitas) = Berat badan
berkelebihan
3. Anemia (Penyakit Kurang Darah)
Penyakit ini disebabkan karena konsumsi zat besi (Fe) pada tubuh tidak seimbang
(kurang dari kebutuhan).zat besi merupakan mikroelemen yang esensial bagi tubuh,
sangat diperlukan dalam pembentukan darah yang terdapat pada haemoglobin (Hb).
Dalam kondisi Fe yang baik, hanya sekitar 10% dari Fe yang terdapat dalam
makanan diserap ke dalam mukosa usus. Ekskesi Fe dilakukan melalui kulit, dalam
bagian-bagian tubuh yang aus dan dilepaskan oleh permukaan tubuh yang jumlahnya
sangat kecil.
Sedangkan pada wanita ekskresi Fe lebih banyak melalui menstruasi. Oleh sebab
itu, kebutuhan Fe pada wanita dewasa lebih banyak dibandingkan pria. Pada wanita hamil
kebutuhan Fe meningkat karena bayi berada dikandungannya memerlukan Fe.
4. Zerophthalmia (Defisiensi Vitamin A)
Penyakit ini disebabkan karena kekurangan konsumsi vitamin A dalam tubuh.
Gejala-gejala penyakit ini adalah kekeringan epithel biji mata dan kornea, karena
glandula lacrimalis menurun.terlihat selaput bola mata keriput dan kusam bila biji mata
bergerak. Pada stadium lanjut mata akan mengoreng karena sel-selnya menjadi lunak
yang disebut keratomalacia dan dapat menimbulkan kebutaan.
Vitamin A berfungsi dalam proses melihat, proses metabolism, dan proses
reproduksi. Ganguan yang diakibatkan karena kekurangan vitamin A yang menonjol
adalah gangguan proses melihat yang disebut zero-phalmia.
5. Penyakit Gondok Endemik
Zat iodium merupakan zat gizi esensial bagi tubuh karena merupakan komponen
gari hormon thyroxin. Zat iodium tersebut dikonsenterasikan dalam kelenjar gondok
(glandula thyroidea) yang dipergunakan dalam sintetis hormone thyroxin.
Kekurangan zat iodium ini berakibat kondisi hypothyroidisme (kekurangan iodium)
dan tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan menambah jaringan kelenjar gondok.
Apabila kelebihan zat iodium maka maka akan mengakibatkan gejala-gejala pada kulit
yang disebut iodium dramatis.

Kelompok Rentan Gizi


Kelompok rentan gizi adalah suatu kelompok dalam masyarakatyang paling mudah
menderita gangguan kesehatan atau rentan karena kekurangan gizi. Pada kelompok-kelompok
umur tersebut berada pada suatu siklus pertumbuhan atau perkembangan yang memerlukan zat-
zat gizi dalam jumlah yang lebih besar dari kelompok umur yang lain. Kelompok-kelompok
rentan gizi ini terdiri dari :
a. Kelompok bayi, umur 0-1 tahun.
b. Kelompok di bawah lima tahun (balita) : 1-5 tahun.
c. Kelompok anak sekolah, umur 6-12 tahun.
d. Kelompok remaja, umur 13-20 tahun.
e. Kelompok ibu hamil dan menyusui
f. Kelompok usia lanjut atau lansia
Kelompok usia lanjut termasuk kelompok rentan gizi, meskipun kelompok ini tidak dalam
proses pertumbuhan dan perkembangannya. Hal ini disebabkan karena pada usia lanjut terjadi
proses degredasi yang menyebabkan kelompok usia ini mengalami kelainan gizi.
1. Kelompok Bayi
Dalam siklus kehidupan manusia, bayi berada dalam masa pertumbuhan dan
perkembangan yang paling pesat. Agar bayi tumbuh dengan baik, zat-zat gizi yang sangat
dibutuhkan ialah :
a. Protein, dibutuhkan 3-4 gram/kilogram berat badan.
b. Calcium (Cl)
c. Vitamin D, tetapi karena Indonesia berada di daerah tropis maka hal ini tidak begitu
menjadi masalah.
d. Vitamin A dan vitamin K yang harus diberikan sejak postnatal.
e. Fe (zat besi) diperlukan karena dalam proses kelahian sebagai Fe ikut terbuang.
Secara alamiah zat-zat gizi tersebut sudah terkandung dalam ASI (Air Susu Ibu).
Oleh karna itu, jika gizi makan ibu baik dan di berikan pada anak usia 0 sampai 6 bulan,
maka zat tersebut dapat mencukupinya.
Peraalihan ASI pada makananan tambahan (PMT) harus dilakukan sesuai dengan
kondisi anatomi dan fungsional alat pencernaan bayi. Jumlah makanan tambahan dapat
ditingkatkkan sesuai dengan kebutuhan kalori yang diperlukan bayi/anak untuk
berkembang.

Umur Anak PMT Kebutuhan Kalori

0 – 6 bulan ASI saja 300 kalori

6 – 9 bulan Makanan halus 800 kalori

9 – 12 bulan Makanan lunak 1.100 kalori

18 – 24 bulan Makanan semi keras 1.300 kalori

Makanan dewasa dan


24 bulan (2 tahun) disapih (pemberhentian
mengkonsumsi ASI)
2. Kelompok Anak Balita
Kelompok ini merupakan kelompok umur yang paling menderita akibat gizi (KKP),
dan jumlahnya dalam populasi besar. Beberapa kondisi atau anggapan yang
menyebabkan anak balita ini rawan gizi dam rawan kesehatan adalah :
a. Anak balita baru berada dalam masa transisi dari makanan bayi ke makanan orang
dewasa.
b. Biasanya anak balita sudah mempunyai adik, atau ibunya sudah bekerja pennuh
shingga perhatian ibu sudah kurang
c. Anak balita sudah mulai main di tanah dan sudah dapat main di luar rumahnya
sendiri, sehingga lebih terpapar dengan lingkungan yang kotor dan kondisi yang
memungkinkan untuk terinfeksi dengan berbagai macam penyakit.
d. Anak balita belum dapat mengurus dirinya sendiri, termasuk dalam memilih
makanan. Dipihak lain ibunya sudah tidak begitu memperhatikan lagi makanan
anak balita, kareena dianggap sudah dapat makan sendiri.
3. Kelompok Anak Sekolah
Pada umumnya kelompok ini mempunyai kesehatan yang lebih baik dibandingkan
dengan kesehatan anak balita. Masalah-masalah yang akan timbul pada kelompok ini,
antara lain :
a. Berat badan rendah.
b. Defisiensi Fe (kurang darah).
c. Defisiensi vitamin E.
Masalah ini akan timbul karena pada umur ini anak sangat aktif bermain dan
banyak kegiatan, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal. Di pihak lain
anak yang berada di kelompok ini terkadang nafsu makannya menuurun, sehingga
konsumsi makanan tidak seimbang dengan kalori yang di perlukan.
4. Kelompok Remaja
Pertumbuhan anak remaja pada kelompok ini sanagat pesat, kemudian kegiatan
mereka berkaitan dengan kegiatan jasmani termasuk olahraga juga pada puncaknya. Oleh
sebab itu, apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori untuk
ppertumbuhan dan kegiatan-kegiatannya, maka akan terjadi defisiensi yang berakhir
menghambat pertumbuhannya. Pada remaja putri mulai terjadi menarche (awal
menstruasi), yang berarti mulai terjadi pembuangan Fe.

5. Kelompok Ibu Hamil


Peningkatan metabolisme berbagai zat gizi pada ibu hamil memerlukan
peningkatan suplai vitamin, terutama thiamin, reboflafin, vitamin A, viatamin D.
kenutuhan berbagai mineral, khususnya Fe dan Calsium juga menigkat.
Apabila kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral yang meningkat tidak dapat
terpenuhi melalui konsumsi makanan oleh ibu hamil, akan terjadi kekurangan gizi yang
berakibat, sebagai berikut.
a. Berat badan bayi pada waktu lahir rendah atau sering disebut Berat Bayi Lahir
Rendah (BBLR).
b. Kelahiran premature (lahir belum cukup umur kehamilan).
c. Lahir dengan berbagai kesulitan, dan lahir mati.
6. Ibu Menyusui
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan utama bayi. Oleh sebab itu, maka untuk
menjamin kecukupan ASI bagi bayi, makanan ibu yang sedang menyusui harus
diperhatikan. Sekresi ASI rata-rata 800 – 850 mililiter per hari, dan mengandung kalori
60 – 65 kalori, 1,0 – 1,2 gram, dan lemak 2,5 – 3,5 gram setiap 100 milimeter. Zat-zat ini
diambil dari tubuh ibu, dan harus digantikan dengan suplai makanan ibu sehari-hari.
Untuk itu, ibu yang sedang menyusui memerlukan tambahan 800 kalori per hari dan di
tambah protein 25 gram per hari, selain kebutuhan ibu bila tidak menyusui.
7. Kelompok Usia Lanjut (Usila)
Pada usia ini sudah tidak mengalami penurunan fungsinya, makan sering terjadi
gangguan gizi. Oleh karna itu, disarankan seseorang yang berada di usia ini
mengkonsumsi makanan yang mudah dicerna dan tidak memberatkan fungsi kelenjar
pencernaan.
Keperluan energi pada usila sudah menurun. Oleh sebab itu, konsuumsi makanan
untuk usila secara kuantitas tidak sama dengan kelompok rentan lainnya. Yang terpenting
pada kelompok ini dalah makana yang berkulitas, artinya keseimbangan zat gizi harus
dijaga. Kegemukan pada usila sangat merugikan, karena beresiko terkena penyakit,
seperti kardiovasikuler, diabetes mellitus, hiperteni, dan sebagainya.