Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

HEMATOLOGI IV

Disusun Oleh :

Arina Lis Sa’adah (G1C016079)

Dosen Pengampu :

Bejo Waluyo, S.KM

JURUSAN D IV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS

FAKULTAS ILMU KEPERWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADYAH SEMARANG

2019
Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW berkat
limpahan rahmat, hidayah dan karunia-Nya, penulis telah menyelesaikan laporan praktikum
Hematologi 4.

Dalam penyusunan laporan ini penulis tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang
dengan caranya masing-masing memotivasi dan membimbing dalam menyusun laporan ini. Oleh
karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya kepada penulis demi
kelancaran pengerjaan laporan praktikum Hematologi 4.
2. Bapak Bejo Waluyo, S.KM, M.Si. sebagai Dosen pengampu mata kuliah Praktikum
hematologi 4.
3. Rekan-rekan seperjuangan dan semua pihak yang selalu berbagi dalam memberikan
motivasi serta dukungan sehingga laporan praktikum Hematologi 4 disusun dengan baik.

Penulis berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para pembaca,
penulis ucapkan selamat membaca dan memanfaatkan laporan praktikum ini dengan sebaik-
baiknya. Penulis menyadari bahwa dalam menyusun buku laporan praktikum ini masih banyak
kesalahan dan kekurangan, sehingga masih perlu ditingkatkan mutunya.Oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun dari pembaca, penulis harapkan untuk menunjang dan membangun
isi dari laporan praktikum sebuah laporan yang bermutu tinggi di masa kedepannya.

Semarang, 20 Juni 2019

Penulis

PRAKTIKUM I

2
Hari, tanggal : Rabu, 20 Maret 2019
Materi : Pembuatan Preparat Spread dan Squash
A. Dasar Teori

Aspirasi dan biopsi sumsum tulang merupakan prosedur untuk mengumpulkan darah
sumsum tulang dan potongan kecil bagian tulang dengan memasukkan jarum khusus ke
dalam tulang pinggul pasien. Prosedur ini umumnya dilakukan dengan bantuan anestesi
lokal dan akan memakan waktu sekitar 30 menit. Sampel sumsum tulang yang diperoleh
akan dievaluasi oleh ahli patologi untuk menentukan adanya sel-sel leukemia, diagnosis, dan
klasifikasi leukemia.

Hasil pemeriksaan sumsum tulang pada penderita leukemia akut ditemukan keadaan
hiperseluler. Hampir semua sel sumsum tulang diganti sel leukemia (blast), terdapat
perubahan tiba-tiba dari sel muda (blast) ke sel yang matang tanpa sel antara. Jumlah blast
minimal 30% dari sel berinti dalam sumsum tulang. Pada penderita cronic kimfoblastik
leukemia ditemukan adanya infiltrasi merata oleh limfosit kecil yaitu lebih dari 40% dari
total sel yang berinti. Kurang lebih 95% pasien CLL disebabkan oleh peningkatan limfosit
B. Sedangkan pada penderita cronic mieloblastik leukemia ditemukan keadaan hiperseluler
dengan peningkatan jumlah megakariosit dan aktivitas granulopoiesis. Jumlah granulosit
lebih dari 30.000/mm3 .

Ada 2 jenis preparat sumsum tulang, yaitu :

1. Preparat spread (sebar)

Preparat yang dibuat dengan cara meletakkan hasil aspirasi berupa fragmen sumsum

tulang diatas kaca obyek dan kemudian digeser menggunakan kaca penebar (spreader).

Pembuatannya mirip dengan pembuatan sediaan apus darah tepi (SADT) atau blood

film, tetapi disini menggunakan bahan utama fragmen sumsum tulang.

2. Preparat squash (tekan)

3
Preparat yang dibuat dengan cara meletakkan fragmen sumsum tulang hasil aspirasi
diatas kaca obyek, kemudian dengan kaca obyek yang lain ditekan sambil menggeser
sehingga tampak gambaran inti ditengah (core) dan daerah pinggir dari fragmen sumsum
tulang.

B. Tujuan

1. Mengetahui cara membuat sediaan spread dari sumsum tulang

2. Mengetahui cara membuat sediaan squash dari sumsum tulang

C. Alat dan Bahan

1. Objek glass 6. Sampel sumsum tulang

2. Pipet tetes 7. Metanol

3. Cawan petri 8. Formalin

4. Tabung darah

5. Rak tabung

D. Prosedur

 Pembuatan preparat spread (sebar)

4
a. Siapkan alat dan bahan yang digunakan
b. Letakkan objek glass di cawan petri dengan cara di miringkan
c. Teteskan 3-4 tetes sampel sumsum tulang di atas objek glass tersebut
d. Diambil bagian fragmen menggunakan ujung objek glass baru
e. Buat apusan di atas objek glass yang lain
f. Kering anginkan
g. Untuk pewarnaan Giemsa, Fe, PAS, lepehen fiksasi dengan metanol, sedangkan

pewarnaan untuk pewarnaan SBB di fiksasi degan uap formalin.

 Pembuatan preparat squash (tekan)

a. Siapkan alat dan bahan yang digunakan


b. Letakkan objek glass di cawan petri dengan cara di miringkan
c. Teteskan 3-4 tetes sampel sumsum tulang di atas objek glass tersebut
d. Diambil bagian fragmen menggunakan ujung objek glass
e. Letakkan di atas objek glass baru
f. Ratakan dan tekan
g. Kemudian geser secara datar sampai ujung objek glass dengan cepat
h. Kering anginkan
i. Fiksasi dengan metanol

E. Hasil Pengamatan

5
6
PRAKTIKUM II

Hari, tanggal : Jum’at, 10 April 2019


Materi : Pengectan Giemsa
A. Dasar Teori
Pewarnaan Giemsa (Giemsa Stain) adalah teknik pewarnaan untuk pemeriksaan
mikroskopis yang namanya diambil dari seorang peneliti malaria yaitu Gustav Giemsa.
Pewarnaan ini digunakan untuk pemeriksaan Hematologi. Prinsip dari pewarnaan giemsa
adalah presipitasi hitam yang terbentuk dari penambahan larutan metilen biru dan eosin yang
dilarutkan di dalam metanol. Pewarnaan giemsa digunakan untuk membedakan inti sel dan
morfologi sitoplasma dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit dan parasit yang ada di
dalam darah

Giemsa adalah zat warna yang terdiri dari eosin dan metil azur, yang memberi warna
merah muda pada sitoplasma dan methylen blue pada inti leukosit. Pewarnaan Giemsa
disebut juga pewarnaan Romanowski. Metode pewarnaan ini banyak digunakan untuk
mempelajari morfologi sel-sel darah, sel-sel lien, sel-sel sumsum dan juga untuk
mengidentifikasi parasit-parasit darah (Maskoeri, 2008).

Salah satu yang harus diperhatikan dalam pewarnaan Giemsa yang baik adalah ketepatan
pH buffer. pH basa atau alkali akan mempertegas komponen azure (methylen blue) terhadap
komponen eosin sedangkan pH asam atau acid akan mempertegas komponen eosin terhadap
komponen azure (methylen blue). Pengencer Giemsa idealnya mempunyai pH 6,8 agar tidak
berpengaruh pada pewarnaan morfologi sel darah. Kelainan morfologi leukosit salah satunya
adalah granulasi toksik, yaitu granula sitoplasma terwarnai lebih mencolok dan lebih kasar
pada sitoplasma neutrofil pasien yang terinfeksi berat. Ketika dilakukan pewarnaan dengan
konsentrasi pH buffer yang terlalu asam, maka secara mikroskopik granulasi toksik akan
tampak seperti neutrofil biasa. Sebaliknya, apabila konsentrasi pH buffer terlalu basa maka
neutrofil biasa akan tampak seperti granulasi toksik. Pengencer buffer dengan pH yang
rendah atau kurang dari 6,8 mengakibatkan leukosit tidak sempurna menyerap pewarna
Giemsa dikarenakan terlalu asam sehingga kromatin inti yang seharusnya berwarna ungu
hanya terbentuk sebagian di tengah inti, dan sebagian berwarna merah, leukosit juga akan

7
menampakkan bagian-bagian yang kurang jelas. Sebaliknya pada pengencer buffer dengan
pH tinggi atau lebih dari 6,8 dengan basa yang kuat mengakibatkan leukosit terlalu banyak
menyerap methylen blue sehingga sitoplasma semakin pekat dan granula semakin gelap
(Adianto, 2013).

Dalam kondisi khusus penelitian atau pengambilan data di lapangan seringkali teknik
pewarnaan Giemsa dilakukan tanpa memeperhatikan ketepatan pH buffer. Penggunaan
Giemsa dengan pH buffer asam dan basa sudah dikaji sebelumnya terhadap morfologi sel
eritrosit dan sel leukosit pada apusan darah tepi, oleh karena itu maka peneliti ingin mencari
tahu pengaruh konsentrasi pH buffer Giemsa terhadap morfologi leukosit pada preparat
sumsum tulang.

B. Prinsip kerja Cat Giemsa


Pengecatan Giemsa dilakukan dengan pengelompokan yang bersifat asam yang akan
mengikat zat warna dasar azure methylene blue sperti asam nukleat, protein dari inti sel dan
sitoplasma primitive. Dan pengelompokan yang bersifat basa dari molekul Hb yang akan
mengikat zat warna yang bersifat asam dan terwarnai oleh eosin. Granula dari neutrophil
tercat secara lemah dengan komplek azure. Granula Eosinofile mengandung derivate spermin
termasuk kelompok alkalis yang akan terwarnai kuat oleh komponen asam. Sedangkan
granula basophil mengandung heparin yang bersifat asam sehingga akan mengikat komponen
basa dari zat basa (methylene blue).

C. Tujuan
1) Mengetahui cara pembuatan cat giemsa dan perhitungannya
2) Mengetahui prosedur pengecatan dengan cat giemsa

D. Alat dan Bahan


1. Giemsa Pekat 6. Preparat sampel sumsum tulang
2. Pipet tetes 7. Metanol
3. Deck glass 8. Stopwatch
4. Buffer A ( KH2PO4 ) 9. Glyserin
5. Buffer B ( Na2HPO4.2 H2O)

E. Prosedur
 Pembuatan larutan kerja Giemsa
1) Siapkan campuran Buffer A dan Buffer B dengan perbandingan ( 1 : 1 ) campuran
ini tahan 3 hari.

8
2) Tambahkan kedalam Buffer, Giemsa Pekat dengan Perbandingan, Giemsa Pekat 1
bagian dan Buffer 7 bagian. Campuran ini bertahan 1 hari.
 Cara Pengecatan

1) Preparat sumsum tulang yang sudah kering difiksasi dengan methanol selama 5 –
10 menit.
2) Genangi dengan larutan kerja selama 20-30 menit.
3) Sisa cat dibuang, dicuci dengan air mengalir hingga betul-betul bersih.
4) Keringkan diudara, lalu mounting dengan EZ mount dan ditutup deckglass.

 Interpretasi :

Zona baca preparat Spread : Trail dengna perbesaran objektif 10x


Yang dinilai : selularitas = membandingkan sel hemapoetik dengan lemak
Ada 3 penilaian :

1) Normoselluler : volume lemak 20% dari sel hemapoietik

2) Hyposellular : sel hemapoietik diganti oleh sel lemak

3) Hyperselluler : hampir semua lemak diganti oleh sel hemapoietik

F. Hasil Pengamatan

Preaparat : Sutul Ciri-ciri

Hiperseluler

1. Terdapat banyak sel darah


dibanding sel lemak.

2. Terdapat banyak fragmen


9
Normoseluler Perbandingan
sel darah dan sel lemak sebanding

10
Hiposeluler

Terdapat banyak sel lemak


dibanding sel darah

Sel yang ditemukan

1. Ditemukannya sel
megakariosit

Ciri-ciri :

1. Sel besar

PRAKTIKUM III

Hari, tanggal : Jum’at, 10 Mei 2019


Materi : Pewarnaan Sitokimia ( SBB, Fe Pearl’s, Lepehne, PAS )

11
A. Dasar Teori

Menurut American Cancer Society (2014), Leukemia adalah jenis kanker yang berasal
dari sel punca. Secara garis besar leukemia dibagi berdasarkan penyakit(klinis) dan sel
dominan yang terlibat. Berdasarkan gejala klinisnya, leukemia dibagi menjadi leukemia akut
dan kronik. Leukemia akut bersifat ganas dan jika tidak diobati secara efektif dapat
menyebabkan kematian dalam waktu beberapa minggu atau bulan. Leukemia kronis
berkembang lamban dan pasien dapat bertahan beberapa bulan atau tahun tanpa pengobatan.
Sedangkan jenis sel yang ditemukan dibagi menjadi dua yaitu sel limposid dan seri Mieloid
(Bain,B.J.2015).
Leukemia Mieloid akut (LMA) adalah kelompok kelainan heterogen yang terjadi pada
seri myeloid. Sel leukemia terus berproliferasi terapi terjadi ganguan pada proses pematangan
sel sehinggan berakumulasi sebagai sel imatur (tidak matang) yang dikenal sebagai sel blast.
Sel blast menggantikan sel puncak hemopoietik normal di sumsum tulang, sehingga terjadi
ganguan pada fungsi sumsum tulang. Sel blast diklasifikasikan menjadi mieloblast,
monoblast, eritroblast, atau megakarioblast (Bain,B.J.2015).
Pengecatan sitokimia untuk eritrosit dipakai untuk mendeteksi adanya free iron, derivet
hemaglobin dan enzime metabolik sitoplasmik tertentu didalam eritrosit, sedangkan terhadap
trombosit pengecatan sitokimia dipakai untuk mendeteksi platelet peroxidase reaction yang
terdapat didalam retikulum endoplasmik dan membran inti megakariosit muda atau yang
sudah matur (Hariman S, 1998).
Pemeriksaan laboratorium untuk penegakan leukemia salah satunya dengan pewarnaan
sitokimia, diantaranya menggunakan reagen lepehne yang dimana reagen lepehne akan
tampak warna hijau pada granula eritrosit tua sebagai pembandingnya, lepehne mewarnai sel
jajaran eritrosit (eritroblas). Pemeriksaan laboratorium sangat penting untuk membedakan
jenis leukemia akut atau kronik, Leukemia akut akan bereaksi positif dengan pewrnaan
Lepehne dilihat dari jajaran eritrositnya dan leukemia kronik akan bereaksi negative. Sel
muda yang abnormal jika dalam keadaan ini boleh dikatakan bahwa granula dam sel jajaran
granulosit dan eritrosit yang mengandung peroksidase sedangkan sel jajaran limfosit tidak
ada. Pewanaan sedian apusan darah tepi dengan menggunakan giemsa dan wright belum
memuaskan untuk membedakan seri leukosit untuk menunjang leukemia dan kelainan
leukosit lainnya sehingga diperlukan peawarnaan sitokimia lainnya seperti lepehne.

12
Pewarnaan Lepehne dilakukan untuk mengenali tipe penyakit leukemia melihat jajaran
eritrosit muda, reagen lepehne berisi benzidine 0,6% dan Perhidrol 30% dalam 4,5 ml ethanol
70%, dalam penelitian ini dilakukan penurunan konsentrasi larutan perhidrol yang lebih
rendah, sehingga akan dapat mengurangi biaya analisis dengan kualitas pewarnaan yang
masih terlihat jelas.
B. Tujuan
1) Untuk mengetahui cara pembuatan reagen sitokimia dan perhitungannya untuk
pengecatan sitokimia
2) Untuk mengetahui cara pengecatan sitokimia untuk diagnosa leukimia
C. Prinsip Kerja

1) Prinsip Pengecataan Sudan black B

Sudan black B dalam etanol akan mencat phospholipid yang terdapat dalam

leukosit bewarna coklat kehitaman.

2) Prinsip Pengecatan Fe/PERL’S Stain

Ion ferri dalam hemosiderin mengubah ferrocyanida yang berwarna kuning dan

mudah larut dalam suasana asam menjadi suatu endapan (presipitat) Ferri Ferrocyanida

yang bewarna biru (reaksi perl).

3) Prinsip Pengecatan PAS

Oksidasi glicoken oleh asam periodat (periodic acid) menjadi aldehida, dan
bereaksi dengan reagen schiff yang menyusun warna merah.
4) Prinsip Pengecatan Lepehne
Benzidine yang ditambah dengan perhidrol akan mewarnai sitoplasma seri
eritrosit menjadi berwarna hijau terang.

D. Alat dan Bahan


1. Fe/PERL’S Stain
a. HCN 1 N 1. Backer glass
b. K Ferrocyanida 4% 2. Pipet tetes

13
c. Methanol 3. Waterbath

d. HCL 20% 4. Cawan Petri

2.Sudan black B 3. PAS

a. Larutan A :- Phenol a. Kristal formalin


- Ethanol b. Lar. Periodic Acid
b. Larutan B : - Na2HPO4. 2H2O c. Lar. Schiff
- Aquadest d. Lar. Hematoxylin
c. Larutan C : - sudan Black B
- Etanol 70 %
4.Lepehne
a. Benzidine 0,6 %
b. Etanol 70 %
c. Perhidrol 30%
d. Giemsa (larutan kerja)

E. Prosedur
 Sudan Black B
1) Reagen Sudan Black B

14
a) Campurkan larutan A (phenol, etanol 70 %) dan larutan B (Na2HPO4.2H2O,

aquades) sebanyak 1:1.

b) Tambahkan larutan C, 3 bagian

c) Campuran ini harus netral atau sedikit alkalis

2) Prosedur Pengecatan

a) Preparat yang sudah kering di fiksasi dengan uap formalin dalam staining jar selama 5-

10 menit

b) Cuci dengan aquadest

c) Rendam preparat dengan larutan kerja dalam petri tertutup selama 30 menit

d) Buang sisa cat, rendam dengan alkohol 70 % selama 2 menit sambil digoyang-goyang

e) Cuci dengan air mengalir, lakukan counter stain dengan safranin 1% selama 10-30

detik. Cuci dengan air mengalir, keringkan.

3) Interpretasi :

1) Seri granulosit : myeloblast positif sampai makin tua makin kuat karena granula

makin banyak

15
2) Seri monosit : seperti seri granulosit tetapi dengan granula yg lebih besar sehingga

sangat sulit dibedakan dengan promielosit

3) Seri limfosit : negatif

4) Seri eritrosit : negatif

 Fe Pearl’s ( Pengecatan Fe )

1) Prosedur pengecatan Fe

a) Preparat yang sudah kering di fiksasi dengan metanol 5-10 menit

1
b) Tuangkan bagian HCl 1 N ke dalam staining jar dan masukkan ke dalam
2

water bath 56°C selama 10 menit

1
c) Tambahkan bagian K Ferrocyanida 4 % ke dalam staining jar
2

d) Masukkan preparat yang sudah di fiksasi hingga terendam semua

16
e) Biarkan selama 10-20 menit dalam water bath 56°C

f) Bilas dengan air mengalir 2 menit

g) Lakukkan counte stain dengan safranin 1% selama 30 detik

h) Cuci dengan air mengalir dan keringkan

2) Interpretasi :

Kandungan Fe di dalam fragmen sumsum tulang dan sekitarnya akan berwarna biru,

banyak sedikitnya kandungan Fe tergantung dari warna biru yang dihasilkan.

17
3) Hasil Pengamatan

Perbesaran 10 X

Fe Pearl’s Positif, dengan

ditemukannya warna biru pada

preparat sumsum tulang

Perbesaran 10 X

Fe Pearl’s Positif, dengan

ditemukannya warna biru pada

preparat sumsum tulang

18
 Pengecatan Lepehne

1) Pembuatan Reagen

a) Dicampur Ethanol 70% sebanyak 9 ml dengan Larutan Perhidrol 30%

sebanyak 1 ml.

b) Ditambahkan Benzidine 0,6 % ( yang telah ditambahkan ethanol 96% )

sebanyak 4 ml.

c) Buat larutan kerja (Giemsa)

2) Prosedur Pengecatan

a) Preparat yang sudah kering di fiksasi dengan metanol 5-10 menit

b) Rendam dengan reagen lepehen selama 10 menit

c) Cuci dengan air mengalir dan keringkan

d) Rendam dengan cat giemsa (larutan kerja) 15 menit

e) Cuci dengan air mengalir dan keringkan

3) Interpretasi

- Lepehne akan memberikan warna hijau terang pada sitoplasma eritrosit.

19
- Sebagai kontrol : bandingkan dengan eritrosit tua

4) Hasil Pengamatan

Gambar Keterangan

Perbesaran 100 X

Ditemukan Othochromatic

Erythroblast dengan melihat (

membandingkan ) dengan

erytrosit tua ( sitoplasma nya

akan terwarnai hijau)

Perbesaran 100 X

Ditemukan Othochromatic

Erythroblast dengan melihat (

membandingkan ) dengan

erytrosit tua ( sitoplasma nya

akan terwarnai hijau)

20
 Pengecatan PAS ( Periodic Acid Schiff )

1) Pembuatan Larutan Schiff

a) Larutkan 1 gram Pararosanilin Fuchsin kedalam 200 ml aquadest

b) Didihkan beberapa saat, kemudian didinginkan sampai suhu 50C

c) Larutan disaring, kemudian ditambahkan 20 ml HCl 1 N, campur dan dinginkan

d) Tambahkan 1 gram sodium bisulfat anhydrous, campurkan

e) Tambahkan 2-3 gram norit, campurkan dan saring

f) Simpan pada botol gelap

g) Dibutuhkan waktu 2 hari untuk berubah warna menjadi kekuninganlarutan siap

dipakai.

2) Prosedur Pengecatan PAS

21
a) Preparat di fiksasi dengan uap formalin selama 10 menit

b) Rendam dengan larutan periodic acid selama 20-30 menit

c) Buang cat, cuci dengan air mengalir selama 10 menit, bilas dengan aquades

d) Rendam dengan larutan ScHiff selama 30 menit

e) Buang cat, cuci dengan air mengalir sampai betul-betul bersih selama 15 menit

f) Rendam dengan Hematoxylin selama 10 menit

g) Buang cat, cuci dengan air mengalir selama 10 menit

h) Preparat dikeringkan kemudian di mounting dengan EZ mount dan ditutup dengan

deckglass

3) Interpretasi

Seri limfosit akan terwarnai merah pada sitoplasma nya, sedangkan sel lain ( sel

granulosit, erytrosit, monosit, trombosit ) tidak terwarnai merah pada sitoplasma, hanya

terwarnai oleh Pengecatan Hematoxylin Eosinofil.

4) Hasil Pengamatan

Gambar Keterangan
Perbesaran 100 X

22
Terdapat sel dari seri Limfosit
( berwarna merah ) PAS Positif.

23
PEMBAHASAN
Pada Pembuatan Preparat, perlu diperhatikan harus mengambil sampel yang memiliki

fragmen, karena nantinya yang akan menjadi patokan pembacaan adalah fragmen,

Pada pembuatan Larutan giemsa, harus diperhatikan perbandingan buffer A (KH2PO4)

yang bersifat asam dan Buffer B (Na2HPO4.2 H2O ) yang bersifat Basa, sedangkan untuk

pengecatan giemsa menggunakan buffer yang bersifat netral sedikit asam, dengan

perbandingan buffer A dan buffer B ( 1 : 1 ) , yang kemudian ditambah dengan Giemsa

pekat dengan perbandingan ( 1 : 7 ). Jika larutan ini sangat basa / sangat asam akan

berpengaruh pada hasil pengecatan nantinya, sehingga sulit menginterpretasikan hasilnya.

Pada pengecatan sudan black B menurut lison, pembuatan larutan cat SBB ini dengan

mencampurkan Buffer A dan Buffer B dg perbandingan ( 1 : 1 ) dan kemudian ditambah

dengan larutan C yang berisi sudan black B sebanayak 3 bagian.

Preparat yang akan dicat dg SBB sebaiknya difiksasi dengan uap formalin dalam staining

jar, agar fosfolipid nya tidak luntur, karena pada pengecatan SBB ini, yang akan diwarnai

adalah bagian Fosfolipid yang ada dalam lekosit granulosit.

Pembuatan karutan lepehne ini menggunakan ethanol 70% sebanyak 9 bagian, ditambah

perhidrol 30% sebanyak 1 bagian dan ditambah benzidine sebanyak 4 bagian. Yang

kemudian di cat dengan giemsa sebagai pengecat pembanding. Benzidine akan mewarnai

sitoplasma dari seri eritrosit dengan warna hijau. Dan yang digunakan sebagai acuan

adalah eritrosit tua ( untuk membandingkan ).

Sebelum melakukan pewarnaan Fe harus dilakukan pembilasan alat – alat gelas terlebih

dahulu dengan HCl 20% agar terbebas dari cemaran Fe, sehingga tidak terjadi positif

24
palsu nantinya. Pengecatan Fe sebaiknya didampingi dengan control untuk sebagai

pembanding.

Pada pengecatan PAS larutan Schiff harus disimpan pada botol gelap, karena larutan ini

mudah sekali di oksidasi oleh cahaya. Pengecatan PAS ini bertujuan untuk mewarnai sel

– sel dari seri limfosit yang mengandung glycogen yang kemudian dioksidasi oleh asam

periodat ( periodic acid ) menjadi aldehida dan bereaksi dg larutan Schiff sehingga

bewarna merah.

25
KESIMPULAN

 Pengecatan giemsa ditemukan banyaknya hipeseluler yang artinya banyaknya sel

hemopoietik

 Pengecatan SBB, Positif yang artinya ada dari seri leukosit granulosit,

 Pengecatan Lepehne positif, yang artinya ada dari seri eritrosit tetapi dalam jumlah yg

sedikit

 Pengecatan Fe pearl’s positif ditandai dg biru-biru di preparat sumsum tulang,

 Pengecatan PAS ditemukan ada yg positif tetapi hanya sedikit.

26