Anda di halaman 1dari 19

Peraturan Perundang-undangan di Apotek

12 February 2013
PutraSulung Zona Postingan Ku 1 Comment

Defenisi Apotek
Berikut adalah beberapa definisi apotek :

Menurut PP No. 26 tahun 1965 tentang


apotek Pasal 1. Yang dimaksud dengan
apotik dalam Peraturan Pemerintah ini
ialah suatu tempat tertentu, dimana
dilakukan usaha-usaha dalam bidang
farmasi dan pekerjaan kefarmasian.
Menurut UU No. 41 tahun 90 pasal 1 ayat
2, apotek adalah tempat dilakukannya
pembuatan, pengolahan, peracikan,
pengubahan bentuk, pencampuran,
penyimpanan dan penyerahan sediaan
farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya.

Menurut PERMENKES RI No.


922/MENKES/PER/X/1993, apotek adalah
suatu tempat tertentu, tempat dilakukan
pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
perbekalan farmasi kepada masyarakat.
Menurut KEPMENKES RI No.
1332/MENKES/SK/X/2002, apotek adalah
suatu tempat tertentu, tempat dilakukan
pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
sediaan Farmasi, perbekalan Kesehatan
lainnya kepada masyarakat.
Menurut Kepmenkes
RI No.1027/MENKES/SK/IX/2004, apotek
adalah suatu tempat tertentu, tempat
dilakukan pekerjaan kefarmasian dan
penyaluran Sediaan Farmasi, perbekalan
Kesehatan lainnya kpd masyarakat.

Menurut Peraturan Pemerintah no. 51


tahun 2009 pasal 1 ayat 13 Apotek adalah
sarana pelayanan kefarmasian tempat
dilakukan praktek kefarmasian oleh
apoteker.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor
889/MENKES/PER/V/2011 Tentang
Registrasi, Izin Praktik, Dan Izin Kerja
Tenaga Kefarmasian pasal 1 ayat 3
apoteker adalah sarjana farmasi yang
telah lulus sebagai apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan apoteker.
Peraturan Perundangan-undangan di
apotek.
Peraturan perundang-undangan
perapotekan di Indonesia telah beberapa
kali mengalami perubahan. Dimulai dengan

berlakunya Peraturan Pemerintah


(PP) No.26 tahun 1965 tentang pengelolaan
dan perizinan Apotek, kemudian
disempurnakan dalam Peraturan
Pemerintah No.25 tahun 1980, beserta
petunjuk pelaksanaannya dalam Peraturan
Menteri Kesehatan No.26. tahun 1981 dan
Surat Keputusan Menteri
Kesehatan No.178 tentang ketentuan dan
tata cara pengelolaan apotek. Peraturan
yang terakhir berlaku sampai sekarang
adalah Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor
889/MENKES/PER/V/2011 Tentang
Registrasi, Izin Praktik, Dan Izin Kerja
Tenaga Kefarmasian yang memberikan
beberapa keleluasaan kepada apotek untuk
dapat meningkatkan derajat kesehatan yang

optimal.
Ketentuan-ketentuan umum yang berlaku
tentang perapotekan sesuai Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 889/MENKES/PER/V/2011 adalah
sebagai berikut:
Apoteker adalah sarjana farmasi yang
telah lulus sebagai apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan apoteker.
Tenaga Teknis Kefarmasian adalah
tenaga yang membantu Apoteker dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian,
yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli
Madya Farmasi, Analis Farmasi dan
Tenaga Menengah Farmasi/Asisten
Apoteker;
Sertifikat kompetensi profesi adalah
surat tanda pengakuan terhadap

kompetensi seorang Apoteker untuk


dapat menjalankan pekerjaan/praktik
profesinya di seluruh Indonesia setelah
lulus uji kompetensi.
Registrasi adalah pencatatan resmi
terhadap tenaga kefarmasian yang telah
memiliki sertifikat kompetensi dan telah
mempunyai kualifikasi tertentu serta
diakui secara hukum untuk menjalankan
pekerjaan/praktik profesinya.
Registrasi ulang adalah pencatatan
ulang terhadap tenaga kefarmasian yang
telah diregistrasi setelah memenuhi
persyaratan yang berlaku.
Surat Tanda Registrasi Apoteker, yang
selanjutnya disingkat STRA adalah bukti
tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada
Apoteker yang telah diregistrasi.

Surat Tanda Registrasi Apoteker


Khusus, yang selanjutnya disingkat
STRA Khusus adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh Menteri kepada Apoteker
warga negara asing lulusan luar negeri
yang akan melakukan pekerjaan
kefarmasian di Indonesia.
Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis
Kefarmasian, yang selanjutnya disingkat
STRTTK adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh Menteri kepada Tenaga
Teknis Kefarmasian yang telah diregistrasi.
Surat Izin Praktik Apoteker, yang
selanjutnya disingkat SIPA adalah surat
izin yang diberikan kepada Apoteker
untuk dapat melaksanakan praktik
kefarmasian pada fasilitas pelayanan
kefarmasian.

Surat Izin Kerja Apoteker, yang


selanjutnya disebut SIKA adalah surat
izin praktik yang diberikan kepada
Apoteker untuk dapat melaksanakan
pekerjaan kefarmasian pada fasilitas
produksi atau fasilitas distribusi atau
penyaluran.
Surat Izin Kerja Tenaga Teknis
Kefarmasian, yang selanjutnya disebut
SIKTTK adalah surat izin praktik yang
diberikan kepada Tenaga Teknis
Kefarmasian untuk dapat melaksanakan
pekerjaan kefarmasian pada fasilitas
kefarmasian.
Dalam melakukan pekerjaan kefarmasian di
apotek, Apoteker Pengelola Apotek dibantu
oleh Asisten Apoteker yang telah memiliki
Surat Izin Kerja. Keputusan Menteri

Kesehatan No. 679/MENKES/SK/V/2003,


tentang peraturan registrasi dan izin kerja
Asisten Apoteker :

Asisten Apoteker adalah tenaga kesehatan


yang berijazah Sekolah Asisten Apoteker
atau Sekolah Menengah Farmasi,
Akademi Farmasi, dan Jurusan Farmasi
Politeknik Kesehatan, Akademi Analisis
Farmasi dan Makanan, Jurusan Analisis
Farmasi serta Makanan Politeknik
Kesehatan sesuai dengan Peraturan
Perundang-undangan yang berlaku.
Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti
tertulis atas kewenangan yang diberikan
kepada pemegang Ijazah Sekolah Asisten
Apoteker atau Sekolah Menengah
Farmasi, Akademi Farmasi dan Jurusan
Farmasi Politeknik Kesehatan, Akademi

Analisis Farmasi dan Makanan, Jurusan


Analisis Farmasi serta Makanan Politeknik
Kesehatan untuk menjalankan Pekerjaan
Kefarmasian sebagai Asisten Apoteker.
Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti
tertulis yang diberikan kepadapemegang
Surat Izin Asisten Apoteker untuk
melakukan pekerjaan kefarmasian
disarana kefarmasian.
Sarana Kefarmasian adalah tempat yang
digunakan untuk melakukan pekerjaan
kefarmasian antara lain Industri Farmasi
termasuk obat Tradisional dan kosmetika,
Instalasi Farmasi, Apotek, dan toko obat.
(Anonim, Izin Kerja Asisten Apoteker,
2003)

Pelayanan Resep
Dalam perundang undangan pelayanan
resep di atur dalam:
Permenkes Nomor
278/279/280/MenKes/SK/V/1981 yang
berbunyi Apotik wajib melayani resep
dokter, dokter gigi dan dokter hewan,
Salinan resep harus ditanda-tangani atau
diparaf oleh Apoteker, Resep harus
dirahasiakan dan disimpan di Apotik dalam
jangka waktu 3 tahun.
Permenkes Nomor
922/MenKes/Per/X/1993 yang berbunyi
Apotik wajib melayani resep dokter, dokter
gigi dan dokter hewan, APA/Apoteker
pendamping atau Apoteker pengganti
diizinkan menjual Obat Keras yang
dinyatakan sebagai sebagai Daftar Obat

Wajib Apotik tanpa resep, Salinan resep


harus ditanda-tangani atau diparaf oleh
Apoteker
Permenkes Nomor
1027/MenKes/SK/IX/2004 yang berbunyi
Skrining resep, Penyiapan obat
(Peracikan, Etiket, Kemasan obat,
Penyerahan obat, Informasi obat,
Konseling, MonitoringPenggunaan).
Penyimpanan Resep
Surat Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 704/Ph/63/b Tgl.
14/2/63 mengatakan bahwa penyimpanan
resep disimpan selama 3 tahun berdasarkan
nomor urut dan tanggal pembuatan.
Pemusnahan resep hanya boleh dengan
jalan pembakaran Pemusnahan dengan
membuat BAP.

Pengelolaan Khusus
Pengelolahan khusus di apotek meliputi
pengelolahan Narkotika, Psikotropika dan
Jarum Suntik
a. Narkotika
Resep, Salinan Resep Narkotika (SE
Dirjen POM 336/E/SE/1977)
Tempat Penyimpanan Narkotika
(Permenkes 28/Menkes/Per/I/1978)
Pemusnahan Narkotika (Permenkes
28/Menkes/Per/I/1978)
b. Psikotropika
Pelaporan (UU 5/1997.
Permenkes688/Menkes/Per/VII/1997.
Permenkes 912/Menkes/Per/VIII/1997)
c. Jarum Suntik

(Permenkes 229/Menkes/Per/VII/1978)

Pembinaan dan Pengawasan


Pembinaan dan pengawasan apotek di atur
dalam keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1332/Menkes/SK/X/2002. Yang berbunyi
pelaksanaan pembinaan dan pengawasan
apotik dilaksanakan oleh Departemen
Kesehatan, Dinas Kesehatan, dan Badan
POM. Pembinaan terhadap apotik
dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat
Pusat sampai dengan Daerah, atas petunjuk
teknis Menteri.
Sanksi
Sanksi yang diberikan kepada apotek bila
melanggar undang undang yaitu :
1. Sanksi administratif
Sanksi administraif diatur dalam keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1332/Menkes/SK/X/2002.

a. Kadinkes Kabupaten/kota dapat


mencabut ijin bila ;
1) Apoteker sudah tidak lagi memenuhi
ketentuan yang dimaksud pada Pasal 5
dan/atau;
2) Apoteker tidak memenuhi kewajiban
dimaksud dalam pasal 12 dan Pasal 15 ayat
(2) dan/atau;
3) APA terkena ketentuan dimaksud dalam
Pasal 19 ayat 5) dan/atau;
4) Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan
perUU, sebagaimana dimaksud dalam Pasal
31 dan/atau;
5) SIK APA dicabut dan/atau;
6) PSA terbukti terlibat dalam pelanggaran
perUU bidang obat dan/atau;
7) Apotik tidak lagi memenuhi persyaratan
dimaksud dalam Pasal 6

b. Kadinkes kabupaten/kota sebelum


melakukan pencabutan sebagaimana
dimaksud ayat (1) berkoordinasi dengan
kepala Balai POM setempat.
Pasal 11 ayat (1);
Dengan tidak mengurangi ketentuanketentuan di dalam KUHP dan perUU lain,
maka terhadap kesehatan dapat dilakukan
tindakan tindakan administrati di dalam hal
sebagai berikut;
1) Melalaikan kewajiban
2) Melakukan suatu hal yang seharusnya
tidak boleh diperbuat oleh seorang tenaga
kesehatan, baik mengingat sumpah
jabatannya maupun mengingat sumpah
sebagai tenaga kesehatan;
3) Mengabaikan sesuatu yang seharusnya
dilakukan oleh tenaga kesehatan;

4) Melanggar sesuatu ketentuan menurut


atau berdasarkan UU ini.
2. Sanksi Pidana
a. UU No. 1/1946 tentang Peraturan
Hukum Pidana (KUHP).
b. UU No. 36/2009 tentang Kesehatan.
c. UU No. 5/1997 tentang Psikotropika.
d. UU No. 35/2009 tentang Narkotika.
e. UU No. 8/1999 tentang Perlindungan
Konsumen.
f. PP No. 72/1998 tentang Pengamanan
Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 889/MENKES/PER/V/2011
Tentang Registrasi, Izin Praktik, Dan Izin
Kerja Tenaga Kefarmasian
2. Kepmenkes RI nomor :

1332/MENKES/SK/X/2002 tentang
ketentuan dan tata cara pemberian izin
apotik
3. Kepmenkes RI nomor
922/MENKES/PER/X/1993 tentang
ketentuan dan tata cara pemberian izin
apotik
4. Keputusan Menteri Kesehatan No.
679/MENKES/SK/V/2003 tentang peraturan
registrasi dan izin kerja Asisten Apoteker
5. Permenkes Nomor
278/279/280/MenKes/SK/V/1981
6. Permenkas Nomor
922/MenKes/Per/X/1993
7. Permenkes Nomor
1027/MenKes/SK/IX/2004
8. Surat Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 704/Ph/63/b Tgl.

14/2/63
9. UU No. 1/1946 tentang Peraturan
Hukum Pidana (KUHP)
10. UU No. 36/2009 tentang Kesehatan
11. UU No. 5/1997 tentang Psikotropika
12. UU No. 35/2009 tentang Narkotika
13. UU No. 8/1999 tentang Perlindungan
Konsumen
14. PP No. 72/1998 tentang Pengamanan
Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
15. UU No. 41 tahun 90
16. PP no. 51 tahun 2009
17. PP No. 26 tahun 1965
18. SE Dirjen POM 336/E/SE/1977
19. Permenkes28/Menkes/Per/I/1978
20. Permenkes 28/Menkes/Per/I/1978
21. UU Kesehatan Nmor 35 Tahun 2009