Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Tindakan Operasi
Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan yang

menggunakan cara invasive dengan membuka atau menampilkan bagian

tubuh (Priscilla T LeMone, Karen M. Burke, 2015). Pembedahan

dilakukan untuk mendiagnosa atau mengobati suatu penyakit, cedera atau

cacat, serta mengobati kondisi yang sulit atau tidak mungkin

disembuhkan hanya dengan obat-obatan sederhana (Patricia Potter, Anne

Perry, 2011). Pada umumnya dilakukan dengan membuat sayatan, pada

bagian tubuh yang akan ditangani, lalu dilakukan tindakan perbaikan dan

diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka (Sjamsuhidajat, 2010).


Tindakan operasi dilakukan dengan berbagai indikasi diantaranya :
1) Diagnostik : biopsi atau laparotomy eksploitasi
2) Kuratif : eksisi tumor atau pengangkatan apendiks yang mengalami

inflamasi.
3) Reparatif : memperbaiki luka multipel
4) Rekontruksif/kosmetik : mammaoplasty, atau bedah platik
5) Palliatif : seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah,

contoh : pemasangan selang gastrotomi yang dipasang intuk

mengkompenasi ketidak mampuan menelan makanan


(Brunner & Suddarth's, 2013).

Menurut Basavanthappa dalam Ramadani.KR, 2016 klasifikasi

operasi berdasarkan tingkat risiko atau keseriusannya terbagi

menjadi dua bagian, yaitu operasi major dan operasi minor. Dimana

dijelaskan bahwa operasi major melibatkan rekonstruksi atau

perubahan yang luas di bagian tubuh, khususnya organ tubuh utama,


menimbulkan risiko besar karena memiliki tingkat risiko yang tinggi

terhadap kelangsungan hidup pasien, memerlukan rawat inap yang

biasanya lama untuk masa penyembuhannya, situasi yang

mengancam jiwa dan komplikasi pasca operasi yang potensial. Operasi

major bisa bersifat elektif atau terencana, mendesak atau darurat.

Sebaliknya, operasi minor merupakan operasi yang memiliki tingkat

risiko rendah dan biasanya memerlukan waktu pengerjaan yang

singkat.Selain itu, operasi major berarti operasi yang dilakukan

menggunakan anestesi umum, sedasi dalam, atau pemblokiran

konduksi utama. Sedangkan, operasi minor berarti operasi yang

dilakukan menggunakan anestesi lokal, baikmenggunakan sedasi oral

pada pra operasi atau tidak (Committee MMS, 2011).


2. Tindakan Anestesi
Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa

sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang

menimbulkan rasa sakit pada tubuh dan salah satu yang sangat penting

dalam anestesi adalah penentuan klasifikasi ASA (Majid, A., Judha, M.,

& Istianah, U, 2011). Menurut (Brunner & Suddarth's, 2013) anestesi

adalah suatu keadaan narkosis, analgesia, relaksasi dan hilangnya reflek.


Anestesi dibagi menjadi dua kelas : (1) anestesi yang menghambat

sensasi seluruh tubuh (anestesi umum) atau (2) yang menghambat di

sebagian tubuh (lokal, regional, epidural atau anestesi spinal) (Brunner &

Suddarth's, 2013).
Menurut (Adam C Adler, 2018), seorang penyedia anestesi bertanggung

jawab untuk menilai semua faktor yang mempengaruhi kondisi medis


pasien dan memilih teknik anestesi yang optimal sesuai atribut general

anestesi, meliputi:
1) Keuntungan
a) Mengurangi kesadaran dan ingatan intra operatif pasien.
b) Memungkinkan relaksasi otot yang diperlukan untuk jangka

waktu yang lama.


c) Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan nafas, pernafasan

dan sirkulasi.
d) Dapat digunakan dalam kasus-kasus kepekaan terhadap agen

anestesi lokal.
e) Dapat disesuaikan dengan mudah dengan durasi prosedur yang

tak terduga.
f) Dapat diberikan dengan cepat dan bersifat reversible.
2) Kekurangan
a) Membutuhkan peningkatan kompleksitas perawatan dan biaya

terkait.
b) Membutuhkan beberapa derajat persiapan pasien sebelum

operasi.
c) Dapat menyebabkan fluktuasi fisiologis.
d) Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual,

muntah, sakit tenggorokan, sakit kepala, mengigil (hipotermi)

dan
e) Tertunda kembali ke fungsi mental yang normal.
a. Anestesi Regional
Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang

paling tua dan paling sering dilakukan. Blokade saraf yang

dihasilkan paling efisien karena sedikit saja injeksi anestetik lokal ke

dalam ruang subarachnoid sudah menyebabkab blockade yang kuat

dan luas pada saraf spinal (Sjamsuhidajat, 2010).


Menurut (Sjamsuhidajat, 2010) Spinal anestesi dapat digunakan

untuk prosedur pembedahan, persalinan, penanganan nyeri akut

maupun kronik.
Indikasi Spinal anestesi menurut (Dr. Said A. Latief, SpAn K, dkk,

2009) adalah :
1) Bedah Ekstremitas bawah
2) Bedah panggul
3) Tindakan sekitar rectum perineum
4) Bedah Obstetri dan ginekologi
5) Bedah Urologi
6) Bedah abdomen bawah
7) Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatric biasanya

dikombinasi dengan anestesi umum.


Menurut (Sjamsuhidajat, 2010) anestesi regional yang luas seperti

spinal anestesi tidak boleh diberikan pada kondisi hipovolemia yang

belum terkorelasi karena dapat mengakibatkan hipotensi berat.


Komplikasi yang dapat terjadi pada spinal anestesi menurut

(Sjamsuhidajat, 2010)
1) Hipotensi terutama jika pasien tidak prahidrasi yang cukup
2) Blokade saraf spinal tinggi, berupa lumpuhnya pernapasan dan

memerlukan bantuan napas dan jalan napas segera.


3) Sakit kepala pasca pungsi spinal, sakit kepala ini bergantung

pada besarnya diameter dan bentuk jarum spinal yang

digunakan.
3. Mengigil (Shivering) Post Anestesi
a. Definisi
Menggigil pasca operasi adalah komplikasi umum dari anestesi.

Menggigil diyakini meningkat konsumsi oksigen, meningkatkan risiko

hipoksemia, menginduksi asidosis laktat, dan pelepasan

katekolamin.Oleh karena itu, ini dapat meningkatkan komplikasi

pasca operasi terutama pada pasien berisiko tinggi. Bahkan, menggigil


adalah salah satu penyebab utama ketidaknyamanan bagi pasien pasca

bedah (Lopez, 2018).Post Aneshesia Shivering (PAS) adalah gerakan

involunter satu otot rangka atau lebih yang biasanya terjadi pada masa

awal pemulihan pascaanestesia. PAS dapat menyebabkan hipoksia

arterial, meningkatnya curah jantung, risiko terjadinya infark miokard,

dan mengganggu interpretasi alat-alat pemantauan tanda vital

(Nugroho, Harijanto, & Fahdika, 2016).


b. Etiologi
Menggigil (shivering) terjadi akibat hipotermia atau efek obat

anestesi.Hipotermia terjadi akibat suhu ruangan operasi yang dingin,

ruang perawatan post anestesi yang dingin, cairan infus yang dingin,

cairan irigasi yang dingin, bedah abdomen yang luas dan lama (Dr.

Said A. Latief, SpAn K, dkk, 2009). Ketika tubuh terlalu dingin,

sistem pengaturan temperatur tubuh mengadakan prosedur untuk

meningkatkan suhu tubuh yaitu dengan cara: (Guyton, 1996)


1. Vasokonstriksi kulit di seluruh tubuh yang merupakan rangsangan

pusat simpatis hipotalamus posterior.


2. Piloereksi yaitu berdirinya rambut pada akarnya. Hal ini tidak

terlalu penting pada manusia.


3. Peningkatan pembentukan panas oleh sistem metabolisme dengan

cara menggigil, rangsangan simpatis pembetukan panas dan sekresi

tiroksin.
4.
c. Mekanisme Post Anestetic Shivering (PAS)
Sampai saat ini, mekanisme shivering (menggigil) masih belum

diketahui secara pasti. Menggigil pasca anestesi diduga disebabkan

oleh tiga hal yaitu :


(Sessler DI, dkk, 1991).
1. Hipotermi dan penurunan suhu inti selama anestesi yang

disebabkan oleh karena kehilangan panas yang bermakna selama

tindakan pembedahan dan suhu ruang operasi yang rendah. Panas

yang hilang dapat melalui permukaan kulit dan melalui ventilasi.


2. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pelepasan pirogen, tipe

atau jenis pembedahan, kerusakan jaringan yang terjadi dan

absorbsi dari produk-produk tersebut.


3. Efek langsung dari obat anestesi pada pusat pengaturan suhu di

hipotalamus, yaitu menurunkan produksi panas. Kompensasi tubuh

tidak terjadi karena penderita tidak sadar dan terkadang lumpuh

karena obat pelumpuh otot.


Menggigil dianggap sebagai cara terakhir untuk meningkatkan

produksi panas metabolik ketika modifikasi perilaku dan

vasokonstriksi bersama-sama dengan perangkat arterio-vena shunting

dalam upaya untuk meningkatkan suhu inti tubuh yang tidak

memadai. (Buggy DJ, Crossley AW., 2000). Respon menggigil adalah

1oC kurang dari ambang vasokonstriksi. Menggigil tidak berkembang

dengan baik pada bayi baru lahir. (Sessler, 2008)


Ketika wilayah preoptic dari hipotalamus anterior didinginkan

ini merangsang pusat motor menggigil yang terletak di hipotalamus

posterior.Akibatnya jalur menggigil diaktifkan dan melalui suhu

diinduksi aktivasi saraf dari mesenchephalic, pontine dorsolateral dan

pembentukan recticular medula ada peningkatan tonus otot tulang

belakang diwujudkan sebagai menggigil . Stimulasi neuron alpha

motor jalur akhir yang umum dan debit sinkron dibawa oleh
penghambatan sel Renshaw (interneuron penghambatan)

(Bhattacharya, 2003).
Menggigil adalah salah satu penyulit yang sering terjadi pada

anestesia, hal ini terutama terjadi selama dan setelah anestesi regional

atau setelah anestesia umum. Angka kejadian menggigil sebanyak 5–

65% setelah anestesiumum dan 30–57% pada anestesi regional. Proses

ini adalah suatu response normal termoregulasi yang terjadi terhadap

hipotermia pada bagian inti (core). Akan tetapi proses menggigil

nontermoregulasi juga terjadi setelah operasi walaupun bersuhu

normal karena ini disebabkan oleh karena rangsangan nyeri dan agen

anestesi tertentu. Menggigil menyebabkan komplikasi serius terutama


pada pasien dengan penyakit jantung koroner, hal ini disebabkan

karena peningkatan konsumsi oksigen (hingga 100–600%),

peningkatan cardiac output, peningkatan produksi karbondioksida,

katekolamin, penurunan saturasi oksigen mixed venous (campuran

vena). Lebih berat lagi dapat terjadi peningkatan tekanan intrakranial,

tekanan intraokular, mengganggu pemantauan EKG dan tekanan

darah, meningkatkan laju metabolisme, dan terjadi asidosis laktat.


Anestesi umum dan anestesi regional dapat mengganggu

otonomi normal kontrol termoregulasi karena efek vasodilatasi.

Sebagian besar narkotik mengurangi mekanisme vasokonstriksi, hal

ini adalah cara menghemat kehilangan panas karena efek

simpatolitiknya. Pelumpuh otot mengurangi tonus otot dan mencegah

menggigil. Pusat pengaturan suhu tubuh manusia terletak di

hipotalamus, dimana pusat tersebut mendeteksi suhu tubuh diatas atau


dibawah 37oC. Pada cornu posterior ini terdapat reseptor NMDA dan

reseptor opioid dan κ, yang merupakan reseptor untuk bekerjanya obat

yang digunakan mencegah menggigil pascaanestesi. Hal ini akan

memulai respon dari penurunan atau peningkatan suhu tubuh.

Terjadinya hipotermi akan merangsang terjadinya vasokonstriksi

dengan tujuan mengurangi hilangnya panas tubuh serta menggigil.

Proses-proses tersebut bertujuan untuk meningkatkan suhu inti.

(Miller dkk, 2010).


Faktor yang berperan dalam proses menggigil pada anestesia

umum adalah jenis obat anestesi yang digunakan, lama operasi, usia

pasien, jenis kelamin, dan suhu lingkungan (termasuk suhu ruangan

dan suhu cairan infus yang diberikan). Mengatasi menggigil selama

dan setelah anestesia menjadi bagian penting mengingat berbagai

permasalahan yang dapat ditimbulkannya sebagaimana telah

disebutkan sebelumnya. Dengan mengatasi menggigil setelah

anestesia maka akan menurunkan konsumsi oksigen, mempertahankan

kestabilan hemodinamik, dan memudahkan pemantauan hemodinamik

yang dapat berubah sewaktu-waktu setelah dilakukan anesthesia.


Penatalaksanaan menggigil dapat dilakukan dengan cara

pencegahan selama perioperatif dan terapi pada saat terjadi menggigil

dengan dua pendekatan yaitu non farmakologis dan farmakologis.

Langkah awal dalam mencegah terjadinya menggigil adalah

pemantauan suhu inti (core temperature), telah dibuktikan bahwa bila

suhu kamar operasi dipertahankan lebih dari 24° C, maka semua


pasien akan berada pada keadaaan normotermi selama anesthesia

(dalam hal ini suhu oesofagus 36° C). Pada suhu 21–24° C sekitar

30% yang mengalami hipotermi. Selain suhu, kelembaban dan aliran

udara juga penting. Tindakan mencegah hipotermi dan menggigil

dapat dilakukan dengan pendekatan non farmakologis disebut metode

menghangatkan kembali (rewarming techniques) yang terdiri dari 3

bagian yaitu pasif eksternal, aktif eksternal, dan aktif internal.

Pendekatan farmakologis diberikan sebagai terapi menggigil setelah

anestesia dengan memberikan salah satu dari berbagai macam obat

yang telahdilaporkan efektif mengurangi menggigil di antaranya

adalah pethidine, fentanyl, buprenorphine, doxapram, clonidine dan

ketanserine. Pethidine menurunkan ambang menggigil dan terbukti

efektif mengendalikan menggigil. Akan tetapi obat tersebut dihindari

pada pasien hamil karena adanya efek pada janin bila diberikan

sebelum bayi lahir atau sebagai profilaksis anti menggigil pada wanita

hamil. (Koeshardiandi M, 2011).


d. Assesmen shivering

Menurut (Mary Pat Aust, RN, 2011) shivering (menggigil)

dapat diukur dengan menggunakan :


Bedside Shivering Assessment Scale (BSAS)
0. Tidak ada: Tidak Menggigil
1. Ringan: Menggigil terlokalisasi pada leher / dada, hanya dapat

dilihat sebagai artefak pada EKG atau dirasakan oleh rabaan


2. Sedang: Keterlibatan intermiten dari ekstremitas atas +/- toraks
3. Parah: Menggigil secara umum atau menggigil ekstremitas atas /

bawah yang berkelanjutan.


e. Pencegahan Menggigil Post Anestesi
Cara-cara untuk mengurangi menggigil pascaanestesi yaitu

sebagai berikut: (Miller dkk, 2010)


1. Suhu kamar operasi yang nyaman bagi pasien yaitu pada suhu 72oF
2. (22oC)
3. Ruang pemulihan yang hangat dengan suhu ruangan 75oF (24oC)
4. Penggunaan sistem low-flow atau sistem tertutup pada pasien kritis

atau pasien resiko tinggi


5. Petidin adalah obat paling efektif untuk mengurangi menggigil
6. Penggunaan cairan kristaloid intravena yang dihangatkan :
a) Kristaloid untuk keseimbangan cairan intravena
b) Larutan untuk irigasi luka pembedahan
c) Larutan yang digunakan untuk prosedur sistoskopi urologi
7. Menghindari genangan air/larutan di meja operasi
8. Penggunaan penghangat darah untuk pemberian darah dan larutan
9. kristaloid/koloid hangat atau fraksi darah.
f. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan menggigil pascaanestesi dapat dilakukan

dengan cara nonfarmakologis berupa tindakan untuk mencegah

terjadinya hipotermi dan secara farmakologis dengan menggunakan

obat atau zat yang bisa mencegah terjadinya menggigil (Buggy DJ,

Crossley AW., 2000).


1. Penatalaksanaan non famakologis
Penatalaksanaan menggigil secara non farmakologis berupa

pencegahan terjadinya hipotermi dengan pemberian selimut

hangat, bisa juga dengan menggunakan alat untuk meningkatkan

panas tubuh (forced air warming) dan penghangat pasif berupa

kain katun untuk mengurangi pelepasan panas ke lingkungan.

Dapat juga dengan mempertahankan temperatur ruang operasi

yaitu antara 24-26˚C, menggunakan gas inspirasi yang hangat dan

menggunakan penghangat humidifier, dan cairan yang dihangatkan

(Mahmood, M. A., & Zweifler, 2007). Terlepas dari kenyataan


bahwa tidak ada konsensus yang jelas mengenai strategi terbaik

untuk profilaksis dan pengobatannya, telah dilaporkan bahwa PS

dapat dicegah dengan menghangatkan permukaan kulit dan

menghangatkan cairan yang diberikan. Waktu dan durasi optimal

suatu intervensi dapat menjadi faktor penting untuk

memaksimalkan kemanjuran metode nonfarmakologis (Lopez,

2018)
2. Penatalaksanaan Farmakologis
Penatalaksanaan farmakologik untuk mengatasi menggigil

pasca anestesi telah dikenal luas dan sukses dalam prakteknya.

Adapun obat-obat yang biasa dipergunakan antara lain:


a) Opioid
Peptida opioid juga dapat mempengaruhi perubahan pada

suhu tubuh. Tempat kerjanya mungkin pada hipothalamus

anterior, nukleus raphe dorsalis, dan medula spinalis. Secara

umum, opioid menstimulasi cAMP, yang meningkatkan

termosensitivitas pada neuron (Mahmood, M. A., & Zweifler,

2007)
Meperidine, memiliki efek khusus anti menggigil, bekerja

melalui reseptor kappa, inhibisi reuptake amin biogenik,

antagonis reseptor NMDA dan stimulasi alfa2 adrenoseptor.

Meperidine menurunkan ambang menggigil hampir dua kali dari

menurunkan ambang vasokonstriksi. Pada metaanalisis dari 5

percobaan, pada 250 pasien yang diberikan meperidine IV dosis

12,5-35 mg pasca bedah dosis tunggal, memberikan manfaat

pada 95% pasien dan mampu mengatasi kejadian menggigil


sebesar 95%. Kerugiannya adalah depresi pernafasan, mual dan

muntah, potensi untuk menyebabkan terjadinya kejang

(Mahmood, M. A., & Zweifler, 2007).


b) Alfa 2 agonis
Alfa 2 agonis menyebabkan terjadinya hiperpolarisasi

neuron dengan meningkatkan konduksi kalium, yang nantinya

meningkatkan sensitivitas neuron terhadap termal. Clonidine

memiliki efek anti menggigil yang sudah diteliti bertahun-tahun.

Clonidine dapat menurunkan ambang vasokonstriksi kulit dan

menggigil. Sama seperti clonidine, dexmedetomidine

menurunkan terjadinya vasokonstriksi dan ambang menggigil.

Premedikasi dengan dexmedetomidine intramuskular

menurunkan insiden menggigil pasca bedah bila dibandingkan

dengan midazolam (Alfonsi, 2001).


c) 5-HT uptake inhibitor
Mempengaruhi pengaturan suhu melalui efeknya terhadap

hipothalamus, otak tengah dan medula. Pengaruh ini

berhubungan dengan keseimbangan antara modulasi 5 HT dan

norepinefrine yang penting dalam pengaturan ambang menggigil

untuk waktu yang singkat dan lama. Tramadol menginhibisi

pengambilan kembali 5 HT pada nukleus raphe dorsalis, juga


menghambat reuptake dari norepinefrine dan dopamine dan

memiliki sifat alfa2 adrenoseptor serebri. Penelitian

menunjukkan tramadol dapat mencegah dan mengobati

menggigil pasca pembedahan (Alfonsi, 2001).


d) Agonis atau antagonis 5 HT
Ketanserin, suatu antihipertensi merupakan 5 HT2 dan alfa

l antagonis yang bekerja secara langsung dengan cara

memfasilitasi alfa2 adrenoceptor di batang otak, tetapi efikasi

dalam mencegah menggigil masih rendah. Penelitian prospektif

terhadap ondansetron 8 mg memberikan bukti yang signifikan

untuk mengurangi angka kejadian menggigil pasca anestesi.

Mekanismenya masih belum bisa dipastikan tetapi berhubungan

dengan inhibisi reuptake serotonin yang diduga akan

menginhibisi serotonin pada regio preoptik hipotalamus anterior.

Efek anti emetiknya beserta anti menggigil akan memberikan

nilai tambah bila dikombinasikan dengan meperidine dalam

pemeliharaan hipotermia (Powell dan Buggy, 2000).


e) Antagonis NMDA
Reseptor NMDA mempengaruhi termoregulasi melalui

kemampuannya memodulasi noradrenergik dan serotonergik.

Contoh dari NMDA antagonis ini adalah MgSO4 yang memiliki

kemampuan untuk mengontrol menggigil pasca pembedahan.

Ketamine bersifat ekuivalen dengan meperidine untuk

mencegah terjadinya menggigil pasca bedah (Mahmood dan

Zweifler, 2007).
g. Faktor-faktor yang berhubungan dengan shivering post anestesi
Beberapa faktor yang berhubungan dengan shivering post

anestesi :
1. Usia
Menurut Buggy dan Crossley (2008) mekanisme shivering erat

kaitannya dengan faktor usia dan berat badan seseorang. Pada bayi,
anak, dan usia dewasa akhir shivering dimediasi oleh jaringan

lemak yang merupakan jaringan khusus kaya akan investasi sistem

saraf simpatis dan vascularisasi sedangkan pada remaja dan dewasa

awal shivering dimediasi melalui peningkatan panas tubuh yang

dipengaruhi oleh kelenjar tiroid.


2. Jenis Kelamin
Jenis kelamin (seks) adalah perbedaan antara perempuan dengan

laki-laki secara biologis sejak seseorang lahir. Seks berkaitan

dengan tubuh laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki

memproduksikan sperma, sementara perempuan menghasilkan sel

telur dan secara biologis mampu untuk menstruasi, hamil dan

menyusui. Perbedaan biologis dan fungsi biologis laki-laki dan

perempuan tidak dapat dipertukarkan diantara keduanya, dan

fungsinya tetap dengan laki-laki dan perempuan pada segala ras

yang ada di muka bumi (Hungu, 2007). Menurut penelitian (Dwi

K, Rusmartini, & Purbaningsih, 2015) angka kejadian menggigil

(shivering) pada perempuan lebih banyak sebesar 57,89 % daripada

laki-laki yang hanya 42,11%.


3. Indeks Masa Tubuh
Metabolisme seseorang berbeda-beda salah satu diantaranya

dipengaruhi oleh ukuran tubuh yaitu tinggi badan dan berat badan

yang dinilai berdasarkan indeks massa tubuh yang merupakan

faktor yang dapat mempengaruhi metabolisme dan berdampak pada

sistem termogulasi (Guyton, 2007). IMT rendah lebih mudah

kehilangan panas sehingga tubuh berkompensasi terhadap


penurunan suhu tubuh untuk meningkatkan produksi panas dengan

shivering atau menggigil (Andri, 2017)


4. Jenis Anestesi
Anestesi regional spinal menghasilkan blok simpatis, relaksasi otot,

dan blok sensoris terhadap reseptor suhu perifer sehingga

menghambat respon kompensasi terhadap suhu. Salah satu

komplikasi spinal anestesi yaitu shivering. Angka kejadian

shivering sangat bervariasi antara 5% sampai dengan 65% (Andri,

2017). Anestesi menghambat termoregulasi sentral suhu tubuh inti

nomal danshivering. Agen inhalasi menyebabkan vasodilatasi

sehingga meningkatkan kehilangan panas. Selain itu, agen ini juga

mempengaruhi hipotalamus dan peran termoregulasi. Contohnya

isoflurane, akan menurunkan treshold respon vasokonstriksi secara

dose dependent (3˚C untuk setiap 1% isoflurane). Opioid memiliki

efek simpatolitik sehingga mencegah mekanisme

vasokonstriksi.Barbiturate juga menyebabkan vasodilatasi perifer.

Pelumpuh otot mencegah termogenesis shivering dengan

mengurangi tonus otot (Stoelting, Hillier, 2006; Miller, 2010).


5. Jenis Operasi
Jenis operasi besar yang membuka rongga tubuh, misal pada

operasi rongga toraks, atau abdomen, akan sangat berpengaruh

pada angka kejadian hipotermi. Operasi abdomen dikenal sebagai

penyebab hipotermi karena berhubungan dengan operasi yang

berlangsung lama, insisi yang luas dan sering membutuhkan cairan

guna membersihkan ruang peritoneum. Keadaan ini mengakibatkan


kehilangan panas yang terjadi ketika permukaan tubuh pasien yang

basah serta lembab, seperti perut yang terbuka dan juga luasnya

paparan permukaan kulit (Buggy & Crossley, 2000).

B. Kerangka Teori

Relaksasi sistem Komlpikasi:


saraf otonom Peningkatan
konsumsi oksigen
100-600%
Sistem pengaturan Peningkatan cardiac
Tindakan Anestesi output,
suhu tubuh
(Hipotalamus) Peningkatan
produksi
karbondioksida,
katekolamin,
Shivering Penurunan saturasi
(Menggigil) oksigen mixed
venous
Hipotermi

Jenis Kelamin Operasi lama Insisi luas, Butuh cairan


Terpapar Suhu
untuk membersihkan
C. Ruangan
Usia
Kerangka Operasi
Konsep peritonium
yang rendah Shivering ( Menggigil)
Indeks Masa Tubuh ( IMT)
Jenis Anestesi Tindakan operasi
abdomen
Jenis Operasi

Tindakan Operasi
Keterangan :
: Yang tidak Tindakan
diteliti Operasi Tindakan Anestesi
: Yang diteliti
D. Hipotesis
Prevalensi menggigil pada pasien operasi di IBS RSUD Ajibarang berkisar

antara 5-65 % dari jumlah operasi yang ada.

Dapus
Stoelting R. Opioid agonist and antagonist. In: Stoelting RK, Hiller

C,editors. Pharmacology & phisiology in anesthetic practice. 4th

ed.Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2006,p.87-122.