Anda di halaman 1dari 5

Pengaruh Obat-Obatan Dan Minuman

Keras Terhadap Kerja System Saraf


Obat-obatan biasanya digunkan untuk menyembuhkan pernderita suatu
penyakit. Pada dasarnya sakit merupakan tanggapan tubuh suatu penyebab sakit,baik
yang berasal dari dari dalam tubuh, seperti asam lambung yang berlebih, maupun dari
luar tubuh, sepeti maikroba patogen, yang semuanya menyebabkan ketidak seimbangan
proses-proses dalam tubuh. Dengan demkian, pengobatan merupakan upaya
pengembalian kondisi tubuh menjadi seimbang.
Semua obat dapat mempengaruhi kerja system koordinasi, terutama system
saraf. Obat yang biasanya zat kimia, akan berinteraksi dengan organ tubuh yang sakit
untuk menghasilkan atau mengurangi keadaan sakit tersebut. Sayangnya banyak zat
kimia yang mampu menghilangkan atau mengurangi rasa sakit, tetapi zat tersebut tidak
menyembuhkan. Karena mampu menghilangkan rasa sakit, zat-zat kimia tersebut
sering dijadikan “obat”. Berikut beberapa obat yang termasuk kedalam golongan
tersebut.

1.  Alkohol

Alkohol yang beredar dapat berupa metanol, etanol, ataupun butanol. Zat ini
biasa digunakan dalam sterilisasi alat-alat laboratorium sebagai pembunuh mikroba
(desinfektan). Namun, tidak sedikit yang meminumnya sebagai upaya untuk
menghilangkan perasaan-perasaan tertekan, takut, dan sejenisnya. Perasaan-perasaan
tersebut sebenarnya tidak hilang. Seatu saat persaan itu akan muncul kembali. Alkohol
juga menimbulkan kecanduan (adiksi). Akibatnyan, seseorang yang telah
meminumnya selalu merasa ingin meminumnya  kembali dengan kadar yang lebih
tinggi hingga dapat menimbulkan adiksi fisiologis.

Didalam tubuh, alkohol akan meinmbulkan keracunan. Alkohol dapat menyebabkan


hilangnya koordinasi gerak, lemahnya cara berpikir, ataupun kaburnya pandangan.
Konsentrasi alcohol dalam darah mencapai lebih dari 0,5% akan menyebabkan
kematian. Akibatnya lebih lanjut, denyut jantung dan frekuensi pernapasan melambat
yang pada ahirnya dapat berakaibat fatal.

2.  Narkotika
Narkotika  merupakan terjemah dari nakose  yang berarti menidurkan. Menurut
Undang-Undang nomor 9 tahun 1976, yang termasuk golongan narkotika adalah
candu, morfin, heroin, ganja kokain narkotik semisintetis, dan narkotik sintetis.

Candu ataupun opium meupakan getah tanaman Papaver sominiferum  yang


telah mengalami pemrosesan. Morfin dan heroin merupakan produk turunan candu.
Morfin merupakan zat utama yang candu mentah yang berkhsiat 5-10 kali lebih tinggi
debandingkan candu. Morfin diperdagangkan dalam bentuk serbuk, cairan, balokan
dan tablet. Adapun heroin merupakan hasil lebih lanjut morfin yang daya adiksinya 4
kali lebih tinggi daripada morfin sehingga dunia kedokteran sama sekali tidak
menggunakannya.

Ada perbedan antara heroin dan ganja? Ganja atau mariyuana merupakan nama
lain untuk tanaman cannabis sativa. Daun ganja mngandung senyawa tetra-hydro-
cannabinol  (THC), seatu senyawa halusinogenik yang dapat menebabkan hausinasi
atau hayalan. Ataupun kokalin merupakan sebutan untuk tanaman Erytroxylon coca
yang daunya mengandung zat berhasiat narkotik. Kokain diperdagangkan dalam
bentuk tepung, kristal, dan tablet putih serta cairan bening.

Bagaimana dengan nakotik semi sintetis dan narkotik sintetis? Narkotik semi
sintetis merupakan proses modifikasi zat kimia yang terdapat dalam opium. Adapun
narkotik sintetis adalah suatu proses yang sepenuhnya berbahan kimia. Contoh narkotik
semi sintetis adalah methadone dan phitidine.

3.  Obat-obatan psikotropika

Obat-obatan berbahaya psokotropika adalah berbagai jenis obat untuk


pengobatan yang berdaya kerja keras dan dapat menimbulkan efek adiksi sebagaimana
narkotik sehingga penggunaan harus dalam pengawasan dokter. Obat-abatan golongan
ini terdapat tiga kelompok, yaitu kelompok obat depresan, stimulant,dan
halusinogen.

Obat depresan merupakan obat yang menyebabkan pusat saraf menjadi pasif.
Dalam kehidupan sehari-hari kelompok obat ini dinamakan obat penenang atau obat
tidur, misanya barbitura. Cisadon, dan methaqualon. Obat setimulan merupakan
kebalikan obat depresan, yaitu dapat membuat pusat saraf menjadi sangat aktif,
misalnya amfetamin. Adapun obat halusinogen adalah obat yang dapat menimbulkan
daya hayal (halusinogen) yang kuat, seperti obat yang dikenal dengan LSD dan PCP.

4.  Bahan penikmat

Bahan penikmat merupakan bahan yang sehari-hari sering digunkan,seperti


nikotin yang terkandung dalam tembakau (rokok) dan kafein yang terdapat dalam
kopi. Zat-zat tersebut juga dapat dapat menyebabkan adiksi fisikologis. Berbagai
penelitian menunjukan nikotin dapat menyebabkan penyakit, seperti kangker paru-paru
yang sering kali merenggut jiwa pemakainya.

Obat-obatan yang dijelaskan diatas sangat berbahaya bagi kesehatan.


Penggunaanya dapat mengalami kemunduran daya pikir, lemah ingatan, kerusakan hat,
kacanduan dan akibat negatife lainya. Jika sampai tahap kronis, dapat menyebabkan
kematian. Memang obat-obatan tersebut juga bermamfaat, namun hanya untuk dunia
kedokteran, jadi, hanya mereka yang kurang akal yang mau menggunkannya.

Beberapa macam obat yang berpengaruh terhadap sistem saraf, yaitu:


 Sedatif, yaitu golongan obat yang dapat mengakibatkan menurunnya aktivitas
normal otak. Contohnya valium.
  Stimulans, yaitu golongan obat yang dapat mempercepat kerja otak. Sehingga
mengakibatkan seseorang lebih bertenaga untuk sementara waktu , dan
cenderung membuat seorang pengguna lebih senang dan gembira untuk
sementara waktu. Contohnya kokain.   
 Halusinogen, yaitu golongan obat yang mengakibatkan timbulnya penghayalan
pada si pemakai. Contohnya ganja, ekstasi, dan sabu-sabu.
 Painkiller, yaitu golongan obat yang menekan bagian otak yang bertanggung
jawab sebagai rasa sakit. Contohnya morfin dan heroin.
 Adiktif , Seseorang yang sudah mengkonsumsi narkoba biasanya akan ingin dan
ingin lagi karena zat tertentu dalam narkoba mengakibatkan seseorang
cenderung bersifat pasif , karena secara tidak langsung narkoba memutuskan
syaraf-syaraf dalam otak,contohnya ganja , heroin , putaw
Penggunaan obat-obatan ini memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf,
misalnya hilangnya koordinasi tubuh, karena di dalam tubuh pemakai, kekurangan
dopamin. Dopamin merupakan neurotransmitter yang terdapat di otak dan berperan
penting dalam merambatkan impuls saraf ke sel saraf lainnya. Hal ini menyebabkan
dopamin tidak dihasilkan. Apabila impuls saraf sampai pada bongkol sinapsis, maka
gelembung-gelembung sinapsis akan mendekati membran presinapsis.
Namun karena dopamin tidak dihasilkan, neurotransmitte tidak dapat
melepaskan isinya ke celah sinapsis sehingga impuls saraf yang dibawa tidak dapat
menyebrang ke membran post sinapsis. Kondisi tersebut menyebabkan tidak terjadinya
depolarisasi pada membran post sinapsis dan tidak terjadi potensial kerja karena impuls
saraf tidak bisa merambat ke sel saraf berikutnya.

Minuman alkohol bisa bikin saraf otak pecah.

Alkohol yang diminum akan membuat konsentrasi alkohol di darah bertambah (blood
alcohol concentration/BAC). Konsentrasi yang terus meningkat ini akan membuat
orang pingsan.

Meskipun acara minum sudah selesai, alkohol dalam perut dan usus yang sudah
diminum akan terus memasuki aliran darah di seluruh tubuh. Jadi walaupun si
peminum sudah tidur dan menganggapnya tidak ada masalah, alkohol yang masuk
aliran darah terus berlanjut.

Darah yang mengandung alkohol ini akan mengalir ke seluruh tubuh termasuk otak.
Hal ini tentu saja akan mempengaruhi sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang
belakang) yang mengontrol hampir seluruh fungsi tubuh.

Seseorang yang minum alkohol lebih dari dua gelas setiap harinya, termasuk ke dalam
kelompok orang-orang yang berisiko terkena perdarahan otak.

Para alkoholik berisiko mengalami amnesia (hilang ingatan) yang disebut dengan
sindroma Wernickle-Korsakoff. Sindrom ini bersifat kebingungan akut yang
berlangsung lama. Hal ini disebabkan mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar yang
tidak disertai dengan makanan bergizi akan membuat asupan vitamin B1 (tiamin) ke
otak berkurang.