Anda di halaman 1dari 27

Tabel 1.

Anatomi Perbandingan Sistem Musculus Vertebrata

Kelas Pisces Kelas Amphibia Kelas Reptilia Kelas Aves Kelas Mammalia

Musculus -Terdiri dari - Terdiri dari - Myotom epaxial - Muskulus - Musculus


Parietalis muskulus epaxial epaxial dan terdiferensiasi epaxial pada epaxialnya
yang tersusun dari hypaxial yang menjadi aves kurang terdiri dari
2–3 bundel otot berdiferensiasi. muskulus berkembang. muskulus
longitudinalis Otot hipaxial transversus Sedangkan sacrospinalis,
dorsalis, terlepas atau spinalis dan muskulus muskulus
sedangkan terbagi-bagi muskulus hypaxialnya multifidus,
muskulus hypaxial dalam lapisan- longisimus terdiri dari muskulus
tersusun atas 2 lapisan, dorsi. Myotome muskulus interspinalis, dan
buah bundel otot kemudian hypaxial transversus yang muskulus
longitudinalis membentuk otot- menjadi mereduksi dan intertransversus.
ventral. otot oblique muskulus muskulus Sedangkan
-Myosepta eksternal, intercostalis obliqus musculus
(myocommata) oblique internal externus dan eksternus dan hypaxial terdiri:
berbentuk zig-zag dan otot internus, muskulus lapisan muskulus
tranversus. muskulus obliqus internus transversus
- Myosepta pada intercostalis yang diganti abdominis,
katak tidak obliqus, oleh muskulus obliqus internus,
terlihat. muskulus triangularis dan obliqus
scalenus, dan sterni yang externus.
muskulus terletak di
serratus. bagian dalam
- Myosepta tidak costae dan
nampak melekat pada
sternum.
- Myosepta tidak
nampak
Musculus Terdapat musculus Terdapat musculus Terdapat Terdapat Terdapat musculus
Branchialis branchialis branchialis musculus musculus branchialis
branchialis branchialis

Musculus Terdapat musculus Terdapat musculus Terdapat Terdapat Terdapat musculus


Visceralis visceralis visceralis musculus musculus visceralis
visceralis visceralis

Musculus - Tidak terdapat - Otot dermal - Terdapat - Terdapat - Musculus


Dermalis adanya otot sedikit muskulus musculus dermalis paling
dermalis, berkembang. dermalis dermalis berkembang.
myocomata Terdapat ekstrinsik. extrinsic dan - Pada mammalia
intrinsic. tingkat tinggi,
dari myotome muskulus - Terdapat otot
- Terdapat panniculus
yang gracilis minor dermalis yang
muskulus carnosus
merupakan dan muskulus dapat mengalami
batas antar gracilis mayor menggerakkan patagium dan
reduksi, tinggal
myomere yang letaknya kulit (musculus muskulus sisa-sisanya pada
(lapisan otot) pada paha costocutaneus), patagium daerah : axillary,
melekat pada belakang, dan pada ular. dermalis. sterna, dan
dermis. muskulus - Terdapat pula inguinal.
pectoris cutaneus arrectores - Musculus
yang letaknya di plumarum mimetic yang
berkembang
ventral tubuh
dengan baik.
bagian depan.

A. ANATOMI PERBANDINGAN SISTEM OTOT VERTEBRATA


1. Sistem Otot pada Pisces
1.1. Otot Myotom (Musculus Parietalis/Musculus Somatik)
1.1.1. Musculus Truncus
Musculus parietalis pada Pisces tersusun secara metamerik (beruas-
ruas/bersegmen-segmen). Tiap segmen pada susunan ini disebut myomer.
Musculus parietalis menjadi metamerik karena somit di mana otot tersebut terjadi
susunannya juga metamerik. Pada Vertebrata yang tingkatannya lebih tinggi
daripada Pisces, keadaan metamerik dari otot mulai berkurang, tapi tidak hilang
sama sekali.

Gambar 1.1. Irisan membujur tubuh ikan

Pola konstruksi otot-otot parietal pada ikan terdiri dari urutan myomer-
myomer yang zig-zag diikat oleh myoseptum/myocommata (bagian jaringan ikat
yang membatasi antara myomer yang satu dengan yang lain). Myomer terbentang
mulai dari tengkorak sampai diujung ekor yang berdaging. Tiap myomer terdiri
dari bagian dorsal yang disebut epaksial dan bagian ventral yang disebut
hypaksial, keduanya dipisahkan oleh jaringan ikat yang disebut septum
horizontal. Septum ini bagian ventralnya melekat pada taju melintang dari
vertebrae yang berurutan sampai pada kulit. Myosepta di antara myomer yang
berurutan dimulai dari peritoneum parietal, melebar ke lateral dan berakhir pada
kulit. Serabut otot pada setiap myomer muncul dari myoseptum dan menyusup
diantara serabut otot dari myomer berikutnya. Umumnya serabut otot mengarah
anteroposterior, tetapi beberapa serabut otot hypaksial dari setiap myomer
tersusun serong ventromedial. Myomer dari kedua belah pihak (kiri-kanan)
dipisahkan oleh ligamen longitudinal yang dinamakan linea alba. Kontraksi dari
kelompok-kelompok myomer disatu pihak akan disambut oleh kontraksi
kelompok myomer dilain pihak, menyebabkan tubuh ikan menjadi meliuk-liuk
dalam gerakan berenang.

Gambar 1.2. Penampang melintang tubuh ikan


Gambar 1.3. Susunan otot pada ikan

Pada daerah gelang bahu dan gelang pinggul, myomer melekat pada gelang-
gelang tersebut dan sedikit terputus pada pangkalnya oleh sirip yang juga melekat
di sana.
Musculus hypaksialis yang terletak di cranial rongga insang disebut
musculus epibranchialis, sedang yang terletak di caudal rongga insang disebut
musculus hypobranchialis.
Masing-masing myomer dari musculus hypaksialis diatur oleh ramus ventral
dari saraf spinal, dan otot epaksial oleh ramus dorsal dari saraf spinal.
Musculus hypaxialis yang ada pada Teleostei (ikan bertulang keras) lebih
besar dari pada musculus hypaxialis ikan hiu, dan lebih banyak terdapat otot-otot
yang tersusun miring (obliquus). Disamping itu pada Teleostei serabut-serabut
otot di arah cephalocaudal sering membentuk bundel otot yang melebar disebut
rectus abdominis.
Fungsi utama otot-otot dinding tubuh pada ikan adalah untuk melaksanakan
gerakan berenang. Pinnae berfungsi terutama untuk stabilisator tubuh serta
membantu arah gerakan.
1.1.2. Musculus Hypobranchialis dan Musculus Lingualis
Pada ikan, musculus hypobranchialis melebar ke depan dari tulang coracoid
hingga masuk ke mandibula pada bagian ventral elemen-elemen hyoid, dan
rangka visceral pada dasar pharynx. Otot-otot ini secara keseluruhan dikenal
sebagai musculus coracoarcualis dan mencakup nama-nama otot antara lain:
musculus coracomandibularis (geniocoracoidalis), musculus coracohyoidalis, dan
musculus coracobranchialis.
Otot-otot ini berfungsi memperkuat dasar pharynx dan cavitas pericardium,
dan dengan dibantu oleh musculus branchiomeric mengangkat dasar mulut,
menurunkan rahang, serta memperlebar kantong insang.
Pada ikan lidah tidak merupakan suatu alat yang berotot, melainkan hanya
membentuk suatu peninggian pada dasar farings karena adanya rawan hyoid dan
lengkung insang dibawahnya.
1.1.3. Musculus Ekstrinsik Bola Mata (Musculus Visus)
Otot-otot yang menggerakkan bola mala pada vertebrata merupakan otot
seran-lintang, otot rangka, dan bersifat volunter. Pada ikan-ikan Elasmobranchii,
selama perkembangan embryologis, otot itu berasal dari 3 somite preotic kepala.
Somite kepala ke-I, terletak pada situs keluarnya nervus cranialis ke-III dari otak.
Somite ini terpecah secara longitudinal menjadi 4 musculus yang menggerakkan
bola mala yang di inervasi oleh nervus ke-III. Somite kepala ke-II, terletak pada
situs keluarnya nervus cranialis ke-IV dari otak. Somite ini akan menjadi
musculus obliquus superior dari bola mata yang diinervasi oleh nervus cranialis
ke-IV. Somite kepala ke-III (dengan kontribusi somite ke-II), terletak pada situs
keluarnya nervus cranialis ke-VI. Somite ini akan menjadi musculus rectus
externalis (lateralis) yang diinervasi oleh nervus cranialis ke-VI
1.1.4. Musculus Appendicularis
Musculus appendicularis Pisces melekat pada sirip (pinnae) atau anggota
gerak bebas (extremitas liberae). Musculus appendicularis, merupakan otot seran-
lintang, otot rangka, bersifat volunter, dan myotomal (berasal dari myotom). Pada
Pisces, otot-otot ini umumnya sedikit sekali kontribusinya dalam lokomosi
(pergerakan).
Serabut-serabut musculus hypaxialis dari beberapa myomer melekat dengan
cingulum dan skeleton pada basalia sirip ikan. Oleh karenanya pada basal sirip
terbentuk 2 massa otot yang berlawanan, yaitu di dorsal extensor dan di ventral
flexor. Serabut otot yang terspesialisasi selain dari yang berfungsi rotator adalah
tidak umum dan musculus yang terletak seluruhnya di dalam sirip (musculus
intrinsic) hampir tidak ada. Pergerakan sirip tidaklah sekompleks musculus yang
menggerakkannya.
Pada beberapa jenis ikan, seperti misalnya sunfishes, gerak berenang
seluruhnya dilakukan dengan menggunakan sirip berpasangan, dan pinnae
pelvicalisnya terletak persis di belakang pharynx. Pada species ini musculus
appendicularis berkembang dengan baik dan musculus truncus serta musculus
caudalisnya hampir tidak ada.
1.2. Musculus Branchiomeric (Musculus Branchialis)
Musculus branchiomeric pada vertebrata berhubungan dengan lengkung
pharynxnya. Pola dasar otot-otot tersebut nampak dengan jelas pada ikan;
fungsinya adalah untuk menggerakkan rahang dan lengkung insang (arcus
visceralis).
Pada Squalus musculus pada arcus pharyngeum pertama (arcus
mandibularis) berfungsi untuk menggerakkan rahang. Sebuah musculus adductor
mandibularis yang besar pada rahang bawah (mandibula) berinsertio pada
cartilago Meckel dan berfungsi untuk mengangkat rahang bawah. Sebuah
musculus levator maxillaris pada rahang atas (maxilla) berinsertio pada cartilago
pterygoquadrat, berfungsi untuk mengangklat maxillanya.
Arcus pharyngeus ke II (arcus hyoideus) pada Squalus, mengandung
demibranchia, sedangkan fungsi musculus branchimericnya adalah untuk
menyelenggarakan gerakan rahang. Pada arcus hyoidnya terdapat musculus
epihyoideus (di sebelah dorsal) dan musculus interhyoideus (di sebelah ventral)
yang bekerja sebagai konstriktor. Musculus constriktor pada arcus hyoid Teleostei,
berfungsi untuk menggerakkan operculum.
Pada Squalus, otot-otot pada arcus pharyngeus ke III hingga ke VI
merupakan otot constrictor, yang terdapat di atas dan di bawah rongga insangnya.
Fungsi otot constrictor ini adalah untuk mengecilkan atau membesarkan rongga
kantong insang.
1.3. Musculus Visceralis
Musculus visceralis hampir seluruh bagiannya bersifat involunter, dan
merupakan musculus nonstriata. Musculus nonstriata dapat dijumpai pada dinding
dari tractus digestivus ikan.
1.4. Musculus Dermalis
Pada ikan myosepta melekat pada dermis, otot myotom berhubungan erat
dengan kulit walaupun bukan tergolong pada otot kulit
Organ Listrik (Miscellaneous)
Pada beberapa jenis Elasmobranchii dan beberapa jenis Teleostei, baik yang hidup
di air tawar, maupun yang hidup di air laut, terdapat massa otot yang mengalami
modifikasi secara khusus sehingga dapat menghasilkan arus listrik.

2. Sistem Otot pada Amphibia


2.1. Musculus Parietalis (Musculus Somatik)
2.1.1. Musculus Truncus
Seperti halnya pada ikan, pada Amphibia pun terdapat musculus epaxialis dan
musculus hypaxialis, yang masih menunjukkan tanda-tanda metameri. Ada
berbagai modifikasi adaptif yang berkembang dalam otot-otot tubuh Amphibia
berkaitan dengan pola hidup di darat.
Musculus hypaxialis cenderung kehilangan metamerismenya dan membentuk
lembaran-lembaran yang lebar. Kecenderungan ini terjadi sebagai akibat fusi antar
myomere yang kemudian kehilangan myoseptanya. Kecenderungan seperti itu
sedikit sekali ada pada amphibia berekor
a. Musculus Epaxialis
Pada Urodela, musculus epaxialis tetap mernpertahankan susunan
segmentalnya, sedang pada tetrapoda lain, berkas otot epaxialis yang ada di
permukaan membentuk otot-otot yang panjang yang meliputi beberapa atau
banyak segmen tubuh.
b. Musculus Hypaksialis
Musculus hypaxialis tetrapoda, umumnya berupa lembaran-lembaran,
seperti misalnya: musculus obliquus externus, musculus obliquus internus,
dan musculus transversus. Di samping itu, di kedua sisi linea alba terdapat
musculus rectus yang serabut-serabut ototnya panjang dan lurus. Satu atau
lebih dari lembaran otot ini dapat dibagi menjadi lembaran-lembaran yang
lebih kecil atau mengalami reduksi yang sangat besar dan lenyap sama sekali.
Pada beberapa jenis Urodela, musculus obliquus externus merupakan
selubung permukaan dan bagian dalam. Pada Anura, musculus obliquus
internus menghilang.
Musculus hypaxialis pada Urodela aquatik dipergunakan untuk berenang
seperti pada Pisces, dan di darat pada hewan yang sama musculus ini
dipergunakan untuk pergerakan meliak-liuk (wiggling), karena anggota
geraknya kurang baik dipergunakan untuk bergerak. Pada tetrapoda tak
berkaki (apoda) juga menggunakan otot ini sebagai alat pergerakan. Akan
tetapi, pada kebanyakan tetrapoda, otot dinding tubuh terutama digunakan
untuk menekan jeroan (visceralis) dan menggerakkan costae dalam aktivitas
respirasi.
2.1.2. Musculus Hypobranchialis dan Musculus Lingualis
Pada Amphibia berekor lidah tidak merupakan suatu alat yang berotot,
melainkan hanya membentuk suatu peninggian pada dasar farings karena adanya
rawan hyoid dan lengkung insang dibawahnya.
2.1.3. Musculus Ekstrinsik Bola Mata (Musculus Visus)
Seperti pada Vertebrata lainnya, Amphibia juga memiliki 2 musculus
obliquus dan 4 musculus rectus. Otot dari kelompok rektus dan obliquus, yakni:
rektus superior, rektus inferior, rektus interna, rektus eksterna, obliquus superior,
dan obliquus inferior.
2.1.4. Musculus Appendicularis
Otot-otot anggota dari Amphibia relatif lebih sederhana dan gerakan
anggota lebih terbatas kecuali pada anggota gerak belakang dari Anura. Otot-otot
anggota tidak menahan seluruh berat badan, sebab Amphibia perutnya lebih
sering bersentuhan dengan tanah.
2.2. Musculus Branchialis
Musculus branchiomeric pada Amphibia umumnya berfungsi
menyelenggarakan pergerakan rahang. Oleh karena padanya tidak terdapat insang,
maka musculus branchiomeric yang terdapat pada bagian posterior melaksanakan
fungsi yang lain.
2.3. Musculus Visceralis
Musculus visceralis hampir seluruh bagiannya bersifat involunter, dan
merupakan musculus nonstriata. Musculus nonstriata dapat dijumpai pada dinding
dari tractus digestivus maupun saluran respiratorius Amphibia.
2.4. Musculus Dermalis
Pada Amphibia relatif sedikit sekali otot integumen, pada hewan ini terdapat
otot kuataneus pektoralis, berasal dari otot pectoralis yang menghubungkan kulit
dengan kaki depan. Pada umumnya kulit Amphibia terlepas dari otot yang ada di
bawahnya kecuali pada perlekatan myosepta dan sekitar nares eksterna.

Gambar 2.1. System otot pada katak-tampak ventral


Gambar 2.2. System otot pada katak - tampak dorsal

3. Sistem Otot pada Reptilia


Otot reptil terutama untuk gerakan lateral tubuh dan menggerakkan ruas-ruas
tulang belakang. Hal ini bisa diamati terutama pada bangsa ular sebab jaringan otot
lengan telah menghilang. Otot rangka pada kura-kura dan kerabatnya sangat berkurang,
kecuali pada daerah leher akibat adanya karapaks dan plastron. Dermal atau otot kulit
berkembang baik pada reptil, dan perkembangna sangat baik terjadi pada ular. Jaringan
otot tungkai pada reptil menunjukkan variasi tergantung pada tipe gerakkannya.
3.1. Musculus Parietalis (Musculus Somatik)
3.1.1. Musculus Truncus
Pada Reptilia walaupun septum horizontal sudah tidak ada, otot hypaksial
masih dapat dibedakan dari otot epaksial. Otot epaksial di sebelah dorsal dan otot
hypaksial di sebelah ventral dan taju melintang vertebra. Otot epaksial pada reptil
menjadi kelompok ikatan otot longitudinal, dan dapat dibedakan menjadi tiga
kelompok utama: iliokostalis, longissimus, dan spinalis. Kelompok otot
illiokostalis terletak paling lateral dari kedua kelompok otot lainnya, melekat pada
tulang ileum melebar ke depan kemudian menyusup pada ujung dorsal dari rusuk.
Kelompok otot longissimus terletak sepanjang taju melintang dari vertebra
dan berhubungan dengan gelang panggul, rusuk, dan kolumna vertebralis. Kedua
otot ini terpecah menjadi ikatan otot kecil dengan nama yang spesifik: iliocostalis
dorsi dan longissimus servikikokapitis. Otot spinal merupakan ikatan-ikatan otot
yang panjang atau pendek terletak dekat lengkung neural dan melalui suatu
vertebra dari pada yang lainnya. Kelompok ini terdiri atas otot-otot :
intertransversarii; interspinales (diantara taju neural); spinalis kapitis (menyusup
sampai di kepala); spinalis servisis (pada leher); dan spinalis dorsi (berhubungan
dengan vertebra tubuh). Ikatan otot-otot spinal yang panjang atau pendek lainnya
berfungsi untuk meliuk-liukkan kolumna vertebralis, juga memegang peranan
dalam hal menggerakkan rusuk, dan memutar kepala dari kiri ke kanan atau
sebaliknya.
Susunan otot hypaksial pada Reptilia, berhubungan dengan kehadiran rusuk
yang panjang-panjang. Otot interkostalis eksterna dan interna dengan serabut otot
yang menyerong dengan arah yang berlawanan, melekat pada satu rusuk ke rusuk
berikutnya, menyelenggarakan gerakan dari rusuk. Interkostalis terdapat pada
semua Reptilia yang mempunyai rusuk, kecuali pada kura-kura di mana rusuknya
bersatu dengan krapaks. Juga terdapat rusuk yang lainnya, seperti otot skaleneus
yang menghubungkan vertebra leher dengan rusuk. Pada daerah kolumna
vertebralis, di mana rusuk mereduksi seperti di daerah lumbar dari bangsa kadal
dan buaya, otot hypaksial masih metamerik dan memperlihatkan tiga lapisan otot,
seringkali disertai dengan lapisan tambahan. Rektus abdominis melekat pada
bagian belakang sternum dengan inskriptiohes tendinae yang nyata, tumbuh baik
sekali; kecuali pada ular dan kura-kura. Pada kura-kura otot-otot tubuh mereduksi
sampai hampir hilang sama sekali.

Gambar 3.1. Sistem otot pada kadal


Gambar 3.2. Sistem otot pada kura-kura
3.1.2. Musculus Visus
Di samping memiliki 2 musculus obliquus dan 4 musculus rectus,
kebanyakan Tetrapoda memiliki musculus retractor bulbi, yang berfungsi menarik
bola mata masuk ke dalam orbit, dan banyak tetrapoda memiliki otot-otot yang
terdapat pada kelopak mata dan membrana nictitans (misalnya: musculus
pyramidalis pada reptil dan musculus levator paipebrae superioris pada reptil.
3.1.3. Musculus Appendicularis
Otot-otot anggota gerak pada reptil jauh lebih banyak dan lebih beragam,
serta lebih kuat, jika dibandingkan dengan otot-otot pada amphibia Otot-otot
intrinsicnya mengalami spesialisasi lebih jauh guna memberikan kekuatan pada
tubuhnya serta untuk memungkinkan gerakan-gerakan segmen tungkai bagian
distal. Otot-otot anggota gerak pada reptil ini merupakan cikal-bakal dari
perkembangan otot-otot terbang yang kuat pada burung dan otot-otot tungkai pada
mammalia yang fungsinya bervariasi, antara lain : untuk menggali, terbang,
berenang, dan memanjat.

3.2. Musculus Viseralis


Musculus visceralis hampir seluruh bagiannya bersifat involunter, dan
merupakan musculus nonstriata. Musculus nonstriata dapat dijumpai pada dinding
dari tractus digestivus maupun saluran respiratorius Reptilia.
3.3. Muculus Dermalis
Musculus extrinsic pada kulit merupakan musculus striata, dan dijumpai
pertama kali pada Reptilia. Otot ini dapat menggerakkan atau menegakkan sisik.
4. Sistem Otot pada Aves
Sistem otot pada Aves berbeda dalam berbagai hal dibandingkan vertebrata lain yang
hidup di lingkungan terestrial. Sesuai dengan teori use and disuse dari Lamarck, makin
sering suatu organ digunakan maka akan semakin berkembang atau mengalami
spesialisasi, sebaliknya semakin jarang digunakan maka akan mengalami penyusutan
(bersifat rudimenter) atau kurang berkembang. Otot-otot yang terdapat pada Aves pun
seakan-akan mengikuti teori tersebut. Otot-otot leher dan rahang pada Aves menunjukkan
banyak spesialisasi yang dapat dikaitkan dengan kebiasaan makan, fungsi paruh, maupun
mobilitas gerakan leher. Vertebra di bagian tubuhnya banyak yang menyatu, sehingga
menyebabkan pengurangan otot pada bagian dorsal tubuh. Otot perut pada Aves juga
kurang berkembang, akan tetapi otot pada sayap ekstrinsik terutama otot pektoralis
mayor, menunjukkan perkembangan yang sangat baik terutama burung-burung yang
dapat terbang. Otot pektoralis mayor merupakan otot depresor (menarik ke bawah) yang
berkaitan dengan gerakan menurunkan sayap saat terbang. Otot pektoralis mayor ini
menyusun 1/5 dari berat total burung secara umum. Otot pektoralis minor berperan dalam
mengangkat sayap pada saat burung sedang terbang. Otot pectoralis minor baru tampak
apabila otot pectoralis mayor diangkat. Otot pectoralis mayor dan otot pectoralis minor
berorigo pada sternum dan berinsertio pada humerus. Pada beberapa kelompok burung
yang tidak dapat terbang, sayap dan otot-otot terbang tidak berfungsi dan mengalami
atrophi.
Beberapa otot juga berperan penting terkait dengan gerakan sayap ke atas. Otot
suprakorakoid melekat pada sternum arah proksimal dari pektoralis mayor, merupakan
pasangan dari otot pektoralis mayor yang berperan sebagai otot levator (mengangkat)
yang berkaitan dengan gerakan menaikkan sayap saat terbang. Sehingga otot pektoralis
mayor dengan otot suprakoid bekerja secara berlawanan. Selain itu, otot deltoid dan otot
latissimus dorsi juga memiliki aksi yang sama dengan suprakorakoid. Pada burung yang
gerakan sayapnya sangat cepat seperti burung kolibri, otot latissimus dorsi secara
proporsional besar.
Meskipun ada pengurangan jumlah unsur kerangka anggota badan bagian gelang
bahu pada burung, ada sejumlah otot intrinsik yang berkaitan dengan gerakan merunduk,
membentangkan dan rotasi sayap selama terbang. Otot-otot kedua sayap dan kaki secara
umum cenderung terpusat dekat tubuh dan masuk secara distal menurut panjangnya urat
daging. Tulang kering burung tersusun dari tendon-tendon di sekitar tarsometarsus. Otot
yang sangat penting pada burung pemakan ikan adalah fleksor (pelentur) yang
memungkinkan jari kaki menangkap ikan-ikan kecil.
Seperti pada Vertebrata lainnya, sistem otot pada Aves juga dibagi menjadi Beberapa
karakteristik dan perubahan dari otot Aves tersebut dapat dibahas lebih lanjut pada
pengelompokkan otot berikut ini.
4.1. Musculus Parietalis (Musculus Somatik)
4.1.1. Musculus Truncus
Pada burung otot epaksial jelas terlihat di daerah leher, dan yang terdapat di
ujung ekor menggerakkan uropygium dan bulu ekor. Pada badan, otot epaksial
sengat mereduksi, karena vertebra badan mengalami ankylosis. Otot hypaksial
terdiri dari otot-otot obliquus yang banyak mereduksi, otot transversus yang telah
menghilang, dan rektus abdominis. Otot interkostalis pada burung pertumbuhannya
kurang baik.
Musculus epaksialis banyak terlibat dalam gerakan kepala. Pada anak ayam
yang belum menetas, salah satu dari otot-otot ini membentuk musculus complexus.
Otot ini merupakan otot utama yang berfungsi menggerakkan kepala maju mundur
pada saat memecahkan cangkang telurnya.
4.1.2. Musculus Visus
Di samping memiliki 2 musculus obliquus dan 4 musculus rectus,
kebanyakan Tetrapoda memiliki musculus retractor bulbi, yang berfungsi menarik
bola mata masuk ke dalam orbit, dan banyak tetrapoda memiliki otot-otot yang
terdapat pada kelopak mata dan membrana nictitans (misalnya: musculus
pyramidalis pada burung.
4.1.3. Musculus Appendicularis
Otot yang paling besar dan paling kuat pada bangsa burung adalah musculus
extrinsic pada sayapnya, otot-otot gelang bahunya serta otot-otot terkait yang
melekat (berorigo) pada sternumnya yang raengandung crista. Otot-otot intrinsic
pada sayapnya sangat menyusut, tetapi otot-otot tungkai belakangnya berkembang
dengan baik untuk berjalan. Spesialisasi otot anggota gerak belakang yang sangat
khusus adalah otot yang berfungsi pada saat bertengger, tendonnya sangat panjang,
lewat di belakang tumitnya dan insertionya ada pada digitinya. Karena tendonnya
sangat panjang, pada waklu bertengger ototnya sendiri tidak banyak kerkontraksi
sehingga tidak terlalu banyak energi yang terpakai.
4.2. Musculus Branchialis
Seperti pada pada tetrapoda lainnya, otot-otot brachiomer pada Aves juga bekerja
terhadap rahang, sebab Aves tidak memiliki insang. Sehingga walaupun masih
masih melekat pada rawan asalnya, sudah mendapat fungsi yang baru. Beberapa
otot yang termasuk musculus Branchialis misalnya adduktor mandibulae dan
depressor mandibulae.
4.3. Musculus Viceralis
Musculus visceralis hampir seluruh bagiannya bersifat involunter, dan
merupakan musculus nonstriata. Musculus nonstriata dapat dijumpai pada dinding
dari tractus digestivus, saluran respiratorius, maupun saluran-saluran lain di dalam
organ dalam Aves.
4.4. Musculus Dermalis
Muskulus dermalis pada Vertebrata, terdiri dari 2 jenis otot yaitu : musculus
extrinsic dan musculus intrinsic. Musculus extrinsicnya berorigo tidak pada kulit,
biasanya pada rangka. Sedangkan insertionya berada di bawah dermis. Otot ini
dapat menggerakkan kulit secara bebas. Contoh dari musculus dermalis pada Aves
antara lain: musculus patagium yang berkembang dari otot pektoral dari burung
yang insertionya terdapat pada kulit membran sayapnya berguna untuk memperkuat
sayap. Otot kulit melekat juga pada pangkal bulu dari burung untuk menggerakkan
bulu tersebut.

Gambar 4.1. Sistem otot pada bagian kiri tubuh burung ketika sayap dibentangkan
Gambar 4.2. Sistem otot pada bagian kanan tubuh burung ketika sayap
dibentangkan
Gambar 4.3. Sistem otot pada ayam
Gambar 4.4. Tendon pada kaki burung
Gambar 4.5. Otot penggerak sayap pada Aves

5. Sistem Otot pada Mammalia

Sistem otot mamalia pada umumnya tersusun oleh otot-otot skelet yang
bersifat segmental hampir mirip seperti miotom-miotom pada ikan, hanya saja
susunan metamerik ini telah banyak mereduksi. Perkembangan otot mamalia
terpusat pada wajah, leher, dan punggung. Otot-otot pada mamalia yang sangat
berkembang meliputi otot ekspresi wajah, otot kelopak mata, otot hidung, dan otot
bibir. Otot-otot tersebut mampu bergerak atau menggerakkan kulit dan menegakkan
rambut. Seperti pada Vertebrata lainnya, sistem otot Mammalia juga dibagi
menjadi:
5.1. Musculus Parietalis
5.1.1. Musculus truncus
Otot epaksial tidak banyak berbeda dengan binatang melata. Otot
epaksial meluas menjadi dua masa padat pada sisi masing-masing neural
vertebra, dari daerah sacral dan lumbar sampai kep leher dan kepala. Otot
epaksial yang paling besar adalah sacrospinalis, mulai dari sacrum dan
vertebra posterior. Di daerah dada sacrospinalis dibagi dalam tiga massa:
spinalis dorsi, median, dan otot yang berkaitan dengan vertebra yang meluas
sepanjang ke kolumna vertebra, pertengahan longissimus dorsi, melanjutkan
ke daerah cervical dan tengkorak.
Otot hipaksial di daerah abdomen serupa dengan binatang melata.
Dinding abdomen disusun dari otot miring eksternal, otot miring internal, dan
transversalis. Otot compres dan constrict abdomen, berperan menurunkan
tulang rusuk, dan memaksa diafragma ke atas. Di daerah thorak, otot
intercostral dibedakan tiga lapisan, secara membujur mengerahkan rectus
abdomis meluas dari simphisis pubis ke tulang dada yang berada pada sisi
linea alba. Di daerah leher sternothyroid, sternohyoid dan thyrohyoid
dibangun dari rectus abdominalis.
5.1.2. Musculus Visus
dikenal somit-somit:
- Somit pro-oticum
Somit pro-oticum berdifferensiasi menjadi 4 otot yaitu:
a. musculus rectus superior
b. musculus rectus interior
c. musculus obliquus inferior
- Somit premandibularis menjadi musculus obliquus superior.
- Somit mandibularis
- Somit hyoideus
5.1.3. Musculus Hypobranchialis
1. Musculus arcualis
2. Musculus coracomandibularis
3. Musculus coracohyoideus
4. Musculus coracobranchialis
5.1.4. Diafragma
Diafragma yang berotot hanya dijumpai pada mammalia, yang secara
embryonal merupakan derivate dari septum transversum dan membran-
membran tertentu lainnya. Bagian yang berbatasan dengan sternum, costae,
dan columna vertebralis kemudian menjadi diselubungi oleh jaringan otot
yang jumlah atau kadarnya berbeda-beda tergantung dari spesiesnya.
Perototan diafragma ini ditunjang oleh myotom-myotom yang berasal dari
daerah cervic. Hal ini terbukti dari saraf yang meninervasi diafragma berasal
dari cabang-cabang medulla spinalis di daerah servik (leher).
5.1.5. Musculus appendiculare
Musculus appendiculare mempunyai tipe:
1. Musculus extrinsik
2. Musculus instrinsik
Muskulus appendikular ekstrinsik muncul di atas rangka aksial
kemudian memasuki gelang bahu dan tungkai anggota gerak. Muskulus
ektrinsik berkembang dari blastemas dalam dinding tubuh embrional
sehingga disebut juga sebagai muskulus appendikuler sekunder. Meskipun
demikian, muskulus appendikular ekstrinsik berfungsi dalam pergerakan
keseluruhan anggota gerak tubuh.
Berbeda dengan muskulus appendikular ekstrinsik, muskulus
appendikular intrinsik berasal dari blastemas dalam tungkai yang sedang
berkembang sehingga disebut sebagai muskulus appendikular primer.
Muskulus appendikular intrinsik berfungsi dalam menggerakkan sebagian
anggota gerak saja.
Pada mamalia, terjadi perluasan muskulus appendikular ekstrinsik ke
arah dorsal untuk memperkuat pelekatannya. Muskulus appendikular mulai
muncul dari vertebra thorax dan lumbar meluas hingga pangkal ekor. Ketika
perkembangan mamalia, blastema yang nantinya menjadi otot supracoracoid
pada burung, menyebar membentuk otot deltoideus seperti pada reptil, tetapi
pada mamalia dewasa otot ini terdiferensiasi menjadi muskulus supraspinatus
dan infraspinatus. Muskulus supraspinatus berfungsi untuk mengggerakkan
otot atas balung tulang belikat sedangkan musculus infraspinatus berfungsi
untuk mengggerakkan otot bawah balung tulang belikat. Tungkai belakang
mamalia sebagian besar digerakkan oleh muskulus appendikular intrinsik.
Musculus intrinsik pada kulit, kebanyakan berupa musculus nonstriata,
yang dijumpai pada Aves dan Mamalia. Pada mamalia, berupa musculus
arrectoruspilorumm yang berfungsi ketika folikel rambut dalam keadaan
bahaya, kedinginan atau sakit, kontraksi otot membuat bulu burung atau
rambut pada mamalia yang bersangkutan menjadi berdiri tegak.
5.2. Musculus Branchialis
Musculus branchialis merupakan derivat dari splanchnic mesoderm yaitu
hypaxial dan tidak berasal dari myotome, berfungsi untuk menggerakkan
archus visceralis dan rahang. Musculus ini berupa striated yang berkerja
secara volunteer, mulai dari archus mandibularis hingga seperangkat archus
visceralis. Versus trigeminus (V), VII, IX, X, menginnervasi cabang musculus
branchialis melapisi organ dalam musculus.
Musculus arcus pharyngeum I
Pada mamalia, musculus branchialis pada arcus pharyngeum pertama
tetap berfungsi untuk menggerakkan rahang. Musculus pterygoideus externus
dan musculus pterygoideus internuspin berfungsi sebagai adductor
mandibular. Musculus mandibular biasanya terdiri dari musculus masseter
(otot kunyah) dan musculus temporalis. Satu-satunya otot yang hanya
dimiliki oleh classis mamalia adalah musculus tensor tympani, yang
insertionya ada pada malleus. Fungsinya adalah menjaga agar gendang
pendengaran tetap tegang.
Musculus arcus pharyngeum II
Pada arcus pharyngeus II terdapat otot-otot yang berkaitan dengan
ekspresi wajah (musculus mimetic) yang berasal dari musculus sphincter colli
(=musculus gularis). Musculus sphincter colli meluas hingga di sekitar
tengkorak dan mejadi musculus platysma (pada reptile da naves). Untuk
mamalia, musculus platysma meluas ke depan hingga ke wajah dan
selanjutnya menjadi musculus mimetic.
Musculus arcus pharyngeum III
Pada arcus pharyngeus III otot-otot diinervasi oleh nervus cranialis
ke IX (N. IX), sedangkan sisanya diinervasi oleh nervus cranialis ke X (N.
X). Musculus branchialis pada arcus pharyngeus III dan pada arcus visceralis
berikutnya meyusut sebagai akibat tidak berkembangnya insang pada
mamalia (rudimenter).
5.3. Musculus Visceralis
Musculus visceralis, merupakan derivate dari lapisan splanchnic dari
mesoderm hypomer, yang hampir seluruh bagiannya bersifat involunter, dan
merupakan musculus nonstriata, kecuali musculus branchialis.
Yang melapisi organ dalam musculus viscerallis dibagi tiga, yaitu
a). Otot halus melapisi saluran pencernaan, saluran pernafasan, saluran
darah, lympha dan lien/ spleen.
b). Musculus Spinneter interna pada anus/otot halus.
c). Musculus cardiae yang merupakan kombinasi otot seran dan otot halus di
jantung/ cor.
5.4. Musculus Dermalis
Otot dermalis atau disebut juga sebagai otot integumen (integumentary
muscles) merupakan derivat dari muskulus parietalis, yang origo dan
insersionya adalah pada integumentum musculus. Otot ini memiliki bentuk
yang lebar dan tipis dan melekat dibawah kulit (sub-cutan). Terdapat dua jenis
otot dermal, yaitu otot dermal intrinsik dan otot dermal ekstrinsik. Otot
dermal intrinsik berkembang seluruhnya di dalam kulit pada dermis.
Otot dermal pada Mammalia sudah terdeferensiasi dengan baik. Berupa
lembaran otot menutupi hampir seluruh truncus dan collum (badan dan leher)
disebut Paniculus carnosus. Pada mammalia tingkat rendah seperti
monotremata dan marsupialia, hal ini memungkinkan Armadillo berguling
seperti bola ketika terancam bahaya, dan membentuk suatu lubang
mengelilingi tempat memasuki kantong abdominal dari marsupialia.
Terdiri dari 2 lapisan, bagian dalam sphincter colli yang merupakan asal
dari branchiohyoid dan melekat pada kulit leher mamalia tingkat rendah, dan
bagian luar platysma yang menyebar sampai ke wajah dan akhirnya menjadi
otot ekspresi wajah atau disebut muskulus mimetic. Terdapat lebih dari tiga
puluh otot yang berbeda pada manusia yang menekan pada bagian sudut
mulut ketika sedang bersedih, mengangkatnya ketika tersenyum,
mengkerutkan dahi, mengangkat alis mata, marah, melipat bibir,
membesarkan lubang hidung, dan lainnya. Otot mimetic ini disarafi oleh saraf
craniumusculus. Carnivora memiliki sedikit otot mimetic antara lain adalah
menaikkan bagian atas bibir yang menyembunyikan gigi taringnya untuk
menyobek daging mangsanya. Ketika manusia menggunakan otot ini, maka
akan tampak ekspresi menyeringgai atau mengejek.
Pada Monotremata musculus panniculus carnosus sebagai musculus
intergumentum untuk gerakan merupakan derivate dari musculus latissimus
dan musculus pectoralis. Juga musculus sternalis pada manusia, di daerah
kepala dan leher musculus sphincter pada manusia.
Beberapa contoh dari musculus derminalis antara lain adalah :
a. Musculuss costoaitaneus
b. Musculus patagium
c. Musculus panniculus cornosus (= musculus cutaneus maximus), yang
membungkus seluruh tubuh beberapa jenis mamalia. Keberadaan
musculus ini memungkinkan armadillo dapat menggulung tubuhnya pada
waktu menghadapi bahaya. Bagian sphincter dari musculus ini
mengeliling kantong (marsupial) pada marsupialia sehingga kantongnnya
dapat mengecil atau membesar. Adanya musculus ini pada kuda, sapi,
dan beberapa jenis mamamlia lainnya, memungkinkan hewan
bersangkutan mengusir lalat dengan gerakan-gerakan kulitnya
(“twitching movement”).
d. Musculus mimetic terdapat pada mamalia tingkat tinggi. Musculus ini
merupakan perkembangan dari musculus platysma yang terbentang
hingga ke wajah. Perkembangan yang paling baik dijumpai pada
primates, untuk menunjukan ekspresi wajah.
Pada mamalia terdapat musculus mimetic yang paling berkambang dan
paling banyak, hingga ada sekitar 30 berkas. Dengan kontraksi sebuah otot
atau kelompok otot, individu dalam classis primata, terutama manusia, dapat
menunjukan emosinya tanpa mengeluarkan suara /kata-kata. Beberapa jenis
musculus mimetic dengan fungsinya masing-masing dapat di gambarkan
sebagai berikut :
a. Musculus platysma, berfungsi untuk menekan sudut mulut ke bawah,
misalnya pada saat seseorang sedang bersedih
b. Musculus frentalis, berfungsi untuk menarik ke atas alis mata, misalnya
pada saat seseorang sedang heran.
c. Musculus cerrugator, berfungsi untuk mengerutkan kulit dahi dan
termasuk menarik alis mata ke atas.
d. Musculus arbicularis o culi, berfungsi untuk menutup kelopak mata
e. Musculus arbicularis oris, berfungsi mengatupka bibir sehingga tertutup
rapat.
f. Musculus quadratus labia superioris, berfungsi untuk melebarkan lubang
hidung.
g. Musculus risoriuss, berfungsi untuk menarik sudut mulut ke belakang.
h. Musculus zygomaticus, yang berorigo pada arcus zygomaticus (tulang
lengkung pipi) dan insertionnya terdapat pada sudut mulut, kontraksinya
memungkinkan orang bisa tersenyum.oleh karena itu musculus
zygomaticus disebut juga otot senyum.
i. Musculus triangularis, berfungsi untuk menarik sudut mulut ke bawah.
j. Musculus auricularis, berfungsi untuk menggerakan daun telinga (pinna
auricularis), kearah suara yang menarik perhatian. Oleh karena musculus
auricularisnya kurang berkembang, tidak banyak manusia yang mampu
melakukan hal tersebut, yang berarti musculus auricularisnya
berkembang dengan baik.
k. Musculus caninus, berfungsi untuk mengangkat bagian bibir yang
menutup taring pada carnivore, yang bentuknya seperti lembing. Jika otot
ini berkontraksi, carnivore yang bersangkutan dapat menampakan
taringnya untuk merobek daging mangsanya. Pada manusia, otot juga
berkembangg dan kontraksi otot ini menyebabkan ekspresi wajah
seseorang menyeringai
Gambar 5.1. Sistem Otot pada Kelinci
Gambar 5.2. Sistem Otot pada Manusia
Gambar 5.3. Musculus mimetic pada Manusia