Anda di halaman 1dari 80

PEMELIHARAAN INSPEKSI LEVEL 3

LIGHTNING ARRESTER ( LA )

( Instansi Kerja Praktek : PT. PLN ( PERSERO) GARDU


INDUK 150 KV PANDEAN LAMPER )

LAPORAN SEMINAR KERJA PRAKTEK

Oleh:
MUH FARID AJI NUR WAHID
C.411.170069

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEMARANG
SEMARANG
2020

i
ii
iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah

dan petunjuk-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kerja praktek

ini, yang berjudul “PEMELIHARAAN INSPEKSI LEVEL 3 LIGHTNING

ARRESTER ( LA ) BAY TAMBAK LOROK II DI GARDU INDUK 150 KV

PANDEAN LAMPER PT. PLN ( PERSERO ) SEMARANG. Kerja praktek

merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh mahasiswa selain perkuliahan,

praktikum dan tugas akhir sebagai syarat untuk menyelesaikan studi di

Departemen Teknik Elektro Universitas Semarang. Hal ini dianggap penting

dalam rangka pengembangan pengetahuan mahasiswa dan memepersiapkan

mahasiswa sebelum terjun ke dunia profesinya.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari

sempurna dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis, pengetahuan, waktu,

serta banyak keterbatasan lainnya, baik itu dari segi isi, susunan maupun

kelengkapan.

Laporan kerja praktek ini kami susun berdasarkan pengamatan dan

pengambilan data dilapangan, studi literatur dan interview dengan Jargi Gardu

Induk Pandean Lamper. Banyak ilmu baru yang diterima oleh penulis dari

kegiatan praktek kerja lapangan ini, sehingga penulis ingin menyampaikan

banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan pengarahan,

motivasi,bimbingan serta doa dan dukungan khususnya kepada:

1. Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat-Nya.

iv
2. Orang tua dan keluarga tercinta yang selalu memberikan doa, motivasi dan

dukungannya kepada penulis.

3. Bapak Purwanto, S.T, MT. Dekan Fakultas Teknik Universitas Semarang

yang telah mengizinkan penulis untuk melaksanakan Praktek Kerja

Lapangan.

4. Ibu Titik Nurhayati, S.T., M.Eng. selaku Ketua Program Studi S1 Teknik

Elektro Universitas Semarang.

5. Bapak Satria Pinandita, S.T., M.Eng. selaku Dosen Pembimbing yang

telah membimbing penulis dengan penuh dedikasi yang tinggi.

6. Ibu Harmini, S.T., M.Eng. selaku Kordinator Kerja Praktek Program Studi

S1 Teknik Elektro Universitas Semarang.

7. Ibu Roni Kartika P., S.T., M.Eng. selaku Wali Dosen Program Studi S1

Teknik Elektro Universitas Semarang.

8. Bapak dan Ibu Dosen Teknik Elektro Universitas Semarang yang telah

memberi bekal ilmu kepada penulis selama menempuh studi.

9. Bapak Lutfa Aziza selaku supervisor di PT. PLN (Persero) Gardu Induk

150 KV Pandean Lamper.

10. Mas Singgih Suntoro, Mas Lulu Cahyo, dan Mas Dias Muhammad selaku

pembimbing lapangan dan juga sebagai Jargi di Gardu Induk 150 KV

Pandean Lamper.

11. Seluruh Staff dan karyawan PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV

Pandean Lamper yang telah banyak membantu penulis dalam

melaksanakan praktek kerja lapangan dan menyusun laporan.

v
12. Saudara Mukhamat Ifan dan Andi Dwi Suprayogo selaku rekan Praktik

Kerja Lapangan selama satu bulan di PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150

KV Pandean Lamper.

13. Teman - teman S1 Teknik Elektro Universitas Semarang angkatan 2017

yang selalu memberikan semangat, doa dan dukungan selama pelaksanaan

Praktik Kerja Lapangan di PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV

Pandean Lamper.

Untuk semua bimbingan dan arahan yang telah diberikan, penulis

mengucapkan terima kasih. Semoga kebaikan Bapak/Ibu sekalian mendapatkan

balasan yang berlipat dari Allah SWT. Dengan segala kerendahan hati kami

menyadari bahwa penulisan Laporan Praktek Kerja Lapangan ini jauh dari kata

sempurna. Akhir kata penulis berharap, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi

rekan-rekan mahasiswa-mahasiswi dan pembaca sekaligus demi menambah

pengetahuan tentang Praktek Kerja Lapangan .

Semarang, 30 September 2020

Penulis

Muh Farid Aji Nur Wahid

vi
ABSTRAK

Penyaluran energi listrik pada jaringan transmisi dan distribusi tidak lepas

dari adanya gangguan yang dapat mengganggu proses penyaluran energi listrik,

baik itu gangguan dari dalam atau gangguan dari luar. Diperlukan alat-alat

proteksi untuk memproteksiny, salah satu gangguan dari luar yang menyebabkan

kegagalan pada peralatan di jaringan transimisi yaitu sambaran petir.

Sistem proteksi memegang peranan penting dalam kelangsungan dan

keamanan pada gardu induk dalam menyuplai energy. Sistem proteksi berfungsi

untuk melindungi sistem tenaga listrik dan peralatan pada gardu dari bermacam

macam gangguan yang mungkin terjadi Lightning arrester merupakan salah satu

peralatan dalam sistem proteksi untuk melindungi dari gangguan tegangan lebih

yang berasal dari tegangan lebih. Sesuai dengan cara kerjanya arrester merupakan

alat pelindung yang paling sempurna dalam mengatasi tegangan lebih surja petir

maupun surja hubung, karena mampu manghilangkan arus susulan dengan cepat

dan mampu melepaskan tegangan lebih ke tanah tanpa menyebabkan hubung

singkat ke tanah. Melakukan perlindungan biasanya arrester diletakan sedekat

mungkin dengan terminal transformator, karena peralatan ini paling penting dan

mahal diantara peralatan lainnya pada gardu induk.

Kata kunci : Lightning Arrester, Pemeliharaan, Gardu Induk

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................i


HALAMAN PENGESAHAN UNIVERSITAS ..................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN PERUSAHAAN .................................................... iii
KATA PENGANTAR............................................................................................ iv
ABSTRAK ............................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xiii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah .................................................................................. 3
1.3 Tujuan Penulisan Laporan......................................................................... 3
1.4 Pembatasan Masalah ................................................................................. 4
1.5 Tujuan dan Manfaat Praktek Kerja Lapangan .......................................... 4
1.5.1. Tujuan Praktek kerja Lapangan ......................................................... 4
1.5.2. Manfaat Praktek Kerja Lapangan ...................................................... 6
1.6 Metode Pengambilan Data ........................................................................ 6
1.7 Sistematika Penyusunan Laporan ............................................................. 8
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN PT. PLN ( PERSERO ) GARDU
INDUK 150 KV PANDEAN LAMPER ............................................................... 10
2.1 Makna dan Bentuk Logo PT. PLN ( Persero ) ........................................ 10
2.1.1. Makna Dalam Segi Bentuk PT. PLN ( Persero )............................. 10
2.1.2. Makna Dalam Segi Warna PT. PLN ( Persero ).............................. 11
2.2 Visi, Misi, Motto dan Tujuan PT. PLN ( Persero ) ................................. 12
2.2.1. Visi .................................................................................................. 12
2.2.2. Misi ................................................................................................. 12
2.2.3. Motto ............................................................................................... 13
2.2.4. Tujuan Perseroan ............................................................................. 13

viii
2.3 Sejarah PT. PLN ( Persero ) Gardu Induk APP Semarang ..................... 13

2.3.1. Lokasi PT. PLN ( Persero ) Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper
..................................................................................................... 13
2.3.2. Struktur Organisasi PT. PLN ( Persero ) Gardu Induk 150 KV
Pandean Lamper .............................................................................. 18
2.3.3. Tugas Pokok PT. PLN ( Persero ) Gardu Induk 150 KV Pandean
Lamper ............................................................................................ 18
2.4 Keselamatan Kerja .................................................................................. 19
BAB III DASAR TEORI ...................................................................................... 21
3.1 Pengertian Gardu Induk .......................................................................... 21
3.2 Peralatan Umum Pada Gardu Induk !50 KV Pandean Lamper ............... 24
3.2.1. Lightning Arrester ( LA ) ................................................................ 24
3.2.2. Trafo Tegangan atau Potensial Trafo ( PT ) .................................... 25
3.2.3. Trafo Arus ( CT ) ............................................................................ 26
3.2.4. Pemutus Tenaga ( PMT ) ................................................................ 26
3.2.5. Saklar Pemisah ( PMS ) .................................................................. 30
3.2.6. Busbar atau Rel ............................................................................... 31
3.2.7. Transformator Daya ( Trafo Tenaga ) ............................................. 32
3.2.8. Wave Trap ....................................................................................... 34
3.2.9. Kopling Kapasitor ........................................................................... 34
3.2.10. Kubikel 20 KV .................................................................................... 35
3.2.11. Panel Control Utama ....................................................................... 36
3.2.12. Peralatan SCADA dan Telekomunikasi .......................................... 37
3.2.13. Baterai dan Recifier ......................................................................... 38
BAB IV PEMELIHARAAN INSPEKSI LEVEL 3 LIGHTNING ARRESTER
BAY TAMBAK LOROK I DAN II ...................................................................... 40
4.1 Teori Lightning Arrester ......................................................................... 40
4.1.1. Teknologi Lightning Arrester.......................................................... 41
4.1.2. Klasifikasi Lightning arrester .......................................................... 42
4.1.3. Konstruksi Lightning arrester.......................................................... 43
4.1.4. FMEA (Failure Mode Effect Analysis) Lightning Arrester ............ 48

ix
4.2 Pemeliharaan Inspeksi Level 3 Lightning Arrester ................................. 49
4.3 Pentingnya Pemeliharaan Lightning Arrester di Gardu Induk 150 KV
Pandean lamper ....................................................................................... 50
4.4 Tujuan Kegiatan Pemeliharaan Lightning arrester di Gardu Induk 150 kv
Pandean Lamper ...................................................................................... 50
4.5 Pra-pelaksanaan Pemeliharaan Inspeksi Level 3 Gardu Induk 150 KV
Pandean Lamper ...................................................................................... 51
4.5.1. Persiapan alat Perlindungan Diri ( APD ) ....................................... 51
4.5.2. Persiapan Personil ........................................................................... 51
4.5.3. Persiapan Alat Pendukung .............................................................. 52
4.6 Pelaksanaan Inspeksi Level 3 Lightning Arrester Gardu Induk 150 KV
Pandean Lamper ...................................................................................... 52
4.6.1. Pengukuran Tahanan Insulasi / Magger Test LA ........................... 53
4.6.2. Pengukuran Nilai Pentanahan LA ................................................... 54
4.6.3. Pengukuran Counter LA ................................................................. 55
4.7 Data Hasil Pemeliharaan Inspeksi Level 3 Lightning Arrester Gardu
Induk 150 KV Pandean Lamper .............................................................. 57
4.8 Evaluasi dan Rekomendasi Inspeksi Level 3 Lightning Arrester ........... 58
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 60
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 60
5.2 Saran ....................................................................................................... 61
5.2.1. Saran yang terkait Laporan ............................................................. 61
5.2.2. Saran untuk PT. PLN ( Persero ) GI 150 KV Pandean Lamper ...... 61
5.2.3. Saran untuk Universitas Semarang ................................................. 62
DAFTRAR PUSTAKA ......................................................................................... 63
LAMPIRAN .......................................................................................................... 65

x
DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Struktur Organisasi GI Pandean Lamper.............................................. 18


Tabel 2. 2 Tester Tegangan Tinggi ....................................................................... 20
Tabel 4. 1 Inspeksi Level 3 LA ............................................................................. 53
Tabel 4. 2 Evaluasi dan Rekomendasi Pengujian Nilai Tahanan Insulasi ............. 58
Tabel 4. 3 Evaluasi dan rekomendasi Pengujian Nilai Pentanahan ....................... 59
Tabel 4. 4 Evaluasi dan Rekomendasi Pengujian Counter LA ............................. 59

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Logo PT. PLN (Persero) ................................................................... 10


Gambar 2. 2 Peta Jaringan APP Semarang dan Jateng DIY ................................. 15
Gambar 2. 3 Peta Lokasi PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV Pandean
Lamper ............................................................................................. 17
Gambar 2. 4 Lokasi PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper . 17
Gambar 3. 1 Lightning Arrester Bay Trafo ........................................................... 24
Gambar 3. 2 Potensial Trafo Bay Simpang Lima.................................................. 25
Gambar 3. 3 Trafo Arus ( CT ) Bay Simpang Lima ................................................ 26
Gambar 3. 4 PMT Single Pole Bay Tambak Lorok .............................................. 27
Gambar 3. 5 PMT Three Pole Bay Simpang Lima.................................................. 27
Gambar 3. 6 PMS Bay Pudak Payung ................................................................... 30
Gambar 3. 7 BUSBAR 1 dan 2 GI Pandean Lamper ............................................ 31
Gambar 3. 8 Trafo 3 GI Pandean Lamper ............................................................. 32
Gambar 3. 9 Wave Trap Bay Tambak Lorok ....................................................... 34
Gambar 3. 10 Kopling Kapasitor Bay Tambak Lorok .......................................... 34
Gambar 3. 11 Kubikel 20 KV GI Pandean Lamper .............................................. 35
Gambar 3. 12 Control Panel GI Pandean Lamper ................................................. 37
Gambar 3. 13 Peralatan SCADA GI Pandean Lamper ......................................... 37
Gambar 3. 14 Ruang Baterai GI Pandean Lamper ................................................ 39
Gambar 4. 1 Klasifikasi Lightning arrester ........................................................... 43
Gambar 4. 2 Konstruksi Lightning Arrester.......................................................... 43
Gambar 4. 3 Keping Blok Zinc Oxide (ZnO)........................................................ 44
Gambar 4. 4 Konstruksi Housing LA.................................................................... 45
Gambar 4. 5 Sealing dan Pressure Relief Systems LA ......................................... 46
Gambar 4. 6 Grading Ring LA .............................................................................. 47
Gambar 4. 7 Counter serta Meter Arus Bocor Total Pada LA dan Insulator
Dudukan LA..................................................................................... 47
Gambar 4. 8 Struktur Penyangga Lightning Arrester ........................................... 48
Gambar 4. 9 Alat pendukung pada pemeliharaan lightning arrester ..................... 52
Gambar 4. 10 Pengujian Nilai Insulasi / Magger Test .......................................... 54
Gambar 4. 11 Pengujian Counter LA .................................................................... 56
Gambar 4. 12 Data Hasil Pengujian ...................................................................... 57

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data Hasil Pengukuran Inspeksi Level 3 ........................................... 65


Lampiran 2 Kegiatan Praktek Kerja Lapangan ..................................................... 66
Lampiran 3 Dokumentasi Praktek Kerja Lapangan .............................................. 67

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sektor industri di Indonesia ini mengalami perkembangan yang

cukup pesat. Hal ini ditandai dengan banyaknya perusahaan dan industri

manufaktur dalam satu dekade terakhir. Kenyataannya ini menjadikan

institusi pendidikan (dalam hal ini perguruan tinggi) yang merupakan tempat

untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, berkepribadian

mandiri, dan memiliki kemampuan intelektual yang baik, merasa terpanggil

untuk semakin meningkatkan mutu sarjananya. Perkembangan dunia kerja

yang semakin kompleks disertai dengan era globalisasi menjadikan

persaingan semakin ketat dalam segala sektor. Hal ini menjadikan tuntutan

yang tidak dapat dielakkan lagi. Untuk menghadapi perkembangan ini

kreatif dan mandiri harus ditumbuhkan (Pasisarha, 2012).

Dalam perkembangannya dan kemajuan teknologi yang semakin

berkembang pesat, energi listrik memegang peranan yang sangat penting

dalam menopang pembangunan dan kemajuan tersebut. Melihat hal tersebut,

penyediaan energi listrik diharuskan mampu memenuhi kebutuhan yang

diperlukan konsumen secara kontinyu dan dengan kualitas yang baik. Maka

dengan terpenuhinya kebutuhan energi listrik konsumen dengan jumlah

yang dibutuhkan dan kualitas baik akan terwujud kemakmuran untuk

manusia dan teknologi tetap terus berkembang (Adipramadan, 2012).

1
Di masa sekarang kebutuhan energi listrik semakin meningkat

sejalan dengan berkembangnya teknologi. Perkembangan yang pesat ini

harus diikuti dengan perbaikan mutu energi listrik yang dihasilkan,

yaitu harus memiliki kualitas dan kehandalan yang tinggi. Akan tetapi

pada kenyataanya terdapat beberapa gangguan yang terjadi dalam sistem

tenaga listrik (A. Sintianingrum, 2016).

Secara umum sistem energi listrik dapat dibagi menjadi pembangkit,

transmisi dan penyaluran atau distribusi untuk memenuhi kebutuhan

konsumen secara cepat dan terpenuhinya kebutuhan energi listrik maka

kelangsungan penyaluran dari pembangkit ke distribusi yang akan

disalurkan ke konsumen harus adanya kerja sama yang baik dan komunikasi

yang lancar (Julius Santosa, 2013).

Lightning arrester pada suatu gardu induk memiliki peran yang

sangat penting dalam kelancaran operasi gardu induk itu sendiri dalam

melayani kebutuhan listrik kepada konsumen. lightning Arrester (LA)

merupakan peralatan yang berfungsi untuk melindungi peralatan listrik lain

di Gardu Induk dari tegangan surja (baik surja hubung maupun surja petir).

lightning arrester ini dipasang untuk memotong tegangan surja dengan cara

mengalirkan arus surja ke tanah dalam orde sangat singkat / miliseconds.

(Tatang Rusdjaja, 2010)

Sesuai dengan cara kerja Ligthning Arrester pada saat kondisi

kerja yang normal, Lightning Arrester berlaku sebagai isolasi tetapi bila

timbul surja akibat adanya petir dan hubung singkat maka Arrester

akan berlaku sebagai konduktor yang berfungsi melewatkan aliran arus

2
yang tinggi ketanah. Setelah tegangan surja itu hilang maka Arrester

harus dengan cepat kembali berlaku sebagai isolator (Tatang Rusdjaja,

2010).

1.2 Perumusan Masalah

Masalah yang akan dibahas pada Penelitian Praktek Kerja

Lapangan ini yaitu:

1. Apa prinsip kerja lightning arrester yang digunakan pada

Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper?

2. Jelaskan bagian-bagian dari lightning arrester beserta

fungsinya?

3. Bagaimana cara pemeliharaan inspeksi level 3 lightning

arrester pada Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper?

1.3 Tujuan Penulisan Laporan

Pemeliharaan inspeksi level 3 lightning arrester (LA) di PT.PLN

Persero Gardu Induk Pandean Lamper bertujuan untuk:

1. Mengetahui prinsip kerja lightning arreter (LA) sebagai

pengaman peralatan yang ada di Gardu Induk Pandean Lamper.

2. Mengetahui konstruksi yang terdapat di dalam maupun luar dari

lightning arrester beserta fungsi-fungsinya.

3. Mengetahui cara pemeliharaan lightning arrester (LA) berupa

pembersihan, pengujian dan tindakan apa yang harus dilakukan

terhadap LA sesuai hasil pengujian yang sudah dilakukan.

3
1.4 Pembatasan Masalah

Laporan Kerja Praktek ini membahas mengenai lightning arrester (LA)

yang akan dijelaskan lebih dalam tentang bagian-bagian lightning arrester

beserta fungsinya, prinsp kerja LA, klasifikasi LA dan pemeliharaannya pada

gardu induk 150 KV Pandean Lamper.

1.5 Waktu dan Lokasi Praktek Kerja Lapangan

Praktek Kerja Lapangan dilaksanakan pada :

Waktu : Senin, 03 Agustus 2020 – Senin, 31 Agustus 2020 pada

pukul 07.30 WIB – 16.00 WIB.

Tempat : PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper

Alamat : Jl. Unta Raya, Pandean Lamper, Kecamatan Gayamsari,

Kota Semarang, Jawa Tengah 50249

1.6 Tujuan dan Manfaat Praktek Kerja Lapangan

1.6.1. Tujuan Praktek kerja Lapangan

Dengan adanya kegiatan di luar kampus dalam rangka praktek

kerja lapangan di Perusahaan kegiatan Kerja Praktek (KP) ini

diharapkan dapat mencapai tujuan :

1. Menjalin hubungan dan kerja sama yang erat baik antara USM

dengan pihak industri atau perusahaan yang bersangkutan dan

hubungan antar mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi yang

berlainan.

4
2. Menjadi media pembelajaran bagi mahasiswa Teknik Elektro untuk

mengetahui fakta dan aplikasi teknik elektro di dunia industri yang

sinergis dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang

didapatkan di bangku kuliah.

3. Memperoleh informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan

dibidang elektro industri terutama dalam penerapannya dalam

dunia industri.

4. Mempersiapkan mahasiswa Teknik Elektro Industri sebagai lulusan

yang mampu menghadapi pasar bebas dan globalisasi dengan

membentuk kepercayaan diri dalam proses penyesuaian dilingkup

kerjanya.

5. Syarat kelulusan mata kuliah praktek kerja lapangan di Program

Studi Teknik Elektro S – 1 Universitas Semarang.

6. Melatih mahasiswa dalam hal disiplin dan tanggung jawab.

7. Memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengaplikasikan

ilmu yang diperoleh serta mengadakan perbandingan antara teori

yang pernah diterima dalam dunia pendidikan dengan keadaan

sebenarnya.

8. Memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai situasi kerja

yang sebenarnya, sehingga mereka nantinya akan lebih mudah

menyesuaikan diri di dunia kerja.

9. Melatih mahasiswa untuk berdisiplin dengan mengikuti segala

peraturan yang ada di perusahaan.

10. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan perkuliahan di S1

Teknik Elektro Univeristas Semarang.

5
1.6.2. Manfaat Praktek Kerja Lapangan

Manfaat yang hendak dicapai dalam pelaksanaan praktek kerja

lapangan adalah :

1. Membentuk kepribadian professional pada dunia kerja serta

memantapkan pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan

ilmu yang didapatkan selama perkuliahan.

2. Mahasiswa memperoleh pengalaman kerja sehingga mampu

menjadi tenaga kerja yang professional.

3. Mahasiswa memperoleh pendidikan mengenai etika kerja, disiplin

kerja keras, profesionalitas dan etos kerja secara langsung.

4. Mahasiswa dapat pemahaman mengenai gambaran umum tentang

sistem di PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV Pandean

Lamper.

5. Mahasiswa dapat membandingkan teori-teori yang diperoleh di

bangku perkuliahan dengan keadaan sebenarnya di lapangan.

1.7 Metode Pengambilan Data

Metode yang digunakan untuk pengambilan data dan pembuatan

laporan praktek kerja lapangan di PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV

Pandean Lamper adalah sebagai berikut :

1. Metode interview

Metode ini dilakukan dengan melakukan wawancara langsung

pada pihak yang bersangkutan untuk mendapatkan data dan

pemahaman mengenai sistem yang dibahas secara tepat dan benar.

6
2. Metode Observasi

Metode ini dilakukan melalui pengamatan dan penelitian

secara langsung melalui kegiatan – kegiatan dan pekerjaan yang

dilakukan pada pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan di PT. PLN

(Persero) Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper.

3. Metode Studi Literature

Metode ini dilakukan dengan cara membaca, mengamati,

memahami dan mengevaluasi dari sumber tertulis dan media internet,

sehingga diperoleh informasi yang membantu proses penyusunan

laporan ini.

4. Metode Angket (Kuesioner)

Metode ini dilakukan dengan cara memberi beberapa pertanyaan

atau pernyataan tertulis kepada teknisi untuk dijawab. Metode ini lebih

efisien bila peneliti mengetahui dengan pasti variable yang akan diukur

dan tahu apa yang diharapkan dari teknisi lapangan.

5. Metode Studi Dokumen

Metode ini tidak ditujukan langsung kepada subjek penelitian.

Tetapi untuk meneliti berbagai macam dokumen untuk bahan analisis.

6. Konsultasi

Metode dengan berdiskusi dengan pembimbing dan tenaga ahli

yang berada di PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV Pandean

Lamper.

7. Metode Bimbingan

Metode ini dilakukan untuk memperoleh pengarahan dan

bimbingan dari pembimbing lapangan dalam penulisan sistematika

7
Laporan Praktek Kerja Lapangan dan penambahan lainnya sebagai

pendukung penyelesaian penulisan Laporan Praktek Kerja Lapangan.

1.8 Sistematika Penyusunan Laporan

Laporan kerja praktek ini disusun dalam beberapa bab dan subbab

kemudian dibagi menjadi 4 bab utama diantaranya:

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan Latar Belakang Masalah,

Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan Laporan, Waktu

dan Lokasi Praktek Kerja Lapangan, Tujuan Kerja

Praktek, Metode Pengambilan Data, serta Sistematika

Penulisan.

BAB II : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Pada bab ini diuraikan sejarah berdirinya

perusahaan, Visi Misi Motto Perusahaan, Makna dan

Bentuk Logo Perusahaan, Nilai Perusahaan, Bisnis

Utama Perusahaan, Gambaran Umum Perusahaan,

Kapasitas Daya Perusahaan, Lokasi Perusahaan dan

struktur organisasi perusahaan.

BAB III : DASAR TEORI

Bab ini berisi penjelasan umum tentang Gardu

Induk serta macam-macam peralatan pendukung yang

ada di Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper.

8
BAB IV : ANALISA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini mengemukakan pembahasan

mengenai hasil data pemeliharaan bulanan baterai di

Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper serta hal apa saja

yang perlu dilakukan sebelum dan sesudah melakukan

pemeliharaan lightning arrester (LA).

BAB V : PENUTUP

Dalam bab ini diuraikan tentang kesimpulan dan

saran saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

Bab ini juga berisi tentang dari pelaksanaan maupun

penulisan laporan serta saran mengenai pelaksanaan

PKL

1. Daftar Pustaka, memuat semua sumber kepustakaan yang

digunakan dalam pelaksanaan dan pembuatan laporan

Praktek Kerja Lapangan, baik berupa buku, majalah,

maupun sumber - sumber kepustakaan lain.

2. Lampiran, memuat kelengkapan administrasi Praktek

Kerja Lapangan, tabel, gambar, dan hal-hal lain yang

perlu dilampirkan untuk memperjelas uraian dalam

laporan dan jika dicantumkan dalam tubuh laporan akan

mengganggu sitematika pembahasan.

3. Selain itu lampiran juga berisi kelengkapan administrasi

Praktek Kerja Lapangan berupa data pemeliharaan, dan

Absensi selama melaksanakan kegiatan Praktek Kerja.

9
BAB II

TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN PT. PLN ( PERSERO )

GARDU INDUK 150 KV PANDEAN LAMPER

2.1 Makna dan Bentuk Logo PT. PLN ( Persero )

Gambar 2. 1 Logo PT. PLN (Persero)

2.1.1. Makna Dalam Segi Bentuk PT. PLN ( Persero )

Adapun makna bentuk logo di atas adalah:

1) Bidang Persegi Panjang Vertikal

Menjadi bidang dasar bagi elemen-elemen lambang

lainnya, melambangkan bahwa PT.PLN (Persero) merupakan

wadah atau organisasi yang terorganisir dengan sempurna.

2) Petir atau Kilat

Melambangkan tenaga listrik yang terkandung di

dalamnya sebagai produk jasa utama yang dihasilkan oleh

perusahaan. Selain itu petir pun mengartikan kerja cepat dan

10
tepat para insan PT PLN (Persero) dalam memberikan solusi

terbaik bagi para pelanggannya.

3) Tiga Gelombang

Memiliki arti gaya rambat energi listrik yang dialirkan

oteh tiga bidang usaha utama yang digeluti perusahaan yaitu

pembangkitan, penyaluran dan distribusi yang seiring sejalan

dengan kerja keras para insan PT PLN (Persero) guna

memberikan layanan terbaik bagi pelanggannya.

2.1.2. Makna Dalam Segi Warna PT. PLN ( Persero )

Adapun makna warna bentuk logo di atas adalah:

1) Kuning

Berwarna kuning untuk menggambarkan pencerahan,

seperti yang diharapkan PLN bahwa listrik mampu

menciptakan pencerahan bagi kehidupan masyarakat. Kuning

juga melambangkan semangat yang menyala-nyala yang

dimiliki tiap insan yang berkarya di perusahaan ini.

2) Merah

Warnanya yang merah melambangkan kedewasaan

PLN sebagai perusahaan listrik pertama di Indonesia dan

kedinamisan gerak laju perusahaan beserta tiap insan

perusahaan serta keberanian dalam menghadapi tantangan

perkembangan jaman.

11
3) Biru

Diberi warna biru untuk menampilkan kesan konstan

(sesuatu yang tetap) seperti halnya listrik yang tetap diperlukan

dalam kehidupan manusia. Di samping itu biru juga

melambangkan keandalan yang dimiliki insan-insan

perusahaan dalam memberikan layanan terbaik bagi para

pelanggannya.

2.2 Visi, Misi, Motto dan Tujuan PT. PLN ( Persero )

2.2.1. Visi

Visi PT. PLN (Persero) UIT Jawa Bagian Tengah (JBT)

adalah “Menjadi pengelola O&M Transmisi kelas Dunia

dengan kinerja TROF 0,02 kali/unit TLOF 0,16 kali/100 kms

pada tahun 2024”.

2.2.2. Misi

Misi PT. PLN (Persero) UIT Jawa Bagian engah (JBT) adalah :

1. Melakukan pengembangan dan pengelolaan asset transmisi.

2. Melakukan pengendalian investasi dan logistik transmisi.

3. Melaksanakan operasi dan pemeliharaan asset transmisi

secara efektif,efisien,andal dan ramah lingkungan

12
2.2.3. Motto

Motto PT. PLN adalah “Listrik untuk Kehidupan yang

Lebih Baik”.

2.2.4. Tujuan Perseroan

Untuk menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik

bagi kepentingan umum dalam jumlah dan mutu yang memadai

serta memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan

Pemerintah di bidang ketenagalistrikan dalam rangka menunjang

pembangunan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan

Terbatas.

2.3 Sejarah PT. PLN ( Persero ) Gardu Induk APP Semarang

2.3.1. Lokasi PT. PLN ( Persero ) Gardu Induk 150 KV Pandean

Lamper

Semenjak April 2012, P3B JB resmi meluncurkan struktur

organisasi baru. Struktur Organisasi yang semula terdiri atas 4

Kantor Region dan 31 UPT serta 1 Subu region kini berubah

menjadi struktur yang lebih ramping. Yakni terdiri atas 5 APB (

Area Pengatur Beban ) dan 16 APP ( Area Pelaksana Pemeliharaan

). Berikut ini adalah APB dan APP yang di naungi oleh PT. PLN

(PERSERO) P3B Jawa –Bali :

1. APB Jakarta dan Banten

2. APB Jawa Barat

13
3. APB Jawa Tengah dan DIY

4. APB Jawa Timur

5. APB Bali

6. APP Cilegon

7. APP Durikosambi

8. APP Cawang

9. APP Pulogadung

10. APP Bogor

11. APP Karanwang

12. APP Bnadung

13. APP Cirebon

14. APP Semarang

15. APP Salatiga

16. APP purwokwerto

17. APP Surabaya

18. APP Madiun

19. APP Malang

20. APP Purbolinggo

21. APP Bali

Berikut adalah peta jaringan sistem kelistrikan tanggung

jawab APP Semarang dan Jateng DIY .

14
Gambar 2. 2 Peta Jaringan APP Semarang dan Jateng DIY

Pada gambar 2.6 tampak bahwa jumlah gardu induk di

wilayah kerja APP Semarang terdiri dari 27 Gardu induk, yaitu:

1. Gardu induk 500 KV Ungaran

2. Gardu induk 500 KV Tanjungjati

3. Gardu induk 150 KV Unagaran

4. Gardu induk 150 Sayung

5. Gardu induk 150 KV Pudak Payung (GIS)

6. Gardu induk 150 KV Srondol

7. Gardu induk 150 KV Pandean Lamper

8. Gardu induk 150 KV Simpang Lima

9. Gardu induk 150 KV Kalisari (GIS)

10. Gardu induk 150 KV Tambak Lorok

11. Gardu Induk 150 KV Krapyak

12. Gardu Induk 150 KV Randu Garut

15
13. Gardu Induk 150 KV Kaliwungu

14. Gardu Induk 150 KV BSB (Bumi Semarang Baru)

15. Gardu Induk 150 KV Mranggen

16. Gardu Induk 150 KV Weleri

17. Gardu Induk 150 KV Cepu

18. Gardu Induk 150 KV Blora

19. Gardu induk 150 KV Kudus

20. Gardu Induk 150 KV Jekulo

21. Gardu Induk 150 KV Purwodadi

22. Gardu Induk 150 KV Kedungombo

23. Gardu induk 150 KV Pati

24. Gardu induk 150 KV Jepara

25. Gardu Induk 150 KV Tanjungjati

26. Gardu induk 150 KV Rembang

27. Gardu Induk 150 KV Rembang Pembangkit

PT. PLN (Persero) Gradu Induk 150 KV Pandean lamper

terletak di Jalan Unta Raya, Pandean Lamper ,Kecamatan

Gayamsari, Kata Semarang. Gardu Induk Pandean Lamper salah

satu yang menggunakan SKTT ( Saluran Kabel Tegangan Tinggi )

yang menyuplai daya simpang lima semarang.

16
Gambar 2. 3 Peta Lokasi PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV Pandean
Lamper

Gambar 2. 4 Lokasi PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper
PT. PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper merupakan

Gardu Induk yang mendapatkan supply dari PLTU Tambak Lorok dan PLTU

Tanjung Jati, Gardu Induk Pandean lamper merupakan gardu induk yang

wilayah kerjanya PT. PLN (Persero) APP Semarang, setelah beroperasi sudah

cukup lama Gardu Induk Pandean Lamper masih cukup andal dan mampu

melayani konsumen dengan baik.

17
2.3.2. Struktur Organisasi PT. PLN ( Persero ) Gardu Induk 150 KV

Pandean Lamper

Struktur Organisasi
Supervisor Lutfa Aziza
1. Siggih Suntoro

Opearator Jargi 2. Lulu Cahyo


3. Dias Muhammad
1. Kendar

Cleaning Service GI 2. Yoni


3. Mulyono
1. Koko
Security
2. Ahmad Ansori
Tabel 2. 1 Struktur Organisasi GI Pandean Lamper

2.3.3. Tugas Pokok PT. PLN ( Persero ) Gardu Induk 150 KV

Pandean Lamper

APP Semarang memiliki tugas pokok yaitu melaksanakan

operasi dan pemeliharaan transmisi dan Gardu Induk diantaranya

dengan melaksanakan :

1) Pengoperasian transmisi tenaga listrik dan Gardu Induk.

2) Pemeliharaan transmisi tenaga listrik dan Gardu Induk.

3) Penanganan gangguan transmisi tenaga listrik dan Gardu

Induk.

4) Pelaporan keadaan transmisi tenaga listrik dan Gardu

Induk.

18
5) Penanganan pengadaan material atau jasa sesuai dengan

kebutuhan dan kewenangannya.

6) Pengawasan kesehatan dan keselamatan kerja.

2.4 Keselamatan Kerja

Dalam melaksanakan pekerjaan, yang harus diutamakan adalah

keselamatan kerja. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan

dengan peralatan (equipment), proses kerja,lingkungan,maupun cara

melakukan pekerjaan. Di samping itu benda-benda maupun peralatan yang

ada pada daerah kerja merupakan peralatan yang bertegangan, untuk itu harus

diperhatikan tentang tata tertib atau peraturan keselamatan kerja yang

berlaku. Adapun peralatan-peralatan keselamatan kerja yang terdapat di PT.

PLN (Persero) Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper sebagai berikut:

1) Sarung tangan dan sarung lengan

Berfungsi untuk melindungi tangan terhadap tegangan

listrik,mekanik,kimia dan panas. Bahannya terdiri dari

katun,nilon,kulit,karet,dan lapisan asbes.

Spesifikasi daya sekatnya = 1KV-6KV , 6KV-20KV.

2) Topi pelindung atau helm

Berfungsi untuk melindungi kepala dari bahaya

listrik,mekanik,kimia dan panas.

3) Sepatu lars atau penyelamat

melindungi kepala dari bahaya listrik,mekanik,kimia dan

panas. Bahannya terdiri dari: karet,kulit,kanvas,dan lain-lain.

Spesifikasi daya sekatnya = 1KV-6KV , 6KV-20KV.

19
4) Tester Tegangan tinggi

Berfungsi untuk meyakinkan apakah pada system dan

sekitarnya masih ada atau tidak tegangannya.

Tegangan Panjang (mm) Keterangan

<1000 V <300 Dilengkapi

lampu

1-20 KV 800-2000 Dilengkapi

lampu

20-70 KV 200-3600 Dilengkapi

lampu dan alarm

70-275 KV 3600-4500 Dilengkapi

lampu sinyal

Tabel 2. 2 Tester Tegangan Tinggi

5) Tongkat hubung tanah atau tongkat pertanahan

Berfungsi untuk menghilangkan tegangan sisa. Bahannya

terdiri dari besi,tembaga,alumunium dengan tangkai bahan isolasi.

Spesifikasi: untuk tegangan tinggi.

20
BAB III

DASAR TEORI

3.1 Pengertian Gardu Induk

Gardu Induk adalah suatu instalasi,yang terdiri dari peralatan listrik

yang berfungsi untuk:

1) Transformasi tenaga listrik tegangan tinggi yang satu ke tegangan

listrik yang lainnya atau ke tegangan menengah.

2) Pengukuran,pengawasan operasi serta pengaturan pengamanan dari

system tenaga listrik.

3) Pengatur daya ke gardu-gardu induk lain melalui tegangan tinggi

dan gardu-gardu distribusi melalui feeder tegangan menengah.

Pada transformator tenaga yang terpasang pada gardu induk

umumnya rangkaian tenaga listrik disebut dengan rangkaian primer,

sekunder dan tersier sesuai dengan arah daya tersulur. Pada gardu induk

penurunan tegangan “step down substation”, sisi primernya adalah

rangkaian tegangan generator/pembangkit, rangkaian sisi sekundernya

adalah rangkaian transmisi,dan jika transformatornya mempunyai lilitan

tersier, maka ini merupakan sisi tersiernya (Samuel Gunawan, 2013).

Salah satu fungsi Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper adalah

sebagai penyalur daya listrik dan menurunkan tegangan ke 20 KV.

Menurut penempatan peralatan listriknya, gardu induk dibagi menjadi 3

macam, yaitu:

21
1) Gardu Induk Pasang Dalam

Suatu gardu induk dimana semua peralatannya (switch

gear,isolator dan lain sebagainya) dipasang didalam gedung atau ruang

tertutup. Pemasangan jenis ini biasanya dipakai di wilayah perkotaan

atau pusat kota, dimana harga jual tanahnya sangat tinggi dan juga

untuk menghindari adanya suara bising serta di daerah pantai ,dimana

ada pengaruh kontaminasi garam (Samuel Gunawan, 2013).

2) Gardu Induk Pasang Luar

Suatu gardu induk dimana semua peralatannya (switch gear,

isolator dan lain sebagainya) dipasang diluar gedung. Namun untuk

seperti peralatan tertentu seperti : alat-alat kontrol, meja penghubung

switch board dan baterai dipasang didalam ruangan. Jenis pasang luar

ini membutuhkan tanah yang luas, namun biaya konstruksinya murah

dan pendinginnya lebih cepat (Samuel Gunawan, 2013).

3) Gardu Induk Setengah Pasang Dalam dan Setengah Pasang Luar

Merupakan perpaduan dari gardu induk jenis pasang luar dan

gardu induk jenis pasang dalam, dimana peralatan atau komponen gardu

induk didalam dan diluar ruangan (Samuel Gunawan, 2013).

Berdasarkan jenisnya gardu induk dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:

1) Gardu Induk Konvensional (GIK)

Gardu Induk dengan isolasi udara bebas. Biasanya GIK

memerlukan area tanah yang cukup luas, karena sebagian besar

22
peralatannya dipasang diluar gedung (switch yard) dan beberapa

peralatannya dipasang didalam (Julius Santosa, 2013).

2) Gardu Induk Switchgear (GIS)

Gardu Induk dengan isolasi Sulfur Hexafluoride (SF6). Gardu

Induk Switchgear (GIS) ini hanya memerlukan area tanah relative kecil

(seperenam lebih kecil daripada GI Konvensional), maka sangat cocok

dibangun diarea perkotaan yang harga tanahnya sangat mahal, walaupun

pembangunannya membutuhkan investasi yang sangat tinggi, akan tetapi

masih efisien GIS karena hampir semua peralatannya dipasang di dalam

gedung (Julius Santosa, 2013).

Berdasarkan sifatnya gardu induk dapat dibedakan sebagai berikut:

1) Gardu Induk Slack

Gardu Induk yang menyalurkan tenaga listrik dari GI satu ke GI

yang lainnya dengan tegangan yang sama (Julius Santosa, 2013).

2) Gardu Induk Distribusi

Gardu Induk yang menyalurkan tenaga listrikdari tegangan sistem

ke tegangan distribusi (20 KV) (Julius Santosa, 2013).

3) Gardu Induk Industri

Gardu Induk yang menyalurkan tegangan listrik dari tegangan

sistem langsung hanya ke industri yang membutuhkanya atau biasanya GI

dibangun dekat Industri (Julius Santosa, 2013).

23
3.2 Peralatan Umum Pada Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper

Pada Gardu Induk terdapat beberapa peralatan dan fasilitas yang

bertujuan unuk menunjang keandalan dalam penyaluran sistem tenaga listrik.

Di bawah ini adalah peralatan dan fasilitas utama yang terdapat di Gardu

Induk 150 KV Pandean Lamper.

3.2.1. Lightning Arrester ( LA )

Lightning Arrester (LA) merupakan peralatan yang didesain

untuk melindungi peralatan lain dari tegangan surja (baik surja

hubung maupun surja petir) dan pengaruh follow current. Sebuah

Arrester harus mampu bertindak sebagai insulator, mengalirkan

beberapa miliampere arus bocor ke tanah pada tegangan sistem dan

berubah menjadi konduktor yang sangat baik, mengalirkan ribuan

ampere arus surja ke tanah dan menghilangkan arus susulan mengalir

dari sistem melalui Arrester (power follow current) setelah surja petir

atau surja hubung berhasil didispasikan secara umum (Tatang

Rusdjaja, 2010).

Dibawah ini merupakan gambar Lightning Arrester (LA)

yang terdapat di area trafo 1, trafo 2 dan trafo 3.

Gambar 3. 1 Lightning Arrester Bay Trafo

24
3.2.2. Trafo Tegangan atau Potensial Trafo ( PT )

Gambar 3. 2 Potensial Trafo Bay Simpang Lima


Trafo Tegangan adalah peralatan yang mentransformasikan

tegangan sistem yang lebih tinggi ke suatu tegangan yang lebih

tinggi ke suatu tegangan yang lebih rendah untuk kebutuhan

pengukuran dan proteksi. Pada gardu induk terdapat 2 jenis trafo

tegangan / Potensial Transformer yaitu potensial transformer bus dan

potensial transformer line yang secara umum sama fungsinya hanya

saja yang membedakan adalah penempatannya (Musfar Ferdian,

2010).

Potensial Transfomer dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :

1. Trafo Tegangan Magnetik (Magnetic Voltage Transformer /

VT) di sebut juga dengan trafo tegangan induktif. Terdiri

dari belitan primer dan sekunder pada inti besi yang prinsip

kerjanya belitan primer menginduksikan tegangan ke

belitan sekundernya (Musfar Ferdian, 2010).

2. Trafo Tegangan kapasitif (Capasitive Volltage

Transformer/CVT). Trafo Tegangan ini terdiri dari

rangkaian seri dari dua kapasitor atau lebih yang berfungsi

sebagai pembagi tegangan dari tegangan tinggi ke tegangan

25
rendah pada sisi primernya, selanjutnya tegangan pada satu

kapasitor ditransformasikan menggunakan trafo tegangan

yang lebih rendah agar diperoleh tegangan sekunder

(Musfar Ferdian, 2010).

3.2.3. Trafo Arus ( CT )

Trafo arus pada Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper berfungsi

untuk menyadap arus yang masuk dengan menurunkan arus tinggi

menjadi arus kecil pada tegangan rendah untuk keperluan pengukuran

dan pengaman/proteksi (Abdul Salam, 2010).

Gambar 3. 3 Trafo Arus ( CT ) Bay Simpang Lima

3.2.4. Pemutus Tenaga ( PMT )

Fungsi utamanya adalah sebagai alat pembuka atau penutup suatu

rangakaian listrik dalam kondisi berbeban, serta mampu membuka atau

menutup saat terjadi arus gangguan (hubung-singkat) pada jaringan atau

peralatan lain (Sanggam Robaga, 2010).

26
Klasifikasi PMT :

1. Berdsarkan jumlah mekanik penggerak sebagai berikut :

1) PMT Single Pole

PMT tipe ini mempunyai mekanik penggerak pada masing-

masing pole umumnya PMT jenis ini dipasang pada bay penghantar

agar PMT bisa reclose satu fasa (Sanggam Robaga, 2010).

Gambar 3. 4 PMT Single Pole Bay Tambak Lorok


2) PMT Three Pole

PMT jenis ini mempunyai satu mekanik penggerak untuk tiga

fasa, guna menghubungkan fasa satu dengan fasa lainnya di lengkapi

dengan kopel mekanik. Ummnya PMT jenis ini di pasang pada bay

Trafo dan bay Kopel serta PMT 20 KV untuk distribusi (Sanggam

Robaga, 2010).

Gambar 3. 5 PMT Three Pole Bay Simpang Lima

27
2. Berdasarkan Media Isolasi PMT dapat dibedakan menjadi :

1) PMT Gas SF6

Menggunakan gas SF6 sebagai media pemadam busur api yang

timbul pada waktu memutus atau menutup arus listrik., sebagai isolasi,

gas SF6 mempunyai kekuatan dielektrik yang lebih tinggi dibandingkan

dengan udara dan kekuatan dielektrik ini bertambah seiring dengan

pertambahan tekanan.

Umumnya PMT jenis ini merupakan tipe tekanan tunggal (

single pressure type ). Dimana selama operasi membuka atau menutup

PMT, gas SF6 ditekan ke dalam suatu tabung/silinder yang menempel

pada kontak bergerak. Pada waktu pemutusan gas SF6 ditekan melalui

nozzle dan tiupan ini yang mematikan busur api (Arief Setyo, 2010).

2) PMT Minyak

Menggunakan minyak isolasi sebgai media pemadam busur api

yang timbul pada saat PMT bekerja membuka atau menutup. Ada 2

jenis PMT minyak yaitu , PMT menggunakan banyak minyak (bulk oil)

dan PMT menggunakan sedikit minyak (small oil). PMT jenis ini

digunakan mulai dari tegangan menengah 6 KV sampai tegangan ekstra

tinggi 425 KV dengan arus nominal 400 A sampai 1250 A dengan arus

pemutusan simetris 12 KA sampai 50 KA (Arief Setyo, 2010).

3) PMT Udara hembus (Air Blast)

PMT ini menggunakan udara sebagai media pemadam busur api

dengan menghembuskan udara ke ruang pemutus. PMT ini disebut juga

sebagai PMT udara hembus (Arief Setyo, 2010).

28
4) PMT Hampa Udara (Vacuum)

Ruang hampa udara mempunyai kekuatan dielektrik (dielektrik

strength) yang tinggi dan sebagai media pemadam busur api yang baik

saat ini. PMT jenis vacuum umumnya digunakan untuk tegangan

menengah (24KV). Jarak (gap) antara kedua katoda adalah 1 cm untuk

15 KVdan bertambah 0.2 cm setiap kenaikkan tegangan 3 KV.Untuk

pemutus vaccum tegangan tinggi, digunakan PMT jenis ini dengan

dihubungkan secara seri ruang kontak utama dengan (breaking

chambers) dibuat dari bahan antara lain porselen, kaca atau plat baja

yang kedap udara. Ruang kontak utamanya tidak dapat dipelihara dan

umur kontak utama sekitar 20 tahun (Arief Setyo, 2010).

3. Berdasarkan Mesin Penggerak

1) Penggerak Pegas (Spring Drive)

Mekanis penggerak PMT dengan menggunan pegas (spring)

tediri dari 2 macam, yaitu pegas pilin (helical spring) yang

menggunakan pegas pilin sebagai sumber tenaga penggerak yang di

Tarik atau di regangkan oleh motor melalui rantai. Pegas gulung (scroll

spring) menggunakan pegas guling untuk sumber tenaga penggerak

yang diputar oleh motor melalui roda gigi (Indra Samsu, 2010).

2) Penggerak Hidrolik

Penggerak Mekanik PMT Hidrolik adalah rangkaian gabungan

dari komponen mekanik, elektrik dan hidrolik oil yang dirangkai

sehingga dapat berfungsi sebagai penggerak untuk PMT (Indra Samsu,

2010).

29
3) Pneumatik

Penggerak mekanik PMT pneumatic adalah rangkain gabungan

dari beberapa komponen mekanik, elektrik dan udara bertekanan yang

dirangkai sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai penggerak

untuk membuka dan menutup PMT (Indra Samsu, 2010).

3.2.5. Saklar Pemisah ( PMS )

Gambar 3. 6 PMS Bay Pudak Payung


Saklar pemisah merupakan peralatan hubung yang bekerja

membuka dan menutup rangkaian pada saat sistem berbeban atau pada

arus yang kecil. Saklar pemisah tidak dilengkapi dengan peralatan untuk

memadamkan busur api. Kecepatan kerjanya relative lebih lambat

dibandingkan dengan Pemutus Tenaga (Yahya Ginting, 2015).Macam-

macam pemisah ada dua yaitu :

1) Pemisah peralatan : Berfungsi untuk memisahkan peralatan listrik dari

peralatan lain atau instalasi lain yang bertegangan. PMS ini boleh

dibuka atau ditutup hanya pada rangkaian jaringan yang tidak

berbeban (Yahya Ginting, 2015).

30
2) Pemisah tanah (pisau pentanahan/pembumian): berfungsi untuk

mengamankan dari arus tegangan yang timbul sesudah saluran

tegangan tinggi diputuskan atau induksi tegangan dari penghantar atau

kabel lainnya. Hal ini perlu untuk keamanan bagi orang-orang yang

bekerja pada peralatan instalasi. Umumnya antara PMS line/kabel dan

PMS tanah terdapat alat yang disebut interlock. Interlock merupakan

suatu hubungan antar peralatan listrik, sehingga peralatan tersebut

bekerja sesuai dengan urutan kerjanya (Janter Napitupulu, 2015).

3.2.6. Busbar atau Rel

Pada Gardu Induk 150 KV Pandean lamper rel busbar berfungsi

untuk mengupulkan tegangan 150 KV dari masing-masing incoming yaitu

dari incoming Tambak Lorok I dan II, kemudian ditransmisikan ke Pudak

Payung I dan II. Selain ditransmisikan ke Pudak Payung I dan II, juga

disalurkan ke trafo daya 150/20 KV. Kemudian dari trafo tersebut

mentransformasikan dari tegangan 150 KV diturunkan 20 KV untuk

dikirim menuju distribusi 20 KV pada masing-masing penyulang (Singgih

Suntoro, 2020).

Gambar 3. 7 BUSBAR 1 dan 2 GI Pandean Lamper

31
3.2.7. Transformator Daya ( Trafo Tenaga )

Transformator adalah sebuah alat yang berfungsi untuk

mentransformasikan daya listrik, dengan merubah besaran tegangan,

sedangkan frekuensinya tetap. Transformator daya juga berfungsi untuk

pengaturan tegangan. Transforator daya dilengkapi dengan trafo

pentanahan yang berfungsi untuk mendapatkan titik netral dari

transformator daya (Soni Irwansyah, 2010).

Gambar 3. 8 Trafo 3 GI Pandean Lamper


Ada 3 buah trafo tenaga pada Gardu Induk 150 KV Pandean

Lamper dengan total kapasitas 150 MVA, yaitu :

1) Transformator I 60 MVA

Merk : UNINDO

Kapasitas : 60 MVA

Type : SL There Phase

Ratio Tegangan : 150/20 KV

Vektor Group : YNynO+d

Frekuensi : 50 Hz

Cooling : ONAN/ONAF – 60/100%

Tap Charger : MR – VRC III 400Y – 72.5/B – 10181 WR

32
2) Transformator II 60 MVA

Merk : UNINDO

Kapasitas : 60 MVA

Type : SL There Phase

Ratio Tegangan : 150/20 KV

Vektor Group : YNynO+d

Frekuensi : 50 Hz

Cooling : ONAN/ONAF – 60/100%

Tap Charger : MR – VRC III 400Y – 72.5/B – 10181 WR

3) Transformator III 30 MVA

Merk : PAUWELS

Kapasitas : 30 MVA

Type : SL There Phase

Ratio Tegangan : 150/20 KV

Vektor Group : YNynO+d

Frekuensi : 50 Hz

Cooling : ONAN/ONAF – 60/100%

Tap Charger : MR – MS III 300 – 72.5 + MA 9

33
3.2.8. Wave Trap

Gambar 3. 9 Wave Trap Bay Tambak Lorok


Tugas utama dari wave trap ini adalah untuk meredam frekuensi

tinggi yang membawa informasi tidak disalurkan atau mengalir ke

peralatan gardu induk Wave Trap dipasang seri dengan kawat saluran

udara tegangan tinggi. Maka harus mampu dialiri arus listrik yang sesuai

dengan kemampuan arus dan kawat tersebut (Martopo Lumban, 2015).

3.2.9. Kopling Kapasitor

Gambar 3. 10 Kopling Kapasitor Bay Tambak Lorok


Kapasitor kopling tegangan tinggi adalah sebagai alat penghubung

antara peralatan sinyal pembawa yang berfrekuensi tinggi dengan dengan

konduktor kawat fasa yang bertegangan tinggi, serta untuk keperluan

pengukuran yang bertegangan rendah, contoh nya CC di gunakan untuk

menghubungkan sistem peralatan telekomounikasi PLC dengan sistem

jaringan tegangan tinggi. Secara fisik alat ini terdiri atas susunan beberapa

34
elemen kapasitor mika / kertas yang dihubungkan secara seri serta

dicelupkan / direndam kedalam minyak. Sebagai tempat kedudukan

elemendan minyak tadi, dibuat dari bahan dielektrik porsekin yang

berbentuk silinder dan bagian porselin dibuat semacam sayap-sayap yang

tersusun untuk mencegah mengalirnya secara langsung curah hujan dari

sisi tegangan tinggi kesisi tegangan rendah atau ke tanah yang bias

mengakibatkan terjadinya hubungan singkat penampang dari kapasitor

kopling yang mendekati bentuk fisiknya dengan susunan kapasitor

didalamnya dihubungkan dengan peralatan potensial transformer.

Penggunaan CC saat ini jarang digunakan karena fungsi kopling kapasitor

terdapat juga pada CVT/Capasitor Voltage Transformer (Rikardo Siregar,

2012).

3.2.10. Kubikel 20 KV

Gambar 3. 11 Kubikel 20 KV GI Pandean Lamper


Kubikel Tegangan Menengah adalah seperangkat peralatan lisrik

yang dipasang pada Gardu Induk dan Gardu Induk Distribusi/Gardu

Hubung yang berfungsi ssebagai pembagi, pemutus, penghubung,

pengontrol dan pengaman sistem penyaluran tenaga listrik tegangan

menengah (Dharu Rendro, 2016).

35
Fungsi kubikel berdasarkan fungsi/penempatannya, kubikel

Tegangan menengah di Gardu induk antara lain :

1) Kubikel Incoming

Berfungsi sebagai penghubung dari sisi sekunder trafo daya ke

rel tegangan menengah.

2) Kubikel Outgoing

Berfungsi sebagai penghubung / penyalur dari rel ke beban.

3) Kubikel Pemakaian Sendiri (Trafo PS)

Berfungsi sebagai penghubung dari rel ke beban pemakaian

sendiri GI.

4) Kubikel Kopel (Bus Kopling)

Berfungsi sebagai penghubung antara rel 1 dengan rel 2.

5) Kubikel PT

Berfungsi sebagai sarana pengukuran dan pengaman.

3.2.11. Panel Control Utama

Peralatan Kontrol adalah suatu peralatan yang mengendalikan

terlaksananya operasional suatu Gardu Induk, baik dalam keadaan normal

maupun gangguan. Peralatan control terdiri dari panel-panel yang letaknya

sedemikian rupa sehingga memudahkan operator dalam mengawasi dan

mengoperasikannya. Panel Kontrol utama terdiri dari panel instrument dan

panel operasi, pada panel instrument terpasang alat-alat ukur indicator

gangguan dari panel tersebut dapat di awasi dalam keadaan sedang operasi

(Herdiyanto Nugroho, 2019).

36
Gambar 3. 12 Control Panel GI Pandean Lamper
Pada panel operasi terpasang saklar operasi dari pemutus tenaga,

pemisah,sampai lampu indicator posisi saklar operasi dan diagram rel.

Diagram rel (mimic bus), saklar dan lampu indicator diatur letak

hubungannya sesuai dengan rangkaian yang sesungguhnya sehingga

keadaannya dapat dilihat dengan mudah (Herdiyanto Nugroho, 2019).

3.2.12. Peralatan SCADA dan Telekomunikasi

Gambar 3. 13 Peralatan SCADA GI Pandean Lamper


Fasilitas SCADA diperlukan untuk melaksanakan pengusahaan

tenaga lissrik terutama pengendalian operasi secara realtime. Suatu sistem

SCADA terdiri dari sejumlah Remote Terminal Unit (RTU). Sebuah

Master Station / Region Control Center (RCC), dan jaringan

telekomunikasi data antara RTU dan Master Station. RTU dipasang

disetiap Gardu Induk atau pusat pembangkit yang hendak di pantau. RTU

ini bertugas untuk mengetahui setiap kondisi peralatan tegangan tinggi

37
melalui pengumpulan besaran-besaran listrik, status peralatan dan sinyal

alarm yang kemudian diteruskan ke RCC melalui jaringan telekomunikasi

data. Dengan sistem SCADA maka Dispatcher dapat mendapatkan data

dengan cepat setiap saat (real time) bila diperlukan. Disamping itu

SCADA dapat dengan cepat memberikan peringatan pada Dispatcher bila

terjadi gangguan pada sistem, sehingga gangguan dapat dengan mudah dan

cepat diatasi / dinormalkan. Data yang dapat diamati berupa kondisi ON /

OFF peralatan transmisi daya. Kondisi sistem SCADA sendiri, dan juga

kondisi tegangan dan arus pada setiap bagian di komponen transmisi

(Isworo Pujotomo, 2016).

3.2.13. Baterai dan Recifier

Baterai di Gardu Induk digunakan sebagai sumber tegangan DC

yang mana dipakai pada sistem kontrol dan peralatan proteksi (pelindung).

Bila terjadi gangguan,maka sumber inilah yang merupakan penggerak alat-

alat kontrol dan proteksi, sehingga baterai harus mempunyai keandalan

dan kestabilan yang tinggi. Untuk menjaga keandalan dan kestabilan

baterai diperlukan rangkaian penyearah yang biasa disebut rectifier (Arif

Muhammad, 2019).

Rectifier adalah suatu alat listrik yang mempunyai fungsi sebagai

pengubah arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC) sesuai kapasitas

yang dikehendaki dalam hal ini adalah kapasitas baterai. Rectifier ini

harus selalu terpasang pada baterai untuk menjaga kapasitasnya supaya

baterai tersebut dalam kondisi terisi penuh. Oleh karena itu, rectifier tidak

boleh padam atau mati (sumber AC 3 phasa), untuk itu pengecekan

38
tegangan DC harus dilakukan secara rutin dan periodic, jangan sampai

sumber AC 3 phasa lepas (Arif Muhammad, 2019).

Gambar 3. 14 Ruang Baterai GI Pandean Lamper


Terdapat 2 buah batterai yang ada pada GI 150 KV Pandean

Lamper Semarang sebagai sumber daya DC, yaitu :

1) Batterai 110 V yang digunakan sebagai keperluan proteksi,

Jenis : Alkali, Jumlah sel : 82 dengan Kapasitas : 275 ah

2) Batterai 48 V yang di guanakan sebagai keperluan PLC/RTU,

Jenis : Alkali, Jumlah Sel : 38 dengan Kapasitas : 167 ah.

39
BAB IV

PEMELIHARAAN INSPEKSI LEVEL 3 LIGHTNING

ARRESTER BAY TAMBAK LOROK II

4.1 Teori Lightning Arrester

Lightning Arrester (LA) merupakan peralatan yang berfungsi untuk

melindungi peralatan listrik lain dari tegangan surja (baik surja hubung

maupun surja petir) merupakan gejala tegangan lebih atau sangat besar yang

terjadi secara singkat yang disebabkan oleh operasi baik saat penutupan

maupun pembukaan kontak suatu pemutus tenaga dan bisa dari sambaran

petir (Tatang Rusdjaja, 2010).

Surja mungkin merambat di dalam konduktor saat peristiwa sebagai

berikut:

1. Kegagalan sudut perlindungan petir, sehingga surja petir mengalir

di dalam konduktor fasa.

2. Proses switching CB / DS (surja hubung).

3. Gangguan fasa-fasa, ataupun fasa-tanah baik di saluran transmisi

maupun di gardu induk.

Pada saat peristiwa surja, travelling wave / gelombang berjalan

merambat di penghantar sistem transmisi dengan kecepatan mendekati

kecepatan cahaya. Surja dengan panjang gelombang dalam orde mikro

detik ini berbahaya bila nilai tegangan surja yang tiba di peralatan lebih

tinggi dari level BIL (Basic Insulation Level) peralatan. Untuk itu, LA

40
dipasang untuk memotong tegangan surja dengan cara mengalirkan arus

surja ke tanah dalam orde sangat singkat (Tatang Rusdjaja, 2010).

Lightning Arrester ( LA ) memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Pada tegangan operasi :

1) LA bersifat sebagai insulator

2) Arus bocor ke tanah tetap ada, namun dalam orde mili-

Ampere. Arus bocor ini mayoritas adalah arus kapasitif.

2. Pada saat terjadi surja petir / surja hubung :

1) LA bersifat konduktif, dengan nilai resistansi sangat rendah.

2) LA mengalirkan arus surja ke tanah dalam orde kilo-Ampere.

4.1.1. Teknologi Lightning Arrester

Teknologi LA sudah dikembangkan sejak 100 tahun silam,

bersamaan dengan dimulainya penggunaan listrik secara masal. Secara

ringkas sejarah perkembangan LA adalah sebagai berikut:

1892 – 1908 : Penggunaan Air Gaps

1908 – 1930 : Multiple gaps dengan resistor

1920 – 1930 : Lead Oxide dengan resistor

1930 – 1960 : Passive Gapped Silicon Carbide (SiC)

1960 – 1982 : Active Gapped Silicon Carbide (SiC)

1976 – sekarang : Zinc Oxide (ZnO) tanpa gap

1985 – sekarang : Zinc Oxide (ZnO) tanpa gap dengan housing

polymer

Keping ZnO memiliki karakteristik kerja (kurva V-I) yang jauh lebih

baik dibandingkan generasi pendahulunya yang menggunakan SiC-terseri

41
dengan gap. Mayoritas LA di sistem transmisi PLN telah menggunakan

teknologi keping ZnO tanpa gap, atau dikenal juga sebagai MOSA-Metal

Oxide Surge Arresters. Di beberapa tempat di Indonesia, MOSA dengan

housing polymer sudah mulai digunakan (Tatang Rusdjaja, 2010).

4.1.2. Klasifikasi Lightning arrester

Di dalam buku ini LA dikelompokkan berdasarkan letak

pemasangannya, yaitu:

1. LA di Gardu Induk

2. LA di Saluran Transmisi

Kedua contoh LA ditunjukkan pada Gambar 2-1 di bawah ini:

1) LA di Gardu Induk, dengan housing porselen (kiri) dan housing

polymer (kanan)

42
2) LA di Saluran Transmisi, dengan gap (kiri) & tanpa gap (kanan)

Gambar 4. 1 Klasifikasi Lightning arrester

4.1.3. Konstruksi Lightning arrester

LA di saluran transmisi ataupun di gardu induk, memiliki

konstruksi yang hampir serupa. Komponen utama dari LA adalah

varistor/ komponen aktif yang terbuat dari Zinc Oxide. Varistor ini

berbentuk keping blok, tersusun di dalam housing / kompartemen yang

terbuat dari porselen ataupun polymer. Selain sebagai penyangga,

housing ini juga befungsi untuk menginsulasi antara bagian bertegangan

dan tanah pada tegangan operasi LA.

Gambar 4. 2 Konstruksi Lightning Arrester


LA juga dilengkapi dengan katup pressure relief di kedua

ujungnya. Katup ini befungsi untuk melepas tekanan internal yang

43
berlebih, pada saat LA dilalui arus surja. Konstruksi lain pendukung LA

terdiri dari: struktur penyangga, grading ring, pentanahan dan alat

monitoring (Tatang Rusdjaja, 2010).

Lebih jauh akan dijelaskan dalam sub-bab 1 sampai 5 berikut ini.

1) Varistor

Active Part terdiri dari kolom varistor Zinc Oxide (ZnO). Keping

Zinc Oxide dicetak dalam bentuk silinder yang besaran diameter keping

tergantung pada kemampuan absorbsi energy dan nilai discharge arus.

Material silinder terbuat dari aluminium. Silinder ini selain memiliki

kemampuan mekanis, juga berfungsi sebagai pendingin. Diameter keping

bervariasi dari 30 mm untuk arrester kelas distribusi hingga 100 mm

untuk arrester HV/EHV. Setiap keping blok memiliki tinggi bervariasi

dari 20 hingga 45 mm.

Gambar 4. 3 Keping Blok Zinc Oxide (ZnO).

Nilai residual voltage untuk setiap keping ZnO pada saat

dilewati arus surja bergantung pada diameter keping tersebut. Sebagai

contoh pada keping dengan diameter 32 mm, nilai residual voltagenya

sebesar 450 V/ mm, sementara untuk diameter 70 mm nilai residual

44
voltage menurun menjadi 280 V/mm. Hal ini berarti, pada satu keping

ZnO dengan diameter 70 mm dan tinggi 45 mm terdapat kemampuan

residual voltage sebesar 12.6 kV. Bila nilai residual voltage yang

diinginkan sebesar 823 kV, maka diperlukan 66 keping ZnO tersusun

ke atas. Hal ini akan menyebabkan tinggi LA mencapai 3 meter,

dimana kestabilan mekanis LA tidak baik, oleh karenanya LA juga

didesain untuk dipasang bertingkat (Tatang Rusdjaja, 2010).

2) Housing

Tumpukan keping ZnO ditaruh dalam sangkar rod, umumnya

terbuat dari FRP (Fiber Glass Reinforced Plastic). Compression spring

dipasang pada kedua ujung kolom active part untuk memastikan susunan

keping memiliki ketahanan mekanis. Kompartemen housing dapat

terbuat dari porselen ataupun polymer. Alumunium flange direkatkan

pada kedua ujung housing dengan menggunakan semen (Tatang

Rusdjaja, 2010).

Gambar 4. 4 Konstruksi Housing LA

45
3) Sealing ring dan pressure relief sytem

Sealing ring dan pressure relief diaphragm dipasang di kedua

ujung arrester. Sealing ring terbuat dari material sintetis sementara

pressure relief diaphragm terbuat dari steel/ nikel dengan kualitas tinggi.

Pressure relief bekerja sebagai katup pelepasan tekanan internal pada saat

LA mengalirkan arus lebih surja (Tatang Rusdjaja, 2010).

Gambar 4. 5 Sealing dan Pressure Relief Systems LA

Grading Ring

Grading ring diperlukan pada LA dengan ketinggian > 1.5 meter

atau pada LA yang dipasang bertingkat. Grading ring berfungsi sebagai

kontrol distribusi medan elektris sepanjang permukaan LA. Medan

elektris pada bagian yang dekat dengan tegangan akan lebih tinggi,

sehingga stress pada active part di posisi tersebut jauh lebih tinggi

dibandingkan pada posisi di bawahnya. Stress ini dapat menyebabkan

degradasi pada komponen active part. Pemilihan ukuran grading ring

perlu mempertimbangkan jarak antar fasa. Jarak aman antar konduktor

46
harus sama dengan jarak antar grading ring antar fasa dari arrester

(Tatang Rusdjaja, 2010).

Gambar 4. 6 Grading Ring LA

4) Peralatan Monitoring & Insulator Dudukan

LA dilengkapi dengan peralatan monitoring, yakni counter

jumlah kerja LA dan/atau meter arus bocor total. Sebelum diketanahkan,

kawat pentanahan dilewatkan dahulu pada peralatan monitoring. Oleh

karenanya, insulator dudukan perlu dipasang baik pada kedua ujung

peralatan monitor, maupun pada dudukan LA, agar arus yang melalui LA

hanya melewati kawat pentanahan (Tatang Rusdjaja, 2010).

Gambar 4. 7 Counter serta Meter Arus Bocor Total Pada LA dan


Insulator Dudukan LA

47
5) Struktur Penyangga Lightning Arrester

LA dipasang pada ketinggian tertentu dari permukaan tanah, untuk

itu diperlukan struktur penyangga yang terdiri dari pondasi dan struktur

besi penyangga (Tatang Rusdjaja, 2010).

Gambar 4. 8 Struktur Penyangga Lightning Arrester

4.1.4. FMEA (Failure Mode Effect Analysis) Lightning Arrester

FMEA (Failure Mode Effect Analysis) merupakan analisis yang

dilaksanakan untuk mendapatkan gejala kegagalan pada sebuah peralatan

dengan menerapkan keterkaitan sebab-akibat antara kegagalan yang satu

dengan penyebab sebelumnya, demikian seterusnya hingga ditemukan

penyebab kegagalan yang paling awal. Dengan mengetahui gejala

kegagalan, dapat ditentukan metode inspeksi/ pengujian yang perlu

dilaksanakan sehingga gangguan dapat dicegah (Carlson, 2014).

Dalam analisis FMEA, sebuah peralatan dipandang berdasarkan

sistem dan sub sistemnya. Setiap sistem memiliki fungsi, demikian pun

setiap sub sistem memiliki sub fungsi. Kegagalan dilihat dari sudut pandang

kegagalan sebuah sistem/ sub sistem dalam melaksanakan fungsi/ sub

48
fungsinya. Sebuah sistem Lightning Arrester terdiri dari sub system sebagai

berikut:

1. Sub Sistem Active Part

2. Sub Sistem Insulasi

3. Sub Sistem Struktur Penyangga

4. Sub Sistem Sealing Systems

5. Sub Sistem Junction

6. Sub Sistem Pentanahan

7. Sub Sistem Grading Ring

8. Sub Sistem Monitoring

4.2 Pemeliharaan Inspeksi Level 3 Lightning Arrester

Pemeliharaan adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan

terhadap peralatan,agar bekerja semestinya sesuai karakteristiknya dan dapat

menjamin keandalan peralatan tersebut. Dalam arti luas pemeliharaan

adalah:

1) Meningkatkan efisiensi

2) Memperpanjang umur peralatan

3) Mengurangi resiko kegagalan atau kerusakan suatu alat saat

operasi

4) Meningkatkan keamanan kerja (safety)

Saat pemeliharaan,pengujian dan pengukuran lightning Arrester dalam

keadaan tidak tersambung dengan beban. Tetapi pada Gardu Induk 150 KV

Pandean Lamper mempunyai banyak unit lightning arrester, maka

49
pengukuran Lightning arrester dilakukan secara bergantian atau setiap 2

tahun per bay yang ada di gardu induk tersebut. Pada pelaksanaan

pemeliharaan baterai meliputi tahap-tahap berikut,yaitu :

1) Tahanan Insulasi ( Magger Test )

2) Pengukuran Nilai Pentanahan

3) Pengujian Surge Counter LA

4.3 Pentingnya Pemeliharaan Lightning Arrester di Gardu Induk 150 KV

Pandean lamper

Pemeliharaan Lightning Arrester di Gardu Induk tentunya sangat

penting. Lightning Arrester di Gardu Induk merupakan alat untuk

mengamankan dari ( surja hubung maupun petir ). Namun Lightning

Arrester adalah pengaman pertama pada alat yang ada di gardu induk saat

mengalami gangguan surja, maka dari itu lightning arrester merupakan suatu

komponen penting sebagai proteksi pertama ketika mengalami surja hubung

maupun petir dan harus selalu dijaga keandalannya.

4.4 Tujuan Kegiatan Pemeliharaan Lightning arrester di Gardu Induk 150

kv Pandean Lamper

Pemeliharaan inspeksi level 3 lightning arrester pada Gardu Induk

bertujuan untuk menjaga stabilitas kondisi terbaik dari lightning arrester

agar mampu beroperasi dengan baik.

50
4.5 Pra-pelaksanaan Pemeliharaan Inspeksi Level 3 Gardu Induk 150 KV

Pandean Lamper

Sebelum pelaksanaan pemeliharaan lightning arrester, diperlukan

beberapa hal yang wajib dipersiapkan terlebih dahulu. Berikut persiapan

yang dilakukan sebelum pelaksanaan pemeliharaan baterai di Gardu Induk

150 KV Pandean Lamper antara lain :

4.5.1. Persiapan alat Perlindungan Diri ( APD )

Alat pelindung diri wajib dipersiapkan dipergunakan selalu

pada seluruh kegiatan lapangan yang dilakukan karena terkait

dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Alat pelindung yang

digunakan saat melaksanakan pemeliharaan baterai yaitu helm dan

sarung tangan.

4.5.2. Persiapan Personil

Personil wajib dipersiapkan secara baik dan benar, seperti

mendata kehadiran dan kesiapan personil yang akan terlibat saat di

lapangan. Hal ini diperlukan untuk mengetahui pembagian kerja

serta hal apa saja yang perlu diketahui seperti informasi terbaru

mengenai kondisi terakhir dari lightning arrester tersebut.

51
4.5.3. Persiapan Alat Pendukung

Alat pendukung perlu disiapkan karena sangat diperlukan

untuk memudahkan dalam pelaksanaan. Contoh alat pendukung yang

sering diperlukan yaitu magger, multimeter, thermoimage camera,

charge kapasitor, kuas, WD, dan lain-lain.

Gambar 4. 9 Alat pendukung pada pemeliharaan lightning


arrester

4.6 Pelaksanaan Inspeksi Level 3 Lightning Arrester Gardu Induk 150 KV

Pandean Lamper

Agar lightning arrester dapat bertahan lama, maka perlu diadakannya

pemeriksaan secara menyeluruh mulai dari fisik hingga parameter yang

terkait dengan kesehatan lightning arrester. Pemeliharaan inspeksi level 3

biasanya hanya meliputi pengukuran nilai pentanahan, pengukuran tahanan

52
insulasi atau magger test dan pengujian conter LA Inspeksi Level-3 di LA

terangkum dalam Tabel berikut ini:

Peralatan Kegiatan IL-3 Offline Interval Keterangan

- Pengukuran Nilai
Tahanan Insulasi

LA di Gardu - Pengukuran Nilai bersamaan dengan


Pentanahan 2 tahunan
Induk padam bay

- Pengujian Surge
Counter LA

Tabel 4. 1 Inspeksi Level 3 LA

4.6.1. Pengukuran Tahanan Insulasi / Magger Test LA

Pengukuran nilai tahanan insulasi bertujuan untuk mengetahui

kemampuan insulasi LA pada tegangan operasional. Pengukuran

dilaksanakan dalam kondisi tidak bertegangan (padam). Titik pengujian

adalah sebagai berikut:

1. Tahanan insulasi LA dari terminal atas hingga ground.

2. Tahanan insulasi pada setiap stack LA.

3. Tahanan insulasi insulator dudukan/ post insulator.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan selama proses pengukuran

adalah sebagai berikut:

1. Pastikan LA dalam kondisi bersih.

2. Lepaskan koneksi kawat konduktor dan kawat grounding LA.

3. Pastikan alat uji memiliki supply catu daya yang baik.

4. Gunakan alat uji dengan kemampuan ukur > 1GΩ.

53
5. Pasca pengukuran, pastikan koneksi kawat konduktor dan kawat

grounding LA terpasang kembali dengan benar.

Skema pelaksanaan pengukuran tahanan insulasi tercantum

dalam Gambar berikut :

Atas Tengah Atas


dengan dengan dengan
Tengah Bawah Bawah

Gambar 4. 10 Pengujian Nilai Insulasi / Magger Test

4.6.2. Pengukuran Nilai Pentanahan LA

Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sistem

pentanahan LA. Nilai pentanahan yang tinggi menunjukkan adanya

anomali pada sistem pentanahan LA. Pengukuran pentanahan dilaksanakan

dalam kondisi tidak bertegangan.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan selama proses pengukuran

nilai pentanahan adalah sebagai berikut:

54
1. Pastikan alat uji memiliki supply daya yang baik.

2. Lepaskan kawat pentanahan dari rangkaian LA. Pengukuran

dilakukan hanya pada rangkaian pentanahan.

3. Bersihkan kawat pentanahan, sehingga alat ukur terkoneksi baik

dengan kawatpentanahan.

4. Gunakan bumi sebagai referensi pengukuran, bukan pentanahan

peralatan lain yang sudah terhubung dengan sistem mesh gardu

induk.

5. Pasca pengukuran, pastikan koneksi sistem pentanahan terhubung

kembali dengan benar.

4.6.3. Pengukuran Counter LA

Pengujian surge counter LA bertujuan untuk mengetahui apakah

alat tersebut mampu bekerja pada saat terjadi surja. Jika dalam kondisi

baik, counter akan bertambah bila di beri impulse tegangan DC. Impulse

tegangan DC yang digunakan dalam pengujian dihasilkan dari kapasitor

400-500 µF, 220-300 VAC, pelaksanaan dilaksanakan dalam kondisi

tidak bertegangan.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan selama proses

pengukuran nilai pentanahan adalah sebagai berikut :

1. Lepaskan kawat pentanahan di kedua sisi surge counter LA.

2. Lakukan pembersihan insulator surge counter LA sebelum

pelaksanaan pengujian

55
3. Pelaksanaan pengujian:

1) Charge kapasitor dengan tegangan supply AC 220 V selama 30 sampai

60 detik.

2) Hubungkan kedua kutub kapasitor dengan segera pada kedua ujung

surge counter, sehingga impulse DC current dialami oleh surge

counter, lihat gambar dibawah ini.

Gambar 4. 11 Pengujian Counter LA

56
4.7 Data Hasil Pemeliharaan Inspeksi Level 3 Lightning Arrester Gardu

Induk 150 KV Pandean Lamper

Gambar 4. 12 Data Hasil Pengujian


Menurut data hasil pemeliharaan inspeksi level 3 di atas, LA yang ada

di Gardu Induk 150 KV Pandean Lamper tergolong dalam kondisi yang baik,

tapi counter LA bisa dikatakan kondisinya kurang baik seperti yang

dijelaskan diatas. Kriteria umur operasi penggantian counter LA pada

gardu induk kisaran 10 sampai 15 tahun dikategorikan tua, sedangkan lebih

dari 15 tahun dikategorikan sangat tua.

57
4.8 Evaluasi dan Rekomendasi Inspeksi Level 3 Lightning Arrester

Kegiatan Inspeksi Level-3 pada Lightning Arrester terdiri atas:

Pengukuran nilai tahanan insulasi LA, Pengukuran nilai tahanan

pentanahan, Pengujian Surge Counter. Evaluasi dan rekomendasi masing-

masing pengukuran dijelaskan dalam Tabel.

Nilai Tahanan Insulasi Evaluasi Rekomendasi

>1GΩ Kondisi BAIK -

1. Lakukan

Pembersihan bagian

yang diuji, lalu

Terjadi degradasi lakukan pengukuran

<1GΩ fungsi Insulasi ulang

2. Bila hasil ukur tetap

> 1 GΩ, maka

rencanakan

penggantian

Tabel 4. 2 Evaluasi dan Rekomendasi Pengujian Nilai Tahanan Insulasi

58
Nilai Tahanan
Evaluasi Rekomendasi
Pentanahan
<1Ω Kondisi Baik -
1. Lakukan
pembersihan kawat
pentanahan,
termasuk mur dan
baut koneksi kawat
Terjadinya degradasi
pentanahan
>1Ω fungsi pentanahan
2. Lakukan
Lightning arrester
pengukuran ulang
3. Bila hasil ukur tetap
> 1 Ω, maka perlu
dilakukan perbaikan
system pentanahan
Tabel 4. 3 Evaluasi dan rekomendasi Pengujian Nilai Pentanahan

Hasil Pengujian surge


Evaluasi Rekomdenasi
Counter LA
Angka counter
bertambah setelah di
Kondisi BAIK -
injeksi impulse DC dari
Capasitor
Angka counter tidak
bertambah setelah di Lakukan Pengantian
Surge Counter RUSAK
injeksi impulse DC dari Surge Counter LA
Capasitor
Tabel 4. 4 Evaluasi dan Rekomendasi Pengujian Counter LA

59
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil pembahasan tentang pemeliharaan inspeksi level 3 di Gardu

Induk 150 KV Pandean lamper dan contoh permasalahan yang terjadi

tersebut, dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain:

1. Prinsip kerja Lightning Arrester (LA) saat kondisi kerja yang

normal, Lightning Arrester berlaku sebagai isolasi tetapi bila

timbul surja akibat adanya petir dan hubung singkat maka

Arrester akan berlaku sebagai konduktor yang berfungsi

melewatkan aliran lonjakan arus atau surja ketanah dalam orde

waktu sangat singkat, setelah tegangan surja itu hilang maka

Lightning Arrester harus dengan cepat kembali berlaku sebagai

isolator.

2. Lightning Arrester (LA) ini memiliki komponen utama yang terdiri

dari varistor yang terbuat dari Zinc Oxide. Varistor ini berbentuk

keping blok yang dapat menjadi saluran yang mudah dilalui arus petir,

tersusun di dalam housing yang terbuat dari porselen ataupun

polymer, selain sebagai penyangga, housing ini sebagai insulasi antara

bagian bertegangan dan tanah. LA juga dilengkapi konstruksi

pendukung seperti grading ring untuk kontrol distribusi medan

elektris sepanjang permukaan LA, pentanahan (grounding) untuk

60
mengalirkan arus petir menuju tanah dan alat monitoring untuk

mengetahui jumlah kerja LA.

3. Dalam pemeliharaan inspeksi level 3 yang dilakukan 2 tahunan ini

terdapat 3 pengujian yaitu magger test, pentanahan dan uji counter dan

dari uji counter itu sendiri menhasilkan data yang mengindikasikan

kerusakan pada counter LA yang saat dilakukan pengujian, jarum

indikasi bergerak tapi jumlah angka pada counter tidak bertambah.

Salah satu faktor penyebabnya karena umur counter tersebut sudah

terlalu lama atau mendekati 10 tahun, maka segera dilakukan

penggantian counter supaya tidak membahayakan lightning arrester

itu sendiri dan peralatan yang lain di Gardu Induk.

5.2 Saran

5.2.1. Saran yang terkait Laporan

1. Sebaiknya saat pemeliharaan juga melakukan pengukuran

terhadap temperature LA menggukan thermalimage camera agar

tidak terjadi hal yang beresiko pada lingkungan sekitar ataupun

pada lightning arrester

5.2.2. Saran untuk PT. PLN ( Persero ) GI 150 KV Pandean Lamper

1. Sebaiknya dilakukan pengadaan mengenai buku referensi

tentang pemeliharaan baterai (penjelasan, tujuan, prinsip kerja,

karakteristik, gangguan, sistem pemeliharaan dll ) agar teknisi

dan mahasiswa PKL bisa mempelajari lebih mudah mengenai

materi tersebut.

61
2. Membuat akses untuk mahasiswa/siswa PKL mengenai laporan

yang telah dibuat sebelumnya sebagai referensi tambahan.

5.2.3. Saran untuk Universitas Semarang

1. Tetap menjalin hubungan baik antara perusahaan PT. PLN

(Persero) Gardu Induk 150 KV Pandean lamper dengan

Universitas Semarang sebagai sarana menambah ilmu dan

implementasi mahasiswa di lapangan.

2. Meningkatkan kerjasama antar instansi dan industri agar dapat

meningkatkan kualitas pembelajaran mengingat bahwa kualitas

pendidikan menjadi tanggung jawab bersama.

3. Perlu adanya penambahan kegiatan praktek di kampus, dan

fasilitas alat praktek di lab.

62
DAFTAR PUSTAKA

Buku Pedoman Batasan Operasi dan pemeliharaan Peralatan Penyaluran Tenaga


Listrik (Vols. 12-22/HARLUR-PST). (2010). Jakarta, Indonesia: PT. PLN
( Persero ).

60812, I. (2012). Analysis Techniques for System Reliability. Procedure for


Failure Mode Effect Analysis (FMEA).
A. Sintianingrum, Y. M. (vol. 10, no. 1, 2016). Teori “Simulasi Tegangan Lebih
Akibat Sambaran Petir terhadap PenentuanJarak Maksimum untuk
Perlindungan Peralatan pada Gardu Induk”.
Herdiyanto Nugroho, Muhammad Saefudin. (2019). Prosedur Quality Control
Panel Proteksi Bus Coupler 150 KV Project Gardu Induk Kupang PT.
Siemens Indonesia. Prosiding seminar Nasional Teknik Elektro Volume 4,
101-110.

Hinrichsen, V. (2010). Metal-Oxide Surge Arresters Fundamentals. Berlin:


Siemens Book 1st Edition.
Janter Napitupulu, Yahya Ginting, Martopo Lumban. (2015). Keandalan Peralatan
Pengaman Jaringan Distribusi Pada PT.PLN Rayon Medan Timur.
Teknologi Energi Uda Vol.VII no.2, 50-82.
Marco Gunawan, Julius Santosa. (2013). Analisa Perancangan Gardu Induk
Sistem Outdoor 150 KV Di Tallasa, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Dimensi Teknik Elektro Vol. 1, 37-42.

Muhammmad Arief, (2019). Analisis Uji Kapitalis Baterai 110 VDC Pada Gardu
Induk 150 KV. Surakarta: Universitas Muhammadiyah.
Pujotomo Isworo, (2016). Implementasi Sistem SCADA Untuk Pengendalian
Jarian Distribusi 20 KV. Kajian Teknik Elektro Vol.1 No.1, 51-66.
Putra, I. J. (2019). Analisis Pemeliharaan dan Penempatan Lightning Arrester
Bay Bawen 2 Gardu Induk 150 KV. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Rendro Dharu, (2016). Studi keandalan Penggunaan Cubikel 20 KV Double
Incoming Dengan Perencanaan Setting ATS Untuk Optimalisasi
Pembebanan Pelanggan Diatas 1 MVA Pada PLN APJ Surakarta.
Surakarta: Universitas Muhammadiyah.
Rusdjaja,Tatang, (2010). Buku Pedoman Pemeliharaan Lightning Arrester ( LA )
(Vol. PDM/PGI/12). Jakarta, Indonesia: PT. PLN ( Persero ).

63
Sagam Robaga, Arief Setyo. (2010). Buku Pedoman Pemeliharaan Pemutus
Tenaga (PMT). Jakarta: PT.PLN Persero.

Salam Abdul. (2010). Buku Pedoman Pemeliharaan Trafo Arus (CT). Jakarta:
PT.PLN Persero.
Soni Irwansyah, Musfar Ferdian. (2010). Buku Pedoman Pemeliharaan
Traformator atau Trafo. Jakarta: PT.PLN Persero.

64
LAMPIRAN

Lampiran 1 Data Hasil Pengukuran Inspeksi Level 3

65
LAMPIRAN

Lampiran 2 Kegiatan Praktek Kerja Lapangan

66
LAMPIRAN

Lampiran 3 Dokumentasi Praktek Kerja Lapangan

67