Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Profesi akuntan mempunyai peran besar dalam sistem tata kelola perusahaan
secara nasional. Peran tersebut terutama tertumpu pada laporan keuangan historis
(selanjutnya disebut laporan keuangan) yang menjadi salah satu produk utama
dari akuntansi. Salah satu informasi tentang laba, dividen, dan arus kas. Dalam
analisis ekonomi maupun keuangan, informasi ini dapat digunakan untuk
memprediksikan nilai fundamental perusahaan (Malkiel, 1990: 28).

Nilai fundamental perusahaan merupakan basis utama, diantara basis-basis


informasi yang lain, dalam pembentukan harga atau nilai wajar saham di pasar.
Syarat utama agar suatu informasi keuangan dapat digunakan dalam pengambilan
keputusan di pasar adalah bahwa informasi tersebut harus relevan dan jujur
(IASB, 2010). Suatu informasi dianggap menyatakan kejujuran jika lengkap,
netral, dan bebas dari salah saji material. Manipulasi laporan keuangan, pada
umumnya, berkaitan dengan pelaporan laba yang tidak benar.

Informasi yang terdapat dalam laporan keuangan dan informasi-informasi


keuangan lainnya yang dihasilkan oleh akuntansi dapat mengurangi unsur ketidak
pastian dan dapat meningkatkan akurasi suatu estimasi (Nicholson, 1998: 243).
Informasi keuangan yang relevan dan jujur dapat mengurangi kondisi asimetri
informasi. Stiglizt (2010: 14) menyebutkan bahwa informasi yang tidak sempurna
(kata lain dari asimetri informasi) merupakan bagian dari masalah keagenan yang
menjadi penyebab kegagalan pasar.

Dalam kaitannya dengan laporan keuangan, pihak yang terlibat sebelum


laporan tersebut disampaikan kepada pengguna (pemegang saham, stakeholder
lain, pihak otoritas, atau publik). Ketiga pihak tersebut adalah pihak penyusun
(preparer), penanggung jawab (responsible party) dan pemberi asurans (assurance
provider), pihak ini berperan besar dalam menghasilkan laporan keuangan yang
relevan dan jujur.

1
Penanggung jawab laporan keuangan adalah direksi/dewan komisaris yang
tidak harus seorang akuntan. Penyusun laporan keuangan jugas tidak diharuskan
seorang akuntan. Namun, kualitas laporan keuangan akan lebih baik apabila
penanggung jawab dan penyusun laporan keuangan adalah orang yang
memahamai dengan baik teknik, proses, dan konsep dasar pelaporan keuangan.

Laporan keuangan harus dapat, secara berkualitas, menunjukkan hubungan


fidusia yang efektif antara pemegang saham (pengguna), direksi/dewan komisaris,
dan pemberi asurans. Oleh karena itu, perangkat-perangkat yang diperlukan oleh
penyusun, penanggung jawab, dan pemberi asurans laporan keuangan perlu
disediakan agar mereka dapat bekerja dengan baik dan efektif.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan profesi dan akuntansi?
2. Apa fungsi dari asersi dan asurans?
3. Bagaimana peran laporan keuangan di pasar modal?
4. Apakah yang dimaksud dengan hubungan fidusia?

5. Bagaimana etika profesi untuk seorang akuntan

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui arti profesi dan akuntansi
2. Agar dapat megetahui fungsi dari asersi dan asurans
3. Untuk dapat memahami peran laporan keuangan di pasar modal
4. Untuk mengetahui maksud dari hubungan fidusia
5. Untuk mengetahui etika profesi seorang akuntan

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. FUNGSI AKUNTANSI

Salah satu profesi penting yang terlibat dalam penerapan sistem tata kelola
perusahaan yang baik (good corporate governance) adalah profesi akuntan.
Terdapat tiga pihak yang mempunyai peran utama dalam profesi ini. Pertama
adalah akuntan publik, kedua akuntan manajemen, dan ketiga organisasi profesi
akuntan yang bertindak sebagai penentu standar (standard setter) di bidang
akuntansi.
Akuntan manajemen adalah akuntan yang bekerja untuk sebuah perusahaan.
Akuntan publik adalah akuntan independen yang bekerja secara mandiri dengan
mendirikan Kantor Akuntan Publik (KAP).

Laporan keuangan merupakan jantung pertanggungjawaban kepada


stakeholder dari direksi terkait kepengurusan dan dewan komisaris mengenal
pengawasan. Laporan keuangan juga digunakan oleh investor dan kreditur dalam
pengambilan keputusan mereka. Pembuka tersebut tidak bermaksud mengecilkan
peran akuntan manajemen dalam penyediaan informasi kepada pihak internal
perusahaan dan jasa-jasa lain yang dapat diberikan oleh akuntan publik atau
akuntan beregister negara yang mendirikan KJA.

B. DEFINISI PROFESI
Ronald Duska dkk. (2011: 69) dengan menyitir The Commissipn On
Standards Of Education And Experience For Certified Publik Accountants,
menyebutkan 7 (tujuh) karakteristik profesi. Komisi tersebut menyatakan bahwa
untuk dapat dinyatakan sebagai suatu profesi, bidang pekerjaan yang
bersangkutan harus memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Adanya cabang ilmu pengetahuan khusus(specialized body of knowledge)
yang menaungi bidang pekerjaan yang bersangkutan.
2. Adanya proses pendidikan formal yang diakui (recognized formal
education process) untuk memperoleh ilmu pengetahuan khusus tersebut.

3
3. Keanggotaan mensyaratkan dipenuhinya standar kualifikasi profesional
(professional qualification standard).
4. Adanya standar perilaku (standard of conduct) atau kode etik yang
mengatur hubungan antara praktisi dan klien, teman sejawat, dan
masyarakat.
5. Adanya pengakuan status (status recognition ).
6. Adanya penerimaan terhadap tanggung jawab sosial (social
responsibility) yang melekat dalam bidang pekerjaan yang berkaitan
dengan kepentingan publik.
7. Adanya organisasi yang khusus menangani pengembangan kewajiban
sosial kelompok (organization).

Di indonesia, akuntan sebagai profesi ditegaskan melalui Undang-Undang


Nomor 34 Tahun 1945 tentang Pemakaian Gelar Akuntan (UUGA) dan Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik (UUAP).

Salah satu syarat untuk memperoleh register negara adalah bahwa yang
bersangkutan telah lulus pendidikan profesi akuntansi atau lulus ujian sertifikasi
akuntan profesional yang diselenggarakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Untuk
akuntan publik yan bersangkutan harus lulus ujian profesi akuntan publik yang
dilaksanakan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Dengan ketentuan ini, syarat
yang tercantum dalam butir (1), (2), dan (3) telah terpenuhi.

Standar perilaku seperti tercermin dalam syarat nomor (4) terpenuhi dengan
diadopsinya kode etik akuntan yang dikeluarkan oleh committee on code of
conduct dari international federation of accountant (IFAC). Kewajiban bagi
akuntan untuk mematuhi kode etik (etika profesi) ditegaskan dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 25/PMK.01/2014 tentang Akuntan Beregister Negara
dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan
Publik. Kode etik (etika profesi) ditetapkan oleh asosiasi profesi yang
bersangkutan.

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No 263 / KMK.01/ 2004


menyatakan bahwa pemerintah telah menetapkan Ikatan Akuntansi Indonesia
sebagai asosiasi profesi akuntan. Sementara itu, dengan keputusan menteri yang

4
sama dengan No 443 / KMK.02/ 2011 Institut Akuntan Publik Indonesia telah
ditetapkan sebagai asosiasi profesi akuntan publik.

Dalam keputusan tersebut, pemerintah memberi kewenangan tertentu kepada


mereka, terutama yang berkaitan dengan hal-hal berikut.
1. Penetapan kode etik dan standar profesi.
2. Pelaksanaan ujian profesi.
3. Penyelenggaraan pendidikan profesional berkelanjutan.
4. Penegakan displin untuk anggota.
5. Pengendalian mutu.

Profesi Diregulasi
Akuntan adalah suatu profesi yang sangat diregulasi. Hal ini tidak terlepas
dari peran penting mereka di pasar keuangan, terutama pasar modal. Mekanisme
di pasar ini sangat mengandalkan informasi keuangan yang dihasilkan oleh profesi
tersebut. Informasi keuangan memengaruhi pembentukan harga atau nilai di pasar.
Namun, tidak dapat dipungkiri adanya faktor lain yang juga ikut menentukan
harga atau nilai tersebut.

Harga merupakan penentuan dari keseimbangan penawaran (supply) dan


penerimaan (demand). Kepentingan utama pasar adalah efisiensi pasar ini. Jadi,
peran penting yang diharapkan dari profesi akuntan adalah ikut menjaga efisiensi
pasar ini. Efisiensi pasar merupakan perhatian besar dari masyarakat. Oleh karena
itu, pemerintah turun tangan melalui regulasi. Skandal akuntansi yang sering
terjadi memicu adanya regulasi tersebut.

C. PENGERTIAN AKUNTANSI
Duska dkk. (2011: 10) menjelaskan tentang sifat (nature) dari akuntansi
(accounting). Menurut Duska dkk., akuntansi adalah teknik (technique) yang
dikembangkan untuk membantu orang atau organisasi dalam memonitor transaksi
ekonominya. Akuntansi menyediakan informasi mengenai transaksi atau kejadian
ekonomi, bersifat keuangan, yang mereka lakukan. Dalam praktiknya, akuntansi
merupakan seni (art) atau keahlian (craft).
Sebagai sebuah teknik, akuntansi dalam menghasilkan informasi harus
mengikuti cara-cara tertentu yang dapat diterima oleh penggunanya. Cara-cara itu,

5
tidak hanya yang berkaitan dengan urut-urutan langkah ( prosedur), tetapi juga
meliputi istilah yang dipakai, konsep-konsep yang mendasari istilah tersebut, dan
pengakuan, pengukuran, penilaian, penyajian, dan pengungkapannya.
Konsep tentang pengertian (definisi), pengukuran, penilaian, penyajian, dan
pengungkapan yang digunakan dalam akuntansi dituangkan ke dalam Kerangka
Konseptual Pelaporan Keuangan (Conceptual Framework for Financial
Reporting) yang kemudian dijabarkan dalam standar akuntansi (accounting
standard). Umumnya, kerangka pelaporan keuangan dan standar akuntansi
dikeluarkan oleh organisasi profesi akuntansi di negara yang bersangkutan.

Akuntansi juga dipandang sebagai seni atau keahlian. Kata keahlian


barangkali lebih tepat daripada seni. Alasannya, walaupun dalam akuntansi masih
memerlukan pertimbangan yang bersifat subjektif, tetapi pertimbangan tersebut
tetap harus didasarkan pada kaidah-kaidah profesionalisme. Kata “seni” dapat
diinterprestasikan sebagai kreativitas tanpa batas.

D. FUNGSI ASERSI DAN ASURANS


Dalam kaitannya dengan system tata kelola perusahaan, produk akuntansi
utama yang berkontribusi adalah laporan keuangan. Produk ini dapat dilihat dari
dua sudut pandang. Laporan keuangan merupakan salah satu bentuk
pertanggungjawaban penting atas kepengurusan yang dilakukan direksi dan
pengawasan oleh dewan komisaris. Direksi, yang diwakili oleh direktur utama dan
direktur keuangan, adalah penyedia (provider) laporan keuangan. Laporan
keuangan memuat asersi (pernyataan) atas apa yang dilaporkan. Penyedia laporan
keuangan sekaligus merupakan penanggung jawab (responsible party) laporan
keuangan tersebut.

Akuntan dapat berperan penting membantu direksi dalam menyusun laporan


keuangan. Dalam hal ini, akuntan bertindak sebagai penyusun laporan keuangan
(preparer). Tanggung jawab (responsibility) kepada pihak luar atas laporan
keuangan tetap berada di tangan direksi. Jika seorang akuntan menjabat sebagai
direktur utama atau direktur keuangan, ia tidak lagi penyusun laporan keuangan.

6
Ia adalah penyedia laporan tersebut. Akuntan sebagai penyusun laporan keuangan
merupakan karyawan (employee accountant). Mereka bertugas membantu direksi
untuk memastikan bahwa laporan keuangan telah sesuai dengan asersi-asersi yang
dibuat direks. Untuk selanjutnya, akuntan yang bertugas membantu direksi
(manajemen) dalam penyusunan laporan keuangan disebut dengan akuntan
manajemen.

Di sisi lain, melalui sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP), seorang akuntan
dapat bertindak sebagai auditor atas laporan keuangan historis. Dalam hal
demikian, ia bertindak sebagai pemberi asurans terhadap laporan keuangan
tersebut. Pemberian asurans direfleksikan dalam laporan audit yang dikeluarkan
oleh KAP dan ditandatangani oleh akuntan yang bertindak sebagai partner
penanggung jawab atas penugasan. Laporan audit memuat pendapat (opinion)
akuntan atas laporan keuangan yang disajikan. Akuntan public adalah seorang
praktisi (practitioner).

Partner yang menandatangani laporan audit dan tim yang melakukan


penugasan pertanggung jawab (responsible) kepada pihak luar atas pendapat yang
ia berikan. Untuk selanjutnya, akuntan yang bekerja di Kantor Akuntan Publik
dalam tugasnya sebagai pemberi asurans terhadap laporan keuangan disebut
akuntan publik.

Dalam kaitannya dengan laopran keuangan, akuntan manajemen atau akuntan


beregister negara yang mendirikan KJA yang bertindak sebagai penyusun
(preparer) laporan keuangan dan akuntan publik yang memberikan jasa pemberi
keyakinan (assurance provider) secara independen pada dasranya mempunyai
kepentingan yang sama. Kepentingan itu adalah menyediakan, kepada publik,
laporan keuangan (sebagai bagian utama dari pelaporan keuangan) yang bebas
dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kesalahan (error) maupun
kecurangan (omission).

E. PERAN PESAR
Pasar modal (kuangan) merupakan tempat bertemunya pembeli dan penjual
produk-produk (kuangan) berupa surat-surat berharga (misalnya, saham). Pembeli

7
dalam hal ini adalah para investor sebagai penyedia modal (capital provider).
Penjual adalah direksi dan dewan komisaris yang mewakili perusahaan sebagai
pengurus dan pengawas. Pada dasarnya, objek yang dijual adalah perusahaan yang
direpresentasikan dalam bentuk saham.

Faktor yang menentukan pembeli dalam memutuskan untuk melakukan


investasi atau tidak adalah kinerja dan prospek perusahaan. Kinerja dan prospek
perusahaan dihasilkan oleh direksi dan diawasi oleh dewan komisaris. Informasi
utama mengenai kenerja dan prospek perusahaan tercantum dalam laopran
keuangn.

Di pasar modal, pengetahuan investor tentang objek transaksi, secara fisisk,


sangat terbatas. Oleh karena itu, mereka mengandalkan pada informasi (laporan
keuangan) yang tersedia sebagai dasar pengambilan keputusan. Investor
merupakan pengguna laporan keuangan (user). Syarat yang harus dipenuhi adalah
bahwa informasi yang tersedia itu harus cukup dari segi kuantitas dan tepat dari
segi kualitas. Termasuk dalam syarat “tepat”, yaitu imformasi yang bersangkutan
harus relevan dan mengungkapkan kejujuran (andal). Informasi yang disediakan
harus dapat mengomunikasikan kinerja dan prospek perusahaan secara cukup dan
tepat. Sekali lagi, perlu dicatat bahwa laporan keuangan bukan merupakan satu-
satunya informasi yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan di pasar
keuangan.

Dalam sistem ekonomi pasar, suatu transaksi akan terjadi jika kedua belah
pihak (pembeli dan penjual) memperoleh manfaat. Dari sudut panjual, manfaat
yang diperoleh berupa dana masuk ke perusahaan yang dapat digunakan untuk
kegiatan usaha. Investor, sebagai pembeli, mengharapkan manfaat berupa
peningkatan kesejahteraan. Peningkatan kesejahteraan harus diartikan sebagai
akibat dari peningkatan nilai fundamental perusahaan. Peningkatan ini berasal dari
kinerja perusahaan. Sekali lagi, perlu dicatat bahwa harapan investor tentang
peningkatan kesejahteraan, tidak hanya berasal dari kenaikan nilai fundamental
perusahaan

8
Jika dilihat dari sudut pandang investor, konsekuensi dari keputusan investasi
(dalam saham) yang mereka lakukan adalah diperolehnya hak kepemilikan atas
perusahaan. Kewenangan yang dimiliki sebagai pemilik adalah mengangkat
direksi dan dewan komisaris untuk mengurusi dan mengawasi jalannya
perusahaan. Keputusan ini tergantung pada hasil pertanggungjawaban direksi dan
dewan komisaris di mata pemegang saham.

Sebagai produk utama akuntansi, laporan keuangan merupakan bentuk


pertanggungjawaban direksi dan dewan komisaris. Laporan ini dapat digunakan
untuk menilai kinerja direksi melalui analisis terhadap kuat-tidaknya posisi
keuangan dan bagus tidaknya hasil usaha perusahaan. Dari evaluasi tersebut,
dapat diambil keputusan untuk mempertahankan atau melepas direksi atau dewan
komisaris. Selain sebagai pertanggungjawaban, laporan keuanga juga dapat
digunakan oleh investor atau kreditur untuk memutuskan perlu tidaknya menahan,
menjual, dan membeli surat-surat berharga (saham) yang dimilikinya.

F. HUBUNGAN FIDUSIA
Kepentingan akuntan sebagai penyusun (atas limpahan wewenang direksi)
dan akuntan sebagai pemberi asurans laporan keuangan, pada hakikatnya, sama
saja. Mereka menghendaki agar laporan keuangan yang disajikan kepada publik
telah bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kesalahan maupun
kecurangan. Selain itu, mereka ingin memastikan bahwa laporan keuangan telah
mengikuti kerangka pelaporan keuangan dan standar akuntansi yang berlaku.
Namun, tidak jarang terjadi bahwa, dalam kaitannya dengan kewajiban fidusia
kepada public, keduanya mempunya kepentingan yang berbeda.

Hubungan antara akuntan dengan masyarakat (publik) merupakan hubungan


fidusia. Hubungan ini mengakibatkan timbulnya kewajiban fidusia. Bagi akuntan
manajemen sebagai penyusun laporan keuangan kewajiban fidusia tersebut
muncul karena hubungan fidusia yang disandang oleh direksi dan dewan
komisaris. Hubungan fidusia antara akuntan publik sebagai pemberi asurans
dengan masyarakat (publik) terjalin secara langsung. Tanggung jawab akuntan

9
publik memang kepada publik, walaupun tanggung jawab kontraknya kepada
direksi.

Hubungan fidusia mengakibatkan akuntan mempunyai tanggung jawab


(sosial) untuk memenuhi kepenting publik. Di pasar modal, yang dimaksud
dengan publik adalah pihak yang menyediakan modal, baik sebagai investor
ekuitas maupun sebagai investor utang (kreditur). Selain pihak yang menyediakan
modal, publik yang harus dilayani oleh akuntan diperluas ke semua pihak lain
yang berkepentingan terhadap perusahaan (stakeholder lain).

Penunjukan akuntan publik oleh pemegang saham untuk mengaudit laporan


keuangan historis merupakan hubungan fidusia. Penunjukkan didasarkan atas
kepercayaan. Secara teknis, pemegang saham tidak mampu dan tidak mungkin
mengarahkan atau mengawasi secara langsung kualitas pekerjaan akuntan publik.
Penunjukan tersebut hanya didasarakan atas kepercayaan bahwa akuntan publik
yang bersangkutan akan bekerja dengan baik dalam memenuhi kepentingan
mereka. Sebaliknya, akuntan publik mempunyai kewajiban fidusia untuk bekerja
sebaik mungkin demi kepentingan pemberi tugas fidusia.

Hubungan fidusia dapat digambarkan secara gamblang dengan menggunakan


contoh hubungan antara dokter dan pasien. Untuk menangani penyakitnya, pasien
menunjuk dokter atas dasar kepercayaan bahwa dokter tersebut akan bertindak
sebaik mungkin demi kepentingan pasien untuk menyembuhkannya. Pasien tidak
mungkin dan tidak mampu untuk menilai cara kerja dokter dalam mendiagnosis,
menyimpulkan, dan memberi pengobatan atau tindakan. Sebaliknya, sebagai
pihak yang dipercaya dan diberi amanah, dokter akan berusaha sesuai dengan
keahliannya dan sumpahnya untuk mengobati penyakit pasien.

Hal yang sama berlaku untuk pengangkatan direksi dan komisaris. Pemegang
saham dan para stakeholder yang lain tidak mungkin dan tidak mampu untuk
mengarahkan atau mengawasi pekerjaan direksi atau dewan komisaris secara
langsung. Pengangkatan hanya didasari atas kepercayaan bahwa direksi atau
dewan komisaris akan berbuat atau bertindak demi kepentingan perusahaan.
Sebaliknya, direksi atau dewan komisaris membuat kebijakan yang tepat, dengan

10
iktikad baik, penuh kehati-hatian, dan tanggung jawab. Hal tersebut dilakukan
demi kepenttingan, maksud, dan tujuan perusahaan, termasuk dalam hal
penyediaan laporan keuangan.

Akuntan manajemen, sebagai penyusun laporan keuangan, membantu direksi


atau dewan komisaris melaksanakan kewajiban fidusia tersebut. Oleh karena itu,
akuntan manajemen tidak mempunyai hubungan fidusia secara langsung dengan
pemegang saham dan stakeholder lain. Akuntan manajemen juga tidak
mempunyai hubungan fidusia dengan direksi atau dewan komisaris karena pihak
yang terakhir ini dapat melakukan pengarahan dan pengawasan langsung terhadap
pekerja akuntan manajemen.

Hubungan fidusia antara akuntan publik, direksi, atau dewan komisaris


dengan pemegang saham dan stakeholder lain didasarkan atas kepercayaan dari
pemberi tugas fidusia. Kepercayaan bahwa akuntan publik, direksi, atau dewan
komisaris akan melaksanakan kewajiban fidusianya dengan baik. Kepastian
bahwa tugas fidusia akan dilaksanakan dengan baik dimanifestasikan ke dalam
dua hal, yakni standar prilaku (standard of conduct) dan standar performa
(standard of performance) yang harus dipatuhi oleh penerima tugas fidusia.
Umumnya, standar prilaku dijabarkan dalam kode etik. Standar prilaku tersebut
memberikan pedoman bagi anggota organisasi yang bersngkutan dalam berprilaku
di masyarakat terutama masyarakat yang mereka layani.

Standar performa memberikan pedoman tentang cara-cara pelakasanaan


pekerjaan yang ditugaskan. Akuntan publik di Indonesia tunduk pada kode etik
akuntan publik sebagai standar perilaku dan international auditing standards (ISA)
sebagai standar performa. Peraturan OJK Nomor 33 Tahun 2014 mangharuskan
direksi dan dewan komisaris untuk menyusun kode etik yang merupakan standar
perilaku dan pedoman kerja sebagai standar performa bagi mereka. Akuntan
manajemen tunduk pada kode etik yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia dan kode etik yang dikeluarkan perusahaan. Standar prilaku dan standar
performa merupakan kriteria (criteria) dalam penyusunan dan pengauditan
laporan keuangan.

11
G. ETIKA PROFESI
Kode etik yang diterapkan untuk profesi akuntan (juga untuk profesi lain
bisnis) sebaiknya mengacu pada paham-paham filosofis tentang etika yang lazim
diakui secara universal. Paham-paham seperti utilitarianisme, deontologisme, dan
virtuisme perlu digunakan sebagai acuan dalam pengembangan kode etik.

Utilitarianisme
Pencapaian kebahagiaan (termasuk kebahagian diri sendiri) merupakan
tujuan yang ingin dicapai oleh paham utilitarianisme dalam melakukan suatu
tindakan. Kemudian, kebahagian tersebut direduksi menjadi manfaat bagi banyak
orang. Perbuatan yang dianggap baik adalah perbuatan yang mendatangkan
manfaat bagi banyak orang yang terlibat, termasuk manfaat bagi diri sendiri.
Selalu terdapat perbedaan pendapat tentang apa yang disebut baik dan buruk.
Namun, dalam paham utilitarianisme, kebaikan bagi banyak orang harus lebih
diutamakan daripada kebaikan bagi diri sendiri.

Dalam konteks akuntansi, penyajian laporan keuangan yang bebas dari salah
saji material dan mengikuti standar akuntansi akan memberikan manfaat bagi
banyak orang yang dalam hal ini disebut stakeholder. Penyediaan informasi
sehingga membuat pasar modal menjadi pasar yang efesien karena berkurangnya
asimetri informasi merupakan manfaat bagi semua orang yang bergerak di pasar
tersebut. Iktikad baik merupakan dasar utama pelaksanaan utilitarianisme.

Dari sudut akuntan manajemen, pemilihan kebijakan akuntansi dan pemilihan


metode, asumsi, data, dan proyeksi dalam perhitungan estimasi akuntansi
merupakan bagian penting dari keputusan untuk berbuat demi kepentingan sendiri
(direktur) atau kepentingan publik. Pengembangan sistem pengendalian internal
yang memadai dan efektif merupakan upaya untuk berprilaku etis dalam bidang
penyediaan informasi.
Dari sudut akuntan publik, konflik antara berbuat untuk kepentingan sendiri
dan kepentingan publik juga terjadi. Manfaat bagi publik yang ingin dicapai
dalam penugasan audit adalah peningkatan kredibilitas laporan keuangan historis
untuk digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban.

12
Keputusan tentang penerimaan penugasan, pelaksanaan pekerjaan, dan pemberian
opini merupakan bagian utama dari penerapan kode etik. Evaluasi terhadap
kebijakan akuntansi yang dipilih dan perhitungan estimasi yang dilakukan
perusahaan merupakan pekerjaan berat bagi akuntan publik sehubungan dengan
konflik kepentingan.

Daentologisme
Paham daentologisme menekankan perbuatan yang memang harus dilakukan
karena kelazi man universal.perbuatan itu tidak perlu dipertayakan kebenaranya
karena kelaziman universal telah membutikannya.deontologisme mengangggap
bahwa perbuatan tersebut merupakan suatu tugas atau kewajiban [duty] namun,
Emmanuel kant penggas paham ini juga menyebutkan bahwa tugas atau
kewajiban harus didasari adanya motif moral [moral motive].
Memperlakukan seseorang dengan adil, seperti kita menginkan perlakuan
yang sama dari orang tersebut merupakan perbuatan yang di anggap baik bagi
paham deontologisme, bertindak adil atau tidak memihak merupakan kelaziman
universal yang mengandung motif moral di dalamnya. Bertindak adil berarti
melaksanakan hak, tetapi pada saat yang sama juga menyadari tentang adanya
konsekuensi kewajiban bagi orang lain tersebut. Paham deontologisme juga tidak
membenarkan bahwa orang lain hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan.kaidah
emas [gold rule] menurut paham ini adalah “perlakuan orang lain seperti anda
menginginkan orang lain memperlakukan anda” berbuatlah sesuatu sesuai dengan
kelaziman, yaitu perbuatan yang akan dlakukan oleh sebagian besar orang jika
berada dalam kondisi yang sama.
Penyebaran lebih lanjut dari paham deontologisme adalah adanya kewajaran,
kepantasan\ataskewajaran, kepatutan\kepantasan, dan proporsional. Sekali lagi,
apa yang dimaksud dengan wajar, patut\pantas, atau proporsional merupakan
perdebatan yang tak kunjung usai.adanya konflik kepentingan dapat ikut
menentukan pertimbangan baik dan buruk.
Objektivitas, barangkali, merupakan penyebaran paham deontologisme
dalametika profesi akuntan.demikian juga dengan kerahasiaan. Dalam prinsip

13
objektivitas, terkandung unsur tidak memihak [bias], tidak mempunyai benturan
kepentingan, dan tidak adanya pengaruh orang lain dalam suatu pertimbangan
yang di lakukan oleh ankutan.objektivitas merupakan suatu hal yang wajar,
patut\pantas, dan proporsional dalam profesi akuntasi yang di akui secara
universal. Objektivitas juga mempunyai motif moral dalam pelaksanaan tugas dan
kewajiban [competence] juga dapat dikategorikan sebagai pemenuhan kewajaran,
kepantasan kepatutan, dan proporsionalitas. Kompetensi memungkinkan
seseorang memiliki kepasitas terbaiknya untuk melakukan sesuatu.

Virtuisme
Jika utilitarianisme dan deontologisme banyak berbicara tentang apa yang
harus dilakukan, virtuisme lebih menekankan pada karakter (sifat) atau watak apa
yang harus dimiliki seseorang. Aristoteles, seperti dikutip duska dkk, menyatakan
bahwa kehidupan yang baik (good life) adalah kehidupan ketika seseorang
melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitas terbaiknya (excellent capacity)
sesuatu yang sedapat mungkin memenuhi potensinya untuk mencapai tujuan atas
maksud yang ditetapkan.

Untuk profesi akuntan, integritas (integrity) mungkin dapat digolongkan


sebagai etika yang memenuhi paham virtuisme ini. Dalam integritas, terkandung
unsur-unsur kelugasan dan kejujuran. Keduanya mengacu pada karakter tentang
keutamaan (virtuisme). Independensi yang merupakan ciri utama dari pekerjaan
akuntan pulic bmerupakan jabaran dari virtuisme dan deontologisme.

H. STANDAR PERFORMA
Selain etika propesi, hubungan fidusia yang muncul sehubungan dengan
pekerjaan menyusun atau mengaudit laporan keuangan, juga didasarkan atas
kepercayaan dari pemberi tugas, bahwa penerima tugas akan melaksanakan
pekerjaannya sesuaidengan standar performa yang menurut kelaziman dapat
diterima.untuk dapat diterima oleh pemberi tugas, standar performa tersebut harus
dikeluarkan oleh pihak ketiga yang mempunyai otoritas untuk melakukannya.
Salah satu pihak yang dipercaya adalah organisasi profesi yang memperoleh
mandate dari pemerintah, misalnya Ikatan Akuntan Indonesia atau Institut

14
Akuntan Publik Indonesia. Dalam kaitannya dengan laporan keuangan, terdapat
dua macam standar performa yang perlu diperhatikan, yaitu standar untuk
penyusunannya dan standar untuk pengauditannya.

Standar Akuntansi
Jika dikaitkan dengan kewajibannya terhadap public, direksi harus membuat
dua macam pernyataan dua macam pernyataan tersebut berisi pernyataan bahwa
mereka bertanggung jawab terhadap dua hal berikut:
1. laporan keuangan telah menyajikan secara wajar semua hal yang
material, posisi keuangan hasil usaha perusahaan, laporan
perubahan ekuitas, dan laporan arus kas telah disajikan sesuai
dengan standar akuntansi yang berlaku.
2. system pengendalian internal yang diterapkan dalam perusahaan
telah memadai dan efektif.
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat dua
standar performa yang diperlukan dalam penyusunan laporan keuangan, yaitu
standar akuntansi dan standar (jika boleh dikatakan sebagai standar) perancangan
dan implementasi system pengendalian internal.

Standar akuntansi digunakan dalam pencatatan, penggolongan, pengakuan,


pengukuran, penilaian, penyajian, dan pengungkapan transaksi atau kejadian
ekonomis yang bersifat keuangan yang dilakukan perusahaan (entitas). Standar
akuntansi merupakan criteria yang dijadikan pedoman dalam penyusunan laporan
keuangan. Di Indonesia, Ikatan Akuntansi Indonesia mengadopsi kerangka
pelaporan keuangan beserta standar-standar akuntansi atau pelaporan keuangan
yang dikeluarkan oleh International Federation of Accountant (IFAC).

Kerangka Pengendalian Internal


Di Amerika Serikat, proses penyusunan laporan keuangan harus memenuhi
kerangka pengendalian internal yang dikeluarkan oleh organisasi terkemuka,

15
misalnya Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission
(COSO). Dalam system pelaporan keuangan, direksi harus menggunakan
kerangka ini saat menilai kecukupam dan efektivitas perancungan dan
implementasi pengendalian internal yang diterapkan diperusahaan. Untuk
perusahaan-perusahaan tertentu di Amerika Serikat, asersi manajemen tentang
pengendalian internal tersebut harus memperoleh asuransi (diatestasi) dari
akuntan public.

Di Indonesia, OJK tidak menentukan kerangka yang harus digunakan dalam


merancang dan mengimplementasikan pengendalian internal dalam perusahaan.
Asersi direksi tentang pengendalian internal juga tidak memerlukan atestasi dari
akuntan public. Namun, dalam melakukan audit atas laporan keuangan historis,
akuntan public wajib melakukan pemahaman dan penilaian terhadap pengendalian
internal perusahaan dan jika diperlukan, melakukan pengujian terhadapnya.

Standar Audit
Standar ini berlaku bagi akuntan public yang melakukan pekerjaan audit atas
laporan keuangan historis, laporan ini merupakan salah satu dari laporan yang
secara berkala, harus disampaikan kepada OJK dan diumumkan kepada public.
Standar audit yang berlaku di Indonesia adalah Internasitional Standardas on
Auditing (ISA) yang dikeluarkan oleh International Auditing and Assurance
Standards Board (IAASB). Isa diadopsi sebagai standar Profesi akuntan public
(SPAP) di Indonesia.

Standar audit dimaksudkan agar akuntan public dalam melaksanakan


pekerjaannya telah memenuhi mutu (kualitas) yang diharapkan oleh pasar.
Sesungguhnya, kualitas proses audit lebih mengacu pada pertanggungjawaban
(accountability) atas tugas audit yang diberikan kepadanya. Keandalan proses
dapat dijadikan sebagai ukuran, pada waktu terjadi perselisihan, tentang memadai
tidaknya kebijakan, prosedurm dokumentasi, dan pengendalian mutu atas
pekerjaan yang dilakukan. Kualitas proses juga dapat diukur dari kepatuhannya
terhadap kode etik. Akuntan public harus menjaga kualitas proses, yang akan

16
berdampak terhadap kualitas hasil, agar kepercayaan pemberi fidusia dapat
dipertahankan.

Standar Pengendalian Mutu


Kantor akuntan public (KAP) yang memberikan jasa audit dan review atas
laporan keuangan, jasa asuransi lainnya, dan jasa-jasa yang berkaitan dengan jasa
asuransi harus mengikuti standar pengendalian mutu dalam pengoperasian
kantornya. Standar ini berlaku untuk kantor akuntan public (KAP). Pengendalian
mutu yang diterapkan pada suatu KAP mengikuti International Standard on
Quality Controls I (ISQC I) yang berjudul “International standard on Quality
Control for Firms that Perform Audit and Review of Financial statement and
Outher Assurance and Related Services Engagements” standar ini dikeluarkan
oleh International Auditing and Assurance Standard Board (IAASB).

Standar pengendalian mutu menghendaki agar KAP menerapkan kebijakan


dan prosedur untuk dapat memastikan bahwa kualitas jasa asuransi (termasuk
audit atas laporan keuangan historis) yang diberikan oleh KAP telah memenuhi
mutu yang diharapkan oleh pengguna laporan. Mutu atas jasa yang dihasilkan
akan menentukan kepercayaan dalam konsep hubungan fidusia. KAP yang telah
melaksanakan standar pengendalian mutu dengan baik akan memberikan
keyakinan kepada pemberi tugas fidusia bahwa pekerjaan akan dilakukan dengan
segenap keahlian dan perilaku professional yang dimiliki oleh KAP tersebut.

I. SOLUSI KONFLIK
Walaupun didasarkan atas kepercayaan, hubungan fidusia tetap saja
memungkinkan terjadinya konflik. Konflik yang dimaksud adalah perbedaan
pendapat tentang penugasan dan pekerjaan atau hasil penugasan dan pekerjaan
dimana salah satu atau kedua belah pihak merasa dirugikan. Dalam kaitannya
dengan penugasan audit terhadap laporan keuangan historis, konflik yang dialami
akuntan public dapat terjadi dengan klien (perusahaan atau organisasi pemberi
tugas), pengguna atau pihak ketiga lainnya, dan dengan teman sejawat (kantor
akuntan public lain).

17
Sebagai penyusun laporan keuangan, akuntan manajemen biasanya tidak
mempunyai permasalahan konflik secara langsung. Pekerjaan atau hasil pekerjaan
akuntan manajemen merupakan tanggung jawab perusahaan atau organisasi
tempat mereka bekerja. Tanggung jawab perusahaan kepada pihak luar diwakili
oleh direksi. Seperti halnya akuntan public, direksi sebagai perwalilan perusahaan
dapat berkonflik dengan pemberi tugas fidusia (pemegang saham) dan pengguna
atau pihak luar lainnya,

Bagi profesi akuntan, solusi konflik dapat dilakukan melalui dua jalur, yaitu
secara professional atau secara hokum. Solusi konflik melalui jalur professional
ditangani oleh organisasi profesi yang bersangkutan. Jalur hokum ditempuh
melalui pengadilan. Solusi konflik yang pemecahannya menggunakan jalur
professional biasanya berkaitan dengan masalah etika. Pelanggan terhadap etika
dapat dikenakan sanksi berupa sanksi social, misalnya teguran (lisan dan tertulis)
atau pemberhentian sementara atau tetap) atas keanggotaan. Sanksi social juga
dapat berupa pembatasan-pembatasan atau pelaksanaan tugas-tugas tertentu.
Sanksi pembatasan dapat berupa, misalnya, tidak diperkenankannya akuntan yang
bersangkutan untuk melakukan penugasan atau pekerjaan di bidang tertentu.
Sanksi pelaksanaan tugas tertentu dapat berupa keharusan untuk mengikuti
pendidikan profesi berkelanjutan.

Pemecahan masalah melalui jalur hokum dapat berakibat dijatuhkannya


sanksi denda, bahkan penjara. Jalur hokum yang ditempuh dapat berupa jalur
perdata atau jalur pidana. Tergantung permasalahan yang dihadapi. Penyelesaian
masalah-masalah jalur hokum sudah berada di luar ranah profesi karena
permasalahan tersebut berkaitan dengan pelanggaran hokum. Di muka
persidangan, akuntan yang bersangkutan harus dapat membuktikan bahwa dirinya
tidak melakukan pelanggaran hokum yang dituduhkan.

18
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Salah satu profesi penting yang terlibat dalam penerapan sistem tata kelola
perusahaan yang baik (good corporate governance) adalah profesi akuntan.
Terdapat tiga pihak yang mempunyai peran utama dalam profesi ini. Pertama
adalah akuntan publik, kedua akuntan manajemen, dan ketiga organisasi profesi
akuntan yang bertindak sebagai penentu standar (standard setter) di bidang
akuntansi. Akuntan manajemen adalah akuntan yang bekerja untuk sebuah
perusahaan. Akuntan publik adalah akuntan independen yang bekerja secara
mandiri dengan mendirikan Kantor Akuntan Publik (KAP).

Menurut Duska dkk., akuntansi adalah teknik (technique) yang


dikembangkan untuk membantu orang atau organisasi dalam memonitor transaksi
ekonominya. Akuntansi menyediakan informasi mengenai transaksi atau kejadian
ekonomi, bersifat keuangan, yang mereka lakukan. Dalam praktiknya, akuntansi
merupakan seni (art) atau keahlian (craft).

B. SARAN
Peran penting yang diharapkan dari profesi akuntan adalah ikut menjaga
efisiensi pasar ini. Efisiensi pasar merupakan perhatian besar dari masyarakat.
Oleh karena itu, pemerintah turun tangan melalui regulasi. Skandal akuntansi
yang sering terjadi memicu adanya regulasi tersebut.

19
DAFTAR PUSTAKA

Soemarso S.R (2018). Etika dalam Bisnis & Profesi Akuntan dan Tata Kelola
Perusahaan. Jakarta: Salemba Empat

20