Anda di halaman 1dari 17

Peraturan Perundang-undangan di Apotek

12 February 2013

PutraSulung Zona Postingan Ku Leave a comment

Defenisi Apotek

Berikut adalah beberapa definisi apotek :

 Menurut PP No. 26 tahun 1965 tentang apotek Pasal 1. Yang dimaksud dengan apotik
dalam Peraturan Pemerintah ini ialah suatu tempat tertentu, dimana dilakukan usaha-
usaha dalam bidang farmasi dan pekerjaan kefarmasian.
 Menurut UU No. 41 tahun 90 pasal 1 ayat 2, apotek adalah tempat dilakukannya
pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan dan
penyerahan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya.
 Menurut PERMENKES RI No. 922/MENKES/PER/X/1993, apotek adalah suatu tempat
tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi
kepada masyarakat.
 Menurut KEPMENKES RI No. 1332/MENKES/SK/X/2002, apotek adalah suatu tempat
tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan Farmasi,
perbekalan Kesehatan lainnya kepada masyarakat.
 Menurut Kepmenkes RI No.1027/MENKES/SK/IX/2004, apotek adalah suatu tempat
tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran Sediaan Farmasi,
perbekalan Kesehatan lainnya kpd masyarakat.
 Menurut Peraturan Pemerintah no. 51 tahun 2009 pasal 1 ayat 13 Apotek adalah sarana
pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker.
 Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
889/MENKES/PER/V/2011 Tentang Registrasi, Izin Praktik, Dan Izin Kerja Tenaga
Kefarmasian pasal 1 ayat 3 apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai
apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker.

Peraturan Perundangan-undangan di apotek.

Peraturan perundang-undangan perapotekan di Indonesia telah beberapa kali mengalami


perubahan. Dimulai dengan berlakunya Peraturan Pemerintah (PP) No.26 tahun 1965 tentang
pengelolaan dan perizinan Apotek, kemudian disempurnakan dalam Peraturan Pemerintah No.25
tahun 1980, beserta petunjuk pelaksanaannya dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.26. tahun
1981 dan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.178 tentang ketentuan dan tata cara
pengelolaan apotek. Peraturan yang terakhir berlaku sampai sekarang adalah Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 889/MENKES/PER/V/2011 Tentang Registrasi, Izin
Praktik, Dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian yang memberikan beberapa keleluasaan kepada
apotek untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan yang optimal.
Ketentuan-ketentuan umum yang berlaku tentang perapotekan sesuai Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 889/MENKES/PER/V/2011 adalah sebagai berikut:

 Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan apoteker.
 Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya
Farmasi, Analis Farmasi dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker;
 Sertifikat kompetensi profesi adalah surat tanda pengakuan terhadap kompetensi
seorang Apoteker untuk dapat menjalankan pekerjaan/praktik profesinya di seluruh
Indonesia setelah lulus uji kompetensi.
 Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap tenaga kefarmasian yang telah
memiliki sertifikat kompetensi dan telah mempunyai kualifikasi tertentu serta
diakui secara hukum untuk menjalankan pekerjaan/praktik profesinya.
 Registrasi ulang adalah pencatatan ulang terhadap tenaga kefarmasian yang telah
diregistrasi setelah memenuhi persyaratan yang berlaku.
 Surat Tanda Registrasi Apoteker, yang selanjutnya disingkat STRA adalah bukti
tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah diregistrasi.
 Surat Tanda Registrasi Apoteker Khusus, yang selanjutnya disingkat STRA Khusus
adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker warga negara asing
lulusan luar negeri yang akan melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia.
 Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian, yang selanjutnya disingkat
STRTTK adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Tenaga Teknis
Kefarmasian yang telah diregistrasi.
 Surat Izin Praktik Apoteker, yang selanjutnya disingkat SIPA adalah surat izin
yang diberikan kepada Apoteker untuk dapat melaksanakan praktik kefarmasian pada
fasilitas pelayanan kefarmasian.
 Surat Izin Kerja Apoteker, yang selanjutnya disebut SIKA adalah surat izin praktik
yang diberikan kepada Apoteker untuk dapat melaksanakan pekerjaan kefarmasian
pada fasilitas produksi atau fasilitas distribusi atau penyaluran.
 Surat Izin Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian, yang selanjutnya disebut SIKTTK
adalah surat izin praktik yang diberikan kepada Tenaga Teknis Kefarmasian untuk
dapat melaksanakan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas kefarmasian.

Dalam melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek, Apoteker Pengelola Apotek dibantu oleh
Asisten Apoteker yang telah memiliki Surat Izin Kerja. Keputusan Menteri Kesehatan No.
679/MENKES/SK/V/2003, tentang peraturan registrasi dan izin kerja Asisten Apoteker :
 Asisten Apoteker adalah tenaga kesehatan yang berijazah Sekolah Asisten Apoteker atau
Sekolah Menengah Farmasi, Akademi Farmasi, dan Jurusan Farmasi Politeknik
Kesehatan, Akademi Analisis Farmasi dan Makanan, Jurusan Analisis Farmasi serta
Makanan Politeknik Kesehatan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang
berlaku.
 Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti tertulis atas kewenangan yang diberikan kepada
pemegang Ijazah Sekolah Asisten Apoteker atau Sekolah Menengah Farmasi, Akademi
Farmasi dan Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan, Akademi Analisis Farmasi dan
Makanan, Jurusan Analisis Farmasi serta Makanan Politeknik Kesehatan untuk
menjalankan Pekerjaan Kefarmasian sebagai Asisten Apoteker.
 Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti tertulis yang diberikan kepadapemegang Surat
Izin Asisten Apoteker untuk melakukan pekerjaan kefarmasian disarana kefarmasian.
 Sarana Kefarmasian adalah tempat yang digunakan untuk melakukan pekerjaan
kefarmasian antara lain Industri Farmasi termasuk obat Tradisional dan kosmetika,
Instalasi Farmasi, Apotek, dan toko obat. (Anonim, Izin Kerja Asisten Apoteker, 2003)

Pelayanan Resep
Dalam perundang – undangan pelayanan resep di atur dalam:

 Permenkes Nomor 278/279/280/MenKes/SK/V/1981 yang berbunyi Apotik wajib


melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan, Salinan resep harus ditanda-tangani
atau diparaf oleh Apoteker, Resep harus dirahasiakan dan disimpan di Apotik dalam
jangka waktu 3 tahun.
 Permenkes Nomor 922/MenKes/Per/X/1993 yang berbunyi Apotik wajib melayani resep
dokter, dokter gigi dan dokter hewan, APA/Apoteker pendamping atau Apoteker
pengganti diizinkan menjual Obat Keras yang dinyatakan sebagai sebagai Daftar Obat
Wajib Apotik tanpa resep, Salinan resep harus ditanda-tangani atau diparaf oleh Apoteker
 Permenkes Nomor 1027/MenKes/SK/IX/2004 yang berbunyi Skrining resep, Penyiapan
obat (Peracikan, Etiket, Kemasan obat, Penyerahan obat, Informasi obat, Konseling,
MonitoringPenggunaan).

Penyimpanan Resep

Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 704/Ph/63/b Tgl. 14/2/63
mengatakan bahwa penyimpanan resep disimpan selama 3 tahun berdasarkan nomor urut dan
tanggal pembuatan. Pemusnahan resep hanya boleh dengan jalan pembakaran Pemusnahan
dengan membuat BAP.

Pengelolaan Khusus
Pengelolahan khusus di apotek meliputi pengelolahan Narkotika, Psikotropika dan Jarum Suntik
a. Narkotika

 Resep, Salinan Resep Narkotika (SE Dirjen POM 336/E/SE/1977)


 Tempat Penyimpanan Narkotika (Permenkes 28/Menkes/Per/I/1978)
 Pemusnahan Narkotika (Permenkes 28/Menkes/Per/I/1978)

b. Psikotropika

 Pelaporan (UU 5/1997. Permenkes688/Menkes/Per/VII/1997.


 Permenkes 912/Menkes/Per/VIII/1997)

c. Jarum Suntik

 (Permenkes 229/Menkes/Per/VII/1978)

Pembinaan dan Pengawasan


Pembinaan dan pengawasan apotek di atur dalam keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1332/Menkes/SK/X/2002. Yang berbunyi pelaksanaan pembinaan dan pengawasan apotik
dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan, dan Badan POM. Pembinaan
terhadap apotik dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat Pusat sampai dengan Daerah, atas
petunjuk teknis Menteri.

Sanksi

Sanksi yang diberikan kepada apotek bila melanggar undang – undang yaitu :

1. Sanksi administratif

Sanksi administraif diatur dalam keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1332/Menkes/SK/X/2002.
a. Kadinkes Kabupaten/kota dapat mencabut ijin bila ;

1) Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan yang dimaksud pada Pasal 5 dan/atau;
2) Apoteker tidak memenuhi kewajiban dimaksud dalam pasal 12 dan Pasal 15 ayat (2)
dan/atau;
3) APA terkena ketentuan dimaksud dalam Pasal 19 ayat 5) dan/atau;
4) Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan perUU, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31
dan/atau;
5) SIK APA dicabut dan/atau;
6) PSA terbukti terlibat dalam pelanggaran perUU bidang obat dan/atau;
7) Apotik tidak lagi memenuhi persyaratan dimaksud dalam Pasal 6
b. Kadinkes kabupaten/kota sebelum melakukan pencabutan sebagaimana dimaksud ayat (1)
berkoordinasi dengan kepala Balai POM setempat.
Pasal 11 ayat (1);
Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan di dalam KUHP dan perUU lain, maka terhadap
kesehatan dapat dilakukan tindakan – tindakan administrati di dalam hal sebagai berikut;

1) Melalaikan kewajiban
2) Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh diperbuat oleh seorang tenaga kesehatan,
baik mengingat sumpah jabatannya maupun mengingat sumpah sebagai tenaga kesehatan;
3) Mengabaikan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh tenaga kesehatan;
4) Melanggar sesuatu ketentuan menurut atau berdasarkan UU ini.

2. Sanksi Pidana

a. UU No. 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (KUHP).


b. UU No. 36/2009 tentang Kesehatan.
c. UU No. 5/1997 tentang Psikotropika.
d. UU No. 35/2009 tentang Narkotika.
e. UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.
f. PP No. 72/1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 889/MENKES/PER/V/2011
Tentang Registrasi, Izin Praktik, Dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian
2. Kepmenkes RI nomor : 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang ketentuan dan tata cara
pemberian izin apotik
3. Kepmenkes RI nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara
pemberian izin apotik
4. Keputusan Menteri Kesehatan No. 679/MENKES/SK/V/2003 tentang peraturan registrasi
dan izin kerja Asisten Apoteker
5. Permenkes Nomor 278/279/280/MenKes/SK/V/1981
6. Permenkas Nomor 922/MenKes/Per/X/1993
7. Permenkes Nomor 1027/MenKes/SK/IX/2004
8. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 704/Ph/63/b Tgl. 14/2/63
9. UU No. 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (KUHP)
10. UU No. 36/2009 tentang Kesehatan
11. UU No. 5/1997 tentang Psikotropika
12. UU No. 35/2009 tentang Narkotika
13. UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen
14. PP No. 72/1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
15. UU No. 41 tahun 90
16. PP no. 51 tahun 2009
17. PP No. 26 tahun 1965
18. SE Dirjen POM 336/E/SE/1977
19. Permenkes28/Menkes/Per/I/1978
20. Permenkes 28/Menkes/Per/I/1978
21. UU Kesehatan Nmor 35 Tahun 2009

PERANAN, FUNGSI, DAN TUGAS APOTEKER DI APOTEK


Apotek

Apotek adalah suatu tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian, penyaluran sediaan farmasi, dan
perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Pengertian ini didasarkan pada Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek.

Pekerjaan kefarmasian menurut UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 yaitu meliputi pembuatan
termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan
obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian
dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Apotek sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan perlu mengutamakan kepentingan
masyarakat dan berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi
yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin. Apotek dapat diusahakan oleh lembaga atau instansi
pemerintah dengan tugas pelayanan kesehatan di pusat dan daerah, perusahaan milik negara yang ditunjuk
oleh pemerintah dan apoteker yang telah mengucapkan sumpah serta memperoleh izin dari Suku Dinas
Kesehatan setempat.

Apoteker Pengelola Apotek (APA)

Menurut Kepmenkes No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek,


Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah
berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di
Indonesia sebagai Apoteker. Setiap profesi harus disertifikasi secara resmi oleh lembaga keprofesian untuk
tujuan diakuinya keahlian pekerjaan keprofesiannya dan proses ini sering dikenal dengan kompetensi
Apoteker. Kompetensi Apoteker menurut International Pharmaceutical Federation (IPF) adalah kemauan
individu farmasis untuk melakukan praktek kefarmasian sesuai syarat legal minimum yang berlaku
serta mematuhi standar profesi dan etik kefarmasian.

- Persyaratan Apoteker Pengelola Apotek (APA)

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan atas


Peraturan Menteri Kesehatan No. 992/Menkes/per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotek pada pasal 1 dijelaskan bahwa Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah seorang apoteker
yang telah diberikan Surat Izin Kerja (SIK). Adapun persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi Apoteker
Pengelola Apotek berdasarkan Permenkes RI No. 922/Menkes/Per/X/1993 adalah:

a. Ijazah telah terdaftar pada Departemen Kesehatan.

b. Telah mengucapkan sumpah atau janji sebagai Apoteker.

c. Memiliki Surat Izin Kerja (SIK) atau surat penugasan dari Menteri Kesehatan.

d. Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan tugasnya sebagai
Apoteker.

e. Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan tidak menjadi Apoteker Pengelola di apotek lain.

Selain APA dikenal pula Apoteker Pendamping dan Apoteker Pengganti. Apoteker Pendamping
adalah Apoteker yang bekerja di samping APA dan atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari
buka apotek sedangkan apabila APA karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, APA
dapat menunjuk Apoteker Pengganti.

- Peranan dan Fungsi Apoteker Pengelola Apotek (APA)

Peranan dan fungsi Apoteker Pengelola Apotek (APA) di antaranya:

a. Membuat visi dan misi.


b. Membuat strategi, tujuan, sasaran, dan program kerja.

c. Membuat dan menetapkan peraturan atau Standar Prosedur Operasional (SPO) pada setiap
fungsi kegiatan di apotek.

d. Membuat sistem pengawasan dan pengendalian SPO serta program kerja pada setiap fungsi
kegiatan di apotek.

e. Merencanakan, melaksanakan, mengendalikan dan menganalisis hasil kinerja operasional dan


kinerja keuangan apotek.

Wewenang dan tanggung jawab APA diantaranya:

a. Menentukan arah terhadap seluruh kegiatan

b. Menentukan sistem atau peraturan yang akan digunakan

c. Mengawasi pelaksanaan SPO dan program kerja

d. Bertanggung jawab terhadap kinerja yang diperoleh.

- Kompetensi Apoteker

Kompetensi adalah kemampuan manusia yang merupakan sejumlah karakteristik, baik


berupa bakat, motif, sikap, keterampilan, pengetahuan, perilaku yang membuat seorang pegawai berhasil
dalam pekerjaannya. Dengan kata lain, yang dapat membedakan pegawai yang memiliki kinerja rata-rata
dengan pegawai yang memiliki kinerja unggul (kinerja lebih baik) dengan secara efektif
membantu dan membedakan kinerja dalam melakukan pekerjaan sehari-hari.

Dari kompetensi serta peraturan perundang-undangan yang telah disebutkan


sebelumnya, Apoteker di apotek memiliki 3 (tiga) peranan, terutama yang berkaitan langsung dengan
pasien, yaitu sebagai profesional, manager, dan retailer.

A. Peranan Apoteker Sebagai Profesional

Apoteker memiliki kemampuan dalam melaksanakan kegiatan pelayanan kefarmasian yang


bermutu dan efisien yang berasaskan pharmaceutical care di apotek. Adapun standar pelayanan
kefarmasian di apotek telah diatur melalui S u r a t K e p u t u s a n M e n t e r i K e s e h a t a n R e p u b l i k
I n d o n e s i a N o m o r 1027/Menkes/SK/I X/2004.

Tujuan dari standar pelayanan ini adalah:

1. Melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional.


2. Melindungi profesi dari tuntutan masyarakat yang tidak wajar.

3. Pedoman dalam pengawasan praktek Apoteker.

4. Pembinaan serta meningkatkan mutu pelayanan farmasi di apotek.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1027/Menkes/SK/IX/2004, terutama pada BAB III, bahwa pelayanan kefarmasian meliputi:

1. Pelayanan Resep

a. Skrining Resep

Apoteker melakukan skrining resep meliputi:

1) Persyaratan Administratif :
- Nama, SIP dan alamat dokter
- Tanggal penulisan resep
- Tanda tangan/paraf dokter penulis resep
- Nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien
- Nama obat, potensi, dosis, dan jumlah yang minta
- Cara pemakaian yang jelas
- Informasi lainnya
2) Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas,
inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.

3) Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi,
jumlah obat dan lain lain). Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan
kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan
alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.

b. Penyiapan obat

1) Peracikan

Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan


etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu prosedur
tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang
benar.

2) Etiket
Etiket harus jelas dan dapat dibaca.

3) Kemasan Obat yang Diserahkan

Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga
kualitasnya.

4) Penyerahan Obat
Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian
antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian
informasi obat dan konseling kepada pasien.

5) Informasi Obat

Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat,
tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya
meliputi: dosis, efek farmakologi, cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka
waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.

6) Konseling
Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan
perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien
atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah
sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya. Untuk penderita penyakit tertentu
seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya apoteker
harus memberikan konseling secara berkelanjutan.

7) Monitoring Penggunaan Obat


Setelah penyerahan obat kepada pasien, Apoteker harus melaksanakan pemantauan
penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC,
asma, dan penyakit kronis lainnya.

2. Promosi dan Edukasi

Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, Apoteker harus memberikan edukasi apabila masyarakat
ingin mengobati diri sendiri (swamedikasi) untuk penyakit ringan dengan memilihkan obat yang
sesuai dan apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker
ikut membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster,
penyuluhan, dan lain-lain.

3. Pelayanan Residensial (Home Care)


Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang
bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lanjut usia dan pasien dengan pengobatan
penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini Apoteker harus membuat catatan berupa catatan
pengobatan (medication record).

B. Peranan Apoteker Sebagai Manager

Manajemen secara formal diartikan sebagai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan


pengendalian, terhadap penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen adalah
untuk :

1. Mencapai tujuan.

2. Menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang saling bertentangan.

3. Mencapai efisiensi dan efektivitas.

Dua konsepsi utama untuk mengukur prestasi kerja (performance) manajemen adalah efisiensi
dan efektivitas. Efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
dengan benar, merupakan konsep matematika, atau merupakan perhitungan ratio antara keluaran
(output) dan masukan (input). Seorang manajer dikatakan efisien adalah seseorang yang
mencapai keluaran yang lebih tinggi (hasil, produktivitas, performance) dibanding masukan-masukan
(tenaga kerja, bahan, uang, mesin dan waktu) yang digunakan.

Efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang
tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Manajer yang efektif adalah manajer yang
dapat memilih pekerjaan yang harus dilakukan atau metode (cara) yang tepat untuk mencapai
tujuan.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1027/Menkes/SK/IX/2004, pada BAB II, bahwa pengelolaan sumber daya di apotek meliputi:

1. Pengelolaan Sumber Daya Manusia

Sesuai ketentuan perundangan yang berlaku apotek harus dikelola oleh seorang Apoteker
yang profesional. Dalam pengelolaan apotek, Apoteker senantiasa harus memiliki
kemampuan:

a. Menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik.

b. Mengambil keputusan yang tepat.

c. Mampu berkomunikasi antar profesi.


d. Menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multidisipliner .

e. Kemampuan mengelola SDM secara efektif.

f. Selalu belajar sepanjang karier.

g. Membantu memberi pendidikan.

h. Memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan.

2. Pengelolaan Sarana dan Prasarana

Apoteker di apotek berperan dalam mengelola dan menjamin bahwa:

a. Apotek berlokasi pada daerah yang dengan mudah diken ali oleh masyarakat.

b. Pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek.

c. Apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh anggota masyarakat.

d. Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan
dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk menunjukkan integritas dan kualitas
produk serta mengurangi resiko kesalahan penyerahan obat.

e. Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh Apoteker untuk
memperoleh informasi dan konseling.

f. Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya. Apotek harus bebas dari hewan pengerat
dan serangga. Apotek memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari pendingin.

g. Apotek harus memiliki:

1) Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien


2) Tempat untuk menyediakan informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur/
materi informasi.

3) Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja dan kursi
serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien.

4) Ruang racikan.

5) Tempat pencucian alat atau keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun pasien.
6) Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak -rak penyimpanan
obat dan barang-barang lain yang tersusun dengan rapi, terlindung dari debu,
kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi ruangan
dengan temperatur yang telah ditetapkan.

3. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan lainnya

Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehat an lainnya dilakukan sesuai


ketentuan perundangan-undangan yang berlaku meliputi: perencanaan, pengadaan,
penyimpanan dan pelayanan. Pengeluaran obat memakai sistim FIFO (First In First Out) dan FEFO
(First Expire First Out).

a. Perencanaan

Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi perlu diperhatikan:

1) Pola penyakit

2) Kemampuan masyarakat

3) Budaya masyarakat

b. Pengadaan

Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan farmasi harus
melalui jalur resmi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c. Penyimpanan

1) Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka
harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada
wadah.

2) Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik.

3) Wadah sekurang kurangnya memuat nama obat, nomor batch dan tanggal kadaluarsa.

4) Semua bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai, layak dan menjamin kestabilan
bahan.

4. Administrasi
Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek, perlu dilaksanakan kegiatan administrasi
yang meliputi:

a. Administrasi Umum: pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika dan


dokumentasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

b. Administrasi Pelayanan: pengarsipan resep, pengarsipan catatan pengobatan pasien,


pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat.

C. Peranan Apoteker Sebagai Retailer

Apotek merupakan tempat pengabdian profesi kefarmasian. Namun tidak dapat dipungkiri di
sisi lain bahwa apotek adalah salah satu model badan usaha retail, yang tidak jauh berbeda dengan
badan usaha retail lainnya. Apotek sebagai badan usaha retail, bertujuan untuk menjual komoditinya,
dalam hal ini obat dan alat kesehatan, sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan profit. Profit memang
bukanlah tujuan utama dan satu-satunya dari tugas keprofesian apoteker, tetapi tanpa profit apotek
sebagai badan usaha retail tidak dapat bertahan.

Oleh karena itu, segala usaha untuk meningkatkan profit perlu dilaksanakan, di antaranya
mencapai kepuasan pelanggan. Pelanggan merupakan sumber profit. Oleh karena itu, sebagai seorang
retailer berkewajiban mengidentifikasi apa yang menjadi kebutuhan pelanggan, menstimulasi kebutuhan
pelanggan agar menjadi permintaan, dan memenuhi permintaan tersebut sesuai bahkan melebihi
harapan pelanggan.

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan atas


Peraturan Menteri Kesehatan No. 992/Menkes/Per/X/1993, tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotek Menteri Kesehatan, pasal 6, dinyatakan bahwa :

1. Untuk mendapatkan izin Apotek, Apoteker atau Apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana
yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan
farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.

2. Sarana Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi
lainnya diluar sediaan farmasi.

3. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi.

Berdasarkan peraturan tersebut, terutama ayat 2 dan 3, membuka peluang bagi apotek untuk melakukan
kegiatan usaha di luar sediaan farmasi. Oleh karena begitu besarnya peluang, dan kelonggaran regulasi yang
ada, apotek memiliki keleluasan dalam menjalankan perannya sebagai salah satu badan usaha retail.

Oleh karena itu, Apoteker Pengelola Apotek seyogyanya menjalan peran memainkan peranannya
sebagai retailer, terutama bagi Apoteker Pengelola Apotek yang full management. Kompetensi minimal mengenai
marketing dan strateginya, akan menjadi nilai tambah bagi Apoteker Pengelola Apotek, dalam memimpin
suatu apotek. Pengaturan sarana dan prasarana yang menunjang juga sangat menentukan keputusan
pelanggan untuk membeli, seperti pajangan yang menarik, layout apotek, merchandising, pelayanan yang
hangat dan ramah, dan lain sebagainya.

- Fungsi dan Tugas Apoteker Sesuai dengan Kompetensi Apoteker di Apotek menurut WHO (World
Health Organization)

Kompetensi Apoteker menurut WHO dikenal dengan Eight Stars Pharmacist, yaitu:

1. Care giver, artinya Apoteker dapat memberi pelayanan kepada pasien, memberi informasi obat kepada
masyarakat dan kepada tenaga kesehatan lainnya.

2. Decision maker, artinya Apoteker mampu mengambil keputusan, tidak hanya mampu mengambil keputusan
dalam hal manajerial namun harus mampu mengambil keputusan terbaik terkait dengan pelayanan kepada
pasien, sebagai contoh ketika pasien tidak mampu membeli obat yang ada dalam resep maka Apoteker
dapat berkonsultasi dengan dokter atau pasien untuk pemilihan obat dengan zat aktif yang sama
namun harga lebih terjangkau..

3. Communicator, artinya Apoteker mampu berkomunikasi dengan baik dengan pihak ekstern (pasien
atau customer) dan pihak intern (tenaga profesional kesehatan lainnya).

4. Leader, artinya Apoteker mampu menjadi seorang pemimpin di apotek. Sebagai seorang
pemimpin, Apoteker merupakan orang yang terdepan di apotek, bertanggung jawab dalam
pengelolaan apotek mulai dari manajemen pengadaan, pelayanan, administrasi, manajemen SDM
serta bertanggung jawab penuh dalam kelangsungan hidup apotek.

5. Manager, artinya Apoteker mampu mengelola apotek dengan baik dalam hal pelayanan, pengelolaan
manajemen apotek, pengelolaan tenaga kerja dan administrasi keuangan. Untuk itu Apoteker
harus mempunyai kemampuan manajerial yang baik, yaitu keahlian dalam menjalankan prinsip-prinsip
ilmu manajemen.

6. Life long learner, artinya Apoteker harus terus-menerus menggali ilmu pengetahuan, senantiasa
belajar, menambah pengetahuan dan keterampilannya serta mampu mengembangkan kualitas diri.

7. Teacher, artinya Apoteker harus mampu menjadi guru, pembimbing bagi stafnya, harus mau
meningkatkan kompetensinya, harus mau menekuni profesinya, tidak hanya berperan sebagai
orang yang tahu saja, tapi harus dapat melaksanakan profesinya tersebut dengan baik.

8. Researcher, artinya Apoteker berperan serta dalam berbagai penelitian guna mengembangkan
ilmu kefarmasiannya.

- Fungsi dan Tugas Apoteker Sesuai Dengan Kompetensi Apoteker Indonesia di


Apotek menurut APTFI (Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia)
Kompetensi Apoteker menurut APTFI (Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia) adalah:

A. Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan Lainnya

Kompetensi yang diharapkan adalah Apoteker mampu melaksanakan pengelolaan obat sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.

B. Pelayanan Obat dan Perbekalan kesehatan Lainnya

Kompetensi yang diharapkan adalah Apoteker mampu memberikan pelayanan obat/untuk penderita
secara profesional dengan jaminan bahwa obat yang diberikan kepada penderita akan tepat, aman,
dan efektif. Termasuk di dalamnya adalah pelayanan obat bebas dan pelayanan obat dengan resep
dokter yang obatnya dibuat langsung oleh apotek.

C. Pelayanan Konsultasi, Informasi, dan Edukasi

Kompetensi yang diharapkan adalah apoteker mampu melaksanakan fungsi pelayanan konsultasi, informasi
dan edukasi yang berkaitan dengan obat dan perbekalan kesehatan lainnya kepada penderita, tenaga
kesehatan lain atau pihak lain yang membutuhkan.

Tujuan konsultasi obat terhadap pasien adalah (Siregar, 2004) :

a. Menciptakan hubungan yang baik dengan penderita sehingga mempermudah proses


pengobatan.

b. Mengumpulkan informasi yang dibutuhkan mengenai sejarah pengobatan penderita.

c. Memberikan pendidikan pada penderita mengenai cara penggunaan obat yang benar.

d. Memberi dukungan dan keyakinan pada penderita mengenai proses pengobatan yang dijalankan.

Edukasi dan konseling yang dilakukan Apoteker merupakan bagian dari pharmaceutical care
dengan tujuan untuk meningkatkan hasil terapi. Edukasi terhadap pasien berhubungan dengan suatu
tingkat dari perubahan perilaku pasien. Kegagalan pengobatan dapat disebabkan banyak faktor, salah
satunya adalah kurangnya edukasi yang berkaitan dengan terapi sampai pada hambatan
financial yang menghalangi pengadaan obat. Tujuan edukasi obat adalah agar pasien akan
mengetahui betul tentang obatnya, meningkatkan kepatuhan pasien, pasien lebih teliti dalam
menggunakan dan menyimpan obat, pasien mengerti akan obat yang diresepkan dan akhirnya
menghasilkan respon pengobatan yang lebih baik.

D. Pencatatan dan Pelaporan

Kompetensi yang diharapkan adalah Apoteker mampu melaksanakan pencatatan dan


pelaporan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Apoteker bertanggung jawab terhadap setiap kegiatan di apotek termasuk pencatatan,
administrasi pembelian, penjualan, pelaporan keuangan dan laporan penggunaan
narkotika/ psiko tro pika (Kepm enkes RI No . 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Jakarta, 2001).

E. Partisipasi Monitoring Obat

Kompetensi yang diharapkan adalah Apoteker mampu berpartisipasi aktif dalam program
monitoring keamanan penggunaan obat. Apoteker berpartisipasi dalam program monitoring
obat terutama monitoring reaksi obat merugikan (ROM).

F. Partisipasi Promosi Kesehatan

Kompetensi yang diharapkan adalah Apoteker mampu berpartisipasi secara aktif dalam
program kesehatan di masyarakat lingkungannya, terutama yang berkaitan dengan obat.

G. Fungsi/Tugas Lain (terkait dengan pengelolaan keuangan, Sumber Daya Manusia)

Kompetensi yang diharapkan adalah Apoteker mampu melaksanakan tugas dan fungsi lain
sebagai pimpinan di apotek, seperti pengelolaan keuangan yang salah satunya terkait dengan target
yang ingin dicapai apotek, dan sumber daya manusia yang bertujuan untuk mendukung program
yang dilaksanakan di apotek serta terlaksananya pelayanan yang berkualitas terhadap pasien.
Pengembangan apotek dapat dilakukan dengan tujuan memperluas dunia usaha serta pelayanan
kepada masyarakat.