Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KEPERAWATAN KRITIS

“THERAPY MUSIC”

Disusun Oleh:
Ayunda Eka Karnita (1511002)
Okky Cintya Permata Dewi (1511011)
Titin Rahayu (1511014)

S1 – KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PATRIA HUSADA BLITAR
TAHUN 2017 / 2018
DAFTAR ISI

Bab I pendahuluan
1.1 Latar belakang………………………………………………………………………………….
1.2 Rumusan masalah ……………………………………………………………………………...
1.3 Tujuan ………………………………………………………………………………………….

Bab II Tinjauan Pustaka


2.1 Definisi ………………………………………………………………………………………………………….........................
2.2 Jenis terapi music ………………………………………………………………………………
2.3 Mekanisme kerja terapi music …………………………………………………………………
2.4 Pengaruh music klasik terhadap kecemasan …………………………………………………...
2.5 Manfaat dari terapi music ……………………………………………………………………...

Bab III konsep asuhan keperawatan …………...................……………………………………

Bab V Penutup
4.1 Kesimpulan……………………………………………………………………….................
4.2 Saran…………………………………………………………………………………………..

Daftar pustaka ………………………………………………………………………..................


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kecemasan merupakan hal yang sering dirasakan pasien menjalani pengobatan atau
prosedur di rumah sakit. Sumber kecemasan pada pasien yang dirawat di ruang intensif dapat
berupa penyakit yang diderita, perasaan kesepian, rasa takut mengenai ajal, lingkungan
seperti pencahayaan yang terus menerus, suara alat yang terdengar sepanjang waktu, serta
kesiagaan dari petugas medis. Diperkirakan sekitar 70% sampai 87% pasien kritis mengalami
kecemasan. Kecemasan dapat mengakibatkan adanya perubahan fisiologis meliputi tekanan
darah, heart rate, pernafasan (Biley, Morgan, & Satherley, 2003), agitasi, peningkatan
aktifitas otot/pergerakan, ketakutan (Chlan & Savik, 2011), ancaman terhadap lingkungan
yang asing dengan kebisingan yang terus menerus, teknologi yang canggih, kehilangan
privasi, ketidakmampuan untuk berkomunikasi efektif, mobilitas terbatas, gangguan tidur,
dan takut mati atau cacat yang umum untuk pengalaman perawatan kritis.
Beberapa riset menunjukkan bahwa music sebagai terapi yang efektif yang digunakan
untuk mengoptimalkan status kesehatan seseorang baik fisik maupun mental. Terapi music
sekarang digunakan secara komprehensif termasuk mengatasi rasa sakit, kecemasan terutama
kecemasan pada pasien di ruang intensive.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari terapi music ?
2. Apa saja Jenis terapi music ?
3. Bagaimana Mekanisme kerja terapi music ?
4. Bagaiamana Pengaruh music klasik terhadap kecemasan ?
5. Apa saja Manfaat dari terapi music ?
6. Bagaimana konsep asuhan keperawatan ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari terapi music
2. Untuk mengetahui jenis terapi music
3. Untuk mengetahui mekanisme kerja terapi music
4. Untuk mengetahui bagaiamana pengaruh music klasik terhadap kecemasan
5. Untuk mengetahui manfaat dari terapi music
6. Untuk mengetahui bagaimana konsep asuhan keperawatan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKAN

2.1 Definisi
Music adalah bagian integral dari kehidupan manusia, karena musik merupakan aspek
vital kehidupan seseorang yang juga merupakan bahan dasar kehidupan yang menjadikan
seseorang memiliki hakikat sebagai manusia. Dalam The New Encyclopedia Britanica(1986)
musik diartikan sebagai suatu seni yang memperhatikan suara manusia atau suara alat musik
dalam bentuk yang lebih indah. Sedang dalam kamus ilmiah, musik diartikan sebagai paduan
dari bunyi dari beberapa alat atau instrumen musik yang bernada secara teratur dan
berkesesuaian.
Terapi music merupakan intervensi alami non invasive yang dapat diterapkan secara
sederhana tidak selalu memutuhkan kehadiran ahli terapi, harga terjangkau dan tidak
meimbulkan efek samping (Samuel, 2007 dalam Pratiwi 2014).
Terapi music adalah suatau terapi kesehatan menggunakan music dimana tujuannnya
adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, kognitif dan sosisal bagi
individu dari berbagai kalangan (suhartini, 2008).
Pada prinsipnya, seperti penjelasan diatas terapi music adalah tipe terapi non – verbal
yang berbeda dengan terapi konvensional (konseling) lainnya dimana klien diminta
mengutarakan perasaan dan menceritakan pengalaman hidupnya. Music memberikan
alternative bagi terapi konvensional dan mencukupi klien dengan beberapa keunggulan
seperti :
1. Berpikir dan merasakan secara langsung
2. Memiliki kesempatan “mengisi” perasaan untuk beberapa periode sehingga bisa
dieksplorasi, diuji dan diolah lewat kerjasama dengan terapis
3. Mengkondisikan ekspresi pikiran dan perasaan secara nn verbal yang belum pernah
dirasakan klien karena kebiasaan berekspresi secara verbal
4. Memperoleh asosiasi yang tidak dapat diakses melalui pemahaman verbal
5. Memperoleh keuntungan fisiologis secara langsung dibandingkan metode verbal.
Banyak aplikasi terapi music dalam kehidupan sehari – hari dengan wilayah perlakuan
yang meliputi psikoterapi, pendidikan, instruksi, perilaku, pastoral, supervise,
penyembuhan, rekreasi dan aktivitas.

2.2 Jenis terapi music


Jenis terapi music antara lain music instrumental dan music klasik.
1. Mesik instrumental bermanfaat menjadikan badan, pikiran, dan mental menjadi lebih
sehat.
2. Music klasik bermanfaat untuk membuat seseorang rileks, menimbulkan rasa aman dan
sejahtera, melepaskan rasa gembiran dan sedih, menurunkan tngkat kecemasan pasien
dan melepaskan rasa sakit serta menurunkan stress.

2.3 Mekanisme kerja terapi music


Music bersifat terapeutik yang artinya menyembuhkan, salah satu alasannya karena
music menghasilkan rangsangan ritmis yang kemudian ditangkap melalui organ pendengaran
dan di olah di system saraf tubuh dan kelenjar otak yang selanjutnya mengorganisasi
interpretasi bunyi ke dalam ritme internal pedengarannya. Ritme internal ini mempengaruhi
metabolism tubuh manusia sehingga prosesnya berlangsung lebih baik, tubuh akan mampu
membangun system kekebalan ang lebih baik dan dengan system kekebalan yang lebih baik
menjadi lebih tangguh terhadap kemungkinan serangan penyakit.
Music mengndung vibrasi energy. Vibrasi ini juga mengaktifkan sel – sel didalam diri
seseorang, sehingga dengan aktifnya sel – sel tersebut system kekebalan tubuh seseorang
lebih berpeluang untuk aktif dan meningkat fungsinya. Music dapat meningkatkan serotonin
dan pertumbuhan hormone yang sama baiknya dengan menurunkan hormin ACTH.
Seteah mendengarkan music impuls atau rangsangan suara akan diterima oleh daun
telinga pembacanya. Kemudian telianga memulai proses mendengarkan. Secara fisiologi
pendengaran merupakan proses dimana telinga menerima gelombang suara, membedakan
frekuensi dan mengirim informasi ke susunan saraf pusat. Setip bunyi yang dihasilkan oleh
sumber bunyi atau getaran udara akan diterima oleh telinga. Getaran tersebut diubah menjadi
impuls elektrik ditelinga dalam yang diteruskan melalui saraf pendengaran menuju ke
korteks pendengaran diotak. Disamping enerima sinyal dari thalamus (salah satu bagian otak
yang berfungsi menerima pesan dari indera dan diteruskan ke bagian otak lain). Amigdala
juga menerima sinyal ari semua bagian korteks limbic (emosi atau perilaku) seperti juga
neokorteks lobus temporal (korteks atau lapisan otak yang hanya ada paa manusia) parietal
(bagian otak tengah) dan oksipital (bagian otak belakang).terutama diarea asosiasi auditorik
dan area asosiasi visual.
Thalamus juga menjalankan sinyal ke neokorteks. Dineokorteks sinyal disusun
menjadi benda yang difahami dan dipilah – pilah menurut maknanya sehingga otak
mengenali masing objek dan art kehadirannya.kemudian amigdala menjalankan sinyal ke
hipokampus.
Hipotalamus juga dinamkan pusat stress otak karena fugsi gandanya dalam keadaan
darurat. Fungsi pertamanya mengaktifkan cabang dan system otonom. Hipotalamus
meghantarkan impusl saraf ke nucleus – nucleus dibatang otak yang mengendalikan fungsi
system saraf otonom . cabang simpatis saraf otonom bereaksi langsung pada otot polos dan
organ internal yang menghasilkan beberapa perbahan tubuh seperti peningkatan denyut
jantung dan peningkatan tekanan darah.
Bagan mekanisme music klasik sebagai terapi.

Music Daun Teling Kokhlea


telinga tengah

Hipotalamus Amigdala Thalamus

Pelepasan Hipokampus
endorphin
2.4 Pengaruh music klasik terhadap kecemasan
Music diyakini dapat dgunakan untuk relaksasi, meringankn stress dan mengurangi
kecemasan karena music merupakan sebuah rangsangan pendengaran yang terorganisasi,
yang terdiri atas melodi, ritme, harmoni, bentuk dan gaya. Ada salah satu cara dalam
mengurangi kecemasan, salah satunya dengan mendengarkan music Mozart tau music klasik.
Music klasik adalah music yang mampu memperbaiki konsentrasi, ingatan dan persepsi
social.
Music dapat meningkatkan kreaivitas, membangun kepercayaan diri,
mengembangkan ketrampilan social dan meningkatkan ketrampilan motorik, persepsi serta
ketrampilan psikomotorik, music juga bisa dijadikan terapi untuk berbagai kebutuhan seperti
pengganti pbat depressan bagi mereka yang menghadapi meja operasi di rumah sakit.

2.5 Manfaat terapi music


1) Manfaat terapi music antara lain :
a. Terapi musik untuk mengurangi nyeri
Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan
pemeriksaan diagnostik atau pengobatan.
Musik terbukti menunjukkan efek yaitu menurunkan tekanan darah, dan
mengubah persepsi waktu,musik terbukti dapat mengurangi kecemasan dan
merilekskan fikiran yang tertekan,seperti hal nya sebuah input sensor dan output.
Sensori input berarti bahwa ketika musik terdengar, sinyal dikirim keotak ketika rasa
sakit dirasakan. Jika getaran musik dapat dibawa kedalam resonansi dekat dengan
getaran rasa sakit, maka persepsi psikologis rasa sakit akan diubah dan dihilangkan
dan Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau dan saat ini nyeri
yang sama timbul, maka ia akan mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya
seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman masa lalu dalam mengatsi nyeri.

b. Terapi musik untuk insomnia pada lansia


Terapi musik adalah sebuah terapi kesehatan yang menggunakan musik di
mana tujuannya adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi,
kognitif, dan sosial bagi individu dari berbagai kalangan usia. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui seberapa besar dampak terapi musik yang berpengaruh pada
perubahan respon fisiologis terhadap kecemasan yang dilihat dari tekanan darah,
respirasi dan nadi.
Peran perawat yang bisa dilakukan untuk merawat lansia dengan masalah
gangguan tidur (insomnia) yaitu dengan pengobatan farmakologi dan pengobatan non
farmakologi. Pengobatan farmakologi berupa pemberian obat-obatan sedangkan
pengobatan non farmakologi dapat berupa terapi relaksasi. Terapi relaksasi banyak
digunakan baik untuk penurunan ketegangan, atau mencapai kondisi tenang. Ketika
seseorang mengalami gangguan tidur maka ada ketegangan pada otak dan otot
sehingga dengan mengaktifkan syaraf parasimpatis dengan teknik relaksasi maka
secara otomatis ketegangan berkurang sehingga seseorang akan mudah untuk masuk
ke kondisi tidur .
Terapi musik merupakan sebuah rangsangan pendengaran yang berorganisasi
terdiri atas melodi, ritme, harmoni, warna (timbre), bentuk, dan gaya. Ketika musik
diaplikasikanmenjadi sebuah terapi, musik dapat memulihkan, memelihara kesehatan
fisik, mental, sosial dan spiritual dari setiap individu. Musik memiliki beberapa
kelebihan seperti bersifat universal. Musik terbagi dalam dua irama, yaitu irama
musik yang beraturan dan tidak beraturan. Irama yang beraturan dapat mempengaruhi
keseimbangan psikofisik sebaliknya irama yang tidak beraturan dapat menganggu
keseimbangan psikofisik. Contoh musik yang mempunyai irama yang beraturan yaitu
musik keroncong, musik tradisional jawa (gendhing jawa), dan musik klasik.

c. Terapi musik untuk penurunan tekanan darah


Penyebab penurunan tekanan darah dengan musik dan tertawa ini memang
masih belum jelas, namun ahli mengatakan bahwa dengan terapi relaksasi seperti di
atas mampu menurunkan kadar kortisol, hormon stres yang berkontribusi besar dalam
tekanan darah tinggi ini.
Dan dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dr Miller dan
koleganya di University of Maryland Medical Center, Baltimore menunjukkan bahwa
baik tertawa dan mendengarkan musik lembut bisa memperbaiki fungsi lapisan dalam
pembuluh darah, dan membuat permukaannya meluas hingga 30% sementara
menonton atau mendengarkan film atau musik menakutkan memiliki efek yang
berlawanan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh senyawa oksida nitrat yang dilepas
dalam menanggapi tawa atau musik juga bermanfaat dalam melebarkan pembuluh
darah dan menyebkan penurun tekanan darah.

d. Terapi music untuk kehamilan


Terapi music Selain manfaat relaksasi, dengan mendengarkan musik membuat
ibu lebih berkonsentrasi saat proses melahirkan dan dapat mengurangi rasa sakit.
Untuk bayi sendiri, ternyata proses di lahirkan juga menimbulkan rasa stress. Stress di
timbulkan karena bayi harus beradaptasi dari kehidupan dalam kandungan keluar
kandungan. Proses adaptasi ini berlangsung hingga 4-6 jam pertama kehidupan.
Dengan mendengarkan musik yang rutin di dengarkan sebelumnya, dapat membuat
bayi lebih nyaman dan tenang karena terasa seperti suasana saat ia dalam kandungan.
Pada bayi prematur yang memerlukan perawatan NICU, dari penelitian di
sebutkan musik Lullaby sangat bermanfaat untuk membuat bayi tenang, menurunkan
hormon stress, meningkatkan kadar oksigen, mempercepat kenaikan berat badan
sampai mengurangi rasa sakit (terlebih pada saat dan sesudah di lakukan tindakan
invasif).
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KASUS
PENURUNAN KESADARAN

3.1 Pengkajian
1. Identitas klien
a) Nama
b) Usia
c) Jenis kelamin
d) Alamat
e) Pekerjaan
f) Agama
g) No. RM
h) Tanggal masuk

 Pengkajian primer
a. Airway
Hal – hal yang harus dilihat adalah Apakah pasien berbicara dan bernafas
secara bebas, adakah Suara nafas abnormal : stridor, wheezing, mengi dll, apakah ada
Penggunaan otot-otot bantu pernafasan, adanya Sianosis, Kejang, Retensi lendir /
sputum di tenggorokan, Suara serak Dan Batuk.
b. Breathing
Hal – hal yang harus diperhatikan Adakah suara nafas abnormal : stridor,
wheezing, mengi dll, adakah Sianosi, Takipnu, Dispnea, Hipoksiadan bagaimana
Panjang pendeknya inspirasi ekspirasi.
c. Circulation
Hal – hal yang harus diperhatikan adalah adanya Hipotensi / hipertensi,
Takipnu, Hipotermi, Pucat, Ekstremitas dingin, Penurunan capillary refill, Produksi
urin menurun, Nyeri, Pembesaran kelenjar getah bening
 Pengkajian sekunder
1. Riwayat penyakit sebelumnya
Apakah klien pernah menderita :
a. Penyakit stroke
b. Infeksi otak
c. DM
d. Diare dan muntah yang berlebihan
e. Tumor otak
f. Intoksiaksi insektisida
g. Trauma kepala
h. Epilepsi dll.

2. Pemeriksaan fisik
a. Aktivitas dan istirahat
 Data subjektif :
kesulitan dalam beraktivitas, kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis,
mudah lelah, kesulitan istirahat nyeri atau kejang otot.
 Data obyektif :
Perubahan tingkat kesadaran, Perubahan tonus otot ( flasid atau spastic),
paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan umum dan gangguan penglihatan.
b. Sirkulasi
 Data subjektif :
Riwayat penyakit strokeRiwayat penyakit jantung , Penyakit katup jantung,
disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial, Polisitemia.
 Data obyektif :
Hipertensi arterial, DisritmiaPerubahan EK, Pulsasi : kemungkinan bevariasi,
Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal.
c. Eliminasi
 Data Subyektif:
Inkontinensia urin / alvi dan Anuria
 Data obyektif:
Distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), Tidak adanya suara usus(
ileus paralitik )

d. Makan/ minum
 Data Subyektif:
Nafsu makan hilang, Nausea, Vomitus menandakan adanya PTIK, Kehilangan
sensasi lidah , pipi , tenggorokan, Disfagia dan Riwayat DM, Peningkatan
lemak dalam darah
 Data obyektif:
Obesitas ( faktor resiko )
e. Sensori neural
 Data Subyektif:
Syncope, Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub
arachnoid, Kelemahan, Kesemutan/kebas, Penglihatan berkurang, Sentuhan :
kehilangan sensor pada ekstremitas dan pada muka, Gangguan rasa
pengecapan, Gangguan penciuman
 Data obyektif:
Status mental, Penurunan kesadaran, Gangguan tingkah laku (seperti: letargi,
apatis, menyerang), Gangguan fungsi kognitif, Ekstremitas : kelemahan /
paraliysis genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon
dalam, Wajah: paralisis / parese, Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi
bahasa, kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan
berkata kata komprehensif, global / kombinasi dari keduanya. ), Kehilangan
kemampuan mengenal atau melihat, stimuli taktil, Kehilangan kemampuan
mendengar, Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik, Reaksi
dan ukuran pupil : reaksi pupil terhadap cahaya positif / negatif, ukuran pupil
isokor / anisokor, diameter pupil
f. Nyeri / kenyamanan
 Data Subyektif :
Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
 Data obyektif:
Tingkah laku yang tidak stabil, Gelisah, Ketegangan otot
g. Respirasi
Data Subyektif :
perokok ( faktor resiko )
h. Keamanan
 Data obyektif:
Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan, Perubahan persepsi terhadap
tubuh, Kesulitan untuk melihat objek, Hilang kewaspadaan terhadap bagian
tubuh yang sakit, Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang
pernah dikenali, Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan
regulasi suhu tubuh, Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap
keamanan , Berkurang kesadaran diri
i. Interaksi social
Data obyektif :
Problem berbicara, Ketidakmampuan berkomunikasi

3. Menilai GCS
Ada 3 hal yang dinilai dalam penilaian kuantitatif kesadaran yang menggunakan
Skala Coma Glasgow : Respon motorik, Respon bicara, Pembukaan mata.

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Perfusi jaringan otak, resiko ketidakefektifan
2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas
3. Pola nafas tidak efektif
4. Gangguan pertukaran gas
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Terapi music adalah suatau terapi kesehatan menggunakan music dimana tujuannnya
adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, kognitif dan sosisal bagi
individu dari berbagai kalangan . jenis terapi music ada Musik instrumentaldan Music klasik.
Pengaruh music klasik terhadap kecemasan yaitu Music diyakini dapat dgunakan untuk
relaksasi, meringankn stress dan mengurangi kecemasan karena music merupakan sebuah
rangsangan pendengaran yang terorganisasi, yang terdiri atas melodi, ritme, harmoni, bentuk
dan gaya. Ada salah satu cara dalam mengurangi kecemasan, salah satunya dengan
mendengarkan music Mozart tau music klasik. Music klasik adalah music yang mampu
memperbaiki konsentrasi, ingatan dan persepsi social.

4.2 Saran
Dengan selesainya makalah ini disusun, penulis berharap pembaca dapat mempelajari
dan memahami tentang terapi musik . Penulis juga mengharapkan adanya kritik dan saran
yang membangun, sehingga penulis dapat menjadi lebih baik untuk masa yang akan datang
dalam penyusunan makalah.
DAFTAR PUSTAKA

Harsono. (1996). Buku Ajar Neurologi Klinis. Yokyakarta. Gajah Mada University Press.
Djohan. (2009). Psikologi musik. Yogyakarta. Best publisher.
Djohan. (2006). Terapi music : terapi dan aplikasi. Yogyakarta. Galangpress.