Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

“KIMIA ANORGANIK DALAM BERBAGAI BIDANG INDUSTRI“

Dosen pengampu:
Asiyah Nurrahmajanti, M. Si.

Tanggal Praktikum : Kamis, 29 November 2018


Tanggal Pengumpulan Laporan : Jum’at, 07 Desember 2018

Disusun oleh :
Isal Abdussalam
1177040038

Kelompok 5

Annisa Ayu Pratiwi 1177040013

Elsa Ainun Pangesti 1177040023

Ika Salikah Mardiatillah 1177040034

Lisa Kumala Dewi 1177040040

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2018
BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum kimia anorganik dalam beberapa bidang industri,
diantaranya :
1. Menentukan rendemen CaO dan CaCl2 dari CaCO3
2. Menganalisis prinsip penyepuhan pada koin logam
3. Menentukan rendemen pada percobaan penyepuhan koin logam
4. Mengidentifikasi massa jenis zeolite yang ditangani oleh HCl dan yang tidak
ditangani oleh HCl

1.2. Dasar Teori


1.2.1. Kalsium Karbonat
Kalsium karbonat adalah garam kalsium yang terdapat pada kapur, batu kapur,
pualam dan merupakan komponen utama yang terdapat pada kulit telur. Kalsium
karbonat berupa serbuk, putih, tidak berbau, tidak berasa, stabil di udara. Praktis tidak
larut dalam air, kelarutan dalam air meningkat dengan adanya sedikit garam amonium
atau karbon dioksida. Larut dalam asam nitrat dengan membentuk gelembung gas. Salah
satu sifat kimia dari kalsium karbonat yaitu dapat menetralisasi asam. Penggunaan
kalsium karbonat dalam bidang farmasi adalah sebagai antasida karena kemampuannya
dalam menetralisir asam, namun kalsium karbonat dapat menyebabkan konstipasi.
1.2.2. Penyepuhan
Penyepuhan (electroplanting) dimaksudkan untuk melindungi logam terhadap
korosi atau untuk memperbaiki penampilan. Pada penyepuhan, logam yang akan disepuh
dijadikan katoda sedangkan logam penyepuhnya sebagai anoda. Kedua elektrode itu
dicelupkan dalam larutan garam dari logam penyepuh. Contoh, penyepuhan sendok yang
terbuat dari besi (baja) dengan perak.
Hukum Faraday : ”Massa zat dibedakan pada elektrolisis berbanding lurus dengan jumlah
listrik yang digunakan “.

G = K i + ME
G = ME
dengan,
G = massa zat yang dibebaskan (dalam gram)
i = kuat arus (dalam ampere)
t = waktu (dalam detik)
ME = massa ekivalen
(Petrucci, 1990).
Elektrolisis yang pertama dicoba adalah elektrolisis air (1800). Davy segera
mengikuti dan dengan sukses mengisolasi logam alkali dan alkali tanah. Bahkan hingga
kini elektrolisis digunakan untuk menghasilkan berbagai logam. Elektrolisis khususnya
bermanfaat untuk produksi logam dengan ionisasi tinggi (misalnya alumunium). Produksi
alumunium diindustri denga elektrolisis dicapai tahun 1886 secara independen oleh
penemu Amerika Charles Martin Hall (1863-1914) dan penemu Prancis Louis Toussaint
Heroult (1963-1914) pada waktu yang sama. Sukses elektrolisis ini karena penggunaan
lelehan Na3AlF6 sebagai pelarut bijih (alumunium,oksida; Alumina Al2O3).
Sebagai syarat berlangsungnya elektrolisis, ion harus dapat bermigrasi ke
elektroda. Salah satu cara yang paling jelas agar ion mempunyai mobilitas adalah dengan
menggunakan larutan dalam air. Namun dalam kasus elektrolisis Alumina, larutan dalam
air jelas tidak tepat sebab air lebih mudah direduksi daripada ion alumunium
sabagaimana di tunjukkan:
Al3+ + 3e → Al potensial elektroda normal = 1,662 V
2H2O + 2e → H2 + 2OH- potensial elektroda normal = 0.828 V
Metoda lain adalah dengan menggunakan lelehan garam. Masalahnya
Al2O3 meleleh pada suhu sangat tinggi 20500C, dan elektrolisis pada sushu setinggi ini
jelas tidak 3ealistic. Namun titik lelehan campuran Al2O3 dan Na3AlF6 adalah sekitar
10000C dan suhu ini mudah dicapai. Prosedur detailnya adalah: bijih, alumunium, bauksit
mengandung berbagai oksida logam sebagai pengotor. Bijih ini diolah dengan alkali, dan
hanya oksida alumunium yang amfoter yang larut. Bahan yang tak larut disaring, dan
karbon dioksida dialirkan ke filtratnya untuk menghasilkan hidrolisis garamnya
(Chang, 2004).
1.2.3. Zeolit
Zeolit merupakan salah satu bahan yang dapat mengikat nitrogen sementara.
Zeolit memiliki nilai kapasitas tukar kation (KTK) 2 yang tinggi (antara 120-180
me/100g) yang berguna sebagai pengadsorpsi, pengikat dan penukar kation. Modifikasi
zeolit alam nanopori dengan silane agent yaitu aminopropiltrimetoksisilan (APTMS)
bertujuan untuk mengendalikan pelepasan unsur nitrogen sesuai dengan waktu dan
jumlah yang dibutuhkan. Hal ini dapat terjadi karena gugus aktif amina pada APTMS
akan mengikat unsur N pada urea sehingga pelepasan urea dapat diatur. Dengan adanya
zeolit termodifikasi APTMS yang ditambahkan pada pupuk dalam bentuk slow release
diharapkan dapat mengoptimalkan penyerapan nitrogen oleh tanaman serta
mempertahankan keberadaan nitrogen dalam tanah dan jumlah pupuk yang diberikan
lebih kecil dibandingkan metode konvensional (tisdale,etal.,1985).
Zeolit adalah material unik yang banyak diaplikasikan sebagai katalis, material
penyimpan energi, adsorbent dan pemisahan bahan serta penukar ion . Kegunaan zeolit
dalam banyak aplikasi ini disebabkan dari stuktur pori (channel) serta sifat kimia dan
fisika yang khas. Struktur pori zeolit terbentuk dari unit pembangun primer (PBU) dan
unit pembangun sekunder (SBU) hingga membentuk pori rongga. Rongga pori zeolit
tersebut dapat direkayasa ukurannya dalam sintesis dengan melakukan kontrol pada
beberapa variabel antara lain komposis Si dan Al, suhu dan waktu hidrotermal. Selain
struktur pori zeolit yang unik, zeolit memiliki sifat kimia dan fisika, yaitu adanya gugus
fungsi asam tipe lewis ataupun Bronsted. Sifat lain adalah gugus luas permukaan dan
volume pori yang spesifik, serta adanya muatan negatif pada zeolit yang dinetralkan oleh
kation-kation yang mudah ditukarkan dengan kation lain.
Berdasarkan sifat unik tersebut, zeolit banyak diteliti dan diaplikasikan sebagai
katalis, adsorben, penyaringan molekul, pemisahan dan penukar kation. Kerangka zeolit
yang spesifik untuk keperluan aplikasi tertentu dapat diperoleh dalam sintesis zeolit
melalui rekayasa reaksi. Dengan proses rekayasa tersebut, pertumbuhan kerangka zeolit
dapat dikontrol. Pertumbuhan kerangka zeolit dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah
satunya adalah komposisi silika dan alumina. Komposisi silika dan alumina ini
merupakan faktor utama dalam proses pertumbuhan inti kristal dan menentukan hasil
akhir zeolit yang disintesis(saputra,2006).
Pada umumnya, zeolit A sintetik memiliki bentuk serbuk dengan ukuran partikel
yang kecil. Dalam aplikasinya, bentuk serbuk ini menimbulkan masalah seperti dalam
aplikasinya karena sulit dipisahkan. Untuk mengatasi hal tersebut kristal zeolit dibentuk
menjadi pellet, tablet maupun granular dengan penambahan material perekat. Namun,
penambahan material perekat dalam zeolit seringkali menurunkan efisiensi produk karena
zeolit hasil sintesis harus dilarutkan bersama material perekat sebelum dibentuk. Selain
itu, penambahan material perekat dapat menurunkan porositas dan aktifitas katalitik dari
zeolit itu sendiri. Oleh sebab itu perlu dilakukan alternatif lain untuk mengatasi masalah
tersebut. Salah satu alternatif penyelesaian masalah tersebut adalah mensintesis zeolit
menggunakan material pendukung (support) sebagai pengganti material perekat.
Penggunaan material pendukung juga dapat meningkatkan kekuatan mekanik,
perpindahan panas dan aktivitas katalitik dari zeolit Salah satu material pendukung yang
dapat digunakan adalah serat. Material pendukung serat memiliki filament yang halus
dan panjang serta kuat serta memiliki kelebihan diantaranya sifatnya yang fleksibel
sehingga mudah dicetak dalam beberapa bentuk . Selain itu, material pendukung serat
juga diketahui sangat baik untuk media pendukung katalis pada reaksi fotokimia
(Tosheva dan Valtchev, 2005).
Zeolit adalah mineral dengan strukur kristal aluminasilikat yang berbentuk
rangka (framework) tiga dimensi, mempunyai rongga dan saluran serta mengandung ion-
ion logam seperti Na, K, Mg, Ca dan Fe serta molekul air. Rumus kimia zeolit sebagai
berikut:
Mc/n [ (AlO2)C (SiO2)d ] . bH2O

Pemanfaatan Zeolit sangat luas seperti sebagai adsorben, penukar ion, katalis.
Sifat sebagai katalis didasarkan pada adanya ruang kosong yang dapat digunakan
sebagai katalis ataupun sebagai penyangga katalis untuk reaksi katalitik. Bila zeolit
digunakan pada proses katalitik maka akan terjadi difusi molekul kedalam ruang kosong
antar kristal dan reaksi kimia juga terjadi dipermukaan saluran tersebut.
Zeolit merupakan katalis yang cukup efektif digunakan pada proses cracking,
isomerization, dan hydrocarbon alkylation. Peran zeolit sebagai katalis berdasarkan pada
tiga sifatnya, yaitu:
1) Penyaring molekul, sifat sebagai penyaring molekul yang dimiliki oleh zeolit dapat
dimanfaatkan untuk menyeleksi reaktan, hasil antara dan produk akhir yang terlibat
dalam proses katalitik oleh katalis zeolit.
2) Pusat asam, adanya pusat asam pada zeolit dapat memberikan medium yang kondusif
(lebih reaktif) untuk proses katalitik.
3) Rasio Si/Al, semakin tinggi rasio Si/Al yang tinggi akan menyebabkan keasaman
tinggi. Setiap jenis zeolit mempunyai batas rasio Si/Al yang berbeda-beda.
Boron oksida (B2O3) merupakan padatan yang mempunyai ukuran partikel yang relatif

kecil sehingga dapat terdispersikan secara merata pada permukaan


zeolite(Las,etal.,2002).
Zeolit oleh para ilmuwan dikenal sebagai mineral serba guna yang banyak
dimanfaatkan dalam bidang industri. Zeolit memiliki beberapa keunggulan dibandingkan
mineral lain terutama kegunaannya sebagai adsorben, penukar ion dan katalis. Zeolit
merupakan suatu kelompok mineral yang dihasilkan dari proses hidrotermal pada batuan
beku basa. Mineral ini biasanya dijumpai mengisi celah-celah ataupun rekahan dari
batuan tersebut. Selain itu, zeolit juga merupakan endapan dari aktivitas volkanik yang
banyak mengandung unsur silika (Saputra, 2006).
Komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal, seperti suhu,
tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya. Hal itu menjadikan
zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisinya bila diambil
dari lokasi yang berbeda, disebabkan karena kombinasi mineral dengan impuritas
lainnya.
Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari
batuan vulkanik tuf. Pada zeolit alam, terdapat molekul air dalam pori dan oksida bebas
di permukaan seperti Al2O3, SiO2, CaO, MgO, Na2O, K2O dapat menutupi pori-pori atau
situs aktif dari zeolite sehingga dapat menurunkan kapasitas adsorpsi maupun sifat
katalisis dari zeolit tersebut. Inilah alasan mengapa zeolit alam perlu diaktivasi terlebih
dahulu sebelum digunakan. Pemanfaatan bahan mineral dengan nilai ekonomi rendah
telah banyak dikembangkan oleh para ahli untuk pembuatan zeolit sintetis, seperti fly
ash, abu sekam padi, kaolin, diatomite, dan smektit. Selain bahan tersebut, batu apung
juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan zeolit, dimana komposisi
penyusun batu apung terdiri dari silika, alumina, besi oksida dan mineral lainnya.
Komposisi silika dalam batu apung yang merupakan komponen utamanya dapat
dimanfaatkan dalam pembuatan zeolit Pada umumnya komposisi zeolit alam
mengandung klinoptilolit, mordenit, chabazit, dan erionit. Warna dari zeolit adalah putih
keabu-abuan, putih kehijau-hijauan atau putih kekuning-kuningan. Densitas zeolit antara
2,0 - 2,3 g/cm3, dengan bentuk halus dan lunak (Pasaribu, 2011).
Zeolit merupakan mineral alami aluminosilikat yang terhidrasi. Zeolit termasuk
golongan yang dikenal sebagai mineral "tektosilikat". Zeolit alam biasanya terbentuk dari
perubahan batuan yang kaya akan gelas di danau atau air laut (Erdem, 2004). Komposisi
kimia dalam zeolit secara umum dapat dilihat pada Tabel 1.

Kerangka dasar struktur zeolit terdiri dari unit-unit tetrahedral [AlO4] dan [SiO4]
yang saling berhubungan melalui atom O. Pada struktur 3 dimensi yang digambarkan
pada Gambar 1, dapat dilihat bahwa empat ikatan tetravalent silikon adalah netral
sedangkan empat ikatan trivalen aluminium adalah negatif, sehingga dibutuhkan ion
bermuatan positif untuk menetralkan senyawa tersebut, seperti Na, yang diindikasikan
secara umum.

Zeolit mempunyai sifat dehidrasi (melepaskan molekul H2O) apabila dipanaskan.


Pada umumnya struktur kerangka zeolit akan menyusut. Tetapi kerangka dasarnya tidak
mengalami perubahan secara nyata. Molekul H2O seolah-olah mempunyai posisi yang
spesifik dan dapat dikeluarkan secara reversibel. Sifat zeolit sebagai adsorben dan
penyaring molekul, dimungkinkan karena struktur zeolit yang berongga, sehingga zeolit
mampu menyerap sejumlah besar molekul yang berukuran lebih kecil atau sesuai dengan
ukuran rongganya. Selain itu kristal zeolit yang telah terdehidrasi merupakan adsorben
yang selektif dan mempunyai efektivitas adsorpsi yang tinggi.
Sifat zeolit sebagai penukar ion karena adanya kation logam alkali dan alkali
tanah. Kation tersebut dapat bergerak bebas di dalam rongga dan dapat dipertukarkan
dengan kation logam lain dengan jumlah yang sama. Akibat struktur zeolit berongga,
anion atau molekul berukuran lebih kecil atau sama dengan rongga dapat masuk dan
terjebak. Zeolit sintetis adalah suatu senyawa kimia yang mempunyai sifat fisik dan
kimia yang sama dengan zeolit alam. Zeolit ini dibuat dari bahan lain dengan proses
sintesis. Zeolit sintetis dapat dibuat menggunakan tiga jenis bahan kimia yang
kegunaannya sama dengan zeolit alam, yaitu karbon aktif, silika gel, dan zeolit buatan.
BAB II

METODOLOGI

2.1. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kimia anorganik dalam
beberapa bidang industri, diantaranya :

Tabel 2.1. Alat Praktikum

Nama alat Ukuran Konsentrasi


Spatula - 1 buah
Kaca arloji - 1 buah
Neraca - 1 buah
Furnace - 1 buah
Gelas kimia 100 mL 1 buah
Gelas kimia 250 mL 1 buah
Hotplate - 1 buah
Batang pengaduk - 1 buah
Labu takar 250 mL 1 buah
Labu takar 500 mL 1 buah
Pipet tetes - 4 buah
Botol semprot 500 mL 1 buah
Alkohol meter - 1 buah
Tabung reaksi - 2 buah
Piknometer 25 mL 4 buah
Kaca arloji - 4 buah
kabel - Secukupnya
ampelas - secukupnya
spidol - 1 buah
paku - 1 buah
*note: @= masing-masing/ perbuah

Tabel 2.2. Bahan Praktikum

Nama Bahan Konsentrasi Jumlah


Padatan CaCO3 - 5 gram
HCl 0,25 M 8 mL
HCl 2M 100 mL
Indikator universal - Secukupnya
Uang koin - 1 buah
Baterai AAA 1,5 V - 6 buah
Kabel - 30 cm
Baterai bekas 1,5V - 1 buah
Spidol permanen - 1 buah
Kertas koran - Secukupnya
Karet gelang - 4 buah
Kapas - Secukupnya
Etanol 70% - 100mL
Zeolit alam - 20 gram
NiCl2.6H2O - 2 gram
Akuades - Secukupnya

2.2. Prosedur Kerja

2.2.1. Percobaan CaCO3

Ditimbang dua bagian masing-masing 25 gram. Bagian pertama dimasukan ke dalam


furnace pada suhu 850oC selama 2 jam. Kemudian dinginkan pada suhu ruang dan setelah
dingin ditimbang. Dari data yang didapat dihitung rendemennya.
Bagian kedua dilarutkan dengan larutan HCl 0,05 M sampai larut. Kemudian larutan
didiamkan pada suhu ruang hingga endapan mengumpul. Larutan diuapkan hingga airnya
hamper habis. Setelah itu, endapannya disaring dengan dilarutkan menggunakan akuades
terlebih dahulu. Lalu residu dioven pada suhu 105oC selama 1 jam. Kemudian padatan
didinginkan hingga suhu ruang, lalu ditimbang. Data hasil penimbangan padatan dapat
digunakan untuk menghitung rendemen.
2.2.2. Penyepuhan

Koin uang tembaga diamplas hingga terlihat lapisan tembaganya, lalu dihaluskan. Pada
bagian tepi koin dilubangi dengan paku lalu ditimbang. Setelah itu kabel yang sudah dikupas
kulitnya (tersisa bagian tembaganya) diikatkan pada lubang koin. Baterai bekas dikupas dan
diambil batang grafitnya. Lalu batang grafit diikat dengan kabel yang sudah dikupas
(pastikan agar grafit tidak lepas). Koin dihubungkan pada kutub negatif baterai dan grafit
pada kutub positif baterai. Kemudian, koin diberi nama dengan spidol permanen dan
keduanya dicelupkan ke dalam larutan NiCl2 lalu didiamkan selama 10 menit. Setelah 10
menit koin diangkat dan dicuci dengan akuades lalu dikeringkan. Bagian permukaan yang
terdapat nama atau tanda dibersihkan dengan kapas yang dicelupkan pada aseton. Lalu koin
ditimbang dan dihitung penambahan beratnya. Penambahan berat hasil percobaan
dibandingkan dengan penambahan berat teoritis yang didapat dari persamaan 𝑤 = e. i. t.
2.2.3. Bioetanol (zeolite)
Ditimbang dua bagian zeolit masing-masing 10 gram. Bagian pertama dilarutkan dengan
100 mL akuades dan diaduk dengan magnetic stirrer pada 700 rpm selama 2 jam. Setelah itu
disaring dan residunya dikeringkan dalam oven dengan suhu 105oC selama 1 jam. Setelah
kering residu ditambahkan dengan 50 mL etanol 70%. Kemudian diaduk kembali dengan
magnetic stirrer selama 3 jam dengan kecepatan 350 rpm. Setelah itu disaring dan filtratnya
ditimbang dengan piknometer. Lalu dihitung konsentrasinya.
Bagian B dilarutkan dengan 100 mL larutan HCl 2 M dan diaduk dengan magnetic stirrer
pada 700 rpm selama 20 menit. Setelah itu disaring dan residunya dilarutkan dengan 100 mL
akuades dan diaduk dengan magnetic stirrer pada 700 rpm selama 1,5 menit . Lalu larutan
tersebut disaring dan residunya dikeringkan dalam oven dengan suhu 105oC selama 1 jam.
Setelah kering residu ditambahkan dengan 50 mL etanol 70%. Kemudian diaduk kembali
dengan magnetic stirrer selama 3 jam dengan kecepatan 350 rpm. Setelah itu disaring dan
filtratnya ditimbang dengan piknometer. Lalu dihitung konsentrasinya.
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Pengamatan

3.1.1. Produksi Senyawa-senyawa


CaCO3 Padatan, serbuk, berwarna putih
Keadaan Awal
Larutan HCl Cair, tidak berwarna, berbau
CaCO3 ditimbang Massa : 2,5030 gram
Proses (Bagian 1) Dipanaskan pada suhu 180oC
Massa : 35,8346 gram
(1 jam)
Massa cawan kosong : 36,5443 gram
Massa cawan kosong dan
Massa cawan + sampel : 41,4798
massa sampel ditimbang
gram
Larutan berwarna putih, terdapat
+ HCl 8 mL
endapan
Dipanaskan dengan hot plate. Sampel kisat. Terdapat sedikit
Dinginkan endapan berwarna putih
Proses (Bagian 2) Massa kertas saring : 0,5176 gram
Disaring Filtrat (tidak berwarna), residu
(warna putih)
Dicek pH pH : 7 (netral)
Massa sampel setelah dipanaskan :
39,3154 gram
Dikeringkan
Sampel menjadi kering, berwarna
putih
3.1.2. Penyepuhan
Padat, berwarna kuning, terdapat
Koin
Keadaan awal cetakan angka dan gambar
Aseton Cair, berbau, tidak berwarna
Padat, berwarna kuning, cetakan
Diamplas
hilang
Massa koin setelah diamplas :
Ditimbang
4,0076 gram
Dirangkai seri 4 baterai disambungkan
Diubangi Terdapat lubang pada ujung koin
Massa koin setelah ditimbang :
Ditimbang
5,0077 gram
Koin disambungkan dengan kabel
Di ikat dengan kabel Kutub (-) : koin
Kutub (+) : grafit
Massa koin setelah diberi
Diberi identitas dengan spidol
Proses identitas : 5,0079 gram
Dicelupkan koin yang sudah
dirangkai kedalam larutan Timbul gas pada grafit dan koin
HCl
Permukaan koin berwarna
Didiamkan 10 menit kehitaman, dan tulisan pada koin
rusak
Terdapat noda hitam yang
Dibilas koin, dan dihapus menempel pada koin, tulisan pada
tulisan dengan aseton koin hanya membentuk sketsa
(tidak lagi berwarna hitam)
Massa koin setelah penyepuhan :
Ditimbang
5,0078 gram
3.1.3. Pemurnian Bioethanol
Padat, serbuk, berwarna hijau muda
Zeolit
(--)
Keadaan awal
Larutan HCl Cair, tidak berwarna, berbau
Larutan ethanol 70% Cair, tidak berwarna, berbau
Zeolit ditimbang Massa zeolit : 10,0017 gram
Dilarutkan dengan 100 mL HCl
Larutan hijau (-)
2M
Terdapat 2 fasa
Diaduk dengan magnetic stirrer
Filtrat : larutan hijau pudar
20 menit pada 700 rpm
Endapan : hijau
Endapan : hijau
Disaring Filtrat : tidak berwarna sedikit
keruh
Endapan dilarutkan dengan 100
Larutan hijau (---)
mL aquadest
Diaduk dengan magnetic stirrer Terdapat endapan hijau (-) dan
selama 1,5 jam larutan keruh
Endapan : Hijau (-) lebih halus
Proses
Disaring Filtrat : tidak berwarna, sedikit
keruh
Dicuci dengan 127 mL aquadest pH : 4
Endapan dipanaskan T 105oC (2 Padatan kering, berwarna hijau
jam) dan didinginkan T ruang pudar
Ditimbang Massa sampel : 3,0000 gram
Dilarutkan dengan 50 mL alkohol
Larutan hijau muda (----)
70%
Terbentuk 2 fasa :
Diaduk dengan magnetic stirrer Endapan (berwarna hijau sangat
selama 3 jam pada 350 rpm pudar)
Filtrat (berwarna putih keruh)
Disaring Filtrat tidak berwarna
Dihitung massa jenisnya

3.1.4. Pembuatan Larutan Standar


Keadaan awal Alkohol 70 % Cair, berbau, tidak berwarna
Dibuat konsentrasi 30,
Dilarutkan dengan aquadest
40, 50, 60, 70%
Pikno kosong : 16,4448 gram
Pikno + air : 42,0017 gram
Proses Pikno + alkohol 30 % : 41, 0068 gram
Dihitung massa jenisnya Pikno + alkohol 40 % : 40,6126 gram
Pikno + alkohol 50 % : 40,2381 gram
Pikno + alkohol 60 % : 39,7389 gram
Pikno + alkohol 70% : 39,2204 gram
3.2. Pembahasan
Pada percobaan ini berjudul kimia anorganik dalam beberapa bidang industri.
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan rendemen CaO dan CaCl2 dari CaCO3,
menganalisis prinsip penyepuhan pada koin logam, menentukan rendemen pada
percobaan penyepuhan koin logam, dan mengidentifikasi massa jenis zeolite yang
ditangani oleh HCl dan yang tidak ditangani oleh HCl. Percobaan pertama yaitu
produksi senyawa-senyawa dari CaCO3. Tahap pertama pada siklus ini ialah ketika
siklus kalsium karbonat mengalami dekomposisi termal menjadi kapur (CaO) dengan
hasil sampingan berupa gas karbondioksida (CO2). Hal ini dapat terlihat pada reaksi
dibawah ini :

CaCO3 → CaO + CO2

Lalu ketika hasil reaksi dekomposisi CaCO3 yaitu CaO masuk ke dalam air,
terjadi reaksi kimia terlihat dari kapur yang melarut pada air melalui reaksi formation in
water.

CaO + H2O → Ca(OH)2

Dalam reaksi diatas dapat terlihat kalsium oksida bereaksi dengan air membentuk
larutan basa kalsium hidroksida. Kalsium hidroksida mudah larut dalam air. Jika terjadi
pembuatan kalsium hidroksida terus menerus yang membuat konsentrasi dari larutan
tersebut naik dan akan terbentuk suspensi kalsium hidroksida. Dapat terlihat dari
kondisi yang mirip cairan susu (air kapur).

Gambar 3. 1 Pembentukan Senyawa –Senyawa dari CaCO3

Lalu larutan kalsium hidroksida mampu bereaksi dengan udara tepatnya dengan
karbondioksida yang kembali menghasilkan kalsium karbonat dengan hasil sampingan
air yang mudah dipisahkan. Persamaan reaksi yang terjadi yaitu :

Ca(OH)2 + CO2 → CaCO3 + H2O


Hal ini dapat ditandai larutan kapur yang mongering kembali. Bagian kedua, padatan
CaCO3 dilarutkan dengan pelarut HCl. Kemudian larutan didiamkan pada suhu ruang
hingga endapan mengumpul. Larutan diuapkan hingga airnya hamper habis. Setelah itu,
endapannya disaring dengan dilarutkan menggunakan akuades terlebih dahulu.

Adapun reaksi yang memungkinkan untuk terjadi

CaCO3 + 2HCl → CaCl2 + H2O + CO2

Reaksi ini berlangsung cukup cepat di permukaan tetapi lebih lambat di


pedalaman. Seperti kita ketahui kalsium karbonat sukar larut dalam air tetapi dapat
larut dalam asam klorida (HCl). Hasil dari reaksi tersebut terdapat kalsium klorida, air
dan gas karbondioksida. Rendemen CaCl2 yang didpat yaitu sebanyak 5,22 %.

Percobaan kedua yaitu percobaan penyepuhan logam. Pada katode disimpan


grafit, warna awal hitam dan pada anode disimpan koin warna awal logam tembaga
berwarna kuning keemasan. Setelah dilakukan penyepuhan grafit dilapisi tembaga
terlihat seperti terdapat endapan disekitar paku sedangkan logam tembaga setelah
penyepuhan perlahan-lahan melebur dan berwarna sedikit pucat. Terlihat dalam
percobaan ini grafit terlapisi oleh tembaga hal ini disebabkan pergerakan ion Cu2+ yang
tereduksi di katode, yang membentuk Cu (s) pada katode yang melapisi grafit,
sebagaimana reaksi yang terjadi secara teoritas pada katode.

Cu2+ (aq) + 2e- → Cu(s)

Gambar 3.2. Percobaan Penyepuhan Logam

Pada anode terlihat logam Cu meluruh atau melebur hal ini karena Cu logam inert
yang dapat teroksidasi menjadi ion Cu2+ yang akan tereduksi menjadi logam Cu yang
akan melapisi grafit. Sebagaimana reaksi berikut :

Cu(s) → Cu2+ (aq) + 2e-


Percobaan ketiga yaitu percobaan pemurnian bioethanol. Proses adsorbsi adalah
suatu proses pemisahan dimana komponen dari suatu fase fluida berpindah ke
permukaan zat padat yang menyerap (adsorbent). Etanol yang digunakan sebagai
umpan yaitu etanol dengan kadar 70%. Perlakuan awalnya, zeolite dibagi menjadi dua
bagian lalu ditimbang masing-masing 10 gram. Bagian pertama dilarutkan dengan
akuades dan diaduk dengan magnetic stirrer yang bertujuan agar sampel zeolite larut.
Kemudian larutan disaring untuk diambil residunya yang kemudian dikeringkan dalam
oven dengan suhu 105oC selama 1 jam. Setelah itu, residu ditambahkan dengan 50 mL
etanol 70%. Kemudian diaduk kembali dengan magnetic stirrer selama 3 jam dengan
kecepatan 350 rpm. Lama waktu pengadukan memiliki pengaruh terhadap jumlah
etanol yang dapat diserap oleh adsorbent. Semakin lama waktu pengadukan, maka
semakin banyak etanol dan air yang dijerap. Hal ini karena waktu kontak antara larutan
dan adsorbent semakin lama, sehingga proses transfer massa etanol ke dalam adsorbent
juga semakin bertambah banyak karena semakin lama waktu adsorbsi dan semakin
kecil ukuran adsorbent,` jumlah etanol yang terserap juga semakin banyak Setelah itu
disaring dan filtratnya ditimbang dengan piknometer, didapatkan massa jenisnya
sebesar 0,8860 g/mL.

Gambar 3.3. Percobaan Pemurnian Bioetanol

Untuk bagian B dilarutkan dengan larutan HCl 2 M dan diaduk dengan magnetic
stirrer pada 700 rpm. Perbedaan pelarut dilakukan untuk membandingkan dengan
perlakuan pertama. Larutan ini kemudian disaring dan residunya dilarutkan dengan
akuades dan diaduk kembali dengan magnetic stirrer pada 700 rpm. Selanjutnya
larutan disaring dan residunya dikeringkan dalam oven dengan suhu 105oC. Tujuannya
untuk membebaskan sampel dari kandungan air. Setelah kering residu ditambahkan
dengan 50 mL etanol 70%. Kemudian diaduk kembali dengan magnetic stirrer selama
3 jam dengan kecepatan 350 rpm. Setelah itu disaring dan filtratnya ditimbang dengan
piknometer. Didapatkan massa jenisnya sebesar 0,9030 g/mL.
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum kimia anorganik dalam beberapa bidang industri, dapat
disimpulkan bahwa :

1. Besar rendemen CaO dan CaCl2 dari CaCO3 secara berturut-turut adalah 0,05% dan
5,22%.
2. Prinsip dari penyepuhan pada koin logam (electroplanting) dimaksudkan untuk
melindungi logam terhadap korosi atau untuk memperbaiki penampilan. Pada
penyepuhan, logam yang akan disepuh dijadikan katoda sedangkan logam penyepuhnya
sebagai anoda. Kedua elektrode itu dicelupkan dalam larutan garam dari logam
penyepuh.
3. Rendemen pada percobaan penyepuhan koin logam hasil percobaan yaitu 6,44%.
4. Massa jenis zeolite yang ditangani oleh HCl adalah 0,8860 g/mL sedangkan yang tidak
ditangani oleh HCl sebesar 0,9030 g/mL.
DAFTAR PUSTAKA

Adebajoa.O.M., Mervyn,A., Long and Ray,L.F.2014. Spectroscopic and XRD Characterisation


of Zeolite Catalysts Active for the Oxidative ethylation of Benzene with
Methane.SCIENCEDIRECT.VOL I (1-12).
Astiana. S. 1993. Perilaku Mineral Zeolit dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Tanah.
Disertasi. Program Pasca Sarjana IPB, Bogor.
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar. Jakarta. Erlangga.
Erdem, E, N. Karapinar, R. Donat, 2004, The removal of heavy metal cations by natural
zeolites, Journal of Colloid and Interface Science 280 (2004) Elsevier, hal 309–
314.
Ivanky, Khair, Rizki Tri Wahyudi. 2012. Pembuatan urea Pelepasan Terkendali Melalui
Pelapisan Dengan Amilum Menggunakan Teknologi Fluidized Bed Spray.
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri. Vol.1, No.1. Hal. 64-68.
Las, T., Zamroni, H., Nop. 2002,“Penggunaan Zeolit dalam Bidang Industri dan Lingkungan”,
Jurnal Zeolit Indonesia, Vol , No.1, hal 23-26.
Lestari,D.W.2010. Kajian modifikasi dan karakterisasi zeolit alam dari berbagai Negara. ISBN.
VOL I (1-8).
Majid,A.B., Wega,T.Y.P., Erna F., Syafitri H dan Again,N.2012. Karakterisasi dan Uji
Aktivitas Katalitik Zeolit Alam Indonesia pada Hidrorengkah Ban Bekas
dengan Preparasi Sederhana. ISBN.Vol I(1-10).
Mukhtasor.2009. Peran Dewan Energi Nasional dalam Memecahkan Masalah Krisis Energi di
Indonesia.Renewable Energy and Sustainable development in Indonesia.
Seminar Workshop Pameran Teknologi Industri. ITS.
Pasaribu, K.A., 2011, Efek Komposisi Zeolit-Serbuk Kayu dan Suhu Sintering Terhadap
Karakteristik Dalam Pembuatan Keramik Berpori Dengan Menggunakan PVA
Sebagai Perekat, Resipository Universitas Sumatera Utara, Medan.
Petrucci, Ralph. 1990. Prinsip dan TerapanModern. Erlangga. Jakarta.
Prasetyoko, D., (2005), Sintesis & Karakterisasi ZSM-5 Mesopori serta Uji Aktivitas Katalitik
pada Reaksi Esterifikasi Asam Lemak Stearin Kelapa Sawit, Skripsi. Jurusan
Kimia FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Saputra, R. 2006. “Pemanfaatan Zeolit Sintetis Sebagai alternative Pengolahan Limbah
Industri”. Bandung : ITB.
Sutarti, D.Y., 2011, Kajian modifikasi dan karakterisasi zeolit alam dari berbagai negara,
prosiding seminar nasional Kimia dan Pendidikan Kimia 2010. Universitas
Negeri Yogyakarta.
Tisdale, S. L., W. L. Nelson and Beaton. 1985. Soil Fertility and Fertilizers. 4rd ed. The Mac
Millan PubL. Co. New York.
Tosheva, L. dan Valtchev, V. 2005. “Silicate-1 Crystallization on Glass Fiber”. Microporous
and Mesoporous Materials 81, 11-18.
LAMPIRAN

1. Pembuatan larutan
a. Larutan HCl 2 M 250 mL
10.%.𝜌 10.36.1.18
M= = = 11.6384 M
𝑀𝑟 36.5

M1V1 = M2V2
11.638 M. V1 = 2 M. 250 ml
2 𝑀250 𝑚𝑙
V1 = 11.6384 𝑀 = 42.9612 ml

b. Larutan HCl 0.05 M 250 mL


M1V1 = M2V2
11.638 M. V1 = 0.05 M. 250 ml
0.05 𝑀250 𝑚𝑙
V1 = = 0.3425 ml
11.6384 𝑀

c. Larutan HCl 0.12 M 500 mL


M1V1 = M2V2
11.638 M. V1 = 0.12 M. 500 ml
0.12 𝑀500 𝑚𝑙
V1 = = 5.1553 ml
11.6384 𝑀

2. Pembuatan larutan standar alkohol


a. Larutan alkohol 30%
M1V1 = M2V2
70%. V1 = 30%. 30 ml
30% 30 𝑚𝑙
V1 = = 12.85 ml
70%

b. Larutan alkohol 40%


M1V1 = M2V2
70%. V1 = 40%. 30 ml
40% 30 𝑚𝑙
V1 = = 17.14 ml
70%

c. Larutan alkohol 50%


M1V1 = M2V2
70%. V1 = 50%. 30 ml
50% 30 𝑚𝑙
V1 = = 21.42 ml
70%

d. Larutan alkohol 60%


M1V1 = M2V2
70%. V1 = 60%. 30 ml
60% 30 𝑚𝑙
V1 = = 25.71 ml
70%

e. Larutan alkohol 70%


M1V1 = M2V2
70%. V1 = 70% 30 ml
70% 30 𝑚𝑙
V1 = = 30 ml
70%

3. Eksperimen CaCO3
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
% Rendemen = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑤𝑎𝑙

 Bagian 1

35,8331 𝑔−35,8346 𝑔
% Rendemen = × 100% = 0,05 %
35,8331 𝑔

 Bagian 2

41,43909 𝑔−39,3154 𝑔
% Rendemen = 41,43909 𝑔
× 100% = 5,22 %

4. Eksperimen penyepuhan logam


V=it
𝑉 9𝑉
i = 𝑡 = 600 𝑠 = 0.015 A

a. Massa teoritis
𝑒𝑖𝑡 𝐴𝑟 𝐶𝑢 𝑖𝑡
w = 96500 = × 96500
𝑛 𝐶𝑢
63,346
5,0077 (0,0125)(600)
= ×
63,346 96500

= 1,5510 gram
b. Massa percobaan
Massa percobaan = massa akhir-massa awal
= 5,0078 g – 5,0077 g = 0,0001 gram
c. % Rendemen
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
% Rendemen = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
0.0001 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 1,55 × 10−3 gram × 100%

= 6.44 %

5. Pemurnian bioetanol dengan zeolite


(𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟+𝑎𝑘𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠)−(𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)
a. Volume piknometer = 𝜌 𝑎𝑖𝑟
42,0017 𝑔𝑟𝑎𝑚−16,4448 𝑔𝑟𝑎𝑚
Volume piknometer = = 25,6466 mL
0,9964 𝑚𝐿

(𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟+𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛)−(𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)


b. 𝜌 larutan standar = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
41.0068 𝑔𝑟𝑎𝑚−16.4448 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝜌 larutan alkohol 30% = 25.6466 𝑚𝐿

= 0.9577 g/mL
40.6126 𝑔𝑟𝑎𝑚−16.4448 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝜌 larutan alkohol 40% = 25.6466 𝑚𝐿

= 0.9423 g/mL
40.2381 𝑔𝑟𝑎𝑚−16.4448 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝜌 larutan alkohol 50% = 25.6466 𝑚𝐿

= 0.9277 g/mL
39.7389 𝑔𝑟𝑎𝑚−16.4448 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝜌 larutan alkohol 60% = 25.6466 𝑚𝐿

= 0.9083 g/mL
39.2204 𝑔𝑟𝑎𝑚−16.4448 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝜌 larutan alkohol 70% = 25.6466 𝑚𝐿

= 0.8881 g/mL

Grafik Hubungan Antara Massa jenis (𝜌) dengan


Kadar Etanol(%)
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 (𝜌)𝑔/𝑚𝐿

0.97
0.96
y = -0.0017x + 1.015
0.95 R² = 0.9945
0.94
0.93
0.92
0.91
0.9
0.89
0.88
0 10 20 30 40 50 60 70 80
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 (%)
(𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟+𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛)−(𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)
c. 𝜌 zeolite yang ditangani = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
(39,1668 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(16,4448 𝑔𝑟𝑎𝑚)
= = 0,8860 g/mL
25,6467 𝑚𝐿

(𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟+𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛)−(𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)


d. 𝜌 larutan yang tidak ditangani = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
(39,3203 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(16,7232 𝑔𝑟𝑎𝑚)
= = 0,9030 g/mL
25,0232 𝑚𝐿

e. Menentukan Konsentrasi Zeolit


 Zeolit yang ditangani
y = mx + c
0,8860 = -0,0017x + 1,015
-0,129 = -0,0017x
x = 79,88
 Zeolit tidak ditangani
y = p zeolite = 0,9030 g/mL

6. Dokumentasi

Eksperimen Pembuatan Senyawa Kapur


Percobaan Penyepuhan

Percobaan Zeolit