Anda di halaman 1dari 13

PENGARUH INTERVENSI MANUAL TERAPI TERHADAP

KELUHAN SUBJEKTIF PASIEN VERTIGO

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I


pada Jurusan Fisioterapi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Oleh:
NAUFAL IRFAN
J120150085

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2020
HALAMAN PERSETUJUAN

PENGARUH INTERVENSI MANUAL TERAPI TERHADAP


KELUHAN SUBJEKTIF PASIEN VERTIGO

PUBLIKASI ILMIAH

oleh:
NAUFAL IRFAN
J120150085

Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji oleh:

Dosen
Pembimbing

Totok Budi Santoso, S.Fis., Ftr M.Ph


NIK : 0604127102

i
HALAMAN PENGESAHAN

PENGARUH INTERVENSI MANUAL TERAPI TERHADAP


KELUHAN SUBJEKTIF PASIEN VERTIGO

OLEH
NAUFAL IRFAN
J120150085

Telah dipertahankan di depan Dewan Dewan Penguji


Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari Senin, 03 Februari 2020
Dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Dewan Penguji:

1. Totok Budi Santoso, S.Fis., Ftr M.Ph ( )


(Ketua Dewan Penguji)
2. Maskun Pudjianto, S.MPh., M.Kes ( )
(Anggota I Dewan Penguji)
3. 3. Edy Waspada, SST.Ft, S.Fis., M.Kes ( )
(Anggota II Dewan Penguji)

Dekan,

Dr. Mutalazimah, S.KM., M.Kes.


NIK/NIDN: 786/06-1711-7301

ii
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam publikasi ilmiah ini tidak
terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu
perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali secara tertulis
diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila kelak terbukti ada ketidakbenaran dalam pernyataan saya di atas,
maka akan saya pertanggungjawabkan sepenuhnya.

Surakarta, 03 Februari 2020


Penulis

NAUFAL IRFAN
J120150085

iii
PENGARUH INTERVENSI MANUAL TERAPI TERHADAP KELUHAN
SUBJEKTIF PASIEN VERTIGO

Abstrak
vertigo centrral merupakan gejala yang disebabkan oleh penyakit yang berasal
dari sistem saraf pusat, baik di pusat integrasi (serebelum dan batang otak).
Bahaya dari vertigo central antara lain meningkatkan risiko kecelakaan saat
berkendara, menyebabkan jatuh karena kehilangan keseimbangan, mengganggu
pendengaran, mengganggu aktifitas sehari-hari, menjadi penyakit stroke atau
masalah lainnya pada otak. Pananganan fisioterapi untuk pengobatan vertigo
central ini menggunakan teknik manual terapi, dengan tujuan membebaskan
intratmen arteri vertebralis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah
pengaruh intervensi teknik manual terapi terhadap keluhan subyektif vertigo
central. Jenis penelitian Observasional, desain penelitian dalam penelitian ini
adalah desain A-B-A yang mempunyai 3 fase. Sampel Penelitian berjumlah 13
responden. teknik sampling yang digunakan purposive sampling. alat ukur vertigo
central dengan menggunakan Vertigo Symptsom Scale-Short Form (VSS-SF).
Analisa data dalam penelitian ini adalah deskripsi gambaran yang diperoleh dari
analisa grafik dan proses observasi ratting scale berdasarkan pengukuran perlaku.
Berdasarkan hasil intervensi dengan terapi myofascial release, traksi dan osilasi
pada 13 responden, rata-rata skor VSS-FS sebelum diberi intervensi sebesar 21.23
dan setelah diberi intervensi rata-rata skor VSS-FS sebesar 2.08, sehingga terapi
ini efektif untuk menurunkan entrapment leher akibat vertigo dengan hasil skor
VSS-FS menurun signifikan sebesar 19.15. Kesimpulan dari penelitian ini adalah
terdapat pengaruh pemberian manual terapi dengan teknik Myofascial release,
traksi dan osilasi sangat efektif dalam penyembuhan vertigo sentral.

Kata Kunci: Vertigo central, manual terapi

Abstract
Centrral vertigo is a symptom caused by diseases originating from the central
nervous system, both at the center of integration (cerebellum and brain stem). The
dangers of central vertigo include increasing the risk of accidents while driving,
causing falls due to loss of balance, disturbing hearing, interfering with daily
activities, becoming a stroke or other problems in the brain. This physiotherapy
treatment for the treatment of central vertigo uses manual therapy techniques, with
the aim of freeing up the vertebral artery intratment. This study aims to determine
whether there is an influence of manual therapeutic intervention techniques on
subjective complaints of central vertigo. Observational research type, research
design in this study is A-B-A design which has 3 phases. Research Samples
amounted to 13 respondents. The sampling technique used was purposive
sampling. central vertigo measuring instrument using Vertigo Symptsom Scale-
Short Form (VSS-SF). Analysis of the data in this study is a description of the
picture obtained from graph analysis and the ratting scale observation process
based on measurement of behavior. Based on the results of interventions with
myofascial release, traction and oscillation in 13 respondents, the average VSS-FS

1
score before being given an intervention was 21.23 and after being given an
intervention the average VSS-FS score was 2.08, so this therapy was effective in
reducing entrapment neck due to vertigo with the results of the VSS-FS score
decreased significantly by 19.15. The conclusion of this study is that there is an
effect of manual therapy with the Myofascial release, traction and oscillation
techniques which are very effective in healing central vertigo.

Keywords: Central vertigo, manual therapy

1. PENDAHULUAN
Pada zaman yang semakin maju, masyarakat dituntut untuk bekerja keras demi
memenuhi kebutuhan hidupnya, tanpa disadari dirinya kurang memperhatikan
kesehatannya. Dari aspek fisik mulai dari beban kerja, kurang istirahat,
lingkungan kerja fisik yang bising, berdebu, kotor sampai pada posisi kerja dan
istirahat/tidur kurang ergonomis, ditambah dengan pengaruh pada aspek psikis,
mulai dari rasa cemas, jenuh, kelelahan, lingkungan kerja yang kurang harmonis
terhadap suasana batin. Apabila kondisi ini berkelanjutan dan berkepanjangan,
bisa mengakibatkan menurunnya derajat kesehatan jasmani dan rohani seseorang
(Kumono, 2011).
Kondisi tersebut di atas dapat menyebabkan salah satu gejala yang dapat
menyebabkan rasa pusing, rasa tidak nyaman dan berputar-putar yang disebut
vertigo central. Hal ini dapat terjadi karena penurunan pasokan nutrisi dan oksigen
pada arteri vetebralis disebabkan adanya spasme otot obliqus capitis maupun
dikarenakan hipomobile persendian di cervical.
Tahun 2012 di Indonesia angka kejadian vertigo sangat tinggi sekitar 50 %
dari usia 40-50 Tahun (Joesoef, 2012). Lebih lanjut Beliau mengatakan, bahwa
vertigo merupakan keluhan nomor tiga yang dikeluhkan penderita yang datang ke
praktik umum, setelah nyeri kepala dan stroke.
Bahaya dari vertigo akan bergantung pada penyakit yang mendasarinya.
Namun saat serangan terjadi, sejumlah hal tersebut bisa membahayakan
penderitanya, antara lain: meningkatkan risiko kecelakaan saat berkendara,
menyebabkan jatuh karena kehilangan keseimbangan, mengganggu pendengaran,
mengganggu aktifitas sehari-hari, menjadi penyakit stroke atau masalah lainnya
pada otak.

2
Adapun untuk penyembuhan vertigo central bisa dengan cara medika
mentosa, non medika mentosa dan edukasi. salah satu pengobatan non medika
mentosa salah satunya fisioterapi. Disini fisioterapi berperan apabila vertigo
central akibat entrapmentt (jebakan) arteri vetebralis. Sedangkan pananganan
fisioterapi untuk pengobatan vertigo central ini menggunakan teknik manual
terapi, dengan tujuan membebaskan intratmen arteri vertebralis.
Teknik manual terapi yang dipakai adalah myofasial release, untuk ototnya
dan teknik manipulasi untuk persendiannya. Harapannya dengan terbebasnya
tekanan/penjepit arteri vertebralis dapat memperlancar peredaran dan masuknya
darah ke batang otak, sehingga asupan nutrisi dan oksigen di otak dapat terpenuhi
dan keluhan vertigo central tersebut dapat teratasi (Sidharta, 2009).
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk meneliti tentang
penatalaksanaan fisioterapi pada pengobatan vertigo central dengan menggunakan
manual terapi, terutama dengan myofasial release dan terapi manipulasi di
kediaman bapak Kumono physiotherapy. Dengan menggunakan anamnesis
langsung terhadap keluhan subyektif dari pasien vertigo central.

2. METODE
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Observasional, yaitu suatu metode
yang digunakan pada kondisi atau situasi yang diciptakan sedemikian rupa
sehingga gejala atau perilaku yang akan dicari atau diamati akan timbul
(Notoatmodjo, 2010). Desain penelitian dalam penelitian ini adalah desain A-B-A
yang mempunyai 3 fase. Desain A-B-A merupakan salah satu pengembangan dari
desain dasar A-B, desain A-B-A menunjukkan adanya hubungan sebab akibat
antara variabel terikat dengan variabel bebas (Sunanto dkk, 2006). Penelitian ini
dilakukan praktik di fisioterapi Kumono Muntilan Penelitian ini dilakukan pada
bulan November 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien di
Fisioterapi Kumono Muntilan yang menderita vertigo central yang datang pada
periode November 2019. Sampel penelitian ini berjumlah 13 responden. Teknik
sampling dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur
yang digunakan untuk mengetahui tingkatan vertigo central adalah dengan

3
Vertigo Symptsom Scale-Short Form (VSS-SF). Analisa data dalam penelitian ini
adalah deskripsi gambaran yang diperoleh dari analisa grafik dan proses observasi
ratting scale berdasarkan pengukuran perlaku.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Penelitian
Tabel 1. Data Hasil Pengamatan dengan Vertigo Symptsom Scale-Short
Form (SSF-SF)
Skor VSS-SF
Pasien
Pretest Posttest
Ny. SAL 30 5
Tn. MKN 36 3
NY. N 30 3
Nn. N 24 9
Tn. ARK 25 0
Tn. AP 17 0
Ny. I 8 1
Ny. UH 14 0
Tn. H 24 1
Tn. UB 19 1
Tn D 12 0
TN. PS 18 2
Ny. SL 19 2
Mean Skor VSS-SF 21.23 2.08
Keterangan:
Tidak vertigo = 0-15
Vertigo ringan = 16-30
Vertigo sedang = 31-45
Vertigo berat = 46-60

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa dari 13 pasien yang menderita vertigo, rata-
rata responden mengalami penurunan entrapment akibat vertigo yang semula nilai
skor VSS-FS sebesar 21.23 menurun menjadi 2.08. Sehingga terapi ini efektif
untuk menurunkan entrapment leher akibat vertigo dengan hasil skor VSS-FS
menurun signifikan sebesar 19.15.

4
Rata-rata Nyeri Vertigo
25
20
Skor VSS-SF 15
10
5
0
Pretest Posttest

Gambar 1. Grafik Rata-Rata Penurunan keluhan Vertigo

Pada gambar 1 diketahui bahwa hasil skor penurunan entrapment rata-rata


pasien sebelum dan setelah diberi intervensi manual terapi, sebelum diberi
intervensi skor rata-rata Vertigo Symptsom Scale-Short Form (VSS-SF) sebesar
21.23 setelah diberi intervensi skor menurun menjadi 2.08.
3.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa penderita keluhan vertigo
yang datang ke tempat lahan penelitian memiliki usia bervariasi. Usia responden
mulai remaja (14-26 tahun), usia muda (27-52) dan usia tua (53-65tahun).
Responden mayoritas pada rentang usia 27-52 tahun atau usia muda sebanyak 8
(61.54%). Berbeda dengan temuan yang dilakukan oleh Rendra dan Pinzon
(2018), yang dilakukan pada pasien rawat jalan RS Bethesda Yogyakarta bahwa
responden menderita keluhan vertigo rentan usianya 51-65 tahun sebanyak 44
(58.65%). Hal ini karena penelitian ini yang dilakukan oleh Rendra dan Pinzon
dilakukan dengan durasi yang lebih lama dibandingkan dengan penelitian ini yaitu
selama bulan Januari sampai Juni 2019. Vertigo tidak mengenal usia, terbukti
bahwa pasien memiliki usia yang bervariasi.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan fakta bahwa perbandingan antara
pasien laki-laki dan perempuan hampir sama, yaitu pasien perempuan 7 (53.85%)
dan responden laki-laki 6 (46.15%). Penelitian sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Fraix (2010) bahwa penderita vertigo di Amerika serikat pasien
perempuan lebih banyak dari pada pasien laki-laki dengan perbandingan pasien
perempuan 10 (62.5%) dan pasien laki-laki 6 (37.5%). Namun hal ini berbeda

5
dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri (2014), yang dilakukan di RSUD dr.
Moewardi yang dilakukan selama 3 bulan diperoleh bahwa responden laki-laki 31
(60%) dan responden perempuan 19 (40%). Perbedaan ini bisa terjadi disebabkan
karena keterbatasan peneliti yang hanya melakukan penelitian dengan batasan
waktu yang sangat singkat dan hanya melakukan penelitian di satu tempat saja
sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Putri (2014) melaakukan penelitian
selama 3 bulan.
Berdasarkan hasil penelitian dari tabel 1 dan grafik 1 sampai grafik 4.14),
didapatkan hasil bahwa sebelum diberikan intervensi dengan teknik manual terapi
myofascial release, traksi dan osilasi sebanyak 2 kali dipeoleh data bahwa
sebelum dilakukan terapi didapatkan skor VSS-SF terendah 8 dan skor tertinggi
36. Setelah dilakukan intervensi didapatkan skor VSS-SF terendah 0 dan skor
tertinggi 9. Dengan demikian terdapat perubahan skor nyeri (penurunan nyeri)
setelah pemberian teknik atau intervensi manual terapi myofascial release, traksi
dan osilasi untuk menyembuhkan penyakit vertigo. Berdasarkan gambar 4.14
menunjukkan bahwa pengamatan terhadap 13 responden yang menderita vertigo
yang menajalani terapi manual terapi dengan teknik myofascial release, traksi dan
osilasi mengalami perubahan yang signifikan. Pasien yang datang dengan keluhan
vertigo yang tak tertahan, setelah diberi intervensi dengan teknik manual terapi
pasien tersebut mengalami perubahan yang signifikan yaitu pasien rata-rata sudah
tidak mengalami vertigo lagi. Hal ini dikarenakan akibat dari kombinasi ketiga
intervensi tersebut mampu meregangkan sendi dan merileksasi otot pada area
arteri vetebralis dan melancarkan sirkulasi darah ke otak.
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fraix (2010),
bahwa teknik manipulasi terapi dengan myofascial release efektif untuk
pengobatan vertigo dan gangguan fungsional yang terkait dengannya. Demikian
juga sesuai dengan hasil penelitian Young and Chen (2003) dengan hasil bahwa
terapi manipulasi traksi, ekstensi, rotasi leher effektif untuk vertigo dengan
menekan arteri vertebralis, yang mengarah ke pengurangan sirkulasi arteri
vertebralis. Hal ini juga sejalan dengan Neto et al (2013) menyatakan bahwa
manipulasi dengan teknik traksi efektif untuk vertigo, dengan peningkatan hasil

6
maksimal setelah 7 hari pertama setelah diberikan terapi. Manual terapi diakukan
dengan tujuan melakukan perubahan pada ketegangan otot.
Teknik Myofascial release merupakan teknik manual terapi dengan tangan
yang aman yang dilakukan untuk mengurangi dan memanipulasi keterbatasan otot
atau disfungsi somatik. Terapi ini difokuskan pada treatment otot dan jaringan
lunak fascia, tujuannya adalah untuk mengembalikan kualitas cairan pada jaringan
fascia, otot dan fungsi sendi. Terapi Myofascial release dilakukan untuk
mengurangi keterbatasaan gerak yang disebabkan oleh kekuatan otot dan nyeri
Whisler, 2012).
Teknik traksi cervical merupakan suatu metode pengobatan fisioterapi
dengan teknik penarikan collumna vertebralis pada daerah cervical. Intervensi ini
akan menyebabkan pergeseran dari nucleus ke ventral sehingga mengurangi
penekanan ligament longitudinal posterior sehingga nyeri akan berkurang. Efek
dari intervensi ini dapat mengurangi rasa tidak nyaman akibat otot yang
kontraktur dengan mengulur otot sehingga akan akan menurunkan spasme oleh
aktivitas golgi tendon dan akan menambah panjang otot sehingga otot menjadi
lebih rileks. Intervensi ini juga dapat memperlebar foramen intervertebralis yang
sekaligus untuk mengoreksi posisi leher sehingga penekanan pada akar saraf
berkurang dan terjadi peningkatan ROM (Sugiyono & Lestari, 2009).
Teknik osilasi merupakan terknik manual terapi dengan cara gerakan
menekan pada sela-sela tulang dengan cara merentangkan jari pada bagian sisi
leher/punggung untuk mengurangi rasa sakit saat penekanan (Maitland’s at el,
2007). Karena teknik osilasi ini dilakukan dengan gerakan menekan, sehingga
posisi pasien harus dikondisikan untuk rileks supaya terapis bisa bekerja lebih
efektif.
Berdasarkan hasil di atas, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa teknik
manual terapi dengan teknik Myofascial release, traksi dan osilasi sangat efektif
terhadap penurunan entrapment. Karena teknik manual terapi adalah teknik yang
dilakukan dengan menggunakan gerakan pasif, dengan meregangkan otot
langsung secara manual pada individu pada otot besar: fiksasi origo dan insersio
regangan transfersal otot tengah. Teknik manual terapi dilakukan untuk otot dan

7
teknik memanipulasi untuk persendiannya supaya terbebas dari entrapment arteri
vertebralis sehingga peredaran darah ke otak menjadi lancar dan asupan nutrisi
dan oksigen di otak dapat terpenuhi dan keluhan sehingga entrapment akibat
vertigo dapat teratasi.

4. PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kesimpulan bahwa manual terapi dengan
teknik Myofascial release, traksi dan osilasi sangat efektif dalam penyembuhan
vertigo sentral.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Safrin. (2014). Pengaruh Traksi Manual cervical terhadap nyeri leher
akibat dict migration. Jurnal of Vokasi Indonesia Program Universitas of
Indonesia Volume 2. Nomor 1. Januari-Juni 2014.
Cael, Christy. (2010). Functional Anatomy, Lippincott Williams&Wilkins,
Philadelphia
Gnerre , Paola et al. (2015). Management Of vertigo: From Evidence to clinical
practice. Italian Journal of Medicine 2015; volume 9:180-192
hah, S., & Bhalara, A. (2012). Myofascial Release. International Journal of
Health Sciences & Research (Www.ijhsr.org) International Journal of
Health Sciences and Research, 692(2), 69–77.
https://doi.org/10.1589/rika.16.103
Hepner, Paul et al. (2008) . Research design in Counselling. Thomson
Brooks/Cole. Third edition.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10393756 diaksesl 07 Mei 2019.
Kuo CH, Pang L, Chang R. (2008). Vertigo - part 2 - manage-ment in general
practice. Austr Fam Physician 2008;37: 409-13.
Murti , Tri Wahyu . (2014). Pengaruh manual terapi traksi terhadap peningkatan
Aktivitas fungsional pada osteoartritis lutut. Skripsi. Fakultas Ilmu
Kesehatan UMS
Notoatmodjo, Soekidjo. ( 2010). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta
Pratiwi, Sylvia Army. (2018). Pengaruh pemberian myofascial release terhadap
nyeri punggung bawah pada ibu hamil usia kandungan 6-8 bulan di desa
Mranggen. Skripsi. Fakultas Ilmu Kesehatan UMS

8
Riwidikdo, Handoko. (2012). Statistik Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendika
Pres.
S. D. Eggers D. Zee. (2009). . Vertigo and Imbalance: Clinical Neurophysiology
of the Vestibular System Chapter 2 – Overview of anatomy and
physiology of the vestibular system. Elsevier, USA, 2010: vol.9 : 5-17.
Shah, N., Chaudhary, E. S., Vyas, N., Khuman, R., Chavda, D., Nambi, G., &
Physiotherapy, S. (2013). Comparative Study of Myofascial Release and
Cold Pack in Upper Trapezius, 3(December), 20–27.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R& D. Bandung:
Alfabeta
Sunanto, Juang, Takeuchi, Koji & Nakata, Hideo. (2005). Pengantar Penelitian
dengan Subjek Tunggal. Jepang: University of Tsukuba
Temporale, Hana. et al. (20140. Current Views on Treatment of Vertigo and
Dizziness. Jurnal Zatonski et al., J Med Diagn Meth 2014, 3:1 DOI:
10.4172/2168-9784.1000150
Vizniak, NA. (2010). Quick Reference Evidence Based Muscle Manual. Canada:
Professional Health Systems Inc Hal 47-49
Werenski J. (2011). The Effectiveness of Myofascial Release Techniques in The
Treatment of Myofascial Pain: A Literature Review.
http://www.indiedownloads.com/606906/download-the-effectiveness-
ofmyofascial-release-techniques-in-the-pdf.html diakses 07 mei 2019
Stone, Robert & Judith (2000). Atlas otot rangka . McGraw-Hill. hal. 26. ISBN 978-0-07-
290332-4

Drake, Richard L .; Vogl, A. Wayne; Mitchell, Adam WM. (2010). Gray's Anatomy for
Students (edisi kedua). hal. 857. ISBN 978-0-443-06952-9 .

Snell. R S. (2006). Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Ed 6. Jakarta:


EGC

Fraix, Marcel. (2010). Osteopathic Manipulaive Treatment And Vertigo A Pilot Study.
the American Academy of Physical Medicine and Rehabilitation. Vol. 2, 612-
618, July 2010. DOI: 10.1016/j.pmrj.2010.04.001.

Neto, J.S.D.M et al. (2013). Vestibular Rehabilitation In Patients With Benign


Paroxysmal Positional Vertigo. Rev. CEFAC. 2013 Mai-Jun; 15(3):510-520.
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.952.7806&rep=rep
1&type=pdf

Sidharta, Priguna. (2009). Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Jakarta: Dian
Rakyat