Anda di halaman 1dari 13

“PELANGGARAN ETIKA AUDITOR INTERNAL BANK MANDIRI”

DALAM KASUS PT. TIRTA MARTA BOTTLING COMPANY

Oleh :
(Tiara Ayu Pratama - 0118104009)

 Kronologi Kasus

Perusahaan air minum kemasan PT. Tirta Marta Bottling Company ditengarai menilap kredit
sebesar Rp 1,4 triliun dari Bank Mandiri. Kejaksaan juga telah menetapkan Rony Tedi, Direktur
Tirta Amarta, sebagai tersangka penggelapan pinjaman ini, akhir Oktober 2017. Ia disangka
melanggar Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 55 ayat 1 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.

Pembobolan kredit ini terendus setelah manajemen kantor pusat Bank Mandiri membentuk tim
untuk mengaudit kemampuan dan kinerja para nasabahnya pada akhir 2015. PT. Tirta Marta
Bottling Company termasuk yang diperiksa karena tergolong sebagai debitor kelas menengah-
atas. Berdasarkan catatan Bank Mandiri, perusahaan ini termasuk debitor lama. Tirta Amarta
pertama kali mendapat fasilitas Kredit Modal Kerja dari Bank Mandiri Commercial Banking
Center Bandung pada 19 Desember 2008.

Perusahaan air minum dalam kemasan yang memegang merek dagang "Viro" ini berdiri sejak
2005. Selain berjualan air minum, mereka memiliki lima anak usaha, yaitu PT Jimando Perkasa,
PT Tirta Amarta, PT Trison Star Investama, PT Kenanda Investama, dan PT Trimas Investama.
Semuanya bergerak di sektor penanaman modal.

Berdasarkan catatan Bank Mandiri, Tirta Amarta tercatat sebagai nasabah lancar. Artinya, mereka
selalu membayar pinjaman tepat waktu dan sesuai dengan perjanjian. Sampai akhirnya
perusahaan ini mengajukan fasilitas tambahan kredit dengan alasan untuk meluaskan usaha pada
April 2015.

Menurut Surat Nomor 08/TAB/VI/205, Rony Tedi sebagai Direktur Tirta Amarta mengajukan
perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Commercial
Banking Center Bandung. Tirta Amarta mengajukan perpanjangan semua fasilitas Kredit Modal
Kerja sebesar Rp 880,6 miliar, perpanjangan dan tambahan plafon letter of credit sebesar Rp 40
miliar, serta fasilitas Kredit Investasi sebesar Rp 250 miliar selama 72 bulan.

Sebagai syarat permintaan tambahan kredit ini, Tirta Amarta menjaminkan sejumlah aset
perusahaan. Selain itu, mereka menunjukkan keuangan perusahaan yang diklaim terus membaik.
Bank Mandiri Bandung kemudian menyetujui penambahan kredit ini. Berdasarkan nota analisis
pemutus kredit Nomor CMG.BD1/0110/2015 tanggal 30 Juni 2015 yang dikeluarkan Bank
Mandiri Bandung, Tirta Amarta bisa memperoleh perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit
sebesar Rp 1,4 triliun.

Setelah berbulan-bulan mengaudit, tim sampai pada kesimpulan bahwa Tirta Amarta
seharusnya tidak layak mendapat kredit dalam jumlah besar. Ada indikasi perusahaan itu
memanipulasi laporan keuangan agar terlihat sehat. Padahal omzet perusahaan
menunjukkan kecenderungan turun. Bahkan ada dugaan penggelembungan nilai aset agar
perusahaan ini bisa mendapat pinjaman kredit.

Bank pelat merah ini curiga Tirta Amarta sengaja akan mempailitkan diri sendiri setelah
menerima kredit. Modus ini jamak terjadi di dalam perbankan. Perusahaan sengaja memoles
laporan keuangan agar mendapat pinjaman. Setelah itu, mereka akan sengaja mempailitkan diri
dengan alasan krisis ekonomi agar mendapat keringanan atau terlepas dari kewajiban.

Dugaan penyimpangan itu kemudian dilaporkan ke Kejaksaan Agung, awal Januari 2017. Dan
pada akhir September 2017, Kejaksaan menerbitkan surat perintah penyidikan atas perkara ini.
Mereka juga mengeluarkan surat pencegahan agar Rony Tedi tidak bisa bepergian ke luar negeri.
Sebulan setelah terbitnya surat perintah penyidikan, Kejaksaan Agung baru mengumumkan Rony
sebagai tersangka. Penetapan tersangka dilakukan setelah Kejaksaan memeriksa 27 saksi.

Selain diduga memanipulasi laporan keuangan dan aset perusahaan, Rony ditengarai
menggunakan uang fasilitas kredit untuk keperluan pribadi di luar akta kredit sebesar Rp 73
miliar. Uang itu sebenarnya hanya boleh digunakan untuk kepentingan kredit investasi dan kredit
modal kerja. Namun Rony diduga meminjamkan uang itu kepada orang lain atau membeli aset
pribadi.
Rony tidak sendiri untuk menggasak kredit senilai Rp 1,4 triliun ini, ia diduga bekerja
sama dengan pegawai Bank Mandiri Bandung. Kejaksaan juga telah menetapkan 5 (lima)
orang sebagai tersangka. Mereka bekerja di bagian Commercial Banking Manager (Surya
Baruna Semengguk), Comercial Banking Head (Totok Suharto), Relationship Manager
(Frans Zandstra), Wholesale Cresit Head (Poerwitono Poeji Wahjono) dan yang terakhir
Senior Credit Risk Manager (Teguh Kartika Wibowo).

Jaksa menyebut bahwa Internal Auditor Bank Mandiri terbukti lalai dalam melaksanakan
tugasnya. Mereka tidak melakukan verifikasi pemberian fasilitas kredit dan abaikan
proses pemberian kredit hingga pertimbangan pemberian kredit berdasarkan piutang
tidak didasarkan pada syarat yang seharusnya sehingga negara dirugikan sebesar Rp 1,8
triliun. Ditanya soal keterlibatan pegawai dalam pembobolan ini, Bank Mandiri menyatakan
tidak bisa memungkiri jika di dalam sistem yang kuat pun masih ada celah untuk terjadinya
penyimpangan.

 Pembahasan

Pelanggaran Kode Etik Internal Auditor

 Analisis Standar Perilaku Auditor Internal

1. Auditor Internal harus menunjukkan kejujuran, obyektifitas dan kesungguhan dalam


melaksanakan tugas dan memenuhi tanggung jawab profesinya.
Dalam kasus ini standar perilaku mengenai kejujuran ini dapat di lihat Auditor
Internal telah melakukan fraud demi kepentingan pribadi mereka dan oknum PT Tirta
Amarta Bottling Company dengan membuat 2 laporan ganda, yaitu nota analisis kredit
dan laporan keuangan bulanan yang masing-masing telah dilakukan adjustment.
2. Auditor Internal harus menunjukkan loyalitas terhadap organisasinya atau terhadap fihak
yang dilayani. Namun demikian, Auditor Internal tidak boleh secara sadar terlibat dalam
kegiatan–kegiatan yang menyimpang atau melanggar hukum.
Pada kasus Bank Mandiri ini, ada pelanggaran kode etik auditor internal. Ini juga
menyangkut pada kode etik standar perilaku auditor internal nomer 2 yang menjelaskan
bahwa Auditor Internal harus menunjukkan loyalitas terhadap organisasinya atau terhadap
pihak yang dilayani. Namun demikian, Auditor Internal tidak boleh secara sadar terlibat
dalam kegiatan–kegiatan yang menyimpang atau melanggar hukum. Namun untuk kasus
tersebut calon kreditur membayar auditor untuk membuat laporan keuangan ganda
dengan tujuan agar perusahaan terlihat maju dan mendapat keuntungan yang tinggi,
Auditor internal Bank Mandiri tidak menunjukan attitude yang baik, mereka sengaja
melakukan fraud untuk mendapat keuntungan financial yang masuk ke dalam saku
pribadi individu. Hal ini tidak menunjukkan sebuah loyalitas terhadap organisasi dan
pihak yang dilayaninya.

3. Auditor Internal tidak boleh secara sadar terlibat dalam tindakan atau kegiatan yang dapat
mendiskreditkan profesi Audit Internal atau mendiskreditkan organisasinya.
Berdasarkan standar perilaku nomor 3, tindakan oknum manajemen Bank Mandiri
bertentangan dengan standar perilaku tersebut karena terbukti secara sadar memanipulasi
laporan keuangan PT Tirta Amarta Bottling seolah-olah memiliki asset dan piutang
hingga Rp 1,1 triliun padahal semua itu fiktif. Tindakan tersebut pada akhirnya
mendiskreditkan profesi Audit Internal dan mendiskreditkan perusahaannya sendiri.

4. Auditor Internal harus menahan diri dari kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan
konflik dengan kepentingan organisasinya; atau kegiatan-kegiatan yang dapat
menimbulkan prasangka, yang meragukan kemampuannya untuk dapat melaksanakan
tugas dan memenuhi tanggungjawab profesinya secara obyektief.
Seharusnya Auditor Internal harus menahan diri dari kegiatan-kegiatan yang dapat
menimbulkan konflik dengan kepentingan organisasinya serta kegiatan-kegiatan yang
dapat menimbulkan prasangka yang meragukan kemampuannya untuk dapat
melaksanakan tugas dan memenuhi tanggungjawab profesinya secara obyektif seperti
auditor internal Bank Mandiri yang sengaja melakukan fraud untuk mendapat keuntungan
finansial yang masuk ke dalam saku pribadi individu dijajaran manajemen perusahaan.
Hal ini menunjukan attitude manajemen yang sangat tidak baik.
5. Auditor Internal tidak boleh menerima imbalan dalam bentuk apapun dari karyawan,
klien, pelanggan, pemasok, ataupun mitra bisnis organisasinya, sehingga dapat
mempengaruhi pertimbangan profesionalnya.
Disini dapat dikatakan bahwa tim audit yang ditunjuk oleh Bank Mandiri telah
melanggar kode etik no 5. Hal ini terlihat ketika perusahaan memberikan imbalan yakni
sebagai orang yang mempunyai jabatan di perusahaan Bank Mandiri. Auditor internal
sengaja memanipulasi laporan agar “Top Manajemen” dapat terpengaruh atas
pertimbangan profesionalnya. Walaupun etikanya auditor harus menjunjung tinggi tingkat
loyalitas dan kesetiaan maupun menjaga rahasia tetapi, audit internal tidak boleh secara
sadar terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menyimpang atau melanggar hukum. Selain
itu, audit internal seharusnya juga bisa menahan diri dari kegiatan yang dapat
menimbulkan konflik dengan kepentingan organisasinya, atau kegiatan-kegiatan yang
dapat menimbulkan prasangka, yang meragukan kemampuanya untuk dapat
melaksanakan tugas dan memenuhi tanggung jawab profesinya secara objektif.

6. Auditor Internal hanya melakukan jasa-jasa yang dapat diselesaikan dengan


mempergunakan kompetensi profesional yang dimilikinya.
Dalam kasus ini, manajemen telah membuktikan satu dari tiga unsur The Fraud
Triangle yaitu peluang bagi karyawan untuk melakukan kecurangan yang terjadi karena
tempat kerja tidak memiliki cukup kendali untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan.
Auditor internal tidak hanya melakukan jasa-jasa dalam mengaudit laporan keuangan
Bank Mandiri, namun auditor internal juga memanipulasi laporan laporan dan bahkan
turut terlibat aktif dalam fraud di Bank Mandiri, yang telah menyalahi kode etik seorang
auditor internal. Oleh karena itu, auditor internal seharusnya benar-benar memegang
teguh kode etik profesi dalam menjalankan tugasnya, salah satunya dalam hal ini adalah
kemandirian atau independensi. Fungsi pemeriksaan internal haruslah terpisah dari
kegiatan-kegiatan yang diperiksanya

7. Auditor Internal harus mengusahakan berbagai upaya agar senantiasa memenuhi Standar
Profesi Auditor Internal.
Sebagai auditor internal perusahaan Bank Mandiri seharunya dilakukan upaya-upaya agar
usaha yang dilakukan senantiasa memenuhi Standar Profesi Auditor Internal. Dalam
kasus PT Tirta Amarta Bottling, Auditor Internal tidak terlihat melakukan upaya-upaya
agar usahanya senantiasa memenuhi Standar Profesi Auditor Internal bahkan saat sidang
oleh hakim Kejaksaan Agung sekalipun tersangka tetap beragumen bahwa secara umum
pelaksaan tugas fungsi unit kerjanya telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Hal ini menunjukkan bahwa auditor internal tidak mematuhi standar profesional dalam
melakukan pemeriksaan, semua itu terdapat dalam kode etik auditor internal. Kode etik
menghendaki standar yang tinggi bagi kejujuran, objektivitas, ketekunan, dan loyalitas,
yang harus dipenuhi oleh pemeriksa internal, sedangkan auditor internal Bank Mandiri
tidak memenuhi hal-hal tersebut.

8. Auditor Internal harus bersikap hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan informasi
yang diperoleh dalam melaksanakan tugasnya.
Auditor Internal tidak boleh menggunakan informasi rahasia:
i. untuk mendapatkan keuntungan pribadi,
ii. secara melanggar hukum, atau
iii. Yang dapat menimbulkan kerugian terhadap organisasinya.
Pihak auditor internal Bank Mandiri telah melakukan fraud atas laporan keuangannya
untuk mendapat keuntungan financial yang masuk ke dalam saku pribadi individu di
jajaran manajemen perusahaan. Tindakan tersebut tentu saja melangar hukum untuk
tindakan manipulasi nota analisis kredit dan laporan keuangan calon kreditur tersebut.

9. Di dalam kasus ini, sebagai auditor internal seharusnya berpegang teguh pada kode etik
agar menjadi auditor yang memiliki integritas, memiliki sifat independen, jujur, obyektif
serta bekerja secara professional. Namun, pada kasus ini yang terjadi adalah sebaliknya
auditor internal Bank Mandiri turut serta dalam melakukan kecurangan pada perusahaan.
Sesuai dengan standar perilaku auditor internal no.9 yang berbunyi:
Dalam melaporkan hasil pekerjaannya, Auditor Internal harus mengungkapkan semua
fakta-fakta penting yang diketahuinya, yaitu fakta-fakta yang jika tidak diungkap dapat :
i. mendistorsi kinerja kegiatan yang direview,atau
ii. menutupi praktek-praktek yang melanggar hukum.
Yang menyebabkan tidak dapat dilaksanakannya audit internal pada perusahaan tersebut
karena auditor internal seharusnya menolak adanya ajakan dari perusahaan calon kreditur
tersebut untuk melakukan kecurangan dalam melakukan audit agar namanya sebagai
auditor dapat dipercaya secara professional dan bekerja sesuai dengan kode etiknya
sebagai auditor internal. Selain itu, juga akan membawa kebaikan untuk perusahaan itu
sendiri, karena dengan melakukan kecurangan dalam membuat laporan keuangan secara
ganda seperti yang dilakukan pada perusahaan tersebut malah menjatuhkan perusahaan
itu sendiri.

10. Auditor Internal harus senantiasa meningkatkan keahlian serta efektifitas dan kualitas
pelaksanaan tugasnya. Auditor Internal wajib mengikuti pendidikan profesional
berkelanjutan.
Dari berbagai sumber yang tersedia tidak dijelaskan lebih rinci mengenai
pendidikan professional pelaku, sehingga tidak dapat dikatakan melanggar atau telah
memenuhi standar perilaku nomor 10.

 Analisis Standar Kinerja Auditor Internal

2000. Penanggungjawab fungsi audit internal harus mengelola fungsi audit internal secara
efektif dan efisien untuk memastikan bahwa kegiatan fungsi tersebut memberikan nilai tambah
bagi organisasi.
Hal ini bertentangan dengan kasus tersebut, auditor internal Bank Mandiri tidak memberikan
keuntungan bagi perusahaan, namun hanya memberi keuntungan finansial bagi pihak-pihak
tertentu, yakni Roni Tedi (Direktur Utama PT Tirta Amarta Bottling). Dan membuat negara
dirugikan sebesar 1,8 Triliun.

2010. Penanggungjawab fungsi audit internal harus menyusun perencanaan yang berbasis
resiko ( risk based plan ) untuk menetapkan prioritas kegiatan audit internal, konsisten dengan
tujuan organisasi.
Hal ini tentu bertentangan juga dengan kasus PT Tirta Amarta Bottling, karena kejahatan ini
cukup terstruktur oknum merupakan orang dalam dari beberapa bagian yaitu bagian Commercial
Banking Manager (Surya Baruna Semengguk), Comercial Banking Head (Totok Suharto),
Relationship Manager (Frans Zandstra), Wholesale Cresit Head (Poerwitono Poeji Wahjono) dan
Senior Credit Risk Manager (Teguh Kartika Wibowo) Bank Mandiri untuk melancarkan aksi
manipulasi laporan keuangan calon kreditur yang tentunya sangat bertolak belakang dengan
tujuan organisasi Bank Mandiri sebagai bank pemerintah, BUMN, yang memiliki tugas mencari
keuntungan dari Bunga pinjaman kredit.

2110. Pengelolaan Resiko


Fungsi audit internal harus membantu organisasi dengan cara mengidentifikasi dan
mengevaluasi resiko signifikan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan
resiko sistem pengendalian intern.
Internal auditor Bank Mandiri telah menyalahi fungsi audit internal. Audit internal tidak lagi
berfungsi sebagai pengelolaan resiko dalam pemberian kredit investasi dan kredit modal, tetapi
justu digunakan untuk kepentingan pribadi oleh oknum auditor internal dan perusahaan kreditur.

2120. Pengendalian
Fungsi audit internal harus membantu organisasi dalam memelihara pengendalian intern yang
efektif dengan cara mengevaluasi kecukupan, efisiensi dan efektifitas pengendalian tersebut,
serta mendorong peningkatan pengendalian intern secara berkesinambungan.
Fungsi audit internal Bank Mandiri, untuk membantu organisasi dalam memelihara pengendalian
oleh tim internal untuk efektifitas perusahaan tidak berjalan baik. Malah bagian audit intern
menyalahgunakan kewenangannya untuk melakukan fraud, dengan membuat laporan keuangan
yang tidak benar dan dimanipulasi. Bagian ini tidak melakukan evaluasi kecukupan, efisiensi,
dan efektivitas pengendalian internal perusahaan.

2120.1 c. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku

Bagian audit internal Bank Mandiri, jelas-jelas menyalahi peraturan perundangan-undangan yang
berlaku dengan tidak melakukan tugas dan kewajibannya sesuai kode etik profesi, dengan
melakukan fraud.

2130. Proses Govermance

Fungsi Audit Internal harus menilai dan memberikan rekomendasi yang sesuai, untuk
meningkatkan proses govermance dalam mencapai tujuan-tujuan berikut :
a) Mengembangkan etika dan nilai-nilai yang memadai di dalam organisasi

b) Memastikan pengelolaan kinerja organisasi yang efektif dan akuntabilitas

c) Secara efektif mengkomunikasikan resiko dan pengendalian kepada unit-unit yang tepat
didalam organisasi

d) Secara efektif mengkoordinasikan kegiatan dari, dan mengkomunikasi informasi diantara


pimpinan, dewan pengawas auditor internal dan eksternal serta manajemen.

Dalam kasus PT Tirta Amarta Bottling, auditor internal Bank Mandiri tentu tidak melaksanakan
proses governance sesuai dalam standart kinerja. Auditor internal Bank Mandiri mengabaikan
konsep environment control, dengan tidak mengembangkan nilai-nilai dan etika dalam suatu
organisasi, dan juga tidak memastikan pengelolaan kinerja organisasi yang efektif dan
akuntanbilitas, namun dengan sengaja membuat laporan keuangan yang palsu, dan tidak memberi
tahu keadaan laba rugi perusahan calon kreditur yang sesungguhnya. Auditor internal Bank
Mandiri juga tidak secara efektif mengkomunikasikan informasi pada pimpinan, dewan
pengawas auditor internal dan eksternal serta manajemen, melainkan sengaja membantu untuk
melakukan fraud.

2220. Ruang Lingkup Penugasan


Agar sasaran penugasan tercapai maka fungsi audit internal harus mempunyai ruang lingkup
penugasan yang memadai.
Pada Kasus Bank Mandiri , ruang lingkup penugasan tidak memadai disebabkan internal audit
tidak bisa berfungsi karena adanya control environment yang tidak dilakukan dengan baik oleh
manajemen.

2320. Analisis dan Evaluasi


Auditor internal harus mendasarkan kesimpulan dan hasil penugasan pada analisis dan evaluasi
yang tepat.
Auditor Internal di Bank Mandiri tidak mendasarkan kesimpulan dan hasil penugasan pada
analisis dan evaluasi yang tepat. Mereka memanipulasi laporan keuangan seolah-olah perusahaan
mempunyai keuntungan dan aset yang berlimpah, laporan keuangan yang benar berisi tentang
kerugian perusahaan yang ditujukan untuk jajaran eksekutif sebagai pertimbangan pemberian
kredit.

2420. Kualitas Komunikasi

Komunikasi yang disampaikan baik tertulis maupun lisan harus akurat, obyektief, jelas, ringkas,
konstruktif, lengkap dan tepat waktu.

Auditor Internal Bank Mandiri tidak memberikan kualitas komunikasi sesuai dengan standar
kinerja karena dalam hasil penugasannya mengandung kesalahan dan kealpaan yang secara
sengaja dilakukan. Ini membuat komunikasi yang disampaikan tidak akurat dan menyesatkan
berbagai pihak.

2500. Pemantauan Tindaklanjut

Penanggungjawab fungsi audit internal harus menyusun dan menjaga sistem untuk memantau
tindaklanjut hasil penugasan yang telah dikomunikasikan kepaga manajemen.

2510. Penyusunan Prosedur Tindaklanjut

Penanggungjawab fungsi audit inetrnal harus menyusun prosedur tindak lanjut untuk memantau
dan memastikan bahwa manajemen telah melaksanakan tindaklanjut secara efektief, atau
menanggung resiko karena tidak melakukan tindak lanjut.

Berdasarkan kode etik nomor 2500 dan 2510 tentang Pemantauan Tindaklanjut dan Penyusunan
Prosedur Tindaklanjut. Apa yang dilakukan oleh auditor internal Bank Mandiri malah sebaliknya,
mereka bekerja sama dengan pihak perusahaan calon kreditur untuk melakukan adjustment
terhadap laporan keuangan dan tidak menjaga sistem yang ada. Sehingga dalam kasus ini proses
pemantauan tindak lanjut sesungguhnya tidak benar-benar dilaksanakan sesuai prosedur kode
etik seharusnya.

 Kesimpulan
Pelanggaran yang dilakukan oleh auditor internal Bank Mandiri dilakukan dengan membuat 2
laporan ganda, yaitu nota analisis kredit dan laporan keuangan bulanan yang masing-masing
telah dilakukan adjustment. Dalam kasus ini, internal audit tidak bisa berfungsi karena adanya
control environment yang tidak dilakukan dengan baik oleh manajemen. Kasus pada Bank
Mandiri tersebut setidaknya telah membuktikan satu dari tiga unsur The Fraud Triangle, yaitu
peluang bagi karyawan untuk melakukan kecurangan yang terjadi karena tempat kerja tidak
memiliki cukup kendali untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan. Oleh karena itu, auditor
internal harus benar-benar memegang teguh kode etik profesi dalam menjalankan tugasnya, salah
satunya dalam hal ini adalah kemandirian atau independensi. Fungsi pemeriksaan internal
haruslah terpisah dari kegiatan-kegiatan yang diperiksanya. Suatu kemandirian akan
memungkinkan pelaksanaan pekerjaan para auditor internal secara bebas dan objektif. Tanpa
kemandirian, hasil pemeriksaan internal yang diharapkan tidak akan dapat diwujudkan secara
optimal.
 Referensi

TribunJabar.id, “Pembobol Bank Mandiri yang Rugikan Negara Rp 1,8 Triliun Dituntut 20
Tahun Penjara”
Rabu, 19 Desember 2018, 18:21
jabar.tribunnews.com/2018/12/19/pembobol-bank-mandiri-yang-rugikan-negara-rp-18-triliun-
dituntut-20-tahun-penjara?page=2

JawaPos.com, “Kasus Pembobolan Bank Mandiri Segera Disidangkan”


17 Agustus 2018, 16:26 WIB
https://www.jawapos.com/jpg-today/17/08/2018/kasus-pembobolan-bank-mandiri-segera-
disidangkan/

Majalah Tempo.Co, “Berawal dari Audit Internal”


Minggu , 4 Februari 2018
https://majalah.tempo.co/read/154881/berawal-dari-audit-internal

TribunJabar.Id, “Saksi Auditor dari Bank Mandiri Tak Bisa Jawab, Saat Ditanya Hakim
Kenapa Pejabat Bank Jadi Terdakwa”
Kamis, 4 Oktober 2018 13:46
http://jabar.tribunnews.com/2018/10/04/saksi-auditor-dari-bank-madiri-tak-bisa-jawab-saat-
ditanya-hakim-kenapa-pejabat-bank-jadi-terdakwa

TribunJabar.Id,“Hasil Audit Keuangan Negara Kasus Bank Mandiri Dipermasalahkan”


Senin, 3 Desember 2018 23:44
http://jabar.tribunnews.com/amp/2018/12/03/hasil-audit-kerugian-keuangan-negara-kasus-bank-
mandiri-dipermasalahkan?page=2

The Institute of Internal Auditor (IIA),“Standar Internasional Praktik Profesional Audit


Internal”
Revisi : Oktober 2016 / Efektif : Januari 2017
Diakses : Minggu, 12 Mei 2019
https://na.theiia.org/translations/PublicDocuments/IPPF-Standards-2017-Indonesian.pdf
Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal, “ Standar Profesional Audit Internal”
Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 12 Mei 2004
Diakses : Minggu, 12 Mei 2019
https://id.scribd.com/doc/51844841/SPAI