Anda di halaman 1dari 70

MAKALAH MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Mikrobiologi Lingkungan


Yang dibimbing oleh Narwati, S. Si, M. Kes., Drh. Koerniasari, M. Kes.,
Deddy Adam, SST.

Nama Kelompok :
1. Aricha Khoirunnisa (P27833318001)
2. Erlingga Sri C (P27833318002)
3. Alivia Amanatus S (P27833318005)
4. Intan Sigra N (P27833318006)
5. Rara Aldavina P A (P27833318010)
6. Isnaini Indriawati (P27833318011)
7. Helmi Adi Winata (P27833318019)

POLTEKKES KEMENKES SURABAYA


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN SURABAYA
PROGRAM STUDI D IV
2019/2020
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kami, sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Mikrobiologi Lingkungan” ini tepat
pada waktunya.
Makalah ini ditujukan untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah
Mikrobiologi Lingkungan. Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah Mikrobiologi Lingkungan Ibu Narwati,S.Si.,M.Kes.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala kritik dan saran dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Mikrobiologi
Lingkungan ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Surabaya, 28 Januari 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................................1
1.2 Batasan Masalah.............................................................................................1
1.3 Rumusan Masalah..........................................................................................2
1.4 Tujuan Penulisan............................................................................................2
1.5 Manfaat Penulisan..........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3
2.1 Konsep Dasar dan Pengertian Mikrobiologi..................................................3
2.2 Ruang Lingkup dan Sejarah Mikrobiologi.....................................................3
2.2.1 Ruang Lingkup Mikrobiologi..................................................................3
2.2.2 Mikroskop dan Penemuan Dunia Jasad Renik........................................4
2.2.3 Teori Nutfah Penyakit..............................................................................8
2.2.4 Konsep Biakan Murni..............................................................................8
2.2.5 Pencegahan dan Pengobatan Penyakit yang Disebabkan Mikrobe.........8
2.3 Jenis, Penggolongan dan Kebiasaan Hidup Mikroorganisme........................9
2.3.1 Virus.........................................................................................................9
2.3.2 Bakteri....................................................................................................17
2.3.3 Fungi......................................................................................................42
2.3.4 Algae......................................................................................................47
2.3.5 Protozoa.................................................................................................48
2.3.6 Penggolongan Mikroba..........................................................................52
2.3.7 Kebiasaan Hidup Mikroba.....................................................................52
2.4 Pengaruh Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme.................53

iii
BAB III PENUTUP..............................................................................................57
3.1 Kesimpulan...................................................................................................57
3.2 Saran.............................................................................................................57
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................58
LAMPIRAN..........................................................................................................59

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 latar belakang masalah


Mikrobiologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu mikros yaitu kecil,
bios artinya hidup, dan logos artinya ilmu. Mikrobiologi merupakan suatu ilmu
tentang organisme terdiri dari lima kelompok organisme yaitu : bakteri, protozoa,
virus, algae, dan cendawan (jamur) mikroskopis. Dengan demikian, lingkup
mikrobiologi, meliputi Bakteriologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang bakteri,
Virologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang virus, Mikologi, yaitu ilmu yang
mempelajari tentang jamur dan algae dan Parasitologi, yaitu ilmu yang
mempelajari tentang parasit.
Pada mulanya mikroorganisme tidak dianggap perlu untuk dipelajari, karena
ukurannya yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, namun
pada akhir abad ke-19, penemuan Pasteur, Koch, dan Lister mengubah pendapat
tersebut. Pada masa itulah manusia baru menyadari betapa pentingnya
pengetahuan tentang mirkoorganisme, sehingga keuntungan dan kerugian yang
ditimbulkan oleh mikroorganisme mulai banyak dipelajari.
Robert Koch dan beberapa ahli mikrobiologi lainnya mengembangkan banyak
teknik dalam ilmu mikrobiologi yang berdampak sangat besar terhadap
pengetahuan mikrobiologi. Salah satu contoh teknik yang sampai saat ini masih
digunakan adalah teknik untuk menumbuhkan mikroorganisme sehingga dalam
mempelajari mikrobiologi lebih ditekankan pada teknik-teknik yang digunakan
daripada subjek yang ditelaahnya. Mikroskop merupakan peralatan yang
mendukung pengembangan teknik tersebut.
Dalam penerapannya di masa kini, mikrobiologi tidak dapat dipisahkan
dengan ilmu yang lain dalam aplikasinya dibidang farmasi, kedokteran, teknik
kimia, arkeologi, pertanian, gizi, dan kesehatan, serta pangan.
Mikrobiologi mempelajari banyak segi mengenai jasad renik, misalnya asal
bakteri, ciri-cirinya, kekerabatan antar sesama dan kelompok organisme lainnya,
pengendalian serta peranannya dalam kesehatan serta kesejahteraan manusia dan
hewan. Mikroorganisme erat kaitannya dengan kehidupan manusia, beberapa
diantaranya bermanfaat, dan yang lainnya bersifat merugikan.

1.2 Batasan Masalah


Penulisan makalah ini dibatasi pada empat aspek sebagai berikut :
1. Konsep dasar dan pengertian Mikrobiologi
2. Ruang lingkup, sejarah Mikrobiologi
3. Jenis, penggolongan dan kebiasaan hidup mikroorganisme
4. Pengaruh lingkungan terhadap mikroorganisme

1.3 Rumusan Masalah


1. Apakah konsep dasar dan pengertian dari Mikrobiologi ?
2. Bagaimana ruang lingkup dan sejarah Mikrobiologi ?

1
3. Bagaimana jenis, penggolongan dan kebiasaan hidup mikroorganisme ?
4. Bagaimana pengaruh lingkungan terhadap mikroorganisme ?

1.4 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui konsep dasar dan pengertian dari Mikrobiologi
2. Untuk mengetahui ruang lingkup dan sejarah Mikrobiologi
3. Untuk mengetahui jenis, penggolongan dan kebiasaan hidup
mikroorganisme
4. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap mikroorganisme

1.5 Manfaat Penulisan


1. Bagi Mahasiswa, dapat mengetahui serta menambah wawasan tentang
konsep dasar dan pengertian dari Mikrobiologi, ruang lingkup dan sejarah
Mikrobiologi, jenis, penggolongan dan kebiasaan hidup mikroorganisme,
pengaruh lingkungan terhadap mikroorganisme.
2. Bagi Dosen, dapat menjelaskan serta menambah wawasannya kepada
mahasiswa.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar dan Pengertian Mikrobiologi


Mikrobiologi berasal dari kata Yunani: micros, yaitu kecil atau renik, bio,
yaitu hidup atau kehdiupan, dan logos, yaitu ilmu atau pikiran. Jadi, mikrobiologi
berarti ilmu pengetahuan tentang makhluk hidup yang kecil atau renik. Istilah lain
yang digunakan selain makhluk hidup yang kecil atau renik adalah
mikroorganisme, mikroba yang berasal dari kata micros, yaitu kecil, ba=bio, yaitu
hidup.
Jasad-jasad renik yang demikian kecilnya itu tidak dapat dilihat dengan mata
telanjang. Kita baru dapat melihatnya dengan mempergunakan alat untuk
memperbesar benda yang kita lihat. Alat tersebut dikenal dengan mikroskop. (Dr.
Hasdianah H.R. : 2012).
Mikrobiologi dibagi menjadi beberapa cabang yang digunakan dalam
peningkatan kesejahteraan hidup manusia. Mikroorganisme yang menyebabkan
penyakit dan berbagai macam pengetahuan seperti kaitannya dengan penyebaran
penyakit telah dipelajari di dalam epidemiologi, kaitannya dengan kekebalan
tubuh manusia dipelajari di dalam imunologi. Oleh karena itu, saat ini
perkembangan mikrobiologi tidak dapat melepaskan pengetahuan tentang masalah
epidemi, endemi, pandemi, dan permasalahan imun host-nya. Ilmu tersebut juga
berkaitan dengan masalah kesehatan lingkungan, termasuk di dalamnya parameter
mikrobiologis air, udara, dan tanah.
Dalam mempertahakan kehidupannya, mikroorganisme maupun makhluk
hidup lainnya di alam tidak ada yang hidup secara sendiri-sendiri melainkan
bekerja sama. Setiap makhluk hidup memiliki peran dan fungsinya di alam raya
ini. Mikrobiologi Lingkungan merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari
peranan mikroba yang ada di lingkungan alam (nature) maupun buatan
(artificial). (Ahmad Syauqi : 2017)

2.2 Ruang Lingkup dan Sejarah Mikrobiologi

2.2.1 Ruang Lingkup Mikrobiologi


Mikrobiologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang
mempelajari mikroorganisme. Beberapa ilmu dasar yang diperlukan untuk
mendukung pemahaman mikrobiologi, antara lain ilmu kimia, fisika, dan
biokimia. Ruang lingkup dalam mempelajari mikrobiologi meliputi pengertian
tentang konsep dasar dan pengertian dari mikroorganisme, pengertian tentang
sejarah mikroorganisme, jenis, penggolongan dan kebiasaan hidup
mikroorganisme, pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroorganisme.
Seiring berjalannya waktu mikrobiologi telah mengalami perkembangan yang
pesat menjadi beragam ilmu, antara lain virologi, bakteriologi, mikologi,
mikrobiologi pangan, mikrobiologi tanah, dan mikrobiologi industri. Ilmu

3
tersebut mempelajari mikroorganisme secara spesifik, rinci, dan menurut
pemanfaatannya. (Drs. Lestanto Unggul Widodo, M.Sc. : 2014)

2.2.2 Mikroskop dan Penemuan Dunia Jasad Renik


Kendatipun Antony van Leeuwenhoek (1632-1732), seorang mahasiswa
ilmu pengetahuan alam berkebangsaan Belanda, agaknya bukanlah orang
pertama yang melihat mikrobe yang disebut bakteri dan protozoa, namun
dialah yang pertama-tama melaporkan pengamatannya dengan keterangan dan
gambar-gambar yang diteliti. Leeuwenhoek melakukan pengamatan ini selama
ia memburu hobinya mengasah lensa dan membuat mikroskop. Selama
hidupnya ia telah membuat lebih dari 250 buah mikroskop, masing-masing
terdiri dari lensa tunggal hasil gosokan rumah yang ditanam dalam kerangka
kuningan dan perak; kekuatan pembesaran tertinggi yang dapat dicapainya
hanyalah 200 sampai 300 kali.
Pada tanggal 9 Juni 1675, Leeuwenhoek menulis dalam buku hariannya,
“Mengumpulkan air hujan dalam cawan”, dan pada tanggal 10 Juni ia
melanjutkan, “Sambil mengamati air tersebut aku berkhayal bahwa aku
menemukan makhluk-makhluk hidup; tetapi karena amat sedikitnya serta tidak
terdapati dengan mudah, maka hal ini tak dapat kuterima sebagai hal yang
benar”. Maka keesokan harinya ia pun kembali kepada pengamatannya dan
mencatat, “Tak ada pikiran padaku bahwa akan tampak makhluk hidup, tetapi
setelah kuamati maka dengan penuh kagum aku melihat seribu makhluk hidup
dalam setetes air. Animalkul itu merupakan jenis terkecil yang pernah kulihat
sampai kini”. Dia membuat gambar-gambar bakteri yang ditemukannya dari air
hujan, air liur, cuka, serta substansi lain dan dia memeriksakannya dengan
gambar-gambar yang disertai keterangan-keterangan yang amat menarik.

4
Ia membuat sketsa sel bakteri dengan bentuk seperti bola (kini disebut
kokus), silindris atau bentuk batang (basilus), atau spiral (spirilum). Sebelum
tahun 1800 orang belum menyadari benar bahwa mikroorganisme adalah
penyebab banyak penyakit atau menyebabkan perubahan kimiawi pada bahan-
bahan disekitar kita yang tak terhitung banyaknya.
Ditemukannya suatu dunia organisme yang tidak tampak dengan mata
itu membangunkan minat terhadap perdebatan hebat pada masa itu mengenai
asal-muasal kehidupan. Dari manakah datangnya jasad-jasad renik ini ?
Ada yang menduga bahwa jasad renik itu muncul sebagai akibat
dekomposisi jaringan tumbuhan atau hewan yang mati. Dengan kata lain,
mereka mengira bahwa organisme hidup berasal dari bahan mati yang
mengalami penghancuran. Konsepsi ini, yaitu bahwa kehidupan berasal dari
bahan mati, dikenal sebagai generatio spotanea atau abiogenesis (abio, “tidak
hidup” ; genesis “asal”). Pemikiran mengenai generasi spontan sekurang-
kurangnya telah dicetuskan oleh bangsa Yunani Kuno yang menyakini bahwa
daging yang membusuk menghasilkan belatung dan bahwa lalat serta katak
muncul begitu saja dari lumpur pada keadaan-keadaan iklim tertentu. Banyak
orang pada masa yang lalu tidak sependapat bahwa mikroorganisme menjelma
melalui generasi spontan, tetapi tidak sedikit pula yang mendukung berlakunya
generasi spontan.
Bagi teori yang mengatakan bahwa benda hidup dapat bermulanya
secara spontan, terdapat baik penganut maupun penentangnya, masing-masing
dengan suatu penjelasan baru yang kadang-kadang mengagumkan ataupun
sedikit bukti percobaan.
Pada 1749, John Needham (1713-1781) melakukan percobaan dengan
daging yang dimasak dan mengamati bahwa terdapat mikroorganisme pada
awal percobaan dan berkesimpulan bahwa jasad-jasad tersebut berasal dari
daging. Kira-kira dalam waktu yang sama Lazzaro Spalanzani (1729-1799),
dalam usahanya untuk membuktikan konsepsi abiogenesis itu tidak benar,
mendidihkan kaldu daging, yaitu suatu larutan nutrien dalam labu selama satu
jam lalu wadah itu ditutupinya rapat-rapat. Maka tak ada jasad renik dalam
labu tersebut. Tetapi hasil percobaannya ini, yang dikuatkan dalam rangkaian
percobaan ulang, tidak dapat menyakinkan Needham bahwa mikrobe tidaklah
muncul karena generasi spontan. Needham bersikeras bahwa diperlukan udara
untuk generasi spontan mikrobe dan bahwa karena udara itu dikeluarkan dari
labu selagi percobaan Spallanzani, maka tak ada mikrobe yang muncul.
Perbedaan pendapat ini dipecahkan 80 atau 90 tahun kemudian oleh dua
peneliti secara terpisah, yaitu Franz Schluze (1815-1873) dan Thedor Schwan
(1810-1882). Schluze melakukan udara melewati larutan asam pekat ke dalam
labu berisi kaldu daging yang di didihkan, sedangkan Schwan melakukan udara
melalui tabung membara ke dalam labu berisi kaldu daging yang di didihkan.
(Gambar 1-4 A dan B)
Maka di dalam masing-masing labu itu tidak ada mikrobe karena
terbunuh oleh asam dan panas yang luar biasa. Namun, tetap hal ini belum
menyakinkan mereka yang menyongkong konsepsi abiogenesis. Mereka

5
mengatakan bahwa asam dan panas mengubah udara sedemikian sehingga
tidak mendukung pertumbuhan. Sekitar 1850 Schroder dan von Dusch
melakukan percobaan yang lebih menyakinkan dengan melewatkan udara
melalui tabung berisi kapas ke dalam labu berisi kaldu yang sebelumnya
dipanaskan (Gambar 1-4C). Mikrobe disaring ke luar dari udara oleh serat-
serat kapas dan dengan demikian dicegah masuk ke dalam labu maka tidak ada
jasad renik yang tumbuh dalam kaldu tersebut.
Di antara bukti-bukti yang paling penting ialah hasil percobaan John
Tyndall pada awal tahun 1870-an. Ia menciptakan sebuah kotak bebas debu
(Gambar 1-4D) dan menempatkan tabung-tabung berisi kaldu steril di
dalamnya.
Selama udara dalam kotak itu bebas debu maka selama itu pula kaldu
dalam tabung tetap steril. Partikel-partikel debu mengendap dan tertahan pada
tabung berbentuk leher angsa yang menuju ke dalam kotak. Inilah bukti bahwa
mikrobe terbawa oleh partikel-partikel debu. (Michael J, dkk : 2013)

.
Percobaan Fransisco Redi, seorang dokter Italia, merupakan orang
pertama yang melakukan penelitian untuk membantah teori generatio
spontanea. Dia melakukan serangkaian penelitian menggunakan daging segar.
Redi memerhatikan bahwa ulat akan menjadi lalat dan lalat selalu terdapat
tidak jauh dari sisa-sisa daging. Pada penelitiannya, Redi menggunakan keratan
daging segar yang diletakkan dalam 3 wadah (tabung).

6
Wadah I diisi sekerat daging segar dan dibiarkan terbuka. Wadah II diisi
sekerat daging segar dan ditutup dengan gabus. Wadah III diisi sekerat daging
segar lalu ditutup dengan kain kasa yang berlubang-lubang.
Ketika daging membusuk, datanglah lalat disekitar wadah. Beberapa
hari kemudian, pada daging wadah I terlihat cukup banyak belatung. Daging
pada wadah II bebas dari belatung. Beberapa ekor belatung juga terdapat di
atas permukaan kain kasa wadah III.
Dari percobaan tersebut, Redi membuktikan bahwa belatung tidak
terbentuk dari daging yang membusuk, melainkan berasal dari telur-telur lalat
yang ditinggalkan ketika lalat-lalat mengerumuni daging membusuk dan
permukaan kasa.
Percobaan redi membuktikan makhluk hidup tidak terbentuk begitu saja
terbentuk dari benda-benda mati, tetapi semua makhluk hidup terbentuk oleh
makhluk hidup juga.(Dra. D.A. Pratiwi, M.Pd, dkk : 2013)
Selama periode ini muncullah muka baru dalam ilmu pengetahuan,
yakni Louis Pasteur (1822-1895). Ia adalah seorang ahli kimia yang mendapat
pengakuan nasional. Secara teguh Pasteur menentang konsepsi generasi
spontan. Pasteur melakukan percobaan dengan mempersiapkan larutan nutrien
dalam labu yang dilengkapi dengan lubang panjang dan sempit berbentuk
“leher angsa”. Kemudian, ia memanaskan larutan nutrien itu dan udara tanpa
perlakuan dan tanpa disaring dibiarkannya lewat keluar masuk. Tidak ada
mikrobe dalam larutan itu. Alasannya untuk ini ialah bahwa partikel-partikel
debu yang mengandung mikrobe tidak mencapai larutan nutrien, mereka
mengendap dalam bagian tabung leher angsa yang berbentuk huruf U dan
aliran udara demikian berkurangnya sehingga partikel-partikel tadi tidak
dibawa ke dalam tabung. (Michael J, dkk : 2013).

Setelah teori abiogenesis atau generatio spontanea ditumbangkan oleh


Louis Pasteur, berkembanglah Teori Biogenesis dengan pernyataannya yang
terkenal “omne vivum ex ovo, omne ex vivo”, yang artinya kehidupan berasal

7
dari telur, dan telur berasal dari kehidupan atau disebut juga”omne vivum ex
vivo”, yang artinya, kehidupan berasal dari kehidupan sebelumnya. (Dra. D.A.
Pratiwi, M.Pd, dkk : 2013)

2.2.3 Teori Nutfah Penyakit


Dalam tahun 1546 Fracastoro dari Verona (1483-1553) menyatakan
bahwa penyakit dapat disebabkan oleh jasad renik yang terlalu kecil untuk
dapat dilihat yang dipindahkan (ditularkan) dari seseorang ke orang lain. Pada
tahun 1762 von Plenciz dari Vienna tidak hanya mengemukakan bahwa
sesungguhnya makhluk hiduplah yang menjadi penyebab penyakit, tetapi juga
berpendapat bahwa berbagai jasad renik menimbulkan bermacam-macam
penyakit pula.
Karena keberasilan Pasteur dalam memecahkan masalah fermentasi,
maka pemerintah Perancis memintanya untuk meneliti Pebrine, penyakit pada
ulat sutra. Pada akhirnya ia berhasil mengisolasi jasad renik (suatu protozoa)
penyebabnya.

2.2.4 Konsep Biakan Murni


Teknik yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme pada
media agar memungkinkannya tumbuh dengan agak berjauhan dari sesamanya,
juga memungkinkan setiap selnya berhimpun membentuk koloni, sekelompok
massa sel yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Semua sel dalam koloni itu
sama di anggap kesemuanya itu merupakan keturunan (progeni) satu
mikroorganisme dan karena itu mewakili apa yang disebut mikrobiologiwan
biakan murni.
Percobaan-percobaan Koch dan peneliti-peneliti lain di laboratoriumnya
membuktikan bahwa jasad renik tertentu menyebabkan timbulnya penyakit
tertentu pula dan hal ini telah menuntun kepada ditetapkannya kriteria yang
dapat mendasari ditariknya kesimpulan semacam itu. Kriteria ini, dikenal
dengan postulat koch, mejadi garis penunjuk dan tetap sampai kini dipakai
dalam mencari bukti bahwa suatu penyakit disebabkan ole jasad renik tertentu.
Postulat Koch itu ialah :
1) Mikroorganisme tertentu selalu dapat dijumpai berasosiasi dengan
penyakit tertentu.
2) Mikroorganisme itu dapat diisolasi dan ditumbuhkan menjadi biakan
murni di laboratorium
3) Biakan murni mikroorganisme tersebut akan menimbulkan penyakit itu
bila disuntikkan pada hewan yang rentan (suseptibel)
4) Penggunaan prosedur laboratorium memungkinkan diperolehnya kembali
mikroorganisme yang disuntikkan itu dari hewan yang dengan disengaja
diinfeksi dalam percobaan

2.2.5 Pencegahan dan Pengobatan Penyakit yang Disebabkan Mikrobe


Semenjak dipastikannya bahwa jasad renik merupakan penyebab
penyakit tertentu, banyak perhatian ditujukan kepada pengembangan cara-cara
untuk pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit tersebut. Penyebab

8
etiologis (agen kausatif) untuk sebagian besar penyakit bakterial yang dikenal
masa kini.

Metode pencegahan dan pengobatan yang telah dikemukakan untuk


memberantas penyakit karena mikrobe mencakup imunisasi (misalnya
vaksinasi), antiseptis (cara-cara untuk meniadakan atau mengurangi
kemungkinan infeksi), kemotrapi (perawatan pasien dengan bahan kimia), dan
cara-cara kesehatan masyarakat (misalnya pemurnian air, pembuangan limbah,
dan pengawetan makanan). (Michael J, dkk : 2013)

2.3 Jenis, Penggolongan dan Kebiasaan Hidup Mikroorganisme


Dunia mikroba terdiri dari berbagai kelompok jasad renik. Mikroba dibagi
menjadi virus, bakteri, fungi, algae, dan protozoa. Berikut penjelasan tentang
dunia mikroba.

2.3.1 Virus
Virus adalah mikroorganisme yang sedemikian kecilnya sehingga hanya
dapat dilihat pada perbesaran yang disediakan oleh mikroskop elektron. Virus
juga memperbanyak diri hanya di dalam sel-sel hewan, tumbuh-tumbuhan, dan
mikroorganisme lain. Karena alasan inilah maka mereka disebut parasit
intraseluler obligat.
Virus bergantung kepada sel-sel inangnya untuk bereproduksi karena
tidak mempunyai perlengkapan metabolik sendiri, virus tidak mampu
membangkitkan energi atau mensintesis protein. Mereka bergantung kepada
sel-sel inangnya untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang vital ini.

9
Namun demikian, seperti halnya sel-sel inangnya, virus mempunyai
informasi genetis untuk bereproduksi dan untuk mengambil alih sistem
pembangkit energi dan pembuat protein sel inangnya. Informasi ini ada di
dalam gen-gen virus.
Sesungguhnya, virus berpindah dari satu sel inang ke yang lain dalam
bentuk paket-paket gen berukuran kecil. Berbeda dengan sel-sel inang, bahan
genetis virus adalah DNA atau RNA tetapi tidak kedua-keduanya. Bahan
genetis tersebut terkemas di dalam selubung protein yang sangat khusus
dengan bentuk yang berbeda-beda. Selubung tersebut melindungi bahan
genetis ketika virus ada di luar sel inang dan berfungsi sebagai wahana masuk
ketika virus memasuki sel inang tertentu. Virus yang sempurna secara
struktural, matang, serta mampu menginfeksi disebut virion.

2.3.1.1 Virus Bakterial


Bakteriofage (sederhananya fage), yaitu virus yang menginfeksi
bakteri. Berikut pokok bahasan mengenai virus bakterial.

2.3.1.1.1 Ciri-ciri umum


Terdiri dari sebuah inti asam nukleat dikelilingi oleh
selubung protein. Virus bakterial terdapat dalam bentuk yang berbeda-
beda meskipun banyak yang mempunyai ekor yang digunakan untuk
melewatkan asam nukleatnya ketika menginokulasi sel inang.
Ada dua tipe utama virus bakterial, yaitu litik atau virulen,
dan tenang (lisogenik), atau avirulen. Bila fase litik menginfeksi sel, sel
tersebut memberikan tanggapan dengan cara menghasilkan virus-virus
baru dalam jumlah besar, yaitu pada akhir masa inkubasi, sel inang akan
pecah atau mengalami lisis, melepaskan fage-fage baru untuk
menginfeksi sel-sel inang yang lain. Ini disebut daur litik.
Pada infeksi tipe tenang, akibatnya tidak sedemikian jelas.
Asam nukleat virus itu dibawa dan direplikasikan di dalam sel-sel
bakteri dari satu generasi ke generasi yang lain tanpa terjadi lisis pada
sel-selnya. Namun, pada fage tenang dapat secara mendadak menjadi
virulen pada suatu generasi berikutnya dan menyebabkan lisis pada sel
inangnya. Di samping itu, ada pula beberapa fage berbentuk filamen
yang hanya sekedar keluar dari sel tanpa mematikannya.

2.3.1.1.2 Morfologi Fage


Semua fage mempunyai inti asam nukleat yang ditutupi oleh
selubung protein, atau kapsid. Kapsid ini tersusun dari subunit-subunit
morfologis yang disebut kapsomer. Kapsomer terdiri dari sejumlah
subunit atau molekul protein yang disebut protomer.

10
2.3.1.1.3 Struktur Fage
Struktur fage dijumpai dalam dua bentuk struktural yang
mempuyai simetri kubus dan helikal. Pada penampilan keseluruhan,
fage kubus adalah benda padat teratur atau lebih spesifiknya, polihedra
(tunggal, polihedron); sedangkan fage helikal berbentuk batang. Pada
banyak bakteriofage kepalanya polihedral tetapi ekornya berbentuk
batang.
Fase polihedral adalah ikosahedra, yaitu kapsidnya bersegi
20, masing-masing merupakan segitiga sama sisi. Keduapuluh segi ini
bersatu membentuk 12 puncak. Pada kapsin yang paling sederhana, ada
satu kapsomer pada setiap puncak; kapsomer ini dikelilingi oleh lima
kapsomer lain (Gambar 11-4A). Kapsid-kapsid yang lain bisa terdiri
dari beratus-ratus kapsomer, tetapi kesemuanya itu berdasar pada model
sederhana ini. Kepala fage yang memanjang ini merupakan derivatif
ikosahedron.
Pada virus berbentuk batang, kapsomernya tersusun secara
helikal dan tidak dalam bentuk cincin-cincin yang bertumpuk.

11
2.3.1.1.4 Reproduksi Virus Bakterial

Adsopsi dan Penetrasi, disini ujung ekor virus menjadi


melekat pada dinding sel. Pelekatan itu khusus bagi virus-virus tertentu
dan bakteri yang rentan mempunyai konfigurasi molekular yang
komplementer pada situs-situs penerimaannya yang berlawanan.
Bila terlampaui banyak fage melekat pada bakteri itu dan
menembusnya, maka mungkin terjadi lisis prematur, yang tidak disertai
pembentukan virus-virus baru.
Penetrasi yang sesungguhnya oleh fage ke dalam sel inang
bersifat mekanis, tetapi mungkin dipermudah oleh suatu enzim,
losozim, yang dibawa pada ekor fage yang mencernakan dinding sel.
Penetrasi tercapai bila :
1) Serabut ekor virus melekat pada sel dan ekor terikat erat pada
dinding sel
2) Seludang sel berkontraksi, mendorong inti ekor ke dalam sel
melalui dinding sel dan membran sel
3) Virus itu menginfeksi DNA nya seperti sebuah alat suntik
menyuntikkan vaksin. Seludang proteinnya yang membentuk
kepala fage, dan struktur ekor virus tetap tertinggal di luar sel.

12
Replikasi, Perakitan, dan Lisis, bahan virus yang memasuki
sel ialah asam nukleat (RNA atau DNA), yang membawa informasi
yang diperlukan bagi sintesis partikel-partikel virus baru. Segera setelah
infeksi asam nukleat virus ke dalam sel inang, virus itu mengambil alih
perlengkapan metabolik sel inang, menyebabkannya membuat asam
nukleat virus daripada asam nukleat bakteri. Kira-kira 25 menit setelah
infeksi awal, sejumlah 200 bakteriofage baru telah terakit, dan sel itu
pun meledak pecah, melepaskan fage-fage baru itu untuk menginfeksi
bakteri-bakteri lain dan memulai lagi daur tersebut.
Tidak semua infeksi pada sel bakteri oleh fage berlangsung
untuk menghasilkan lebih banyak partikel virus dan berakhir dengan
lisis. Suatu hubungan yang berbeda tersebut dikenal sebagai lisogeni,
dapat berkembang antara virus dan bakteri inangnya. Pada lisogeni,
DNA virus fage tenang itu tidak mengambil alih fungsi gen-gen sel,
tetapi menjadi tergabung ke dalam DNA inang dan menjadi profage
pada kromosom bakteri, berlaku seperti gen. Pada keadaan ini bakteri
itu bermetabolisme dan berbiak secara normal, dengan DNA virusnya
diteruskan kepada setiap sel anak melalui semua generasi berikutnya.

13
2.3.1.2 Virus Hewan dan Tumbuhan

2.3.1.2.1 Struktur dan Komposisi


Virion hewan dan tumbuhan tersusun dari suatu inti asam
nukleat yang terletak di tengah dikelilingi oleh suatu kapsid, yang
terbuat dari kapsomer-kapsomer. Semua virion memiliki struktur
simetri sejati namun, ada beberapa virus hewan, nukleokapsid (asam
nukleat dan kapsid) dibungkus oleh suatu membran luar yang disebut
sampul, yang terbuat dari lipoprotein dan menyembunyikan simetri ini.

2.3.1.2.2 Morfologi
Virus hewan dan tumbuhan dapat diklasifikasikan ke dalam
4 kelompok berdasarkan pada morfologi keseluruhan sebagai berikut :
1. Ikosahedral : Contohnya ialah poliovirus dan adenovirus, masing
masing merupakan penyebab polio dan infeksi saluran
pencernafasan.
2. Helikal : Virus rabies merupakan salah satu contohnya. Banyak
virus tumbuhan berbentuk heliks.
3. Bersampul : Nukleokapsid bagian dalam virus ini, dapat berbentuk
ikosahedral ataupun helikal, dikelilingi oleh sampul seperti
membran. Beberapa sampul mempunyai proyeksi permukaan
yang disebut duri, terbuat dari glikoprotein. Virion bersampul
bersifat pleomorfik (bentuknya beragam) karena sampul itu
tidak kaku.
4. Kompleks : Beberapa virus mempunyai struktur yang rumit
contohnya, virus stomatis vesikular berbentuk peluru dan bagian
luar virion mempunyai duri-duri.

2.3.1.2.3 Asam Nukleat


Virus-virus hewan dan tumbuhan mengandung DNA atau
RNA, tetapi virion yang sama tidak dapat mengandung kedua-duanya.
Ada empat jenis asam nukleat yang memungkinkan, ialah : DNA
berutasan tunggal, RNA berutasan tunggal, DNA berutasan ganda, dan
RNA berutasan ganda. Keempat tipe itu telah dijumpai pada virus

14
hewan. Pada virus tumbuhan, telah dijumpai RNA berutasan tunggal
dan ganda, dan juga DNA berutasan tunggal.

2.3.1.2.4 Komponen Kimiawi Yang Lain


Protein ialah komponen kimiawi utama yang lain pada
virus, dan merupakan bagian terbesar dari kapsid. Lipid, berbagai
ragam senyawa lipid (lemak) telah ditemukan pada virus. Senyawa-
senyawa ini meliputi fosfolipid, glikolipid, lemak-lemak alamiah, asam
lemak, aldehide lemak, dan kolestrol. Fosfolipid adalah substansi lipid
yang predominan dan dijumpai pada sampul virus. Karbohidrat,
semua virus mengandung karbohidrat karena asam nukleatnya itu
sendiri mengandung ribose dan deoksiribose. Beberapa virus hewan
bersampul, seperti virus influenza dan mikso virus yang lain, pada
umumnya terdapat duri-duri yang terbuat dari glikoprotein.

2.3.1.2.5 Reproduksi (replikasi virus)


Partikel virus di luar sel inang tidak mempunyai kegiatan
metabolik yang mandiri dan tidak mampu bereproduksi melalui proses-
proses yang khas bagi jasad-jasad renik lain.

15
Perbanyakan berlangsungnya dengan replikasi, yaitu
protein virus beserta komponen-komponen asam nukleatnya
bereproduksi di dalam sel-sel inang yang rentan.
Proses keseluruhan infeksi itu dapat digambarkan sebagai
berikut, virion melekat pada suatu sel inang yang rentan pda situs-situs
yang kurang lebih spesifik. Seluruh virus atau hanya asam nukleatnya
menembus masuk ke dalam sel itu. Bila yang menembus masuk ke
dalam sel itu seluruh virus, maka harus terjadi pelepasan selubung virus
terlebih dahulu untuk membebaskan asam nukleatnya. Reproduksi virus
terjadi di dalam sitoplasma, di dalam inti, atau di kedua-duanya. Protein
serta komponen-komponen asam nukleat virus dirakit menjadi partikel
virus dan dibebaskan dari sel inang. Dengan demikian, maka langkah-
langkah infeksi virus adalah : 1. Pelekatan atau adsorpsi, 2. Penetrasi
dan pelepasan selubung, 3. Replikasi dan biosintesis komponen, 4.
Perakitan dan pematangan, 5. Pembebasan.

2.3.1.2.6 Klasifikasi
Salah satu cara klasifikasi yang mula-mula dipakai dulu
didasarkan pada afinitas jaringan virus, contohnya virus neutropik
(jaringan saraf) dan virus dermatropik (jaringan kulit). Dengan
berkembangnya metode-metode pengukuran ciri-ciri fiisk, kimiawi, dan
biologis virus, telah terhimpun informasi untuk merumuskan suatu
skema klasifikasi yang di dasarkan pada sifat-sifat ini untuk semua
virus. (Michael J, dkk : 2013)

16
2.3.2 Bakteri

2.3.2.1 Morfologi Kasar Sel Bakteri


Bakteri yang paling umum berukuran 0,5-1,0 X 2,0-5,0
mikrometer. Sekelmpok bakteri yang dikenal sebagai mikoplasma, ukurannya
sangat khas, yaitu amat kecil demikian kecilnya sehingga hampir tak tampak
di bawah mikroskop cahaya. Ukurannya berkisar 0,1-0,3 mikrometer.
Sel-sel individu bakteri dapat berbentuk seperti elips, bola, batang
(silindris), atau spiral (heliks). Sel bakteri yang berbentuk seperti bola atau
elips dinamakan kokus.

Sel bakteri berbentuk silindris atau seperti batang dinamakan


basilus. Terkadang basilus tetap saling melekat satu dengan yang lainnya,
ujung dengan ujung, sehingga memberikan penampilan rantai.

Bakteri berbentuk spiral atau spirilium terutama di jumpai sebagai


individu-individu sel yang tidak saling melekat. Tercakup di dalam kelompok

17
morfologis ini ialah spirocaeta. Spiral yang pendek dan tidak lengkap disebut
sebagai bakteri koma, atau vibrio. (Michael J, dkk : 2013)

2.3.2.2 Sruktur Halus Sel Bakteri


Struktur utama di luar dinding sel yang mungkun terlihat ialah :
1) Flagelum, embel-embel seperti rambut yang teramat tipis mencuat
menembus dinding sel dan bermula dari tubuh dasae, suatu struktur
granular tepat di bawah membran sel di dalam sitoplasma, disebut
flagelum (jamak, flagela). Flagelum menyebabkan pergerakan pada sel
bakteri. Flagelum terdiri dari 3 bagian, yaitu tubuh dasar, struktur seperti
kait, dan sehelai filamen panjang di luar dinding sel.

2) Pili (fimbrae), banyak bakteri gram negatif mempunyai embel-embel


seperti filamen yang bukan flagela. Apendiks ini, yang disebut pilus
(jamak, pili) atau fimbria (jamak, fimbrae). Berukuran lebih kecil, lebih
pendek, dan lebih banyak daripada flagela. Beberapa fili berfungsi sebagai
alat untuk melekat pada berbagai permukaan. (Michael J, 2013)

18
3) Kapsul, adalah lapisan yang terluar dari bakteri yang menyelimuti dinding
sel. Lapisan ini memiliki ketebalan yang bervariasi disetiap jenis-jenis
bakteri. Lapisan tebal tersebutlah yang disebut dengan kapsul, dan ada
juga lapisan tipis yang disebut lapisan lendir. Umumnya bakteri hidupnya
parasit dan bersifat patogen (penyebab penyakit) memiliki kapsul
sedangkan pada bakteri saproba ( mendapatkan makanan dari sisa
organisme) biasanya hanya memiliki lapisan lendir, sehingga mengapa
makanan yang terkena bakteri biasanya terlihat berlendir. Kapsul atau
lapisan lendir ini berupa senyawa yang kental dan lengket yang
disekresikan oleh bakteri. Kapsul sendiri tersusun dari glikoprotein
(senyawa campuran antara glikogen dan protein), sedangkan pada lapisan
lendir tersusun dari air dan juga polisakarida.

Fungsi kapsul atau lapisan lendir,adalah sebagai pelindung, menjaga sel


agar tidak kekeringan, membantu pelekatan dengan sel bakteri lain atau
pada substrak, melindungi bakteri dari pengaruhi sistem kekebalan
(antibodi) yang dihasilkan oleh sel tubuh inang(pada bakteri patogen).
(Agnes Sri Harti : 2012)
4) Selongsong, terdiri dari senyawa-senyawa logam tak larut. (Michael J, dkk
: 2013)
5) Tangkai, spesies-spesies bakteri tertentu dicirikan oleh pembentukan
suatu embel-embel setengah kaku yang disebut tangkai yang memanjang
dari sel. (Michael J, dkk : 2013)
6) Dinding sel, Dinding sel bakteri tersusun dari senyawa peptidoglikan.
Peptidoglikan adalah suatu polimer yang terdiri dari polipeptida pendek.
Peptidoglikan memiliki ketebalan lapisan yang bervariasi dari ketebalan
lapisan ini berpengaruh terhadap respons pewarnaan, yang digunakan
dalam penggolongan bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
Dinding sel dari pada Eubacteria mengandung peptidoglikan, sedangkan
pada dinding sel Archaebacteria adalah tidak mengandung peptidoglikan.

19
Fungsi dinding sel,adalah mempertahankan bentuk dari sel, memberikan
sebuah perlindungan fisik, menjaga sel agar tidak pecah dalam
lingkungan yang memiliki tekanan osmotik yang lebih rendah
(hipotonis), sel bakteri dapat mengalami plasmolisis jika berada pada
lingkungan yang tekanan osmotik lebih tinggi (hipertonis), bakteri akan
mati jika berada pada larutan yang pekat misalnya mengandung banyak
garam atau banyak gula. (Agnes Sri Harti : 2012)

Bakteri juga digolongkan berdasarkan struktur sel


Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah salah satu teknik pewarnaan
yang paling penting dan luas yang digunakan untuk mengidentifikasi
bakteri. Dalam proses ini, olesan bakteri yang sudah terfiksasi dikenai
larutan-larutan berikut : zat pewarna kristal violet, larutan yodium,
larutan alkohol (bahan pemucat), dan zat pewarna tandingannya berupa
zat warna safranin atau air fuchsin. Metode ini diberi nama berdasarkan
penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853-1938) yang
mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara
Pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae. Bakteri yang terwarnai
dengan metode ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram
Positif dan bakteri Gram Negatif. Bakteri gram Positif akan
mempertahankan zat kristal violet dan karenanya akan tampak bewarna
ungu tua di bawah mikroskop. Adapun bakteri gram negatif akan
kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan
sewaktu diberi zat pewarna tandingannya yaitu zat pewarna air fuchsin
atau safranin akan tampal bewarna merah. Perbedaan warna ini
disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi dinidng selnya.

20
Skema pewarnaan gram positif dan gram negatif

Karakterisitik yang membedakan bakteri Gram Postitif dan Gram Negatif


adalah komposisi dinding selnya, beberapa lapisan peptidoglikan
bergabung bersama membentuk struktur tebal dan kaku. Terdapat sekitar
40 lapisan peptidoglikan atau disebut juga lapisan Murein/Mukopeptida
yang merupakan 50% dari bahan dinding sel. Sedangkan pada bakteri
gram negatif hanya ada 1 atau 2 lapisan yang merupakan 5-10% dari
bahan dinding sel. Selain itu, dinding sel bakteri gram positif memiliki
asam Teikoat dan Teikurnoat, yang terutama terdiri dari alkohol (seperti
ribitol dan alkohol) dan fosfat. Asam Teikoat terdiri dari 2 jenis, yaitu
asam lipoteikoat dan dinding asam Teikoat. Kedua jenis asam teikoat
bermuatan negatif karena mengandung gugus fosfat dalam struktur
molekul mereka.

Perbandingan struktur dinding sel bakteri gram positif dan gram negatif

Komponen khusus dinding sel bakteri gram negatif terdiri dari


Lipoprotein dan selaput luar. Selaput luar mempunyai saluran khusus
yang mengandung molekul protein yang disebut porin yang memudahkan
difusi pasif senyawa hidrofil dengan berat molekul rendah (gula, asam
amino, ion-ion tertentu. Molekul antibiotika dapat menembus tetapi
relatif lambat sehingga bakteri gram negatif relatif lebih resisten terhadap
antibiotika).

21
Bakteri yang termasuk gram negatif adalah Enterobactericeae,
Salmonella sp, Shigella sp, E.coli dan sebagainya. Sedangkan, yang
termasuk bakteri gram positif adalah Staphylococci, Streptococci,
Enterococci, Clostridium, dan Bacillus. (Megananda Hiaranya Putri dkk :
2017)

Beberapa ciri bakteri gram positif dan gram negatif . (Agnes Sri Harti :
2012)

Ciri Gram Positif Gram Negatif


Struktur Dinding Sel Tebal (15-80 nm) Tipis (10-15 nm)
Berlapis tuggal (mono) Berlapis tiga
(multi)

Komposisi Dinding Sel Kandungan lipid rendah (1- Kandungan lipid


4%) tinggi (11-22%)
Kerentanan Terhadap Lebih rentan Kurang rentan
Penisilin
Pertumbuhan Dihambat Pertumbuhan dihambat Pertumbuhan
Oleh Zat-Zat Warna dengan nyata tidak begitu
Dasar, Mislanya Ungu dihambat
Kristal

Persyaratan Nutrisi Relatif rumit pada banyak Relatif sederhana


spesies
Resistensi Terhadap Lebih resisten Kurang resisten
Gangguan Fisik

22
Fungsi struktur permukaan sel bakteri
Struktur Fungsi Komposisi kimiawi
Flagela Lokomosi Protein
Pili Tabung konjugasi Protein
Pelekatan sel
Kapsul dan Bahan Penutup lindung Polisakarida, polipeptida
Ekstraseluler Pelekatan sel
Makanan cadangan
Dinding Sel Penutup lindung Peptidoglikan,asam
Permeabilitas tekoat,polisakarida,
lipid, dan protein
Membran Sitoplasma Penutup semipermeabel Lipid, dan protein
dan Mesosom Mekanisme transpor
Pembelahan sel
Sintesis makromolekul
biologis

Struktur di dalam dinding sel


1. Membran plasma
2. Difusi pasif (osmosis)
3. Angkutan aktif
4. Mesosom
5. Daerah sitoplasma
6. Daerah nukleus
7. Inklusi sitoplasma
8. Protoplas dan sferoplas
9. Spora

2.3.2.3 Tipe-tipe Nutrisi Utama Bakteri


Tipe-tipe nutrisi utama bakteri
Tipe Sumber Sumber Contoh genus
energi untuk karbon
pertumbuhan untuk
pertumbuhan
Fototrof
Autotrof Cahaya CO2 Chromatium
Heterotrof Cahaya Senyawa Rhodopseudomon
organik as
Kemotrof
Autotrof Oksidasi CO2 Thiobacillus
senyawa
anorganik
Heterotrof Oksidasi Senyawa Escherichia
senyawa organik
organik

23
2.3.2.4 Reproduksi Bakteri
Bakteri mengadakan pembiakan dengan dua cara, yaitu secara
aseksual dan seksual. Pembiakan secara aseksual dilakukan dengan
pembelahan, sedangkan pembiakan seksual dilakukan dengan cara
transformasi, transduksi , dan konjugasi. Namun, proses pembiakan cara
seksual berbeda dengan eukariota lainnya. Sebab, dalam proses pembiakan
tersebut tidak ada penyatuan inti sel sebagaimana biasanya pada eukariot,
yang terjadi hanya berupa pertukaran materi genetika (rekombinasi genetik ).
Berikut ini beberapa cara pembiakan bakteri:
1) Vegetatif / Aseksual
a. Pembelahan Biner

Perbanyakan sel dengan cara ini, kecepatan pembelahan sel


ditentukan dengan waktu generasi. Waktu generasi adalah waktu yang
dibutuhkan oleh sel untuk membelah dimana dalam pembelahannya
bervariasi tergantung dari spesies dan kondisi pertumbuhan. Pembelahan
biner yang terjadi pada bakteri adalah pembelahan biner melintang yaitu
suatu proses reproduksi aseksual, setelah pembentukan dinding sel
melintang, maka satu sel tunggal membelah menjadi dua sel yang disebut
dengan sel anak. Pembelahan Biner dapat dibagi atas tiga fase,yaitu
sebagai berikut.
a. Fase pertama, sitoplasma terbelah oleh sekat yang tumbuh tegak lurus..
b. Fase kedua, tumbuhnya sekat akan diikuti oleh dinding melintang.
c. Fase ketiga, terpisahnya kedua sel anak yang identik. Ada bakteri yang
segera berpisah dan terlepas sama sekali. Sebaliknya, ada pula bakteri
yang tetap bergandengan setelah pembelahan, bakteri demikian
merupakan bentuk koloni. Pada keadaan normal bakteri dapat
mengadakan pembelahan setiap 20 menit sekali. Jika pembelahan
berlangsung satu jam, maka akan dihasilkan delapan anakan sel.

24
2) Reproduksi bakteri secara paraseksual (pemindahan materi genetik)
dengan 3 cara berikut ini:

a. Konjugasi, yaitu pemindahan materi genetik (DNA) dari satu bakteri


ke bakteri lainnya secara langsung melalui jembatan sitoplasma.
b. Transformasi, yaitu pemindahan sedikit DNA dari satu bakteri ke
bakteri lainnya melalui proses fisiologi yang kompleks.
c. Transduksi, yaitu pemindahan DNA dari satu bakteri ke bakteri
lainnya melalui perantara bakteriofage. (Agnes Sri Harti : 2012)

2.3.2.5 Pertumbuhan Bakteri


Fase lag merupakan fase adaptasi yaitu fase penyesuaian
mikroorganisme pada suatu lingkungan baru. Ciri fase lag adalah tidak
adanya peningkatan jumlah sel, hanya peningkatan ukuran sel. Lama fase lag
tergantung pada kondisi dan jumlah awal mikroorganisme dan media
pertumbuhan.
Fase log merupakan fase dimana mikroorganisme tumbuh dan
membelah pada kecepatan maksimum, tergantung pada genetika
mikroorganisme, sifat media, dan kondisi pertumbuhan. Sel baru terbentuk
dengan laju konstan dan masa yang bertambah secara eksponensial, oleh
karena itu fase log disebut juga fase eksponensional.
Fase stasioner adalah pertumbuhan mikroorganisme berhenti dan
terjadi keseimbangan antara sel yang membelah dengan jumlah sel yang mati.
Pada fase ini terjadi akumulasi produk buangan yang toksik. Pada sebagian
besar kasus pergantian sel terjadi pada fase stasioner.
Fase kematian merupakan keadaan dimana jumlah sel yang mati
meningkat, dan faktor penyebabnya adalah ketidakseimbangan nutrisi dan
akumulasi produk buangan yang toksik. ( Dr. Hasdianah H.R : 2012)

25
2.3.2.6 Kelompok-kelompok Utama Bakteri
1) Bakteri fototrofik
Ialah organisme yang berbeda secara morfologi dan semuanya
mengandung pigmen seperti klorofil, yakni bakterioklorofil. Ciri-ciri
terpilihnya :
 Bentuk sel : bulat, batang, vibro, atau spiral.
 Gram negatif
 Perkembangbiakan dengan pembelahan biner
 Bergerak dengan flagel atau nonmotil
 Fotosintetik, proses terjadi dalam keadaan anaerobik, dan tidak
terbentuk oksigen
 Bakterioklorofil, suatu pigmen fotosintentik, terdapat dalam semua sel
 Berpigmen : ungu-lembayung, ungu, merah, coklat-jingga, hijau
 Habitat : lingkungan aquatik

2) Bakteri luncur
Kelompok ini diwakili oleh beberapa tipe morfologi yang tidak
umum. Contoh, Cytophagales.Ciri-ciri terpilih :
 Bentul sel : batang, bola, atau filamen
 Gram negatif
 Motil karena gerak luncur perlahan pada permukaan; tak ada organel
lokomotor
 Sel-sel dapat terbenam dalam lendir
 Beberapa membentuk tubuh buah
 Habitat : tanah, bahan tumbuhan membusuk, lingkungan akuatik

26
3) Bakteri berselongsong
Kelompok ini bercirikan sel-sel berbentuk batang yang dikelilingi
selongsong, sehingga sel-sel individu tampaknya terkemas dalam tabung.
Ciri-ciri terpilih :
 Sel terbungkus dalam selongsong yang terbuat dari deposit senyawa-
senyawa besi dan mangan yang tak larut
 Bentuk sel : batang atau seperti filamen
 Motil karena flagela atau nonmotil
 Beberapa membentuk pelekap (dasar penghisap) yang dipergunakan
untuk menempelkan diri pada permukaan.
 Gram negatif
 Habitat : lingkungan akuatik, lumpur

4) Barteri berapendiks
Bakteri dalam kelompok ini mempunyai beberapa ciri struktur yang
khas. Beberapa membentuk tonjolan berbentuk filamen yang disebut
prosteka dari tubuh selnya.Ciri-ciri yang terpilih :
 Sel dengan prosteka atau pelekap
 Perbanyakan dengan berkuncup dan membelah
 Beberapa spesies motil karena flagela kutub, spesies lain nonmotil
 Bentuk sel : bola, oval, ginjal, batang dengan ujung meruncing;
beberapa menunjukkan pertumbuhan seperti hifa (filamen)
 Habitat : tanah, lingkungan akuatik

27
5) Spiroket
Bakteri ini bercirikan sel-sel langsing, lentur, terpilin-pilin. Berbagai
spesies mempunyai ukuran panjang yang berkisar antara 3-500
mikrometer. Dapat bergerak dengan berbagai cara. Beberapa adalah
saprofit dan yang lain parasit. Contoh, Treponema pallidum.Ciri-ciri yang
terpilih :
 Dinding sel : lentur
 Morfologi sel : langsung, terpilin (spiral); ukuran, bentuk ujung, dan
derajat pilinnya merupakan ciri pembeda
 Perbanyakan dengan pembelahan melintang
 Motil karena rotasi cepat sepanjang sumbu panjang spiralnya ataupun
karena lenturan sel-selnya; gerak obeng
 Banyak spesies gram negatif
 Habitat : tanah dan lingkungan akuatik; setiap jaringan atau organ
vaskular pada tubuh, termasuk daerah genital (alat kelamin) dan
sistem saraf pusat pada manusia dan binatang lain.
 Patogenesitas : beberapa spesies patogenik terhadap manusia dan
binatang lain.

6) Batang spiral dan lengkung


Bakteri ini, terpilin-pilin dan kaku. Beberapa spesies, vibrio
mempunyai bentuk seperti koma. Beberapa hidup bebas dalam
lingkungan akuatik. Yang lainnya saprofit atau parasit. Contoh,
Campylobacter fetus.Ciri-ciri terpilih :
 Dinding sel : kaku
 Bentuk sel : batang berpilin-pilin, beberapa dengan satu atau lebih
putaran lengkap.
 Motil karena flagela

28
 Gram negatif
 Habitat : lingkungan akuatik, organ-organ reproduktif, slauran
pencernaan, dan rongga mulut hewan (termasuk manusia)
 Patogenesitas : beberapa spesies patogenik bagi binatang (termasuk
manusia)

7) Bakteri dan kokus aerobik gram negatif


Dari segi morfologi mempuyai sel bakteri yang khas, yaitu sel-
selnya tampak satu-satu dengan berdimensi sekitar 0,5-1 X 1,5-4,0
mikrometer. Beberapa spesies bersifat patogenik. Contoh, Brucella. Ciri-
ciri terpilih :
 Morfologi sel : batang, lonjong, bola, dimensi khas untuk bakteri yaitu
0,5-1 X 1,5-4,0 mikrometer.
 Motil karena flagela atau nonmotil
 Aerobik
 Gram negatif
 Ciri-ciri metabolik khusus pada berbagai spesies : beberapa dapat
menghambat nitrogen dari udara; beberapa dapat mengoksidasi
senyawa-senyawa berkarbon satu; beberapa dapat menghancurkan
berbagai macam senyawa.
 Habitat : tanah dan lingkungaan akuatik, air asin
 Patogenesitas : beberapa spesies patogenik bagi manusia dan binatang
lain.
8) Batang anaerobik fakultatif gram negatif
Banyak di antara bakteri yang sangat umum termasuk ke dalam
kelompok yang secara fisiologis sangat berlainan ini. Karena banyak
benar diantara spesies di dalam kelompok ini serupa morfologinya, maka
perlu digunakan banyak sekali uji tambahan untuk mengidentifikasi
spesies. Contoh, Eschericia coli.Ciri-ciri terpilih :
 Morfologi sel : batang pendek (0,5-1,0 X 1,0-3,0 mikrometer)
 Motil, sel-selnya peritrikus (yakni flagela secara merata tersebar di
seluruh permukaan sel) atau nonmotil
 Ciri-ciri biokimiawi banyak sekali terjadi perubahan pada substrat
 Anaerobik fakultatif
 Gram negatif
 Habitat : lingkungan akuatik, tanah, makanan, air seni, tinja
 Patogenesitas : banyak spesies patogenik bagi manusia, hewan, dan
tumbuhan

29
9) Batang gram negatif anaerobik
Sel-sel bakteri dalam kelompok ini rupanya muncul dalam banyak
bentuk (pleomorfik), dan termasuk anaerob obligat. Ciri-ciri terpilih :
 Morfologi sel : batang, lurus atau lengkung, memperlihatkan banyak
sekali pleomorfisme
 Motilitas : sel-selnya peritrikus atau monotrikus (satu flagelum);
beberapa spesies nonmotil
 Ciri-ciri biokimiawi : banyak sekali produk dihasilkan dari fermentasi
glukosa
 Anaerob obligat : beberapa spesies sangat peka terhadap oksigen
bebas
 Habitat : rongga-rongga alamiah pada manusia dan hewan, dan juga
saluran pencernaan serangga
 Patogenesitas : beberapa spesies patogenik bagi manusia dan hewan

10) Kokobasilus dan kokus gram negatif


Kelompok ini relatif kecil, reaksi gram dan morfologi sel merupakan
ciri-ciri penting untuk mengidentifikasi bakteri ini. Contoh, Neisseria
gonorrhoaea.Ciri-ciri terpilih :
 Morfologi sel : kokus, berpasangan (diplokokus), beberapa kokobasili
(batang-batang pendek), terdapat tunggal dan berpasangan
 Nonmotil
 Gram negatif
 Aerobik
 Ciri-ciri kimiawi : kemampuan yang terbatas untuk merombak
berbagai senyawa (karbohidrat, protein, dsb)
 Habitat : pada selaput lendir manusia dan hewan
 Patogenesitas : beberapa patogen untuk manusia

30
11) Kokus anaerobik gram negatif
Kelompok bakteri ini memperlihatkan banyak keragaman dalam hal
ukuran. Ciri-ciri terpilih :
 Morfologi sel : sangat kecil (0,3-0,5 mikrometer) sampai sel-sel bulat
yang lebih besar (2,5 mikrometer) dalam massa atau rantai
 Nonmotil
 Anaerobik
 Ciri-ciri biokimiawi : merombak karbohidrat dan asam-asam lemak
 Habitat : saluran pernafasan dan saluran pencernaan bagi hewan dan
manusia

12) Bakteri kemolitotrofik garam negatif


Ciri khusus dalam bakteri ini adalah kemampuannya menghasilkan
energi dari oksidasi zat-zat kimia anorganik, mereka disebut
kemolitotrofik.Ciri-ciri terpilh :
 Autotrofik (energi diperoleh dari oksidasi senyawa-senyawa
anorganik, misalnya amonia dan nitrit, belerang dan senawa belerang
tereduksi, atau besi dan mangan)
 Morfologi sel : bulat, batang, spiral, membran berlapis banyak pada
beberapa spesies.
 Motil karena flagela atau nonmotil
 Gram negatif
 Habitat : tanah, limbah, lingkungan akuatik

31
13) Bakteri penghasil metan (metanogenik)
Ciri pemersatu dalam kelompok ini adalah kemampuannya
menghasilkan metan. Gas ini dibentuk dalam keadaan anaerobik.Ciri-ciri
terpilih :
 Autotrofik atau heterotrofik : energi dihasilkan dari oksidasi hidrogen
atau format atau asetat dengan pembentukan metan dan CO2
 Morfologi sel : bola, batang, dan spiral
 Motil karena flagela kutub atau nonmotil
 Gram positif atau gram negatif
 Anaerobik
 Beberapa spesies termofilik
 Habitat : saluran gastrointestinal pada binatang, endapan pada
lingkungan akuatik, dan limbah

14) Kokus gram positif


Dalam kelompok ini banyak spesies patogenik yang penting bagi
manusia dan hewan. Ciri-ciri terpilih :
 Morfologi sel : kokus terdapat tunggal atau berpasangan, dalam rantai,
paket, atau bergerombol
 Nonmotil
 Gram positif
 Anaerobil fakultatif atau mikroaerofilik
 Heterotrofik : persyaratan nutrien berkisar luas

32
 Habitat : tanah, air tawar; kulit dan selaput lendir pada binatang
berdarah panas, termasuk manusia
 Patogenesitas : beberapa spesies merupakan patogen penting pada
hewan dan manusia

15) Batang dan kokus pembentuk endospora


Ciri pembeda yang menonjol pada bakteri ini adalah kemampuan
membentuk endospora.Ciri-ciri terpilih :
 Morfologi sel : batang, kecuali satu spesies mempunyai sel-sel bulat
dan dalam bentuk paket
 Motil karena flagela atau nonmotil
 Reaksi gram : kebanyakan spesies gram positif
 Aerobik, anaerobik fakultatif, anaerobik, atau mikroaerofilik
 Endospora : dibentuk oleh semua spesies
 Habitat : tanah, air, lingkungan akuatik, saluran pencernaan hewan dan
manusia
 Patogenesitas : beberapa spesies patogenik bagi hewan dan manusia

16) Bakteri batang gram positif tak membentuk spora


Kelompok ini hampir seluruhnya terdiri dari laktobasilus, yaitu
bakteri terbentuk batang dan membentuk spora yang erat hubungannya
dengan susu.Ciri-ciri terpilih :
 Morfologi sel : basilus terdapat tunggal atau dalam rantai
 Nonmotil
 Anaerobik atau anaerobik fakultatif

33
 Ciri-ciri metabolik : asam laktat merupakan produk akhir yang khas
dari fermentasi
 Habitat : produk persusuan, produk dari daging dna butiran (grain),
air, limbah, produk fermentasi, rongga mulut, vagina, saluran
pencernaan makanan hewan dan manusia

17) Aktinomisetes dan organisme yang sekerabat


Ciri pemersatu kelompok ini ialah pleomorfisme sel-selnya dan
kecenderungan membentuk filamen (hifa) bercabang. Contoh,
Mycobacterium tuberculosis.Ciri-ciri terpilih :
 Morfologi sel : sangat beragam dan pleomorfik, bentuk batang tak
beraturan, filamen, dan filamen bercabang, struktur miselium
 Nonmotil
 Gram positif
 Aerobik, anaerobik fakultatif, atau anaerobik
 Habitat : tanah, lingkungan akuatik, air, dan binatang termasuk
manusia
 Patogenesitas : patogen bagi hewan, manusia, dan tumbuhan

18) Ricketsia
Termasuk bakteri yang paling kecil, ukurannya berkisar 0,3-0,7
mikrometer (lebar) dan 1-2 mikrometer (panjang).Ciri-ciri terpilih :
 Morfologi sel : batang pendek, atau lonjong, beberapa membentuk
tubuh kokoid (tubuh elementer) yang berkembang menjadi tubuh lebih
besar dalam daur hidup yang khas
 Gram negatif
 Nonmotil
 Parasit obligat intraseluler (kultivasi laboratoris dalam sistem kultur
jaringan atau hewan)
 Habitat : serangga pembawa, burung, dan mamalia, termasuk manusia

34
 Patogenesitas : patogen penting pada manusia dan hewan

19) Mikoplasma
Ciri khususnya ialah tidak adanya dinding sel sejati dan termasuk
pleomorfik.Ciri-ciri terpilih :
 Morfologi sel : tidak ada dinding sel sejati; kandungan sel terbungkus
oleh membran berlapis tiga yang tak kaku. Beberapa sangat kecil (0,2
mikrometer); sangat pleomorfik
 Biasanya nonmotil
 Gram negatif
 Anaerobik fakultatif
 Habitat : selaput lendir saluran pernafasan dan saluran alat kelamin
 Patogenesitas : parasit dan patogen pada banyak macam mamalia dan
burung, beberapa mungkin patogen terhadap tumbuhan.

2.3.2.7 Taksonomi dan Klasifikasi Bakteri


Taksonomi berasal dari kata “taksis” artinya aturan atau
penjabaran dan kata “nomos” artinya aturan atau hukum. Taksonomi adalah
ilmu mengenai klasifikasi atau penataan sistematis organisme kedalam
kelompok atau kategori yang disebut taksa (tunggal = takson). Klasifikasi
berarti penyusunan organisme kedalam grup taksonomi (taksa) dengan
berdasarkan kemiripan atau hubungannya. Tata nama adalah penamaan
suatu organisme melalui aturan internasional menurut ciri khasnya. Secara
keseluruhan, yakni tentang pengklasifikasian, penamaan dan
pengidentifikasian mikroorganisme, disebut sebagai sistematika mikroba.
Sel organisme terdiri atas dua golongan utama, yaitu sel
prokariotik dan sel eukariotik. Kelompok organisme berdasarkan golongan
prokariotik dan eukariotik dapat dilihat pada tabel 1.1 sebagai berikut :

35
Bakteri dan bakteri hijau diklasifikasikan sebagai tanaman primitif
karena :
a) Mempunyai dinding sel seperti tanaman
b) Beberapa Jenis bakteri dan semua bakteri hijau bersifat fotosintetik.
1. Klasifikasi Bakteri
Bakteri umumnya berbentuk 1-sel atau sel tunggal atau uniseluler, tidak
mempunyai klorofil berkembangbiak dengan pembelahan sel atau biner.
Karena tidak mempunyai klorofil, bakteri hidup sebagai jasad yang saprofitik
ataupun sebagai jasad yang parasitik. Tempat hidupnya tersebar di mana-
mana, yaitu di udara, di dalam tanah, didalam air, pada bahan-bahan, pada
tanaman ataupun pada tubuh manusia atau hewan.
Klasifikasi bakteri dapat didasarkan pada beberapa jenis penggolongan,
misalnya :
Klasifikasi Bakteri Patogen
Bergey’s Manual ed. 8 terakhir membagi Prokariota dalam 4 divisi utama,
berdasarkan ciri khas dinding selnya yaitu :
I. Gracilicutes : Bakteri Gram Negatif
II. Firmicutes : Bakteri Gram Positif
III. Tenericutes : Bakteri tanpa dinding sel
IV. Archaebacteria
I, II dan III termasuk kedalam Eubacteria
Klasifikasi Berdasarkan Genetika
Perkembangan-perkembangan dalam biologi molekuler memungkinkan
diperolehnya informasi mengenai kekerabatan organisme-organisme pada
tingkat genetic berdasarkan :
I. Komposisi basa DNA
II. Homologi sekuens DNA dan RNA Ribosoma
III. Pola-pola metabolism stabil yang dikontrol oleh gen
IV. Polimer-polimer pada sel
V. Struktur organel dan pola regulasinya
Berdasarkan Ekspresi Fenotipe :
VI. Morfologi Sel
VII. Morfologi Koloni
VIII. Sifat terhadap pewarnaan
IX. Reaksi pertumbuhan
X. Sifat pertumbuhan
Klasifikasi Berdasarkan Bentuk Sel :
I. Bentuk bulat (coccus)
II. Bentuk batang
III. Bentuk spiral
IV. Bentuk vibrio
Klasifikasi Terhadap Sifat Pewarnaan :
I. Pewarnaan sederhana
II. Pewarnaan diferensial
III. Pewarnaan khusus

36
Klasifikasi berdasarkan Sifat Pertumbuhan :
I. Aerob
II. Anaerob
III. Mikroaerofilik
Klasifikasi berdasarkan metabolisme :
I. Bakteri Autotrophic
II. Bakteri Heterotrophic
2. Nomenklatur Bakteri
Seperti halnya tanaman, bakteri juga menggunakan 2 nama yaitu nama
binomial (binomial name), yang diajukan oleh Linnaeus pada tahun 1753
untuk penamaan tanaman. Kaidah penulisan nama bakteri pada tingkat
spesies ditulis dengan cara nama genus mendahului nama spesiesnya. Huruf
awal nama Genus ditulis dengan huruf besar dan nama spesies ditulis dengan
huruf kecil. Keseluruhan nama ditulis dengan dicetak miring.
Contohnya : Staphylococcus aureus.
Penamaan bakteri pada jenjang taksonominya dapat terlihat pada tabel 1.2
dibawah ini.
Tabel Jenjang Taksonomi
Jenjang Resmi Contoh

Dunia/Kingdom Prokaryotae

Divisi Gracilicutes

Klas Scotobacteria

Ordo Eubacteriales

Famili Entobacteriaceae

Genus Escherichia

Spesies Eschericia coli

Bakteri yang termasuk kedalam spesies tertentu akan memiliki sifat-sifat


struktural, biokimiawi, sifat fisiologis, ekologi, komposisi basa DNA,
homologi dan sifat-sifat genetic yang sama.
3. Sel Prokariotik dan Sel Eukariotik
Sel organisme terdiri atas dua golongan utama, yaitu sel prokariotik dan
sel eukariotik. Kedua tipe sel secara kimiawi adalah serupa, yakni sama-sama
memiliki asam nukleat, protein, lipid, dan karbohidrat. Kedua tipe sel tersebut
juga menggunakan reaksi kimia yang sama untuk memetabolisme makanan,
membentuk protein, dan menyimpan energi.

37
Perbedaan sel prokariotik dari sel eukariotik adalah struktur dinding sel,
membran sel, serta tidak adanya organel, yaitu struktur seluler yang
terspesialisasi yang memiliki fungsi-fungsi spesifik.
a. Sel Prokariotik
Sel prokariotik secara struktural lebih sederhana dan hanya ditemukan
pada organisme bersel satu dan berkoloni, yaitu bakteri dan archaea. Dapat
dikatakan sel prokariotik sebagai suatu molekul yang dikelilingi oleh
membran dan dinding sel karena tidak mempunyai organel sel, tetapi
mempunyai sistem membran dalam dinding selnya. Sel prokaryotik
merupakan sel tanpa membran inti. Sel ini mempunyai materi genetik berupa
DNA yang tidak terbungkus oleh membran, tetapi hanya merupakan massa
yang kekentalannya lebih tinggi dibandingkan dengan kekentalan sitoplasma
di sekitarnya sehingga disebut sebagai nukleoid
Suatu sel prokariotik terdiri atas DNA, sitoplasma, dan suatu struktur
permukaan termasuk membran plasma dan komponen dinding sel, kapsul,
dan lapisan lendir (slime layer). Ciri-ciri sel prokariotik adalah:
 Terdapat dinding sel yang bahan dasarnya peptidoglikan (kombinasi antara
protein dan karbohidrat), selain itu juga dijumpai adanya lemak. Sifat dari
dinding sel ini rigid (kaku) yang berada di luar membran sel, fungsinya
selain melindungi isi sel juga memberikan bentuk pada sel bakteri
 Membran sel, berada di bagian dalam dari dinding sel tetapi di luar dari
sitoplasma, fungsinya memisahkan bagian dalam dan bagian luar dari sel.
 DNA bentuknya sirkuler, superkoil, terdapat di dalam sitoplasma tanpa
adanya membran yang membungkus
 Tidak dijumpai adanya nukleus, tetapi nukleoid
 Tidak dijumpai retikulum endoplasma baik kasar maupun halus, tetapi
dijumpai ribosom yang merupakan partikel kecil yang tersusun dari
protein dan RNA. Sel bakteri adalah uniseluler tetapi mempunyai banyak
ribosom sampai 10.000 kopi ribosom. Fungsi ribosom sebagai tempat
sintesis protein (translasi)
 Tidak dijumpai Mitokondria maupun badan golgi
 Memiliki pilli/fimbriae yang tersusun dari protein pillin, fungsinya untuk
melekat pada sel host, sebagai awal terjadinya infeksi.
 Memiliki flagella, tersusun dari protein flagellin, fungsinya untuk
bergerak.

38
Gambar 2.5.1.Struktur Ultra Sel Bakteri
b. Sel Eukariotik
Sel eukariotik mengandung organel seperti nukleus, mitokondria,
kloroplas, retikulum endoplasma (RE), badan golgi, lisosom, vakuola,
peroksisom, dan lain-lain. Organel dan komponen lain berada pada sitosol,
yang bersama dengan nukleus disebut protoplasma. Macam-macam organella
tersebut rata-rata diameternya adalah 5µm. Ciri-ciri sel eukariotik adalah:
1) Sitoplasma sel eukariotik tidak tampak berbutir-butir (bergranular),
karena ribosom terikat pada retikulum endoplasma;
2) Memiliki sejumlah organel yang dikelilingi oleh membran, termasuk
mitokondria, retikulum endoplasma, badan golgi, lisosom, dan
kadang terdapat pula kloroplas;
3) DNA eukariotik terikat oleh protein kromosomal (histon dan non
histon). Struktur kromosom bersama protein kromosomal disebut
kromosom. Seluruh DNA Kromosom tersimpan dalam inti sel; dan
4) Sel eukariotik bergerak dengan menggunakan silia atau flagela yang
secara struktural lebih komplek dibandingkan silia atau flagela pada
sel prokariotik.

39
Gambar 2.5.2. Struktur Ultra Sel Eukaryot Beserta Macam-macam
Organellanya

40
Gambar 2.5.3. Macam-macam Organella Yang Dimiliki Sel Hewan

Secara rinci perbedaan sel prokariotik dan sel eukariotik dapat dilihat
pada tabel 1.3 berikut ini.

41
Ciri Sel Prokariotik Sel Eukariotik

Ukuran 1-10 µm 10-100 µm (sel sperma


terpisah dari ekornya,
berukuran lebih kecil)

Tipe inti Daerah nukleosit tanpa inti sejati Inti sejati dengan membran ganda

DNA Umumnya sirkuler Linear dengan protein histon

Sintesis Berlangsung di sitolasma Sintesis RNA di dalam inti dan


RNA/protein sintesis protein berlangsung di
sitoplasma

Ribosom 50 S dan 30 S 60 S dan 40 S

Struktur Sederhana Terstruktur dengan adanya


sitoplasma membran intraseluler dan
sitoskeleton

Ciri Sel Prokariotik Sel Eukariotik

Pergerakan sel Flagela yang tersusun atas Flagela dan silia yang tersusun atas
protein flagelin protein tubulin

Mitokondria Tidak ada Satu sampai beberapa lusin


(beberapa tidak memiliki
mitokondria)

Koroplas Tidak ada Pada alga dan tanaman

Organisasi Umumnya satu sel Sel tunggal, koloni, organisme


tingkat tinggi dengan sel
terspesialisasi

Pembelahan Pembelahan biner Mitosis dan sitokenesis


sel

Jenis Bakteri dan archae Protista, fungi, tanaman, hewan.


organisme

(Megananda Hiaranya Putri dkk : 2017)

42
2.3.3 Fungi
Fungi atau cendawan adalah organisme heterotrofilik (memerlukan
senyawa organik untuk nutrisinya). Bila mereka hidup dari benda organik mati
yang terlarut, mereka disebut saprofit.

2.3.3.1 Morfologi
Khamir sangat beragam ukurannya berkisar antara 1-5 mikrometer
lebarnya dan panjangnya dari 5-30 mikrometer atau lebih. Biasanya
berbentuk telur, tetapi beberapa ada yang memanjang atau berbentuk bola.
Khamir tidak dilengkapi flagelum atau organ-organ penggerak lainnya. Tubu
suatu kapang pada dasarnya terdiri dari dua bagian miselium dan spora (sel
resisten, istirahat atau dorman). Miselium merupakan kumpulan beberapa
filamen yang dinamakan hifa. disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma
bersama. Ada tiga macam morfologi hifa :
1. Aseptat atau senosit. Hifa seperti ini tidak mempunyai dinding sekat
atau septum
2. Septat dengan sel-sel uninukleat.
3. Septat dengan sel-sel multinukleat.

2.3.3.2 Reproduksi
Secara alamiah cendawan berkembang biak dengan berbagai cara,
baik secara aseksual dengan pembelahan, penguncupan, atau pembentukan
spora, dapat pula secara seksual dengan peleburan nukleus dari dua sel
induknya. Pada pembelahan, suatu sel membagi diri untuk membentuk dua
sel yang serupa. Pada penguncupan, suatu sel anak tumbuh dari penonjolan
kecil pada sel inangnya. Ada banyak macam spora aseksual :
1. Konidispora atau konidium.
2. Sporangiospora
3. Oidium atau artrospora
4. Klamidospora
5. Blatospora

43
Spora seksual yang dihasilkan dari peleburan dua nukleus terbentuk
dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan spora aseksual. Ada
beberapa tipe spora seksual :
1. Askosprora
2. Basidiospora

3. Zigospora

44
4. Oospora

2.3.3.3 Fisiologi
Khamir itu bersifat fakultatif, artinya mereka dapat hidup baik dalam
keadaan aerobik maupun keadaan anaerobik. Cendawan dapat hidup dalam
kisaran suhu yang luas, dengan suhu optimal dari 22-30°C.

2.3.3.4 Klasifikasi
Berdasarkan pada cara dan ciri reproduksinya terdapat empat kelas
cendawan :
1. Kelas phycomycetes
Cirinya-cirinya tidak adanyak sektum didalam hifa, yang
membedakannya dengan tiga kelas yang lainnya. Phycomycetes
mempunyai talus miselium yang berkembang dengan baik.

45
2. Kelas ascomycetes
Anggota ini dicirikan oleh pembentukan askus yang merupakan
tempat dihasilkannya askospora. Banyak khamir tergolong kelas
ascomycetes karena membentuk askospora.
3. Kelas basidiomycetes
Basidiomycetes dicirikan adanya basidiospora yang terbentuk diluar
pada ujung atau sisi basidium.
4. Kelas deuteromycetes
Kelas ini meliputi cendawan yang tingkat reproduksi perfek atau
seksualnya belum ditemukan. Namun demikian, untuk mempermudahkan
dan karena tingkat konidiumnya begitu jelas dan tidak asing, banyak
spesies masih di anggap tergolong dalam kelas ini. Meskipun tingkat
seksualnya sekarang telah diketahui dengan baik.

46
2.3.4 Algae

2.3.4.1 Morfologi
Banyak spesies ganggang terdapat sebagai sel tunggal yang dapat
berbentuk bola, batang, gada, atau kumparan. Algae, sebagaimana protista
eukarotik yang lain, mengandung nukleus yang dibatasi membran. Setiap sel
mengandung satu atau lebih kloroplas, yag dapat berbentuk pita atau seperti
cakram-cakram diskrit. Didalam matriks kloroplas terdapat gelembung-
gelembung pipih bermembran yang dinamakan tilakoid. Mebran tilakoid
berisikan klofil dan pigmen-pigmen pelengkap yang merupakan situs reaksi
cahaya pada fotosintesis.

2.3.4.2 Reproduksi
Algae berkembang biak secara seksual atau aseksual. Reproduksi
aseksual mencakup pembelahan biner sederhana seperti yang di jumpai pada
bakteri. Kebanyakan reproduksi aseksual lebih rumit dan melibatkan produksi
spora-spora uniseluler. Diantaranya adalah akinet yang pada dasarnya adalah
sel-sel vegetatif yang mempunyai dinding yang menebal dan dengan
demikian lebih dapat bertahan dalam keadaan kering dan kondisi-kondisi lain
yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan sel vegetatif.
Semua bentuk reproduksi seksual dijumpai diantaranya algae. Dalam
proses ini terdapat konjugasi gamet sehingga menghasilkan zigot. Pada
bentuk-bentuk algae tingkat tinggi, sel-sel seksual menjadi lebi mudah
dicirikan antara betina dan jantan. Ovum berukuran besar dan nonmotil,
sedangkat gamet jantan itu kecil dan motil dengan aktif.

47
2.3.4.3 Fisiologi
Algae adalah organisme aerobik fotosintetik. Gangga mempunyai
tiga macam pigmen fotosintetik yaitu, klorofil, karotenoit, dan fikolibin.
Sebagai hasil kegiatan hasil fotosintetiknya, algae menyimpan berbagai
produk makanan cadangan sebagai granul atau globul dalam sel-selnya.

2.3.4.4 Klasifikasi
Algae diklasifikasikan berdasarkan ciri-ciri berikut :
1. Pigmen : susunan kimianya
2. Produk makanan cadangan : kimianya
3. Flagela (jika ada) : jumlah dan morfologinya
4. Dinding sel : kimia dan sifat-sifat fisikanya
5. Organisasi sel
6. Sejarah hidup dan reproduksi

48
2.3.5 Protozoa

2.3.5.1 Morfologi
Ukuran dan bentuk protozoa sangat beragam. Beberapa berbentuk
lonjong atau membola, ada yang memanjang, adapula yang polimorfik
(mempunyai berbagai bentuk morfologi pada tingkat-tingkat yang berbeda
didalam daur hidupnya). Beberapa protozoa berdiameter sekecil satu mikro
meter seperti amoeba proteus. Beberapa ciliata yang umum mempunyai
ukuran 2mm.
Sel protozoa yang khas terbungkus oleh membran sitoplasma. Setiap
sel protozoa paling tidak mempunyai satu nukleus.

2.3.5.2 Reproduksi
Protozoa berkembang biak melalui berbagai proses aseksual dan
seksual. Reproduksi aseksual berlangsung dengan pembelahan sel atau
pembagian sel. Anak-anak sel dapat berukuran sama atau tidak sama. Jika ada
2 sel anak, maka proses pembagiannya adalah pembelahan biner. Jika
terbentuk banyak anak sel maka berlangsung pembelahan bahu rangkap.
Pembelahan dapat terjadi secara melintang atau secara membujur sepanjang
selnya.
Reproduksi seksual terjadi pada berbagai kelompok protozoa.
Konjugasi, yang merupakan penyatuan fisik sementara antara dua individu

49
yang dibarengi dengan pertukaran bahan nukleus, hanya dujimpai pada
ciliata.

2.3.5.3 Fisiologi
Stadium vegetatif protozoa yang hidup bebas terdapat dalam semua
lingkungan akuatik, pasir, tanah, dana bahan organik yang membusuk.
Kebanyakan protozoa mempunyai temperatur optimum untuk tumbuh antara
16-25°C, dengan maksimumnya 36-40°C. Sebagian besar protozoa
mempunyai pH optimum untuk kegiatan metabolisme yang maksimum
berkisar antara 6,0-8,0. (Michael J, dkk : 2013)

2.3.5.4 Klasifikasi
Filum protozoa dapat dibagi menjadi empat kelas utama yang di dasarkan
pada bentuk gerak alihnya:
1. Flagelata
Semua protozoa yang bergerak dengan menggunakan cambuk
digolongkan filum flagellata dan merupakan Protozoa yang paling primitif,
misalnya Trypanosoma.
Trypanosoma memiliki bentuk tubuh pipih dan seperti daun, merupakan
parasit dalam darah vertebrata, tidak membentuk kista. Jenisnya antara lain :
 Trypanosoma lewisi. Hidup pada inang tikus hospes perantaranya melalui
kutu tikus.
 Trypanosoma elevansi. Menyebabkan penyakit sura pada ternak hospes
perantaranya lalat tse-tse.
 Trypanosoma cruzi. Penyebab penyakit anemia pada anak kecil.
 Trypanosoma gambiense. Menyebabkan penyakit tidur pada manusia.

2. Sarcodina atau Rhizopoda ( rhizoid = akar, pados = kaki )


Semua protozoa yang bergerak dengan menggunakan pseudopoda (kaki
semu) digolongkan kedalam filum rhizopoda, misalnya amoeba.
Amoeba ada yang hidup bebas adan ada pula yang hidup parasit. Amoeba
yang hidup bebas misalnya Amoeba proteus terdapat di tanah becek atau
ditempat berair yang mengandung bahan organik. Amoeba yang hidup parasit

50
di ronggo mulut manusia adalah Entamoeba ginggivalis dan yang hidup di
usus manusia adalah Entamoeba histolytica.
Amoeba tidak memilik struktur tubuh yang tetap, bentuk selnya dapat
berubah-ubah. Pada bagian luar tubuh terdapat membran plasma yang
menyelubungi tubuhnya. Membran plasma ini berfungsi sebagai pelindung isi
sel, mengatur pertukaran zat contohnya zat makanan, ekskresi, pertukaran
gas. Pada bagian dalam terdapat sitoplasma yang dibedakan menjadi
ektoplasma dan endoplasma. Di tengah sel terdapat pula inti atau nukleus.
Berikut contoh Amoeba yang bersifat parasit:
 Entamoeba ginggivalis. Hidup pada gusi yang kotor. Diduga protozoa ini
salah satu penyebab radang gusi.
 Entamoeba histolytica. Amoeba ini hidup pada usus manusia yang masuk
kedalam melalui makanan misal dihinggapi lalat, tidak ditutup atau kurang
higienis. Akibatnya dapat menyebabkan diare yang biasanya diderita
penduduk yang hidup di lingkungan kurang sehat.

4
3. Ciliata atau Ciliophora ( cilia = rambut getar )
Semua protozoa yang bergerak dengan menggunakan bulu getar yang
tumbuh di permukaan membran selnya. Ciliatamemiliki bentuk tubuh yang
tetap umumnya berbentuk oval. Hidupnya pada tempat-tempat berair misal
sawah, rawa, tanah becek yang banyak mengandung bahan organik dan ada
juga yang bersifat parsit, misalnya paramecium.
Paramecium caudatum disebut juga hewan sandal karena bentuknya
sama seperti telapak kaki. Pada permukaan sel yang melekuk ada mulut sel
atau sitosom (cyto=sel, stoma= mulut). Pada luarnya ada pelikel yang
menyelubungi sel. Di dalam membran sel terdapat sitoplasma dan inti.
Organisme ini mempunyai dua inti yakni makronukleus dan mikronukleus.
Ada juga vakuola makanan dan juga vakuola berdenyut.

51
4. Sporozoa ( spora = alat reproduksi yang dapat tumbuh menjadi
individu baru )
Semua anggota filum Sporozoa bersifat parasit dan tidak memiliki alat
gerak khusus, juga berkembang biak dengan spora yang menyerupai protista
menyerupai jamur. Respirasi dan ekskresi terjadi secara difusi ,misalnya
plasmodium. Berikut ini ialah contoh-contoh dari Plasmodium:
 Plasmodium falsivarum penyebab penyakit malaria tropikana.
 Plasmodium malariae penyebab penyakit malaria kuartana.
 Plasmodium ovale penyebab penyakit limpa.
 Plasmodium vivax penyebab penyakit malaria tertiana. (Koes Irianto :
2010)

2.3.6 Penggolongan Mikroba


Berdasarkan tingkat perkembangan dibagi menjadi 2, yaitu :

52
1. Prokariotik
2. Eukariotik
Ciri pembeda sel-sel prokariotik dan eukariotik

Ciri Sel prokariotik Sel eukariotik (algae,


(bakteri, cendawan, protozoa,
sianobakteri) tumbuhan, hewan)
Dinding sel (bila ada)
Komponen kimiawi + -
peptidoglikan (murein atau
mukopeptidae)
Daerah sitoplasma
Mesosom + -
Mitokondria - +
Kloroplas - ±
Struktur golgi - +
Retikulum endoplasma - +
Vakuola terbatasi membran - +
Bahan nukleus
Terbatasi membran - +
Reproduksi seksual Jarang +

Berdasarkan perbedaan organisasi selnya dibagi menjadi 3, yaitu :


1) Tumbuhan (divisi plantae)
2) Hewan (divisi animalia)
3) Protista (mempunyai ciri keduanya). (Michael J, dkk : 2013)

2.3.7 Kebiasaan Hidup Mikroba


Mikroba pada umumnya hidup di air dan tanah. Dalam jumlah yang
lebih besar, mikroba tergantung pada tempat hidupnya, beberapa bentuk
hubungan kehidupan adalah sebagai berikut :
1. Simbiosis
Simbiosis adalah hidup bersama antara dua makhluk yang saling
menguntungkan untuk kedua belah pihak. Pada manusia biasanya mikroba
tersebut tidak menimbulkan gangguan, akan tetapi dapat memberikan beberapa
keuntungan pada tuan rumah. Misalnya, hubungan antara ikan-ikan yang hidup
dilaut dimana pada tubuhnya melekat mikroba yang dapat berfungsi sebagai
alat penerang. Demikian pula, vitamin K yang dihasilkan berkat adanya bakteri
Coli di dalam usus.

2. Komensalisme

53
Komensalisme, makhluk hidup yang hidup pada makhluk hidup yang
lain, tapi tidak merusak makhluk hidup yang ditumpanginya. Beberapa bakteri
tertentu hidup pada permukaan tubuh bagian dalam dan luar. Biasanya memang
tidak menimbulkan sakit pada tuan rumah, tapi ada pula diantaranya, seperti
bakteri Coli bila hidup di organ lain dapat menimbulkan sakit.
3. Parasitisme
Disebut juga dengan kata patogenik, atau yang dapat menimbulkan
sakit pada tuan rumah. Mikroba tersebut akan tumbuh dan berkembang pada
sel dan jaringan yang mengakibatkan kerusakan pada sel dan jaringan tersebut,
sehingga dapat menimbulkan gejala-gejala dari penyakit-penyakit infeksi. (Dr.
Hasdianah H.R. :2012)

2.4 Pengaruh Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme


Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran atau substansi atau
massa zat suatu organisme, misalnya untuk makhluk makro dikatakan tumbuh
ketika bertambah tinggi, bertambah besar. Pada organisme bersel satu
pertumbuhan lebih diartikan sebagai pertumbuhan koloni, yaitu pertambahan
jumlah koloni, ukuran koloni yang semakin besar atau substansi atau massa
mikroba dalam koloni tersebut semakin banyak. Pertumbuhan pada mikroba
diartikan sebagai pertambahan jumlah sel mikroba itu sendiri.
Ciri khas reproduksi bakteri adalah pembelahan biner, dimana dari satu sel
bakteri dapat dihasilkan dua sel anakan yang sama besar, maka populasi bakteri
bertambah secara geometrik. Interval waktu yang dibutuhkan bagi sel untuk
membelah diri atau untuk populasi menjadi dua kali lipat dikenal sebagai waktu
generasi. Mayoritas bakteri memiliki waktu generasi berkisar satu sampai tiga
jam, Eshericia coli memiliki waktu generasi yang cukup singkat berkisar 15-20
menit, sedangkan bakteri Mycobacterium tuberculosis memiliki waktu generasi
sekitar 20 jam. Waktu generasi ini sangat bergantung pada cukup tidaknya nutrisi
di dalam media pertumbuhan, serta kondisi fisik pertumbuhan mikroorganisme.
(Dr. Padoli, SKp., M.Kes. :2016)
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme dibedakan
menjadi dua faktor, yaitu faktor fisik dan faktor kimia, termasuk nutrisi dalam
media kultur. Faktor fisik meliputi temperature, pH, tekanan osmotik, dan cahaya,
sedangkan faktor kimia meliputi nutrisi dan media pembiakan.
1) Temperature
Temperature menentukan aktifitas enzim yang terlibat dalam aktifitas kimia.
Peningkatan suhu 10C mampu meningkatkan aktifitas sebesar dua kali lipat.
Pada temperature yang sangat tinggi akan terjadi denaturasi protein yang tidak
dapat kembali (irreversible), sebaliknya pada temperature yang sangat rendah
aktifitas enzim akan berhenti.
Bakteri dapat tumbuh pada berbagai suhu dari mendekati pembekuan sampai
mendekati ke titik didih air. Bakteri yang tumbuh paling baik di tengah kisaran ini
disebut sebagai mesophil, yang mencakup semua patogen manusia dan oportunis.

54
Ada tiga jenis bakteri berdasarkan tingkat toleransinya terhadap suhu lingkungan,
yaitu : 1. Psikrofil, yaitu mikroorganisme yang suka hidup pada suhu dingin,
dapat tumbuh paling baik pada suhu optimum di bawah 20C; 2. Mesofil, yaitu
mikroorganisme yang dapat hidup secara maksimal pada suhu sedang,
mempunyai suhu optimum di antara 20-50C; 3. Termofil, yaitu mikroorganisme
yang tumbuh optimal atau suka pada suhu tinggi, mikroorganisme ini sering
tumbuh pada suhu di atas 40C. Bakteri jenis ini dapat hidup di tempat-tempat
panas bahkan di sumber-sumber mata air panas.
2) pH
Peningkatan dan penurunan konsentrasi ion hidrogen dapat menyebabkan
ionisasi gugus dalam protein, amino, dan karboksilat, yang dapat menyebabkan
denaturasi protein yang mengganggu pertumbuhan sel. Mikroorganisme asidofil,
tumbuh pada kisaran pH optimal 1-5,3, mikroorganisme neutrofil, tumbuh pada
kisaran pH optimal 5,5-8, mikroorganisme alkalofil, tumbuh pada kisaran pH
optimal 8,5-11,5, sedangkan mikroorganisme alkalofil ekstrem tumbuh pada
kisaran pH optimal 10.
3) Tekanan osmotik
Osmosis merupakan perpindahan air melewati membran semipermeabel karena
ketidakseimbangan material terlarut dalam media. Dalam larutan hipotonik, air
akan masuk ke sel mikroorganisme, sedangkan dalam larutan hipertonik, air akan
keluar dari dalam sel mikroorganisme, berakibat membran plasma mengkerut dan
lepas dari dinding sel (plasmosis), sel secara metabolik tidak aktif.
Mikroorganisme yang mampu tumbuh pada lingkungan hipertnonik dengan kadar
natrium tinggi dikenal dengan halofil, contohnya bakteri dalam laut.
Mikroorganisme yang mampu tumbuh pada konsentrasi garam yang sangat tinggi
(33% NaCl) disebut halofil ekstrem, misalnya Halobacterium halobium.
4) Oksigen
Berdasarkan kebutuhan oksigen, dikenal dengan mikroorganisme aerob dan
anaerob. Mikroorganisme aerob memerlukan oksigen untuk bernafas, sedangkan
mirkoorganisme anaerob tidak memerlukan oksigen untuk bernafas, justru
adanya oksigen akan menghambat pertumbuhannya. Mikroorganisme anaerob
fakultatif, menggunakan oksigen sebagai pernafasan dan fermentasi sebagai
alternatif tetapi dengan laju pertumbuhan rendah. Mikroorganisme mikroaerofilik
dapat tumbuh baik dengan oksigen kurang dari 20%
5) Radiasi
Sumber radiasi dibumi adalah sinar matahari yang mencakup cahaya tampak,
radiasi ultraviolet, sinar inframerah, dan gelombang radio. Radiasi yang
berbahaya bagi mikroorganisme adalah radiasi pengionisasi, yaitu radiasi dari
gelombang panjang yang sangat pendek dan berneregi yang menyebabkan atom
kehilangan elektron (ionisasi). Pada level rendah radiasi pengionisasi dapat
mengakibatkan mutasi yang mengarah ke kematian, sedangkan pada radiasi tinggi
bersifat lethal.

55
6) Nutrisi
Nutrisi merupakan substansi yang diperlukan untuk biosintesis dan
pembentukan energi. Ada dua jenis nutrisi mikroorganisme, yaitu makroelemen
dan mikroelemen. Makroelemen adalah elemen-elemen nutrisi yang diperlukan
dalam jumlah yang banyak (gram). Makroelemen meliputi karbon(C), oksigen
(O), hidrogen (H), nitrogen (N), sulfur (S), pospor (P), kalium (K), magnesium
(Mg), kalsium (Ca), dan besi (Fe). Karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan
pospor diperlukan untuk pembentukan karbohidrat, lemak, protein, dan asam
nukleat. Kalium diperlukan oleh sejumlah enzim untuk mensintesis protein, dan
kalsium berperan dalam resistensi endospora bakteri terhadap panas.
Mikroelemen yaitu elemen-elemen nutrisi yang diperlukan dalam jumlah sedikit
(dalam takaran mg hingga ppm), meliputi mangan (Mn), zinc (Zn), kobalt (Co),
nikel (Ni), dan tembaga (Cu). Mikroelemen kadang merupakan bagiam enzim
atau kofaktor yang membantu katalis dan membentuk protein.
7) Media kultur
Bahan nutrisi yang digunakan untuk pertumbuhan mikroorganisme di
laboratorium disebut media kultur. Berdasarkan konsistensinya, media kultur
dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu media cair (liquid media), media padat
(solid media), dan semisolid.
Media padat merupakan media yang mengandung banyak agar atau zat
pemadat kurang lebih 15% agar sehingga media menjadi padat. Media ini
dibedakan menjadi 3 menurut bentuk dan wadahnya yaiu media tegak, media
miring, media lempeng. Jumlah tepung agar-agar yang ditambahkan tergantung
kepada jenis atau kelompok mikroba yang dipelihara. Ada yang memerlukan
kadar air tinggi sehingga jumlah tepung agar-agar rendah tetapi adapula yang
memerlukan kandungan air rendah sehingga penambahan tepung agar-agar harus
sedikit. Media padat umumnya digunakan untuk bakteri, ragi, jamur,dan kadang-
kadang juga mikroalga.

Media cair merupakan media yang tidak tidak ditambahi bahan


pemadat,umumnya digunakan untuk pertumbuhan mikroalga. Kalau ke dalam
media tdak ditambahkan zat pemadat, umumnya dipergunakan untuk pembiakkan
mikroalga tetapi juga mikroba lain terutamam bakteri dan ragi.

Media semi padat merupakan merupakan media yang mengandung agar


kurang dari yang seharusnya kurang lebih 0,3%-0,4% sehingga media menjadi
kenyal, tidak padat dan tidak begitu cair. Umumnya digunakan untuk
pertumbuhan mikroba yang banyak memrlukan air dan hidup anaerobic dan untuk
melihat pergerakan mikroba

56
Menurut kandungan nutrisinya, media kultur dibedakan menjadi beberapa
macam yaitu :
 Defined media (synthetic media), merupakan media yang komponen
penyusunnya sudah diketahui atau ditentukan.
 Media komplek, merupakan media yang tersusun dari komponen secara kimia
tidak diketahui dan umumnya diperlukan karena kebutuhan nutrisi
mikroorganisme tertentu tidak diketahui.
 Media penyubur (enrichment media). Media penyubur merupakan media yang
berguna untuk mempercepat pertumbuhan mikroorganisme tertentu, bila ingin
menumbuhkan salah satu mikroorganisme dari kultur campuran.
 Media selektif, merupakan media yang mendukung pertumbuhan
mikroorganisme tertentu (seleksi) dengan menghambat pertumbuhan
mikroorganisme yang lain.
 Media differensial, digunakan untuk membedakan kelompok mikroorganisme
dan dapat digunakan untuk identifikasi, contohnya media agar tanah.
Pada fase pertumbuhan mikroorganisme terdapat empat fase pertumbuhan
yaitu fase lag, fase log, fase stasioner, dan fase kematian.
Fase lag merupakan fase adaptasi yaitu fase penyesuaian mikroorganisme pada
suatu lingkungan baru. Ciri fase lag adalah tidak adanya peningkatan jumlah sel,
hanya peningkatan ukuran sel. Lama fase lag tergantung pada kondisi dan jumlah
awal mikroorganisme dan media pertumbuhan.
Fase log merupakan fase dimana mikroorganisme tumbuh dan membelah pada
kecepatan maksimum, tergantung pada genetika mikroorganisme, sifat media, dan
kondisi pertumbuhan. Sel baru terbentuk dengan laju konstan dan masa yang
bertambah secara eksponensial, oleh karena itu fase log disebut juga fase
eksponensional.
Fase stasioner adalah pertumbuhan mikroorganisme berhenti dan terjadi
keseimbangan antara sel yang membelah dengan jumlah sel yang mati. Pada fase
ini terjadi akumulasi produk buangan yang toksik. Pada sebagian besar kasus
pergantian sel terjadi pada fase stasioner.
Fase kematian merupakan keadaan dimana jumlah sel yang mati meningkat,
dan faktor penyebabnya adalah ketidakseimbangan nutrisi dan akumulasi produk
buangan yang toksik. (Dr. Hasdianah H.R : 2012)

57
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan,
antara lain :
Mikrobiologi Lingkungan merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari
peranan mikroba yang ada di lingkungan alam (nature) maupun buatan
(artificial).
. Mikroorganisme memiliki banyak peranan dalam kehidupan, baik peranan
yang menguntungkan maupun peranan yang merugikan. Salah satu peranannya
yang merugikan adalah karena beberapa jenis mikroorganisme dapat
menyebabkan penyakit dan menimbulkan pencemaran. Sedangkan peranan yang
menguntungkan adalah peranannya dalam meningkatkan kesuburan tanah melalui
fiksasi nitrogen, bioremediasi, produksi antibodi, dan lain-lain
Jika setiap mikroorganisme mampu untuk beradaptasi dengan baik terhadap
perubahan lingkungan (tanah) maka populasinya bisa lestari atau tetap bertahan
hidup. Jika kalau tidak maka populasinya diganti dengan mikroba lainnya.
Perubahan lingkungan itu bisa saja perubahan fisik maupun kimiawi..

3.2 Saran
Saran yang dapat kami berikan antara lain :
1. Perlu perhatian yang lebih lagi untuk pengembangan ilmu mikrobiologi,
mengingat begitu sentral dan pentingnya peranan mikroorganisme di
dalam kehidupan.
2. Perlunya penelitian-penelitian lebih lanjut tentang kehidupan
mikroorganisme

58
DAFTAR PUSTAKA

Pelczar. Michael. J. Jr., Chan. E. C. S. (Diterjemahkan oleh Ratna Siri


Hadiostomo, Taja Imas, S. Sutami Tjitrosomo, Sri Lestari Angka. 2013. Dasa-
dasar Mikrobiologi. UI : penerbit Universitas Indonesia.

Hasdianah. 2012. Mikrobiologi. Yogyakarta : Nuha Medika.

Pratiwi, Maryanti, Sri. Srikini., Suharno, Bambang. 2014. Biologi. Jakarta :


Penerbit Erlangga.

Irianto, Koes. 2010. EnsiklopediParasitologi. Bandung : Epsilon grup

Harti, Agnes Sri. 2012. Dasar-dasar Mikrobiologi Lingkungan. Yogyakarta:


Nuha Medika.

Syauqi, Ahmad. 2017. Mikrobiologi Lingkungan.


https://books.google.co.id/books?
hl=id&lr=&id=SihLDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR8&dq=konsep+dasar+mikrobi
ologi+lingkungan&ots=UzFPdCDDgD&sig=sMkQ6xCB5PK5nAjqWiT2f0G9Ey
w&redir_esc=y#v=onepage&q=konsep%20dasar%20mikrobiologi
%20lingkungan&f=false. Yogyakarta : Andi

Putri, Hiaranya, Megananda., Sukini., Yodong. 2017. Mikrobiologi Keperawatan


Gigi Edisi 2017. Jakarta : Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan
BPPSDMK.

Porang, Sulastri. 2018. Jenis-jenis media dan macam-macam media.


http://www.academia.edu/11974936/JENIS-JENIS_MEDIA_DAN_MACAM-
MACAM_MEDIA. Diakses pada 11 februari 2019

59
LAMPIRAN

1. Berasal dari manakah kata mikrobiologi ?


A. Inggris
B. Jepang
C. Cina
D. Amerika
E. Yunani

2. Mengapa mikroba dapat dikatakan juga sebagai mikrobiologi ?


A. Karena dapat juga dikatakan sebagai makhluk hidup yang kecil atau renik.
B. Karena kata tersebut sama-sama berasal dari Yunani.
C. Karena nama tersebut ditemukan oleh penemu yang sama.
D. Karena benda tersebut tidak perlu dilihat di bawah mikroskop
E. Karena berasal dari benda mati.

3. Alat yang digunakan untuk melihat mikrobiologi disebut juga ?


A. Termometer
B. Kamera
C. Mikroskop
D. Sound level meter
E. Lux meter

4. Apa sajakah yang termasuk lingkup dalam mikrobiologi ?


A. Usia, jenis kelamin, pekerjaan
B. Vektor, penyebab penyakit, breeding place
C. Bakteriologi, virologi, mikrobiologi pangan, mikrobiologi industri
D. Penyebaran penyakit, faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran
penyakit
E. Parasit, hospes, lingkungan

5. Siapakah yang berhasil membuat mikroskop pada abad ke-17 ?


A. Aristoteles
B. John Needham
C. Antonie van Leewenhoek
D. Robert Koch
E. Shiga

6. Kehidupan berasal dari benda mati. Yang dikemukakan oleh Aristoteles disebut
juga dengan teori ?
A. Teori Biogenesis
B. Teori Big Bang
C. Teori Nebula
D. Teori Abiogenesis
E. Teori Evolusi Kimia

60
7. Mengapa John Needham percaya bahwa kehidupan berasal dari benda mati ?
A. Karena hewan-hewan yang hidup di air , ternyata ikan-ikan tertentu
melakukan perkawinan, kemudian bertelur. Dari telur-telur tersebut lahir
ikan-ikan yang sama dengan induknya.
B. Karena dari rebusan air kaldu yang dia diamkan selama beberapa hari
timbullah bakteri dalam kaldu tersebut.
C. Karena materi di angkasa menyatu dan memadat membentuk benda kecil
yang kemudian meledak. Ledakan ini menghasilkan bintang-bintang dan
planet.
D. Karena bahan organik merupakan bahan dasar organisme hidup, yang pada
mulanya dibentuk sebagai reaksi gas yang ada di alam dengan bantuan
energi.
E. Karena terjadi bersamaan dengan evolusi terbentuknya bumi dan atmosfer.

8. Hipotesis yang menyatakan makhluk hidup hanya berasal dari sesuatu yang
hidup, disebut juga ?
A. Teori Biogenesis
B. Teori Big Bang
C. Teori Nebula
D. Teori Abiogenesis
E. Generatio Spontanea

9. Siapakah yang menentang teori abiogenesis ?


A. Antonie van Leewenhoek
B. John Needham
C. Harold Urey
D. Louis Pasteur
E. Stanley Miller

10. Siapakah yang memakai penelitian menggunakan keratan daging segar ?


A. John Needham
B. Aristoteles
C. Fransisco Redi
D. Lazzaro Spallanzani
E. Louis Pasteur

11. Siapakah yang melakukan percobaan yang berlawanan dengan teori


Needham?
A. Harold Urey
B. Aristoteles
C. Fransisco Redi
D. Lazzaro Spallanzani
E. Louis Pasteur

61
12. Apa yang dapat disimpulkan dari percobaan yang dilakukan oleh Fransisco
Redi ?
A. Kehidupan berasal dari benda mati.
B. Senyawa-senyawa anorganik yang ada di atmosfer mengalami perubahan
sedikit demi sedikit membentuk senyawa organik. Senyawa organik itulah
yang merupakan komponen dasar makhluk hidup.
C. Timbulnya suatu kehidupan hanya mungkin jika telah ada suatu bentuk
kehidupan sebelumnya.
D. Asal mula kehidupan terjadi bersamaan dengan evolusi terbentuknya bumi
dan atmosfer
E. Bahan organik merupakan bahan dasar organisme hidup, yang pada
mulanya dibentuk sebagai reaksi gas yang ada di alam dengan bantuan
energi

13. Siapakah yang melakukan percobaan dengan tabung berleher angsa ?


A. Aristoteles
B. John Needham
C. Fransisco Redi
D. Lazzaro Spallanzani
E. Louis Pasteur
F. Harold Urey

14. Siapakah yang telah menumbangkan teori Abiogenesis dan mengembangkan


teori Biogenesis ?
A. Aristoteles
B. John Needham
C. Fransisco Redi
D. Lazzaro Spallanzani
E. Louis Pasteur
F. Harold Urey

15. Yang termasuk mikroba golongan tumbuhan yaitu ?


A. Senyawa organik
B. Senyawa anorganik
C. Divisi animalia
D. Divisi plantae
E. Protista

16. Yang termasuk mikroba golongan hewan yaitu ?


A. Tumbuhan
B. Divisi animalia
C. Sel prokariotik
D. Protista
E. Divisi plantae

62
17. Dalam jumlah yang lebih besar, mikroba tergantung pada tempat hidupnya.
Sebutkan bentuk hubungan kehidupan mikroba ?
A. Simbiosis, komensalisme, parasitisme
B. Ektoparasit dan endoparasit
C. Fisik dan kimia
D. Temporer dan stasioner
E. Monoxen, heteroxen, dan polixen

18. Apa yang dimaksud dengan waktu generasi ?


A. Masuknya air secara pasif ke dalam biji sehingga biji menggembung.
B. Interval waktu yang diperlukan sel untuk mencari makan
C. Interval waktu yang diperlukan sel untuk membelah diri
D. Interval waktu yang diperlukan sel untuk bernafas
E. Semua benar

19. Sebutkan yang termasuk faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan


mikroorganisme !
A. Parasit, hospes, dan lingkungan
B. Host, agent, dan environment
C. Nutrisi dan media pembiakan
D. Temperature, pH, tekanan osmotik, cahaya
E. Oksigen, radiasi, obat-obatan

20. Sebutkan yang termasuk faktor kimia yang mempengaruhi pertumbuhan


mikroorganisme !
A. Temperature dan pH
B. Tekanan osmotik dan oksigen
C. Cahaya dan radiasi
D. Hospes dan lingkungan
E. Nutrisi dan media pembiakan

21. Pada pertumbuhan mikroorganisme sel baru terbentuk dengan laju konstan
dan masa yang bertambah secara eksponensial, terjadi pada fase ?
A. Fase log
B. Fase lag
C. Fase stasioner
D. Fase kematian
E. Semua benar

22. Pada pertumbuhan mikroorganisme, fase ini terjadi akumulasi produk


buangan yang toksik, terjadi pada fase ?
A. Fase lag
B. Fase log
C. Fase stasioner
D. Fase eksponensial
E. Fase kematian

63
23. Faktor penyebab dari fase kematian dari pertumbuhan mikroorganisme
adalah?
A. Cahaya yang masuk ke dalam sel terlalu banyak
B. Sel tidak dapat membelah diri dengan baik
C. Ketidakseimbangan nutrisi dan akumulasi produk buangan yang toksik
D. Terjadi keseimbangan pH
E. Semua benar

24. Apakah faktor yang mempengaruhi perjalanan pertumbuhan


mikrooraganisme pada fase lag ?
A. Kondisi dan jumlah awal mikroorganisme dan media pertumbuhan.
B. Cahaya yang masuk ke dalam sel
C. Akumulasi produk buangan yang toksik
D. Masa yang bertambah secara eksponensial
E. Semua benar

25. Apakah fungsi kalium dalam pertumbuhan mikroorganisme ?


A. Untuk pembentukan karbohidrat
B. Untuk pembentukan protein
C. Untuk pembentukan lemak
D. Untuk pembentukan asam nukleat
E. Untuk mensintesis protein, dan kalsium berperan dalam resistensi endospora
bakteri terhadap panas

Pertanyaan dari audiences

1. Pertanyaan dari suci aminning tyas (P27833318016)


Apakah arti dari denaturasi protein?
Jawab :
Nafisyah, Ayu Lana Dan Tjahjaningsih, Wahju Dan Abdillah, Annur
Ahadi.2015. Pengaruh Alga Merah (Kappaphycus Alvarezii) Terhadap Mutu
Ikan Kembung (Rastrelliger Sp.). vol 7. https://e-
journal.unair.ac.id/JIPK/article/view/11240. Diakses 9 Februari 2019.

Denaturasi protein adalah proses terpecahnya ikatan hydrogen, ikatan garam


dan terbentuknya lipatan molekul sehingga struktur protein rusak.

2. Pertanyaan dari imelyinia pratiwi suhari (P27833318027)


Mengapa bakteri termasuk golongan tumbuhan, sedangkan virus termasuk
golongan hewan ?
Jawab :
https://www.pintarbiologi.com/2016/02/7-penjelasan-lengkap-perbedaan-sel-
hewan-tumbuhan-bakteri.html

Pelczar. Michael. J. Jr., Chan. E. C. S. (Diterjemahkan oleh Ratna Siri


Hadiostomo, Taja Imas, S. Sutami Tjitrosomo, Sri Lestari Angka. 2013. Dasa-
dasar Mikrobiologi. UI : penerbit Universitas Indonesia.

64
Sel bakteri terdapat ribosom dan membrane plasma seperti yang terdapat pada
sel tumbuhan dalam perkembang biakan juga bakteri bisa berkembang biak
secara aseksual ataupun seksual. Dinding sel bakteri tersusun dari senyawa
peptidoglikan. Peptidoglikan adalah suatu polimer yang terdiri dari
polipeptida pendek. Peptidoglikan memiliki ketebalan lapisan yang bervariasi
dari ketebalan lapisan ini berpengaruh terhadap respons pewarnaan, yang
digunakan dalam penggolongan bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
Dinding sel dari pada Eubacteria mengandung peptidoglikan, sedangkan pada
dinding sel Archaebacteria adalah tidak mengandung peptidoglikan. Dan salah
satu dari beberapa jenis bakteri mempunyai klorofil yaitu pigmen fotosintesis.
Virion hewan dan tumbuhan tersusun dari suatu inti asam nukleat yang
terletak di tengah dikelilingi oleh suatu kapsid, yang terbuat dari kapsomer-
kapsomer. Semua virion memiliki struktur simetri sejati namun, ada beberapa
virus hewan, nukleokapsid (asam nukleat dan kapsid) dibungkus oleh suatu
membran luar yang disebut sampul, yang terbuat dari lipoprotein dan
menyembunyikan simetri ini. asam nukleatnya itu sendiri mengandung ribose
dan deoksiribose. Beberapa virus hewan bersampul, seperti virus influenza
dan mikso virus yang lain, pada umumnya terdapat duri-duri yang terbuat dari
glikoprotein. Virus-virus hewan dan tumbuhan mengandung DNA atau RNA,
tetapi virion yang sama tidak dapat mengandung kedua-duanya.

3. Pertanyaan dari asysyifaul aulia (P27833318009)


Bagaimana cara perkembangbiakan mikroba pada media padat, media cair, dan
semisolid ?
Jawab:
Porang,Sulastri. Jenis-Jenis Media Dan Macam-Macam Media.
www.academia.edu/11974936/JENIS-JENIS_MEDIA_DAN_MACAM-
MACAM_MEDIA. Diakses 8 Februari 2019.
Dalam media kultur dalam mikrobiologi terdapat banyak jenisnya dan dapat
mnejadi tiga kelompok besar berdasar bentuk,komposisi/susunanannya.Dalam

65
media bentuk terdapat 3 macam cara yaitu media padat,media cair, dan media
semi padat.

Media padat merupakan media yang mengandung banyak agar atau zat
pemadat kurang lebih 15% agar sehingga media menjadi padat. Media ini
dibedakan menjadi 3 menurut bentuk dan wadahnya yaiu media tegak, media
miring, media lempeng. Jumlah tepung agar-agar yang ditambahkan
tergantung kepada jenis atau kelompok mikroba yang dipelihara. Ada yang
memerlukan kadar air tinggi sehingga jumlah tepung agar-agar rendah tetapi
adapula yang memerlukan kandungan air rendah sehingga penambahan tepung
agar-agar harus sedikit. Media padat umumnya digunakan untuk bakteri, ragi,
jamur,dan kadang-kadang juga mikroalga.

Media cair merupakan media yang tidak tidak ditambahi bahan


pemadat,umumnya digunakan untuk pertumbuhan mikroalga. Kalau ke dalam
media tdak ditambahkan zat pemadat, umumnya dipergunakan untuk
pembiakkan mikroalga tetapi juga mikroba lain terutamam bakteri dan ragi.

Media semi padat merupakan merupakan media yang mengandung agar


kurang dari yang seharusnya kurang lebih 0,3%-0,4% sehingga media menjadi
kenyal, tidak padat dan tidak begitu cair. Umumnya digunakan untuk
pertumbuhan mikroba yang banyak memrlukan air dan hidup anaerobic dan
untuk melihat pergerakan mikroba

66