Anda di halaman 1dari 43

AKUNTANSI MASJID DAN LEMBAGA AMIL ZAKAT

Makalah
Akuntansi Sektor Publik

Dosen Pengampu :
Veni Soraya Dewi, S.E., M.Si.

Disusun Oleh :

Annisa Indah Suryaningrum 15.0102.0145


Era Anida Rizqi 15.0102.0155
Husnul Mazida 15.0102.0181
Dwi Agus Rochmaniyati 15.0102.0202
Muhamad Khadiq 15.0102.0203
Titin Angraeni 15.0102.0215

Akuntansi 15C

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI AKUNTANSI


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Organisasi sektor publik sering kali dipandang sebagai organisasi yang dianggap tidak
efisien dan jauh tertinggal dengan kemajuan dan perkembangan yang terjadi di sektor swasta,
sehingga kedudukannya dianggap lebih rendah dan tertinggal jauh dibandingkan dengan sektor
swasta. Ketidakefisienan dan lambatnya perkembangan organisasi disebabkan oleh manajemen
organisasi pada kebanyakan organisasi sektor publik masih lemah, dan bahkan dianggap tidak
pentng. Hal ini bisa jadi dikarenakan organisasi sektor publik merupakan milik masyarakat
umum atau masyarakat di wilayah tertentu, sehingga kemajuan dan perkembangan organisasi
tergantung dari kesadaran dan perhatian masyarakat tersebut terhadap manajemen organisasi
termasuk praktik akuntansinya. Kondisi ini juga terjadi pada organisasi perbadatan (tempat
ibadah).
Selama ini, tempat ibadah hanya dijadikan sebagai tempat untuk melakukan atau
melayani aktivitas ritual peribadatan, seperti solat, sembahyang, berdoa, menyembah, berzikir,
dan lain sebagainya. Namun, sebenarnya tempat ibadah apabila disadari sebagai salah satu
bentuk organisasi memiliki peranan yang sangat strategis dalam peningkatan kesejahteraan
masyarakat, bahkan tidak kalah strategisnya dengan jenis organisasi publik lainnya. Namun,
sebenarnya tempat ibadah dapat dijadikan sebagai pusat aktivitas dari masyarakat sesuai
dengan agama masing-masing. Pusat aktivitas meliputi berbagai bidang, seperti pendidikan,
ekonomi, sosial, budaya, dan hukum. Jika hal ini mampu dijalankan oleh tempat ibadah, maka
akan menciptakan kesejahteraan msyarakat yang menyeluruh yaitu kesejahteraan lahir dan
kesejahteraan batin. Oleh karena itu, tempat ibadah harus disadari dan dimaknai sebagai sebuah
organisasi, karena setiap organisasi pasti memiliki tujuan yang akan dicapai. Untuk mencapai
tujuan tersebut diperlukan alat organisasional, seperti dalam hal pengelolaan keuangan adalah
akuntansi.
Salah satu permasalahan mendasar yang dihadapi oleh kalangan organisasi pengelola
zakat saat ini adalah standarisasi sistem akuntansi dan audit, yang bertujuan untuk menciptakan
transparansi keuangan sekaligus memperbaiki kualitas pelayanan keuangan kepada
masyarakat. Selama ini organisasi pengelola zakat ketika diaudit, mengalami permasalahan
karena adanya istilah-istilah yang menurut tim audit tidak begitu jelas. Karena memang tidak
di temukan dalam standar akuntansi keuangan system standar akuntansi keuangan syariah yang
telah ada. Oleh karena salah satu hasil Musyawarah Nasional Forum Zakat (MUNAS FOZ) ke
4 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur, pengurus FOZ periode 2006-2009 diantaranya
adalah merumuskan pedoman setandart akuntansi keuangan zakat. Dalam proses penyusunan
pedoman standart akuntansi keuangan zakat tersebut Forum zakat bekerjasama dengan Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI), karena memang yang berhak mengeluarkan pedoman standart
akuntansi keuangan secara umum.
Kita mengetahui bahwa diantara kunci kesuksesan suatu organisasi pengelola zakat
sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan publik terhadap kekuatan finansial untuk
mendukung program-program yang digulirkannya. Selain itu, tingkat kepercayaan masyarakat
juga ditentukan oleh tingkat kesesuaian operasional organisasi pengelola zakat dengan sistem
syariah Islam. Kepercayaan ini terutama kepercayaan yang diberikan oleh para muzakky dan
mustahik, dimana keduanya termasuk stakeholder utama sistem perzakatan saat ini.
Salah satu sumber utama untuk meraih kepercayaan publik adalah tingkat kualitas
informasi yang diberikan kepada publik, dimana organisasi pengelola zakat harus mampu
meyakinkan publik bahwa ia memiliki kemampuan dan kapasitas di dalam mencapai tujuan-
tujuan pemberdayaan maupun tujuan-tujuan program yang sesuai dengan syariat Islam. Karena
itu, membangun sebuah sistem akuntansi dan audit yang bersifat standar merupakan sebuah
keniscayaan dan telah menjadi kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Tanpa itu, mustahil
organisasi pengelola zakat dapat meningkatkan daya saingnya dengan kalangan (Lembaga
Swadaya Masyarakat) LSM konvensional. Bahkan jika kita melihat pada Al-Quran, maka
kebutuhan pencatatan transaksi dalam sebuah sistem akuntansi yang tertata merupakan suatu
hal yang sangat penting. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Baqarah : 282, dimana
Allah SWT berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis
diantara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya
sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang
yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa
kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya…
Tentu saja, kalau kita kaitkan ayat tersebut dengan konteks kelembagaan (terutama
zakat), maka memiliki sistem akuntansi yang sistematis, transparan, dan bertanggungjawab,
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam.
Pada awalnya, karakteristik organisasi pengelola zakat bisa dikategorikan sebagai
organisasi nirlaba dan bisa menggunakan standar akuntansi keuangan untuk nirlaba yaitu
PSAK No. 45. Namun, karakteristik LAZ dan BAZ tidak bisa disamakan persis dengan
organisasi nirlaba lainnya. Untuk itu, perlu ada penyesuaian-penyesuaian dalam pelaporan
keuangannya.
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui proses penentuan kebijakan akuntansi pada
organisasi pengelola zakat; mengetahui dan menilai penerapan akuntansi zakat pada organisasi
pengelola zakat; serta mengetahui dan menilai kemampuan PSAK No. 45 dalam memenuhi
kebutuhan akuntansi zakat pada organisasi pengelola zakat.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Akuntansi Masjid
1. Tempat Ibadah Sebagai Entitas: Karakteristik dan Lingkungan
Organisasi tempat ibadah juga disebut oleh Bastian (2007) dengan organisasi
keagamaan. Secara etimologi, organisasi keagamaan dapat diartikan sebagai organisasi
yang fokus gerakannya terkait dengan agama tertentu,yang menyangkut permasalahan
ibadah atau menjalankan segala kewajiban Tuhan terkait agama atau kepercayaan
tertentu. Jika didasarkan pada definisi tersebut, organisasi keagamaan mengacu pada
organisasi dalam sebuah tempat peribadatan seperti Masjid, Mushola, Gereja, Kapel,
Kuil, Klenteng, Wihara maupun Pura. Karena salah satu yang menyebabkan kurangnya
kesadaran akan pentingnya akuntansi dalam pengelolaan keuangan tempat ibadah adalah
adanya anggapan bahwa akuntansi merupakan produk ilmu pengetahuan manusia yang
tidak ada dalam cakupan ajaran agama.
Organisasi peribadatan tidak bermotif untuk mencari laba dan bertujuan untuk
melayani ritual ibadah umat,maka organisasi peribadatan termasuk dalam kategori
organisasi nirlaba.pada organisasi masjid, ukuran keberhasilan disesuaikan dengan
beberapa aspek, seperti misalnya aspek kebersihan tidak hanya diukur dari kenyamanan
maupun kepuasan umat muslim yang beribadah di masjid tersebut, tetapi juga
kesesuaianya dengan yang diajarkan oleh agama tentang tata cara bersuci dan seluk beluk
tentang kotoran dan najis. Hal ini akan mempengaruhi keberhasilan dan standar
pelayanan, yang nantinya mempengaruhi kewajaran penggunaan dana yang
dialokasikan.
2. Tujuan Organisasi Peribadatan
Meskipun tujuannya adalah untuk pelayanan umat,bukan berarti organisasi
keagamaan tidak memiliki tujuan keuangan (Bastian, 2007). Tujuan keuangan ditujukan
untuk mendukung terlaksananya tujuan pelayanan peribadatan yang memadai yang
memenuhi standar sesuai dengan aturan dalam agama tersebut, serta menunjang tujuan
lainnya seperti tujuan sosial kemasyarakatan dan pendidikan. Tujuan keuangan ini bukan
untuk memperoleh keuntungan berupa profit, tetapi lebih ke arah bagaimana membiayai
kebutuhan peribadatan umat dalam tempat ibadah dan fungsi sosial keagamaan lainnya.
Untuk mencapai tujuan keuangan ini juga tidak boleh melanggar ketentuan-katentuan
yang dilarang oleh ajaran agama, atau justru keberadaan tempat ibadah tersebut
memberatkan masyarakat sekitarnya.
3. Fungsi dan Peran Organisasi Peribadatan
Masjid sebagai pusat pendidikan, budaya islam, pusat sosial kemasyarakatan
maupun pusat ekonomi masih dijalankan. Maka organisasi peribadatan berfungsi
sebagai:
a. Tempat beribadat dan mendekatkan diri kepada Allah swt
b. Tempat pembinaan kesadaran dalam beragama bagi umat agama
c. Tempat bermusyawarah untuk memecahkan permasalahan umat muslim
d. Tempat berkumpulnya umat muslimin
e. Tempat membina kerukunan dan gotong royong antar umat muslim dengan
memperkokoh ikatan batin dan rasa persaudaraan sehingga dapat mewujudkan
kesejahteraan bersama
f. Pusat pendidikan dan pengajaran agama islam bagi umat muslim di sekitarnya
4. Manajemen Organisasi Peribadatan
Struktur organisasi pada organisasi peribadatan, termasuk masjid, tidak terlalu
formal dan sederhana. Biasanya pada organisasi masjid dikenal pengurusnya dengan
sebutan ta’mir masjid yang terdiri dari pelindung, ketua, wakil ketua, sekretaris dan
wakilnya, bendahara dan wakilnya, seksi-seksi, dan pembantu umum. Pelindung
biasanya dijabat oleh kepala desa atau dusun dan seorang tokoh agama, ketua dan
wakilnya biasanya dari kalangan tokoh agama atau tokoh masyarakat setempat. Badan
organisasi tersebut biasanya disebut dengan “Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) “ atau
“Remaja Masjid” yang memiliki struktur organisasi sendiri, namun masih menjadi
bagian dari organisasi masjid secara keseluruhan.
5. Manajemen Keuangan Organisasi Peribadatan
Kedudukan Akuntansi dalam Manajemen Keuangan Organisasi Masjid

Manajemen Keuangan Organisasi Masjid

Tata Usaha Keuangan Organisasi Masjid

Tata Usaha Umum atau Tata Usaha Keuangan Organisasi


Administrasi Organisasi Masjid Masjid

Akuntansi Organisasi Masjid

Manajemen keuangan organisasi peribadatan adalah usaha yang dilakukan


pengelola tempat peribadatan dalam menggunakan dana umat sesuai dengan ketentuan
dalam ajaran agama dan kepentingan umat beragama, serta bagaimana memperoleh dana
dari umat dengan cara-cara yang dibenarkan oleh ajaran agama. Manajemen keuangan
terdapat dua fungsi, yaitu:
a. Fungsi mendapatkan dana
b. Fungsi menggunakan dana
Dalam fungsi pertama adalah bagaimana cara mengelola organisasi peribadatan
dalam mendapatkan dana yang sesuai dengan ajaran agama dan tidak memberatkan umat.
Sedangkan fungsi kedua adalah bagaimana menggunakan dana secara efektif dan efisien
juga mencakup pertanggungjawaban pengelolaan dana.
Alat untuk melaksanakan manajemen keuangan adalah tata usaha. Tata usaha
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tata usaha umum atau administrasi dan tata usaha
keuangan. Akuntansi masjid dapat diartikan sebagai tata buku atau rangkaian kegiatan
yang dilakukan secara sistematis dalam bidang keuangan, berdasarkan prinsip,
standardisasi, dan prosedur tertentu untuk menghasilkan informasi aktual di bidang
keuangan dalam organisasi masjid. Akuntansi yang diterapkan pada organisasi kegamaan
memiliki kaitan yang erat dengan penerapan dan perlakuan akuntansi pada domain
publik. Domain publik yang dimaksud adalah para anggota, umat, atau pengikut agama
di organisasi keagamaan yang bersangkutan. Sumber pendanaan organisasi keagamaan
berasal dari umat dan sumbangan pihak tertentu. Aliran dana dari umat ini dilakukan
secara sukarela atau bahkan dilakukan dalam rangka memenuhi kewajibannya sebagai
umat suatu agama. Karena yang sifatnya sukarela, karakteristik dana yang diperolehnya
sulit untuk diprediksi perolehannya.
Organisasi masjid memiliki sumber dana dari umat yang bisa dalam berbagai
bentuk seperti infak, sedekah, zakat, fidyah dan lain-lain sesuai ajaran islam. Sedangkan,
alokasi dana masjid selain untuk pemeliharaan bangunan beserta seluruh
perlengkapannya secara berkala, juga dialokasikan untuk berbagai kegiatan lainnya
seperti pengajian rutin atau yang bersifat insidental. Adapun dalam konteks pola
pertanggungjawaban, jika organisasi sektor swasta bertanggungjawab kepada pemilik
usaha atau krediturnya, maka pertanggungjawaban organisasi keagamaan dilakukan
kepada seluruh umat yang telah memberikan amanahnya, dan merupakan bagian penting
dalam menciptakan kredibilitas pengelolaan yang dijlalankan. Apabila elemen
pertanggungjawaban ini tidak dapat dipenuhi, maka implikasinya dapat berwujud
ketidakpercayaan, ketidakpuasan, atau bahkan fitnah.
6. Akuntabilitas pada Organisasi Peribadatan, Pentingkah?
Sebelum lebih jauh menjelaskan tentang akuntabilitas pada organisasi
peribadatan dan bagaimana penerapannya, tentu perlu menjawab terlebih dahulu terkait
apakah akuntabilitas penting dan diperlukan pada organisasi peribadatan? Jawaban atas
pertanyaan tersebut ada dalam ajaran agama itu sendiri. Bukankah setiap manusia akan
dimintai pertanggungjawabannya atas setiap tindakannya di dunia nanti pada saat
menghadap Tuhannya? Dalam kitab suci juga mengajarkan adanya kegiatan jual-beli,
utang-piutang, dan sewa-menyewa. Kegiatan-kegiatan tersebut mensiratkan perlunya
sistem pencatatan yang baik agar transaksi-transaksi tersebut dapat berjalan dengan jujur
dan adil. Jadi, dalam agama, sistem pencatatan sebenarnya telah diperintahkan, meskipun
secara implisit, dengan tujuan kebenaran, kepastian, keterbukaan, dan keadilan antara
kedua pihak atau lebih yang memiliki hubungan dengan manusia lain atau umat lain.
Dalam bahasa akuntansi, perintah tersebut diinterpretasikan sebagai akuntabilitas atau
pertanggungjawaban.
Bagaimana pola akuntabilitas pada organisasi peribadatan? Pada organisasi
publik termasuk organisasi keagamaan, pengelola (pengurus dan pengawas) organisasi
bertanggung jawab kepada umat atau pengikut agama yang disampaikan dalam sebuah
pertemuan perwakilan umat/warga atau rapat dengan warga masyarakat yang
menggunakan organisasi keagamaan. Pertemuan ini diadakan secara berkala atau dalam
waktu tertentu.
Dalam konteks organisasi masjid, pengelolaan keuangan dan administrasi
merupakan hal yang penting dalam mengelola masjid (Ayub, 1996). Kalau pengelolaan
keuangan masjid dapat dilaksanakan dengan baik, itu pertanda pengurus masjid adalah
orang yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Akan tetapi, kalau pengelolaan
keuangan dilaksanakan dengan tidak baik, maka akan berakibat timbulnya fitnah dan
pengurusnya akan dinilai sebagai orang yang tidak dapat dipercaya dan tidak
bertanggung jawab.
Pola pertanggungjawaban di organisasi keagamaan dapat bersifat vertikal
maupun horizontal. Pertanggungjawaban vertikal adalah pertanggungjawaban atas
pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih tinggi, seperti kepada pembina apabila
organisasi keagamaan tersebut memakai sistem struktural. Dengan kata lain, dalam
konteks yang lebih jauh lagi, pertanggungjawaban secara vertikal dapat diartikan sebagai
pertanggungjawaban kepada Tuhan, meskipun tidak ada dalam bentuk materi maupun
fisik. Namun, agama mengajarkan bahwa setiap tindakan manusia nantinya akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Hal ini dapat menimbulkan motivasi intrinsik
seseorang untuk menyusun laporan pertanggungjawaban secara jujur, benar, objektif,
dan adil. Dengan menyusun pertanggungjawaban yang baik akan memberikan
ketenangan batin pada pengurusnya
Sedangkan pertanggungjawaban horizontal adalah pertanggungjawaban kepada
masyarakat luas, khususnya pengguna atau penerima layanan organisasi keagamaan yang
bersangkutan. Apabila seseorang mengabaikan pola pertanggungjawaban horizontal ini
akan berdampak pada tidak percayanya masyarakat terhadap pengurus dan timbul fitnah
di masyarakat. Kedua pola pertanggungjawaban tersebut merupakan elemen penting dari
proses akuntabilitas publik. Pertanggungjawaban manajemen merupakan bagian
terpenting untuk menciptakan kredibilitas manajemen organisasi keagamaan. Tidak
dipenuhinya prinsip pertanggungjawaban dapat menimbulkan implikasi yang luas.
Di beberapa masjid, kebiasaan menyusun dan membuat laporan
pertanggungjawaban yang tertib dan teratur berjalan dengan baik. Laporan
pertanggungjawaban itu biasanya berupa laporan keuangan sederhana dan laporan atas
suatu aktivitas atau kegiatan tertentu, seperti kegiatan penyembelihan dan
pendistribusian hewan kurban. Laporan itu biasanya dilaporkan sekali dalam sebulan
yang biasanya disampaikan pada waktu salat Jumat.
Pengurus masjid yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya tentunya tidak
akan melalaikan tugasnya. Apalagi, jika diingat bahwa keuangan masjid diperoleh dari
sedekah jamaah. Tanpa pertanggungjawaban keuangan yang jelas dan rinci, otomatis
nama baik pengurus berhadapan dengan risiko yang tinggi. Selain itu, citra masjid bisa
saja ikut tercemar. Memelihara citra masjid memang tidak mudah, dan mengingat
manusia memiliki banyak kelemahan (khilaf dan salah), tak terkecuali jamaah dan para
pengurus masjid. Oleh karena itu, akuntabilitas penting dalam organisasi masjid dan
harus dijalankan dengan baik.
7. Peran Strategis Akuntansi dalam Organisasi Peribadatan
Pada subbab sebelumnya, dijelaskan bahwa akuntabilitas penting bagi organisasi
masjid dan harus dijalankan dengan baik. Untuk menciptakan akuntabilitas yang baik
diperlukan sistem pencatatan yang baik dan tertib. Akuntansi merupakan aktivitas
mencatat, mengidentifikasi. mengklasifikasi, dan mengolah transaksi dari suatu
organisasi yang dapat menghasilkan informasi keuangan yang menggambarkan kondisi
organisasi tersebut. Sehingga untuk menciptakan akuntabilitas yang baik diperlukan
sistem akuntansi yang baik pula. Selain untuk akuntabilitas, akuntansi juga bertujuan
untuk pengendalian manajemen, dari mulai tahap perencanaan sampai ke tahap
pelaksanaan, serta bermanfaat untuk penyediaan informasi yang andal dan relevan.
Sistem akuntansi dapat menghasilkan informasi yang berguna, baik bagi
manajemen maupun pihak eksternal. Bagi manajemen, informasi akuntansi dapat
digunakan sebagai dasar mengalokasikan dana yang diperoleh dan menentukan nilai
ekonomis aktivitas-aktivitas yang ada dalam organisasi peribadatan. Sedangkan, bagi
pihak eksternal, akuntansi dapat dijadikan untuk menilai pertanggungjawaban atas dana
yang dikelola oleh pengurus masjid.
Seberapa berguna informasi akuntansi bagi pengelola atau pengurus masjid?
Manfaat yang dihasilkan oleh informasi akuntansi akan memengaruhi seberapa
strategisnya peranan akuntansi dalam pengelolaan organisasi masjid. Sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya bahwa organisasi keagamaan selain bertujuan untuk melayani
peribadatan umat, juga memiliki tujuan keuangan. Tujuan keuangan ini akan menjadi
pendukung dan penunjang tercapainya tujuan utama organisasi keagamaan, yaitu
melayani ritual ibadah umat di dalam tempat ibadah, dan tujuan lainnya, seperti tujuan
untuk mencerdaskan umat. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut pasti diperlukan
pembiayaan atau pendanaan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung
tercapainya tujuan tersebut.
Tujuan utama didirikannya masjid adalah untuk menjadi pusat ritual ibadah umat
muslim seperti sholat berjamaah, sholat Jum'at, pengajian rutin dan berdzikir. Untuk
mendukung tujuan tersebut aspek kebersihan harus diperhatikan. Kebersihan menurut
Islam adalah yang suci dari najis dan bagi orang yang beribadah, selain suci dari najis,
juga suci dari hadats besar dan kecil. Setiap masjid pasti memiliki fasilitas untuk bersuci,
yaitu tempat wudlu dan kamar mandi yang antara pengunjung laki-laki dan perempuan
harus dipisah. Untuk menjamin kebersihan masjid dan fasilitas lainnya yang juga
memenuhi syariat Islam, perlu kiranya pengurus membuat Standar Pelayanan (seperti
halnya Standar Pelayanan Minimal atau SPM di pemerintah daerah) untuk kebersihan
dan kesucian masjid. Standar pelayanan tersebut mensyaratkan adanya standar belanja
atau standar biaya. Dengan adanya standar biaya dan standar pelayanan, efisiensi dan
efektivitas pengelolaan keuangan masjid dapat diukur secara akurat dan terpercaya.
Dalam konteks ini, akuntansi dapat membantu dan mempermudah pengelola atau
pengurus masjid untuk menyusun laporan pertanggungjawaban yang akurat dan dapat
dipercaya. Apabila laporan yang dihasilkan akurat dan dapat dipercaya, maka akan
memberikan ketenangan batin bagi pengurusnya terkait pertanggungjawabannya kelak,
di hadapan Tuhan maupun kepada umat muslim.
Akuntansi dapat juga dijadikan sebagai alat untuk mengembangkan fungsi dan
peran masjid selain untuk tempat peribadatan. Misalnya, untuk peran mencerdaskan
umat. Pengurus masjid dapat menyelenggarakan pendidikan agama bagi masyarakat
sekitarnya. Untuk menarik minat masyarakat mau belajar agama ke masjid (atau untuk
mengaji ke masjid) perlu sumber daya pengajar yang berkualitas dan pengembangan
metode-metode pendidikan yang menarik dan modern, sehingga masjid menjadi pusat
pendidikan agama. Tentu untuk mewujudkan hal itu diperlukan dana yang tidak sedikit.
Dengan akuntansi, maka dapat ditentukan secara akurat berapa dana yang diperlukan
untuk membiayai kegiatan ibadah rutin masjid, dan berapa sisa dana yang dapat
dimanfaatkan untuk melaksanakan tujuan dan fungsi masjid selain ibdah ritual yang
rutin. Dengan informasi akuntansi dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan fungsi
masjid yang lainnya, seperti kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam konteks ini,
akuntansi bermanfaat untuk menyusun perencanaan yang baik. Perencanaan yang baik
akan mampu menyinergikan antara tujuan dengan sumber daya organisasi, sehingga
dapat disusun prioritas dan target kinerjanya
Dengan pengaturan yang cermat, dana masjid tidak terbuang-buang dengan
percuma. Bahkan, deposit dana yang ada sedapat mungkin diusahakan berkembang.
Dana itu dimanfaatkan sesuai dengan prioritas dan rencana yang disusun. Dari dana yang
tersedia kegiatan ibadah dapat disemarakkan dengan kegiatan memakmurkan masjid dan
muamalah lainnya, seperti mendirikan sekolah, klinik atau rumah sakit; kegiatan sosial
kemasyarakatan dengan mendirikan koperasi, baitul maal, pertokoan, memberikan
beasiswa kepada masyarakar miskin, dan lain sebagainya. Jika masjid bergerak ke arah
demikian berarti pengurus masjid mampu memperkaya dimensi fungsi dan peran masjid
menjadi pusat sosial, pusat budaya dan pusat pendidikan
Akuntansi juga dapat sebagai alat pengendalian manajemen. Pengendalian
manajemen dimaksudkan untuk menjamin aktivitas organisasi sesuai dengan tujuan
organisasi yang hendak dicapai. Maksudnya adalah, akuntansi tidak hanya sebagai
pengendalian dalam tahap perencanaan saja, melainkan juga pengendalian pada tahap
pelaksanaan.
Dengan menerapkan sistem akuntansi yang baik, diharapkan akan tercipta
pengendalian internal yang baik pula. Sehingga, pengurus masjid tidak mudah untuk
melakukan penyimpangan, dari tujuan organisasi maupun penyimpangan karena adanya
faktor moral hazard. Apakah masih mungkin terjadi penyimpangan dalam mengelola
dana masjid? Bukankah mereka akan takut kepada balasan Tuhan nantinya, karena
menggunakan dana amal umat tidak sebagaimana mestinya? Apakah ancaman akan
balasan Tuhan dan pahala dari Tuhan sudah cukup untuk mengendalikan sikap dan
tindakan para pengurus masjid? Namun perlu disadari, bukankah manusia memiliki
kelemahan berupa khilaf dan lupa? Apakah manusia bisa melihat apa yang tersembunyi
di balik manusia yang lain? Apakah cukup dengan rasa saling percaya saja? Tentu,
pertanyaan tersebut mengarah pada perlunya sebuah alat yang tersistematis yang dapat
menjamin dan membantu pengurus mengelola keuangan dengan baik dan amanah. Oleh
karena itu, akuntansi dapat membantu pengelola masjid dalam memakmurkan masjid
sehingga keberadaan masjid menjadi penting dan memberikan manfaat besar bagi
kehidupan sosial kemasyarakatan. Selain itu, akuntansi dapat membantu pengelola untuk
mengelola dana masjid secara lebih akuntabel, lebih transparan, lebih amanah, dan
akuntansi dalam organisasi masjid? lebih terarah (efektif dan efisien).
8. Ibadah Implementasi Akuntansi pada Organisasi Tempat
Jika akuntansi dianggap penting untuk organisasi masjid, lalu bagaimana cara
mengimplementasikan akuntansi dalam organisasi keagamaan? Konsep akuntansi yang
mana yang cocok dengan organisasi keagamaan? Pada uraian di atas, dijelaskan bahwa
organisasi keagamaan atau organisasi tempat ibadah termasuk dalam kategori organisasi
nirlaba. Untuk itu perlakuan akuntansinya dan pelaporan keuangannya mengacu pada
PSAK Nomor 45 tentang Standar Akuntansi untuk Entitas Nirlaba.
Ayub (1996) menyatakan bahwa faktanya laporan keuangan masjid masih dibuat
bentuk dua lajur, yaitu lajur pemasukan dan pengeluaran. Laporan keuangan masjid
memuat dari mana saja sumber dana diperoleh dan untuk apa saja dana tersebut
dikeluarkan. Pada setiap minggu atau akhir bulan kedua lajur tersebut kemudian
dijumlahkan dan ditandingkan sehingga menghasilkan selisih. Sering kali terjadi selisih
plus, dan jarang sekali yang minus. Namun, kenyataan yang ada saldo dana masjid
semakin besar dan sering kali masih banyak yang tidak dipergunakan. Padahal, apabila
dimanfaatkan dapat memberikan manfaat yang besar bagi kesejahteraan umat. Agar
pemanfaatannya benar, efektif dan efisien diperlukan alat untuk menghasilkan informasi
yang akurat dan relevan, yaitu sistem akuntansi.
Praktik pembukuan atau akuntansi yang ada masih menggunakan sistem tata
buku tunggal (single entry) dan berbasis kas. Ritonga (2010) menyebutkan single entry
memiliki kelemahan yaitu informasi yang dihasilkan tidak komprehensif dan tidak
integral. Sehingga, informasi yang parsial (sepotong-potong) tidak memadai untuk
pengambilan keputusan yang berguna. Sementara itu, basis kas memiliki kelemahan
antara lain:
a. Informasi yang lebih kompleks tidak dapat dihasilkan.
b. Hanya terfokus pada aliran kas dan mengabaikan aliran sumber daya lain
c. Pertanggungjawaban kepada umat jadi terbatas hanya pada penggunaan kas dan tidak
pada sumber daya yang lain.
Jika dengan kualitas informasi yang demikian, apakah mungkin mengembangkan
masjid menjadi lebih berperan dan berfungsi selain untuk pelayanan ritual ibadah rutin
umat muslim? Untuk itu, sistem pembukuan yang diterapkan selama ini perlu diubah
menjadi sistem akuntansi berbasis akrual dan menggunakan double entry. Dengan begitu,
informasi yang dihasilkan dapat lebih berguna bagi pengambilan keputusan manajemen
dan pertanggungjawaban manajemen
Apalagi, perbedaan utama yang mendasar dengan organisasi swasta atau bisnis
adalah pada cara organisasi memperoleh sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan
berbagai aktivitas operasionalnya. Organisasi yang memperoleh sumber daya dari
sumbangan para anggota dalam hal ini umat dan para penyumbang lainnya yang tidak
mengharapkan imbalan apapun dari organisasi tersebut. Menurut kondisi ini, transaksi
yang jarang atau tidak akan pernah terjadi dalam organisasi bisnis manapun, akan muncul
dalam organisasi nirlaba. Namun demikian, dalam praktik organisasi nirlaba, transaksi
tersebut sering tampil dalam berbagai bentuk.
Siklus akuntansi pada suatu entitas nirlaba dapat digambarkan pada Gambar 27.2

Buku Neraca Laporan


Jurnal Besar Lajur Keuangan
Bukti-bukti
Transaksi

Bukti
Tambahan

Tahap Perencanaan Tahap Pengikhtisaran Tahap Pelaporan

Gambar 27.2. Siklus Akuntansi

Pada umumnya, siklus akuntansi pada organisasi nirlaba termasuk organisasi


masjid, dikelompokkan dalam tiga tahap, adalah sebagai berikut.
a. Tahap pencatatan, terdiri dari kegiatan pengidentifikasian dan pengukuran dalam
bentuk transaksi dan buku pencatatan, kegiatan pencatatan bukti transaksi ke dalam
buku jurnal, dan memindahbukukan (posting) dari jurnal berdasarkan kelompok atau
jenisnya ke dalam akun buku besar.
b. Tahap pengikhtisaran, terdiri dari penyusunan neraca saldo berdasarkan akun-akun
buku besar, pembuatan ayat jurnal penyesuaian, penyusunan kertas kerja, pembuatan
ayat jurnal penutup, membuat neraca saldo setelah penutupan, membuat ayat jurnal
pembalik.
c. Tahap pelaporan, yang terdiri dari Laporan Surplus-Defisit, Laporan Arus Kas,
Neraca,dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Untuk dapat menjalankan siklus akuntansi tersebut dengan baik diperlukan
sumber daya manusia yang berkompeten dalam bidang akuntansi dan pengelolaan
keuangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Ayub (1996) bahwa untuk mengembalikan
peran masjid dalam masyarakat sebagaimana pada jaman Nabi Muhammad saw., maka
perlu ada perubahan dalam manajemen organisasi masjid, antara lain perlunya
spesialisasi peran dalam operasionalisasi organisasi masjid, dan perlu dijalankan oleh
sumber daya manusia yang berkompeten, terutama dalam bidang administrasi dan
keuangan.

B. Akuntansi Lembaga Amil Zakat


1. Pengertian Zakat
Dari segi Bahasa zakat berasal dari kata “zaka” yang berarti berkah, tumbuh, suci,
bersih dan baik. Sedangkan zakat secara terminology berarti aktivitas memberikan harta
tersebut sesuai perintah Allah yang sesuai dengan perhitungan tertentu untuk diserahkan
kepada yang berhak menerimanya.
Berdasarkan pengertian tersebut bahwasannya zakat itu tidak sama dengan
donasi, sumbangan dan shadaqah yang bersifat sukarela. Zakat suatu kewajiban bagi
umat muslim yang harus ditunaikan dan bukan merupakan hak, sehingga kita tidak bisa
memilih untuk membayar atau tidak. Zakat memiliki aturan yang jelas mengenai harta
apa yang harus dizakatkan, batas harta yang terkena zakat, dengan disertai cara
perhitungannya bahkan siapa saja yang menerima zakat pun telah diatur oleh Allah swt
dan Rasul Nya. Jadi, zakat adalah sesuatu yang sangat khusus karena memiliki aturan-
aturan dengan sedemikian rincinya yang telah ditentukan oleh syara.
a. Hubungan antara Zakat, Infak, dan Shadaqah
Menurut bahasa, Infak adalah membelanjakan, sedangkan menurut
terminology artinya mengeluarkan harta karena taat dan patuh kepad Allah SWT dan
menurut kebiasaan yaitu untuk memenuhi kebutuhan. Pengeluaran infak dapat
dilakukan oleh seorang muslim sebagai rasa syukur ketika menerima rezeki dari Allah
dengan jumlah sesuai kerelaan dan kehendak muslim tersebut. Hal ini sesuai dengan
(QS. Al-baqarah (2) : 195)
“…… dan tetaplah kamu berinfak untuk agama Allah, dan janganlah kamu
menjerumuskan diri dengan tanganmu sendiri ke lembah kecelakaan (karena
menghentikan infak itu).”
b. Jenis Infaq
1) Infak Wajib: terdiri atas zakat dan nazar, yang bentuk dan jumlah pemberiannya
telah ditentukan. Nazar adalah sumpah atau janjiuntuk melakukan sesuatu di masa
yang akan datang. Menurut Qardhawi, nadzar itu adalah sesuatu yang makruh.
Namun demikian, apabila telah diucapkan maka harus dilakukan sepanjang hal itu
untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2) Infak Sunah: Infak yang dilakukan seorang muslim untuk mencari rida Allah, bisa
dilakukan dengan berbagai cara dan bentuk. Misalnya: memberi makanan bagi
orang yang terkena bencana.
Shadaqah adalah segala pemberian/kegiatan untuk mengharap pahala dari
Allah SWT. Shadaqah memiliki dimensi yang lebih luas dari Infak, karena shadaqah
memiliki 3 pengertian utama.
1) Shadaqah merupakan pemberian kepada fakir, miskin yang membutuhkan tanpa
mengharapkan imbalan (azzuhali). Shadaqah bersifat sunah.
2) Shadaqah dapat berupa zakat, karena dalam beberapa teks Al-Quran dan As Sunah
ada yang tertulis dengan shadaqah padahal yang dimaksud adalah zakat.
3) Zhadaqah adalah sesuatu yang ma’ruf (benar dalam pandangan syariah).
Pengertian ini yang membuat definisi atas shadaqah menjadi luas, hal ini sesuai
hadis Nabi Muhammad SAW “Setiap kebajikan, adalah shadaqah” (HR Muslim)
Dari ketiga pengertian di atas, maka shadaqah memiliki dimensi yang sangat
luas, tidak hanya berdimensi memberikan sesuatu dalam bentuk harta tetapi juga dapat
berupa berbuat kebajikan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Manfaat
infak dan shadaqah adalah sebagai berikut:
1) Mencegah datangnya bala (kesulitan).
2) Memelihara harta dari hal-hal yang tidak diinginkan.
3) Mengharap keberkahan harta yang dimiliki.
c. Perbedaan Zakat dengan Pajak
Zakat berbeda dengan pajak yang dibayarkan oleh warga negara kepada
pemerintahnya. Pajak sendiri diartikan sebagai kontribusi wajib kepada negara yang
terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-
undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (UU No. 28/2007).
Terdapat beberapa perbedaan antara pajak dan zakat (Syrwat, 2006), yaitu sebagai
berikut:
1) Zakat merupakan manifestasi ketaatan ummat terhadap perintah Allah SWT dan
Rasulullah SAW sedangkan pajak merupakan ketaatan seorang warganegara
kepada ulil amrinya (pemimpinnya).
2) Zakat telah ditentukan kadarnya di dalam Al-Qur’an dan Hadis, sedangkan pajak
dibentuk oleh hukum negara.
3) Zakat hanya dikeluarkan oleh kaum muslimin sedangkan pajak dikeluarkan oleh
setiap warga negara tanpa memandang apa agama dan keyakinannya.
4) Zakat berlaku bagi setiap muslim yang telah mencapai nisab tanpa memandang di
negara mana ia tinggal, sedangkan pajak hanya berlaku dalam batas garis tutorial
suatu negara saja.
5) Zakat adalah suatu ibadah yang wajib didahului oleh niat sedangkan pajak tidak
memakai niat.
6) Zakat harus dipergunakan untuk kepentingan mustahik yang berjumlah delapan
asnaf (sasarannya), sedang pajak dapat dipergunakan dalam seluruh sector
kehidupan.
Sedangkan persamaan zakat dan pajak, yaitu sebagai berikut:
1) Bersifat wajib dan mengikat atas harta yang ditentukan, da nada sanksi jika
mengabaikannya.
2) Zakat dan pajak harus disetorkan pada lembaga resmi agar tercapai optimalisasi
penggalangan dana maupun penyalurannya.
3) Zakat dan pajak memiliki tujuan yang sama yaitu untuk membantu penyelesaian
masalah ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
4) Tidak ada janji akan memperoleh imbalan materi tertentu di dunia.
5) Zakat dan pajak dikelola oleh negara pada pemerintahan Islam.
2. Kelembagaan Pengelolaan Zakat
Zakat merupakan suatu kewajiban setiap individu yang telah memenuhi syarat-
syarat tertentu untuk mengeluarkan sebagian dari hartanya yang diatur berdasarkan
ketentuan syara.’ Agar zakat yang dikeluarkan oleh seseorang dapat mencapai sasaran
penerima yang berhak, maka diperlukan lembaga yang khusus menangani zakat.
Lembaga zakat pada dasarnya memiliki dua peran utama, yaitu: (1) memobilisasi zakat
dari masyarakat (ummat), dan (2) melakukan pendistribusian zakat kepada mereka yang
berhak menerima.
Kedudukan lembaga zakat dalam lingkungan yang semakin maju dan kompleks
sangat penting, karena kelemahan yang dijumpai selama ini adalah tidak adanya
manajemen zakat yang baik. Dengan semakin majunya ummat baik dari segi ekonomi,
ilmu pengetahuan maupun keyakinan beragama, maka jumlah Muzaki (pembayar zakat)
akan bertambah dan juga kuantitas zakat akan meningkat. Untuk mengantisipasi keadaan
tersebut perlu dibuat lembaga-lembaga zakat yang dikelola dengan manajemen yang
maju.
Manajemen zakat pada dasarnya bukan masalah yang sederhana.Manajemen
zakat membutuhkan dukungan politik (political will) dari umara (pemerintah). Selain itu
manajemen zakat juga membutuhkan dukungan sistem informasi akuntansi dan sistem
informasi manajemen yang baik. Tanpa dukungan tersebut pengelolaan zakat tidak akan
efektif dan efisien.
Saat ini, pemerintah telah mengeluarkan UU No. 38 Tahun 1999 tentang
Pengelolaan Zakat. Hal ini merupakan langkah yang lebih maju dibandingkan masa
sebelumnya. Menurut Undang-Undang No. 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan,
wajib pajak yang sudah membayar zakat kepada Lembaga atau Badan Amil Zakat yang
disyahkan pemerintah, maka pembayaran zakat tersebut dapat digunakan sebagai
pengurang penghasilan kena pajaknya (PKP). Muzaki (pembayar zakat) apabila memiliki
surat bukti (dokumen) pembayaran zakat dapat menggunakan dokumen tersebut untuk
keperluan pengurangan PKP-nya. Untuk itu diperlukan sistem pencatatan yang baik bagi
lembaga-lembaga zakat yang ada.
3. Akuntansi Zakat
Lembaga zakat merupakan organisasi yang mendapat tanggung jawab (amanah)
dari para muzaki untuk menyalurkan zakat yang telah mereka bayarkan kepada
masyarakat yang membutuhkan secara efektif dan efisien. Penyaluran secara efektif
adalah penyaluran zakat yang sampai pada sasaran masyarakat dan mencapai tujuan.
Sementara itu, penyaluran zakat yang efisien adalah terdistribusikannya zakat dengan
baik.
Sebagai lembaga pemegang amanah, lembaga zakat berkewajiban untuk
mencatat setiap setoran zakat dari muzaki baik kuantitas maupun jenis zakat, kemudian
melaporkan pengelolaan zakat tersebut kepada masyarakat. Untuk melaksanakan fungsi
ini diperlukan akuntansi. Jadi secara sederhana akuntansi zakat berfungsi untuk
melakukan pencatatan dan pelaporan atas penerimaan dan pengalokasian zakat.
4. Pengertian dan Tujuan Akuntansi Zakat
Pengertian Akuntansi secara umum adalah suatu proses pencatatan,
pengklasifikasian, pemrosesan, peringkasan, penganalisaan, dan pelaporan kejadian
(transaksi) yang bersifat keuangan. Dalam pengertian lain, akuntansi disefinisikan
sebagai suatu aktivitas jasa untuk memberikan informasi kuantitatif terutama yang
bersifat finansial kepada pihak-pihak yang membutuhkan informasi tersebut untuk
pembuatan keputusan.
Pengertian akuntansi tersebut dapat dirumuskan dari dua sudut pandang, yaitu
pengertian dari sudut pandang pemakai jasa akuntansi, dan dari sudut pandang proses
kegiatannya. Informasi yang dihasilkan akuntansi diperlukan untuk:
a. Membuat perencanaan yang efektif, pengawasan dan pengambilan keputusan oleh
menajemen; dan
b. Pertanggungjawaban organisasi kepada para muzaki, badan pemerintah untuk
kepentingan pajak, dan pihak-pihak lain yang terkait.
Apabila ditinjau dari sudut kegiatannya, akuntansi dapat didefinisikan sebagai
proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan penganalisisan data
keuangan suatu organisasi.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, akuntansi merupakan serangkaian
kegiatan yang meliputi pencatatan, penggolongan, peringkasan dan pelaporan, dengan
cara-cara tertentu yang sistematis. Obyek kegiatan akuntansi adalah transaksi-transaksi
keuangan suatu organisasi, yaitu peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang
setidak-tidaknya bersifat keuangan, misalnya: penerimaan uang, pengeluaran uang,
pembelian, dan penjualan. Sedang yang dimaksud organisasi adalah badan-badan atau
lembaga-lembaga yang menjalankan fungsi usaha, baik yang bertujuan untuk
memperoleh keuntungan maupun yang tidak mencari keuntungan. Proses akuntansi
secara sederhana dapat dijelaskan dalam alur sebagai berikut:
Proses akuntansi yang paling akhir adalah pembuatan laporan keuangan. Laporan
keuangan tersebut diperlukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap organisasi
yang bersangkutan. Pihak-pihak yang membutuhkan laporan akuntansi dapat
dikelompokkan menjadi dua pihak, yaitu: (1) pihak intern organisasi (manajemen) dan
(2) pihak ekstern organisasi. Laporan akuntansi digunakan sebagai informasi yang
bermanfaat untuk dasar pengambilan keputusan ekonomi yang akan dilakukan, sesuai
dengan kepentingan masing-masing pihak tersebut.
5. Tujuan Akuntansi Zakat
Tujuan akuntansi zakat adalah untuk:
a. Memberikan informasi yang diperlukan untuk mengelola secara tepat, efisien, dan
efektif atas zakat, infak, sodaqoh, hibah, dan wakaf yang dipercayakan kepada
organisasi atau lembaga pengelola zakat. Tujuan ini terkait dengan pengendalian
manajemen (management control) untuk kepentingan internal organisasi.
b. Memberikan informasi yang memungkinkan bagi lembaga pengelola zakat
(manajemen) untuk melaporkan pelaksanaan tanggung jawab dalam mengelola secara
tepat dan efektif program dan penggunaan zakat, infak, sodaqoh, hibah, dan wakaf
yang menjadi wewenangnya; dan memungkinkan bagi lembaga pengelola zakat untuk
melaporkan kepada publik (masyarakat) atas hasil operasi dan penggunaan dana
publik (dana ummat). Tujuan ini terkait dengan akuntabilitas (accountability).
Akuntansi zakat terkait dengan tiga hal pokok, yaitu penyediaan informasi,
pengendalian manajemen, dan akuntabilitas. Akuntansi zakat merupakan alat informasi
antara lembaga pengelola zakat sebagai manajemen dengan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan informasi tersebut. Bagi manajemen, informasi akuntansi zakat
digunakan dalam proses pengendalian manajemen mulai dari perencanaan, pembuatan
program, alokasi anggaran, evaluasi kinerja, dan pelaporan kinerja.
Informasi akuntansi bermanfaat untuk pengambilan keputusan, terutama untuk
membantu manajer dalam melakukan alokasi zakat. Selain itu, informasi akuntansi dapat
digunakan untuk membantu dalam pemilihan program yang efektif dan tepat sasaran.
Pemilihan program yang tepat sasaran, efektif, dan ekonomis akan sangat membantu dalam
proses alokasi dana zakat, infak, sodaqoh, hibah, dan wakaf yang diterima.
Informasi akuntansi zakat juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja
lembaga pengelola zakat. Akuntansi dalam hal ini diperlukan terutama untuk menentukan
indikator kinerja (performance indicator) sebagai dasar penilaian kinerja. Manajemen akan
kesulitan untuk melakukan pengukuran kinerja apabila tidak ada indikator kinerja yang
memadai. Indikator kinerja tersebut dapat bersifat finansial maupun nonfinansial. Sebagai
contoh indikator kinerja tersebut adalah:
a. Indikator Efisiensi
1) Persentase dana yang didistribusikan dibandingkan dengan total dana yang diterima
2) Persentase jumlah masyarakat miskin yang terbantu (terlayani) oleh pengelola zakat
dibandingkan dengan total jumlah masyarakat miskin di wilayah itu
b. Indikator Efektivitas
1) Persentase jumlah masyarakat miskin yang terentaskan dibandingkan dengan total
jumlah penduduk miskin di wilayah itu sebagai dampak dari penyaluran zakat
2) Persentase jumlah penduduk miskin dibandingkan dengan total penduduk di wilayah
itu
3) Indikator Penjelas Lainnya
4) Persentase kenaikan/penurunan jumlah pembayar zakat (muzakki)
5) Persentase kenaikan/penurunan jumlah dana zakat, infak, dan shodaqoh yang
terkumpul
6) Persentase jumlah dana zakat, infak, dan shodaqoh yang terhimpun dibandingkan
dengan potensi
7) Banyaknya produk jasa dan program yang dilakukan
8) Ketepatan waktu pelaksanaan program/kegiatan
Pada tahap akhir dari proses pengendalian manajemen, akuntansi zakat
dibutuhkan dalam pembuatan laporan keuangan yang dapat berupa laporan alokasi zakat,
laporan sumber dan penggunaan dana, laporan aktivitas, dan neraca. Laporan keuangan
zakat merupakan bagian penting dari proses akuntabilitas publik (konsep amanah).
6. Teknik Akuntansi Zakat
Pada dasarnya terdapat beberapa teknik akuntansi yang biasa diadopsi oleh
organisasi baik yang bersifat mencari laba (profit motive) maupun lembaga nonprofit
seperti lembaga pengelola zakat, yayasan, LSM, partai politik, dan sebagainya. Teknik
akuntansi tersebut yaitu:
a. Akuntansi Anggaran
b. Akuntansi Komitmen
c. Akuntansi Dana
d. Akuntansi Kas
e. Akuntansi Akrual
Pada dasarnya kelima teknik akuntansi tersebut tidak bersifat mutually exclusive.
Artinya, penggunaan salah satu teknik akuntansi tersebut tidak berarti menolak
penggunaan teknik yang lain. Dengan demikian, suatu organisasi dapat menggunakan
teknik akuntansi yang berbeda-beda, bahkan dapat menggunakan kelima teknik tersebut
secara bersama-sama. Akuntansi kas, akuntansi akrual, dan akuntansi komitmen berbeda
satu dengan lainnya karena adanya perbedaan waktu pengakuan pendapatan dan biaya
(time of recognition). Dalam tulisan ini hanya akan dijelaskan teknik akuntansi kas dan
akuntansi dana.
Untuk kepentingan zakat penggunaan teknik akuntansi kas dan akuntansi dana
dapat digunakan dengan beberapa alasan. Pertama, pengelolaan zakat tidak melibatkan
rekening utang-piutang dan persediaan, sehingga penggunaan teknik akuntansi kas sudah
cukup memadai. Kedua, akuntansi dengan basis kas cukup sederhana dan mudah,
sehingga personel yang tidak berlatar belakang pendidikan tinggi akuntansi dapat
melakukannya. Namun bukan berarti tidak butuh seorang akuntan. Jika hendak
menciptakan lembaga pengelola zakat yang baik, maka perlu akuntan untuk mendesain
sistem akuntansi dan sistem informasi manajemen.
Penggunaan akuntansi dana juga sangat mungkin karena pengelolaan zakat
melibatkan alokasi zakat untuk pos-pos tertentu yang meliputi beberapa asnaf
(golongan). Penjelasan mengenai konsep akuntansi kas dan akuntansi dana adalah
sebagai berikut:
7. Akuntansi Dana (Fund Accounting)
Pada organisasi pengelola zakat masalah utama yang dihadapi adalah pencarian
sumber dana dan alokasi dana. Penggunaan dana dan peran anggaran sangat penting
dalam organisasi sektor publik. Dalam tahap awal perkembangan akuntansi dana,
pengertian “dana (fund)” dimaknai sebagai dana kas (cash fund). Tiap-tiap dana tersebut
harus ditempatkan pada laci (cash drawer) secara terpisah; beberapa pengeluaran harus
diambilkan dari satu laci dan pengeluaran lain dari laci yang lainnya. Namun saat ini,
“dana” dimaknai sebagai entitas anggaran dan entitas akuntansi yang terpisah, termasuk
sumber daya nonkas dan utang diperhitungkan di dalamnya.
Akuntansi dana melihat bahwa unit pelaporan harus diperlakukan sebagai dana
(fund) dan organisasi harus dilihat sebagai satu dana atau satu rangkaian dana. Hal ini
berarti jika suatu organisasi dilihat sebagai suatu rangkaian dana (series of fund), maka
laporan keuangan organisasi tersebut merupakan penggabungan (konsolidasi) dari
laporan keuangan dana yang menjadi bagian organisasi.
General Fund atau dana umum merupakan jumlah total penerimaan zakat, infak,
sodaqoh, hibah, dan wakaf yang diterima oleh lembaga pengelola zakat. Total dana ini
akan dialokasikan ke beberapa kelompok penerima (dalam Al-Qur’an terdapat delapan
asnaf), misalnya untuk dana fakir-miskin, fi sabilillah, ibnu sabil, beasiswa, dan
sebagainya yang masing-masing kelompok mungkin diambilkan dari dana 1, dana 2,
dana 3, dan seterusnya sesuai dengan jumlah kelompok dana.
Sistem akuntansi yang dilakukan dengan menggunakan konsep dana
memperlakukan suatu unit organisasi sebagai entitas akuntansi (accounting entity) dan
entitas anggaran (budget entity) yang berdiri sendiri. Penggunaan akuntansi dana
merupakan salah satu perbedaan utama antara untuk memastikan bahwa uang ummat
dialokasikan atau didistribusikan untuk tujuan yang telah ditetapkan. Sistem akuntansi
dana adalah metode akuntansi yang menekankan pada pelaporan pemanfaatan dana,
bukan pelaporan organisasi itu sendiri.
8. Akuntansi Kas
Penerapan akuntansi kas, pendapatan dicatat pada saat kas diterima, dan
pengeluaran dicatat ketika kas dikeluarkan. Banyak organisasai nonprofit menggunakan
akuntansi kas karena akuntansi kas relatif lebih sederhana dan tidak menyita banyak
waktu.
Kelebihan cash basis adalah mencerminkan pengeluaran yang aktual, riil dan
obyektif. Sedangkan kekurangannya adalah tidak dapat mencerminkan kinerja yang
sesungguhnya karena dengan cash basis tidak dapat diukur tingkat efisiensi dan
efektivitas suatu kegiatan, program, atau aktivitas dengan baik.
Secara sederhana akuntansi basis kas dapat dirumuskan sebagai berikut:
Basis Kas: Penerimaan kas – Pengeluaran kas = Perubahan kas
9. Sumber Hukum Zakat
a. Al- Qur’an
َّ ‫ن لَّ ُه ۡ ۗۡم َو‬ٞ ‫س َك‬
ُ‫ٱّلل‬ َ ‫علَ ۡي ِه ۡ ۖۡم ِإ َّن‬
َ ‫صلَ َٰوت َ َك‬ َ ‫ط ِه ُر ُه ۡم َوتُزَ ِكي ِهم ِب َها َو‬
َ ‫ص ِل‬ َ ‫ُخ ۡذ ِم ۡن أ َ ۡم َٰ َو ِل ِه ۡم‬
َ ُ ‫صدَقَ ٗة ت‬
١٠٣ ‫ع ِلي ٌم‬ َ ‫س ِمي ٌع‬َ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya
doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-taubah: 103)
ۡ ‫ٱّللِ فَأ ُ ْو َٰلَٓئِ َك ُه ُم ۡٱل ُم‬
٣٩ َ‫ض ِعفُون‬ َّ َ‫َو َما ٓ َءاتَ ۡيتُم ِمن زَ َك َٰو ٖة ت ُ ِريدُونَ َو ۡجه‬
“…. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk
mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang
melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Rum :39)

٧ َ‫ٱلز َك َٰوة َ َو ُهم ِب ۡٱۡل ٓ ِخ َرةِ ُه ۡم َٰ َك ِف ُرون‬


َّ َ‫ ٱلَّذِينَ ََل ي ُۡؤتُون‬٦ َ‫ل ِل ۡل ُم ۡش ِركِين‬ٞ ‫َو َو ۡي‬
“…. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya (yaitu)
orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan)
akhirat.” (QS. Fussilat: 6-7)
b. As- Sunnah
Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda: “barangsiapa yang dikaruniai oleh
Allah kekayaan tetapi tidak mengeluarkan zakatnya, maka pada hari kiamat nanti ia
akan didatangi oleh seekor ular jantan gundul yang sangat berbisa dan sangat
menakutkan dengan dua bintik diatas kedua matanya.” (HR. Bukhari)
“Golongan yang tidak mengeluarkan zakat (di dunia) akan ditimpa kelaparan
dan kemarau panjang.” (HR. Tabrani)
“Bila shadaqah (zakat) bercampur dengan kekayaan lain, maka kekayaan itu
akan binasa.” (HR. Bazar dan Baihaqi)
“Zakat itu dipungut dari orang-orang kaya di Antara mereka, dan diserahkan
kepada orang-orang miskin.” (HR. Bukhari)
10. Syarat dan Wajib Zakat
Syarat wajib zakat yaitu Antara lain:
a. Islam yaitu, Zakat yang diwajibkan atas orang Islam baik tua, muda ataupun masih
kecil.
b. Merdeka yaitu, hamba sahaya (budak) tidak wajib berzakat kecuali Zakat Fitrah.
Meski tidak adanya masalah hamba sahaya masa sekarang tetapi syarat merdeka
masih digunakan sebagai satu syarat wajib.
c. Memiliki satu nisab dari salah satu jenis harta yang wajib dikenakan zakat dan cukup
hasil
Zakat adalah kewajiban bagi pihak yang memenuhi semua kriteria di atas, zakat
adalah utang kepada Allah SWT dan harus deisegerakan pembayarannya, serta ketika
membayar harus diniatkan untuk menjalankan perintah Allah dan mengharapkan rida-
Nya. Syarat harta kekayaan yang wajib dizakatkan atau objek zakat:
a. Halal, harta tersebut harus didapatkan dengan cara yang baik dan halal (sesuai dengan
tuntutan syariah)
b. Milik Penuh, artinya kepemilikan di sini berupa hak untuk penyimpanan, pemakaian,
pengelolaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia, dan di dalamnya tidak ada
hak orang lain
c. Berkembang
d. Cukup Nisab, adalah nilai yang ditentukan untuk wajib zakat harus mencapai nishob
tertentu dengan jenis objek yang dizakati.
e. Cukup Haul, yaitu harta yang akan dizakati harus genap setahun disimpan.
11. Jenis Zakat
a. Zakat jiwa atau zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan kepada setiap muslim
setelah matahari terbenam ahir bulan Ramadhan. Lebih utama jika dibayarkan
sebelum shalat idul fitri, karena jika dibayarkan setelah shalat Ied, maka sifatnya
seperti sedekah biasa bukan zakat fitrah. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW.
b. “barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat Ied, maka itu zakat fitrah yang
diterima. Dan barangsiapa yang mengeluarkannya sesudah shalat Ied, maka itu
termasuk salah satu sedekah dari sedekah-sedekah biasa.” (HR. Ibnu Abbas)
c. Zakat harta adalah zakat yang boleh dibayarkan pada waktu yang tidak tertentu,
mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta
temuan, emas dan perak serta hasil kerja (profesi) yang masing-masing memiliki
perhitungan sendiri-sendiri.
12. Objek Zakat Harta
a. Zakat Binatang Ternak (Zakat An’am)
Dalam berbagai hadits dikemukakan bahwa ada tiga jenis hewan ternak yang
wajib dikeluarkan zakatnya setelah memenuhi persyaratan tertentu yaitu unta, sapi
dan domba. Sedangkan diluar ketiga jenis tersebut, para ulama berbeda pendapat. Abu
hanifah berpendapat bahwa pada binatang kuda dikenakan zakat, sedangkan Imam
Maliki dan Imam Syafii tidak mewajibkannya, kecuali kuda tersebut diperjualbelikan.
Syarat zakat binatang ternak yaitu harus mencapai jumlah tertentu yang telah
ditetapkan syariah (cukup nishab), telah dimiliki selama satu tahun (haul). Berikut
nishab hewan yang wajib untuk di zakati.
1) Zakat Unta
Nisab Unta Banyaknya Zakat
5-9 ekor 1 ekor kambing
10-14 ekor 2 ekor kambing
15-19 ekor 3 ekor kambing
20-24 ekor 4 ekor kambing
25-35 ekor 1 ekor unta umur 1 tahun
36-45 ekor 1 ekor unta umur 2 tahun
46-60 ekor 1 ekor unta umur 3 tahun
61-75 ekor 1 ekor unta umur 4 tahun
76-90 ekor 2 ekor unta umur 2 tahun
91-120 ekor 2 ekor unta umur 3 tahun

2) Zakat Sapi/Kerbau
Nisab Sapi Banyaknya Zakat
30-39 ekor 1 sapi jantan atau betina umur 1 tahun
40-59 ekor 1 sapi betina umur 2 tahun
60 ekor 2 sapi jantan atau betina umur 1 tahun
70 ekor 1 sapi jantan 1 tahun dan 1 sapi betina 2 tahun
80 ekor 2 sapi betina umur 2 tahun
90 ekor 3 sapi jantan umur 1 tahun
100 ekor 2 sapi janta 1 tahun dan 1 sapi betina 2 tahun

3) Zakat Kambing/Domba
Nisab Kambing/Domba Banyaknya Zakat
1-39 ekor 0
40-120 ekor 1 ekor kambing
121-200 ekor 2 ekor kambing
201-300 ekor 3 ekor kambing
Selanjutnya setiap kenaikan 100 ekor Akan ditambah 1 ekor kambing

b. Zakat Emas dan Perak


Emas dan perak adalah sejenis galian yang wajib untuk di zakati. kerana logam
ini sangat berguna berdasarkan penggunaannya sebagai nilai tukar yang sangat
bernilai tinggi, sedangkan perak termasuk dalam kategori jenis-jenis harta yang
dikenakan zakat. Adapun nisab zakat emas yang dipakai 180gram dan nisab zakat
emas yang tidak dipakai 85gram sedangkan Nisab dan kadar zakat perak menurut
Ijma, ulama telah menetapkan nisab perak sebanyak 200 dirham yaitu setara dengan
595 gram.
c. Zakat Pertanian (Zakat Zira’ah)
Zakat pertanian atau zakat ziro'ah hukumnya adalah wajib. Alloh SWT telah
menerangkannya dalam Al-Quran yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (zakatkanlah) sebagian yang
baik-baik dari harta yang kamu usahakan dan dari apa yang Kami keluarkan untuk
kamu dari bumi..." (Q.S. Al-Baqoroh: 267)
Adapun ketentuan-ketentuan nishabnya yaitu Hasil bumi wajib dikeluarkan
zakatnya jika sudah mencapai nishab (jumlah minimal) yaitu 5 wasaq (650 Kg).
Adapun kadar zakatnya ada dua macam yaitu:
1) Jika pengairannya alamiah (oleh hujan atau mata air) maka kadar zakatnya adalah
10%.
2) Jika pengairannya oleh tenaga manusia atau binatang maka kadar zakatnya yaitu
5%
13. Zakat Barang Temuan (Rikaz) dan Barang Tambang (Alma’adin) serta Hasil
Laut
Kewajiban zakat atas rikaz, ma’din dan kekayaan laut ini dasar hukumnya adalah
keumuman nash dalam QS. Al-Baqarah: 267. Rikaz menurut jumhur ulama adalah harta
peniggalan yang terpendam dalam bumi atau disebut harta karun. Kewajiban pembayaran
zakat adalah saat ditemukan dan tidak ada haul, dengan nishab 85 gram emas murni.
Ma’din adalah seluruh barang tambang yang ada diperut bumi baik berbentuk cair, padat
atau gas, diperoleh dari perut bumi ataupun dari dasar laut. Nishab zakat barang tambang
adalah 85 gram emas murni. Barang tambang tidak di syaratkan haul jadi zakatnya harus
dilaksanakan ketika barang tambang itu berhasil diperoleh. Akan tetapi barang tambang
tersebut tidak termasuk hasil eksploitasi dari dalam laut seperti mutiara dan ikat, karena
untuk hasil laut termasuk dalam zakat perdagangan.
a. Zakat Perdagangan (Tijarah)
Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk mengeluarkan shadaqah dan zakat
dari apa yang kita jual. Riwayat Abu Dawud.

“Rasulullah SAW memerintahkan kami agar mengeluarkan zakat dari semua


yang kami persiapkan untuk berdagang.” (HR. Abu Dawud)
Adapun syarat zakat sama dengan zakat emas yaitu mencapai haul dan nishab,
bebas dari hutang lebih dari kebutuhan pokok dan merupakan hak milik penuh. Tariff
zakatnya 2,5%. Suatu harta yang telah dikenakan zakat tidak akan dikenakan zakat
lagi.
b. Zakat Produksi Hewani
Zakat dari produksi hewani sama saja dengan zakat pada umumnya yakni
2,5% seperti zakat perdagangan, akan tetapi untuk madu zakatnya sebesar 10%
dengan syarat nishab mencapai 653 Kg dan tidak harus mencapai haul.
c. Zakat Investasi
Investasi adalah semua kekayaan yang ditanamkan pada berbagai bentuk asset
jangka panjang baik untuk tujuan mendapatkan pendapatan atau ditujukan untuk
diperdagangkan.
1) Bentuk Investasi
a) Surat berharga, seperti saham dan obligasi
b) Asset tetap, seperti property dan tanah
2) Investasi dalam Saham
Saham adalah hak pemilikan tertentu atas kekayaan atau perseroan terbatas
atau atas penunjukan atas saham tersebut. Untuk besaran jumlah zakat menurut
Yusuf Qardhawi adalah, jika saham tersebu diperdagangkan dan bergerak dibidang
industry atau perdagangan, maka dikenakan zakat 2,5% atas harga pasar saham.
Jika saham tersebut tidak bergerak di bidang perdagangan maka tidak dikenakan
zakat tetapi keuntungannya harus dizakati sebesar 10% karena disesuaikan dengan
zakat pertanian.
3) Investasi dalam Obligasi
Obligasi adalah perjanjian tertulis dari bank, perusahaan atau pemerintah
kepada pembawanya untuk melunasi sejumlah pinjaman dalam masa tertentu
dengan bunga tertentu. Maka zakat dikenakan atas obligasi dan keuntungannya
sebesar 2,5% sesuai dengan zakat perdagangan, setelah memenuhi haul dan nishab.
4) Investasi pada Aset
Investasi atas asset dikenakan zakat akan tetapi barang yang berupa tanah,
gedung dan alat mesin produksi tidak dikenakan zakat, tapi zakat hanya dikenakan
pada penghasilan bersih atau keuntungan asset sebesar 10% dan penghasilan kotor
sebesar 5% setelah memenuhi haul dan nishab.
d. Zakat Profesi dan Penghasilan
Zakat profesi atau zakat pendapatan adalah zakat harta yang dikeluarkan dari
hasil pendapatan seseorang atau profesinya bila telah mencapai nisab. Seperti
karyawan, dokter, notaris dan lain-lain. Zakat jenis ini dikenakan pada setiap
pekerjaan, baik dilakukan sendiri maupun bersama orang/lembaga lain,
mendatangkan penghasilan (uang) halal yang memenuhi nishab.
Adapun ketentuan dan tata cara penghitungan zakat profesi/penghasilan
adalah sebagai berikut:
1) Zakat profesi/penghasilan adalah zakat yang dikenakan atas penghasilan atau
pendapatan yang diperoleh oleh seseorang sebagai imbalan atas pekerjaan yang ia
usahakan, secara sendiri maupun secara bersama-sama.
2) Kewajiban zakat profesi/penghasilan didasarkan pada keumuman makna
maal/amwal (harta) yang terdapat di dalam ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah
SAW terkait zakat, seperti yang terdapat dalam QS. At-Taubah: 103 dan QS. Adz-
Dzariyat: 19.
3) Ketentuan mengenai wajib zakat atas gaji dan penghasilan telah ditetapkan dalam
Muktamar Internasional I tentang Zakat di Kuwait, pada tanggal 29 Rajab 1404/30
April 1984 dan dalam Sidang Komisi Fatwa MUI di Padangpanjang pada bulan
Januari 2009.
4) Ketentuan mengenai zakat profesi/penghasilan di Indonesia mengacu pada UU No
23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat Pasal 4 ayat 2 huruf h (Pendapatan dan
Jasa) dan Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 52 tahun 2014 tentang Syariat dan
Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah serta Pendayagunaan Zakat
Untuk Usaha Produktif.
5) Dalam penentuan penghitungan nishab dan kadar zakat profesi/penghasilan,
terdapat tiga pendekatan: (1) dianalogikan pada zakat emas-perak dan
perdagangan, (2) dianalogikan pada zakat pertanian, dan (3) dianalogikan pada dua
hal sekaligus (qiyas syabah), yaitu nishab pada zakat pertanian dan kadar pada
zakat emas dan perak.
6) َ ‫سائ ِل االجْ ِت َها ِد َي ْرفع ْال ِخ‬
Berdasarkan kaidah fiqh ‫الف‬ َ ‫( ُح ْكم الحا ِك ِم فِي َم‬keputusan pemerintah
menghilangkan perbedaan pada persoalan ijtihad) maka ketentuan penghitungan
zakat profesi/penghasilan yang digunakan di Indonesia didasarkan pada Pasal 26
Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 52 tahun 2014 tentang Syariat dan Tata Cara
Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah serta Pendayagunaan Zakat Untuk Usaha
Produktif. Pada pasal tersebut, analogi yang digunakan adalah qiyas syabah,
dimana standar nishab ditetapkan sebesar 524 kg beras (5 ausaq) dan kadar zakat
ditetapkan sebesar 2,5 persen.
7) Adapun ketentuan harga beras standar tahun 2017 yang menjadi dasar penentuan
nishab, telah ditetapkan sebesar Rp10.000,00/kg (sepuluh ribu rupiah per kilogram)
berdasarkan Rapat Pleno Anggota BAZNAS tanggal 2 Mei 2017. Dengan
demikian, setiap penghasilan yang melebihi Rp5.240.000,00/bulan (lima juta dua
ratus empat puluh ribu rupiah per bulan) wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5
persen.
d. Zakat atas Uang
Zakat atas uang dikenakan untuk uang yang dimiliki baik dalam bentuk
simpanan atau hadiah. Jika bentuk bagi hasilnya adalah bunga maka tidak dapat
dikeluarkan zakat atas bunga tersebut. Menurut pendapat Qardhawi, ulama yang
menganalogikan dengan rikaz yaitu:
1) Jika hadiah tersebut terkait dengan gaji maka ketentuannya sama dengan zakat
profesi/pendapatan. Dikeluarkan pada saat menerima dengan kadar zakat 2,5%.
2) Jika komisi, terdiri dari 2 bentuk: pertama, jika komisi dari hasil presentase
keuntungan perusahaan kepada pegawai, maka zakat yang dikeluarkan sebesar
10%. Kedua, jika komisi dari hasil profesi seperti makelar, maka digolongkan
dengan zakat profesi dan aturan pembayaran zakatnya mengikuti zakat profesi.
3) Jika berupa hibah, terdiri atas dua kriteria. Pertama, jika sumber hibah tidak diduga-
duga sebelumnya, maka zakat yang dikeluarkan sebesar 20%. Kedua, jika sumber
hibah sudah diduga dan diharap, hibah tersebut digabungkan dengan kekayaan
yang ada dan zakat yang dikeluarkan sebesar 2.5%.
e. Zakat Perusahaan atau Institusi
Zakat ini adalah zakat yang didasarkan atas prinsip keadilan serta hasil ijtihad
para ahli fikih. Pleh sebab itu zakat ini agak sulit ditemukan pada kitab fikih klasik.
Kewajiban zakat perusahaan hanya ditujukan kepada perusahaan yang dimiliki
(setidaknya mayoritas) oleh muslim. Sehingga zakat ini tidak ditujukan pada harta
perusahaan yang tidak dimiliki oleh muslim.
Para ulama kontemporer menganalogikan zakat perusahaan kepada zakat
perdagangan, karena dipandang dari aspek legal dan ekonomi, kegiatan sebuah
perusahaan intinya berpijak pada kegiatan trading atau perdagangan.
Perhitungan zakat perusahaan ada 3 macam pendapat menurut syafei, sebagai
berikut:
1) Kekayaan perusahaan yang dikenakan zakat adalah kekayaan perusahaan yang
digunakan untuk memperoleh laba. Pendapat ini dikemukakan oleh Qardhawi, dan
zakat dikenakan pada harta lancar bersih perusahaan. Secara sederhana seperti,
(kas/setara kas + investasi jangka pendek + persediaan + piutang dagang bersih) –
(kewajiban jangka pendek). Perhitungan cara ini relative sederhana dan dapat
diterapkan bila transaksi usaha perdagangan juga sederhana. Seperti pada
perdagangan yang dimiliki usahanya oleh perseorangan di mana untuk
menjalankan usaha adalah dari modal sendiri dan utang jangka pendek.
2) Kekayaan yang dikenakan zakat adalah pertumbuhan modal bersih. Pendapat ini
dikemukakan oleh el Badawi dan Sultan. Secara sederhana seperti, (asset lancar
bersih + utang jangka pendek yang digunakan untuk keperluan jangka panjang –
utang jangka panjang yang digunakan untuk pembiayaan harta lancar). Metode ini
diusulkan oleh El Badawi dan sultan untuk mengatasi kelemahan pada metode
pertama. Hal ini disebabkan transaksi perusahaan makin kompleks, di mana
sumber pendanaan tidak lagi hanya modal dan utang jangka pendek tetapi juga
utang jangka panjang. Agar sesuai dengan konsep zakat yaitu tidak tidak dikenakan
atas asset tetap dan dikenakan atas asset yang tumbuh berkembang. Untuk itu El
Badawi mengusulkan konsep pertumbuhan modal bersih (growing capital): modal
kerja bersih pada akhir tahun + utang jangka pendek yang digunakan untuk
mendanai asset jangka panjang, melunasi utang jangka panjang atau mengurangi
saham – utang jangka panjang untuk mendanai asset lancar.
3) Kekayaan yang dikenakan zakat adalah kekayaan bersih perusahaan. Pendapat ini
dikemukakan oleh Lembaga Fatwa Arab Saudi. Secara sederhana yaitu, (modal
setor + saldo laba + laba tahun berjalan – asset tetap bersih + investasi perusahaan
atau entitas lainnya – kerugian tahun berjalan).
Metode apapun boleh digunakan walaupun yang paling sederhana untuk
digunakan adalah pendapat Qardhawi. Sedangkan nishab zakat adalah 85 gram emas
dan cukup haul (1 tahun qomariyah) dengan besar zakat 2,5%. Jika perusahaan
menggunakan tahun masehi, maka besar zakat adalah 2,575%.
14. Penerima Zakat
Selain telah menetapkan zakat sebagai kewajiban muslim yang telah memenuhi
ketentuan tertentu seperti telah dijelaskan diatas. Allah pun telah menentukan kepada
siapa zakat itu harus diberikan. Sebagaimana ffirman Allah dalam (QS. At-taubah:60)

ِ ‫علَ ۡي َها َو ۡٱل ُم َؤلَّفَ ِة قُلُوبُ ُه ۡم َوفِي‬


ِ ‫ٱلرقَا‬
‫ب‬ َ َ‫ين َو ۡٱل َٰ َع ِملِين‬
ِ ‫س ِك‬ َ َٰ ‫صدَ َٰقَتُ ِل ۡلفُقَ َرآ ِء َو ۡٱل َم‬
َّ ‫۞ ِإنَّ َما ٱل‬
٦٠ ‫يم‬ٞ ‫ع ِلي ٌم َح ِك‬ َ ُ‫ٱّلل‬ ۡۗ َّ َ‫ض ٗة ِمن‬
َّ ‫ٱّللِ َو‬ َ ‫سبِي ۖۡ ِل فَ ِري‬َّ ‫ٱّللِ َو ۡٱب ِن ٱل‬ َّ ‫سبِي ِل‬ َ ‫َو ۡٱل َٰغَ ِر ِمينَ َوفِي‬

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang


miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu´allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk
mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan
Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-taubah: 60).
Ada delapan golongan orang-orang yang berhak menerima zakat, yaitu:
a) Fakir adalah orang yang penghasilannya belum dapat menutupi separuh dari
kebutuhannya.
b) Miskin adalah orang yang penghasilannya baru bisa memenuhi separuh atau lebih
dari kebutuhannya, tetapi belum bisa terpenuhi semuanya.
c) Pihak yang mengurus zakat (Amil Zakat) adalah orang yang mendapatkan tugas dari
negara, organisasi, lembaga atau yayasan untuk mengurusi zakat. Atas kerjanya
tersebut, seorang amil zakat berhak mendapatkan jatah dari uang zakat.
d) Muallaf adalah orang-orang yang hati mereka dilunakkan agar masuk Islam, atau
agar keimanan mereka meningkat, atau untuk menghindari kejahatan mereka.
e) Budak atau hamba sahaya maksud pemberian zakat kepada mereka bukanlah kita
memberikan uang kepada mereka, tetapi maksudnya adalah memerdekakan mereka.
f) Orang yang berutang (Gharimin) orang-orang yang dililit utang, sehingga dia tidak
bisa membayarnya.
g) Orang yang berjuang dijalan Allah (Fii sabilillah) Yang dimaksud fi sabilillah
adalah perang di jalan Allah untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi.
h) Orang dalam perjalanan (Ibnu Sabil), yaitu seorang musafir yang kehabisan bekal
di tengah perjalanan, sehingga dia tidak bisa melanjutkan perjalanan atau kembali
ke kampung halamannya. Orang seperti ini, walaupun dia kaya di kampung
halamannya, berhak untuk mendapatkan zakat sekedarnya sesuai dengan
kebutuhannya sehingga dia sampai tujuan.
15. Orang Yang Tidak Boleh Menerima Zakat
Orang-orang yang tidak boleh menerima zakat adalah sebagai berikut:
a) Orang kaya, yaitu orang yang berkecukupan atau mempunyai harta yang mencapai
satu nisab.
b) Orang yang kuat yang mampu berusaha untuk mencukupi kebutuhannya dan jika
penghasilannya tidak mencukupi, baru boleh mengambil zakat.
c) Orang kafir di bawah perlindungan negara Islam kecuali jika diharapkan untuk
masuk Islam.
d) Bapak ibu atau kakek nenek hingga ke atas atau anak-anak hingga ke bawah atau
istri dari orang yang mengeluarkan zakat, karena nafkah mereka di bawah tanggung
jawabnya. Namun diperbolehkan menyalurkan zakat kepada selain mereka seperti
saudara laki-laki, saudara perempuan, paman dan bibi dengan syarat mereka dalam
keadaan membutuhkan.
16. Hikmah Zakat
a. Menghindari kesenjangan sosial antara aghniya (si kaya) dan dhu’afa (si miskin).
Melalui menolong, membantu, membina, dan membangun kaum dhuafa yang lemah
papa dengan materi sekadar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan
kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah
SWT.
b. Pilar amal jama’I (bersama) antara si kaya dengan para mujahid dan da’I yang
berjuang dang berdakwah dalam rangka meninggikan kalimat Allah SWT.
c. Membersihkan dan mengikis akhlak yang buruk.
d. Alat pembersih harta dan penjagaan dari ketamakan orang kikir. Memberantas
penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri orang-orang di sekitar pada orang
yang berkehidupan cukup, apalagi mewah.
e. Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan.
f. Untuk pengembangan potensi umat melalui terwujudnya system kemasyarakatan
Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatan Wahidan (umat yang satu),
Musawah (persamaan derajat, dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan
Islam), dan Takaful Ijti’ma (tanggung jawab bersama).
g. Dukungan moral kepada orang yang baru masuk Islam.
h. Menambah pendapatan negara untuk proyek-proyek yang berguna bagi ummat.
i. Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta
(social distribution), dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.
17. Perlakuan Akuntansi (PSAK 109)
Perlakuan akuntansi dalam pembahasan ii mengacu pada PSAK No. 109, ruang
lingkupnya hanya untuk amil yang menerima dan menyalurkan zakat dan
infak/sedekah. PSAK ini wajib diterapkan oleh amil yang mendapat izin dari regulator
namun amil yang tidak mendapat izin juga dapat menerapkan PSAK ini.
PSAK 109 ini merujuk kepada beberapa fatwa MUI, yaitu sebagai berikut:
1) Fatwa MUI No. 8/2011 tentang Amil Zakat, menjelaskan tentang kriteria, tugas
amil zakat serta pembebanan biaya operasional kegiatan amil zakat yang dapat
diambil dari bagian amil, atau dari bagian fi sabilillah dalam batas kewajaran,
proporsional serta sesuai dengan kaidah Islam.
2) Fatwa MUI No. 13/2011 tentang Hukum Zakat atas Harta Haram, di mana zakat
harus ditunaikan dari harta yang halal baik jenis maupun cara perolehannya.
3) Fatwa MUI No. 14/2011 tentang Penyaluran Harta Zakat dalam bentuk Aset
Kelolaan. Yang dimaksud asset kelolaan adalah sarana dan/atau prasarana yang
diadakan dari harta zakat dan secara fisik berada didalam pengelolaan pengelola
sebagai wakil mustahik zakat, maka pengguna harus membayar atas manfaat yang
digunaknnya dan diakui sebagai dana kebajikan oleh amil zakat.
4) Fatwa MUI No. 15/2011 tentang Penarikan. Pemeliharaan dan Penyaluran Harta
Zakat. Tugas Amil zakat adalah melakukan penghimpunan, pemeliharaan dan
penyaluran. Jika amil menyalurkan zakat tidak langsung kepada mustahik zakat,
maka tugas amil dianggap selesai pada saat mustahik zakat menerima dana zakat.
Amil harus mengelola zakat sesuai dengan prinsip syariah dan kelola yang baik.
Penyaluran dana zakat muqayyadah, apabila membtuhkan biaya tambahan dapat
dibebankan kepada muzakki.
a. Akuntansi untuk Zakat
1) Penerimaan zakat diakui pada saat kas atau asset nonkas diterima dan diakui
sebagai penambah dana zakat. Jika diterima dalam bentuk kas, diakui sebesar
jumlah yang diterima tetapi jika dalam bentuk nonkas sebesar nilai wajar asset.
Jurnal:
Kas xxx
Aset Nonkas (nilai wajar) xxx
Penerimaan Zakat xxx
2) Jika muzakki menentukan mustahik yang menerima penyaluran zakat melalui
amil, maka tidak ada bagian amil atas zakat yang diterima dan amil dapat
menerima ujrah atas kegiatan penyaluran tersebut. Jika tas jasa tersebut amil
mendapatkan ujrah/fee maka diakui sebagai penambah dana amil.
Jurnal saat mencatat penerimaan fee:
Kas xxx
Penerimaan dana amil xxx
3) Penurunan nilai asset zakat
a) Pengurang dana zakat, jika terjadi tidak disebabkan oleh kelalaian amil
Jurnal:
Penurunan nilai asset xxx
Asset nonkas xxx

b) Kerugian dan pengurang dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian amil
Jurnal:
Kerugian Penurunan nilai – dana amil xxx
Asset nonkas xxx

4) Zakat yang disalurkan kepada mustahik diakui sebagai pengurang dana zakat
dengan keterangan sesuai dengan kelompok mustahik termasuk jika disalurkan
kepada amil, sebesar:
a) Jumlah yang diserahkan, jika pemberian dilakukan dalam bentuk kas.
Jurnal:
Penyaluran zakat – dana amil xxx
Penyaluran zakat – mustahik – non amil xxx
Kas xxx

b) Jumlah tercatat, jika pemberian dilakukan dalam bentuk asset nonkas


Jurnal:
Penyaluran zakat – dana amil xxx
Penyaluran zakat – mustahik – non amil xxx
Asset nonkas xxx

5) Amil berhak mengambil bagian dari zakat untuk menutup biaya operasional
dalam menjalankan fungsinya.
Jurnal:
Beban – dana fisabilillah xxx
Kas xxx
6) Beban penghimpunan dana dan penyaluran zakat harus diambil dari porsi amil.
Jurnal:
Beban – dana amil xxx
Kas xxx

7) Zakat dikatakan telah disalurkan kepada mustahik – non – amil hanya bila telah
diterima oleh mustahik – nonamil tersebut. Apabila zakat disalurkan oleh amil
lain diakui sebagai piutang penyaluran dan bagi amil yang menerima diakui
sebagai liabilitas penyaluran. Piutang dan liabilitas penyaluran akan berkurang
ketika zakat disalurkan. Amil lain tidak berhak mengambil bagian dari dana
zakat, namun dapat memperoleh ujrah dari amil sebelumnya.
Jurnal penyaluran zakat melalui amil lain:
Piutang penyaluran zakat xxx
Kas xxx

Jurnal ketika amil lain menyalurkan pada mustahik non-amil


Penyaluran zakat – mustahik xxx
Piutang penyaluran zakat xxx

Jurnal pembayaran ujrah kepada amil lain:


Beban – dana amil xxx
Kas xxx

8) Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait dengan transaksi zakat, tetapi
tidak terbatas pada:
a) Kebijakan penyaluran zakat, seperti penentuan sekala prioritas penyaluran
zakat dan mustahik nonamil.
b) Kebijakan penyaluran zakat untuk amil dan mustahiq nonamil, seperti
persentase pembagian, alasa, dan konsistensi kebijakan.
c) Metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan zakat
berupa asset non kas
d) Rincian jumlah penyaluran dana zakat untuk masing-masing mustahik
e) Penggunaan dana zakat dalam bentuk asset kelolaan yang masih
dikendalikan oleh amil atau pihak lain yang dikendalikan amil, jika ada,
diungkapkan jumlah dan presentase terhadap seluruh penyaluran dana zakat
serta alasannya.
f) Hubungan pihak-pihak berelasi antara amil dan mustahik yang meliputi:
(1) Sifat hubungan istimewa
(2) Jumlah dan jenis asset yang disalurkan
(3) Persentase dari setiap asset yang disalurkan tersebut dari total penyaluran
selama periode
g) Keberadaan dana nonhalal, jika ada, diungkapkan mengenai kebijakan atas
penerimaan dan penyaluran dana, alasa, dan jumlahnya
h) Kinerja amil atas penerimaan dan penyaluran dana zakat dan dana
infak/sedekah
b. Akuntansi untuk Infak/Sedekah
1) Penerimaan infak/sedekah diakui pada saat kas atau asset nonkas diterima dan
diakui sebagai penambah dana infak/sedekah terikat atau tidak terikat sesuai
tujuan pemberiannya.
Jika diterima dalam bentuk kas, diakui sebesar jumlah yang diterima tetapi tidak
dalam bentuk nonkas sebesar nilai wajar.
Untuk penerimaan asset nonkas dapat dikelompokkan menjadi asset lancar atau
asset tidak lancar. Asset lancar adalah asset yang harus segera disalurkan, dan
dapat berupa bahan habis pakai seperti bahan makan atau barang yang memiliki
manfaat jangka panjang misalnya mobil untuk ambulan. Asset nonkas lancar
dinilai sebesar nilai perolehan.
Jurnal:
Kas xxx
Asset nonkas (nilai perolehan) - lancar xxx
Penerimaan infak/sedekah xxx

2) Asset tidak lancar yang diterima dan diamanahkan untuk dikelola oleh amil
dinilai sebesar nilai wajar dan diakui sebagai asset tidak lancar infak/sedekah.
Penyusutan dari asset tersebut diperlakukan sebagai pengurang dana
infak/sedekah terikat apabila penggunaan atau pengelolaan asset tersebut sudah
ditentukan oleh pemberi.
Jurnal:
Asset nonkas (nilai wajar) – tidak lancar xxx
Penerimaan infak/sedekah xxx
Penyaluran infak/sedekah – beban depresiasi xxx
Akumulasi depresiasi xxx

3) Penurunan nilai asset infak/sedekah diakui sebagai:


a) Pengurang dana infak/sedekah, jika terjadi tidak disebabkan oleh kelalaian
amil.
Jurnal:
Penurunan nilai xxx
Asset nonkas xxx

b) Kerugian dan pengurang dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian amil.
Jurnal:
Kerugian penurunan nilai – dana amil xxx
Asset nonkas xxx

4) Dana infak/sedekah sebelum disalurkan dapat dikelola dalam jangka waktu


sementara untuk mendapatkan hasil yang optimal. Hasil dana pengelolaan diakui
sebagai penambah dana infak/sedekah.
Jurnal:
Kas xxx
Hasil pengelolaan - infak/sedekah xxx

5) Penyaluran dana infak/sedekah diakui sebagai pengurang dana infak/sedekah


sebesar:
a) Jumlah yang diserahkan, jika dalam bentuk kas
Jurnal:
Penyaluran infak/sedekah xxx
Kas xxx

b) Nilai tercatat asset yang diserahkan, jika dalam bentuk asset nonkas
Jurnal:
Penyaluran infak/sedekah xxx
Asset nonkas xxx

6) Penyaluran infak/sedekah oleh amil kepada amil lain merupakan penyaluran


yang mengurangi dana infak/sedekah sepanjang amil tidak akan menerima
kembali asset infak/sedekah yang disalurkan tersebut.
Jurnal:
Penyaluran infak/sedekah xxx
Kas xxx

7) Penyaluran infak/sedekah kepada penerima akhir dalam skema dana bergulir


dicatat sebagai piutang infak/sedekah bergulir dan tidak mengurangi dana
infak/sedekah.
Jurnal:
Piutang – dana bergulir xxx
Kas xxx

8) Amil harus mengungkapkan hal – hal berikut terkait dengan transaksi


infak/sedekah, tetapi tidak terbatas pada:
a) Kebijakan penyaluran infak/sedekah, seperti penentuan skala prioritas
penyaluran, dan penerima
b) Kebijakan pembagian atas dana amil dan dana nonamil atas penerimaan
infak/sedekah, seperti persentase pembagian, alasan, dan konsistensi
kebijakan.
c) Metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan
infak/sedekah berupa asset nonkas.
d) Keberadaan dana infak/sedekah yang tidak langsung disalurkan tetapi
dikelola terlebih dahulu, jika ada, maka harus diungkapkan jumlah dan
persentase dari seluruh penerimaan infak/sedekah selama periode pelaporan
serta alasannya.
e) Hasil yang diperoleh dari pengelolaan yang dimaksud di huruf (d)
diungkapkan secara terpisah.
f) Penggunaan dana infak/sedekah menjadi asset kelolaan yang diperuntukkan
bagi yang berhak, jika ada, jumlah dan persentase terhadap seluruh
penggunaan dana infak/sedekah serta alasannya.
g) Rincian dana infak/sedekah berdasarkan peruntukannya, terikat dan tidak
terikat
h) Hubungan pihak-pihak berelasi antara amil dengan penerima infak/sedekah
yang meliputi:
(1) Sifat hubungan istimewa
(2) Jumlah dan jenis asset yang sidalurkan
(3) Persentase dari asset yang disalurkan tersebut dari total penyaluran
selama periode
i) Keberadaan dana nonhalal, jika ada, diungkapkan mengenai kebijakan atas
penerimaan dan penyaluran dana, alasan, dan jumlahnya
j) Kinerja amil atas penerimaan dan penyaluran dana zakat dan dana
infak/sedekah.
18. Perhitungan Zakat dalam Akuntansi
Perusaahaan PT A adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri, dan
berikut ini adalah laporan keuangan untuk tahun 2007.
PT A
Laporan Laba Rugi
Untuk Tahun yang berakhir 31 Desember 2007
(dalam Rp)

PT A
Laporan Perubahan Ekuitas
Untuk Tahun yang berakhir 31 Desember 2007
(dalam Rp)
Neraca Komparatif
PT A
Per 31 Desember 2006 dan 2007

Catatan:
1. Utang jangka pendek untuk mendanai asset jangka pendek dan uang jangka panjang
untuk mendanai asset jangka panjang.
2. Asset tetap bertambah berasal dari pembelian peralatan baru senilai Rp 189.000.000
dan tanah senilai Rp 100.000.000 dan menjual tanah lain senilai Rp 30.000.000 (harga
perolehan Rp 10.000.000) dan adanya penyusutan untuk tahun berjalan sebesar Rp
27.500.000.
3. Pembelian tanah didanai dengan penerbitan obligasi senilai Rp 100.000.000, sedangkan
peralatan didanai dari uang tunai sebesar Rp 165.000.000 dan utang jangka pendek
sebesar Rp 24.000.000.
4. Utang jangka panjang bertambah karena adanya penerbitan obligasi senilai Rp
100.000.000, pembayaran utang jangka panjang Rp 40.000.000 dan utang jangka
panjang senilai Rp 5.000.000 yang digunakan untuk mendanai asset lancar.
5. Adanya pembayaran dividen tunai di tahun 2007 sebesar Rp 35.000.000.
BAB III
KESIMPULAN

Tempat ibadah sebenarnya tidak hanya bertujuan untuk menjadi tempat beribadah ritual
umat beragama yang sifatnya rutin. Namun, apabila tempat ibadah dapat dikelola dengan
konsep organisasi yang modern dapat berkembang menjadi organisasi yang berperan dan
berfungsi melebihi tujuan utamanya, yaitu melayani peribadatan umat. Tujuan-tujuan yang
sifatnya sosial kemasyarakatan, pendidikan, dan pengembangan budaya dapat dikembangkan
melalui organisasi tempat ibadah atau organisasi peribadatan atau organisasi keagamaan.
Untuk menciptakan akuntabilitas yang baik diperlukan sarana untuk mewujudkannya,
yaitu dengan menerapkan akuntansi pada organisasi keagamaan. Penerapan akuntansi biaya
dan akuntansi manajemen dapat membantu pengurus masjid untuk mengelola dnegan efektif
dan efisien. Efektivitas pengelolaan dana terkait dengan kesesuaian alokasi dan penggunaan
dana dengan tujuan organisasi, dan efisiensi terkait dengan kewajaran besaran dana yang
digunakan untuk membiayai sebuah aktivitas atau kegiatan organisasi.
Dalam proses membuat laporan keuangan lembaga amil zakat harus menggunakan
standar akuntansi zakat dengan sistem pembukuan yang benar dan transparan seperti dalam
PSAK No. 109 yang menjadi standar akuntansi zakat dalam membuat laporan keuangan.
Adapun proses penyusunan laporan keuangan ini tidak lepas dari proses pengumpulan bukti
seperti bukti pembayaran, bukti penerimaan dan yang lainnya kemudian bukti tersebut dicatat
didalam jurnal, buku besar dan dibuat laporan keuangan untuk masing-masing jenis dana.
DAFTAR PUSTAKA

Nurhayati, dan Wasilah. 2015. Akuntansi Syariah di Indonesia Edisi 4. Jakarta. Salemba
Empat.
http://www.puskasbaznas.com/publications/officialnews/425-ketentuan-dan-tata-cara-
penghitungan-zakat-profesi-penghasilan