Anda di halaman 1dari 5

AKUNTANSI PERTANGGUNG JAWABAN

AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN TRADISIONAL


Akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting) adalah system akuntansi yang
dirancang sedemikian baik sehingga dapat mencatat dan melaporkan pendapatan dan/atau biaya
yang timbul akibat pelaksanaan suatu aktivitas kepada manajer yang bertanggung jawab terhadap
akhtivitas tersebut.

Struktur Organisasi
Penyusunan struktur organisasi tergantung pada pendekatan yang digunakan perusahaan
dalam mengelompokkan aktivitas. Aktivitas dapat dikelompokkan berdasarkan fungsi, produk,
dan geografis. Berikut adalah karakteristik penting organisasi yang mendukung pengendalian
operasional.
1. Tidak terjadi tumpang tindih dalam pembebanan tanggung jawab.
2. Setiap manajer memahami tanggung jawabnya dengan jelas.
3. Individu yang diberi tanggung jawab harus memiliki kewenangan yang memadai.

Keterkaitan Struktur Organisasi dan Pelaporan Pertanggungjawaban


Secara umum, semakn tinggi tingkat pertanggungjawaban akan semakin ringkas
laporannya. Tingkat pertanggungjawaban harus ditentukan dengan bai dan konsisten untuk
semua tingkatan. Tingkatan 1 adalah direktur utama yang bertanggung jawab terhadap semua
operasi. Tingkat 2 adalah direktur yang masing-masing membawahi sebuah divisi dan
bertanggung jawab kepada direktur utama. Tingkat 3 adalah manajer pabrik yang masing-
masing membawahi sebuah pabrik dalam divisi tertentu dan bertanggung jawab kepada direktur
yang diatasnya. Tingkat 4 adalah kepala departemen yang masing-masing membawahi satu
departemen dalam sebuah pabrik dan bertanggung jawab kepada manajer pabrik.

Penentuan Pihak yang Mengendalikan Biaya


Sistem akuntansi pertanggungjawaban yang efektif harus memisahkan biaya terkendali
dengan biaya tidak terkendali. Menurut pandangan tradisional, asumsi dasar akuntansi
pertanggungjawaban adalah individu yang berwenang mengendalikan aktivitas harus
bertanggung jawab terhadap biaya yang timbul akibat pelaksanaan aktivitas tersebut.

Tanggung Jawab terhadap Biaya Overhead


Banyak unsur overhead yang dapat dibebankan secara langsung ke suatu departemen dan
menjadi tanggung jawab langsung kepala departemen. Unsur overhead lainnya harus
dialokasikan atau didistribusikan dalam rangka menghitung tarif pembebanan overhead pabrik
ke semua produk yang dihasilkan dalam satu periode. Untuk tujuan akuntansi
pertanggungjawaban, biaya hanya perlu dialokasi apabila manajer departemen penerima alokasi
dapat mengendalikan biaya yang dialokasikan.

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
Laporan pertanggungjawaban merupakan hasil proses akuntansi pertanggungjawaban.
Menurut pandangan tradisional, laporan pertanggungjawaban memiliki dua tujuan utama.
1. Memotivasi individu mencapai kinerja yang tinggi dengan melaporkan efesiensi dan
inefisiensi kepada manajer pusat pertanggungjawaban dan atasan.
2. Member informasi yang dapat membantu manajer pusat pertanggungjawaban untuk
mengidentifikasi inefisensi sehingga mereka dapat mengendalikan biaya menjadi lebih
efisien.

Karakteristik Laporan Pertanggungjawaban


Dalam rangka meningkatkan efisiensi, laporan pertanggungjawaban harus memiliki
karakteristik berikut ini.
1. Laporan harus sesuai dengan struktur oragansisai.
2. Laporan harus konsisten bentuk dan isinya setiap diterbitkan.
3. Laporan harus tepat waktu.
4. Laporan harus diterbitkan secara teratur.
5. Laporan harus mudah dipahami.
6. Laporan memuat perincian yang memadai, tetapi tidak berlebihan.
7. Laporan harus menyaikan data perbandingan (membandingkan anggaran atau standar
yang sudah ditentukan dengan hasil sesungguhnya).
8. Laporan harus analitis
9. Laporan untuk manajer operasi harus menyajikan informasi mengenai unit fisik sekaligus
jumlah rupiahnya.

Ilustrasi Laporan Pertanggungjawaban


Salah satu syarat untuk mengembangkan system akuntansi pertanggungjawaban yang
baik adalah struktur organsasi yang baik. Struktur oraganisasi perusahaan biasanya disajikan
dalam sebuah bagan organisasi. Dalam proses merancang sistem akuntansi pertanggungjawaban,
perusahaan sering menemukan kelemahan struktur organisasinya. Kelemahan tersebut harus
diperbaiki terlebih dahulu sebelum proses perancangan dilanjutkan.

Review Struktur Laporan


Sistem pelaporan harus disesuaika dengan kebutuhan agar dapat memberikan informasi
yang diperlukan semua tingkat manajemen. Laporan harus menonjolkan pengecualian sehingga
cepat mendapat perhatian dari manajer yang bertanggungjawab tanpa perlu mencari dan
membaca secara ektensif.

ANALISIS PENYIMPANGAN DAN ANGGARAN FLEKSIBEL


Tujuan utama akuntansi pertanggungjawaban adalah pengendalian biaya. Pengedalian
biaya didasrakan pada perbandingan biaya sesungguhnya dengan biaya dianggarkan,
menghubungkan apa yang terjadi dengan apa yang direncanakan (seharusnya terjadi). Anggaran
didasarkan pada asumsi kondisi dan hasil yang direncanakan. Dalam hal ini, perusahaan dapat
mengunakan anggaran statis atau anggaran fleksibel.

Penyusunan Anggaran Fleksibel


Sebelum anggaran fleksibel disusun, suatu formula harus dirumuskan untuk setiap jenis
biaya dalam setiap departemen atau pusat biaya. Perumusan formula dilakukan dengan
menggunakan salah satu teknik analisis biaya. Bagian variabel dari formula merupakan tarif
biaya untuk setiap ukuran aktivitas, misalnya jam kerja, jam mesin, dan unit diproduksi.
Anggaran yang disesuaikan dengan tingkat aktivitas sesungguhnya disebut anggaran fleksibel
(flexible budget). Biaya dianggarkan pada aktivitas sesungguhnya dapat digunakan untuk
menghitung penyimpangan pengeluaran dan kapasitas menganggur.

Penyusunan Laporan Penyimpangan


Penyimpangan dihitung dengan membandingkan overhead dianggarkan pada tingkat
aktivitas sesungguhnya (berdasarkan anggaran fleksibel), overhead sesungguhnya, dan overhead
dibebankan. Agar dapat memberikan laporan yang terperinci kepada manajer operasi,
penyimpangan pengeluaran dihitung untuk setiap unsur overhead dengan cara mengurangkan
biaya dianggarkan ke biaya sesungguhnya.
AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN PENDEKATAN ALTERNATIF
Sistem akuntansi pertanggungjawaban merupakan perkembangan logis manajemen gaya
otoktratis yang sekarang masih banyak dipraktikkan oleh perusahaan. Berdasarkan gaya
manajemen tersebut, tugas manajer adalah memberikan arahan kepada karyawan. Agar dapat
mengarahkan karyawan, manajer harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang luas
sekaligus sebagai sumber pemecahan masalah.
Dalam gaya manajemen partisipatif, karyawan dan manajer memiliki tanggung jaawab
yang sama sebagai anggota tim. Manajer bertugas sebagai fasilitator atau pelatih, bukan sebagai
direktur. Pelaksanaan bisnis dipandang sebagai usaha tim. Kritik terhadap kegunaan akuntansi
pertanggungjawaban dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:
1. Berhubungan dengan perilaku disfungsional manajer yang dievaluasi atas dasar kinerja
yang dilaporkan oleh sistem tersebut.
2. Berhubungan dengan kegunaan data yang dihasilkan oleh sistem bagi manajer.

Perilaku Disfungsional Manajer


Hal yang dapat menimbulkan perilaku disfungsional yaitu:
1. Manajer cenderung mengutamakan kepentingannya sendiri. Manajer berusaha melakukan
praktik untuk menjamin evaluasi kinerja yang bagus, meskipun praktik tersebut merusak
kebaikan perusahaan secara keseluruhan.
2. Manajer memusatkan perhatian pada pencapain anggaran, bukan pada kinerja terbaik
yang dapat dicapainya.
3. Manajer memusatkan perhatian pada target jangka pendek dan mengabaikan tujuan
jangka panjang.
4. Manajer yang pandai memanipulasi akan sukses. Manajer yang kompeten dan efisien
tetapi kurang pandai menyiasati system akan menjadi frustasi, sulit mendapat promosi,
hingga akhirnya memutuskan keluar dari perusahaan.
Langkah efektif untuk memecahkan masalah perilaku disfungsional adalah dengan
menghentikan praktik penggunaan laporan penyimpangan sebagai dasar untuk mengevaluasi
kinerja individu manajer.

Kegunaan Informasi bagi Manajer


Menurut akuntansi pertanggungjawaban tradisional, biaya yang terjadi untuk menjalankan
aktivitas bisnis harus dilaporkan kepada manajer yang mengendalikan aktivitas bisnis.
Penyimpangan dilaporkan dengan tujuan:
1. Menjaga agar manajer bertanggung jawab terhadap terjadinya biaya, dan
2. Memberikan informasi yang berguna bagi manajer pusat pertanggungjawaban dalam
upaya mengendalikan aktivitas bisnis menjadi lebih efisien.
Masalah yang timbul dalam penentuan pihak yang sesungguhnya mengendalikan berbagai
unsur biaya sudah dibahas dibagian sebelumnya. Meskipun biaya terkendali dapat dipisahkan
dari biaya tidak terkendali, laporan pertanggungjawaban tetap memiliki keterbatasan dalam
membantu manajer pusat pertanggungjawaban mengendalikan biaya. Masalah tersebut antara
lain:
1. Penggunaan ukuran aktivitas berasarkan volume.
2. Laporan yang terlalu ringkas.
3. Data bersifat keuangan, dan
4. Laporan tersedia tidak tepat waktu.
Laporan akuntansi harus dipandang sebagai data pengendali tambahan yang memberikan
penilain ekonomis secara periodik mengenai keefektifan sistem operasional dalam
mengendalikan aktivitas bisnis. Laporan akuntansi tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya
cara pengendalian biaya.