Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

MANDI JUNUB DAN TAYAMUM

Arif Rahmat
2018617011
Riki Asgar M.
2018610119
Abi Wira

AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2019
Pendahuluan

Setiap umat islam sebelum melakukan ibadah sholat wajib 5 waktu, sholat
sunnah Dhuha, sholat Tahajjud atau sholat sunnah lainnya diharuskan dalam keadaan
suci. Suci yang dimaksud adalah terbebas dari hadast besar ataupun kecil. Hadast
kecil bisa disucikan dengan cara berwudlu, sedang hadast besar diwajibkan untuk
melakukan mandi junub atau mandi wajib. Ketika mandi junub ini diharuskan
membaca doa mandi junub disertai dengan urutan langkah-langkahnya yang benar
agar mandinya sempurna. Mandi junub atau mandi wajib merupakan mandi yang
diwajibkan bagi setiap muslim dalam beberapa keadaan. Keadaan itu diantaranya:
Keluarnya mani pada kaum pria, bertemunya dua organ intim walaupun tidak keluar
mani, ketika berhentinya darah haid dan nifas, ketika orang kafir masuk islam, karena
kematian.
Sudah menjadi kewajiban kaum muslim untuk selalu melakukan mandi junub
jika habis melakukan kewajibannya sebagai suami istri dalam memberikan nafkah
batin bagi sang suami ke Istrinya. Tapi selain itu mandi junub juga wajib dilakukan
oleh kaum laki-laki yang mengalami mimpi basah. Biasanya sering terjadi pada para
remaja yang masih duduk di SMP ataupun SMA tapi tidak menutup kemungkinan
pria dewasa juga bisa mengalaminya.

Tujuan Mandi Junub

Tujuan mandi Junub adalah untuk kembali membersihkan diri dari hadast
kecil ataupun hadast besar, karena kalau belum melakukannya dianggap masih najis
dan belum bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Maka disini mandi
Junub adalah wajib hukumnya bagi kaum muslim sebelum melakukan kegiatan
islami sehari-sehari seperti sholat ataupun mengaji. Dan dalam mandi Junub juga
ada adabnya atau aturannya, jadi tidak hanya melakukan mandi seperti biasa, ada-doa
yang harus diucapkan dan utamakan membasuh bagian yang sebelah kanan dulu.

Niat dan doa mandi junub secara umum


Mandi junub atau mandi besar yang dilakukan oleh laki-laki dewasa atau
perempuan yang ingin menghilangkan hadast besar. Bacaan doa mandi junub ;
َ‫ل تووعاًولى‬ ‫ث يال ويكبوعر وفير ض‬
‫ضاً ع ع‬ ‫ل لعوريفعع ايل و‬
‫حود ع‬ ‫ت ايلتغ ي‬
‫س و‬ ‫نووويي ت‬
“Nawaitul Ghusla Lifrafil Hadatsil Akbari Fardhan Lillahi Ta’aala.”
“Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadast besar fardhu karena Allah
ta’aala.”
Niat dan doa mandi junub setelah haid
Haid, mentruasi atau datang bulan adalah keluarnya cairan merah atau mirip
darah secara berkala pada seorang wanita. Hal ini dipengaruhi oleh hormon
reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Masa ini penting dalam hal
reproduksi. Pada wanita, normalnya ini terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai
menopause. Selama sedang haid, seorang wanita dilarang melaksanakan salat, puasa,
dan berhubungan int1m dengan suaminya. Bacaan doa mandi junub setelah haid ;
َ‫ل تووعاًولى‬
‫ضع ع‬ ‫ث ايل و‬
‫حيي ع‬ ‫ل لعوريفعع و‬
‫حود ع‬ ‫ت ايلتغ ي‬
‫س و‬ ‫نووويي ت‬
“Nawaitul Ghusla Lifraf il Hadatsil Haidil Lillahi Ta’ala.”
“Aku niat mandi wajib untuk mensucikann hadast besar dari haid karena Allah
Ta’ala.”
Niat dan doa mandi junub setelah nifas
Nifas adalah keluarnya darah dari rahim seorang wanita karena melahirkan
atau setelah melahirkan. Darah nifas akan selalau keluar selama kurang lebih 40 hari
setelah melahirkan. Selama masa nifas, seorang wanita dilarang melaksanakan salat,
puasa, dan berhubungan intim dengan suaminya. Bacaan doa mandi junub setelah
nifas;
َ‫ل تووعاًولى‬
‫سع ع‬
‫ث النعنوفاً ع‬ ‫ل لعوريفعع و‬
‫حود ع‬ ‫ت ايلتغ ي‬
‫س و‬ ‫نووويي ت‬
“Nawaitul Ghusla Liraf il Hadatsil Nifasi Lillahi Ta’ala.”
“Aku niat mandi wajib untuk mensucikan hadast besar dari nifas karena Allah
ta’ala”
Setelah mengucapkan doa mandi Junub maka dilanjutkan dengan tata cara
mandi wajib atau urutan mandi Junub yang benar. Berikut tata cara atau urutan
mandi junub;

Dalam hadits Aisyah radhiyallahu anha disebutkan,

‫ة يويبللودتأ‬ ‫ن ايل و‬
‫جوناًبولل ع‬ ‫ل عملل ي‬
‫سلل و‬ ‫سللل ل و‬
‫م إعوذا ايغوت و‬ ‫صللللىَ الل لللته وعلوييلل ع‬
‫ه وو و‬ ‫ل الل للل ع‬
‫ه و‬ ‫سو ت‬
‫ن ور ت‬ ‫شوة وقاًلو ي‬
‫ت وكاً و‬ ‫ن وعاًئع و‬
‫وع ي‬
‫م يويأ ت‬
‫خللتذ‬ ‫صولعة تث ل‬
‫ضووءته علل ل‬‫ضتأ تو ت‬
‫م يووتوو ل‬ ‫ل وفير و‬
‫جته تث ل‬ ‫س ت‬‫ه وفيويغ ع‬ ‫ماًلع ع‬ ‫ه وعولىَ ع‬
‫ش و‬ ‫ميعن ع‬‫غ بعيو ع‬
‫م تييفعر ت‬
‫ه تث ل‬
‫ل يووديي ع‬
‫س ت‬ ‫وفيويغ ع‬
‫ث‬‫ه ثوول و‬ ‫ن وعلوللىَ وريأ ع‬
‫سلل ع‬ ‫حوفلل و‬‫سوتيبورأو و‬
‫ن وقيد ا ي‬‫حلتىَ إعوذا وروأىَ أو ي‬ ‫شيععر و‬
‫ل ال ل‬
‫صو ع‬‫صاًبعوعته عفيِ تأ ت‬ ‫ل أو و‬
‫خ ت‬ ‫ماًوء وفتييد ع‬
‫ايل و‬
‫جلويي ع‬
‫ه‬ ‫ل عر ي‬
‫س و‬
‫م وغ و‬
‫سعدعه تث ل‬
‫ج و‬
‫ساًئععر و‬ ‫م أووفاً و‬
‫ض وعولىَ و‬ ‫ت تث ل‬
‫حوفوناً ت‬
‫و‬

Dari Aisyah dia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi
karena junub, maka beliau memulainya dengan membasuh kedua tangan. Beliau
menuangkan air dengan tangan kanan ke atas tangan kiri, kemudian membasuh
kemaluan dan berwudhu dengan wudhu untuk shalat. Kemudian beliau menyiram
rambut sambil memasukkan jari ke pangkal rambut hingga rata. Setelah selesai,
beliau membasuh kepala sebanyak tiga kali, lalu beliau membasuh seluruh tubuh dan
akhirnya membasuh kedua kaki.” (HR. Muslim)

1. Diawali dengan niat untuk menghilangkan hadast besar.


2. Membersihkan kedua telapak tangan sebanyak 3x lalu bercebok dengan
membersihkan kemaluan serta kotoran yang ada disekitarnya hingga bersih
dengan tangan kiri.
3. Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan sampai bersih (Bisa dengan
sabun).
4. Melakukan niat wudhu, disini maksudnya melakukan wudhu dengan tata
urutan yang sempurna.
5. Mengguyur atau menyiram kepala dengan air sebanyak 3 kali hingga sampai
ke pangkal rambut.
6. Mencuci dan membersihkan kepala bagian kanan dilanjutkan dengan kepala
bagian kiri.
7. Menyela-nyela (menyilang-nyilang) rambut dengan jari.
8. Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan dilanjutkan
dengan bagian kiri.
9. Membersihkan area badan yang susah dijangkau.

Disunnahkan untuk melakukan mandi junub jinabat dengan urut dan tertib biar
sempurna, dan usahakan cipratan air yang digunakan untuk mengguyur tubuh tidak
masuk ke kolah atau tempat penampungan air yang digunakan untuk mandi Junub.
Demikian informasi tentang doa mandi Junub. Dengan melakukan niat dan tata cara
yang urut dan benar maka akan membersihkan diri kita dari hadast besar.

Mandi Junub dengan Tayamum

Bagaimana cara terbebas dari kondisi junub sementara kondisi fisik tidak kuat
menahan dinginnya air, atau kondisi fisik terluka yang berbahaya jika terkena air?
Apakah boleh mengganti mandi janabah dengan tayamum , Bagaimana hukumnya?
Kemudian, jika mandi janabah dengan menggunakan air tidak bisa, ada air namun
suhunya sangat dingin, maka para ulama fikih membolehkan mengganti mandi
janabah dengan tayamum karena air sangat dingin .Begitu juga ketika kondisi tidak
dapat menemukan air, atau ada air namun kondisi fisik sedang sakit dan tidak boleh
tersentuh air, dibolehkan untuk tayamum sebagai ganti mandi janabah.
Dalilnya adalah keumuman firman Allah ‘Azza wa Jalla,
‫جللتدوا‬ ‫ساًوء وفلو ي‬
‫م تو ع‬ ‫م النعن و‬ ‫ط أويو لوم ي‬
‫ستت ت‬ ‫ن ايلوغاًئع ع‬
‫م عم و‬ ‫جاًوء أو و‬
‫حدد عمينتك ي‬ ‫سوفتر أويو و‬
‫ضىَ أويو وعولىَ و‬
‫م ومير و‬
‫ن تكينتت ي‬
‫ووإع ي‬
ً‫صععيضدا طو عي نضبا‬
‫موا و‬ ‫وماًضء وفوتيو ل‬
‫م ت‬
“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang air, atau
usai menyentuh wanita dan tidak mendapati air maka bertayamumlah menggunakan
debu yang baik (suci).” (QS. Al-Maidah: 6)
Dalam ayat di atas terkandung banyak sekali hukum syariat dalam masalah
cara bersuci sebelum menegakkan shalat. Bagi orang yang semestinya harus
berwudhu atau mandi janabah sebelum shalat, namun kondisinya tidak
memungkinkan, maka solusinya adalah mengganti wudhu dengan tayamum.
Bagi orang sakit yang sakitnya sampai pada level membahayakan nyawanya,
atau menjadikan sakitnya tidak segera sembuh, atau memperparah penyakitnya, boleh
baginya untuk mengganti wudhu dengan tayamum.
Hukum bolehnya mengganti mandi janabah dengan tayamum karena air sangat dingin
ini didukung dengan dalil dari hadits Amru bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu. Beliau
berkata,
‫صلل ليي ت‬
‫ت‬ ‫م و‬
‫ِ تث ل‬،‫ت‬
‫م ت‬ ‫ وفوتيو ل‬.‫ك‬
‫م ي‬ ‫ن او ي‬
‫هعل و‬ ‫ت او ي‬
‫سيل ت‬
‫ن ايغوت و‬
‫ت اع ع‬ ‫ِ وفاًو ي‬،‫شعدييودعة يالبويرعد‬
‫شوفيق ت‬ ‫ت عفىَ لوييلو ت‬
‫ة وباًعرودتة و‬ ‫حوتلو ي‬
‫م ت‬ ‫ي‬
.‫ك لوللته‬
‫ا صلىَ ا عليه وسلللم وذوكللتريوا ذلعلل و‬
‫ل ع‬ ‫ماً وقعديموناً وعولىَ ور ت‬
‫سيو ع‬ ‫ وفلو ل‬.‫صيبحع‬
‫صل ووة ال ص‬
‫حاًعبىَ و‬ ‫بعاًو ي‬
‫ص و‬
ْ‫ل }وو ل و تويقتتلتلليوآ‬
‫جلل ل‬ ‫ت وقلليو و‬
‫ل ع‬
‫الل وعلللز وو و‬ ‫ وذوكللير ت‬:‫ت‬
‫ب؟ٌ تقيل ت‬
‫جتن د‬ ‫ك وو اوين و‬
‫ت ت‬ ‫حاًبع و‬ ‫ت بعاًو ي‬
‫ص و‬ ‫صل ليي و‬
‫ِ و‬،‫مترو‬ ‫وفوقاً و‬
‫ وياً وع ن‬:‫ل‬
‫ل ع‬
‫الل صلللىَ الل عليلله‬ ‫سيو ت‬
‫ك ور ت‬
‫ح و‬ ‫ وف و‬.‫ت‬
‫ض ع‬ ‫صل ليي ت‬
‫م و‬
‫ت تث ل‬
‫م ت‬ ‫ماً{ وفوتيو ل‬
‫م ي‬ ‫حيي ض‬
‫م ور ع‬ ‫ا وكاً و‬
‫ن بعتك ي‬ ‫ن و‬
‫ِ اع ل‬،‫م‬ ‫اوينتف و‬
‫ستك ي‬
ً‫شييضئا‬
‫ل و‬ ‫وسلم وو لو ي‬
‫م يوتق ي‬
“Saya mimpi sampai keluar mani pada suau malam yang sangat dingin. Kemudian
saya bangun pagi-pagi. Kalau saya mandi tentu akan celaka, karena itu saya
bertayamum. Kemudian saya mengimami shalat Shubuh bersama dengan kawan-
kawan saya. Ketika kami sampai di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
lalu mereka menceritakan peristiwa itu kepadanya. Kemudian Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya ‘Amr, apakah kamu telah menjadi imam dalam shalat
bersama kawan-kawanmu padahal kamu junub?”. Saya menjawab, “Saya ingat
firman Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya (Dan jangan kamu membunuh diri-dirimu,
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang terhadap kamu”, lalu saya tayammum,
kemudian shalat”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa, tanpa
mengatakan sesuatu apapun”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Daruquthi, Nailul
Authar, 1/302)
Saat mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “
‫وفيِ هذا الحديث جواز التيمم لمن يتوقع من استعماًل الماًء الهلكا سواء كاًن لجل برد أو‬
‫ِ وجواز صلة المتيمم باًلمتوضئين‬، ‫ غيره‬.
“Dalam hadits ini terkandung hukum bolehnya tayamum bagi orang yang jika
menggunakan air justru akan mencelakai diri sendiri, baik karena faktor airnya dingin
atau faktor lainnya. Demikian pula mengandung hukum bolehnya orang yang bersuci
dengan tayamum mengimami jamaah yang bersuci dengan wudhu.” (Fathul Bari,
Ibnu Hajar al-Asqalani, 1/454)
Meski demikian, bagi orang junub yang ingin mandi janabah namun suhu air
yang tersedia sangat dingin, semaksimal mungkin untuk berusaha menetralkan
suhunya dengan dipanasi. Jika tidak didapati alat pemanas, maka hendaknya
menggunakan air itu sebisanya. Bisa dengan mengusapkannya hanya di telapak
tangan, atau bagian lain yang jika terkena air dingin tetap aman. Jika cara itu juga
tetap tidak memungkinkan untuk dilakukan, baru mengganti mandi janabah dengan
tayamum . Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
‫سوتطويعتت ي‬
‫م‬ ‫وفاًت لتقوا الل لوه وماً ا ي‬
“Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)

Tayammum

Kami mulai pembahasan ini dengan mengemukakan pengertian tayammum.


Tayammum secara bahasa diartikan sebagai Al Qosdu (‫صتد‬
‫ )الوق ي‬yang berarti maksud.
Sedangkan secara istilah dalam syari’at adalah sebuah peribadatan kepada Allah
berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho’id yang
bersih[1]. Sho’id adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk
bertayammum baik yang terdapat tanah di atasnya ataupun tidak[2].
Dalil Disyari’atkannya Tayammum
Tayammum disyari’atkan dalam islam berdasarkan dalil Al Qur’an, As
Sunnah dan Ijma’ (konsensus) kaum muslimin[3]. Adapun dalil dari Al Qur’an adalah
firman Allah ‘Azza wa Jalla,
‫جللتدوا‬ ‫سللاًوء وفلولل ي‬
‫م تو ع‬ ‫م ال عنن و‬‫ستت ت‬‫ط أويو ولوم ي‬
‫ن ايلوغاًئع ع‬‫م عم و‬‫حدد عمينتك ي‬ ‫جاًوء أو و‬
‫سوفتر أويو و‬
‫ضىَ أويو وعولىَ و‬
‫م ومير و‬
‫ن تكينتت ي‬
‫ووإع ي‬
‫م عمينته‬‫م ووأوييعديتك ي‬‫هتك ي‬‫جو ع‬ ‫حوا بعتو ت‬ ‫صععيضدا طويع نضباً وفاًيم و‬
‫س ت‬ ‫موا و‬ ‫وماًضء وفوتيو ل‬
‫م ت‬
“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau
berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka
bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan
tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al Maidah [5] : 6).

Adapun dalil dari As Sunnah adalah sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi was
sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu,
‫جعد ايل و‬
« ‫ماًوء‬ ‫ت تتيربوتتوهاً لووناً طوتهوضرا إعوذا لو ي‬
‫م نو ع‬ ‫جععلو ي‬
‫» وو ت‬
“Dijadikan bagi kami (ummat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam )
permukaan bumi sebagai thohur/sesuatu yang digunakan untuk besuci[4]
(tayammum) jika kami tidak menjumpai air”.[5]

Media yang dapat Digunakan untuk Tayammum


Media yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan
bumi yang bersih baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupun
kering. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat
Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu di atas dan secara khusus,
‫جداض ووطوتهوراض‬
‫س ع‬ ‫ت ال وير ت‬
‫ض تكل صوهاً علىَ وولتلمعتىَ وم ي‬ ‫جععلو ع‬
‫ت‬
“Dijadikan (permukaan, pent.) bumi seluruhnya bagiku (Nabi shollallahu ‘alaihi was
sallam) dan ummatku sebagai tempat untuk sujud dan sesuatu yang digunakan untuk
bersuci”.[6]
Jika ada orang yang mengatakan bukankah dalam sebuah hadits Hudzaifah
ibnul Yaman[7] Nabi mengatakan tanah?! Maka kita katakan sebagaimana yang
dikatakan oleh Ash Shon’ani rohimahullah, “Penyebutan sebagian anggota lafadz
umum bukanlah pengkhususan”[8]. Hal ini merupakan pendapat Al Auzaa’i, Sufyan
Ats Tsauri Imam Malik, Imam Abu Hanifah[9] demikian juga hal ini merupakan
pendapat Al Amir Ashon’ani[10], Syaikh Al Albani[11], Syaikh Abullah Alu
Bassaam[12] –rohimahumullah-, Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan[13] dan
Syaikh DR. Abdul Adzim bin Badawiy Al Kholafiy hafidzahumallah[14].

Keadaan yang Dapat Menyebabkan Seseorang Bersuci dengan Tayammum


Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan
beberapa keadaan yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum;
a. Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar/dalam perjalanan ataupun tidak
b. Terdapat air (dalam jumlah terbatas) bersamaan dengan adanya kebutuhan lain
yang memerlukan air tersebut semisal untuk minum dan memasak,
c. Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau
semakin lama sembuh dari sakit.
d. Ketidakmapuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan
tidak mampu bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang
yang mampu membantu untuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran
habisnya waktu sholat.
e. Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang dapat
menghangatkan air tersebut.

Tata Cara Tayammum Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam


Tata cara tayammum Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dijelaskan hadits
‘Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhu,
‫م أو ع‬
‫جلعد ايل و‬
ِ، ‫ملاًوء‬ ‫ِ وفلولل ي‬، ‫ت‬ ‫ة وفللأو ي‬
‫جونيب ت‬ ‫جلل ت‬
‫حاً و‬ ‫ل الل للل ع‬
‫ه – صلللىَ الل عليلله وسلللم – فعللىَ و‬ ‫سللو ت‬
‫بووعوثعنللىَ ور ت‬
‫ىَ – صلىَ ا عليه وسلم – وفوقلاً و‬
‫ل‬ ‫ك علللنعب ع ن‬
‫ت وذلع و‬ ‫ِ وفوذوكير ت‬، ‫غ اللدابلتة‬
‫ملر ت‬‫ماً تو و‬‫صععيعد وك و‬ ‫ت عفىَ ال ل‬‫ملريغ ت‬ ‫وفوت و‬
‫ح‬‫سلل و‬‫م وم و‬
‫ِ تثلل ل‬، ً‫ضللوها‬
‫م نووف و‬ ‫ضيربوضة وعولىَ ال وير ع‬
‫ض تث ل‬ ‫ه و‬ ‫ب بع و‬
‫كعنف ع‬ ‫ضور و‬‫ وف و‬. « ‫كوذا‬ ‫ه و‬‫ع و‬ ‫صون و‬‫ن تو ي‬‫ك أو ي‬ ‫ماً وكاً و‬
‫ن يويكعفي و‬ ‫» إعن ل و‬
‫جوهته‬
‫ماً وو ي‬
‫ح بععه و‬
‫س و‬
‫م وم و‬
‫ِ تث ل‬، ‫ه‬ ‫ه بع و‬
‫كعنف ع‬ ‫ماًلع ع‬ ‫ِ أويو ظويهور ع‬، ‫ه‬
‫ش و‬ ‫ماًلع ع‬
‫ش و‬ ‫بعوهاً ظويهور وكعنف ع‬
‫ه بع ع‬
Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengutusku untuk suatu keperluan,
kemudian aku mengalami junub dan aku tidak menemukan air. Maka aku berguling-
guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah.
Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.
Lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya seperti
ini”. Seraya beliau memukulkan telapak tangannya ke permukaan bumi sekali
pukulan lalu meniupnya. Kemudian beliau mengusap punggung telapak tangan
(kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya
dengan tangan kanannya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
[16]

Dan dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori,


‫حودضة‬ ‫جوهته وووكلفيي ع‬
‫ه ووا ع‬ ‫ح وو ي‬
‫س و‬
‫وووم و‬
“Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.

Berdasarkan hadits di atas kita dapat simpulkan bahwa tata cara tayammum beliau
shallallahu ‘alaihi was sallam adalah sebagai berikut;
a. Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan
kemudian meniupnya.
b. Kemudian menyapu punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan
sebaliknya.
c. Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
d. Semua usapan baik ketika mengusap telapak tangan dan wajah dilakukan
sekali usapan saja.
e. Bagian tangan yang diusap adalah bagian telapak tangan sampai pergelangan
tangan saja atau dengan kata lain tidak sampai siku seperti pada saat
wudhu[17].
Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga
untuk hadats kecil.
Pembatal Tayammum
Pembatal tayammum sebagaimana pembatal wudhu. Demikian juga
tayammum tidak dibolehkan lagi apa bila telah ditemukan air bagi orang yang
bertayammum karena ketidakadaan air dan telah adanya kemampuan menggunakan
air atau tidak sakit lagi bagi orang yang bertayammum karena ketidakmampuan
menggunakan air[18]. Akan tetapi shalat atau ibadah lainnya[19] yang telah ia
kerjakan sebelumnya sah dan tidak perlu mengulanginya. Hal ini berdasarkan hadits
Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu
‘anhu,
‫ِ وف و‬، ً‫صععيضدا طو عي نضبا‬
ِ، ً‫صللل لويا‬ ‫ماً و‬ ‫ماً وماًدء – وفوتيو ل‬
‫م و‬ ‫صولتة – وولويي و‬
‫س وموعته و‬ ‫ت ال ل‬
‫ضور ي‬ ‫ِ وف و‬، ‫سوفتر‬
‫ح و‬ ‫جول ع‬
‫ن عفيِ و‬ ‫ج ور ت‬
‫خور و‬
‫و‬
‫ل‬
‫سللو و‬ ‫م أوتويوللاً ور ت‬ ‫م تيععيد ايل و‬
‫ِ تثلل ل‬، ‫خللتر‬ ‫ِ وولو ي‬، ‫ضووء‬‫صولوة ووايلتو ت‬ ‫ماً ال ل‬ ‫ه و‬‫حتد ت‬ ‫ِ وفأووعاًود أو و‬، ‫ت‬ ‫ماًوء عفيِ ايلوويق ع‬ ‫جودا ايل و‬‫م وو و‬ ‫تث ل‬
‫جوزأويتللك‬
‫سلللنوة ووأو ي‬ ‫صلليبت ال ص‬ ‫ أو و‬: ‫م تيععلليد‬ ‫ل لعل لللعذيِ لولل ي‬
‫ِ وفوقللاً و‬، ‫ك لوته‬‫م وفوذوكورا وذلع و‬ ‫سل ل و‬ ‫صللىَ الل لته وعلويي ع‬
‫ه وو و‬ ‫ه و‬ ‫الل ل ع‬
‫ن‬ ‫ ولك ايل و ي‬: ‫خعر‬
‫جتر وملرتويي ع‬ ‫صولتتك وووقاً و‬
‫ل لعيل و‬ ‫و‬
Dua orang lelaki keluar untuk safar. Kemudian tibalah waktu shalat dan tidak ada air
di sekitar mereka. Kemudian keduanya bertayammum dengan permukaan bumi yang
suci lalu keduanya shalat. Setelah itu keduanya menemukan air sedangkan saat itu
masih dalam waktu yang dibolehkan shalat yang telah mereka kerjakan tadi. Lalu
salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulangi shalat sedangkan yang lainnya
tidak mengulangi shalatnya. Keduanya lalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi was
sallam dan menceritakan yang mereka alami. Maka beliau shallallahu ‘alaihi was
sallam mengatakan kepada orang yang tidak mengulang shalatnya, “Apa yang kamu
lakukan telah sesuai dengan sunnah dan kamu telah mendapatkan pahala shalatmu”.
Beliau mengatakan kepada yang mengulangi shalatnya, “Untukmu dua
pahala[20]”[21].
Juga hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Abu Huroiroh
rodhiyallahu ‘anhu,
‫سللته‬ ‫ق الل لوه وويلتي ع‬
‫م ل‬ ‫ماًوء وفيليولت ع‬
‫جود ايل و‬
‫وفعإوذا وو و‬.‫ن‬
‫سعني و‬
‫شور ع‬ ‫جيد ايل و‬
‫ماًوء وع ي‬ ‫ن لو ي‬
‫م يو ع‬ ‫ِ ووإع ي‬، ‫م‬
‫سعل ع‬ ‫ضوتء ايل ت‬
‫م ي‬ ‫صععيتد تو ت‬
‫ال ل‬
‫شورتوته‬
‫بو و‬
“Seluruh permukaan bumi (tayammum) merupakan wudhu bagi seluruh muslim jika
ia tidak menemukan air selama sepuluh tahun (kiasan bukan pembatasan angka)[22],
apabila ia telah menemukannya hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan
menggunakannya sebagai alat untuk besuci”.[23]