Anda di halaman 1dari 12

Tugas Personal ke-1

Week 2

Essay

1. Apakah yang dimaksud dengan agency issue dan bagaimana cara penyelesaiannya?

2. Sebut dan jelaskan tentang rasio untuk jenis rasio dibawah ini

Rasio Rumus Penjelasan


Current Ratio

Quick Ratio

Cash Ratio

Gross Profit Margin Ratio

Net Profit Margin Ratio

Return on Asset Ratio

Return on Equity ratio

Debt to Asset Ratio

Inventory Turnover

Days of Account Receivable

Days of Account Payable

3. Hasil perhitungan rasio sebuah Perusahaan sebagai berikut:


Current ratio > 2
Quick ratio > 1
Cash ratio < 1
Days of AP 30 hari
Days of AR 45 hari
Menurut Anda, apa yang terjadi di Perusahaan tersebut?

FINC6046 - Financial Management


Kasus

1. Calculator Company mempunyai laba sebelum pajak 1,2 juta rupiah di tahun 2018. Tarif pajak
sebesar 25%. Jika dividen saham preferen sebesar 300 ribu pada akhir tahun 2018 dan jumlah
saham biasa sebesar 300 ribu lembar, maka Hitunglah EPS pada Calculator Company.

2. Berikut ini adalah financial highlight dari PT ABC pada akhir bulan Desember 2018:
Asset lancar 4,000
Penjualan 12,000
Persediaan 2,460
Utang lancar 1240
Hitunglah rasio-rasio yang terdapat pada rasio likuiditas dan rasio aktivitas

3. PT XYZ mempunyai laba bersih sebesar 2 Miliar Rupiah. Total Aset sebesar 10 Miliar Rupiah
dan Total Utang sebesar 5 Miliar Rupiah dan 5 Miliar Rupiah Total Ekuitas, Hitunglah ROE
dan ROA serta jelaskan kegunaan dari rasio tersebut.

JAWAB:

1. Perkembangan bisnis-dari masa ke masa menjadi semakin kompleks. Kesatuan


bisnis/perusahaan pada masa lalu, dijalankan oleh perorangan atau hanya beberapa pihak saja
dalam struktur yang sederhana, namun saat ini, perusahaan pada umumnya dijalankan oleh
banyak pihak yang terkait di dalamnya. Salah satu asumsi dasar dalam akuntansi
-yaitu economic entity, menyatakan bahwa perusahaan adalah entitas ekonomi yang independen
yang mensyaratkan pemisahaan antara pemilik usaha (owner) dengan pihak yang menjalankan
usaha tersebut (manajemen).

Pemisahan ini selain memberikan berbagai manfaat, juga menimbulkan beberapa permasalahan.
Permasalahan mengenai asumsi dasar economic entity ini dibahas dalam teori agensi (agency
theory). Teori agensi mengasumsikan bahwa masing-masing dari owner dan manajemen
pempunyai kepentingan masing-masing terhadap perusahaan. Manajemen sebagai pihak yang
melaksanakan kegiatan operasional perusahaan mempunyai kewajiban untuk memenuhi
kepentingan pemegang saham sebagai pemilik perusahaan. Namun di sisi lain pihak manajemen
juga mempunyai kepentingan untuk memaksimumkan kesejahteraan mereka. Perbedaan
kepentingan antara pihak pengelola perusahaan (manajemen) sebagai agen dengan pihak
pemegang saham (prinsipal) akan menyebabkan konflik kepentingan yang biasa disebut sebagai
masalah keagenan atau agency problem.

Audit dan Agency Theory

FINC6046 - Financial Management


Teori keagenan menggambarkan perusahaan sebagai suatu titik temu antara pemilik perusahaan
(principal) dengan manajemen sebagai agent. Teori keagenan lahir sekitar tahun 1970an, berawal
dari adanya bentuk korporasi yang memisahkan dengan tegas antara kepemilikan perusahaan
dengan kontrol atau dengan kata lain ada pemisahan yang jelas antara pemilik perusahaan
dengan pihak manajemen. Semakin rumit dan besarnya suatu perusahaan membuat pihak pemilik
tidak bisa secara intensif mengelola perusahaannya sehingga meminta pihak manajemen untuk
mengelola kelangsungan hidup perusahaan dalam usahanya mendapatkan profit. Selanjutnya
manajemen dianggap sebagai agen dan pemilik dianggap sebagai prinsipal. Hubungan tersebut
oleh banyak ahli disebut dengan hubungan keagenan/agency relationship.

Teori agensi menjelaskan hubungan kontraktual antara principals dan


agents. Pihak principals adalah pihak yang memberikan mandat kepada pihak lain,
yaitu agent, untuk melakukan semua kegiatan atas nama principals dalam kapasitasnya sebagai
pengambil keputusan. [1]

Tujuan dari teori agensi adalah pertama, untuk meningkatkan kemampuan individu (baik
prinsipal maupun agen) dalam mengevaluasi lingkungan dimana keputusan harus diambil (The
belief revision role). Kedua, untuk mengevaluasi hasil dari keputusan yang telah diambil guna
mempermudah pengalokasian hasil antara prinsipal dan agen sesuai dengan kontrak
kerja (The performance evaluation role).

Secara garis besar teori agensi dikelompokkan menjadi dua yaitu positive agency
research dan principal agent research.[2] Positve agent research memfokuskan pada identifikasi
situasi di mana agen dan prinsipal mempunyai tujuan yang bertentangan dan mekanisme
pengendalian yang terbatas hanya menjaga perilaku self serving agen. Secara ekslusif, kelompok
ini hanya memperhatikan konflik tujuan antara pemilik (stockholder) dengan manajer. Sementara
itu principal agent research memfokuskan pada kontrak optimal antara perilaku dan hasilnya,
secara garis besar penekanan pada hubungan principal dan agent. Principal-agent
research mengungkapkan bahwa hubungan agent-principal dapat diaplikasikan secara lebih luas,
misalnya untuk menggambarkan hubungan pekerja dan pemberi kerja, lawyer dengan
kliennya, auditor dengan auditee.

Agency theory tidak dapat dilepaskan dari kedua belah pihak di atas, baik prinsipal maupun agen
merupakan pelaku utama dan keduanya mempunyai bargaining position masing-masing dalam
menempatkan posisi, peran dan kedudukannya. Prinsipal sebagai pemilik modal memiliki akses
pada informasi internal perusahaan sedangkan agen sebagai pelaku dalam praktek operasional
perusahaan mempunyai informasi tentang operasi dan kinerja perusahaan secara riil dan
menyeluruh. Posisi, fungsi, situasi, tujuan, kepentingan dan latar belakang prinsipal dan agen
yang berbeda dan saling bertolak belakang tersebut akan menimbulkan pertentangan dengan
saling tarik menarik kepentingan (conflict of interest) dan pengaruh antara satu sama lain.

Permasalahan yang muncul dari agency problem mampu diatasi melalui salah satu
mekanisme pengawasan yang dinamakan audit. Watts et al. (1986) berargumen bahwa
pengauditan memainkan peranan penting dalam memonitor kontrak dan mengurangi risiko
informasi. Selain itu, Wallace (1985) juga menyatakan bahwa audit merupakan cara yang

FINC6046 - Financial Management


mampu mengurangi biaya agensi akibat adanya perilaku mementingkan diri sendiri oleh manajer
dan asimetri informasi.[3]

Berkaitan dengan auditing, baik prinsipal maupun agen diasumsikan sebagai orang yang
memiliki rasionalitas ekonomi, di mana setiap tindakan yang dilakukan termotivasi oleh
kepentingan pribadi atau akan memenuhi kepentingannya terlebih dahulu sebelum memenuhi
kepentingan orang lain. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya pihak yang melakukan proses
pemantauan dan pemeriksaan terhadap aktivitas yang dilakukan oleh pihak-pihak tersebut diatas.
Aktivitas pihak-pihak tersebut, dinilai lewat kinerja keuangannya yang tercermin dalam laporan
keuangan.

Auditing merupakan suatu proses sistematik yang terdiri atas langkah-langkah yang berurutan
termasuk (1) evaluasi internal control accounting, (2) tes terhadap subtansi transaksi-transaksi
dan saldo. Sistem akuntansi, mencakup pengendalian internal yang diperlukan, dan menghailkan
data yang tercantum dalam laporan keuangan. Karena itu auditor mempelajari dan mengevaluasi
pengendalian inteern seebelum melakukan tes substansi dari transaksi-transaksi dan saldo-saldo
perkiraan (substantive testing). Pengendalian intern yang kuat meningkatkan tingkat kepercayaan
auitor dan mengurangi jumlah tes atas transaksi-transaksi dan saldo-saldo perkiraan. Auditor
harus mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti audit yang sufficient (cukup) dan competent.

Auditor mengkomunikasikan hasil pekerjaan auditnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.


Komunikasi tersebut merupakan puncak dari proses atestasi, dan mekanismenya adalah laporan
audit. Langkah-langkah utama dari auditing dapat dilihat melalui ilustrasi berikut,[4]

Adanya masalah agensi yang disebabkan karena konflik kepetingan atau asimetri informasi
ini, menyebabkan perusahaan harus menanggung biaya keagenan. Jensen dan Meckling
membagi biaya keagenan menjadi tiga yaitu monitoring cost, bonding cost, dan residual
loss. Monitoring cost yaitu biaya yang timbul dan ditanggung prinsipal untuk mengawasi
perilaku agen. Bonding cost adalah biaya yang ditanggung oleh agen menempatkan dan
mematuhi mekanisme yang menjamin bahwa agen akan bertindak untuk kepentingan
prinsipal. Residual loss adalah nilai kerugian yang dialami prinsipal akibat keputusan yang
diambil oleh agen yang menyimpang dari keputusan yang dibuat oleh prinsipal.[5]

Pengawasan atau monitoring yang dilakukan oleh pihak independen memerlukan


biaya/monitoring cost dalam bentuk biaya audit, yang merupakan salah satu dari agency cost.
Biaya pengawasan (monitoring cost) merupakan biaya untuk mengawasi
perilaku agent apakah agent telah bertindak sesuai kepentingan principal dengan melaporkan
secara akurat semua aktivitas yang telah ditugaskan kepada manajer. Uraian tersebut di atas
memberi makna bahwa auditor merupakan pihak yang dianggap dapat menjembatani
kepentingan pihak pemegang saham (principal) dengan pihak manajer (agent) dalam mengelola
keuangan perusahaan termasuk menilai kelayakan strategi manajemen dalam upaya untuk
mengatasi kesulitan keuangan perusahaan.

2. A. Current Ratio

FINC6046 - Financial Management


Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar
kewajiban finansial jangka pendek dengan mengunakan aktiva
lancar.

Rumus menghitung Current Ratio:

Current Ratio = (Aktiva Lancar / Hutang Lancar) X 100%

Rasio lancar sangat berguna untuk mengukur kemampuan


perusahaan dalam melunasi kewajiban-kewajiban jangka
pendeknya, dimana dapat diketahui sampai seberapa jauh
sebenarnya jumlah aktiva lancar perusahaan dapat menjamin
hutang lancarnya. Semakin tinggi rasio berarti semakin terjamin
hutang-hutang perusahaan kepada kreditor.

B. Quick Ratio atau Acid Test Ratio

Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar


kewajiban finansial jangka pendek dengan mengunakan aktiva
lancar yang lebih likuid (Liquid Assets).

Rumus menghitung Quick Ratio:

Quick Ratio = ((Kas + Efek + Piutang) / Hutang Lancar) X 100%

Yang termasuk dalam liquid asset adalah Kas/Cash, Kas di bank,


harta setara kas, surat berharga, dan piutang lancar. Yakni yang
dapat dicairkan dalam 90 hari. Persediaan barang dagang/inventory
dan biaya dibayar di muka/prepaid expense tidak termasuk liquid
asset

 Pada Sleekr Accounting rasio dari kelompok ini yang sudah terimplementasikan Current
Ratio , Quick Ratio atau Acid Test Ratio.

Adapun jenis rasio lain yang masih tergabung dalam kelompok ini
antara lain :

C. Cash Ratio
Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar
kewajiban finansial jangka pendek dengan mengunakan kas yang
tersedia dan berikut surat berharga atau efek jangka pendek.

FINC6046 - Financial Management


Rumus menghitung Cash Ratio:

Cash Ratio = ((Kas + Efek) / Hutang Lancar) X 100%

Rasio Profitabilitas atau Rentabilitas

Rasio untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan


memperoleh laba dalam hubungannya dengan nilai penjualan,
aktiva, dan modal sendiri.

Ada beberapa jenis rasio profitabilitas antara lain :

A. Gross Profit Margin

Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam


mendapatkan laba kotor dari penjualan.

Rumus menghitung Gross Profit Margin:

Gross Profit Margin = ((Penjualan Netto – HPP) / Penjualan Netto) X


100%

B. Net Profit Margin

Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam


mendapatkan laba bersih dari penjualan.

Rumus menghitung Net Profit Margin:

Net Profit Margin = (Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) / Penjualan


Netto) X 100%

C. Return on Equity (ROE)

Return on Equity mengukur kemampuan menghasilkan laba dari


investasi yang dilakukan pemilik usaha/pemegang saham. Bisa juga
dipahami berapa keuntungan yang dihasilkan dari setiap Rupiah
yang diivestasikan di perusahaan. Rasio ini menggunakan sudut
pandang investor/pemilik usaha yang memperlihatkan seberapa
efisien menggunakan modal pemilik untuk menghasilkan laba.

Rumus menghitung Return on Equity (ROE):

FINC6046 - Financial Management


Return on Equity (ROE) = (EAT / Jumlah Equity) X 100%

D. Return on Asset (ROA)

ROA merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan


untuk memanfaatkan aktiva yang dimiliki perusahaan untuk
menghasilkan pendapatan dengan membandingkan pendapatan
dengan aktiva yang dipakai perusahaan untuk menghasilkan
pendapatan.

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal yang


diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan
keuntungan bagi semua investor. Hasil perhitungan rasio ini
menunjukkan efektivitas dari manajemen dalam menghasilkan profit
yang berkaitan dengan ketersediaan asset perusahaan. ROA
( Return On Total Assets ) 20% berarti setiap Rp 1 modal
menghasilkan keuntungan Rp 0,2 untuk semua investor. Nilai ROA
yang semakin mendekati 1 , berarti semakin baik profitabilitas
perusahaan karena setiap aktiva yang ada dapat menghasilkan
laba.

Rumus menghitung Return on Asset (ROA):

Return on Asset (ROA) = (EAT / Jumlah Asset) X 100%


 Pada Sleekr Accounting, rasio dari kelompok ini yang sudah terimplementasikan Gross
Profit Margin, Net Profit Margin, Return on Equity (ROE), Return on Asset (ROA)

Adapun jenis rasio lain yang masih tergabung dalam kelompok ini
antara lain :

E. Operating Income Ratio

Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam


mendapatkan laba operasi sebelum bunga dan pajak dari penjualan.

Rumus menghitung Operating Income Ratio:

Operating Income Ratio = ((Penjualan Netto – HPP) – Biaya


Administrasi & Umum (EBIT)) / Penjualan Netto) X 100%
F. Earning Power of Total Investment

FINC6046 - Financial Management


Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola
modal yang dimiliki yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva
untuk menghasilkan keuntungan bagi investor dan pemegang
saham.

Rumus menghitung Earning Power of Total Investment:

Earning Power of Total Investment = (EBIT / Jumlah Aktiva) X 100%


G. Rate of Return Investment (ROI) atau Net Earning Power Ratio

Rasio untuk mengukur kemampuan modal yang diinvestasikan


dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan pendapatan bersih.

Rumus menghitung Rate of Return Investment (ROI):

Rate of Return Investment (ROI) = (EAT / Jumlah Aktiva) X 100%

H. Rate of Return on Net Worth atau Rate of Return for the Owners

Rasio untuk mengukur kemampuan modal sendiri diinvestasikan


dalam menghasilkan pendapatan bagi pemegang saham.

Rumus menghitung Rate of Return on Net Worth:

Rate of Return on Net Worth = (EAT / Jumlah Modal Sendiri) X 100%

Rasio Solvabilitas atau Leverage Ratio

Rasio untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan


memenuhi semua kewajiban finansial jangka panjang. Ada beberapa
jenis rasio Solvabilitas antara lain :

A. Total Debt to Assets Ratio

Debt to Asset Ratio mengukur kemampuan perusahaan membayar


seluruh hutangnya (total liabilities) dengan menggunakan seluruh
hartanya (total assets). Ini seandainya perusahaan menutup
usahanya dan menjual seluruh asetnya untuk melunasi seluruh
kewajibannya.

Rumus menghitung Total Debt to Assets Ratio:

FINC6046 - Financial Management


Total Debt to Assets Ratio = (Total Hutang / Total Aktiva) X 100%

Jika hasil dari perhitungan Debt to Asset Ratio menghasilkan nilai di


bawah 1 maka tidak semua hutang lancar dapat dilunasi. Sementara
jika nilai di atas 1 maka setelah melunasi hutang lancar, akan ada
nilai harta lancar yang tersisa. Perlu dipahami juga bahwa aset
perusahaan saat dijual nilainya sangat mungkin berbeda dengan
yang tertera di pembukuan.

B. Total Debt to Equity Ratio

Debt to Equity Ratio membandingkan komposisi hutang dengan


modal dalam suatu perusahaan.

Rumus menghitung Total Debt to Equity Ratio:

Total Debt to Assets Ratio = (Total Hutang / Modal Sendiri) X 100%

Debt to Equity Ratio yang menghasilkan 2 : 1 menunjukkan jika


nilaiaset perusahaan adalah Rp. 10 juta, maka 66,7% dari aset
tersebut berasal dari hutang sementara 33,3% sisanya berasal dari
modal pemilik. Semakin besar porsi hutang, biasanya pihak bank
akan lebih berhati-hati saat menganalisa pinjaman.

Rasio Aktifitas atau Activity Ratio

Rasio untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam


memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya.

Ada beberapa jenis rasio Solvabilitas antara lain :

A. Days of Receivable (Average Collection Period Ratio)

Rasio untuk mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh


perusahaan dalam menerima seluruh tagihan dari konsumen.

Rumus menghitung Average Collection Period Ratio:

Average Collection Period Ratio = (Piutang / Penjualan) x 365


B. Days of Inventory

FINC6046 - Financial Management


Dikenal juga sebagai Days Sales of Inventory Days of Inventory
mengukur berapa hari yang dibutuhkan untuk menjual seluruh
persediaan/inventory yang tersedia. Days of Inventory yang
semakin singkat menunjukkan barang dagang yang dimiliki
perusahaan lebih cepat terjual. Ini berarti semakin rendah semakin
baik karena yang diharapkan adalah barang yang cepat terjual.
Untuk bisa dikatakan suatu perusahaan cepat atau lambat dalam
menjual barang harus dibandingkan dengan rata-rata usaha sejenis.

Rumus menghitung Days of Inventory:

Days of Inventory = (Inventory / COGS) x 365


C. Days of payable

dikenal juga sebagai Days Payable Outstanding menunjukkan rata-


rata hari yang dibutuhkan perusahaan untuk membayar hutang
dagang dari pembelian yang dilakukan. Jika suatu perusahaan selalu
melakukan pembelian secara tunai maka Days of Payable akan
menghasilkan angka 0 hari.

Rumus menghitung Days of payable :

Days of payable = (hutang / harga pokok penjualan) x 365


3. Pada dasarnya, semakin tinggi rasio cepat ini maka akan semakin baik
likuiditas perusahaan yang bersangkutan.

Tapi harus dipahami juga bahwa angka rasio yang terlalu tinggi bisa
mengindikasikan terlalu banyak menyimpan uang tunai yang menganggur atau
tidak dimanfaatkan.

Selain itu, terlalu tingginya quick ratio ini bisa juga menunjukkan kalau
perusahaan punya terlalu banyak piutang, dan bisa jadi sedang mengalami
kesulitan dalam menagih piutang tersebut.

Tapi hal di atas juga tidak bisa serta merta dijadikan sebagai penilaian buruk. Ada
baiknya bandingkan dengan perusahaan sejenis yang masih dalam sektor yang
serupa.

Jika perusahaan yang sedang dianalisa saat ini ternyata batas waktu pembayaran
piutang yang ia tetapkan pada pelanggannya ternyata hanya maksimal 30 hari,

FINC6046 - Financial Management


sedang yang lainnya ada yang sampai 3 bulan, bahkan setahun, maka emiten
yang jadi objek analisis kita masih bisa kita nilai baik.

Dan analisis rasio cepat yang lebih dalam lagi soal di atas, bilamana perusahaan
memberi batas waktu pembayaran piutang dari pelanggannya selama 60 hari, tapi
terhadap supplier atau pemasok bahan baku untuk usahanya berhasil ia bujuk
untuk dibayar maksimal sampai 90 hari, maka kondisi likuiditas tersebut masih
bisa dikatakan masuk akal.

Dan masih banyak lagi yang bisa dianalisa lebih dalam soal total piutang
tersebut, termasuk diskon kepada pelanggan yang membayar lebih cepat.
Tentunya itu akan mengurangi lagi jumlah piutang yang seharusnya tercatat di
laporan keuangan.

Mengenai berapa nilai rasio quick ratio yang baik, setelah membaca pemaparan
di atas, mungkin anda sudah bisa bilang kalau nilainya relatif. Tergantung analisis
lanjutan yang kita lakukan.

Sebagian pakar juga ada yang membandingkan antara rasio lancar dan cepat
sekaligus untuk menilai baik tidaknya rasio cepat suatu emiten.

Jika antara keduanya masing-masing angkanya di atas 1 kali maka itu bagus.
Tapi bila rasio lancar di atas 1 sedangkan rasio cepat dibawahnya, atau malah
jauh terpaut dengan rasio lancar, maka itu bisa jadi indikasi kalau persediaannya
terlalu banyak dan kurang efektif pengolahan asetnya karena terlalu banyak kas
cadangan.

KASUS:

1. EPS = Laba Bersih / Jumlah Saham Beredar =

1.200.000 x 25%pajak = 300.000

1.200.000 – 300.000 = 900.000 (laba bersih)

900.000 / 300.000 = Rp. 3

2. a.current ratio = 4000/1240 = 3,2

b.quick ratio = (4000-2460) / 1240 = 1,2

FINC6046 - Financial Management


c.cash ratio = 4000/1240 = 3,2

d.DAP : (1240/12000) x 365 = 38hari

e.DAR : (4000/12000) x 365 = 122hari

3. ROE : 2M/10M x 100% = 20%

ROA : 2M/5M x 100% = 40%

FINC6046 - Financial Management