Anda di halaman 1dari 16

PEMERIKSAAN FISIK JANTUNG

A. Tujuan
Memberikan informasi atau data yang tepat mengenai keadaan pasien khususnya
status kardiovaskular dengan menggunakan beberapa teknik pemeriksaan fisik.

B. Posisi Pemeriksaan
Posisi Klien Pemeriksaan

Supine, dengan Inspeksi dan palpasi prekordium: ruang intercostal ke 2


kepala di kanan dan kiri; ventrikel kanan; dan ventrikel kiri,
tinggikan 30° termasuk impuls apikal (diameter, lokasi, amplitudo,
durasi)

Auskultasi di daerah trikuspid dengan bel stetoskop.

Auskultasi di semua area dengan diafragma stetoskop.

Left lateral Palpasi impuls apikal jika tidak terdeteksi sebelumnya.


decubitus Dengarkan di daerah apeks jantung dengan bel stetoskop.

Duduk, condong Auskultasi di sepanjang perbatasan sternum kiri dan di


ke depan, setelah apeks jantung menggunakan diafragma stetoskop
menghembuskan
napas

C. Pemeriksaan Umum
Ektermitas
Clubbing fingers/jari tabuh adalah peningkatan jaringan lunak bagian distal jari
tangan atau kaki disebabkan karena kekurangan oksigen kronik dalam tubuh.
Biasanya terjadi pada pasien PPOK dan gagal jantung kongestif. Sudut normal
bantalan kuku 160 derajat, pada clubbing sudut kuku menjadi 180 derajat dan dasar
kuku menjadi seperti spon.

Gambar: Clubbing fingers

Edema
Edema mengacu pada akumulasi cairan berlebihan di ruang interstitial
ekstravaskular. Edema dapat terjadi karena penurunan protein plasma. Catat
lokasi, derajat edema dan pitting atau non pitting edema. Edema perifer
ditemukan pada pasien gangguan jantung. Edema ekstremitas bawah bilateral
menandakan gagal jantung atau insufisiensi vena kronik. Edema abdomen dan
tangan terlihat pada pasien gagal jantung dan serosis.

Edema yang telokalisasi pada satu kaki dihasikan oleh obstruksi (trombus) atau
sumbatan limfatik ektremitas (limfoedema).. Edema ekstremitas bawah dan ankle
terjadi karena efek samping obat antihipertensi seperti amlodipine (norvasc). Ankle
brachial index (ABI) digunakan untuk mengkaji status vaskular etremitas bawah.
Nilai ABI yang diatas (0,80) atau dibawah (0,50) normal meningkatkan resiko CAD
terutama pada wanita
Keterangan:
2 mm: 1+ edema 6 mm: 3+ edema
4 mm: 2+ edema 8 mm: 4+ edemaWajah

Wajah
Sianosis
Sianosis mengacu pada perubahan warna biru pada kulit dan membran mukosa
disebabkan oleh adanya hemoglobin terdeoksigenasi dalam pembuluh darah
superfisial atau jika jumlah hemoglobin terdeoksigenasi terdapat dalam darah
kapiler lebih dari 50 g/L. Sianosis sentral, dapat terjadi akibat penurunan oksigen
pada pembuluh darah arteri dan akan tampak kebiruan pada konjungtiva dan
membran mukosa pada mulut dan lidah.

Sianosis sentral mengindikasikan adanya kerusakan pada kegagalan fungsi paru


atau kegagalan sirkulasi jantung kanan, yang ditandai dengan desaturasi Hb pada
jaringan perifer, yang menghasilkan warna kebiruan atau kehitaman pada bantalan
kuku, daun telinga, bibir dan jempol kaki. Sianosis perifer terjadi karena aliran
darah perifer menurun karena adanya vasokontriksi pembuluh darah. Kondisi ini
terjadi karena penurunan curah jantung atau peningkatan kebutuhan oksigen
jaringan. Sianosis perifer terlihat pada ekstremitas.
Leher
Arteri karotis
Arteri carotis terdapat pada bagian medial otot sternokleidomastoid. Pemeriksaan
arteri karotis bertujuan untuk mengetahu fungsi aorta dan ventrikel kiri. Lakukan
palpasi arteri karotis dikedua sisi kiri dan kanan, bandingkan kekuatan kiri dan
kanan dan kekuatan arteri perifer. Dengarkan dengan menggunakan bell stetoskop
pada arteri carotis adanya Bunyi “bruit” terjadi karena turbulensi aliran darah yang
sempit atau arterioskelerosis arteri

Tekanan vena jugularis/Jugular venous pressure (JPV)


Pemeriksaan JVP bertujuan untuk mengetahui fungsi ventrikel kanan dan atrium
kanan. Posisi pasien dan pencahayaan pada saat pemeriksaan sangat mempengaruhi
hasil pemeriksaan yang didapatkan. Posisikan pasien dengan kepala tempat tidur
30 hingga 45 derajat. Kaji JVP apakah terlihat bendungan vena juguralis.
Normalnya nilai JVP 3 sampai 4 cm, pada pemeriksaan dengan sudut elevasi leher
30-45 derajat. Peningkatan JVP menandakan adanya bendungan pada vena yang
disebakan oleh kegagalan ventrikel kanan, regurgitasi atau stenosis trikuspid,
hipertensi pulmonal, temponade jantung, perikarditis, hipervolemia, dan obstruksi
vena cava superior.

Gambar: Vena jugularis internal dan eksternal


Sumber: Bickley, L.S., Szilagyi, P.G. (2016). Bates' Guide to Physical Examination and History
Taking. 12 Edition. China: Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins
Tekanan darah
Tekanan darah mengacu pada kekuatan darah terhadap dinding pembuluh darah
arteri. Tekanan darah diukur dalam milimeter air raksa (mm Hg) dan dicatat sebagai
pecahan. Pembilang adalah tekanan sistolik; penyebut adalah tekanan diastolic,
contoh 120/80 mmHgn (120 tekanan sistolik dan 80 tekanan diastolic).
Rangkaian suara yang mendengarkan ketika menilai tekanan darah disebut
Korotkoff Sounds. Tekanan darah dapat dinilai menggunakan beberapa perangkat
seperti stethoscope dan sphygmomanometer. Tekanan darah juga dapat
diperkirakan dengan perangkat USG Doppler, dengan palpasi, dan dengan
perangkat elektronik atau otomatis. Ankle brachial index (ABI) digunakan untuk
mengkaji status vaskular etremitas bawah. Nilai ABI yang diatas (0,80) atau
dibawah (0,50) normal meningkatkan resiko CAD terutama pada wanita.

Variasi tekanan darah berdasarkan umur


Usia Tekanan Darah (mm Hg)

Bayi baru lahir 73/55


1-3 tahun
90/55
6-8 tahun
10 tahun 95/75
Remaja
102/62
Dewasa
102/80
˃ 70 tahun
120/80

120/80

Kategori tingkat tekanan darah pasien dewasa di Indonesia (usia > 18 tahun)
Tekanan darah (mmHg)
Kategori
Sistole Diastol

Normal < 120 < 80


Pre hipertensi 120-130 80-90

Tekanan darah tinggi 140-159 90-99


Tingkat 1 ≥ 160 ≥ 100
Tingkat 2
Peningkatan tekanan darah (>140/90 mmHg) meningkatkan resiko terjadinya CAD
dan gagal jantung. Penurunan tekanan darah (<90/60 mmHg) menyebabkan
inadekuatnya suplai nutrisi ke jaringan. Hal ini akan menyebabkan syok dan
hipotensi. Hipertensi ortostatik terjadi karena penggunaan obat jantung, penurunan
volume darah, bedrest yang lama, perubahan usia.

Pengkajian Perikardium
Inspeksi
Inspeksi area perikardium digunakan untuk melihat ada atau tidaknya impuls
apikal. Perhatikan daerah apex kordis, apakah impuls apikal/iktus kordis terlihat
atau tidak, Pada orang dewasa normal yang agak kurus, seringkali terlihat dengan
mudah pulsasi yang disebut ictus cordis pada ICS V, linea medioclavicularis
kiri.

Palpasi
Palpasi pada pemeriksaan fisik jantung dilakukan menggunakan bantalan jari dan
ujung jari. pemeriksaan dilakukan melalui beberapa jenis pemeriksaan diantaranya
sebagai berikut:

Gambar. Bantalan jari dan ujung jari yang digunakan untuk melakukan palpasi
Sumber: Taylor, C., Lillis, C., & Lynn, P. (2015). Fundamentals of nursing: the art and science of
person-centered nursing care. 8th Edition. China: Wolters Kluwer

Palpasi didaerah perikardium dapat dilakukan mennggunakan bantalan jari pada


daerah interkostal diseluruh landmark jantung. Sensasi dapat dikaji dengan
menggunakan telapak tangan pada seluruh area jantung. Jika pada saat palpasi
terdapat pulsasi berarti mengindikasikan aneurisma pada percabangan aorta
Rasakan dada hangat atau dingin. Palpasi apakah terdapat benjolan/massa pada
dada, dan tanyakan kepada pasien apakah terdapat nyeri tekan/tidak. Lakukan
perabaan diatas iktus kordis (impuls apikal) dengan ujung jari-jari, kemudian ujung
satu jari.

Gambar: palpasi impuls apical


Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th Edition.
China: Wolters Kluwer Health

Pembesaran atau pergeseran organ jantung dhubungkan dengan impuls di apical


berada di lateral midclavicula line (MCL) atau berada di bawah ICS ke lima sebelah
kiri. Adanya peningkatan ukuran, amplitudo dan durasi pada titik impuls maksimal
mengindikasikan volume yang overload pada ventrikel kiri (peningkatan preload)
yang terjadi seperti pada stenosis aorta, dan peningkatan tekanan yang overload
yang terjadi pada regurgitasi aorta dan mitral Jika hanya terjadi peningkatan
amplitudo terjadi pada kondisi hiperkinetik seperti ansietas, hipertiroid dan anemia.
Sedangkan penurunan amplitude berhubungan dengan dilatasi jantung pada
kardiomiopaty.

Peningkatan amplitude dan durasi terjadi dengan tekanan yang overload ventrikel
kanan pada pulmonic stenosis dan hipertensi pulmonal. Thrill (teraba vibrasi pada
lapang pericardium atau pada arteri) kemungkinan adanya stenosis katup yang
parah atau ventricular septal defect

Palpasi pada daerah subxipohoid dengan jari telunjuk dan jari tengah:
Pembesaran pada ventrikel kanan dapat dirasakan dengan menekan kebawah
dengan jari. Penonjolan nadi pada area pulmonal mungkin terjadi pada keadaan
hiperkinetik. Nadi yang mencolok merupakan gambaran adanya peningkatan aliran
darah atau dilatasi arteri pulmonal. Thrill dapat dihubungkan pada keadaan stenosis
aorta atau pulmonal, hipertensi pulmonal, arterial septal defect

Palpasi impuls ventrikel kanan dengan meletakkan ujung jari-jari pada ICS 3,4 dan 5 batas
sternum kiri. Minta klien untuk menahan napas pada waktu ekspirasi sambil mempalpasi
daerah diatas. Palpasi daerah epigastrium dengan ujung jari yang diluruskan untuk
merasakan impuls/pulsasi ventrikel kanan, arah jari ke bahu kanan. Palpasi daerah ICS II
kiri untuk merasakan impuls jantung pada waktu ekspirasi. Palpasi daerah ICS II kanan
untuk meraskan impuls suara jantung dengan tekhnik yang sama

Perkusi
Perkusi untuk menentukan batas jantung. Pada pembesaran jantung akan terdetaksi
dengan perkusi jantung. Lakukan perkusi dari arah lateral ke medial dan
sebaliknya:
1. Batas atas kiri jantung adalah ICS II kiri di linea parastrenalis kiri
2. Batas bawah kiri jantung adalah ICS V kiri agak ke medial linea mid lavikularis
kiri (iktus kordis)
3. Batas atas kanan jantung adalah di ICS II kanan linea parasternalis kanan
4. Batas bawah kanan jantung adalah di sekitar ICS III-IV kanan,di linea
parasternalis kanan

Auskultasi
Auskultasi pada daerah pericardium dapat dimulai dari daerah apeks atau point
maximal impuls (PMI), selanjunya secara sistematis ke area aorta, area pulmonal,
titik Erb, area trikuspid, dan area mitral.
Sumber: Landmark jantung
Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th Edition.
China: Wolters Kluwer Health

Irama jantung
Disaritmia: abnormal HR atau iramanya mungkin iramanya dapat regular atau
irregular. Frekuensinya bisa lambat atau cepat. Irama irregular bisa terjadi pada pola
irama jantung pada setiap menitnya (bigemini), sporadic, atau cepat dan tidak
terkoorganisir (atrial fibrilasi).

Bunyi Jantung Normal


Mulailah melakukan auskultasi pada beberapa tempat yang benar untuk
mendengarkan bunyi jantung normal. Bunyi jantung pertama (‘‘lub’’), disebut
sebagai S1. Area terbaik untuk mendengarkan S1 adalah area apikal (ICS 5 kiri
agak ke medial linea midklavikularis). Merupakan bunyi jantung yang berasal dari
penutupan katup mitral dan trikuspid. Bunyi S1 yang kuat terjadi pada takikardi. Hal
ini menandakan curah jantung yang tinggi (demam, ansietas, olahraga, anemia,
hipertiroidisme), heart block total dan mitral stenosis. Bunyi jantung yang menurun
terjadi pada first degree blok jantung, mitral regugitasi, CHF, CAD, hipertensi
pulmonal dan sistemik. Dapat juga terjadi pada obesitas, emfisema, efusi
pericardial. Mendengar splitting S1. Abnormal splitting S1 terdengar pada RBBB
dan premature ventricular
Bunyi Jantung kedua (‘‘dub’’), disebut sebagai S2. S2 dapat didengarkan didaerah
basal jantung (ICS II kiri dan kanan). Merupakan bunyi jantung yang berasal
dari penutupan katup aorta dan pulmonal. Bunyi S2 terjadi pada HT, olah raga,
gembira, dan hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh mitral stenosis, CHF dan
cor pulmonal. Penurunan bunyi S2 terjadi pada stenosis aorta, shock, stenosis
pulmonal, peningkatan anterior dan posterior dada.

Mendengar splitting S2. Wide splitting S2 dihubungkan dengan lambatnya


pengosangan ventrikel kanan yang dihasilkan oleh terlambatnya penutupan katup
pulmonal (mitral regurgitasi, stenosis pulmonal dan RBBB). Fixed splitting S2
terjadi ketika output ventrikel kanan lebih besar dari ventrikel kiri dan katup
pulmunal terlambat menutup (atral septal defect, gagal ventrikel kanan).
Paradoksial slitting S2 terjadi ketika penutupan katup aorta terlambat (LBBB).
Identifikasi suara tambahan selama sistolik. Suara ejeksi (click) diakibatkan oleh
terbukanya katup seminular yang mengalami deformitas (stenosis aorta dan
pulmonal). Midsistolik “clik” terdengar pada mitral valve prolapse (MVP).

Identifikasi suara tambahan pada saat diastolic. Bunyi keras pembukaan


diakibatkan oleh pembukaan katub mitral yang mengalami stenosis. Suara patologi
S3 (S3 terdengar setelah bunyi S2) atau ventrikuler gallop dihasilkan dari miocardiac
failure dan volume ventrikel yang overload (CHF, regurgitasi mitral dan tricuspid).
Suara S4 (S4 terdengar setelah S1 ) atau atrial gallop dihasilkan dari peningkatan
resisten dari pengisian ventrikel setelah kontraksi atrium (HT, CAD, Stenosis aorta
dan kardio miopati). Kombinasi S3 dan S4 disebut Gallop dan terjadi pada CHF yang
berat. Identifikasi suara tambahan pada sistolik dan diastolic. Prekardial freksion
rub diakibatkan oleh inflamasi dari pericardial seperti pericarditis.

Pengkajian Murmur. Identifikasi murmur. Catat lokasi, waktu, ada pada saat
diastolic atau sistolik dan intensitas). Gunakan skala pengukuran murmur (I: hampir
tidak terdengar, II: terdengar pelan, III: terdengar jelas, IV: keras, V: sangat keras,
VI: sangat keras sekali (terdengar walaupun tanpa stetoskop). Catat nada (low,
medium, high) dan kualitas (kasar, seperti hembusan atau berirama). Catat
pola/bentuk, kresendo, deskresendo dan radiasi atau transmisi (sampai ke aksila
atau leher).

Midsistolik murmur terdengar pada penyakit atau kelainan katup seminular


(stenosis aorta dan pulmunal) dan pada kardiomiopati hipertropik. Pansistolik
(holosistolik murmur) terdengar saat penyakit atrioventrikuler (regurgitasi mitral
dan trikuspidalis, VSD). Late sistolik murmur terdengar pada MVP. Early diastolik
murmur terjadi ketika regurgitasi dimana aliran darah melewati katub seminularis
yang rusak (regurgitasi aorta). Middiastolik dan presistolik murmur seperti pada
mitral stenosis terjadi pada aliran darah yang turbulen melewati katup AV. Murmur
yang terus menerus yang terjadi sepanjang sistolik dan semua atau sebagian
diastolik yang diakibatkan oleh patent ductus arteriosus.
PEMERIKSAAN FISIK THORAKS: JANTUNG

ALAT-ALAT:
1. Stetoskop
2. Spigmomanometer
3. Pena
4. Jam tangan

PROSEDUR
NILAI
HAL-HAL YANG HARUS DINILAI
0 1 2
TAHAP PRE INTERAKSI
1. Cek catatan keperawatan dan catatan medis pasien
2. Siapkan alat-alat
TAHAP ORIENTASI
3. Berikan salam, panggil pasien dengan namanya
4. Jelaskan tujuan, prosedur dan lamanya tindakan
pada pasien / keluarga
5. Berikan kesempatan pasien bertanya sebelum
kegiatan dilakukan
TAHAP KERJA
6. Atur posisi (supine)
7. Dekatkan alat-alat dan bila perlu pasang sampiran
Perawat cuci tangan
8. Kaji keadaan umum pasien sebelum dilakukan
pemeriksaan fisik jantung, maka pemeriksaan
kardiovaskuler biasanya dimulai dengan
pemeriksaan tekanan darah , nadi/denyut jantung
dan pulsasi arteri , tekanan vena jugularis

INSPEKSI
9. Observasi ada tidaknya sianosis atau kemerahan
10. Bentuk dada, warna
− Normal : simetris
− Menonjol : pembesaran jantung, efusi pleura,
tumor
11. Inspeksi adanya distensi pembuluh darah vena
dileher (lihat dengan posisi kepala 45 derajat)
12. Perhatikan daerah apex kordis, apakah iktus kordis
nampak atau tidak, Pada orang dewasa normal yang
agak kurus, seringkali tampak dengan mudah
pulsasi yang disebut ictus cordis pada ICS V, linea
medioclavicularis kiri.
13. Denyutan nadi pada dada
− Apabila di dada bagian atas terdapat denyutan
maka harus curiga adanya kelainan pada aorta
− Aneurisma aorta ascenden dapat menimbulkan
denyutan di ICS II kanan, sedangkan denyutan
dada di ICS II kiri menunjukkan adanya dilatasi
a. pulmonalis dan aneurisma aorta descenden

PALPASI
14. Telapak tangan diletakkan diatas prekordium
15. Rasakan dada hangat atau dingin
16. Palpasi apakah terdapat benjolan/massa pada dada,
dan tanyakan kepada pasien apakah terdapat nyeri
tekan/tidak
17. Lakukan perabaan diatas iktus kordis (denyut
apikal) dengan ujung jari-jari, kemudian ujung satu
jari
18. Palpasi impuls ventrikel kanan dengan meletakkan
ujung jari-jari pada ICS 3,4 dan 5 batas sternum kiri
19. Meminta penderita untuk menahan napas pada
waktu ekspirasi sambil mempalpasi daerah diatas
20. Palpasi daerah epigastrium dengan ujung jari yang
diluruskan untuk merasakan impuls/pulsasi
ventrikel kanan, arah jari ke bahu kanan
21. Palpasi daerah ICS II kiri untuk merasakan impuls
jantung pada waktu ekspirasi
22. Palpasi daerah ICS II kanan untuk meraskan impuls
suara jantung dengan teknik yang sama
23. Palpasi apakah teraba getaran, adanya getaran
seringkali menunjukkan adanya kelainan katup
bawaan atau penyakit jantung kongenital
24. Palpasi trachea, pada aneurisma aorta denyutan
aorta menjalar ke trachea dan denyutan ini dapat
teraba
PERKUSI
25. Lakukan perkusi dari arah lateral ke medial
Normal:
− Atas : ICS II kiri di linea parastrenalis kiri
− Bawah:ICS V kiri agak ke medial linea
midklavikularis kiri (iktus)
26. Perkusi juga dilakukan dari arah lateral ke medial.
Normal :
− Batas bawah kanan jantung adalah di sekitar ICS
III-IV kanan,di linea parasternalis kanan
− Sedangkan batas atasnya di ICS II kanan linea
parasternalis kanan
27. Dari atas (fossa supra clavicula) dapat dilakukan
perkusi ke bawah

AUSKULTASI
28. Mulailah Melakukan auskultasi pada beberapa
tempat yang benar :

29. Daerah apeks / Iktus kordis untuk mendengar


bunyi jantung yang berasal dari katup mitral
30. Daerah ICS II kiri untuk mendengar bunyi jantung
yang berasal dari katup pulmonal
31. Daerah ICS II kanan untuk mendengan bunyi
jantung berasal dari aorta
32. Daerah ICS VI dan V di tepi kanan dan kiri
sternum atau ujung sternum untuk mendengar
bunyi jantung yang berasal dari katup trikuspidal
33. Perhatikan irama dan frekuensi suara jantung
34. Bedakan antara sistolik dan diastolic
35. Usahakan mendapat kesan intensitas suara jantung
36. Perhatikan adanya suara-suara tambahan atau
suara yang pecah
37. Tentukan apakah suara tambahan (bising) sistolik
atau diastolik
38. Tentukan daerah penjalaran bising dan tentukan
titik maksimunnya
39. Merapikan kembali alat-alat
40. Cuci tangan setelah tindakan

TAHAP TERMINASI
41. Akhiri pertemuan dengan cara yang baik
42. Evaluasi hasil kegiatan (subjektif dan objektif)
43. Dokumentasikan: tanggal, jam, dan hasil
pemeriksaan
KETERANGAN
0 = Tidak dilakukan sama sekali
1 = Dilakukan tetapi tidak sempurna
2 = Dilakukan dengan sempurna

NILAI KETERAMPILAN = Jumlah nilai yang didapat X 100%


Jumlah aspek yang dinilai

NILAI AKHIR = ( Nilai responsi X 30% ) + ( Nilai keterampilan X 70% )

Pekanbaru, ……........2020
Penguji