Anda di halaman 1dari 13

KETERLIBATAN FURKASI DAN MANAJEMEN

1. Pengantar 7. Prognosa
2. Terminologi 8. Manajemen
3. Klasifikasi  Tujuan dari Perawatan Furkasi
4. Etiologi  Modalitas Perawatan
5. Berbagai Faktor Anatomi yang  Kegagalan dalam Terapi Bedah
Mempengaruhi Perawatan Lesi Furkasi Furkasi
6. Diagnosa 9. Studi Terkait Landmark

PENGANTAR  Koefisien separasi merupakan panjang


dari konus akar dalam relasinya
Defek lesi furkasi menggambarkan
dengan panjang dari kompleks akar
komplikasi serius dari terapi periodontal
(Gambar 1).
dikarenakan tidak terjangkaunya
 Amputasi akar merupakan
instrumentasi yang adekuat, adanya
pengambilan satu atau lebih akar dari
konkavitas akar dan alur yang
gigi berakar ganda meninggalkan
menyebabkan pembersihan menjadi sulit.
mahkota tetap pada tempatnya.
Dengan demikian, hilangnya perlekatan
periodontal pada daerah furkasi merupakan  Sectioning merupakan pemotongan
kondisi yang membutuhkan evaluasi dan gigi menjadi segmen yang terdiri dari
manajemen yang cermat untuk akar dan mahkota diatasnya.
mendapatkan stabilitas gigi geligi. KLASIFIKASI
TERMINOLOGI I. Menurut Glickman (1953):
Grade I: merupakan tahap insipient
 Furkasi merupakan daerah yang
dari keterlibatan furkasi, tetapi
terletak diantara konus individual
perubahan secara radiografis tidak
akar.
ditemukan
 Keterlibatan Furkasi merupakan
Grade II: lesi pada furkasi adalah
perluasan dari poket menuju daerah
cul-de-sac dengan komponen
interradikuler pada gigi berakar ganda.
horizontal yang jelas. Radiografis
 Jalan Masuk Furkasi merupakan
mungkin/tidak menggambarkan
daerah transisi antara bagian yang
keterlibatan furkasi
terbagi dan tidak terbagi.
Grade III: tulang tidak melekat pada
 Forniks Furkasi merupakan atap dari
kubah furkasi. Grade III furkasi
furkasi.
menggambarkan defek sebagai
 Derajat Separasi merupakan sudut dari
daerah radiolusen pada daerah
pembagian antara dua akar (konus) bifurkasi gigi.
(Gambar 1).
Grade IV: tulang interdental hilang
dan jaringan lunak telah resesi ke
arah apical yang menyebabkan bukaan furkasi terlihat secara klinis.

Gambar 1. Terminologi yang berhubungan dengan furkasi.

Gambar 4. (A) Furkasi terdeteksi sedalam 3 mm,


(B) Furkasi terdeteksi sedalam lebih dari 3 mm
tetapi belum menembus, (C) Furkasi terdeteksi dan
Gambar 2. Grade II defek furkasi
menembus.

II. Menurut Hamp dkk. (gambar 4 A-


C):
Derajat I: kehilangan dukungan
periodontal dalam arah horizontal
tidak melebihi 1/3 dari lebar gigi (<3
mm)
Derajat II: kehilangan dukungan
Gambar 3. Grade III defek furkasi (pandangan
periodontal dalam arah horizontal
oklusal). Probe Naber’s melewati lesi furkasi. melebihi 1/3 dari lebar gigi (≥3 mm)
Deraat III: kehilangan dukungan
periodontal dalam arah horizontal
yang menembus daerah furkasi
Gambar 5 A-D: Klasifikasi Easley dan Drennan: (A) Tidak ada keterlibatan furkasi, (B) Klas I-Keterlibatan
insipien, (C) Klas II Tipe I, Tipe II, (D) Klas III Tipe I, Tipe II.

III. Menurut Tarnow dan Fletcher (1984): Grade I: lesi insipient


berdasarkan arah vertikal dari Grade II: lesi cul-de-sac
keterlibatan furkasi berdasarkan jarak Grade III: lesi terus menerus
dari dasar defek menuju atap furkasi V. Menurut Eskow dan Kapin:
dapat dibagi menjadi: berdasarkan komponen vertikal dari
Subgrup A: kerusakan vertikal pada keterlibatan furkasi
tulang melebihi 1/3 tinggi Subgrup A: defek vertikal tulang
interradikuler (1-3 mm) mencapai 1/3 akar
Subgrup B: kerusakan vertikal pada Subgrup B: defek vertikal tulang
tulang melebihi 2/3 tinggi mencapai 2/3 akar
interradikuler (4-6 mm) Subgroup C: defek vertikal tulang >
Subgrup C: kerusakan vertikal 2/3 akar
melebihi 1/3 apikal (7 mm atau lebih) VI. Menurut Easley dan Drennan:
IV. Menurut Goldman dan Cohen (1986) (Gambar 5 A-D)
Kelas I: keterlibatan insipient dimana periodontal. Plak bakteri merupakan
fluting koronal dari jalan masuk penyebab terjadinya periodontitis
furkasi terlibat tetapi tidak terdapat marginalis, yang menyerang satu atau
komponen horizontal yang jelas dari lebih daerah furkasi dengan derajat
keterlibatan furkasi yang beragam, menyebabkan
Pada klasifikasi ini, kelas II dan III kehilangan tulang yang ireversibel
dibagi menjadi subtipe 1 dan 2 atas pada daerah interradikuler. Pada
dasar konfigurasi tulang alveolar pada kebanyakan pasien, respon terhadap
jalan masuk furkasi. Resorpsi plak bakteri, tanpa adanya terapi,
horizontal mencapai furkasi merupakan kehilangan yang progresif
merupakan subtipe 1, dimana subtipe pada daerah yang spesifik tersebut.
2 menunjukkan komponen vertikal Meskipun laju dari respon beragam
yang signifikan pada defek tiap individu, faktor anatomis local
Kelas II: tipe 1-kehilangan perlekatan yang mempengaruhi deposisi dari plak
horizontal yang jelas ke dalam furkasi, atau menghambat pemusnahannya
tetapi bentuk dari kehilangan tulang dapat memberikan pengaruh yang
pada dasarnya horizontal. Tidak signifikan terhadap perkembangan
terdapat pinggir tulang yang jelas pada dari hilangnya perlekatan.
bukal atau lingual. Tipe 2- terdapat ii. Faktor predisposisi:
pinggir bukal atau lingual dan  Proyeksi enamel servikal:
komponen vertikal yang jelas pada proyeksi enamel servikal yang
kehilangan perlekatan. terdapat pada permukaan akar
Kelas III: kehilangan perlekatan pada pada daerah furkasi telah
furkasi yang terus menerus dipertimbangkan sebagai faktor
(menembus). Seperti defek kelas II, predisposisi dari kehilangan
bentuk kehilangan perlekatan dapat perlekatan periodontal.
horizontal tipe 1 atau vertikal tipe 2  Trauma oklusi: trauma dari oklusi
dengan kedalaman yang beragam bertindak sebagai kofaktor
predisposisi menjadi kontroversi.
ETIOLOGI
Glickman (1961) menetapkan
Tidak ada perbedaan dalam etiologi dan peran kunci dari trauma,
patologi antara keterlibatan furkasi dan dikarenakan daerah furkasi
poket periodontal lainnya. Namun, sensitive terhadap cedera dari
gambaran anatomis dan morfologis dari beban kunyah yang berlebih.
furkasi dan hubungannya dengan struktur Waerhaug (1979) menyangkal
sekitar memberikan permasalahan yang efek awal dari trauma dan
spesifik dalam perawatan terhadap gigi mempertimbangkan inflamasi dan
yang bersangkutan. edema disebabkan oleh plak pada
daerah furkasi cenderung
i. Penyebab utama dari keterlibatan
menyebabkan gigi ekstrusi,
furkasi adalah kehilangan perlekatan
dimana menjadi traumatisasi dan
yang terus menerus yang merupakan
sesitif.
hasil dari penyakit inflamasi
 Penyakit pulpa periodontal: tingginya bukal sekitar 4 mm dan distal
persentase gigi molar dengan bukaan sekitar 5 mm.
saluran aksesoris menuju furkasi  Premolar mandibular – panjang
memberi kesan bahwa penyakit pulpa badan akar sekitar 8 mm
dapat menjadi kofaktor awal dalam  Molar mandibular – panjang badan
perkembangan keterlibatan furkasi. akar pada lingual sekitar 4 mm dan
 Kofaktor iatrogenic: kofaktor bukal sekitar 3 mm
predisposisi iatrogenic seperti pin dan ii. Panjang akar: panjang akar
perforasi endodontik serta restorasi berhubungan langsung dengan
yang overhanging berujung pada kuantitas dari perlekatan jaringan
formasi lesi furkasi yang terisolir …… pendukung.
restorasi overhanging menjadi tempat
berkumpulnya plak dental dimana
menyebabkan inflamasi periodontal
dan kehilangan perlekatan
 Fraktur akar yang melibatkan furkasi:
jika fraktur akar melibatkan tubuh dari
akar ganda molar dan meluas ke
furkasi, dapat menyebabkan
pembentukan yang cepat defek furkasi
terisolasi. Prognosa dari situasi ini
buruk dan biasanya berujung pada
kehilangan gigi.
BERAGAM FAKTOR ANATOMI YANG
MEMPENGARUHI PERAWATAN LESI Gambar 6: Variasi anatomis daerah furkasi
FURKASI

i. Panjang badan akar: panjang badan iii. Bentuk akar: akar molar
akar merupakan faktor utama yang kemungkinan fusi, sebagian fusi,
mempengaruhi berkembangnya sangat dekat, atau sangat divergen.
keterlibatan furkasi dan cara Kurvatura dan fluting
perawatan. Jika panjang badan akar meningkatkan potensi perforasi
pendek, sedikit perlekatan yang hilang akar saat endodontic dan fraktur
menyebabkan keterlibatan furkasi dan akar vertikal. Konkavitas terdapat
ketika badan akar panjang, furkasi pada akar mesiobukal dari gigi
nanti akan terlibat tetapi akan sulit molar pertama maksila dan kedua
untuk instrumentasi. Badan akar yang akar pada gigi molar pertama
pendek memudahkan prosedur bedah mandibular.
dan lebih mudah diakses untuk terapi iv. Dimensi interradikuler: zona
pemeliharaan dibanding badan akar interradikuler yang sempit
yang panjang. menyulitkan prosedur bedah
 Molar maksila – jalan masuk dimana akar yang terpisah lebar
furkasi mesial terletak 3 mm dari memiliki opsi perawatan yang
CEJ dimana jalan masuk furkasi banyak dan mudah dihemiseksi,
siap untuk dirawat. Pada akar yang Grade III: proyeksi enamel meluas
divergen instrumentasi yang horizontal menuju furkasi
adekuat dapat dilakukan saat Prevalensi dari Proyeksi Enamel Servikal
scaling, root planing dan bedah. tertinggi pada gigi molar kedua maksila
Dimensi dari jalan masuk furkasi dan mandibular.
harus dipertimbangkan saat
pemilihan instrument.
DIAGNOSIS
 Premolar maksila- lebar jalan
masuk furkasi pada premolar Posisi dan morfologi dari daerah furkasi
maksila sekitar 0,7 mm menyulitkan kemampuan klinisi untuk
 Molar maksila- lebar jalan masuk mengidentifikasi lokasi dan perluasan
pada bukal yaitu 0,5 mm, mesial defek furkasi. Furkasi harus didiagnosis
0,75 mm dan distal 0,5 mm sedini mungkin.
 Molar mandibular- lebar jalan i. Secara radiografis: radiografi berguna
masuk biasanya kurang dari 0.75 dalam menaksir morfologi akar dan
mm dimana lingual lebih dari 0,75 posisi apikokoronal dari furkasi
mm namun tidak mampu menilai
v. Anatomi furkasi: ridge bifurkasi yang kehilangan perlekatan pada furkasi.
sedang terdapat pada 73% molar Jadi, gambaran dua dimensi
pertama mandibular, menyebrang dari memberikan informasi yang kurang
akar mesial menuju distal pada lengkap mengenai keterlibatan furkasi,
pertengahan bifurkasi. Ridge terutama pada maksila. Resolusi tinggi
bifurkasi, konkavitas pada kubah dan CT, CADIA dan radiografi digital
saluran tambahan mempersulit akan mampu melihat gambaran
scaling, root planing, prosedur bedah melintang dari lesi furkasi interior.
dan pemeliharaan. Sepertinya radiografi sendiri tidak
vi. Proyeksi enamel servikal: tempat ini mampu mendeteksi lesi furkasi secara
memberikan tempat akumulasi plak akurat dan probing pada daerah
dan menyulitkan scaling dan root furkasi diperlukan untuk memastikan
planing. Proyeksi enamel bertindak keberadaan dan keparahan dari defek
sebagai faktor lokal dari furkasi.
berkembangnya gingivitis dan ii. Klinis: probe periodontal berguna
periodontitis. dalam menilai kedalaman probing
Masters dan Hoskins pada tahun 1964 dalam dimensi vertikal, tetapi kurang
mengklasifikasikan Proyeksi Enamel berguna dalam menilai derajat
Servikal menjadi 3 tingkat: keterlibatan dalam arah horizontal.
Maka dari itu, explorer Cowhorn
Grade I: proyeksi enamel meluas dari CEJ lengkung atau probe Naber’s sangat
menuju jalan masuk furkasi berguna. Probe furkasi memiliki ujung
Grade II: proyeksi enamel mendekati jalan yang melengkung dan tumpul yang
masuk furkasi tanpa memasuki furkasi mampu mengakses daerah furkasi
dengan tanpa komponen horizontal dengan mudah. Contoh dari probe
furkasi adalah nabers 1N dan nabers
2N. Probe diarahkan kedalam margin akurat, probing transgingival dapat
gingiva. Pada dasar poket, ujung dilakukan pada jaringan lunak yang telah
probe diputar menuju gigi agar dianastesi (lebih akuratnya dijelaskan pada
ujungnya dapat masuk melalui bukaan chapter no. 30 Diagnosa Klinis)
furkasi.
PROGNOSIS
Secara umum, gigi dengan keterlibatan
furkasi memiliki prognosa yang buruk.

 Prognosis keterlibatan furkasi dari


premolar pertama maksila adalah
buruk
 Prognosis dari molar maksila kurang
sedangkan molar pertama mandibula
baik
Faktor berikut yang
Gambar 7: Probing furkasi molar dengan menentukan dalam prognosis gigi
probe Naber’s dengan keterlibatan furkasi:
a. Perluasan keterlibatannya
Batang terminal dari probe Nabers
b. Status dari tulang pendukung
diarahkan parallel dengan sumbu
c. Separasi akar
aksial dari permukaan gigi yang
d. Kesehatan gigi tetangga
diperiksa.
 Probing pada furkasi molar Faktor lain yang menentukan
mandibula lebih mudah prognosa perawatan berhubungan
dikarenakan hanya ada bukaan dengan diri sendiri, psikologis,
bukal dan lingual yang berlokasi sosiologis dan pertimbangan sosial
ditengah-tengah
MANAGEMEN
 Probing pada furkasi molar maksila
– bukaan bukal terakses ditengah- Tujuan dari terapi furkasi
tengah secara mesiodistal. Distal
i. Memfasilitasi pemeliharaan dari
furkasi terdapar pada tengah-tengah
defek furkasi yang ada melalui
secara bukolingual, jadi dapat
scaling dan root planing
diprobing dari aspek bukal atau
ii. Meningkatkan akses menuju furkasi
palatal. Furkasi mesial dari molar
melalui gingivektomi, flap posisi
maksila dapat diprobing dari aspek
apikal, odontoplasti,
palatal dikarenakan furkasi mesial
ostektomi/osteplasti dan preparasi
terbuka sekitar 2/3 menuju
tunnel.
palatum, dibandingkan ditengah-
iii. Mencegah kehilangan perlekatan
tengah secara bukolingual.
lebih lanjut atau mengeliinasi furkasi
iii. Probing transgingival/bone sounding:
memalui amputasi akar, reseksi gigi
untuk menentukan kontur tulang yang
dan hemiseksi
berhubungan dengan lesi furkasi yang
iv. Menghilangkan defek furkasi dengan Bergantung dari keparahan keterlibatan
mengisi defek furkasi dengan bahan furkasi dan juga posisi gigi pada maksila
biokompatibel seperti polymeric atau mandibula, berbagai macam metode
reinforced zinc oxide eugenol (IRM) terapeutik dicoba.
dan GIC
Defek Furkasi Kelas I
v. Meregenerasi kehilangan perlekatan
melalui prosedur GTR dan bone A. Furkasiplasti: pada tahun 1975, Hamp,
grafting Nyman dan Lindhe menjelaskan
furkasiplasti sebagai pengangkatan
Beberapa faktor yang dipertimbangkan
flap mukoperiosteal untuk memberi
dalam perawatan lesi furkasi:
akses pada daerah furkasi dan
A. Faktor berhubungan dengan gigi: mengkombinasikan scaling dan root
i. Derajat keterlibatan furkasi planing, osteoplasti dan odontoplasti
ii. Banyaknya jaringan periodontal untuk menghilangkan iritan lokal dan
yang tersisa membuka furkasi untuk memudahkan
iii. Kedalaman probing pasien melakukan pembersihan.
iv. Mobilitas gigi Dilakukan pada lesi furkasi Grade I
v. Panjang badan akar dan Grade II awal.
vi. Panjang akar B. Scaling dan root planing: pada Grade
vii. Bentuk akar I, tidak ada kehilangan tulang dalam
viii. Dimensi interradikuler furkasi, jadi prosedur scaling terbuka
ix. Anatomi dari furkasi atau tertutup dan root planing dapat
x. Proyeksi enamel servikal mengatasi inflamasi. Jika inflamasi
xi. Posisi gigi dan oklusi tidak teratasi maka gingivektomi atau
xii. Kondisi endodontic dan anatomi flap posisi apical dapat dilakukan
saluran akar tergantung dari lebar gingiva
B. Faktor berhubungan dengan pasien: perlekatan.
i. Nilai strategis dari gigi dan C. Odontoplasti: odontoplasti
relasinya dengan rencana didefinisikan sebagai pembentukan
keseluruhan kembali koronal gigi ke furkasi.
ii. Umur pasien dan kondisi Furkasi dilebarkan dan didangkalkan
kesehatan dengan meninggikan atap furkasi.
iii. Kebersihan mulut Rasional dibalik teknik ini adalah
menciptakan akses yang baik untuk
Modalitas Perawatan untuk Defek Furkasi
kontrol plak dan pemeliharaan.
Kelas I, II, III dan IV
Apabila proyeksi enamel servikal
Kunci keberhasilan dari perawatan ditemukan maka akan dihilangkan dan
keterlibatan furkasi molar sama dengan dibentuk ulang. Odontoplasti harus
masalah periodontal lainnya – yaitu, dilakukan dengan hati-hati
diagnosis awal, melalui rencana dikarenakan potensi komplikasi dari
perawatan, kebersihan mulut pasien, hipersensitif, eksposur pulpa dan
eksekusi yang hati-hati, dan pemeliharaan resiko karies akar.
periodontal yang sudah dirancang dan D. Osteoplastik: dilakukan untuk
diimplementasikan dengan baik. memberikan bentuk gingival yang
baik dengan membuat alur pada tulang terakses untuk instrumen perawatan
diantara akar kemudian memfestoon bagi pasien.
dan membevel tulang diatas akar. Faktor yang dipertimbangkan dalam
E. Gingivektomi/flap posisi apikal: dapat pemilihan kasus untuk preparasi
dilakukan dalam menurunkan atau tunnel:
menghilangkan poket diatas regio  Gigi harus molar mandibula untuk
furkasi untuk meningkatkan akses akses dua arah
kontrol plak dan memungkinkan  Pasien memiliki indeks karies
perbaikan dari inflamasi periodontal rendah
Defek Furkasi Kelas II  Plak kontrol yang baik
 Badan akar harus pendek dengan
A. Open flap debridement: jika akses bukaan furkasi yang tinggi dan akar
subgingiva tidak cukup dengan teknik panjang
tertutup, untuk furkasi molar dengan  Akar harus memiliki bukaan
lesi yang dalam, maka open flap furkasi dengan tingkat divergen
debridement atau modifikasi flap lebih darih 30 derajat
Widman menghasilkan pembersihan  Dasar ruang pulpa tidak dekat
plak dan kalkulus yang efektif dengan atap furkasi untuk
B. Regenerasi jaringan terpandu: memberikan kemungkinan
membran pembatas organik atau odontoplasti dari bukaan.
sintetis digunakan berdasarkan prinsip
dari regenerasi jaringan terpandu Prosedur:
C. Bone grafting: fokus pada Flap bukal dan lingual dibuka dan
pembentukan tulang sebagai prasyarat daerah yang terlibat dilebarkan dengan
dari pembentukan perlekatan baru pembuangan beberapa tulang
telah menyebabkan implantasi dari interradikular. Beberapa tulang
graft tulang atau jenis lain dari interfurkal dalam arah vertical
pengganti tulang kedalam defek dikorbankan dan dibentuk ulang untuk
furkasi. Diantaranya adalah bone memperoleh outline tulang yang datar.
autografts, allografts, xenografts dan Diikuti dengan reseksi tulang untuk
material alloplastic yang didesain mendapatkan ruang yang cukup
sebagai pengganti tulang atau sehungga pembersihan dapat
pembatas biologis. dilakukan oleh pasien sendiri.
Defek Furkasi Kelas III dan Kelas IV Keuntungan dari tunneling yaitu
menghindari terapi rekonstruksi
A. Preparasi Tunnel: tunneling prostetik dan endodontic.
merupakan proses dengan sengaja
menghilangkan tulang dari furkasi Kekurangan dari tunneling yaitu
untuk menghasilkan terowongan ancaman karies akar, patologi pada
terbuka melalui furkasi. Ini pulpa, arsitektur terbalik dan
merupakan teknik resektif yang penumpukan plak pada daerah furkasi
digunakan untuk kelas II yang parah yang menyebabkan terjadinya
dan defek kelas III. Tujuan dari teknik kerusakan periodontal.
ini yaitu membuat area furkasi
B. Reseksi akar: merupakan perawatan dipilih untuk reseksi akar
pilihan pada grade II dan III dibanding akar distal.
keterlibatan furkasi yang dalam
Pemilihan akar pada molar
apabila regenerasi tidak dapat
maksila: reseksi akar paling sering
diprediksi. Akar dengan kehilangan
dilakukan pada akar distobukal
tulang paling besar seharusnya
molar pertama maksila. Ketika
dipertimbangkan amputasi.
kedua furkasi distal dan mesial
Indikasi dilakukannya reseksi akar yaitu:
terlibat, akar palatal dapat
 Kehilangan perlekatan yang berat dan
dilakukan amputasi apabila furkasi
tidak proporsional sekitar akar yang
pada bukal asih utuh. Akar palatal
terpengaruh.
memiliki inklinasi aksial yang tidak
 Defek furkasi yang dapat dieliminasi
menguntungkan dan hubungan
dengan amputasi akar
prostetik yang tidak
 Eliminasi akar yang retak atau patah menguntungkan dengan premolar
 Eliminasi akar yang tidak dapat pertama
dirawat endodontic
 Karies akar yang tidak dapat Fase Endodontik
dibersihkan Pada reseksi akar non vital,
 Resesi yang mengekspos hampir atau perawatan endodontic (perawatan
seluruh bagian akar pada gigi berakar saluran akar) dilakukan terlebih
ganda dahulu dan reseksi akar vital,
Faktor penentu reseksi akar: reseksi akar dilakukan terlebih
dahulu kemudian perawatan
 Tingkat tulang pada furkasi endodontic.
 Aksesibilitas untuk meghilangkan
plak
 Proksimitas akar
 Posisi akar pada lengkung
 Morfologi akar
 Komplikasi endodontic

Tenik (Gambar 8 A-D):


Pemilihan akar pada molar
mandibula: konkavitas pada akar
mesial memiliki aksesibilitas yang
rendah untuk pembersihan plak dan
dua saluran akar yang sempit lebih
sulit untuk dilakukan perawatan
endodontik dibandingkan akar
distal. Restorasi post dan core lebih
A. Molar Maksila
mudah dilakukan pada akar distal. B. Pemotongan akar untuk memisahkannya dengan
Dengan demikian, akar mesial badan akar
C. Pengambilan akar yang telah terpisah
D. Pembentukan ulang badan akar perlu diperiksa secara radiografis
dan klinis.
Gambar 8 A-D: Reseksi akar pada molar maksila
C. Hemiseksi: hemiseksi merupakan
Fase Resektif
pembagian gigi berakar ganda menjadi
 Refleksi flap: setelah anastesi lokal dua gigi yang terpisah. Proses ini juga
diberikan pada daerah kerja, insisi flap dinamakan bicuspidisasi.
full thickness mukoperiosteal bukal Indikasi:
dan lingual melalui crevicular  Gigi dengan letak yang strategis
direfleksikan. dengan grade III keterlibatan
 Potongan: sedikit bagian tulang yang furkasi
menutupi akar (yang akan direkseksi)  Gigi dengan akar divergen.
dihilangkan untuk menyediakan akses
Kontraindikasi:
pengangkatan dan penghilangan akar.
potongan dibuat dengan bur bedah  Ketika dukungan periodontal kurang
karbid fisur atau cross cut fisur. adekuat
Potongan kemudian diarahkan dari  Gigi yang tidak dapat dirawat
apical menuju titik kontak gigi, endodontic
melalui gigi, menuju orifice lain dari  Restorasi pada gigi yang ada seperti
furkasi. Pada reseksi vital, potongan splinting tidak dapar dilakukan
dibuat lebih horizontal agar
permukaan ruang pulpa sedikit Prosedur:
terekspos.  Potongan: potongan vertical dibuat
 Penghilangan akar: setelah dipotong, fasiolingual melalui groove
akar diangkat dari soketnya. Sebelum developmental bukal dan lingual,
flap ditutup ada baiknya untuk melalui ruang pulpa dan melalui
mengecek sisa potongan akar yang furkasi. Bagian logam dari potongan
dapat menjadi tempat menumpuknya harus dibuat sebelum dilakukan
plak dan menyebabkan kerusakan pengangkatan flap dimana mencegah
periodontal dikemudian hari. terjadinya kontaminasi daerah bedag
 Suturing: jahitan ditempatkan pada dengan partikel logam
aproksimasi flap  Peninggian flap: flap bukal dan
Fase Restoratif lingual diangkat dan daerah tersebut
dikuret. Bedah ossesus dilakukan
Penghilangan sebuah akar melalui penghilangan crater internal
mengubah arah penyaluran beban sisa pada aspek mesial dan distal
oklusal pada akar yang masih ada. pada akar yang masih ada
Oklusi pada gigi yang  Pembentukan kembali gigi: atap
bersangkutan perlu dievaluasi dan furkasi secara hati-hati diperforasi
disesuaikan. Crown sebaiknya dengan round bur. Setiap bagian gigi
dipasangkan. Tetapi sebelum dibentuk kembali menjadi gigi
memberikan restorasi tetap, berakar tunggal dan dipreparasi
kualitas pengisian akar, tepi residu untuk pemasangan crown
vii. Pasien dengan respon yang kurang
terhadap perawatan
Studi Terkait Landmark
Bower RC. Furcation morphology relative
Gambar 9: Hemiseksi molar mandibula to periodontal treatment: Furcation root
surface anatomy. Journal of
D. Reseksi gigi: reseksi gigi melibatkan Periodontology 1979;50:366-74.
penghilangan satu atau lebih akar pada
Sampel acak terdiri dari 114
gigi dan juga bagian dari mahkota.
gigi molar pertama permanen
maksila dan 103 molar pertama
permanen mandibula dipilih dari
koleksi gigi yang sudah diekstraksi
di University of Michigan Dental
School. Pengukuran diameter jalan
Defek Furkasi Kelas IV Lanjutan masuk furkasi dilakukan
menggunakan mikroskop bedah.
Ekstraksi Gigi
Berikut adalah hasilnya: 85%
Indikasi pencabutan gigi pada defek furkasi bukal molar pertama
furkasi kelas III dan IV yaitu: maksila berdiameter 0.75 mm atau
kurang, dimana 49% dari furkasi
i. Individu yang tidak menjaga oral
mesiopalatal dan 54% dari
hygiene
distopalatal berdiameter 0,7 mm
ii. Pasien dengan tingkat karies yang
atau kurang. Molar pertama
tinggi
mandibula – dalam 63% kasus,
iii. Adanya molar tanpa gigi lawannya
jalan masuk furkasi bukal dan 37%
yang merupakan gigi terminal pada
dari lingual berdiameter 0,75 mm
lengkung
atau kurang. Lebar blade dari 12
iv. Pertimbangan finansial
jenis kuret yang umum digunakan
v. Gigi dengan prognosa yang
diukur menggunakan caliper
dipertanyakan dan lebih baik
Vernier dan dicatat. Lebar blade
dilakukan implant
pada semua kuret berkisar antara
Kegagalan dalam Terapi Surgikal Furkasi 0,75 mm sampai 1,10 mm. Namun,
penelitian menunjukkan bahwa
Beberapa kegagalan dalam terapi surgical
81% furkasi (gigi maksila dan
furkasi disebabkan beberapa alasan:
mandibula) memiliki diameter
i. Kontrol plak dan pemeliharaan jalan masuk sebesar 1,0 mm atau
yang kurang adekuat kurang dan 58% nya memiliki
ii. Reseksi akar yang kurang baik diameter 0,75 mm atau kurang.
iii. Restorasi yang tidak benar Perbandingan antara diameter jalan
iv. Kegagalan endodontic masuk gigi molar pertama dan
v. Akar yang retak lebar blade dari beberapa jenis
vi. Karies akar kuret periodontal menunjukkan
perbedaan ukuran dimana pasien diperiksa kembali.
menyebabkan kuret sendiri tidak Prognosis sebelumnya
mungkin mendapatkan preparasi dipertanyakan pada gigi dengan
yang adekuat pada area furkasi. keterlibatan furkasi, poket dalam,
kehilangan tulang yang parah atau
Bower RC. Furcation morphology relative
mobilitas gigi dengan poket yang
to periodontal treatment. Furcation
dalam. Selama perawatan, pasien
entrance architecture. Journal of
sangat bervariasi dan
Periodontology 1979; 50:23-27
dikelompokkan menurut respon
Pada penelitian ini, morfologi perawatan: 499 pasien yang terawat
permukaan internal furkasi diteliti. dengan baik dengan kehilangan 3
Sampel dengan 114 gigi molar gigi atau kurang, 76 pasien kurang
pertama permanen maksila dan 103 terawat dengan kehilangan 4-9 gigi
molar pertama permanen dan 25 pasien sangat tidak terawat
mandibula dipotong melintang 2 dengan kehilangan 10-23 gigi.
mm apical dari divisi akar paling secara keseluruhan 2 dari 3 gigi
apical. Berikut adalah hasilnya: yang dipertanyakan disimpan, 7%
dari seluruh gigi hilang oleh karena
Gigi molar pertama maksila
alasan periodontal dan 1% oleh
a. Aspek furkal dari akar yaitu konkaf karena alasan lain. Namun, hasil
pada 94% akar mesiobukal, 31% akar perawatan kurang terprediksi pada
distobukal dan 17% akar palatal. kelompok pasien kurang terawat
b. Konkavitas terdalam terdapat pada dan sangat tidak terawat.
aspek furkal dari akar mesiobukal
Poin Renungan
(rata-rata konkavitas 0,3 mm).
c. Aspek furkal dari akar bukal  Dimensi jalan masuk furkasi harus
menyimpang menuju palatal pada dipertimbangkan dalam pemilihan
97% gigi (rata-rata penyimpangan instrument.
22°).  Defek furkasi pada molar maksila
Molar pertama mandibula lebih sulit untuk diinterpretasi pada
a. Konkavitas pada aspek furkal radiografi dikarenakan superimposisi
ditemukan 100% pada akar mesial dan dari akar palatal yang besar.
99% pada akar distal  Dalam hemiseksi, gigi molar berakar
b. Konkavitas terdalam ditemukan pada ganda diubah menjadi dua gigi
akar mesial (rata-rata 0,7 mm) berakar tunggal.
dibanding akar distal (rata-rata 0,5
mm).
Hirschfeld L, Wasserman B. A long term
survey of tooth loss in 600 treated
periodontal patients. Journal of
Periodontology 1978; 49: 225-237.
Setelah 15-50+ tahun (rata-rata
22 tahun) pasca perawatan, 600