Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Litbang Vol. X, No.

1 Juni 2014: 35-42

KUALITAS AIR IRIGASI DITINJAU DARI PARAMETER DHL, TDS, pH


PADA LAHAN SAWAH DESA BULUMANIS KIDUL
KECAMATAN MARGOYOSO

IRRIGATION WATER QUALITY PARAMETERS BASED ON DHL, TDS, pH


IN PADDY FIELDS OF BULUMANIS KIDUL VILLAGE
MARGOYOSO SUBDISTRICT

Arieyanti Dwi Astuti


Kantor Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Pati
E-mail: ariey_antik@yahoo.com

Naskah Masuk: 14 Mei 2014 Naskah Revisi: 21 Mei 2014 Naskah Diterima: 30 Mei 2014

ABSTRACT
As a source of irrigation water supplies, river plays an important role in influencing the quality of
irrigation water. If the river water is used as irrigation water has been contaminated, it is directly
or indirectly affect agricultural production. Suwatu River polluted waste of industrial tapioca is
used as a source of water supply for irrigation of paddy fields in the Bulumanis Kidul village,
Margoyoso Pati Regency. This study aims to determine the quality of irrigation water in paddy
fields Bulumanis Kidul village in terms of physical parameters include Electrical Conductivity
(EC), Total Dissolved Solid (TDS) and the degree of acidity (pH). This research is a descriptive
case study method. Sources of data in the form are primary data from observations and laboratory
testing. The results showed that the parameters EC and TDS still meet the quality standards, for pH
parameters, there are two locations that do not meet the requirements according to the Government
Regulation No. 82 / 2001, for water class IV are location B and D.
Keywords: electrical conductivity, irrigation water, pH, total dissolved solid

ABSTRAK
Sebagai sumber pasokan air irigasi, sungai memegang peranan penting dalam mempengaruhi
kualitas air irigasi. Apabila air sungai yang digunakan sebagai air irigasi telah tercemar, maka
secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi hasil produksi pertanian. Sungai
Suwatu yang tercemar limbah industri tapioka digunakan sebagai sumber pasokan air irigasi bagi
lahan sawah di Desa Bulumanis Kidul, Margoyoso Pati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kualitas air irigasi pada lahan sawah Desa Bulumanis Kidul ditinjau dari parameter fisik yang
meliputi Daya Hantar Listrik (DHL), padatan terlarut total (TDS) dan derajat keasaman (pH).
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode studi kasus. Sumber data berupa data
primer dari pengamatan dan pengujian laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
parameter DHL dan TDS masih memenuhi baku mutu, sedangkan pada parameter pH, terdapat 2
lokasi yang tidak memenuhi persyaratan menurut PP No. 82 Tahun 2001 untuk air kelas IV yaitu
lokasi B dan D.
Kata kunci: daya hantar listrik, air irigasi, pH, padatan terlarut total

35
Kualitas Air Irigasi Ditinjau dari……. Arieyanti Dwi A.

PENDAHULUAN hasil produksi pertanian yang nantinya


juga ikut mempengaruhi tingkat
Air merupakan salah satu faktor kesejahteraan masyarakat petani
yang sangat menentukan di bidang (Nooordwijk dkk, 2004). Hal ini sesuai
pertanian dalam penyediaan air irigasi. dengan penelitian yang dilakukan Poniman
Sumber air permukaan sampai saat ini (2004) yang menyatakan bahwa air yang
masih menjadi andalan dalam penyediaan mengandung limbah cair tapioka mampu
air irigasi terutama pada musim kemarau. menurunkan hasil Gabah Kering Giling
Namun sayangnya, dengan semakin (GKG) hingga 47,15%. Lahan sawah yang
meningkatnya pembangunan di segala dialiri limbah cair tapioka secara terus-
bidang menyebabkan kuantitas dan menerus akan menurunkan sifat fisik,
kualitas air tidak lagi sesuai dengan kimia dan biologis tanah. Berdasarkan
peruntukannya. Pembangunan yang uraian di atas maka penelitian ini bertujuan
semakin meningkat diikuti dengan untuk mengetahui kualitas air irigasi pada
peningkatan pencemaran lingkungan, yang lahan sawah Desa Bulumanis Kidul
salah satunya berasal dari limbah industri. ditinjau dari parameter fisik menurut PP
Peningkatan pencemaran lingkungan No. 82 Tahun 2001 yang meliputi Daya
sudah sejak lama terjadi di Kecamatan Hantar Listrik (DHL) atau Electrical
Margoyoso yang merupakan sentra Conductivity (EC), Padatan Terlarut Total
industri tapioka. Pencemaran lingkungan atau Total Dissolved Solid (TDS) dan
ini diakibatkan oleh pembuangan limbah derajat keasaman (pH).
cair industri tapioka, salah satunya di
Sungai Suwatu Margoyoso. Dampak TINJAUAN PUSTAKA
negatif dari pencemaran sungai ini sudah
banyak dirasakan masyarakat, terutama Air Irigasi
masyarakat di daerah hilir yang Pengelolaan air yang utama pada
memanfaatkan sungai tersebut sebagai lahan sawah adalah irigasi. Secara umum,
sumber pasokan air irigasi bagi pertanian irigasi didefinisikan sebagai pemberian air
dan pertambakan yang banyak terdapat di untuk memenuhi kebutuhan air bagi
Desa Bulumanis Kidul. tanaman. Pekerjaan irigasi meliputi
Kualitas Sungai Suwatu tidak lagi menampung dan mengambil air dari
sesuai dengan peruntukannya sebagai air sumbernya, mengalirkannya melalui
irigasi pertanian bagi sawah di Desa saluran-saluran ke lahan pertanian dan
Bulumanis Kidul. Hal ini diperkuat dengan membuang kelebihan air ke saluran
penelitian Astuti (2012) yang menyatakan pembuangan. Tujuan irigasi adalah untuk
bahwa mutu air Sungai Suwatu memiliki memberikan tambahan air (selain air
nilai Indeks Pencemaran (IP) 11,19 pada hujan) dan memberikan air untuk tanaman
bagian hilir yang termasuk dalam kategori dalam jumlah yang cukup pada saat
tercemar berat. Salah satu kontributor dibutuhkan. Irigasi pada lahan sawah
terbesar dalam pencemaran tersebut adalah dimaksudkan untuk menjenuhkan tanah
limbah cair industri tapioka yang dibuang agar diperoleh struktur lumpur yang baik
pada Sungai Suwatu (Astuti dan bagi pertumbuhan tanaman padi,
Damayanti, 2012). memenuhi kebutuhan air tanaman,
Apabila air sungai yang telah kebutuhan penggenangan dan mengganti
tercemar digunakan sebagai sumber kehilangan air di sepanjang saluran
pengairan lahan pertanian, maka ada akibat (Subagyono, 2004). Air irigasi juga harus
yang ditimbulkan secara langsung maupun ditilik dari mana sumbernya, sumber
tidak langsung yang akan mempengaruhi pengairan perlu diketahui untuk

36
Jurnal Litbang Vol. X, No. 1 Juni 2014: 35-42

menentukan ada tidaknya cemaran serta proses budidayanya (Salisbury dan Ross
mempelajari tingkat bahaya cemaran dalam Susila dan Poerwanto, 2013).
tersebut. Kualitas air dapat ditentukan dari apa yang
terkandung di dalam sumbernya (sumur
Kualitas Air Irigasi
atau sungai), juga tingkat kemasamannya.
Schwab dan Flevert dalam
Daya Hantar Listrik (DHL)
Noordwijk dkk (2004) membedakan
sumber air irigasi menjadi 2 yaitu air Kemampuan air sebagai penghantar
permukaan (surface water) dan air bawah listrik dipengaruhi oleh jumlah ion atau
tanah (ground water). Air permukaan garam yang terlarut di dalam air. Semakin
meliputi danau alami, waduk, dam dan banyak garam yang terlarut semakin tinggi
sungai. Air permukaan dapat ditingkatkan daya hantar listrik yang terjadi. DHL
ketersediaannya dengan memanen air merupakan pengukuran tidak langsung
hujan/aliran permukaan, sedangkan terhadap konsentrasi garam yang dapat
sumber air bawah tanah biasanya digunakan untuk menentukan secara
dimanfaatkan melalui pembuatan sumur umum kesesuaian air untuk budidaya
dalam atau artesis (deep wells), mata air tanaman dan untuk memonitor konsentrasi
(springs) atau menggali/membuat kolam. larutan hara. Pengukuran DHL dapat
Sumber irigasi harus memenuhi digunakan untuk mempertahankan target
syarat kualitas agar tidak berbahaya bagi konsentrasi hara di zona perakaran yang
tanaman yang akan dialiri, karena dalam merupakan alat untuk menentukan
jangka panjang dapat berpengaruh pemberian larutan hara kepada tanaman.
terhadap kualitas hasil produksi pertanian. Satuan pengukuran DHL adalah millimhos
Kualitas air merupakan faktor utama yang per centimeter (mmhos/cm), millisiemens
perlu dipertimbangkan dalam budidaya per centimeter (mS/cm) atau micro-
tanaman secara hidroponik. Tanaman siemens per centimeter (Susila dan
terdiri atas 80 – 90% air sehingga Poerwanto, 2013). Berdasarkan nilai DHL
ketersediaan air yang berkualitas sangat dapat diketahui klasifikasi air irigasi
penting untuk mendukung keberhasilan seperti pada Tabel 1.

Tabel 1.
Klasifikasi Air Irigasi Berdasarkan Daya Hantar Listrik (DHL)
Kelas DHL
Keterangan
Air (µmhos/cm)
I 0 - 250 Sangat Baik
II > 250 - 750 Baik
III > 750 - 2000 Agak Baik
IV > 2000 - 3000 Kurang Baik
V > 3000 Kurang Sesuai
Sumber: Colorado State University dalam Fitriyah (2012)

37
Kualitas Air Irigasi Ditinjau dari……. Arieyanti Dwi A.

Total Dissolved Solid (TDS) bagi tanaman, dalam hal ini adalah air
irigasi (Susila dan Perwanto, 2013).
Padatan terlarut total atau Total
Kondisi pH optimum pada air irigasi (air
Dissolved Solid (TDS) adalah bahan-bahan
kelas IV menurut PP No. 82 Tahun 2001)
terlarut (diameter 10-6 mm) dan koloid
berkisar antara 6-9.
(diameter 10-6 mm – 10-3 mm) yang berupa
senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan METODE PENELITIAN
lain yang tidak tersaring pada kertas saring
berdiameter 0,45 µm (Rao dalam Effendi, Penelitian ini merupakan penelitian
2003). deskriptif menggunakan metode studi
TDS biasanya disebabkan oleh kasus. Dimana dalam penelitian ini
bahan-bahan anorganik yang berupa ion- menelaah secara mendalam suatu
ion yang biasa ditemukan di perairan permasalahan pada waktu tertentu dan
seperti air laut yang memiliki TDS tinggi. hasilnya belum tentu berlaku di daerah lain
Hal ini terjadi karena adanya senyawa meskipun obyeknya sama (Hadi dalam
kimia yang banyak terdapat pada air laut Azwir, 2006).
yang juga mengakibatkan tingginya nilai Penelitian ini dilaksanakan pada
salinitas dan konduktivitas atau Daya bulan Juni-Agustus 2013 di lahan sawah
Hantar Listrik (DHL). Kandungan TDS yang menggunakan Sungai Suwatu sebagai
pada air irigasi menurut PP No. 82 Tahun sumber air irigasinya. Lokasi penelitian
2001 maksimal adalah 2000 mg/l untuk air terletak di kawasan persawahan Blok
kelas IV. Bacin yang berada di sebelah selatan
Derajat Keasaman Air (pH air) Sungai Suwatu (Bulumanis Kidul, 2012).
Keasaman dan kebasaan dari air Sampel untuk kualitas air irigasi
dinyatakan dalam pH dan diukur dalam diambil berdasarkan jarak dari sumber
skala 0 sampai 14. Angka yang semakin pencemar yang dalam hal ini adalah
rendah menunjukkan kondisi larutan yang Sungai Suwatu. Sampel air yang diambil
semakin masam, sebaliknya semakin tinggi harus memenuhi kriteria antara lain:
pH maka kondisi larutan semakin alkalin. berada pada sawah yang masih digunakan
Skala pH adalah logaritmik, artinya sebagai budidaya pertanian, sawah
peningkatan 1 angka, misalnya 4 ke 5 menggunakan air Sungai Suwatu sebagai
menunjukkan 10 kali peningkatan sumber irigasi, jarak terjauh dari Sungai
alkalinitasnya, demikian juga sebaliknya. Suwatu sekitar 200 m, jika ada dua jarak
Pengukuran pH mencerminkan reaksi dalam satu petak sawah maka cukup
kimia air dan larutan hara. Kondisi pH diambil salah satu saja sebagai sampel.
larutan hara sangat menentukan tingkat Lokasi pengambilan sampel disajikan pada
kelarutan unsur hara, dan ketersediaan hara Tabel 2.
Tabel 2.
Lokasi Pengambilan Sampel
Lokasi Lintang Bujur Jarak dari Sungai
(selatan) (timur) Suwatu (m)
A 6˚36.737' 111˚04.281' 57
B 6˚36.742' 111˚04.254' 91

C 6˚36.760' 111˚04.255' 123

D 6˚36.804' 111˚04.254' 202


Sumber: Hasil Pengamatan (2013)

38
Jurnal Litbang Vol. X, No. 1 Juni 2014: 35-42

Pada penelitian ini, parameter kualitas air, maka semakin berat


kualitas air irigasi yang diukur hanya permasalahan yang ditimbulkan serta
berupa parameter fisik meliputi Daya penanganan yang dibutuhkan akan
Hantar Listrik (DHL), Total Dissolved semakin sulit.
Solid (TDS) dan derajat keasaman (pH). Hasil pengamatan dan pengukuran
Data yang diperoleh kemudian akan beberapa sifat fisik air irigasi yang
dibandingkan dengan kriteria baku mutu meliputi Daya Hantar Listrik (DHL), Total
PP No. 82 Tahun 2001 untuk air kelas IV Dissolved Solid (TDS) dan pH pada lahan
yang diperuntukan sebagai air untuk sawah sekitar Sungai Suwatu disajikan
pertanaman pertanian atau irigasi. pada Tabel 3, untuk selanjutnya
diidentifikasi menggunakan kriteria mutu
HASIL DAN PEMBAHASAN
air berdasarkan kelas IV (PP No. 82 Tahun
Kualitas air untuk pertanian adalah 2001) untuk TDS dan pH. Sedangkan
kesesuaian air untuk memenuhi fungsinya untuk parameter DHL diidentifikasi
bagi tanaman, karena kualitas air yang baik menggunakan klasifikasi air irigasi
tidak akan menganggu pertumbuhan berdasarkan DHL seperti pada Tabel 1
tanaman dan hasil panen. Semakin buruk diatas.

Tabel 3.
Hasil Pengukuran Kualitas Air Irigasi pada Sawah Sekitar Sungai Suwatu
DHL (µmhos/cm) TDS (mg/l) pH
Lokasi
Hasil Uji BM Hasil Uji BM Hasil Uji BM
A 237,50 Sangat Baik 152 Memenuhi 7,7 Memenuhi
B 612,50 Baik 392 Memenuhi 5,1 Tidak Memenuhi
C 248,44 Sangat Baik 159 Memenuhi 7,5 Memenuhi
D 464,06 Baik 297 Memenuhi 5,6 Tidak Memenuhi
Sumber: Hasil Pengujian (2013)

Daya hantar listrik sangat erat (<250 µmhos/cm) untuk lokasi A dan C,
kaitannya dengan nilai salinitas suatu serta Baik (>250 – 750 µmhos/cm) untuk
perairan. Semakin tinggi nilai salinitas lokasi B dan D.
suatu perairan makan semakin tinggi pula TDS merupakan salah satu
nilai DHL karena banyaknya garam-garam parameter yang penting dalam air irigasi,
terlarut yang dapat terionisasi. Kualitas air TDS sangat mempengaruhi kualitas air
irigasi perlu dijaga agar salinitasnya irigasi karena mampu mempengaruhi
rendah, karena air dengan salinitas tinggi tekstur, permeabilitas serta kesuburan
menyebabkan ujung daun kering dan tanah yang dilaluinya (Kurniati, 2009).
menurunkan jumlah produksi tanaman Kandungan TDS pada air irigasi di sawah
tersebut (Susila dan Perwanto, 2013). sekitar Sungai Suwatu masih memenuhi
Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa nilai kualitas yang dipersyaratkan menurut PP
DHL pada air irigasi sawah sekitar Sungai No. 82 Tahun 2001 yaitu di bawah 2000
Suwatu memenuhi persyaratan yang mg/l, seperti yang telah diperlihatkan pada
ditetapkan yaitu tergolong Sangat Baik Tabel 3.

39
Kualitas Air Irigasi Ditinjau dari……. Arieyanti Dwi A.

Gambar 1.
Grafik Hasil Pengukuran TDS dan DHL

Nilai DHL pada suatu perairan erat (2010) menyatakan hal yang serupa bahwa
kaitannya dengan kandungan TDS pada semakin tinggi kadar TDS maka semakin
perairan tersebut (Gambar 1). Hal ini bisa tinggi pula nilai DHL pada perairan
dilihat dari kandungan TDS pada lokasi A tersebut. Menurut Effendi (2003), TDS
sebesar 152 mg/l dengan nilai DHL 237,50 biasanya disebabkan oleh bahan anorganik
µmhos/cm yang kemudian meningkat pada yang berupa ion-ion yang biasa ditemukan
lokasi B sebesar 392 mg/l yang juga diikuti di perairan dimana jumlah ion atau garam
dengan peningkatan nilai DHL menjadi yang terlarut dalam air akan sangat
612,50 µmhos/cm. Demikian pula dengan mempengaruhi kemampuan air sebagai
lokasi C dan D, dimana nilai DHL akan penghantar listrik. Oleh karena itu,
semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya ion pada suatu
peningkatan kandungan TDS pada air perairan maka nilai DHL akan semakin
irigasi tersebut. Penelitian Desiandi dkk besar pada perairan tersebut.

Gambar 2.
Grafik Hasil Pengukuran DHL dan pH

40
Jurnal Litbang Vol. X, No. 1 Juni 2014: 35-42

Pada Tabel 3 diketahui bahwa D dengan pH masing-masing 5,1 dan 5,6.


tingginya pH akan diikuti dengan Parameter DHL, TDS dan pH mempunyai
rendahnya nilai DHL, seperti pada lokasi hubungan yang saling terkait satu sama
sampling A dengan pH 7,7 dan DHL 237, lain dimana nilai atau kandungan salah
50 µmhos/cm, yang kemudian mengalami satu parameter akan sangat mempengaruhi
penurunan pH (5,1) dan peningkatan DHL nilai atau kandungan parameter lain.
(612,50 µmhos/cm) pada lokasi sampling Saran
B. Hal serupa terjadi pada lokasi sampling
C dan D, dimana nilai DHL akan menurun Dengan mempertimbangkan hasil
seiring dengan peningkatan nilai pH dan penelitian yang menyatakan bahwa
sebaliknya. parameter pH pada lokasi B dan D tidak
Hubungan DHL dan pH pada memenuhi baku mutu, maka sebaiknya
penelitian ini disajikan pada gambar 2 lokasi B dan D menggunakan air irigasi
yang mendeskripsikan bahwa semakin yang berasal dari campuran air tanah dan
kecil pH maka akan semakin besar nilai air Sungai Suwatu. Hal ini dimaksudkan
DHL pada perairan tersebut. Hal yang untuk menaikkan nilai pH pada air irigasi
sama dinyatakan oleh Purnomo (2010) tersebut. Untuk Dinas Kelautan Perikanan,
pada penelitiannya yang menyatakan Badan Lingkungan Hidup dan dinas terkait
bahwa semakin kecil nilai pH maka perlu melakukan pemantauan rutin
konduktivitas listrik perairan tersebut akan terhadap kualitas air sungai dan kualitas air
semakin besar dan sebaliknya. Pada irigasi pada areal persawahan di sekitar
konduktor elektrolit, elektron mengalir Sungai Suwatu.
dibawa oleh ion-ion, sedangkan yang dapat
DAFTAR PUSTAKA
menghasilkan ion antara lain asam, basa
dan garam. Asam terdiri asam kuat yang Astuti, D. A. 2012. Status Mutu Air Sungai
banyak menghasilkan banyak ion Suwatu di Kecamatan Margoyoso
sedangkan asam lemah menghasilkan Kabupaten Pati. Jurnal Litbang
sedikit ion dimana semakin asam suatu 8(2): 110-116.
perairan maka semakin kecil nilai pHnya, Astuti, D. A. dan H. O. Damayanti. 2012.
demikian pula semakin lemah tingkat Analisis Kualitas Air dan Beban
keasaman suatu perairan maka pH akan Pencemaran Air Limbah Tapioka
semakin besar. Sehingga apabila suatu (Studi Kasus di Sungai Suwatu,
perairan memiliki tingkat keasaman tinggi Margoyoso). Laporan Penelitian.
(pH kecil) maka semakin banyak ion yang Kantor Penelitian dan
dihasilkan sehingga konduktivitas (DHL) Pengembangan Kabupaten Pati.
akan semakin besar. Pati.
KESIMPULAN DAN SARAN Azwir. 2006. Analisa Pencemaran Air
Sungai Tapung Kiri oleh Limbah
Kesimpulan Industri Kelapa Sawit PT. Peputra
Secara umum, hasil pengujian DHL Masterindo di Kabupaten Kampar.
dan TDS pada 4 (empat) lokasi sampling Tesis. Program Studi Magister Ilmu
masih memenuhi baku mutu yang Lingkungan Program Pasca Sarjana.
dipersyaratkan menurut klasifikasi DHL Semarang : Universitas Diponegoro.
(Tabel 1) dan PP No. 82 Tahun 2001 untuk
Bulumanis Kidul. 2012. Monografi Desa
air kelas IV. Sedangkan untuk parameter
Bulumanis Kidul. Pati.
pH, terdapat 2 (dua) lokasi sampling yang
memiliki pH di bawah baku mutu yang Desiandi, M., R. J. Sitorus. dan H. Hasyim.
dipersyaratkan yaitu lokasi sampling B dan 2010. Pemeriksaan Kualitas Air

41
Kualitas Air Irigasi Ditinjau dari……. Arieyanti Dwi A.

Minum pada Daerah Persiapan Zona Subagyono, K., A. Dariah. dan E.


Air Minum Prima (ZAMP) PDAM Surmaini., U. Kurnia. 2004. Tanah
Tirta Musi Palembang. Jurnal Ilmu Sawah dan Teknologi
Kesehatan Masyarakat 1(1): 67-72. Pengelolaannya. Badan Penelitian
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi dan Pengembangan - Departemen
Pengelolaan Sumberdaya dan Pertanian. Bogor : Pusat Penelitian
Lingkungan Perairan. Yogyakarta : dan Pengembangan Tanah dan
Kanisius. Agroklimat.
Fitriyah, A. 2012. Dampak Limbah Cair Noordwijk. M. V. dkk. 2004. Peranan
Pabrik Gula dan Pabrik Spiritus Agroforestri dalam
(PGPS) Madukismo Terhadap Mempertahankan Fungsi Hidrologi
Produktivitas Padi di Desa Daerah Aliran Sungai (DAS). Jurnal
Tirtonirmolo Kecamatan Kasihan Agrivita 26(1): 1-8.
Kabupaten Bantul. Skripsi. Program Susila, A. D. dan R. Poerwanto. 2013.
Stusi Pendidikan Geografi. Fakultas Irigasi dan Fertigasi. Modul IX –
Ilmu Sosial. Yogyakarta : Bahan Ajar Mata Kuliah Dasar-
Universitas Negeri Yogyakarata. Dasar Hortikultura. Bogor : Institut
Kurnati, E. 2009. Kualitas Air. Bahan Ajar Pertanian Bogor.
Dasar Irigasi dan Drainase. Jurusan Setiadi, R. 2011. Pengukuran Beberapa
Keteknikan Pertanian. Fakutas Unsur Mutu Air Irigasi. Laporan
Teknologi Pertanian. Malang : Resmi Praktikum Pengelolaan dan
Universitas Brawijaya. Kualita Air. Jurusan Teknik
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Pertanian, Fakultas Teknologi
Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pertanian. Yogyakarta : Institut
Pengelolaan Kualitas Air dan Pertanian Stiper.
Pengendalian Pencemaran Air.
BIODATA PENULIS
Poniman. 2004. Penanggulangan
Pencemaran Limbah Cair Tapioka Arieyanti Dwi Astuti, lahir 24 Agustus
Pada Lahan Sawah. Laporan 1984 di kota Pati Jawa Tengah. Sarjana
Penelitian. Pati : Balai Penelitian (S1) dari Universitas Diponegoro (UNDIP)
Lingkungan Pertanian. Semarang Jurusan Teknik Lingkungan
Purnomo, H. 2010. Pengaruh Keasaman Tahun 2007. Saat ini bekerja sebagai
Buah Jeruk Terhadap Konduktivitas peneliti di Kantor Penelitian dan
Listrik. Jurnal Orbith 6(2): 276-281. Pengembangan Kabupaten Pati.

42