Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

GINECOMASTIA

A. PENGERTIAN
Gynecomastia adalah pertumbuhan abnormal pada payudara pria.
Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan jaringan payudara.
Ginekomastia merupakan perkembangan berlebih jaringan payudara
pada pria yang biasanya dialami oleh remaja pria dan pria dewasa
(Brunner and Suddarth, edisi 8, vol, 2002).
Ginekomastia adalah hipertrofi payudara dan dapat bersifat unilateral
maupun bilateral yang terjadi pada anak laki-laki selama pubertas dan
pada pria berusia di atas 50 tahun.
Ginekomastia merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani
yaitu gyvec yang berarti perempuan dan mastos yang berarti payudara,
yang dapat diartikan sebagai payudara seperti perempuan. Ginekomastia
berhubungan dengan beberapa kondisi yang menyebabkan pembesaran
abnormal dari jaringan payudara pada pria. Ginekomastia merupakan
pembesaran jinak payudara laki-laki yang diakibatkan proliferasi
komponen kelenjar. Ginekomastia biasanya ditemukan secara kebetulan
saat pemeriksaan kesehatan rutin atau dapat dalam bentuk benjolan yang
terletak dibawah regio areola baik unilateral maupun bilateral yang nyeri
saat ditekan, atau pembesaran payudara yang progresif yang tidak
menimbulkan rasa sakit. Kondisi ini mungkin terjadi pada salah satu atau
kedua payudara. Fenomena ini umum terjadi pada masa puber. Setengah
dari laki-laki mengalami pembesaran pada salah satu atau kedua payudara
di masa ini.

1
B. ETIOLOGI

Ginekomastia dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologinya.


Ginekomastia idiopatik terjadi sekitar 75% dari kasus. Keadaan fisiologis
terjadi pada bayi baru lahir dan usia dewasa saat memasuki pubertas.
Pada bayi baru lahir, jaringan payudara yang membesar berasal dari
interaksi estrogen ibu melalui transplasenta. Ginekomastia pada orang
dewasa sering ditemukan saat puberitas dan sering bersifat bilateral.
Ginekomastia pada masa remaja terjadi pada 2/3 remaja. Dan bertahan
sampai beberapa bulan. Jika ginekomastia selama masa puber ini
menetap maka disebut ginekomastia esensial.

Kondisi patologik diakibatkan oleh defisiensi testosteron,


peningkatan produksi estrogen atau peningkatan konversi androgen ke
estrogen. Kondisi patologik juga didapatkan pada anorchia kengenital,
klinefelter sindrom, karsinoma adrenal, kelainan hati dan malnutrisi.

Penggunaan obat-obatan juga dapat menyebabkan ginekomastia.


Obat-obat penyebab ginekomastia dapat dikategorikan berdasarkan
mekanisme kerjanya. Tipe pertama adalah yang bekerja seperti estrogen,
seperti diethylstilbestrol, digitalis, dan juga kosmetik yang mengandung
estrogen. Tipe kedua adalah obat -obat yang meningkatkan pembentukan
estrogen endogen, seperti gonadotropin. Tipe ketiga adalah obat yang
menghambat sintesis dan kerja testosteron, seperti ketokonazole,
metronidazole, dan cimetidine. Tipe terakhir adalah obat yang tidak
diketahui mekanismenya seperti captopril, antidepresan trisiklik,
diazepam dan heroin.

2
C. PATOFISIOLOGI
Ginekomastia dapat terjadi pada pubertas dan usia lebih tua dan
penyebabnya ialah pengaruh estrogen yang berlebihan, biasanya dari
kelenjar adrenal. Ginekomastia terjadi karena adanya hiperestrinisme, yaitu
bila:
1. Penghancuran estrogen terganggu
Pada penderita sirosis hepatis fungsi hati berkurang sehingga terjadi
peninggian kadar estrogen dalam darah.
2. Fungsi androgen berkurang
Karena fungsi androgen testis berkurang maka secara relatif estrogen
bertambah. Ditemukan pada usia lanjut dan pada sindrom klinefelter.
3. Tumor testis
Pada kronik karsinoma testis juga dapat ditemukan ginekomastia. Jadi
kelainan ini dapat digolongkan dalam displasi: dapat unilateral biasanya
dialami oleh pria berusia di atas 50 tahun dan bilateral terjadi pada anak
laki-laki selama masa pubertas.

D. TANDA DAN GEJALA


1. Nyeri tekan pada payudara
2. Timbul sebagai massa lunak di bawah areola
3. Retraksi puting
4. Ulserasi kulit (Bila sudah menjadi kanker)

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Mammografi: Mendeteksi adanya tumor sebelum tumor tersebut secara
klinik dapat teraba.
2. Galaktografi: Mammogram dengan kontras dilakukan dengan
menginjeksikan zat kontras ke dalam aliran duktus, dilakukan ketika
terdapat rabas, mengandung darah/ketika ditemukan duktus soliter yang
mengalami dilatasi saat mammografi yang merupakan gejala/indikatif
adanya lesi jinak atau kanker.

3
3. USG : Untuk membedakan kista yang berisi cairan dengan jenis lesi
lainnya.
4. Biopsi bedah: Mencakup eksisi lesi dan mengirimnya ke lab untuk
dilakukan pemeriksaan patologis.
5. Lokalisasi jarum kabel: Teknik yang digunakan ketika mammografi
mendeteksi lesi kalsifikasi seujung jarum yang sangat kecil atau yang
menandakan potensial malignansi atau lesi yang tidak dapat teraba.

F. KOMPLIKASI
1. Kanker payudara
2. Pemanjanan terhadap radiasi
3. Sindrom klinefelter (kondisi kromosom yang mencerminkan penurunan
kadar testosteron).

G. PENATALAKSANAAN
1. Mastektomi radikal: Yang dilakukan adanya keterlibatan dari otot
pektoralis.
2. Terapi radiasi: Mungkin digunakan setelah operasi.
3. Reseksi jaringan payudara yang berlebihan dilakukan untuk alasan
psikologik
4. Biopsi dilakukan untuk menyingkirkan keganasan
5. Obat-obatan antara lain seperti anti estrogen: tamoxifen atau androgen
sintetik: dan azol .

4
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara,
pengumpulan riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan laboratorium
dan diagnostic serta review catatan sebelumnya. Langkah-langkah pengkajian
yang sistematis adalah pengumpulan data, sumber data, klasifikasi data,
analisa data, dan diagnose keperawatan (Dongoes M, 2000).

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Sebelum operasi / Pre Operasi
1. Kecemasan b.d. prosedur pembedahan.
2. Gangguan konsep diri b.d. sifat pembedahan
Setelah operasi / Post Operasi
1. Kerusakan integritas kulit b.d pengangkatan jaringan, perubahan
sirkulasi, adanya drainase.
2. Nyeri b.d. trauma insisi.
3. Kurang perawatan diri b.d. imobilitas parsial ekstremitas atas pada sisi
yang dilakukan pembedahan payudara.
4. Gangguan harga diri b.d. prosedur bedah yang mengubah gambaran
tubuh.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Kecemasan b.d. prosedur pembedahan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kecemasan, stress
emosional dan ketakutan berkurang.
Intervensi:
1. Kaji perasaan pasien mengenai diagnosis penyakitnya.
R/ Faktor ini sangat mempengaruhi perilaku dan kemampuan pasien
menghadapi diagnosis pembedahan, dan pengobatan tindak lanjut.

5
2. Berikan kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaan
cemas dan takutnya.
R/ Memberi kesempatan untuk mengidentifikasi dan memperjelas
kesalahan konsep dan menawarkan dukungan emosi.
3. Berikan kesempatan pada pasien untuk bertanya mengenai
penyakitnya.
R/ Ketakutan akan ketidaktahuan menurun.
4. Berikan lingkungan perhatian, keterbukaan, penerimaan juga privasi
untuk pasien atau orang terdekat.
R/ Waktu dan privasi diperlukan untuk memberikan dukungan,
diskusi perasaan tentang antisipasi kehilangan dan masalah.
2. Gangguan konsep diri b.d. sifat pembedahan.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan adaptasi realistik
terhadap perubahan yang akan terjadi relatif terhadap modalitas
pengobatan.
1. Anjurkan kepada keluarga untuk orang terdekat untuk dapat
memahami perasaan pasien dan untuk mengunjungi pasien.
R/ Sistem pendukung yang bermakna bagi pasien akan lebih
langgeng dibanding dukungan dari orang lain.
2. Jelaskan kepada pasien bahwa adanya rasa berduka ketika
mengalami kehilangan bagian tub uh adalah normal.
R/ Dengan pengertian ini, pasien dapat dengan bebas beralih pada
tingkat koping selanjutnya.
3. Diskusikan bersama pasien penggunaan protesis.
R/ Meningkatkan penerimaan positif terhadap rencana pengobatan.
3. Kerusakan integritas kulit b.d pengangkatan jaringan, perubahan
sirkulasi, adanya drainase.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien akan
Meningkatkan waktu penyembuhan luka, bebas drainase purulen.
Intervensi:

6
1. Kaji balutan/luka untuk karakteristik drainase. Awasi kemerahan,
nyeri pada insisi dan lengan.
R/ Drainase terjadi karena trauma prosedur dan manipulasi banyak
pembuluh darah dan limfatik pada area tersebut. Pengenalan dini
terjadi infeksi dapat memampukan pengobatan dengan cepat.
2. Berikan posisi semi fowler pada punggung atau sisi yang tak sakit
dengan lengan tinggi dan disokong dengan bantal.
R/ Membantu drainase cairan melalui gravitasi.
3. Jangan melakukan pengukuran TD, menginjeksikan obat, pada
lengan yang sakit.
R/ Meningkatkan potensial konstriksi, infeksi, dan limfedema pada
sistem yang sakit.
4. Kosongkan drain luka, secara periodik catat jumlah dan karakteristik
drainase.
R/ Akumulasi cairan drainase meningkatkan penyembuhan dan
menurunkan kerentanan terhadap infeksi.
5. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik sesuai indikasi.
R/ Untuk mengobati infeksi khusus dan meningkatkan
penyembuhan.
4. Nyeri b.d. trauma insisi.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri pasien berkurang.
Intervensi:
1. Kaji intensitas, sifat dan letak nyeri.
R/ Memberikan dasar untuk mengkaji keefektifan tindakan pereda
nyeri.
2. Berikan posisi yang nyaman.
R/ Peninggian lengan, ukuran baju, dan adanya drain mempengaruhi
kemampuan pasien untuk rileks dan istirahat secara efektif.
3. Ajarkan untuk menekan dada saat latihan batuk dan nafas dalam.
R/ Memudahkan partisipasi pada aktivitas tanpa timbul
ketidaknyamanan.

7
4. Berikan obat nyeri tepat pada jadwal teratur sebelum nyeri berat.
R/ Mempertahankan tingkat kenyamanan.
5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik sesuai
indikasi.
R/ Memberikan penghilangan rasa nyeri dan memfasilitasi tidur,
partisipasi pada terapi pasca operasi.
5. Kurang perawatan diri b.d. imobilitas parsial ekstremitas atas pada sisi
yang dilakukan pembedahan payudara.
Tujuan: Menghindari kerusakan mobilitas dan pencapaian perawatan diri
hingga tingkat yang paling tinggi.
Intervensi:
1. Anjurkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dalam perawatan
pasca operatif.
R/ Keterlibatan pasien meningkatkan dan memfasilitasi proses
penyembuhan.
2. Buat modifikasi progresif dalam program latihan pasien sesuai
tingkat kenyamanan dan toleransi.
R/ Menurunkan ketegangan pada jaringan, perbaikannya konsisten.
3. Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan.
R/ Menghemat energi.
4. Motivasi pasien untuk menggunakan lengan untuk kebersihan diri,
seperti makan, menyisir rambut, mencuci muka.
R/ Peningkatan sirkulasi, membantu meminimalkan edema dan
mempertahankan kekuatan dan fungsi lengan dan tangan.
6. Gangguan harga diri b.d. prosedur bedah yang mengubah gambaran
tubuh.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien akan memberikan
penilaiana positif tentang citra diri.
Intervensi:
1. Motivasi pertanyaan mengenai situasi saat ini dan harapan yang akan
datang.

8
R/ Kehilangan payudara menyebabkan reaksi perubahan gambaran
diri, takut jaringan parut, dan takut reaksi pasangan terhadap
perubahan tubuh.
2. Motivasi pasien untuk mengekspresikan perasaannya.
R/ Kehilangan bagian tubuh suatu proses kehilangan yang
membutuhkan penerimaan sehingga pasien dapat membuat rencana
untuk masa depan.
3. Berikan penguatan positif untuk peningkatan/perbaikan dan
partisipasi perawatan diri/program pengobatan.
R/ Mendorong kelanjutan perilaku sehat.

D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Implementasi menyesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan


yang di rencanakan.

E. EVALUASI KEPERAWATAN

Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan sebagai


pengukuran dari keberhasilan rencana tindakan keperawatan.
Hasil evaluasi dapat berupa :
a. Tujuan tercapai
Jika pasien menunjukkan perubahan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan
b. Tujuan tercapai sebagian
Jika pasien menunjukkan perubahan sebagian dari standart yang telah
ditetapkan
c. Tujuan tidak tercapai
Pasien tidak menunjukkan perubahan dan kemajuan sama sekali bahkan
timbul masalah baru

9
DAFTAR PUSTAKA

Chang, Ester . 2010 . Patofisiologi : Aplikasi Pada Praktik Keperawatan. Jakarta:

EGC.

Corwin, Elizabeth J . 2009 . Buku Saku Patofisiologi . Jakarta: E G C.

Doengoes, Marilyn dkk . 2012 . Rencana Asuhan Keperawatan . Jakarta: E G C

Padila. 2012. Buku Ajar: Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha

Medika.

Price, SA dan Wilson, 2006. Patofisiologi: Konsep klinis proses- proses penyakit

ed. 6 vol.1. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanne C . 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &

Suddarth . Jakarta : E G C.

William, Lippicont . 2008 . Nursing: Memahami Berbagai Macam Penyakit .

Jakarta: Indeks.

Wilkinson, Judith . 2013 . Diagnosis NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC.

Jakarta: EGC .

10