Anda di halaman 1dari 27

Modul Praktikum

Kimia Dasar
Dasar Kuantitatif

Tim Dosen Laboratorium Kimia Kuantitatif IIK-BW

Prodi D4 TLM - Fakultas Sains Teknologi dan Analisis


Laboratorium Kimia Kuantittatif
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri
TATA TERTIB PRAKTIKUM

A. Peralatan Praktikum
Tiap mahasiswa/kelompok mahasiswa akan mendapatkan satu set peralatan
untuk setiap percobaan, yang akan dipakai bergantian dengan kelompok lain pada
praktikum berikutnya. Berdasarkan hal ini, maka setiap mahasiswa/kelompok
mahasiswa wajib:
1. Meja kerja dan alat kerja harus selalu bersih. Tidak diperkenankan
meninggalkan peralatan dalam keadaan kotor di meja kerja. Pada akhir kerja,
anda harus membersihkan meja kerja dengan lap basahyang bersih.
2. Jangan meminjam alat dari meja lain. Jika memerlukan peralatan tambahan,
harap meminjam kepada laboran yang bertugas, dan mencatatnya pada buku
peminjaman.
3. Jika ada peralatan rusak atau pecah, harus segera dilaporkan untuk diketahui
(dicatat dalam laporan kerusakan alat) dan mendapat gantinya. Kelalaian
melaporkan akan dikenakan sanksi.
4. Mahasiswa wajib mengganti alat yang rusak/pecah 1 minggu - 1 bulan
kemudian
5. Peralatan-peralatan besar untuk pemakaian bersama terletak di luar meja kerja,
di dalam ruang laboratorium (seperti timbangan, oven, hot-plate stirrer),
WAJIB dipergunakan dengan bertanggungjawab.

B. Bahan-bahan Kimia
Bahan kimia dipakai bersama dan disimpan pada rak-rak di meja kerja.
Reagen-reagen khusus yang diperlukan dan tidak tersedia akan dijelaskan oleh
Laboran/ asisten. Pada saat praktikum, maka mahasiswa wajib memperhatikan hal-
hal dibawah ini:
1. Cairan, padatan maupun sisa larutan harus dibuang/dikumpulkan ke dalam
wadah limbah yang sudah disediakan, sesuai dengan labelnya.
2. Ambil secukupnya saja untuk percobaan, reagen atau bahan kimia yang telah
diambil dari tempatnya tidak boleh dikembalikan ke wadah semula.
3. Botol bahan yang telah dipakai harus dikembalikan ke rak. Tidak boleh dibawa
ke tempat sendiri, karena akan mengganggu pemakaian oleh kelompok lain.
4. Sisa reagen sisa praktikum, WAJIB dikembalikan ke botol semula dan
dikembalikan pad arak reagen

C. Keselamatan saat Praktikum


Laboratorium kimia adalah wilayah kerja yang berbahaya. Tidak
dibenarkan bekerja seorang diri di laboratorium. Berdasarkan hal ini maka
mahasiswa wajib memperhatikan hal-hal dibawah ini demi keselamatan saat
praktikum.
1. Setiap aktifitas dan selama berada di laboratorium, wajib berpakaian
sewajarnya, memakai jas laboratorium sebagaimana mestinya, bersepatu, dan
bila perlu menggunakan sarung tangan dan masker.
2. Rambut panjang atau jilbab harus dijepit rapi sehingga tidak mengganggu
pekerjaan anda, menjerat peralatan atau terbakar api.
3. Mengetahui letak kotak PPPK, pintu keluar/darurat dan pemadam kebakaran di
area sekitar laboratorium. Jangan paksakan diri anda bekerja apabila kondisi
fisik anda tidak sehat.
4. Bila bahan kimia jatuh mengenai kulit, segera bilas kulit dengan air mengalir
dan laporkan ke Laboran/ asisten. Bila bahan kimia jatuh mengenai pakaian,
lepaskan dan cuci kulit di bawahnya dengan air.
5. Jangan membaui campuran reaksi secara langsung. Kurangi keterpaparan diri
anda oleh uap bahan kimia secara langsung. Jika ingin membaui sesuatu uap
kipaslah uap tersebut dengan tangan ke muka anda.
6. Bekerjalah di lemari asam bila menggunakan konsentrasi yang pekat dan bahan
berbahaya. Jebak uap beracun yang keluar darireaksi ke dalam air atau bahan
yang sesuai atau lakukan percobaan dalam lemari asam.
7. Untuk mengencerkan asam, tuang asam pekat ke dalam air, tidak sebaliknya.
8. Jangan menggosok-gosok mata atau anggota badan laindengan tangan yang
mungkin sudah terkontaminasi bahan kimia.
9. Dilarang menggunakan HP/laptop, makan, minum dan merokok di dalam
laboratorium.
D. Pelaksanaan Praktikum
Demi kelancaran praktikum di Laboratorium Kimia Kuantitatif IIK BW
Kediri, maka mahasiswa WAJIB untuk:
1. Mahasiswa dituntut untuk dapat bekerja mandiri maupun berkelompok.
2. Mahasiswa wajib hadir di ruang praktikum sesuai jadwal praktikum yang
sudah ditetapkan.
3. Selama di ruang praktikum, mahasiswa mengenakan baju praktikum dan hanya
diperkenankan membawa peralatan tulis/hitung dan kelengkapan praktikum.
4. Tas diletakkan di tempat yang sudah disediakan, jangan lupa amankan barang–
barang anda, misalnya HP, uang, dll.
5. Mahasiswa wajib mengikuti instruksi tim laboratorium, bekerja dengan tenang,
dan mengerjakan laporan secara individual.
6. Sebelum melaksanakan praktikum mahasiswa wajib melakukan inventarisasi
alat dan melaporkan jika ada alat yang tidak sesuai kondisinya.
7. Selama pelaksanaan praktikum mahasiswa tidak diperkenankan meninggalkan
praktikum tanpa ijin dosen atau pembimbing praktikum.
8. Mahasiswa wajib membuang sampah praktikum sesuai ketentuan yang
berlaku di laboratorium.
9. Setelah selesai praktikum, mahasiswa wajib membersihkan, merapikan,
peralatan dan tempat praktikum serta mengiventarisasi kembali alat yang
sudah digunakan.
10. Mahasiswa wajib mencatat seluruh hasil praktikum, serta meng acc kan data
kepada Dosen.
11. Hanya mahasiswa yang tidak hadir karena sakit (surat ijin dari dokter) dan
mendapat tugas dari Prodi/fakultas/institut, yang diperkenankan untuk
mengikuti praktikum susulan, pada kelas yang lain.
12. Sanksi akan diberikan apabila mahasiswa melanggar instruksi ataupun
melakukan kegiatan di luar aktifitas praktikum contoh mengerjakan tugas
kuliah lain selama kegiatan praktikum, melakukan kegiatan yang
membahayakan diri sendiri maupun praktikan lainnya,dll.
E. SISTEM PENILAIAN
Sistem penilaian diatur untuk menjaga obyektifitas hasil kerja mahasiswa
serta , transparansi penilaian tanpa mengurangi maksud dan tujuan praktikum ini.
Adapun sistem penilaian yang digunakan adalah:
1. Nilai akhir praktikum diperoleh dari keaktifan dalam diskusi baik di
laboratorium maupun di e-learning (schoology) (10%), nilai ujian pendahuluan
dan pretes (20%), nilai percobaan (25%), nilai laporan (15%) dan nilai ujian
akhir (30%).
2. Nilai percobaan ditentukan dari kesesuaian kadar yang didapat oleh mahasiswa
dengan kadar yang sebenarnya. Semakin besar persen kesalahan mahasiswa,
maka nilai yang didapatkan juga semakin kecil. Range nilai percobaan yang
dijalankan adalah 40-80, dengan rincian:
Persen Kesalahan Nilai
0-1 80
1,1-2 75
2,1-3 70
3,1-4 65
4,1-5 60
5,1-6 55
6,1-7 50
7,1-8 45
>8 40

3. Mahasiswa yang memiliki tanggungan alat harus segera melunasinya. Nilai


akhir praktikum hanya dikeluarkan untuk mahasiswa yang telah bebas
tanggungan.
PERCOBAAN 1
RESPONSI TEORI

A. Tujuan
Tujuan dari praktikum responsi teori adalah
1. Untuk mengetahui prinsip dasar standarisasi
2. Untuk mengetahui prinsip dasar volumetri
3. Untuk mengetahui macam-macam metode titrasi

B. Teori Singkat
Volumetri atau titrimetri merupakan suatu metode analisis kuantitatif
didasarkan pada pengukuran volume titran yang bereaksi sempurna dengan analit.
Titran merupakan zat yang digunakan untuk mentitrasi, sedangkan analit adalah zat
yang akan ditentukan konsentrasi atau kadarnya. Proses penambahan larutan
standar ke dalam larutan yang akan ditentukan sampai terjadi reaksi sempurna
disebut titrasi. Saat reaksi sempurna yang dimaksud tercapai disebut titik ekivalen
atau titik akhir titrasi. Beberapa faktor yang menyebabkan hasil tidak sesuai saat
titrasi adalah penentuan titik akhir titrasi dan pembacaan skala pada buret. Ada
beberapa metode volumetri yang diketahui, yaitu titrasi asam-basa (asidimetri,
titrasi alkalimetri); titrasi redoks (titrasi iodimetri, titrasi iodometri, titrasi
permanganometri); titrasi pengomplekan (titrasi kompleksometri); dan titrasi
pengendapan (titrasi argentometri). Pada praktikum kimia dasar, anda akan
dikenalkan mengenai titrasi asam basa.

Titrasi Asam basa


Titrasi asam basa adalah titrasi yang melibatkan kesetimbangan asam basa.
Ada 2 jenis titrasi asam basa yang dikenal, yaitu asidimetri dan alkalimetri. Asidi
berasal dari kata acid (bahasa Inggris) yang berarti asam sedang metri dari
(bahasa Yunani) yang berarti ilmu, proses, atau seni mengukur. Asimetri
berarti pengukuran jumlah asam atau pengukuran dengan asam. Titrasi
asidimetri-alkalimetri merupakan titrasi yang berhubungan dengan asam -basa.
Prinsip kerja dari titrasi asam basa adalah penetralan. Berdasarkan reaksinya
dengan pelarut, asam dan basa diklasifikasikan menjadi asam-basa kuat dan
lemah sehingga titrasi asam-basa meliputi titrasi asam kuat dengan basa kuat,
asam kuat dengan basa lemah, asam lemah dengan basa kuat, asam kuat
dengan garam dari asam lemah, dan basa kuat dengan garam dari basa lemah.
Penentuan titik ekivalen pada saat titrasi, sangat sulit untuk dilakukan. Hal ini
menyebabkan perlu adanya sebuah indikator. Indikator pH merupakan zat yang
dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Indicator yang
biasanya digunakan dalam titrasi asam basa adalah asam dan basa organik lemah
yang bentuk tak terurainya dan bentuk ioniknya memiliki warna yang berbeda.
Kesetimbangan ionisasi indikator sebagai asam organik lemah dapat dijelaskan
melalui persamaan berikut:
HIn (aq) ↔ H+(aq) + In- (aq)
Warna A Warna B
Letak kesetimbangan bergantung pada pH lingkungan, dalam lingkungan
asam, kesetimbangan bergeser ke kiri sehingga warna larutan sama dengan
warna A sedangkan dalam lingkungan basa, kesetimbangan bergeser ke kanan
sehingga warna larutan samadengan warna B.

C. Tugas Praktikum
Buatlah makalah/Resume tentang prinsip dasar standarisasi, prinsip dasar
titrasi asam basa, indikator untuk titrasi asam basa, serta contoh reaksi asam basa
PERCOBAAN 2
RESPONSI ALAT

A. Tujuan
Tujuan dari praktikum responsi alat adalah
1. Untuk mengetahui berbagai alat yang akan digunakan selama praktikum di
laboratorium Kimia Kuantitatif
2. Untuk mengetahui kegunaan dari setiap alat praktikum
3. Untuk mengetahui cara pembacaan skala alat praktikum
4. Untuk mengetahui cara membersihkan peralatan gelas yang digunakan
selama praktikum

B. Teori Singkat
Ada beberapa peralatan kimia yang digunakan dalam praktikum kimia dasar
kuantitatif. Peralatan kimia yang wajib diketahui pada metode volumetri antara
lain:
 Buret
Buret adalah sebuah peralatan gelas laboratorium
berbentuk silinder yang memiliki garis ukur dan sumbat
keran pada bagian bawahnya. Buret digunakan untuk
meneteskan sejumlah reagen cair dalam eksperimen yang
memerlukan presisi, seperti pada eksperimen titrasi.

 Erlenmeyer
Berupa gelas yang diameternya semakin ke atas
semakin kecil dengan skala sepanjang dindingnya.
Fungsi dati erlenmeyer adalah Untuk menyimpan dan
memanaskan larutan, Menampung filtrat hasil
penyaringan, Menampung titran (larutan yang dititrasi)
pada proses titrasi.
 Pipet volume
Pipet volume biasanya digunakan untuk mengambil
cairan dalam jumlah tertentu secara tepat, bagian tengahnya
menggelembung.

 Gelas Kimia
Berupa gelas tinggi, berdiameter besar dengan skala
sepanjang dindingnya. Terbuat dari kaca borosilikat yang
tahan terhadap panas hingga suhu 200 oC (pyrex). Fungsi dari
Beaker adalah Untuk mengukur volume larutan yang tidak
memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi, Menampung zat
kimia, Memanaskan cairan, Media pemanasan cairan

 Ball pipet/ Pipet filler/Rubber Bulb

Alat untuk menyedot larutan yang dapat dipasang


pada pangkal pipet ukur/ pipet volume. Karet sebagai
bahan filler merupakan karet yang resisten bahan kimia.
Bagian Filler memiliki 3 saluran yang masing-masing
saluran memiliki katup. Katup A (aspirate) berguna
untuk mengeluarkan udara dari gelembung. S (suction)
merupakan katup yang jika ditekan maka cairan dari ujung pipet akan tersedot ke
atas. E (exhaust) berfungsi untuk mengeluarkan cairan dari pipet ukur.

C. Tugas Praktikum
Amatilah seluruh peralatan gelas yang ada di laboratorium Kimia Kuantitatif
IIK BW Kediri. Buatlah tabel tentang macam-macam alat dan kegunaannya sesuai
dengan tabel dibawah ini:
No Nama Alat Gambar Alat Ukuran Alat Kegunaan Alat
PERCOBAAN 3
CARA PEMBUATAN LARUTAN HCl dan NaOH

A. Tujuan
Tujuan dari praktikum cara pembuatan larutan HCl dan NaOH ini adalah
1. Untuk mengetahui cara pembuatan larutan HCl
2. Untuk mengetahui cara pembuatan larutan NaOH

B. Teori Singkat
Larutan merupakan campuran yang homogen, yaitu campuran yang memiliki
komposisi merata atau serba sama di seluruh bagian volumenya. Suatu larutan
mengandung dua komponen atau lebih yang disebut zat terlarut (solute) dan pelarut
(solvent). Dalam pembuatan larutan di laboratorium, kita kenal istilah
“konsentrasi”. Bila larutan pekat berarti konsentrasinya tinggi. Bila larutan encer
berarti larutan tersebut mempunyai konsentrasi rendah. Konsentrasi merupakan
cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut.
Beberapa satuan konsentrasi yang dapat digunakan antara lain fraksi mol, molaritas,
molalitas, normalitas, ppm, persen massa serta persen volume.

C. Prinsip Kerja
Prinsip kerja yang digunakan pada praktikum ini adalah pengenceran dan
gravimetri

D. Persamaan Reaksi
1. NaOH(s) + H2O(l)  NaOH(aq)
2. HCl(l) + H2O(l)  HCl(aq)

E. Alat dan Bahan


1. Alat
 Timbangan analitik  Kaca arloji
 Labu ukur  Beaker glass
 Pipet ukur  Batang pengaduk
 Botol semprot  Spatula
 Corong  Bola hisap
2. Bahan
 HCl pekat
 NaOH
 Aquades

F. Prosedur Kerja
1. Pembuatan larutan HCl
 Dipipet 8,33 mL HCl pekat (12 N)
 Dimasukkan ke dalam beaker glass 1000 mL yang telah terisi aqua ±
500 mL
 Diaduk sampai homogen
 Dimasukkan labu ukur 1000 mL
 Ditambah aquades sampai tanda batas
 Dikocok sampai homogen

2. Pembuatan larutan NaOH


 Ditimbang NaOH 4 gram
 Dimasukkan kedalam beaker glass 500 mL
 Ditambahkan air ± 500 mL diaduk sampai larut
 Dimasukkan labu ukur 1000 mL lalu
 Ditambahkan aquades sampai tanda batas
 Dikocok sampai homogen

G. Cara Perhitungan
1. Pembuatan larutan HCl
𝑉. 𝑁 𝑝𝑘𝑡 = 𝑉. 𝑁 𝑒𝑛𝑐

𝑉. 𝑁𝑒𝑛𝑐 1000.0,1
𝑉 𝑝𝑘𝑡 = = = 8,33 𝑚𝑙
𝑁𝑝𝑘𝑡 12
2. Pembuatan larutan NaOH
𝑔 = 𝑁. 𝑉. 𝐵𝐸
1000 40
= 0,1000 × ×
1000 1
= 4 𝑔𝑟𝑎𝑚

H. Tugas Praktikum
Buatlah larutan Na2CO3 0,05N dan H2C2O3 0,05N, lengkapilah dengan cara
perhitungan, foto, dan langkah-langkahnya
PERCOBAAN 4
STANDARISASI HCl DENGAN Na2CO3

A. Tujuan
Tujuan dari praktikum standarisasi HCl dengan Na2CO3 ini adalah untuk
menentukan konsentrasi HCl yang sebenarnya

B. Teori Singkat
Analisis kuantitatif pada umumnya dilakukan dengan mengukur banyaknya
volume larutan standar yang dapat bereaksi kualitatif dengan larutan zat yang
dianalisis yang banyaknya tertentu dan diketahui. Larutan standart dapat dibagi
menjadi 2, yaitu larutan baku primer dan baku sekunder. Larutan standar primer
merupakan larutan yang telah diketahui konsentrasinya (molaritas atau normalitas)
secara pasti melalui pembuatan langsung. Larutan standar primer berfungsi untuk
menstandarisasi atau membakukan atau untuk memastikan konsentrasi larutan
tertentu, yaitu larutan yang konsentrasinya belum diketahui secara pasti (larutan
standar sekunder). Larutan standar sekunder (titran) biasanya ditempatkan pada
buret yang kemudian ditambahkan ke dalam larutan zat yang telah diketahui
konsentrasinya secara standar primer). Salah satu syarat larutan dapat digunakan
sebagai baku primer adalah tidak higroskopis, tidak teroksidasi, tidak menyerap
udara dan selama penyimpanan tidak boleh berubah (stabil). Disisi lain HCl
merupakan asam kuat yang sangat mudah menguap, sehingga perlu distandarisasi
terlebih dahulu. Adapun jenis basa yang dapat digunakan sebagai baku primer pada
standarisasi HCl adalah natrium tetra borat dan natrium karbonat. Pada praktikum
ini dipilih natrium karbonat sebagai baku primer karena stabil, mempunyai berat
ekivalen yang tinggi serta mudah larut dalam aquades.

C. Metode
Metode yang digunakan pada praktikum standarisasi HCl dengan Na2CO3 ini
adalah acidimetri
D. Prinsip Kerja
Prinsip kerja yang digunakan pada praktikum standarisasi HCl dengan Na2CO3
ini adalah reaksi penetralan

E. Persamaan Reaksi
2HCl(aq) + Na2CO3(aq)  2NaCl(aq) + H2O(l) + CO2(g)

F. Alat dan Bahan


1. Alat
 Timbangan analitik  Kaca arloji
 Labu ukur  Beaker glass
 Pipet ukur  Batang pengaduk
 Botol semprot  Spatula
 Corong  Bola hisap

2. Bahan
 HCl 0,1 N
 Na2CO3 0,05 N
 MR 1%
 Aquades

G. Prosedur Kerja
 Dipipet 10 mL Na2CO3 dengan pipet volume
 Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
 Ditambah 3 tetes indikator PP 1%
 Dititrasi dengan larutan HCl sampai larutan berubah warna menjadi dari
kuning menjadi merah fanta

H. Cara Perhitungan
(𝑁 𝑥 𝑉 )𝐻𝐶𝑙 = (𝑁 𝑥 𝑉 )𝑁𝑎2 𝐶𝑂3
(𝑁 𝑥 𝑉)𝑁𝑎2 𝐶𝑂3
𝑁𝐻𝐶𝑙 =
𝑉𝐻𝐶𝑙
𝑁𝑁𝑎2𝐶𝑂3 𝑥 10 𝑚𝐿
𝑁𝐻𝐶𝑙 =
𝒀 𝑚𝐿
𝑁𝐻𝐶𝑙 = 𝒂 𝑁
PERCOBAAN 5
STANDARISASI NaOH DENGAN H2C2O4

A. Tujuan
Tujuan dari praktikum standarisasi H2C2O4 dengan NaOH ini adalah untuk
menentukan konsentrasi NaOH yang sebenarnya

B. Teori Singkat
Analisis kuantitatif pada umumnya dilakukan dengan mengukur banyaknya
volume larutan standar yang dapat bereaksi kualitatif dengan larutan zat yang
dianalisis yang banyaknya tertentu dan diketahui. Larutan standart dapat dibagi
menjadi 2, yaitu larutan baku primer dan baku sekunder. Larutan standar primer
merupakan larutan yang telah diketahui konsentrasinya (molaritas atau normalitas)
secara pasti melalui pembuatan langsung. Larutan standar primer berfungsi untuk
menstandarisasi atau membakukan atau untuk memastikan konsentrasi larutan
tertentu, yaitu larutan yang konsentrasinya belum diketahui secara pasti (larutan
standar sekunder). Larutan standar sekunder (titran) biasanya ditempatkan pada
buret yang kemudian ditambahkan ke dalam larutan zat yang telah diketahui
konsentrasinya secara standar primer). Salah satu syarat larutan dapat digunakan
sebagai baku primer adalah tidak higroskopis, tidak teroksidasi, tidak menyerap
udara dan selama penyimpanan tidak boleh berubah (stabil). Disisi lain NaOH
merupakan basa yang bersifat higroskopis, sehingga perlu distandarisasi terlebih
dahulu. Adapun jenis asam yang dapat digunakan sebagai baku primer pada
standarisasi NaOH adalah asam benzoat dan asam oksalat. Pada praktikum ini
dipilih asam oksalat sebagai baku primer karena stabil, mempunyai berat ekivalen
yang tinggi serta mudah larut dalam aquades.

C. Metode
Metode yang digunakan pada praktikum standarisasi H2C2O4 dengan NaOH ini
adalah alkalimetri
D. Prinsip Kerja
Prinsip kerja yang digunakan pada praktikum standarisasi H2C2O4 dengan
NaOH ini adalah reaksi penetralan
E. Persamaan Reaksi
H2C2O4(aq) + 2 NaOH(aq)  Na2C2O4(aq) + 2 H2O(l)

F. Alat dan Bahan


1. Alat
 Timbangan analitik  Kaca arloji
 Labu ukur  Beaker glass
 Pipet ukur  Batang pengaduk
 Botol semprot  Spatula
 Corong  Bola hisap

2. Bahan
 NaOH 0,1 N
 H2C2O4 0,05 N
 PP 1%
 Aquades

G. Prosedur Kerja
 Dipipet 10 mL H2C2O4 dengan pipet volume
 Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
 Ditambah 3 tetes indikator PP 1%
 Dititrasi dengan larutan NaOH sampai larutan berubah warna menjadi
warna merah muda yang konstan

H. Cara Perhitungan
(𝑁 𝑥 𝑉 )𝑁𝑎𝑂𝐻 = (𝑁 𝑥 𝑉 )𝐻2 𝐶2𝑂4
(𝑁 𝑥 𝑉)𝐻2 𝐶2 𝑂4
𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 =
𝑉𝑁𝑎𝑂𝐻
𝑁𝐻2 𝐶2 𝑂4 𝑥 10 𝑚𝐿
𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 =
𝒀 𝑚𝐿
𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 = 𝒂 𝑁
PERCOBAAN 6
PENETAPAN KADAR NATRIUM KARBONAT SECARA ACIDIMETRI

A. Tujuan
Tujuan dari praktikum penetapan kadar natrium karbonat (Na 2CO3) secara
acidimetri adalah untuk menetapkan kadar dari larutan Na 2CO3 menggunakan
metode acidimetri

B. Teori Singkat
Titrasi merupakan metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasasnya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. Sebagai
contoh apabila melibatkan reaksi penetralan asam basa maka disebut titrasi asam
basa. Titrasi asam basa merupakan teknik untuk menentukan konsentrasi larutan
asam atau basa. Salah satu metode titrasi asam basa adalah acidimetri. Acidimetri
merupakan analisis volumetrik yang menggunakan larutan standar sekunder asam
untuk menentukan jumlah basa.
Sebagai contoh titrasi Na2CO3 dengan HCl menggunakan indikator metil
red (MR). Apabila semua Na2CO3 telah habis bereaksi dengan HCl maka adanya
penambahan sedikit HCl akan merubah warna larutan yang awalnya kuning
menjadi merah fanta dan titrasi harus dihentikan. Keadaan dimana titrasi dihentikan
dengan adanya perubahan dari indikator disebut titik akhir titrasi, sedangkan
keadaan dimana semua Na2CO3 telah habis bereaksi dengan HCl (mol basa = mol
asam) disebut titik ekuivalen. Titrasi yang bagus mempunyai titik akhir titrasi yang
berdekatan dengan titik ekuivalen. Konsentrasi larutan basa dapat ditentukan
dengan menghitung mol ekuivalen dari asam, yaitu:
Mol ekuivalen asam = mol ekuivalen basa
Mol ekuivalen diperoleh dari hasil kali normalitas (N) dengan volume (V), sehingga
untuk mengetahui konsentrasi basa rumus yang digunakan adalah:
N x V asam = N x V basa
Dalam perhitungan ini tidak menggunakan molaritas (M) karena dalam keadaan
reaksi yang telah berjalan sempurna (reagen habis bereaksi) yang digunakan adalah
mol-ekuivalen bukan mol. Mol ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian normalitas
dengan volume.

C. Metode
Metode yang digunakan pada praktikum penetapan kadar natrium karbonat
(Na2CO3) adalah acidimetri

D. Prinsip Kerja
Prinsip kerja yang digunakan pada praktikum penetapan kadar natrium karbonat
(Na2CO3) secara acidimetri adalah reaksi penetralan

F. Persamaan Reaksi
1. Standarisasi HCl dengan Na2CO3
Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + NaCl
NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2
2. Penetapan Kadar Na2CO3 ................. N
Na2CO3 + HCl  NaHCO3 + NaCl
NaHCO3 + HCl  NaCl + H2O + CO2

G. Prosedur Kerja
1. Standarisasi HCl dengan Na2CO3 ................. N
1. Dipipet 10,0 ml Na2CO3 ............... N dimasukkan ke dalam Erlenmeyer.
2. Kemudian ditambah 3 tetes indikator MR 1%
3. Dititrasi dengan larutan HCl sampai terjadi perubahan dari kuning menjadi
merah
2. Penetapan kadar Na2CO3
1. Dipipet 10,0 ml larutan Na2CO3 ...... N dimasukkan kedalam Erlenmeyer.
2. Kemudian ditambah 3 tetes indikator MR 1%
3. Dititrasi dengan HCl sampai terjadi perubahan dari kuning menjadi merah
H. Cara Perhitungan
1. Standarisasi
(𝑉. 𝑁)𝐻𝐶𝑙 = (𝑉. 𝑁)𝑁𝑎2 𝐶𝑂3
10,0 . 𝑁 𝑁𝑎2 𝐶𝑂3
𝑁 𝐻𝐶𝑙 =
𝑉 𝐻𝐶𝑙
10,0 . 𝑁 𝑁𝑎2 𝐶𝑂3
=
𝑋
= 𝐴. 𝑁
2. Penetapan kadar
(𝑉. 𝑁)𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = (𝑉. 𝑁) 𝐻𝐶𝑙
(𝑉. 𝑁)𝐻𝐶𝑙
𝑁 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 =
𝑉 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝑌. 𝐴
𝑁 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 =
10,0
𝑁 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = 𝐵 𝑁
𝑁 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝐵𝑀 𝑁𝑎2 𝐶𝑂3
% 𝐵⁄𝑉 = ×
10 𝑉𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖
𝑏 105,99
= ×
10 2
𝐵
= %
𝑉
PERCOBAAN 7
PENETAPAN KADAR ASAM OKSALAT SECARA ALKALIMETRI

A. Tujuan
Tujuan dari praktikum penetapan asam oksalat (H2C2O4) secara alkalimetri
adalah untuk menetapkan kadar dari larutan H2C2O4 menggunakan metode
alkalimetri

B. Teori Singkat
Titrasi merupakan metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasasnya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. Sebagai
contoh apabila melibatkan reaksi penetralan asam basa maka disebut titrasi asam
basa. Titrasi asam basa merupakan teknik untuk menentukan konsentrasi larutan
asam atau basa. Salah satu metode titrasi asam basa adalah alkalimetri. Alkalimetri
merupakan analisis volumetrik yang menggunakan larutan standar sekunder basa
untuk menentukan jumlah asam.
Sebagai contoh titrasi H2C2O4 dengan NaOH menggunakan indikator
penolpthalein (PP). Apabila semua H2C2O4 telah habis bereaksi dengan NaOH
maka adanya penambahan sedikit NaOH akan merubah warna larutan yang
awalnya tak berwarna menjadi merah muda dan titrasi harus dihentikan. Keadaan
dimana titrasi dihentikan dengan adanya perubahan dari indikator disebut titik akhir
titrasi, sedangkan keadaan dimana semua H2C2O4 telah habis bereaksi dengan
NaOH (mol asam = mol basa) disebut titik ekuivalen. Titrasi yang bagus
mempunyai titik akhir titrasi yang berdekatan dengan titik ekuivalen. Konsentrasi
larutan asam dapat ditentukan dengan menghitung mol ekuivalen dari basa, yaitu:
Mol ekuivalen asam = mol ekuivalen basa
Mol ekuivalen diperoleh dari hasil kali normalitas (N) dengan volume (V), sehingga
untuk mengetahui konsentrasi basa rumus yang digunakan adalah:
N x V asam = N x V basa
Dalam perhitungan ini tidak menggunakan molaritas (M) karena dalam keadaan
reaksi yang telah berjalan sempurna (reagen habis bereaksi) yang digunakan adalah
mol-ekuivalen bukan mol. Mol ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian normalitas
dengan volume.

C. Metode
Metode yang digunakan pada praktikum penetapan kadar asam oksalat
(H2C2O4) adalah alkalimetri

D. Prinsip Kerja
Prinsip kerja yang digunakan pada praktikum penetapan kadar asam oksalat
(H2C2O4) secara alkalimetri adalah reaksi penetralan

F. Persamaan Reaksi
1. Standarisasi NaOH dengan H2C2O4
H2C2O4 + 2 NaOH  Na2C2O4 + 2 H2O
2. Penetapan Kadar H2C2O4 ................. N
H2C2O4 + 2 NaOH  Na2C2O4 + 2 H2O

G. Prosedur Kerja
1. Standarisasi NaOH dengan H2C2O4 ................. N
1. Dipipet 10,0 ml H2C2O4 dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
2. Kemudian ditambah 3 tetes larutan indikator PP 1%
3. Dititrasi dengan larutan NaOH sampai warna merah muda yang konstan
2. Penetapan kadar H2C2O4
1. Dipipet 10,0 ml H2C2O4 dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
2. Kemudian ditambah 3 tetes larutan indikator PP 1%
3. Dititrasi dengan larutan NaOH sampai warna merah muda yang konstan

H. Cara Perhitungan
1. Standarisasi
(𝑉. 𝑁)𝐻2 𝐶2 𝑂4 = (𝑉. 𝑁)𝑁𝑎𝑂𝐻
(𝑉. 𝑁)𝐻2 𝐶2 𝑂4
𝑁 𝑁𝑎𝑂𝐻 =
𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻
10,0 . 𝑁 𝐻2 𝐶2 𝑂4
𝑁 𝑁𝑎𝑂𝐻 =
𝑋
𝑁 𝑁𝑎𝑂𝐻 = 𝐴𝑁

2. Penetapan kadar
(𝑉. 𝑁) 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = (𝑉. 𝑁) 𝑁𝑎𝑂𝐻
(𝑉. 𝑁)𝑁𝑎𝑂𝐻
𝑁 . 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 =
𝑉 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝑌. 𝐴
𝑁 . 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 =
10,0
𝑁 . 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = 𝐵𝑁

𝑁 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝐵𝑀 𝐻2 𝐶2 𝑂4
% 𝐵⁄𝑉 = ×
10 𝑉𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖
𝐵 126,07
= ×
10 2
= % 𝐵⁄𝑉
LAMPIRAN

Lampiran 1. PEMBUATAN REAGEN


Metode acidimetri
1. Pembuatan larutan baku sekunder HCl 0,1000 N, 1 l
Perhitungan : 𝑉. 𝑁 𝑝𝑘𝑡 = 𝑉. 𝑁 𝑒𝑛𝑐
𝑉. 𝑁𝑒𝑛𝑐 1000.0,1
𝑉 𝑝𝑘𝑡 = = = 8,33 𝑚𝑙
𝑁𝑝𝑘𝑡 12
Cara Pembuatannya :
 Dipipet 8,33 ml HCl pkt (12 N), dimasukkan ke dalam beaker glass 1000 ml
yang telah terisi aqua ± 500 ml, diaduk homogen, dimasukkan labu ukur
1000 ml ditambah aqua 1000 ml, dikocok homogen.
2. Pembuatan indikator Metil Merah 1% 100 ml
1𝑔
Perhitungan : 𝑔 = × 100 𝑚𝑙
100 𝑚𝑙

𝑔 = 1𝑔
Cara pembuatannya :
 Ditimbang 1 g Metil Merah dimasukkan ke dalam beaker glass 100 ml
ditambah dengan etanol ± 70 ml diaduk larut, ditambah dengan aquadest
100 ml, kocok homogen.
Metode Alkalimetri
1. LARUTAN BAKU PRIMER H2C2O4 0,0500 N (1 L)
𝑔 = 𝑁. 𝑉. 𝐵𝐸
1000 126,07
= 0,0500 × ×
1000 2
= 0,0500 × 1 .63,035
= 3,512 𝑔𝑟𝑎𝑚 ~ 3,200 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝑌𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 = 3.200 𝑔𝑟𝑎𝑚
3,200
𝑁𝑆 = × 0,0500
3,152
= 0,0508 𝑁
Cara = - Ditimbang H2C2O4 3,2 g dimasukkan ke dalam beaker glass 500 ml
- Ditambahkan air ± 500 ml diaduk larut
- Dimasukkan labu ukur (1000 ml) ditambahkan air 1 liter

2. LARUTAN BAKU SEKUNDER NaOH 0,1000 N (1 l)


𝑔 = 𝑁. 𝑉. 𝐵𝐸
1000 40
= 0,1000 × ×
1000 1
= 0,0500 .1 .63,035
Cara = - Ditimbang NaOH 4 gram dimasukkan kedalam beaker glass 500 ml
- Ditambahkan air ± 500 ml diaduk larut
- Dimasukkan labu ukur (1000 ml) ditambahkan air 1 liter

3. INDIKATOR PHENOLPHTALEIN 1% (100 ml)


1
𝑔= × 100
100
= 1 𝑔𝑟𝑎𝑚
Cara = - Ditimbang 1 PP dimasukkan kedalam beaker glass
- Ditambahkan 70 ml etanol diaduk ad larut
- Ditambahkan aquadest 100 ml
Lampiran 2. FORMAT LAPORAN

Halaman Judul
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Tujuan
1.3 Metode
1.4 Prinsip kerja
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar teori
2.2 Tinjauan bahan
2.3 Reaksi kimia
BAB III METODOLOGI
3.1 Alat
3.2 Bahan
3.3 Alur kerja
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
4.2 Hasil Percobaan
4.3 Perhitungan
4.4 Pembahasan
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Lampiran 1. ACC Data
Lampiran 2. Cara Pembuatan Reagen
Lampiran 3. Contoh Cover

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR KUANTITATIF


“JUDUL”

Disusun Oleh:
Nama :
NIM :
Prodi :
Kelompok :
Tanggal Praktikum :

LABORATORIUM KIMIA KUANTITATIF


INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2019
Lampiran 4. Format ACC Data
DATA HASIL PENGAMATAN
Hasil Pengamatan
Perlakuan
Sebelum Sesudah

DATA HASIL PERCOBAAN


Standarisasi
Volume awal Volume akhir Volume titrasi
Titrasi ke-
titrasi (mL) titrasi (mL) (mL)
1
2
3
Rata-rata

Penetapan Kadar
Volume awal Volume akhir Volume titrasi
Titrasi ke-
titrasi (mL) titrasi (mL) (mL)
1
2
3
Rata-rata

PERHITUNGAN

Anda mungkin juga menyukai