Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI II


PEMBUATAN DAN EVALUASI TABLET ASAM MEFENAMAT DENGAN
METODE KEMPA LANGSUNG

Disusun Oleh : Kelompok 1

Siti Khairunnisa Tiarahmi I1C018003


Andra Nurjaya Maulana I1C018005
Katleya Maharani Wiega I1C018007
Lissmy Annisyah Diani I1C018009
Nafadiela Azhari I1C018001

Hari/tanggal praktikum : Rabu/ 23 September 2020


Dosen Pembimbing : Dr. Tuti Sri Suhesti, M.Sc., Apt.
Dhadhang Wahyu K, M.Sc., Apt
Beti Pudyastuti,M.Sc.,Apt.

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2020
A. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat menentukan formulasi tablet metode
kempa langsung. Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan tablet dengan metode kempa
langsung. Mahasiswa mampu melakukan uji evaluasi terhadap tablet dengan metode lempa
kangsung.

B. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah neraca analitik,disintegran tester, flow tester,
hardness tester, jangka sorong, friabilator, moisture balance dan tap density taster.
Sedangkan, bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Asam mefenamat, Micro
Cristalin Cellulose, PVP K 90, Talk dan Mg Stearat.

C. Formula

R/ Asam Mefenamat 500


Micro Cristalin Cellulose 120
PVP K 90 60
Talk 16
Mg Stearat 4
D. Skema Prosedur Pembuatan dan Evaluasi
a. Skema Pembuatan Tablet Kempa Langsung

Alat dan Bahan

 Alat (Mortir, stamper, timbangan


analitik, kertas perkamen, spatula,
ayakan) disiapkan terlebih dahulu.
 Masing-masing bahan ditimbang
menggunakan timbangan analitik.

Penimbangan

 Asam Mefenamat ditimbang dalam


timbangan analitik sebanyak 150
gram.
 Micro Cristalin Cellulose ditimbang
timbangan analitik sebanyak 36
gram.
 PVP K 90 ditimbang timbangan
analitik sebanyak 18 gram.
 Talk ditimbang timbangan analitik
sebanyak 4,8 gram.
 Mg Stearate ditimbang timbangan
analitik sebanyak 1,2 gram.

Pengayakan

 Ditumbuk terlebih dahulu bahan-


bahan yang telah ditimbang.
 Diayak dengan menggunakan
ayakan nomor mesh 16.
 Digerus halus hingga granul-granul
turun dari ayakan
Pencampuran

 Bahan aktif Asam Mefenamat


dicampurkan dengan bahan pengisi
yaitu Micro Cristalin Cellulose
sampai homogen.
 Ditambahkan Talk, Mg stearate,
dan PVP K 90.
 Digerus hingga homogen.

Kompresi Tablet

 Campuran bahan ditabletasi dengan


metode cetak langsung atau kempa
langsung menggunakan mesin
tablet single punch hingga
berbentuk tablet oral
 Diuji sifat fisik tablet.

Hasil

(Ani, 2016).

b. Skema Evaluasi Tablet Kempa Langsung


1. Uji Organoleptis

Tablet

 Dilakukan pengamatan bentuk,


dimensi, warna, dan bau tablet.
Hasil
2. Uji Keseragaman Bobot

Tablet

 Ditimbang 10 tablet satu persatu


pada timbangan analitik.
 Dihitung bobot rata-rata dan
standar deviasinya.
 Dilakukan perhitungan hasil uji
keseragaman bobot sesuai
Farmakope Indonesia edisi V.
 Dilakukan penarikan kesimpulan
sesuai dengan persyaratan.

Hasil
3. Uji Kekerasan Tablet

Tablet
 Diambil satu tablet dan diletakan
pada ujung alat dengan posisi
vertikal.
 Diputar sekrup pada ujung alat
sehingga tablet tertekan.
 Dihentikan pemutaran saat tablet
telah pecah.
 Dilakukan percobaan sebanyak
lima kali.
 Dihitung harga kekerasannya.
 Dilakukan penarikan kesimpulan
sesuai dengan persyaratan.
Hasil
4. Uji Kerapuhan

Tablet
 Diambil 10 tablet lalu dibebas debukan.
 Ditimbang 10 tablet dan dicatat bobotnya
sebagai bobot mula-mula.
 Dimasukkan tablet ke dalam friabilator.
 Dilakukan pengujian selama 4 menit
pada kecepatan 25 rpm.
 Dikeluarkan tablet dari alat dan dibebas
debukan.
 Ditimbang kembali tablet lalu dicatat
sebagai bobot akhir.
 Dihitung persen kerapuhan dengan

Bobot awal−bobot akhir


rumus: x 100%
Bobot awal
 Dilakukan penarikan kesimpulan sesuai
dengan persyaratan.
Hasil

5. Uji Waktu Hancur Tablet

Tablet
 Dimasukkan lima buah tablet ke
dalam tabung disintegration tester.
 Diisi satu tablet pada setiap tabung.
 Dimasukkan ke dalam pengangas air
dengan temperature 37oC.
 Dijalankan alat sampai semua tablet
hancur.
 Dicatat waktunya dari masing- masing
tablet untuk hancur
c. Penyajian Data dan Perhitungan
Perhitungan bahan: Hasil
Akan dibuat formula untuk 300 tablet, sehingga diperlukan bahan:
 Asam Mefenamat = 500 mg x 300 = 150.000 mg = 150 gram
 Micro Cristalin Cellulose = 120 mg x 300 = 36.000 mg = 36 gram
 PVP K 90 = 60 mg x 300 = 18.000 mg = 18 gram
 Talk = 16 mg x 300 = 4.800 mg = 4,8 gram
 Mg Stearate = 4 mg x 300 = 1.200 mg =1,2 gram
Data Pengamatan:
1. Uji Keseragaman Bobot 13/3/2019 pukul 08:15

Tablet ke- Bobot (gram) Bobot (mg) Penyimpangan (%)


No. 1 0,81 gram 810 mg 12,59%
No. 2 0,67 gram 670 mg -5,67%
No. 3 0,79 gram 790 mg 10,37%
No. 4 0,62 gram 620 mg -12,42%
No. 5 0,86 gram 860 mg 17,67%
No. 6 0,68 gram 680 mg -4,11%
No. 7 0,61 gram 610 mg -16,06%
No. 8 0,83 gram 830 mg 14,69%
No. 9 0,61 gram 610 mg -16,06%
No. 10 0,60 gram 600 mg -18%

No. A (5 %) B (10 %)
1 0,7695 0,729
2 0,6365 0,603
3 0,7505 0,711
4 0,589 0,558
5 0,817 0,774
6 0,646 0,612
7 0,5795 0,549
8 0,7885 0,747
9 0,5795 0,549
10 0,570 0,540
2. Uji Waktu Alir

Bobot Serbuk 50 gram


Waktu 7,93

3. Sudut Diam

Diameter 6,9 cm
Tinggi 2,4 cm

Perhitungan:

1. Uji Keseragaman Bobot

Bobot isi tablet – Bobot rata−ratatablet


Penyimpangan = X 100%
Bobot rata−rata tablet

810 – 708
No. 1 = x 100% = 12,59%
810
670 – 708
No. 2 = x 100% = -5,67%
670
790 – 708
No. 3 = x 100% = 10,37%
790
620 – 708
No. 4 = x 100% = -12,42%
620
860 – 708
No. 5 = x 100% = 17,67%
860
680 – 708
No. 6 = x 100% = -4,11%
680
610 – 708
No. 7 = x 100% = -16,06%
610
830 – 708
No. 8 = x 100% = 14,69%
830
610 – 708
No. 9 = x 100% = -16,06%
610
600 – 708
No. 10 = x 100% = -18%
600
2. Uji Waktu Alir

massa 50 gram
Uji waktu alir =
t
= 7,93
= 6,305 gram/detik

3. Sudut Diam

h
Tan a = (h= tinggi kerucut, r = jari jari kerucut)
2

h 2,4
Tan a =  tan a =  34,79°
r 3,45

d. Pembahasan

Tablet adalah sediaat padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung
pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau
lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai
sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang
cocok (Depkes RI, 1979). Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau
tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan tablet dapat digolongkan sebagai tablet
cetak dan tablet kempa (Depkes RI, 1995).
Syarat tablet kecuali dinyatakan lain, tablet harus memenuhi syarat :
1. Kemampuan alir dan sudut istirahat
Sifat aliran serbuk yang baik merupakan hal penting untuk pengisian yang seragam ke dalam
lubang cetak mesin tablet dan untuk memudahkan gerakan bahan di sekitar fasilitas produksi.
Sifat aliran dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk partikel, partikel yang lebih besar dan bulat
menunjukkan aliran yang lebih baik. Metode untuk mengevaluasi sifat aliran granul yang
sering digunakan adalah metode corong (langsung) (Sari, 2010). Kecepatan alir diketahui
melalui metode corong. Metode ini paling sederhana untuk menetapkan kemampuan alir
granul secara langsung, yakni kecepatan alir granul dengan bobot tertentu melalui corong
diukur dalam detik. Suatu penutup sederhana ditempatkan pada lubang keluar corong lalu diisi
dengan granul yang telah ditimbang terlebih dahulu. Ketika penutup dibuka, waktu yang
dibutuhkan granul untuk keluar dicatat. Dengan membagi massa serbuk dengan waktu keluar
tersebut, kecepatan alir diperoleh sehingga dapat digunakan untuk perbandingan kuantitatif
granul yang berbeda. Waktu alir adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah granul untuk
mengalir dalam suatu alat. Sifat alir ini dapat digunakan untuk menilai efektivitas bahan
pelicin, mudah tidaknya granul mengalir dan sifat permukaan granul (Voigt, 1995). Metode
sudut istirahat telah digunakan sebagai metode tidak langsung untuk mengukur mampu alir
granul karena hubungannya dengan kohesi antar partikel. Banyak metode yang berbeda untuk
menetapkan sudut istirahat dan salah satunya yang digunakan adalah metode corong (Sari,
2010).
2. Kerapatan curah dan kerapatan mampat
Tap density atau densitas ketuk adalah densitas yang ditentukan dengan membagi berat
dengan volume setelah dilakukan pengetukan. Pada pengetukan ini proses yang terjadi adalah
pemampatan. Alat tap density tester terdiri dari tiga bagian yaitu holder, mesin pengetuk dan
penghitung ketukan. Holder digunakan untuk menyimpan tabung berukuran. Tabung
berukuran ini biasanya menggunakan gelas ukur, alat ini fungsinya untuk wadah sampel yang
diuji, mesin pengetuk berfungsi untuk mengangkat gelas ukur yang tersimpan dalam holder
kemudian membiarkan jatuh demikian seterusnya hingga sampel terketuk-ketuk, dan
penghitung ketukan akan menghitung jumlah ketukan sesuai dengan angka yang ditentukan.
3. Uji Susut Pengeringan (LOD)
Granul dibuat dengan maksud untuk memperbaiki sifat alir massa serbuk yang akan dibuat
menjadi sediaan tablet, kapsul, puyer, ataupun suspensi kering. Salah satu cairan pembasah
yang dapat digunakan adalah air sehingga setelah melalui proses pengeringan, kadar air granul
harus dievaluasi untuk mengetahui kadar air yang tertinggal di granul. Salah satu metode yang
dapat digunakan untuk mengukur kadar air adalah metode gravimetri dengan cara
membandingkan bobot granul setelah dipanaskan dengan bobot granul sebelum dipanaskan.
Pada saat pemanasan berlangsung, air yang masih tertinggal dalam granul akan menguap
(Lachman dkk, 1989).Salah satu alat yang bisa digunakan untuk mengukur kadar air dengan
prinsip gravimetri adalah moisture analyzer. Dilihat dari katanya ‘moisture analyzer‘ artinya
penganalisa kelembaban. Jadi yang diukur oleh alat ini adalah kandungan lembab yang
terkandung dalam zat uji yang kemudian menguap akibat panas yang dikeluarkan oleh alat ini.
Temperatur moisture balance bisa di set sesuai dengan yang diinginkan. Untuk mengukur
kadar air granul, moisture balance cukup diset pada temperatur 70oC untuk mencegah ikut
menguapnya air kristal yang terkandung dalam bahan yang digunakan dalam pembuatan
granul (Ansel, 1999). Penentuan kadar air dapat ditentukan dengan menggunakan timbangan
dengan cara menentukan nilai bobot akhir dan bobot awal dari granul. Uji kadar air dengan
menggunakan metode LOD (Loss on Drying) yaitu suatu pernyataan kadar kelembaban
berdasarkan bobot basah. Timbangan yang digunakan dalam melakukan uji susut pengeringan
dikenal timbangan Moisture Balance. Timbangan tersebut sangatlah unik karena bisa
mengeluarkan panas. Kegunaan timbangan ini adalah untuk mengetahui seberapa banyak
kadar air yang tersembunyi dalam setiap barang yang diuji (Lachman dkk, 1989).
4. Uji Keseragaman bobot
Timbangan digital sebagai alat ukur untuk satuan berat. Dibandingkan dengan neraca jaman
dulu yang masih menggunakan neraca analog atau manual, neraca digital memiliki fungsi
lebih sebagai alat ukur, diantaranya neraca digital lebih akurat, presisi, akuntable (bisa
menyimpan hasil dari setiap penimbangan). Neraca analitik digital merupakan salah satu
neraca yang memiliki tingkat ketelitian tinggi, neraca ini mampu menimbang zat atau benda
sampai batas 0,0001 g (Robbins, 2011). Neraca atau timbangan baik yang digital ataupun
manual harus diletakkan pada bidang datar, dimana tiap sudut harus benar-benar setimbang.
Kesetimbangan ini mutlak perlu untuk mendapatkan hasil penimbangan yang akurat, jadi
kesetimbangan ini untuk menempatkan titik berat berada pada poros timbangan bukannya
pada salah satu sisi. Kesetimbangan dapat dilihat pada indikator kesetimbangan yang terdapat
pada setiap timbangan. Neraca digital ditunjukkan dengan water pass yang berupa bulatan
besar yang didalamnya terdapat bulatan kecil (Hamdani, 2012).
5. Uji Keseragaman Ukuran
Jangka sorong adalah instrumen presisi yang dapat digunakan untuk mengukur dimensi benda
bagian dalam dan luar. Ditinjau dari cara pembacaannya, jangka sorong dapat dibagi dua yaitu
jangka sorong manual dan digital. Penggunaan jangka sorong manual lebih sulit bila
dibandingkan dengan yang digital, karena hasil pengukuran diinterpretasi dari skala oleh
pengguna, sedangkan hasil pengukuran menggunakan yang digital dapat dibaca langsung pada
layar LCD. Versi manual memilki dua skala imperial (skala dalam inci) dan metrik (skala
dalam milimeter) (Koesdijanto, 2012). Fungsi jangka sorong antara lain mengukur panjang
suatu benda dengan ketelitian sampai 0,1 mm, rahang tetap dan rahang geser atas bisa
digunakan untuk mengukur diameter benda yang cukup kecil seperti cincin, pipa, dll, dan
tangkai ukur di bagian bawah berfungsi untuk mengukur kedalaman seperti kedalaman tabung,
lubang kecil, atau perbedaan tinggi yang kecil. Jangka sorong dapat digunakan untuk
mengukur panjang, diameter luar, diameter dalam, dan kedalaman benda. Bagian-bagian
utamanya adalah rahang tetap yang memiliki skala utama dengan lebar skala terkecil 1 mm
dan rahang geser yang memiliki skala nonius/vernier. Lebar skala nonius masing-masing 0,9
mm. hal ini dimungkinkan karena panjang seluruh skala nonius adalah 9 mm tetapi dibagi
menjadi 10 buah skala. Jadi, selisih satu skala pada rahang tetap dan rahang geser adalah (1-
0,9)mm atau 0,1 mm (Tim Fisika, 2007).
6. Uji Waktu Hancur
Waktu hancur adalah waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di bawah kondisi yang
ditetapkan dan lewatnya seluruh partikel melalui saringan berukuran mesh-10. Uji ini tidak
memberi jaminan bahwa partikel-partikel itu akan melepas bahan obat dalam larutan dengan
kecepatan yang seharusnya (Lachman, dkk., 1994). Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu
hancur dari tablet adalah sifat kimia dan fisis dari granulat, kekerasan dan porositasnya. Tablet
biasanya diformulasi dengan bahan pengembang atau bahan penghancur yang menyebabkan
tablet hancur di dalam air atau cairan lambung. Hancurnya tablet tidak berarti sempurna
larutnya bahan obat dalam tablet. Kebanyakan bahan pelicin bersifat hidrofob, bahan pelicin
yang berlebihan akan memperlambat waktu hancur. Tablet dengan rongga-rongga yang besar
akan mudah dimasuki air sehingga hancur lebih cepat dari pada tablet yang keras dengan
rongga-rongga yang kecil (Soekemi, dkk., 1987).
7. Uji Friabilitas
Kerapuhan merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur ketahanan permukaan
tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan pengiriman. Kerapuhan
diukur dengan friabilator. Prinsipnya adalah menetapkan bobot yang hilang dari sejumlah
tablet selama diputar dalam friabilator selama waktu tertentu. Pada proses pengukuran
kerapuhan, alat diputar dengan kecepatan 25 putaran per menit dan waktu yang digunakan
adalah 4 menit. Jadi ada 100 putaran (Andayana, 2009). Kerapuhan dapat dievaluasi dengan
menggunakan friabilator (contoh nya Rosche friabilator) (Sulaiman, 2007). Tablet yang akan
diuji memiliki berat antara rentang 6 – 6,5 gram, terlebih dahulu dibersihkan dari debunya dan
ditimbang dengan seksama. Tablet tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam friabilator, dan
diputar sebanyak 100 putaran selama 4 menit, jadi kecepatan putarannya 25 putaran per menit.
Setelah selesai, keluarkan tablet dari alat, bersihkan dari debu dan timbang dengan seksama.
Kemudian dihitung persentase kehilangan bobot sebelum dan sesudah perlakuan. Tablet
dianggap baik bila kerapuhan tidak lebih dari 1% (Andayana, 2009). Uji kerapuhan
berhubungan dengan kehilangan bobot akibat abrasi yang terjadi pada permukaan tablet.
Semakin besar harga persentase kerapuhan, maka semakin besar massa tablet yang hilang.
Kerapuhan yang tinggi akan mempengaruhi konsentrasi/kadar zat aktif yang masih terdapat
pada tablet. Tablet dengan konsentrasi zat aktif yang kecil (tablet dengan bobot kecil), adanya
kehilangan massa akibat rapuh akan mempengaruhi kadar zat aktif yang masih terdapat dalam
tablet (Sulaiman, 2007). Hal yang harus diperhatikan dalam pengujian friabilitas adalah jika
dalam proses pengukuran friabilitas ada tablet yang pecah atau terbelah, maka tablet tersebut
tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Jika hasil pengukuran meragukan (bobot yang hilang
terlalu besar), maka pengujian harus diulang sebanyak dua kali. Selanjutnya tentukan nilai
rata-rata dari ketiga uji yang telah dilakukan (Andayana, 2009).
8. Uji Kekerasan
Uji kekerasan tablet dapat didefinisikan sebagai uji kekuatan tablet yang mencerminkan
kekuatan tablet secara keseluruhan, yang diukur dengan memberi tekanan terhadap diameter
tablet. Tablet harus mempunyai kekuatan dan kekerasan tertentu serta dapat bertahan dari
berbagai goncangan mekanik pada saat pembuatan, pengepakan dan transportasi. Alat yang
biasa digunakan adalah Hardness Tester . Kekerasan adalah parameter yang menggambarkan
ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan dan terjadi
keretakan tablet selama pembungkusan, pengangkutan dan pemakaian. Kekerasan ini dipakai
sebagai ukuran dari tekanan pengempaan (Parrott, 1971). Faktor-faktor yang mempengaruhi
kekerasan tablet adalah tekanan kompresi dan sifat bahan yang dikempa. Kekerasan ini
dipakai sebagai ukuran dari tekanan pengempaan. Semakin besar tekanan yang diberikan saat
penabletan akan meningkatkan kekerasan tablet. Pada umumnya tablet yang keras memiliki
waktu hancur yang lama (lebih sukar hancur) dan disolusi yang rendah, namun tidak
selamanya demikian. Pada umumnya tablet yang baik dinyatakan mempunyai kekerasan
antara 4-10 kg. Namun hal ini tidak mutlak, artinya kekerasan tablet dapat lebih kecil dari 4
atau lebih tinggi dari 8 kg. Kekerasan tablet kurang dari 4 kg masih dapat diterima dengan
syarat kerapuhannya tidak melebihi batas yang diterapkan. Tetapi biasanya tablet yang tidak
keras akan memiliki kerapuhan yang tinggi dan lebih sulit penanganannya pada saat
pengemasan, dan transportasi. Kekerasan tablet lebih besar dari 10 kg masih dapat diterima,
jika masih memenuhi persyaratan waktu hancur/disintegrasi dan disolusi yang dipersyaratkan
(Sulaiman, 2007). Prinsip pengukurannya adalah memberikan tekanan pada tablet sampai
tablet retak atau pecah. Komponen-komponen dalam formulasi tablet kempa terdiri atas zat
aktif, bahan pengisi, bahan pengikat, desintegran, dan lubrikan. Selain itu, tablet dapat juga
mengandung bahan pewarna dan lak (bahan warna yang diabsorpsikan pada alumunium
hidroksida yang tidak larut) yang diizinkan, bahan pengaroma, dan bahan pemanis (Syamsuni,
2006).
Bentuk sediaan tablet memiliki beberapa keuntungan yaitu tablet dapat diproduksi dalam
skala besar dengan kecepatan produksi yang sangat tinggi sehingga harganya dapat relatif lebih
murah, memiliki ketepatan dosis dalam tiap tablet atau dalam tiap unit pemakaian, lebih stabil
dan tidak mudah ditumbuhi mikroba karen aberada dalam bentuk kering
dengan kadar air yang rendah, mudah dalm pengemasan (blister atau strip) dan transportasi,
dapat dibawa dengan mudah oleh pasien, bau rasa dan warna yang tidak menyenangkan pada
tablet dapat ditutupi melalui penyalutan tablet, dapat dengan mudah digunakan sendiri oleh
pasien tanpa bantuan tenaga medis, dibandingkan dengan kapsul, tablet lebih tamperproff (sulit
dipalsukan). (Hadisoewignyo L dan Fudholi A, 2013)
Selain keuntungan yang dimiliki oleh sediaan tablet, juga terdapat beberapa kerugian
bentuk sediaan tablet, yaitu bahan aktif dengan dosis besar dan tidak kompresibel sulit dibuat
tablet karena tablet yang dihasilkan akan memiliki bobot atau bentuk tablet yang besar sehingga
tidak berterima, terdapat kendala dalam memformulasikan zat aktif yang sulit terbasahi, tidak
larut, serta disolusi yang kurang baik, mula kerja obat (onset of action) sediaan tablet lebih
lambat dibandingkan dengan sediaan parenteral (injeksi), larutan oral dan kapsul, jumlah zat
aktif dalam bentuk cairan yang dapat dijerat kedalam tablet sangat kecil, kesulitan menelan pada
anak-anak, pasien dengan sakit parah dan pasien usia lanjut. (Hadisoewignyo L dan Fudholi A,
2013)
Kempa langsung merupakan suatu metode pembuatan tablet dengan mengempa langsung
campuran zat aktif dan eksipien kering tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini
digunakan untuk bahan yang memiliki sifat mudah mengalir sebagaimana juga sifat-sifat
kohesifnya yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dalam mesin tablet tanpa
memerlukan granulasi basah atau kering. Zat aktif yang cocok untuk metode kempa langsung
adalah alirannya baik, kompresibilitasnya baik, bentuknya kristal, mampu menciptakan
adhesifitasdan kohesifitas dalam massa tablet (Musfikah, 2012).
Metode kempa langsung adalah metode pembuatan tablet tanpa proses granulais dan
memrlukan bahan tambahan yang sesuai sehingga dapat memungkinkan untuk dikempa secara
langsung. Bahan aktif maupun bahan tambahan (semua komponen tablet) harus memenuhi
persyaratan antara lain: (1) sifat alir yang baik; (2) kompaktibilitas yang baik; (3) kapasitas yang
tinggi, yang menggambarkan kemampuan untuk menahan sifat-sifat kompaksinya ketika
dicampur dengan bahan aktif; (4) memiliki distribusi ukuran partikel yang baik, untuk
menghindari terjadinya segregasi; (5) memiliki densitas ruahan yang tinggi; (6) reprodusibel
dalam produksi baik, untuk meminimumkan keseragaman antar-batch. Komponen-komponen
dalam formulasi tablet kempa terdiri atas zat aktif, bahan pengisi, bahan pengikat, desintegran,
dan lubrikan. Selain itu, tablet dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak (bahan warna
yang diabsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut) yang diizinkan, bahan
pengaroma, dan bahan pemanis (Syamsuni, 2006).
Keuntungan metode kempa langsung yaitu metode yang merupakan tahap produksi tablet
yang paling singkat, keperluan akan alat, ruangan, waktu dan daya manusia lebih sedikit, dapat
meningkatkan disintegrasi zat aktif (waktu hancur tablet menjadi lebih cepat) karena
tablet langsung mengalami distegrasi menjadi tablet, dapat mengeliminasi panas dan lembap,
yang terjadi pada proses pembuatan dengan granulasi basah dan mengeliminasi terjadinya
tekanan tinggi seperti yang terjadi pada proses pembuatan dengan metode granulasi kering.
(Hadisoewignyo L dan Fudholi A, 2013)
Kekurangan metode kempa langsung yaitu harga bahan tambahan yang dibutuhkan cukup
mahal karena membutuhkan eksipien yang memiliki sifat alir, kompresibilitas, serta ikatan
antarpartikel yang baik, bahan aktif dan bahan tambahan harus memiliki ukuran partikel yang
mirip agar tablet yang dihasilkan mempunyai keseragaman kandungan yang baik, kesulitan
untuk mendistribusikan zat aktif yang berdosis tinggi dengan kompresibilitas buruk.
(Hadisoewignyo L dan Fudholi A, 2013)
Studi Bahan dalam Formula
a. Asam Mefenamat
Asam mefenamat atau asam N-2,3-xiliantranilat (C15H15NO2) berbentuk hablur berwarna
putih atau hampir putih yang melebur pada suhu 230°C disertai dengan penguraian. Asam
mefenamat larut dalam larutan alkali hidroksida, agak larut dalam kloroform, sukar larut
dalam etanol dan methanol serta praktis tidak larut dalam air (Depkes RI, 1995). Asam
mefenamat memiliki khasiat sebagai analgetik, antipiretik, dan antiradang. Umumnya
dianggap sebagai zat aktif yang paling aman (Tan & Raharja, 2002).
b. Microcristaline Cellulose
Microcristaline cellulose merupakan serbuk kristalin dengan partikel berpori, berwarna
putih, tidak berbau, dan tidak berasa, serbuk kristal yang terdiri atas partikel-partikel yang
menyerap. Kelarutannya yaitu praktis tidak larut dalam air, larutan asam dan sebagian besar
pelarut organik. Microcristaline cellulose berfungsi sebagai bahan pengisi atau pengikat
pada sediaan tablet dan kapsul, mempunyai kegunaan sebagai lubrikan dan juga disintegran
(Rowe et al., 2009). MCC sering juga disebut dengan avicel, zat ini sering digunakan pada
formulasi tablet dengan metode cetak langsung. MCC memiliki sifat alir dan kompresibilitas
yang baik. Salah satu kerugiannya yaitu harganya yang cukup mahal bila digunakan sebagai
pengisi dengan kadar tinggi, karena itu sering dikombinasi dengan zat lain. Zat ini
merupakan bahan pengisi yang banyak digunakan (Lachman et al., 2008).
c. PVP K 90
PVP memiliki rumus molekul (C6H9NO) dengan berat molekul antara 2500 sampai
3.000.000. Pemeriannya yaitu serbuk berwarna putih krem sampai putih, tidak berbau atau
hamper tidak berbau, bersifat higroskopis. PVP dengan nilai K sama atau lebih rendah dari
30 diproduksi dengan menggunakan spray drying dan berbentuk seperti bola. Sedangkan,
PVP K 90 dan lebih diproduksi dengan menggunakan pengeringan drum drying dan
berbentuk lempeng. PVP dapat disimpan dalam kondisi biasa tanpa mengalami degradasi
atau dekomposisi. Namun, karena bersifat higroskopis, maka harus disimpan dalam wadah
kedap udara di tempat sejuk dan kering. PVP bersifat mudah larut dalam asam, kloroform,
etanol (95%), keton, methanol, dan air. Selain itu, PVP juga stabil terhadap panas. PVP
memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah pengikat tablet, enhancer, dan gen pensuspensi.
PVP digunakan sebagai bahan pengikat pada metode granulasi basah. Penambahan PVP
pada sediaan farmasi dapat berfungsi untuk menstabilkan atau meningkatkan viskositas pada
sediaan topical, suspense, dan larutan oral. Kelarutan bahan yang buruk dapat ditingkatkan
dengan menambahkan PVP (Rowe et al., 2009).
d. Talk
Talk merupakan magnesium silikat hidrat alam, kadang-kadang mengandung sedikit
aluminium silikat. Talk berupa serbuk hablur sangat halus, putih atau putih kelabu, berkilat,
mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran. Tidak larut dalam hamper semua pelarut
(Depkes RI, 1995). Talk memiliki tiga keuntungan antara lain dapat berfungsi sebagai bahan
pengatur aliran, bahan pelicin, dan bahan pemisah hasil cetakan (Voight, 1984). Talk
berfungsi sebagai zat tambahan, pelicin atau antiadheren (Depkes RI, 1979).
e. Mg Stearat
Magnesium stearat merupakan serbuk halus, putih, dan voluminus; baunya lemah khas;
mudah melekat di kulit; dan bebas dari butiran. Magnesium stearat tidak larut dalam air,
etanol, dan eter Magnesium stearat digunakan sebagai bahan pelicin (lubrikan) dalam kapsul
dan tablet (Depkes RI, 2014).

Pembuatan tablet kempa langsung. Langkah pertama yang dilakukan yaitu menyiapkan alat
dan bahan. Alat yang digunakan yaitu mortir, stamper, timbangan analitik, kertas perkamen,
spatula, ayakan. Kemudian, disiapkan bahan yang akan digunakan dan ditimbang. Bahan yang
digunakan yaitu Asam mefenamat merupakan zat aktif yang berfungsi sebagai analgetik,
antipiretik, dan antiradang (Tan & Raharja, 2002). Microcristaline cellulose yang berfungsi
sebagai bahan pengisi atau pengikat pada sediaan tablet dan kapsul, mempunyai kegunaan
sebagai lubrikan dan juga disintegran (Rowe et al., 2009). PVP K 90 yang berfungsi sebagai
PVP memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah pengikat tablet, enhancer, dan gen pensuspensi
(Rowe et al., 2009). Talk berfungsi sebagai sebagai zat tambahan, pelicin atau antiadheren
(Depkes RI, 1979). Magnesium stearat berfungsi sebagai bahan pelicin (lubrikan) dalam kapsul
dan tablet (Depkes RI, 2014). Bahan yang dibutuhkan untuk 300 tablet yaitu Asam mefenamat
ditimbang sebanyak 150 gram, Microcristaline cellulose ditimbang sebanyak 36 gram, PVP K 90
ditimbang sebanyak 18 gram, Talk ditimbang sebanyak 4,8 gram, dan mg stearate ditimbang
sebanyak 1,2 gram. Setelah semua bahan dilakukan penimbangan, langkah selanjutnya yaitu
dilakukan pengayakan. Masing-masing bahan yang telah ditimbang digerus terlebih dahulu,
selanjutnya diayak dengan menggunakan ayakan nomor mesh 16. Pengayakan bertujuan agar
mendapatkan serbuk dengan ukuran seragam serta memperkecil ukuran partikel sehingga akan
mempercepat pengeringan granul (Rowe et al., 2009). Bahan diayak sambil digerus halus hingga
bahan yang berbentuk granul turun dari ayakan. Setelah dilakukan pengayakan, selanjutnya
dilakukan pencampuran bahan. Bahan aktif asam mefenamat dicampurkan dengan bahan pengisi
yaitu microcristaline cellulose dan digerus hingga homogen. Selanjutnya, ditambahkan talk, mg
stearate, dan PVP K 90 dan digerus hingga homogen.
Langkah selanjutnya yaitu kompresi tablet. Campuran bahan tersebut ditabletasi dengan
metode cetak langsung atau kempa langsung dengan menggunakan mesin tablet single punch
hingga berbentuk tablet oral. Prinsip kerja mesin cetak single punch ini sama dengan mesin cetak
yang mempergunakan tangan. Kemampuan mesin ini untuk mencetak tablet dengan diameter
12,7 mm adalah 60-90 tablet per menit, makin besar diameter tablet yang akan dicetak maka
semakin berkurang jumlah tablet yang akan dihasilkan. Hal ini disebabkan untuk mencetak tablet
dengan diameter yang besar membutuhkan tenaga atau tekanan yang lebih besar lagi. Tekanan
ini dapat dipenuhi apabila daya kerja mesin maksimal pada kecepatan rendah. Cara kerja dari
mesin tablet single punch ini yaitu dengan memasukkan campuran serbuk ke dalam ruang
cetakan dan dikempa oleh kedua gerakan punch atas dan bawah. Tablet dihasilkan ketika kedua
punch dicakupkan, begitu punch bagian bawah diturunkan ke bawah, serbuk yang ada pada
corong (hopper) tepat berada diatas rongga cetakan dan mengisi penuh dan rata cetakan tersebut,
kemudian kedua punch dicakupkan. Selanjutnya, cetakan ditarik, menggeser kelebihan serbuk
dari tempatnya dan permukaan serbuk pada cetakan diratakan. Punch bagian atas turun dan
mengempa bahan dalam rongga cetakan membentuk tablet. Punch bagian atas kemudian ditarik
dan punch bagian bawah naik ke atas sampai tepat pada permukaan dari tempatnya, mengangkat
tablet untuk dilemparkan dari tempatnya dengan bantuan sepatu pengisi yang bergerak di atas
ruang cetakan dan mengulang proses tersebut. Tablet yang dilemparkan ditampung dalam wadah
yang sesuai (Ansel, 1989). Setelah semua bahan berbentuk tablet oral, maka akan dilakukan uji
sifat fisik dari tablet tersebut.

Analisis Data

Data Percobaan Tablet Kempa Langsung

Formula :

R/ Asam Mefenamat 500


Micro Cristalin Cellulose 120

PVP K 90 60

Talk 16

Mg stearat 4

Total tablet yang dibuat 300 tablet

Penimbangan :

Asam Mefenamat = 500 mg x 300 = 150.000 mg = 150 gram

Micro Cristalin Cellulose = 120 mg x 300 = 36.000 mg = 36 gram

PVP K 90 = 60 mg x 300 = 18.000 mg = 18 g

Talk = 16 mg x 300 = 4800 mg = 4,8 g

Mg stearat = 4 mg x 300 = 1200 mg = 1,2 g

 Uji Kecepatan Alir


Waktu alir adalah waktu yang dibutuhkan sejumlah granul untuk mengalir dalam suatu alat.
Sifat alir ini dapat dipakai untuk menilai efektivitas bahan pelicin, dimana adanya bahan
pelicin dapat memperbaiki sifat alir suatu granulat. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui apakah granul tersebut memenuhi persyaratan atau tidak sehingga diharapkan
akan menghasilkan granul yang baik (Voigt, 1995). Pada praktikum kali ini didapatkan hasil
waktu alir sebesar 7,93 detik, hal tersebut sudah memenuhi syarat dimana syarat granul yang
baik memiliki waktu alir kurang dari 10 detik untuk 100 gram granul (Wade dan Raul, 1994).
 Uji Sudut Diam
Sudut diam merupakan suatu sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel bentuk kerucut
dengan bidang horizontal jika sejumlah serbuk dituang kedalam alat pengukur. Dimana sudut
diam yang baik, Jika kurang dari 40° (Lachman, 1994). Faktor-faktor yang mempengaruhi
sudut diam suatu granul adalah bentuk ukuran serta kelembaban granul. Sudut diam diukur
dengan rumus :
h
Tan α =
r

Pada praktikum kali ini didapatkan hasil diameter : 6,9 cm dan Tinggi : 2,4 cm. Setelah
dihitung sudut diamnya ternyata didapatkan hasil sebesar 34,79° . Hal ini telah memenuhi
syarat dimana nilai dari sudut diam yang dapat diterima antara 20-40° nilai dari sudut diam
jarang di bawah 20°, dan nilai sampai 40° menunjukkan potensial aliran yang baik serta di
atas 50° serbuk hanya mengalir dengan susah, itupun jika mungkin (Lachman dkk,1989).
 Uji Keseragaman bobot
Uji keseragaman bobot dilakukan untuk melihat keseragaman dosis obat yang masuk kedalam
tubuh sehingga dosis setiap tablet diharapkan sama dan sesuai dengan keamanan terapi dari
sediaan tersebut. Pengujian keseragaman bobot dapat dilakukan dengan menggunakan neraca
analitik.

NO A (5 %) B (10 %)
1 0,7695 0,729
2 0,6365 0,603
3 0,7505 0,711
4 0,589 0,558
5 0,817 0,774
6 0,646 0,612
7 0,5795 0,549
8 0,7885 0,747
9 0,5795 0,549
10 0,570 0,540

Setelah dihitung rata-rata tablet sebesar 0,708 gram. Jika dibandingkan dengan hasil uji
keseragaman bobot, maka tablet tersebut tidak memenuhi syarat, karena syarat yang baik
adalah hasilnya, tidak lebih dari dua tablet yang mempunyai penyimpangan lebih besar dari
kolom A dan tidak boleh ada satu tablet pun yang mempunyai penyimpangan bobot lebih
besar dari kolom B (Lachman dkk ., 1989).
 Uji Disolusi
Uji disolusi merupakan suatu metode fisika yang penting sebagai parameter dalam
pengembangan mutu sediaan obat yang didasarkan pada pengukuran kecepatan pelepasan dan
pelarutan zat aktif dari sediaanya. Uji disolusi digunakan untuk uji bioavailabilitas secara in
vitro, karena hasil uji disolusi berhubungan dengan ketersediaan hayati obat dalam tubuh
(Banakar, 1992). Uji disolusi dilakukan menggunakan dissolutin tester. Alat diatur dengan
suhu 37°C sesuai dengan suhu tubuh, lalu atur alat dengan kecepatan tertentu, dan ambil
sampel sebanyak 5 ml setiap waktu tertentu. Waktu pengambilan sampel dilakukan pada
menit ke 5, 10, 20, 30, sampai 45 menit. Kemudian sampel dibaca absorbansinya
menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang yang sesuai. Kadar zat aktif yang
didapatkan dari praktikum ini yaitu 497 mg, yang artinya sesuai dengan literatur dimana
memenuhi persyaratan disolusi yaitu lebih dari 75% (USP, 2007)
KESIMPULAN

Pada praktikum kali ini kita dapat mengetahui cara pembuatan tablet Asam Mefenamat dengan
metode kempa langsung serta mengetahui evaluasi tablet apa saja yang harus dilakukan. Metode
ini digunakan untuk bahan yang memiliki sifat mudah mengalir sebagaimana juga sifat-sifat
kohesifnya yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dalam mesin tablet tanpa
memerlukan granulasi basah atau kering. Metode ini juga memberikan kekurangan dan
kelebihan. Kelebihannya yaitu metode kempa langsung yaitu metode yang merupakan tahap
produksi tablet yang paling singkat, keperluan akan alat, ruangan, waktu dan daya manusia lebih
sedikit, dapat meningkatkan disintegrasi zat aktif. Sedangkan kekurangannya yaitu metode
kempa langsung yaitu harga bahan tambahan yang dibutuhkan cukup mahal karena
membutuhkan eksipien yang memiliki sifat alir, kompresibilitas, serta ikatan antarpartikel yang
baik. Evaluasi yang dilakukan yaitu uji kecepatan alir,uji sudut diam, uji keseragaman bobot, dan
uji disolusi. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui sekaligus sebagai tolak ukur kelayakkan
suatu tablet untuk dipasarkan.
DAFTAR PUSTAKA

Andayana, N. 2009. Teori Sediaan Tablet. Tersedia di : http://www. Pembuat_tablet.html


[ diakses tanggal 19 April 2013]
Ani, N. (2016). Formulasi Tablet Paracetamol Secara Kempa Langsung Dengan Menggunakan Variasi
Konsentrasi Amilum Ubi Jalar (Ipomea Batatas Lamk.) Sebagai Penghancur. As-Syifaa
Jurnal Farmasi, 8(2), 64-74.
Ansel, Howard, C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI Press.
Ansel, H.C., et.al. 1999. Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System. 7th edition.
Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 96, 175-178
Banakar, U.V. 1992. Pharmaceutical Dissolution Testing. New York : Marcel Dekker Inc.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Hadisoewignyo Lanie dan Fudholi Ahmad. 2013. Sediaan Solida. Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Hamdani, S. 2012. Menyetarakan Neraca. Tersedia di http://catatankimia.com/
catatan/menyetarakan-neraca.html [ diakses tanggal 19 April 2013]
Koesdijanto, D. 2012. Jangka Sorong (Vernier Caliper). Tersedia di:
http://yuliarman.polinpdg.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=36:me
nggunakan-jangka-sorong-vernier-caliper-&catid=13:alat-ukur&Itemid=5 [diakses
tanggal 19 April 2013]
Lachman L., dkk. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi Ketiga. Jakarta: UI Press
Lachman, L. Lieberman, H. A. Kanig. J. L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi III
(Terjemahan) Siti Suyatni. Jakarta : UI Press
Lachman L., Herbert, A. L. & Joseph, L. K. 2008. Teori dan Praktek Industri Farmasi Edisi III.
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Musfikah, A. 2012. Metode Pembuatan Tablet. Tersedia di http://asia-
musfika.com/2012/04/metode-pembuatan-tablet.html [ diakses tanggal 19 April 2013]
Parrot, E. L. 1971. Pharmaceutical Technology Fundamental pharmaceutics Third Edition.
USA: Burges Publishing Company.
Robbins, J. 2011. Pengertian Timbangan Digital. Tersedia di: http://www.ziki.com/fr/johnny-
robbins+585035/post/pengertian-timbangan-digital+13356181 [ diakses tanggal 19 April
2013]
Rowe, C.R., P.J.Sheskey, and S.C.Owen, 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients.
American Pharmaceutical Association, Washington, 132-133, 211-213, 214-216, 396-
398.
Sari, N. P. 2010. Skripsi: Pembuatan dan Karakterisasi Bahan Tablet Vitamin C Menggunakan
Kitosan dan Amylum Manihot sebagai Matriks Melalui Metode Granulasi Basah.
Departemen Kimia Falultas Matematika dan Ilmu Pegetahuan Alam UniversitasSumatera
Utara. Medan
Soekemi, R. A., dkk. 1987. Tablet. Medan: Mayang Kencana.
Sulaiman. 2007. Perbandingan Availabilitas In Vitro Tablet Metronidazol Produk Generik Dan
Produk Dagang. Tersedia di: http://jurnalfarmasi
uiacid/pdf/2005/v02n02/ilma0202pdf [ diakses tanggal 19 April 2013]
Syamsuni, H. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta: EGC
Tan Hoan Tjay, Kirana Rahardja. 2002. Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek
Sampingnya. Jakarta : PT. Gramedia. Tim Fisika. 2007. Fisika. Jakarta: Grasindo
U.S. Pharmacopeia. 2007. The United States Pharmacopeia, USP 30/The National Formulary,
NF 25. Rockville, MD : U.S. Pharmacopeial Convention Inc.
Voigt, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi V. Penerjemah Dr. Soendani Noerono.
Yogyakarta: Fakultas Farmasi UGM Press.

Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Ed. Ke-5. Yogyakarta: UGM Press.

Wade. A & Raul. J.E. 1994. Handbook of Pharmaceutical Exipients, 2nd edition. London :
American Pharmaceutical Association and The Pharmaceutical Press.