LP Stroke Ilma Fitrianti
LP Stroke Ilma Fitrianti
OLEH :
ILMA FITRIANTI,S.KEP
NIM : 2014901091
( ……………………………….. ) ( ……………………………………… )
1
LAPORAN PENDAHULUAN STROKE ISKEMIK
A. Pengertian
Stroke atau cerebrovaskular accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak (Smeltzer & Bare, 2012:2131).
Secara garis besar stroke dibagi menjadi dua golongan yaitu stroke perdarahan dan stroke
iskemik (Irfan, 2018:69).
Stroke iskemik terjadi sekitar 80% sampai 85 % dari total insden stroke yang
diakibatkan obstruksi atau bekuan di satu atau lebih arteri besar pada sirkulasi serebrum.
Obstruksi ini dapat disebabkan karena adanya bekuan (trombus) yang terbentuk di dalam
pembuluh otak atau pembuluh atau organ distal.
Stroke iskemik adalah stroke yang disebabkan adanya obtruksi dari pembuluh darah
oleh plak aterosklerotik, bekuan darah atau kombinasi keduanya sehingga menghambat
aliran darah ke area otak.
Stroke iskemik mempunyai berbagai etiologi, tetapi pada prinsipnya disebabkan oleh
aterotrombosis atau emboli, yang masing-masing akan mengganggu atau memutuskan aliran
darah otak atau cerebral blood flow (CBF). Nilai normal CBF adalah 50–60 ml/100
mg/menit. Iskemik terjadi jika CBF < 30 ml/100mg/menit. Jika CBF turun sampai < 10
ml/mg/menit akan terjadi kegagalan homeostasis, yang akan menyebabkan influx kalsium
secara cepat, aktivitas protease, yakni suatu cascade atau proses berantai eksitotoksik dan
pada akhirnya kematian neuron. Reperfusi yang terjadi kemudian dapat menyebabkan
pelepasan radikal bebas yang akan menambah kematian sel. Reperfusi juga menyebabkan
transformasi perdarahan dari jaringan infark yang mati. Jika gangguan CBF masih antara 15–
30 ml/100mg/menit, keadaan iskemik dapat dipulihkan jika terapi dilakukan sejak awal.
B. Etiologi
Penyumbatan arteri yang menyebabkan stroke iskemik dapat terjadi akibat thrombus (bekuan
darah di arteri serebril) atau embolus (bekuan darah yang berjalan ke otak dari tempat lain
ditubuh).
1. Stroke trombotik
Terjadi akibat oklusi aliran darah, biasanya karena aterosklerosis berat. Sering kali,
individu mengalami satu atau lebih serangan iskemik sementara (transient ischemic
2
attack, TIA) sebelum stroke trombotik yang sebenarnya terjadi. TIA biasanya berlangsung
kurang dari 24 jam. Apabila TIA sering terjadi maka menunjukkan kemungkinan
terjadinya stroke trombotik yang sebenarnya yang biasanya berkembang dalam periode 24
jam (Corwin, 2019).
2. Strok embolik
Stroke embolik berkembang setelah oklusi arteri oleh embolus yang terbentuk di luar
otak. Sumber umum embolus yang menyebabkan stroke adalah jantung setelah infark
miokardium atau fibrilasi atrium, dan embolus yang merusak arteri karotis komunis atau
aorta (Corwin, 2019).
Beberapa faktor resiko terjadinya stroke iskemik adalah usia dan jenis kelamin, genetic,
ras, mendengkur dan sleep apnea, inaktivitas fisik, hipertensi, meroko, diabetes mellitus,
penyakit jantung, aterosklerosis, dislipidemia, alkohol dan narkoba, kontrasepsi oral, serta
obesitas (Dewanto. et al, 2019).
C. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis stroke iskemik adalah:
1. Gangguan pada pembuluh darah karotis
a) Pada cabang menuju otak bagian tengah (arteri serebri media):
Gangguan rasa di daerah muka/wajah sesisi atau disertai gangguan rasa di lengan
dan tungkai sesisi.
Gangguan berbicara baik berupa sulit untuk mengeluarkan kata-kata atau sulit
mengerti pembicaraan orang lain atau afasia.
Gangguan gerak/kelumpuhan (hemiparesis/hemiplegic)
Mata selalu melirik kearah satu sisi (deviation conjugae)
Kesadaran menurun
Tidak mengenal orang (prosopagnosia)
Mulut perot
Merasa anggota sesisi tidak ada
Tidak sadar kalau dirinya mengalami kelainan
b) Pada cabang menuju otak bagian depan (arteri serebri anterior):
Kelumpuhan salah satu tungkai dan gangguan-gangguan saraf perasa
Ngompol
Tidak sadar
Gangguan mengungkapkan maksud
Menirukan omongan orang lain (ekholali)
c) Pada cabang menuju otak bagian belakang (arteri serebri posterior):
Kebutaan seluruh lapang pandang satu sisi atau separuh pada kedua mata, bila
bilateral disebut cortical blindness
Rasa nyeri spontan atau hilangnya rasa nyeri dan rasa getar pada seluruh sisi tubuh
Kesulitan memahami barang yang dilihat, namun dapat mengerti jika meraba atau
mendengar suaranya
Kehilangan kemampuan mengenal warna
2. Gangguan pada pembuluh darah vertebrobasilaris
a) Sumbatan/gangguan pada arteri serebri posterior
Hemianopsia homonym kontralateral dari sisi lesi
Hemiparesis kontralateral
Hilangnya rasa sakit, suhu, sensorik proprioseptif (rasa getar).
b) Sumbatan/gangguan pada arteri vertebralis
Bila sumbatan pada sisi yang dominan dapat terjadi sindrom Wallenberg. jika pada sisi
tidak dominan tidak menimbulkan gejala.
c) Sumbatan/gangguan pada arteri serebri inferior
Sindrom Wallenberg berupa atasia serebral pada lengan dan tungkai di sisi yang
sama, gangguan N.II (oftalmikus) dan reflex kornea hilang pada sisi yang sama.
Sindrom Horner sesisi dengan lesi
Disfagia, apabila infark mengenai nucleus ambigius ipsilateral
Nistagmus, jika terjadi infark pada nucleus Vestibularis
Hemipestesia alternans
G. Pemeriksaan Penunjang
Semua pasien yang diduga stroke harus menjalani pemeriksaan MRI atau CT scan tanpa
kontras untuk membedakan antara stroke iskemik dan hemoragik serta mengidentifikasi
adanya efek tumor atau massa (kecurigaan stroke luas). Stroke iskemik adalah diagnosis yang
paling mungkin bila CT scan tidak menunjukkan perdarahan, tumor, atau infeksi fokal, dan
bila temuan klinis tidak menunjukkan migren, hipoglikemia, ensefalitis, atau perdarahan
subarakhnoid (Goldszmidt et al., 2019).
Pencitraan otak atau CT scan dan MRI adalah instrumen diagnose yang sangat penting
karena dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana stroke yang diderita oleh seseorang.
Hasil CT scan perlu diketahui terlebih dahulu sebelum dilakukan terapi dengan obat
antikoagulan atau antiagregasi platelet. CT scan dibedakan menjadi dua yaitu, CT scan non
kontras yang digunakan untuk membedakan antara stroke hemoragik dengan stroke iskemik
yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan penyebab lain yang memberikan
gambaran klinis menyerupai gejala infark atau perdarahan di otak, misalnya adanya tumor.
Sedangkan yang kedua adalah CT scan kontras yang digunakan untuk mendeteksi
malformasi vascular dan aneurisme (Lumbantobing., 2011).
H. Pemeriksaan fisik
Pada pasien stroke perlu dilakukan pemeriksaan lain seperti tingkat kesadaran, kekuatan
otot, tonus otot, serta pemeriksaan radiologi dan laboraturium. Pada pemeriksaan tingkat
kesadaran dilakukan pemeriksaan yang dikenal sebagai Glascow Coma Scale untuk
mengamati pembukaan kelopak mata, kemampuan bicara, dan tanggap motorik (gerakan).
1. Membuka mata
Membuka spontan : 4
Membuka dengan perintah : 3
Membuka mata karena rangsang nyeri : 2
Tidak mampu membuka mata : 1
2. Kemampuan biacara
Orientasi dan pengertian baik : 5
Pembicaraan yang kacau : 4
Pembicaraan tidak pantas dan kasar : 3
Dapat bersuara, merintih : 2
Tidak ada suara : 1
3. Tanggapan motorik
Menanggapi perintah : 6
Reaksi gerakan lokal terhadap gerakan rangsang : 5
Reaksi menghindar terhadap rangsang nyeri : 4
Tanggapan fleksi abnormal : 3
Tanggapan ekstensi : 2
Tidak ada gerakan : 1
Sementara itu untuk pemeriksaan kekuatan otot adalah sebagai berikut.
1 : tidak ada kontraksi otot
2 : terjadi kontaksi otot tanpa gerakan nyata
3 : pasien hanya mampu menggeserkan tangan dan kaki
4 : mampu angkat tangan, tidak mampu menahan
gravitasi 4 : tidak mampu menahan tangan pemeriksa
5 : kekuatan penuh
I. Penatalaksanaan Stroke Iskemik
Penatalaksanaan stroke menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia
(2017:39) adalah :
1. Pengobatan terhadap hipertensi, hipoglikemia/hiperglikemia, pemberian terapi
trombolisis, pemberian antikoagulan, pemberian antiplatelet dal lain-lain tergantung
kondisi klinis pasien.
2. Pemberian cairan, pada umumnya kebutuhan cairan 30 ml/kgBB/hari (parenteral maupun
enteral), cairan parenteral yang diberikan adalah yang isotonis seperti 0,9% salin.
3. Pemberian Nutrisi, Nutrisi enteral paling lambat sudah harus diberikan dalam 48 jam,
nutrisi oral hanya boleh diberikan setelah tes fungsi menelan baik. Bila terdapat
gangguan menelan atau kesadaran menurun nutrisi diberikan melalui pipa nasogastrik.
4. Pencegahan dan penanganan komplikasi, mobilisasi dan penilaian dini untuk mencegah
komplikasi (aspirasi, malnutrisi, pneumonia, thrombosis vena dalam, emboli paru,
kontraktur) perlu dilakukan.
5. Rehabilitasi, direkomendasikan untuk melakukan rehabilitasi dini setelah kondisi medis
stabil, dan durasi serta intensitas rehabilitasi ditingkatkan sesuaikan dengan kondisi klinis
pasien. Setelah keluar dari rumah sakit direkomendasikan untuk melanjutkan rehabilitasi
dengan berobat jalan selama tahun pertama setelah stroke.
6. Penatalaksanaan medis lain, pemantauan kadar glukosa, jika gelisah lakukan terapi
psikologi, analgesik, terapi muntah dan pemberian H2 antagonis sesuai indikasi,
mobilisasi bertahap bila keadaan pasien stabil, kontrol buang air besar dan kecil,
pemeriksaan penunjang lain, edukasi keluarga dan discharge planning.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
1. Pengkajian Umum
Identitas diri : Umur, jenis kelamin, ras
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Pasien tidak sadarkan diri sejak 4 jam yang lalu, memiliki hipertensi sejak 10 tahun yang
lalu, serta pasien adalah perokok berat.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Kehilangan komunikasi
2) Gangguan persepsi
3) Kehilangan motorik
4) Merasa kesulitan untuk melakukan aktifitas karena kelemahan, kehilangan sensasi
atau paralisis (hemiplegia), merasa mudah lelah, susah beristirahat (nyeri, kejang otot)
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
1) Riwayat hipertensi
2) Riwayat tinggi kolesterol
3) Obesitas
4) Riwayat DM
5) Riwayat aterosklerosis
6) Merokok
7) Riwayat pemakaian kontrasepsi yang disertai hipertensi dan meningkatnya kadar
estrogen
8) Riwayat konsumsi alkohol
Nutrisi/cairan
Gejala : Adanya riwayat, DM, Kehilangan nafsu makan
Tanda : Gangguan atau kesulitan makan dan menelan, obesitas
Persyaratan Neurosensori
Gejala : Adanya smkope/pusing, sakit kepala, kelemahan, kebas sisi yang terkena seperti
mati, lumpuh, penglihatan menurun, buta total, kehilangan daya lihat sebahagian,
penglihatan ganda, sentuhan, hilangnya ransangan sensoris kontrol lateral (pada sisi
tubuh, yang berlawanan/pada ekstremitas dan kadang-kadang pada ipslateral (satu
sisi) pada wajah. Gangguan masa pengecepan dan penciuman
Tanda : - Status dan mental/tingkat kesadaran ; koma pada tahap awal
haemorragic dan tetap sadar bila penyebabnya trombosis
- Gangguan tingkah laku (letangi, apatis, menyerang)
- Ganggua fungsi kognitif (penurunan memori, pemecahan masalah)
- Ekstremitas : kelemahan/paralisis (kontralateral) tidak dapat menggenggam,
refleksi tendon melemah secara kontralateral
- Pada wajah terjadi paralisis atau parase (ipsilateral)
- Aphasia (tidak dapat bicara)
- Kekakuan leher
- Kejang
- Ukuran/raksi pupil tidak sama
- Dilatasi /miosis pupil ipsilateral
- Kehilangan kemampuan mengunakan motorik saat klien ingin menggerakkan
(apraksia)
Kenyamanan Nyeri
Gejala : Sakit kepala dengan intensitas berbeda-beda
Tanda : Tingkahlaku tidak stabil, gelisah, ekspresi wajah tegang
Pernafasan
Riwayat merokok, terjadinya gangguan menelan/batuk, kesukaran bernafas ronchi
Keamanan
Gejala :
- Perubahan persepsi terhadap orientasi tempat tubuh (stroke kanan) kesulitan untuk
melihat objek dari sisi kiri, hilangnya kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
- Tidak mampu mengenal objek, warna, kata dan wajah orang lain
- Gangguan berespon terhadap panas, dingin
- Kusulitan dalam menelan, susah tidur
- Gangguan dalam memutuskan, kurang perhatian terhadap keamanan/tidak sabar.
Psikologis
Gejala
- Merasa tidak berdaya, perasaan putus asa
Tanda :
- Tidak kooperatif, emosi labil, marah, sedih, terlalu gembira
- Kesulitan untuk mengekspresikan perasaan
- Perubahan konsep diri
4. Pola Fungsional Gordon
a. Pola Persepsi dan Penanganan Kesehatan
Klien masuk ke rumah sakit dengan keluhan tidak sadarkan diri sebelum masuk rumah
sakit. Klien sudah menderita hipertensi beberapa tahun yang lalu.
b. Pola Nutrisi atau Metabolisme
Makan Pagi, Siang, dan Malam
c. Pola Eliminasi
Klien tidak mengalami perubahan pola eliminasi.
d. Pola Aktivitas-Latihan
Kemampuan perawatan diri :
0 = Mandiri
1 = Dengan alat bantu
2 = Bantuan dari orang lain
3 = Bantuan peralatan dari orang lain
4 = Tergantung/ tidak mampu
Aktivitas 0 1 2 3 4
Makan/
Minum
Mandi
Toileting
Mobilitas di
tempat tidur
Berpindah
Berjalan
Menaiki
tangga
5. Pemeriksaan neurologis
Status mental
- Tingkat kesadaran : kualitatif dan kuantitatif
- Pemeriksaan kemampuan bicara
- Orientasi (tempat, waktu, orang)
- Pemeriksaan daya pertimbangan
- Penilaian daya obstruksi
- Penilaian kosakata
- Pemeriksaan respon emosional
- Pemeriksaan daya ingat
- Pemeriksaan kemampuan berhitung
- Pemeriksaan kemampuan mengenal benda
Nervus kranialis
I. Olfaktorius : biasanya tidak ada kelainan pada penciuman
II. Optikus : disfungsi persepsi visual karena ganngguan jaras sensori primer diantara
mata dan korteks visual.
III. Okulomotorius , Troklear (IV), fasialis (VI) : jika akibat stroke mengakibatkan
paralisi, pada satu sisi otot-otot okularis didapatkan penurunan kemampuan gerakan
konjugat unilateral disisi yang sakit.
V. Trigeminus : pada beberapa keadaan stroke menyebabkan paralisis saraf ttrigenimus,
penurunan kemampuan koordinasi gerakan mengunyah, penyimpangan rahang
bawah kesisi ipsilateral, serta kelumpuhan satu sisi otot pterigoideus internus dan
eksternus.
VI. Vestibulokoklearis : persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris dan otot
wajah tertarik kebagian sisi yang sehat.
VIII. Aksesoris spinal(8) : tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi
IX dan X Glossopharyngeus dan Vagus : kemampuan menelan kurang baik dan kesulitan
membuka mulut.
XI Accesorius : tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
XII Hypoglossus : lidah simetris, terdapat defiasi pada satu sisi dan fasikulasi, serta
indra pengecapan normal.
6. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : pasien tidak sadarkan diri selama 4 jam. Kesadaran saat ini (GCS) :
E3V3M4
b. Tanda-tanda Vital :
c. Kepala :
Bentuk wajah tidak simetris
Kulit kepala bersih
d. Rambut
Rambut beruban, bersih, lurus, dan tumbuh tidak merata karena sering mengalami
kerontokan.
e. Hidung dan telinga
Bentuk hidung simetris, dan telah terpasang NGT, serta tidak ada cairan maupun
infeksi pada telinga.
f. Mata
Sclera tidak ikterus, konjungtiva tidak anemis, bola mata simetris.
g. Mulut dan gigi
Bau mulut, stomatitis (-), gigi (-).
h. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
NANDA NOC NIC
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Perfusi jaringan cerebral :SLKI SIKI :
tidak efektif b/d gangguan Circulation status
Monitor TTV
afinitas Hb oksigen, Neurologic status
Monitor AGD, ukuran pupil,
penurunan konsentrasi Hb, Tissue Prefusion :
ketajaman, kesimetrisan dan
Hipervolemia, Hipoventilasi, cerebral
reaksi
gangguan transport O2, Setelah dilakukan asuhan
Monitor adanya diplopia,
gangguan aliran arteri dan selama………ketidakefektif
pandangan kabur, nyeri kepala
vena an perfusi jaringan cerebral
Monitor level kebingungan dan
teratasi dengan kriteria
orientasi
DO hasil:
Monitor tonus otot pergerakan
- Gangguan status mental Tekanan systole dan
Monitor tekanan intrkranial dan
- Perubahan perilaku diastole dalam rentang
respon nerologis
- Perubahan respon motorik yang diharapkan
Catat perubahan pasien dalam
- Perubahan reaksi pupil Tidak ada
merespon stimulus
- Kesulitan menelan ortostatikhipertensi
Monitor status cairan
- Kelemahan atau paralisis Komunikasi jelas
Pertahankan parameter
ekstrermitas Menunjukkan
hemodinamik
- Abnormalitas bicara konsentrasi dan
Tinggikan kepala 0-45o tergantung
orientasi
pada konsisi pasien dan order
Pupil seimbang dan
medis
reaktif
Bebas dari aktivitas
kejang
Tidak mengalami nyeri
kepala