Anda di halaman 1dari 20

PSEUDOPREGNANCY

Disusun untuk memenuhi UAS mata kuliah Bioteknologi Hewan

Disusun Oleh:

Tiara Amirasyam 140410170013


Rahmania Wanda Z 140410170015
Novi Anggraini 140410170051
Nur Hesti R. 140410170063
M Ariq Rafii R 140410170065
Muhammad Mirza W 140410170075
Nabila Sifa K 140410170079
Vini Fitriani Tarigan 140410170089
Muqit Astuti 140410170101

UNIVERSITAS PADJAJARAN

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI BIOLOGI

SUMEDANG
2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
kami ucapkan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini atas dasar untuk memenuhi
nilai Ujian Akhir Semester mata kuliah Bioteknologi Hewan.

Makalah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan secara
langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami sampaikan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah turut membantu penyelesaian makalah ini.

Tidak lupa, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu sebagai bahan
pembelajaran, kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat untuk masyarakat luas maupun dapat memberikan inspirasi bagi siapapun
yang membacanya.

Jatinangor, Desember 2019

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................. 2


DAFTAR ISI ................................................................................................................................. 3
BAB I ............................................................................................................................................ 4
PENDAHULUAN......................................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................... 4
1.3 Tujuan ........................................................................................................................... 5
1.4 Manfaat ......................................................................................................................... 5
BAB II ........................................................................................................................................... 6
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................................ 6
BAB III...................................................................................................................................... 8
METODE PSEUDOPREGNANCY ......................................................................................... 8
BAB IV ....................................................................................................................................... 11
PEMBAHASAN ......................................................................................................................... 11
4.1 Pengertian Pseudopregnancy....................................................................................... 11
4.2 Penyebab Pseudopregnancy ........................................................................................ 11
4.3 Efek Pseudopregnancy ................................................................................................ 12
4.4 Cara Mengetahui Pseudopregnancy............................................................................ 12
4.5 Karakteristik Hormon Untuk Mengidentifikasi Kehamilan ........................................ 13
4.6 Pseudopregnancy Yang Terjadi Pada Hewan ............................................................. 14
4.7 Manfaat Pseudoprecnancy........................................................................................... 16
4.8 Hubungan Hormonal dalam Pseudopregnansi ............................................................ 16
BAB V......................................................................................................................................... 18
PENUTUP ................................................................................................................................... 18
5.1 Kesimpulan ................................................................................................................. 18
5.2 Saran............................................................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 19

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Populasi ternak di Indonesia telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun
akan tetapi konsumsi daging oleh masyarakat tidak dapat terpenuhi. Data populasi dan
produksi daging di Indonesia pada tahun 2014 sebesar 14.726.880 ekor dan 497.670 ton
(DPKH 2015 dalam Hardiyanto dkk, 2016). Hingga saat ini kebutuhan daging tersebut
belum dapat memenuhi masyarakat Indonesia. Produksi protein hewani harus dilakukan
secara efisien agar dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat dan tanpa merugikan
peternak. Masalah tersebut dapat diatasi oleh teknologi reproduksi melalui pemanfaatan
ternak yang memiliki genetik unggul dengan metode bioteknologi dan manajemen yang
baik. Metode bioteknologi yang dapat dimanfaatkan untuk penyebaran dan peningkatan
populasi ternak unggul dengan metode superovulasi pada rangkaian program Transfer
Embrio (TE). Transfer embrio adalah pemindahan embrio dari seekor hewan betina
pemberi (donor) kepada hewan betina penerima (resipien). Transfer embrio memiliki
keuntungan ganda yaitu dapat memfasilitasi peningkatan mutu genetik ternak sekaligus
memperoleh sapi yang berkualitas genetik tinggi dalam jumlah besar baik dari pejantan
maupun dari betina unggul.
Kondisi pseudopregnancy pada hewan dapat dimanfaatkan dalam prosedur
transfer embrio yaitu pada saat implantasi embrio pada induk pengganti atau resipien.
Agar transfer embrio mencapai kondisi yang diharapkan, yaitu menghasilkan
kebuntingan pada induk resipien, maka diperlukan kondisi optimal dari rahim induk.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan pseudopregnancy?
2. Apa yang menyebabkan terjadinya pseudopregnancy?
3. Bagaimana mekanisme hormon dalam pseudopregnancy?
4. Apa masalah yang terjadi dalam proses pseudopregnancy?

4
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui dan memahami pseudopregnancy
2. Mengetahui penyebab terjadinya pseudopregnancy
3. Mengetahui mekanisme terjadinya pseudopregnancy
4. Mengetahui masalah yang terjadi dalam proses pseudopregnancy

1.4 Manfaat
Manfaat yang diperoleh melalui pembuatan makalah ini, yaitu diharapkan dapat
memberikan informasi mengenai pseudopregnancy dan dapat menambah wawasan
bagi pembaca.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pseudopregnancy merupakan fenomena klinis di mana wanita yang tidak hamil


menunjukkan perilaku ibu dan tanda-tanda fisik kehamilan pada akhir diestrus (fase
luteal). Progesteron menyebabkan mammae pengembangan kelenjar dan penambahan
berat badan tetapi tidak perubahan perilaku dan fisik palsu lainnya kehamilan (Islam, dkk,
2017). Kehamilan palsu terkadang murni dari psikologis. Secara umum diyakini bahwa
kehamilan palsu disebabkan oleh perubahan sistem endokrin tubuh, menyebabkan sekresi
hormon yang menyebabkan perubahan fisik menjadi serupa dengan yang terjadi selama
kehamilan. Beberapa pria mengalami gejala yang sama dengan yang dialami wanita hamil
ketika pasangannya sedang hamil (sindrom Couvade), yang kemungkinan disebabkan
oleh feromon yang meningkatkan kadar estrogen, prolaktin, dan kortisol. (Cohen,1982).
Pseudopregnancy adalah kejadian dimana tanda-tanda subklinis dan simtomatis
pada hewan menunjukkan kebuntingan, namun sebenarnya hewan tersebut tidak bunting.
Kejadian ini sering terjadi pada anjing, meskipun jarang bisa terjadi pula pada kucing dan
tikus. Pseudopregnancy terjadi berkaitan dengan hormon yang disekresikan sehingga
menimbulkan tanda-tanda seperti bunting, diantaranya distensi perut, perkembangan
kelenjar susu dengan sekresi susu. Pseudopregnancy klinis sindrom diamati pada anjing
yang tidak bunting dan ditandai dengan tanda-tanda klinis seperti bentuk fisik, berat
badan, pembesaran mammae dan laktasi. Ini biasanya terjadi pada kebuntingan 6 sampai
12 minggu setelah estrus. Diagnosis didasarkan pada gejala klinis. Sementara prolaktin
memiliki peranan sangat penting dalam yang symptomology dari pseudopregnancy,
etiologi yang tepat belum sepenuhnya diketahui. Beberapa studi menunjukkan bahwa
selama diestrus (metestrus) prolaktin meningkat lebih tinggi dari jumlah normal
(Zukiaturrahmah, dkk, 2015).
Pseudopregnancy dapat terjadi pada beberapa hewan seperti anjing, kelinci,
kambing, tikus, dan kucing. Pseudopregnancy sering terjadi pada fase luteal betina. Fase
luteal adalah tahap akhir siklus menstruasi (pada manusia dan beberapa hewan lainnya)
atau pada tahap awal siklus estrus (pada mamalia-mamalia berplasenta lainnya). Tahap
ini dimulai dengan pembentukan corpus luteum dan dapat berujung pada kehamilan atau

6
luteolisis. Hormon utama pada tahap ini adalah progesteron, dan kadarnya jauh lebih
tinggi pada tahap luteal bila dibandingkan dengan tahap-tahap lain (Bagnell, 2005).
Hormon yang berperan dalam proses Proseudopregnancy adalah progesteron.
Progresteron merupakan kelompok hormon steroid seks yang berperan dalam
mempersiapkan dan merawat kondisi uterus selama kehamilan, regulasi perkembangan
kelenjar susu, kontrol ovulasi dan regulasi perilaku reproduktif hewan betina. (Strauss &
Barbieri, 2009).

7
BAB III
METODE PSEUDOPREGNANCY

Pseudopregnancy atau bunting palsu (false pregnancy) adalah kejadian dimana


tanda-tanda sub klinis dan simtomatis pada hewan menunjukkan kebuntingan, namun
sebenarnya hewan tersebut tidak bunting. Kejadian ini sering terjadi pada anjing,
meskipun jarang bisa terjadi pula pada kucing dan tikus. Pseudopregnancy terjadi
berkaitan dengan hormon yang disekreksikan sehingga menimbulkan tanda-tanda seperti
bunting, diantaranya distensi perut, perkembangan kelenjar susu dengan sekresi susu.
Pseudopregnancy klinis sindrom diamati pada anjing yang tidak bunting dan ditandai
dengan tanda-tanda klinis seperti bentuk fisik, berat badan, pembesaran mammae, dan
laktasi. Biasanya terjadi kebuntingan ini pada 6 sampai 12 minggu setelah estrus.
Diagnosis didasarkan pada gejala klinis. Sementara prolaktin memiliki peranan sangat
penting dalam symptomology dari pseudopregnancy (Johnston, 1980).
Beberapa studi menunjukkan bahwa selama diestrus (metestrus) prolaktin
meningkat lebih tinggi dari jumlah normal. Etiologi penyebab pasti untuk kondisi
pseudopregnancy belum diketahui. Namun, ketidakseimbangan hormonal terutama
progesteron dan prolaktin mempunyai peran penting dalam perkembangan terjadinya
pseudopregnancy. Beberapa anjing betina ditemukan menunjukkan gejala abnormal
dalam waktu tiga sampai empat hari setelah ovariohysterectomy (operasi pengangkatan
indung telur dan rahim). Gejala klinis produksi susu selama pseudopregnancy ternyata
hasil dari pengembangan tidak hanya intra-asinar tetapi juga intra-canalicular. Gejala
klinis yang terlihat seperti muntah, anoreksia, diare, poliuria, polidipsia, dan polifagia.
Komplikasi pseudopregnancy seperti mastitis dan dermatitis pada mammae yang tidak
umum (Jochle, et al., 1987).
Tanda-tanda pseudopregnancy biasanya berhenti setelah 2 sampai 4 minggu dan
terjadi berulang. Beberapa studi menunjukkan bahwa ada hubungan antara terjadinya
pseudopregnancy dan kemudian penyakit reproduksi atau masalah kesuburan. Jumlah
reseptor prolaktin yang ditemukan pada tumor mammae jinak tidak lebih tinggi dari
jaringan normal dan hanya 30% dari tumor ganas yang memiliki reseptor prolaktin.
Namun demikian, pseudopregnancy dan prolaktin telah terlibat dalam patogenesis tumor
mammae. Pathogenesis pada anjing yang sedang birahi dengan pelepasan sel telur terjadi

8
pada akhir masa birahi. Sel telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa akan menempel di
dinding rahim dan berkembang menjadi janin (fetus). Pada keadaan tidak normal, sel telur
yang tidak dibuahi bertindak menyerupai sel telur yang dibuahi dan menyebabkan
munculnya tanda-tanda bunting dan sel telur yang tidak dibuahi menetap di dinding rahim
untuk beberapa waktu. Selama sel telur yang tidak dibuahi tersebut menempel pada
dinding rahim, tanda-tanda bunting palsu akan semakin terlihat jelas. Diagnosa dilakukan
dengan pemeriksaan fisik (Suwed dan Budiana, 2006).
Palpasi melalui abdomen anjing mulai hari ke 28 setelah kawin. Radiografi
abdomen mulai dari 45 hari setelah kawin. Ultrasonografi mulai dari hari ke 30
kehamilan, dan uji relaxin sejak 20 hari setelah gelombang Luteinizing Hormone (LH)
merupakan beberapa metode yang telah digunakan untuk mendeteksi dan membedakan
antara pregnancy dan pseudopregnancy pada anjing. Pemeriksaan darah merupakan
sebuah media yang penting untuk menilai status kesehatan hewan karena kondisi
fisiologis dan patologis hewan dapat dievaluasi. Jumlah sel darah bervariasi tergantung
dengan kondisi fisiologis dan patologis. Nutrisi, usia, seks, siklus estrus, kehamilan,
iklim, dan penyakit dapat mempengaruhi parameter hematologi pada hewan. Diagnosis
pseudopregnancy didasarkan pada keberadaan dan tingkat tanda-tanda klinis yang lebih
sering dilaporkan karena perkawinan terjadwal dapat diabaikan oleh pemilik dan
kebuntingan harus selalu dipertimbangkan. Dalam hal lain USG atau radiografi harus
digunakan. Kondisi lain dari fase luteal, seperti pyometra atau kehamilan terakhir, dan
aborsi harus disingkirkan dengan ultrasonografi abdomen atau radiografi. Suatu jumlah
sel darah lengkap dan pengujian tambahan termasuk pemeriksaan vulva dan vagina
penting untuk diketahui (Nelson, 1987).
Pseudopregnancy dapat dipicu dengan melalui beberapa metode. Pada hewan
tikus pseudopregnancy bisa dipicu melalui dua metode, yang pertama diinduksi dengan
coitus dan yang kedua diinduksi secara non-coitus. Induksi pseudopregnancy dengan
coitus terjadi apabila tikus betina mengalami kopulasi tanpa fertilisasi. Stimulasi saat
kopulasi akan meningkatkan produksi prolaktin yang kemudian mengaktifkan korpus
luteum. Pola koitus akan memulai refleks neuroendokrin yang menghasilkan sekresi
progesteron yang cukup pada pseudopregnancy. Namun menginduksi pseudopregnancy

9
melalui metode ini perlu sistem adrenergic yang aktif dan secara bersamaan menghambat
sistem kolinergik (Terkel,1986).
Metode berikutnya adalah pseudopregnancy yang diinduksi tanpa coitus. Pada
metode ini perlu adanya stimulus eksternal maupun internal untuk meningkatkan kadar
hormon progesteron untuk mengumpan positif terhadap produksi prolaktin. stimulus
tersebut secara eksternal bisa dipicu dari faktor sosial dan lingkungan, seperti hidup
bersamaan pada populasi yang semuanya betina ataupun hidup dengan bayi tikus di
sekitarnya bagi tikus yang perawan (Fox, 2007).

10
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Pengertian Pseudopregnancy


Pseudopregnancy atau bunting semu merupakan suatu keadaan fisiologis atau
klinis pada induk betina yang seolah-olah mengalami kebuntingan. Kehamilan palsu
adalah fenomena klinis di mana perempuan yang tidak hamil menunjukkan perilaku ibu
dan tanda-tanda fisik kehamilan pada akhir diestrus (fase luteal). Istilah kehamilan palsu
dan diagnosis psoriasis sering digunakan secara bergantian tetapi tidak selalu mengacu
pada situasi hormon yang sama. Istilah pseudopregnancy merujuk secara khusus pada
fase luteal yang tidak hamil, biasanya mengacu pada hewan yang diinduksi berovulasi
oleh koitus, ketika konsentrasi serum progesteron tinggi. Progesteron menyebabkan
perkembangan kelenjar susu dan pertambahan berat badan tetapi tidak pada perubahan
perilaku dan fisik lainnya dari kelahiran palsu (Razzaque, et. al., 2008).
Pseudopregnancy adalah perkembangan tanda-tanda kehamilan tanpa kehadiran
embrio atau janin yang ditanam. Karakteristik dan perilaku dapat bervariasi, mulai dari
perubahan ringan dalam perilaku hingga membangun tanda-tanda keibuan dari proses
kelahiran yang akan datang. Durasi pseudopregnancy diperkirakan antara 15 dan 18 hari
pasca ovulasi dan terkait dengan pengaruh hormonal persisten corpora lutea. Adapun
nama lain atau sinonim dari Pseudopregnancy adalah false pregnancy, Pseudocyesis, dan
phantom pregnancy (Bigley and Vella, 2013).

4.2 Penyebab Pseudopregnancy


Menurut Bigley and Vella (2013) Pseudopregnancy dapat disebabkan oleh
berbagai hal seperti:
● disebabkan karena keadaan yang stress. stress pada hewan dapat disebabkan
karena pengangkutan atau perjalanan yang jauh serta karena keadaan
lingkungannya.
● pada hewan dapat disebabkan karena melihat adanya induk lain yang berada di
sekelilingnya dalam keadaan hamil.

11
● pada hewan keadaan pseudopregnancy dapat meningkat dikarenakan adanya
pemeliharaan.
● disebabkan karena kegagalan kawin atau berkembang biak pada hewan
● disebabkan karena adanya perkawinan dengan jantan hasil vasektomi.

4.3 Efek Pseudopregnancy


Menurut Bigley and Vella (2013) efek kesehatan hewan yang terjadi karena
Pseudopregnancy pada hewan:
● Dapat menyebabkan kelainan pada rahim seperti penyakit Hydrometra.
Hydrometra adalah penyakit yang disebabkan karena adanya akumulasi cairan
berair di dalam rahim. Tanda-tanda klinis penyakit ini meliputi rahim berisi cairan
yang membesar, peningkatan kecepatan pernapasan, anoreksia, dan penurunan
berat badan. Diagnosis penyakit ini dapat didukung oleh pengecekan
menggunakan radiografi dan ultrasonografi.
● Dapat menyebabkan perkembangan kelenjar susu dan produksi susu yang tidak
normal.
● Dapat meningkatkan tingkat agresif hewan, yang dapat terjadi kepada diri sendiri,
hewan lain, dan manusia (pemilik). Tingkat agresif ini dapat menyebabkan luka-
luka baik pada tubuh sendiri maupun pada tubuh lawannya.
● Menyebabkan alopecia ringan atau peningkatan kehilangan bulu yang disebabkan
akibat pencabutan bulu oleh induk. Biasanya bulu melekat erat pada kulit tetapi
selama kehamilan dan pseudopregnancy bulu tersebut akan menjadi sedikit.

4.4 Cara Mengetahui Pseudopregnancy


Menurut Bigley and Vella (2013) dan Islam et.al. (2017) cara untuk mengetahui
hewan yang Pseudopregnancy adalah:
● Pengecekan menggunakan Radiografi perut dan ultra-suara untuk mengetahui
keberadaan janin.
● Mengukur kadar hormon-hormon pada betina seperti hormon progesteron. Kadar
hormon yang didapatkan akan ditafsirkan dan dikaitkan dengan perilaku oleh
betina.

12
● Pada hewan terutama kelinci pseudopregnancy tidak dapat dibedakan secara
akurat sampai hari ke 19 kehamilan / kehamilan semu.
● Mengukur berat pertambahan badan betina setelah terjadinya perkawinan dengan
pejantan yang telah divasektomi.
● Betina akan menunjukkan perilaku seperti gelisah, aktivitas menurun, menjilati
perutnya, dan mengasuh benda mati.
● Betina akan menunjukkan gejala fisik seperti penambahan berat badan,
perbesaran payudara bahkan sekresi susu, dan kontraksi perut yang kadang
menyerupai perut yang sedang mengandung.

4.5 Karakteristik Hormon Untuk Mengidentifikasi Kehamilan


Terdapat beberapa hormon yang bekerja dalam menentukan kondisi kehamilan di
betina. Menurut Hafez (2000), pengukuran hormon kehamilan dapat diidentifikasi
dengan hormon:
● Progesteron
Progesteron dapat digunakan sebagai tes indikator kebuntingan, hal ini
dikarenakan Korpus Luteum akan hadir selama masa awal kehamilan di semua
spesies hewan ternak. kandungan progesteron dapat diukur dalam cairan biologis
seperti dalam susu, dan darah. kadar progesteron akan menurun pada hewan yang
tidak sedang bunting dan akan tinggi kandungannya pada hewan yang sedang
bunting. tes kandungan progesteron lebih efektif dilakukan pada susu, hal ini
dikarenakan kandungan progesteron akan lebih tinggi dalam susu daripada dalam
plasma darah.
● Estrogen Sulphate
Estrogen sulphate adalah salah satu derivat terbesar dari estrogen yang
diproduksi oleh konseptus. hormon ini dapat diukur dalam plasma maternal, susu
dan urine di semua spesies hewan ternak.
● Gonadrotropin
Equine Chorionic Gonadrotropin (eCG) adalah salah satu hormon yang
terdapat pada darah. diognosa kebuntingan dapat dilakukan dengan cara
imunologi berdasarkan pada eCG. Hal ini dilakukan dengan cara memeriksa

13
kandungan hormon eCG dalam sampel darahh yang diperiksa dengan tes
hemagglutination inhibitor (HI). hasil tes ini akan negatif (tidak bunting) apabila
terjadi aglutinasi dari sel darah merah dan apabila terjadi aglutinasi
mengindikasikan bahwa betina mengalami kebuntingan.

4.6 Pseudopregnancy Yang Terjadi Pada Hewan


Salah satu hewan yang dapat mengalami Pseudopregnancy adalah kelinci. Kelinci
Pseudopregnancy adalah model yang biasa digunakan untuk mempelajari endokrinologi
reproduksi. Kelinci adalah salah satu mamalia yang tidak selalu menunjukkan siklus
estrus secara teratur, meskipun kelinci memiliki ritme tertentu dalam fase seksualnya.
Ovulasi pada kelinci umumnya terjadi secara non-spontan atau diinduksi di alam serta
menumbuhkan rangsangan kawin untuk induksi. pada kelinci ovulasi terjadi selama 10-
14 jam setelah kawin. ovulasi juga terjadi karena melihat jantan yang aktif secara seksual
(Donelly, 2013).
Bunting semu sering terjadi pada kelinci diakibatkan karena adanya handling yang
kasar, dinaiki oleh betina lain, dan sebagainya. Bunting semu disebabkan karena adanya
corpus luteum persisten selama 2 minggu (Purnomo, 2000). Pada kelinci
Pseudopregnancy biasanya berlangsung selama 16 hingga 17 hari dan dapat diikuti
dengan perilaku menarik dan bersarang menggunakan rambut di tubuhnya.
Pseudopregnancy pada kelinci dapat terjadi karena Korpus luteum mengeluarkan banyak
progesteron, menyebabkan memicu perkembangan rahim dan kelenjar susu dari kelinci.
Perkembangan mammae paling menonjol pada 10 hari pertama kehamilan palsu, setelah
mana involusi susu biasanya terjadi pada hari ke 16 (Klaphake, and Joanne, 2012).
Pada anjing pseudopregnancy adalah bentuk berlebihan dari proses fisiologis
normal. Setiap anjing betina non ovariektomi memiliki fase estrus luteal yang
berkepanjangan, dan fase ini disebut pseudopregnancy atau pseudopregnancy fisiologis.
Beberapa anjing, terutama dari ras mainan, mengembangkan reaksi berlebihan.
Mekanisme ini kurang dipahami, tetapi prolaktin atau reseptornya memainkan peran.
Kehadiran progesteron diperlukan untuk perubahan jaringan terjadi. Anjing
pseudopregnant yang berlebihan memiliki konsentrasi prolaktin yang meningkat atau
sensitivitas yang meningkat terhadap prolaktin. Lingkungan prolaktin ini dapat terjadi

14
dengan penurunan progesteron yang lebih cepat dari biasanya ketika anjing dimandikan
selama diestrus (Klaphake, and Joanne, 2012).
Tikus menjadi pseudopregnant mengikuti estrus di mana betina dibiakkan oleh
jantan yang tidak subur, menghasilkan kawin steril (Fox, 2007). Seperti anjing, tikus
adalah ovulator spontan. Namun, mereka tidak akan menjadi pseudopregnant setelah
estrus di mana betina tidak kawin karena corpus luteum akan terdegradasi dengan cepat
tanpa adanya koitus. Ketika betina dikawinkan oleh jantan infertil, corpus luteum
bertahan tanpa embrio, yang mengarah ke pseudopregnancy. Betina akan
mengembangkan kelenjar susu, menyusui, dan membangun sarang dalam keadaan
pseudopregnant. Pseudopregnancy pada tikus agak umum pada tikus laboratorium karena
sering diinduksi untuk tujuan menanamkan embrio ke bendungan pengganti, tetapi jarang
pada tikus liar karena sebagian besar jantan liar subur dan benar-benar menghamili betina.
Kucing yang mengalami pseudopregnancy akan mengalami hal serupa kehamilan.
Kucing hamil dapat mengalami perubahan fisik dan tingkah laku. Bagian perut mulai
membesar. Perut Kucing yang hamil mulai terlihat membesar pada umur kehamilan 5
minggu. Bagian perut ini akan terus membesar hingga mendekati saat melahirkan. Salah
satu tanda yang cukup signifikan adalah berubahnya puting susu. Pada kucing hamil,
puting susu sedikit membengkak dan warnanya berubah kemerahan (pink). Air susu
mulai diproduksi dan bisa dikeluarkan sekitar 3-2 minggu akhir masa kehamilan. Jadi bila
puting susu dipencet dengan lembut dan terlihat ada cairan susu, kelahiran akan terjadi
sekitar 2-3 minggu lagi. Bulu sekitar puting susu menipis. Pada beberapa kejadian
(jarang) kucing hamil juga muntah-muntah, seperti manusia pada awal kehamilan.
Kucing yang hamil memperlihatkan peningkatan nafsu makan. Tentunya peningkatan
nafsu makan ini bertujuan memberikan nutrisi yang cukup bagi perkembangan ibu dan
janinnya. Sebagian kucing yang hamil mengalami perubahan tingkah laku seperti lebih
tenang dan lembut. Selain itu mereka juga berusaha mencari perhatian lebih terhadap
pemiliknya. Pada akhir masa kehamilan terlihat beberapa tingkah laku seperti gelisah dan
lebih suka berada di tempat hangat dan tertutup.

15
4.7 Manfaat Pseudoprecnancy
Adanya pseudopregnancy dapat dimanfaat sebagai modal awal untuk transfer
embrio. Menurut Lipi (2015), transfer embrio adalah suatu proses muali dari pemilihan
betina pendonor, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi, koleksi embrio,
penanganan dan evakuasi embrio, transfer embrio ke betina resipien pada sampai
pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran. Sebelum dilakukannya transfer embrio perlu
diadakan seleksi terlebih dahulu terhadap betina resipien yang akan digunakan. Sebelum
dilakukan transfer embrio betina resipien harus memiliki status reproduksi seperti betina
yang sedang bunting. maka dari itu, sebelum dilakukan transfer embrio perlu dilakukan
penyesuaian kehamilan seperti pseudopregnancy kepada betina resipien. Setelah
pseudopregnancy terjadi pada betina maka akan terjadi kondisi yang optimal dari rahim
induk resipien agar embrio yang ditrasnfer dapat terimplementasi ke dinding rahim induk
resipien dan menghasilkan kebuntingan yang diinginkan.

4.8 Hubungan Hormonal dalam Pseudopregnansi


Salah satu pembahasan yang kontroversi dari pseudopregnansi adalah hubungan
hormonalnya. Beberapa teori telah dikemukakan mengenai aksi antagonis dan sinergis
dari follicle stimulating hormone (FSH), hormon luteinizing (LH), estrone dan
progesteron dalam siklus normal. Teori yang diterima secara umum adalah bahwa
hormon perangsang folikel menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan folikel muda.
Pada gilirannya, estrogen yang disekresikan olehnya merangsang produksi
hormon luteinizing. Hormon luteinizing ini menyebabkan sel granulosa ovarium
mengeluarkan progesteron, yang pada gilirannya menghambat pembentukan hormon
perangsang folikel. Dengan demikian tingkat estrogen berkurang. Karena estrogen
merangsang produksi hormon luteinisasi, yang terakhir diproduksi dalam jumlah yang
lebih sedikit dan tingkat progesteron harus turun. Jika kehamilan telah terjadi sementara
itu, hormon progesteronelike yang dikeluarkan oleh plasenta sudah cukup untuk
membawa janin sampai kelahiran. Hormon plasenta tidak menghambat pembentukan
hormon perangsang folikel (FSH) dan akibatnya tingkat estrogen terlihat meningkat
menjelang akhir kehamilan. Dalam pseudopregnancy seperti yang terlihat di anjing
betina, ada gangguan dalam hubungan hormonal ini. Dari studi histologis yang dibuat

16
dari indung telur pseudopregnant Springer Spaniel, tingkat progesteron diperkirakan tidak
terlalu tinggi. Vakuola besar, mungkin mengandung lemak netral, ditemukan di hampir
semua sel lutein. Berbeda dengan ini, sel luteal diperiksa dalam korpora lutea pelacur di
periode metestrum melalui hipofisis anterior untuk menghasilkan perkembangan ovarium
dan pembentukan korpora lutea. Karena perawan jalang dapat menjadi pseudopregnant,
jelas bahwa rangsangan kopulasi tidak diperlukan untuk memulai pseudopregnansi.
Adalah tidak masuk akal untuk percaya bahwa kurangnya stimulasi saraf pada sel-sel
hormon merangsang folikel penghasil hipofisis anterior bertanggung jawab atas
kegagalan estrogen untuk mengesampingkan mengungkapkan sejumlah kecil vakuola
yang agak kecil. Pada saat ini jumlah progesteron yang dikeluarkan sangat besar. Namun
demikian, tanpa kehadiran sejumlah besar progesteron untuk bertindak sebagai inhibitor
(pada sel-sel yang mensekresi hormon perangsang folikel), tingkat estrogennya rendah.
Itu rendah disimpulkan dari fakta bahwa folikel ovarium sangat tidak matang (Weber,
1944).

17
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini ialah:
1. Pseudopregnancy atau bunting semu merupakan suatu keadaan fisiologis atau
klinis pada induk betina yang seolah-olah mengalami kebuntingan. Nama lain
dari Pseudopregnancy adalah false pregnancy, Pseudocyesis, dan phantom
pregnancy.
2. Penyebab terjadinya pseudopregnancy ialah keadaan yang stress, adanya hewan
lain disekelilingnya, meningkatnya pemeliharaan, kegagalan kawin, serta kawin
dengan pejantan yang vasektomi.
3. Selama diestrus (metestrus) prolaktin meningkat lebih tinggi dari jumlah normal.
Fase luteal dimulai dengan pembentukan corpus luteum dan dapat berujung pada
kehamilan atau luteolisis.
4. Masalah dalam bahasan pseudopregnancy ialah hubungan hormonalnya. Aksi
antagonis dan sinergis dari follicle stimulating hormone (FSH), hormon
luteinizing (LH), estrone dan progesteron dalam siklus normal.

5.2 Saran
Saran dari pembuatan makalah ini ialah diharapkan pengkajian mengenai
pseudopregnancy dapat ditingkatkan lebih dalam agar dalam penerapan
pseudopregnancy dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

18
DAFTAR PUSTAKA

Bagnell, C. 2005. Animal Reproduction. Rutgers University Department of Animal


Sciences.
Bigley, M., and Vella D. 2013. Rabbit Mammary Gland Disorders. Clinical Veterinary
Advisor: Birds and Exotic Pets. St. Louis: MO Saunders.
Cohen, L.M. 1982. A Current Perspective of Pseudocyesis. The American Journal of
Psychiatry. vol 139 (9) p:1140–1144
Donnely, T.M. 2013. Pseudopregnancy A2- Mayer, Jong, In: Clinical Veterinary
Advisor. Saint Louis: W.B. Saunders.
Fox, James W. 2007. Pseudopregnancy. The mouse in biomedical research, Boston:
Academic Press.
Hafez, E.S.E., dan Hafez, B. 2000. Reproduction In Farm Animals. 7th. Lippincon
Williams and Wilkins. Philadelphia.
Islam, Sheikh Tajamul, Anand Kumar Singh, M. Younis Ganaie, Iyman Binti Fayaz and
Waseem Ul Firdos. 2017. Pseudopregnancy in a Pomeranian Bitch: A case study.
Journal of Entomology and Zoology Studies. Vol. 5(6): 782-784
Jochle, W., Ballabio, R., diSalle, E. 1987. Inhibition of Lactation in the Beagle Bitch with
the Prolactin Inhibitor Cabergoline: Dose Response and Aspects of Long Term
Safety. Theriogenology: Vol.27: 799-810
Johnston, S. D. 1980. False Pregnancy in the bitch. Philadelphia: W.B. Saunders
Klaphake, Eric., and Joanne R. 2012. Medicine and Epidemiology. English: Elsevier Inc.
Lipi. 2015. Produk Transfer Embrio. Diakses pada www.biotek.lipi.go.id/index-
jasa/produk/37-embrio. Pada tanggal 15 Desember 2019.
Nelson, R.W. Canine and Feline Endocrinology and Reproduction. Philadelphia: WB
Saunders Co.
Purnomo, R. D. 2000. Pola Reproduksi Pada Ternak Kelinci. Bogor: Balai Pemeliharaan
Ternak.
Razzaque, W.A.A., Husain Kafil, Agarwal Sanjay, and Sudarshan. 2008. False Pregnancy
In Bitch. Veterinary World. Vol 1 (3)p: 92-95.
Suwed dan Budiana. 2006. Membiakkan Kucing Ras. Jakarta: Penebar Swadaya.

19
Strauss, J. F. and R. L. Barbieri. 2009. Yen & Jaffe’s Reproductive Endocrinology:
Physiology, Pathophysiology, and Clinical Management, 6th ed. Philadelphia:
Saunders Elsevier Inc.
Terkel, J. (1986). Neuroendocrinology of Coitally and Noncoitally Induced
Pseudopregnancy. Annals of the New York Academy of Sciences, 474(1
Reproduction), 76–94.
Weber, A.F. 1944. Pseudopregnancy in Dogs, Iowa State University Veterinarian. Vol. 7
Available at: https://lib.dr.iastate.edu/iowastate_veterinarian/vol7/iss1/6.
Zukiaturrahmah, Anna, Faradylla Dwi Puspita, Aditya Fajar. 2015. Pseudopregnancy
atau False Pregnancy. Malang: Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya .

20