Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

ETIKA DALAM BISNIS DAN PROFESI AKUNTAN


“KODE ETIK PROFESI AKUNTAN”

Disusun Oleh
Nama : Riska (105731107917)
Kelas : Akuntansi 17 D

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
TAHUN AKADEMIK 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tak
lupa juga kami panjatkan selawat serta salam semoga senantiasa tercurah
limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Penyusunan makalah dengan judul
“Kode Etik Profesi Akuntan” ini ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas MID
mata kuliah Etika Bisnis dan Profesi Akuntansi .

Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Kami juga menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan
dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala bentuk kritik dan saran yang
bersifat membangun sangat kami harapkan.

Makassar, 1 November 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..............................................................................................II

KATA PENGANTAR ..............................................................................III

BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................1

A. Latar Belakang Masalah........................................................................1


B. Rumusan Masalah..................................................................................1
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ..............................................................1

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................2

A. Definisi Etika Profesi ............................................................................2


B. Definisi Etika Profesi Akuntansi...........................................................5
C. Kode Etik Akuntansi Indonesia ............................................................6

BAB III PENUTUP ..................................................................................17

A. Kesimpulan .........................................................................................17
B. Saran ...................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................18

3
i
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Profesi Akuntan adalah salah satu peran yang di berikan kepercayaan oleh
masyarakat. Maka dari itu masyarakat dan sekelompok orang yang
berkepentingan sangat mengharapkan keandalan informasi yang telah disajikan
dalam laporan keuangan sebagai dasar untuk mengambil sebuah keputusan.

Guna menunjang kinerja profesionalisme seorang Akuntan Publik maka


seorang auditor harus berpedoman pada kode etik profesi yang telah disusun oleh
Institut Akuntan Indonesia (IAI) untuk membentuk suatu tatanan etika dan prinsip
moral yang berhubungan dengan klien dan pihak berkepentingan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Etika Profesi?
2. Bagaimana Etika dalam Profesi Akuntansi?
3. Apa yang dimaksud dengan Kasus Pelanggaran Terhadap Kode Etik
Profesi Akuntansi?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan etika profesi.
2. Untuk mengetahui etika dalam profesi akuntan.
3. Untuk mengetahui bagaimana pelanggaran terhadap kode etik profesi
akuntan.

ii
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Etika Profesi


Menjalankan berbagai aktivitas, baik itu di dalam lingkungan keluarga,
masyarakat, maupun negara perlu ada sebuah aturan yang mengatur bagaimana
seharusnya aktivitas tersebut dijalankan. Aturan tersebut dikenal dengan istilah
etika.

Definisi etika secara umum


Menurut KBBI etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk
serta ilmu tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), sedangkan menurut para
ahli definisi etika adalah :
1. Menurut Drs. O.P. Simorangkir, etika atau etik dapat diartikan sebagai
pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai baik.
2. Menurut Drs. H. Burhanudin Salam, etika adalah cabang filsafat yang
berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia
dalam hidupnya.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa etika adalah ilmu


tentang apa yang baik dan apa yang buruk yang digunakan seseorang atau
kelompok sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupannya.

Kasanah (2013:77) berpendapat bahwa secara umum etika dibagi menjadi


dua, yaitu :
a. Etika Umum. Etika umum membahas tentang kondisi-kondisi dasar
bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil
keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi
pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik
atau buruknya suatu tindakan.

b. Etika Khusus. Etika khusus merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar


dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud bagaimana
saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan
kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-
prinsip moral dasar. Etika Khusus terbagi ke dalam dua bagian, yaitu:

iii
1) Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap
dirinya sendiri.
2) Etika sosial, yaitu mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia
sebagai bagian dari masyarakat.

Menurut Kasanah (2013:78) etika sosial ini terbagi menjadi banyak


bagian atau bidang, yaitu :
a. Sikap terhadap sesame
b. Etika keluarga
c. Etika profesi
d. Etika politik
e. Etika lingkungan
f. Etika idiologi

Adanya etika diharapkan agar manusia menjalankan kehidupannya


sesuai dengan norma atau aturan yang ditetapkan. Namun, dalam
kenyataannya masih banyak orang yang melakukan pelanggaran etika.
Menurut Susanti pelanggaran etika dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:
a. Kebutuhan Individu
b. Tidak Ada Pedoman
c. Perilaku dan Kebiasaan Individu yang Terakumulasi dan Tak Dikoreksi
d. Lingkungan yang Tidak Etis
e. Perilaku dari Komunitas

Agar pelanggar tersebut jera, Susanti berpendapat bahwa pelanggar


harus dikenakkan sanksi. Sanksi tersebut adalah :
a. Sanksi Sosial, yaitu sanksi yang dikenakan untuk pelanggaran yang relatif
kecil, dan dipahami sebagai kesalahan yang dapat dimaafkan.
b. Sanksi Hukum, yaitu sanksi yang dikenakan untuk pelanggaran yang relatif
besar, dan merugikan hak pihak lain.

Definisi profesi secara umum

iv
Profesi merupakan istilah yang umum digunakan untuk suatu hal
yang berkaitan dengan keahlian dan pendidikan. Hal ini sesuai dengan
definisi profesi menurut KBBI, yaitu profesi adalah bidang pekerjaan yang
dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya)
tertentu, sedangkan Comenisch (1983) berpendapat bahwa profesi adalah
komunitas moral yang memiliki cita-cita dan nilai bersama.
Setiap profesi dituntut untuk melaksanakan pekerjaannya secara
profesional. Didasarkan pada pendapat Putri dan Saputra (Dalam Rahma,
2012) “profesionalisme adalah suatu atribut individual yang penting tanpa
melihat suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak”.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa profesi
adalah suatu bidang pekerjaan yang dilandasi dengan keahlian dan
pendidikan, sedangkan profesionalisme adalah tanggung jawab yang harus
dilaksanakan setiap profesi dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Jika profesi ini dihubungkan dengan etika maka dapat disimpulkan
bahwa etika profesi adalah nilai atau norma yang mengatur bagaimana
seharusnya profesi atau pekerjaan tersebut dilakukan.
Kasanah (2013:80) berpendapat bahwa ciri-ciri yang melekat pada
setiap profesi adalah :
a. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini
dimiliki berkat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman bertahun-tahun.
b. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Setiap pelaku profesi
mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
c. Mengabdi pada kepentingan masyarakat artinya setiap pelaksana profesi harus
meletakkan kepentingan masayarakat di atas kepentingan pribadi.
d. Ada izin khusus untuk menjalankan profesi.
e. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.
Setiap profesi memiliki standar yang mengatur bagaimana
seharusnya profesi tersebut dijalankan. Adapun prinsip - prinsip etika
profesi, yaitu :
a. Tanggung jawab
1) Terhadap pksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.

v
2) Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau
masyarakat pada umumnya.
b. Keadilan
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang
menjadi haknya.
c. Otonomi
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan diberi
kebebasan dalam menjalankan profesinya.

B. Definisi Etika Profesi Akuntansi


Seperti yang kita tahu etika profesi akuntansi di Indonesia diatur
dalam Kode Etik Akuntansi Indonesia. Kode Etik Ikatan Akuntan
Indonesia digunakan sebagai panduan dan aturan bagi seluruh anggota,
baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan dunia
usaha, pada instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan
dalam pemenuhan tanggung jawab profesionalnya.
Kasanah (2013:86) berpendapat bahwa tujuan profesi akuntansi
adalah untuk memenuhi tanggung jawabnya dengan standar
profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan
orientasi kepada kepentingan publik.
Empat kebutuhan dasar yang harus dipenuhi profesi akuntansi
adalah :

a. Kredibilitas
Masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi dan sistem informasi.
b. Profesionalisme
Diperlukan individu yang dengan jelas dapat diidentifikasikan oleh pemakai
jasa akuntan sebagai profesional di bidang akuntansi.
c. Kualitas Jasa
Terdapatnya keyakinan bahwa semua jasa yang diperoleh dari akuntan
diberikan dengan standar kinerja tertinggi.
d. Kepercayaan

vi
Pemakai jasa akuntan harus dapat merasa yakin bahwa terdapat kerangka etika
profesional yang melandasi pemberian jasa oleh akuntan.

Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri atas tiga bagian, yaitu :
a. Prinsip Etika, disahkan oleh Kongres.
b. Aturan Etika, disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan.
c. Interpretasi Aturan Etika, dibentuk oleh Himpunan.

Martadi dan Suranta berpendapat bahwa di Indonesia, penegakan


kode etik dilaksanakan sekurang - kurangnya oleh enam unit organisasi,
yaitu:
a.      Kantor Akuntan Publik.
b.     Unit Peer Review Kompartemen Akuntan Publik – IAI.
c.      Badan Pengawas Profesi Kompartemen Akuntan Publik – IAI.
d.     Dewan Pertimbangan Profesi IAI.
e.      Departemen Keuangan RI.
f.      BPKP.
Profesi adalah bagian dari pekerjaan, tetapi tidak semua pekerjaan
merupakan profesi karena profesi ini berkaitan dengan keahlian dan
pendidikan.
Menurut Kasanah (2013:87) suatu pekerjaan dianggap sebagai
profesi jika ia memiliki hal-hal berikut ini :
a. Memiliki keterampilan (keahlian).
b. Memiliki kode etik sebagai kode standar moral perilaku.
c. Memiliki tanggung jawab profesional dan integritas pribadi.
d. Memiliki dedikasi kepada kehidupan publik.
e. Otonomisasi organisasi profesional menunjukkan bahwa manajemen
organisasi.
f. Sebagai anggota salah satu organisasi profesional untuk mempertahankan
keberadaan.

C. Kode Etik Akuntansi Indonesia


Menurut Kasanah (dalam Mulyadi, 2001) keanggotaan dalam Ikatan
Akuntan Indonesia bersifat sukarela.

vii
Dalam menjalankan profesinya, seorang akuntan harus memenuhi
Prinsip Etika Profesi Akuntan, yaitu:
a. Tanggung Jawab Profesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap
anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional
dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

Hal yang perlu diperhatikan dalam prinsip ini adalah :


1) Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional setiap
anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan
profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.
2) Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat.
3) Anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa
profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggung jawab untuk
bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi
akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat, dan menjalankan
tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif
semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi
profesi.
b. Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka
pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik,dan menunjukkan
komitmen atas profesionalisme.

Hal yang perlu diperhatikan dalam prinsip ini adalah :

1) Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka


pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan
menunjukkan komitmen atas profesionalisme.
2) Profesi akuntan memegang peranan yang penting di masyarakat, yang
terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai,
investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepada
objektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi
bisnis secara tertib.

viii
3) Dalam mememuhi tanggung-jawab profesionalnya, anggota mungkin
menghadapi tekanan yang saling berbenturan dengan pihak-pihak yang
berkepentingan. Dalam mengatasi benturan ini, anggota harus bertindak
dengan penuh integritas, dengan suatu keyakinan bahwa apabila anggota
memenuhi kewajibannya kepada publik, maka kepentingan penerima jasa
terlayani dengan sebaik-baiknya.
4) Anggota diharapkan untuk memberikan jasa berkualitas, mengenakan
imbalan jasa yang pantas, serta menawarkan berbagai jasa, semuanya
dilakukan dengan tingkat profesionalisme yang konsisten dengan Prinsip
Etika Profesi ini.
c. Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap
anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas
setinggi mungkin.
Hal yang perlu diperhatikan dalam prinsip ini adalah :
1) Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan
merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji semua
keputusan yang integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari
timbulnya pengakuan profesional yang diambilnya.
2) Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur
dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa.
Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh
keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak
disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak dapat menerima
kecurangan atau peniadaan prinsip.
3) Integritas diukur dalam bentuk apa yang benar dan adil. Dalam hal tidak
terdapat aturan, standar, panduan khusus atau dalam menghadapi pendapat
yang bertentangan, anggota harus menguji keputusan atau perbuatannya
dengan bertanya apakah anggota telah melakukan apa yang seorang
berintegritas akan lakukan dan apakah anggota telah menjaga integritas
dirinya. Integritas mengharuskan anggota untuk menaati baik bentuk
maupun jiwa standar teknis dan etika.

ix
4) Integritas juga mengharuskan anggota untuk mengikuti prinsip objektivitas
dan kehati-hatian profesional.
d. Objektivitas
Seorang anggota harus memelihara objektivitas dan bebas dari
konflik kepentingan dalam menunaikan tanggung jawab profesional.
Seorang anggota dalam praktik publik seharusnya menjaga independensi
dalam fakta dan penampilan saat memberikan jasa auditing dan atestasi
lainnya. Objektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa
yang diberikan anggota. Prinsip objektivitas mengharuskan anggota
bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka
atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh
pihak lain.
Dalam menghadapi situasi dan praktik yang secara spesifik
berhubungan dengan aturan etika sehubungan dengan objektivitas,
Terdapat beberapa faktor yang perlu dipertimbangan antara lain :
1) Hubungan-hubungan yang memungkinkan prasangka, bias atau pengaruh
lainnya untuk melanggar objektivitas harus dihindari.
2) Anggota memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa orang-orang yang
terlibat dalam pemberian jasa profesional mematuhi prinsip objektivitas.
3) Anggota tidak boleh menerima atau menawarkan hadiah atau hiburan yang
dipercaya dapat menimbulkan pengaruh yang tidak pantas terhadap
pertimbangan profesional mereka atau terhadap orang-orang yang
berhubungan dengan mereka.
4) Anggota harus menghindari situasi-situasi yang dapat membuat posisi
profesional mereka ternoda.
e. Kompetensi dan kehati-hatian profesional

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan


berhati-hati, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk
mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat
yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja
memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling
mutakhir.

x
Hal yang perlu diperhatikan dalam prinsip ini adalah :
1) Anggota harus menerapkan suatu program yang dirancang untuk
memastikan terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan jasa profesional
yang konsisten dengan standar nasional dan internasional.
2) Dalam hal penugasan profesional melebihi kompetensi anggota atau
perusahaan, anggota wajib melakukan konsultasi atau menyerahkan
klien kepada pihak lain yang lebih kompeten.
3) Anggota harus tekun dalam memenuhi tanggung jawabnya kepada
penerima jasa dan publik. Ketekunan mengandung arti pemenuhan
tanggung jawab untuk memberikan jasa dengan segera dan berhati-hati,
sempurna dan mematuhi standar teknis dan etika yang berlaku.
4) Kehati-hatian profesional mengharuskan anggota untuk merencanakan
dan mengawasi secara saksama setiap kegiatan profesional yang menjadi
tanggung jawabnya.
f. Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang
diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai
atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada
hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.
Hal yang perlu diperhatikan dalam prinsip ini adalah :
1) Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan
informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa
profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan
setelah hubungan antara anggota dan klien atau pemberi kerja berakhir.
2) Kerahasiaan harus dijaga oleh anggota kecuali jika persetujuan khusus
telah diberikan atau terdapat kewajiban legal atau profesional untuk
mengungkapkan informasi.
3) Anggota mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa staf di bawah
pengawasannya dan orang-orang yang diminta nasihat dan bantuannya
menghormati prinsip kerahasiaan.
4) Kerahasiaan tidaklah semata-mata masalah pengungkapan informasi.
Kerahasiaan juga mengharuskan anggota yang memperoleh informasi

xi
selama melakukan jasa profesional tidak menggunakan atau terlihat
menggunakan informasi tersebut untuk keuntungan pribadi atau
keuntungan pihak ketiga.
5) Anggota yang mempunyai akses terhadap informasi rahasia tentang
penerima jasa tidak boleh mengungkapkannya ke publik. Karena itu,
anggota tidak boleh membuat pengungkapan yang tidak disetujui
(unauthorized disclosure) kepada orang lain. Hal ini tidak berlaku untuk
pengungkapan informasi dengan tujuan memenuhi tanggung jawab
anggota berdasarkan standar profesional.
6) Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang
berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan dan bahwa terdapat
panduan mengenai sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai
berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama melakukan
jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan.
Berikut ini adalah contoh hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam
menentukan sejauh mana informasi rahasia dapat diungkapkan.
1) Apabila pengungkapan diizinkan.
Jika persetujuan untuk mengungkapkan diberikan oleh penerima jasa,
kepentingan semua pihak termasuk pihak ketiga yang kepentingannya
dapat terpengaruh harus dipertimbangkan.
2) Pengungkapan diharuskan oleh hukum.
Beberapa contoh di mana anggota diharuskan oleh hukum untuk
mengungkapkan informasi rahasia adalah untuk menghasilkan dokumen
atau memberikan bukti dalam proses hukum dan untuk mengungkapkan
adanya pelanggaran hukum kepada publik.
g. Perilaku profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi
profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan
profesi. Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat
mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan
tanggung-jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain,
staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

xii
h. Standar teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai
dengan standar teknis dan standar proesional yang relevan.
Standar teknis dan standar profesional yang harus ditaati anggota
adalah standar yang dikeluarkan oleh lkatan Akuntan Indonesia (IAI),
International Federation of Accountants (IFA), badan pengatur, dan
peraturan perundang-undangan yang relevan.
Kode etik profesi akuntan publik
Akuntan Publik adalah akuntan yang memiliki izin dari Menteri
Keuangan atau pejabat yang berwenang lainnya untuk menjalankan
praktik akuntan publik. Bentuk organisasi akuntan publik yang
memperoleh izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berusaha dibidang pemberian jasa profesional dalam praktik akuntan
publik disebut dengan Kantor Akuntan Publik.
Praktik Akuntan Publik itu sendiri adalah pemberian jasa
professional kepada klien yang dilakukan oleh anggota IAI-KAP yang
dapat berupa jasa audit, jasa atestasi, jasa akuntansi dan review,
perpajakan, perencanaan keuangan perorangan, jasa pendukung litigasi,
dan jasa lainnya yang diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik.
Dalam menjalankan tanggung jawabnya, akuntan publik harus
mematuhi Kode Etik Profesi Akuntan Publik (sebelumnya disebut Aturan
Etika Kompartemen Akuntan Publik), yaitu aturan etika yang harus
diterapkan oleh anggota Institut Akuntan Publik Indonesia atau IAPI
(sebelumnya Ikatan Akuntan Indonesia - Kompartemen Akuntan Publik
atau IAI-KAP) dan staf profesional (baik yang anggota IAPI maupun yang
bukan anggota IAPI) yang bekerja pada satu Kantor Akuntan Publik
(KAP).
Hal yang perlu diperhatikan anggota KAP dalam menjalankan
tugasnya, yaitu :
a. Independensi
Dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan
sikap mental independen di dalam memberikan jasa profesional akuntan

xiii
publik yang ditetapkan IAI. Sikap mental independen tersebut meliputi
independen dalam fakta (in fact) maupun dalam penampilan (in appearance).
b. Integritas dan Objektivitas
Dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan
integritas dan objektivitas, harus bebas dari benturan kepentingan (conflict of
interest) dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material (material
misstatement) yang diketahuinya atau mengalihkan pertimbangannya kepada
pihak lain.

Anggota KAP harus mematuhi standar umum beserta interprestasi yang


terkait yang dikeluarkan oleh badan pengatur standar yang ditetapkan IAI. Standar
umum tersebut adalah :

a. Kompetensi Profesional
Anggota KAP hanya boleh melakukan pemberian jasa profesional yang secara
layak (reasonable) diharapkan dapat diselesaikan dengan kompetensi
profesional.
b. Kecermatan dan kesaksamaan profesional
Anggota KAP wajib melakukan pemberian jasa profesional dengan
kecermatan dan kesaksamaan profesional.
c. Perencanaan dan supervise
Anggota KAP wajib merencanakan dan mengawasi secara memadai setiap
pelaksanaan pemberian jasa profesional.
d. Data relevan yang memadai
Anggota KAP wajib memperoleh data relevan yang memadai untuk menjadi
dasar yang layak bagi simpulan atau rekomendasi sehubungan dengan
pelaksanaan jasa profesionalnya.

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya, terdapat beberapa hal


yang tidak diperkenankan untuk dilakukan anggota KAP, yaitu :
a. Menyatakan pendapat atau memberikan penegasan bahwa laporan keuangan
atau data keuangan lain suatu entitas disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum.

xiv
b. Menyatakan bahwa ia tidak menemukan perlunya modifikasi material yang
harus dilakukan terhadap laporan atau data tersebut agar sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku, apabila laporan tersebut memuat penyimpangan yang
berdampak material terhadap laporan atau data secara keseluruhan dari
prinsip-prinsip akuntansi yang ditetapkan oleh badan pengatur standar yang
ditetapkan IAI. Dalam keadaaan luar biasa, laporan atau data mungkin
memuat penyimpangan seperti tersebut di atas. Dalam kondisi tersebut,
anggota KAP dapat menunjukkan bahwa laporan atau data akan menyesatkan
apabila tidak memuat penyimpangan seperti itu, dengan cara mengungkapkan
penyimpangan dan estimasi dampaknya (bila praktis), serta alasan mengapa
kepatuhan atas prinsip akuntansi yang berlaku umum akan menghasilkan
laporan yang menyesatkan.

Dalam melaksanakan pekerjaannya, akuntan publik perlu


memerhatikan tanggung jawabnya kepada klien, rekan seprofesi, dan
tanggung jawab terkait praktik lain.
a. Tanggung jawab kepada klien
a) Informasi Klien yang Rahasia, Anggota KAP tidak diperkenankan
mengungkapkan informasi klien yang rahasia, tanpa persetujuan dari
klien. Ketentuan ini tidak dimaksudkan untuk :
 Membebaskan anggota KAP dari kewajiban profesionalnya sesuai
dengan aturan etika kepatuhan terhadap standar dan prinsip-prinsip
akuntansi.
 Memengaruhi kewajiban anggota KAP dengan cara apapun untuk
mematuhi peraturan perundang-undang berlaku seperti panggilan
resmi penyidikan pejabat pengusut atu melarang kepatuhan anggota
KAP tehadap ketentuan peraturan yang berlaku.
 Melarang review praktek professional (review mutu) seorang anggota
sesuai dengan kewenangan IAI; atau
 Menghalangi anggota dari pengajuan-pengajuan keluhan atau
pemberian komentar atas peyidikan yang dilakukan oleh badan yang
dibentuk IAI-KAP dalam rangka penegakkan disiplin anggota.
Anggota yang terlibat dalam penyidikan dan review diatas, tidak boleh

xv
memanfaatkan untuk kepentingan diri pribadi mereka atau
mengungkapkan informasi klien yang harus dirahasiakan yang
diketahuinya dalam pelaksanaan tugasnya.

b) Fee Profesional
Besaran fee. Besaran fee anggota dapat bervariasi bergantung beberapa
hal, antara lain:
 Risiko penugasan.
 Komplektifitas jasa yang diberikan.
 Tingkat keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut.
 Struktur biaya KAP yang bersangkutan dalam pertimbangan
profesional lainnya. Anggota KAP tidak diperkenalkan mendapatkan
klien dengan cara menawarkan fee yang dapat merusak citra profesi.
c) Fee kontinjen
Fee kontinjen adalah fee yang ditetaptakan untuk pelaksanaan suatu jasa
profesional tanpa adanya fee yang dibebankan, kecuali ada temuan atau
hasil tertentu dimana jumlah fee bergantung pada temuan atau hasil
tertentu tersebut. Fee dianggap tidak kontinjen jika ditetapkan oleh
pengadilan atau badan pengatur atau dalam hal perpajakan, jika dasar
penetapan adalah hasil penyelesaian hukum atau temuan badan pengatur.

Anggota KAP tidak diperkenankan untuk menetapkan fee kontinjen


apabila penetapan tersebut dapat mengurangi independensi.
b. Tanggung jawab kepada rekan seprofesi
1) Anggota wajib memelihara citra profesi, dengan tidak melakukan
perkataan dan perbuatan yang dapat merusak reputasi rekan seprofesi.
2) Anggota wajib berkomunikasi tertulis dengan akuntan publik terdahulu
bila akan mengadakan perikatan (engagement) audit menggantikan
akuntan publik pendahulu atau untuk tahun buku yang sama ditunjuk
akuntan publik lain dengan jenis dan periode serta tujuan yang berlainan.
Akuntan publik pendahulu wajib menanggapi secara tertulis permintaan
komunikasi dari akuntan pengganti secara memadai.

xvi
3) Akuntan publik tidak diperkenankan mengadakan perikatan atestasi yang
jenis atestasi dan periodenya sama dengan perikatan yang dilakukan oleh
akuntan yang lebih dulu ditunjuk klien, kecuali apabila perikatan tersebut
dilaksanakan untuk memenuhi ketentuan perundang-undangan atau
peraturan yang dibuat oleh badan yang berwenang.
c. Tanggung jawab dan praktik lain
1) Perbuatan dan perkataan yang mendiskreditkan. Anggota tidak
diperkenankan melakukan tindakan dan atau mengucapkan perkataan yang
mencemarkan profesi.
2) Iklan, promosi, dan kegiatan pemasaran lainnya. Anggota dalam
menjalankan praktik akuntan publik diperkenankan mencari klien melalui
pemasangan iklan, melakukan promosi pemasaran dan kegiatan pemasaran
sepanjang tidak merendahkan citra profesi.

3) Komisi dan fee referal


 Komisi. Komisi adalah imbalan dalam bentuk uang atau barang atau
bentuk lainnya yang diberikan kepada atau diterima dari klien atau
pihak lain untuk memperoleh perikatan dari klien atau pihak lain.
Anggota KAP tidak diperkenankan untuk memberikan atau menerima
komisi apabila pemberian atau penerimaan komisi tersebut dapat
mengurangi independensi.
 Fee referal (Rujukan). Fee referal (rujukan) adalah imbalan yang
dibayarkan atau diterima kepada atau dari sesama penyedia jasa
profesional akuntan publik. Fee referal (rujukan) hanya diperkenankan
bagi sesama profesi.
4) Bentuk organisasi dan KAP. Anggota hanya dapat berpraktik akuntan
publik dalam bentuk organisasi yang diizinkan oleh peraturan perundang-
undangan yang berlaku dan atau yang tidak menyesatkan dan
merendahkan citra profesi.

xvii
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut KBBI etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang
buruk serta ilmu tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), sedangkan
menurut para ahli definisi etika adalah :
1. Menurut Drs. O.P. Simorangkir, etika atau etik dapat diartikan sebagai
pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai baik.
2. Menurut Drs. H. Burhanudin Salam, etika adalah cabang filsafat yang
berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia
dalam hidupnya.
Seperti yang kita tahu etika profesi akuntansi di Indonesia diatur dalam
Kode Etik Akuntansi Indonesia. Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia
digunakan sebagai panduan dan aturan bagi seluruh anggota, baik yang
berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan dunia usaha,
pada instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan dalam
pemenuhan tanggung jawab profesionalnya.

B. Saran
Bagi Audito Perlu memahami dan melaksanakan kode etik yang telah
diterapkan, agar tidak bertindak menurut kepentingan pribadi atau
kepentingan klien tetapi harus bertindak demi kepentingan publik guna
menjaga kepercayaan masyarakat dan pihak berkepentingan tidak luntur.

xviii
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno dan I Cenik Ardana. 2009. ETIKA BISNIS DAN PROFESI.
Jakarta: Salemba Empat.

Brooks, Leonard J. dan Paul Dunn. 2011. ETIKA BISNIS & PROFESI,
UNTUK DIREKTUR, EKSEKUTIF DAN AKUNTAN. Jakarta: Salemba
Empat.

Kasanah, Nur. 2013. Etika Profesi dan Profesional Bekerja. Jakarta:


Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tersedia:
http://belajar.ditpsmk.net/wp-content/uploads/2014/09/ETIKA-PROFESI-
DAN-PROFESIONAL-BEKERJA-X-1.pdf. 16 Mei 2015.

Natalia, Ghita. 2013. “Etika, Profesi, dan Etika Profesi”. Tersedia:


http://ghitanatalia.blogspot.com/2013/10/etika-profesi-dan-etika-
profesi.html. 20 Mei 2015.

Permana, Yoga. 2013. “Pengertian Etika Menurut Para Ahli”. Tersedia:


http://yogapermana094.blogspot.com/. 16 Mei 2015.

Putri, Kompiang Martina Dinata dan I.D.G Dharma Suputra. (2013).


“Pengaruh Independensi , Profesionalisme, dan Etika Profesi Terhadap
Kinerja Auditor pada Kantor Akuntan Publik di Bali”. E-Jurnal
Akuntansi Universitas Udayana. Vol. 4.1, 39-53. Tersedia:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=82239&val=986. 16
Mei 2015

Utami, Yulitaning. “Etika Bisnis”. Tersedia:


http://yulitaning.blogspot.com/2011/11/etika-bisnis.html. 17 Mei 2015.

xix