Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

KONTRAK KONSTRUKSI

Diajukan untuk Memenuhi Mata Kuliah


Manajemen Konstruksi
Dosen Pengajar : Aryati Indah K, ST., MT

DISUSUN OLEH :
LATIF ISKANDAR (118130069)

TINGKAT 3A

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GUNUNG JATI
CIREBON
2020
Jalan Pemuda No.32 Telp./Fax. (0231) 246664 Cirebon 45132
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
karunia-Nya saya dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam
makalah ini saya membahas mengenai “KONTRAK KONSTRUKSI”.
Makalah ini berisikan informasi tentang Kontrak Konstruksi beserta penjelasan
nya. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua.
Saya menyadari dalam makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, oleh
karena itu saya mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi penyempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai
segala usaha kita.

Cirebon, November 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i

DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ii

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah......................................................................................... 2

1.3 Tujuan Penulisan .......................................................................................... 2

BAB 2 : PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kontrak Konstruksi ................................................................. 3

2.1.1. Kontrak Konstruksi Dalam Undang-Undang ................................ 3

2.1.2. Prinsip Hukum Kontrak Konstruksi ............................................... 4

2.2. Jenis-Jenis Kontrak Konstruksi ................................................................. 5

2.3. Sengketa/Permasalahan Amandemen Kontrak Konstruksi

Pemborongan................................................................................................ 7

2.4. Pola Penyelesaian Permasalahan Amandemen Kontrak Konstruksi

Pemborongan................................................................................................ 8

BAB 3 : PENUTUP

3.1. Kesimpulan ................................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hasil fisik pembangunan di Indonesia berupa gedung bertingkat, apartemen, pusat
perbelanjaan, jalan raya, bendungan, dan lainlain merupakan hasil kegiatan jasa
konstruksi. Jasa Konstruksi merupakan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan
pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultasi pengawasan pekerjaan konstruksi.
Kegiatan jasa konstruksi merupakan kegiatan yang mempunyai karakteristik tertentu
dan unik, dimana memiliki batas-batasan (constrain) yang harus dipenuhi, yaitu:
1) waktu berkaitan dengan periode pelaksanaan proyek;
2) biaya berhubungan dengan anggaran proyek;
3) mutu berkaitan dengan spesifikasi; serta
4) keselamatan dan kesehatan kerja bagi pekerja dan masyarakat di sekitar proyek.
Disamping itu melibatkan banyak pihak yang memiliki disiplin ilmu yang beragam dan
pekerja yang tanpa keterampilan (non skill) (Andi Asnudin, 2008).
Untuk itu, maka untuk merencanakan, melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan
pembangunan gedung, jalan raya, lapangan terbang, dan lain-lain tersebut diperlukan
suatu bentuk perikatan tertulis antara pengguna jasa dan penyedia jasa yang berbentuk
kontrak, yang dikenal dengan istilah kontrak kerja konstruksi atau perjanjian konstruksi
atau construction agreement atau construction Contract (Nazarkhan Yasin, 2014).
Keberadaan kontrak konstruksi sangatlah penting mengingat pada umumnya
penyedia jasa hampir selalu mempunyai kedudukan lebih lemah dari posisi pengguna
jasa atau pengguna jasa lebih dominan ketimbang pengguna jasa, dimana penyedia jasa
hampir selalu harus memenuhi draft kontrak yang dibuat oleh pengguna jasa karena
pengguna jasa selalu menempatkan dirinya lebih tinggi daripada penyedia jasa. Dengan
demikian, kontrak konstruksi merupakan dokumen yang penting dalam proyek, dimana
segala hal terkait hak dan kewajiban serta alokasi risiko diatur dalam kontrak. Sehingga
kontrak dalam suatu kegiatan jasa konstruksi menjadi dasar dilaksanakannya kegiatan
konstruksi mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan juga pengawasan konstruksi.

1
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah pengertian Kontrak Kostruksi itu sendiri?
2. Bagaimanakah pengertian Kontrak Konstruksi dalam perundang-undangan di
indonesia?
3. Apa sajakah macam dan jenis Kontrak Konstruksi?
4. Permasalahan apa sajakah yang dihadapi dalam Kontrak Konstruksi?

1.3. Tujuan Penulisan


1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Kontrak Konstruksi itu sendiri.
2. Mengetahui makna dari Kontrak Konstruksi dalam perundang-undangan di
indonesia.
3. Memahami macam dan jenis Kontrak Konstruksi.
4. Memahami Permasalahan yang dihadapi dalan Kontrak Konstruksi, dan penyelesaian
masalahnya.

2
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Kontrak Konstruksi
Di dalam konsep jasa konstruksi dikenal adanya kontrak kerja konstruksi yang
merupakan landasan bagi penyelenggaraan jasa konstruksi di Indonesia. Kontrak kerja
ini menjadi fokus dalam mengadakan suatu kegiatan jasa konstruksi, dikarenakan
substansi kontrak yang memuat kepentingan hak dan kewajiban para pihak dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Kontrak juga merupakan dokumen yang
penting dalam proyek.
Kontrak merupakan kesepakatan antara pihak pengguna jasa (owner) dan pihak
penyedia jasa (kontraktor) untuk melakukan transaksi berupa kesanggupan antara pihak
penyedia jasa untuk melakukan sesuatu bagi pihak pengguna jasa, dengan sejumlah
uang sebagai imbalan yang terbentuk dari hasil negosiasi dan perundingan antara kedua
belah pihak. Dalam hal ini kontrak harus memiliki dua aspek utama yaitu saling
menyetujui dan ada penawaran serta penerimaan (Sutadi, 2004). Dengan demikian
kontrak kerja konstruksi yang juga merupakan kontrak bisnis, adalah perjanjian tertulis
antara dua atau lebih pihak yang mempunyai nilai komersial. Kontrak konstruksi di
Indonesia pada umumnya belum sesuai dengan peraturan yang ada. Diharapkan pada
pelatihan Hukum Kontrak Konstruksi ini dapat memberikan pemahaman dan
pengetahuan tentang hukum kontrak yang sesuai dengan aturan yang ada.

2.1.1. Pengertian Kontrak Konstruksi Dalam Undang-Undang


Kontrak Konstruksi yang dalam Pasal 1 ayat (5) UU No. 18 Tahun 1999
disebut sebagai “kontrak kerja konstruksi” adalah keseluruhan dokumen yang
mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam
penyelenggaraan pekerjaan konstruksi. Kontrak kerja konstruksi merupakan
suatu perjanjian untuk membangun suatu bangunan dengan
persyaratanpersaratan tertentu, yang dibuat oleh pihak pertama sebagai pemilik
bangunan, dengan pihak kedua sebagai pelaksana bangunan.
Menurut Prof. Hikmahanto Juwana, kontrak kerja konstruksi adalah juga
kontrak bisnis yang merupakan suatu perjanjian dalam bentuk tertulis dimana
substansi yang disetujui oleh para pihak yang terikat di dalamnya terdapat
tindakan-tindakan yang bermuatan bisnis. Sedangkan yang dimaksud bisnis

3
adalah tindakan yang mempunyai aspek komersial. Dengan demikian kontrak
kerja konstruksi yang juga merupakan kontrak bisnis adalah perjanjian tertulis
antara dua atau lebih pihak yang mempunyai nilai komersial (Hikmahanto
Juwana, 2001) (Budiasanda, http://manajemenproyekindonesia.com). Kontrak
kerja konstruksi pada umumnya merupakan kontrak bersyarat yang meliputi:
a. Syarat validitas, yaitu merupakan syarat berlakunya suatu perikatan
b. Syarat waktu, yaitu merupakan syarat yang membatasi berlakuanya kontrak
tersebut. Hal ini berkaitan dengan sifat proyek yang mempunyai batasan
waktu dalam pengerjaannya.
c. Syarat kelengkapan, yaitu merupakan syarat yang harus dilengkapi oleh satu
atau kedua belah pihak sebagai persyaratan berlakuanya perikatan bersyarat
tersebut, yang antara lain meliputi kelengkapan desain, kelengkapan gambar
dan kelengkapan jaminan (Harry Bagus, http://www.academia.edu.com)
Menurut Pasal 2 UU No. 18 Tahun 1999, azas kontrak yang berlaku dalam
kontrak kerja konstruksi yang digunakan sebagai landasan dalam
penyelenggaraan jasa konstruksi adalah meliputi asas:
1) Adil, yaitu melindungi kepentingan masingmasing pihak secara wajar dan
tidak melindungi salah satu pihak secara wajar dan tidak melindungi salah
satu pihak secara berlebihan sehingga merugikan pihak lain
2) Seimbang, yaitu pembagian risiko antara pengguna jasa dan penyedia jasa
harus seimbang.
3) Setara, yaitu hak dan kewajiban penguna dan penyedia jasa harus setara.
(Harry Bagus, http://www.academia.edu.com).

2.1.2. Prinsip Hukum Kontrak Konstruksi


Dalam kontrak kerja konstruksi berlaku prinsip hukum kontrak
sebagaimana kontrak pada umumnya. Prinsip-prinsip tersebut, antara lain :
a. Prinsip kebebasan berkontrak. Para pihak mempunyai kebebasan dalam
menentukan bentuk dan isi kontrak (klausula kontrak). Prinsip ini
mengandung limitasi, tidak boleh melanggar undang-undang. Meliputi 5
macam kebebasan, yaitu :
1) Kebebasan para pihak menutup atau tidak menutup kontrak;
2) Kebebasan menentukan dengan siapa para pihak akan menutup kontrak;

4
3) Kebebasan para pihak menentukan bentuk kontrak;
4) Kebebasan para pihak menentukan isi kontrak;
5) Kebebasan para pihak menentukan cara penutupan kontrak.
b. Prinsip konsensual (kesepakatan). Kontrak Kerja Konstruksi lahir karena
adanya kesepakatan antara pengguna jasa dengan penyedia jasa (perencana
konstruksi, pelaksana konstruksi dan pengawas konstruksi). Kesepakatan
tersebut terbentuk dalam proses pelelangan (tender).
c. Prinsip itikad baik. Para pihak wajib untuk bertindak secara jujur baik dalam
tahap pembentukan kontrak (tender) maupun dalam tahap pelaksanaan
kontrak.
d. Pacta Sun Servanda. Kontrak Kerja Konstruksi yang dibuat secara sah
berlaku sebagai undang-undang bagi pengguna dan penyedia jasa. Artinya
para pihak wajib untuk mentaati dan memenuhi kewajiban kontraktual
masing-masing. Pelanggaran terhadap Kontrak kerja konstruksi membawa
akibat hukum wanprestasi. Pihak yang merasa dirugikan dapat
mempertahankan haknya melalui gugatan perdata (wanprestasi).
e. Privity of Contract.Kontrak hanya mengikat bagi para pihak yang
membuatnya (Pasal 1340 KUHPerdata). Prinsip ini juga berlaku dalam hal
terjadi subkontrak. (Yogar Simamora, 2015 : 3-4)

2.2. Jenis-Jenis Kontrak Konstruksi


Dalam dunia konstruksi, perjanjian antara pihak owner dengan pihak kontraktor
diikat dalam sebuah kontrak kerja. Pengaturan hukum kontrak kerja proyek konstruksi
diatur oleh pihak-pihak yang terlibat dan sesuai dengan ketentuan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku (KUHP pasal 1601b). Kontrak proyek konstruksi ini
berupa dokumen tertulis dan wajib menjelaskan tentang kesepakatan keselamatan
umum dan tertib bangunan karena sebuah proyek konstruksi merupakan pekerjaan yang
mengandung resiko tinggi.
Jenis-jenis kontrak konstruksi menurut Keppres 80 tahun 2003 adalah :
1. Berdasarkan bentuk imbalan :
 Lump sum
Kontrak Lump Sum Keppres 80/2003 menguraikan bahwa kontrak lump sum
adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan

5
dalam batas waktu tertentu, dengan jumlah harga yang pasti dan tetap, dan
semua resiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan
sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa.
 Harga Satuan (Unit Price)
Kontrak harga satuan adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian
seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu, berdasarkan harga satuan yang
pasti dan tetap untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis
tertentu, yang volume pekerjaannya masih bersifat perkiraan sementara,
sedangkan pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas
volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia
barang/jasa.
 Kontrak Gabungan Lump Sum dan Harga Satuan
Kontrak gabungan lump sum dan harga satuan adalah kontrak yang merupakan
gabungan dari kontrak lump sum dan kontrak harga satuan dalam satu pekerjaan
yang diperjanjikan.
 Kontrak Terima Jadi (Turn Key)
Kontrak terima jadi adalah kontrak pengadaan barang/jasa pemborongan atas
penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga
pasti dan tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi, peralatan dan jaringan
utama maupun penunjangnya dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria
kinerja yang telah ditetapkan.
 Kontrak Persentase
Kontrak persentase adalah kontrak pelaksanaan jasa konsultansi di bidang
konstruksi atau pekerjaan pemborongan tertentu, dimana konsultan yang
bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan persentase tertentu dari nilai
pekerjaan fisik konstruksi/ pemborongan tersebut.
 Kontrak Payung
Kontrak Payung (Framework Contract) digunakan dalam hal pekerjaan yang
akan dilaksanakan secara berulang dengan spesifikasi yang pasti namun volume
dan waktu pesanan belum dapat ditentukan. Kontrak Payung digunakan dalam
Pengadaan Barang/Jasa (PBJ) misalnya pengadaan obat tertentu pada rumah
sakit, jasa boga, jasa layanan perjalanan (travel agent), atau pengadaan material.
Kontrak Payung pada Jasa Konsultansi digunakan untuk mengikat Penyedia Jasa

6
Konsultansi dalam periode waktu tertentu untuk menyediakan jasa, dimana
waktunya belum dapat ditentukan. Penyedia Jasa Konsultansi yang diikat
dengan Kontrak Payung adalah Penyedia Jasa Konsultansi yang telah
memenuhi/lulus persyaratan yang ditetapkan. Kontrak Payung digunakan
misalnya untuk Pengadaan Jasa Konsultansi dalam rangka penasihatan hukum,
penyiapan proyek strategis nasional, dan penyiapan proyek dalam rangka
kerjasama pemerintah dan badan usaha.
2. Berdasarkan jangka waktu dan pelaksanaan
 Tahun tunggal
Kontrak tahun tunggal adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat
dana anggaran untuk masa 1 (satu) tahun banggaran.
 Tahun jamak
Kontrak tahun jamak adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana
anggaran untuk masa lebih dari 1 (satu) tahun anggaran yang dilakukan atas
persetujuan oleh menteri keuangan untuk pengadaan yang dibiayai APBN,
Gubernur untuk pengadaan yang dibiayai APBD Propinsi, Bupati/Walikota
untuk pengadaan yang dibiayai APBD Kabupaten/kota.
3. Berdasarkan jumlah pengguna barang/jasa
 Kontrak pengadaan tunggal
Kontrak pengadaan tunggal adalah kontrak antara satu unit kerja atau satu
proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan
tertentu dalam waktu tertentu.
 Kontrak pengadaan bersama
Kontrak pengadaan bersama adalah kontrak antara beberapa unit kerja atau
beberapa proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan
pekerjaan tertentu sesuai dengan kegiatan bersama yang jelas dari masingmasing
unit kerja dan pendanaan bersama yang dituangkan dalam kesepakatan bersama.

2.3. Sengketa/Permasalahan Amandemen Kontrak Konstruksi Pemborongan


Adapun prosedur atau tahapan didalam kontrak Pemborongan sebagaimana
termuat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 43/PRT/M/2007 Tentang
Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi yaitu memuat urutan hirarki bagian-
bagian dokumen kontrak yang bertujuan apabila terjadi pertentangan ketentuan antara
bagian satu dengan bagian yang lain maka yang berlaku adalah ketentuan berdasarkan
7
urutan yang lebih tinggi dari urutan yang telah di tetapkan. Pada umumnya urutan
hirarki dokumen kontrak adalah sebagai berikut:
a) Surat perjanjian dan amandemen/addendum kontrak
b) Ketentuan khusus kontrak
c) Ketentuan umum kontrak
d) Surat Perintah Kerja
e) Berita Acara Klarifikasi/ Negosiasi
f) Addendum Dokumen Lelang
g) Spesifikasi Teknis
h) Spesifikasi Umum
i) Gambar
j) Berita Acara Rapat Penjelasan Lelang (Aanwijzing)
k) Bill of Quantity / Rincian
l) Anggaran Biaya.
Kontrak pemborongan yang dibuat tidak selalu dapat dilaksanakan sebagaimana
mestinya. Penyebab suatu masalah terjadi biasanya ada pada pihak kedua (penyedia jasa
pemborongan) yaitu :
a. Tidak dilaksanakannya pekerjaaan pemborongan sebagaimana yang jadi kesepakatan
b. Dalam jangka waktu tertentu tidak melanjutkan pekerjaan pemborongan yang telah
dimulainya.
c. Secara langsung atau tidak langsung dengan sengaja memperlambat penyelesaian
pekerjan pemborongan.
d. Memberikan keterangan tidak benar yang merugikan atau dapat merugikan pihak
pertama sehubungan dengan pekerjaan pemborongan.
Oleh karena itulah dalam kontrak pemborongan tersebut perlu dimasukkan
klausul mengenai penyelesaian sengketa apabila salah satu pihak tidak memenuhi
perjanjian atau wanprestasi. Istilah penyelesaian sengketa berasal dari terjemahan
Bahasa Inggris, yaitu dispute resolution. Menurut Richard L. Abel, sengketa (dispute)
adalah “suatu pernyataan publik mengenai tuntutan yang tidak selaras”.

2.4. Pola Penyelesaian Permasalahan Amandemen Kontrak Konstruksi Pemborongan


Pola penyelesaian permasalahan/sengketa adalah suatu bentuk atau kerangka
untuk mengakhiri suatu pertikaian atau sengketa yang terjadi antara para pihak. Pola

8
penyelesaian sengketa dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu melalui pengadilan dan
alternatif penyelesaian sengketa.
a. Penyelesaian melalui jalur Pengadilan
Penyelesaian sengketa melalui pengadilan (litigasi) adalah suatu pola
penyelesaian sengketa yang terjadi antara para pihak yang bersengketa melalui jalur
pengadilan. Untuk mendapat hasil yang bersifat final dan mengikat adakalanya
apabila sengketa dalam kontrak pemborongan penyelesaiannya dilakukan melalui
mekanisme pengadilan perdata.
b. Penyelesaian Sengketa Melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa
Dalam hal ini para pihak menginginkan agar sengketa kontrak pemborongan
dapat diselesaikan dengan waktu yang relatif singkat sehingga akan menghemat
biaya maka pola penyelesaian di luar pengadilan adalah solusi terbaik. Pola
Penyelesaian Sengketa ini dikenal dengan Altematif Penyelesaian Sengketa (ADR).

Alternatif Penyelesaian Sengketa menurut Pasal 1 butir 10 Undang-undang Nomor


30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Altematif Penyelesaian Sengketa, adalah lembaga
penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak,
yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi,
konsiliasi, atau penilaian ahli. Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan
oleh para pihak melalui altematif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad
baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri.
Penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui altematif penyelesaian sengketa
diselesaikan dalam pertemuan langsung oleh para pihak dalam waktu paling lama 14
(empat belas) hari dan hasilnya dituangkan dalam suatu kesepakatan tertulis.
Disamping itu dikenal juga adanya dua pola penyelesaian sengketa yaitu :
a. The binding adjudicative procedure, yaitu suatu prosedur di dalam penyelesaian
sengketa dimana putusan hakim dalam suatu perkara mengikat para pihak. Bentuk
penyelesaian sengketa ini dapat dibagi menjadi empat macam yaitu litigasi,
arbitrase, mediasi-arbitrasi, dan hakim partikelir.
b. The nonbiding adjudicatuve procedure, yaitu suatu proses di dalam penyelesaian
sengketa dimana putusan hakim atau putusan orang yang ditunjuk di dalam
memutuskan perkara tidak mengikat para pihak. Artinya, dengan adanya putusan
itu para pihak dapat menyetujui atau menolak isi putusan tersebut. Penyelesaian

9
sengketa dengan cara ini dibagi menjadi enam macam yaitu konsiliasi, mediasi,
mini-trial, summary Jury Trial, Neutral Expert Fact-Finding, dan Early Neutral
Evaluation.6
Pola penyelesaian di luar pengadilan yang tepat diterapkan pada sengketa kontrak
pemborongan adalah mediasi, arbitrase dan konsiliasi.
a. Mediasi
Steven Rosenberg mengartikan mediasi sebagai metode penyelesaian masalah
yang dilakukan secara sukarela, rahasia, dan biasanya kooperatif, tidak ada unsur
paksaan.7 Jay Folberg mengartikan mediasi sebagai “proses negosiasi yang dibantu
secara netral dalam upaya mencapai konsensus dan penyelesaian sengketa”.
Mediasi adalah metode penyelesaian yang dilakukan dengan sukarela, tanpa
paksaan dengan dibantu mediator yang ditunjuk oleh para pihak namun mediator
tersebut tidak memiliki kekuatan apapun untuk memutus, mediator hanya berfungsi
untuk mencari jalan tengah, jadi keputusan akhir dan eksekusi tetap ada di para
pihak. Adapun tujuan dilakukan mediasi adalah tidak untuk menghakimi salah atau
benar namun lebih memberikan kesempatan
b. Arbitrase
Pengertian arbitrase menurut Pasal 1 butir 1 Undang-undang Nomor 30 tahun
1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah cara
penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada
perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.
Lembaga Arbitrase adalah badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa
untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu; lembaga tersebut juga
dapat memberikan pendapat yang mengikat mengenai suatu hubungan hukum
tertentu dalam hal belum timbul sengketa (Pasal 1 butir 8).
c. Konsiliasi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan pengertian konsiliasi
adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk
mencapai persetujuan dan menyelesaikan perselisihan tersebut. Menurut
Oppenheim, konsiliasi adalah suatu proses penyelesaian sengketa dengan
menyerahkannya kepada suatu komisi orang-orang yang bertugas
menguraikan/menjelaskan fakta-fakta dan (biasanya setelah mendengar para pihak
dan mengupayakan agar mereka mencapai suatu kesepakatan), membuat usulan

10
usulan suatu penyelesaian, namun keputusan tersebut tidak mengikat.8 Adapun inti
dari pernyataan tersebut adalah penyelesaian sengketa kepada sebuah komisi dan
keputusan yang dibuat oleh komisi tersebut tidak mengikat para pihak. Artinya
bahwa para pihak dapat menyetujui atau menolak isi keputusan tersebut.

11
BAB 3
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Keberadaan kontrak konstruksi sangatlah penting mengingat pada umumnya
penyedia jasa hampir selalu mempunyai kedudukan lebih lemah dari posisi pengguna
jasa atau pengguna jasa lebih dominan ketimbang pengguna jasa, dimana penyedia jasa
hampir selalu harus memenuhi draft kontrak yang dibuat oleh pengguna jasa karena
pengguna jasa selalu menempatkan dirinya lebih tinggi daripada penyedia jasa. Dengan
demikian, kontrak konstruksi merupakan dokumen penting dalam proyek, dimana
segala hal terkait hak dan kewajiban serta alokasi risiko diatur dalam kontrak. Sehingga
kontrak dalam suatu kegiatan jasa konstruksi menjadi dasar dilaksanakannya kegiatan
konstruksi mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan juga pengawasan konstruksi.
Kontrak Jasa Kontruksi termasuk perjanjian untuk melakukan pekerjaan sebagaimana
ketentuan Pasal 1601 KUH Perdata. Dalam hal ini Kontrak Kerja Konstruksi mengatur
hubungan kerja konstruksi antara pengguna jasa dan penyedia jasa yang dituangkan
dalam suatu kontrak
Pola penyelesaian sengketa amandemen/addendum kontrak pemborongan tidak
diatur secara khusus dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 Tentang Jasa
Konstruksi maupun dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 43/PRT/M/2007
Tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi, penyelesaian sengketa yang
mungkin terjadi umumnya dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam kontrak awal
sebelum dilakukan amandemen/addendum yaitu melalui musyawarah, Mediasi,
Arbitrase, Konsiliasi ataupun melalui Pengadilan.

12
DAFTAR PUSTAKA
Japar. Sugiarto R. 2018. Prinsip-Prinsip Kontrak Konstruksi Indonesia. Mimbar Yudistitia.
Vol. 2 No. 2. https://e-jurnal.unisda.ac.id Diakses pada 19 november 2020.
Mutmainah. 2018. Analisa Kontrak Kerja Konstruksi Pada Proyek Rehab Bengkel Untuk
Ruangan Widyaiswara, Penyuluh dan Lab Di Dinas Pangan, tanaman Pangan dan
Hortikultura Kalimantan. Jurnal Teknik Sipil. Vol. 1 No. 6.
https://core.ac.uk/reader/296265320 Diakses pada 19 november 2020.
WY Tumembow. 2016. Jurnal Sipil Statik. Vol.4 No.5 (341-348) ISSN: 2337- 6732.pdf.
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jss/issue/archive Diakses pada 19 november
2020.
Anom. Gusti N. 2015. Addendum Kontrak Pemborongan Perspektif Hukum Perjanjian di
Indonesia. Jurnal Advokasi Vol. 5 No. 2.
https://media.neliti.com/media/publications/29393-ID-addendum-kontrak-
pemborongan-perspektif-hukum-perjanjian-di-indonesia.pdf Diakses Pada 19
november 2020.
Slamet. Sri R. 2016. Kesempurnaan Kontrak Kerja Konstruksi Menghindari Sengketa. Lex
Jurnalica.Vol.13No.3.https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Lex/article/view/17
73 Diakses Pada 19 november 2020.

13