Anda di halaman 1dari 17

MASALAH KORUPSI DI INDONESIA BERKAITAN DENGAN ETIKA BISNIS

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS MATA KULIAH TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG
DI AMPU OLEH:

Dra. Susilatri , MM.,Ak.

DISUSUN OLEH:

AIZA RAHMADIA (1902110217)

DELLA INDRIANI (1902124321)

DINA AMELIA (1902112823)

MIA LESTARI (1902110313)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI S1

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS RIAU

2021

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur hanya tercurahkan untuk Allah SWT, karena dengan rahmat danhidayahNyalah makalah
ini dapat terselesaikan. Begitu juga Dialah yangmenselaraskan gerakan tangan dan pikiran kami
dalam rangkai kata menjadikalimat dalam pembuatan makalah ini.Segala sesuatu yang benar dalam
makalahini semua datangnya dari Allah SWT dan segala kekeliruan dalam pembuatanmakalah ini,
semua datang dari diri kami sendiri sebagai pembuat makalah.

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai tugas yang diberikan oleh dosen pengajar mata
kuliah yang Tata Kelola Perusahaankepada kami paramahasiswa sekaligus sebagai pembelajaran
atau referensi tambahan untuk kamisebagai mahasiswa agar dapat memahami dan mengerti materi
dari mata kulaihTata Kuliah Perusahaanyaitu membahas mengenai “MASALAH KORUPSI DI
INDONESIA YANG BERKAITAN DENGAN ETIKA BISNIS”.

Kami menerima dengan senang hati atas segala masukan baik langsungmaupun tidak
langsung,karena itu kritik dan saran selalu kami nantikan. Denganadanya kritik dan saran akan
sangat berguna sebagai pembelajaran dikemudianhari agar kami dapat lebih mengerti dan paham
mengenai materi yang kamisampaikan. Kami sadar sebagai mahasiswa kami masih memiliki
keterbatasanilmu dan juga masih banyak ilmu yang kami belum ketahui dan juga belum kami
mengerti

Pekanbaru ,29 Mei 2021

Kelompok 3

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................................2

DAFTAR ISI.................................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................................4

1. Latar belakang........................................................................................................4
2. Rumusan masalah...................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................................6

1. Pengertian korupsi........................................................................................................6
2. Sebab-sebab yang melatar belakangi korupsi..................................................................7
3. Akibat dari korupsi........................................................................................................8
4. Bentuk-bentuk korupsi di indonesia................................................................................9
5. Cara memberantas tindak pidana korupsi.......................................................................10
6. Hubungan antara korupsi dan etika bisnis.......................................................................11
7. Kasus Mega Korupsi PT Asuransi Jiwasraya dari Perspektif Paham Utilatarianisme............11

BAB III PENUTUP....................................................................................................................12

1. Kesimpulan.................................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................17

3
BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Korupsi dapat terjadi karena beberapa factor yang mempengaruhi pelaku korupsi itu sendiri
atau yang biasa kita sebut koruptor. Adapun sebab-sebabnya,antara lain:
1. Klasik
• Ketiadaan dan kelemahan pemimpin. Ketidak mampuan pemimpin untuk menjalankan
tugas dan tanggung jawabnya, merupakan peluang bawahan melakukan korupsi. Pemimpin
yang bodoh tidak mungkin mampu melakukan kontrol manajemen lembaganya. Kelemahan
pemimpin ini juga termasuk keleadershipan, artinya, seorang pemimpin yang tidak memiliki
karisma, akan mudah dipermainkan anak buahnya. Leadership dibutuhkan untuk
menumbuhkan rasa takut dikalangan staf untuk melakukan penyimpangan.
• Kelemahan pengajaran dan etika. Hal ini terkait dengan sistem pendidikan dan substansi
pengajaran yang diberikan. Pola pengajaran etika dan moral lebih ditekankan pada
pemahaman teoritis, tanpa disertai dengan bentuk-bentuk pengimplementasiannya.
• Kolonialisme dan penjajahan. Penjajah telah menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang
tergantung, lebih memilih pasrah dari pada berusaha dan senantiasa menempatkan diri
sebagai bawahan. Sementara, dalam pengembangan usaha, mereka lebih cenderung
berlindung di balik kekuasaan (penjajah) dengan melakukan kolusidan nepotisme. Sifat dan
kepribadian inilah yang menyebabkan munculnya kecenderungan sebagian orang melakukan
korupsi.
•Rendahnya pendidikan. Masalah ini sering pula sebagai penyebab timbulnya korupsi.
Minimnya ketrampilan, skill, dan kemampuan membuka peluang usaha adalah wujud
rendahnya pendidikan. Dengan berbagai keterbatasan itulah mereka berupaya mencari
peluang dengan menggunakan kedudukannya untuk memperoleh keuntungan yang besar.
• Kemiskinan. Keinginan yang berlebihan tanpa disertai instropeksi diriataskemampuan dan
modal yang dimiliki mengantarkan seseorangcenderungmelakukan apa saja yang dapat
mengangkat derajatnya.Atas keinginannyayang berlebihan ini, orang akan
menggunakankesempatan untuk mengerukkeuntungan yang sebesar-besarnya.
• Tidak adanya hukuman yang keras, seperti hukuman mati, seumurhidup ataudi buang ke
Pulau Nusakambangan. Hukuman sepertiitulah yang diperlukanuntuk menuntaskan tindak
korupsi.
• Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku korupsi

ii. Modern
a) Rendahnya Sumber Daya Manusia. Penyebab korupsi yang tergolong modern itu sebagai
akibat rendahnya sumber daya manusia. Kelemahan SDM ada empat komponen,
sebagai berikut:
Bagian kepala, yakni menyangkut kemampuan seseorangmenguasai permasalahan yang
berkaitan dengan sains dan knowledge.

4
Bagian hati, menyangkut komitmen moral masing-masingkomponen bangsa, baik dirinya
maupun untuk kepentinganbangsa dan negara, kepentingan duniausaha, dan
kepentinganseluruh umat manusia.komitmen mengandungtanggung jawabuntuk melakukan
sesuatu hanya yang terbaik danmenguntungkansemua pihak.
Aspek skill atau keterampilan, yakni kemampuan seseorangdalammenjalankan tugas dan
tanggung jawabnya.Fisik atau kesehatan. Inimenyangkut kemanpuan seseorangmengemban
tanggung jawab yangdiberikan. Betapa punmemiliki kemampuan dan komitmen tinggi,
tetapi bilatidak ditunjang dengan kesehatan yang prima, tidak mungkin standar dalam
mencapai tujuan.
b) Struktur Ekonomi Pada masa lalu struktur ekonomi yang terkait dengan kebijakan
ekonomi dan pengembangannya dilakukan secara bertahap. Sekarang tidak ada konsep
itu lagi. Dihapus tanpa ada penggantinya,sehingga semuanya tidak karuan, tidak dijamin.
Jadi, kitaterlalumemporak-perandakan produk lama yang bagus.

2.RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah:

a. Apa itu korupsi?


b. Apa yang melatar belakangi korupsi?
c. Akibat dari korupsi?
d. Bentuk-bentuk korupsi di indonesia?
e. Cara memberantas tindak pidana korupsi?
f. Hubungan antara korupsi dan etika bisnis?
g. Kasus Mega Korupsi PT Asuransi Jiwasraya dari Perspektif Paham Utilatarianisme?

5
BAB II

PEMBAHASAN

“MASALAH KORUPSI DI INDONESIA BERKAITAN DENGAN ETIKA BISNIS”

A. Pengertian Korupsi

Menurut Prof. Subekti, korupsi adalah suatu tindak pidana yang memperkaya diri yang
secara langsung merugikan negara atau perekonomian negara. Jadi, unsur dalam perbuatan korupsi
meliputi dua aspek. Aspek yang memperkayadiri dengan menggunakan kedudukannya dan aspek
penggunaan uang negara untuk kepentingannya. Sementara itu, Syed Hussen Alatas memberi
batasan bahwa korupsi merupakan suatu transaksi yang tidak jujur yang dapat menimbulkan
kerugian uang,waktu, dan tenaga dari pihak lain.

Adapun ciri-ciri korupsi, antara lain:

1. Melibatkan lebih dari satu orang. Setiap perbuatan korupsi tidak mungkun dilakukan sendiri, pasti
melibatkan lebih dari satu orang.

2. Serba kerahasiaan. Meski dilakukan bersama-sama, korupsi dilakukan dalam koridor kerahasiaan
yang sangat ketat. Masing-masing pihak yang terlibat akan berusaha semaksimal mungkin menutupi
apa yang telah dilakukan.

3. Melibatkan elemen perizinan dan keuntungan timbal balik. Yang dimaksud elemen perizinan
adalah bidang strategis yang dikuasai oleh negara menyangkut pengembangan usaha tertentu.
Misalnya izin mendirikan bangunan, izin perusahaan,dan lain-lain.

4. Selalu berusaha menyembunyikan perbuatan/maksud tertentu dibalik kebenaran.

5. Koruptor menginginkan keputusan-keputusan yang tegas dan memiliki pengaruh. Senantiasa


berusaha mempengaruhi pengambil kebijakan agar berpihak padanya. Mengutamakan
kepentingannya dan melindungi segala apa yang diinginkan.

6. Tindakan korupsi mengundang penipuan yang dilakukan oleh badan hukum publik dan
masyarakat umum. Badan hukum yang dimaksud suatu lembaga yang bergerak dalam pelayanan
publik atau penyedia barang dan jasa kepentingan publik.

7. Setiap tindak korupsi adalah pengkhianatan kepercayaan. Ketika seseorang berjuang meraih
kedudukan tertentu, dia pasti berjanji akan melakukan hal yang terbaik untuk kepentingan semua
pihak. Tetapi setelah mendapat kepercayaan kedudukan tidak pernah melakukan apa yang telah
dijanjikan.

8. Setiap bentuk korupsi melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif darikoruptorsendiri. Sikap
dermawan dari koruptor yang acap ditampilkan dihadapan publik adalah bentuk fungsi ganda yang
kontradiktif. Disatupihak sang koruptor menunjukkan perilaku menyembunyikan tujuan untuk
menyeret semua pihak untuk ikut bertanggung jawab, di pihak lain dia menggunakan perilaku tadi
untuk meningkatkan posisi tawarannya.

6
B. Sebab-Sebab Yang Melatar Belakangi Korupsi

Korupsi dapat terjadi karena beberapa factor yang mempengaruhi pelaku korupsi itu sendiri
atau yang biasa kita sebut koruptor. Adapun sebab-sebabnya,antara lain:

1. Klasik
 Ketiadaan dan kelemahan pemimpin. Ketidak mampuan pemimpin untuk menjalankan
tugas dan tanggung jawabnya, merupakan peluang bawahan melakukan korupsi. Pemimpin
yang bodoh tidak mungkin mampu melakukan kontrol manajemen lembaganya. Kelemahan
pemimpin ini juga termasuk keleadershipan, artinya, seorang pemimpin yang tidak memiliki
karisma, akan mudah dipermainkan anak buahnya. Leadership dibutuhkan untuk
menumbuhkan rasa takut dikalangan staf untuk melakukan penyimpangan.
 Kelemahan pengajaran dan etika. Hal ini terkait dengan sistem pendidikan dan substansi
pengajaran yang diberikan. Pola pengajaran etika dan moral lebih ditekankan pada
pemahaman teoritis, tanpa disertai dengan bentuk-bentuk pengimplementasiannya.
 Kolonialisme dan penjajahan. Penjajah telah menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang
tergantung, lebih memilih pasrah dari pada berusaha dan senantiasa menempatkan diri
sebagai bawahan. Sementara, dalam pengembangan usaha, mereka lebih cenderung
berlindung di balik kekuasaan (penjajah) dengan melakukan kolusidan nepotisme. Sifat dan
kepribadian inilah yang menyebabkan munculnya kecenderungan sebagian orang
melakukan korupsi.
 Rendahnya pendidikan. Masalah ini sering pula sebagai penyebab timbulnya korupsi.
Minimnya ketrampilan, skill, dan kemampuan membuka peluang usaha adalah wujud
rendahnya pendidikan. Dengan berbagai keterbatasan itulah mereka berupaya mencari
peluang dengan menggunakan kedudukannya untuk memperoleh keuntungan yang besar.
 Kemiskinan. Keinginan yang berlebihan tanpa disertai instropeksi diriataskemampuan dan
modal yang dimiliki mengantarkan seseorangcenderungmelakukan apa saja yang dapat
mengangkat derajatnya.Atas keinginannyayang berlebihan ini, orang akan
menggunakankesempatan untuk mengerukkeuntungan yang sebesar-besarnya.
 Tidak adanya hukuman yang keras, seperti hukuman mati, seumurhidup ataudi buang ke
Pulau Nusakambangan. Hukuman sepertiitulah yang diperlukanuntuk menuntaskan tindak
korupsi.
 Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku korupsi

2. Modern

a) Rendahnya Sumber Daya Manusia. Penyebab korupsi yang tergolong modern itu sebagai
akibat rendahnya sumber daya manusia. Kelemahan SDM ada empat komponen, sebagai
berikut:
 Bagian kepala, yakni menyangkut kemampuan seseorangmenguasai permasalahan yang
berkaitan dengan sains dan knowledge.
 Bagian hati, menyangkut komitmen moral masing-masingkomponen bangsa, baik dirinya
maupun untuk kepentinganbangsa dan negara, kepentingan duniausaha, dan

7
kepentinganseluruh umat manusia.komitmen mengandungtanggung jawabuntuk melakukan
sesuatu hanya yang terbaik danmenguntungkansemua pihak.
 Aspek skill atau keterampilan, yakni kemampuan seseorangdalammenjalankan tugas dan
tanggung jawabnya.Fisik atau kesehatan. Inimenyangkut kemanpuan seseorangmengemban
tanggung jawab yangdiberikan. Betapa punmemiliki kemampuan dan komitmen tinggi,
tetapi bilatidak ditunjang dengan kesehatan yang prima, tidak mungkin standar dalam
mencapai tujuan.
b) Struktur Ekonomi Pada masa lalu struktur ekonomi yang terkait dengan kebijakan ekonomi
dan pengembangannya dilakukan secara bertahap. Sekarang tidak ada konsep itu lagi.
Dihapus tanpa ada penggantinya,sehingga semuanya tidak karuan, tidak dijamin. Jadi,
kitaterlalumemporak-perandakan produk lama yang bagus.
C. Akibat Dari Korupsi

Apapun alasannya, korupsi merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkandilihat dari aspek
manapun. Banyak kepentingan publik yang terbengkalai, jugakerugian negara yang sangat besar
akibat dari korupsi itu sendiri. Selain itu, korupsi juga memberikan dampak negatif di berbagai
bidang yang meliputi:

1) Bidang Demokrasi

Dampak akibat korupsi bagi negara yang utama adalah di bidang demokrasi.Bagi Anda yang
pernah menjadi Dewan Pemilih Tetap (DPT) saat pesta demokrasi (pemilu) berlangsung pasti pernah
mengetahui yang disebut “serangan fajar”. Sejumlah calon tetentu memberikan imbalan uang bagi
siapa saja yang memilihnyasaat pemilu, sehingga ia terpilih menduduki jabatan tertentu. Pemberian
imbalan uang tersebut sifatnya adalah sogokan. Beberapa memang tidak memberikan uang untuk
melancarkan jalannya menduduki suatu jabatan, namun ia memberikan barang tertentu kepada
masyarakat. Apapun bentuk sogokan yang diberikan tersebut adalah salah satu bentuk korupsi.
Sayangnya, masyarakat Indonesia kebanyakan tidak cukup cerdas untuk memikirkan dampak jangka
panjang jika mereka menerima sogokan tersebut.

2) Bidang Ekonomi

Maju tidaknya suatu negara biasa diukur dengan tingkat ekonomi negaratersebut. Dan
penelitian juga telah membuktikan, makin maju suatu negara biasanyadiikuti dengan makin
rendahnya tingkat korupsu negara tersebut. Korupsi memang biasa terjadi di negara-negara
berkembang. Maka tidak heran pula, jika negara-negara berkembang memilikiperekonomian yang
tidak baik dan relatif tidak stabil.

Bahkan pada beberapa kasus, sering ditemukan perusahaanperusahaan yang


memilikikoneksi dengan pejabat mampu bertahan dan dilindungi dari segalamacam persaingan.

3) Bidang Keselamatan dan Kesehatan Manusia

Anda mungkin masih mengingat robohnya jembatan Kutai Kertanegara. Masih ada kasus-
kasus lain mengenai kerusakan fasilitas publik yang jugamenimbulkan korban jiwa. Selain itu, ada
pula pekerja-pekerja fasilitas publik yang mengalami kecelakaan kerja. Ironisnya, kejadian tersebut
diakibatkan oleh korupsi.Bukan rahasia jika dana untuk membangun insfrastruktur publik
merupakan danayang sangat besar jika dilihat dalam catatan. Nyatanya, saat dana tersebut melewati

8
para pejabat-pejabat pemerintahan, dana tersebut mengalami pangkas sana-sinisehingga dalam
pengerjaan insfrastruktur tersebut menjadi minim keselamatan. Hal tersebut terjadi karena
tingginya resiko yang timbul ketika korupsi tersebutmemangkas dana menjadi sangat minim pada
akhirnya. Keselamatan para pekerja dipertaruhkan ketika berbagai bahan insfrstruktur tidak
memenuhi standar keselamatan karena minimnya dana.

4) Bidang Kesejahteraan Umum

Dampak korupsi dalam bidang ekonomi lainnya adalah tidak adanyakesejahteraan umum.
Anda pasti sering memperhatikan tayangan televisi tentang pembuatan peraturan baru oleh
pemerintah. Dan tidak jarang pula, ketikadicermati, peraturan-peraturan tersebut ternyata justru
lebih memihak pada perusahaan-perusahaan besar yang mampu memberikan keuntungan untuk
para pejabat.

Akibatnya, perusahaan-perusahaan kecil dan juga industri menengah tidakmampu bertahan


dan membuat kesejahteraan masyarakat umum terganggu. Tingkat pengangguran makin tinggi,
diikuti dengan tingkat kemiskinan yang juga semakin tinggi pula.

5) Pengikisan Budaya

Dampak ini bisa terjadi pada pelaku korupsi juga pada masyarakat umum.Bagi pelaku
korupsi, ia akan dikuasai oleh rasa tak pernah cukup. Ia akan terus-menerus melakukan upaya untuk
menguntungkan diri sendiri sehingga lambat laun iaakan menuhankan materi. Bagi masyarakat
umum, tingginya tingkat korupsi,lemahnya penegakan hukum, akan membuat masyarakat
meninggalkan budayakejujuran dengan sendirinya. Pengaruh dari luar akan membentuk kepribadian
yangtamak, hanya peduli pada materi, dan tidak takut pada hukum.

6) Terjadinya Krisis Kepercayaan

Dampak korupsi bagi negara yang paling penting adalah tidak adanyakepercayaan terhadap
lembaga pemerintah. Sebagai pengamat, masyarakat Indonesiasaat ini sudah semakin cerdas untuk
menilai sebuah kasus. Berdasarkan pengamatan,saat ini masyarakat Indonesia tidak pernah merasa
puas dengan tindakan hukumkepada para koruptor. Banyak koruptor yang menyelewengkan materi
dalam jumlahyang tidak sedikit, namun hanya memperoleh hukuman tidak seberapa.
Akibatnya,rakyat tidak lagi percaya pada proses hukum yang berlaku. Tidak jarang pulamasyarakat
lebih senang main hakim sendiri untuk menyelesaikan sebuah kasus. Haltersebut sebenarnya
merupakan salah satu tanda bahwa masyarakat Indonesia sudahtidak percaya dengan jalannya
hukum, terutama dengan berbagai tindakan yangdiambil oleh pemerintah dalam menangani kasus
korupsi.

D. Bentuk-Bentuk Korupsi Di Indonesia

1. korupsi kecil-kecilan (petty corruption) dan korupsi besar-besaran (grandcorruption).

korupsi kecil-kecilan merupakan bentuk korupsi sehari-hari dalam pelaksanaan suatu


kebijakan pemerintah. korupsi ini biasanya cenderung terjadi saat petugas bertemu langsung dengan
masyarakat. korupsi ini disebut juga dengan nama korupsi rutin (routine corruption) atau korupsi

9
untuk bertahan hidup (survivalcorruption). korupsi kecil-kecilan umumnya dijalankan oleh para
pejabatjuniordanpejabat tingkat bawah sebagai pelaksana fungsional.

contohnya adalah pungutanuntuk mempercepat proses pencairan dana yang terjadi di kppn.
sedangkan korupsi besar-besaran umumnya dijalankan oleh pejabat level tinggi, karena korupsi jenis
inimelibatkan uang dalam jumlah yang sangat besar. korupsi ini terjadisaatpembuatan, perubahan,
atau pengecualian dari peraturan. contohnya adalah pemberian pembebasan pajak bagi perusahaan
besar.

2. Penyuapan(bribery)

bentuk penyuapan yang biasanya dilakukan dalam birokrasi pemerintahan diindonesia


khususnya di bidang atau instansi yang mengadministrasikan penerimaannegara (revenue
administration) dapat dibagi menjadi empat, antara lain:

 pembayaran untuk menunda atau mengurangi kewajiban bayar pajak dancuka


 pembayaran untuk meyakinkan petugas agar tutup mata terhadap kegiatan ilegal
 pembayaran kembali (kick back) setelah mendapatkan pembebasan pajak, agar dimasa
mendatang mendapat perlakuan yang lebih ringan daripada administrasi normal
 pembayaran untuk meyakinkan atau memperlancar proses penerbitan ijin (license)dan
pembebasan (clearance)
3. penyalahgunaan / penyelewengan ( misappropriation)

penyalahgunaan / penyelewengan dapat terjadi bila pengendalian administrasi (check and


balances)dan pemeriksaan serta supervisi transaksi keuangan tidak berjalan dengan baik. contohdari
korupsi jenis ini adalah pemalsuan catatan, klasifikasi barang yang salah, sertakecurangan (fraud)

4. penggelapan (embezzlement) korupsi ini adalah dengan menggelapkan ataumencuri uang


negara yang dikumpulkan, menyisakan sedikit atau tidak sama sekali.

5. pemerasan (extortion). pemerasan ini terjadi ketika masyarakat tidakmengetahui tentang


peraturan yang berlaku, dan dari celah inilah para petugasmelakukan pemerasan dengan menakut-
nakuti masyarakat untuk membayar lebihmahal daripada yang semestinya.

6. perlindungan (patronage) perlindungan dilakukan termasuk dalam hal pemilihan, mutasi,


atau promosi staf berdasarkan suku, kinship, dan hubungan sosiallainnya tanpa mempertimbangkan
prestasi dan kemampuan dari seseorang tersebut

E. Cara Memberantas Tindak Pidana Korupsi

a) Strategi Preventif Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan dengan diarahkan pada hal-
halyang menjadi penyebab timbulnya korupsi. Setiap penyebabyangterindikasi harus dibuat
upaya preventifnya, sehingga dapatmeminimalkanpenyebab korupsi. Disamping itu perlu
dibuat upaya yangdapatmeminimalkan peluang untuk melakukan korupsi dan
upayainimelibatkan banyak pihak dalam pelaksanaanya agar dapat berhasildanmampu
mencegah adanya korupsi.
b) Strategi Deduktif Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengandiarahkan
agarapabila suatu perbuatan korupsi terlanjur terjadi, maka perbuatan tersebutakan dapat

10
diketahui dalam waktu yang sesingkat-singkatnya danseakurat-akuratnya, sehingga dapat
ditindaklanjuti dengantepat. Dengandasar pemikiran ini banyak sistem yang harus
dibenahi,sehingga sistem-sistem tersebut akan dapat berfungsi sebagai aturan yangcukup
tepatmemberikan sinyal apabila terjadi suatu perbuatan korupsi. Hal
inisangatmembutuhkan adanya berbagai disiplin ilmu baik itu ilmuhukum,ekonomi maupun
ilmu politik dan sosial.
c) Strategi Represif Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengandiarahkanuntuk
memberikan sanksi hukum yang setimpal secara cepat dantepatkepada pihak-pihak yang
terlibat dalam korupsi. Dengan dasar pemikiranini proses penanganan korupsi sejak dari
tahap penyelidikan, penyidikandan penuntutan sampai dengan peradilan perlu dikaji
untukdapatdisempurnakan di segala aspeknya, sehingga proses penanganantersebutdapat
dilakukan secara cepat dan tepat. Namun implementasinyaharusdilakukan secara
terintregasi.Bagi pemerintah banyak pilihan yang dapat dilakukan sesuai denganstrategi
yang hendak dilaksanakan. Bahkan darimasyarakat dan parapemerhati / pengamat masalah
korupsi banyak memberikan sumbangan.

F. Hubungan Antara Etika Bisnis Dan Korupsi

Praktek korupsi yang banyak terjadi merupakan salah satu dari pelanggaran etika bisnis. Etik
bisnis menyangkut moral, kontak social, hak dan kewajiban, prinsip-prinsip dan auturan. Jika aturan
secara umum mengenai etika mengatakan bahwa praktek korupsi adalah tindakan yang tidak
bermoral dan tidak beretika, maka setiap insan bisnis yang tidak jujur, pelanggan, kreditor,
pemegang saham, maupun masyarakat, maka ia dikatakan tidak etis dan tidak bermoral.

G. Kasus Mega Korupsi PT Asuransi Jiwasraya dari Perspektif Paham Utilatarianisme

Menurut paham Utilitarianisme , bahwa bisnis adalah etis apabila kegiatan tersebut dapat
memberikan manfaat bagi konsumen dan masyarakat secara luas. Artinya, kegiatan bisnis dianggap
baik apabila dalam praktiknya bisnis tersebut dapat menghasilkan berbagai hal yang baik, bukan
sebalik nya menimbulkan kerugian. Nilai positif etika utilitarianisme adalah pada rasionalitas dan
universalitasnya. Rasionalnya adalah kepentingan orang banyak lebih berharga daripada
kepentingan individual. Berbisnis untuk keuntungan individu dan di saat yang b ersamaan
menyejahterakan masyarakat luas adalah pekerjaan profesional sangat mulia. Secara logika
universil, semua pebisnis dunia saat ini berlomba lomba menyejahterakan dunia secara universil
selain membuat diri mereka menjadi kaya sebagaimana yang dilaku kan oleh pebisnis lain didunia.

JS saving Plan yang dikeluarkan oleh PT Asuransi Jiwasraya (AJS) dari sisi rasionalitas
tentunya memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu memberikan program perlindungan terhadap
nasabah dalam bentuk simpanan dengan manfaat y ang tinggi. Program tersebut selanjutnya
mendapat sambutan yang sangat positif, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama masyarakat
membeli program JS saving Plan tersebut. Tingginya manfaat JS saving Plan tentunya diikuti
dengan besarnya biaya yang ha rus dibayar kepada nasabah peserta program tersebut. Apabila dana
yang masuk diinvestasikan pada saham atau reksadana lapis satu atau dijuluki sebagai Blue Chips
atau First L iner tentu gain nya tidak bisa menutup biaya JS saving Plan tersebut. Sebab saham
tersebut volatilitas harga yang tidak terlalu tinggi serta tidak banyak terlalu terpengaruh dengan
gejolak pasar karena perusahaan dengan saham ini memiliki kinerja yang baik. Di samping itu,
fundamental saham ini terbilang kuat sehingga sulit untuk “digo reng”. Di samping itu Saham Lapis

11
Satu juga memiliki pergerakan harga yang tidak terlalu fluktuatif. Karena itu, banyak analis yang
menganggap bahwa Saham Lapis Satu adalah saham yang paling aman.

Manajemen AJS akhirnya menempatkan dananya pada saham lapis tiga atau sering disebut
sebagai juga sebagai junk stocks atau small - cap stocks . Saham - saham pada kategori ini memiliki
volatilitas harga yang tinggi. Saham Lapis Tiga menjadi incaran spekulan karena bisa dipermainkan
sehingga harganya melonjak. Pada situ asi tersebut, spekulan mengambil keuntungan. Oleh karena
itu, saham ini bisa dikatakan sebagai “saham gorengan”.

Pada kenyataannya, harapan manajemen ternyata tidak terbukti, karena justru nilai saham
di mana dana JS saving Plan ditanamkan, terus merosot sehingga menyebabkan kerugian hingga
triliunan rupiah. Akibatnya yang dirugikan adalah para nasabah JS secara keseluruhan, karena
mereka tidak dapat menarik dananya kembali.

Apabila dikaitkan dengan paham utilitarian, maka manaj emen PT Asuransi Jiwasraya
dianggap tidak melaksanakan etika bisnis dengan baik, karena telah merugikan nasabahnya serta
mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap produk asuransi secara keseluruhan. Hal ini
disebabkan karena manajemen Jiwasraya telah memb uat produk asuransi yang hanya memberikan
manfaat semu dan juga tidak hati - hati dalam mengambil keputusan investasi.

1. Kajian Kasus Mega Korupsi PT Asuransi Jiwasraya Secara Epistemologi

Kasus Jiwasraya dilihat dari teori keagenan, pemegang Jiwasraya, dalam hal ini adalah
Pemerintah, menuntut perusahaan tersebut memiliki kinerja yang baik dengan ditunjukkan adanya
keuntungan yang dibukukan oleh perusahaan. Namun pada kenyataannya sejak tah un 2002, kinerja
keuangan PT Asuransi Jiwasraya mengalami kerugian. Hal ini tentu saja berdampak pada
pembayaran dividen yang seharusnya diterima oleh pemegang saham. Dewan Direksi menjadi pihak
yang harus bertanggung jawab atas perolehan kerugian tersebut . Beberapa kali pemegang saham
mengganti jajaran Direksi PT Asuransi Jiwasraya dengan harapan dapat memperbaiki kinerja
perusahaan. Tantangan ini bukan dijawab dengan memperbaiki operasional PT Asuransi Jiwasraya,
jajaran Direksi membiarkan terjadinya mani pulasi laba di tahun 2006 dan menjadi temuan Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK). Dewan Direksi PT Asuransi Jiwasraya (AJS) juga menjawab target yang
dibebankan dari pemegang saham dengan meluncurkan suatu produk asuransi di tahun 2015 yaitu
JS saving Plan . Produk ini menjanjikan tingkat imbal hasil yang tinggi, bahkan melampaui
tingkat suku bunga deposito saat itu. Prediksi manajemen terlaksana, banyak dana terkumpul dari
program ini. Namun pihak manajemen investasi justru menempatkan investasi pada saham -
saham berkualitas kurang baik. Untuk menutupi kesalahan tersebut, Manajemen AJS melalui
Direktur Keuangan tidak mencatat kekurangan pencadangan senilai 7,7 triliun rupiah di tahun 2017
sehingga kembali memperoleh opini tidak wajar dari BPK. Jika cadangan terseb ut dilakukan,
maka AJS akan membukukan kerugian. Upaya tersebut dilakukan manajemen salah satunya
karena adanya kepentingan sendiri agar dapat memenuhi target pemegang saham.

Pemicu fraud yang dilakukan oleh Dewan Direksi dan jajaran Manajemen AJS ditinjau dari
teori fraud diamond antara lain adalah:

1) pressure atau tekanan.

12
Pemerintah sebagai pemegang saham telah menentukan target yang fantastis yang bisa
jadi bertujuan memperbaiki kinerja keuangan dalam waktu singkat. Pemegang saham
tidak menyadari targe yang fantastis dapat memicu BOD melakukan hal - hal bersifat
manipulative. Selain itu target investasi yang ditentukan dalam rangka memenuhi janji
memberikan tingkat imbal hasil yang tinggi, membuat manajer investasi mengambil
langkah dengan menggoreng sah am demi memperoleh keuntungan dari saham - saham
berkualitas rendah.
2) Opportunity atau kesempatan, dilakukan oleh manajer investasi yang memiliki
3) Capability dalam membaca peluang melakukan fraud tersebut. Karena Manajer
investasi merupakan orang - orang y ang memiliki keahlian dalam berinvestasi dan mereka
mampu melihat peluang yang ada, namun keahlian ini disalahgunakan untuk
kepentingan pribadi.
4) Rationalization atau rasionalisasi. BOD menganggap apa yang dilakukan adalah sesuatu hal
yan g tidak melanggar hukum, karena upaya tersebut dilakukan dalam rangka
memenuhi target yang diinginkan oleh para nasabah.
2. Pelanggaran Etika Bisnis Kasus Mega Korupsi Jiwasraya

Penyebab kerugian AJS antara lain bersumber dari pertimbangan bisnis di mana A JS
menempatkan dananya pada saham - saham yang memiliki volatility cukup tinggi di mana
ternyata di kemudian hari harganya jatuh. Terkait dengan pertimbangan bisnis tersebut
terdapat beberapa hal yang menjadi concern yakni adanya pelanggaran etika bisnis seb agai
berikut:

1) Investasi saham dalam jumlah besar yang bersumber dari premi para pemegang polis pada
saham - saham berkualitas rendah. Seharusnya dalam mengelola dana nasabah dituntut kejujuran,
kehati - hatian, transparansi dan tanggung jawab moral.

2) Pemberian harapan semu kepada pada pemegang polis melalui janji memberikan tingkat
imbal hasil dengan nilai di atas nilai imbal hasil investasi lain seperti deposito.

3) Adanya informasi yang tidak diungkapkan kepada para pemegang polis terkait
mengapa klaim pemegang polis atas produk asuransi AJS tidak dapat dicairkan.

Pertimbangan tersebut tidak terlepas dari perilaku manajemen dalam penetapan


kebijakan, pengambilan keputusan dan operasional perusahaan yang diduga dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Faktor per tama adanya tekanan yang bersumber dari kondisi keuangan
perusahaan yang buruk dan kewajiban untuk memenuhi mandat pemegang saham untuk
menghasilkan deviden. Faktor kedua adalah self interest , agar terlihat berprestasi dengan
menyelesaikan permasalahan keu angan secara cepat melalui jalan pintas, agar masa jabatan dapat
diperpanjang dan juga kesempatan untuk menerima bonus yang lebih besar. Kedua faktor
tersebut menyebabkan manajemen yang seharusnya berpikir secara rasional dan bertanggung
jawab, menjadi tid ak rasional. Mengutip teori behavioral economic , dalam kasus JWS terbatasnya
rasionalitas manajemen yang mendorong terjadinya systemic thinking error yang ditunjukkan
antara lain melalui perilaku cognitive bias .

Oleh karena itu, pengendalian perilaku manaj emen dalam penetapan kebijakan, pengambilan
keputusan dan operasional perusahaan harus dijaga agar tetap obyektif, yaitu dengan menjaga:

13
1) Integritas pemegang amanah (pemegang saham, manajemen dan pegawai)

2) Profesionalisme manajemen dan pegawai

3) Ketaatan manajemen dan pegawai pada etika profesi

4) Track record senantiasa baik

5) Keterbukaan informasi

6) Pengawasan OJK

7) Tata kelola perusahaan ( Good Corporate Governance /GCG)

Hal lain yang cukup penting terkait dengan kasus mega korupsi Jiwasraya selalu dika
itkan dengan peran OJK sebagai otoritas pengawas lembaga keuangan. Seperti diketahui, dalam
menjalankan lembaganya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertujuan agar keseluruhan kegiatan di
dalam sektor jasa keuangan:

1) Terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel,

2) Mampu mewujudkan sis tem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil,
dan

3) Mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
mempunyai fungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi
terhadap keseluruhan kegia tan di sektor jasa keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mempunyai tugas melakukan pengaturan dan
pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, sektor Pasar Modal, dan sektor
Institusi Keuangan Non bank (IKNB). Dilihat dari tugasnya sebagai pengawas kegiatan jasa keuangan,
maka keberadaan OJK dalam mega kasus Jiwasraya banyak dipertanyakan publik. Terlebih
kasus ini sebenarnya sudah terdeteksi beberapa tahun lalu atau cukup memakan waktu yang
panjang untuk diawasi. Namun demikian ter lepas dari opini - opini publik yang masih
perlu diuji kebenarannya, secara fundamental kasus gagal bayarnya Jiwasraya ini karena
penerapan Good Corporate Governance (GCG) dalam mengelola perusahaan tidak diterapkan
dengan baik dan benar oleh pimpinan Jiwasr aya sesuai dengan aturan yang sudah ada yaitu
POJK Nomor 73/POJK.05/2016 tentang Tata Kelola Perusahaan yang Baik bagi Perusahaan
Perasuransian.
3. Solusi - Solusi Yang Ditawarkan Dalam Menyikapi Kasus Mega Korupsi Jiwasraya

Beberapa solusi sebagai upaya untuk mendorong tetap terjaganya integritas,


profesionalisme, track record dan etika profesi adalah dengan:

1) Membangun budaya perusahaan ( corporate culture ), melalui contoh perilaku


pimpinan ( role model /patron)

2) Menerapkan Material Risk Taker Policy dalam pemberian bonus, dimana


pelaksanaan pemberian bonus tidak sekaligus, namum diberikan secara bertahap dalam beberapa
tahun untuk meyakini bahwa kinerja portfolio yang dihasilkan tersebut berkesinambungan

14
(bukan one - time profit ) yang dihasilkan dari k ebijakan, keputusan dan kegiatan operasional
usaha yang proper.

3) Pelaksanaan Good Corporate Governance yang mengacu kepada POJK Nomor


73/POJK.05/2016 tentang Tata Kelola Perusahaan yang Baik bagi Perusahaan Perasuransian.
Penerapan tata kelola perusahaan ya ng baik berkaitan erat dengan kredibilitas perusahaan yang
menjalankan serta iklim perekonomian di suatu negara. Pesatnya perkembangan industri
perasuransian harus didukung dengan iklim yang kondusif. Dalam rangka menunjang
pencapaian iklim usaha yang kond usif serta persaingan usaha yang sehat, maka penting bagi
industri perasuransian untuk menerapkan tata kelola perusahaan yang baik. Penerapan tata
kelola perusahaan yang baik oleh industi perasuransian tersebut menjadi salah satu bagian
penting dalam menan gani risiko. Apabila penerapan tata kelola Perusahaan Perasuransian dapat
berjalan dengan baik, maka manajemen risiko juga akan berjalan dengan efektif. Pelaksanaan
Good Corporate Governance perusahaan paling tidak harus memperhatikan beberapa hal,
antara lain:

a) Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi, Dewan Komisaris ;

b) Kelengkapan dan pelaksanaan tugas Komite Audit;

c) Penerapan fungsi kepatuhan, auditor internal dan eksternal;

d) Penerapan manajemen risiko, termasuk sistem pengendalian internal;

e) Rencana strategis Perseroan; dan Pelaksanaan transparansi kondisi keuangan dan non
keuangan Perseroan.

Apabila Asuransi Jiwasraya sebelumnya sudah konsisten men jalankan tata kelola
perusahaan yang baik sesuai dengan peraturan yang sudah ada maka kecil kemungkinan
terjadi kasus gagal bayar yang nilainya sangat besar ini.

15
BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Menurut Prof. Subekti, korupsi adalah suatu tindak pidana yang memperkaya diri yang secara
langsung merugikan negara atau perekonomian negara. Jadi, unsur dalam perbuatan korupsi
meliputi dua aspek. Aspek yang memperkayadiri dengan menggunakan kedudukannya dan aspek
penggunaan uang negara untuk kepentingannya. Sementara itu, Syed Hussen Alatas memberi
batasan bahwa korupsi merupakan suatu transaksi yang tidak jujur yang dapat menimbulkan
kerugian uang,waktu, dan tenaga dari pihak lain.

Adapun ciri-ciri korupsi, antara lain:

1. Melibatkan lebih dari satu orang. Setiap perbuatan korupsi tidak mungkun dilakukan
sendiri, pasti melibatkan lebih dari satu orang.
2. Serba kerahasiaan. Meski dilakukan bersama-sama, korupsi dilakukan dalam koridor
kerahasiaan yang sangat ketat. Masing-masing pihak yang terlibat akan berusaha
semaksimal mungkin menutupi apa yang telah dilakukan.
3. Melibatkan elemen perizinan dan keuntungan timbal balik. Yang dimaksud elemen
perizinan adalah bidang strategis yang dikuasai oleh negara menyangkut pengembangan
usaha tertentu. Misalnya izin mendirikan bangunan, izin perusahaan,dan lain-lain.
4. Selalu berusaha menyembunyikan perbuatan/maksud tertentu dibalik kebenaran.
5. Koruptor menginginkan keputusan-keputusan yang tegas dan memiliki pengaruh.
Senantiasa berusaha mempengaruhi pengambil kebijakan agar berpihak padanya.
Mengutamakan kepentingannya dan melindungi segala apa yang diinginkan.
6. Tindakan korupsi mengundang penipuan yang dilakukan oleh badan hukum publik dan
masyarakat umum. Badan hukum yang dimaksud suatu lembaga yang bergerak dalam
pelayanan publik atau penyedia barang dan jasa kepentingan publik.
7. Setiap tindak korupsi adalah pengkhianatan kepercayaan. Ketika seseorang berjuang
meraih kedudukan tertentu, dia pasti berjanji akan melakukan hal yang terbaik untuk
kepentingan semua pihak. Tetapi setelah mendapat kepercayaan kedudukan tidak pernah
melakukan apa yang telah dijanjikan.
8. Setiap bentuk korupsi melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif darikoruptorsendiri.
Sikap dermawan dari koruptor yang acap ditampilkan dihadapan publik adalah bentuk
fungsi ganda yang kontradiktif. Disatupihak sang koruptor menunjukkan perilaku
menyembunyikan tujuan untuk menyeret semua pihak untuk ikut bertanggung jawab, di
pihak lain dia menggunakan perilaku tadi untuk meningkatkan posisi tawarannya.

16
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/36055769/MAKALAH_ETIKA_BISNIS_KORUPSI

Nurvita, Tita. 2020. Fraud Ditinjau dari Falsafah Sains dan Etika Bisnis Kasus Mega Korupsi Pt
Asuransi Jiwasraya. Jurnal Manajemen Bisnis, Vol. 23 No. 1, hal: 37-39.

17