Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

Peningkatan Produksi Tanaman Kopi dalam Memenuhi Kebutuhan Masyarakat


Indonesia

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknik Agronomi Lanjutan


Dosen Pengampu : Prof.Dr.Ir. Husni Thamrin Sebayang , MS.

Oleh :

1. Rizko Kurniawan 196040200111014

2. Dyah Ayu TH 196040200111025

PROGRAM STUDI AGRONOMI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kopi merupakan salah satu komoditas penting yang diperdagangkan luas di
dunia. Keberagaman citarasa yang diciptakan oleh biji kopi menjadi pengaruh
terhadap dinamika budaya minum kopi di negara-negara konsumen. Komoditas
perkebunan termasuk kopi ini menjadi peran penting dalam perekonomian nasional
seperti sumber devisa negara, pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja,
pembangunan wilayah, pendorong agribisnis dan agroindustri. Hasil produksi kopi
di Indonesia merupakan terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam.
Namun produktivitas kopi di Indonesia masih tergolong rendah yaitu kopi robusta
mencapai 771 kg biji kopi/hektar/tahun dan 787 kg biji kopi/hektar/tahun untuk
kopi arabika.
Sistem pengendalian mutu yang rendah dan kuantitas produksi yang
berfluktuatif, diduga menyebabkan perkembangan industri kopi Indonesia masih
rendah atau lamban. Masalah ini dapat saja mempengaruhi perkembangan ekspor
kopi pada masa mendatang. Perlu ada perhatian khusus dari setiap pihak yang
terlibat, dari proses produksi oleh petani hingga bagaimana dukungan pemerintah
untuk komoditas kopi. Pembenahan produksi mutlak diperlukan guna menindak
lanjuti peningkatan kuantitas dan kualitas produk yang maksimal. Potensi akan
peningkatan permintaan kopi, sangatlah prosepektif. Diperlukan strategi yang
efektif untuk menjawab semua peluang yang ada pada industri kopi Indonesia, baik
dimata masyarakat lokal maupun masyarakat global sekalipun.
Peningkatan hasil kopi tiap tahunnya di Indonesia mempunyai peluang lebar
untuk dikembangkan karena Indonesia tergolong dalam iklim tropis. Peningkatan
produktivitas kopi merupakan upaya untuk memberikan penambahan mutu atau
kualitas produk, melalui penerapan teknologi dengan baik dan benar. Aspek
budidaya dalam kegiatan usahatani kopi menjadi faktor utama dalam peningkatan
produktivitas. Penggunaan bibit tanaman kopi yang bermutu memberikan peranan
yang sangat besar terhadap produksi. Selain itu perlu memahami tentang
Pengelolaan tanaman kopi yang baik melalui pemeliharaan, maka pada saat
pengambilan hasil, perlakuan panen harus tepat. Tepat waktu umur panen, tingkat

2
kemasakan, dan penanganan setelah dipanen. Hal ini dilakukan untuk
mempertahankan kualitas biji kopi.

1.2. Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui kondisi perkembangan
kopi di Indonesia dalam memenuhi kebutuhan kopi di Indonesia.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Tanaman Kopi di Indonesia


Kopi adalah komoditas perkebunan yang peranannya dalam perekenomian
nasional sangat penting. Konsumsi kopi masyarakat Indonesia masih sangat rendah
yaitu 0.8 kg/kapita/tahun. Sementara beberapa negara lain seperti Brasil 6
kg/kapita/tahun. Sementara itu. Permintaan kopi dunia sangat besar dan
menunjukkan trend yang terus meningkat. Data dari International Coffee
Organization menunjukkan bahwa trend peningkatan konsumsi kopi dunia terjadi
sejak tahun 2010 dengan jumlah peningkatan rata-rata sebesar 2.5%/tahun. Pada
tahun 2020. Diperkirakan kebutuhan kopi dunia akan mencapai 10.3 juta ton (ICO.
2013).
Saat ini perkembangan kopi di Indonesia terus mengalami kemajuan yang
cukup signifikan. Beberapa daerah di Indonesia dikenal sebagai penghasil kopi
terbaik dunia. Lampung dikenal sebagai penghasil kopi terbesar di Indonesia yang
memiliki jenis kopi robusta. Di Pulau Sumatera misalnya dapa ditemukan banyak
jenis kopi berkualitas yang juga sudah dikenal hingga ke mancanegara. Indonesia
sebagai negara kepulauan nusantara memiliki pesona rasa kopi nusantara yang
sangat beragam dan rasanya pun merupakan rasa yang berstandar kualitas ekspor.
Tanaman kopi menghendaki suhu atau ketingggian tempat yang berbeda-
beda. Pada kopi robusta tumbuh optimum pada ketinggian antara 400-700 m diatas
permukaan laut, tetapi beberapa diantaranya juga masih tumbuh baik dan ekonomis
pada ketinggian 0-1000 mpdl. Kopi arabika menghendaki ketinggian tempat antara
500-1700 mdpl. Kopi pada umumnya tumbuh optimum pada tempat dengan
ketinggian 500-1700 mdpl dengan curah hujannya 1300-2000 mm/tahun. Kopi
tidak menyukai sinar matahari yang teratur. Peranan angin adalah membantu
berpindahnya serbuk sari bunga dari tanaman kopi yang satu ke putik bunga kopi
yang lain (Abdoellah et al., 2000).
Kopi di Indonesia dihasilkan oleh perkebunan kopi milik rakyat dan
perkebunan-perkebunan yang tersebar di berbagai propinsi wilayah Indonesia.
Keadaan demikian menimbulkan jaringan tataniaga yang beragam untuk

4
menampung dan menyalurkan produksi kopi setiap tahunnya. Tataniaga kopi
merupakan mata rantai kegiatan yang panjang dari jutaan petani dan pekebun-
pekebun kopi dan perusahaan-perusahaan eksportir (Turni, 2002).

2.2. Sentra Produksi Kopi Indonesia


Wilayah subtropis dan tropis merupakan lokasi yang baik untuk budidaya
kopi. Oleh karena itu, negara-negara yang mendominasi produksi kopi dunia berada
di wilayah Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara. Penyebaran kopi di
Indonesia dimulai pada tahun 1700 an. dibawa oleh sebuah perusahaan patungan
India dan Belanda yang berada di Srilanka. Percobaan penanamannya dilakukan
oleh seorang berkebangsaan Belanda pada berbagai lokasi di Indonesia (Jawa,
Sumatera, Sulawesi dan Timor). Tanaman yang dicoba ternyata dapat tumbuh
dengan baik sehingga Belanda menjadikan sebagai salah satu tanaman wajib yang
harus ditanam oleh seluruh petani melalui tanam paksa di berbagai wilayah di Pulau
Jawa, Daerah Bogor, Sukabumi, Banten dan Priangan Timur merupakan daerah-
daerah yang terkena ketentuan tanam paksa tersebut. Keberhasilan menanam kopi
di Pulau Jawa menyebabkan tanaman ini makin menyebar ke daerah lainnya di
Indonesia seperti Sumatera, Sulawesi dan Bali.
Hampir dua abad lamanya. kopi arabika menjadi satu-satunya jenis kopi
komersial yang ditanam di Indonesia. Akan tetapi budidaya kopi arabika ini
mengalami kemundurun hebat akibat serangan penyakit karat daun (Hemileia
vastatrix) yang masuk ke Indonesia pada tahun 1876. Kopi arabika hanya dapat
bertahan pada daerah-daerah tinggi (ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut)
sampai dimasukkannya kopi arabika varietas abessinia yang lebih resisten dan
dapat ditanam sampai pada pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.
Untuk mengantisipasi kekurangan produksi kopi, maka sejak tahun 1900
pemerintah Belanda membudidayakan kopi jenis Robusta setelah sebelumnya gagal
membudidayakan kopi jenis Liberika. Kopi jenis Robusta yang relatif tahan
penyakit kemudian berkembang hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Pada pasca
perang dunia kedua, Indonesia dikenal sebagai penghasil kopi terbesar ketiga dunia,
setelah Brazil dan Kolombia (Lubis, 2002).

5
Gambar 1. Peta Penyebaran dan Penghasil Kopi di Indonesia (AEKI, 2010)

Kopi, dalam perdagangan internasional, merupakan komoditas ekspor


terpenting kedua setelah minyak mentah (Gregory and Featherstone, 2008).
Komoditas ini diperdagangkan hampir oleh seluruh negara di dunia (ITC, 2011).
Kopi diproduksi oleh lebih dari 70 negara yang 45 diantaranya merupakan negara-
negara berkembang. Negara-negara berkembang tersebut menyuplai 97 persen dari
total produksi kopi dunia (ICO, 2009).
Industri kopi Indonesia mempunyai kontribusi penting dalam perekonomian
nasional. Alasan lain yang menyebabkan kopi menjadi komoditas penting, terutama
untuk negara berkembang seperti Indonesia, karena perkebunan kopi menyerap
banyak tenaga kerja. Teknik budidaya kopi yang membutuhkan banyak tenaga kerja
khususnya dalam proses produksi dan panennya membuat perkebunan kopi menjadi
salah satu pendorong pembangunan di daerah pedesaan (ICO, 2009).
Berdasarkan data dari FAO, pada tahun 2013, Indonesia tercatat sebagai
produsen kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam. Meskipun
demikian, ekspor kopi dari Indonesia diperkirakan tidak lebih banyak daripada
ekspor kopi Brazil, Vietnam dan Kolombia. Di dunia, Indonesia dikenal dengan
dengan specialty coffee melalui berbagai varian kopi dan kopi luwak. Kopi arabika
yang dikenal dari Indonesia diantaranya kopi lintong dan kopi toraja. Dengan
keunikan cita rasa dan aroma kopi asal Indonesia, Indonesia memiliki peluang besar
untuk meningkatkan perdagangan kopinya di dunia.
Kopi yang dijual di dunia biasanya adalah kombinasi dari biji yang
dipanggang dari dua varietas pohon kopi: arabika dan robusta. Perbedaan di antara
kedua varietas ini terutama terletak pada rasa dan tingkat kafeinnya. Biji arabika,

6
lebih mahal di pasar dunia, karena memiliki rasa yang lebih mild dan memiliki
kandungan kafein 70% lebih rendah dibandingkan dengan biji robusta.
Sebagai komoditas ekspor unggulan kopi menjadi salah satu hasil perkebunan
yang diperdagangkan secara luas di pasar dunia. Ekspor kopi Indonesia sampai
dengan pertengahan tahun 2013 volumenya tercatat sebanyak 448.6 ribu ton dengan
nilai US$ 1.249.5 juta. Dalam periode 2007 sampai dengan 2011, ekspor kopi
Indonesia tumbuh sebesar 8.1% pertahun. Namun demikian. ekspor masih
didominasi oleh biji kopi (99.8%) dengan nilai ekspor sebesar US $ 1.03 milyar
pada tahun 2011. sementara ekspor produk olahan kopi (downstream products)
masih sangat kecil (Sudjarmoko, 2013).
Tiga daerah penghasil utama kopi di Indonesia adalah Sumatera Selatan
(22%). Lampung (21%) dan Bengkulu (9%). Sedangkan kabupaten utama
penghasil kopi di masing-masing provinsi adalah Kabupaten Pagar Alam (Sumatera
Selatan); Lampung Barat. Lampung Utara dan Tanggamus (Lampung); Kepahiang.
Curup. Rejang Lebong (Bengkulu). Daerah penghasil utama kopi di provinsi
lainnya adalah Jember. Banyuwangi. Situbondo. Bondowoso dan Malang (Jawa
Timur); Tapanuli. Pematang Siantar. Samosir dan Sidikalang (Sumatera Utara);
Aceh Tengah dan Bener Meriah (NAD); Tana Toraja. Polmas dan Enrekang
(Sulawesi Selatan); Agam. Padang Pariaman. Tanah Datar. Solok dan Pasaman
(Sumatera Barat). Sedangkan, konsumsi kopi masyarakat Indonesia tergolong
masih rendah yaitu 0.8 kg/kapita/tahun. Sementara beberapa negara lain seperti
Brasil konsumsi kopi telah mencapai 6 kg/kapita/tahun. Norwegia 10.6
kg/kapita/tahun dan Finlandia bahkan sudah mencapai 11.4 kg/kapita/tahun (AEKI.
2012).

Gambar 2. Sentra produksi Kopi di Indonesia Berdasarkan Daerah Pengusahaan


(AEKI, 2012)

7
2.3. Permasalahan
Data dari FAO, pada tahun 2013, Indonesia tercatat sebagai produsen kopi
terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam. Di dunia, Indonesia dikenal
dengan dengan specialty coffee melalui berbagai varian kopi dan kopi luwak. Kopi
arabika yang dikenal dari Indonesia diantaranya kopi lintong dan kopi toraja.
Dengan keunikan cita rasa dan aroma kopi asal Indonesia, Indonesia memiliki
peluang besar untuk meningkatkan perdagangan kopinya di dunia.
Keunggulan produksi kopi yang dimiliki Indonesia ternyata belum dibarengi
oleh industri pengolahannya. Sebanyak 80 persen dari produk kopi yang diekspor
adalah kopi biji dan hanya 20 persennya yang diproses menjadi kopi bubuk, kopi
instan, dan mixed coffe. Banyak faktor yang diduga menyebabkan kurang
berkembangnya industri kopi Indonesia, diantaranya adalah belum begitu baiknya
kontrol kualitas terutama untuk biji kopi yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat
yang merupakan kontributor terbesar produksi kopi nasional. Selain itu faktor-
faktor lain seperti faktor teknis, infrastruktur yang belum memadai, regulasi,
kondisi sosial ekonomi, serta keterbatasan teknologi juga diduga menjadi kendala
dalam pengembangan industri pengolahan kopi (Deperin, 2009).
Luasan lahan perkebunan kopi Indonesia berada pada urutan besar kedua,
sedangkan untuk produksi dan ekspor ada di posisi empat, hal ini dapat dilihat dari
jumlah produktivitas kopi Indonesia sebesar 792 kg biji kering per hektar per tahun.
Indonesia masih dibawah Kolombia (1.220 kg/ha/tahun), Brazil (1.000
kg/ha/tahun) bahkan Vietnam (1.540 kg/ha/tahun). Dari luas lahan 1,30 juta ha
(2006), sebagian besar yakni 95,9 persen diusahakan dalam perkebunan rakyat dan
sisanya 4,10 persen berupa perkebunan besar baik oleh PTPN maupun swasta. Data
yang diperoleh dari ditjen perkebunan menunjukkan bahwa perkebunan kopi yang
diusahakan di Indonesia saat ini sebagian besar berupa kopi Robusta seluas 1,30
juta ha dan kopi Arabika seluas 177.100 ha dengan total produksi 682.158 ton dan
ekspor 413.500 ton pada 2006 dengan nilai 586.877 dolar AS. Sementara itu untuk
tahun 2007 total produksi kopi nasional sebesar 686.763 ton dengan luas lahan1,31
juta ha (Muhammad, 2007).

8
2.3.1 Budidaya
Hambatan dalam budidaya adalah teknik budidaya yang dilakukan oleh
petani kopi saat ini belum sesuai dengan teknik budidaya baku yang diberikan oleh
pemerintah dan penyuluh melalui sosialisasi dan pelatihan, sehingga target
peningkatan produksi kopi dan perbaikan kualitas hasil produksi tidak dapat
tercapai.Sebenarnya dinas perkebunan dan penyuluh lapangan sudah melaksanakan
Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) untuk berbagi informasi
pengembangan teknik budidaya kopi agar meningkatkan hasil produksi. Hanya
saja, kegiatan SLPHT tersebut tidak secara menyeluruh petani dapatkan dan hanya
berlangsung beberapa kali saja.
2.3.2 Pengelolaan Pasca Panen
Dalam kegiatan pengolahan pasca panen masih terdapat hambatan yaitu hasil
pengolahan panen yang belum secara penuh dapat diterima oleh pasar. Dalam
tahapan pengolahan hasil panen utamanya sangat dipengaruhi oleh hasil panen, jika
hasil panen kopi tidak baik maka akan mempengaruhi hasil olahan kopi. Untuk
mengatasi hal tersebut sebenarnya pemerintah sudah memberikan bantuan berupa
alat pengolahan kopi biji basah (pulper), kopi biji kering (huller), pengeringan,
hingga alat pengolahan kopi menjadi kopi bubuk. Bahkan pihak swasta pernah
memberikan pelatihan secara gratis kepada petani yang bersedia untuk mengikuti
cara pengolahan kopi gelondng basah hingga proses penyangraian kopi (roasting)
dan penyeduan kopi yang benar agar menghasilkan aroma kopi yang sesuai
permintaan pasar. Akan tetapi, petani yang tidak siap dalam melanjutkan
kegiatannya serta pasar yang belum sepenuhnya menerima menghambat
keberlanjutan usaha (Pratiwi, 2016).
2.3.3 Pemasaran
Hambatan dalam pemasaran adalah tertutupnya informasi harga pada petani
dan belum adanya merek dagang atau brand kopi Temanggung sehingga sulit untuk
melakukan promosi. Dalam hal ini pemerintah perlu melakukan proteksi harga
untuk melindungi petani dan memberikan kemudahan kepada petani kopi untuk
dapat mengakses harga kopi yang berlaku setiap seminggu sekali atau bulanan.
Merek dagang merupakan hal penting dalam melakukan promosi, selain itu dengan

9
merek dagang yang sudah terdaftar memberikan perlindungan secara hukum
mengenai hak kepemilikan suatu produk.
2.3.4 Kelembagaan
Belum optimalnya perkembangan industri hilir kopi Indonesia tidak sama
sekali berarti masalahnya hanya ada pada bagian hilir dari industri kopi saja.
Seluruh kelembagaan yang terlibat di dalam industri ini mempunyai tanggung
jawab terhadap perkembangan industri hilir dan peningkatan daya saing kopi
Indonesia dalam kapasitasnya masing-masing. Menurut Deperin (2009), belum
terjadi kemitraaan strategis yang optimal dari setiap stakeholders, mulai dari petani,
kelompok petani, perkebunan besar, pengumpul, eksportir, lembaga penelitian,
coffehouses, dan pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Kelembagaan pertama yang bertanggung jawab terhadap mutu kopi yang
akan dihasilkan nantinya adalah petani atau petani-petani yang tergabung dalam
kelompok tani dan koperasi petani. Petani-petani skala kecil berperan signifikan
terhadap mutu produksi kopi yang dihasilkan karena mereka bertanggung jawab
atas lebih dari 90 persen produksi kopi Indonesia Mutu kopi yang dihasilkan para
petani Indonesia masih didominasi oleh kopi bermutu rendah dan sedang (Deperin,
2009). Hal ini dikarenakan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh petani atau
kelembagaan petani tersebut terutama dalam pengolahan pasca panen (USAID,
2007).
Pengolahan pasca panen hampir tidak mungkin dimiliki oleh petani kecil
karena alat pengolahan pasca panen yang cukup mahal dan tentu tidak efisien bila
digunakan untuk usahatani skala kecil. Para petani perlu bergabung dalam
kelompok tani atau koperasi agar bisa mengumpulkan modal dan melakukan
pengolahan bersama agar lebih efisien. Masalah lainnya adalah “sifat” petani kecil
biasanya perlu dana secepat mungkin setelah melakukan panen atau mungkin
bahkan sebelum panen. Peran tengkulak dimulai dari tahap ini, mereka membeli
hasil panen atau meminjamkan uang kepada para petani sebelum panen dengan
syarat petani harus menjual panennya kepada tengkulak. Sayangnya sebagian
tengkulak tidak terlalu peduli terhadap kondisi kualitas dari kopi yang
dikumpulkannya. karena setiap tingkat kualitas kopi ternyata mempunyai pasar
masing-masing. Hal ini menyebabkan petani terjebak dalam siklus yang

10
menjadikan petani kehilangan motivasi untuk meningkatkan produktivitas maupun
kualitas kopinya. Siklus ini, dalam jargon pemasaran, dikenal dengan dengan istilah
interlocked market (Susila, 2005).
Saat ini, sebagian petani sadar akan pentingnya bergabung ke dalam
organisasi petnai baik itu koperasi atau kelompok tani. Namun, menurut USAID
(2007) ternyata, walaupun para petani telah bergabung ke kelompok tani atau
koperasi masih juga terdapat kendala-kendala terkait modal, konsistensi produksi,
dan konsistensi kualitas. USAID (2007) mengungkapkan bahwa kendala-kendala
tersebut saling berkaitan. Sebagai gambaran, organisasi petani yang tidak memiliki
kapasitas mesin pulping atau mesin pengering kopi menyebabkan tidak mampu
terpenuhinya pesanan pengolah atau eksportir kopi. Gambaran lainnya,
beragamnya teknik budidaya dan teknik pasca panen yang dilakukan oleh masing-
masing panen akan menghasilkan hasil panen yang beragam dan kualitas yang
beragam pula (Saragih, 2013).
Kelembagaan tahap selanjutnya setelah pasca panen adalah para prosesor.
Kelembagaan ini bertanggung jawab menambah nilai produk melalui pengolahan
seperti roasting dan milling. Namun, industri pengolahan kopi di Indonesia belum
berkembang secara optimal melihat masih terdapatnya praktek ekspor biji kopi
yang akan diolah di luar negeri (CBI, 2013). Hal ini dikarenakan rendahnya minat
investasi di dalam negeri untuk pengolahan kopi (Deperin, 2009). Selain itu, minat
para prosesor untuk melakukan investasi penelitian dan pengembangan untuk
memenuhi keinginan pasar cenderung rendah. Tingginya resiko akibat fluktuasi
harga, kuantitas dan kualitas produksi menjadi penyebab rendahnya minat investasi
di bidang pengolahan kopi (Saragih,2005).
Kelembagaan hilir terakhir menuju ekspor dan pasar dalam negeri adalah para
eksportir dan perusahaan pemasar dalam negeri. Rendahnya kualitas kopi yang
dihasilkan pada tahap usahatani terus berdampak sampai ke tahap ini. Akibatnya
label kopi berkualitas rendah tertempel pada sebagian besar kopi produksi
Indonesia, terutama untuk jenis kopi robusta (CBI, 2013). Selain itu,
ketidakkonsitenan kuantitas yang berkaitan dengan kualitas produksi kopi
menyebabkan rendahnya posisi tawar kopi indonesia di dunia (USAID, 2007).

11
Rendahnya pengenalan pasar terhadap kopi-kopi unik Indonesia serta
informasi yang kurang sempurna mengenai keinginan pasar membuat peluang
eksportir Indonesia untuk menjual produk yang benar-benar diinginkan pasar
menjadi lebih kecil. Peluang tersebut akhirnya direnggut oleh perusahaan-
perusahaan luar negeri yang mengetahui selera pasar. Sebagai gambaran, sebagian
pasar eropa menginginkan kopi arabika yang light roasted dan tersertifikasi, pasar
timur tengah dan eropa bagian selatan membutuhkan kopi robusta yang dark roasted
dan juga tersertifikasi (CBI, 2007).

2.4. Penanganan
Dalam pengembangan usahatani kopi masih memiliki hambatan seperti yang
telah diuraikan sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyak petani yang
memiliki idealisme tinggi untuk mengembangkan usahatani kopi. Namun masih
ada harapan untuk terus berkembang dengan solusi untuk menangani permasalahan
tersebut.
2.4.1 Budidaya
Aspek budidaya menjadi aspek terpenting dan paling diprioritaskan untuk
dilakukan dalam Strategi pengembangan usahatani kopi. Dalam aspek budidaya
terdapat tiga alternatif yang menjadi acuan sebagai upaya pengembangan usahatani
kopi diantaranya adalah penyuluhan revitalisasi lahan kopi dan bantuan bibit
unggul, pelatihan teknik budidaya kopi yang tepat, bantuan Sarana Produksi
Pertanian (SAPROTAN) tepat waktu, jumlah, harga dan mutu, dan peningkatan
penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati.
Untuk memperbaiki teknik budidaya dapat dilakukan dengan cara
melanjutkan kegiatan SLPHT yang diikuti dengan kegiatan pembagian bibit kopi
unggul, sosialisasi penggunaan pestisida dan pupuk organik serta memfasilitasi
kegiatan kunjungan kebun kopi ke daerah yang berhasil dalam mempraktekkan
teknik budidaya kopi sesuai dengan baku teknik budidaya dan ramah lingkungan.
Tentunya semua kegiatan tersebut diperlukan kerjasama dari pemerintah, petani
dan swasta untuk terus melakukan penelitian, sehingga informasi teknik budidaya
kopi dapat terupdate.
2.4.2 Pengelolaan Pasca Panen

12
Aspek pengolahan pasca panen memiliki tiga alternatif diantaranya
peningkatan kesadaran penanganan pasca panen yang tepat, bantuan alat pulper dan
huller serta pendampingan pengolahan, dan pelatihan inovasi dan diversifikasi
olahan kopi. Selain itu, dapat juga diatasi apabila pemerintah dapat membuka
kerjasama dengan pihak wasta untuk bekerjasama menerima produk kopi dari
Kabupaten Temanggung dengan syarat yang menguntungkan petani seperti hanya
menerima produk kopi dengan kualitas yang terstandar untuk harga yang sesuai.
Hal ini diharapkan dapat membuka minat petani untuk terdorong melakukan
pengolahan hasil panen dengan baik. Selain itu, pemerintah dapat bekerjasama
dengan pihak swasta untuk menyusun Standar Operasional (SOP) Pengolahan
Kopi, agar menjadi pedoman untuk petani (Pratiwi, 2016)
2.4.3 Pemasaran
Dalam aspek pemasaran terdapat tiga alternatif diantaranya sosialisasi
branding dan bimbingan ekspor mandiri, membuka peluang pasar yang
menguntungkan petani, dan melakukan promosi secara luas.
2.4.4 Kelembagaan
Garis besar dari solusi kendala-kendala yang terdapat pada setiap
kelembagaan dapat dirangkum ke dalam dua aspek solusi yaitu:
a. Mengoptimalkan kerjasama kemitraan strategis antara, stakeholders, yaitu
petani dan kelembagaannya, processors, pedagang dan eksportir, dan
coffehouses.
b. Mengoptimalkan koordinasi antara pemerintah dan dunia usaha. Kerjasama
dilakukan secara vertikal antar pelaku usaha, seperti terlihat pada Gambar 2.
Kerjasama tersebut meliputi penyaluran modal, transfer teknologi,
pembimbingan, dan pelatihan. Petani memperoleh berbagai manfaat dengan
bergabung atau membentuk organisasi petani. Organisasi petani akan
menyediakan akses terhadap teknologi budidaya dan alat pasca panen yang
lebih baik dan tadinya tidak terjangkau oleh petani skala kecil. Efisiensi petani
akan meningkat karena biaya input dan pengolahan ditanggung bersama dalam
organisasi. Posisi tawar petani akan meningkat karena posisi tawar yang ada
kini adalah posisi tawar organisasi petani yang mempunyai kuantitas produksi
lebih banyak.

13
Gambar 3. Peranan setiap Kelembagaan Industri Kopi

Organisasi petani juga mencegah terjadinya Interlock market karena peran


pedagang perantara dipegang oleh organisasi petani. Kebutuhan petani akan dana
cepat dapat terpenuhi oleh pembiayaan berbunga rendah yang disediakan oleh
koperasi. Petani tidak akan lagi terdesak oleh pembayaran utang lewat hasil panen
sebagaimana yang dialaminya dengan tengkulak. Petani juga menjadi lebih peduli
terhadap kualitas hasil panennya terutama bila dikaitkan dengan pendidikan dan
pelatihan yang disediakan oleh organisasi petani (Susila, 2013) .
Processors, traders, dan industrial Firm juga dapat mendukung organisasi
petani lewat penyaluran modal dan pendidikan petani (Gambar 1). Seperti yang
dilakukan oleh PT Toarco Jaya di Toraja dan Nestle pada organisasi petani di
Lampung, organisasi petani memperoleh pinjaman modal lunak dari perusahaan
tersebut disertai pembimbingandalam hal teknik budidaya dan pasca panen. Nestle
juga melakukan praktek “memotivasi” petani dengan menjanjikan harga yang lebih
tinggi untuk kualitas biji kopi yang lebih tinggi dan dengan melakukan kampanye
tersebut Nestle berhasil meningkatkan kualitas kopi yang diproduksi petani di
Lampung. Konsep sustainable agribusines yang menjadi salah satu tolak ukur
penting terutama di eropa juga mulai dikenalkan kepada petani agar kelak isu ini
bukan lagi menjadi momok bagi produk kopi Indonesia (UNDP, 2011 dan Susila,
2005).
Kegiatan pendanaan selain bisa dilakukan antar pelaku usaha, utamanya tentu
dipegang oleh lembaga-lembaga keuangan yang ditunjuk oleh pemerintah.
Pendanaan yang menjadi fokus khusus tentu kepada petani. Petani yang berskala
kecil dan menanggung resiko relatif paling besar dari seluruh pelaku usaha di

14
industri kopi diistimewakan dengan pemberian pinjaman lunak berbunga rendah.
Teknis pembiayaan dapat dilaksanakan langsung oleh lembaga keuangan yang
bersangutan atau disalurkan terlebih dahulu ke koperasi petani.
Peran utama bidang penelitian dan pengembangan hasil panen dan pasca
panen kopi dilakukan oleh lembaga penelitian pemerintah. Indonesian Coffee and
Cocoa Research Institute (ICCRI) dan Agribusiness Market and Support Activity
(AMARTA) merupkan beberapa institusi penelitian di industri kopi. Lembaga
tersebut bertanggung jawab terhadap peningkatan kuantitas dan kualitas kopi
melalui bahan tanaman, teknik budidaya, dan teknik pasca panen yang lebih baik
(Carlos et al, 2011). Informasi inovasi tersebut akan disampaikan kepada petani
lewat seminar atau penyuluhan yang diorganisasi oleh organisasi petani.
Seluruh kerjasama yang telah diuraikan di atas beserta kegiatan usaha industri
kopi tidak akan berjalan lancar tanpa adanya iklim usaha yang kondusif dan
infrastruktur yang memadai. Pemerintah bertanggung jawab terhadap hal tersebut.
Iklim politik yang tidak kondusif, ketidak terjaminan keamanan, atau ketegangan
sosial di masyarakat dapat menghambat terbentuknya iklim investasi yang baik.
Tanpa adanya investasi yang cukup industri akan berjalan lambat bahkan terhenti.
Begitu pula dengan kondisi infrastruktur yang baik sangat erat kaitannya dengan
efisiensi biaya usaha. Kondisi jalan yang rusak, tidak memadainya jaringan internet,
banyaknya pungutan liar, akan meningkatkan biaya usaha sekaligus meningkatkan
resiko dan menyebabkan harga produk menjadi tidak bersaing di pasar dunia.
Pemerintah juga berkewajiban untuk mengenalkan produk kopi Indonesia
beserta kekhasannya dan menjalin kerjasama dengan luar negeri baik yang
berkaitan dengan kegiatan pemasaran ataupun pertukaran informasi. Seperti yang
diungkapkan oleh Carlos et al (2014) bahwa seharusnya negara-negara penghasil
kopi di ASEAN saling bekerja sama dalam hal berbagi informasi seputar industri
kopi maupun upaya peningkatan posisi tawar produk kopi negara-negara ASEAN.
Pengenalan produk kopi Indonesia juga dapat dilakukan dengan pameran produk di
luar negeri atau diagendakan dalam misi dagang luar negeri. Selain itu pemerintah
juga berkewajiban untuk terus mengingatkan kepada setiap Stakeholers bahwa
peningkatan kualitas produk kopi merupakan isu nasional dan dikomunikasikan

15
lewat seminar, workshop, pertemuan-pertemuan, dan publikasi di media masa
(Carlos et al, 2011).

16
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Penyebaran kopi di Indonesia dimulai sekitar pada tahun 1700 dibawa oleh
sebuah perusahaan patungan India dan Belanda yang berada di Srilanka. Kopi di
Indonesia dihasilkan oleh perkebunan kopi milik rakyat dan perkebunan-
perkebunan yang tersebar di berbagai propinsi wilayah Indonesia. Tiga daerah
penghasil utama kopi di Indonesia adalah Sumatera Selatan (22%), Lampung (21%)
dan Bengkulu (9%). Perbaikan mutu dan kualitas kopi Indonesia dapat dilakukan
dengan memanagemen dari aspek Budidaya, Pengolahan pasca panen,
Pemasaran,dan Kelembagaan

17
DAFTAR PUSTAKA
Abdoellah, S., R. Hulupi, dan Sulistyowati. 2000. Hubungan antara citarasa kopi
robusta dengan komposisi bahan tanam serta komponen lingkungan.
Pelita Perkebunan. 16 (2): 92-99

Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia. 2010. Analisis Potensi. Strategi


Pengembangan. dan Road Map Perkopian Indonesia. Jakarta:
Mitraconprima.
Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia. 2012. Statistik Kopi Asosiasi Eksportir dan
Industri Kopi Indonesia 2009-2011. Jakarta: Mitraconprima.
Carlos et al. 2011. ASEAN Coffe Industry: Brewing Sustainability Through
Differentiated Coffees. Learning Team Project For ABS.
CBI. 2013. Tailored Market Intelligence: Market Insights For Sustainably-Sourced
Coffee. Indonesia
Departemen Perindustrian. 2009. Peran Industri Kopi Bagi Peningkatan Kontribusi
GDP Indonesia. Temu Karya Kopi VI. Jakarta
Gregory, Alexandra; and Allen M. Featherstone. 2008. Nonparametric efficiency
analysis for coffee farms in Puerto Rico, Selected paper prepared
forpresentation at the Southern Agricultur al Economics Association
Annual Meeting. Dallas.
ICO. 2009. Opportunities And Challenges For The World Coffee Sector, Multi-
stakeholder Consultation on Coffee of the Secretary-General of UNCTAD.
Geneva: International Coffee Organisation.
International Coffee Organization. 2012. World Coffee Market Outlook.
http://.ico.org. (Diakses Tanggal 2 September 2019).

ITC. 2011. Trends In The Trade Of Certified Coffees Technical Paper. Geneva:
International Trade Centre.
Lubis, S.N. 2002. Dampak Liberalisasi Perdagangan Terhadap Keragaan Industri
Kopi Indonesia dan Perdagangan Kopi Dunia. Disertasi. Fakultas
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Saragih, J. R. .2013. Socioeconomic and Ecological Dimension of Certified and
Conventional Arabica Coffee Production in North Sumatra, Indonesia.
Asian Journal of Agriculture and Rural Development. 3(3). 93-107.

18
Sudjarmoko, Bedy. 2013. Prospek Pengembangan Industrialisasi Kopi Indonesia .
Sirinov. 1(3). 99-110.
Turnip, C. 2002. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penawaran Ekspor
dan Aliran Perdagangan Kopi Indonesia. Skripsi Sarjana. Jurusan Ilmu-
Ilmu Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

United Nation Development Programme. 2011. Key Coffe: Establishing Specialty


Coffe Toarco Toraja by Building Capacity of Middlemen. New York: USA
United States Agency for International Development. 2007. A Rapid Assessment
of the Specialty Coffee Value Chain in Indonesia. Michigan State
University: USA

19