Anda di halaman 1dari 8

4 Metode Penetapan Harga Yang Paling

Banyak Diterapkan
25 November 2017 Agus Octa Marketing Strategy 240

PRICING STRATEGY

Pada bagian pertama dari artikel tentang Pricing Strategy / Strategi Harga, kita sudah
bahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga suatu produk, ada 5
faktor yang kita bahas, yaitu

1. Product Life Cycle


2. Penawaran dan Permintaan
3. Elastisitas Permintaan
4. Persaingan Pasar
5. Biaya Produksi dan Pemasaran

Untuk bahasan detail dari 5 faktor di atas bisa dilihat di artikel “Penetapan Harga
Produk, Apa Saja Yang Harus Dipertimbangkan ?”, dibagian lain dari blog Distribusi
Pemasaran ini.

METODE PENETAPAN HARGA

Setelah mengetahui beberapa faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam penetapan
harga produk, maka selanjutnya kita akan membahas metode penetapan harga.

Secara garis besar metode penetapan harga ini tebagi dalam 4 kategori utama., yaitu
penetapan berbasis permintaan, biaya,persaingan dan berbasis laba.

Metode # 1 : Penetapan Harga Berbasis Permintaan

Metode ini lebih mengedepankan aspek permintaan konsumen, atau situasi pasar, dari
aspek yang umum dipakai yaitu biaya.

Beberapa hal yang menjadi alasan penggunaan metode adalah, daya beli, jenis segmen
yang dilayani, posisi produk di pasar, manfaat atau benefit produk, serta tingkat potensial
pasar.

Beberapa metode penetapan harga jual berbasis permintaan adalah :

Skimming Pricing

Yaitu membuat penetapan harga produk yang cukup tinggi di masa perkenalan atau
pertumbuhan awal dari produk, kemudian menurunkan harga tersebut ketika tingkat
persaingan mulai naik, atau pasar sudah mulai turun daya tarik-nya.

Atau kadang diterapkan dengan dasar melayani segmen yang lebih menarik dan potensial
terlebih dahulu (daya beli tinggi), jika sudah mulai jenuh, maka akan merambah ke pasar
dengan daya beli dibawahnya atau yang price sensitif
Penetration Pricing

Menerapkan penetapan harga produk rendah di awal produk dipasarkan, dengan harapan
tercapai volume penjualan yang tinggi sehingga perusahaan bisa mencapai skala
ekonomis dalam waktu yang singkat, dan penetrasi ini membentuk barrier bagi pesaing
untuk masuk dalam pasar ini.

Prestige Pricing

Menerapkan tingkat harga yang tinggi, relatif tinggi dengan harapan konsumen yang
sangat peduli dengan status akan tertarik dengan produk tersebut.

Konsep dasar dari penetapan harga pretige ini adalah, harga dapat digunakan untuk
ukuran kualitas dari barang dan jasa, di mana jika harga diturunkan atau dinaikan sampai
dengan tingkat tertentu, maka ketertarikan konsumen akan menurun juga.

Price Lining

Menerapkan metode penetapan harga jual lebih dari satu atau beberapa macam harga
(biasanya maksimal 3 macam) untuk jenis barang yang sama, yang didasarkan pada
atribut tertentu, misal warna tertentu, dimana warna tersebut memang lagi trending, atau
model dengan fitur tertentu dimana fitur tersebut ternyata banyak diminati konsumen.

Metode # 2 : Penetapan Harga Berbasis Biaya

Metode ini menetapkan harga produk dengan memperhitungkan semua biaya produksi,
operasional dan biaya pemasaran serta tingkat laba yang diharapkan.

Metode yang berbasis biaya lebih mengutamakan aspek penawaran daripada aspek
permintaan.

Standart Mark-up Pricing

Dalam standard mark-up harga, (penetapan harga standard mark-up) maka penetapan
harga produk ditentukan dengan jalan menambahkan persentase tertentu dari biaya yang
terjadi.

Dalam metode ini, persentase yang ditambahkan cukup bervariasi, dan biasanya dalam
satu mata rantai distribusi akan ada penambahan yang semakin kebawah semakin besar.

Misal persentase mark-up distributor 10%, kemudian di saluran bawahnya, agen atau
grosir 15%, baru kemudian ditambahkan lagi 25% untuk retailer.

Kemudian tingkat per putaran juga menjadi dasar dalam menentukan besaran persentase
nya, semakin tinggi tingkat perputarannya, maka semakin kecil persentasenya.

Cost Plus Mark-Up

Pada strategi cost plus mark-up, maka penetapan harga produk ditentukan dengan cara
menambahkan prosentase tertentu terhadap biaya produksi, atau biaya yang muncul
sehubungan dengan keberadaan produk tersebut.

Metode ini banyak diterapkan pada produk-produk yang sifatnya project, misal
pembangunan gedung, jembatan atau project pengadaan kendaraan, pesawat dan lain-
lain.
Dalam metode cost plus, ada 2 macam, yaitu percentage of cost pricing, atau sejumlah
prosentase tertentu dari nilai barang. Misal nilai sebuah gedung adalah 2 miliar, fee untuk
tenaga pengawas konstruksi sebesar 5%, maka harga gedung berubah menjadi 2,1 miliar
(plus 100 jt untuk komisi pengawas).

Yang kedua adalah fixed fee pricing, pada metode ini pembuat, atau produsen akan
mendapatkan ganti rugi sejumlah yang dikeluarkan, dan mendapat sejumlah fee tertentu
seperti yang sudah disepakati, jadi besar fee tidak dipengaruhi nilai harga barang.

Metode # 3 : Penetapan Harga Berbasis Persaingan

Customary Pricing

Pada metode customary pricing, penetapan harga produk ditentukan oleh faktor tradisi,
saluran distribusi yang terstandarisasi, atau faktor-faktor lain yang dijadikan pegangan
oleh pedagang.

Kadang untuk mempertahankan harganya, pedagang atau produsen akan mengubah


ukuran kemasan, atau menyesuaikan isinya.

Contoh barang yang banyak menggunakan metode penetapan harga jual secara customary
pricing adalah, beras, gula, tepung.

Market Pricing

Metode penetapan harga jual secara market pricing ini muncul karena anggapan bahwa
cukup sulit untuk melakukan identifikasi struktur pembentuk harga yang berlaku di pasar
atau yang ditetapkan pesaing untuk jenis produk atau kategori produk tertentu, sehingga
produsen / perusahaan akan melakukan penetapan harga yang subyektif.

Dengan metode ini akan muncul 3 macam penetapan harga produk, yaitu :

 Above market pricing, di mana harga ditetapkan diatas harga rata-rata yang
terjadi di pasar. Metode penetapan harga jual ini akan cocok diterapkan pada
produk-produk yang memiliki prestige atau produk yang dihasilkan oleh
perusahaan yang sudah punya nama besar.
 At market pricing, berarti harga ditetapkan sama atau mendekati harga yang
berlaku di pasar. Pada metode ini perusahaan tidak terlalu menghitung biaya pada
struktur harga, tetapi perusahaan menganggap harga yang terjadi di pasar adalah
harga yang sudah ditetapkan sekian perusahaan yang lebih dulu masuk di industri
tersebut.
 Terakhir adalah below market pricing, di mana harga ditetapkan dibawah harga
pasar. Pada metode penetapan harga jual below market pricing ini perusahaan
biasanya memang memiliki resources di sana, seperti memiliki saluran distribusi
sendiri. Atau perusahaan distribusi yang membuat privat label, sehingga memiliki
kemampuan untuk menciptakan produk dengan harga sangat kompetitif.

Loss Leader Pricing

Pada metode penetapan harga Loss leader pricing ini, harga ditetapkan dengan harga
dibawah total cost-nya, atau jual rugi. Sebenarnya perusahaan memiliki maksud khusus
dengan metode penetapan harga jual yang “tampak rugi” ini.

Biasanya strategi penetapan harga Loss leader pricing ini adalah bagian dari strategi
perusahaan untuk mendapatkan share produk yang besar, untuk medapatkan konsumen
yang lebih besar dan lebih cepat, jadi strategi ini bersifat sementara, sampai dengan di
mana target program / strategi perusahaan telah tercapai.
Metode # 4 : Penetapan Harga Berbasis Laba

Adanya peningkatan dalam permintaan atau penurunan dalam biaya total akan
memperluas tingkat operasi yang menguntungkan dan meningkatkan laba.

Pada metode penetapan harga berbasis laba, perusahaan berusaha menetapkan harga
berdasar keseimbangan antara pendapatan dan biaya.

Target Profit Pricing

 Pada metode ini perusahaan menetapkan besaran laba tahunan yang diharapkan,
kemudian dihitung berapa harga yang harus ditetapkan untuk jumlah unit
penjualan tertentu agar laba tersebut dapat tercapai.

Target Return On Sales Pricing

 Dalam metode ini, perusahaan akan menetapkan tingkat harga tertentu yang dapat
menghasilkan laba dalam prosentase tertentu terhadap volume penjualan. Metode
ini banyak di gunakan oleh perusahaan perdagangan, terutama jaringan-jaringan
supermarket.

Demikian bahasan mengenai bagaimana membuat penetapan harga produk, sebenarnya


dalam menetapkan harga memang banyak hal yang harus diperhatikan, hal ini sangat
tergantung dengan tujuan dari perusahaan itu sendiri.

Selain 5 faktor diatas, juga ada faktor lain yang ikut menentukan hasil akhir dari
penetapan harga itu, yaitu pemberian diskon, allowance dan penyesuaian.

Seringkali penerapan diskon, allowance dan penyesuaian adalah bagian dari strategi
penetapan harga dari perusahaan tersebut.

 Diskon berkaitan dengan potongan harga yang diberikan sebagai reward atas
aktivitas tertentu, seperti kuantitas pembelian, musiman atau event khusus dan
metode / syarat pembayaran tertentu seperti cash.
 Allowance ini mirip diskon, tetapi penerapannya pada kondisi yang khusus,
seperti trade-in, promosi khusus, atau cuci gudang.
 Penyesuaian ini berkaitan dengan kondisi geografis titik penjualan barang
dengan tempat produksi barang, dimana nilai penyesuaian biasanya didasarkan
pada biaya yang muncul karena transportasi, seperti freight cost.

Terimakasih pada temen-temen yang sudah mampir di blog Distribusi Pemasaran ini.
semoga bermanfaat

Salam Sukses Sehat dan Bahagia


Wholesale, Distributor, dan Metode
Pricingnya
Wholesale adalah salah satu rantai penting distribusi barang dalam dunia usaha.
Umumnya dalam dunia dunia usaha siklus penjualan dimulai dari produsen yang
memproduksi barang ataupun jasa, lalu didistribusikan oleh supplier atau bisa juga
melalui wholesaler, diteruskan kepada retailer yang berakhir ditangan konsumen sebagai
pengguna akhir.

Pada artikel ini kita akan membahas secara lebih mendalam tentang wholesale sacara
keseluruhan. Wholesaler bisa kamu anggap sebagai supplier dan bisa juga kamu anggap
sebagai pembeli, tergantung dari sudut pandang apa kamu melihatnya.

Jika kamu seorang produsen barang maka kamu akan melihat wholesaler sebagai
pembeli, tapi jika kamu membeli dari wholesaler maka kamu akan memandangnya
sebagai suppliermu. Yuk, langsung saja kita bahas apa itu wholesale secara lebih
mendalam.

Wholesale Vs Distributor

Sebenarnya kalau kita lihat secara singkat mungkin kita beranggapan keduanya tidak
memiliki perbedaan sama sekali. Antara wholesale dengan distributor keduanya
merupakan supplier bagi industri retail.

Namun sebenarnya ada perbedaan mendasar yang membedakan antara wholesale dengan
distributor. Penjelasan mengenai perbedaannya adalah sebagai berikut.

Wholesale

Wholesale adalah kegiatan yang dilakukan dengan membeli barang dengan jumlah besar
(bulk) langsung dari produsen ataupun distributor yang kemudian disortir berdasarkan
jenis dan kualitasnya, lalu dipecah kembali menjadi unit-unit yang lebih kecil.

Unit-unit tersebut lalu didistribusikan dan dijual kembali ke retailer, industri, komersial,
institusi, ataupun bisnis profesional.

Distributor

Sedangkan distributor adalah seseorang atau perusahaan yang memliki hubungan bisnis
secara langsung dengan perusahaan manufaktur. Terkadang seorang distributor juga
merepresentasikan perusahaan manufaktur itu sendiri sebagai “distributor resmi.”

Seorang distributor sering kali mendapat akses dan kontrak eksklusif dalam
memndapatkan harga barang dari produsen atau perushaan manufakturnya. Kontrak
eksklusif tersebut biasanya memuat lokasi spesifik distributor untuk mendistribusikan
produk dan jasanya.

Contoh sederhananya distributor resmi indonesia, distributor resmi pulau jawa, dan
semacamnya yang menjadi entry point bagi produsen untuk memasarkan produknya.
Distributor sebagai supplier sangat jarang dan hampir tidak pernah menjual produknya
kepada konsumen akhir, melaikan menjualnya kepada wholesale ataupun perusahaan
retailer.

Jenis Wholesaler

Sesuai stratagi yang digunakan dan rantai kegiatan yang dijalani, model bisnis wholesale
dapat dikelompokan menjadi tiga jenis secara umum. Merchant wholesale, agents/broker,
divisi distribusi manufaktur. Pembahasan lebih kanjut tentang ketiga jenis wholesale
adalah sebagai berikut.

Merchant Wholesale

Merchant wholesale adalah seseorang yang membeli produk secara besar-besaran dengan
harga yang jauh lebih murah melalui distributor resmi, langsung ke perusahaan
manufaktur, ataupun wholesaler lain.

Kemudian barang-barang tersebut di kemas ulang menjadi unit-unit yang lebih kecil
dengan harga yang lebih mahal. Wholesale bisa memfokuskan penjualannya terhadap
satu atau dua industri khusus, bisa juga melakukan penjualan ke berbagai industri atau
instansi.

Agen/Broker

Selanjutnya adalah agen/broker yang bekerja dalam industri wholesale memiliki tugas
utama yaitu, secara aktif mencari supply barang dari banyak sumber, baik distributor
ataupun perusahaan manufaktur secara langsung sehingga wholesaler mendapatkan
barang dengan harga dan kualitas terbaik.

Seorang agen/broker merupakan wholesaler bagi wholesaler lainnya meskipun cara


kerjanya mirip dengan dropshiper. Hanya saja seorang agen/broker memiliki kontrol
terhadap stok supply yang ditawarkan karena deal-deal bisnis yang telah dibuat, baik
dengan distributor ataupun perusahaan manufaktur.

Distributor Resmi Perusahaan Manufaktur

Seorang distributor bisa menjadi wholesaler, tapi seorang wholesaler belum tentu
seorang distributor melainkan supplier. Seperti penjelasan sebelumnya bahwa seorang
distributor umumnya mendapatkan akses dan kontrak eksklusif dari perusahaan
manufaktur untuk memasarkan barangnya.

Akses eksklusif ini lah yang tidak dimiliki oleh seorang wholesaler. Seorang distributor
mendapatkan harga yang tentunya lebih rendah dari harga pasaran yang ada.

Mark Up Wholesale dalam Mendapatkan Keuntungan

Untuk mendapatkan keuntungan cara yang dilakukan oleh wholesale adalah dengan
melakukan mark up pada harga pokok pembelian. Sama halnya dengan distributor
ataupun industri retail pada umumnya.

Perbedaan besaran mark up tergantung dari jenis industri dan barang yang dijual. Mark
up harga jual dari produsen hingga konsumen akhir bisa berada di kisaran 100-400% atau
bahkan lebih, tergantung dari dimana barang di produksi, kelangkaan, volume
permintaan, dan lain sebagainya.

Macam-Macam Metode Pricing (Penentuan Harga Jual)

Menentukan harga yang sesuia agar barang-barang dapat segera terjual dan bisnis terus
mengalir dengan lancar dibutuhkan metode atau cara yang benar untuk menentukan harga
(pricing). Untuk mengetahui metode pricing yang ada, akan dijabarkan dan dijelaskan
sebagai berikut.

Manufacturer Suggested Retail Price (MSRP)

MSRP sederhananya adalah harga usulan yang diberikan oleh perusahaan manufaktur
kepada pihak wholesaler dalam menjual produknya. Perusahaan manufaktur biasanya
sudah melakukan perhitungan sesuai dengan skala dan lokasi wholesaler, agar harga
pasaran produknya tetap kompetitif.

Keuntungannya adalah pihak wholesale tidak perlu dipusingkan lagi dalam menghitung
harga jual yang menguntungkan. Namun, kelemahannya adalah bila ada kompetitor
dalam hal ini wholesaler lain ataupun distributor yang menawarkan produk dengan harga
yang lebih kompetitif.

Keystone Pricing

Cara sederhana menentukan harga bagi seorang wholesale adalah dengan menggandakan
biaya pembelian barang wholesale. Tentu saja bagi perusahaan ritel harga menjadi terlalu
mahal, sehingga penting untuk wholesale melakukan penyesuaian harga.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi besaran harga seperti biaya pengiriman,
kelangkaan barang, tinggi rendahnya permintaan, dan lain sebagainya.

Multiple Pricing

Multiple pricing adalah cara yang bisa dilakukan wholesaler dengan melakukan
pengemasan ulang produk dengan sistem bundle (bundel). Untuk satu bundel kamu bisa
mengemas 4 unit, 6 uni, atau 12 unit produk secara bersamaan.

Konsumen akan berasumsi bahwa mereka mendapatkan harga lebih murah dibanding
membeli satuan.

Discount Pricing

Discount pricing adalah pemberian potongan harga dari harga “normal” yang diberikan
kepada konsumen. Sebenarnya harga tersebut sudah di mark up terlebih dahulu, sehingga
penjual tidak mengalami kerugian, hanya margin keuntungannya saja yang lebih kecil.

Hal ini merupakan strategi marketing untuk situasi dan musim tertentu untuk menarik
jumlan konsumen yang lebih besar, yang akan berdampak pada meningkatnya penjualan
secara keseluruhan.

Contoh diskon hari raya besar keagamaan ataupun hari besar lainnya, dimana umumnya
seseorang memiliki uang lebih seperti idul fitri, natal, dan tahun baru.

Above the Competition Pricing

Cara penentuan harga lainnya adalah dengan memberikan harga sedikit lebih mahal dari
kompetitormu yang memiliki produk yang sama. Hal ini dilakukan untuk menciptakan
asumsi konsumen bahwa produk yang kamu tawarkan memliki kualitas lebih bagus.

Tentu saja ada beberapa faktor yang perlu di perhatikan agar cara ini berhasil seperti,
persepsi masyarakat terhadap penjual ataupun merk produk yang ditarkan, jenis produk,
produk subtitusi, volume permintaan, tren, dan lain sebagainya.

Below the Competition Pricing

Penentuan harga lebih murah dengan kompetitor yang menawarkan barang dan produk
yang sama. Agar metode ini berhasil tentu saja kamu harus mendapatkan harga beli yang
lebih murah dari kompetitormu.

Fungsi dan Kegiatan Wholesaling


Seperti apa sih kegiatan dan fungsi dari wholesale? Apa saja fungsi dan kegiatannya
adalah sebagai berikut.

Bulk Breaking

Salah satu fungsi dari wholesale, dimana barang yang dibeli secara besa (bulk) dipecah
menjadi unit-unit kecil.

Assorting

Setelah barang dipecah menjadi unit kecil, kemudian barang tersebut dikelompokan
berdasarkan jenis dan volume permintaannya.

Warehousing, wholesale

Merupakan depot barang dari produsen/distributor untuk dijual kepada perusahaan ritel
ataupun konsumen akhir.

Financing

Barang-barang yang dibeli oleh perusahaan ritel bisa dilakukan secara piutang.
Perusahaan ritel tidak diharuskan membayar secara langsung, namun bisa melakukan
pembayaran dengan jangka waktu yang telah ditentukan.

Risk bearing

Wholesale menanggung resiko kerusakan dan kerugian lainnya sebagai pemilik barang.

Source Information

Seorang wholesale bisa memberikan informasi mengenai ketersediaan barang, perubahan


harga barang, dan informasi penting lainnya yang bermanfaat bagi perusahaan ritel dan
konsumennya.

Management and Counseling Service

Untuk menjaga agar bisnis berjalan dengan lancar seorang wholesaler memastikan
kelancaran bisnis konsumennya. Seorang wholesale akan berusaha memberi jalan bagi
konsumennya baik melalui kredit ataupun informasi, demi kelancaran bisnis
konsumennya.

Layaknya seorang wholesale memastikan kelancaran bisnis konsumennya. JojoExpense


memastikan kamu mengelola keuangan perusahaan dengan cermat dan mudah. Jika kamu
menggunakan aplikasi ini, dipastikan efisiensimu dan produktifitasmu akan meningnkat
hingga 76%.

Selain itu fiturnya dilengkapi dengan sistem yang dapat mendeteksi dan mencegah
terjadinya penipuan keuangan yang masih terjadi di banyak perusahaan. Informasi
penting dan relevan juga disajikan agar kamu lebih mudah menganalisa transaksi yang
terjadi secara lebih mendalam.