Anda di halaman 1dari 48

Pendidikan Desa VS Pendidikan Kota

Posted: Januari 31, 2013 in Mata Kuliah


0

Pendahuluan

Usia pendidikan sama tuanya dengan usia kebudayaan manusia. Pendidikan telah mulai
dilaksanakan semenjak manusia hadir di muka bumi. Pada mulanya, tujuan pendidikan hanyalah
sekadar mempersiapkan generasi muda untuk bisa survive di tengah masyarakat luas. Karena itu,
bentuknya adalah berupa mewariskan wawasan, pengetahuan, dan ketrampilan yang diperlukan
untuk survival kepada generasi berikutnya. Pada penghujung abad ke 21 M, pemerintah
mengeluarkan undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, sebagai
pengganti undang-undang nomor 2 tahun 1989. Salah satu isi yang terpenting dalam undang-
undang itu tersebut adalah pelibatan masyarakat dalam pengembangan sektor pendidikan,
sebagaimana ditegaskan pada pasal 9 bahwa masyarakat berhak untuk berperan serta dalam
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Pasal ini merupakan
kelanjutan dari pasal 4 ayat 1 bahwa pendidikan di Indonesia diselenggarakan secara demokratis
dan berkeadilan. Beberapa waktu lalu berita di berbagai media dipenuhi dgn diskusi tentang
berapa jumlah orang miskin di Indonesia. Hal ini berawal dari pernyataan Presiden SBY yang
menyampaikan data dari BPS bahwa angka penduduk miskin di Indonesia turun menjadi 16,6%
yaitu sekitar 36,1 juta. Beberapa pengamat melihat bahwa angka ini kurang mewakili realita
kemiskinan, sedikitnya karena ada tiga hal mendasar yaitu: pertama, dari pembagian Bantuan
Tunai Langsung saja disebutkan ada 12,8 juta keluarga miskin dan sangat miskin.

Masyarakat desa memiliki peluang yang sama dengan masyarakat kota untuk memperoleh
pendidikan. Peluang pendidikan dibuka oleh pemerintah sama lebarnya untuk masyarakat desa
maupun kota. Bahkan, semangat juang masyarakat desa lebih tinggi daripada masyarakat kota.
Karena masyarakat kota beranggapan bahwa pendidikan di desa tidak begitu maju karena
kekurangannya sarana dan prasarana yang memadai. Karena pendidikan di desa dengan dikota
berbeda jauh. Masyarakat desa itu apa-apa serba sulit, kalau masih SD mungkin tidak terlalu sulit
untuk menjangkau sekolah, tetapi begitu SMP sudah mulai agak jauh. Dan SMA sampai harus
melaju lima kilometer dari desa sampai Kota.

Latar Belakang

Tujuan pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah uapaya mencerdaskan kehidupan
bangsa dan meningkatkan kualitas manuasia Indonesia yang beriman , bertaqwa dan berakhlak
mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat
yang maju, adil, makmur dan beradab berdasarksan pancasila dan UUD 1945. Berbagai upaya
telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia salah satunya
adalah dengan dikeluarkannya UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional dan UU
no.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Indonesia merdeka 64 tahun dan 100 tahun kebangkitan nasional, pendidikan yang diharapkan
tidak tercapai. Permasalahan pendidikan dewasa ini terus muncul seiring upaya untuk
penyempurnaan sistem pendidikan nasional. Permasalahan terbaru yaitu pro dan kontra terhadap
penyelenggaraan Ujian Nasional terlebih dengan adanya praktik kecurangan yang dilakukan
siswa maupun guru yang terjadi diberbagai daerah dan jenjang pendidikan. Ini berarti upaya
meningkatkan pendidikan itu tidak dilaksanakan sesuai dengan harapan. Kesenjangan ini
disebabkan oleh berbagai kendala baik keterbatasan dana, kendala geografis mengingat luasnya
negara Indonesia dengan ribuan pulau sementara sarana komunikasi belum memadai. Di negara
yang berkembang seperti Indonesia ini guru memberi konstribusi terhadap prestasi belajar
sebesar 34 % sedangkan management 22 % waktu belajar 18 % sarana fisik 26 %. Upaya
peningkatan mutu pendidikan dengan perbaikan kualitas guru dan menelaah kondisi sekolahan
khususnya Sekolah Dasar di desa terpencil.

Suatu Sekolah Dasar di daerah terpencil dan di perbatasan masyarakat didaerah ini tertinggal
dalam pembangunan baik itu ekonomi, insfratuktur maupun pendidikan. Disinilah diperlukan
suatu terobosan untuk menjangkau daerah-daerah tersebut ikut serta dalam akselerasi
pembangunan nasional. Disuatu daerah sendiri masih banyak SD yang terpencil dan memiliki
komposisi masyarakat miskin tinggi sehingga menyebabkan angka drop out tinggi.

Seharusnya Pemerintah perlu melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan
di daerah terpencil, kepulauan dan perbatasan degan alasan mendasar yaitu :

1. Melaksanankan asas pemerataan pembangunan baik itu ekonomi, pendidikan dan insfratuktur.

2. Penanggulangan kemiskinan karena rendahnya mutu sekolah bertalian erat dengan


kemiskinan.

3. Menjalankan prinsip Wawasan Nusantara terutama daerah perbatasan dan pulau terluar yang
memiliki kerawanan politik, budaya dan sosial dengan negara tetangga yang lebih maju dalam
pendidikan dan ekonomi.

4. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia dengan indikator utama peningkatan terjamin
kesehatan, memiliki pendidikan yang cukup serta standar hidup yang memadai.

Tujuan

1. Untuk mengetahui pemasalahan mendasar pendidikan di desa terpencil.

2. Untuk mengetahui pentingnya pemerintah memajukan pendidikan di desa terpencil.

3. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan untuk memajukan pendidikan di desa terpencil.

4. Untuk mengetahui tujuan dari pendidikan.

5. Untuk mengetahui seberapa maju pendidikan di kota.

Manfaat
1. Secara Teoritis
a. Sebagai literature tambahan yang memiliki variable hampir sama, baik itu situasi dan
kondisinya.

b. Memberikan motivasi dalam dunia pendidikan.

2. Secara Praktis

a. Menjadi masukan bagi pemerintah untuk meningkatan pendidikan di desa terpencil sebagai
upaya mengentaskan masyarakat dari kebodohan dan kemiskinan salah satunya dengan
peningkatan profesionalisme guru dan pemberian tunjangan desa terpencil.

b. Ikut mendorong peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia di Pedesaan.

Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah hak setiap orang. Oleh karena itu dalam penyelenggaraan sistem pendidikan
tidak boleh ada disriminasi/ membedakan suku, agama, ras, kepercayaan. Sistem Pendidikan
juga harus diselenggarakan dengan tujuan untuk memenuhi hak setiap orang atas pendidikan
tanpa bermaksud sedikitkan memberikan peluang bagi terciptanya diskriminasi/ membeda-
bedakan seseorang dalam memperolah pendidikan hanya karena alasasn politik, ekonomi, social,
budaya, dan hukum. Pengakuan hak untuk mendapatkan pendidikan bagi setiap orang tidak
hanya pengakuan hak secara internasional namun juga pengakuan yang diberikan oleh hukum
positif di Indonesia.

Pada rumusan ini terkandung empat hal yang perlu digaris bawahi dan mendapat penjelasan
lebih lanjut. Dengan “usaha sadar” dimaksudkan, bahwa pendidikan diselenggarakan
berdasarkan rencana yang matang, mantap, jelas, lengkap, menyeluruh, berdasarkan pemikiran
rasional-objektif. Pendidikan tidak diselenggarakan secara tak sengaja, atau bersifat insidental
dan seenaknya, atau berdasarkan mimpi di siang bolong dan penuh fantastis.

Fungsi pendidikan adalah menyiapkan peserta didik. “Menyiapkan” diartikan bahwa peserta
didik pada hakikatnya belum siap, tetapi perlu disiapkan dan sedang menyiapkan dirinya sendiri.
Hal ini menunjuk pada proses yang berlangsung sebelum peserta didik itu siap untuk terjun ke
kancah kehidupan yang nyata. Penyiapan ini dikaitkan dengan kedudukan peserta didik sebagai
calon warga negara yang baik, warga bangsa dan calon pembentuk keluarga baru, serta
mengemban tugas dan pekerjaan kelak di kemudian hari.

Strategi pelaksanaan pendidikan dilakukan dalam bentuk kegiatan bimbingan, pengajaran dan /
atau latihan. Bimbingan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan, arahan, motivasi, nasihat
dan penyuluhan agar siswa mampu mengatasi, memecahkan masalah, menanggulangi kesulitan
sendiri. Pengajaran adalah bentuk kegiatan di mana terjalin hubungan interaksi dalam proses
belajar dan mengajar antara tenaga kependidikan (khususnya guru / pengajar) dan peserta didik
untuk mengembangkan perilaku sesuai dengan tujuan pendidikan. Pelatihan prinsipnya adalah
sama dengan pengajaran, khususnya untuk mengembangkan kerampilan tertentu.
Produk yang ingin dihasilkan oleh proses pendidikan adalah berupa lulusan yang memiliki
kemampuan melaksanakan peranan-peranannya untuk masa yang akan datang. Peranan bertalian
dengan jabatan dan pekerjaan tertentu, tentunya bertalian dengan kegiatan pembangunan di
masyarakat. Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya
mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan
menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungai secara dekat
dalam kehidupan masyarakat. Pengajaran bertugas mengarahkan proses ini agar sasaran dan
perubahan itu dapat tercapai sebagaimana yang diinginkan.

Di Indonesia dikenal tiga jenis pendidikan yaitu :

1. Pendidikan formal yaitu jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas
pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan
tinggi. Pendidikan di sekolah ini secara micro diartikan sebagai kelanjutan pendidikan
keluarga, karena tanggung jawab utama keluarga pada segi kehidupan. Sedang arti
pendidikan di sekolah secara macro adalah pendidikan berwawasan kepada masyarakat
dan negara.
2. Pendidikan informal yaitu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk
kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan
pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar
nasional pendidikan.
3. Pendidikan nonformal yaitu jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat
dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat
dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian
penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan
mengacu pada standar nasional pendidikan. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan
kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan
pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan
pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk
mengembangkan kemampuan peserta didik.

Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan tentu diartikan pendidikan yang mampu meghasilkan lulusan yang terampil,
mampu sesuai dengan tingkat pendidikannya, jujur dan yang terpenting lagi adalah moralnya
baik. Peningkatan mutu pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan
perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan
pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Realita Pendidikan Di Desa

Di sebuah dusun terdapat sebuah sekolah TK dan TK tersebut menempati sebuah ruang SD
dengan bangku berwarna coklat kusam, sementara guru mengajarkan membaca, menulis dan
berhitung seperti layaknya anak SD. Lebih memprihatinkan lagi, guru tersebut lulusan dari SMP
dan tidak pernah mengenyam pendidikan keguruan. Padahal kehadiran suatu Taman Kanak-
kanak sangatlah dibutuhkan, karena pendidikan melalui TK berfungsi meletakkan dasar-dasar
yang penting bagi perkembangan anak seutuhnya. Masa ini merupakan ‘golden periode’ bagi
proses pembentukan karakter anak. Paul Meier, seorang psikiater Kristen menyatakan bahwa
sampai dengan usia 6 thn, 85% karakter anak telah terbentuk. Penelitian lain yang dilakukan
oleh Benyamin S. Bloom menguatkan pandangan ini. Bloom menyatakan bahwa 50% potensi
anak terbentuk sampai dengan usia 5 thn dan 30% lainnya akan terbentuk sampai dengan usia 8
thn. Namun kalau kita cermati jumlah Taman Kanak-Kanak yang ada di Indonesia, hanyalah
melayani sebagian kecil dari jumlah anak pada usia ini. Sebenarnya masyarakat desa memiliki
peluang yang sama dengan masyarakat kota untuk memperoleh pendidikan. Peluang pendidikan
dibuka oleh pemerintah sama lebarnya untuk masyarakat desa maupun kota. Bahkan, semangat
juang masyarakat desa lebih tinggi daripada masyarakat kota.

Meskipun fasilitas di desa kurang memadai, tetapi sebenarnya jauhnya dari fasilitas itu sendiri
menjadi pembelajaran yang sangat bagus bagi anak-anak desa karena mereka terbiasa dengan
kerja keras, tantangan, dan untuk tidak patah semangat. Itu keuntungannya dari masyarakat desa.
Masyarakat desa cenderung minder. sebetulnya orang desa memiliki kekuatan dan daya tahan
yang tinggi terhadap berbagai macam permasalahan dan goncangan. Jauh lebih tinggi dari
masyarakat kota, mestinya kelebihan itu dimanfaatkan.

Peluang Masyarakat Desa

Terkait dalam kebijakan ekonomi untuk masyarakat desa, sebenarnya pendidikan sendiri adalah
bagian dari pemberdayaan masyarakat desa. karena rata-rata masyarakat yang cukup
berpendidikan akan lebih responsif dan tanggap terhadap berbagai rangsangan ekonomi yang
diberikan kepada masyarakat itu. Bayangkan suatu desa yang masyarakatnya buta aksara semua,
tentu akan tertinggal. Hal ini akan berbeda dengan suatu desa yang masyarakatnya pintar dan
berpendidikan tinggi. Tentu akan lebih maju yang berpendidikan.

Pendidikan Dan Perubahan Sosial

Sudah umum dianggap bahwa pendidikan merupakan sarana yang sangat penting bagi seseorang
untuk sukses dalam usaha mobilitas vertikal untuk mencapai strata sosial yang lebih tinggi.
Sementara itu penyelengaraan pendidikan dewasa ini di manapun di dunia didominasi oleh
lembaga raksasa bernama sekolah. Saking kuatnya dominasi itu hingga mayoritas masyarakat
merasa sekolah merupakan satu-satunya tempat yang paling kredibel bagi orang-orang muda
dalam memperoleh ilmu.

Oleh sebab itu sekolah juga mendapat tempat yang istimewa dalam pemikiran tiap orang dalam
usahanya meraih tangga sosial yang lebih tinggi. Sedemikian istimewanya hingga sekolah telah
menjadi salah satu ritus yang harus dijalani orang-orang muda yang hendak mengubah
kedudukannya dalam susunan masyarakat. Mudah diduga bahwa jalan pikiran seperti itu secara
logis mengikuti satu kanal yang menampung imajinasi mayoritas mengalir menuju sebuah
muara, yakni credo tentang sekolah sebagai kawah condrodimuko tempat agen-agen perubahan
di cetak.

Pandangan di atas sama sekali tidak baru. Juga akan sangat berlebihan bila menganggap ide
seperti itu sebagai suatu terobosan sebab tak akan lebih dari botol baru untuk kecap yang sama.
Dalam konteks Indonesia ide tentang sekolah sebagai tempat dicetaknya agen-agen perubahan
adalah pandangan lama yang sudah ada setidaknya pada pengembangan sekolah rakyat. Esensi
dari sekolah adalah pendidikan dan pokok perkara dalam pendidikan adalah belajar. Oleh sebab
itu tujuan sekolah terutama adalah menjadikan setiap murid di dalamnya lulus sebagai orang
dengan karakter yang siap untuk terus belajar, bukan tenaga-tenaga yang siap pakai untuk
kepentingan industri. Dalam arus globalisasi dewasa ini perubahan-perubahan berlangsung
dalam tempo yang akan makin sulit diperkirakan. Cakupan perubahan yang ditimbulkan juga
akan makin sulit diukur. Pengaruhnya pada setiap individu juga makin mendalam dan tak akan
pernah dapat diduga dengan akurat.

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sedemikian pesat. Ekonomi mengalami pasang dan
surut berganti-ganti sulit diprediksi. Konstelasi kekuatan-kekuatan politik juga berubah-ubah.
Kita tak lagi hidup dengan anggapan lama tentang dunia yang teratur harmonis. Sebaliknya
setiap individu sekarang menghadapi suatu keadaan yang cenderung tak teratur. Kecenderungan
chaos seperti ini harus dihadapi dan hanya dapat dihadapi oleh orang-orang yang selalu siap
untuk belajar hal-hal baru. Bukanlah mereka yang bermental siap pakai yang akan dapat
memanfaatkan dan berhasil ikut mengarahkan perubahan-perubahan kontemporer melainkan
mereka yang pikirannya terbuka dan antusias pada hal-hal baru.

Oleh sebab itu sekolah, di tingkat manapun, yang tetap menjalankan pendidikan dengan orientasi
siap pakai untuk para pelajarnya tidak akan berhasil mengemban misi sebagai agent of changes
tetapi sekedar consumers of changes. Dari sekolah dengan pandangan siap pakai tidak akan
dihasilkan orang-orang muda yang dengan kecerdasannya berhasil memperbaiki kedudukannya
dalam susunan sosial output dari sekolah semacam itu hanya dua. Pertama, orang-orang muda
yang terlahir berada dan akan terus menduduki strata sosial tinggi, Kedua, para pemuda tak
berpunya yang akan tetap menelan kecewa karena ternyata mereka makin sulit naik ke tangga
sosial yang lebih tinggi dari orang tua mereka. Sekolah yang tetap kukuh dengan prinsip-prinsip
pedagogis, metode-metode pendidikan dan teknik-teknik pengajaran yang bersemangat siap
pakai hanya akan menjadi lembaga reproduksi sosial bukan lembaga perubahan sosial. Indonesia
perlu perubahan pendidikan yang lebih maju.

Kesimpulan

Jadi sebenarnya pendidikan itu sama, tetapi karena lemahnya pemerintah untuk mengatasi
pendidikan di desa bisa jadi orang yang di desa tersebut jadi ketinggalan. Oleh sebab itu
mengapa orang desa kebanyakan merantau ke kota? Karena di kota segala fasilitas yang
dibutuhkan selalu ada, dan tidak sulit untuk mencarinya. Jadi pemerintah sebenarnya menjadikan
adil pendidikan di seluruh Indonesia, karena pendidikan berpengaruh besar akan maju
mundurnya Negara. Karena dengan pendidikan kita bisa merubahnya dan dengan pendidikan
pula kita bisa mengembangkan potensi seseorang dengan semaksimal.

Saran

Pemerintah memberikan tunjangan khusus kepada guru yang bertugas didaerah khusus.

1. Tunjangan khusus diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat
oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah
pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.
Guru yang dingkat oleh pemerintah atau pemerintah daerah di daerah khusus, berhak atas rumah
dinas yang disediakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan.

Perbedaan Sekolah di Desa dan di Kota

Padahal semestinya dengan adanya kemajuan teknologi, tidak seharusnya perbedaan kota dan desa
seperti langit dan bumi. Perbedaan antara desa dan kota tidak selamanya merujuk kepada hal negatif
dan positif, dalam beberapa hal justru desa telah menunjukkan prestasi luar biasa dibanding dengan
kota.

Khusus untuk masalah pendidikan misalnya, secara umum dari sisi fasilitas, perbedaan sekolah antara di
kota dan di desa, memang sungguh jauh perbedaannya. Namun dari sisi semangat belajar, tak kalah.
Bahkan belakangan secara umum di kota dengan berbagai kemudahan, anak-anak tidak menunjukkan
prestasi yang sepadan. Sebaliknya di desa, dengan berbagai keterbatasan, muncul anak-anak yang
berprestasi dan memiliki semangat belajar luar biasa.

Kemajuan teknologi telah diserap sempurna oleh anak-anak perkotaan, sehingga telah menjadi
pemandangan sehari-hari bagaimana anak-anak perkotaan tak bisa terlepas dari gadget. Sementara
anak-anak di desa, memiliki alat-alat berteknologi tinggi masih menjadi impian. Tapi dampak dari
teknologi yang negatif, telah pula terserap dengan sempurna di kota, sementara desa tak begitu
kelihatan mencolok pengaruhnya.

Pada saat menjelang maghrib, anak-anak di perkotaan masih sibuk di depan televisi, mesin PS atau
sedang berselancar di dunia maya, sementara anak-anak di desa menjelang Maghrib masih terlihat
banyak yang telah siap untuk pergi ke mesjid, mushola dan langgar, untuk sholat Maghrib berjamaah
dan dilanjutkan dengan belajar mengaji.

Suasana di sekolahpun antara di kota dan di desa juga berbeda. Fasilitas sekolah perkotaan relatif lebih
maju, tidak seperti yang ada di desa, gedung sekolahnya saja banyak yang masih memprihatinkan. Di
sekolah perkotaan anak-anak berseragam, cantik dan tampan, bersepatu dan wangi. Sementara di
sekolah pedesaan, masih menjadi pemandangan sehari-hari bagaimana anak-anak sekolah berseragam
aneka warna, ada yang tidak mengenakan alas kaki dengan wajah kuyu dan lelah, karena tidak jarang
sampai sore hari masih harus membantu kegiatan orang tuanya.

Demikianlah perbedaan antara sekolah di kota dengan sekolah di desa, yang dalam beberapa hal masih
menunjukkan perpedaan seperti antara langit dan bumi. Pemandangan yang semestinya tidak harus
demikian mencolok
Dari segi kualitas sumberdaya manusia di Pedesaan dan di Perkotaan sama-sama berkualitas.
Tapi, perbedaan yang selama ini terjadi adanya faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan.
Faktor-faktor tersebut diantaranya:
1. Lingkungan
2. Ekonomi
3. Pendidik
4. Infrastruktur Pendidikan
5. Media Informasi
6. Semangat Belajar
Akan saya bahas satu-persatu sebagai berikut,

1. Lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi dalam menentukan baik atau tidaknya kualitas pendidikan.
Apabila suatu lingkungan yang kurang memperhatikan pendidikan akan terjadi kurangnya daya tarik
untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga kemajuan suatu daerah akan terhambat.
Halini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang akan pentingnya pendidikan.
Sehingga para Putra Putri di desa kurang berminat dalam memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Lebih cenderung kepada melanjutkan propesi orang tuanya seperti petani, pedagang, pemburu, dan
sebagainya.

2. Ekonomi
Factor ekonmi dalam mempengaruhi kualitas pendidikan bukan hanya dialami di desa, tapi juga
di kota. Halini disebabkan oleh mahalnya biaya pendidikan, yang diakibatkan oleh semakin terus
meningkatnya biaya hidup, terutama di kota. Sedangkan di desa kurang terciptanya lapangan pekerjaan
sehingga lebih kepada pertanian, perternakan, perikanan, pertambangan (Galian C) dan sebagainya.
Hanya masyarakat tertentu yang memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Sedangkan orang tuanya yang tidak memiliki penghasilan yang lebih, hanya dapat menyekolahkan pada
tingkat dasar , bahkan tidak sampai hanya putus ditengah jalan. Sehingga hanya kembali membantu orang
tuanya untuk mencari uang.
3. Pendidik
Bukan hanya kualitas guru yang diperhatikan tapi juga kuantitas guru juga sangat dibutuhka,
dalam mempengaruhi kualitas pendidikan.
Guru yang memiliki kualitas pendidikannya yang baik akan mencetak peserta didik yang
berkualitas. Halini salah satunya menjadi permasalahan yang terjadi di desa terpencil, sehingga sebagian
guru lebih cenderung tertarik mengajar di kota dibandingkan di desa. Mengapa bisa terjadi ?
Mungkin dari segi financial, tarap hidup, dan sebagainya.
Jumlah guru saat ini masih kurang, halini juga mempengaruhi dalam pemerataan pendidikan di negeri
yang kita cintai ini.
4. Infrastruktus Pendidikan
Sarana dan prasarana pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan. Halini
yang membedakan kualitas pendidikan di desa dan di kota.
Infarastruktur pendidikan di kota lebih memadai. Sehingga memacu para peserta didik dan
pendidik dalam meningkatkan kemampuan menggali ilmu pengetahuan dan teknologi. Akses jalan yang
mudah, fasilitas yang menunjang serta memadai.
Apa yang terjadi di desa ?, infrasruktur pendidikan yang kurang memadai bahkan ada yang jauh
dari standar. Hanya sebagain sekolah yang memiliki infrastruktur yang baik di desa yang disponsori oleh
perusahaan swasta atau pun negeri dengan biaya yang tinggi.
Halini mengakibatkan terjadinya perbedaan kualitas pendidikan, dengan infrastruktur yang
kurang memadai. Seperti akses jalan yang jauh dan sulit ditempuh, kualitas gedung yang kurang baik.
Masih sering dijumpai permasalahan sarana dan prasarana lainnya.
5. Media Informasi
Zaman yang semakin moderen pada saat ini, media informasi semakin canggih dan semakin
mudah diperoleh. Halini sangat membantu pendidikan mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi
kepada seluruh lapisan masyarakat.
Media informasi berperan penting dalam mempengaruhi kualitas pendidikan .
Media informasi dapat saya bagi menjadi dua yaitu,
a. Media cerak
Merupakan media penyampaian berita atau informasi secara tertulis maupun gambar. Biasanya
menggunakan kretas atau yang lainnya, sejak dulu sampai sekarang yang masih sangat popular biasanya
berupa Koran, Majalah, Buku dan sebagainya.
b. Media elektronik
Merupakan media penyampaian berita atau informasi secara visual maupun audio, baik searah
maupun dua arah. Yang biasanya mengunakan perangkat elektronik, berupa TV, Radio, Komputer dan
sebagainya.
Media informasi masih terkendala untuk diperoleh masyarakat desa , halini merupakan salah satu
pembeda kualitas pendidikan. Dengan minimnya fasilitas penunjang ditambah informasi yang sulit,
menjadikan pendidikan di desa tertinggal.
6. Semangat Belajar
Semangat merupakan salah satu landasan terpenting dalam mencapai sesuatu. Tanpa semangat
sulit untuk mencapai segala hal yang kita ingin capai. Begitu juga semangat belajar .
Seseorang yang memiliki semangat belajar tinggi, walaupun dengan kondisi dan situasi apapun,
orang tersebut tidak menyerah. Agar apa yang dia cita-citakan terwujud. Dalam meningkatkan kualitas
pendidikan, harus adanya semangat yang mencakup semua komponen pendidikan.
Perbedaan kualitas pendidikan yang terjadi perlu segera kita tindak lanjuti agar kualitas pendidikan
nasional dapat seimbang selaras dan merata. Ini semua tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah
maupun rakyat.
Pemerintah yang sudah mengalokasikan APBN sebesar 20 %, untuk pendidikan mengalir entah
kemana. Saling salah menyalahkan, itu semua tidak berguna. Hanya Allah SWT yang tahu. Maka kita
sebagai rakyat bertugas untuk mengawasi dan apabila terjadi hal yang kurang baik harus menindak
lanjuti.
Menurut saya, untuk meningkatkan dan pemerataan kualitas pendidikan nasional, perlu dibentuk
Badan Intelejen Pendidikan (BIP). Badan ini memiliki kesadaran akan kualitas, loyalitas, propesional,
intregritas, disiplin tinggi, taat hukum, taat agama dan dipayungi hukum. Bergerak secara rahasia
mengawasi seluruh aktifitas pendidikan, mulai dari pusat hingga tingkat pelosok dan memberi informasi,
kepada seluruh masyarakat melalui media informasi. Berupa pengawasan dana pendidikan, standar
kualitas pendidikan mencakup pendidik, peserta didik, sarana, prasarana dan sebagainya.
Sistem ini sangat bagus untuk memajukan sistem pendidikan di indonesia, karena pada umumnya
kendala dalam pemserataan pendidikan secara nasional disebabkan oleh sistem birokarsi yang tidak
akuntabel. Sehingga program-program dan bantuan Pemerintah tidak tepat sasaran bahkan tidak sampai.
Segala permasalahan pendidikan bahkan permasalahan di negeri ini. Bisa kita atasi dan kuasai
sampai menjadi lebih baik. Jika kita semua sadar bekerja sama dengan hati yang ikhlas tulus dan syukur,
bahu membahu membangun negeri ini. Insyaallah indonesia bisa menjadi negara super pawer. Amiin
Cukup sekian dan terima kasih, mohon dimaklum apabila dalam artikel ini terdapat kesalahan dan
menyinggung. Karena hidup ini masih memerlukan pembelajaran untuk menjadi yang lebih baik.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kondisi geografis beragam dan terdiri atas ribuan
pulau, berbagai suku, etnis, budaya, serta karakter berbeda. Keberagaman ini mengharuskan
pendidikan bangsa Indonesia mampu menampung seluruh karakter keanekaragaman bangsa.
Karena itulah pendidikan merupakan hak setiap warga Negara Indonesia dan merupakan cita-cita
bangsa Indonesia untuk kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa yang
tercantum dalam UUD 1945.

Pendidikan adalah kalimat yang tak lagi asing di kalangan masyarakat Indonesia, terutama anak-
anak bangsa. Pendidikan merupakan kewajiban yang harus dijalani oleh anak-anak bangsa
Indonesia, karena pada dasarnya pendidikan sangat diperlukan, karena dengan pendidikan
tersebut dapat memajukan karakter dan budi pekerti yang dimiliki oleh setiap individu. Melalui
pendidikan, seseorang akan lebih bisa menerapkan pengetahuannya ke dalam kehidupan sehari-
hari.

Tetapi faktanya, bangsa Indonesia ternyata belum mampu memaksimalkan potensi yang ada,
khususnya pendidikan. Di daerah perkotaan cenderung lebih maju daripada di daerah pedesaan,
terlebih lagi di daerah perbatasan seperti kabupaten Mahulu. Pendidikan di wilayah perbatasan
masih rendah karena program pemerataan pendidikan belum membuat Kabupaten Mahulu
mendapatkan pendidikan yang layak.

Maka dari itu, tingkat pendidikan juga sangat berpengaruh dalam dunia kerja, terutama pada era
modern ini untuk mencari pekerjaan tidaklah mudah karena yang berpendidikan tinggi saja
masih banyak yang menganggur atau disebut dengan istilah penggangguran terdidik. Di daerah
pedesaan, jumlah angkatan kerja yang tidak tamat SD, SMP, dan SMA di pedesaan akan terus
meningkat karena infrastruktur dan minimnya kualitas pendidikan yang kemudian membuat
jumlah angkatan kerja meningkat.

Selain itu, guru-guru yang berasal dari pedesaan sendiri memiliki kualitas pendidikan yang
rendah karena hanya lulusan SMA. Dan kurikulum yang belum memenuhi standar membuat
peserta didik kurang mendapatkan pendidikan seperti di perkotaan. Kemudian informasi yang
merupakan salah satu masalah dalam akses pendidikan, di daerah pedalaman cenderung selalu
mengalami keterlambatan informasi. Karena keterlambatan informasi ini juga cenderung
menghambat proses seleksi guru sehingga jadwal yang ditetapkan harus mundur.

Pengumpulan berkas dari daerah yang lambat tentunya juga berkaitan dengan informasi yang
lambat diterima oleh guru-guru calon penerima beasiswa tersebut. Bahkan, ada beberapa guru
yang tidak mengumpulkan berkas pun harus diambil karena menutupi kuota yang diperlukan.
Hal tesebut membuktikan masih kurangnya kualitas pendidikan di pedesaan. Tingkat pelayanan
pendidikan ini perlu mendapat perhatian yang serius, terutama untuk daerah perbatasan,
terpelosok, dan terpencil.

Maka dari itu, pendidikan yang kurang maju ini mengakibatkan mayoritas masyarakat di
pedesaan hanya berpendidikan tamatan SD. Minimnya masyarakat yang bependidikan tinggi
mendorong bertambahnya angka pengangguran yang kemudian menimbulkan kemiskinan di
Kabupaten Mahulu karena kurangnya pengetahuan dan wawasan yang luas. Hal tersebut menjadi
masalah utama di Kabupaten Mahulu dan infrastruktur belum memadai. Akses masih sulit dan
sarana komunikasi juga belum tersedia secara maksimal. Jika dilihat dalam pembangunan
wilayah perbatasan sampai saat ini masih ada beberapa masalah yang belum terselesaikan seperti
masalah kemiskinan, kesenjangan pembangunan antara wilayah kota dengan pedalaman atau
perbatasan, masalah ketenagakerjaan serta masalah lingkungan.

Berbeda halnya dengan anak-anak yang berada di perkotaan, yang dapat mengenyam pendidikan
dengan mudah dan fasilitas yang sudah lengkap. Hal ini seharusnya dapat disyukuri oleh
masyarakat di perkotaan karena dapat mengenyam pendidikan yang layak tanpa terkendala oleh
fasilitas dan akses transportasi yang mudah. Terlebih lagi kualitas mutu pendidikan yang sudah
dijamin baik di daerah perkotaan. Tetapi hal yang berpendidikan yang baik saja justru tidak
dapat mencerminkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di era sekarang telah diterapkan berbagai aturan supaya peserta didik mempunyai akhlak yang
baik, tetapi pada realitasnya banyak yang tidak mengaplikasikan hal tersebut yang didasari oleh
moral serta etika yang sesuai dengan nilai-niali agama. Dengan demikian, kelak diharapkan
mampu meneruskan generasi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia sangat butuh banyak generasi
yang berpotensi menjadi seorang pemimpin yang dapat mengayomi negaranya dan memajukan
negara ke arah yang lebih maju. Bukan hanya pemimpin yang hanya ingin dilayani, tetapi
seorang pemimpin yang mau melayani masyarakatnya guna kesejahteraan bangsa Indonesia.

Tetapi sangat disayangkan generasi-generasi anak bangsa yang diajarkan untuk mempunyai jiwa
pemimpin yang berkualitas dan mau melayani masyarkat sangat minim ditemukan di negara
Indonesia ini. Generasi muda saat ini banyak menggunakan teori dibandingkan kerja nyata di
lapangan. Hal tersebut kemudian memicu anak-anak muda yang hanya pintar untuk berbicara
tetapi tidak bisa menunjukkan tindakan nyata di lapangan.

Hal ini seharusnya menjadi pertimbangan bagi lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia untuk
menyeimbangkan teori dengan kerja nyata di lapangan. Dengan teori saja seseorang hanya bisa
untuk menyampaikan ide dalam pikirannya, mengembangkan pemikirannya dan menganalisis
teori tersebut. Jika dibandingkan dengan kerja nyata, anak-anak bangsa dapat memperoleh
pengalaman belajar yang berharga melalui keterlibatan yang secara langsung menemukan,
merumuskan, memecahkan dan menanggulangi permasalahan tersebut. Kedua hal tersebut
seharusnya dilakukan seimbang dalam proses pendidikan.

Tidak heran jika banyak pejabat tinggi dengan gelar sarjana banyak melakukan korupsi karena
tidak pernah ikut merasakan permasalahan-permasalahan yang dialami oleh daerah pedesaan dan
terpencil, mulai sarana pendidikan dan pembangunan yang tidak merata. Banyak pejabat yang
hanya bersenang-senang korupsi uang negara untuk kepuasan semata tanpa memikirkan
kemajuan negaranya. Hal tersebut menunjukkan bahwa lulusan pendidikan yang tinggi saja tidak
bisa melakukan tindakan nyata dari apa yang telah ia pelajari selama masa pendidikan, yang
dapat mendorong kesejahteraan bangsa. Bagaimana negara akan maju jika lemaga-lembaganya
saja hanya mementingkan diri sendiri dan memikirkan kepuasan masing-masing? Jarang ditemui
jiwa-jiwa penerus bangsa yang jujur dan dapat mengayomi masyarakatnya.

Hal ini menjadi bukti bahwa dalam Undang-Undang No.2 tahun 1989 bab II pasal 4 tentang
tujuan pendidikan di Indonesia belum terwujud, yang disebabkan karena pendidikan moral yang
selama ini diajarkan di sekolah hanya menyentuh aspek pengetahuan saja dan belum sampai
pada aspek perilaku. Apalagi proses pembelajaran yang dilakukan oleh para pelajar banyak
menitikberatkan hafalan saja sehingga tidak bisa mengubah perilaku seseorang yang baik.
Kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini masih jauh dari yang diharapkan. Proses
pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter positif.
Bahkan, sekarang ini menunjukkan bahwa pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak
lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas namun
memiliki mental yang lemah dan perilaku yang tidak terpuji. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya
pelajar yang terlibat tawuran, kasus kriminal, narkoba, dan seks di luar nikah.

Inilah gambaran pendidikan di kota dan daerah pedesaaan. Di pedesaan anak-anak masih belum
bisa mengenyam pendidikan yang bermutu bagus karena masalah pembangunan dan akses
transportasi yang tidak memadai, sedangkan daerah perkotaan yang dapat mengenyam
pendidikan bagus dengan fasilitas yang lengkap malah tidak bisa mencerminkan perilaku yang
sesuai dengan pendidikan yang berkarakter. Kemudian di daerah perkotaan banyak
pengangguran yang memiliki gelar sarjana, hal tersebut disebabkan kurangnya lapangan kerja
yang tersedia di daerah perkotaan. Tetapi hal ini tidak terjadi merata di seluruh perkotaan, hanya
sebagian kecilnya saja yang bergelar sarjana tetapi penganggur. Hal ini yang harus ditangani oleh
lembaga-lembaga yang berwenang agar lapangan pekerjaan mencukupi lulusan-lulusan sarjana
atau yang berpendidikan tinggi agar mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya masing-masing.
Walaupun ada segelintir yang memiliki gelar sarjana tetapi tidak memiliki pengalaman layaknya
seorang yang berpendidikan sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan.

Meskipun fasilitas di desa masih kurang memadai, sebenarnya hal ini menjadi pembelajaran bagi
anak-anak desa karena mereka terbiasa dengan kerja keras, tantangan, dan tidak patah semangat.
Sehingga hal ini menjadi daya tahan yang tinggi dalam berbagai permasalahan dan goncangan,
dibandingkan dengan masyarakat di perkotaan. Tetapi anak-anak yang berada di daerah terpencil
tak perlu berkecil hati, karena orang yang bersekolah tinggi saja belum tentu bisa sukses.
Kesuksesan akan didapatkan jika seseorang mau berusaha, membangun dan mengembangkan
segala bakatnya, tekun dan jujur. Karena dalam setiap diri seseorang memiliki bakat yang
berbeda-beda, hanya saja bagaimana individu tersebut mengembangkan kemampuannya untuk
mencapai kesuksesan.

Dan kesuksesan seseorang tidak diukur dari lulusan pendidikan, tetapi kembali pada individu
tersebut. Bukan hanya menjadi seseorang yang berpendidikan dan berpengetahuan luas tetapi
individu yang mampu mengembangkan dan mempraktikkan pengetahuan tersebut dalam dunia
kerjanya. Dalam hal ini, seseorang yang sukses harus memiliki sikap jujur, tekun, dan
pengalaman dalam penerapan ilmunya. Semua orang berkesempatan untuk sukses, bahkan untuk
individu yang tidak mengenyam pendidikan. Yang dibutuhkan adalah pembelajaran di luar
sekolah yang membangun kesuksesan tersebut. Orang yang sukses memiliki hasrat yang kuat
untuk memajukan dirinya sekalipun individu tersebut tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi,
dan kesuksesan individu melakukan rutinitas yang tidak disenangi oleh orang malas. Hidup
sesuai cita-cita dan impian Anda dan harus berani mengambil risiko untuk menjadi yang
berbeda.

Karena tidak hanya individu yang berpendidikan tinggi saja yang bisa sukses, lebih dari itu
individu yang tidak mengenyam pendidikan pun bisa melampui yang berpendidikan tinggi.
Jangan sekali-kali meremehkan kemampuan seseorang karena tidak semua orang yang terlihat
bodoh akan bodoh selamanya. Status sosial yang sekarang selalu menjadi tolak ukur sesorang
dalam mengenyam pendidikan yang berkualitas seharusnya dihapuskan dalam dunia pendidikan.
Karena tidak hanya orang kaya yang boleh mengenyam pendidikan berkualitas, orang-orang
miskin dan kecil juga seharusnya mendapatkan pendidikan yang sama dan adil.

Kesenjangan Mutu Pendidikan di Kota dan Desa


7 April 2015 18:01 Diperbarui: 17 Juni 2015 08:25 2748 0 0

Faktor pendidikan merupakan tolok ukur kemajuan suatu bangsa karna pendidikan adalah creator (
pencetak ) generasi penerus bangsa, masalah pendidikanmenjadi rata-rata permasalahan yang di hadapi
oleh Negara-negara berkembang di dunia, Terlebih lagirendahnya mutu pendidikan yang menghambat
penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi
pembangunan bangsa di berbagai bidang, karna pendidikan adalah yang menjadi sumbu perkembangan
pembangunan kesejahteraan dan kebudayaan bangsa.

Beberapa factor yang menjadi penyebab tidak berkembangnya pendidikan di Indonesia antara lain
sebagai berikut :

1.Biaya pendidikan

2.Fasilitas pendidikan yang kurang memadai

3.Rendahnya pemerataan pendidikan

mayoritas penduduk Indonesiayang berada di bawah garis kemiskinan menjadikan Pendidikan di


Indonesia sulit bagi mereka, Selain kemauan dan kesadaran akan pentingnya pendidikan dan ekonomi
yang mereka jadikan alas an sehingga mereka tidak menyentuhdunia pendidikan.

Pada tahun 2012 pemerintah menjawab alasan ekonomi masyarakat dengan memberikan bantuan
melalui program PNPM GSC ( Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Generasi Sehat Dan Cerdas )
bantuan seperti buku, seragam, dan peralatan sekolah seadanya, namun adanya ketertinggalan didalam
mutu pendidikan dan tenaga pendidik yang tidak professional.

Alat-alat penunjang lainnya yang menyebabkan pendidikan tidak dapat berkembang secara optimal,
seperti fasilitas yang sangat jauh dari kata-kata memadai, ketersediaan buku-buku pendidikan dan
jaringan internet dimana akan menjadi kendala ketika siswa dalam rangka mendapatkan refrensi
tambahan tentang mata pelajaran yang sedang mereka pelajari, terlebih lagi banyak tenaga pendidik
yang tidak memahami pentingnya internet dan pemamfaatannya ( GAPTEK ).

Dalam hal pendidikan di kota dan di desa sangatlah berbeda, seakan perhatian pada pendidikan
di perkotaan membuat kualitas pendidikan di perkotaan dan di pedesaan menjadi timpang,
masalah kesejahteraan guru, juga terdapat ketimpangan dalam hal bantuan untuk fasilatas
pendidikan, dan banyak hal lainnya. Maka tidak heran apabila kualitas pendidikan di Indonesia
masih belum merata dimana kualitas pendidikan di kota lebih baik daripada di desa.

Solusi.

1.Merubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan.

2.Meningkatkan Peran serta masyarakat akan pentingnya pendidikan

Pemerintah harus peka terhadap kondisi pendidikan di setiap daerah dan dapat mengambil
langkah yang pasti untuk memperbaiki kualitas sesuai dengan kondisi daerah masng-masing.
Tidak hanya pemerintah, tetapi masayarat juga harus bahu-bahu bersama pemerintah untuk dapat
meningkatkan kesadaran bahwa pendidikan itu penting dan dapat selalu mengawasi kegiatan
pendidikan di Indonesia. Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut
perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat
dalam segala bidang. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia
yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara
sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

Kesenjangan Pendidikan, Kota dan Pedesaan.


kampung ilmu Thursday, January 22, 2015

LATAR BELAKANG

Pendidikan adalah suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar berperan aktif dan positif
dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang, dan pendidikan nasional Indonesia adalah pendidikan
yang berakar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional Indonesia.

Pendidikan menjadi hal yang paling sering menjadi sorotan, karena lewat pendidikanlah sesuatu
perubahan dimulai. Penciptaan generasi muda yang memiliki kemampuan ilmu pengetahuan yang
dengan ilmu pengetahuan itu dapat melakukan pembangunan di segala bidang merupakan alasan
umum mengapa pendidikan menjadi begitu penting. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
disertai dengan semakin kencangnya arus globalisasi dunia membawa dampak tersendiri bagi dunia
pendidikan dikarenakan pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan tidak terlepas dari pengaruh
globalisasi.

Seorang pemerhati pendidikan Prof. Eko Budihardjo, ironi yang justru terjadi dengan pendidikan di
negara yang begitu luas ini adalah pendidikan yang tidak meluas merata ke seluruh penjuru
nusantara. Di era pembangunan yang sedang gencar-gencarnya ini, kesenjangan masih dirasakan oleh
wilayah-wilayah Indonesia yang berada jauh dari jangkauan pemerintah pusat. Bukan hanya antar
daerah, tetapi antar kota pun terdapat kesenjangan pendidikan yang sebenarnya juga terlihat timpang,
(dalam www.mediaindonesia.com)

RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengaruh globalisasi dalam dunia pendidikan di Indonesia?


2. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kesenjangan pendidikan di Indonesia?
3. Bagaimana solusi untuk kesenjangan dalam dunia pendidikan?

PEMBAHASAN

Pengaruh Globalisasi Dalam Dunia Pendidikan

Arus globalisasi yang sudah terjadi sejak abad ke 20, memaksa setiap negara khususnya Indonesia untuk
menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa. Menurut
Princenton N. Lyman, Globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atas saling ketergantungan dan
hubungan antara negara-negara didunia dalam hal perdagangan dan keuangan. Berdasarkan sejarahnya,
akar munculnya globalisasi adalah revolusi elekrronik dan disintegrasi negara-negara komunis. Kata
“globalisasi” dari kata global yang berarti universal atau ruang lingkupnya mendunia. Globalisasi pada
dasarnya merupakan proses yang ditimbulkan dari suatu kegiatan yang dampaknya berkelanjutan
melampaui batas kebangsaan dan kenegaraan. (Anggaradian,2011)

Kemajuan globalisasi terutama ditandai dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
tentunya sangat berdampak bagi keberadaan aspek kehidupan khususnya dalam bidang pendidikan,
baik itu berupa dampak positif atau negatif yang berimbas pada nlai-nilai moral, sosial, budaya,
kepribadian serta kualitas pendidikan.

Banyak sekolah di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam
sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah – sekolah yang dikenal dengan billingual
school, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sebagai mata
ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari pendidikan taman kanak-kanak
hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka program kelas internasional
(Hanakristina,2010).

Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang
semakin ketat. Dengan globalisasi pendidikan diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar
dunia. Apalagi dengan akan diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam lingkup negara-negara
ASEAN, mau tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar
tidak menjadi “budak” di negeri sendiri (Hanakristina,2010).

Pendidikan model ini juga membuat siswa memperoleh keterampilan teknis yang komplit dan detil,
mulai dari bahasa asing, computer, internet sampai tata pergaulan dengan orang asing dan lain-lain. sisi
positif lain dari liberalisasi pendidikan yaitu adanya kompetisi. Sekolah-sekolah saling berkompetisi
meningkatkan kualitas pendidikannya untuk mencari peserta didik.

Selain itu peningkatan kualitas pendidikan hendaknya selaras dengan kondisi masyarakat Indonesia saat
ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis
kemiskinan. Dalam hal ini, untuk dapat menikmati pendidikan dengan kualitas yang baik tadi tentu saja
memerlukan biaya yang cukup besar. Tentu saja hal ini menjadi salah satu penyebab globalisasi
pendidikan belum dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa
dalam UUD 1945 jelas disebutkan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Karena
itu, mutu pendidikan harusnya bukan untuk sekelompok orang, tetapi untuk semua anak bangsa.

Kesenjangan Pendidikan

Perkembangan pendidikan di Indonesia memang masih pada level stagnan atau jalan ditempat. Sistem
pendidikan yang selalu berubah-rubah, kurikulum yang selalu berubah, dan kebijakan-kebijakan yang
membingungkan membuat status pendidikan Indonesia belum juga meningkat (Nur Rois, 2012).

Pemerintah memang tak henti-hentinya memberikan kebijakan demi kemajuan pendidikan, namun
kebijakan demi kebijakan seakan hanya menjadi oase di tengah padang pasir yang kesejukannya hanya
sesaat saja. Dalam praktiknya, pendidikan tetap menjadi masalah yang krusial bagi bangsa ini.

Hingga saat ini memang belum terjadi pemerataan pendidikan, baik dari segi tenaga pengajar, fasilitas
sarana prasarana, sampai siswa-siwanya yag kelak menjadi generasi penerus bangsa. Sekolah yang
kualitasnya bagus karena memiliki pengajar yang kompeten, fasilitas lengkap, dan siswa-siswanya cerdas
akan semakin bagus. Sedangkan sekolah yang kualitasnya sedang justru sebaliknya. Sekolah yang
kualitasnya sedang atau kurang bagus akan menjadi bertambah buruk. Sudah tenaga pengajarnya
kurang kompeten, fasilitasnya kurang, siswa-siswanya juga kurang secara akademis menurut Prof. Eko
Budihardjo (dalam www.mediaindonesia.com).

Sebagai contoh untuk dapat menikmati program kelas bertaraf Internasional diperlukan dana kurang
lebih dari puluhan juta. Alhasil hal tersebut hanya dapat dinikmati golongan kelas atas yang mapan.
Dengan kata lain yang maju semakin maju, dan golongan yang terpinggirkan akan semakin terpinggirkan
dan tenggelam dalam arus globalisasi yang semakin kencang yang dapat menyeret mereka dalam jurang
kemiskinan. Masyarakat kelas atas menyekolahkan anaknya di sekolah – sekolah mewah di saat
masyarakat golongan ekonomi lemah harus bersusah payah bahkan untuk sekedar menyekolahkan anak
mereka di sekolah biasa. Maka, ketimpangan ini dapat memicu kecemburuan yang berpotensi menjadi
konflik sosial. Peningkatan kualitas pendidikan yang sudah tercapai akan sia-sia jika gejolak sosial dalam
masyarakat akibat ketimpangan karena kemiskinan dan ketidakadilan tidak diredam
(Hanakristina,2010).

Bukan hanya kualitas pendidikan, fasilitas dan kemampuan siswa secara akademis yang menjadi
ketimpangan kesenjangan pendidikan, tetapi juga secara psikologis yaitu perkembangan siswa. Anak-
anak dapat berkembang lebih baik bila ada interaksi dengan siswa dan guru yang berbeda-beda.
Manfaatnya, siswa-siswa pintar bisa berbagi, sedangkan siswa yang kurang pandai bisa belajar untuk
meningkatkan diri. Bila anak-anak sudah dikotak-kotakkan berdasarkan kecerdasan atau taraf ekonomi
melalui sistem pendidikan, generasi muda Indonesia akan menganggap bahwa ketidakadilan merupakan
hal biasa. Kebijakan pemerintahlah yang seHarusnya meminimalisir jumlah anak-anak bangsa yang
tertinggal.

Selain itu, juga akan mempengaruhi budaya bangsa. Misalnya, untuk sekolah yang bertaraf
internasional, mata ajar wajib bukan hanya pelajaran bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa-bahasa asing
lainnya. Serta untuk bahasa pengantar dalam pembelajaran tidak sepenuhnya lagi menggunakan Bahasa
Indonesia dikarenakan guru-gurunya pun dikonsepkan untuk bisa fasih dalam bahasa asing lainnya
terutama bahasa inggris. Selain bahasa pengantar dalam pembelajaran, bahasa Indonesia ataupun
bahasa daerah bukan lagi menjadi bahasa pergaulan siswa untuk siswa-siswa yang bersekolah di sekolah
yang bertaraf internasional.

Padahal masih banyak guru-guru di daerah atau guru-guru di perkotaan yang belum mampu
menggunakan bahasa Indonesia dengan fasih dalam mengajar. Dikarenakan sebagian dari guru kita di
tanah air ini masih menggunakan bahasa daerahnya dalam mengajar meski tinggal dan hidup di
lingkungan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Begitupun juga dengan
siswa-siswanya. Sehingga diharapkan walaupun kita bisa bahasa asing, kita tidak melupakan bahasa ibu.

Sehingga, dapat dikatakan banyak faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan pendidikan,
yaitu sebagai berikut :

 Sumber daya manusia


 Infrastruktur
 Proses pembelajaran yang konvensional
 Lemahnya sistem pendidikan nasional
Solusi Menghadapi Kesenjangan Dunia Pendidikan

Pemerintah sebagai pengemban amanat rakyat, dapat bergerak cepat menemukan dan memperbaiki
celah – celah yang dapat menyulut kesenjangan dalam dunia pendidikan. Salah satunya dengan cara
menjadikan pendidikan di Indonesia semakin murah atau bahkan gratis tapi bukan pendidikan yang
murahan tanpa kualitas. Hal ini memang sudah dimulai di beberapa daerah di Indonesia yang
menyediakan sekolah unggulan berkualitas yang bebas biaya. Namun hal tersebut baru berupa
kebijakan regional di daerah tertentu. Alangkah baiknya jika pemerintah pusat menerapkan kebijakan
tersebut dalam skala nasional. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut pemerintah perlu melakukan
pembenahan terutama dalam bidang birokrasi.

Ide Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Moh. Nuh yang mengingatkan, bahwa dalam dunia
pendidikan tak boleh ada sikap diskriminatif yang disebabkan adanya perbedaan kaya dengan miskin
akibat faktor wilayah kota dan desa sehingga seseorang kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan.
Perlu diimplentasikan dan dilaksanakan dengan segera, agar hak setiap warga negara untuk
memperoleh pendidikan yang layak dapat segera terwujud, dan dapat mendorong lembaga pendidikan
untuk mempertimbangkan kurikulum maupun metodologi yang tidak banyak mengeluarkan biaya (di
dalam Hanakristina,2010).

Selain itu membuat standar baru tentang kualitas pendidikan yang tidak saja menyentuh kemampuan
dan kreativitas siswa melainkan juga ongkos sekolah. Kriteria yang mempersyaratkan kemampuan
menampung siswa tidak mampu sekaligus kemampuan untuk mensejahterakan guru. Sekolah tidak lagi
diukur dari kemampuannya mencetak siswa yang pintar melainkan bagaimana mengajarkan siswa untuk
saling bertanggung jawab dan mempunyai solidaritas tinggi. Standar internasional tentang kemampuan
intelektual tidak akan bisa diraih dengan kondisi struktural yang masih mengalami persoalan
ketimpangan dan kesenjangan sosial.

Selain dari pada itu ada beberapa solusi yang daapat dilaksanakan, yaitu :

 Meningkatkan mutu SDM terutama Guru dalam penguasaan Bahasa Inggris dan Bahasa Asing
lainnya
 Peningkatan Mutu Guru dalam penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
 Peningkatan Mutu Manajemen sekolah dan Manajemen pelayanan pendidikan
 Peningkatan mutu sarana dan prasarana
 Penanaman nilai-nilai keteladanan
 Pengembangan budaya baca dan pembinaa perpustakaan
 Penelitian dan pengembangan pendidikan

KESIMPULAN

Globalisasi sangat erat kaitannya dengan pendidikan yang didalamnya terdapat proses yang
mempengaruhi dalam segala bidang terutama dalam ranah pendidikan, yang berimbas pada nlai-nilai
moral, sosial, budaya, dan kepribadian yang dapat berdampak positif dan negatif. Berdampak positif jika
membuat perubahan yang membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih maju, dan berdampak
negatif jika menurunkan kualitas pendidikan itu sendiri.

Globalisasi pendidikan di Indonesia ditandai dengan ambivalensi yang apabila kita mengikuti arus
globalisasi tersebut dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia setingkat dengan kualitas
pendidikan Internasional, tetapi pada kenyataannya Indonesia belum siap untuk mengikuti arus tersebut
sehingga kualitas pendidikan di Indonesia masih tertinggal, sehingga terjadinya tidak pemerataan yang
mengakibatkan kesenjangan pendidikan.

Untuk menghadapi pengaruh kuat globalisasi diperlukan kerja sama yang padu antar semua komponen
pendidikan seperti pendidik, peserta didik, keluarga, dan lingkungan. Selain itu pemerintah juga
berperan sebagai penjamin penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan merata di Indonesia
seharusnya memberikan pendidikan yang murah. Sehingga tidak ada alasan lagi anak tidak dapt sekolah
karena alasan biaya mahal.

Terlepas dari semua keuntungan yang didapat melalui era globalisasi ini. Pemerintah selayaknya tetap
waspada serta memberikan perhatian khusus terhadap dunia pendidikan agar komersialisasi dalam
dunia pendidikan tidak marak terjadi, selain itu penerapan UU serta hukum yang jelas akan sangat
membantu dalam mencipatakan sistem pendidikan yang lebih baik dan sesuai dengan norma serta nilai-
nilai luhur bangsa, sehingga dengan adanya globalisasi dampak baik dalam sistem pendidikan Indonesia
dapat dioptimalkan demi kemajuan bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Fikri. 2012. Globalisasi Pendidikan. [Online].


http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/08/globalisasi-pendidikan-371426.html diakses tanggal 2
Desember 2012

Dian, Anggara. 2011. Makalah Pengaruh Globalisasi Terhadap Kebudayaan. [Online].


http://anggaradian.wordpress.com/2011/12/30/pengaruh-globalisasi- terhadap-pendidikan-di-
indonesia/ diakses tanggal 2 Desember 2012

Kristina, Hana. 2010. Pengaruh Globalisasi Terhadap Pendidikan.


[Online]. http://hanakristina.wordpress.com/2010/03/29/dampak-globalisasi-dalam-
dunia- pendidikan/ diakses tanggal 2 Desember 2012

Prasetyo, Eko. 2005. Orang Miskin Dilarang Sekolah. Yogyakarta : Resist Book.

Rois, Nur. 2012. Kesenjangan Sosial Di Dunia Pendidikan.


[Online]. http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/11/kesenjangan-sosial-di-
dunia- pendidikan/diakses tanggal 6 Desember 2012

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/07/04/239032/293/14/Kesenjangan- Pendidikan-
Masalah-Serius-di-Indonesia diakses tanggal 6 Desember 2012.

Analisis Faktor Penyebab Terjadinya


Kesenjangan Kualitas Pendidikan di
Indonesia

Disusun Oleh:
Seftari Yuliana
Kelas : 1 BIA
Dosen Pembimbing: Dra. Wasitoh Meirani, M.Pd.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


2013

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum WR.WB.
Puji syukur senantiasa kami haturkan kepada Allah SWT. Karena berkat limpahan rahmat
dan karunia-Nya, makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Terimakasih kepada Dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan penjelasan
yang baik dalam membantu menyelesaikan makalah ini. Terimakasih pula kepada semua
sahabatku yang telah ikut membantu sehingga makalah dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah ini selain diperuntukkan dalam pemenuhan tugas mata kuliah Bahasa Indonesia,
juga berguna dalam memberikan pemahaman dan menambah pengetahuan kepada pembaca
tentang ‘Analisis Faktor Penyebab Terjadinya Kesenjangan Pendidikan di Indonesia’.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga saja makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua. Terimakasih.
Wassalamu’alaikum WR.WB.

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 1
1.2 Rumusan dan Ruang Lingkup Masalah ........................................................... 2
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan ........................................................................ 2
1.3.1 Tujuan Penulisan .............................................................................. 2
1.3.1 Manfaat Penulisan ............................................................................ 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Penelitian Terdahulu ...................................................................... 4
3.2 Definisi dan Faktor Pendidikan ..................................................... 5
3.2.1 Pengertian Pendidikan ........................................................... 5
3.3.1 Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan ................................ 6
BAB III METODE PENGUMPULAN DATA
3.1 Metode Data Primer ....................................................................... 7
3.2 Metode Data Sekunder ................................................................... 8

BAB IV PEMBAHASAN .............................................................................. 9


4.1 Faktor Internal Penyebab Terjadinya
Kesenjangan Kualitas Pendidikan di Indonesia........................... 10
4.2 Faktor Eksternal Penyebab Terjadinya
Kesenjangan Kualitas Pendidkan di Indonesia............................. 20
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan dan Saran ...................................................................... 23
5.1.1 Kesimpulan.............................................................................................. 23
5.1.2 Saran ...................................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 27

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal yang pertama dilakukan untuk meningkatkan kualitas


sumber daya manusia. Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan perilakuseseorang
atau kelompok dalam upaya mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan, proses,
cara mendidik. Kondisinya pendidikan menjadi hal yang paling sering dibahas, karena lewat
pendidikanlah sesuatu perubahan dimulai. Penciptaan generasi muda yang memiliki kemampuan
ilmu pengetahuan yang dengan ilmu pengetahuan itu dapat melakukan pembangunan di segala
bidang merupakan alasan umum mengapa pendidikan menjadi begitu penting.
Namun pada kenyataannya, pendidikan Indonesia sekarang ini menunjukkan kualitas yang
rendah. Kenyataan yang justru terjadi dengan pendidikan di negara yang begitu luas ini adalah
pendidikan tidak meluas merata ke seluruh penjuru nusantara. Di era pembangunan yang sedang
gencar-gencarnya ini, kesenjangan masih dirasakan oleh wilayah-wilayah Indonesia yang berada
jauh dari jangkauan pemerintah pusat. Wilayah Indonesia yang secara garis besar dapat dibagi
menjadi 2 kawasan yaitu kawasan barat dan kawasan timur, dimana letak pemerintahan pusat
berada di kawasan barat membuat kesenjangan dalam banyak bidang antara kawasan barat yang
dianggap sebagai pusat pemerintahan dan pusat pembangunan dengan kawasan timur Indonesia
yang cenderung sulit dijangkau dari pusat pemerintahan. Berdasarkan data terakhir Kementrian
Daerah Tertinggal, dari 183 daerah tertinggal di Indonesia, 70% berada di kawasan timur
Indonesia.
Pemerintah memang tak henti-hentinya memberikan kebijakan demi kemajuan pendidikan,
namun kebijakan demi kebijakan seakan hanya menjadi Oase ditengah padang pasir yang
kesejukannya hanya sesaat saja. Dalam praktiknya, pendidikan tetap menjadi masalah yang krusial
bagi bangsa ini. Terkhusus pendidikan di daerah 3T. tertinggal, terpencil dan terbelakang.
Terlebih, Pendidikan Indonesia semakin hari kualitasnya makin rendah. Berdasarkan Survey
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas
pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari
14 negara.
Sebenarnya pemerintah Indonesia telah lama menyadari akan pentingnya pendidikan untuk
pembangunan nasional, seperti yang ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat
1 bahwa ; “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran”, yang kemudian dirumuskan
dalam GBHN yang antara lain dikemukakan bahwa ; Titik berat pembangunan pendidikan
diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan serta perluasan kesempatan
belajar pada jenjang pendidikan menengah dalam rangka persiapan wajib belajar untuk pendidikan
menengah tingkat pertama.namun, Terdapat kesenjangan yang luar biasa besar antara cita-cita
ideal Bangsa dengan kondisi real bangsa Indonesia saat ini.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh masalah
ini, sehingga penulis tertarik untuk mengambil judul :“Analisis Faktor Penyebab
Terjadinya Kesenjangan Kualitas Pendidikan di Indonesia”

1.2Rumusan dan Ruang Lingkup Masalah


Berdasaarkan uraian pada latar belakang di atas, ada beberapa masalah yang tridentifikasi, maka
dapat dibuat rumusan masalah yaitu Apakah yang menjadi faktor penyebab terjadinya kesenjangan
kualitas pendidikan di Indonesia?.
Ruang lingkup dari pembahasan masalah makalah ini dibatasi hanya meliputi :
1.3.1 Apa yang menjadi Faktor Internal penyebab terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan di
Indonesia?.
1.3.2 Apa yang menjadi Faktor Eksternal penyebab terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan di
Indonesia?.
1.4Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan dan manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.4.1 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini untuk menganalisis faktor penyebab terjadinya kesenjangan kualitas
pendidikan di Indonesia. Faktor – faktor tersebut meliputi;
1. Faktor Internal penyebab terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia.
2. Faktor Eksternal penyebab terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia.

1.4.2 Manfaat Penulisan


Dari tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan makalah ini, maka dapat dilihat manfaat
dari penulisan ini adalah,
1. Manfaat Toritis
Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi di bidang Bahasa
Indonesia dalam hal faktor-faktor yang meneyebabkan terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan
di Indonesia.
2. Manfaat Paraktis
1. Manfaat bagi penulis, dengan adanya makalah ini, penulis dapat menerapkan dan mengembangkan
ilmu yang didapat selama penulisan, mempunyai wawasan yang luas, menimbulkan kepekaan
sosial, mampu menemukan solusi untuk mengatasi kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia,
serta mampu berkontribusi terhadap pemerintah Indonesia khususnya di bidang pendidikan.

2. Manfaat bagi lembaga, sebagai bahan referensi acuan dalam penyusunan makalah di masa yang
akan datang khususnya pada mata kuliah Bahasa Indonesia,
3. Manfaat bagi pembaca, adanya makalah ini pembaca dapat ikut berfikir dan menemukan solusi
untuk mengatasi kesenjangan kualitas pendidikan di indonesia, sehingga pembaca dapat
berkontribusi terhadap pemerintah Indonesia.
4. Manfaat bagi Pemerintah, adanya makalah ini diharapkan bisa menjadi masukan atau sumbangsi
untuk menentukan kebijakan- kebijakan pemerintah selanjutnya dalam meningkatkan kualitas
pendidikan di Indonesia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu


Penelitian ini akan menjelaskan penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan masalah
kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan penelitian sebelumnya dengan judul penelitian “Kesenjangan Pendidikan Antar
Daerah”, diperoleh kesimpulan bahwa,
kesenjangan kualitas pendidikan pada masing-masing daerah masih terjadi. Salah satu faktor
penyebabnya adalah perbedaan biaya pendidikan dan kemampuan setiap daerah dalam
menyelenggarakan pendidikan. Dalam hal ini, faktor keuangan dan pembiayaan disadari
sebagai salah satu sumber daya utama dalam menunjang efektivitas pengelolaan pendidikan
Untuk penghitungan satuan biaya pendidikan hendaknya didasarkan pada kondisi riil di masing-
masing daerah. Selain itu, perlu pula dilakukan pemetaan kondisi di berbagai daerah untuk
mengklasifikasi berbagai kelompok daerah yang memiliki kesamaan biaya unit (unit cost). (Arini
Mayan: 2011)
Penelitian serupa yang berjudul “ Peran Pendidikan dalam Pembangunan Indonesia”,
diperoleh kesimpulan bahwa,

pendidikan Indonesia sekarang ini menunjukkan kualitas yang rendah. Kualitas rendah secara garis
besar disebabkan oleh dua masalah yaitu, akses pendidikan yang kurang merata karena terdapat
persyaratan tertentu dan karena adanya kesenjangan ekonomi, serta buruknya kualitas dan
relevansi pendidikan seperti rendahnya standar kelulusan dan fungsi pengawasan terhadap
pendidikan di Indonesia.(Rizki Rama :2010).

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang tersebut di atas, maka penulis ingin meneliti ulang
mengenai kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia dengan objek dan struktur yang berbeda.

3.1 Definisi dan Faktor Pendidikan


3.1.1 Pengertian Pendidikan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik
(mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan
kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian yaitu proses pengubahan sikap
dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.
Ki Hajar Dewantara, sebagai Tokoh Pendidikan Nasional Indonesia, peletak dasar yang kuat
pendidkan nasional yang progresif untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang
merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut :

Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan
batin, karakter), pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan
bagian-bagian itu agar supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan, kehidupan dan
penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya
(Ki Hajar Dewantara, 1977:14)

Pengertian Pendidikan Menurut Beberapa Ahli

segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik


individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan
apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.
(Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 16)

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang


atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik.
(Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2002 : 263)

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan


suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU
RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1)

3.1 2 Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan


Faktor yang mempengaruhi pendidikan menurut Hasbullah (2001) adalah sebagai berikut :
1. Ideologi
Semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama khususnya hak untuk mendapatkan
pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan pendidikan.

2. Sosial Ekonomi
Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi memungkinkan seseorang mencapai
Tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

3. Sosial Budaya
Masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya pendidikan
formal bagi anak-anaknya.

4. Perkembangan IPTEK
Perkembangan IPTEK menuntut untuk selalu memperbaharui pengetahuan dan
keterampilan agar tidak kalah dengan negara maju.

5. Psikologi
Konseptual pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kepribadian
individu agar lebih bernilai.

BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA

1.1 Metode Penelitian


Dalam makalah ini penulis menggunakan dua macam metode pengumpulan data menurut
klasifikasi jenisnya dan sumbernya, yaitu :
1.2 Metode Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat untuk
pertama kalinya (Marzuki, 2005). Data primer yang digunakan dalam makalah ini yaitu,
a. Metode Kuesioner ( Angket )
Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada responden untuk menggali data
sesuai dengan permasalahan penelitian. Menurut Masri Singarimbum, pada penelitian survai,
penggunaan angket merupakan hal yang paling pokok untuk pengumpulan data di lapangan. Hasil
kuesioner inilah yang akan diangkakan (kuantifikasi), disusun tabel-tabel dan dianalisa secara
statistik untuk menarik kesimpulan penelitian.
Tujuan pokok pembuatan kuesioner adalah (a) untuk memperoleh informasi yang relevan
dengan masalah dan tujuan penelitian, dan (b) untuk memperoleh informasi dengan reliabel dan
validitas yang tinggi. Hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti dalam menyusun kuesioner,
pertanyaan-pertanyaan yang disusun harus sesuai dengan hipotesa dan tujuan penelitian.
Ditinjau dari segi cara pemakain kuesioner, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh peneliti,
antara lain:
1) Kuesioner digunakan dalam wawancara tatap muka dengan responden
2) Kuesioner diisi sendiri oleh responden
3) Wawancara melalui telepon
4) Kuesioner dikirim melalui pos
b. Metode Interview ( Wawancara )
Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan tanya jawab langsung kepada
pihak-pihak yang terkait dan berhadapan langsung dengan informan.

1. Metode Data Sekunder


Data Sekunder Data sekunder adalah data yang bukan di usahakan sendiri pengumpulannya
oleh peneliti (Marzuki, 2005). Data sekunder diperoleh dari berbagai bahan pustaka, baik berupa
buku, jurnal-jurnal dan dokumen lainnya yang ada hubungannya dengan materi kajian yaitu
kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan metode pengumpulan data di atas, maka penulis menggunakan metode
pengumpulan data yaitu,
a. Studi Pustaka/Literatur
Metode pengumpulan data dengan teknik studi pustaka/literatur dilaksanakan dengan
melakukan pencarian terhadap berbagai data sekunder mengenai informasi terkait
kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia. Tujuan utama dilakukannya studi pustaka
adalah untuk memperoleh bahan yang dapat menunjang dan memperkuat makalah
terkait faktor terjadinya kesenjangan kualitas Pendidikan.
Adapun data sekunder diperoleh dalam studi pustaka/literatur ini adalah:
( ) Hasil-hasil kajian/penelitian yang berkenaan dengan faktor penyebab terjadinya kesenjangan
kualitas pendidikan di Indonesia.
(a) Jurnal-jurnal ilmiah, majalah, dan makalah tentang faktor penyebab terjadinya kesenjangan
kualitas pendidikan di Indonesia.
(b) Buku dan sejenisnya mengenai profil, program dan hasil-hasil kebijakan pemerintah dalam
mengatasi kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia.

b. Studi Dokumentasi
Yaitu dengan cara memperoleh data melalui pengkajian dan penelaahan catatan penulis maupun
dokumen dokumen yang berkaitan dengan masalah- masalah yang diteliti.

BAB IV
PEMBAHASAN

Keseriusan pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan nasional tampak cukup


menjanjikan ketika ditetapkan alokasi anggaran sebesar 20,2 % setelah menteri pendidikan
Muhammad Nuh menaikkan anggaran sebesar 0,2 % di awal tahun 2011. Berbagai
program telah dilaksanakan,seperti dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan beasiswa
dengan beragam klasifikasi. Namun, apa yang kita lihat, mulai dari tingginya biaya
pendidikan sampai banyaknya anak jalanan yang sama sekali “tidak memiliki harapan untuk
mendapatkan pendidikan. Justru yang terjadi sekarang ini,kualitas pendidikan di Indonesia
semakin terpuruk, pendidikan menjadi angan-angan yang tinggi bagi mereka yang tidak mampu.
Hingga saat ini memang belum terjadi pemerataan pendidikan, baik dari segi tenaga
pengajar, fasilitas sarana prasarana, sampai siswa-siwanya yag kelak menjadi generasi penerus
bangsa. Sekolah yang kualitasnya bagus karena memiliki pengajar yang kompeten, fasilitas
lengkap, dan siswa-siswanya cerdas akan semakin bagus. Sedangkan sekolah yang kualitasnya
sedang justru sebaliknya. Sekolah yang kualitasnya sedang atau kurang bagus akan menjadi
bertambah buruk. Sudah tenaga pengajarnya kurang kompeten, fasilitasnya kurang, siswa-
siswanya juga kurang secara akademis menurut Prof. Eko Budihardjo (dalam
www.mediaindonesia.com).
“Sekolah yang kualitasnya sedang atau kurang bagus akan menjadi bertambah
buruk. Sudah tenaga pengajarnya kurang kompeten, fasilitasnya kurang, siswa-siswanya juga
kurang secara akademis,” katanya.
Dalam bab ini penulis akan membahas mengenai analisis faktor penyebab
terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia. Dimana bangsa Indonesia saat ini
mengalami rendahnya kualitas pendidikan di banding dengan negara-negara berkembang lainnya.
Dan pastinya mempunyai banyak faktor penyebab terjadinya kesenjangan itu, baik faktor internal
maupun internal dunia pendidikan

Adapun faktor penyebab terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia sebagai


berikut ;

I. Faktor internal penyebab terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia

1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik


Dilihat dari gambar di atas, sangat nampak sekali kesenjangan pendidikan di
Indonesia ini. Kualitas pendidikan di desa Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan
perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah,
buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi
informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki
gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan bahkan belajar di
tempat yang tidak layak dan sebagainya.
Sarana pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan
di Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah terbelakang. Namun, bagi penduduk di daerah
terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup dan
kerja. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara normal seperti
kebanyakan siswa pada umumnya, antara lain guru dan sekolah.
Dibandingkan dengan kualitas sarana fisik yang ada di kota-kota besar, mereka
memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai, mulai dari bangunan yang mewah, penggunaan media
belajar yang lengkap, laboratorium, perpustakaan,dan sebagainya.
Bagaimana siswa bisa meningkatkan prestasi belajar mereka, sedangkan
kondisi secara fisik tidak mendukung. Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk
satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258
ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik,
299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami
kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi
MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA,
dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.

2. Rendahnya Kualitas Guru

Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini
terbukti dari kualitas guru, sarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentuya punya harapan
terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini
kurang kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau
kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru.
Selain berpengalaman mengajar murid, mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai
pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru. Jika fenomena ini dibiarkan
berlanjut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru
berpengalaman yang pensiun.
Selain rendahnya kualitas sarana fisik, Keadaan guru di Indonesia juga amat
memprihatinkan. Khususnya di daerah-daerah terpencil. Kebanyakan guru belum memiliki
profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39
UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan
melakukan pengabdian masyarakat. Dibandingkan pengajar di kota-kota besar, mayoritas
pengajar di kota sudah mendapatkan sertifikasi dan lulusan dari luar negeri.
Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar.
Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan
pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk
SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta),
serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).
Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data
Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang
berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs
baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah,
dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi,
dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).
Pemerintah khususnya departemen pendidikan nasional,mewajibkan guru-guru disekolah
dasar hingga ke sekolah lanjutan tingkat atas,harus berpendidikan minimal,S1 strata sarjana,untuk
meningkatkan mutu,dan juga mewajibkan guru,ikut profesi sertifikasi guru sebagai bukti guru
tersebut mempunyai kapabilitas.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan
tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas,
tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung
jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat
kesejahteraan guru.
3. Faktor Infrastruktur
Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu faktor utama yang
mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. Dengan adanya kerusakan sarana dan
prasarana ruang kelas dalam jumlah yang banyak, maka proses pendidikan tidak dapat berlangsung
secara efektif.
Aspek sarana dan prasarana yang berkaitan dengan tercapainya pendidikan tidak
hanya jumlah dan kondisi gedung sekolah atau tempat-tempat pendidikan, tetapi juga akses
menuju tempat pendidikan tersebut yang dalam hal ini berupa kondisi jalan sehingga menghambat
penyaluran bantuan dari pemerintah seperti buku-buku pelajaran ke daerah yang sulit dijangkau.
4. Jumlah dan Kualitas Buku Yang Belum Memadai
Ketersediaan buku yang berkualitas merupakan salah satu prasarana pendidikan yang
sangat penting dibutuhkan dalam menunjang keberhasilan proses pendidikan. Sebagaimana dalam
PP No 19/2005 tentang SNP dalam pasal 42 tentang Standar Sarana dan Prasarana disebutkan
bahwa setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan
pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta
perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan
berkelanjutan (ayat 1).
Secara teknis, pengadaan buku pelajaran di sekolah tidak lagi boleh dilakukan oleh sekolah
dengan menjual buku-buku kepada siswa secara bebas, melainkan harus sesuai dengan buku
sumber yag direkomendasikan oleh pemerintah
5. Mahalnya Biaya Pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi
mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan.
Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT)
membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin
tidak boleh sekolah.
Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan
pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada
realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite
Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur
pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah
Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite
Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi
pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah.
Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun
hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan
pendidikan rakyatnya.selain itu, mahalnya biaya pendidikan menyebabkan banyaknya anak putus
sekolah karena tidak mampu menjangkau biaya yang tinggi,.

6. Keterbatasan Anggaran
Ketersediaan anggaran yang memadai dalam penyelenggaran pendidikan sangat
mempengaruhi keberlangsungan penyelenggaraan tersebut. Ketentuan anggaran pendidikan
tertuang dalam UU No.20/2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 49 tentang Pengalokasian Dana
Pendidikan yang menyatakan bahwa Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan
kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada
sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) (ayat
1).
Permasalahan lainnya yang juga penting untuk diperhatikan adalah alasan
pemerintah untuk berupaya merealisasikan anggaran pendidikan 20% secara bertahap karena
pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk mengalokasikan 20% secara sekaligus dari
APBN/APBD. Padahal kekayaan sumber daya alam baik yang berupa hayati, sumber energi,
maupun barang tambang jumlahnya melimpah sangat besar. Tetapi karena selama ini
penanganannya secara kapitalistik maka return dari kekayaan tersebut malah dirampas Oleh para
ahli pemilik modal sehingga pemabnagunan di daerah daerah menjadi tidak merata dan timbullah
kesenjangan.
7. Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan
kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal
pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah.
Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya
berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari
44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia
dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP)
juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia
melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan
ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-
negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.
Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata
mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini
mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
Sebagai gambaran rendahnya prestasi siswa di Indonesia ditunjukkan dengan
sample angka ketidaklulusan yang meningkat per tahun.
Tabel 6 : Daftar Ketidaklulussan SMA/MATahun Pelajaran 2006/2007
di Provinsi Sumatera Selatan
Jumlah Program IPA Jumlah Program IPS

No Kabupaten/Kota Tidak Tidak


Peserta % Peserta %
Lulus Lulus

1 Palembang 7332 20 0.27 10788 150 1.39

2 Musi Banyuasin 708 5 0.71 1501 75 5.00

3 OKI 1029 12 1.17 1405 23 1.64

4 OKU 881 6 0.68 1544 122 7.90

5 Muara Enim 1287 19 1.48 2152 22 1.02

6 Lahat 1389 2 0.14 2765 30 1.08

7 Musi Rawas 845 3 0.36 958 3 0.31

8 Prabumulih 678 63 9.29 722 84 11.63

9 Pagaralam 498 2 0.40 710 28 3.94

10 Lubuklinggau 962 1 0.10 1285 5 0.39

11 Banyuasin 886 0 0.00 1639 53 3.23

12 Ogan Ilir 670 3 0.45 1136 11 0.97

13 OKU Timur 882 21 2.38 1799 95 5.28

14 Empat Lawang

15 OKU Selatan 499 8 1.60 862 21 2.44

SUMATERA
18546 165 0.89 29266 722 2.47
SELATAN

Sumber : Balai Teknologi dan Komunikasi Dinas Diknas Prov. Sumsel

Tabel 7 : Daftar Ketidaklulusan SMA/MATahun Pelajaran 2007/2008

di Provinsi Sumatera Selatan


Jumlah Program IPA Jumlah Program IPS

No Kabupaten/Kota Tidak Tidak


Peserta % Peserta %
Lulus Lulus

1 Palembang 6721 64 0.95 10266 106 1.03

2 Musi Banyuasin 831 0 0.00 1637 72 4.40

3 OKI 1287 1 0.08 1369 67 4.89

4 OKU 988 14 1.42 1649 113 6.85

5 Muara Enim 1465 1 0.07 2142 39 1.82

6 Lahat 1021 4 0.39 2109 16 0.76

7 Musi Rawas 859 3 0.35 1229 28 2.28

8 Prabumulih 520 23 4.42 815 61 7.48

9 Pagaralam 479 3 0.63 752 14 1.86

10 Lubuklinggau 992 0 0.00 1240 2 0.16

11 Banyuasin 809 6 0.74 1719 34 1.98

12 Ogan Ilir 776 3 0.39 1133 13 1.15

13 OKU Timur 1067 9 0.84 2003 50 2.50

14 Empat Lawang 479 8 1.67 878 11 1.25

15 OKU Selatan 598 0 0.00 943 134 14.21

SUMATERA
18892 139 0.74 29884 760 2.54
SELATAN

Sumber : Balai Teknologi dan Komunikasi Dinas Diknas Prov. Sumsel

8. Efektifitas Pendidikan Di Indonesia


Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan
peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai
dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut
untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.
Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi
formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil
pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang
yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang
menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunyai
kelebihan dibidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat
dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.
Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan
dibidang sosial dan dipaksa mengikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas
pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang
sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan
sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas
pendidikan di Indonesia.

9. Efisiensi Pendidikan Di Indonesia


Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses
yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan
untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah
yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya,
hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya
pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain
yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh
dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.
Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah,
training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga
berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang
ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri,
memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak
hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain
sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang
mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu
dengan bayaran untuk pendidik tersebut.
Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu
pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat kita lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia
relative lebih lama jika dibandingkan negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah
misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri
sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati lagi, peserta didik
yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak
peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan
sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga,
karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal
yang dinilai kurang.
Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada
kompetensinya. Misalnya saja, pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa, namun
di mengajarkan keterampilan, yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal-tersebut benar-benar
terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah pendidik
tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan
menbuat tertarik peserta didik.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994,
kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses
pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga
mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga
menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti
kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang
dinilai lebih efektif.
Konsep efisiensi akan tercipta jika keluaran yang diinginkan dapat dihasilkan secara optimal
dengan hanya masukan yang relative tetap, atau jika masukan yang sekecil mungkin dapat
menghasilkan keluaran yang optimal. Konsep efisiensi sendiri terdiri dari efisiensi teknologis dan
efisiensi ekonomis. Efisiensi teknologis diterapkan dalam pencapaian kuantitas keluaran secara
fisik sesuai dengan ukuran hasil yang sudah ditetapkan. Sementara efisiensi ekonomis tercipta jika
ukuran nilai kepuasan atau harga sudah diterapkan terhadap keluaran
10. Standarisasi Pendiidkan di Indonesia
Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara
tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk
menentukan standar yang akan diambil.Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan
kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar
dan kompetensi.
Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi,
demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan
kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).
Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di
Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi
misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami
sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik
mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta
didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlanhsug
sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi
lain yang telah didikuti oleh peserta didik.
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas
di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita.
Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar
permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat
memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.
Selain beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di atas, berikut ini akan dipaparkan pula
secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
11. RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional)
Suatu negara bisa dikatakan maju apabila dinegara suatu pendidikan teratur dan
maju,maka akan timbulnya suatu kesejahteraan pada negara tersebut (richardd,university mc gill).
Kebijakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) justru menciptakan kesenjangan mutu
dan layanan pendidikan. Padahal, pemerintah semestinya memperjuangkan kesetaraan mutu dan
layanan pendidikan bagi semua anak bangsa. "Dalam UUD 1945 jelas disebutkan bahwa
pendidikan adalah hak warga negara. Karena itu, mutu pendidikan yang baik bukan hanya untuk
sekelompok orang, tetapi untuk semua anak bangsa," ujar Psikolog Sosial Universitas Indonesia
Bagus Takwin selaku saksi ahli pemohon uji materi pasal 53 ayat 3 Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional di Mahkamah Konstitusi (MK) Jakarta, Rabu (2/5/2012). Sidang dengan
agenda mendengarkan saksi dari pemohon dan pemerintah ini dipimpin Ketua MK Mahfud MD.
Dalam literatur psikologi pendidikan, lanjut Bagus, anak-anak justru berkembang
lebih baik jika terjadi interaksi dan dialog dengan guru dan siswa yang berbeda-beda. Dengan
demikian, anak-anak pintar bisa berbagi, sedangkan anak-anak yang kurang pintar bisa belajar
untuk meningkatkan diri. jika anak-anak bangsa sudah dikotak-kotakkan berdasarkan kelompok
kecerdasan ataupun kondisi ekonomi lewat sekolah, generasi muda Indonesia akan terbiasa
berpikir bahwa ketidakadilan dan kesenjangan merupakan hal yang biasa. Dalam kebijakan
pendidikan, pemerintah semestinya menutup celah anak-anak bangsa tertinggal jauh dari anak-
anak lainnya.

II. Faktor Eksternal penyebab terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia


1. Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas
pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada
pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah.
Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu,
dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu,
terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan.
Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang
ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya
(Republika, 13 Juli, 2005). Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru
dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di
dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai,
antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau
tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya.
Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah
dinas. Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul.
Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal.
Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan
Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru
dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006) .
2. Laju Pertumbuhan Penduduk
Masalah kependudukan dan kepribadian bersumber pada dua hal :
a. Pertambahan penduduk
b. Penyebaran penduduk
a. Dengan bertambahnya penduduk, maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta
komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus ditambah. Dengan demikian terjadi
pergeseran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjut cendrung lebih
meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekolah dasar.
b. Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata, sebaran penduduk yang seperti
digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan prasarana dan sarana pendidikan.
3. Keterbelakangan Budaya dan Saran Kehidupan
Keterbelakangan budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat
(yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya.
Perubahan kebudayaan terjadi karena adanya penemuan baru dari luar maupun dari dalam
lingkungan masyarakat sendiri. Keterbelakangan itu terjadi karena :
•Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat
• Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budaya baru karena tidak dipahami
atau karena dikhwatirkan akan merusak sendi masyarakat.
• Ketidak mampuan masyarakat secara ekonomis, menyangkut unsur kebudayaan
tersebut.
• Masyarakat daerah terpencil
•Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis
• Masyarakat yang kurang terdidik.
Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang kebudayaannya
tidak ikut berperan dalam pembangunan sebab mereka tidak mempengaruhi dorongan untuk maju.
Mereka sulit untuk menerima arus globalisasi. Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa
pemerataan pendidikan belum juga terlaksana.
4. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data
Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen
Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun
1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka
Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu
layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini
nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh
karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi
masalah ketidakmerataan tersebut.

5. Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan


Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS
(1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang
dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%,
sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-
masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas
1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup
sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil
pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional
terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis pada bab pembahasan, penulis dapat menarik kesimpulan, bahwa

Faktor Penyebab Terjadinya Kesenjangan Kualitas Pendidikan di Indonesia tidak hanya dari faktor

internal namun juga dari faktor eksternal yang berdampak secara signifikan terhadap peningkatan

kualitas pendidikan di Indonesia. Banyak sekali faktor yang menjadikan rendahnya kualitas

pendidikan di Indonesia. Faktor-faktor yang bersifat teknis diantaranya adalah rendahnya kualitas

guru, rendahnya sarana fisik, mahalnya biaya pendidikan, rendahnya prestasi siswa, rendahnya

kesejahteraan guru, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, kurangnya pemerataan

kesempatan pendidikan. Namun sebenarnya yang menjadi masalah mendasar dari pendidikan di

Indonesia adalah sistem pendidikan di Indonesia itu sendiri yang menjadikan siswa sebagai objek,

sehingga manusia yang dihasilkan dari sistem ini adalah manusia yang hanya siap untuk memenuhi

kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Maka disinilah dibutuhkan

kerja sama antara pemerintah dan mesyarakat untuk mengatasi segala permasalahan pendidikan di

Indonesia.

5.1.2 Saran
Permasalahan aktual berupa kesenjangan-kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi
dan terasa mendesak untuk ditanggulangi beberapa masalah aktual pendidikan yang
akan dikemukakan aktual pendidikan ada yang mengenai konsep dan ada yang
mengenai pelaksanaannya.
Masalah aktual tersebut antara lain :
a. Masala keutuhan pencapaian sasaran
b. Masalah kurikulum
c. Masalah
d. Peranan guru
e. Masalah pendidikan 9 tahun
f. Hambatan lainnya berasal dari sambutan masyarakat.
Utamanya dari orang tua/kalangan orang yang kurang mampu, mereka mungkin
cenderung untuk tidak menyekolahkan anaknya karena harus membiayai anaknya lebih
lama.
Berdasarkan kesimpulan, maka saran yang dapat penulis berikan untuk
memberikan sumbangsi terhadap kebijakan pemerintah selanjutnya adalah sebagai
berikut :
Upaya penanggulangan
a. Pendidikan efektif perlu ditingkatkan secara terprogram tidak cukup berlangsung
hanya secara incidental.
b. Pelaksanaan KO dan ekstrakurikuler dikerjakan dengan penuh kesungguhan dan
hasilnya diperhitungkan dalam menetapkan nilai akhir ataupun perlurusan untuk itu,
perlu dikaitkan dengan pemberian insentif oleh guru.
c. Pemilihan siswa kelas atas kelompok yang akan melanjutkan belajr keperguruan
tinggi dengan yang akan tertuju kepada masyarakat merupakan hal yang prinsip,
karena pada dasarnya tidak semua siswa secara personal maupun belajar diperguruan
tinggi.
d. Pendidikan tenaga kependidikan (perjabatan dan jabatan) perlu diberi perhatian
khusus, oleh karena itu, tenaga kependidikan khususnya guru menjadi penyebab
lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas untuk pembangunan.
e. Diperlukan asas dalam mengelola daerah yang meliputi desentalisasi pelayanan
publik/rakyat dan dekonsentrasi. Untuk memudahkan pelayanan pendidikan kepada
rakyat/publik, otonomi daerah dapat digunakan. Otonomi daerah merupakan
kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan. Dengan adanya otonomi daerah, akan tercipta suatu
otonomi pendidikan yang mampu mengatur sistem pendidikan di suatu daerah sesuai
dengan kebutuhan daerah masing-masing.
g. Sementara itu, di daerah yang terpencil, masih banyak anak yang masih belum mendapatkan
pendidikan dengan baik karena kekurangan guru, ruang kelas yang tidak layak dan akses ke
sekolah yang sulit ditempuh. Jangankan untuk mengembangkan sistem pendidikan di sekolah,
untuk memperbaiki gedung saja dananya tidak ada. Jika hanya mengandalkan perhatian
pemerintah pusat, keadaan ini akan terus berlangsung. Oleh karena itu perlu adanya otonomi
pendidikan di daerah.
h. Pengembangan sistem perencanaan berdasarkan kebutuhan dan ketersediaan pendidik dan tenaga
kependidikan;
i. Pengembangan sistem dan mekanisme rekrutmen dan penempatan pendidik dan tenaga
kependidikan yang merata secara geografis, tepat jumlah, tepat kualifikasi/keahlian, dan gender.
j. Peningkatan jumlah pendidik di wilayah/daerah yang kekurangan
Seperti pengaturan mekanisme penempatan dan redistribusi guru, penambahan guru
baru, perubahan status pendidik dari satu jenjang ke jenjang lain, integrasi guru/tutor
mata pelajaran sejenis, pola insentif guru di daerah terpencil, memberikan bantuan bagi
guru tidak tetap (GTT) swasta, pengawas/penilik/pamong belajar, dan guru daerah
terpencil.
k. Perluasan jurusan LPTK pada bidang yang masih kekurangan seperti guru MIPA, Bahasa Inggris
dan teknologi kejuruan;
l. Penambahan jumlah tenaga kependidikan secara proporsional
Seperti pengawas sekolah, penilik, pegawai tata-usaha, laboran, pustakawan,
pengembang sumber belajar, arsiparis, operator komputer, dsb, melalui penambahan
tenaga baru, penempatan tenaga non-kependidikan menjadi tenaga kependidikan di
sekolah atau lembaga pendidikan lain
m. Pemberian disinsentif pada pendidik yang melanggar etika profesi.
Dalam rangka pemerataan dan perluasan akses, dilakukan pengadaan guru. Untuk
meningkatkan daya tarik penempatan guru di daerah-daerah sulit, perlu dibentuknya
suatu program penataran (upgrading) bagi guru-guru yang sudah ada (SD/MI) agar
mereka memiliki kesempatan untuk mengajar di SMP atau sekolah-sekolah layanan
khusus pada SMP Khusus.
n. Pengembangan pola manajemen pendidik dan tenaga kependidikan yang mandiri dan berbeda
dengan pola manajemen birokratis.
Pola manajemen ini diharapkan akan dapat mereposisi guru dari posisi periperal, yaitu
posisi di kawasan pinggiran atau terpinggirkan, menuju posisi sentral, memberikan
perlindungan hukum yang pasti dalam profesi, kesejahteraan, jaminan sosial, hak dan
kewajiban.

DAFTAR PUSTAKA

Indah, Rahmawati. 2012. “ Problematika Kesenjangan Pedidikan Akibat Dampak Globalisasi”,


Universitas Sriwijaya. Palembang.

Rama, Rizky dkk. 2011. “ Kesenjangan Pendidikan Antar Daerah”.Universitas Sebelas Maret.
Solo

Kasim, Meilani. 2010. “ Faktor Penyebab Kesenjangan Pendidikan”. Tidak diterbitkan. Jakarta.

Semiawan, Conny R,. Dan Soedijarto, 1991. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan
Nasional Menjelang Abad XXI, PT. Grasindo, Jakarta

Anonim, 1998, Upaya Perintisan Peningakatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (paper kerja),
Depdikbud, Jakarta

Danim, Sudarwan. 2008. Media komunikasi Pendidikan. Bumi Aksara : Jakarta.

Mudyahardjo, Redja. 2001. Pengantar Pendidikan. Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Tirtarahardja, Umar dan La Sula. 2000. Pengantar Pendidikan. Rhineka Cipta : Jakarta.

http://tappkipmkng.wordpress.com./2007/05/03.Pemerataan Pendidikan.
http://roron.wordpress.com./2007/11/14.Pemerataan Pendidikan.

Soekidjo Notoatmodjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta
: Balai Pustaka.
Danim, Sudarwan. 2008. Media komunikasi Pendidikan. Bumi Aksara : Jakarta.

Mudyahardjo, Redja. 2001. Pengantar Pendidikan. Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Tirtarahardja, Umar dan La Sula. 2000. Pengantar Pendidikan. Rhineka Cipta : Jakarta.

sayapbarat.wordpress.com/2007/08/29/masalah-pendidikan-di-indonesia. Tanggal Akses


Desember 2012.

_______.Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan


Nasional. Internet available from http://www.geocities,com/frans_98/uu/uu_20_03.htm. Accesed
on April 10th 2008