Anda di halaman 1dari 4

Jenis-jenis riset perilaku akuntansi:

Dasar tujuan penelitian Human Judgement Theory adalah untuk menjelaskan bagaimana
manusia menggunakan dan memroses informasi akuntansi untuk pengambilan. “Model” adalah
penggambaran/deskripsi yang kita peroleh dari proses pengambilan keputusan oleh seseorang.
Sehingga, kita dapat menggunakan teknik HJT untuk
memodelkan/menggambarkan/mendeskripsikan cara seorang bank loan officer memroses
informasi (seeprti cash flow dan profit) untuk menyetujui permohonan pinjaman suatu
perusahaan.
Model brunswik lens metode adalah metode yang mendominasi pengembangan model
pembuatan keputusan, juga terdapat dua pendekatan penelitian yaitu process tracing
(menggunakan decision tree/pohon keputusan untuk menggambarkan judgement
seseorang), dan probabilistic judgement (proses pengambilan keputusan digambarkan
menggunakan pernyataan probabilitas/probability statement menurut Teorema Boyes.

1. Model Brunswik Lens

Sejak pertengahan tahun 1970, model brunswik lens telah digunakan sebagai kerangka analitis
dan dasar atas penelitian yang paling berhubungan dengan prediksi (seperti kebangrutan)
dan/atau evaluasi (seperti pengendalian internal). Peneliti menggunakan lensa model untuk
melihat hubungan berbagai informasi terhadap keputusan, judgement atau prediksi, dengan cara
melihat kebiasaan yang terjadi sebagai respon terhadap informasi-informasi tersebut. Pengambil
keputusan diibaratkan sedang melihat melalui lensa informasi (seperti rasio keuangan) yang
kemungkinan berhubungan dengan suatu kejadian, untuk menarik kesimpulan atas kejadian
tersebut.

Dalam membentuk model ini, subjek diminta untuk memberi keputusan untuk beberapa
jenis kasus serupa berdasarkan informasi yang sama. Sebagai contoh, mereka dapat ditanya
untuk memperkirakan apakah sebuah perusahaan mungkin gagal dengan rasio- rasio keusangan
yang telah ditentukan sebelumnya. Kemudian sebuah model linier akan dibentuk untuk
mempresentasikan bagaimana informasi diproses oleh individual. Kemudian sebuah analisis
regresi digunakan dengan menetapkan dependent variable dan independent variable untuk
mendapatkan sebuah model.
Dengan Brunswik lens model, peneliti dapat menentukan seberapa penting sebuah informasi
dalam model tersebut, apakah signifikan bagi model atau tidak. Selain itu model juga dapat
menentukan hubungan dari pengambil keputusan dengan informasi bagi mereka. Selain itu kita
juga dapat tahu pentingnya informasi dari sudut pandang yang berbeda, misalkan seorang manajer
melihat bahwa profit merupakan informasi yang sangat penting padahal stakeholder tidak melihat
profit sebagai informasi yang sangat penting. Dengan demikian kita dapat merubah pola pandang
manajamen untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik. Penggunaan model ini telah membuka
jalan bagi penemuan penting sebagai berikut :

 Pola penggunaan informasi dalam berbagai model


 Pembobotan yang digunakan pengambil keputusan atas informasi (informasi mana yang
dianggap paling penting dan relevan untuk memodelkan suatu kejadian/event)
 Akurasi dari pengambil keputusan dari berbagai bidang dalam memprediksi dan mengevaluasi
 Konsistensi dari pengambilan keputusan
 Tingkat sudut pandang yang dimiliki pengambil keputusan mengenai pola data

2. Process Tracing Methods

Model pengambilan keputusan yang diturunkan dengan menggunakan model lens Brunswik
biasanya memilki kekuatan prediktif yang baik. Model lens merupakan prediktor yang lebih baik
karena model statistic lens memindahkan banyak random error yang biasanya terdapat dalam
prasangka manusia yang misalnya diakibatkan rasa lelah, sakit, ataupun kurangnya kosentrasi.
Namun, kelemahan Model Brunswik adalah bukan descriptor yang baik tentang bagaimana
seseorang mengambil keputusan.

Pengetahuan mengenai proses dan cara pengambilan keputusan oleh manusai dapat membantu
menemukan kelemahan dari proses tersebut sehingga kelemahan tersebut dapat dihilangkan. Hal
ini dapat menghasilkan prediksi yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.

Dalam process tracing, pengambil keputusan diberikan serangkaian studi kasus untuk di
analisis, tetapi kali ini mereka diminta untuk mendeskripsikan secara verbal setiap langkah yang
dilalui dalam pengambilan keputusan. Kemudian deskripsi verbal tersebut direkam dan dianalisis
untuk menghasilkan decision tree untuk menggambarkan proses pengambilan keputusan tadi.
Decision tree yang diturunkan dari metode process tracing secara intuitif adalah deksriptor
yang baik mengenai proses pengambilan keputusan manusia namun dibandingkan dengan
model lens Brunswik, metode process tracing tidak selalu merupakan prediktor yang baik. Hal ini
karena pembuat keputusan seringkali mengalami kesulitan dalam menjelaskan semua langkah
yang mereka lalui.

Peneliti mencoba mengatasi keterbatasan kedua model tersebut dengan menkombinasikan


kekuatan deskriptif dan prediktif dua pendekatan tersebut, misalnya dengan sebuah teknik statistic
yang dikenal sebagai classification and regression trees (CART). CART menggunakan metode
statistik untuk membagi (memisahkan) ouput prasangka pembuat keputusan ke dalam noda-noda
yang memaksimalkan kekuatan model untuk memprediksi secara tepat klasifikasi kasus-kasus
yang berbeda kedalam tipe keputusan yang tepat. CART mengkombinasikan kekuatan dominan
untuk secara tepat mengklafikasikan rekomendasi analisis dengan dekskriptor intuitif tentang
proses pengambilan keputusan mereka.

3. Probabilistic Judgement

Model ini berguna untuk melihat situasi akuntansi dimana kepercayaan awal mengenai prediksi
atau evaluasi harus direvisi ketika ada bukti baru. Model ini berpendapat bahwa cara yang paling
tepat secara normatif untuk merevisi kepercayaan awal ini, dinyatakan sebagai probabilitas
subjektif, adalah dengan mengaplikasikan teorema Bayes (sebuah tenet dasar mengenai teori
kondisional probabilitas). Teorema Bayes menyatakan bahwa probabilitas revisi karena adanya
bukti tambahan sama dengan kepercayaan awal dikalikan dengan seberapa banyak ekspektasi awal
harus direvisi. Revisi yang melibatkan auditor dan akuntan memberikan bukti bahwa akuntan dan
auditor memilki serangkaian rules of thumb karena kompleksitas tipe judgement yang harus
mereka buat dengan keterbatasan informasi yang mereka miliki.
Kelebihan BAR Kelemahan BAR
1. Berguna untuk mengembangkan pelatihan 1. Tidak adanya satu landasan teori yang
dan pemrosesan informasi dalam dunia dapat membantu menggabungkan
kerja. beragamnya pertanyaan pertanyaan dalam
2. Menunjukkan systematic error penelitian dan penemuan BAR.
2. Peneliti BAR banyak meminjam pemikiran
dari berbagai disiplin ilmu dan tidak
memiliki persamaan framework satu sama
lain. Hal ini menyebabkan sulitnya
mengeneralisasi bagi policy makers.

Brunswik Lens Model Brunswik Lens Model


Prediktor yang lebih baik karena model statistic Bukan descriptor yang baik tentang bagaimana
lens memindahkan banyak random error yang seseorang mengambil keputusan.
biasanya terdapat dalam prasangka manusia
yang misalnya diakibatkan rasa lelah, sakit,
ataupun kurangnya kosentrasi
Process Tracing Methods Process Tracing Methods
Deskriptor yang baik atas perilaku pengambil Bukan predictor yang baik seperti Lens Model
keputusan
Probabilistic Probablistic
Dengan adanya informasi baru yang ditemukan, Tidak dapat menentukan judgement yang lebih
maka keputusan/prediksi/hasil evaluasi yang
baik dibandingkan judgement lain. Karena
ditetapkan di awal dapat direvisi
kompleksitas informasi akuntansi yang dimiliki,
maka peneliti memegang rule of thumbs dalam
menentukan judgement.