Anda di halaman 1dari 6

Aliran-Aliran Pendidikan

By Abied, 02/06/2010

Gagasan dan pelaksanaan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan dinamika manusia
dan masyarakatnya. Sejak dulu, kini, maupun di masa depan pendidikan itu selalu mengalami
perkembangan seiring dengan perkembangan sosial-budaya dan perkembangan IPTEK.

Aliran Klasik Dan Gerakan Baru Dalam Pendidikan

Aliran-aliran klasik yang meliputi aliran empirisme, nativisme, naturalism dan konvergensi
merupakan benang-benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan
masa lalu, kini dan mungkin yang akan datang. Aliran-aliran itu mewakili berbagai variasi
pendapat tentang pendidikan, mulai dari yang paling pesimis sampai dengan yang paling
optimis. Aliran yang paling pesimis memandang bahwa pendidikan kurang bermanfaat,
bahkan mungkin merusak bakat yang telah dimiliki anak. Sedang sebaliknya, aliran yang
sangat optimis memandang anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati.
Banyak pemikiran yang berada di antara kedua kutub tersebut, yang dapat dipandang sebagai
variasi gagasan dan pemikiran dalam pendidikan.

Aliran-aliran klasik dalam pendidikan dan pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan di


Indonesia

Manusia merupakan makhluk yang misterius, yang mampu menjelajah angkasa luar, tetapi
angkasa dalam nya masih belum cukup terungkap; minimal para pakar dari ilmu-ilmu
perilaku cenderung berbeda pendapat tentang berbagai hal mengenai perilaku manusia itu.
Dalam paparan tentang landasan psikologi telah dikemukakan perbedaan, bahkan
pertentangan psiko-edukatif, utamanya teori kepribadian. Sehubunga dengan kajian tentang
aliran-aliran pendidikan, perbedaan pandangan itu berpangkal pada perbedaan pandangan
tentang perkembangan manusia itu. Terdapat perbedaan penekanan di dalam sesuatu teori
kepribadian tertentu tentang faktor manakah yang paling berpengaruh dalam perkembangan
kepribadian.

Perbedaan pandangan tentang faktor dominan dalam perkembangan manusia tersebut di atas
yang menjadi dasar perbedaan pandangan tentang peran pendidikan terhadap manusia, mulai
dari yang paling pesimis sampai yang paling optimis itu. Aliran-aliran itu pada umumnya
mengemukakan satu faktor dominan tertentu saja, dan dengan demikian, mengajukan gagasan
untuk mengoptimalisasikan faktor tersebut untuk mengembangkan manusia.

Aliran empirisme

Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1632-1704)
yang mengembangkan teori Tabula rasa anak lahir di dunia bagaikan meja lilin atau kertas
putih yang bersih. Pengalaman empiric yang dipoerleh dari lingkungan yang berpengaruh
besar dalam menentukan perkembangan anak. Menurut pandangan empirisme (biasa pula
disebut environtalisme) pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab pendidikan
dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai
pengalaman-pengalaman. Pengalaman-pengalaman itu dapat membentuk perilaku yang
sesuai dengan tujuan pendidikan.
Aliran nativisme

Aliran nativisme bertolak dari Leibnitrian tradition yang menekankan kemampuan dalam diri
anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap
perkembangan anak. Hasil perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah
diperoleh sejak kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan
perkembangan anak, karena hasil pendidikan tergantung pada pembawaan. Schoompnheaur
(filsuf Jerman 1788-1860) berpendpat bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik
dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan
yang sudah dibawah sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini maka keberhasilan pendidikan
ditentukan oleh anak akan menjadi jahat, dan yang baik akan menjadi baik. Pendidikan yang
tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk
perkembangan anak sendiri. Istilah nativisme dari asal kata natives yang artinya adalah
terlahir. Bagi nativisme, lingkungan sekitar dalam mempengaruhi perkembangan anak.
Penganut pandangan ini menyatakan bahwa kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka
dia akan menjadi jahat, sebaliknya, kalau anak mempunyai pembawaan baik maka dia akan
baik. Pembawaan buruk dan baik ini tidak dapat diubah kekuatan dari luar.

Aliran naturalism

Pandangan yang ada persamaan dengan nativisme adalah aliran naturalism yang dipelopori
oleh seorang filsuf Prancis J.J. Rousseau (1712-1778). Berbeda dengan Schopenhauer,
Rosseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik,
dan tidak satupun dengan pembawaan buruk. Namun pembawaan baik itu akan menjadi rusak
karena dipengaruhi oleh lingkungan. Rosseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang
diberikan orang dewasa malahan dapat merusak pembawan anak yang baik itu. Aliran ini
juga disebut negativism, karena berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan
pertumbuhan anak didik dan diserahkan saja pada alam. Jadi dengan kata lain pendidikan
tidak diperlukan. Yang dilaksankan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar
pembawaan yang baik itutidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan
kegiatan pendidikan itu. J.J. Rausseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan
masyarakat yang serba dibuat-buat sehingga kebaikan anak-anak yang diperoleh secara
alamiah sejak saat kelahirannya itu dapat berkembang secara spontan dan bebas. Ia
mengusulkan perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan
pembawaanya, kemampuannya, dan kecenderungannya. Pendidikan harus dijauhkan dalam
perkembangan anak karena hal itu berarti dapat menjauhkan anak dari segala hal yang
bersifat berbuat-buat dan dapat membawa anak kembali kea lam untuk mempertahankan
segala yang baik. Seperti diketahui, gagasan naturalism yang menolak campur tangan
pendidikan, sampai saat ini malahan terbukti sebaliknya pendidikan makin lama makin
diperlukan.

Aliran konvergensi

William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa
seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk. Penganut
aliran ini berpendapat bahwa ldama proses perkembangan anak, baik faktor pembawan
maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang
dibawa pada waktu lanir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan
lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya lingkungan yang baik
tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak
tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk pengembangan itu. Sebagai contoh pada
hakikatnya kemampuan anak manusia berbahasa dengan kata-kata, adalah juga hasil
konvergensi. Pada anak manusia ada pembawana untuk berbicara dan melalui situasi
lingkungannya anak belajar berbicaradalam bahasa tertentu. Lingkungan pun mempengaruhi
anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya. Karena itu anak manusia mula-
mula menggunakan bahasa lingkungannya.

Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi artinya memusatkan kesatu titik. Jadi
menurut teori konvergensi:

1) Pendidikan mungkin dilaksanakan

2) Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik
untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang
buruk.

3) Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

1. Pengaruh aliran klasik terhadap pemikiran dan peraktek pendidikan di Indonesia

Meskipun dalam hal-hal tertentu sangat diutamakan bakat dan potensi lainnya dari anak,
namun upaya penciptaan lingkungan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan itu
diusahakan pula secara optimal. Dengan kata lain, meskipun peranan pandangan empirisme
dan nativisme tidak sepenuhnya ditolak, tetapi penerimaan itu dilakukan dengan pendekatan
eksistis fungsional yakni diterima sesuai dengan kebutuhan, namun di tempatkan dalam latar
pandangan yang konvergensi seperti telah dikemukakan, tumbuh-kembang, manusia
dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni hereditas, dan anugerah. Faktor terakhir itu
merupakan pencerminan pengakuan atas adanya kekuasaan yang ikut menentukan nasib
manusia (Sulo lipu la sulo, 1981: 30-46).

Gerakan baru dalam pendidikan dan pengaruhnya terhadap pelaksanaan pendidikan di


Indonesia

Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang kompleks menuntun pengangan untuk meningkatkan
kualitasnya, baik yang bersifat menyeluruh maupun pada beberapa komponen tertentu saja.
Gerakan-gerakan baru dalam pendidikan anak harus bersifat subjektif dan objektif. Dari
penelitian secara tekun, Declory menyumbangkan dua pendapat yang sangat berguna bagi
pendidikan dan pengajaran, yang merupakan dua hal yang khas dari Declory, yaitu:

Metode global (keseluruhan)

Dari hasil yang didapat dari observasi dan tes, dapatlah ia menetapkan, bahwa anak-anak
mengamati dan mengingat secara global (keseluruhan). Keseluruhan lebih dulu daripada
bagian-bagian. Jadi ini berdasar atas prinsip psikologi Gestlat. Dalam mengajarkan membaca
dan menulis, ternyata dengan mengajarkan kalimat lebih mudah diajarkan daripada huruf-
huruf secara tersendiri. Metode ini bersifat ideo visual sebab arti sesuatu kata ini yang
diajarkan itu selalu diasosiasikan dengan tanda tulisan atau suatu gambar yang dapat dilihat.

Centre d’internet (pusat minat)


Dari penyelidikan psikologik, ia menetapkan bahwa anak-anak mempunyai minat yang
spontan (sewajarnya). Pengajaran harus disesuaikan dengan minat-minat spontan tersebut.
Sebab apabila tidak, yaitu misalnya minat yang ditimbulkan oleh guru, maka pengajaran itu
tidak akan banyak hasilnya. Anak mempunyai pengajaran itu tidak akan banyak hasilnya.
Anak mempunyai minat-minat spontan terhadap diri sendiri dan terhadap masyarakat (bio
sosial). Minat terhadap diri sendiri itu dapat kita bedakan menjadi; a) dorongan
mempertahankan diri, b) dorongan mencari makan dan minum dan c) dorongan memelihara
diri. Sedangkan minat terhadap masyarakat ialah a) doorngan sibuk (bermain-main), b)
doorngan meniru orang lain.

Dorongan-dorongan inilah yang digunakan sebagai pusat-pusat minat. Sedangkan pendidikan


yang digunakan sebagai pusat-pusat minat. Sedangkan pendidikan dan pengajaran harus
selalu dihubungkan dengan pusat-pusat minat tersebut.

Gerakan pengajaran pusat perhatian tersebut telah mendorong berbagai upaya agar kegiatan
belajar mengajar berbgai upaya gar dalam kegiatan belajar mengajar diadakan berbagai
variasi (cara mengajar dll) agr perhatian siswa tetap terpusat pada bahan ajaran. Ajaran
selanjutnya atau mata pelajaran yang lain harus dipusatkan atas mata pelajaran sebelumnya.

Haruslah diadakan perjalanan memasuki hidu senyatanya. Kesemua jurusan agar murid
faham akan hubungan antara bermacam-macam lapangan dalam hidupnya (pengajaran
alam sekitar).

Pokok-pokok pendapat pengajaran alam sekitar tersebut telah banyak dilakukan di sekolah,
baik dengan peragaan, penggunan bahan local dalam pengajaran dan lain-lain. Seperti telah
dikemukakan bahwa beberapa tahun terakhir ini telah ditetapkan adanya muatan local dalam
kurikulum, termasuk penggunaan alam sekitar. Dengan muatan local tersebut diharapkan
anak-anak makin dekat dengan alam dan masyarakat lingkungannya. Di samping alam
sekitar sebagai isi bahan ajaran, alam sekitar juga menjadi kajian empiric melalui percobaan,
studi banding, dan sebagainya. Dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber belajar,
anak lebih menghargai, mencintai dan melestarikan lingkungannya.

Pengajaran Pusat Perhatian

Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Davids Declory (1871-1932) dari Belgia dengan
pengajaran melalui pusat-pusat minat (center dinternet), disamping pendapatnya tentang
pengajaran global. Pendidikan menurut Declory berdasar pada semboyan ecois pour ia vie,
par la vie (sekolah untuk hidup dan oleh hidup). Anak harus dididik untuk dapat hidup dalam
masyarakat dan dipersiapkan dalam masyarakat, anak harus diarahkan. Oleh karena itu, anak
harus mempunyai pengetahuan terhadap diri sendiri (tentang hasrat dan cita-citanya) dan
pengetahuan tentang dunianya (lingkungannya, terdapat hidup di hari depannya).

Pengajaran alam sekitar

Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak dengan sekitarnya adalah gerakan pengajaran
alam sekitar.

Sekolah kerja
Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari pandangan-pandangan
yang mementingkan pendidikan keterampilan dalam pendidikan. J A Comenius menekankan
agar pendidikan mengembangkan pikiran, ingatan, bahasa dan tangan (kterampilan, kerja
tangan). J. H. Pestalozzi mengajarkan bermacam-macam mata pelajaran pertukangan di
sekolahnya. Perlu dikemukakan bahwa sekolah kerja bertolak dari pandangan individu tetapi
juga demi kepentingan masyarakat. Dengan kata lain, sekolah berkewajiban menyiapkan
warga negara yang baik yakni 1) tiap orang adalah pekerja dalam salah satu lapanga jabatan;
2) tiap orang wajib menymbangkan tenaganya untuk kepentingan negara, dan 3) dalam
menunaikan kedua tugas tersebut haruslah telah diusahakan kesempurnaannya, agar dengan
jalan itu tiap warga negara ikut membantu mempertinggi dan menyempurnakan kesusilaan
dan keselamatan negara.

Pengajaran Proyek

Dasar filosofis dan pedagogis dari pengajaran proyek diletakkan oleh John Dewy, namun
pelaksanaannya dilakukan oleh pengikutnya,utamanya W. H. Kilpatrick. Dewey menegaskan
bahwa sekolah haruslah sebagai mikrokosmos dari masyarakat (become a microcosm of
society); oleh karena itu, pendidikan adalah suatu proses kehidupan itu sendiri dan bukanya
penyiapan untuk kehidupan di masa depan (education is process of living and not a
preparation for future living). Ulich 1950;318). Proyek itulah yang menyebabkan mata
pelajaran-pelajaran itu tidak terpisah-pisah antara yang satu dengan yang lain. Pengajaran
berkisar di sekitar pusat-pusat minat sewajarnya.

Pengaruh gerakan baru dalam pendidikan terhadap penyelengaraan pendidikan di


Indonesia

Telah dikemukakan bahwa gerakan baru dalam pendidikan tersebut terutama berkaitan
dengan kegiatan berlajar mengajar di sekolah; namun dasar-dasar pikirannya tentulah
menjangkau semua segi dari pendidikan, baik aspek konseptual maupun operasional.

Perlu ditekankan lagi bahwa tentang pemikiran-pemikiran pendidikan pada masa lalu akan
sangat bermanfaat untuk memperluas pemahaman tentang seluk beluk pendidikan serta
memupuk wawasan historis dari setiap tenaga kependidikan.

Dua Aliran Pokok Pendidikan Di Indonesia

Dua aliran pokok pendidikan di Indonesia itu dimaksudkan adalah perguruan kebangsaan
taman siswa dan ruang pendidik INS kayu tanam. Keduanya dipandang suatu tonggak
pemikiran tentang pendidikan di Indonesia.

Perguruan kebangsaan taman siswa

Perguruan kebangsaaan taman siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, pad tanggal 3 Juli
1922 di Yogyakarta yakni dalam bentuk yayasan. Pertama kali mulai didirikan taman indria
(taman kanak-kanak) dan kursus guru, selanjutnya taman muda (SD), disusul taman dewasa
telah dikembangkan sehingga meliputi pula taman Hadya, prasarjana dan sarjana wiyata.
Dengan demikian siswa telah meliputi semua jenjang persekolahan, dari pendidikan
prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Seperti harapan kepada taman siswa, ruang pendidikan INS kayu taman juga diharapkan
melakukan penyegaraan dan dinamisasi, seiring dengan perkembangan masyarakat dan
IPTEK. Di samping itu, upaya-upaya pengembangan ruang pendidikan INS tersebut
seyogianya dilakukan dalam kerangka pengembangan SISDIKNAS, sebagai bagian dari
usaha mewujudkan cita-cita ruang pendidikan INS; mencerdaskan seluruh raykat Indonesia.

Rangkuman

Pemikiran tentang pendidikan sejak dulu, kini dan masa yang akan datang terus berkembang.
Hasil-hasil dari pemikiran itu disebut aliran dan atau gerakan baru dalam pendidikan.
Aliran/gerakan tersebut mempengaruhi pendidikan di seluruh dunia, termasuk pendidikan di
Indonesia. Dari sisi lain, di Indonesia juga muncul gagasan-gagasan tentang pendidikan,
yang dapat dikategorikan sebagai aliran pendidikan, yakni taman siswa dan INS kayu taman.

Kajian tentang berbagai aliran dan atau gerakan pendidikan itu akan memberikan
pengetahuan dan wawasan historis kepada tenaga kependidikan. Hal itu sangat historis
kepada tenaga pendidik dapat memahami, dan pada gilirannya, kelak dapat memberi
konstribusi terhadap dinamika pendidikan itu. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa
dengan pengetahuan dan wawasan historis tersebut, setiap tenaga kependidikan diharapkan
memiliki bekal yang memadai dalam meninjau berbagai masalah yang dihadapi, serta
pertimbangan yang tepat dalam menetapkan kebijakan dan atau tindakan sehari-hari.