Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita mendengar dan menjumpai orang
orang yang sulit mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Kita juga sering
menjumpai orang orang yang boros dalam pemakaian sebuah kata, namun tidak
memiliki makna yang begitu berarti. Oleh karena itu kita harus mengetahui
pentingnya peranan kata dalam kehidupan sehari-hari.
Sebuah kata mengandung makna bahwa sebuah kata mengungkapkan gagasan.
Kata adalah alat untuk menyampaikan gagasan yang akan disampaikan kepada orang
lain. semakin banyak kata yang kita ketahui semakin banyak juga ide atau gagasan
yang kita kuasai dan sanggup kita ungkapkan.
Manusia berkomunikasi lewat bahasa, agar saling memahami antara
pembicara dan pendengar maka pemilihan suatu kata yang tepat adalah satu faktor
penentu dalam komunikasi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)?
2. Bagaimana definisi Ejaan Bahasa Indonesia (EBI)?
3. Bagaimana perbedaan EYD & EBI?
4. Bagaimana pemakaian huruf?
5. Bagaimana penulisan huruf?
6. Bagaimana pemakaian kata?

C. Tujuan
1. Dapat mengetahui definisi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
2. Dapat mengetahui definisi Ejaan Bahasa Indonesia (EBI)
3. Dapat mengetahui perbedaan dari EYD & EBI
4. Dapat mengetahui pemakaian huruf huruf
5. Dapat mengetahui penulisan huruf huruf
6. Dapat mengetahui pemakaian kata
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Ejaan Yang Disempurnakan


Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan ejaan Bahasa Indonesia, ejaan
Republik atau ejaan Soewandi, yang berlaku sejak tahun 1927. Tepatnya pada 16
agustus 1972, telah ditetapkan dan diberlakukan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
yang diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan
Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Apabila pedoman ini dipelajari dan ditaati
maka tidak akan terjadi kesalahan pengejaan kata.
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia
yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian
dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD
disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya
ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis.
Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail.
Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.
Peran EYD yakni sebagai pedoman umum bagi para pengguna Bahasa
Indonesia. Siapa pun, kapan pun, dimana pun menggunakan EYD secara benar dan
baik, maka harus mengacu pada EYD yang sesuai dengan Undang-Undang dan
Pancasila. EYD pun memiliki pengecualian, biasanya pada penulisan judul. EYD
yang digunakan saat ini adalah EYD yang telah disepakati oleh 3 negara yakni
Indonesia, Malaysia dan Bruneidarussalam.

2. Pengertian Ejaan Bahasa Indonesia


Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku
sejak tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia. Ejaan ini menggantikan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Ejaan
merupakan tata cara penulisan huruf, kata, dan kalimat sesuai dengan standardisasi
yang telah disepakati dalam kaedah Bahasa Indonesia.
Ejaan sebagai pedoman berbahasa yang saat ini digunakan sebagai tolak ukur,
tercipta tidak luput dari hasil kesepakatan bersama oleh seluruh komponen bangsa.
Kaidah ejaan bahasa Indonesia yaitu pemakaian Huruf Abjad yang dipakai dalam
bahasa Indonesia terdiri dari 26 huruf yaitu 21 huruf konsonan dan 5 huruf vokal.
Semua huruf dapat digunakan secara umum dalam kata, kecuali huruf q dan x.
Keduanya khusus diperlukan untuk nama dan keperluan ilmu. Di dalam bahasa
Indonesia terdapat kombinasi dua huruf vokal yang disebut dengan huruf diftong.
Pengucapan bunyinya dilakukan secara luncur dan tingginya tidak sama. Dengan kata
lain huruf vokal pertama pembunyiannya tinggi sedangkan huruf kedua rendah.
.
3. Perbedaan Ejaan Yang Disempurnakan dan Ejaan Bahasa Indonesia
EBI ditetapkan pada tahun 2015 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
Anies Baswedan yang menjabat saat itu dan resmi diundangkan oleh Direktur
Jenderal Perundang-Undangan Kementerian Hukum dan HAM RI. Penetapan tersebut
memberikan arti, bahwa EYD sudah tidak berlaku untuk dijadikan sebagai pedoman
penulisan. Adapun alasan dilakukan perubahan yaitu dampak kemajuan ilmu dan
pengetahuan, teknologi dan seni. Penggunaan bahasa Indonesia dalam beragam ranah
pemakaian, baik secara lisan maupun tulisan semakin luas.
Perubahan ejaan ini bukan berarti mengubah secara keseluruhan isi dari EYD.
Adapun perbedaan yang mendasar dari Ejaan Yang Disempurnakan dengan Ejaan
Bahasa Indonesia, antara lain:
 Penambahan huruf vokal diftong ei, di EYD hanya ada tiga yaitu ai, au, ao.
 Penulisan huruf kapital pada EYD digunakan dalam penulisan nama orang
tidak termasuk julukan, sedangkan pada EBI huruf kapital digunakan sebagai
huruf pertama unsur nama orang, termasuk julikan
 Penulisan huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan/
mengkhususkan huruf, bagian kalimat, kata, atau kelompok kata; untuk
keperluan itu digunakan huruf miring pada EYD, sedangkan pada EBI huruf
tebal dipakai unutuk menegaskan bagian tulisan tersebut.
 Penggunaan partikel pun pada EYD ditulis terpisan kecuali sudah lazim
digunakan, maka penulisannya serangkai. Sedangkan pada EBI partikel pun
tetap ditulis terpisah, kecuali mengikuti unsur kata penghubung, maka ditulis
serangkai.
 Penggunaan bilangan. Pada EBI,bilangan yang digunakan sebagai unsur nama
geografi ditulis dengan huruf. Sedangkan pada EYD tidak ada yang
mengaturnya.
 Penggunaan titik koma (;) pada EYD digunakan dalam perincian tanpa
penggunaan kata DAN. Sedangkan dalam EBI penggunaan titik koma (;)
tetap menggunakan kata DAN
 Penggunaan titik koma (;) pada EBI dipakai pada akhir perincian yang berupa
klausa. Sedangkan pada EYD tidak ada hal yang mengaturnya.
 Penggunaan tanda hubung (-) pada EBI tidak dipakai antara huruf dan angka,
jika angka tersebut melambangkan jumpah huruf. Sedangkan pada EYD tidak
ada yang mengaturnya. Misalnya: LP2M, LP3I
 Tanda hubung (-) pada EBI digunakan untuk menandai bentuk terikat yang
menjadi objek bahasan, sedangkan pada EYD tidak ada hal yang mengaturnya.
Misalnya pasca-, -isasi
 Penggunaan tanda kurung [( )] dalam perincian pada EYD hanya digunakan
pada perincian ke kanan atau dalam paragraf, tidak dalam perincian ke bawah,
sedangkan pada EBI tidak ada hal yang mengaturnya
 Penggunaan tanda elipsis ( .... ) dalam EYD dipakai dalam kelimat yang
terputus putus. Sedangkan dalam EBI tanda elipsis digunakan untuk menulis
ujaran yang tidak selesai dalam dialog.
4. Pemakaian Huruf Huruf
I. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam bahasa Indonesia ada 26 huruf yaitu:

Huruf Huruf
Dibaca Dibaca
Abjad Abjad
Aa a Nn en
Bb be Oo o
Cc ce Pp pe
Dd de Qq ki
Ee e Rr er
Ff ef Ss es
Gg ge Tt te
Hh ha Uu u
Ii i Vv ve
Jj je Ww we
Kk ka Xx eks
Ll el Yy ye
Mm em Zz zet

II. Huruf Vokal


Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri dari 5 huruf,
yaitu:

Huruf Contoh pemakaian dalam kata


Vokal Di Awal Di Tengan Di Akhir
a azrar hani Ifa
e* enak petak sore
emas kena tipe
i itu simpan murni
o oleh kota radio
u ulang bumi wahyu

III. Huruf Konsonan


Huruf yang melambangkan konsonan dalam Bahasa Indonesia terdiri dari 21
huruf, yaitu:
Huruf Contoh pemakaian dalam kata
Konsonan Di Awal Di Tengan Di Akhir
b bahasa sebut Adab
c cakap kaca -
d dua ada abad
f fakir kafir maaf
g guna tiga balig
h hari saham tuah
j jalan manja mikraj
k kami paksa sesak
- rakyat* bapak*
l lekas alas kesal
m maka kami diam
n nama anak daun
p pasang apa siap
q** Quran furqan -
r raih bara putar
s sampai asli lemas
t tali mata rapat
v varia lava -
w wanita hawa -
x** xenon - -
y yakin payung -
z zeni lazim Juz

IV. Huruf Diftong


Dalam Bahasa Indonesia terdapat huruf diftong yang dilambangkan dengan:
Huruf Contoh pemakaian dalam kata
Diftong Di Awal Di Tengan Di Akhir
Ai ain syaitan Pandai
au aula saudara harimau
oi - boikot amboi

5. Penulisan Huruf
I. Huruf Kapital
 Huruf kapital sebagai pengawal kalimat
 Huruf kapital sebagai huruf pertama petikan langsung
 Huruf kapital sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang
berhubungan dengan kitab suci dan nama Tuhan, termasuk kata ganti
untuk Tuhan
 Huruf kapital sebagai huruf pertama gelar kehirmatan, keturunan dan
keagamaan yang diikuti nama orang
 Huruf kapital sebagai huruf pertama nama jabatan dan pengkat yang
diikuti nama orang
 Huruf kapital sebagai huruf pertama nama orang
 Huruf kapital sebagaihuruf pertama nama bangsa, suku bangsa dan
bahasa
 Huruf kapital sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya
dan peristiwa sejarah
 Huruf kapital sebagai huruf pertama nama khusus dalam geografi
 Huruf kapital sebagai huruf pertama nama badan resmi, lembaga
pemerintahaan dan ketatanegaraan
 Huruf kapital sebagai huruf pertama singkatan unsur nama gelar,
pangkat dan sapaan
 Huruf kapital sebagai huruf pertama kata oenunjuk hubungan
kekerabatan

II. Huruf Miring


Huruf miring dalam cetakan, yang dalam tulisan tangan atau ketikan
dinyatakan dengan tanda garis bawah, dinyatakan untuk (1) menuliskan nama
buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan (2) menegaskan
atau mengkhususkan huruf , bagian kata, atau kelompok kata, dan (3)
menuliskan kata nama-nama ilmiah, atau ungkapan asing, kecuali kata yang
telah disesuaika ejaannya.
Contoh:
Sudahkah Anda membaca buku I La Galigo?
Majalah Dunia Pendidikan sangat digemari oleh guru.
Harian Fajar dapat merebut hati pembacanya.
Nama Latin untuk buah manggis adalah Carcinia Mangostana

6. Pemakaian Kata
I. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Contoh:
Ibu percaya bahwa engkau bisa
Kantor pajak penuh sesak
Buku itu sangat tebal

II. Kata Turunan


 Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata
dasarnya.
Contoh:
Dikelola Penetapan
Menengok Mempermainkan
 Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis
serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Contoh:
Bertepuk tangan Garis bawahi
Sebar luaskan
 Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan
akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh:
Menggarisbawahi Menyebarluaskan
Dilipatgandakan Penghancurleburan
 Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasa,
gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh:
Adipati Mahasiswa
Aerodinamika Mancanegara
Antarkota Narapidana
Audiogram Nonkolaborasi
Pancasila Bikarbonat
Biokimia Paripurna
Dasawarsa Poligami
Pramugari Dekameter
Prasangka Reinkarnasi

III. Bentuk Kata Ulang


Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung (-).
Contoh:
Anak-anak buku-buku
Hati-hati huru-hara
Biri-biri lauk-pauk
Mondar-mandir porak-poranda
Kuda-kuda sayur-mayur
Ramah-tamah tukar-menukar
Kupu-kupu tukar-menukar
Laba-laba terus-menerus
IV. Gabungan Kata
 Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah
khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Contoh:
Duta besar mata pelajaran
Orang tua simpang empat
Kambing hitam meja tulis
Persegi panjang rumah sakit umum
 Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan
kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk
menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
Contoh:
Ibu-bapak kami anak-istri saya
 Gabungan kata berikut ditulis serangkai
Contoh:
Acapkali manakala
Adakalanya manasuka
Akhirulkalam mangkubumi
Alhamdulillah astagfirullah
Olahraga bagaimana
Padahal barangkali
Beasiswa peribahasa
Belasungkawa bismillah
Radioaktif saputangan
Daripada saripati
Kacamata sukarela

V. Kata Ganti ku, kau, mu dan nya


Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya,
sedangkan kata -ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Contoh:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
VI. Kata depan di, ke dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya
kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata
seperti kepada dan daripada.
Contoh:
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam semalam di sini.
Di mana Siti sekarang.
Mereka ada di rumah.
Mari kita berangkat ke pasar.
Catatan: kata-kata yang dicetak miring dibawah ini ditulis serangkai.
Contoh:
Si Amin lebih tua daripada Si Ahmad.
Ia masuk, lalu keluar lagi.
Bawa kemari gambar itu.

VII. Kata Si dan Sang


Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh:
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim

VIII. Partikel
 Partikel –lah dan –kah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Contoh:
Bacalah buku itu baik-baik.
Makassar adalah tempat yang indah.
Siapakah gerangan dia?
 Partikel pun ditulis terpisah dari kata dari kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Jika ibu pergi, adik pun ingin pergi.
Catatan: kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun,
andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kendatipun, maupun,
meskipun, seklipun, sungguhpun, dan walaupun ditulis serangkai.
Contoh:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
 Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari
bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Contoh:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
Harga kain itu Rp 2.000.00 per helai.

IX. Singkatan dan Akronim


a. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau
lebih.
 Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat, atau
pangkat diikuti dengan tanda titik.
Contoh:
A.S. Kramawijaya
Suman Hs.
M. Rais
Sukanto S.A.
M.B.A. master of business administration
M.Sc. master of science
S.E. sarjana ekonomi
Bpk. bapak
 Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan
atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal
kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Contoh:
DRP Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI Persatuan Guru Rakyat Indonesia
GBHN Garis-Garis Besar Haluan Negara
KTP Kartu Tanda Penduduk
 Singkatan umum yang terdiri atas tiga kata atau lebih diikuti satu tanda
titik.
Contoh:
dll. Dan lain-lain
dsb. Dan sebagainya
dst. Dan seterusnya
hlm. Halaman
sda. Sama dengan atas
Yth. Yang terhormat

Tetapi:
a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
u.b. untuk beliau
u.p. untuk perhatian
 Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan
mata uang tidak diikuti tanda titik.
Contoh:
Cu kuprum
TNT trinitrotoluen
kVA kilovolt-ampere
kg kilogram
Rp rupiah
b. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku
kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang
diperlakukan sebagai kata.
 Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata
ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Contoh:
ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN Lembaga Administrasi Negara
SIM Surat Izin Mengemudi
 Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan
huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf
kapital
Contoh:
Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Kowani Kongres Wanita Indonesia
 Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku
kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya
ditulis dengan huruf kecil.
Contoh:
pemilu pemilihan umum
rapim rapat pimpinan
rudal peluru kendali

X. Angka dan Lambang Bilangan


a. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam
tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Contoh :
Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX
b. Angka digunakan untuk menyatakan (1) ukuran panjang, berat, luas, dan
isi, (2) satuan waktu, (3) nilai uang, dan (4) kuantitas.
Contoh:
0,5 sentimeter 1 jam 20 menit
5 kilogram pukul 15.00
10 liter tahun 1928
c. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen,
atau kamar pada alamat.
Contoh:
Jalan Sultan Alauddin II No.3
Hotel Indonesia, Kamar 23
d. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab
suci.
Contoh:
Bab I, Pasal 2, halaman 23
Surah Yasin: 9
e. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
Contoh:
 Bilangan utuh
Contoh:
Dua belas 12
Dua puluh dua 22
 Bilangan pecahan
Contoh:
Setengah ½
Tiga perempat ¾
Satu persen 1%
f. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang
berikut.
Contoh:
Paku Buwono X
Paku Buwono ke-10
Paku Buwono kesepuluh

Bab II
Bab ke-2
Bab kedua
g. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara
berikut (lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat
5).
Contoh:
Tahun ’50-an atau tahun lima puluhan
Uang 5000-an atau uang lima ribuan
h. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis
dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara
berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
Contoh:
Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
i. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu,
susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan
dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Contoh:
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
Bukan:
15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
j. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian
supaya lebih mudah dibaca.
Contoh:
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
k. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks
kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Contoh:
Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai
Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
Bukan:
Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
l. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus
tepat.
Contoh:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp 999,75 (sembilan ratus
sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus


sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1) EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia
yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari
pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan
unsur serapan
2) Alasan dilakukan perubahan yaitu dampak kemajuan ilmu dan pengetahuan,
teknologi dan seni. Penggunaan bahasa Indonesia dalam beragam ranah
pemakaian, baik secara lisan maupun tulisan semakin luas.
3) Pemakaian huruf sesuai dengan pedoman EYD diantaranya yaitu huruf abjad,
huruf vokal, huruf konsonan, huruf diftong, dan pemenggalan kata
4) Penulisan huruf sesuai dengan pedoman EYD meliputi huruf kapital dan huruf
miring.
5) Penulisan kata sesuai dengan pedoman EYD meliputi kata dasar, kata turunan,
bentuk ulang, kata ganti, kata depan, partikel, singkatan, angka dan lambang
bilangan.

B. SARAN
Tentunya dalam penyusunan makalah ini terdapat kekurangan dan kesalahan olehnya
itu :
1) Diharapkan kepada para pembaca agar memberikan perbaikan yang semestinya
demi kesempuranaan makalah ini.
2) Diharapkan agar pembaca memberikan koreksi terhadap materi-materi EYD
yang sekiranya ada tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
3) Diharapkan kepada para pembaca untuk mencari referensi lain agar dapat
menambah wawasan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rijal, Syamsul dkk. 2008. Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia di Provinsi Sulawesi
Selatan. Makassar: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa Balai Bahasa
Ujung Pandang.
2. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2003. Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Sumber Online
3. https://nurulhidayatullahb.wordpress.com/2013/12/15/makalah-tentang-ejaan-yang-
disempurnakan/
4. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/pedoman_umum-
ejaan_yang_disempurnakan.pdf