Anda di halaman 1dari 2

Mengelola Perbedaan, Menuai Rahmat

by humas2019-06-20

Oleh: Wardani*

Realitas umat kita ini beragam, tidak hanya suku-sukunya, melainkan juga agama-agamanya. Bahkan,
dalam satu agama pun ada keragaman. Dalam agama Islam, ada aliran-aliran: Asy’ariyah, Mu’tazilah,
Khawarij, Syafi’ī, Mālikī, Hanafī, Hanbali, model pemahaman NU, Muhammadiyah, JIL, JIMM, Islam Kiri,
Islam Kanan, Islam HMI, Islam PMII, dan sebagainya. Keragaman itu tampaknya sudah ada sejak masa
perkembangan Islam. Betapa tidak, ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi sumber ajaran Islam juga terbuka
untuk dipahami berbeda-beda. Bahkan, pernah dikatakan “al-Qur`ān hamalatun lil wujūh” (Kitab suci al-
Qur’an mengandung beberapa aspek, sisi, macam pemaknaan yang berbeda). Begitu juga, hadits-hadits
yang dijadikan penafsir al-Qur’an; sumbernya beragam dan cara memahaminya juga beragam. Apalagi,
pada tingkat pemahaman para ulama sejak sahabat, tābi’ūn, tābi’ut tābi’īn, hingga generasi kita. Daya
pemahaman berbeda yang diikuti dengan kondisi sosial-kemasyarakatan umatnya juga berbeda
menjadikan kemasan pemahaman tentang Islam juga berbeda-beda. Di Indonesia, perbedaan cara
memahami ajaran itu dikotakkan menjadi pemahaman organisasi keagamaan; NU dan
Muhammadiyyah, LDII, tarekat-tarekat, dan sebagainya. Yang menjadi persoalan di sini adalah bahwa
perbedaan tersebut bisa berpotensi menjadi ketegangan dan konflik. Kisah-kisah ketegangan NU-
Muhammmadiyah antara keinginan memurnikan ajaran Islam dari khurafat dan bid’ah dengan keinginan
melestarikan tradisi-tradisi keagamaan yang masih dianggap baik menjadi kisah-kisah lama yang tak
asing di telinga kita.

Bagaimana Mengelola Perbedaan?

Jika perbedaan adalah sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan dan selalu ada dalam agama kita, lalu yang
menjadi perhatikan kita adalah tinggal bagaimana mengelola perbedaan tersebut agar tidak terjadi
ketegangan dan konflik?

Pertama, harus disadari dan dihayati bahwa perbedaan adalah kehendak Allah Swt. (sunnatullāh).

Perbedaan sebenarnya adalah kehendak Allah swt. Dalam QS. al-Mā`idah: 48, Allah swt. berfirman:
Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah
menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap
pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah
kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS.
al-Mā`idah: 48).

Ini adalah sunnatullāh, hukum yang sengaja dikehendaki oleh Tuhan. Sebagai suatu sunnatullāh, tentu
perbedaan tersebut akan selalu ada dalam agama dan dalam masyarakat. Mustahil mengandaikan suatu
pemahaman yang seragam tentang agama. Selalu aja saja perbedaan. Ayat di atas dengan jelas
menegaskan bahwa Dia sebenarnya Mahakuasa menjadikan umat ini satu identitas (satu agama, satu
pemahaman). Akan tetapi, hal itu tidak diinginkan-Nya, karena Dia ingin menguji umatnya dengan
perbedaan tersebut, siapakah yang mampu menunjukkan kebajikan-kebajikan (al-khairāt). Apa yang bisa
kita lakukan bagi kebaikan umat ini dan bagi semua manusia di tengah perbedaan itu?